Tidak Takut Kepada Allah

Maret 30, 2011

Seperti "Raga Tanpa Jiwa"

Nun disana… ada sebuah partai politik. Menamakan diri partai Islam, bahkan “partai seruan”. Konon, tujuan partai itu, 24 karat, murni, untuk menegakkan Islam di bumi Nusantara.

Dalam perjalanan, partai ini menghadapi aneka masalah; maklum, namanya juga partai politik. Mana ada partai politik yang nihil masalah? Kalau ada yang begitu, pasti bukan parpol, tetapi “parahbur” (partai ahli kubur). Sudah jamak bin lazim, kalau terjun ke dunia politik, pasti panen masalah.

Harusnya, masalah-masalah dihadapi secara Islami, sebab namanya juga partai Islam. Tetapi sayang, manuver-manuver partai itu cenderung menghalalkan segala cara.

===> Saat Pilpres 2004, elit partai itu menerima dana SUAP dari pasangan calon W-SW. Jumlah dana suap Rp. 20 miliar, jumlah yang bisa dipakai mendirikan 20 pesantren dengan asumsi per pesantren Rp. 1 miliar. Partai itu dalam Pilpres 2004 tersebut diminta mendukung nama W-SW. Namun saat Pilpres tidak ada dukungan sama sekali, sebab semua anggota partai dibebaskan mau pilih siapa saja. Jadi, akad suap-menyuap itu tidak mereka jalankan. Anehnya, uang Rp. 20 miliar tidak dikembalikan ke pihak yang memberi suap. Kata orang, “Suara tidak diberikan, tetapi uang tetap dimakan!” Masya Allah, betapa memalukan ya.

===> Masih Pilpres 2004, menjelang Pilpres tahap kedua, partai itu terima lagi uang suap, lebih besar. Nilainya Rp. 34 miliar dari pasangan S-J. Uang ini diterima, setelah sebelumnya mengkhianati pemberian pasangan W-SW. Jadi, “rizki” semakin banyak saja. Uang ini adalah murni suap, sebab secara aturan main Pilpres memang tidak boleh ada sumbangan mengikat dari personal senilai itu. Lagi pula uang itu tidak pernah disiarkan secara terbuka, tetapi sangat tertutup. Padahal di partai itu banyak orang ngerti agama, tetapi kok perilaku begitu ya? Nilai 34 M tentu jumlah besar. Apalagi dalam Pilpres putaran k-2 itu mayoritas suara kaum Muslim akan memilih calon laki-laki, bukan perempuan. Hebat lagi, setelah Pilpres 2004 sukses, partai itu mendapat jatah 4 kursi menteri. Wih wih wih, rasanya “rizki nomplok” banget. Tapi kan semua ini bermula dari cara-cara kotor (SUAP).

===> Saat Pilkada DKI, partai itu terima “mahar politik” dari calon gubernur yang dijagokan, Rp. 40 miliar. Ini lebih besar lagi dari sebelumnya. Apa ada istilah dalam Islam, “mahar politik”? Lagi pula, uang itu diperoleh cari calon gubernur DKI yang notabene seorang mantan pejabat Polri. Kalau dirunut, darimana mantan perwira Polri itu mendapat uang Rp. 40 miliar? Dari gaji kah? Dari bisnis kah? Dari warisan kah? Nah, ini perlu diperjelas. Andai tokoh itu mendapat uang dari gaji resminya sebagai perwira Polri, pasti tidak akan mencapai 40 M, meskipun sudah bekerja siang-malam selama 50 tahun. Dan metode “mahar politik” ini akhirnya dianggap sebagai urusan HALAL di berbagai even Pilkada di Tanah Air. Tidak peduli darimana saja dana “mahar” itu diperoleh.

===> Seorang aktivis dakwah di Bandung , alumni Fikom Unpad, berinisial T pernah bercerita. Tahun 1998, gerakan mahasiswa di Salemba UI dibujuk oleh keluarga Cendana agar tidak demo-demo. Sebagai imbalan, mereka diberi dana 300 juta. Lalu dana itu dikonsultasikan ke senior-senior dakwah. Bagaimana solusinya? Solusinya sangat aneh: “Demo silakan jalan! Uang ambil saja!” Ya Allah ya Karim, kok bisa begitu ya? Kalau mau demo, harusnya kembalikan uang itu. Kalau mau terima duit, ya penuhi syaratnya (tidak demo).

===> Dan lain-lain.

 

Alasan yang sering dikatakan: “Untuk mendapat kemenangan politik, kita butuh duit. Tidak bisa tidak. Tanpa duit, nonsense akan dapat kemenangan. Mustahil!”

Jika demikian, harusnya mereka kaya, kreatif, dan tebal kantong dulu, sebelum memasuki pusaran politik yang keras itu. Jangan masuk gelanggang politik dalam keadaaan fakir-miskin. Nanti akibatnya bisa menjual “iman dan komitmen” hanya karena faktor duit. Dan hal itu kemudian terbukti dengan amat sangat gamblang.

Kalau memang kita tidak mampu bekerja di bidang politik ini, ya sudah bekerja saja di bidang lain. Tidak usah memaksakan diri, lalu menghalalkan yang haram. Kata Dr. Daud Rasyid, “Jangan terjerumus sikap takalluf politik!” Karena miskin dan kere, sementara politik butuh banyak dana, akhirnya menghalalkan segala cara. Ini membuktikan bahwa kalangan itu belum mampu masuk ke kancah politik.

Allah Ta’ala tidak membebani kita dengan beban berat, kalau memang kita tak sanggup. Siapa yang memaksakan diri, pasti akan dihukum oleh sikap ketergesa-gesaannya itu.

Saat bicara seperti ini, kita bukan bicara politik, tetapi soal MORALITAS. Mengapa di kalangan orang-orang yang mengklaim sebagai aktivis Islam, aktivis dakwah, ustadz, ulama, lulusan Timur Tengah, murabbi, pembela Ummat, mujahid, dll. harus muncul perbuatan-perbuatan nista seperti di atas? Seharusnya, sebagai orang berilmu, mereka bisa memberikan contoh yang mulia; seharusnya mereka memperlihatkan komitmen moral yang tinggi; seharusnya mereka lebih cemburu atas  pelanggaran-pelanggaran Syariat Islam. Minimal, sebagai manusia berakal, mereka bisa lebih memiliki RASA MALU.

Kalau komitmen moral itu tidak ada, lalu apa bedanya kita dengan manusia-manusia yang zhalim, koruptor, politisi busuk, pengkhianat bangsa, pemimpin tirani, diktator, dan lainnya? Jelas, tidak ada bedanya. Bedanya hanya NASIB saja. Para koruptor lebih dulu mendapatkan duit, sedangkan mereka lebih belakangan. Kalau koruptor mendapat duit dengan modus-modus penipuan tulen; kalau para ahli agama, mereka menipu masyarakat dengan dalil-dalil Kitabullah dan As Sunnah.

Ini bukan soal politik, tetapi MORALITAS. Manusia yang istiqamah tidak silau dengan kemenangan dekat yang gilang-gemilang, tetapi dengan resiko kelak mendapat kekalahan abadi di Hari Kiamat. Kalau manusia-manusia amoral justru sudah tidak memiliki obsesi lagi tentang Hari Kiamat. Kata-kata yang selalu mereka ucapkan: “Sudah deh, jangan munafik lah. Kita ini sudah bejat. Kami bejat, Anda bejat, mereka bejat. Kita semua bejat. Negara ini juga bejat. Jadi, mari kita berlomba-lomba dalam kebejatan. Sudahlah jangan munafik. Anda doyan duit, cewek, dan popularitas kan?”

Ya, begitulah karakter manusia yang sudah TAMAT, sebelum hari kematian mereka diumumkan di koran-koran. Mereka sudah habis. Mereka berjalan-jalan di muka bumi, seperti “raga tanpa jiwa” (meminjam kalimat dari sebuah kelompok nasyid Jihad yang sekarang sudah lebay).

Kunci persoalan sederhana, yaitu: Bermain-main dengan ayat Allah dan sudah tak ada rasa takut kepada-Nya. Tentu saja, ini adalah perniagaan yang sangat merugi. Jika kini, baru sedikit kerugian yang menimpa, maka kelak akan terbuka apa-apa yang dijanjikan.

Cukuplah ayat ini sebagai peringatan bagi siapa yang menginginkannya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedang kalian mengetahui“. (Al Anfal: 27).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.


Iklan

Dimanakah Pemimpin Mukmin?

Mei 7, 2009

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah diangkat menjadi Khalifah Bani Umayyah, tampak tanda-tandanya bahwa beliau adalah pemimpin yang adil lagi shalih. Sejak beliau diangkat menjadi Khalifah, para penggembala domba di kaki gunung terpencil, mereka mendapati kawanan srigala tidak lagi menerkam domba mereka. Malah srigala bermain-main dengan domba. Saat itu mereka menyimpulkan, bahwa negerinya sedang dipimpin seseorang yang shalih. Barakah keshalihan sangat kuat, hingga mempengaruhi perilaku binatang ternak dan hewan liar.

Fathimah binti Abdul Malik, isteri Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menceritakan bahwa suaminya bukanlah seseorang yang ibadahnya istimewa. Shalatnya, qiyamul lailnya, shaum sunnahnya, dan sebagainya tidak istimewa. Malah mungkin biasa-biasa. Tetapi satu hal yang membuat Khalifah Umar bin Abdul Aziz istimewa, yaitu rasa takutnya kepada Allah Al A’la.

Menurut Fathimah, setiap menjelang tidur malam, suaminya selalu menangis sesegukan seperti anak kecil, karena begitu takutnya kepada Allah. Khalifah Umar kalau menangis, badannya seperti menggigil, air-mata berderai-derai. Hal itu terjadi setiap malam. Khalifah Umar tampak seperti ingin menanggung sendiri semua beban kepemimpinan Ummat di pundaknya. Begitu hebatnya tangisan beliau, sampai isterinya mengatakan, “Jangan-jangan esok pagi kaum Muslimin sudah kehilangan pemimpinnya.” Tangisan Umar bin Abdul Aziz seperti tangisan seseorang yang sudah pasrah bahwa esok dia akan menjemput ajal.

Saat berbicara tentang sosok Umar bin Abdul Aziz, hati kita merasa sangat pilu. Layakkah kita membicarakannya, pantaskah kita mengaguminya, pantaskah kita mendambakan munculnya teladan seperti dirinya? Betapa jauhnya jarak antara sikap beliau dengan para pemimpin yang selama ini memandu kaum Muslimin, di bumi manapun mereka berada. Kita bukan saja tidak menemukan spirit Umar bin Abdul Aziz, tetapi kisah beliau nyaris menjadi dongeng pengantar tidur. Membicarakan Umar bin Abdul Aziz seperti menjadi penghinaan bagi diri kita sendiri.

Saudaraku, dimanakah para pemimpin yang adil lagi shalih itu? Adakah mereka? Eksiskah mereka? Dimanakah kita bisa menemukannya?

Di jaman seperti ini, kepemimpinan menjadi rebutan semua orang. Kepemimpinan menjadi nikmat agung yang menawarkan sejuta sensasi: kekayaan miliaran rupiah, fasilitas properti serba mewah, kuasa politik yang kuat, kepuasan syahwat tak terbatas, kesempatan pelesir ke seluruh dunia, popularitas, status sosial, jaminan materi, kepemilikan saham perusahaan, dan sebagainya. Kepemimpinan menjadi SUPER PROFESI yang bisa mengubah ekonomi seseorang secara dramatik. Dengan kekayaan di tangan, segala jenis nikmat bisa dibeli.

Para pemimpin di jaman ini bukanlah mereka yang sedia berkorban demi kebaikan masyarakat. Mereka justru sangat menuntut agar masyarakat melayani dirinya, seluas-luasnya, sepuas-puasnya, tak terbatas. Mereka akan menuduh masyarakat kurang ajar, kalau tidak memberikan apa saja yang memuaskan hatinya. Pemimpin yang adil hidup untuk melayani, sementara pemimpin jaman ini justru meminta dilayani.

Para Khalifah Islam yang mulia, mereka benar-benar takut kepada Allah. Jangankan bicara soal program pangan, pakaian, perumahan, keamanan, kesehatan, ibadah, pendidikan, dan lainnya. Bahkan nasib orang per orang, mereka perhatikan. Warga miskin yang kelaparan di malam hari, mereka perhatikan. Anak-anak yang kurus, berpenyakit, mereka perhatikan. Janda-janda, orangtua, kaum musafir, mereka perhatikan. Harga barang di pasar, timbangan, perilaku pedagang, para pembeli, sampai kualitas barang konsumsi, mereka perhatikan. Jangan lagi bicara soal ancaman musuh, mereka tidak rela melihat ada satu pun gelandangan tanpa rumah, tanpa alamat. Orang sakit, orang cacat, bahkan orang gila pun mereka perhatikan.

Filosofinya sederhana. Seorang Khalifah adalah pengganti Nabi dalam melayani Ummat. Semua kebutuhan dan urusan yang menyangkut Ummat Islam, baik mereka yang ada di depan mata, maupun yang berada di celah-celah bebatuan sempit di pelosok-pelosok kampong, semua dalam tanggung-jawabnya. Seperti ungkapan terkenal Khalifah Umar bin Khattab Ra.: “Kalau ada seekor domba yang kakinya terperosok lubang di Hadramaut, ia dalam tanggung-jawabku.” Meskipun Hadramaut ada jauh di Yaman, dan itu pun hanya seekor domba.

Kemiskinan di Pinggir Kali. (Sumber: Photofolio, Ombeha Blogspot).

Kemiskinan di Pinggir Kali. (Sumber: Photofolio, Ombeha Blogspot).

Kalau kepemimpinan di jaman sekarang, situasinya sangat jauh berbeda. Kepemimpinan itu mayoritas bukan dibangun di atas KEIMANAN, tetapi berdasarkan KOMPETISI memperebutkan FASILITAS. Alih-alih berharap para pemimpin itu akan peduli dengan nasib rakyat, sejauh mereka tidak menindas rakyatnya sendiri saja, itu sudah luar biasa. Para pemimpin itu banyak yang menganggap rakyatnya sebagai kumpulan manusia tak bernilai yang bebas dieksploitasi untuk memuaskan syahwat kekuasaannya. Sikap belas kasih, kejujuran, komitmen keadilan, keberpihakan, sangat jauh dari kenyataan. Jauh, jauh, jauh sekali.

Rakyat miskin puluhan juta jiwa, dibiarkan saja. “Ya, baru sekian puluh juta. Itu pun sudah turun sekian persen sekian persen,” jawab mereka. Ratusan juta masyarakat stress akibat tekanan hidup semakin berat, dibiarkan saja. “Ya, ini konsekuensi kehidupan industri baru. Ini masih wajar kok,” jawab mereka. Gelandangan, pengemis, anak jalanan, pelacur, dan sebagainya merajalela dimana-mana, dibiarkan saja. “Ya, jangan cuma menilai. Tetapi berikan solusinya, dong!”  kata mereka ketus. Penipuan, korupsi, kriminalitas, sadisme, penjualan manusia, seks bebas, aborsi, wabah narkoba, pun dibiarkan saja. “Ya, namanya juga hidup. Banyak dinamikanya,” jawab mereka. Kekafiran, kemusyrikan, pemurtadan, kesesatan paham, klenik, mistik, sihir, dan lainnya juga dibiarkan. “Kita negara demokrasi. Hak warga negara dilindungi hukum,” kata mereka.

Begitu banyak amanah kehidupan yang dibiarkan. Tidak ada tanggung-jawab hakiki untuk memperbaiki semua itu. Ambisi puncak hanya memuaskan syahwat, memuaskan gairah berkuasa, serta mementingkan diri sendiri. Posisi rakyat ada di poin terakhir, setelah semua item kesenangannya terpuaskan. Bahkan, kepedulian mereka kepada rakyat adalah untuk MEMPERKUAT KERAJAAN SYAHWAT MEREKA. Ini bukan karena komitmen yang murni.

Itulah bedanya, kepemimpinan berdasarkan KEIMANAN dengan kepemimpinan berdasarkan SYAHWAT. Kepemimpinan pertama adalah kepemimpinan Islami, seperti yang dicontohkan Sayyidul Mursalin Saw. Ia adalah imarah yang diridhai oleh Allah, diridhai oleh makhluk, bahkan dicintai oleh alam semesta. Adapun kepemimpinan syahwat adalah kepemimpinan gelap, kepemimpinan zhalim, mengabaikan kewajiban, menerlantarkan hak-hak, mematikan barakah, memproduksi seluas-luasnya penderitaan hidup Ummat.

Dimanakah kepemimpinan Mukmin, wahai saudaraku?

Carilah jawabnya di lubuk hatimu! Kalau engkau mendapatinya, maka ia adalah sepotong dari barakah Kenabian yang telah sangat langka di muka bumi. Jika engkau tidak mendapatinya, janganlah berputus asa! Berharaplah hanya kepada Rabbul ‘alamiin, sebab Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah menganugerahkan karunia-Nya berupa kepemimpinan Islam kepada kaum Muslimin. Allahumma amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.