[10]. Harta Umat dan Eksistensi Agama

Februari 17, 2013

Peran terpenting harta benda, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, adalah untuk menjaga eksistensi agama. Dengan bekal harta, kaum Muslimin bisa mendirikan masjid, membuat pakaian yang memenuhi standar Syariat, membuat rumah dan bangunan sebagai tempat hunian, membiayai proses belajar-mengajar, menyantuni fakir-miskin dan yatim-piatu, membantu para pemuda yang mau menikah, membantu anak-anak terlantar, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Banyak sekali amal-amal kebaikan bisa dilakukan, dengan sarana harta.

Sejak zaman awal Islam, harta sudah banyak digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang fakir-miskin, menyelamatkan budak-budak Muslim dari tuannya, membiayai hijrah, membiayai kehidupan saat mengalami boikot ekonomi, untuk membiayai perdagangan (bisnis), dst. Ibaratnya, dimana ada dinamika kehidupan umat, disana harta-benda dibutuhkan.

Tetapi kemudian persepsi terhadap harta ini jauh menyimpang dari koridor Syariat. Sebagian orang mencari harta-benda semata untuk konsumsi pribadi, menaikkan gengsi sosial, dan memenuhi syahwat hedonisme. Tetapi ada juga yang anti-pati kepada harta, karena ia dianggap sebagai fitnah kehidupan dunia; harus dijauhi sejauh-jauhnya. Kedua sikap ini keliru.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta itu seperti pisau. Kita membutuhkan pisau bukan karena materinya, tetapi karena manfaatnya (yaitu untuk mengiris, memotong, memangkas, membelah, dll). Harta benda itu perlu dikelola, dikembangkan, diregulasi, untuk menghasilkan manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan kaum Muslimin. Tetapi tidak perlu juga menumpuk harta, membuang-buang harta untuk kemewahan, serta menghabiskan harta demi kesenangan sempit.

Seorang Muslim boleh hidup dalam kekurangan harta; jika seperti itu yang dia inginkan. Tetapi ummat Islam, sebagai komunitas kolektif, tidak boleh jatuh fakir-miskin; sebab jika itu terjadi, ia akan membuka pintu-pintu penderitaan hidup yang luas. Harus diingat, kemiskinan atau kefakiran, termasuk kondisi sosial yang ingin diberantas oleh Islam, melalui instrumen Zakat.

Misalnya, ketika tidak ada Muslim yang bisa membuat pabrik-pabrik, maka kaum Muslimin akan berduyun-duyun bekerja di pabrik milik non Muslim; lalu mereka dipaksa mengikuti aturan yang tidak Islami, dipaksa meninggalkan shalat, dipaksa makan makanan haram. Ketika tidak ada pedagang Muslim, maka kaum Muslimin akan menyerahkan transaksi dagangnya kepada orang lain; kemudian mereka terbawa-bawa cara berdagang bathil dan memperdagangkan barang haram. Ketika tidak ada Muslim yang mendirikan klinik, maka kaum wanita Muslimin saat berobat mereka membuka aurat di depan dokter-dokter non Muslim, bahkan melahirkan di tangan mereka. Ketika kemiskinan merajalela, maka kaum Muslimin melakukan kemusyrikan, melakukan kejahatan, melakukan penipuan, terjerumus ribawi, bahkan menjadi murtad (na’udzubillah min dzalik) karena godaan harta. Lihatlah semua ini, bahwa kelemahan dalam urusan harta-benda, membuka banyak kerusakan agama.

Maka ummat Islam harus memikirkan aset-aset ekonomi miliknya, dalam rangka menjaga eksistensi agamanya. Tanpa dukungan harta-benda, agama ini dalam bahaya. Sebaliknya, jika ummat Islam memiliki bekal harta-benda yang kuat, lalu memanfaatkannya untuk menjaga eksistensi agama, insya Allah ada harapan keterpeliharaan agama Allah.

Jagalah harta-bendamu, sebab ia berguna untuk menjaga agamamu!

Iklan