Publikasi Media dan Wahhabi

Mei 14, 2009

Akhir-akhir ini eramuslim.com aktif mempublikasikan artikel-artikel yang nadanya menyerang Wahhabi (disebut begini saja, biar jelas, tidak ewuh pakewuh lagi). Artikel yang paling populer adalah soal “Indonesia jadi wisata seks orang Saudi”. Artikel itu menjadi bahan pembicaraan meluas, sebab isinya antara lain mendiskreditkan ulama tertentu di Saudi. Termasuk artikel soal Imam Masjid Haram yang menyebut ulama Syi’ah kafir seperti yang menjadi perbincangan di MyQuran ini.

Saya sendiri bukan orang yang apriori terhadap koreksi yang dialamatkan kepada Saudi atau penganut paham Wahhabi (jika boleh dikatakan demikian). Toh, ketika Kerajaan Saudi menolak boikot kepada Israel pasca tragedi Ghaza, saya menulis artikel keras yang mengecam sikap Kerajaan itu. Sampai konsekuensinya saya dikritik keras oleh sebagian pembela Kerajaan itu. Jadi, tidak ada unsur apriori dalam memilih dan menetapi kebenaran, insya Allah. Jika memang benar adanya, mengapa harus ditolak?

Namun, adalah tidak adil menyebut Wahhabi dengan sekali pukul rata. “Pokoke sing berbau Wahhabi disikat ae,” begitu kredonya. Ya jelas, ini bukan lagi diskusi ilmiah, apalagi dialog menuju kesatuan Ummat yang sering didengung-dengungkan oleh eramuslim.com sendiri. Dan sungguh tidak berbudi kita mengingkari jasa-jasa dakwah Salafiyah (Wahhabi menurut sebagian yang lain). Cukuplah sikap hormat dan kerjasama yang pernah ditunjukkan oleh M. Natsir rahimahullah kepada Kerajaan Saudi di masa Malik Faishal dulu sebagai bukti, bahwa orangtua-orangtua kita bersikap bijaksana kepada mereka. Meskipun tidak lantas menelan mentah-mentah segala yang “made in” Saudi.

Eramuslim.com kan aktif menulis data-data seputar kemuliaan Buya M. Natsir rahimahullah, mengapa tidak bisa bersikap bijak seperti beliau? Sikap permusuhan yang “no compromise” kepada sesama Muslim adalah sikap yang sangat serius. Anda kelak akan berhadapan dengan Allah karena sikap seperti itu. Sikap bara’ muthlaq hanya berlaku bagi kaum kafir harbi yang jelas-jelas kafir dan memusuhi Islam. Termasuk di dalamnya pelaku bid’ah mukaffirah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, kemudian mereka memerangi Ahlus Sunnah dengan segala daya yang mereka miliki. (Contohnya, regim Syi’ah Itsna Asyari yang saat ini berkuasa di Iran. Fakta-fakta kekejaman regim Revolusi Syiah Iran sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bayangkan, komunitas Ahlus Sunnah di Iran di masa Reza Pahlevi cukup kuat di Iran, tetapi saat ini terbabat habis, tokoh-tokoh Muslim Sunni disana dibunuhi sampai punah).

Disini setidaknya saya ingin mengemukakan beberapa fakta dan pandangan, sebagai berikut:

  • Wahhabi bukanlah paham baru. Ia sifatnya merevitalisasi konsep pemahaman yang pernah dibangun Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya. Intinya sederhana saja: Kembali kepada nilai murni dua kalimat Syahadat. Pemahaman tauhid anti syirik adalah aplikasi dari “Laa ilaha illa Allah”; sedangkan menetapi Sunnah anti bid’ah adalah realisasi kalimat “Muhammad Rasulullah”. Apa yang aneh dari konsep Syahadat ini? Apakah Syahadat sesuatu yang asing bagi seorang Muslim? Kalau kemudian di jajaran ulama Wahhabi dan pengikutnya ditemukan berbagai sikap-sikap yang tidak proporsional, maka ia tidak boleh mementahkan fundamental ajaran Wahhabi sendiri, yaitu: kembali ke Dua Kalimat Syahadat.
  • Baca entri selengkapnya »
Iklan