HARIRI: Tragedi Dakwah Ustadz Gaul

Februari 14, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Innalillah, innalillah, innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Sangat mengerikan kalau melihat video kasus kekerasan yang dilakukan dai gaul Hariri di sebuah acara dakwah sosial di Kab. Bandung.

Setidaknya ada 10 kesalahan dai Hariri dalam kejadian kekerasan itu:

[1]. Hariri marah-marah dan emosi di depan jamaah dakwahnya. Marah karena alasan sepele, masalah kualitas sound system.

[2]. Hariri marah-marah dengan tunjuk-tunjuk ke muka petugas sound system, sambil mengeluarkan kata-kata makian, tekanan. Marah demikian sudah kategori emosi tingkat tinggi.

Sang Dai Sedang Mengajarkan Sebuah Kuncian Khas Aikido.

Sang Dai Sedang Mengajarkan Sebuah Kuncian Khas Aikido.

[3]. Hariri marah dan emosi di depan jamaah kaum ibu-ibu, dan juga anak-anak. Ini sangat traumatik bagi anak-anak. Ia bisa menjadi kenangan buruk sampai masa yang panjang.

[4]. Hariri marah dengan memakai bahasa Sunda yang kasar. Kalau Anda bicara dengan para orangtua di Pasundan, mereka pasti tidak suka mengajarkan bahasa kasar ke anak-anak. Apalagi ia diperlihatkan oleh seorang dai gaul.

[5]. Hariri mengangkat kaki di depan petugas sound system, meminta agar si kaki dicium oleh orang itu. Sangat mengerikan. Setahuku, Raja Heraklius dari Romawi saja tidak melakukan hal itu. Mungkin Hitler, Napoleon, Stalin, Mao, Pinochet, dan lainnya juga tidak begitu.

[6]. Laki-laki yang jadi sasaran Hariri sudah memperlihatkan sikap baik. Mau mendekat kepadanya, menundukkan muka, mendengar kata-kata tantangan Hariri. Bahkan dia sudah mau minta maaf. Laki-laki itu hanya nurut saja apa maunya sang dai. Tapi ia tetap di-bully oleh si dai.

[7]. Hariri meremehkan sikap saling memaafkan yang telah terjalin di antara mereka. Mestinya sikap memaafkan itu menjadi ending dari peristiwa tersebut. Mengakhiri perbuatan saling memaafkan dengan tindakan kekerasan; sama dengan mengurai kebaikan yang sudah diikat dengan kuat.

[8]. Puncak dari kebiadaban Hariri manakala dia dengan jelas menginjak tengkuk laki-laki “sound system” itu. Ini adalah tindakan sangat pengecut dan menyakitkan. Pengecut karena laki-laki itu menyerahkan tangan karena niat memperkuat sikap saling memaafkan. Saat orang sudah rela meminta maaf, malah dikunci tengkuknya (dengan sedikit jurus Jujitsu Brazilian). Ini tidak fair, ini menyakiti. Dan sekaligus memperlihatkan kebiadaban di depan jamaah dakwah.

[9]. Paling parahnya, perbuatan biadab itu dilakukan Hariri di panggung dakwah, dengan memakai penampilan dakwah Kenabian. Rambut panjang, jubah putih, sorban putih…itu ciri khas penampilan Kenabian. Lha kok di atas semua itu, Hariri memamerkan jurus Aikido yang telah dikuasainya? Kan Aikido itu “surganya kunci-mengunci”.

[10]. Dan lebih parah dari semuanya, paling-paling super parah; seperti biasa, Hariri mencoba membela diri. Bukan hanya di depan media, tapi juga di depan jamaah-nya. Ini sangat tidak etis dan memalukan. Harusnya kalau dia sudah sangat emosi, turunlah dari panggung, tinggalkan kewajiban dakwah. Boleh kita meninggalkan dakwah kalau sedang emosi tidak terkontrol.

[11]. Paling buncit, sedikit di atas “super parah”; Hariri melupakan siapa dirinya, siapa orang-orang yang dia bawa dalam dakwahnya, siapa orang-orang sekitarnya, siapa jamaah yang dia bina, siapa kaum Muslimin, dan seterusnya. Dia seperti “mabuk sesaat” sehingga tiba-tiba seperti hilang kesadaran dan kontrolnya.

Inilah tragedi dakwah dai gaul yang sangat mengerikan. Mau digoreng bagaimana juga, tak akan bisa ditolong. Para ustadz, ulama, aktivis Islam, jangan menolong orang demikian; sebab hal itu akan membawa kemurkaan di sisi Allah. Kita tak boleh menolong orang yang aniaya; tapi harus menasehati atau memperbaikinya. Jangan selalu “menutup-nutupi aib” kalau ia sudah terjadi di depan umum.

Inilah salah satu natijah (hasil) dari dakwah gaul yang dibuat TV-TV selama ini. Dakwah artifisial, dakwah industri, dakwah kapitalisme, dakwah entertainment…telah menunjukkan wajah aslinya. Selain yang begini-begini, di luar sana juga banyak kasus-kasus serupa. Nas’alullah al ‘afiyah.

Tentu saja, dakwah gaul ala TV ini lebih banyak merugikan Umat, daripada memberi kemaslahatan. Tinggalkan ia. Jangan concern di depan dakwah TV, tapi berendah hatilah di depan para Dai Rabbani, yang mengajarkan ilmu Syariat, membimbing menuju kemuliaan dunia dan Akhirat. Carilah, engkau kan dapatkan!

Wallahu a’lam bisshawaab.

(Mine).

Iklan

Sikap Berlebihan Menyikapi Kematian Uje

Mei 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti kita tahu, Uje atau Ustadz Jefri meninggal 26 April 2013 lalu, dalam kecelakaan tunggal di Pondok Indah. Banyak orang merasa berduka, bersedih, terharu, merasa kehilangan, menunjukkan simpati, dan seterusnya. Media-media TV secara intensif membahas topik ini melalui aneka liputan, wawancara, berita, sajian infotainment, bahkan diskusi serius. Media online, surat kabar, tabloid, majalah juga tak mau ketinggalan mengupas isu yang sama.

Ketika Uje meninggal, adalah wajar kalau keluarganya sedih, teman-temannya sedih, para penggemarnya sedih. Itu wajar saja, namanya juga mengalami musibah. Tapi bersikap berlebihan dalam hal seperti ini tidak boleh, seperti meratapi kematian, histeris, memuja-muja sosok Uje, mencari berkah di kuburnya, dan sebagainya. Semua itu juga dilarang. Termasuk di dalamnya memuji-muji Uje setinggi langit, mengaitkan dirinya dengan hal-hal metafisik (ghaib), mengaitkan tanda-tanda alam dengan kematiannya; semua itu tak boleh dan tak layak dilakukan.

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Saat putra Nabi Saw yang bernama Ibrahim wafat, waktu itu terjadi gerhana matahari. Orang-orang menyangka bahwa gerhana matahari terjadi karena wafatnya Ibrahim. Nabi Saw membantah anggapan itu. Beliau tegaskan bahwa masalah gerhana tidak ada sangkut-pautnya dengan wafatnya seseorang. Bahkan Nabi Saw kemudian men-sunnah-kan dilakukan Shalat Gerhana. Jadi tidak boleh berlebihan mengaitkan kematian seseorang dengan tanda-tanda alam.

Bagi orang yang cerdas, sikap berlebihan Ummat Islam terkait kematian Uje, jelas tidak proporsional. Seharusnya media-media massa juga rasional, bukan mengeksploitasi. Tapi masalahnya kan di era dewasa ini banyak hal “bisa dijual” seperti kemiskinan, kesusahan, kematian, juga tangisan. Itu sangat tercela. Nas’alullah al ‘afiyah.

Di balik wafatnya Uje, banyak bertaburan informasi-informasi yang “tidak bagus”; di luar informasi-informasi lain yang sengaja dibagus-baguskan. Hal ini perlu diingatkan lagi, agar Ummat Islam tidak berlebihan menyikapi tokoh seperti ini; juga tokoh semisal itu kalau nanti ada yang meninggal lagi.

Sebelum wafatnya Uje sempat menulis pesan  ini: “Pada akhirnya… semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. dan pada saat itu..kembali adalah yang terbaik.. kepada siapa? Kepada DIA pastinya… Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.

Pesan demikian seakan menjelaskan kegalauan hebat yang sedang melanda kejiwaan Uje. Apakah terjadi benturan pemikiran, benturan kepentingan, atau apapun? Wallahu a’lam bisshawaab. Selain itu Uje juga mengaku merindukan ayahnya (Apih) yang telah wafat. Seolah dia ingin berada dalam pemahaman yang wajar seperti ayahnya, tanpa akidah yang aneh-aneh dan membuat kegelisahan hati.

Intinya begini, Uje sebagai bagian dari kerabat para dai atau guru-guru agama di Betawi, adalah sesuatu yang dihargai. Sedangkan posisi Uje sebagai penggiat “entertainment genre dakwah” adalah perkara munkar yang tidak boleh didukung, meskipun jutaan manusia menggemarinya. Dakwah Islam adalah dakwah ilallah, bukan entertainment dengan kemasan dakwah. Entertainment dakwah hanyalah produk industri media TV, bukan diniatkan untuk membangun kejayaan dan keberdayaan kaum Muslimin.

Lalu posisi Uje sebagai orang yang dibidik oleh dai-dai Syiah, lalu dipengaruhi untuk menganut paham seperti mereka; ini adalah perkara yang membuat Uje mengalami kejenuhan hebat. Dia seperti tak berdaya menghadapi aneka tekanan dari kanan-kiri. Di titik itu Uje merasa tak kuat menatap masa depan kehidupan lebih panjang. Tidak heran jika melihat dari kata-kata, perbuatan, atau pesan Uje yang bernada “pamitan”. Tuntunan Islam membawa damai, sedangkan ajaran yang menghalalkan caci-maki terhadap para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum, akan berujung nestapa.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat menjadi tadzkirah bagi kaum Muslimin, bagi para penggemar Uje, dan juga bagi kami. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

(Abi Syakir).


Istilah USTADZ di Mata Orang Indonesia…

Juni 25, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kalau orang Indonesia ditanya, apa sih arti kata ustadz? Belum tentu ada yang paham. Masih lumayan kalau dia menjawab, “Ustadz itu artinya guru.” Ini masih lumayan meskipun sebenarnya masih terlalu general (polos).

Di balik istilah USTADZ, ada sesuatu yang indah. Tapi kita jarang memahaminya…

Banyak hal yang tidak kita pahami tentang istilah ustadz, sehingga kemudian menjadi salah kaprah. Masyarakat begitu mudah memberikan atau menyebut gelar ustadz tanpa memahami maknanya. Coba baca salah satu artikel ini: Menyoal Gaya Hidup Hedonis Ustadz Selebritis.

Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang sebenarnya (insya Allah), agar Anda semua tidak salah paham.

[1]. Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai GURU atau pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya.

[2]. Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.

[3]. Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.

[4]. Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.

[5]. Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.

[6]. Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.

[7]. Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.

[8]. Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.

[9]. Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?

[10]. Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Muhammad Abdul Baqi’, Ustadz Said Hawa, Ustadz Hasan Al Hudaibi, Ustadz Muhammad Assad, dan lain-lain.

Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis… Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.

Ke depan, jangan mudah-mudah menyebut atau memberi gelar ustadz, kalau memang yang bersangkutan tidak pada proporsinya untuk menerima hal itu. Sebagai alternatif, orang-orang yang terlibat dalam dakwah Islam bisa disebut sebagai: Dai (pendakwah), muballigh (penyampai risalah), khatib (orator), ‘alim (orang berilmu), dan yang semisal itu.

Adapun istilah Ustadz Selebritis, Ustadz Gaul, Ustadz Entertainis, Ustadz Komersil, Ustadz Panggung…dan lain-lain; semua ini tidak benar, ia bukan peristilahan yang benar. Derajat ustadz itu dekat dengan ulama. Itu harus dicatat!

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat ya. Allahumma amin.

[Abinya Syakir].