Usamah “Dibunuh” Amerika…

Mei 3, 2011

Sebuah berita menggemparkan, Usamah bin Ladin tewas terbunuh dalam serangan pasukan elit Amerika di sebuah mansion terpencil di Pakistan. Media-media segera merespon berita kematian Usamah ini. Tak terkecuali, perdebatan-perdebatan mulai bermunculan. Berita ini seolah menyapu bersih berita seputar romantika pasangan William-Kate.

[Ya biasalah…hidup manusia modern kan tidak jauh dari perdebatan. Tidak jauh dari TV, internet, telepon seluler, dan aneka piranti gadget. Hayo berdebat terus, terus, terus… sembari menyaksikan soal ekonomi, politik, keamanan, sosial, dan moralitas tidak kunjung membaik. “Lebih baik kere sambil berdebat, daripada kere diam saja,” begitu filosofi yang banyak dianut].

Dunia Modern Begitu Rumit. Apa yang Terlihat Tidak Selalu Sama dengan yang Terjadi.

Pertanyaannya, benarkah Usamah sudah meninggal akibat serangan Amerika? Atau itu jangan-jangan hanya kematian rekayasa? Atau semua ini hanya akal-akalan intelijen Amerika saja?

Sebenarnya, tidak penting membahas Usamah sudah meninggal atau masih hidup. Sangat tidak penting! Sebab bukan disana masalahnya.

Di dunia intelijen, orang mati bisa ditampilkan seolah-olah hidup; orang hidup juga bisa ditampilkan ‘sudah mati’. Dunia intelijen kaya dengan intrik-intrik seperti itu. Logika dasar mengamati dunia intelijen: “Jangan percaya dengan apa yang kelihatan di permukaan!”

Sekali lagi, kematian Usamah bukanlah masalah penting. Yang sangat penting ialah: Dimatikannya ICON Usamah oleh Amerika. Nah, ini yang sebenarnya amat sangat penting.

Dengan berita-berita yang beredar selama ini, terutama pernyataan Barack Obama di Gedung Putih dan pernyataan resmi dari DK PBB, hal itu menegaskan bahwa ICON USAMAH sudah waktunya dimatikan. Meskipun misalnya, secara fisik sosok Usamah sendiri bisa jadi masih ada.

Mungkin ada pemikiran, “Bagaimana kalau Usamah masih hidup dan tidak menerima citra dirinya dimatikan?” Jawabnya simple. Pihak yang telah mematikan icon Usamah itu sudah memikirkan cara-cara untuk mencegah kemunculan kembali Usamah, dengan segala cara. Itu pun bila diasumsikan Usamah asli masih hidup. Bagaimana kalau Usamah itu sendiri sebenarnya sudah meninggal sejak bertahun-tahun lalu? Nah, semakin rumit kan.

Dengan usaha mematikan icon Usamah ini, bisa dimaknai beragam. Misalnya, sosok Usamah sudah tidak dibutuhkan dalam konstelasi perang peradaban yang digelar Amerika dalam waktu terakhir. Atau icon Usamah sudah melenceng jauh dari setting awal yang dikembangkan Amerika, sehingga diperlukan untuk di-cut di tengah jalan. Atau bisa jadi, Amerika sudah menyiapkan skenario-skenario lain sebagai pengganti. Multi tafsir, tergantung dari sisi mana kita melihat.

Kematian icon Usamah ini sangat penting. Sama seperti ketika Polri mematikan icon Nordin M. Top. Sejak Nordin dinyatakan mati dalam suatu penggerebekan, maka suasana perang anti terorisme mengalami penurunan tajam dibanding sebelumnya. Kematian icon Usamah juga dipercaya akan menurunkan secara tajam isu-isu terorisme global.

Pendek kata, kita tak perlu mendebatkan soal Usamah sudah meninggal atau masih hidup. Karena intinya bukan disana. Intinya, icon Usamah secara resmi sudah dimatikan oleh Amerika dan sekutunya. Bahkan, dimatikan secara TOTAL. Mayat Usamah “dimakamkan” di laut, agar sama sekali tidak ada jejak yang tersisa.

Harapan ke depan, kehidupan kaum Muslimin semoga menjadi lebih baik. Allahumma amin. Kalau Ummat ini lemah, semoga tidak semakin ditindas oleh kaum kufar angkara murka. Kalau Ummat ini kuat, semoga bisa membangun peradaban Islami di bawah naungan Kitabullah dan As Sunnah. Sejujurnya, isu-isu terorisme itu sangat mempersulit kehidupan Ummat ini, baik saat mereka lemah atau kuat.

Lagi pula Rasulullah Saw dan para Shahabat Ra tidak ada yang mencontohkan cara membangun Islam (atau membela Islam) dengan melalui aksi-aksi serangan terorisme. Tempuhlah cara yang benar, maka ada harapan kemenangan sejati disana. Insya Allah.

AM. Waskito.

Iklan

“WTC 911” dan Missi Dajjal

November 20, 2010

(Edited Version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Peristiwa Tragedi WTC 11 September 2001, menyisakan rentetan panjang penderitaan manusia yang luar biasa. Bukan hanya ribuan korban yang hancur terbakar, jatuh, atau tertimbun kejamnya material reruntuhan WTC. Namun miliaran Ummat Islam juga menderita akibat peristiwa itu. Tragedi WTC menghalalkan kaum Muslimin diperangi atas nama “war on terror” yang dikomandoi oleh George Bush dan kawan-kawan.

Peristiwa itu sendiri terjadi di WTC New York, pada tanggal 11 September 2001. Kalau disingkat, WTC 119; 11 adalah tanggalnya, dan 9 adalah bulannya. Dalam ejaan Inggris, bulan ditulis lebih dulu, sehingga menjadi 911 (nine one one). Sehingga peristiwa itu kerap disebut “WTC nine one one”. Dan kebetulan kode 911 merupakan kode panggilan darurat yang berlaku di Amerika. Begitu populernya istilah ini, sampai ada “Nanny 911”; untuk menunjukkan kepada karakter seorang Nanny (pengasuh anak) yang siap dipanggil kapan saja, untuk menangani kasus-kasus kenakalan anak yang sudah mencapai taraf darurat.

Istilah “WTC 911” itu bukan main-main. Ia bukan peristiwa biasa, ia bukan aksi terorisme biasa, ia bukan tragedi biasa. “WTC 911” adalah sebuah ICON gerakan besar yang dikembangkan di awal abad 21. Ia adalah simbol atau kode bagi Zionisme internasional untuk menenggelamkan dunia dalam perang anti terorisme yang mereka rancang. Khususnya, “WTC 911” adalah missi internasional untuk memerangi kebangkitan kaum Muslimin melalui isu terorisme. Ini adalah sandi, kode, atau icon gerakan Zionisme internasional.

Sebagai orang beriman, kita menolak Tragedi WTC 11 September 2001 itu, dan lebih menolak lagi ketika tragedi itu dijadikan alasan untuk memerangi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ada setidaknya 4 alasan untuk menolak missi “WTC 911”, yaitu:

[1] Ummat Islam secara mutlak harus menolak, menentang, atau mengingkari agenda-agenda yang diciptakan oleh Zionisme internasional dalam rangka menciptakan penindasan di muka bumi. Agenda demikian tidak boleh diberi toleransi.

[2] Perang terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah kezhaliman berat dan merupakan kebiadaban yang tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Menerima perang seperti itu sama saja dengan membunuh agama sendiri.

[3] Tindakan terorisme terhadap warga sipil, laki-laki dan wanita, dewasa atau anak-anak, Muslim atau bukan, adalah perbuatan HARAM. Ia termasuk perbuatan merusak di muka bumi yang sangat diharamkan. Islam menghalalkan Jihad Fi Sabilillah, perang melawan musuh-musuh Islam secara kesatria di medan-medan perang yang Syar’i.

[4] Menurut banyak analisis, dapat dipastikan bahwa Tragedi WTC 11 September 2001 bukan dilakukan oleh kaum Muslimin (pengikut Usamah bin Ladin), tetapi diskenariokan sendiri oleh agen-agen intelijen Amerika-Israel. Tragedi itu sengaja mereka buat sebagai alasan untuk memerangi kebangkitan Islam di dunia.

Gedung WTC tidak akan hancur hanya ditabrak oleh sebuah pesawat. Sama sekali tak akan rubuh hanya dalam beberapa menit akibat tabrakan itu. Hancurnya gedung itu semata-mata hanya melalui Demolition Controlled. Ia adalah metode peledakan terkendali yang biasa digunakan di Amerika untuk merobohkan gedung-gedung tinggi yang terletak di tengah-tengah kawasan padat gedung-gedung pencakar langit. Tabrakan pesawat hanyalah pengalih perhatian saja. Sedangkan kekuatan asli yang menghancurkan gedung WTC adalah rangkaian bom yang telah ditanam di gedung itu sendiri.

Sebagai perbandingan, tanggal 18 Februari 2010, seorang pilot menabrakkan pesawatnya ke sebuah gedung di Austin, Texas. Pilot itu bernama Joseph Stack. Dia meninggal setelah melakukan aksinya. Akibat dari tabrakan itu hanya menimbulkan kebakaran dan kerusakan gedung. Tidak sampai meruntuhkan gedung dalam sekejap. Bahkan saat sebuah pesawat latih jatuh di gedung IPTN, ia juga tidak menghancurkan gedung itu berkeping-keping. Jadi tidak ada ceritanya, sebuah pesawat bisa menghancurkan gedung pencakar langit hanya dalam beberapa menit. Ketika Timothy McVeigh meledakkan truk berisi bahan peledak penuh di depan gedung FBI Amerika. Ia tak sampai menghancurkan seluruh gedung itu. Hanya bagian depannya hancur, tidak sampai menghancurkan secara keseluruhan.

Namun di kalangan Ummat Islam ada dua kelompok yang menerima informasi Tragedi WTC, seperti kampanye yang disebarkan oleh George Bush. Satu kelompok sepakat dengan George Bush untuk memerangi para teroris; sekalipun akibatnya menzhalimi kaum Muslimin. Satu kelompok lagi, sepakat dengan agenda perjuangan Usamah bin Ladin (Al Qa’idah) dengan menjadi lawan bagi para pemburu teroris. Kedua kelompok merujuk pendapat dan pandangan Salaf, tetapi keduanya sepakat dengan informasi George Bush.

Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Maka sudah sepantasnya kita tidak mendukung agenda ini; baik dengan cara tidak mempercayai informasi George Bush, maupun tidak memberi banyak peluang bagi mereka untuk menyakiti kaum Muslimin. Mestinya begitu.

Icon “WTC 911” sangat jelas sekali. Ia dibuat oleh Zionis untuk melemahkan kaum Muslimin. Sebelum George Bush terpilih lagi sebagai Presiden Amerika untuk kedua kalinya, pada tahun 2004, seminggu sebelum itu tersiar video berupa ancaman Usamah bin Ladin yang akan menyerang Amerika. Rakyat Amerika seketika ketakutan, sehingga buru-buru mereka memiliki George Bush lagi, sebagai “watch dog” terhadap para teroris. Dengan beredarnya video itu, otomatis Bush terpilih lagi. Kasus yang sama baru-baru ini terulang, dengan isu pengiriman paket bom melalui pesawat Emirates di Yaman. Paket ini sedianya akan dikirim ke Amerika. Al Qa’idah buru-buru mengklaim bahwa iutu adalah paket milik mereka. Media-media pro Zionis sangat hebat mempublikasikan paket bom ini. Dampaknya, Partai Republik di Amerika memenangkan pemilu mengalahkan partai Obama.

Demikianlah, berita atau isu seputar terorisme sangatlah halus, sangat samar, tidak jelas mana yang salah dan benar. Kita harus hati-hati dalam memamah berita seputar terorisme ini. Jangan sampai kita masuk perangkap “missi dajjal” yang justru menguntungkan manusia-manusia maniak seperti Bush dan kawan-kawan yang sangat berambisi merusak Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Mari bersikap adil dan bijaksana; serta aku memohon ampunan kepada Allah Azza Wa Jalla atas segala dosa, salah, dan khilaf kepada-Nya, juga dalam hal pelanggaran hak-hak kaum Muslimin. Semoga tulisan ini benar-benar dapat diperbaiki, dengan izin-Nya. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

 


Mengapa Ada Al Qa’idah?

Juli 26, 2009

Istilah Al Qa’idah itu memiliki arti yang unik. Ia adalah kata yang berubah pengertian sesuai proses-proses yang dialami kelompok yang menyandang nama itu.

Al Qa’idah bisa ditulis dengan huruf ‘ain. Ia berarti tempat duduk, tempat duduk-duduk bersama, atau fondasi bangunan. Inilah arti mula-mula Al Qa’idah sesuai asal-usul kemunculannya. Waktu itu tahun 80-an, ketika sedang maraknya JIHAD di Afghanistan menentang Uni Soviet. Para mujahidin memiliki suatu tempat berkumpul-kumpul, semacam base camp, atau kamp latihan. Di dalamnya segala simpul-simpul bantuan untuk JIHAD di Afghanistan berkumpul. Ada yang datang dari Saudi dan Timur Tengah, ada yang dari Pakistan, dari Asia Tenggara (seperti Indonesia), bahkan bantuan dari agen-agen CIA. Para mujahidin menyebut tempat mereka kumpul-kumpul itu sebagai Al Qa’idah. Maksudnya, tempat kumpul-kumpul, duduk bersama, berbagi, maskas, dan lain-lain.

Namun kemudian pengertian Al Qa’idah berubah. Ia lebih tepat ditulis dengan hamzah, bukan dengan ‘ain. Al Qa’idah yang ditulis dengan hamzah, pengertiannya adalah pemimpin, pengarah, komando. Seorang qa’id itu sama dengan komando. Hal ini merujuk kepada gerakan kekerasan menyerang sasaran-sasaran kepentingan Amerika dan sekutunya di seluruh dunia, khususnya melalui serangan-serangan bom. Gerakan ini merujuk kepada Fatwa Global Usamah bin Ladin untuk menyerang segala bentuk simbol-simbol kepentingan Amerika di dunia.

Fatwa global Usamah itu bukan fatwa jihad, sebab secara metodologi memang tidak layak disebut sebagai fatwa jihad (apalagi jika dipandang sebagai fatwa jihad ofensif). Sampai saat ini, Usamah bin Ladin didampingi Dr. Aiman Al Zhawahiri, mantan pemimpin Jamaah Islamiyyah Mesir terus mengeluarkan pernyataan atau fatwa dukungan atas serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh anggota milisi Al Qa’idah di seluruh dunia. Termasuk atas serangan-serangan yang terjadi di Indonesia melalui bom-bom manusia itu. Ketundukan para anggota milisi Al Qa’idah kepada seruan “jihad global” Usamah bin Ladin ini memposisikan Usamah sebagai pemimpin atau komando gerakan ini. Inilah pengertian Al Qa’idah sesungguhnya, yaitu gerakan serangan sporadis terhadap kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutunya, yang merujuk kepada fatwa dan arahan Usamah bin Ladin.

FATWA ULAMA SAUDI

Seorang ulama Saudi, saat beliau masih hidup, fatwanya disebut-sebut sebagai salah satu rujukan gerakan Al Qa’idah. Dalam salah satu fatwanya, beliau memuji serangan ke Double Tower WTC, 11 September 2001.

Beliau membenarkan serangan ke WTC itu dan memujinya. Alasan beliau, serangan ke kalangan musuh tidak harus didahului pemberitahuan. Tanpa pemberitahuan pun boleh. Beliau berhujjah, Nabi Saw pernah mengirim ekspedisi penyerangan di bawah komando Usamah bin Zaid Ra. untuk menyerang posisi orang musyrikin. Serangan dilakukan saat musuh lengah. Hal ini kemudian merupakan alasan pembenar bagi serangan ke obyek-obyek milik kaum kafir, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bersiap-siap.

Menurut saya, cara pengambilan dalil seperti itu tidak tepat. Begitu pula kalau dikaitkan dengan serangan-serangan terorisme selama ini, juga tidak benar. Meskipun secara pribadi, kita menghormati Syaikh rahimahullah yang disegani para mujahidin dari seluruh dunia itu. Beliau disebut-sebut sebagai ayahnya para mujahidin, sangat peduli dengan jihad, dan selalu concern menanyakan perkembangan jihad di negeri-negeri Islam. Kita memuliakannya dan mendoakan rahmat baginya.

Beberapa catatan perlu disampaikan disini, antara lain:

[o] Terorisme berbeda dengan pengiriman ekspedisi jihad untuk menyerang musuh. Kedua-duanya sama offensive (menyerang musuh), tetapi legalitasnya berbeda. Ekspedisi jihad bergerak atas perintah, ijin, dan restu seorang pemimpin Islam. Para Shahabat Ra. tidak berani melakukan serangan sendiri, tanpa ijin Nabi Saw. Sementara terorisme tidak jelas siapa yang memerintahkan aksi seperti itu dan landasan legalitasnya juga tidak jelas.

[o] Ekspedisi untuk menyerang musuh, sekalipun tanpa pemberitaan, seperti terjadi di jaman Nabi Saw dilakukan di atas kondisi konflik yang sudah sama-sama dimaklumi, oleh kawan dan lawan. Nabi Saw memimpin kaum Muslimin mengamankan Madinah, melindungi kepentingan Islam, serta melemahkan posisi orang-orang kafir. Orang kafir sendiri sudah maklum dengan sikap Nabi Saw dan para Shahabat ketika menyatakan perang kepada mereka. Sedangkan terorisme, ia adalah serangan sporadis tanpa didahului kepastian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Adakah satu saja negara Muslim di dunia yang menyatakan perang kepada Amerika dan sekutunya? Selama belum ada keputusan itu, maka aksi-aksi serangan sporadis tidak dianggap sebagai jihad, melainkan terorisme.

[o] Ekspedisi jihad di jaman Nabi Saw jelas manfaat dan pengaruhnya. Sementara serangan-serangan terorisme itu sudah mengacaukan pemikiran, membuat Ummat bingung, juga mengundang serangan balik dari orang-orang kafir dalam segala bentuknya ke Ummat Islam sedunia.

Andaikan aksi serangan ke WTC 11 September 2001, benar-benar dilakukan oleh Al Qa’idah dan kawan-kawan, sehingga menghasilkan aksi paling monumental dalam sejarah manusia modern, ia tetap saja tidak bisa dipuji. Serangan itu tetap dihitung sebagai serangan haram, sebab tidak dilakukan dengan metodologi JIHAD Islami.

Masyarakat dunia mungkin masih bisa memaklumi serangan ke WTC, andai ia dilakukan oleh elemen-elemen dari bangsa Irak, Palestina, atau Afghanistan yang sedang mengalami penindasan oleh Amerika, Israel, dkk. Mereka bisa beralasan dengan situasi kekejaman yang mereka alami di negeri masing-masing dan melakukan serangan untuk menghentikan kezhaliman Amerika Cs. Kemudian, sebelum menyerang mereka menyampaikan maklumat terlebih dulu, atau semacam manifesto politik yang berisi alasan dan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan. Hal ini perlu ditempuh agar tidak memfitnah Ummat. Dan setelah aksi dilakukan, ada pernyataan bertanggung-jawab secara kesatria dari elemen-elemen yang menyerang itu.

Sebuah contoh adalah aksi pembajakan pesawat yang dilakukan oleh beberapa elemen pemuda Palestina terhadap pesawat tujuan Siprus. Pembajakan ini pernah dibuat film dokumenternya dengan sangat informatif. Pesawat itu lalu landing di salah satu negara Afrika Utara, kemudian disergap oleh pasukan khusus Mesir. Namun anehnya, kebanyakan penumpang yang meninggal justru karena serangan pasukan Mesir itu, bukan karena pembajakan. Dalam aksi ini, meskipun sasarannya sipil, setidaknya masyarakat bisa paham bahwa yang dituju oleh pelakunya adalah membela bangsanya yang tertindas di Palestina.

Namun dalam Tragedi WTC, lihatlah dengan jelas. Betapa jauhnya harapan dan kenyataan. Para pelakunya orang-orang Saudi, melakukan aksi tanpa pemberitahuan dan pemakluman terlebih dulu, serta setelah aksi para pelakunya pada kabur tidak karuan. Itu pun dengan asumsi, bahwa pemuda-pemuda Islam yang melakukan aksi itu. Sebab dari banyak analisa kritis, didapat kesimpulan bahwa peledakan WTC 911 dilakukan oleh konspirator Amerika dan Yahudi sendiri.

ISU DAULAH ISLAMIYYAH

Mantan Komandan Densus 88, Jendral Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne dia mengklaim bahwa pelaku teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton adalah bagian dari Al Qa’idah internasional. Ia bukan aksi oleh tangan-tangan teroris lokal. Ketika ditanya, apa tujuan semua aksi teror itu, Suryadarma mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyyah, yaitu sistem negara Islam seperti di jaman Nabi dan para Khalifah setelahnya. Dia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu guna mencegah gerakan pendirian Daulah Islamiyyah itu.

Menurut saya, ucapkan Jendral Suryadarma ini hanya OMONG BESAR. Al Qa’idah sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan perjuangan Daulah Islamiyyah. Daulah Islamiyyah tidak bisa didirikan dengan cara teror, menjadikan warga sipil sebagai bulan-bulanan serangan, merasa arogan seolah paling berhak bicara tentang jihad, dan terus-menerus menjelek-jelekkan citra Islam di mata manusia. Sangat jauh jarak antara tujuan mendirikan Daulah Islamiyyah dengan cara-cara teror pengecut itu. Nabi Saw dalam sirahnya, beliau tidak pernah memberi contoh mendirikan Daulah dengan cara-cara teror. Begitu pula para Khalifah Rasyidah. Mendirikan Daulah Islamiyyah haruslah dengan dakwah, tarbiyah, ukhuwwah di antara kaum Muslimin, dan siyasah. Bukan dengan cara-cara teror seperti Nordin M. Top dan kawan-kawan. Bahkan andai mereka meyakini kebenaran cara teror itu, mengapa tidak vis a vis dengan sistem militer sekalian?

Inti masalahnya, orang-orang ini ingin menegakkan urusan yang besar (mendirikan Daulah Islamiyyah), tetapi tidak mau membayar syarat-syaratnya. Ibarat ingin menunaikan Haji, tetapi kerjanya tidur melulu. Jangankan Daulah Islamiyyah, seluruh kelompok teror di dunia ini (termasuk kelompok orang-orang kafir) nyaris tidak ada yang pernah berhasil membangun negara melalui cara-cara teror. Yahudi saja, yang dikenal sebagai mbah-nya segala teror, mereka mendirikan Israel dengan pertempuran vis a vis menghadapi koalisi pasukan Arab. Ingat lho, itu Yahudi yang agama mereka melegalisasi segala bentuk aksi teror terhadap non Yahudi (Ghayim).

Baca entri selengkapnya »