Teori Politik Aneh

Oktober 21, 2009

Kalau melihat situasi politik saat ini, rasanya aneh sekali. Kafilah politik SBY dan Demokrat ingin merangkul semua elemen-elemen politik lainnya. Fakta paling mutakhir ialah dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, dan dorongan SBY agar Golkar masuk barisan koalisi. Ini aneh sekali, sebab saat Pilpres kemarin semua orang tahu betapa kerasnya konflik politik antara kubu SBY dengan PDIP dan Golkar. Anda masih ingat kerasnya kritik Megawati kepada SBY, lalu dibalas SBY dengan pidato yang tidak kalah “marah-marahnya”.

Dalam teori politik kubu SBY, semua eleman politik kalau bisa dirangkul, sehingga tidak ada yang memusuhi atau kontra politik dengan tujuan-tujuannya. Ini namanya politik akomodasi. Argumentasinya: “Sistem politik kita presidensial, tidak ada istilah partai oposisi.” (Bisa-bisa saja, para pengamat/politisi menipu rakyat dengan argumentasi yang dibuat-buat).

Singkat cerita, kalau semua partai bisa dirangkul, maka posisi SBY akan aman. Dia bisa bebas mencapai tujuan-tujuan politiknya, tanpa halangan siapapun. Toh, semua partai sudah mendukung dirinya. Dengan cara yang sama, mereka seperti ingin mengulang sukses Golkar di jaman Orde Baru dulu sebagai single majority. Golkar setiap Pemilu rata-rata menguasai 70 % potensi suara rakyat, sama seperti koalisi SBY saat ini.

Kelemahan teori seperti ini:

[1] SBY kelihatan sebagai pemimpin politik yang gampang jerih, takut konflik, tidak memiliki pendirian teguh. Semua elemen dia rangkul, untuk menghindari konflik kepentingan. Kalau pemimpin sejati harusnya memiliki INTEGRITAS kuat, bukan takut menghadapi konflik.

[2] Realitas politik saat ini berbeda dengan jaman Orde Baru. Orde Baru pilihannya hanya 3: Golkar, PPP, PDI. Sementara saat ini setidaknya ada 10 pilihan kanal politik. Merangkul sebanyak itu elemen politik, justru akan membenturkan elemen-elemen itu satu sama lain dalam konflik kepentingan, sehingga akhirnya mereka lemah semua. Mereka pasti akan “berebut kuasa”, lalu tidak efektif menjalankan tugasnya.

Jadi, teori “merangkul semua partai” itu pada dasaranya hanya utopia belaka. Inilah teori yang idak mencerminkan sifat kepemimpinan yang tangguh. Tapi ya sudahlah, wong rakyat Indonesia sendiri memang jauh dari ketangguhan.

Hanya kepada Allah Al Hafizh kita berlindung dari fitnah dan bencana. Amin ya Hafizh.

AMW.

Iklan