Keanehan Fenomena Bencana di Indonesia

Oktober 28, 2010

Kalau Microsoft Inc. selalu mengeluarkan produk software Windows seri terbaru, sesuai dengan periode tahun keluarnya software tersebut. Kalau di Indonesia ada kenyataan yang sangat unik. Bangsa Indonesia setiap tahun seperti selalu mengeluarkan “seri bencana” terbaru. Untuk tahun 2010 ini saja sudah muncul serial bencana-bencana terbaru. Tipenya WASIOR 150P, kemudian MENTAWAI 600Ts, dan MERAPI 50MM.

[WASIOR 150 P, maksudnya banjir Wasior, dengan korban 150 orang terjadi di Papua. MENTAWAI 600Ts, maksudnya gempa bumi dan tsunami di Mentawai dengan korban sekitar 600 orang. Ts maksudnya, tsunami. Adapun MERAPI 50MM; 50 artinya korban meninggal mungkin mencapai 50 orang; MM artinya Mbah Maridjan].

Dikejar Awan Panas Debu Erupsi Gunung Merapi.

Ke depan diusulkan, pihak Departemen Sosial membuat serial-serial “merk bencana” itu. Selain untuk memudahkan identifikasi, juga siapa tahu “merk-merk” itu bisa diekspor ke negara-negara lain, seperti Bill Gates mengekspor produk Windows ke seluruh dunia. Kalau bangsa lain bangga dengan serial teknologi, kita bangga dengan serial bencana. Masya Allah, sangat ironis memang.

Dari kejadian bencana-bencana sepanjang tahun 2010 ini, ada catatan unik (aneh) yang layak kita renungkan. Antara lain sebagai berikut:

[1] Saat terjadi bencana banjir di Wasior Papua, banyak orang menyebut banjir itu seperti kejadian tsunami kecil. Dalam rekaman video amatir sangat terlihat air meluap menghanyutkan perkampungan di sudut teluk tersebut. Apakah ini tsunami? Bukan, meskipun posisi Wasior ada di tepi pantai. Itu bukan tsunami yang membawa air laut, karena tidak ada gempa atau apapun disana sebelum kejadian terjadi. Tsunami terjadi selalu didahului gempa tektonik di dasar lautan. Air banjir itu ternyata dari air sungai yang sangat desar, akibat hujan terus-menerus di lokasi itu. Sekilas lihat seperti tsunami, padahal dari banjir sungai biasa.

[2] Pada malam 25 Oktober 2010, Jakarta dilanda banjir di mana-mana. Jalan-jalan raya di Jakarta dikepung banjir setinggi lutut. Ribuan manusia mengeluh, stress, terjebak kemacetan, bahkan ada yang celaka, karena terperosok lubang, lalu terbawa banjir. Anehnya, keesokan harinya, air banjir itu sudah lenyap. Air yang semula menggenang dimana-mana, hanya dalam tempo cepat sudah lenyap. Padahala namanya banjir, biasanya akan selalu meninggalkan genangan sampai beberapa lama. Lagi pula, di daerah-daerah pantai utara Jakarta, tempat seharusnya air banjir itu bermuara, malah tidak terjadi banjir.

[3] Saat ini bangsa Indonesia mengeluh karena curah hujan sangat tinggi. Hampir setiap hari hujan, pagi, siang, sore, sampai malam. Tetapi uniknya, di Surabaya beberapa waktu lalu terjadi hawa panas menyengat. Suhu mencapai sekitar 40 derajat celcius. Bahkan di Riau terjadi kebakaran ribuan hektar hutan, sehingga asapnya terpaksa “diekspor” ke Singapura. Masyarakat Singapura sudah mengeluh dengan tebalnya asap itu. Satu sisi terjadi hujan sangat tinggi, sehingga ahli-ahli cuaca menyebutnya, gejala La Nina. Tetapi di sisi lain, terjadi bencana kekeringan yang amat sangat, sehingga ada kebakaran hutan di Riau.

[4] Saat terjadi gempa dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, pihak BMKG sudah membuat release, bahwa setelah terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala richter itu, ancaman tsunami sudah lewat. Ternyata, di Mentawai sendiri benar-benar terjadi tsunami. sekitar 100 orang ditemukan tewas, 500 lainnya masih hilang. Informasi dari BMKG itu bisa menipu banyak manusia, baik rakyat, pemerintah, atau badan-badan bantuan kemanusiaan.

[5] Sebelum Gunung Merapi meletus, masyarakat sekitar gunung susah sekali untuk diungsikan. Mereka selalu beralasan, harus bekerja agar anak-isteri terus makan. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Tetapi karena memang, Gunung Merapi itu selama ini dikenal “ramah”. Gunung Merapi memang aktif sekali, tetapi abu vulkaniknya membawa banyak manfaat bagi kehidupan pertanian warga sekitar lereng Merapi. Karena itu masyarakat tenang-tenang saja. “Paling juga nanti berhenti,” begitu logika mereka. Namun saat Merapi benar-benar meletus, banyak warga tercengang. Dari puncak Merapi sampai jarak sekitar 5 km, wilayah yang tersapu “wedhus gembel” itu sangat mengerikan. Semuanya memutih, tanpa kehidupan. Jangankan manusia dan hewan, tanam-tanaman saja mati seketika. Betapa tidak, semua itu tersapu hawa-material panas dengan suhu minimal 600 derajat celcius. (Sebagai perbandingan, titik leleh baja 1000 derajat celcius. Titik leleh aluminium sekitar 500 derajat celcius). Saya yakin, setelah kejadian ini, tidak akan ada lagi warga lereng Merapi yang “sok berani” menghadapi gunung itu.

[6] Tahun 2009 lalu SBY dan Demokrat mengklaim sukses membangun pertanian, dengan klaim Indonesia telah mencapai swasembawa beras. Menteri Pertanian, Anton Apriantono dan PKS juga mengklaim hal yang sama. Lalu ada yang mengingatkan, bahwa swasembada itu terjadi semata-mata karena cuaca/iklim yang mendukung. Benar saja, ketika cuaca tidak bersahabat seperti saat ini, dengan hujan terus-menerus tanpa henti, akhirnya Menteri Pertanian Soewarno “menyerah kalah”. Dia lalu melakukan kampanye “One Day No Rice” (satu hari tanpa makan nasi). Mengapa beliau tidak mengklaim swasemba beras seperti pendahulunya?

Negeri Indonesia dengan segala macam bencana ini, sebenarnya sudah aneh. Sebab negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Timor Leste, Australia, dll. buktinya baik-baik saja. Ya memang mereka menghadapi bencana, tetapi tidak RUTINITAS seperti negeri kita ini.

Itu saja sudah aneh. Apalagi, perilaku bencana itu sendiri juga aneh. Mula-mula di ujung Timur, lalu pindah ke ujung Barat, lalu pindah ke Tengah, dan seterusnya. Seolah, semua tempat “dapat jatah giliran” masing-masing.

Seperti yang sudah kita katakan berulang-ulang kali disini. Posisi seorang pemimpin, sangat besar artinya bagi rakyatnya. Kalau jiwa pemimpin itu culas, curang, tega hati, dan khianat; alamat nasib rakyatnya akan sengsara. Kalau jiwa pemimpin itu lembut, empati, peduli dengan nasib orang lemah, tulus, dan memegang amanah secara teguh; insya Allah nasib rakyatnya juga akan sentosa, aman, dan sejahtera.

Dan SISTEM DEMOKRASI LIBERAL tidak akan pernah melahirkan pemimpin seperti itu. Demokrasi liberal hanya akan melahirkan tipe-tipe pemimpin materialis, industrialis, minim empati manusiawi. Catat itu!

Semoga bangsa ini mau belajar; dan tak henti-hentinya kita menghimbau bangsa Indonesia supaya mau belajar; dengan tidak menghiraukan lagi apakah himbauan seperti ini ada artinya atau tidak.

Allahumma rabbana, faghfirlana dzububana warhamna wa’fu anna, Anta Maulana ni’mal Maula wa ni’man Nashir. Amin ya Mujibas sa’ilin.

AM. Waskito.

Iklan