[20]. Analisis Bisnis: Warung “Indomie” Rebus

April 20, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mari sedikit melongok dapur bisnis warung “Indomie” rebus. Sebenarnya tidak adil kalau nama warung itu diklaim “Indomie rebus”, karena mie instan yang dijual disana tidak melulu produk Indofood. Tapi memang yang terbanyak bermerk Indomie. Okelah, soal nama untuk sementara tidak kita persoalkan.

Saya pertama kali mengenal bisnis “warung mie instan” ini di Bandung, sekitar tahun 1994. Atau hampir 20 tahun lalu. Waktu itu bisnis warung mie instan masih sedikit. Perintisnya adalah para pedagang asli Sumedang. Selain menjual mie rebus, mereka juga menjual bubur kacang & ketan hitam, kopi, serta STMJ (susu telor madu jahe). Di samping produk-produk lain sebagai sampingan.

Dulu saya menilai, bisnis warung mie instan ini tidak keren, tidak kreatif, atau kurang bagus. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring memahami ilmu seputar bisnis, jujur saya balik memuji bisnis semacam itu. Bukan memuji karena performanya, tetapi memuji konsep bisnisnya.

Bisnis Mudah Dijalankan. Murah Meriah. Dijamin Laku (insya Allah).

Bisnis Mudah Dijalankan. Murah Meriah. Dijamin Laku (insya Allah).

Dalam bisnis berlaku prinsip PRAGMATISME. Mau bisnis apa saja dan bagaimana saja, selama halal dan sah secara hukum, silakan-silakan saja; selama bisnis itu benar-benar menguntungkan. Kalau bisnis keren, bagus penampilan, aksesoris indah, tetapi hasilnya tidak ada (alias merugi terus), itu dianggap bisnis gagal.

Nah, warung mie instan itu menunjukkan tingkat pragmatisme yang luas biasa. Maksudnya, pragmatisme halal. Nah, di sisi ini saya memuji bisnis itu dan mengagumi kepintaran para perintisnya. Menurut saya, mereka adalah pebisnis-pebisnis jempolan.

Sisi apa saja yang membuat bisnis warung mie instan begitu menarik?

PERTAMA. Untuk membangun bisnis seperti itu tidak dibutuhkan modal besar; bahkan ia bisa dibuat dimana-mana, di tempat yang banyak orang berjalan kaki di sekitarnya.

KEDUA. Cara mengoperasikan bisnis itu sangat mudah, selama si penjual bisa memasak mie instan. Kalau tak bisa memasak, waduh kebangetan sekali. Orang datang memesan mie instan, lalu dibuatkan. Bisa ditambahkan sayur, telor, bawang goreng, atau kerupuk. Hanya begitu saja kok. Mudah kan.

KETIGA. Bisnis ini dijamin laku, karena orang Indonesia suka makan mie instan. Iya kan. Hah, sudahlah kita tak usah berdebat soal kegemaran orang kita dalam masalah ini.

KEEMPAT. Dari sisi harga menu, relatif murah. Satu mangkuk mie instan dengan tambahan sayur, telor, bawang goreng di Jakarta Timur ada yang seharga 5000 rupiah, 6000 rupiah. Malah ada yang lebih murah dari itu.

KELIMA. Bahan baku untuk menjalankan bisnis ini sangat mudah didapat. Seorang pedagang bisa membeli mie instan dalam kardus di grosir-grosir, agar untung usahanya lebih besar. Kalau ada supermarket atau pasar tradisional yang murah, itu juga bisa.

KEENAM. Dengan menu utama mie instan, bisa menjual pula jenis-jenis makanan-minuman lain, seperti gorengan, kerupuk, kacang goreng, aneka minuman instan, susu, kopi, jeruk hangat, dan seterusnya. Jadi satu menu utama bisa “narik” menu-menu lainnya.

KETUJUH. Sudah jadi tabiat orang Indonesia, atau umumnya orang Muslim, mereka suka duduk-duduk di warung kopi, sambil ngobrol, minum teh, dan seterusnya. Meskipun banyak restoran enak, banyak rumah makan padang, banyak food court, delivery order, dan lain-lain; tetap saja orang Indonesia butuh warung kopi. “Ingat itu!” (meminjam gaya Mario Teguh).

Dalam hal ini saya tidak menyarankan Anda untuk pada berlomba membuat warung mie instan, terutama kalau di tempat Anda sudah banyak warung-warung semacam itu. Tapi cobalah pahami konsep berpikir di balik bisnis itu, lalu terapkan kepada obyek-obyek bisnis yang lain. Ambil spiritnya, lalu kembangkan modelnya.

Tapi kalau di tempat Anda tidak ada warung mie instan dan Anda ingin menjalankan bisnis yang mudah dan meriah; ya pilihan membuka warung mie instan bisa dicoba. Tapi ada satu catatan perlu disampaikan: Kalau buka warung seperti itu, Anda harus konsisten dengan jadwal menjual; sekali Anda “ingkar jadwal” berpotensi ditinggalkan pembeli.

Baik, cukup sekian saja, semoga bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abina Syakir).

Iklan

Nordin M. Top Susah Ditangkap…

Agustus 1, 2009

Sebuah dialog fiktif, sekedar untuk rehat…

Singkat cerita, Bang Jali bertemu dengan sohibnya, Bang Mamat, di warung kopi Mpok Irah. Mereka setiap sore sering kumpul-kumpul, ngobrol, sambil ngopi. Ya, apalagi kalau bukan ngobrol politik? Tapi kalau ditanya, apa mereka sedang bicara politik? Baik Bang Jali maupun Bang Mamat sudah sepakat untuk memberi jawaban diplomatis: “Kami hanya sedang silaturahmi, membicarakan masalah bangsa.” Wah, wah, wah, ternyata kedua orang itu sudah terkena penyakit yang sama, “flu elit politik“.

Sore itu Bang Jali dan Bang Mamat suah datang di warung kopi Mpok Irah, tetapi mereka belum juga mulai diskusi. Orang-orang sekitar yang sedari tadi menunggu, tampak gelisah. “Ada apa ini, kok diskusi belum dimulai?” kata mereka bertanya. Mpok Irah juga ikut gelisah. Sebab kopi Bang Jali maupun Bang Mamat belum nambah-nambah, rokoknya juga belum ada yang disulut. Padahal kalau diskusi lagi panas-panasnya, kopi bisa srupat-sruput seperti teko bocor, rokok bisa sedat-sedut seperti lokomotif kereta. Kadang, kalau sampai diskusi terlalu keras, beberapa piring dan gelas ada yang pecah. Kalau itu yang terjadi, Mpok Irah lebih senang, sebab akan diganti seharga 2  kali barang. Justru kalau Bang Jali dan Bang Mamat mulai bertengkar, Mpok Irah pelan-pelan mulai mendekatkan gelas-gelas ke tangan masing-masing. Ya, maksudnya biar dibanting. “Kan nanti diganti 2 kali harga,” kata Mpok Irah.

Nah, kenapa waktu itu kok Bang Jali belum juga diskusi sama Bang Mamat? Ternyata, setelah dilakukan penyelidikan oleh tim FBI (Farid, Bagong, dan Indra), mereka sedang meributkan jadwal diskusi untuk sore itu. Bang Jali maunya membahas keputusan MA yang membatalkan perhitungan tahap kedua kursi Parlemen; sementara Bang Mamat maunya bicara soal Nordin M. Top. Untuk memutuskan jadwal diskusi sore itu, mereka terpaksa berkali-kali melakukan “rapat paripurna”. Akhirnya, dicapai kesepakatan. Diskusi mengambil tema soal Nordin M. Top mengikuti saran Bang Mamat, tetapi topiknya diserahkan ke Bang Jali. Bang Jali memutuskan, membahas sebuah pertanyaan: Mengapa Nordin M. Top susah sekali ditangkap?

Baiklah, mari kita ikuti sebagian percakapan mereka.

Bang Jali: Gue heran, kenapa ya Nordin M. Top susah banget ditangkep? Padahal mereka sudah jadi buron polisi sejak tahun 2003 lalu. Apa dia punya kesaktian ya, Bang Mamat?

Bang Mamat: Iya nih, gue juga heran. Padahal foto-foto die sudah disebar dimana-mana. Kok susah amat ya nangkepnye? Padahal Imam Samudra, Mukhlas, dan Amrozi saja gampang ketangkep? Kok Nordin susah amat ya?

Bang Jali: Kali die orang Malaysia kali Bang? Jadi lebih susah ditangkepnye.

Bang Mamat: Justru itu Jali, kalau die orang Malaysia, harusnya lebih gampang ditangkep. Kan dia orang asing, jadi lebih susah mengenali jalan-jalan di Indonesia. Wajahnya pasti ada beda-bedanya lah ama kita. Ngomongnya juga pasti ada bedanya.

Bang Jali: Nah, itu die Bang. Harusnya orang asing lebih gampang ditangkep. Kok ini malah susah ya? Ada apa ya di balik itu semuanye?

Bang Mamat: Jali, kalau gue pikir-pikir, ini pasti ada yang kagak beres.

Bang Jali: Maksud Abang apaan?

Bang Mamat: Gue khawatir, ini semacam kongspiraksi, eh apa tuh, kospiraksi, atau aduh apa ya?

Bang Jali: Maksudnye, konspirasi Bang?

Bang Mamat: Ya, betul kon…kon…spiraksi. Eh susah amat sih ngomongnya. Pokoknya itulah, konspirasi!

Bang Jali: Konspirasi gimana sih Bang? Jangan suka ngomong konspirasi dong. Kita biasa-biasa ajalah, yang gampang-gampang ajalah, kagak perlu berpikir rumit-rumit.

Bang Mamat: Bener nih, Jali. Gue curiga banget deh. Itu tuh, lihat Usamah bin Laden. Katanye dia buronan terorisme paling dicari, tapi sampai sekarang belum juga ketangkep. Khawatirnya, orang macam Usamah itu sengaja dipelihara, tidak ditangkep-tangkep. Biar ceritanye rame gitu.

Bang Jali: Alah, Abang ade-ade aje. Jadi kayak sinetron aja. Setiap episode dibuat kisruh terus, biar orang mau terus nonton. Itu tuh kayak, sinetron “Rindu Fitriono” di TV tuh.

Bang Mamat: Ini serius Jali. Gue serius. Masak aparat keamanan sudah sehebat itu, anggarannya hebat, punya pasukan khusus, fasilitas lengkap, kok sudah bertahun-tahun tidak bisa nangkep Nordin M. Top. Gawatnya lagi, sampai hari ini Nordin disebut masih berkeliaran.

Bang Jali: Kalau gitu cara mikirnya, gue bisa dong Bang bikin teori konspiraksi, eh kok jadi ikutan Bang Mamat. Maksudnya, teori konspirasi.

Bang Mamat: Teori apa lagi, Jali? Lu punya teori yang lain memangnye?

Bang Jali: Bisa aje Bang, nama Norin M. Top itu cuma rekayasa doang.

Bang Mamat: Maksud Lu gimana sih?

Bang Jali: Bisa aje, si Nordin sendiri sudah mati. Tapi isunya dibuat seolah dia masih hidup, terus gentayangan menebar teror.

Bang Mamat: Kok gitu Jali?

Bang Jali: Bisa aja Bang, kan ini teori konspirasi. Kite-kite kan tidak pernah tahu keadaan sebenarnye. Kite cuma ikut berita-berita di TYV atau koran. Siapa tahu, sosok Nordin yang seperti “drakula” itu perlu dipelihara biar masyarakat selalu merasa terancam, merasa ketakutan gitu. Nanti kalau merasa terancam, kan mereka akan butuh aparat yang bersikap keras dan tegas ke orang-orang yang dicurigai.

Bang Mamat: Apa Lu punya contoh teori macam begitu?

Bang Jali: Ada Bang. Waktu itu kan pemilihan presiden di Amerika. George Bush mencalonkan diri untuk kedua kalinya sebagai presiden Amerika. Seminggu sebelum pemilihan presiden Amerika, Usamah bin Ladin menyebarkan video yang isinya mau menyerang Amerika. Rakyat Amerika mendengar video itu. Mereka ketakutan. Maka mereka merasa perlu memilih presiden seperti George Bush yang dikenal sangat keras ke teroris.

Bang Mamat: Lalu gimana?

Bang Jali: Buktinya, habis itu George Bush terpilih lagi untuk kedua kalinya. Dan yang hebat lagi, Usamah tidak pernah membuktikan ancaman serangan dia ke Amerika sedikit pun. Gue jadi curiga, sudah ada kongkalikong antara Usamah sama George Bush, untuk nakut-nakuti orang Amerika. Buktinya Bush terpilih lagi, dan Usamah sampai sekarang tidak pernah ketangkep.

Bang Mamat: Waduh Jali gue pusing juga nih sama teori Lu. Sudah deh, kita kembali ke topik tadi. Kenapa Si Nordin ini susah banget ditangkep ye?

Bang Jali: (Tampak diam, sambil mikir-mikir lama. Sesekali geleng-geleng kepala, garuk-garuk kepala).

Bang Mamat: Hei, Lu jawab pertanyaan gue. Jangan mikir gitu-gitu amat. Kayak main catur aje Lu.

Bang Jali: Eh, gue dapet jawabannya, Bang.

Bang Mamat: Jawaban apaan?

Bang Jali: Ya, itu yang tadi Abang tanyakan. Kenapa Nordin susah ditangkep?

Bang Mamat: Apa gitu jawabnya?

Bang Jali: Jawabnya pada nama Nordin “M” Top itu sendiri.

Bang Mamat: Maksud Lu gimana sih. Nordin M. Top kan Nordin Mochammad Top, gitu kan?

Bang Jali: Bukan itu Bang. Nordin “M” Top itu maksudnya = Nordin “Memang” Top.

Bang Mamat: Maksud Lu?

Bang Jali: Iye, Nordin memang top. Die orang paling top di Indonesia. Topnya ngalahi Manohara atau Mbah Surip. Dia sangat licin, susah ditangkep. Maka dia orang paling top. Nordin “Memang” Top.

Bang Mamat: Ho…ho…ho… (Terengar tawa Bang Mama keras, diikuti tawa semua orang yang mendengarkan diskusi di warung itu. Kecuali Mpok Irah, sebab dari tadi tidak ada pertengkaran. Padahal Mpok Irah sudah belanja gelas-gelas baru).

Bang Mamat: Jali, Jali, Lu bisa aje. Otak Lu pinter juga ye. Kalau orang Indonesia pinter kayak Elu,  dijamin deh tidak akan mudah dikibuli aksi-aksi terorisme macam gituan. Eh, ngomong-ngomong, sebagai hadiah kepinteran Lu, tolong buat sore ini Lu yang bayarin kopi gue ye?

Bang Jali: Gak apa-apa Bang. Ntar gue bayar semua. Tapi besok tagihan bon-nya gue anter ke rumah isteri Abang. (Kata Jali sambil ngacir).

Bang Mamat: Hei, Lu mau kemana hei? Lu bayar dulu nih kopinye. Sompret Lu…(Terdengar suara Jali memekik tinggi, disambut tawa orang-orang di warung itu. Kecuali Mpok Irah yang sedari tadi cemberut terus).

Begitulah…

Dunia ini seperti panggung sandiwara. Banyak tontonan panggung muncul dalam kehidupan. Sekilas mata, ia tampak sungguhan. Padahal sejatinya, tetap saja sandiwara. Sandiwara sangat berpengaruh di mata orang-orang awam, sebagaimana mereka sangat takjub saat melihat sinetron di TV. Tapi sandiwara tidak berpengaruh nyata bagi orang-orang beriman. Di mata orang beriman, tidak ada yang berubah. ALLAH tetap AKBAR (Maha Besar). Yang selain-Nya tetap ASH-GHAR (lebih kecil).

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.