TENTANG HADITS MADZI

September 30, 2015

Maaf ya ini bukan vulgar, tapi memang untuk mengambil ibrah. Madzi itu semacam cairan kental yang biasanya keluar dari kemaluan laki-laki bila mengalami ketegangan (ereksi) dalam waktu lama. Ini biasa terjadi pada anak-anak muda.
===
CERITANYA, Ali bin Abi Thalib Ra sering mengalami hal itu. Tapi dia malu mau bertanya tentang hukum madzi kepada Rasul Saw. Lalu dia menyuruh Miqdad Ra, saudaranya, untuk bertanya. Lalu Nabi Saw memberi jawaban: Cukup dibersihkan kemaluan, lalu dipercik air 3 kali pada celana dalam yang terkena madzi.
===
HADITS ini banyak dibahas di bab THAHARAH (bersuci). Tapi ada hikmah luar biasa di balik hadits ini. PERTAMA, ternyata perkembangan seksual Salafus Saleh itu wajar. Anak-anak muda di zaman itu biasa mengalami “ketegangan”. KEDUA, kalau ada “ketegangan”, berarti ada sumber yang membuat “tegang” itu, yaitu lawan jenis. KETIGA, anak-anak muda di zaman Salaf tidak merasa asing melihat perempuan. Tidak ada aturan-aturan yang membuat perempuan “harus enyah” dari kehidupan sosial. Nah, inilah FITRAH PERADABAN ISLAMI. Yang selain itu adalah bid’ah yang diada-adakan.
===
Hadits madzi itu dikonfirmasi oleh banyak riwayat-riwayat lain. Misalnya kata Nabi Saw kalau kaum wanita mau shalat di masjid, jangan dilarang. Kalau ada wanita, menundukkan pandangan. Shaf terbaik bagi wanita adalah paling belakang, bagi laki-laki paling depan.
===
BAHKAN Al Qur’an menceritakan, kisah Nabi Musa As memilih berjalan di depan putri Syuaib karena semula sempat tersingkap pakaiannya. Ada kisah Yusuf digoda Zulaikha. Ada kisah Ratu Bilqis mengangkat roknya karena melihat lantai berkilau. Ada kisah dua putra Adam As berselisih tentang isteri.
===
Suatu hari Nabi Saw duduk-duduk bersama Shahabat Ra. Tiba-tiba beliau berdiri. Pulang ke rumah seorang isterinya. Tak lama kemudian keluar sambil bajunya basah kuyub setelah mandi. Para Shahabat merasa aneh, ada apa wahai Nabi? Lalu beliau cerita, saat lagi duduk-duduk, beliau melihat seorang wanita melintas. Tiba-tiba muncul syahwat beliau. Kemudian beliau salurkan syahwat itu ke isterinya. Kata Nabi, kalau kalian mengalami hal yang sama, lakukan seperti perbuatanku tadi. Dari itu Nabi pernah berkata: “Fi budh’i ahadikum shadaqah” (saat kamu bercampur dengan isterimu, itu sedekah).
===
JADI peradaban Islam itu wajar. Manusiawi. Bukan “mengenyahkan wanita” dari kehidupan. Wanita dijauhkan, tidak boleh dijumpai, malah mungkin saja direndahkan -seperti ajaran kaum Sodom dan Gomorah-.
===
Siapa mau menentang prinsip peradaban ini? Wong jelas-jelas. Sangat nyata. Tak ada keraguan lagi. Kalau tak percaya, silakan baca sendiri Kitabullah dan Sunnah. Baca sendiri !!!
===
PENDIDIKAN fitrah dalam Islam adalah tidak boleh mengeliminasi keberadaan kaum wanita. Karena hal itu adalah untuk MENJAGA LURUSNYA FITHRAH LAKI-LAKI. Tempat boleh dipisah, wanita pakai kerudung dan jaga etika; tetapi keberadaan mereka harus tetap nyata dalam struktur sosial masyarakat.
===
Ada sekelompok orang yang merasa LEBIH ALIM dari Nabi Saw dan Shahabat Ra. Mereka sok suci, lalu mendukung aturan “melenyapkan peran wanita” dari kehidupan. Ternyata, ujung-ujungnya terkena penyakit mental “kaum Sodom dan Gomorah”. Na’udzubillah wa na’tdzubillah min dzalik.
===
PERNAH TERJADI. Saat awal-awal masuk pesantren, ada SMS masuk dari teman anakku. Waktu itu dia liburan di rumah. Bahasanya, anak itu memanggil “sayang sayang” ke anakku. Kaget sekali rasanya. Aku tanya, siapa ini? Kok begini? Anakku jawab dengan terbata-bata, dengan wajah menunjukkan ketegangan besar. Ya Rabbi, andai kami tahu hal seperti ini; tentu kami akan jauhkan anak-anak kami dari semua ini.
===
SEJAK itu dan seterusnya, kami merasa mulai “kehilangan hati” anak kami. Dia mulai tertutup. Tidak mau terbuka. Dan sering berbohong. Ikatan hati antara orangtua dan anak semakin menjauh. Kami merasa ditinggalkan oleh LOYALITAS anak kami.
===
Nak, nak. Nanti di akhirat kami yang ditanya oleh Allah tentang diri kamu. Bukan kyaimu, ustadz, mudabbir, atau konsulatmu. Maka mudahkan urusan ayah ibu. Jangan menjadi sumber kekalahan bagi kami di akhirat. Nas’alullah al ‘afiyah.
===
Begitu perihnya hal ini kami rasakan. Kami tak mau beribu-ribu kaum Muslimin mengalami hal yang sama. Biarkan anakmu tumbuh normal layaknya laki-laki dan wanita sejati. Ilmu agama lebih berkah di atas jiwa fithrah, bukan di jiwa-jiwa menyimpang.
===
Sejahat-jahatnya perzinahan, sampai lahir bayi manusia. Itu masih lebih ringan dari penyakit “Sodom dan Gomorah”. Bayi hasil zina, bisa jadi hamba Allah yang saleh. Toh untuk beribadah kepada-Nya tidak ditanya “sertifikat DNA”. Tapi kelakuan “Sodom Gomorah” apa hasilnya? Hanya memuja seks dan mematikan proses berketurunan manusia.
===
Ingat wahai insan: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka mengibadahi-KU.” Adz Dzariyat 56. Penyakit “Sodom Gomorah” adalah musuh ayat ini. Waspadalah kalian!

Semoga bermanfaat.

(RealOne).

Iklan

[15]. Puncak Pendakian Seksual

Februari 26, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Di antara bentuk kemurahan Allah Ta’ala, saat Dia memberikan anugerah kemampuan seksual kepada manusia. Inilah anugerah besar, sensasi tinggi, dan salah satu “entertainment” terbaik bagi manusia.

Namun banyak manusia salah mengerti. Mereka mengira, nikmat seksual tidak berbeda dengan nikmat makan-minum. “Kalau Anda lapar, tinggal makan. Kalau Anda haus, tinggal minum,” begitu logika mereka. Nikmat makan-minum bisa dicapai secara instan, tetapi nikmat seksual tidak. Ia butuh aneka prosedur untuk sampai pada kenikmatan yang tinggi dan melegakan.

Kalau diumpamakan, nikmat seksual seperti santan kelapa. Semua publik Nusantara tahu apa itu santan kelapa dan apa pula kegunaannya? Ia sangat nikmat dan lezat. Makanan apapun yang disentuh oleh santan kelapa, akan membuatnya gurih dan berwibawa (secara kuliner). Tetapi santan kelapa tidak bisa langsung dikonsumsi. Ia harus dipadukan dengan bahan-bahan lain, lalu dimasak dengan proses tertentu, sehingga keluar sensasi lezatnya. Kalau santan kelapa langsung disantap, atau bahkan buah kelapanya yang keras dan tua langsung dikonsumsi; tentu hasilnya tidak enak. Apalagi kalau kelapa itu di-krakoti dari kulitnya, sabutnya, sampai batoknya; bukan kelapa yang kamu dapat, tapi gigimu yang akan rompal.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Puncak Kenikmatan Seksual Tidak Lepas dari Aspek MORALITAS.

Nikmat seksual juga seperti itu. Ia sangat excited, sangat fantastic… Tetapi tidak bisa secara instan. Ada sekian prosedur dan proses yang mesti ditempuh, untuk sampai pada sensasi tertinggi. Prosedur itu ialah legalitas hubungan laki-laki dan wanita; dalam bentuk ikatan pernikahan. Tanpa legalitas ini, nilai nikmat seks hanya sedikit yang bisa dicapai; bahkan ia akan meninggalkan banyak risiko (secara sosial, kesehatan, spiritual, psikologis, religiusitas).

Kalau orang salah makan, paling akibatnya tersedak atau batuk-batuk. Tetapi kalau salah “konsumsi seks” akibatnya sangatlah perih. Tampak enak dan sensasional di permukaan, tapi begitu perih dalam keseluruhan kenyataan hidup. Sekedar contoh, dengan melakukan seks ilegal, dengan siapapun, ia akan terekam sangat dalam di memori dan selalu teringat-ingat untuk masa yang panjang.

Seks seperti pedang bermata dua. Satu sisi menghadap ke lawan, sisi lain menghadap ke diri sendiri. Kalau salah mengayunkan pedang ini, musuh tidak terkena, malah diri sendiri bisa terbunuh.

Solusi seks mestilah bersifat legal, tidak ada alternatif lain. Sebab di balik nikmat seks ada fungsi reproduksi. Ketika nikmat seks dirasakan, lalu terjadi pembuahan; maka hasil pembuahan akan membawa risiko sangat panjang, kalau sifat hubungan itu ilegal. Jika legal, mau lahir berapa anak pun, semua pihak akan menerima dan merestui.

Mungkin orang berkata: “Ya seks di zaman sekarang tidak mesti legal. Ilegal juga bisa, asal sama-sama dapat kesenangan.”

Tidak demikian berpikirnya. Salah satu karakter nikmat seks ialah membutuhkan KONTINUITAS. Nah, ini sangat berbeda dan bermakna. Mungkin sekali dua kali seseorang bisa melakukan seks ilegal; tetapi kebutuhan seks manusia bersifat jangka panjang. Manusia tidak bisa hanya menikmati 10 atau 20 kali hubungan seksual, tetapi bisa ribuan kali; karena tabiat seksual itu MELEKAT dengan kehidupan manusia.

Nah, kontinuitas ini yang tidak pernah dibahas oleh para pelaku seks bebas. Mereka selalu berlindung di balik gemerlap citraan atau sensasi yang dibuat-buat. Seks ilegal tidak bisa memberikan kontinuitas tersebut. Cobalah sebutkan siapa master seks ilegal itu? Bisakah dia menjawab seputar kebutuhan kontinuitas ini?

Legalitas adalah syarat mutlak menuju sensasi seksual yang sempurna dan jangka panjang. Disini koridornya ialah MORALITAS. Maka pendakian seksual tak bisa dilepaskan dari aspek moral. Antara seks dan moral, seperti dua bilah sisi pada mata uang logam. Dari paduan seks dan moral itu pula akan lahir manusia-manusia kuat di muka bumi.

Wahai insan, andaikan Anda tidak mendapati buah manis dari kehidupan seksual, bukan berarti solusinya seks ilegal. Tidak demikian, wahai sahabat dan saudara. Solusinya tetap LEGALITAS; tidak ada alternatif lain.

Jika ada masalah-masalah seputar ketidak-mampuan mencapai legalitas ini, jangan salahkan legalitasnya; tetapi salahkan sikap sosial masyarakat yang membuatmu tidak mudah mencapai legalitas. Solusinya, beranilah kalian melawan sikap sosial masyarakat yang membuatmu terkurung, sehingga tidak mudah mencapai legalitas. Capailah legalitas itu dengan semangat revolusi sosial-mu!

Legalitas dalam Islam sangat mudah. Untuk menikah, cukup ada mempelai laki-laki dan wanita, ada persetujuan wali, ada saksi, dan ada ijab kabul. Kalau mampu merayakan, rayakan; kalau tak mampu, sekedar syukuran terbatas juga bisa. Maka berbagai aksesoris sosial yang membuat kesusahan meraih legalitas pernikahan; lawan dan lawan itu! (Seperti semangat perlawanan Anas atas penzhaliman dirinya. He he he….).

Saudaraku…sungguh agama ini telah berbuat baik kepadamu. Agama ini menunjukkan solusi sempurna untuk mencapai seks dengan kualitas sensasi tinggi dan berjangka panjang. Agama ini juga memudahkan dalam urusan proseduralnya. Hanya aksesoris-aksesoris sosial itu yang membuatmu kesulitan mencapai legalitas.

Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah Ar Rahiim. Bila ada salah dan keliru, berhentilah di satu titik, dan jangan lanjutkan kesalahan dan kekeliruan itu. Sekedar salah makan atau minum, paling hanya akan tersedak; tetapi salah seksual akibatnya sangat jauh dan dalam. Janganlah dilanjutkan kekeliruan-kekeliruan itu. Kalian bisa berargumen: “Kesalahanku disini karena memang negaraku tidak memberi bimbingan, penjagaan, dan memudahkan urusan; akhirnya aku terpuruk seperti yang lain. Andai negara punya komitmen, tentu peluang selamat akan lebih besar.”

Aku menyarankan, beranilah kalian melawan aksesoris sosial yang membelenggu itu. Misalnya, biaya resepsi pernikahan, status sosial, status kerja, berbagai fasilitas mapan untuk menikah, dll. Termasuk cibiran soal poligami, nikah sirri, nikah dini, dan lainnya. Semua itu jangan dihiraukan, karena memang bukan esensi dalam kehidupan ini.

Kejarlah harapan untuk mencapai kenikmatan yang indah; dengan memperhitungkan legalitas dan moralitas; jangan menempuh cara instan, sebab itu akan menyusahkan kalian sendiri. Demikian, semoga risalah sederhana ini bermanfaat. Amin Allahumma amin.

(Ad-Mine).