Bangsa Indonesia dan “Teori Kekerasan”

Maret 29, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada suatu kenyataan ironis. Dua TV berita “arus utama” di Indonesia sangat giat menayangkan aksi-aksi demonstrasi anti kenaikan BBM. Tetapi pada saat yang sama, para presenter di TV-TV itu juga intensif mengecam, mencela, atau menyayangkan terjadinya demo-demo anarkhis. Ini merupakan sikap ambigu, kalau tidak disebut oportunis (mau ambil untungnya saja).

Berbicara tentang aksi-aksi demo selama ini, ia tidak lepas dari realitas sosial yang berat, susah, berbagai himpitan ekonomi menerjang dari segala arah. Banyak orang menulis: “rakyat sekarang menjerit”, “kemiskinan ada dimana-mana”, “masyarakat kecil sudah tidak bisa menangis karena air mata mereka sudah kering”, “banyak orang menjadi gila dan bunuh diri”, “rakyat merindukan kondisi seperti di zaman Soeharto dulu”, dan lain-lain.

Disini kita dihadapkan kepada situasi yang KONTRADIKTIF. Pertama, kehidupan sosial masyarakat sangat berat, mereka merindukan perubahan, perbaikan, atau lompatan yang nyata. Mereka tidak bisa sekedar nrimo atau pasrah di bawah keadaan yang penuh penderitaan ini. Kedua, banyak pihak terutama kalangan politisi, media massa, pejabat birokrasi, akademisi, para pengamat, dll. berharap agar terjadi perubahan secara damai, secara mulus, tanpa benturan, tanpa konflik, tanpa kekerasan.

Pertanyaannya: mungkinkah Indonesia akan berubah dari kondisi serba penuh penderitaan menjadi aman, makmur, dan sejahtera; melalui proses damai, tenang, mulus, tanpa konflik, tanpa berdarah-darah, tanpa ada lemparan batu, tanpa ada bakar-bakar ban, tanpa ada dorong-dorongan, tanpa ada aksi-aksi kekerasan? Tanpa ada kekerasan sama sekali? Mungkinkah…

Seperti sering kita kemukakan di blog ini, kondisi riil bangsa Indonesia saat ini, bukanlah kondisi normal, kondisi biasa, atau kondisi wajar. Bangsa kita saat ini andaikan diibaratkan seorang pasien, sudah masuk stadium 4, atau kondisi emergency, atau sudah harus masuk ICU. Bangsa kita tidak lagi bisa diterapi dengan kerokan, minyak angin, pemijitan, atau minum obat herba. Pilihannya hanya amputasi, operasi besar, atau transplantasi organ.

Bangsa kita sudah dikangkangi oleh mafia. Ia adalah Mafia PBB (mafia politik, mafia bisnis, dan mafia birokrasi). Kelompok mafia ini berhasil menguasai seluruh sektor kehidupan, dari hulu sampai hilir. Jangankan mall-mall, perusahaan, proyek-proyek; hingga urusan ustadz yang dakwah di media-media, mereka yang menguasai. Ibaratnya, dari jual-beli pesawat sampai jual-beli terasi dan cabe, didominasi mereka.

Baca entri selengkapnya »

Iklan