Ketika Trio ISMA Menjadi “Pahlawan”

November 18, 2008

Setelah eksekusi tiga terpidana mati kasus Bom Bali pada 9 November 2008 lalu, di atas kertas masalah ini telah selesai, tuntas. Ketika pelaku utamanya telah meninggal, otomatis kasus besarnya terkunci. Begitu logikanya. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bahwa rentetan persoalan ini akan masih panjang? [Lho, kok begitu?]. Iya, sebab pemberitaan intensif tentang sosok Trio Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi (disingkat Trio ISMA) selama ini, justru telah menempatkan mereka ke level pahlawan sosial yang dikagumi oleh banyak orang.

Secara yurudis, Trio ISMA divonis sebagai teroris, pelaku peledakan bom, pelaku tindak kriminal. Menurut logika hukum seperti itu, tetapi di mata publik persoalannya tidak sesederhana itu. Publik memiliki logikanya sendiri. Di mata masyarakat Trio ISMA tidak tampak seperti penjahat dengan muka sangar, bertato, hidup bergelimang dosa; mereka terlihat shaleh, berwajah bersih, berwibawa dengan penampilan dan sikap khasnya. Mereka berani berkata tegas tentang perjuangan, ketika banyak orang hidup berselimutkan kebohongan dan sikap munafik. Hal itu menurut masyarakat sebagai bahasa kejujuran yang lebih membekaskan pengaruh.

Kemudian, sikap antipati secara berlebihan kepada Trio ISMA justru berbalik menjadi lautan simpati bagi mereka. [Ingat kasus 27 Juli 1996 di Jakarta yang mendorong lahirnya PDI Perjuangan]. Selama ini pemerintah, aparat hukum, para pakar, dan media massa secara intensif, massif, dan terus-menerus menempatkan ketiga tokoh tersebut sebagai sosok paling berbahaya bagi negara. “It’s the most dangerous enemies!” begitulah labelisasinya. Kemudian diberikan porsi liputan luar biasa terhadap ketiganya, sejak tertangkap, selama proses pengadilan, sampai saat eksekusi mati di Nirbaya Nusakambangan. Dalam pemberitaan, publikasi, penerbitan buku, diskusi, dll. Trio ISMA diposisikan sebagai teroris yang sangat jahat dan kejam. Sementara masyarakat tidak melihat bahwa pemuda-pemuda itu memiliki karakter seperti yang digambarkan.

Hampir semua TV swasta memberikan porsi perhatian luar biasa kepada Trio ISMA. Sebagai contoh, MetroTV. TV milik Surya Paloh ini jelas secara ideologis berlawanan 180° dengan keyakinan Trio ISMA. Tetapi berkali-kali MetroTV mengangkat topik Bom Bali dalam berbagai liputan khusus. Apapun nama program, durasi, dan waktunya; MetroTV sering mengangkat isu Bom Bali. Dalam salah satu episode Metro Realitas, redaksi MetroTV pernah membeberkan fakta-fakta kejanggalan di balik tuduhan teroris kepada Trio ISMA itu. Saya sendiri merasa aneh dengan kasus Bom Bali salah satunya karena acara Metro Realitas itu. Jika ada stasiun TV yang dianggap “suci” dari pemberitaan ini, mungkin SCTV. Sejak dulu, SCTV konsisten bersikap sentimen kepada ketiga tokoh tersebut. Meskipun, bisa jadi wartawan SCTV secara pribadi ada yang bersimpati ke mereka.

Jika pemberitaan seputar Bom Bali dianggap sebagai medan perang opini, maka sejak awal pemberitaan kasus ini sampai saat pelakunya dieksekusi, maka pemenang sejati dari perang opini ini adalah Trio ISMA sendiri. Segala bentuk pencitraan negatif atas diri mereka berbalik menjadi simpati, kekaguman, bahkan memunculkan citra kepahlawanan. Kharisma Trio ISMA sangat kuat, sehingga publik nasional dan internasional tidak bosan-bosan membicarakan mereka. Mungkin saja nada pembicaraan itu tetap menganggap mereka sebagai teroris, tetapi siapapun tidak bisa menampik, bahwa Trio ISMA melakukan aksi peledakan di Paddy’s Club itu karena misi perjuangan yang diyakininya. Motiv mereka bukan kriminalitas (materi), bukan kekuasaan, bukan dendam pribadi, atau alasan-alasan duniawi. Bahkan di antara korban Bom Bali sendiri, ada yang telah memaafkan mereka, tidak mendendam, bahkan mendoakan ketiganya. Arus seakan berbalik tajam.

Ada jihad lain di luar makna jihad yang diyakini oleh Trio ISMA. Ia adalah jihad menaklukkan hati masyarakat. Publik yang semula antipati, perlahan-lahan mulai bersikap netral, kemudian mulai memahami, hingga mengagumi. Bahkan menjelang eksekusi mati Imam Samudra, rombongan anak-anak TK datang ke rumah ibunya, untuk memberi dukungan. Begitu pula, setelah jenazah Imam dikuburkan, anak-anak SD dan masyarakat sekitar datang berkunjung untuk berziarah. Ribuan orang di Serang datang mengantarkan Imam Samudra ke pemakaman. Andai, tidak ada satu pun TV yang memberitakan acara pemakaman itu, ribuan orang tersebut telah menjadi bukti, bahwa Imam Samudra dan kawan-kawan, telah memenangkan jihad ini, yaitu jihad menaklukkan hati masyarakat. Hanya pertolongan Allah saja yang bisa membuat segala sesuatu berbalik arah.

Sungguh, stigmatisasi terhadap ketiga sosok tersebut, sangat luar biasa. Hingga ada orang tertentu yang menunjukkan sikap kebencian luar biasa lewat penulisan buku yang bernada melecehkan. Namun kemudian arus berbalik, sehingga penulisan buku itu mengundang kecaman dari sana-sini.

Baca entri selengkapnya »

Iklan