Timnas PSSI Mainnya Bagus !

Februari 7, 2013

= Kemarin malam, Timnas PSSI main di Dubay melawan tim Irak. Hasilnya kalah 1-0. Meskipun kalah, ini prestasi lumayan baik.

= Dibandingkan saat laga persahabatan lawan Yordania, timas PSSI kalah 5-0. Itu kalah telak. Banyak orang menyangka, Timnas PSSI akan “menjadi pecel” di tangan tim Irak, dengan angka kekalahan minimal 5 angka. Tetapi buktinya Andik dan kawan-kawan bermain cukup semangat dan tabah.

= Irak sendiri termasuk tim kuat di Asia, bersaing dengan Korea Selatan, China, Saudi, Jepang, Korea Utara, dan lainnya. Meskipun negeri mereka lagi kisruh, tetapi kualitas main bolanya bagus.

Timnas Mainnya Bagus Lho. Cuma Kalah 1 Angka.

Timnas Mainnya Bagus Lho. Cuma Kalah 1 Angka.

= Dalam permainan kemarin, Timnas PSSI banyak bertahan, atau mungkin 95 % bertahan. Tapi tidak apa-apa. Wong Chelsea saja saat menghadapi Barca juga bertahan melulu. Di Liga Primer Inggris, sudah biasa ada tim bertahan begitu. Jadi strategi bertahan jangan disalahkan ya.

= Selain bertahan, sesekali pemain Indonesia melancarkan serangan balik, misalnya lewat Andik Virmansyah yang memiliki kemampuan sprint. Beberapa kali cukup merepotkan barisan pertahanan Irak.

= Cara bertahan pemain Timnas juga cukup bagus sehingga nyaris membuat pemain Irak frustasi. Penguasaan bola memang di tim Irak, tetapi kreasi-kreasi serangan mereka sering kali kandas.

= Untuk sekelas Timnas PSSI, dengan persiapan ala kadarnya, dan kisruh yang terus mendera PSSI; lalu bisa kalah lawan Irak hanya 1 angka; itu sudah bagus.

Satu hal lagi yang mengesankan saat pertandingan kemarin, di Stadion Al Rasyid Dubay, UEA. Saat pertandingan sedang berlangsung, terdengar suara syahdu ADZAN dari masjid terdekat. Bukan hanya adzan, bahkan iqamah, hingga Shalat Berjamaah; kalau tidak salah Shalat Maghrib. Saat sebagian orang sedang nonton bola, yang lainnya sedang sibuk Shalat Berjamaah. Alhamdulillah, bumi Allah senantiasa diramaikan oleh hamba-hamba-Nya yang Shalat Jamaah. Alhamdulillah.

Oke untuk Timnas PSSI. Anda sudah bagus. Meskipun nanti kalah lagi lawan Saudi atau China; asalkan kalahnya 1 poin saja, itu sudah bagus. Tim Anda bisa dianggap sekelas, atau cukup merepotkan tim-tim besar.

(Aquw).

Iklan

Mengapa Timnas Kalah Terus?

Oktober 13, 2011

Mengapa Timnas Indonesia kalah terus? Mengapa melawan Qatar di Gelora Bung Karno saja, Timnas kalah juga? Mengapa oh mengapa…

Banyak masyarakat, khususnya peminat bola, sampai ibu-ibu rumah-tangga, mengharapkan Timnas Indonesia menang. Tapi saat mereka kalah, masyarakat pun jadi males. “Males lah…kalah lagi, kalah lagi,” begitu keluh mereka.

Lalu apa yang salah dari PSSI? Apa yang salah dari persepakbolaan Indonesia? Apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki prestasi?

Cari Pemain Semantap Pohon Ini!

1. Kesalahan terbesar orang Indonesia saat bicara tentang sepak bola ialah masalah PARADIGMA. Jadi ini bukan kesalahan PSII, Nurdin Halid, pemain, pelatih, suporter bola, dll. tetapi kesalahan semua orang yang bicara soal sepak bola. Inti dari paradigma ini adalah: “Sepak bola itu olah-raga yang disetting untuk manusia berpostur besar (Eropa).” Dari sisi lebar lapangan, ukuran bola, waktu bermain, aturan sanksi, dll. sepak bola di-setting untuk orang-orang berpostur Eropa (besar).

2. Postur Eropa itu rata-rata tinggi 180 cm, berat badan 80 kg, kecepatan lari dan daya tahan fisik kuat. Maka pemain-pemain Afrika yang berpostur tinggi dan kuat, meskipun mereka miskin, fasilitas minim, tetap bisa berprestasi dengan baik. Karena posturnya sesuai, kekuatan fisik juga sesuai.

3. Beberapa tim Asia, seperti Jepang, China, Korea (Utara & Selatan), pemain mereka juga besar-besar dan stamina kuat. Maka negara-negara itu bisa bersaing dalam kompetisi internasional. Malah ada pemain China yang posturnya lebih tinggi dari orang Eropa.

4. Di Timnas sendiri sebenarnya Indonesia pernah punya pemain dengan postur ideal. Ia adalah Robbi Darwis, pemain bertahan dari Persib. Pemain ini selain tinggi, tubuhnya besar, juga memiliki skill bermain bola. Robbi Darwis bisa menjadi STANDAR fisik pemain nasional. Kalau Indonesia pernah punya pemain seperti dia, berarti bisa dicari pemain-pemain lain yang semodel dia.

5. Kalau sepakbola cuma untuk olah-raga, game, atau pertandingan tingkat lokal; memang tidak dibutuhkan postur tinggi. Pemain dengan postur seperti apapun, silakan saja. Tapi kalau untuk meraih prestasi internasional, ya harus diperbaiki posturnya. Pemain seperti Irfan Bachdim itu di level internasional termasuk kecil, apalagi Octo Maniani. Dan untuk membangun Timnas ini bisa dibentuk sejenis “Akademi Timnas”.

6. Standar fisik para pemain nasional harusnya ditetapkan: tinggi minimal 180 cm, berat ideal 80 kg, kecepatan lari sekian-sekian, ketahanan stamina sekian-sekian, dan ketahanan benturan. Setelah itu baru bicara soal minat sepakbola dan skill bermain. Jangan dibalik, bicara minat dan skill dulu, lalu baru bicara soal fisik pemain. Ini salah…maka itu timnas Indonesia keok melulu.

7. Untuk mencari bakat-bakat pemaian nasional, bisa dimulai sejak SMA kelas 1. Cari anak-anak dengan postur tinggi badan bagus, kesehatan prima, dan suka sepakbola. Meskipun tidak pintar main bola tidak masalah, asalkan fisik sudah memenuhi syarat dan dia suka main bola. Fisik dan minat menjadi tolok ukur utama. Soal skill bermain, itu bisa diasah dalam pemusatan latihan.

8. Biar anak-anak SMA itu suka berlatih, berikan mereka tunjangan honor, fasilitas bermain, dan subsidi untuk perbaikan konsumsi. Selama mereka masuk dalam “proses pelatihan timnas”, mereka mendapat honor.

9. Dari 235 juta penduduk Indonesia, pasti mudah mencari sekitar 50 anak remaja dengan postur minimal 180 cm dan dia senang bermain bola. Pasti mudah. Wong, di sekolah anak saya saja (SMA), ada teman-temannya yang tingginya sekitar 2 m. Itu bukan hanya satu orang. Kalau sulit mencari, umumkan rekruitmen secara resmi, agar mereka mendaftar. Jadi, jangan lagi mengambil pemain timnas yang tingginya 160 cm, apalagi kurang dari itu. Nanti disebut “pemain bayi” oleh orang-orang Eropa.

8. Dari 50 anak yang terseleksi, sejak kelas 1 SMA, dia akan mengikuti jadwal-jadwal pelatihan sampai 3 tahun (sampai lulus SMA). Setelah itu akan diseleksi lagi untuk mencari sekitar 25 pemain nasional (tim inti dan cadangan). Sehingga akhirnya terbentuk formasi pemain nasional, dengan tinggi minimum 180 cm, berbadan kuat, dan memiliki skill bermain bola bagus.

9. Jika belum ada even-even pertandingan internasional, para pemain itu dititipkan di klub-klub profesional untuk berlatih, bermain, dan terjun di klub-klub itu. Secara legal, pemain itu milik “Akademi Timnas”, tetapi secara posisi mereka di klub-klub profesional untuk mematangkan kemampuan dan pengalaman bermain. Saat dibutuhkan, mereka dipanggil untuk bergabung dengan Timnas. Syukur-syukur kalau pemilik klub mau merekrut pemain itu sebagai pemain inti, sehingga mereka dibayar lebih baik oleh klub.

10. Para pemain itu tergabung ke Timnas dalam waktu tertentu, misalnya 5 tahun, sesuai kontrak. Selama itu mereka digaji oleh negara. Jika sudah tidak bermain lagi, mereka boleh memilih akan bermain di klub profesional, direkrut oleh BUMN, atau pilihan-pilihan yang baik bagi mereka.

Jadi, intinya begini: “Pemain Timnas ke depan haruslah orang-orang yang tinggi, fisiknya bagus, dan bermental kuat. Mereka bisa digembleng sehingga memiliki fisik bagus, skill bagus, dan mental kuat. Kalau pemain Timnas masih setinggi 160 cm atau kurang, wah…tak akan banyak berguna ngomong soal Timnas. Ya bagaimana lagi, wong secara mendasar sudah salah konsep.”

Tulisan ini disusun lebih karena “kasihan” melihat bangsa Indonesia. Sejak dulu ingin memiliki Timnas yang kuat, tetapi kalah terus. Kalau mau diperbaiki, ya perbaiki fisik para pemain dari sisi tinggi, berat badan, kecepatan, kekuatan, juga stamina tubuh. Itu intinya. Soal skill, bisa dilatih.

Semoga bermanfaat ya, mengobati kedukaan hati bangsa Indonesia. Ya, meskipun sebatas ide. Allahumma amin.

Pesan terakhir: “Jangan lupakan Shalat di segala keadaan. Meskipun main bola, jangan lupa Shalat ya. Shalat lebih utama dari permainan apapun. Oke?

AMW.


Beberapa Opini Aktual

November 30, 2010

OPINI, edisi 27 Desember 2010.

“KEKALAHAN TIMNAS & INTRIK BOLA”

Saudaraku…

Anda sudah menyaksikan laga Timnas Indonesia Vs Malaysia? Anda sudah tahu hasilnya, Timnas kalah 3 : 0 ? Bagaimana perasaan Anda? Anda kecewa? Anda marah? Anda benci melihat Timnas dipecundangi di Stadion Bukit Jalil, Malaysia? Anda mau marah, Saudaraku?

….  …. ….

Mari-mari sini! Mari saya tunjukkan RAHASIA BESAR tentang dunia sepak-bola. Mari saya tunjukkan REALITAS yang jarang sekali dibahas di media-media massa. Tetapi itu ada dan nyata.

"Hati-hati Indonesia! Kami akan menang 3 : 0. Harga mati, man!"

Mari Saudaraku… Silakan duduk dulu. Minumlah dulu, biar Anda merasa lega. Kita akan sedikit bincang-bincang. Semoga pembicaraan ini bisa menawarkan dahagu, karena kecewa dengan kekalahan tim Firman Utina dan kawan-kawan. Disini ada rahasia besar yang perlu engkau tahu.

Mula-mula, ini baru permulaan, kalau melihat Timnas kalah, janganlah terlalu kecewa. Biasa-biasa sajalah. Kita menang Oke; kita kalah juga tidak apa-apa. Ya, ini cuma games, jangan terlalu dibuat STRESS.

Salah seorang putriku, SMP baru kelas 1. Dia pendukung Timnas juga. He he he… maklum orang Indonesia. Ketika dia mendengar Timnas kemasukan 1 gol, segera dia mengeluh, lalu menjauhi TV. Dia naik ke tempat tidur, mengambil selimut, lalu tidur. Keesokan paginya, sudah dia lupakan soal kekalahan Timnas. Ya, mestinya kita begitu juga. Ringan-ringan saja… Tidak usah dibuat stress, apalagi depressi.

Justru yang harusnya kita SEDIHKAN, adalah ketika tanggal 26 Desember 2010 kemarin itu adalah: Peringatan 6 tahun Tragedi Tsunami di Aceh. Seharusnya, sebagai manusia yang masih punya akal-budi, kita malu ketika melupakan tragedi dahsyat itu. Iya kan? Sehebat-hebatnya kekalahan Timnas, tidak ada satu pemain yang terbunuh di Bukit Jalil. Sementara 6 tahun lalu, ada sekitar 150 ribu manusia wafat karena Tsunami.

Kalau lupa soal Tsunami…ya sudahlah. Moga tahun depan tidak lupa ya…

Saudaraku…

Dunia sepakbola itu dunia BISNIS BESAR. Duitnya gede banget… Pengaruh sosial dan politiknya besar. Tidak mungkin lah urusan bola itu semata hanya urusan: teknik bermain, formasi permainan, strategi pelatih, fisik pemain, suasana psikologi di lapangan. Tidak mungkin itu…

Saudaraku, banyak orang berkepentingan terhadap kemenangan suatu tim, dan kekalahan tim lain. Dengan berbagai cara mereka akan berusaha, agar hasil pertandingan sesuai yang mereka harapkan. Disini pasti banyak sekali INTRIK-INTRIK kotor untuk mempengaruhi hasil pertandingan.

Contoh mudah dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, sebagian penonton tim Malaysia melakukan sorotan SINAR LASSER ke muka pemain-pemain Indonesia. Tetapi ini bukan intrik yang terlalu serius. Masih ada intrik lain yang lebih kejam dan kasar…

Sebelum Babak II pertandingan, seorang kawan mengatakan, para penjudi di Malaysia sedang bergerak untuk memenangkan Tim Malaysia. Teman itu mengatakan, “Nanti kita lihat saja pada Babak II. Mungkin akan terjadi sesuatu.” Benar saja, pada menit ke-54 pertandingan sempat terhenti sebentar karena protes pemain-pemain Indonesia, soal laser. Momen semacam itu sudah dikatakan teman saya tersebut.

Ketika saya tanya, “Bagaimana bentuk intervensi para penjudi Malaysia?” Katanya, mungkin mereka akan menekan panitia, wasit, atau manajemen Timnas Indonesia, untuk memenangkan tim Malaysia.

Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tetapi yang jelas, intrik-intrik semacam ini sering terjadi. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di level pertandingan sekelas Liga Primer Inggris, atau Piala Champions sekalipun. Bahkan trik-trik kotor itu banyak dikeluhkan oleh publik sepakbola Indonesia dalam lingkup kompetisi ISL.

Ayolah, buka matamu… Intrik-intrik itu ada dan nyata. Bukan hanya dalam Piala AFF. Bahkan dalam Piala Champions sekalipun. Tentu kita masih ingat, betapa kesalnya Barcelona FC ketika kalah dalam pertandingan melawan Inter Milan dalam Piala Champions tahun 2009 lalu.

Mourinho ketika itu mengatakan, “Ingat, kami dulu di Chelsea juga pernah dicurangi oleh Barcelona.” Ceritanya, saling curang-mencurangi.

Lalu intrik apa lagi?

Ada lagi, yaitu SIHIR. Mungkin Anda sulit percaya. Tetapi itu ada dan nyata. Sihir sering dipraktikkan untuk memenangi suatu pertandingan. Di Piala Dunia, tim asal Afrika atau Amerika Latin sering dituduh melakukan praktik-praktik sihir.

"Sepakbola Bisnis Besar. Kita Harus Menang. Apapun Caranya!"

Sejujurnya, aku sendiri pernah menyaksikan praktik sihir itu, saat ikut pertandingan level bocah SD, di kampung ku dulu. Di depan mataku, praktik sihir itu dilakukan. Waktu itu aku ikut dalam pertandingan bola itu. Orang-orang di kampung sering menyebut dengan istilah: “Main dukun!” Istilah itu populer kami dengar di berbagai pertandingan bola tingkat kampung, kecamatan, atau kabupaten.

Ciri permainan yang menggunakan trik SIHIR: “Tim yang didukung mendapat kemenangan dengan cara mudah. Sementara tim lawan sangat kesulitan mengembangkan permainan, meskipun skill mereka bagus. Dan lebih sulit lagi untuk menembus gawang.”

Misalnya, dalam pertandingan di Bukit Jalil itu, Tim Malaysia bisa mendapat 3 gol hanya dalam tempo 10 menit. Ini adalah produksi gol yang sangat mudah. Padahal di Babak I, mereka gagal membuat satu gol pun. Dan kemenangan 3 : 0 itu sesuai prediksi Rajagopal. Hebat kan? Rajagopal sudah memperkirakan kemenangan 3 : 0, dan ternyata terbukti. Hebat…

Di sisi lain, Timnas bermain sangat buruk. Banyak pemain Timnas bermain seperti “pemain bodoh”. Berkali-kali membuat kesalahan, umpan tidak akurat melulu… Kalau menembak ke gawang, melenceng terus.

Dari pengalamanku menyaksikan pertandingan SIHIR di masa kecil… Pertandingan seperti di Bukit Jalil itu jelas memakai intrik-intrik Sihir. Sekali lagi alasannya: “Sepakbola adalah bisnis besar, politik besar, pengaruh sosial besar.” Segala cara akan dilakukan, untuk meraih kemenangan.

Tapi ada kabar baiknya… Ternyata, pelaku praktik sihir ini bukan hanya dalam pertandingan Timnas Vs Malaysia. Sampai di level Liga Primer dan Piala Chamions Eropa, ada praktik semacam itu. Ada dan nyata…

Bayangkan… Arsenal pernah kalah 3 : 0 (atau 3 : 1 ya) dari Manchester United, di kandang Arsenal. Bayangkan? Apa mungkin bisa terjadi kekalahan setelak itu di kandang Arsenal? Begitu juga, Real Madrid baru-baru ini kalah 5 : 0 oleh Barcelona FC di kandang Barcelona. Apa mungkin tim sekuat Real Madrid bisa kalah setelak itu? Padahal Barca tidak selalu menang besar menghadapi lawan-lawannya di kandang Barca.

Sekali lagi, ciri permainan Sihir: Tim tertentu menang dengan mudah, tim lawan hampir-hampir tidak bisa main sama sekali. Semua kemampuan teknik, strategi, arahan pelatih, dll. seolah tak berguna sama sekali.

Saya yakin, kekalahan Timnas di Bukit Jalil Malaysia lebih karena kekalahan akibat permainan Sihir dari luar lapangan. Sebab secara teknik atau teori permainan bola, tidak ada REASON yang bisa dijelaskan.

Saudaraku…

Sangat telat kalau kita baru mengetahui hal ini saat sekarang. Sihir itu bisa diterapkan di berbagai bidang yang sesuai tabiat sihir itu sendiri. Media-media massa tidak pernah mau mengungkap faktor sihir, begitu juga pemaian, pelatih, offisial, komentator, dll. Mengapa? Sebab kalau peranan sihir dijadikan tolok-ukur, nanti sepakbola jadi tidak laku.

Singkat kata… kita selama ini ya hanya ditipu, ditipu, dan ditipu saja dengan pemberitaan soal sepakbola itu. Kita hanya menjadi mainan media-media massa. Sejujurnya, pertandingan sepakbola yang fair, jujur, dan menyenangkan itu hanya IMPIAN belaka. Terlalu banyak intrik-intrik yang bermain di balik pertandingan bola.

Ke depan… Kita jangan terlalu senang dengan kemenangan sepakbola; juga jangan terlalu sedih dengan kekalahannya. Nikmati permainannya saja, jangan lihat skornya! Anggap, siapa yang menang ialah para best player, meskipun di lapangan mereka kalah.

Kalau kita seperti selama ini… Menganggap kemenangan dari sisi skor, terserah bagaimanapun caranya. Pasti kita akan menjadi “budak-budak” pemberitaan seputar bola. Janganlah Saudaraku…capek!

Oke Saudaraku, sampai disini saja obrolan kita. Santai sajalah…seperti putri saya yang memilih tidur, lalu melupakan kekalahan. Ringan kan? Justru kita seharusnya merasa sedih, ketika tidak ingat peringatan 6 tahun Tsunami di Aceh. Untuk itu jelas harus berduka…

Matur nuwun, nggih!

=====================================================

OPINI, edisi 24 Desember 2010.

“SAUDARAKU, TOLONGLAH TITIPAN NABIMU INI!”

Yatim-Piatu: Titipan Nabi Saw Untuk Kita Semua...

Ada rasa kesedihan mendalam ketika membaca artikel berikut ini: “Yatim-Piatu Mewarisi Hutang Rp. 45 juta.” Artikel ini dimuat voa-islam.com, 23 Desember 2010.

Saudaraku…

Apalah artinya hidup di dunia ini? Apalah artinya… Tidak ada yang bisa kita sombongkan, apapun, sedikit pun. Kita ini hanyalah hamba-hamba Allah yang dhaif, fakir, tidak berdaya. Tanpa pertolongan dan ijin-Nya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang kita miliki pada hakikatnya adalah: karunia dari-Nya. Hanya kepada Allah kita bersujud, merintih, menghiba, dan mengharapkan pertolongan.

Ya Allah ya Rahiim… teramat banyak, teramat besar, teramat rumit cobaan-cobaan yang menimpa Ummat Sayyidul Mursalin -shallallah ‘alaihi wa sallam- ini. Banyak orang papa, banyak manusia fakir, banyak pemuda terasing, banyak wanita teraniaya, banyak anak-anak kehilangan masa-masa bermainnya. Ya Allah, amat sangat berat cobaan bagi hamba-hamba-Mu ini. Kami hanya kuasa menulis, mengadu kepada-Mu, serta meneteskan air mata kesedihan… Ya Allah ya ‘Aziz kasihilah hamba-hamba-Mu ini, kasihilah kami ya Rabbi… hendak kemana kami kan mengadu?

Ya Allah, kami ridha dengan-Mu ya Allah… kami ridha mentaati-Mu, kami ikhlas menerima tuntunan-Mu, kami menuruti-Mu sekuat kesanggupan kami… Kami beramal, tetapi kami juga melakukan kesalahan; kami berjuang, tetapi juga jatuh dalam kezhaliman; kami terus berusaha melakukan perbaikan, tetapi kami pun mengulang-ulang kesalahan kami.

Ya Allah, di atas segala kedhaifan kami ini, kami dapati Engkau adalah Maha Pengampun, Engkau Maha Pemaaf, kasih-Mu melebihi adzab-Mu, Engkau lebih sayang kepada kami daripada diri kami sendiri, Engkau memberikan kami karunia-karunia besar yang tidak kami minta, Engkau mencegah berbagai fitnah dan bencana menimpa diri kami, ketika amal-amal kami justru sangat dekat kepada bencana-bencana itu. Ya Allah, Engkau selalu memaafkan kami, ketika tiada henti kami menyakiti-Mu. Ya Rabbi maafkan kami, maafkan kami ya Rahmaan, maafkan kami ya Raa’uf.

Ya Allah, tolong anak-anak kami… tolonglah orangtua-orangtua kami… tolonglah para pemuda Islam… tolonglah wanita-wanita Muslimah… tolonglah para mujahidin ya Rabbi… tolonglah para ustadz yang ikhlas mengajar Ummat… tolonglah para ulama yang menjadi benteng-benteng agama ini…

Ya Allah ya Nashir, tolonglah anak-anak kami yang yatim-piatu… tolonglah amanah Rasulullah Saw ini… tolonglah mereka, kasihi mereka, hapuslah kesedihan mereka, berikan mereka ISTIQAMAH di atas agama-Mu, berikan mereka kecukupan rizki dan pertolongan atas setiap kesulitannya… tolonglah mereka ya Allah ya Hafizh ya Dzal Jalali wal Ikram.

Ya Allah ya Ghaniy, tolonglah hamba-hamba-Mu yang dermawan… yang lembut hati, pengasih kepada kaum lemah, air matanya mudah sembab karena mengasihi Ummat Nabi Saw, tangan-tangannya begitu hangat dan dermawan mengelus kepala anak-anak kaum Muslimin yang malang… ya Allah ya Rahmaan, tolonglah mereka… berkahi rizki-nya, berkahi keluarganya, tolonglah usahanya, kekalkan kebahagiaan dan keselamatan baginya… sebab mereka menolong, mengasihi, menjaga TITIPAN NABI Saw, yaitu anak-anak yatim-piatu yang lemah dan menderita.

Ya Allah terimalah doa-doa kami ini. Amin Allahumma amin, ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

———————————————–>>>

Untuk menolong anak-anak kita di atas (Fikri dan Dinda), silakan menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 0878.8651.3321. Bantuan bisa dikirim ke rekening almarhumah: BCA an. Elly Mariati no rek. 7020.180.514 atau melalui redaktur voa-islam.com.

================================================

Baca entri selengkapnya »