Antara ISIS dan Al Qa’idah

Agustus 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah artikel di Voa-islam.com, disebutkan pernyataan dari seorang Mufti negara Teluk. Beliau mengatakan, bahwa ISIS dan Al Qa’idah adalah musuh nomer satu Ummat Islam.

Menurut kami pernyataan demikian kurang bijak. Di bawah ini sedikit komentar yang bisa kami sampaikan:

Kaum Muslimin harus mengetahui, ISIS berbeda dengan Al Qa’idah, meskipun awalnya sama.

Ceritanya kurang lebih sebagai berikut:

Harus Bijak dalam Menilai Para Pejuang

Harus Bijak dalam Menilai Para Pejuang

Pasca WTC 11 September 2001, pemerintah Thaliban diserang Amerika & Sekutu. Efek samping dari serangan ini, struktur organisasi Al Qa’idah hancur lebur. SDM, asset, dana, jaringan, fasilitas mereka rusak parah.

Tapi pihak Thaliban cepat berbenah. Upaya recovery-nya berjalan cepat, meskipun dg suasana sistem baru. Mungkin karena mereka memang mayoritas asli warga Afghan.

Sedang pihak Al Qa’idah merasa terlunta-lunta, karena mayoritas branggota militer non Afghan. Melihat cepatnya recovery Thaliban, para pemimpin Al Qa’idah berembuk; bgmana kalau Al Qa’idah tunduk kepada otoritas Thaliban, agar dapat perlindungan penuh? Mereka pun setuju.Sejak itu Al Qa’idah jadi organisasi di bawah Thaliban.

Ini ada dampaknya, Al Qa’idah jadi lebih moderat. Kata orang, “tidak lagi main kopar kapir”. Thaliban menempatkan Al Qa’idah sebagai missi Jihad di luar wilayah Afghan; semacam ada sinergi.

Tatkala meledak konflik Suriah, Al Qa’idah di-drive masuk ke sana. Tapi dengan nama Jabhah Nusroh, agar tidak mndapat penolakan di dunia Islam. Sedangkan ISIS bermula dari missi Jihad Al Qa’idah di Irak pasca invasi Amerika tahun 2003.

Organisasi missi Jihad ini salah satunya dipegang Abu Mushab Zarqawi yang diindikasi membawa paham “kopar kapir”. Pusat Al Qa’idah tidak bisa sepenuhnya mengekang organisasi di Irak ini. Missi di Irak sering jalan sendiri. Misalnya, Abu Mushab dkk bentuk Islamic State, tanpa izin ke pemimpin Al Qa’idah; mereka bentuk ISIS juga tanpa izin; mereka garap Suriah, juga melanggar komando; mereka umumkan Khilafah, lagi-lagi dengan melanggar izin. Banyak skali pelanggaran ISIS kepada otoritas Al Qa’idah.

Yang paling terlalu, ISIS mengajak para pejuang di berbagai negara untuk membelot dari sentral Al Qa’idah.

KESIMPULAN: “Al Qa’idah versi lama beda dg yang baru. Versi baru lebih moderat. Tdk menganut paham takfir.” Bahkan ulama rujukan Al Qa’idah seperti Abu Mush’ab As Suri, Athiyatullah Al Libi, Abu Qatadah, dan sebagainya sangat hati-hati dalam perkara TAKFIR.

Dan semua aksi-aksi teror yang trjadi di Indonesia, TIDAK ADA kaitan dengan Al Qa’idah. Tidak ada itu. Mengapa? Karena sejak tahun 2001, 2003, 2011, hingga saat ini mayoritas energi Al Qa’idah terkuras dalam konflik di Afghan, Irak, Yaman, Somalia, Suriah, dan lain-lain. Jadi tidak ada waktu untuk buat aksi-aksi di Indonesia.

MAKA ITU…janganlah menyebut orang-orang yang membela Ummat teraniaya sebagai musuh Islam nomer satu. Itu jelas keliru!

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Mine).

Iklan

Syariat Islam di Lembah Swat Pakistan

April 23, 2009

Kalau membaca tulisan Swat, kita jadi ingat satuan pasukan reaksi cepat Amerika, SWAT. Tetapi ini maksudnya adalah Lembah Swat di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Lembah itu jatuh ke tangan milisi Thaliban, lalu pada awal April 2009 lalu presiden Pakistan Asif Ali Zardari mengesahkan berkalunya hukum Syariat Islam di Lembah Swat. Keputusan ini menarik, satu sisi melegakan hati kaum Muslimin disana yang rata-rata pro dengan gerakan Thaliban; di sisi lain, hal itu mengamankan posisi Lembah Swat agar tetap berada di teritori Pakistan.

Namun seperti biasa. Pemberlakuan Syariat Islam di Lembah Swat mendapat respon negatif dari Gedung Putih, Washington.Melalui juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, Pemerintah Amerika mengatakan, “Kami kecewa karena parlemen (Pakistan) tidak memperhitungkan legitimasi sipil dan HAM,” kata Jurubicara Gedung Putih, Robert Gibbs, sebagaimana dikutip The New York Times. Kalau kita baca laporan Times edisi online, berjudul “Sharia In Swat Valley”, disana sangat tampak kebencian media itu kepada penerapan Syariat di lembah Swat. Mereka seperti biasa melakukan kebohongan media dengan menyebut fakta-fakta bombastis.

Penerapan Syariat Islam di Swat tidak ubahnya seperti ketika Pemerintah RI memutuskan memberikan hak otonomi pemberlakuan sebagian hukum Syariat Islam di Provinsi Aceh Darussalam. Jadi sifatnya pemberlakuan secara lokal, di daerah tertentu. Namun kualitas pemberlakuan Syariat itu apakah seperti di Aceh sana, wallahu A’lam. Kalau mau jujur, sebenarnya GAM bukan pro Syariat Islam, tetapi lebih pro kepentingan lokal masyarakat Aceh sendiri. Pemimpin senior GAM tidak dikenal sebagai sosok yang memiliki andil dalam pembangunan Syariat Islam.

Shalat di Lembah Swat (Sumber: www.welt.de/english-news).

Shalat di Lembah Swat (Sumber: http://www.welt.de/english-news).

Kalau di Lembah Swat situasinya tampak berbeda. Disana mereka ditunjang oleh pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri. Diharapkan, pemberlakuan Syariat tidak sekedar sebagai formalitas belaka. Ya, konsep pemahaman Islam Thaliban sebagai jaminannya. Mereka selama ini dikenal sebagai komunitas Muslim militan yang sangat merepotkan Barat. Hanya bedanya, di kalangan kaum Muslimin sendiri masih banyak yang menganggap Thaliban itu ekstrem. Contoh, Syafi’i Ma’arif kalau berbicara tentang Thaliban, kesannya negatif terus. Kalangan Liberalis kalau ditanya soal Thaliban, rasanya mereka “mau muntah”. [Maklum, sesuatu yang baik akan diterima baik oleh hati yang baik. Sesuatu yang baik akan diterima sebagai “bom” di hati-hati yang rusak].

Mengapa Amerika selalu negatif dengan pemberlakuan Syariat Islam?

Alasannya sederhana, sebab para politisi dan pemikir di Amerika, mereka telah ratusan tahun mempelajari Syariat Islam. Di mata mereka, KUNCI KEBANGKITAN PERADABAN ISLAM ada di SYARIAT ISLAM itu. Kalau diumpamakan sebagai rumah, Syariat Islam ibarat SERTIFIKAT rumah itu. Bagaimana sebuah keluarga akan hidup tenang, damai, dan aman, kalau sepanjang waktu menumpang di rumah orang? Sebelum mereka memiliki “sertifikat” sendiri, sulit bagi mereka akan hidup dengan karya maksimal.

Seideal-idealnya kaum Muslimin hidup di bawah hukum sekuler, masih lebih baik mereka hidup di bawah payung hukum Islam sekalipun kualitasnya terburuk. Pembangunan ekonomi, pendidikan, birokrasi, sosial, budaya, dan lainnya tidak akan pernah tuntas, sebelum hukum Syariat itu berdaulat di negeri kaum Muslimin. Nah, Amerika sangat tahu tentang persoalan KUNCI ini. Maka mereka dengan segala daya berusaha menghalang-halangi.

Di mata kaum Muslimin sendiri, pemberlakuan Syariat Islam itu ditanggapi dalam tiga tahap:

[Pertama], sikap curiga kepada Syariat Islam. Biasanya rasa curiga itu terfokus pada masalah KEBEBASAN. Banyak orang takut jika Syariat berlaku, mereka akan segera dipasung kemerdekaannya seperti Napi di penjara-penjara.

[Kedua], ketakutan luar biasa di hati rakyat jika nanti mereka tidak mampu memikul amanah Syariat Islam itu. “Bagaimana kalau kami belum siap shalat terus, belum siap memakai jilbab, belum siap meninggalkan riba, belum siap berhenti berzina, mabuk-mabukan, dan lainnya?” Semua ini adalah godaan was-was syaitan yang biasa ditiupkan di hati orang-orang yang selama ini jauh dari tuntunan agama (alias fasiq).

[Ketiga], suatu kondisi KEJUTAN luar biasa, ketika ketakutan tiba-tiba berubah menjadi harapan, rasa tenang, kegembiraan, rasa aman, serta kerinduan untuk selalu bersamanya. Hal ini muncul ketika prasangka buruk masyarakat kepada Syariat Islam tidak terbukti, justru mereka menyaksikan pengaruh besar dari penerapan Syariat itu sendiri bagi perbaikan kehidupannya. Pada suatu titik, manakala mereka telah merasakan benar manfaat Syariat Islam, mereka merindukannya dan tidak ingin lepas darinya.

Kegagalan penerapan Syariat Islam selama ini lebih karena rasa KURANG LEGOWO kaum Muslimin, dan mereka lebih menuruti PRASANGKA BURUK dan rela diombang-ambingkan oleh prasangka itu. Jadi, perkembangan Syariat itu baru mencapai tahap kedua, belum masuk tahap ketiga. Al Qur’an sering mengatakan, “Lau kanu ya’lamuun” (andai saja mereka mengetahuinya). Jadi, banyak orang bersikap negatif kepada Syariat Islam hanya karena berdasarkan pertimbangan “katanya, katanya,…”. Andai mereka mau sabar sejenak, dan ikhlas memasukkan dirinya ke dalam kawasan Daarus Salaam (Rumah Keselamatan) yaitu Syariat Islam, sungguh mereka akan menemukan KEJUTAN yang tidak akan mereka jumpai dengan cara apapun, selain penerapan Syariat Islam. Lihatlah kata Al Qur’an, “Andai mereka mengetahui hakikat sebenarnya.”

Di sisi lain, pihak-pihak luar (Amerika-Eropa) yang telah sangat tahu kehebatan Syariat Islam, mereka merasa ketakutan luar biasa. Oleh karena itu mereka tidak henti-hentinya melakukan fitnah dan lobi untuk menghalangi penerapan Syariat Islam. Hal itu diperparah dengan kondisi lembaga, organisasi, partai, atau tokoh Islam, yang juga termakan oleh “opini horor” yang diciptakan orang-orang di luar Islam. Alih-alih mau menolong penerapan Syariat, mereka malah semakin tenggelam ke dalam pemikiran PLURALISME (sebuah pemikiran yang meyakini, bahwa dengan penerapan Syariat Islam atau tidak, sama saja hasilnya).

Ketika di sebuah sudut bumi ditegakkan kembali bendera Syariat Islam, sebenarnya hal itu juga berarti kembalinya KEDAULATAN ALLAH atas bumi yang diciptakan-Nya sendiri. Jadi, kehidupan di bumi kembali kepada fithrahnya semula. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.