Ridwan Saidi Tambah Ngaco…

Oktober 28, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mestinya ya orang tua itu semakin bijak, semakin baik, semakin mulia; mulai meninggalkan jejak-jejak kemuliaan bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya. Tapi aneh dengan Engkong Ridwan Saidi ini; sudah mendekati saat-saat akhir kehidupan, malah meninggalkan JEJAK KEBUSUKAN yang tercium ke seluruh alam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

1. Awalnya Ridwan Saidi dikenal sebagai sejarawan kritis, juga tokoh yang intens mengamati pergerakan Zionis Yahudi. Mulanya termasuk bagian dari barisan perjuangan kaum Muslimin. Tapi aneh sekali, dalam acara resepsi kesesatan Syiah kemarin di SMESCO Jakarta (26 Oktober 2013) dia malah memuji-muji perserikatan “tukang kutuk Shahabat” yang bernama IJABI. Sudah begitu, dia memuja…menghamba…mengkultus…mengelu-elukan manusia pembawa laknat dan petaka: Jalal Sisyiah.

2. Ridwan Saidi mulai aneh-aneh sejak gaul dengan Jakarta Lawyers Club (sekarang jadi Indonesia Lawyers Club), yang ditukangi Karni Ilyas di TVOne. TVOne telah membuat kehidupan hari tua Ridwan jadi berbeda; dia jadi kenal dunia media, dunia panggung, dunia broadcasting; dunia cewek-cewek cantik. Ketika Tina Talisa masih di TVOne, Ridwan Saidi sering dipanggil: Engkong.  Mungkin maksudnya, Tina meminta supaya Ridwan mulai sadar diri bahwa dirinya sudah lanjut usia, jadi jangan aneh-aneh.

3. Industri media memang dahsyat, maka tidak ada salahnya seseorang tidak mau gaul dengan dunia TV atau RadioFM dengan pertimbangan, khawatir terkena fitnahnya. Dunia syuting itu sering kerja siang-malam di studio, laki-laki perempuan campur aduk, dan mereka sudah sepakat untuk “sama-sama diam soal cinta”. Maka itu, peluang rusaknya moral di dunia begini, sangat besar. Meskipun kita tidak menuduh Ridwan Saidi akan jadi semacam “ABG Tua”; tapi ya begitulah dunia media, sangat rawan kehancuran moral.

4. Contoh simple ialah seniman Sujiwo Tejo. Sejak banyak gaul dengan TV, terutama TVOne, dia juga sudah mulai lumer. Katanya dulu Sujiwo pernah “nyumpahi” orang TVOne, tapi sekarang ya tetap kumpul-kumpul, gathering.

5. Sangat menyedihkan ketika Ridwan Saidi sudah tua, malah membuka topeng dirinya sebagai pembela Syiah. Kasihan banget Pak. Meskipun ada 1000 Ridwan Saidi, tak akan banyak gunanya bagi Syiah; wong dia sudah tua, sudah lemah, tambah emosian lagi. Gak ada gunanya Pak dukungan kamu ke Syiah. Tapi secara keimanan, dukungan ke Syiah (IJABI) ini bisa jadi tanda-tanda su’ul khatimah. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

6. Ya kalau masih ada kesempatan dan kebaikan, cobalah Bang Ridwan Saidi bertaubat dari kesesatannya; dengan Anda mendukung Syiah sama saja mendukung serangan besar terhadap ajaran Syariat Islam.

7. Ridwan Saidi mengatakan: “Indonesia tidak membatasi dan menghalangi berkembangnya pemahaman agama tertentu selagi tidak merendahkan pemahaman agama lain.”

Justru Pak Ridwan, dengan ngomong begitu, Anda berarti tidak mengerti hakikat Syiah itu sendiri. Mana ada Syiah bisa muncul ke muka bumi, dengan tanpa menghujat simbol-simbol kemuliaan dan Syariat Islam? Anda tidak mengerti Syiah Pak.

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Amin ya Hafizh.

Mine.

Iklan

Konspirasi: FPI Jadi Korban, FPI Dihujat !!!

Februari 14, 2012

Kalau jujur mau mengakui, di Indonesia ini banyak orang-orang aneh. Lihatlah kelakuan media-media yang kini gencar menyerang FPI. Mereka itu kelihatan pintar, intelektual, cerdas; tetapi moralitasnya ambruk. Sayang, sangat disayangkan sekali. Nas’alullah al ‘afiyah fid dunya wal akhirah.

Sudah jelas-jelas beberapa hari kemarin, saat kunjungan ke Kalimantan Tengah, beberapa tokoh FPI nyaris menjadi sasaran amuk massa dan pengepungan komunitas-komunitas Dayak anarkhis. Buktinya, DPP FPI melaporkan Gubernur dan Kapolda Kalteng ke mabes Polri untuk beberapa tuduhan sekaligus. Salah satunya, upaya pembunuhan pimpinan FPI.

FPI Jadi Korban, Kok Malah Dihujat. Aneh Sekali Kan? Ada Apa Ini?

Tapi aneh bin ajaib. FPI yang jadi korban, FPI juga yang dihujat. Dalam demo di Bundaran HI, Ulil Abshar dan kawan-kawan menyerukan agar FPI dibubarkan. Media-media massa, termasuk MetroTV dan TVOne, tidak segan-segan memberi CORONG GRATIS kepada siapa saja yang anti FPI, dengan tentunya -seperti biasa- mereka tinggalkan etika Cover Both Side. Kompas malah sangat kacau (kalau tidak disebut rusak nalar), media itu mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang katanya menolak ormas anarkhis. Padahal dalam perkataan Din, tidak ada pernyataan ormas anarkhis.

Paling parahnya, SBY juga ikut-ikutan menyudutkan FPI. Dia meminta agar FPI instropeksi diri. Orang ini aneh sekali. Masalah hukum soal “ancaman pembunuhan” tokoh-tokoh FPI belum dia bahas, malah sudah meminta FPI instropeksi diri. Hal begini ini kan sangat kelihatan kalau kasus FPI itu sebagai pengalihan isu, ketika Partai Demokrat sedang dilanda “Tsunami Besar” akibat kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit mereka. Kita mesti ingat, di masa-masa sebelum, setiap ada masalah besar menimpa Pemerintah SBY, selalu saja ada “jalan keluar” berupa kasus-kasus terorisme, kerusuhan agama, dan lainnya.

Nah, disinilah kita saksikan betapa anehnya kelakuan orang-orang Indonesia. Sudah tahu, mereka itu sakit dan banyak menanggung penyakit. Bukannya berobat atau menahan diri, agar sakitnya tidak semakin parah. Malah mereka semakin menghujami dadanya dengan belati tajam, untuk menghancurkan dirinya sendiri. Aneh…aneh…tidak waras!

Kalau dicermati, tampak adanya KAITAN antara insiden di Palangkaraya, respon media-media massa yang begitu cepat, gerakan demo anti FPI dipimpin oleh seorang tokoh Partai Demokrat, serta pernyataan SBY. Semua elemen-elemen ini tampaknya saling berkaitan satu sama lain, menggarap isu FPI, dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat dari bencana korupsi yang kini sedang menimpa jajaran elit Partai Demokrat.

Kalau dianalisis lebih dalam, kita bisa melihat adanya model skenario yang KEMUNGKINAN dijalankan, untuk menjebak FPI dalam pusaran kasus sosial; lalu kasus itu dipakai untuk tujuan-tujuan politik.

Pertama, FPI diundang datang ke Kalteng untuk membela masyarakat yang katanya dizhalimi oleh Gubernur Kalteng. Mengapa FPI ingin dilibatkan? Karena FPI secara gagah berani membela warga Mesuji, Lampung. Kasus Mesuji itu bisa menjadi titik peluang untuk mengundang FPI ke Kalteng.

Kedua, ketika di Kalteng, pihak Gubernur sudah menyiapkan penyambutan bagi tokoh-tokoh FPI yang akan datang. Menurut informasi, gerakan massa dimulai dari kantor Gubernur Kalteng. Aneh sekali, kantor negara dipakai untuk merencanakan gerakan-gerakan anarkhis.

Ketiga, terjadi insiden di lapangan udara Palangkaraya, berupa penolakan dan pengepungan pesawat oleh massa anarkhis, dengan membawa senjata tajam dan mengeluarkan kata-kata makian. Alhamdulillah, tidak ada satu pun tokoh FPI yang cidera secara fisik. Insiden terjadi lagi saat tokoh-tokoh FPI singgah di Banjarmasin.

Keempat, sebelum insiden terjadi pihak FPI sudah mencium ada gelagat tidak beres di Kalteng. Dan lebih mengherankan lagi ketika Kapolda Kalteng angkat tangan, tidak mau tanggung-jawab kalau tokoh-tokoh FPI tetap datang ke Kalteng. Hal ini membuktikan, bahwa ada SKENARIO BESAR yang tak sanggup dihadapi oleh Kapolda Kalteng.

Kelima, setelah terjadi insiden Kalteng, para aktivis LIBERAL dan KOMPRADOR di Jakarta sudah menyiapkan demo untuk menggugat FPI. Media-media massa sudah siap “nampani” amanah untuk menggebuk FPI dari sisi opini media. Kompas, Detik.com, MetroTV, TVOne, Kantor Berita Antara, dll. sudah siap untuk memanaskan situasi. Mereka lupa sama sekali dengan kenyataan, bahwa tokoh-tokoh FPI hampir habis dikeroyok komunitas Dayak anarkhis.

Keenam, sebagai bagian dari skenario ini ialah pernyataan SBY yang meminta agar FPI instropeksi diri. Ditambah lagi pernyataan Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa ormas anarkhis bisa dibekukan.

Hal-hal seperti di atas bisa dibaca secara terpisah-pisah, bisa juga dibaca sebagai sebuah kesatuan skenario, demi menjatuhkan FPI dan mencapai target politik tertentu. Lagi pula hal-hal demikian sudah sering terjadi. Saat kapan saja ketika Pemerintah SBY atau Partai Demokrat sedang terdesak, selalu ada “jalan keluar” untuk mengalihkan perhatian publik. Yang paling sering dipakai adalah isu TERORISME, ormas anarkhis, dan kerusuhan berbasis agama.

Tapi yang paling kasihan dari semua ini ya…masyarakat Indonesia selama ini (dan tentu saja aktivis-aktivis Islam yang sering “digunakan” oleh negara sebagai “jalan keluar”). Masyarakat terus disuduhi kebohongan, penyesatan, skandal, konspirasi, pengkhianatan, kezhaliman, dan seterusnya.

Yah, bagaimana hidup akan aman, tentram, dan damai; kalau cara-cara licik seperti itu selalu dipakai? Mau hidup damai dimana, Pak, Bu, Mas, dan Mbak? Anda hendak sembunyi di dasar inti bumi sekalipun, kalau OTAK LICIK itu masih ada, nonsense akan ada kedamaian. Yang ada hanyalah kemunafikan telanjang; mengaku anti kekerasan, padahal paling terdepan dalam membela kezhaliman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya Allah ya Rahman, selamatkanlah kaum Mukminin, Mukminat, Muslimin, dan Muslimat; dimana pun mereka berada, khususnya di negeri Nusantara ini. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Abah Syakir.