Pernyataan Dahsyat Abu Bakar Ba’asyir

Juli 13, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah beberapa kutipan media tentang pernyataan Abu Bakar Ba’asyir, amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dari Nusa Kambangan. Pernyataan ini dilontarkan sebelum digelar Pilpres 9 Juli 2014. Silakan dibaca dan dicermati. Kami mengutip dari media.

“USTADZ BA’ASYIR: MEMILIH PEMIMPIN THAGHUT MEMBATALKAN PUASA RAMADHAN”

NUSAKAMBANGAN (Panjimas.com) – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga memberikan nasehat kepada seluruh umat Islam di Indonesia yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan agar menjaga puasanya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Menurut ulama sepuh tersebut, seseorang yang ikut serta dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Presiden sistem Thaghut bisa membatalkan puasa sekaligus membatalkan imannya.

KEWAJIBAN ULAMA: Menjaga dan Membela Kehidupan Ummat.

KEWAJIBAN ULAMA: Menjaga dan Membela Kehidupan Ummat.

“Calon-calon presiden itu kan tidak menerapkan hukum Allah, yang menerapkan hukum selain hukum Allah itu Thaghut namanya. Dan memilih Thaghut itu syirik, maka batal puasanya. Jadi tidak hanya batal puasanya, tapi juga batal Ashlul Iman-nya. Memilih dan mendukung calon Thaghut itu berarti AnsharuthThaghut,” kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di hadapan para pembesuk di LP Super Maximum Security, Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (1/7/2014).

Oleh sebab itu, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengimbau agar umat Islam menjauhi sistem Thaghut dan tak perlu ikut-kutan dalam pesta syirik demokrasi jika ingin puasa dan aqidahnya terjaga.

“Sekarang kalau kita ikut memilih pemimpin dalam sistem Demokrasi ini, itu namanya kita sedang memilih dan mengangkat pemimpin Thaghut. Padahal dalam Al Qur’an, Allah menegaskan bahwa pemimpinnya orang beriman itu yaa orang beriman. Masa kita malah mau ikut-ikutan memilih Thaghut? Gimana itu coba? Lebih baik kita nggak usah ikut!” tegasnya. [AW/Ghozi Akbar].

SUMBER:

http://panjimas.com/news/2014/07/09/ustadz-baasyir-memilih-pemimpin-thaghut-membatalkan-puasa-ramadhan/

Edisi, Rabu, 11 Ramadhan 1435H / July 9, 2014.

____________________________________________

 

“MEMILIH PEMIMPIN ORANG BERIMAN ITU WAJIB, MEMILIH PEMIMPIN THAGHUT HARAM”

NUSAKAMBANGAN (Panjimas.com) – Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, ulama kharismatik yang telah malang-melintang di dunia pergerakan Islam, kembali mengingatkan kepada umat islam terkait Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Presiden.

Menurutnya, memilih pemimpin di kalangan orang beriman itu wajib. Namun, haram jika memilih pemimpin Thaghut yang menerapkan sistem Thaghut.

“Memilih pemimpin dan mengangkat pemimpin dari kalangan orang beriman itu wajib. Kalau memilih pemimpin Thaghut itu haram. Selama tidak ada calon pemimpin di Indonesia yang secara tegas akan menerapkan syari’at Islam secara kaffah, maka umat Islam haram memilihnya,” kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di hadapan para pembesuk di LP Super Maximum Security, Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (1/7/2014).

Bahkan, meski berada di balik jeruji besi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir masih memberikan perhatiannya kepada umat dengan menulis buku yang ditujukan kepada para tokoh dan pemimpin negeri ini agar kufur terhadap sistem Thaghut.

“Sikap kita kepada mereka, para pimpinan ormas Islam adalah menasehati mereka agar tidak menjerumuskan umat kedalam neraka. Untuk itu, saya sudah menulis sebuah surat berjudul ‘Risalah Peringatan dan Nasehat Karena Allah Kepada Umat Islam Yang Dibebani Amanah Mengatur Pemerintahan di Bumi Nusantara’ kepada para pimpinan ormas dan para pemimpin di negeri ini. Alhamdulillah surat ini sudah disebar kepada para pimpinan ormas, dan sekarang sedang dibukukan untuk dapat dibagikan kepada umat Islam secara luas,” jelasnya. [AW/Ghozi Akbar].

SUMBER:

http://panjimas.com/news/2014/07/09/memilih-pemimpin-orang-beriman-itu-wajib-memilih-pemimpin-thaghut-haram/

Rabu, 11 Ramadhan 1435H / July 9, 2014.

_________________________________________________________

SEKILAS KOMENTAR:

Bismillah. Pernyataan Takfir ABB yang beredar di media mengandung konskuensi sangat dahsyat. Antara lain:

(a). Menyalahi fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah di Indonesia, Malaysia, Mesir, Saudi, Palestina, Kuwait, Yaman, Pakistan, Turki, dan negeri-negeri yang ada praktik demokrasi di dlmnya.

(b). Berakibat mengubah negeri mayoritas Muslim menjdi mayoritas kafir.

(c). Memperluas sikap putus asa Ummat, terutama mereka yang baru menapak jalan kesalehan.

(d). Memperhebat konflik dan prmusuhan antar sesama Muslim.

(e). Menghalalkan darah, harta, khidupan Ummat.

(f). Menjadi kendaraan musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum Muslimin.

(g). Menafikan sifat rahmat & basyira pada agama ini.

(h). Menghilangkan sikap tasamuh/lapang dada dalam prbdaan pndpat.

(i). Melenyapkan jasa para pejuang Islam di bidang politik dan birokrasi, dari zaman dulu smp kini.

(j). Kian menyuburkan pelaku TAKFIR di tengah Ummat.

(k). Menghancurkan prinsip Wihdatul Ummah (kesatuan Ummat). 

HIMBAUAN: Kami menghimbau para dai, ustadz, ulama, tokoh ormas Islam, para akademisi, para peneliti Muslim, generasi Islam, para aktivis, penulis, dan siapa saja yang peduli dengan Islam dan Ummat; untuk mengkaji pernyataan-pernyataan ABB di atas, untuk didiskusikan, dibahas, dan diberikan tanggapan. Minimal, bantu menyampaikan risalah ini kepada pihak-pihak kaum Muslimin. Terimakasih, jazakumullah khairan katsira.

(Admin PLB).

Iklan

Antara Takfir dan Thaghut

Juni 7, 2012

Bismillahirrahmaaniirahiim.

Ada satu persoalan yang berkembang di sebagian saudara-saudara kita, para ikhwan Salafi Jihadi (semoga Allah memuliakan mereka dan kita dengan Jihad di jalan-Nya), yaitu seputar Takfir. Masalah ini cukup menguras energi, pikiran, melelahkan batin, dan menimbulkan aneka pertikaian. Semoga tulisan sangat sederhana ini bisa sedikit mengurai persoalan itu, sehingga menghasilkan kebaikan. Amin Allahumma amin.

[1]. Tidak dipungkiri bahwa konsekuensi Tauhid bagi seorang Muslim, adalah mengakui otoritas hukum Islam. Siapa yang mengakui kedaulatan hukum Islam, dia adalah Muslim; sedangkan siapa yang menolak berlakunya hukum Islam dalam kehidupan, jatuh hukum kekufuran atasnya. Dalilnya adalah sikap Khalifah Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu yang memerangi kaum murtadin, karena mereka menolak hukum Zakat maal.

Kelihatan Mirip, Tapi Berbeda…

[2]. Sikap taslim (menerima) hukum Islam berkonsekuensi keislaman; sedangkan inkar (menolak) hukum Islam, berkonsekuensi kekufuran. Dalilnya, “Katakanlah, taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling (dari Keduanya), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32). Disini jelas terlihat, bahwa ingkar terhadap hukum Allah dan Rasul-Nya bisa menimbulkan kekafiran.

[3]. Ada yang berpendapat, bahwa menolak hukum Islam yang menimbulkan kekafiran ialah yang disertai juhud (penolakan) dalam hati. Kalau menolak secara zhahir, sedangkan menerima secara batin; hal itu tidak dianggap sebagai kekafiran. Lalu muncul istilah “Kufrun duna kufrin” (kufur, tetapi bukan kufur yang berarti keluar dari Islam). Para ulama menjelaskan, bahwa iman itu meliputi: pembenaran dalam hati, perkataan dengan lisan, pengamalan dengan perbuatan. Ia merupakan suatu kesatuan, tidak terpisahkan. Sehingga tidak bisa seseorang disebut Mukmin, kalau hanya batinnya saja yang membenarkan. Maka itu para ulama ada yang membagi kekafiran menjadi beberapa bagian: kafir i’tiqadi (kafir keyakinan), kafir qauliy (kafir perkataan), dan kafir ‘amaliy (kafir perbuatan). Namun ada toleransi, yaitu bagi siapa saja yang dipaksa mengucapkan kata-kata kekufuran, dengan ancaman kematian; dia boleh mengucapkan hal itu, demi keselamatan dirinya. (Kisah Ammar bin Yassir Radhiyallahu ‘Anhuma, seperti disebut dalam Surat An Nahl, 106).

[4]. Siapapun yang secara jelas menolak, mengingkari, membenci, atau menafikan hukum Islam; jatuh hukum kekafiran kepadanya. Orang-orang munafik di masa Nabi, seperti Abdullah bin Ubay dan para pengikutnya, secara batin mereka kufur terhadap risalah Islam; tetapi secara sosial, mereka tidak memperlihatkan tanda-tanda kekafiran. Syariat Islam hanya menghukumi manusia berdasarkan kenyataan zhahir. Kata Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam: “Wa hisabuhu ‘alallahi Ta’ala” (dan perhitungan atas batin mereka, terserah kepada Allah). [HR. Muslim, dari Abi Abdillah Thariq bin Usyaim Radhiyallahu ‘Anhu].

[5]. Hukum takfir ini sering dijadikan alat oleh sebagian orang untuk mengkafirkan sesama Muslim, tanpa kaidah yang benar. Siapa saja yang dianggap tidak berhukum kepada hukum Allah (kadang dengan mudah diartikan sebagai “siapa saja yang tidak mau diajak masuk kelompoknya”), langsung dituduh kafir. Lalu muncul aneka macam vonis takfir; ada yang secara mutlak, ada yang dirinci sesuai posisinya, ada yang diikat dengan syarat-syarat tertentu. Malah metode takfir juga digunakan untuk membangun kelompok, mencari anggota baru, meraih dukungan dan fasilitas. Mereka membagi-bagikan vonis kafir dengan mudah, seperti membagikan voucher gratis. Hal ini menandakan bahwa yang bersangkutan kurang memahami dasar-dasar ajaran Islam.

[6]. Untuk memahami apakah hukum takfir berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam sudah berlaku atau belum, caranya mudah. Lihatlah ketentuan hukum yang berlaku di sebuah negeri. Jika negeri itu sudah menerapkan hukum Islam, maka takfir secara hukmiyah, otomatis berlaku. Adapun jika di negeri itu belum berhukum dengan Syariat Islam, maka takfir tersebut tidak bisa diterapkan. Sebab, banyak dari kaum Muslimin mengikuti sesuatu bukan karena kesadaran atau sungguh-sungguh; tapi karena takut, karena ikut-ikutan, atau karena alasan mencari nafkah untuk keluarga. Jika kelak berlaku hukum Islam, mereka insya Allah akan menurut saja.

[7]. Dalil paling mudah untuk menjelaskan masalah takfir hukmiyah ini adalah Sunnah Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Ketika Nabi berdakwah di Makkah, disana berlaku hukum dakwah dan tarbiyah. Saat itu Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; tetapi berdasarkan akidahnya, apakah dia menyembah Allah atau menyembah thaghut? Kalau menyembah Allah, dia bertauhid alias Muslim; kalau menyembah thaghut, dia musyrik alias kafir. Sedangkan Nabi mengkafirkan manusia berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam, baru diterapkan setelah Hijrah ke Madinah. Dalil yang bisa disebut disini ialah: Kisah Kaab bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dan beberapa orang yang tidak ikut perang Tabuk, kisah pencegatan kafilah dagang Abu Sufyan yang berakibat terjadinya perang Badr, sikap Nabi kepada orang-orang munafik, konsekuensi perjanjian Hudaibiyah, dll.

[8]. Adalah tidak benar sikap bermudah-mudah memvonis kafir kepada orang lain, di atas kenyataan sebuah negara tidak berlandaskan hukum Islam ini. Kita belum memiliki hak menetapkan hukum kakafiran berdasarkan loyalitas kepada hukum Islam; sebagaimana kita belum bisa menerapkan sanksi hukum hudud terhadap pelaku-pelaku perbuatan dosa besar. Alasannya, karena di suatu negeri (misalnya Indonesia) belum berlaku hukum Islam. Jika wasilah menuju suatu perkara tidak ada, otomatis hakikat perkara itu juga tidak ada. Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tidak menerapkan takfir hukmiyah di Makkah, sebelum ada Baiat Aqabah dan Hijrah. Takfir hukmiyah bisa diterapkan di suatu negeri yang sudah berlaku hukum Islam. Jika disana belum ada hukum Islam, maka yang berlaku adalah hukum dakwah, tarbiyah, dan siyasah (untuk menerapkan hukum Islam).

[9]. Tetapi bukan berarti takfir hukmiyah tidak berlaku. Ia tetap bisa diajarkan atau didakwahkan sebagai PERINGATAN bagi kaum Muslimin, agar mereka loyal kepada Syariat dan tidak loyal kepada hukum non Islami. Namun untuk menetapkan status kafir kepada seorang Muslim (suatu kaum) dan diikuti berbagai konsekuensi hukumnya; belum bisa dilaksanakan di negara yang tidak memberlakukan hukum Islam sebagai UU formal yang mengikat rakyatnya. Darimana kepastian takfir akan ditetapkan, sedangkan hukum yang menjadi rujukannya belum terwujud? Hal ini sama seperti ketika kita tidak bisa menetapkan sanksi bagi pelaku zina, mencuri, merampok, membunuh, minum miras, dll. sesuai hukum Islam; lantaran hukum itu sendiri belum berlaku secara formal.

[10]. Takfir dan thaghut adalah dua hal berbeda. Tetapi keduanya bisa saling berhubungan. Takfir di masa Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam di Makkah umumnya berlandaskan keingkaran manusia kepada Allah dan penghambaannya kepada thaghut. Sedangkan takfir di masa Nabi di Madinah, salah satunya bersumber dari loyalitas kepada selain hukum Islam. Takfir demikian belum berlaku di Makkah, sebelum Fathu Makkah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Siapapun yang diibadahi selain Allah, selagi dia tidak membenci diibadahi, dia adalah thaghut. Dan siapa saja yang ditaati dalam rangka maksiyat kepada Allah, dan ditaaati dalam mengikuti jalan selain agama yang benar ini (Al Islam); sama saja apakah karena penerimaan kabarnya yang mengingkari Kitabullah atau ditaati perintahnya yang bertentangan dengan perintah Allah, dia adalah thaghut. Terhadap hal ini dinamai orang yang manusia berhukum kepadanya, dengan selain hukum Kitabullah, sebagai thaghut. Allah menamakan Fir’aun dan kaum Aad dengan sebutan tughat.” (Majmu’ Al Fatawa, juz 20, hlm. 200).

Dalam hal ini, Syaikhul Islam merangkum dua jenis sumber kekafiran sekaligus. Pertama, kekafiran yang bersumber dari penyembahan (ibadah) kepada selain Allah. Kedua, kekafiran yang bersumber dari berhukum kepada selain Syariat Islam. Kedua sumber kekafiran itu dinamai sebagai thaghut.

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Jazakumullah khair atas segala perhatian. Dan mohon dimaafkan atas segala khilaf dan kesalahan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Ayah Syakir).