Membantah Ucapan Sombong Seorang Takfiri

April 26, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau mampir ke internet, saya selalu membuka situs suara-islam.com, eramuslim.com, voa-islam.com, dan hidayatullah.com. Hampir selalu membuka situs-situs ini, untuk update berita-berita seputar Islam. Sebab media-media massa saat ini terlalu rusuh dengan amoralitas, maka enggan hati untuk menggumuli berita-berita mereka. Meskipun sekali waktu tetap membuka situs-situs umum mainstream.

Saat membuka voa-islam.com, alhamdulillah saya menemukan tulisan yang sangat MENYENGAT yang ditulis oleh seorang ustadz takfiri (tukang mengkafirkan orang). Artikelnya sebagai berikut: Melongok Argumen yang Menghalalkan Ngebom Polisi Saat Shalat di Masjid. Ketika membaca tulisan yang dibuat oleh Abu Khataf Saifur Rasul ini, masya Allah rasanya kita tidak sedang bicara dengan seorang Muslim. Adabnya, nol besar!

Disini saya akan coba mengkritisi ucapan sombong makhluk takfiri satu ini. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kehidupan ini begitu sengit dengan fitnah. Bukan hanya aparat yang selalu mentarget pemuda-pemuda Islam untuk ditangkap, dipenjara, disiksa, bahkan ditembak mati. Tetapi di antara kaum Muslimin juga ada manusia berhati keras, ghuluw, merasa paling ‘alim urusan Islam, lalu dengan seenaknya memaki-maki saudaranya sesama Muslim dengan makian yang hanya pantas ditujukan kepada orang-orang kafir.

Nabi Saw bersabda, “Sibabul muslim fusuqun wa qitaluhum kufr” (memaki seorang Muslim adalah fasiq, dan memeranginya adalah kufur). Atau Nabi Saw juga bersabda, “Bi hasbi imri’in minas syar-ri an yahqira akhihi” (cukuplah seseorang dianggap berbuat jahat jika dia menghina saudaranya sesama Muslim).

Mula-mula akan saya tampilkan ucapan sombong Si Takfiri ini, lalu memberikan kritik-kritik ringkas atasnya. Semoga Allah Ta’ala menolong kita untuk memuliakan agama-Nya. Amin Allahumma amin.

[A] Setelah mengucap basmalah, tahmid, dan shalawat, Si Takfiri menyitir sebuah ayat Al Qur’an dari Surat Al Hujurat ayat 12 tentang larangan berprasangka buruk, larangan mencari-cari kesalahan (tajassus), serta larangan ghibah terhadap sesama Muslim. 

KOMENTAR: Ayat seperti ini tidak tepat untuk mendalili perbuatan Syarif saat meledakkan bom yang menempel di tubuhnya, di masjid Mapolresta Cirebon. Perbuatan Syarif itu bukan kesalahan seorang Muslim yang bisa ditoleransi. Ia adalah perbuatan kebathilan yang harus ditolak dan diingkari secara terang-terangan. Dalil yang bisa dipakai disini ialah sabda Nabi Saw yang berbunyi, “Man ra’a minkum munkaran fal yughaiyiru biyadihi, wa illam tastathi’ fa bilisani…” Hadits perintah nahyul munkar inilah yang pantas disebutkan dihadapan perbuatan durhaka Syarif atas Syariat Allah dan Rasul-Nya.

Setiap orang bisa berdalil dengan Kitabullah dan As Sunnah, karena orang Liberalis/Orientalis juga pintar berdalil untuk melayani ambisi, hawa nafsu, dan kedurhakaan hati mereka. Na’udzubillah wa na’udzbubillah min dzalik. Hanya apakah dalil itu tepat sesuai konteks dan masalahnya, belum tentu. Cara berdalil Si Takfiri ini bisa menunjukkan model cara berdalil semaacam itu.

[B] Risalah ini adalah tanggapan terhadap komentar-komentar tentang apa yang terjadi pada hari jumat 15 april 2011 di cirebon (bom cirebon). Sebelumnya perlu diperhatikan bahwa: 1. Ana (Abu Khataf) tidak kenal dengan pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu. 2. Ana (Abu Khataf) asumsikan bahwa pelaku dan (kalau ada) orang-orang yang berada di balik peristiwa itu adalah seorang muslim yang meniatkan apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka jihad fisabilillah. Singkatnya mereka adalah mujahid -dan Alloh SWT yang maha tahu niat mereka di dalam hati-.

KOMENTAR: Jihad fi sabilillah adalah amalan agung. Rasul Saw menyebutnya sebagai afdhalul ‘amal, seutama-utamanya amal. Tetapi Jihad itu ada adab-adabnya. Kalau akan mandi besar saja ada adabnya, apalagi dalam Jihad yang disana ada resiko pengorbanan harta, tenaga, darah, dan nyawa.

Salah satu ciri kesesatan takfiri jaman modern. Mereka amat sangat antusias bicara soal Jihad. Tetapi mereka kurang antusias dalam menyempurnakan adad-adabnya. Sehingga di mata mereka, setiap perbuatan apapun untuk menyerang pihak-pihak yang mereka vonis kufur atau membela orang kufur, akan mereka lakukan. Di mata mereka, menyerang warga sipil, menyerang wanita, anak-anak, menyerang terminal, stasiun, hotel, bis kota, dll. adalah sah. Padahal Rasulullah Saw, dalam Jihad Fi Sabilillah, melarang menyerang kaum wanita, anak-anak, orangtua, musuh yang melarikan diri, menyerang pertanian, hewan ternak, rumah ibadah, dll.

Rasulullah Saw menyempurnakan Jihad dengan adab-adabnya, sehingga Allah memberikan keberkahan besar di balik Jihad beliau. Sebaliknya, kaum Takfiri ini, perbuatan mereka semakin hari hanya semakin menyusahkan kaum Muslimin. Andaikan dalam hidupnya, mereka beramal sebanyak-banyaknya; belum tentu itu sebanding dengan perbuatan mereka yang menyebabkana kaum Muslimin secara umum menderita akibat hantaman puak-puak kekufuran, karena diprovokasi perbuatan kaum Takfiri itu.

[C] Telah mengabarkan kepada ana, beberapa ikhwan tentang komentar-komentar sumbang dan kadangkala lucu bahkan memalukan atas peristiwa bom polres cirebon. Anehnya komentar-komentar miring tersebut didendangkan oleh oknum yang mengaku bermanhaj jihad dan pejuang syariat, serta mengaku sebagai penggede mujahidin.

KOMENTAR: Pernyataan ini maksudnya, mereka membantah ucapan pimpinan JAT (Jamaah Ansharut Tauhiid) yang menolak tindakan pengeboman di Masjid Mapolresta Cirebon itu. Artinya, Abu Khalaf Saifur Rasul itu termasuk kelompok lain yang memiliki pandangan berbeda dengan mujahidin yang bergabung dalam JAT dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

[D] Berikut komentar-komentar yang ana dengar skaligus kami berikan tanggapannya. 1. Mereka para polisi yang menjadi target/korban adalah muslim karena mereka masih sholat sehingga tidak boleh di tumpahkan darahnya. JAWABAN: Apakah kalian kira jika orang masih sholat berarti dia seorang muslim meskipun melakukan kekafiran yang dhohir mutawatir??? Aduhai… Kasian sekali wahai orang-orang jahil murokab jika kaliah beraqidah demikian. Tidakkah kalian tahu: – Rosululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah mengutus Baro’ bin Azib untuk membunuh orang yang menikahi ibu tirinya padahal dia masih sholat??

– Rasululloh Sholallohu alaihi wassalam pernah berencana memerangi bani Mustholik ketika di beritakan mereka enggan membayar zakat padahal mereka juga masih sholat, tapi ternyata berita itu adalah berita dusta. – Abu Bakar As-Shidiq ra. memerangi pengikut Musailamah al kadzab padahal diantara mereka masih ada yang sholat. – Abu Bakar As-Shidiq ra. juga mmerangi orang-orang yang menolak zakat dan telah menjadi ijma’ bahwa mereka adalah kelompok murtad padahal mereka juga masih sholat. – Ali bin Abi Tholib ra. membakar orang-orang yang ghuluw terhadap beliau padahal mereka juga masih sholat. – Dan masih banyak contoh-contoh salaf, mereka mengkafirkan dan menghalalkan darah serta harta orang-orang yang melakukan kekafiran padahal mereka masih sholat.

Contoh terakhir adalah kasus bani Ubaid bin Godah yang mengaku keturunan Fatimah mereka mendirikan sholat jumat & sholat jama’ah, mengangkat para qadhi dan mufti tapi hal ini tidak menghalangi para ulama mazhhab maliki dan yang lain untuk mengkafirkan mereka diantara ulama yang mengkafirkan adalah al imam asy syahid -begitu menurut persangkaan ana- Abu Bakar An-Nabulisi.

Lalu pertanyaannya, apa yang membuat para polisi itu kafir sehingga halal darah dan harta mereka untuk di tumpahkan meskipun mereka masih sholat??? Kita tau bahwa negara ini adalah negara kafir dan thoghut, itu dkarenakan negara ini menerapkan hukum thoghut (UUD45 dan pancasila) dan negara ini juga berkiblat ke amerika si gembong kekafiran dunia dalam memerangi mujahidin, sehingga dengan demikian seluruh penyelenggara negara ini, mereka adalah kafir, musyrik dan thoghut dengan variatif tingkatannya.

KOMENTAR: Dalam pernyataan di atas mulai tersingkap bukti-bukti kebodohan atau kepandiran Si Takfiri ini. Sangat terlihat ciri kebodohannya. Dia tidak bisa menempatkan dalil-dalil perbuatan Nabi Saw dan Shahabat Ra sesuai konteksnya. Dimana letak kesalahan mendasar argumen Si Takfiri sombong ini? Mudah saja, Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra menghalalkan tindakan memerangi orang-orang munkar, karena mereka TELAH MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM ALLAH TA’ALA di negeri mereka. Itulah dasarnya, wahai Takfiri sombong.

Lalu lihatlah di Indonesia ini. Di negeri ini Syariat Islam tidak (belum) diakui sebagai UU negara yang mengikat warga dan Pemerintahnya. Artinya, negeri kita bukan negeri Islam. Negeri Indonesia ini bisa disamakan dengan “Periode Makkah” dalam perjuangan Rasulullah Saw. Apakah ketika masih berdakwah di Makkah, Rasulullah Saw sudah mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah? Tanyakan kepada Si Takfiri sombong itu. Siapa tahu dia masih memahami firman Allah Ta’ala ini: “Innallaha laa yuhibbu kulla muhtalin fahur.”

[E] Lalu dimana posisi polisi??? Di dalamUUD45 bab xii psl 30 (4) di dalam kitab thoghut ini di katakan “KEPOLISIAN NEGARA RI SBG ALAT NEGARA YG MENJAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN MASYARAKAT, BERTUGAS MELINDUNGI, MENGAYOMI, MELAYANI MASYARAKAT SERTA MENEGAKKAN HUKUM”.

Jadi polisi RI adalah kafir baik itu brimob, reserse maupun polantasnya. Tidak ada perbedaan karena mereka di satukan dengan satu tujuan dan tugas yaitu menegakkan dan melindungi hukum thoghut. Mereka dibawah satu pimpinan, satu tujuan, dan satu tugas. Sedangkan individu-individu tho’ifah mumtani’ah adalah mengikuti status pimpinannya berdasarkan al kitab, assunnah, ijma’ dan kaidah fiqhiyah. Jadi mereka itu kafir yang halal darah dan hartanya secara hukum dhohir, meskipun mereka mengaku islam, sholat, zakat, puasa & haji. Karena kekafiran mereka bukan dari sisi ini.

Silahkan rujuk kitab2 berikut utk mengetahui dalil-dalilnya. 1. Ad duror assuniah juz 8 cetakan lama. 2. At tibyan fie kufri man a’na al amrika (Syaikh Nashir Bin Hamd Al Fadh. 3. Al jami’ buku ke 10 (Syaikh Abdul Qodir bin Abdul ‘Aziz). 4. Da’wah muqowamah terutama pd anggaran dasar ( Syaikh Abu Mush’ab As Suri). 5. Masa’il min fiqh jihad Abu Abdillah al muhajir. 6. Dan kitab2nya Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Aly Khudair. 

KOMENTAR: Wahai Takfiri, cobalah berpikir jernih sedikit. Jangan selalu emosi dan merasa sudah puas kalau kamu sudah mengkafirkan ini itu. Sekali lagi kita tegaskan, Indonesia bukanlah negara Islami yang berdasarkan ajaran Islam. Indonesia adalah negara dengan dasar non Islam, atau sebutlah sebagai negara jahiliyyah. Dimanapun tidak ditegakkan hukum Allah di dalamnya, ia adalah negeri jahiliyyah.

Sebagai negara dengan dasar non Islam, maka seluruh produk hukum yang berlalu mengikuti dasarnya tersebut. Hal itu berlaku dalam bidang kepolisian, ketentaraan, kepegawaian, dll. Kalau dari atasnya sudah non Islami, turun sampai ke bawah juga non Islami. Meskipun bisa juga di antara produk hukum itu ada yang mengadopsi nilai-nilai Islami.

Di negara seperti Indonesia ini berlaku hukum DAKWAH dan ISLAH. Tujuan dakwah ialah mengajak bangsa Indonesia rujuk kepada ajaran Allah dan Rasul-Nya. Tujuan ishlah ialah memperbaiki kehidupan dari keadaan jahiliyyah menjadi keadaan Islami. Maka kaum Muslimin pun terjun dalam dua missi itu, sekuat kemampuan dan kesanggupan yang dimiliki.

Kondisi bangsa Indonesia ini persis seperti era dakwah Rasulullah Saw di Makkah dulu. Hukum dan sistem yang berlaku bukan Islami, tetapi berdasarkan nilai-nilai non Islam. Dan faktanya, Rasulullah Saw belum mengibarkan bendera Jihad Fi Sabilillah ketika berdakwah di Makkah.

Kalau Takfiri ini mau berjihad dalam keadaan seperti ini. Dia bisa menempuh dua cara: Pertama, dia bisa hijrah ke suatu wilayah Islami (bila ada), lalu kemudian dia bisa memerangi orang-orang yang dia tuduh kufur itu dari negeri Islami tersebut. Kedua, dia bisa merebut kekuasaan, lalu mengubah kekuasaan jahiliyyah menuju kekuasaan Islam. Apabila tegak kekuasaan Islam, dia baru bisa menerapkan hukum-hukum Jihad itu.

Tapi kan masalahnya, Si Takfiri ini sudah terjerumus dalam kebodohan yang dalam; lalu merasa dirinya pintar, kemudian menghukumi orang lain dengan ucapan: IQ jongkok, jahil murakab, bodoh, lucu, dll. Lalu sebenarnya ucapan itu lebih tepat diarahkan kepada siapa? Kepada kaum Muslimin atau Si Takfiri ini?

[F] 2. Mujahidin menjadikan tempat ibadah (masjid) sebagai target/sasaran. JAWABAN: Ini mungkin tuduhan yang paling konyol dan tidak masuk akal yang ana dengar, yang tidak mungkin tuduhan ini di lontarkan kcuali oleh orang-orang yang IQ-nya di bawah standar ( IQ jongkok). Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, seandainya yang menjadi target mujahidin adalah masjidnya tentu mujahidin tidak akan menyerangnya di saat banyak orang berkumpul di dalamnya. Jika bangunan masjidnya yang ingin dimusnahkan tentu mujahidin akan memilih waktu dmana masjid itu kosong dan tidak perlu mujahidin melakukan aksi istisyhadiah jika hanya untuk menghancurkan bangunan kosong..

Ketahuilah wahai pemilik IQ jongkok, yang menjadi target mujahidin bukanlah bangunannya. Tapi yang menjadi target adalah orang-orang yang dianggap musuh yang berada di dalam bangunan tersebut. Ini sebenarnya bisa di fahami dan dimengerti oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya untuk menilai dan berfikir. Tapi apa mau dikata, ternyata kita juga menghadapi orang-orang yang memiliki akal dibawah standar.

KOMENTAR: Masya Allah, wahai Takfiri. Sebenarnya kamu yang lebih pantas menyandang sebutan “IQ jongkok” itu. Pernyataan kamu di atas semakin mengungkapkan dirimu sendiri. Wahai Takfiri, kamu beralasan bahwa, kalau masjidnya yang menjadi sasaran, mengapa pelaku pengeboman tidak menyerang saat masjid sedang kosong saja? Dari sana kamu menyimpulkan, bahwa pelaku menyerang manusianya, bukan masjidnya. Kalau ucapanmu itu benar, wahai Takfiri, mengapa pelaku bom itu tidak meledakkan bomnya saat sebelum Shalat Jum’at, saat di luar masjid? Toh, sebelum Shalat Jum’at dan di luar masjid juga banyak manusia. Mengapa dia menanti harus meledakkan bom di dalam masjid? Apakah dalam otak kamu wahai Takfiri, ngebom manusia di masjid lebih nikmat ketimbang di luar masjid? Begitukah wahai Takfiri?

Sehina-hinanya seorang teroris Muslim, tidak akan melakukan perbuatan nista seperti itu. Kalau kamu ksatria, wahai Takfiri, mengapa tidak menyerang sasaran kamu itu saat mereka sedang siap, saat berkumpul, atau saat mereka siaga di pos-posnya? Mengapa menyerang mereka justru saat mereka Shalat Jum’at? Apakah di dalam otak kamu dan kawan-kawan wahai Takfiri, tidak ada istilah kesatria, gentlemen, laki-laki sejati? Yang ada selalu serangan-serangan licik, sporadis, pengecut, dll. lalu orang yang mati binasa dalam serangan seperti itu langsung digelari: Mujahid Syahid Akbar fil ‘alam. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kalau memang mujahid sejati, bersikaplah layaknya laki-laki. Jangan seperti kaum banci kaleng. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wallahu yuhibbul muqsithiin” (dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat adil).

[G] 3. Mujahidin menyerang orang-orang yang beribadah di dalam masjid. JAWABAN: Coba kalian baca dan renungi ayat ini, ” Alloh Ta’ala berfirman: apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu DIMANA SAJA KAMU JUMPAI MEREKA. (QS. 9:5)

Jadi perlu kalian ketahui larangan membunuh orang-orang musyrik kafir itu tidak terkait dengan tempat tapi masa haram 4 bln yaitu dari 10 zulhijjah hingga 10 rabiulakhir. Inipun dengan catatan mereka tidak memerangi mujahidin.

Berangkat dari ayat yang mulia inilah mujahidin akan terus mengejar, mengintai, dan membunuh orang-orang kafir musyrik dimanapun meerka berada hatta jikapun mereka bergelanyut di tirai ka’bah, mujahidin tetap akan membunuh mereka jika dipandang mereka perlu dihabisi. Karena rumusnya sederhana, “Perang terjadi (dikobarkan) ditempat adanya musuh”. Mudah-mudahanan kalian faham!

KOMENTAR: Disini kegilaan Si Takfiri ini semakin menjadi-jadi, masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Takfiri ini sudah merampas hak-hak ajaran Islam, lalu dia sembunyikan di balik ketiaknya, lalu dia injak-injak ajaran itu sehina-hinanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wahai Takfiri, ketahuilah apabila engkau benar-benar berhujah dengan Syariat Allah, bahkan kamu mengkafirkan manusia atas dasar Syariat Allah itu sendiri. Ketahuilah wahai Takfiri, posisi kita dalam Syariat Islam hanyalah sebagai: Thalib (pelajar), ‘amil (pengamal), dan sebagai muballigh (penyampai). Kita tidak boleh mencampuri otoritas Allah dan Rasul-Nya, atas hukum yang mereka tetapkan.

Adapun pemahaman kamu tentang Surat At Taubah ayat 5 itu, dimana dengan dalil itu kamu menghalalkan perang total atas kaum musyrik dimanapun, kapanpun, dalam keadaan apapun. Ini bukan Syariat Islam. Ini adalah Syariat buatan kalian sendiri, yang jelas-jelas menyelisihi Syariat Allah dan Rasul-Nya. Disini terbukti dengan jelas, bahwa kalian bukan pembela Syariat Allah, tetapi malah perusaknya. Na’udzubillah min dzalik.

Wahai Takfiri, kamu harus bersikap adil dalam menetapkan hukum-hukum Jihad Fi Sabilillah. Adapun tafsiran kamu yang memutlakkan hukum Jihad terhadap kaum musyrikin, itu tak sesuai dengan ajaran Islam.

Pertama, surat At Taubah yang kamu jadikan dalil, ia turun berkaitan dengan sikap musyrik Makkah yang menodai dan melanggar perjanjian Hudaibiyyah. Ketika musyrik Makkah melanggar janji, maka tidak ada faidahnya memegang isi perjanjian Hudaibiyah. Allah sendiri yang membatalkan perjanjian itu, sehingga Surat At Taubah juga dikenal sebagai Surat Al Bara’ah (Pemutusan Hubungan/Perjanjian).

Kedua, jihad terhadap kaum musyrikin tidak berlaku secara mutlak, tetapi tergantung kondisi kaum Muslimin sendiri. Kalau kuat, silakan berjihad, kalau lemah bersabar dulu. Itu terbukti, selama di Makkah Nabi Saw tidak menetapkan hukum Jihad. Tidak ada musyrik Makkah mati atas nama Jihad ketika Nabi Saw masih dakwah di Makkah.

Ketiga, hukum Jihad itu sendiri berlaku ketika kaum Muslimin sudah memiliki kedaulatan atas hukum Allah dan Rasul-Nya. Kalau belum, sifatnya dakwah dan ishlah. Kecuali kalau kaum Muslimin diperangi, maka mereka boleh berjihad untuk membela diri (difa’iyyah). Ini sudah diakui oleh para jumhur ulama.

Keempat, seorang Muslim -meskipun mengaku sebagai Mujahidin- kalau melakukan serangan kepada kaum musyrikin, dimanapun dan kapanpun orang musyrik itu dijumpai, tanpa dilandasi kedaulatan hukum Allah, tanpa dilandasi petunjuk amir-amir kaum Muslimin, tanpa dilandasi pertimbangan kekuatan Ummat; maka perbuatannya bukan jihad, tetapi agressi ilegal yang sifatnya haram, munkar, dan bathil.

Bahkan perbuatan seperti itu bisa dikategorikan dengan perbuatan membuat fitnah di muka bumi. Pelakunya menurut hukum Islam boleh dihukum mati, dipotong kaki-tangannya secara bersilangan, disalib sampai mati di tiang kayu. Setidaknya, perbuatan seperti itu harus dicegah karena efeknya akan sangat menyulitkan kehidupan Ummat.

Kelima, dalil Syariat yang sangat TERANG-BENDERANG perlu dibaca oleh Si Takfiri dan kawan-kawan. Lihatlah saat Futuh Makkah! Ketika itu sudah turun Surat At Taubah ayat 5 tersebut. Ketika itu Rasul Saw dan para Shahabat Ra. berhasil menguasi Makkah dan menaklukkan penduduknya. Saat Futuh Makkah, masih banyak orang-orang Makkah yang masih musyrik, belum masuk Islam. Ingat, semua ini terjadi dengan kondisi: Hukum Allah sudah berdaulat, kaum Muslimin sudah menang, orang Makkah sudah tertunduk dalam kekalahan. Tetapi Rasul Saw tidak membunuhi kaum musyrikin Makkah itu, seperti ambisi konyol Abu Khataf dan kawan-kawan.

Anda mau bukti, bahwa Nabi Saw tidak membunuhi kaum musyrikin yang sudah dikalahkan itu? Buktinya ialah saat Perang Hunain. Dalam perang itu, banyak kaum musyrikin, termasuk pembesarnya ikut berperang di pihak kaum Muslimin. Lalu mereka diberi bagian harta ghanimah besar oleh Nabi Saw agar mau masuk Islam.

Apakah itu wahai Takfiri yang kalian maksudkan dengan Jihad total menumpas kaum musyrikin? Kalian menyalahi jalan Nabi kalian sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[H] 4. Perbuatan itu ( tafjir masjid mapolres cirebon) mafsadatnya lebih besar dari manfa’atnya bagi kaum muslimin, dakwah tauhid dan mujahidin sendiri. JAWABAN: Syubhat manfa’at dan mafsadah ini adalah warisan turun temurun dari orang-orang yang sebenarnya tidak menginginkan tegaknya jihad kecuali jika sudah sesuai dengan planing and strategy kelompok mereka. Untuk itu biarlah jawaban dari subhat ini kita berikan kepada ahlinya, yaitu Syaikh Nasr bin Hamd al Fahd yang dikutib oleh Syaikh Aiman adz-Dzowahiri dalam kitab at-tabriah hal 144.

Syaikh Nasr menjawab subhat ini dengan mengatakan: “Benar memang suatu perintah kalau kerusakannya lebih besar daripada maslahatnya, maka tidak disyariatkan saat itu. Akan tetapi ada 2 hal yang perlu diperhatikan : 1. Mafsadah ataupun manfaat yang di maksud adalah mafsadah atau manfaat hakiki syar’i bukan angan-angan atau dugaan. 2. Sesungguhnya kelompok yang paling layak dan utama untuk memandang/menentukan manfaat dan mafsadah dalam jihad mereka adalah mujahidin, bukan qo’idun yang tidak mengerti bagaimana cara memegang pistol.” Kalian faham wahai pemuja maslahat dan mafsadat???

Kalian faham bahwa orang yang tidak pernah berdebu di dalam jihad fiesabilillah, tidak pernah memenggal kepala orang kafir atau menembakkan sebutir peluru ke arah orang-orang kafir tidak layak ngoceh masalah mafsadah atau maslahat dalam jihad??! Tapi sayang… Hari ini banyak orang-orang yang lancang mengambil suatu urusan yang bukan menjadi haknya.

KOMENTAR: Kita sering rancu dalam menetapkan urusan mashalat-madharat ini. Memang kaidah maslahat-madharat sangat mendominasi penetapan hukum. Tapi tunggu dulu, ia adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan IJTIHAD kaum Muslimin. Kalau dalam hukum ibadah, hukum aqidah, serta perbuatan-perbuatan yang nyata-nyata FASAD, tidak berlaku ketetapan maslahat-madharat ini. Kaidah maslahat-madharat itu misal berlaku dalam urusan makanan, bisnis, rumah-tangga, profesi, sekolah, dll. yang berhubungan dengan hajat Ummat.

Dalam Jihad bisa juga dipakai kaidah itu, tetapi yang mengoperasikan kaidah tersebut haruslah ulama, fuqaha’, ahlu syura, amir kaum Muslimin, komandan Islam, dll. Ia bukan barang pasaran sehingga bisa dipakai oleh siapa saja, sesuai ambisi hawa nafsunya. Na’udzubillah min dzalik.

Taruhalah, kita menerima pandangan Si Takfiri, bahwa kaidah itu lebih layak dioperasikan oleh kaum Mujahidin. Misalnya demikian. Lalu pertanyaannya? Siapa yang disebut Mujahidin? Apakah kaum Takfiri yang memutlakkan hukum Jihad atas kaum musyrikin, dan tidak mengerti adab-adab Jihad, mereka layak disebut Mujahidin? Oh nanti dulu. Orang seperti ini sih ngaku-ngaku sebagai mujahidin, padahal dia belum tammat belajar kaidah-kaidah Jihad itu sendiri. Bagaimana disebut mujahidin, ngebom di masjid malah dibela? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bila nanti terjadi lagi pengeboman di masjid, maka Si Takfiri dan kawan-kawan ini akan ikut memikul dosanya. Sebab mereka sudah menanam saham dalam perbuatan aniaya/fasad. Masjid disucikan oleh kaum Muslimin, tetapi di tangan Si Takfiri dkk., masjid bisa dianggap sebagai sasaran serangan. Masya Allah. Ini adalah kesesatan yang nyata.

Itulah salah satu ciri Khawarij. Ghuluw di satu persoalan, dan ghuluw dalam mengingkari persoalan itu di persoalan lain. Katanya mereka membela Syariat Allah, tetapi masjid-masjid Allah yang dilindungi Syariat, malah hendak dikobarkan fitnah di dalamnya.

[Mohon dimaafkan sebesar-besarnya, khususnya kepada Ust. Aman Abdurrahman. Saya telah menyangka beliau dengan sangkaan keliru. Mohon dimaafkan. Astaghfirullah min kulli dzanbi wal khathi’ah. Amin].

============== Lanjutan tulisan sebelumnya =================

[I] 5. Jubir mereka mengatakan “tindakan itu diharamkan karena tidak sesuai dengan kaidah fiqh jihad”. JAWABAN: Wahai pak jubir kenapa anda jadi sewot?? Coba tunjukkan dalil dari Al Qur’an, Sunnah,Ijma’ dan aqwal salaf tentang keharoman membunuh/mengebom anshor thoghut (polisi) kalau memang pak jubir merasa diatas al haq.

Coba tunjukkan kaidah fiqh jihad yang mana yang tidak sesuai dengan amaliyah istisyhadiyah tersebut jika pak jubir merasa faham dengan kaidah fiqh jihad. Apakah harom yang pak jubir maksud adalah menurut kitab jama’ah anda?? Maka kalau itu yang pak jubir maksud mungkin saja pak jubir benar.

Mungkin kata-kata ana terlalu kasar untuk pak jubir, itu dikarenakan pak jubir tidak memiliki belas kasihan dan pembelaan sama sekali terhadap pelaku yang keislamannya tsabit dan tujuannya jelas sebagaimana tertulis dalam wasiat pelaku yang dipublikasikan sendiri oleh jubir thoghut.

Seandainya pak jubir lebih hati-hati dalam menjaga lisan, tentu kami juga akan lebih hati-hati dalam menjaga lisan kami terhadap pak jubir, insyaAlloh. Seandainya pak jubir mau merinci haromnya dimana dengan dalil-dalil syar’i dan juga dimana tidak sesuainya dengan kaidah fiqh dengan perincian yang syar’i tentu kami juga akan menjawab dengan perincian yang syar’i, insya Alloh.

Ketahuilah wahai pak jubir, antara kita ada Al Qur’an, assunnah, ijma’ maka mari kita kembalikan perbedaan kita kepada dalil. Mudah-mudahanan isyarat singkat ini bisa pak jubir fahami. Wahai Rabb yang memahamkan Sulaiman, fahamkanlah saudaraku pak jubir..

KOMENTAR: Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin banyak bicara, semakin kelihatan kebodohan Si Takfiri ini. Dia hanya semakin menelanjangi dirinya sendiri. Allahu Akbar.

Wahai Takfiri, kalau kamu sangat mengagungkan Jihad Fi Sabilillah, maka kamu harus membuktikan bahwa dirimu adalah manusia yang paling mengerti aspek-aspek Jihad itu sendiri. Jangan kamu mengklaim sebagai Mujahidin, tetapi dirimu JAHIL dari konsep Jihad Islami.

Disini ingin dijelaskan sedikit tentang konsep Jihad Fi Sabilillah, agar kamu dan kawan-kawanmu mengerti. Semoga Allah memberikan kita ilmu, hidayah, dan taufiq. Allahumma amin.

Pertama, Jihad dalam Islam berdiri di bawah naungan Kepemimpinan Islam yang melaksanakan Syariat Islam. Ia serupa seperti amal-amal Islami lain yang didasari legalitas hukum Islam. Dalilnya mudah, Syariat Jihad dilaksanakan oleh Rasulullah Saw ketika di Madinah, dan tidak dilaksanakan ketika masih dakwah di Madinah.

Kalau kebijakan baitul maal, penarikan zakat, jizyah, ghanimah perang, fai, penetapan hukum pidana Islam, dilaksanakan setelah hukum Syariat tegak; apalagi dengan hukum Jihad Fi Sabilillah. Maka tidak heran jika di masanya Khalifah Umar Ra melakukan perluasan wilayah Islam. Hal itu diikuti oleh pemimpin-pemimpin Islam selanjutnya.

Kedua, amalan Jihad itu bukan amalan individu, tetapi selalu merupakan amalan kolektif. Tidak bisa setiap orang seenaknya mengobarkan Jihad, meskipun dia hanya seorang diri (seperti pelaku-pelaku bom bunuh diri itu). Amal Jihad di masa Nabi Saw dan para Shahabat Ra selalu merupakan amal kolektif, bukan amal perorangan. Nabi Saw selalu bermusyawarah dengan para Shahabat sebelum melakukan perang.

Ketiga, suatu operasi Jihad tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, atau sporadis, tetapi harus atas petunjuk amir Mujahidin, atau amir kaum Muslimin. Para Shahabat Ra tidak pernah melakukan operasi, serangan, atau ekspedisi, tanpa ijin dan perintah Rasul Saw. Dalam hal pentingnya mematuhi perintah amir, Ibnu Taimiyyah berdalil dengan hadits tentang safar. Setiap safar beberapa orang, salah satu harus ditunjuk sebagai amir safar. Kalau dalam safar berlaku hukum ketaatan kepada amir, apalagi dalam Jihad?

Si Takfiri menanyakan apakah ada dalil yang melarang ngebom anshar thaghut? Justru ini menandakan betapa dangkalnya pemahaman ilmu Si Takfiri ini. Wahai Takfiri, bila terjadi perjanjian damai antara Ummat Islam dengan orang musyrik (seperti dalam Perjanjian Hudaibiyyah), hal itu sudah cukup sebagai dalil larangan kita melanggar kesepakatan yang sudah dilakukan dengan musuh-musuh (yang kamu sebut anshar thaghut itu). Disini kan berlaku firman Allah, “‘aufuu bil ‘uquud” (penuhilah akad-akad kalian -wahai orang beriman-).

Rasulullah Saw selalu memenuhi janjinya, termasuk kepada Yahudi dan kabilah-kabilah Arab di Madinah, melalui perjanjian Piagam Madinah. Bahkan Nabi Saw memenuhi amanah orang musyrik yang menitipkan barang-barang kepada beliau, ketika beliau hendak hijrah ke Madinah. Apakah ini tidak cukup sebagai dalil, bahwa kita tidak boleh menyerang orang-orang yang sudah berada dalam perjanjian dengan kita, meskipun dia adalah orang kufur harbi. Bahkan orang-orang kafir yang meminta perlindungan kepada kita (kerap disebut musta’min) mereka haram untuk dizhalimi.

Kalau memang tidak tahu soal Jihad, Anda jangan membuat fatwa atau pandangan atau opini yang nanti justru menyesatkan Ummat. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil muslimin.

[J] 6. Kelompok-kelompok islam berkumpul pada tgl 18 april 2011 mereka menyatakan kesamaan sikap mengutuk dan mengharamkan peledakan di cirebon. JAWABAN: Sungguh memalukan sekali apa yang kalian lakukan ini.. Kalian bersegera tergopoh-gopoh membela thoghut saat mereka sedikit tertimpa musibah !!

Ana bertanya kepada kalian: Dimana kalian ketika DR. Azhari dibantai oleh thoghut didepan mata kalian??? Dimana kalian saat 3 mujahid di eksekusi regu tembak thoghut didepan mata kepala kalian??? Dimana kalian saat kaum muslimin di poso dibantai thoghut juga didepan mata kalian? Dimana pembelaan kalian saat al akh Nurdin, Jabir, Urwah, Ibrahim, dan ikhwan-ikhwan di aceh diberondong peluru thoghut tanpa ampun di depan mata kepala kalian??? Bukankah mereka kaum muslimin??? Bukankah mereka haram darahnya untuk ditumpahkan??? Adakah kalian berkumpul seperti yang kalian lakukan saat ini untuk menyatakan sikap pembelaan??? Tapi lihatlah kalian saat ada segelintir thoghut yang terluka, kalian segera berkumpul dan segera menyatakan baro’ kalian terhadap aksi tersebut dan bersimpati dengan luka-luka si thoghut. Demi Alloh, telah nampak kemunafikan kalian dengan apa yang kalian lakukan !! Ya Alloh, saksikanlah.. Kami baro’ terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang munafik itu..

KOMENTAR: Disini Si Takfiri semakin goyang kepalanya, dia semakin pusing dengan angan-angan dan obsesi perang yang membabi-buta. Mungkin diperlukan beberapa orang untuk memegangi tubuh Si Takfiri, agar kepalanya tidak membentur tembok.

Wahai Takfiri, sikap mengecam pemboman oleh Syarif di Cirebon itu adalah bagian dari nahyul munkar. Perbuatan munkar ya harus diingkari. Apa yang dilakukan oleh lembaga-lembaga Islam itu adalah dalam rangka pengingkaran tersebut.

Lagi pula, kalau aksi ngebom di masjid dibiarkan, nanti kaum Muslimin tak akan mau datang ke masjid, karena khawatir ada ledakan bom. Bahkan bisa jadi, selanjutnya masjid akan dijadikan SASARAN EMPUK penyerangan-penyerangan. Kalau itu terjadi, maka orang seperti Si Takfiri ini yang akan memikul dosanya di sisi Allah. Bahkan orang seperti Si Takfiri ini layak dihukum seberat-beratnya, karena dia telah menghalalkan perbuatan menodai kesucian masjid.

Si Takfiri ini merasa seolah hanya dirinya sendiri yang peduli dengan isu seputar aksi-aksi kekerasan. Padahal kaum Muslimin sejak Bom Bali I sudah membentuk TPF untuk mencari fakta, di bawah MUI. Hanya karena isu seperti ini sudah jadi satu paket dengan kebijakan luar negeri AS, maka kekuatan lembaga-lembaga Islam tidak sebanding dengan lobi AS dkk.

Kalau kaum Muslimin peduli, bukan berarti membenarkan tindakan Azahari, Nurdin, Jabir, Urwah, dll. yang melakukan serangan-serangan bom ke target sasaran sipil di negeri seperti Indonesia ini. Tidak demikian. Kita menolak tindakan seperti itu. Kalau mau Jihad, ya serius berjihad. Jangan main-main dengan tindakan seperti itu. Bina kekuatan diri, fisik, iman, ekonomi, politik, persenjataan, dll. sebelum akhirnya berjihad yang sebenarnya.

Jihad bom-boman secara sporadis itu kan hanya akan mengundang SERANGAN BALIK kaum kuffar yang sangat pedih ke tengah-tengah kaum Muslimin. Kalau Mukmin sejati, pasti akan menghindari cara-cara pengecut seperti itu. Sekali kaum kufar menerima bom kecil, mereka lalu balas melemparkan rudal besar ke tubuh Ummat. Lama-lama ya ambruk Ummat ini, karena kebodohan orang-orang yang berkedok Mujahidin.

Lalu Si Takfiri menuduh kaum Muslimin sebagai munafik. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ya sudahlah, terserah apa saja yang ingin kamu sampaikan. Toh, setiap ucapan kelak akan ditimbang di sisi Allah Al ‘Alim.

Intinya, Si Takfiri dan kawan-kawan melakukan jihad bom-boman yang tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. Kemudian jatuh korban di pihak pelaku dan sasaran. Lalu kita disuruh membenarkan perbuatan itu, dan disuruh tidak simpati kepada korban yang jadi sasaran.

Wahai Takfiri, kesulitan ini kan kalian sendiri yang membukakan pintu-pintunya. Malah kalian bukakan juga pintu-pintu kesulitan bagi kaum Muslimin yang lain. Kalau kalian menderita akibat kesulitan yang kalian buat sendiri, seharusnya kalian menyesali diri kalian sendiri. Mengapa harus marah ke orang lain, lalu menuduhnya munafik?

[K] Ana cukupkan tanggapan tentang suara-suara sumbang yang tidak berperikeikhwanan dalam menyudutkan pelaku bom cirebon, sebenarnya masih sangat banyak nada-nada sumbang yang kami dengar.. Biarlah semua itu menjadi bumbu pelezat dalam perjuangan..

Terakhir ana tujukan kata-kata ini untuk ikhwan-ikhwan mujahidin ‘amilin fiesabilillah, siapapun dan dimanapun kalian berada. Kepada mereka yang mencintai Alloh dan Alloh pun mencintai mereka. Mereka yang adil, lembut dan sayang kepada orang-orang mukmin dan keras, tegas serta ganas terhadap orang-orang kafir.

Kepada mereka yang terus berusaha menghidupkan ibadah jihadiyah baik dalam kondisi sempit ataupun lapang.. Kepada mereka yang tidak pernah menghiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci dan bualan orang-orang yang suka membual.. Kepada mereka ana ucapkan Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha jihadiah yang kalian lakukan.

Demi Alloh, kalian telah -menjadi perantara Alloh- untuk membuat kami tertawa dan senang atas mengalirnya darah dari satu kelompok yang telah -dengan ijin Alloh- mengalirkan banyak darah mujahidin, seperti yang kalian ketahui…

Jazakumulloh khayran jaza’ atas usaha kalian yang telah membuat luka kelompok yang telah banyak melukai saudara kalian.. Jazakumulloh khayran jaza’ kepada kalian yang telah membuat menangis kelompok yang juga telah membuat menangis anak_anak saudara kalian karena abi-nya ditangkap, disiksa dan dibunuh didepan mata kepala mereka, seperti sudah maklum bagi kalian…

Demi Alloh… DemiAlloh kami ridho dengan apa yang kalian lakukan meskipun banyak orang lain yang tidak ridho dengan apa yang kalian lakukan, maka tutuplah telinga dan mata kalian dari orang-orang yang tidak menginginkan jihad kalian..

Cukuplah Alloh bagi kalian.. Demi dzat yang telah meluluh lantakkan pasukan abrahah, kalian berperang bukan karena jumlah, kekuatan atau bilangan, tapi kalian berperang karna dien ini yang Alloh muliakan kita denganya..

Inilah keyakinan pendahulu kalian komandan perang mu’tah Abdullah ibnu Rawahah, maka peganglah erat-erat wasiat pendahulu kalian. Jangan kalian terlalu berharap meraih kemenangan sempurna, mengharap daulah/khilafah tegak pada jaman kita karena hal itu adalah perkara yang ghoib yang hanya diketahui Alloh .

Yang harus kalian yakini menurut ana adalah bahwa kita adalah generasi ‘tumbal’ tegaknya kejayaan islam, maka bergembiralah wahai generasi “tumbal”.. “JIKA KALIAN TDK MALU SILAHKAN LAKUKAN APA YG KALIAN INGINKAN”

KOMENTAR: Wahai Takfiri, kamu tidak boleh mendukung kesesatan, dan menjadi penyebar kesesatan itu sendiri. Paham Jihad yang kamu yakini itu keliru, harus diperbaiki. Sesuatu yang salah tidak boleh disebar-luaskan ke tengah masyarakat kaum Muslimin.

Seseorang yang menyebarkan bid’ah, dan sangat keras kepada dengan bid’ah-nya, berhak untuk diberikan sanksi kepadanya. Di antaranya sanksi boikot, agar dia kembali kepada kebenaran.

Di antara dosa besar kaum Takfiri ialah: mereka membunuh, merusak kehormatan, menimpakan musibah dan fitnah kepada kaum Muslimin. Bagaimana itu terjadi, padahal mereka tidak menyerang kaum Muslimin atau membunuhnya? Ya itu tadi, kaum Takfiri menyerang sasaran-sasaran tertentu, lalu pihak yang mereka sebut thaghut balik menyerang kaum Muslimin secara intensif, massif, dari segala penjuru. Takfiri memprovokasi, lalu musuh mereka menyerang Ummat Islam secara membabi-buta. Nah, perbuatan provokasi itu bisa dinilai sebagai bentuk pembunuhan atau penghancuran kolektif kepada Ummat Islam.

Berhati-hatilah wahai Takfiri, disini tampak bahwa amal perbuatan kalian mengandung dosa-dosa yang tak terkira besarnya. Luruskan hati kalian untuk kembali kepada Allah, bukan melayani kesesatan.

Satu hujjah sederhana yang perlu direnungkan oleh Takfiri dan kawan-kawan, bahwa: Rasulullah Saw sebagai amir Mujahidin hakiki, beliau tidak pernah mengajarkan Jihab bom-boman secara pengecut seperti itu! Jadi kaum Takfiri dalam hal ini mengikuti jalan bid’ah mereka sendiri. Jalan demikian tentu sangat jauh dari thariqah Abdullah bin Rawahah Ra.

Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 27 April 2011.

AM. Waskito.


Iklan