Sosok “Pengamat Politik” Bima Arya 

Juni 19, 2009

Ada satu yang terasa aneh dengan munculnya, pengamat politik Arya Bima. Kita tidak tahu dari mana asalnya, apa karya dan kiprahnya, tiba-tiba muncul seorang pengamat politik baru, dengan nama Arya Bima. Mula-mula muncul menjadi narasumber dalam acara “Negeri Impian” bersama para komedian dan selebritis.

Pria bertampang “aktivis Islam” ini memang unik. Wajahnya, dandanannya, karakter suaranya, bahkan corak penampilannya, agak sulit disebut “pengamat politik”. Tetapi karena ekspose terus-menerus melalui TV, akhirnya dia masuk ke level orang publik, dengan label “pengamat politik”.

Sebenarnya, hasil-hasil analisis Arya Bima tidak terlalu istimewa. Kalau diberi poin, mungkin maksimal mendapat angka 7. Tidak ada sesuatu yang berbeda, istimewa, atau khas darinya. Namun ekspose media itulah yang mendaulat dia menjadi seorang pengamat politik dalam usianya yang masih muda.

Kalau melihat sosok Eep Saefullah, Syamsuddin Haris, Indria Samego, Ikrar Nusa Bhakti, Dewi Fortuna Anwar, dan lain-lain, mudah kita memahaminya sebagai pengamat politik. Antara kadar pengetahuan, cara berbahasa, dan penampilan, memang matching. Tetapi melihat sosok Arya Bima, kita akan merasa nuansa selebritas-nya sangat kuat. Inilah salah satu jeleknya media-media massa modern. Meskipun seseorang “kosong isi”, namun kalau terus-menerus diekspose, lama-lama akan jadi “public figure” juga.

Tapi keheranan saya tentang sosok Arya Bima hanya dalam batas keheranan pribadi saja. Baru saya merasa sangat TERKEJUT ketika menyaksikan acara di media, Arya Bima masuk dalam jajaran tim sukses SBY-Boediono. Ya Ilahi, ya Rahmaan, apa tidak salah ini? Pengamat politik kok jadi tim sukses pasangan Capres? Terus terang saya terkejut menyaksikan kenyataan ini. Jadi, analisa-analisa Arya Bima kemarin itu dikemanakan? Apakah ini berarti, acara “Negeri Impian” di TV itu juga dibiayai Fox Indonesia? Wah, tambah bingung.

Tapi sudahlah, tidak usah bingung. Kenyataan ini bisa disebut sebagai sindrome Saiful Mujani-isme. Maksudnya, di depan masyarakat mereka memperlihatkan diri sebagai orang netral, pengamat politik murni, lembaga surve independen; ternyata ujungnya hanyalah melayani kepentingan regim yang berkuasa. Saiful Mujani, Burhanuddin Muhtadi, Deny JA, atau sekarang Arya Bima, ya hanya seperti pelor-pelor kepentingan politik belaka. Mereka hanya seperti pelor-pelor untuk suatu mesin besar yang sedang berjalan.

Saya jadi teringat sebuah diskusi di TV. Waktu itu diskusi menhadirkan SBY dengan beberapa panelis. Salah satu panelis, adalah Arya Bima. Ketika giliran Arya Bima bertanya, dia bertanya pertanyaan standar yang jawabannya sudah dikuasai “di luar kepala” oleh SBY. Tetapi sebelum menjawab, SBY melontarkan kalimat pujian yang sangat naif menurut saya. Dia memuji Arya Bima sebagai pengamat muda yang cerdas dan memiliki masa depan cerah.

Terus terang, saya heran dengan pujian SBY itu. “Ada apa ini?” begitu pikir saya. Tidak elok-lah seorang presiden terlalu obral pujian di depan umum. Ohh, saya baru paham masalahnya setelah Arya Bima tampil membela SBY, pasca Debat Capres yang diadakan KPU kemarin malam. Disini kita dapat pelajaran. Kalau suatu saat SBY memuji seseorang, patut diduga yang bersangkutan akan merapat (atau sudah merapat) bersama SBY. Itu rumusnya. Sebab sampai saat ini memang SBY sangat “pelit pujian” ke lawan-lawan politiknya.

Sayang seribu sayang. Tetapi itulah kenyataannya. Anak-anak muda. Masih segar-segar. Sangat diharapkan kiprah, pemikiran genuine, idealisme, dan sikap kritisnya. Tetapi sayang, ia seperti bunga-bunga mekar, yang cepat layu sebelum menghasilkan buah. Sudah gugur sebelum mekar berkembang. Demi kepentingan menjadi “pelor politik”, merelakan misi perjuangan yang masih panjang.

Ya Allah ya Rahmaan, jadikan kami dari kalangan orang-orang yang benar (shiddiqun), hidup di atas kebenaran, istiqamah memeluk kebenaran, berbangga dengan kebenaran, dan mati dalam kebenaran. Amin Allahumma amin, ya Rahmaan ya Mujibas sa’ilin.

AMW.

Iklan