Antara Saudi dan Lawrence Arabiya

Januari 9, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di kalangan perbukuan di Indonesia, nama Rizki Ridyasmara bukan nama yang asing. Beliau dikenal sebagai ahli seputar isu Zionisme, konspirasi, freemasonry, dan lainnya. Dia juga mempunyai perhatian terhadap dominasi perusahaan-perusahaan kapitalis dunia di Nusantara. Tulisan beliau yang berjudul “The Knight Templar, The Knight of Chris” sempat menjadi best seller, ketika sedang merebak isu seputar “The Davinci Code”.

Lawrence Arabiya: Serpihan Sejarah yang Kerap Dipakai untuk Menutupi Jasa Muhammad bin Saud (Pendiri Saudi, 1737-1765 M).

Saya pernah bertanya kepada beliau tentang aliran Kristen Magdalenian, yang meyakini bahwa Yesus memiliki wanita simpanan (yaitu Magdalena itu sendiri). Dari rahim Magdalena ini diyakini lahir keturunan Yesus yang terus beranak-pinak sampai saat ini. Katanya, gereja Katholik Kepausan selalu memusuhi anak-keturunan Yesus dari Magdalena ini. Mereka selalu dikejar-kejar, dibunuh, ditangkap, dsb. Nah, untuk melindungi keturunan Yesus itu, maka dibentuklah kesatuan para kesatria, Knights Of Chris. Di bagian akhir penjelasannya, Bang Rizki menyimpulkan, bahwa Kestria Kristus itu sama saja dengan Knight Templar atau Freemasonry (di kemudian hari).

Ada satu pembahasan dalam sebagian buku Rizki yang tampaknya tidak obyektif, atau terkesan hanya berlandaskan sentimen. Ia adalah menyangkut peranan seorang kolonel Inggris, Thomas E. Lawrence. Atau kerap disebut Lawrence Arabiya. Dalam tulisan Rizki disebutkan, bahwa berdirinya Kerajaan Saudi adalah bagian dari konspirasi Zionis Internasional.

Dalam tulisan A. Hakim di eramuslim.com, disebutkan pernyataan dari Rizki Ridyasmara sebagai berikut:

Hal senada juga disampaikan Rizki Ridyasmara, sekalu penulis Novel-novel Konspirasi. Ia menyatakan bahwa Mekkah tengah dijadikan lahan mega proyek pemerintah Saudi. Tidak heran kini disamping Ka’bah telah dibangun hotel-hotel mewah, bahkan gerai makanan yang menyangga dana zionis seperti Mc Donald pun telah bermunculan di sekitar Mekkah. “Bisa kita bayangkan bagaimana kita bisa khusyuk beribadah jika kita dikelilingi oleh kemenawahan seperti itu,” terangnya.

Rizki Ridyasmara menyatakan bahwa penetrasi Jaringan Zionis Yahudi Internasional di Arab Saudi telah berlangsung lama. Baginya, lepasnya Arab Saudi dari Kekhilafahan Turki Utsmani tidak lepas dari permainan Zionis Internasional. Salah satunya adalah ketika perwira Yahudi Inggris, Letnan Terrecen Edward Lawrence disusupkan untuk mengendalikan Pasukan Saudi. (Ke Depan, Kita Mungkin Tak Bisa Naik Haji).

Singkat kata, sebelum Saudi berdiri, Inggris menerjunkan seorang kolonel yang bernama Thomas Edward Lawrence untuk memprovokasi keluarga Ibnu Saudi agar memberontak terhadap Khilafah Turki Utsmani. Ternyata, gerakan Lawrence sukses besar, sehingga Saudi berdiri, dan akhirnya Khilafah Utsmaniyyah runtuh. Dapat disimpulkan, Lawrence berhasil menghasut berdirinya Kerajaan Saudi, dengan konsekuensi (resiko) runtuhnya Khilafah Utsmani. Karena Saudi dibentuk oleh Lawrence yang berasal dari agen Inggris (Zionis), disimpulkan bahwa Kerajaan Saudi adalah bentukan Zionis, atau bahkan diyakini sebagai Zionis itu sendiri.

Kalau ada pengamat, sejarawan, atau penulis berpikir dengan logika seperti di atas, wah sangat disayangkan. Ia bukan logika yang benar. Ia tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah. Ia mencampur-adukkan realitas sejarah secara gegabah. Sebaiknya kita tidak menulis sejarah dengan cara seperti itu.

Tidak dipungkiri, bahwa kondisi Kerajaan Saudi tidak ideal, seperti yang diharapkan. Banyak kelemahan-kelemahan di dalamnya. Hal itu bukan saja disadari oleh kaum Muslimin di luar Saudi, di dalam Saudi pun banyak yang prihatin. Hal ini terjadi karena memang kondisi kaum Muslimin di seluruh dunia sedang lemah. Andaikan negara-negara Muslim lain seperti Mesir, Suriah, Pakistan, Indonesia, Turki, dll. dalam keadaan kuat; niscaya Saudi juga akan kuat. Tetapi ya itulah yang terjadi…kita begitu detail dalam mengeritik Saudi, sementara kita lupa dengan kondisi bangsa kita sendiri.

Kesimpulan bahwa Kerajaan Saudi didirikan oleh Lawrence Arabiya, atau didirikan oleh Zionis Israel, adalah kesimpulan SESAT. Begitu juga, berdirinya Kerajaan Saudi berakibat meruntuhkan Khilafah Turki Utsmani, juga merupakan kesimpulan SESAT. Hal-hal demikian hanya akan diyakini oleh mereka yang apriori, sentimen, dan tidak obyektif.

Bantahannya sebagai berikut:

[1]. Akar Kerajaan Saudi adalah kekuasaan Emir Muhammad bin Saud di Dir’iyyah, Najd. Inilah pendiri Dinasti Saudi. Beliau menjadi Emir pada periode tahun 1737-1765 M (Lihat buku: Sejarah Islam, Ahmad Al Usairy, hal. 380-381). Lihatlah dengan mata hati, keluarga Dinasti Saud sudah muncul sejak tahun 1737 H, bahkan sejak sebelumnya. Sedangkan, runtuhnya Khilafah Utsmani baru terjadi tahun 1924.

[2]. Sudah merupakan hal biasa ketika dalam Dinasti-dinasti Islam selalu ada perebutan kekuasaan. Secara fakta sejarah, itu sudah terjadi sejak era Muawiyyah Ra, era Dinasti Umayyah, era Dinasti Abbasiyyah, era Andalusia, Dinasti Mamalik, Dinasti Ayyubiyyah, hingga akhirnya Dinasti Turki Utsmani. Bagi yang membaca sejarah, perebutan kekuasaan antar keluarga bangsawan, bukan hal asing dalam sejarah dinasti-dinasti Muslim.

[3]. Keadaan yang terjadi antara Keluarga Dinasti Saud dengan Khilafah Turki Ustmani ada dalam konteks konflik perebutan kekuasaan. Akibat dari konflik ini, Kerajaan Saudi jatuh-bangun sampai ada 3 periode kekuasaan Saudi. Hal-hal demikian jarang diperhatikan oleh pemerhati yang sentimen. Pihak-pihak yang ingin merdeka dari Turki Utsmani, atau ingin memiliki wilayah sendiri, bukan hanya Dinasti Saudi di Najd, tetapi banyak. Ada yang dari wilayah Irak, Mesir, Afrika Utara, Asia Tengah, Eropa, dll. Jadi tidak adil, jika dalam konflik politik ini, hanya Kerajaan Saudi yang dipojokkan. (Ingin tahu fakta lebih banyak, baca tulisan Dr. Ali Muhammad Shalabi, tentang Daulah Ustmaniyyah).

[4]. Dalam literatur sejarah dituliskan fakta Zionisme Internasional: “Pada tahun 1897, diselenggarakan Konferensi Zionisme Pertama di Basel, Swiss, dibawah pimpinan Theodore Hertzl.” Lihatlah fakta ini dengan mata terbuka. Kalau belum terbuka, cobalah membuka mata di ember berisi air penuh, agar hilang rasa kantuk. Wallahi, Zionisme yang sering dituduhkan itu merancang gerakan politiknya di konferensi Basel ini. Nantinya, Theodore Hertzl akan datang ke Sultan Abdul Hamid II untuk meminta tanah Palestina dengan imbalan uang emas jutaan gulden. Sedangkan, Kerajaan Dinasti Saudi sudah muncul sebelum itu, sejak era Muhammad bin Saud (1737-1765). Ia sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelumnya.

[5]. Kalau membaca buku Road To Mecca karya Ustadz Muhammad Asad (Leopold Weiss), disana dijelaskan kronologi berdirinya Kerajaan Saudi Jilid III di Riyadh. Gerakan itu dipimpin Abdul ‘Aziz bin Abdurrahman bin Faishal Al Saud. Dia bergerak bersama 40 pemuda-pemuda dari suku Badui Najd untuk merebut kekuasaan Ibnu Rasyid di Riyadh. Disini sama sekali tidak ada peranan Lawrence Arabiya. Lawrence baru muncul kemudian, setelah Kerajaan Saudi memiliki fondasi di Riyadh dan sekitarnya.

[6]. Adalah kenyataan tak terbantahkan, bahwa kondisi Khilafah Turki Utsmani semakin melemah di awal abad ke-20. Banyak wilayah-wilayah Turki di Eropa yang melepaskan diri, seperti Rumania, Bulgaria, Polandia, dll. Di sisi lain, gerakan politik Abdul Aziz Al Saud tidak pernah menyentuh wilayah Turki. Bagaimana hal itu bisa dianggap sebagai pemicu kehancuran. Bahkan karena lemahnya Turki Utsmani, mereka tak sanggup menghadapi pasukan Kerajaan Saudi, sehingga harus meminta bantuan Gubernur Mesir, M. Ali Pasha. Kerajaan lemah dimanapun, ia akan kehilangan wibawa dan wilayahnya. Hal ini sudah menjadi RAHASIA SEJARAH yang sangat umum. Jadi kalau wilayah-wilayah itu melepaskan diri, yang disalahkan ialah kekuasaan induknya. Mengapa mereka lemah dan tidak berwibawa?

[7]. Banyak orang begitu senang mengungkap peranan Lawrence Arabiya, tetapi mereka tidak mau mendengar penuturan dari saudara-saudaranya sendiri sesama Muslim. Mengapa mereka begitu nafsu menonjolkan peranan Lawrence, dan mengecilkan peranan kaum Muslimin sendiri?

Singkat kata, Lawrence Arabiya itu muncul belakangan setelah fondasi Kerajaan Saudi di Riyadh dan sekitarnya. Begitu juga konflik antara Dinasti Saudi dengan Khilafah Turki Utsmani adalah sejenis konflik politik (perebutan kekuasaan) yang sudah biasa terjadi dalam sejarah Islam. Dan hal itu sudah muncul lebih dari 100 tahun sebelum Zionisme internasional membuat konferensi pertama di Basel, Swiss.

Kalau menulis, hendaknya kita berhati-hati. Jangan sampai mau menerangi Ummat, malah akibatnya menyebarkan fitnah. Fitnah yang tersebar itu sangat berat timbangannya di sisi Allah Al Khabir.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abah Syakir].

Iklan