“Ensiklopedi Caci Maki” Seorang Anti Wahabi

April 27, 2012

"Hei Wahabi... Noh Sono Kebun Binatang!"

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Belum lama ini kita menerima “satu paket” caci-maki sangat dahsyat dari seorang Anti Wahabi yang membaca media ini. Kita tidak tahu, siapakah dia (mereka)? Tetapi kalau dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman selama ini dalam menghadapi caci-maki, ini adalah bentuk caci-maki yang paling dahsyat. Kalangan Salafi ekstrem, pendukung PKS, ikhwan Jihadis, atau sekuler sekalipun, tidak sehebat itu dalam serangan verbal mereka. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Teringat sebuah sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, “Sibabul muslimi fusuqun wa qitaluhum kufr” (mencaci-maki seorang Muslim adalah kefasikan, dan memerangi mereka adalah kufur). Dalam hadits lain, “At taqwa ha huna, bi hasbi imri’in minas syarri an yahqira akhihil Muslim” (takwa itu disini –kata Nabi sambil menunjuk dada beliau- cukuplah seorang Muslim telah berbuat jahat ketika dia menghina saudaranya yang Muslim). Dalam Al Qur’an juga disebutkan, “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswatun hasanah” (sungguh bagi kalian telah ada dalam diri Rasulullah itu berupa keteladanan yang mulia). Bahkan kalau mau disempurnakan, dalam riwayat disebutkan sabda Nabi, “Inama buits-tu li utammima makarimal akhlaq” (bahwa aku ini diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia).

Andaikan sang pencaci itu memang Muslim, seharusnya dia merasa malu kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kaum Muslimin; karena dia telah membuat sejarah, yaitu menyusun “ensiklopedi caci-maki” yang luar biasa. Caci-maki itu sampai sebanyak 74 poin, dihiasi dengan kata-kata kasar, vulgar, hujatan, dan sebagainya. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa li sa’iril Muslimin.

Sebelum disini dimuat “ensiklopedi caci-maki” tersebut, ada beberapa hal yang perlu dijelaskan, yaitu sebagai berikut:

[1]. Himpunan caci-maki ini tidak jelas siapa pengirimnya, dari mana asalnya, dan ditujukan kepada siapa caci-makinya? Apakah caci-maki itu ditujukan untuk Ustadz Hartono Ahmad Jaiz? Atau untuk Ustadz Yazid Jawwas dan murid-muridnya? Atau untuk diri saya sendiri (AMW)? Kalau caci-maki itu ditujukan untuk saya, maka responnya ada dua: Pertama, aku istighfar memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang membuat-Nya tidak ridha kepadaku. Kedua, aku ucapkan terimakasih kepada pihak pencaci-maki, karena dia telah sangat berjasa membantu saya mengurangi timbunan dosa dan kesalahan. Sekali lagi terimakasih.

[2]. Dari 74 poin masalah yang diutarakan oleh si pencaci-maki, alhamdulillah sebagian besarnya bisa direspon, diberikan ulasan, atau minimal didiskusikan. Tetapi karena cara-cara yang ditempuh sangat kasar, vulgar, jauh dari adab-adab akhlak mulia; maka dengan sangat menyesal, saya tidak perlu menanggapi poin-poin itu. Bukan karena tidak ada jawaban, tetapi TIDAK MAU melayani cara-cara seperti itu. Orang-orang yang dianugerahi akhlak luhur tidak perlu melayani caci-maki orang tidak berpengetahuan. Dalam Al Qur’an, “Wa idza khathabahumul jahiluna qaluu salama” (apabila orang-orang jahil berkata-kata terhadap mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang membawa keselamatan).

[3]. Dalam sebagian poin “ensiklopedi caci-maki” itu sebagian orang (mungkin termasuk saya) dituduh telah memvonis Habib Rizieq sebagai Syiah. Padahal tidak ada vonis seperti ini. Ia tidak ada buktinya. Dalam tulisan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz pun hanya disebut “cenderung Syiah”. Begitu juga, ada tuduhan bahwa kalangan Wahabi telah mengkafir-kafirkan pengikut paham Asy’ari. Hal ini tidak benar. Paling jauh, seperti sikap Ustadz Yazid dan kawan-kawan, sifatnya menyesatkan; bukan mengkafir-kafirkan, apalagi terhadap ulama-ulama besar Asya’irah. Tampaknya, si penyusun “ensiklopedi” senang menunggangi kata-kata takfir; padahal dia sendiri dalam tulisan itu jelas-jelas telah mengkafirkan kalangan “Wahabi”.

[4]. Dalam sebagian poin “ensiklopedi” itu disebutkan bahwa kalangan Wahabi sudah memalsukan kitab-kitab ulama. Andaikan tuduhan itu kita terima, maka HAKIKAT yang diubah adalah sebagian perkataan ulama atau isi kitab mereka. Bagaimanapun, perkataan ulama bukanlah dalil Syariat. Ia bisa diterima jika sesuai Kitabullah dan Sunnah; dan mesti ditolak jika tidak sesuai dengan keduanya. Maksudnya, sebagai Muslim rujukan dasar kita adalah Kitabullah dan Sunnah; lalu dibantu dengan metode, penafsiran, serta pendapat ulama Salafus Shalih. Mestinya, perbuatan mengubah sebagian perkataan ulama itu, meskipun ia tetap merupakan kesalahan; tidak dibawa ke arah pengkafiran, penghujatan, caci-maki, serta penghinaan kepada sesama Muslim. Toh untuk pengubahan sebagian teks itu, mereka punya alasan minimal, yaitu mengikuti madzhab yang mereka yakini. Hal demikian tidak boleh dikafirkan, kecuali kalau madzhab mereka sesat seperti Rafidhah, Jahmiyah, Ahmadiyah, Liberal, dan sebagainya.

[5]. Anggaplah paham Wahabi berbeda dengan paham Asy’ariyah; atau paling jauhnya paham Wahabi dianggap sesat oleh Asy’ariyah. Andaikan demikian, apakah hal itu lalu mengeluarkan kalangan Wahabi dari ajaran Islam, sehingga mereka berhak mendapatkan paket caci-maki yang sangat dahsyat itu? Bukankah Nabi Shallallah ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, “Al muslimu man salima al muslima min lisanih wa yadih” (ukuran seorang Muslim itu ialah siapa saja yang Muslim lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya). Jika orang-orang yang anti Wahabi itu meyakini kebenaran hadits ini, lalu mengapa mereka melepaskan kendali amarah, kebencian, serta kemuakan tak terkira kepada kalangan Wahabi (sesama Muslim)? Apakah mereka sudah haqqul yakin hendak mengkafirkan Wahabi? Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

[6]. Pada intinya, manusia yang sehat bisa dilihat dari sikap, perkataan, dan perbuatannya. Begitu juga, manusia yang mengalami SAKIT PSIKIS bisa dilihat dari perbuatan, perkataan, dan sikapnya. Jangan terlalu berduka menghadapi kelakuan “orang sakit”; sebab kalau mesti berduka, akan terlalu banyak air-mata menetes untuk menangisi orang-orang gila yang bertelanjang badan di jalan-jalan. Yakinlah selalu akan firman Allah, “Wa laa yahiqul makrus saiyi’u illa bi ahlih” (dan tidaklah makar jahat itu akan mengenai, kecuali pelakunya sendiri). [Faathir: 43].

Baiklah, berikut ini ensiklopedi, koleksi, museum, himpunan, atau apalah; seputar caci-maki seseorang kepada sasaran “Wahabi”. Entahlah, siapa yang dimaksud dengan Wahabi disini. Hanya Allah yang Tahu pasti. Tulisan ini dikutip utuh tanpa ada tambahan dan pengurangan, kecuali pemberian judul. Selamat membaca, selamat mencermati, dan selamat bersabar atas kelakuan orang-orang “berakhlak mulia”! Semoga Allah menyelamatkan kita dari gelap-gulita fitnah di dunia, di alam kubur, dan di Akhirat kelak. Amin Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Baca entri selengkapnya »

Iklan