Analisis: Soal Lagu Ciptaan SBY di Test CPNS

Oktober 16, 2010

Seperti sudah sama-sama dimaklumi, media massa lagi ramai membicarakan pertanyaan seputar judul lagu ciptaan SBY, pada test CPNS di Kementrian Perdagangan, 12 Oktober 2010. MetroTV sampai mengangkat isu soal lagu itu sebagai materi Editorial.

Rata-rata analisa yang muncul di balik pencantuman pertanyaan narsis itu adalah sebagai berikut:

Pertama, kalau pencantuman soal seputar judul lagu itu diketahui SBY, berarti dia sedang melakukan politik pencitraan seperti yang sudah-sudah.

Kedua, kalau pencantuman soal judul lagu itu tidak diketahui oleh SBY, berarti bawahan-bawahan dia, khususnya di Departemen Perdagangan sedang berusaha menjilat atau cari muka ke SBY.

Ketiga, pencantuman soal itu merupakan upaya untuk melakukan kultus individu, seperti pemimpin-pemimpin politik sebelumnya, di era Orde Lama dan Orde Baru.

Keempat, analisis yang lebih serius, pertanyaan seperti itu dalam test CPNS dipahami sebagai bentuk surve terhadap popularitas SBY di mata anak-anak muda yang ikut test CPNS. Apakah SBY masih populer? Apakah citra SBY masih indah di hati rakyat? Bagaimana peluang politik SBY ke depan?

Sebenarnya, ada juga analisis lain yang tak kalah pentingnya. Pertanyaan tentang judul lagu SBY jelas sangat sulit dijawab oleh masyarakat biasa. Apalagi oleh orang-orang yang anti SBY. Bisa jadi, kalau pemuda/pemudi anti SBY ikut dalam test itu, lalu mendapatkan pertanyaan tersebut, mungkin mereka akan muntah-muntah.

Jadi, sebenarnya pertanyaan seputar judul lagu SBY itu merupakan TEST LOYALITAS bagi calon-calon PNS. Kalau mereka sangat ngefans dengan SBY, sangat mengagumi kiprah politiknya, sangat menikmati pencitraannya, mereka akan tahu jawaban pertanyaan itu. Tetapi kalau mereka bukan pendukung/pecinta SBY, kecil kemungkinan bisa menjawab. Kecuali, kalau mereka menjawab asal-asalan, lalu benar. Itu lain perkara.

"Lupakan derita. Mari bernyanyi. Wuo wuo wuo...ho ho ho." (gambar: politikana).

Dengan pertanyaan seperti itu, pihak Departeman Perdagangan sepertinya ingin mendapatkan jaminan bahwa PNS yang mereka terima, benar-benar LOYALIS-nya Pak Beye, bukan orang kritis, apalagi lawan politiknya. Hal-hal demikian dibutuhkan untuk menyaring CPNS sejak dini, agar mereka tidak meloloskan orang-orang yang masuk kategori pembenci SBY.

Kalau ditanya, apakah cara seperti ini tidak aneh, ganjil, menggelikan, memprihatinkan, sekaligus mengecewakan? Jawabannya mudah saja, “Sejak kapan kita puas dengan kinerja Pemerintahan SBY? Lha wong, memang sejak lama sudah penuh catatan, kritikan, serta ketidakstabilan kok. Kalau hanya soal CPNS itu sih masih kecil dibandingkan kasus-kasus “gajah” lainnya.

Ada harapan di hati supaya Pak Presiden SBY secara gentle mengaku diri tidak mampu memimpin, lalu mundur secara elegan. Itu lebih baik, demi menjauhkan masyarakat dari resiko penderitaan hidup yang lebih berat. Kasihanilah rakyat kecil, kebanyakan mereka fakir, kurang ilmu, dan lemah.

“Pak Beye, mau kan segera mengakhiri derita rakyat Indonesia? Mau kan? Mau dong… Ayolah, Bapak bisa!!!”

AMW.

Iklan