Empat Elemen Perusak Dakwah

Juli 15, 2015

Siapa saja mereka? Inilah mereka…

[1]. Gerakan Syiah. Selalu mengkritik Shahabat, Abu Hurairah, istri Nabi, Imam Bukhari, dll.
[2]. Gerakan Kontra Wahabi. Intinya selalu memusuhi sesama Muslim. Bercita-cita memberantas saudaranya.
[3]. Gerakan Tahdzir dan Tuduhan Hizbiyah. Semua yang bukan kelompoknya dituduh hizbiyah dan ahli bid’ah.
[4]. Gerakan Takfir. Bermudah-mudah mengkafirkan sesama Muslim.

* Semua kelompok di atas eksis di tengah tubuh dakwah Islam.
* Semua kelompok di atas tidak menyumbang faidah PERSATUAN UMMAT.
* Semua kelompok di atas mendukung strategi kaum penindas (sekuler/kufar), DEVIDE ET IMPERA.

(OnCritic).

Iklan

Kyai Aswaja Ridha dengan Persaudaraan

Juli 1, 2015

* Mantan Kasad, sekarang jadi Menteri Pertahanan, Jendral Ryamizard Ryacudu, pernah mengingatkan, ada sekitar 50.000 agen asing berkeliaran di Indonesia. Belum lama lalu beliau mengecam Iran yang selalu jadi biang onar dimana-mana.
* Ketika ditanya CIRI OPERASI INTELIJEN, kata beliau pro perpecahan, pro konflik, anti persatuan.
* Masih ingat, penjajah Belanda mencengkeramkan kuku imperialisme dengan strategi DEVIDE ET IMPERA.
* Masih ingat, strategi “belah bambu” yang dijalankan Ali Murtopo & LB. Moerdani di era Orde Baru? Mereka menyanjung sebagian Muslim dan menginjak Muslim yang lain.
* Ingat pula, KH. Hasyim Asyari di zaman Jepang prakarsai terbentuknya MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia); nanti jadi cikal bakal Masyumi. Orientasinya jelas: MENYATUKAN BARISAN KAUM MUSLIMIN, BAIK ANGGOTA MIAI ATAU BUKAN.
* Ingat juga, KH. Abdur Rasyid Syafi’i, putra KH. Abdullah Syafi’i, keduanya ulama Aswaja Betawi. Tapi mereka LEGOWO dengan persatuan Ummat. KH. Abdur Rasyid sebagai sesepuh di FUI (Forum Ummat Islam).
* Janganlah kaum Muslimin Nusantara terjerumus konflik Aswaja Vs Wahabi. Pastilah Syiah yang akan mengambil kebahagiaan dari konflik ini. Nanti, kalau Aswaja dan Wahabi, sudah sama-sama hancur; Syiah akan ambil kekuasaan (agama) di negara kita.
* Apa Anda tidak melihat prahara di Suriah, Irak, Yaman, Afghan, Libanon? Di negara-negara itu MAYORITAS ASWAJA, bukan Wahabi.
* Anda ingin kehancuran negeri-negeri itu terjadi di Nusantara?

(Mine).


KUNCI KELEMAHAN UMMAT INI….

Juni 4, 2015
Mari Saling Mencintai Sesama Muslim

Mari Saling Mencintai Sesama Muslim

SERIBU KEUNGGULAN SATU KEKURANGAN

Bismillahi laa haula wa laa quwwata illa billah.

SEANDAINYA SAJA UMMAT ISLAM DI NEGERI KITA MEMILIKI….

> 1000 ulama pakar.
> 1000 profesor ahli sains.
> 1000 jendral ahli strategi.
> 1000 insinyur praktisi teknik.
> 1000 konglomerat, duitnya tak terbatas.
> 1000 pejuang selevel pasukan khusus.
> 1000 dai top.
> 1000 politisi sangat cerdas & lihai.
> 1000 wartawan kawakan.
> 1000 koki terbaik.
> Dan lain-lain.

MAKA SEMUA POTENSI ITU TIDAK AKAN MEMBUAHKAN MASLAHAT, BAHKAN BISA MENDATANGKAN MUSIBAH, BILA KITA TIDAK MEMILIKI SATU KEBAIKAN.

Apakah itu?

YAITU kemauan untuk BERSATU & MENCINTAI sesama Muslim.

Beribu-ribu kehebatan menjadi SIA-SIA tanpa PERSATUAN di hati-hati kita.

Andai saja, Ummat Muslim bersatu, kita bisa MENJADI TUAN RUMAH di negeri sendiri. Derita bangsa Indonesia selama ini, KARENA perpecahan di antara kita (Umat Muslim).

Dulu penjajah mempraktikkan DEVIDE ET IMPERA. Cara yang sama dilakukan rezim sekuler, di zaman Indonesia merdeka.

Kata Allah SWT dalam Surat Al Anfaal, andai kita belanjakan harta benda sepenuh bumi; itu tak akan MAMPU MENYATUKAN hati-hati manusia. Artinya, persatuan lebih mahal dari seluruh harta benda duniawi.

MARI BELAJAR SAUDARAKU, DAN MARI KITA BERSATU !!!

(Abah Syakir).


Siapa Patriot NKRI ???

September 1, 2010

Tentu kita sudah sangat sering mendengar ucapan seperti ini, “NKRI harus dijaga. Semua pihak harus komitmen dengan keutuhan NKRI. Kesatuan NKRI sudah harga mati, final, tak bisa ditawar-tawar. TNI berjuang mempertahankan NKRI. Kalau NKRI hancur, hancur pula Indonesia.” Ya, kalimat-kalimat semisal itu.

Tapi masalahnya, KEMUNAFIKAN sudah menjadi budaya nasional orang Indonesia. Berbohong, mendustai rakyat, berkhianat, melacurkan diri, bersikap amoral; sudah menjadi menu sehari-hari. Mulutnya berbusa-busa teriak soal “keutuhan NKRI”, tetapi amal perbuatannya justru merusak NKRI itu sendiri.

INDONESIA: Sebuah Negeri Harmonis yang Sedang Dihancurkan!

Para pejabat birokrasi (bersikap) munafik, para politisi munafik, para pakar/pengamat munafik, para wartawan media munafik, para tokoh agama munafik, para mahasiswa munafik, aktivis LSM munafik, para seniman munafik…dan lain-lain. Seolah, tiada hari tanpa kemunafikan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Begitu sulitnya mencari para pejabat dan kaum elit yang amanah, jujur, dan patriotik? Kebanyakan mengidap penyakit kemunafikan. Setidaknya, mereka egois.

Lalu, apa itu munafik?

Nabi Saw mengatakan, “Idza ahda-tsa kadzaba, wa idza wa’ada akh-lafa, wa idza’ tumina khana” (kalau berkata bohong, kalau berjanji ingkar, kalau dipercaya khianat). Hal-hal begini ini sudah menjadi budaya nasional yang dianut para pejabat, politisi, pakar/pengamat, media massa, tokoh agama, aktivis LSM, mahasiswa, dll.

Katanya pro NKRI, cinta keutuhan bangsa, hidup-mati memperjuangkan nasib rakyat; tetapi fakta-fakta yang ada jauh sama sekali dari klaim-klaim semacam itu. Rasanya sudah bosan mengungkap kebobrokan elit-elit politik, elit birokrasi, elit pengusaha. Kalau bicara tentang mereka, seolah semuanya tampak gelap saja.

Mari kita coba sebut sedikit contoh realitas-realitas yang sangat membahayakan masa depan NKRI, sangat membahayakan nasib bangsa, dan masa depan generasi ke depan. Di antaranya sebagai berikut:

[o] Hari ini banyak orang berkoar-koar di media tentang pembubaran ormas anarkhis. Ya, kita tahu yang dibidik disini adalah FPI. Kapolri sampai menghasut DPR agar setuju dengan agenda pembubaran ormas (khususnya FPI). Andaikan ada aktivis-aktivis FPI yang berbuat kerusakan, paling yang rusak motor, kaca, lampu, meja, kursi, perabot rumah/kantor. Tetapi bagaimana dengan mafia hukum di tubuh Polri? Bagaimana dengan rekening gendut perwira-perwira Polri? Kerusakan yang timbul akibat korupsi aparat kepolisian  itu bisa membahayakan kehidupan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Mengapa Si Bambang tidak mengusulkan juga agar Polri dibubarkan, karena telah meresahkan kehidupan bangsa Indonesia?

[o] Sangat menjengkelkan kalau mendengar ucapan-ucapan rusak Thamrin Amal Tamagola, khususnya terkait usulan membubarkan ormas Islam seperti FPI. Begitu nafsunya dia ingin melihat FPI dibubarkan. Padahal menurut saya, pengamat/pakar pengkhianat seperti Thamrin Tamagola inilah yang banyak merusak bangsa Indonesia. Pakar/pengamat brutus seperti ini, sangat destruktif. Sekali waktu, kita lihat Si Thamrin ini marah-marah di gedung DPR, lalu walk out. Itu saat lagi mencuat kasus Bibit-Chandra. Di lain waktu, saat bicara di TV, dalam kasus video Ariel-Luna, dia membela kedua pasangan itu. Katanya, Ariel-Luna tak bisa dipidanakan, yang dipidanakan ialah yang menyebarkan. Padahal dalam UU Pornografi pembuat rekaman mesum, juga dipidanakan. Lalu Si Thamrin bejat ini, menyalahkan UU Pornografi, menyalahkan proses hukum, menyalahkan moral masyarakat. Si Thamrin ini tak malu-malu mengaku dirinya dulu saat masih muda juga senang menikmati media-media pornografi. Orang seperti ini diklaim sebagai pengamat, halah rubbish.

[o] Kini anggota DPR sedang sibuk mengkaji rencana pembangunan Gedung DPR baru, dengan nilai proyek sekitar Rp. 1,6 triliun. Waktu itu, ide memperbaiki Gedung DPR yang miring tidak sukses. Kini mereka bawa ide yang lebih mahal lagi, Rp. 1,6 triliun. Allahu Akbar! Beritanya bisa dibaca disini: Gedung Baru DPR Rp. 1,6 Triliun. Mau Kerja atau Rekreasi? Anggota DPR saat ini rata-rata masih muda, sekolah tinggi-tinggi. Tetapi ya itu tadi, mentalitas luar biasa parah. Tampang keren, mental ambles. Ide membangun gedung baru DPR itu kan sama saja dengan makin membuat masyarakat sakit hati.

[o] Kini juga mencuat ide konfrontasi dengan Malaysia. Allahu Akbar, sebegitu parahnya bangsa Indonesia ini. Bagaimana mereka akan berperang dengan tetangga sendiri, bangsa serumpun? Andaikan terjadi perang, siapa yang akan terjun kesana? Berapa lama durasi perang? Lalu seberapa kuat kita membiayai perang itu? Ekonomi sedang seperti ini, mau membiaya perang? Hatta Rajasa itu bilang, sisa APBN kita satu periode hanya sekitar 8 %. Sebagian besar APBN untuk biaya operaional Pemerintah. Dengan sisa 8 % itu mau perang apa, bos? Amerika saja bangkrut membiayai perang di Irak dan Afghanistan, apalagi kita?

[o] Skandal Century saat ini tidak jelas mau diapakan. Sidang paripurna DPR sudah memutuskan opsi C, tapi realisasi membawa kasus itu ke pengadilan, entah sampai kapan? Sebagai orang berakal, kita jelas bertanya-tanya, mau kemana arah Skandal Bank Century ini? Jika skandal ini tak ada ujungnya, lalu bagaimana dengan Mega Skandal BLBI yang nilai kerugian negara sekitar 100 kali Skandal Century? Atau skandal-skandal lain, di BI, BNI, Bank Mandiri, yang sampai sekarang tidak karuan penyelesaiannya.

[o] Kebijakan negara yang terus menambah hutang lewat SUN (surat utang negara). Bunga SUN ini tinggi. Menurut informasi, sekitar Rp. 60 triliun per tahun. Atau sekitar 40 kalinya anggaran pembangunan gedung baru DPR yang menelan Rp. 1,6 triliun itu. Kalau Pemerintah sulit anggaran, enak saja dengan menerbitkan surat utang baru. Dengan bunga sangat tinggi. Lha, nanti siapa yang menanggung beban hutang itu? Jelas, masyarakat luas.

[o] Kebijakan energi yang awut-awutan. Distribusi gas meleduk disana-sini, harga minyak tanah mahal, wacana menaikkan harga bensin, kenaikan tarif dasar listrik, dll. Seperti benang kusut dimana-mana. Semakin diatur, semakin kusut saja. Sementara itu harga-harga kebutuhan pokok terus melambung. Masyarakat semakin pening, sementara Pemerintah sibuk menjadikan “para teroris” sebagai sasaran untuk disalahkan. Keji, keji, sangat keji.

[o] Sejak jaman Abdurrahman Wahid jadi Presiden RI, sejak itu polisi lepas dari TNI. Polisi tidak sekedar lepas, tetapi menjadi institusi istimewa di bawah kendali Presiden langsung.  Kalau 3 angkatan TNI semua di bawah Departemen Pertahanan, adapun polisi tak mau di bawah Departemen Dalam Negeri. Nanti takut disamakan dengan Polisi Pamong Praja. Lepasnya polisi berkonsekuensi diabaikannya pengembangan kekuatan TNI. Banyak pihak menilai, kekuatan TNI saat ini diacak-acak, agar kekuatan bela negaranya, dalam rangka mempertahankan NKRI, melemah. Kalau TNI lemah, proses merusak NKRI diharapkan berjalan lancar.

[o] Kalau mau melihat fakta kemiskinan di Indonesia, saat sekarang ini waktu yang tepat. Sekarang banyak pembagian zakat, pembagian sedekah Ramadhan, bingkisan, dll. Lihat itu saat-saat pembagian sembako! Disana sangat jelas ada fakta telanjang tentang sengsaranya bangsa ini. Sangat telanjang!

[o] Menurut sebagian sumber, saat ini Israel sudah memiliki “kantor dagang misterius” di Jakarta. Tempatnya dimana, tetapi ada. Sebagian media sudah mengendus kehadiran kantor dagang misterius itu. Lho, katanya dalam diplomasi internasional kita pro Palestina? Kok ada kenyataan seperti itu ya? Bagaimana dengan masuknya Amdocs ke Telkomsel? Bukankah Amdocs berafiliasi juga kepada kepentingan Israel? Katanya anti penjajahan, kok Israel diberi tempat, meskipun “misterius”?

[o] Dan lain-lain.

Kalau dipikir-pikir, bangsa Indonesia itu cuma di MULUT DOANG mengaku pro NKRI. Hanya di mulut belaka. Dalam praktiknya, bangsa ini tidak sungguh-sungguh memperbaiki kondisi NKRI. Justru yang tampak di depan mata, ada kesan membiarkan NKRI bubar dengan sendirinya.

Bangsa kita saat ini SENGAJA DIHANCURKAN. Ini sesuai dengan agenda negara-negara imperialis dunia untuk memecah Indonesia menjadi 3 negara independen:  Indonesia Barat, Indonesia Tengah, Indonesia Timur. Timor Timur sudah lepas, Papua sedang diprovokasi agar lepas, George Soros masuk Aceh juga memprovokasi agar nanti Aceh lepas. Begitulah, politik devide et impera sedang berjalan lagi.

Zionisme internasional sangat berkepentingan terhadap ekonomi Indonesia. Indonesia itu sangat kaya-raya, maka itu banyak negara asing cari makan dan buang kotoran, di negeri ini. Zionisme membutuhkan Indonesia untuk mensuplai agenda besarnya membangun Israel Raya. Selama Indonesia masih bersatu dalam tatanan NKRI, niat Zionis itu akan terhalang. Indonesia harus diacak-cak dulu, baru niat mereka akan sukses. (Baca analisis pakar intelijen, Dr. AC. Manullang berikut ini: Penangkapan Ba’asyir Adalah Grand Strategi Amerika Serikat).

Sementara Zionis sudah tahu sejak dulu sebuah teori besar tentang Indonesia. Teori itu bunyinya, “Indonesia masih akan terus eksis selama dua hijau masih solid.” Hijau pertama adalah TNI, dan hijau kedua adalah kekuatan santri/aktivis Islam. Oleh karena itu, kita sangat heran  mengapa sejak tahun 2001 lalu (waktu itu jaman Gus Dur dan Megawati), bangsa Indonesia menempuh 2 kebijakan yang sangat membahayakan NKRI: (1) Memerangi aktivis Islam dengan isu pemberantasan terorisme, sambil mempromosikan kehebatan aparat polisi. (2) Melemahkan struktur TNI, dengan segala kebijakan yang tidak berorientasi penguatan. Di sisi lain, kepolisian terus dikuat-kuatkan.

Dua agenda itu sangat jelas kemana arahnya, yaitu menghancurkan dua pilar kekuatan NKRI, yaitu: TNI dan aktivis Islam. Jika kedua hijau ini sudah hancur, maka apa lagi yang bisa menjaga keutuhan NKRI? Apa yang terjadi selama ini adalah benar-benar CARA SISTEMATIK MENGHANCURKAN = N.K.R.I !!!

Performa Pemerintahan SBY yang sangat MENJAGA CITRA DIRI dan MENGABAIKAN penderitaan rakyat, bukanlah sesuatu yang kebetulan. Itu memang dirancang seperti itu. Targetnya, dari sisi citra sudah bagus, tetapi realitas penderitaan rakyat diingkari sama sekali. Dr. AC Manullang menyebut orang-orang di sekitar SBY banyak yang menjadi agen CIA. Ini adalah kesengajaan, Saudaraku!

Dari semua ini tampak jelas, siapa patriot dan siapa pengkhianat? Sangat jelas. Para aktivis Islam dan anggota TNI yang masih sangat komitmen dengan NKRI, mereka adalah patriot. Sedangkan politisi, pejabat birokrasi, pakar/pengamat, media massa, aktivis LSM, mahasiswa, dll. yang terus membuat keruh kehidupan berbangsa-bernegara, agar nanti akhirnya NKRI ini rusak berantakan, mereka adalah PENGKHIANAT BANGSA!!!

Ya, kita sebagai Muslim jelas komitmen dengan NKRI. Kalau bangsa ini terpecah belah menjadi negara-negara kecil, nasib kita akan semakin hancur. Kita akan diadu-domba oleh kekuatan-kekuatan imperialis asing. Kita akan terus konflik dengan saudara sendiri, sementara mereka enak-enakan mengeruk kekayaan kita.

Masalah terbesar kita kini, FENOMENA ORANG MUNAFIK itu. Terlalu banyak orang munafik, bejat moral, pengkhianat bangsa, tetapi pintar bicara, pandai berbohong, dan menguasai media-media massa. Para brutus itu –semoga Allah  merusak usaha mereka, mengalahkan mereka, menghinakan mereka- tak henti-hentinya membohongi masyarakat dengan kepalsuan-kepalsuan.  Agenda penghancuran NKRI sangat terbantu dengan sepak-terjang kaum brutus itu.

Di sisi lain, istilah KEBEBASAN PERS menjadi bumerang tersendiri bagi bangsa ini. Banyak agen-agen imperialis memanfaatkan dalih kebebasan pers untuk merusak budaya masyarakat, membohongi masyarakat, merusak moral, meracuni opini, memecah-belah bangsa, sekaligus mempercepat hancurnya NKRI ini. Media-media TV menjadi penyumbang terbesar hancurnya karakter bangsa Indonesia, sejak 20 tahun terakhir. Belum pernah bangsa kita mengalami kehancuran sedemikian hebat, melainkan setelah munculnya TV-TV liberal, kapitalistik, dan pro kepentingan asing itu.

Hari ini, banyak pengkhianat dan agen asing berkeliaran. Mereka mencari makan dengan jalan menjual masa depan bangsanya sendiri. Allahu Akbar. Sungguh, bisnis yang mereka tempuh, tidak akan menguntungkan. Mereka akan rugi dan menggali kebinasaannya sendiri! Suatu saat, Allah Ta’ala akan memperlihatkan kepada mereka harga sangat mahal akibat pengkhianatan mereka. Mereka akan diinjak-injak oleh tuan-tuan imperialis yang mereka ibadahi selama ini. Mereka akan diperlakukan seperti keset yang diinjak-injak belaka.

Kini mereka senang karena mendapat hadiah-hadiah dari imperialis. Tetapi ingat Bung, “There is no free lunch,” tidak ada makan siang gratis. Anda baru diberi DP oleh imperialis-imperialis terlaknat itu –semoga Allah melaknat mereka, menghancurkan rumah-rumah dan kehidupan keluarga mereka–, namun nanti jika makar imperialis sudah mendapatkan hasil, Anda akan dibumi-hanguskan oleh imperialis-imperialis itu. Siapapun di dunia ini tak ada yang suka kepada PENGKHIANAT. Tidak ada! Hanya waktu yang akan membuktikan, bahwa para agen imperialis itu kelak akan hancur binasa di tangan para imperialis sendiri!

Wal akhir, dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa annallaha laa yahdiy kaidal kha’inin” (dan sesungguhnya Allah tidak meridhai makar para pengkhianat).” [Surat Yusuf: 52]. 

Semoga kita mendapatkan pelajaran berharga! Allahumma amin.

Bandung, 22 Ramadhan 1431 H.

AMW.


Haruskan Menonjolkan Sentimen Etnis?

September 11, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu, Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam rangka memanfaatkan momen-momen berharga selama Ramadhan 1430 H ini dengan wawasan-wawasan penting, saya sengaja menurunkan beberapa artikel. Salah satunya adalah “Sentimen Anti Jawa” ini. Tidak berarti saya keluar dari komitmen semula. Tidak, hanya memanfaatkan momen Ramadhan dengan wawasan-wawasan yang mudah-mudahan bermanfaat, insya Allah. Niatnya, ingin merealisasikan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah.

Tulisan “Sentimen Anti Jawa” ini terinspirasi dari seorang teman. Katanya, akhir-akhir ini berkembang sentimen anti Jawa di forum-forum diskusi internet. Hal itu terjadi sejak meluasnya sikap anti Malaysia di masyarakat. Ya, kasus pencurian budaya, klaim pulau, penghinaan lagu kebangsaan, sampai video penyiksaan TKI oleh manusia-manusia berhati syaitan di Malaysia sana. Katanya, pelecehan martabat bangsa secara kasar oleh Malaysia tidak lepas dari para pemimpin Indonesia yang rata-rata dipegang oleh orang Jawa. Singkat kata, karena para pejabatnya orang Jawa, maka martabat Indonesia bisa dilecehkan oleh Malaysia.

Sebenarnya bukan saat ini saja saya mendengar sikap anti Jawa. Sebagian teman saya di Bandung pernah mengartikan kata Jawa dengan kata: “Jajah wilayah.” Seorang profesor di Bandung juga pernah mengusulkan, agar Bandung menjadi kota tertutup dari pendatang luar (termasuk etnis Jawa). Namun ide itu kemudian mendapat kecaman keras. Di masjid di komplek kami, ada mantan Ketua DKM yang anti terhadap para pendatang non Sundanese. Sepertinya, di mata orang itu, para pendatang menjadi sebab kesengsaraan warga pribumi.

Sejak lama saya juga mendengar, sebagian warga Aceh sangat anti orang Jawa. Hal itu terutama ketika belum ada perjanjian damai antara RI dan GAM. Mereka menyebut Jawa sebagai “penjajah”, bahkan dianggap “orang kafir”. Konon, waktu itu di Aceh, jika mereka mendapati seseorang ber-KTP Jawa, bernama Jawa, atau berlogat Jawa, darah pun akan ditumpahkan. Karena kesalahan kebijakan politik Soeharto Cs, kaum Muslimin berlatar-belakang Jawa memikul akibatnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena masalah ini sangat penting, disini saya coba membahasnya. Semua ini menjadi renungan bagi semua pihak.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas merupakan prinsip besar yang melandasi kehidupan setiap Muslim. Perbedaan suku atau etnis adalah masalah kodrati (sudah ditentukan oleh Allah). Ia merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Sebagaimana pula Allah telah menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan bermacam-macam, tidak hanya satu jenis saja. Maka Islam memberi panduan yang lurus; perbedaan tidak masalah, sebab hal itu sudah Sunnatullah. Sebaik-baik manusia, bukan dilihat dari aspek kesukuannya, tetapi TAQWA-nya.

Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa orang Arab tidak lebih baik dari orang ‘Ajam (non Arab), melainkan karena takwanya. Begitu pula sebaliknya, orang ‘Ajam tidak lebih baik dari orang Arab, melainkan karena takwanya juga.

KASUS PELECEHAN MALAYSIA

Ya, semua pihak prihatin dengan sikap melecehkan yang dilakukan warga atau Pemerintah Malaysia terhadap martabat bangsa Indonesia. Hal itu tidak mencerminkan sikap negara jiran (tetangga) yang baik. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Sikap buruk Malaysia tidak lepas dari kehidupan materialisme yang membuat mereka semakin sejahtera, semakin konsumtif, dan semakin rakus.

Indonesia pun, kalau memiliki kondisi ekonomi sebaik Malaysia saat ini, mungkin kita juga akan menerkam satu demi satu negara kecil di sekitarnya. Hanya karena Indonesia ini lemah, maka tidak mau mengganggu tetangga-tetangganya. Kehidupan sejahtera menjadi cita-cita perjuangan politik setiap bangsa. Tetapi kerap kali, kesejahteraan itu bukan membuat manusia makin mawas diri, tetapi semakin rakus materi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi menjadi sangat mengherankan, ketika sikap lemah Pemerintah RI kepada Malaysia, hal itu dikaitkan dengan etnis Jawa. Lho, apa hubungannya? Apakah ada korelasi rasional antara keduanya?

Kalau mau jujur, Permadi yang berbicara meledak-ledak di TV mengecam sikap lembek Pemerintah dan mendorong agar Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Dia orang Jawa. Soekarno yang dulu menyerukan gerakan Ganyang Malaysia juga orang Jawa. Perwira TNI yang bersuara keras ketika Malaysia mengklaim blok Ambalat, juga dari Jawa. Bahkan prajurit TNI yang diturunkan untuk operasi-operasi menjaga teritorial nasional, kebanyakan juga dari Jawa. Kok bisa etnis Jawa disalahkan dalam perkara seperti ini?

Kalau karakter SBY memang lembek, ya jangan menyalahkan orang Jawa. Itu salah Anda sendiri yang telah memilih SBY dalam Pilpres kemarin. Jujur saja, kami sekeluarga kemarin memilih JK-Wiranto. Bagi kami, mau orang Bugis, orang Aceh, Padang, Lombok, atau apapun, kalau memang qualified, kami akan mendukung. Sebaliknya, meskipun orang Jawa, kalau pro Amerika, ya harus ditolak. Anda lihat di TV, bagaimana seorang Sudjiwo Tedjo sangat mendukung Jusuf Kalla. Konon, dia selama ini selalu golput. Tapi saat ada pilihan Pak JK, dia mendukungnya. Sudjiwo Tedjo sampai bersumpah atas nama bundanya, Ibu Sulastri. (Meskipun, bersumpah atas nama selain Allah, itu termasuk sikap yang keliru). Dan menariknya, di luar Jawa, suara SBY menang mutlak. Hingga di Aceh saja, perolehan JK-Wiranto hanya sekitar 8 %. Padahal orang Aceh tahu jasa JK dalam perdamaian Aceh.

Kalau kemudian SBY bersikap begini dan begitu, ya itu sudah konsekuensi dari pilihan rakyat Indonesia sendiri, sejak Aceh sampai Papua. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan etnis Jawa. Cara berpikir seperti itu sangat picik. Lihatlah dengan mata jujur! Disana ada Prabowo Subianto yang bersuara keras tentang ekonomi Neolib. Beliau dari Jawa. Ada Pak Wiranto dan Hanura yang juga mengkritisi ekonomi liberal selama ini. Beliau juga orang Jawa.

Kalau ingin melihat etnis Jawa, jangan hanya melihat para koruptor. Tetapi lihat juga sosok Panglima Besar Jendral Soedirman dan Bung Tomo rahimahumallah yang sangat komitmen terhadap negara ini. Atau lihat juga sosok SM. Kartosoewiryo rahimahullah, seorang pemimpin Islam yang berani menyuarakan gerakan Negara Islam secara gentleman. Atau lihat sosok Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, tokoh senior Muhammadiyyah. Beliau sampai akhir hayatnya selalu merindukan tegaknya Piagam Djakarta.

Dulu di jaman Orde Lama, beberapa pemimpin Masyumi mendapatkan teror dari PKI. Mereka lalu menyeberang ke Sumatera Barat untuk menyelamatkan diri. Kemudian mereka terlibat dengan PRRI. Keterlibatan elit-elit Masyumi itu, terutama Muhammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, oleh Soekarno dianggap sebagai pengkhianatan besar. Akibatnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Waktu itu pimpinan Masyumi berada di tangan Bapak Prawoto Mangkoesasmito rahimahullah. Beliau menolak pembubaran Masyumi karena alasan PRRI. Secara resmi waktu itu Masyumi mengecam gerakan PRRI di Bukit Tinggi. Tetapi Soekarno meminta supaya Masyumi mengutuk pemimpin-pemimpinnya yang terlibat PRRI. Maka jawaban Bapak Prawoto kepada Soekarno sangat tegas, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami terlebih dulu akan mengutuk Bapak (Soekarno)!” Nah, ini salah satu tipikal pemimpin santri Jawa yang layak dikenang. Padahal waktu itu, nama besar Soekarno sangat disegani semua orang.

Almarhum KH. AR. Fachruddin, tokoh Muhammadiyyah Yogya. Tahun 80-an Soeharto memaksakan agar semua organisasi, termasuk ormas Islam, menjadikan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pak AR. Fachruddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyyah dipanggil oleh Soeharto untuk diajak bicara. Soeharto mengancam akan membubarkan organisasi apa saja yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai azasnya. Maka Pak AR tidak kalah sengit dalam merespon tekanan Soeharto. Beliau mengecam Soeharto, “Tetapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Setelah itu beliau pamitan meninggalkan Soeharto. Mana ada di jaman itu orang yang berani bersikap tegas kepada seorang Soeharto?

Adalah sangat tidak adil mengukur sesuatu dengan parameter keetnisan. Sama seperti Ruhut Sitompul ketika beberapa waktu lalu melecehkan etnis Arab. Atau ekstremnya, seperti Yahudi yang menganggap manusia selain Yahudi sebagai Ghayim (Gentiles). Semua orang Ghayim di mata Yahudi dihalalkan segala-galanya. Dan tidak adil pula, ketika menilai etnis itu hanya dari sisi buruknya, tidak dilihat sisi baiknya. Sebab di dunia ini, setiap etnis pasti ada sisi baik dan buruknya. Tidak ada satu pun etnis yang merasa suci dari kesalahan, melainkan ia pasti SESAT.

Baca entri selengkapnya »