Anak Yatim dan Hak Menerima Zakat

Juli 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah makalah ilmiah yang saya susun terkait hak anak yatim kaum Muslimin untuk menerima Zakat. Makalah ini disusun atas permintaan sebuah lembaga sosial Muslim di Lumajang, Jawa Timur. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya dalam memberdayakan kehidupan anak-anak yatim (piatu) kaum Muslimin. Amin.

Makalah ini sekaligus DEDIKASI DALAM MENYAMBUT BULAN RAMADHAN MUBARAK 1432 H. Semoga di bulan suci yang mulia ini kita bisa berlaku sebaik-baiknya kepada anak-anak yatim (piatu) kaum Muslimin. Allahumma amin. Mereka adalah titipan Rasulullah Saw yang ada di sisi kehidupan kita.

________________________________________________________________

Ajak Mereka Merasakan MANIS dan SEGAR-nya Kehidupan

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Alhamdulillah, di masa dewasa ini kesadaran Ummat Islam untuk membayar Zakat semakin baik. Hal itu ditunjukkan dengan bukti semakin banyaknya jumlah Muzakki yang ingin menyalurkan Zakat, Infaq, Shadaqah (ZIS). Juga semakin banyaknya pertanyaan-pertanyaan seputar Zakat, semakin tumbuh lembaga-lembaga pengumpul dana ZIS, serta semakin beragamnya bentuk-bentuk pembiayaan melalui dana ZIS. Semua ini merupakan realitas yang patut disyukuri, alhamdulillah.

Di sebagian tempat, ada lembaga sosial yang memanfaatkan dana ZIS untuk menyantuni anak-anak yatim. Dana ini disalurkan dalam bentuk beasiswa sekolah, santunan sosial, dll. yang berkaitan dengan pemberdayaan anak-anak yatim kaum Muslimin. Namun kemudian muncul pemikiran kritis, “Dana Zakat tidak bisa diberikan untuk anak yatim, karena dalam Surat At Taubah ayat 60, tentang 8 golongan yang berhak menerima Zakat; disana tidak disebutkan anak yatim sebagai penerima Zakat.”

Pertanyaanya, benarkah anak yatim tidak boleh menerima Zakat? Bagaimana pandangan Islam tentang posisi anak yatim sebagai penerima Zakat? Bolehkah memanfaatkan dana Zakat untuk menyantuni, membina, dan memberdayakan anak yatim?

Disini kita akan coba membahas masalah ini secara runut, dengan merujuk pandangan Al Qur’an, As Sunnah, dan pandangan para ulama. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk, penerangan, serta barakah dari ilmu dan harta kita. Allahumma amin.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

PUISI: “Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”

Juli 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut adalah puisi berjudul, “Mungkin Saya Sendiri Juga Maling”. Puisi ini ditulis sang maestro puisi di Indonesia, Bang Taufiq Ismail (semoga Allah menerima jerih-payah perjuangan dan empatinya bagi kaum Muslimin di Indonesia selama ini, Allahumma amin). Teks puisi ini dikirim seorang kawan via e-mail. Oh ya, judul puisi tersebut mestinya diberi tambahan sedikit menjadi: “Mungkin Saya Sendiri Juga Maling” (Mudah-mudahan Bukan, Pak). Selamat membaca!

 

“MUNGKIN SAYA SENDIRI JUGA MALING”

Karya Bung Taufiq Ismail

Kita hampir paripurna menjadi bangsa porak-poranda,
terbungkuk dibebani hutang dan merayap melata sengsara di dunia.
Penganggur 40 juta orang,anak-anak tak bisabersekolah 11 juta murid,
pecandu narkoba 6 juta anak muda, pengungsi perang saudara 1 juta orang,
VCD koitus beredar 20 juta keping,
kriminalitas merebat disetiap tikungan jalan
dan beban hutang di bahu 1600 trilyun rupiahnya.

Pergelangan tangan dan kaki Indonesia diborgol diruang tamu Kantor
Pegadaian Jagat Raya,
dan dipunggung kita dicap sablon besar-besar: Tahanan IMF dan
Penunggak Bank Dunia.

Kita sudah jadi bangsa kuli dan babu,
menjual tenaga dengan upah paling murah sejagat raya.
Ketika TKW-TKI itu pergi lihatlah mereka bersukacita antri penuh
harapan dan angan-angan
di pelabuhan dan bandara, ketika pulang lihat mereka berdukacita karena
majikan mungkir tidak membayar gaji, banyak yang disiksa malah diperkosa
dan pada jam pertama mendarat di negeri sendiri diperas pula.

Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali.
Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku.
Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi kolonialis banyak
bangsa.
Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luar biasa dan banyak senyumnya.
Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin
mudah dipatahkannya.

Di negeri kita ini, prospek industri bagus sekali.
Berbagai format perindustrian, sangat menjanjikan,
begitu laporan penelitian.
Nomor satu paling wahid, sangat tinggi dalam evaluasi,
dari depannya penuh janji, adalah industri korupsi .

Apalagi di negeri kita lama sudah tidak jelas batas halal dan haram,
ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam.
Bergerak ke kiri ketabrak copet, bergerak ke kanan kesenggol jambret,
jalan di depan dikuasai maling, jalan di belakang penuh tukang peras,
yang di atas tukang tindas.
Untuk bisa bertahan berakal waras saja di Indonesia, sudah untung.

Lihatlah para maling itu kini mencuri secara berjamaah.
Mereka bersaf-saf berdiri rapat, teratur berdisiplin dan betapa khusyu’.
Begitu rapatnya mereka berdiri susah engkau menembusnya.
Begitu sistematiknya prosedurnya tak mungkin engkau menyabotnya.
Begitu khusyu’nya, engkau kira mereka beribadah.
Kemudian kita bertanya, mungkinkah ada maling yang istiqamah?
Lihatlah jumlah mereka, berpuluh tahun lamanya,
membentang dari depan sampai ke belakang, melimpah
dari atas sampai ke bawah, tambah merambah panjang deretan saf jamaah.
Jamaah ini lintas agama, lintas suku dan lintas jenis kelamin.
Bagaimana melawan maling yang mencuri secara berjamaah?
Bagaimana menangkap maling yang prosedur pencuriannya malah dilindungi
dari atas sampai ke bawah?
Dan yang melindungi mereka, ternyata, bagian juga dari yang pegang senjata
dan yang memerintah.

Bagaimana ini?

Tangan kiri jamaah ini menandatangani disposisi MOU dan MUO (Mark Up
Operation),
tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu dan sekolahan.
Kaki kiri jamaah ini mengais-ngais upeti ke sana kemari,
kaki kanannya bersedekah, pergi umrah dan naik haji.
Otak kirinya merancang prosentasi komisi dan pemotongan anggaran,
otak kanannya berzakat harta, bertaubat nasuha dan memohon ampunan Tuhan.
Bagaimana caranya melawan maling begini yang mencuri secara berjamaah?
Jamaahnya kukuh seperti diding keraton,
tak mempan dihantam gempa dan banjir bandang,
malahan mereka juru tafsir peraturan dan merancang undang-undang,
penegak hukum sekaligus penggoyang hukum, berfungsi bergantian.

Bagaimana caranya memroses hukum maling-maling yang jumlahnya ratusan ribu,
barangkali sekitar satu juta orang ini,
cukup jadi sebuah negara mini, meliputi mereka yang pegang kendali
perintah, eksekutif,
legislatif, yudikatif dan dunia bisnis, yang pegang pestol dan
mengendalikan meriam,
yang berjas dan berdasi. Bagaimana caranya?

Mau diperiksa dan diusut secara hukum?
Mau didudukkan di kursi tertuduh sidang pengadilan?
Mau didatangkan saksi-saksi yang bebas dari ancaman?
Hakim dan jaksa yang bersih dari penyuapan?

Percuma

Seratus tahun pengadilan, setiap hari 8 jam dijadwalkan
Insya Allah tak akan terselesaikan.
Jadi, saudaraku, bagaimana caranya?
Bagaimana caranya supaya mereka mau dibujuk, dibujuk, dibujuk agar bersedia
mengembalikan jarahan yang berpuluh tahun
dan turun-temurun sudah mereka kumpulkan.
Kita doakan Allah membuka hati mereka, terutama karena terbanyak dari mereka
orang yang shalat juga,
orang yang berpuasa juga,
orang yang berhaji juga.
Kita bujuk baik-baik dan kita doakan mereka.

Celakanya, jika di antara jamaah maling itu ada keluarga kita, ada
hubungan darah atau teman sekolah,
maka kita cenderung tutup mata, tak sampai hati menegurnya.
Celakanya, bila di antara jamaah maling itu ada orang partai kita,
orang seagama atau sedaerah,
Kita cenderung menutup-nutupi fakta, lalu dimakruh-makruhkan dan
diam-diam berharap semoga kita
mendapatkan cipratan harta tanpa ketahuan.

Maling-maling ini adalah kawanan anai-anai dan rayap sejati.
Dan lihat kini jendela dan pintu Rumah Indonesia dimakan rayap.
Kayu kosen, tiang,kasau, jeriau rumah Indonesia dimakan anai-anai.
Dinding dan langit-langit, lantai rumah Indonesia digerogoti rayap.
Tempat tidur dan lemari, meja kursi dan sofa,
televisi rumah Indonesia dijarah anai-anai.

Pagar pekarangan, bahkan fondasi dan atap rumah
Indonesia sudah mulai habis dikunyah-kunyah rayap.
Rumah Indonesia menunggu waktu, masa rubuhnya yang sempurna.

Aku berdiri di pekarangan, terpana menyaksikannya.
Tiba-tiba datang serombongan anak muda dari kampung sekitar.
“Ini dia rayapnya! Ini dia Anai-anainya!” teriak mereka.
“Bukan. Saya bukan Rayap, bukan!” bantahku.
Mereka berteriak terus dan mendekatiku dengan sikap mengancam.

Aku melarikan diri kencang-kencang.
Mereka mengejarkan lebih kencang lagi.
Mereka menangkapku.
“Ambil bensin!” teriak seseorang.
“Bakar Rayap,” teriak mereka bersama.
Bensin berserakan dituangkan ke kepala dan badanku.

Seseorang memantik korek api.
Aku dibakar.
Bau kawanan rayap hangus.
Membubung Ke udara.

[Selesai].

Mohon direnungkan kembali bagian yang saya tebalkan dari teks puisi di atas. Selamat menyimak, selamat berpikir, dan selamat menjadi manusia normal. Matur nuwun.

[Abinya Syakir].


Bahaya Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW)

Juli 11, 2011

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di Tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama”. Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku ini selain memakai judul yang sangat kasar, semodel buku-buku karya orang PKI atau kaum atheis lainnya, di dalamnya juga pekat berisi fitnah, kebohongan, penyesatan opini, penyebaran akidah Syiah, upaya adu-domba antar Ummat Islam, dll. Banyak fakta-fakta bisa diungkap tentang kebohongan dan kecurangan Syaikh Idahram. Sangat ironisnya, buku itu justru diberi kata pengantar oleh Ketua PBNU, Said Agil Siraj.

Baca entri selengkapnya »


Mau Kemana Ya Hidup Ini…

Juli 9, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim…

Kalau kita melihat kehidupan riil masyarakat kita, isinya lebih didominasi khabar-khabar duka cita daripada khabar gembira. Mengapa demikian? Ya, karena kesulitan hidup itu sudah merajalela dimana-mana. Orang-orang yang menjerit, berkeluh-kesah, bertengkar, stress, terlibat konflik, bahkan -maaf- hilang ingatan; sudah bukan kenyataan aneh lagi. Dimana-mana ada hal seperti itu.

Kesulitan ekonomi merupakan pemicunya. Ada ungkapan, “Kalau urusan asap dapur berguncang, sampai urusan ranjang pun akan berguncang.” Artinya, dari masalah ekonomi efeknya merembet kemana-mana. Sejak tahun 80-an, Soeharto ingin dijatuhkan oleh Barat, tetapi selalu gagal. Maka tahun 1997, Soeharto dihantam oleh Krisis Moneter. Terbukti, dalam waktu kurang dari setahun, Soeharto jatuh. Padahal semula dia diklaim sebagai “orang kuat” di Asia. Kalau jaman sekarang ya semodel Hugo Chaves atau Fidel Castro.

Lihatlah, gara-gara kesulitan ekonomi, kekuasaan politik Soeharto ambruk. Begitu pula, akibat kesusahan ekonomi, banyak keluarga-keluarga di Indonesia berantakan. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa ahlina jmai’an. Amin.

Ketika Hidup Terasa Begitu Buntu...

Sebenarnya, kehidupan manusia tidak harus kandas karena masalah EKONOMI. Namun persoalannya, kehidupan kita telah di-setting sedemikian MATERIALIS. Dalam segala sisi, mulai sektor pendidikan, jasa, konsumsi, kebudayaan sosial, pemikiran, politik, ilmu pengetahuan, sampai urusan agama; telah sedemikian rupa DIMATERIALISASIKAN. Bahkan yang disebut peradaban jaman modern sebenarnya adalah: materialisasi absolut!

Bayangkan saja, kita mengenal istilah Prinsip Ekonomi. Apa isinya? “Berusaha dengan modal sekecil-kecilnya, untuk mencapai keuntungan sebesar-besarnya.” Prinsip ini kan jelas-jelas telah mempertuhankan materi. Prinsip ini benar-benar G.I.L.A !!!

Dalam Islam diajarkan, “Wa laa ta’kulu amwalakum bainakum bil bathili, illa antakuna tijaratan antaradhin minkum” (jangan kalian makan harta sesama kalian dengan cara bathil, kecuali atas perniagaan yang saling ridha/sinergi di antara kalian). Betapa bedanya prinsip sinergi ini dengan prinsip ekonomi. Kalau Islam mengajarkan kerjasama mutualisme, sementara prinsip ekonomi justru mengajarkan sikap saling terkam dan habisi. Masya Allah.

Nah, inilah masalah utamanya. Kehidupan kita telah dibuat sedemikian MATERIALIS, sehingga kita begitu bergantung ke materi (uang). Akibatnya ketika urusan ekonomi diguncang, maka terguncang pula kehidupan kita. Dan hal ini nanti relevan dengan konspirasi Zionis untuk menumpuk cadangan emas, lalu membuat kekacauan ekonomi dimana-mana. Dengan cadangan emas di tangan, mereka bisa leha-leha, tak pernah takut terkena krisis ekonomi.

Dalam situasi demikian, yang paling menyesakkan dada ialah, ketika mayoritas masyarakat enggan diajak berjuang memperbaiki keadaan. Mereka tidak mau berjuang dengan alasan: berjuang itu tidak menghasilkan duit, hanya menyita tenaga-pikiran. Mereka baru mau berjuang kalau ada duitnya, ada untungnya. Kasihan sekali!

Jadi masyarakat kita itu seperti anak-anak ayam yang kebingungan. Satu sisi, mereka merasakan sekali betapa susah dan perihnya kehidupan saat ini. Kemudian mereka juga tahu, bahwa untuk berubah dibutuhkan perjuangan, pengorbanan, dan kerja keras. Tetapi kemudian mereka tidak mau terlibat dalam perjuangan itu. Tangan mereka tak mau berdebu karena perjuangan. Mereka bersikap seperti Bani Israil. Bani Israil ingin masuk Palestina, tetapi menyuruh Musa As dan Allah Ta’ala berjuang sendiri. Ina lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Lalu masyarakat sendiri bagaimana? Perjuangan apa yang mereka sukai dan bela dengan sepenuhnya?

Ya itulah: nonton TV, main HP, dan menghabiskan waktu percuma dengan FB. Inilah gaya hidup masyarakat kita, termasuk kaum Muslimin.

Jadi, kehidupan sudah susah dengan segala problem, karena masalah ekonomi. Kemudian hal itu diperparah dengan mentalitas phobia berjuang. Tidak mau, emoh, muak, untuk berjuang mengubah keadaan. Mereka emoh, karena sehari-hari jiwanya diguyur oleh tontonan-tontonan hedonis di TV, ponsel, internet, dan seterusnya. Benar-benar masyarakat yang memuja nafsu, memuja kesenangan, minim militansi dan gerak perubahan.

Mau dibilang kasihan, ya kasihan. Tetapi kita tak berdaya. Masyarakat memang hidup susah, tetapi susah yang dibuat sendiri, lantaran tidak mau berjuang, bekerja keras, mengubah keadaan.

Di titik itulah kondisi kaum Muslimin Indonesia, saat ini. Masyarakat kita berada dalam kebingungan besar, dan tak tahu harus berbuat apa. Tetes-tetes air mata terus berjatuhan di pipi; keluh kesah dan jerit tangis, tiada putus menghiasi siang dan malam; wajah-wajah putus-asa mudah ditemui di sepanjang jalan dan tempat. Namun, untuk keluar dari semua JERATAN KEHIDUPAN ini, tiada daya. Hati ingin segera pergi dari semua kesusahan, tetapi tapak kaki tak mau beranjak. Persis seperti keadaan seorang manusia yang biasa meninggalkan Shalat. Hati kecilnya meronta, merasa berdosa, bersalah, dan sangat gelisah, karena tidak menjalankan Shalat. Hanya sayangnya, diri orang itu tidak tergerak sedikit pun untuk menyentuh air wudhu, menggelar sajadah, atau memakai kopiah.

Masyarakat kita kini berada dalam kebingungan besar. Mereka tidak tahu, harus bagaimana menjalani hidup ini? Hendak kemana mereka melangkah? Mau berjalan maju takut diterkam binatang buas; mau berjalan mundur, takut jatuh ke jurang; mau diam saja, takut tertimpa batu meteor; mau maju-mundur-dan diam, takut tertimpa ketiga bahaya itu sekaligus; mau berpikir, takut stress; mau diam tak berpikir, takut kerasukan jin; mau setengah berpikir dan setengah diam, takut menjadi gila karena tidak memiliki kejelasan sikap.

Maka Allah Ta’ala memberikan solusi, ANDAIKAN MEREKA MAU MENERIMA. “Wa man yakfur bit tha-ghuti wa yu’min billahi, faqadis tamsaka bil ‘urwatil wuts-qa lan fishama laha” [dan siapa yang kufur terhadap thaghut (segala sesembahan selain Allah) lalu dia beriman tauhid kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali (agama Allah) yang sangat kuat yang selamanya tak akan putus. Al Baqarah: 256].

Kini silakan tinggal pilih jalanmu. Siapa yang suka, berimanlah kepada Allah Azza Wa Jalla, dan siapa yang suka, silakan ingkar. Allah Ta’ala Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan amal-amal manusia. Andaikan semua manusia menjadi shalih, hal itu tak akan menambah Kemuliaan Allah, sebab Dia sudah Mulia sejak sedia kala. Andaikan semua manusia durhaka, hal itu tak akan mengurangi Kemuliaan-Nya sedikit pun; Dia sudah Mulia, tak akan berubah Kemuliaan-Nya karena kedurhakaan manusia. Demikianlah, amal-amal baik itu hakikatnya adalah untuk diri manusia sendiri.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Depok, 9 Juli 2011.

AMW.