Membantah Pengamat TERORISME

Juli 30, 2009

[1] Dalam dialog dengan SCTV, Al Chaidar ngoceh banyak tentang data-data pelaku terorisme di Indonesia. Dia mengatakan, pada tahun 2006 dia melakukan penelitian tentang pengikut Nurdin M. Top. Kata Al Chaidar, saat itu terungkap bahwa Nurdin sudah berhasil merekrut sebanyak 19.000 kader rekrutan. Termasuk di dalamnya kader-kader wanita.

Bantahan:

Al Chaidar menyebut data, ada 19.000 pengikut Nurdin M. Top yang berhasil dia rekrut. Tetapi mengapa, ketika menjelaskan anggota kelompok Cilacap, Banten, Palembang, Wonosobo, dll. jumlah masing-masing kelompok sangat sedikit? Dari setiap kelompok itu Al Chaidar menyebut kurang dari 10 nama orang. Lho, katanya ada 19.000 kader rekrutan, kok dalam penjelasan anggota kelompok-kelompok itu sangat sedikit? Lalu sisanya yang mungkin masih 18.950 lagi kemana?

[2] Pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam dialog dengan sebuah TV (kalau tidak salah MetroTV atau IMTV). Dia ditanya tentang pelaku peledakan di JW Marriott yang masih anak remaja, usia sekitar 17 tahun. Dia menduga, dalam diri remaja itu ada unsur gen dari nenek-nenek moyangnya dulu yang mungkin pernah terlibat aksi pengeboman. Perlu diingat, dalam rangka menumpas terorisme, Wawan Purwanto ini setuju jika dihidupkan kembali UU subversif seperti dulu.

Bantahan:

Katanya, remaja pelaku peledakan di JW Marriott kemungkinan nenek-nenek moyangnya pelaku peledakan bom juga. Sekarang kita mau tanya, siapa nenek-moyang remaja itu? Nenek moyang tentu hidup di masa yang lampau, melebihi usia kakek-nenek anak itu sendiri. Apa di jaman dahulu sudah ada kasus-kasus peledakan dengan modus bom manusia seperti itu? Maaf, kalau berkomentar jangan asal njeplak. Tapi dipikir-pikir dulu. Kalau tidak logis, Anda sendiri yang akan ditertawakan!

[3] Mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne, dia mengatakan bahwa tujuan aksi-aksi terorisme itu adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah (sistem negara Islam).

Bantahan:

Mohon datangkan bukti-bukti dalam ajaran Islam, adakah ayat-ayat dalam Al Qur’an, atau adakah hadits Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan Ummat Islam mendirikan negara Islam dengan cara teror? Mohon datangkan bukti-buktinya, kalau Anda adalah orang yang benar! Kalau sekedar klaim ini itu dari sekelompok orang, itu mudah melakukannya. Semua orang bisa mengklaim. Misalnya, gerombolan teroris bayaran mengklaim hendak membebaskan manusia dari penindasan. Klaim seperti ini sangat mudah dibuat. Hanya masalahnya, apakah klaim seperti itu diakui oleh ajaran Islam, atau oleh pandangan ulama-ulama Muslim?

[4] Pandangan tendensius mantan Kepala BIN, Hendropriyono. Dia menyebut, pelaku terorisme itu adalah kelompok Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin. Dalam dialog di TVOne dengan Karni Ilyas, Hendro mempertegas pendapatnya, dengan menyebut kalangan Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin garis keras.

Bantahan:

Ucapan Hendropriyono ini bisa sangat memojokkan banyak pihak. Di mata masyarakat, terutama warga NU, akan makin besar kebencian mereka kepada kalangan yang disebut Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin. Perlu diketahui, satu-satunya negara di dunia saat ini yang resmi mengklaim sebagai penganut madzhab Wahhabi, adalah Arab Saudi. Sedangkan ulama-ulama Saudi sendiri sangat keras dalam mengingkari aksi-aksi terorisme itu. Saya memiliki referensi berupa fatwa-fatwa ulama Wahhabi yang mengingkari aksi terorisme. Malah ada fatwa khusus yang ditujukan untuk mengingatkan Usamah bin Ladin. Jadi aneh, aksi terorisme diingkari oleh ulama-ulama Wahhabi, tetapi madzhab Wahhabi malah dituding.

Jika Wahhabi demikian berbahaya, mengapa tidak sekalian saja Ummat Islam Indonesia DILARANG menunaikan Haji dan Umrah ke Saudi? Ya, khawatir mereka akan terpengaruh Wahhabi disana, lalu membuat bom-bom terorisme di Indonesia. Padahal sudah ada jutaan jamaah Haji dan Umrah, tetapi tidak satu pun yang kemudian melakukan aksi terorisme. Singkat kata, terorisme adalah kesesatan paham. Ia adalah faktor deviasi yang selalu muncul di paham apapun. Terorisme tidak bisa dikaitkan dengan madzhab-madzhab tertentu yang tidak bersalah.

[5] Pandangan lain dari mantan anggota Jamaah Islamiyyah, Nasir Abbas. Tokoh ini asal Malaysia, iparnya Saudara Mukhlas yang meninggal dieksekusi akibat Bom Bali I. Secara umum, pandangan Nasir Abbas, Al Chaidar, Abu Rusdan, dll. kerap kali saling bertabrakan. Masing-masing merasa benar sendiri, seolah paling mengerti masalah yang dihadapi. Ada satu ungkapan sangat kasar dari Nasir Abbas, saat dia ikut berpendapat dalam dialog TVOne dengan Hendro Priyono. Disana Nasir Abbas, bahwa kaum Thaliban itu tukang membunuhi Ummat Islam. Mereka berperang melawan Mujahidin, sementara Nasir ada di pihak Mujahidin. Dia mengklaim tidak suka dengan Thaliban.

Bantahan:

Dalam konflik Thaliban versus Mujahidin Afghanistan, harus dirunut masalahnya. Tadinya, Thaliban itu kaum santri agama di daerah perbatasan Afghan-Pakistan. Mereka tidak terlalu aktif dalam jihad, namun banyak belajar agama. Saat terjadi pertikaian antara kubu Burhanudin-Mas’ud dengan kubu Hikmaktyar yang beraliansi dengan Koalisi Utara, situasi Afghan semakin tidak menentu. Hal itu terus terjadi karena pimpinan-pimpinan Mujahidin berebut kekuasaan. Masyarakat Afghan, termasuk santri-santri Thaliban tidak suka dengan situasi tersebut. Dengan didukung Pakistan, Thaliban bangkit menundukkan semua Mujahidin, lalu membentuk pemerintahan sendiri. Hanya saja, setelah Pemerintahan Thaliban berdiri, banyak pihak yang tidak menyukai, sebab berhaluan Islam. Jadi, Thaliban itu akhirnya menunaikan tujuan awal para Mujahidin Afghan. Jika kemudian terjadi pertempuran, jangan ditafsirkan membunuhi Ummat Islam. Kalau begitu caranya, berarti konflik antara Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Muawiyah Ra, juga bisa disebut saling membunuhi Ummat Islam. Dan pengakuan Nasir Abbas, bahwa dia tidak menyukai Thaliban. Hal ini sama dengan sikap Amerika selama ini.

[6] Pandangan lain yang sudah tidak kalah popular, dari Sidney Jones, seorang pengamat asal Australia. Pandangan Si Mbok Sidney itu seringkali mewarnai media-media Indonesia. Seolah dia adalah nabi-nya teori terorisme. Dalam diskusi dengan TVOne, Sidney membantah bahwa kasus terorisme di JW Marriott dan Ritz Carlton berhubungan dengan Pilpres. Dia tetap sepakat dengan gaya lamanya, menuduh Jamaah Islamiyyah (JI) ada di balik aksi terorisme itu.

Bantahan:

Sepanjang sepak terjangnya mengamati kasus-kasus terorisme di Indonesia, pandangan Sidney Jones sangat mudah dikenali. Tuduhan dia tidak akan keluar dari 3 nama: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Al Mukmin Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo. Tiga nama ini dia ulang-ulang di berbagai kesempatan, tentu dengan penuh kebanggaan, karena dia diangap sebagai peneliti/pengamat terorisme yang mumpuni. Tapi anehnya, di semua tempat, Sidney tidak pernah bergeser dari 3 nama tersebut. Kalau tidak JI, pasti Ngruki, kalau tidak DI/TII.

Saya khawatir, di kepala Sidney itu hanya ada 3 nama tersebut. Bisa jadi suatu saat Anda akan bertanya: “Mbak dari mana? Mbak suka makanan apa? Mbak pernah kecebur sumur?” Saya khawatir, jawaban yang keluar adalah: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII. Kok ada manusia yang sedemikian fanatik dengan ketiga nama ini. Jangan-jangan Sidney sudah menjadi “penggemar berat” ketiga nama tersebut? Wallahu A’lam.

Pandangan membabi buta seperti Sidney Jones itu jelas sangat menyesatkan. Segala bentuk tindak kekerasan, pengeboman, bom bunuh diri, dll. kelak dengan serampangan bisa dikaitkan dengan Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo yang sudah tidak eksis lagi. Tentu ini adalah kezhaliman yang nyata. Itu pun kalau orang-orang kafir mengerti istilah kezhaliman. Wong di mata mereka, zhalim atau adil itu sama saja.

Tentang Jamaah Islamiyyah misalnya. Organisasi ini sangat misterius. Wujud kekuatannya tidak tampak. Tidak ada pimpinan, pengurus, simbol, anggota, cabang-cabang, dll. layaknya jamaah dakwah selama ini. Saya menduga, pengaruh pemikiran tokoh-tokoh Jamaah Islamiyyah itu ada di Indonesia. Tetapi dalam batas pengaruh pemikiran saja. Namun kalau eksistensi organisasi, saya sangat tidak yakin. Begitu juga dengan pengagum Sayyid Quthb. Di Indoneia banyak orang menjadi pengagum Sayyid Quthb. Kitab tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an sudah terkenal. Tetapi apakah para pengagum Sayyid Quthb itu merupakan anggota Ikhwanul Muslimin Mesir? Belum tentu. Bahkan Ikhwanul Muslimin Indonesia yang diklaim oleh Habib Husein Al Habsyi, belum tentu mendapat lisence dari Ikhwanul Muslimin Mesir.

Singkat kata, kalau ngomong itu jangan asal nyeplos. Dipikir-pikir dulu secara cermat, biar tidak menjadi fitnah di kalangan Ummat Islam. Andai kemudian menjadi fitnah, yaa kita maklumlah. Apa sih kerjaan orang kafir, kalau tidak menyusahkan Ummat Islam? Justru rasanya aneh, kalau tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Hua ha ha ha…(dengan nada tawa seperti Mbah Surip).

TADZKIRAH UMMAT

Ummat Islam saat ini seperti buih lautan. Banyak jumlahnya, tidak berharga nilainya. Ummat menjadi bulan-bulanan opini media massa. Mereka dalam kebingungan besar mencari-cari cahaya penerang. Banyak sudah nasehat, peringatan, ajakan, himbauan, dan sebagainya disampaikan. Tetapi Ummat ini seperti sangat sulit lepas dari penjara kelumpuhan lahir-bathin. Berbagai macam obat sudah didatangkan untuk memperbaiki Ummat ini, tetapi penyakit yang bersarang tidak kunjung sembuh-sembuh. Siapa yang salah? Obatnya, dokternya, atau pasiennya?

Mungkin inilah masanya JAMAN FITNAH. Jaman penuh cobaan, godaan, dan rongrongan iman. Memegang nilai-nilai Islam di hari ini seperti memegang bara api. Kalau dilepaskan, ia akan padam; kalau terus dipegang tangan menjadi hangus.

Namun bagaimanapun, di hati kita harus selalu ada OPTIMISME. Okelah cobaan ini memang berat, amat sangat berat. Musuh-musuh yang dihadapi Ummat memerangi dari segala penjuru. Termasuk musuh-musuh yang memakai baju Islam, memakai kopiah, sarung, gamis, fasih dengan istilah-istilah Islam, dll. Sebesar apapun problem itu, ALLAHU AKBAR. Allah lebih besar dari semua itu. Allah berjanji akan menolong orang-orang beriman dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Hanya janji Allah semata yang layak kita pegang!!!

Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang mengingkari sesembahan selain Allah, dan bertauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tidak akan pernah putus. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Wallahu A’lam bisshawaab.

(Comeon).

Iklan

Amerika, Israel, dan Wahhabi

Januari 16, 2009

Baru saja saya ikut Shalat Jum’at di sebuah masjid NU, yang sering disinggahi. Lama tidak pernah Shalat Jum’at disini, saya coba sempatkan. Alhamdulillah sampai di masjid sebelum adzan dikumandangkan.

Pertama masuk pelataran masjid, terdengar pengurus masjid meminta doa para jamaah bagi saudara-saudaranya di Palestina. Alhamdulillah, ini adalah simpati yang layak diperbuat oleh kaum Muslim dalam situasi seperti sekarang. Bapak pengurus itu serius meminta kesungguhan jamaah untuk mendoakan kaum Muslimin di Filistin. Seperti biasa, beliau memimpin membacakan Al Fatihah beberapa kali. Ala hadiniah wa niyatin sholihah….ya begitulah.

Khutbah Jum’at disampaikan seorang khatib, kelihatannya setingkat ustadz. Dia membahas perilaku Bani Israil di Surat Al Baqarah. Khutbahnya ringkas, sehingga cepat selesai. Memang dalam khutbah itu seharusnya ringkas, dalam, dan berkesan. Jangan bertele-tele, lalu membiarkan pra jamaah pada -maaf- ngiler karena tertidur.

Sebelum khutbah ditutup, beliau membaca doa. Di dalamnya dimasukkan doa seperti Qunut Nazilah, meminta pertolongan bagi Muslim, dan meminta kehancuran bagi kafir zhalim. Saya sangat apresiatif dengan doa seperti itu, alhamdulillah.

Sampai dalam doa itu dimintakan kehancuran bagi: AMERIKA, ISRAEL, dan…ini sungguh tidak disangka, WAHHABI. Amerika, Israel, dan Wahhabi dibaca satu baris, berurutan, hanya dijeda oleh koma saja.

Saya kaget bukan main. Yang tadinya membaca “amin”, seketika saya berhenti. Saya khawatir ikut mendoakan sesuatu yang salah. Sampai saat menulis artikel ini, rasa kelu di hati saya masih terasa.

Bagaimana mungkin, Wahhabi disejajarkan dengan Amerika dan Israel? Apa hubungannya Wahhabi dengan Krisis Ghaza saat ini? Apakah memang Wahhabi itu sudah sampai ke tingkat kufur? Zhalim? Seperti Yahudi Israel laknatullah ‘alaihim?

Saya tidak mengerti, dan harus bagaimana menjawabnya? Entahlah.

Sebagai seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Jawa Timur, di Kota Nahdhiyin Malang. Sejak remaja saya sudah tahu tentang kebencian kaum Nahdhiyin kepada Wahhabi. KH. Sirodjuddin Abbas adalah magnum opus-nya kalangan Nahdhiyin dalam kebenciannya kepada Wahhabi dan Ibnu Taimiyyah. Banyak fakta yang tidak perlu dibahas disini. Begitu takutnya dengan isu Wahhabi ini sampai DPP PKS pernah membuat klaririfikasi bahwa mereka “bersih” dari unsur Wahhabi.

Sungguh, saya sangat sedih melihat kebencian yang amat sangat itu. Bertahun-tahun saya masuk masjid NU, ikut shalat bersama mereka. Ikut makmum di belakang mereka. Saya tidak pernah menyebut mereka kafir, murtad, atau setara dengan Israel yang zhalim. Saya hargai keadaan diri mereka, meskipun saya tidak terjun dalam amal-amal mereka.

Namun, adilkah menyebut Wahhabi sebagai musuh Islam, setara dengan Amerika dan Israel yang zhalim?

Ya…silakan jawab dengan nurani Anda sendiri.

Wahhabi, jika boleh disebut demikian, padahal ini masih sangat debatable, tidak semuanya buruk, beringas, main hakim sendiri, menjilat penguasa, dan lain-lain. Saya memahami, Wahhabi itu hanyalah cara untuk mengembalikan kita kepada KOMITMEN terhadap DUA KALIMAT SYAHADAT. Setiap Muslim jelas membutuhkan komitmen kepada Syahadatnya.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Bandung, 15 Januari 2009.

AM. Waskito.