Realitas Bangsa Kita…

Oktober 4, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Memang sangat memprihatinkan kondisi bangsa kita saat ini. Prihatin sekali. Satu FAKTA saja. Sejak tahun 2002 di negeri kita sudah terjadi kasus-kasus bom (terorisme). Modusnya dari dulu sampai saat ini, masih sama. Secara logika, seharusnya kita sudah mendapat kesimpulan besar, siapa aktor intelektual di balik aksi bom-boman itu? Logikanya begitu.

Tetapi dalam menanggapi kasus-kasus terorisme itu, seakan semua media dan pengamat bersuara sama. Lagi-lagi mereka mengatakan, “Semua agama tidak mengajarkan terorisme.” Ada juga yang mengatakan, “Semua ini membuktikan bahwa program radikalisasi oleh pemerintah tidak efektif.” Ada juga yang berdalih, “Sebaiknya pembinaan agama yang lurus digencarkan di setiap keluarga.” Bahkan ada yang langsung tunjuk tangan, “Semua ini biang keroknya adalah Wahabi.” Saya mengira, semua omongan itu termasuk SAMPAH yang tak berguna sama sekali. Tak berguna dalam memintarkan masyarakat; tak berguna juga dalam memberantas terorisme.

Kalau mau, karena pernyataan-pernyataan itu selalu BERULANG dari waktu ke waktu; sebaiknya, kalau nanti ada kasus terorisme lagi, sudah saja pernyataan sebelumnya di-copy paste. Jadi tidak perlu membuat pernyataan baru, cukup disamakan dengan pernyataan lama. Baik koran, TV, atau website, cukup memuat ulang edisi-edisi lama mereka. Tak usah membuat edisi baru. Toh, isinya sama, otaknya sama, nyampahnya juga sama. Buat apa kita membuat sampah baru, kalau sampah lama masih “berguna”?

Media-media massa, para pengamat, dan masyarakat seperti tak mau sama sekali memakai “the conspiracy view” untuk melihat kasus-kasus pengeboman yang terjadi di tanah air selama ini. Pandangannya cenderung “tegak lurus”, sejak tahun 2002 sampai saat ini. Ini adalah fakta yang sangat memprihatinkan. Seolah di negeri ini tidak ada lagi orang pintar. Kaciannn…

RADIKALISME Seperti Bonsai. Tidak Boleh Tumbuh Besar; Kalau Mau Mati Cepat-cepat Disiram Air.

Untuk membuat aksi bom-boman itu, bagi yang memiliki sarana-sarananya, tidaklah sulit. Misalnya, dia membuat rekaman video berisi ancaman-ancaman bom, berisi semboyan-semboyan jihad; tak lupa background rekaman dibuat mirip milik aktivis jihad. Untuk menyembunyikan identitas, mereka memakai penutup muka. Kalau mau suara bahasa Arab, mereka rekam dulu, lalu dimuat dalam video secara dubbing. Setelah dibuat publikasi bahwa pelaku bom adalah “kaum mujahidin”, barulah dibuat ledakan bom yang dikendalikan oleh agen-agen intelijen. Untuk membuat hal-hal seperti ini sangat mudah, bagi yang punya akses senjata, informasi, dan dana.

Kalau tidak mau cara begitu, bisa dengan cara lain. Misalnya mendekati sekelompok pemuda Islam yang sangat anti pemerintah dan nafsu ingin segera perang. Mereka diprovokasi agar semakin berani melawan. Ujungnya, mereka disuruh melakukan “aksi bom bunuh diri”. Untuk biaya dan fasilitas, semua disediakan atas nama “infaq fi Sabilillah”. Adapun momentumnya disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau ada order politik, misalnya ingin ada pengalihan isu, tinggal dikontak calon pelaku bom bunuh diri.

Ada analisis jenius, katanya para pelaku aksi-aksi terorisme itu diperlakukan seperti tanaman BONSAI. Mereka terus dipelihara, tetapi tidak boleh besar dan menyebar. Cukup tumbuh kecil saja, seperti tanaman bonsai. Kalau tanaman itu mau besar, cepat-cepat dipangkas; kalau tanaman itu mau mati, cepat-cepat disiram agar terus hidup. Nah, stock pemuda-pemuda pelaku aksi teror itu selalu dipertahankan dalam jumlah kecil. Nanti “stock” ini sangat membantu untuk mengalihkan isu, ketika para penguasa mulai terpojok. Persis tanaman bonsai; tidak boleh besar, tetapi kalau mau mati cepat-cepat disiram.

Jadi, sumber TERORISME itu sendiri pada hakikatnya adalah elit-elit politik maniak itu. Merekalah yang memelihara kasus-kasus terorisme agar selalu tumbuh di tengah masyarakat; demi mengamankan posisi politiknya. Mereka itulah maniak-maniak -laknatullah ‘alaihim- yang sangat tidak memiliki belas-kasihan, baik kepada pemuda-pemuda Islam lugu itu, maupun kepada bangsanya yang sekian lama diteror oleh isu-isu terorisme.

Sementara media-media sekuler selalu bersikap membabi-buta, sentimen, dan tidak adil. Mereka sok suci dengan merasa benar sendiri. Padahal secara hakiki, mereka hanya mencari pendapatan ekonomi dengan menjual isu-isu sosial-politik dalam bentuk berita-berita, tanpa tanggung-jawab. Andaikan bertanggung-jawab, tentu mereka akan berani membuka info-info off the record di balik isu-isu terorisme itu.

Singkat kata, inilah realitas kehidupan bangsa kita…

[1]. Rakyatnya awam, kurang ilmu, mudah dibodoh-bodohi oleh media massa, pernyataan para pejabat, dan analisis para pengamat.

[2]. Para pejabatnya curang, munafik, dan tidak peduli kebaikan negerinya. Mereka banyak merusak kehidupan, tetapi berpura-pura sebagai para pahlawan. Kasihan sekali.

[3]. Para pemuda bersikap oprtunis dan hedonis. Mereka tak peduli dengan keadaan di sekitarnya dengan prinsip, “Yang penting happy!”

[4]. Para agamawan (misalnya seperti Said Aqil Siradj dkk.) berlomba-lomba menjilat kepada penguasa dengan tanpa rasa malu sedikit pun. Orang seperti itu tak segan-segan menunggangi isu terorisme untuk meraup untung, mendapat popularitas, serta “cari muka” di depan pejabat. Mereka ini oleh para penyair diumpamakan seperti “burung gagak” yang mengais-ais sisa bangkai yang berjatuhan dari mulut binatang buas.

Inilah kondisi bangsa kita. Rakyatnya mudah dibodoh-bodohi, para birokratornya menghalalkan tipu-menipu, para pemuda yang dianggap sebagai “penggerak perubahan” telah terpenjara oleh hedonisme, serta para agamawan -seperti Said Aqil Siradj- lebih banyak menjual agama daripada membela agama dan Ummat. [Said Aqil Siradj ini bisa disebut “bisnisman sukses”. Lalu apa yang dia bisniskan? Ya itu tadi, AGAMA. Semoga Allah Ta’ala menodai orang ini dengan penodaan besar, karena dia begitu intens menodai kehormatan kaum Muslimin. Allahumma amin Ya Salam Ya Malik].

Kondisi bangsa kita sangat memprihatinkan. Harapan terjadi perubahan dan bangkit kejayaan, seperti lamunan kosong. Tetapi…bagaimanapun juga, Allah Ta’ala Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Irhamna ya Arhama Rahimin, irhamna. Amin.

AMW.

Iklan

Siapa Pelaku Teror Bom JW Marriot?

Juli 18, 2009

Kalau ditanya, “Siapa pelaku teror bom di hotel JW. Marriot dan Ritz Carlton yang membuat rencana kedatangan tim Manchester United ke Indonesia dibatalkan seketika?” Terus terang, saya, Anda, atau orang-orang di luar lingkar Pemerintahan, tidak tahu menahu. Kita hanya bisa menebak-nebak, “Mungkin dia, atau dia. Mungkin ini atau itu. Mungkin disini atau disono.” Ya, serba hanya meraba-raba saja.

Di mata para peminat teori konspirasi, mereka memiliki KAIDAH ANALISIS yang unik. Kaidah itu bunyinya, kurang-lebih: “Jangan percaya dengan apa yang Anda lihat dan Anda dengar. Berpikirlah terbalik dari apa yang dipikirkan orang banyak.” Aneh bukan? Tapi sungguh, di dunia peminat teori konspirasi, kaidah ini sangat laku.

Bukan wewenang kita untuk memastikan siapa pelaku teror bom itu. Kita hanya bisa menduga-duga dengan segala analisa yang memungkinkan. Memang hasil dugaan ini tetap dugaan, tetapi setidaknya bisa membantu kita untuk berpikir utuh. Tidak mudah diombang-ambingkan oleh informasi media-media massa.

Siapa pelaku teror itu? Banyak kemungkinannya. Disini kita sebut kemungkinan-kemungkinan itu. Tapi sekali lagi, ini sifatnya hanya kemungkinan, bukan fakta atau tuduhan.

Kemungkinannya:

[1] Orang-orang Muslim radikal yang setuju dengan aksi-aksi terorisme untuk menyerang sasaran non Muslim atau hal-hal yang berhubungan dengan Amerika, Inggris, NATO, dan sekutu-sekutunya, di seluruh dunia. Mereka mematuhi fatwa jihad global dari Usamah bin Ladin.

[2] Orang-orang awam yang telah mengalami proses indokrinasi keagamaan luar biasa, lalu sangat terinspirasi dengan impian syurga jika mereka mati setelah melakukan aksi kekerasan.

[3] Pemuda-pemuda penuh semangat yang tidak sadar kalau dirinya sedang dikendalikan oleh kekuatan besar untuk melakukan aksi-aksi yang kelak akan mencemarkan citra Islam dan kaum Muslimin. Di Indonesia dulu pernah ada kasus Komji, Jamaah Imran, pembajakan Woyla, dll. yang tidak murni gerakan pemuda-pemuda itu.

[4] Orang-orang bayaran yang mau melakukan apa saja, dengan imbalan sangat besar. Meskipun taruhannya, dia harus mati akibat order yang dia terima.

[5] Aparat resmi yang melakukan konspirasi untuk tujuan politik tertentu. Dengan aksi itu mereka berharap akan memuluskan agenda tertentu yang sudah disiapkan. Dalam kasus WTC yang diikuti invasi ke Afghanistan dan Irak, kita bisa membaca bahwa Tragedi WTC itu telah di-setting dengan sangat rapi.

[6] Intelijen asing yang sengaja melakukan gerakan-gerakan aksi, untuk lagi-lagi menghantam kepentingan negara tertentu.

[7] Kaum mafia, kelompok kriminal terorganisir yang ingin melakukan tekanan, merebut asset, membalas dendam, dan lain-lain.

[8] Para kapitalis yang sedang terlibat perang bisnis, lalu memanfaatkan orang-orang “frustasi” untuk melakukan aksi-aksi kekerasan tertentu.

[9] Para elit politik yang sedang berebut kekuasaan, yang memanfaatkan orang-orang “frustasi” untuk memperebutkan kursi kekuasaan. Beberapa tahun lalu kita sering mendengar, bahwa aksi-aksi kerusuhan sosial di daerah, katanya merupakan dampak dari konflik rebutan kekuasaan elit-elit di Jakarta.

[10] Kelompok garis keras non Muslim yang ingin menyerang pihak-pihak yang dibencinya. Contoh serangan sekte Aum Shinrikyo di Jepang yang pernah menyerang stasiun KA. Begitu juga pengikut David Coresh di Amerika yang pernah mengebom gedung FBI sampai berantakan.

[11] Kelompok separatis yang ingin memisahkan diri dari suatu negara. Ini sudah banyak contohnya. Separatis Basque sering melakukan serangan bom di Spanyol, begitu juga tentara IRA di Irlandia Utara. Mereka melakukan serangan bom dengan alasan separatisme.

[12] Orang iseng yang sengaja melakukan aksi teror untuk mencari sensasi.

Maka lihatlah wahai saudaraku, satu kejadian bisa mengandung banyak kemungkinan. Anda jangan cepat menyimpulkan, pelakunya ini dan itu. Tetapi harus sangat cermat dan hati-hati. Jika Anda menduga kuat pelakunya Si Fulan atau Fulan, itu baru satu kemungkinan saja. Masih ada 11 kemungkinan lainnya, atau malah lebih dari itu.

Selamat berpikir jernih. Sekali-kali jangan menyerang Islam, untuk apa yang tidak diperbuatnya. Islam adalah suci, sebab Ia diturunkan dari Dzat yang Maha Suci. Siapa yang menodai agama Allah, pasti Allah akan menodai segala kehidupan dan nasibnya. Na’uzubillah min dzalik.

AMW.


Ummat Islam dan Teori Konspirasi

November 24, 2008

Sebuah buku berjudul, Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, ditulis oleh Dhurorudin Mashad, terbitan Pustaka Al Kautsar, cetakan Juni 2008. Buku ini diberi kata pengatar oleh Eep Saefulloh Fatah, pakar politik UI. Pustaka Al Kautsar termasuk sering menerbitkan buku-buku yang bertema politik Islam. Buku ini melengkapi wacana yang telah diterbitkan sejak lama. Dalam buku karya peneliti LIPI ini banyak wawasan-wawasan informasi yang bisa dijadikan alat untuk memahami peta politik Islam di Indonesia, sejak dulu sampai saat ini.

Namun kali ini saya tidak bermaksud membahas buku Dhurorudin Mashad di atas. Cukuplah pembaca mengkajinya secara mandiri. Disini saya lebih tertarik membahas salah satu materi kata pengantar Eep Saefulloh Fatah, ketika dia menjelaskan sumber-sumber kemunduran kehidupan Ummat Islam di Indonesia. Menurut Eep, secara statistik jumlah Muslim Indonesia sangat banyak, tetapi secara realitas peranan Ummat Islam marginal. Dia berusaha mencari jawaban atas masalah ini. Salah satunya, menurut Eep, biang kerok kemunduran Ummat Islam, karena kita terlalu banyak terbelit oleh TEORI KONSPIRASI.

Dalam buku itu Eep mengatakan:

“Salah satu cara menjawab yang seringkali diajukan oleh kalangan Islam adalah menemukan sumber-sumber di luar sebagai penyebab, biang kerok, kekalahan atau kegagalan politik mereka (Ummat Islam, pen.). Salah satu cara sangat populer dalam kerangka ini adalah mengajukan teori konspirasi: menunjuk kalangan-kalangan di luar Islam yang dipersepsikan sebagai komplotan yang memang terus-menerus menjaga agenda mereka untuk memarjinalisasikan kalangan Islam.

Goenawan Mohamad menyebut teori konspirasi sebagai “teori orang malas”. Saya tidak bisa tidak bersetuju. Bahkan menurut hemat saya, bukan sekedar itu. Teori konspirasi, bukan alat penjelasan orang-orang yang malas, tetapi juga “teori para pecundang”. Seorang pecundang membiasakan telunjuknya mengarah ke luar dirinya, seolah mengharamkan introspeksi. Seorang pemenang, sebaliknya, senantiasa ikhlas melihat pertama-tama ke dalam dirinya. Introspeksi.

Menuding penyebab di luar sebagai sebab utama atau semata-mata adalah salah satu cara yang kontra-produktif untuk memahami kegagalan dan kekalahan politik kalangan Islam. Karena itu, cara semacam itu selayaknya ditinggalkan. Selayaknya kalangan Islam memulai usaha pencarian jawaban atas pertanyaan itu dengan melihat ke dalam, ke dalam diri sendiri, melakukan introspeksi secara ikhlas, dan menemukan kekeliruan atau kesalahan pertama dan terutama dari sana.” (Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, Dhurorudin Mashad, halaman xii).

Eep Saefulloh Fatah beberapa tahun lalu mengambil studi doktoral di Amerika. Kini mulai aktif kembali dalam kancah pemikiran politik di Indonesia. Dia seorang demokrat sejati dengan segudang optimisme tentang kehidupan rakyat yang adil, makmur, sentosa, aman, damai, bersatu, bermartabat, terhormat, mulia, berdaya, harmonis,…: melalui proses demokrasi! Pada sebagian orang, demokrasi telah menjadi nilai-nilai yang mengendap ke dasar keyakinan di hati. [Padahal dalam Islam, politik saja posisinya hanya sekedar wasilah (sarana), bukan prinsip fundamental. Apa lagi demokrasi?].

Saya masih ingat dialog Eep Saefulloh Fatah dengan HS. Dillon di sebuah stasiun TV. Setelah 10 tahun Reformasi, kondisi masyarakat malah acur mumur (hancur berantakan). HS. Dillon berkali-kali menanyakan ke Eep tentang ongkos besar di balik praktik politik selama ini. Tetapi Eep keukeuh dengan keyakinannya, bahwa demokrasi adalah jalan terbaik bagi bangsa Indonesia. Menyikapi situasi penderitaan masyarakat di era Reformasi, Eep begitu pintarnya mencari black sheep (baca: kambing hitam) dengan menyebut konstruksi kepemimpinan politik saat ini yang dianggapnya belum demokratis. Contoh, pada Pemilu 1999 PDIP memperoleh suara terbanyak, tetapi malah Gus Dur yang menjadi presiden. Atau Pemilu 2004, yang jadi presiden malah SBY dari Partai Demokrat.

Pendek kata, dalam pandangan Eep, Indonesia belum mencerminkan kondisi negara yang demokratis. Lalu apa komentar dia ketika menyaksikan kondisi keterpurukan Amerika saat ini? Bukankah disana adalah syurganya demokrasi? Entah, nanti “black sheep” siapa lagi yang akan dibawa-bawa…

Baca entri selengkapnya »