Ummat Menjerit, Engkau Diam Saja…

September 23, 2008

Kemarin…kita sangat terpukul menyaksikan insiden pembagian zakat di Pasuruan. Ribuan kaum wanita berebut uang 30 sampai 40 ribu, hingga mengorbankan nyawa. Melihat mereka berdesak-desak, anak-anak kami sampai kehilangan nafsu makan.

Sebelumnya, puluhan orang mati gara-gara mendem minum miras “vodka” di Indramayu. Saat saudara-saudaranya lagi menekuni majlis Ramadhan, mereka bongko su’ul khatimah. Na’udzubillah min dzalik. Mereka seperti ingin membangkang kepada Allah yang telah mendatangkan syahrus shiyam syahrul mubarak. Semoga yang masih hidup benar-benar bertaubat setelah pembangkangan itu.

Coba lihat acara-acara TV. Betapa banyaknya perilaku mengerikan Ummat Islam di grass root. Kemarin kami melihat di sebagian tempat, masyarakat miskin berebut sampah-sampah sayur di TPA seperti tomat, kol, kentang, buah, dst. Tapi semua itu sampah, sudah dibuang oleh pemiliknya. Oleh mereka, sampah dicuci lagi, diberikan kepada anak-anaknya. “Ya gimana lagi? Beginilah cara kami bertahan hidup.” Masya Allah, ngenes pisan, Mas!

Sebelumnya, orang-orang mengumpulkan sampah-sampah daging, sudah bau busuk, sudah keluar belatung, sudah mencair, warnanya tidak sedap lagi dilihat. Oleh mereka, daging itu dimasak lagi,direbus lagi, digoreng lagi, jadilah “daging daur ulang”. Ya Ilahi, kalau kertas, plastik, karet daur ulang masih bisa dimaklumi. Ini daging daur ulang? Opo iki rek…

Juga ada terjadi. Kan sekarang marak orang jualan kerupuk kulit dimana-dimana. Ternyata, kerupuk itu hasil “daur ulang” sisa-sisa limbah kulit di pabrik kulit. “Lumayan, daripada dibuang. Lebih baik dimasak lagi, masih bisa dimakan. Ini mubadzir kalau dibuang.” Ya, tidak sekalian saja, mereka makan kertas,kayu, ban, besi, dll. yang sudah dibuang itu. Masak limbah kulit yang mengandung arsenik harus dibuat makanan? Yang benar saja berpikirnya…

Sebelumnya, masyarakat di Cirebon membeli makanan lapuk, beras, tepung, biskuit, roti, mie instan, dll. Pokoknya yang sudah lapuk, sudah tidak layak lagi. Geli kita kalau memakannya. Tetapi lagi-lagi alasan mereka sangat “manusiawi”. “Bagaimana lagi Mas kami bertahan? Dengan apa lagi kami hadapi semua kesulitan ini? Tolong dong, jangan salahkan kami terus? Beri solusi kongkret gitu!” Iya sih, kalau sudah begini, semua rumusan-rumusan teori paling tempatnya di dasar tong sampah paling dalam.

Soal daging sapi juga, banyak orang menyembelih sapi glonggongan yang dagingnya banyak berisi air. Daging ayam, banyak yang jual ayam saren (sudah bangkai tapi di-“daur ulang” lagi). Di sebagian tempat, demi memenuhi kebutuhan gizi, sebagian orang berburu tikus sawah untuk dimakan. “Lho ini enak, lho! Gak percaya? Cobain ini, ueeenaak tenan!” Ada lagi yang berburu kelelawar, mencari tupai, mencari bekicot, dst. Ya Allah, negeri sekaya raya ini, kok rakyatnya super melarat dan gaya hidupnya mengerikan seperti ini?

TV-TV terus memberitakan segala panorama kemelaratan Ummat Islam di bawah sono. Sementara kita disini terus diskusi, menggodok konsep, menyusun proposal, mengadakan seminar “manfaat zakat bagi pemberantasan kemiskinan”, kita berdebat tentang beasiswa, panti asuhan, pendidikan fakir miskin,sekolah gratis, dst. “Lihat noh di sono, saudara-saudaramu berburu tikus untuk memenuhi nasehat makan 4 sehat lima sempurna!” Kalian disini ribut debat, sementara Ummat sudah hampir putus-asa mempertanyakan manfaat agama Islam bagi kehidupannya.

Ironinya, kita diskusi ramai, berdebat hebat, ditemani presenter cantik, alunan musik band ngetop, di acara prime time TV, tentu saja di balik itu ada menu makanan klas 1. Kita debat soal “pengelolaan zakat” sementara masyarakat tidak melihat sama sekali bekasnya. “Zakat lebih bermanfaat bagi amilin, bukan Ummat,” sindir mereka (sebenarnya sindir saya, bukan mereka).

Maaf bukan ingin mengecilkan kerja lembaga-lembaga zakat, tapi kita terlalu lama hidup dalam “dunia fantasi”, melayang-layang dalam lamunan, tak tahunya waktu menyaksikan realitas, masyarakat lebih sengsara dari yang kita perkirakan.

Sebenarnya, dalam situasi seperti ini peranan tokoh-tokoh ormas Islam, wakil-wakil rakyat Muslim di DPR, para mahasiswa/pemuda Islam sangat dituntut untuk memberikan pembelaan totalitas terhadap kesengsaraan masyarakat. Sebab yang menderita itu ternyata adalah saudara-saudara kita sendiri, kaum Muslimin. Entahlah, apa yang nanti akan kita katakan kepada Baginda yang mulia, Nabi shallallah ‘alaihi was sallam? Bagaimaka kalau beliau menanyakan titipannya, yaitu Ummat ini? Apa yang Anda bayangkan, ketika menjelang wafatnya yang mulia al Musthafa merintih: “Ummati ummati… Ummati ummati…”

Apakah kita akan menjawab, “Masa bodo dengan “ummati”. Sekarang kami juga sengsara, apa yang bisa dilakukan orang laen? Enak saja minta dimanja-manjain, kita juga hidup susah, tau! Sono urus diri sendiri. Biarin deh, mampus mampus aja, asalkan bukan isteri sama anak-anak gue.”

Itukah ya Ikhwani ya Akhawati jawaban kita? Itukah jawaban orang-orang beriman? Itukah jawaban para pengikut Sayyidin Mursalin? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saya teringat kisah masyhur tentang Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Beliau adalah ulama yang sangat disegani di jamannya, karena takwa, ilmu, dan kepedulian sosialnya luar biasa. Karena kepercayaan itu, beliau sering menjadi Amirul Hajj di kotanya, untuk memimpin jamaah Haji menempuh ibadah Haji ke Tanah Suci. Waktu itu beliau bersafar bersama rombongannya menuju Makkah Al Mukarramah, lalu di suatu mereka tempat bertemu perkampungan Muslimin yang sangat melarat. Saking melaratnya, ada di antara mereka yang berusaha memakan daging hewan yang sudah menjadi bangkai. Abdullah bin Mubarak trenyuh melihat semua itu. Akhirnya, beliau menasehati jamaahnya untuk mengurungkan niat menuju Makkah, tapi menyedekahkan harta mereka kepada orang-orang di kampung itu, sampai mereka terbebas dari kesulitan melilit. Jauh-jauh hari sudah mempersiapkan Haji, dengan bekal dan segalanya, seketika dibatalkan hanya karena melihat ada Muslim melarat mau makan bangkai. Masya Allah, suatu ketika Abdullah bin Mubarak bermimpi bahwa Haji mereka telah mencapai Haji mabrur. Padahal tidak setapak pun menginjakkan kaki ke Makkah, sebab setelah itu mereka pulang kampung lagi.

Akan hal di Indonesia, setiap tahun 200 ribuan orang naik Haji. Kalau setiap jamaah Haji keluar ONH rata-rata 30 juta, berarti total harta bergulir sekitar 6 triliun rupiah. Belum biaya-biaya di luar itu semua. Kalau ditotal, sekitar 10 triliun lah. Setiap tahun dana 10 triliun digulirkan untuk keperluan Haji, belum lagi Umrah yang biayanya juga wah. [Perlu dicatat, biaya untuk membuat TVOne saat ini sekitar 1,3 triliun. Biaya untuk buat TransTV waktu itu, sekitar 1 triliun]. Andai dana sebesar itu dikelola dengan benar untuk mengentaskan kemiskinan Ummat, mungkin kita tidak akan melihat panorama-panorama mengerikan seperti di atas. Kenyataan sekarang, yang ingin Haji terus menggelora, sampai dibela dengan demo-demo, padahal tujuan utamanya hanya agar mendapat gelar Haji dan Hajjah. Sementara yang sengsara, melarat, hina dina di bawah sana, terlupakan sama sekali. Just as an entertainment! (Ya Ilahi ya Rabbi).

Demi Allah, ini adalah tugas saya, tugas Anda, tugas kita semua, untuk mengingatkan Ummat Islam. Untuk mengingatkan semua pihak tentang kesengsaraan yang menimpa kaum Muslimin di negeri ini. Saya tidak peduli, apakah Anda akan sadar dan tergerak sesudah itu, atau akan diam saja, terus membisu dengan segala fantasi yang memenuhi pikiran. Yang jelas amanah ini harus disampaikan, apapun resikonya. Nasib Ummat Islam Indonesia sudah di ‘ujung tanduk’. Jika tidak ada upaya-upaya serius saat ini, tidak tahulah bagaimana masa depan Islam disini? Zaenuddin MZ pernah bilang, “Islam tidak akan musnah di muka bumi. Tetapi Islam tidak dijamin tetap ada di Indonesia.” Benar beliau! Saya setuju 100 %. Dengan keadaan seperti sekarang, agama ini akan hancur! Na’udzubillah min dzalik.

Dalam Al Qur’an:

Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosa-dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan ke dalam lautan. Allah sekali-kali tidak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al-‘Ankabut: 40).

Marilah kita peduli dengan keadaan Ummat Islam:

– Kalau engkau makan nasi, ingatlah orang Cirebon yang makan sisa-sisa makanan apkiran.

– Kalau engkau makan buah/sayuran, ingat saudaramu yang makan sayur dari sampah di TPA.

– Kalau engkau makan daging, ingat saudaramu yang berburu tikus sawah untuk makan daging.

– Kalau engkau sibuk bisnis, ingat saudaramu yang buat keripik dari limbah kulit berarsenik.

– Kalau engkau mapan kerja, ingat TKW-TKW yang jadi pelacur di Asia dan Timur Tengah.

– Kalau engkau sibuk belajar, ingat anak-anak saudaramu yang belajar di kandang ternak.

– Kalau engkau berpakaian necis dan dandy, ingat anak-anak jalanan yang kumal, berdebu, lusuh.

– Kalau engkau disayangi isterimu, ingat jutaan pemuda-pemuda Islam yang belum “laku nikah”.

– Kalau engkau hidup dalam kemewahan, ingat ribuan rumah-rumah kardus atau rumah-rumah tikus

di bantaran kali.

Kalau engkau tidak ingat semua itu, sudah lupakan saja. Islam tidak membutuhkanmu. Silakan nikmati dan nikmati… Berjalanlah sesuai maumu, kami pun akan terus berjalan. “Ummati, ummati, ummati… itulah wasiat Sayyidil Mursalin. Jaga dan pelihara, sampai engkau berjumpa Rabb-mu Yang Maha Mulia.

Selamat menyambut Idul Fithri 1429 H. Taqabbalallah minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin.

Indonesia, 23 September 2008.

AM. Waskito.

Iklan