Rumitnya Kasus Hukum Manohara

Juni 11, 2009

Melihat konferensi pers Manohara dan para pengacaranya, sangat tampak mereka begitu optimis sekali akan berhasil memperkarakan Tengku Fahry dan keluarga Kerajaan Kelantan. Manohara telah membuktikan bahwa di tubuhnya terdapat bekas-bekas luka akibat perlakuan suaminya. Hal itu diperkuat oleh kesaksian dr. Abdul Mun’im Idris, ahli forensik RSCM, setelah dia melakukan pemeriksaan fisik kepada Manohara. Posisi dr. Mun’im Idris bisa dianggap sebagai GARANSI, bahwa luka-luka di tubuh Manohara memang ada dan nyata. Ya, siapa yang meragukan sosok dr. Mun’im yang sudah malang-melintang di dunia otopsi mayat itu? (Kecuali kalau ada khilaf-nya lho ya. Namanya juga manusia, tidak lepas dari khilaf dan alpa).

Kalau melihat sikap Hotman Paris, pengacara Manohara. Rasanya orang ini sangat bersemangat. Menggebu-gebu. Seolah posisi Tengku Fahri dan keluarganya sudah terhampar di telapak tangan, tinggal di-pithes saja. (Di-pithes itu bahasa Jawa, keadaannya seperti kutu rambut yang ditekan dengan kuku ibu jari, lalu bunyi “kletak”).

Kalau mau jujur, masalah hukum Manohara Pinot itu rumit dan sulit. Oke-lah Manohara sudah bebas, alhamdulillah. Tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya, apalagi berharap mereka akan dipenjara, atau ganti “disileti” (he he he…), tampaknya sangat sulit. Kalau targetnya hanya Manohara bisa cerai dari suaminya, mungkin mudah, tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya ke pengadilan sangat sulit.

Bukan pesimis lho ya, tapi realistis. Alasannya sebagai berikut:

[1]  Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus Manohara itu terjadi di Kelantan, di luar yuridiksi Indonesia. Hotman Paris, Farhat Abbas, dll. kan pengacara di Indonesia, bukan pengacara di Malaysia, atau pengacara dalam level hukum internasional.  Tindak kekerasan yang dituduhkan itu terjadi di Malaysia, atau di Negeri Kelantan. Otomatis yang kelak akan mengadili kasus ini adalah pengadilan di Kelantan. Ya, dimana lagi? Wong kejadiannya memang disana.

[2] Pihak yang dituntut Manohara adalah Putra Mahkota Kelantan dan keluarganya. Semua orang tahu bahwa di jaman modern ini susah mencari pengadilan yang benar-benar adil. Sebagian besar mahkamah hukum masih dipengaruhi oleh kekuasaan. Bahkan pengadilan di Amerika sekali pun, yang konon disebut-sebut sangat adil, tidak sepi dari intervensi kekuasaan.

Contoh mudah, George Bush menyerang Irak tahun 2003 dengan tuduhan di Irak memiliki reaktor senjata pemusnah massal. Tetapi setelah diselidiki, disana tidak ada reaktor yang dituduhkan. Artinya, Bush telah bohong ketika melakukan penyerangan ke Irak. Bush bisa disebut penjahat perang karena mengagresi bangsa lain dengan alasan bohong. Amerika sendiri bisa disebut The Real Terrorist Nation. Tetapi siapa berani mengadili George Bush? Padahal kesalahannya sangat terang benderang. Begitu pula dengan kondisi di Indonesia. Kita tahu, salah satu sebab yang membuat masyarakat sekarang hidup sengsara adalah Mega Skandal BLBI sekitar tahun 1997-1998. Sampai saat ini kasus itu masih gelap. Disana para pejabat senior Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan lainnya banyak yang terlibat BLBI. Namun sampai saat ini, tidak ada mantan pejabat Bank Indonesia yang dijebloskan ke penjara karena BLBI. Ini hanya contoh bahwa kekuasaan itu sangat kuat dalam mempengaruhi keadilan proses peradilan.

Ibu Manohara sendiri, Dessy Fajarina mengakui bahwa keliarga Kerajaan Kelantan sangat kaya. Mereka dengan uang yang dimiliki bisa berbuat apa saja. Nah, itu Bu Dessy sudah mengerti. Tetapi kalau memang pihak Manohara siap dengan segala konsekuensinya untuk memperkarakan keluarga Kerajaan Kelantan. Itu juga bisa ditempuh. Coba saja terus berproses, siapa tahu nanti akan ada keadilan seperti yang diharapkan. (Meskipun dalam hati, saya pesimistik).

Baca entri selengkapnya »

Iklan