Apresiasi Sikap Politik SALAFI…

Juni 7, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita harus mengucapkan syukur “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin” tatkala melihat sikap kepedulian saudara-saudara kita dari kalangan Salafi terhadap isu perpolitikan nasional. Banyak pihak tak menyangka, bahwa kalangan Salafi akan bersikap sedemikian terbuka dan bijaksana; karena selama ini kesan yang ada, mereka anti politik, mereka kurang memahami realitas, dan mereka cenderung menjauhkan diri dari isu-isu publik. Alhamdulillah, kesan negatif itu agak berubah.

Sikap para Salafiyun yang ikut mendorong partisipasi dalam pemilu 2014, serta mendukung salah satu kandidat dalam Pilpres Juli 2014, menunjukkan kepedulian mereka yang nyata terhadap masalah-masalah Ummat. Jika sebelumnya Salafi selalu identik dengan sikap “golput”, maka kini mereka banyak berbenah. Dalam pemilu April 2014 lalu, sebagian mereka memilih PKS, sebagian lain memilih partai-partai Muslim lain.

"Bijak Memandang Realitas Ummat"

“Bijak Memandang Realitas Ummat”

Seorang kawan PKS bercerita. Sehari atau dua hari sebelum Pileg 2014, dia didatangi seorang aktivis kajian Salafi. Orang itu secara jujur menanyakan bagaimana keadaan PKS, sikap politik, programnya, dan lain-lain. Setelah jelas yang ditanyakan, dia janji akan memilih PKS dalam pemilu. Hal ini sesuai anjuran Ustadz Firanda dan kawan-kawan dari Madinah. Tapi ada juga Salafi lain yang memilih partai lain, selama masih partai Muslim.

Sikap terbuka dan peduli ini tentu tidak sepi dari tanggapan dan reaksi di kalangan Ustadz Salafi lain, yang sebelumnya sudah merasa “standar” dengan pilihan golput-nya. Tak jarang timbul perselisihan dan rasa kekurang-percayaan akibat terbitnya fatwa Ustadz Firanda yang dianggap “lebih maju dari zaman-nya” itu. Tapi meskipun begitu, mereka tetap konsisten dengan pilihan politik, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Alasan terkuat kalangan Salafi menjadi peduli dengan isu-isu politik, justru dipantik oleh masuknya sejumlah kader-kader Syiah Rafidhah ke gelanggang politik, khususnya merapat ke PDIP. Selain itu juga karena banyaknya pengikut Liberal, aliran sesat lain, yang juga merapat ke PDIP. Para Salafi jelas tahu dengan sejelas-jelasnya, bagaimana kejahatan Syiah Rafidhah hari ini di Yaman, Bahrain, Suriah, Libanon, Irak, apalagi Iran. Kalau para Ahlus Sunnah menarik diri dari gelanggang politik, khawatir akan terjadi tragedi-tragedi serupa. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Di titik ini, menurut kami, sikap kawan-kawan Salafi lebih baik daripada Partai An Nuur di Mesir. Mengapa demikian? Karena Salafi menyelaraskan sikapnya dengan memperhatikan sikap kaum Muslimin lainnya; termasuk mencermati buku penyimpangan Syiah yang diterbitkan oleh MUI Pusat. Sedangkan di Mesir, Partai An Nuur justru berseberangan dengan banyak elemen-elemen dakwah Islam di sana.

Sekali lagi, apresiasi, kesyukuran, dan terimakasih untuk para IKHWAH Salafi di Nusantara. Barakallah fikum jami’an wa syukran jazakumullah khair. Demikian, alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).

Iklan

Memuji Dialog Ustadz Salafi

Januari 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini dilaksanakan dialog antara ASWAJA (NU) dengan Salafi di Kantor Kemenag Batam. Dialog menghadirkan Ustadz Firanda dan Ustadz Zainal Abidin dari Salafi; dan menghadirkan Ustadz Idrus Ramli dan Ustadz Thobari dari NU. Hasil dialog dapat diunduh di Youtube.

Link video sebagai berikut:

Tetapi data video di atas cukup besar, kalau tidak salah melebihi 600 MB. Kalau didownload tentu makan waktu lama. Ya silakan cari solusinya.

Disini kami ingin memberikan apresiasi (pujian) kepada Ustadz-ustadz Salafi yang terlibat dalam dialog di atas. Kami tidak menyinggung isi dialog atau materinya; karena dalam pandangan kami, apa yang dipaparkan Ustadz-ustadz Salafi itu serupa dengan yang kami yakini. Tapi pujian ini tertuju pada KESEDIAAN dan KELAPANGAN HATI mereka untuk berdialog dengan kalangan non Salafi.

Bagi kami, melihat ada Ustadz Salafi yang mau terjun berdialog, ini sungguh bagus. Karena selama ini Salafi dikenal sering “menghindari dialog”. Itu sudah bagus dan layak dikembangkan, agar terjadi saling memahami satu sama lain. Soal orang lain mau terima dalil kita, itu urusan mereka, yang penting dakwah sudah disampaikan.

Kenapa kami apresiasi hal ini?

Karena mengingat peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi di Mesir, salah satunya karena minimnya dialog dan komunikasi antar gerakan-gerakan dakwah Islam; sehingga ketika terjadi chaos, masing-masing menempuh kebijakan sendiri yang saling berbenturan. Itu sangat buruk dan berdampak bahaya bagi masa depan Ummat.

Dengan kebiasaan dialog, diskusi, saling mengajukan argumen dan pendapat, secara fair; insya Allah akan tercipta situasi persaudaraan yang lebih baik antar sesama Muslim. Amin Allahumma amin.

Terimakasih kepada Ustadz Firanda, Ustadz Zainal Abidin, Ustadz Idrus Ramli dan Ustadz Thobari; terimakasih juga kepada kantor Kemenag Batam, masyarakat kaum Muslimin disana, dan panitia dialog serta media yang mengekspose-nya. Jazakumullah khairan katsira.

(Admin Pustaka Langit Biru).