Jokowi Punya Kemampuan, Tapi Masalah Jakarta Sangat Komplek. Foke Punya Pengalaman, Tapi Cenderung Arogan.

November 28, 2012

Baru juga Jokowi memimpin Jakarta, masalah-masalah klasik di provinsi ini mulai bermunculan. Minimal, soal banjir dan macet. Dalam masalah banjir, Jokowi sempat bilang bahwa dirinya “kalah cepat” dibandingkan kedatangan banjir; dalam masalah kemacetan, yang semula Jokowi tidak setuju dengan pembangunan jalan tol dalam kota, akhirnya sepakat untuk merealisasikan pembangunan dua ruas jalan tol. Banyak masalah-masalah Jakarta yang sedang menanti “tangan dingin” Jokowi.

Menurut sebagian analisis, nama besar Jokowi yang meriah di mata media dan rakyat, tak urung membuat Megawati dan kawan-kawan merasa “gerah” juga. Sebab dikhawatirkan Jokowi akan mengganggu “nama besar” Megawati di mata para PDIP-ers. Ibaratnya, hanya boleh ada satu bola lampu yang menyala terang. Nah, itu masalah lain lagi.

Intinya begini lah…Pak Jokowi ini punya kemampuan, punya leadership, juga punya pengalaman. Minimal dalam memimpin Kota Solo. Dengan kemampuan yang ada itu, dia insya Allah bisa mengadakan perbaikan-perbaikan di Jakarta pada sektor-sektor tertentu. Tapi untuk memperbaiki Jakarta secara fundamental, untuk mengubah wajah Jakarta, untuk menata-ulang wajah provinsi ini sebaik-baiknya; hal itu tidaklah mudah. Alasan utamanya, masalah Jakarta terlalu komplek.

Jakarta Terlalu Ruwet untuk Dihadapi Seorang Diri.

Jakarta bisa diibaratkan sebagai “ruang tamu” sekaligus “dapur” bangsa Indonesia. Ia adalah pajangan bagi dunia luar; tetapi sekaligus pusat bisnis bagi dunia dalam. Jakarta itu inti magnet kehidupan nasional. Di dalamnya bermain banyak sekali tangan-tangan yang berkepentingan. Ada pemda & pemkot, serta pejabat-pejabat mereka; ada pemerintah pusat dan departemen-departemen; ada BUMN dan swasta yang berkantor pusat disana; ada perusahaan swasta, pebisnis, pedagang dan seterusnya; ada media-media massa, baik cetak maupun elektronik; ada aparat keamanan dan hukum, yang juga punya kepentingan bisnis dan politik; ada asosiasi-asosiasi; ada partai-partai politik; ada masyarakat marginal; ada kepentingan negara-negara asing; ada jaringan perusahaan-perusahaan multi nasional, dan seterusnya dan seterusnya. Jakarta seperti “pasar tradisional” tempat bertemunya aneka macam jenis manusia, kepentingan, ambisi, serta tingkah-polahnya.

Pihak-pihak yang bermain di Jakarta ini bisa dikelompokkan menjadi 3 golongan: [1]. Kelompok mapan (settled). [2]. Kelompok oposisi yang anti kelompok mapan. [3]. Kelompok eksperimen yang berusaha keras mencari kemapanan.

Kelompok pertama adalah kalangan yang telah mendominasi Jakarta, dan sangat banyak mendapatkan keuntungan secara ekonomi, bisnis, finansial, politik, dan sosial. Kelompok ini punya kekuatan dana, power politik, media, serta agen-agen loyal yang selalu bekerja keras untuk mempertahankan dominasinya di Jakarta. Kelompok kedua adalah barisan siapa saja, terutama rakyat dan mahasiswa, yang ingin ada perubahan di Jakarta. Kelompok satu dan dua ini selalu berseteru. Jokowi disebut-sebut sebagai bagian dari “kelompok perubahan” ini; tetapi bisa juga dimaknai, dia disetir oleh kelompok pertama. Sementara kelompok ketiga, adalah kaum pragmatis-oprtunis yang terus mencari celah untuk menguasai Jakarta, dengan prinsip ekonomi: bermodal pengorbanan sekecil-kecilnya untuk meraup untung sebesar-besarnya.

Selagi kebijakan Jokowi tidak membahayakan kelompok pertama, dia akan dibiarkan aman, selamat, dan sentosa. Tetapi kalau sudah mulai mengganggu, Jokowi akan diserang dengan aneka macam senjata; mulai dari yang paling halus, semi halus, agak kasar, kasar, hingga sangat kasar. Tinggal pilih, mana selera yang cocok. Saya perhatikan, media-media tertentu sudah mulai gatel menjadikan Jokowi sebagai “sansak”; sebagaimana media-media lain berpura-pura bego atas kasus yang membelit Dahlan Iskan, sewaktu menjadi Dirut PLN.

Pertanyaan, di atas semua kenyataan ini, mungkinkah Jokowi bisa mengatur Jakarta sebaik-baiknya?

Kemunculan Jokowi di Jakarta, tidak lepas dari peranan sebagian politisi senior (di Gerindra dan PDIP); bukan agenda Jokowi sendiri; itu tandanya dia tidak mandiri, secara politik. Dengan keadaan demikian, bisakah Jokowi membereskan kompleksitas Jakarta dengan segala elemennya? Kalau secara hitung-hitungan teoritis, itu sangat sulit.

Tapi soal Jokowi akan bisa mengadakan perbaikan-perbaikan tertentu di Jakarta, insya Allah bisa, sebab beliau punya pengalaman. Namun jika berharap banyak padanya, untuk membereskan segala keruwetan Jakarta, rasanya sangat sulit. Kita seperti mengharap seekor tupai untuk mendorong truk trailer sampai ke pelabuhan.

Adapun Foke (Fauzi Bowo), secara umum dia punya pengalaman, 30 tahunan di birokrasi pemda/pemkot. Dia juga meraih gelar doktor dari Jerman. Dari sisi ini sudah bagus, sudah layak untuk jabatan selevel gubernur. Tapi pembawaan Foke kurang bagus. Sikap kepribadiannya cenderung arogan. Pencitraan dengan kumis tebal yang dipotong “kotak” itu, semakin menambah kesan arogansinya. Sementara masyarakat Indonesia kurang suka dengan sikap arogan. “Meskipun pintar, kalau arogan, kita gak suka. Meskipun bodoh, kalau ramah dan sopan, kita demen tuh.” Begitu kira-kira prinsip kultural masyarakat kita.

Kita jangan terlalu memberi beban ke pundak Jokowi, sebab kemampuan dia sangat terbatas dibandingkan masalah komplek yang ada di Jakarta. Mesti bersikap proporsional. Tetapi boleh juga berharap, dia akan melakukan perbaikan-perbaikan tertentu yang bersifat sektoral. Jakarta itu bisa berubah secara drastis, jika pola pikir (software), elit-elit dominator (processor), kesadaran umum masyarakat (motherboard), serta fasilitas fisik (hardware) Jakarta juga berubah.

Oke Pak Jokowi, selamat bekerja dan berjuang demi kebaikan hidup masyarakat Jakarta. Dan bagi rakyat Jakarta, para pengamat, para netters, dan seterusnya…jangan berhenti untuk berharap, bahwa: “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Amin.

(Blogadmin).

Iklan

Bertahan Hidup…

November 26, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini sebuah kejadian nyata, saya lihat di depan mata saya sendiri. Kejadian ini unik, lucu, tapi juga prihatin. Disini tergambar dengan jelas, betapa manusia mau melakukan apa saja (ikhtiar) untuk bertahan hidup…survive to life.

Ceritanya, suatu hari saya naik Metromini di Jakarta. Tujuannya ke sebuah stasiun kereta. Biasanya kalau naik angkutan ini jarang bisa dapat duduk. Tapi waktu itu bisa duduk, persis di belakang sopir.

“Ayo Semangat! Terus Usaha Ya! Okeh Bro…”

Kejadian yang saya saksikan ketika itu…

Pertama, sopir Metromininya memakai baju/kaos seperti biasa, tetapi dia memakai celana pendek, dengan motif belang-belang seperti corak pakaian TNI. Itu pun sudah kelihatan kumel. Aneh rasanya, ada sopir angkot di tengah ibukota hanya memakai celana pendek. Jujur saya merasa aneh.

Kedua, kenek pada Metromini itu ternyata isteri si sopir itu sendiri. Biasanya kenek kan kawan si sopir, atau anak buahnya. Tapi kali ini si kenek adalah wanita, dan ia adalah isteri si sopirnya sendiri. Mbak kenek itu memakai celana kaos ketat sampai selutut, pakaian atasnya juga kaos, ketat juga. Dalam hati…apa gak ada yang lebih sopan lagi?

Ketiga, lebih heboh lagi, di kursi terdepan, di samping si sopir, ada anak balita. Mungkin usianya sekitar 2-3 tahunan. Bocah balita perempuan itu rupanya merupakan anak dari si sopir dan keneknya. Bocah kecil ini, dengan dandanan ala kadarnya, sudah bergelut dengan asap dan debu jalanan, mendukung kerja orangtuanya. Di bagian dekat kaca depan, saya lihat ada bedak, pakaian untuk balita, dan sejenis perlengkapan bayi. Si sopir sering berkomunikasi dengan bocah balita itu, sebagaimana dia juga komunikasi dengan kenek-nya.

Keempat, sangat lucu kalau melihat tingkah Mbak si kenek, yang notabene adalah ibu dari balita itu dan sekaligus isteri dari si sopir. Kalau ada penumpang masuk Metromini, dia tak menyambut penumpang itu, tapi membiarkan mereka masuk sendiri ke dalam Metromini. Setelah penumpang pada masuk, ada yang duduk, ada yang berdiri. Setelah itu, si kenek akan mendatangi penumpang itu untuk menarik ongkos. Setelah menarik ongkos, dia bukan menjaga di pintu Metromini, tapi berpindah ke depan, untuk menemani bocah balitanya. Bocah itu kalau ditinggal sebentar oleh ibunya, sering teriak, “Mama, mama, mama….”

Jujur saya hanya tersenyum melihat keadaan seperti itu. Ya inilah Jakarta… Inilah cara manusia bertahan hidup. Terserah deh bagaimana saja caranya (layak atau tidak, lazim atau tidak), berapa pun hasil diperoleh; asal ada uang untuk beli susu adik bayi, untuk makan-minum, bayar kontrakan, bayar listrik, beli mie instan, beli pulsa…mengisi pulsa Blackberry, main Facebook, main Twitter, main Ipad, dan seterusnya

Apapun kenyataan, syukuri yang Allah berikan; selalu syukuri, meskipun ada saja sisi-sisi tertentu yang membuat kita tidak puas. Sering terjadi, sesuatu yang remeh/kecil dalam pandangan semula, ia menjadi begitu berharga di pandangan akhir. Syukuri ya syukuri… Minimal, Anda tidak harus bertahan hidup dengan cara-cara seperti di atas. Iya kan.

Mine.


Sebuah Kalimat Unik…

November 22, 2012

Ada Keunikan di Balik Pengalaman.

Ini termasuk di antara keunikan yang kita temukan dalam khazanah bahasa Indonesia kita. Dari pengalaman-pengalaman berbahasa, kita dapati keunikan itu. Tapi semua ini sifatnya rileks ya, tidak usah dianggap serius, ya lumayan untuk rehat sejenak…

Coba perhatikan kalimat di bawah ini:

Apa Umu, Ana, Aya, ama Nababan ada (di) Tebet malam ini, (cari) kodok, kapak, (dan) Sugus?

KETERANGAN: Makna kalimat ini kurang enak dibaca, tetapi ia tetap memiliki arti tertentu. Kata dalam kurung hanya sebagai penghubung saja, biar isi kalimat bisa dipahami; atau ia dianggap tidak ada. Sugus itu maksudnya permen merk Sugus. Pernah terkenal, tapi sekarang jarang iklannya.

Kalau Anda perhatikan kalimat di atas, apa keunikan kalimat itu? Anda bisa melihatnya? Kalau bisa, katakan sejujurnya…he he he. Kalau Anda menemukan kata-kata sejenis, silakan ditulis. Jujur, untuk menemukan kata-kata ini dan merangkai kalimatnya dibutuhkan pemikiran yang cukup “memeras otak”.

Oke, semoga berterima ya. Hatur nuhun. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Mine.


Mengelola Isu Wahabi di Mata Orang Awam

November 13, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tidak diragukan lagi, isu Wahabi sudah lama muncul. Buya Hamka rahimahullah pernah menulis seputar isu Wahabi di tahun 55-an, ketika menjelang Pemilu 1955. Waktu itu Partai Masyumi diidentikkan dengan Wahabi, lalu Buya Hamka memberikan penjelasan-penjelasan. Ternyata, sampai saat ini juga isu Wahabi masih dipakai dalam “permainan politik” seputar Pemilu dan Pilkada.

PKS sering diserang lawan-lawan politiknya dengan isu Wahabi ini. Sayangnya, mereka kurang bagus dalam diplomasi, seperti kasus Pilkada Jakarta kemarin, dimana PKS tidak mau dikaitkan dengan Wahabi; tetapi sembari memojokkan Wahabi juga. Cara begitu tidak benar.

Dalam hal ini ada kaidah dasar, yaitu:

Masyarakat Awam Cenderung Sensitif dan Simplisit. Perlu Komunikasi Khusus dalam Menghadapi Mereka.

[a]. Menjelaskan ke masyarakat awam tidak bisa dengan bahasa ilmiah, telaah mendalam, atau komparasi pendapat-pendapat. Bukan maqam mereka diajak berpikir dalam tataran ilmiah, apalagi akademik. Mereka perlu diberi penjelasan yang cespleng. Maksudnya, sederhana, tidak berdusta, tapi juga mudah mereka pahami.

[b]. Boleh saja siapa pun memiliki pendapat politik tentang Wahabi, atau bersikap kepadanya; tetapi jangan lalu memojokkan, jangan menyebarkan stigma (penodaan citra), jangan pula membohongi masyarakat. Hal-hal demikian bisa merusak ukhuwah dan persatuan ummat, serta mencerai-beraikan hubungan di antara sesama Muslim.

Nah, terkait upaya mengelola isu Wahabi di mata masyarakat awam ini, ada beberapa ide retorika diplomatis yang bisa disampaikan disini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Ketika seseorang, suatu lembaga, suatu partai, atau suatu gerakan ditanya: “Apakah Anda Wahabi atau bukan?” Jawabannya bisa positif, bisa negatif. Jawaban positif maksudnya meng-IYA-kan, jawaban negatif maksudnya men-TIDAK-kan. Kedua jawaban sama-sama boleh, tetapi argumentasinya harus baik dan tidak menyesatkan.

[2]. Atas pertanyaan di atas, bisa saja seseorang atau sebuah lembaga menjawab: “Ya, saya Wahabi. Jujur saya Wahabi.” Lalu dijelaskan: “Semua orang Indonesia Wahabi, sebab mereka kalau Haji dan Umrah ke negeri orang Wahabi. Mereka tinggal di hotel Wahabi, makan-minum di tempat orang Wahabi, memakai pesawat orang Wahabi, memakai bus dan jalan-jalan orang Wahabi, dan sebagainya. Kalau Wahabi tidak boleh, berarti orang Indonesia tak usah pergi Haji dan Umrah kesana.” Atau jawaban lain: “NU juga Wahabi. Sebab Ketua PBNU sekarang pernah 14 tahun sekolah di universitas Wahabi, di negeri Wahabi.”

[3]. Mungkin orang akan bertanya: “Tapi kan, Wahabi itu anti Tahlilan, anti Yasinan, dan anti Mauludan?” Jawabannya: “Orang Wahabi juga Tahlilan (maksudnya, membaca dzikir “Laa ilaha illa Allah”) setiap hari. Orang Wahabi juga Yasinan (maksudnya membaca Surat Yaasin, selain Surat-surat Al Qur’an lainnya). Orang Wahabi juga Mauludan (maksudnya, setiap tahun memperingati hari jadi negara Saudi).” Jawaban ini diberikan ketika sudah terpaksa sekali.

[4]. Mungkin orang akan mendebat lagi: “Tapi kan orang Wahabi menghancurkan kuburan-kuburan, rumah-rumah para Sahabat Nabi, dan sebagainya?” Lalu dijawab: “Itu dulu, dan terjadi di Arab sana. Kalau di Indonesia tidak ada yang begitu. Wahabi dulu beda dengan sekarang. Wahabi di Indonesia beda dengan di Arab.”

[5]. Bisa juga diberikan jawaban negatif seperti: “Bukan, kami bukan Wahabi.” Jawaban begini boleh, sebagaimana bolehnya seseorang mengaku diri sebagai bagian dari Wahabi. Tetapi kemudian tambahkan penjelasan sebagai berikut: “Kami bukan Wahabi, tapi kami juga bukan musuh Wahabi. Kita semua ini Muslim, kita bersaudara. Kita diperintahkan oleh agama untuk saling bersaudara, saling berkasih-sayang, dan bantu-membantu dalam kebaikan.”

[6]. Atau berikan jawaban yang sekaligus berisi nasehat: “Sudahlah jangan diungkit-ungkit masalah Wahabi atau non Wahabi. Kita semua ini Muslim. Kita bersaudara. Kita harus bersatu-padu, saling tolong-menolong. Jangan berpecah-belah dan jangan pula memberi kesempatan agar musuh memecah-belah kita semua.”

Intinya, berikan penjelasan yang bersifat mudah, argumentatif, meskipun ia bersifat simplisit (menyederhanakan masalah). Karena memang kadar pemahaman orang awam sulit untuk diajak memahami yang rumit-rumit.

Sebuah contoh, Pak Prabowo Subianto sering mendapat stigma: “Buat apa memilih presiden yang pembunuh?” Maksudnya, beliau dituduh terlibat sebagai dalang peristiwa Trisakti saat Kerusuhan Mei 1998. Bahkan pihak korban, aktivis LSM, juga kalangan media sangat mudah mengangkat isu Trisakti itu untuk membarikade Prabowo agar tidak menjadi Presiden RI. Sampai sejauh ini, tim Prabowo masih kesulitan mengatasi stigma-stigma itu.

Level berpikir orang kecil sangat mudah dipengaruhi hal-hal simplisit seperti itu. Maka ketrampilan komunikasi kita, perlu terus ditingkatkan. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Amin ya Rahiim.

(Abinya Syakir).


Jangan Sampai “Si Oneng” Jadi Gubernur Jawa Barat

November 11, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tadi malam, 10 November 2012 (bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan), KPUD Jawa Barat sudah menutup pendaftaran calon gubernur dan calon wakil gubernur Jawa Barat. Ada 5 pasangan calon yang siap bertarung dalam Pilkada Jawa Barat pada bulan Februari 2013 nanti. Mereka semua adalah: [a]. Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar; [b]. Dede Yusuf dan Lex Laksamana; [c]. Rieke Diah dan Teten Masduki; [d]. Yance dan Tatang Farhanul Hakim; [e]. Didik Mulyana & Cecep Toyib (jalur independen).

Analisis secara umum…

[A]. Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar: Ini gubernur yang menjabat selama ini. Ya ada kritik dan kekurangan-kekurangan tertentu pada kepemimpinan Ahmad Heriyawan; terutama terkait janji-janji yang lalu. Tetapi posisi Ahmad Heriyawan sangat diuntungkan dengan adanya kandidat-kandidat cagub-cawagub Jawa Barat 2013 yang tidak jelas dan mempunyai banyak masalah, terutama Rieke Diah Piataloka. Dengan kondisi ini, maka berlaku prinsip kedaruratan, atau “ilmu daripada“. Daripada kaum Muslimin Jawa Barat memiliki Rieke Diah (Si Oneng), lebih baik memilih Ahmad Heriyawan, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan tertentu. Di sisi lain, hasil-hasil kepemimpinan Ahmad Heriyawan selama ini, semakin kuat ditunjang oleh pamor Dedy Mizwar yang terkenal dengan sinetron PPT itu. (Tim sukses Ahmad Heriyawan sebenarnya tinggal manfaatkan saja artis-artis PPT untuk menggalang dukungan ibu-ibu, gadis-gadis, dan remaja putri di Jawa Barat…).

[B]. Dede Yusuf dan Lex Laksamana: Lex Laksamana tidak dikenal secara lokal Jawa Barat maupun di pentas nasional. Tapi dia pasti orang Pasundan asli. Mungkin komunitas atau kalangan tertentu mengenalnya, tetapi secara general kita tidak memiliki banyak record terkait nama Lex Laksamana ini. Dede Yusuf kita kenal, dia adalah artis, selebritis, sutradara film. Singkat kata, dia mantan selebritis dengan segala corak gaya hidupnya. Dede Yusuf selama menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, mendampingi Ahmad Heriyawan, nyaris “tidak ada bunyinya”. Maksudnya, dia hanya menjadi pejabat yang “duduk di kursi saja”. Tidak jelas apa karya dan kontribusinya bagi kehidupan rakyat Jawa Barat.

Belum juga masuk musim pilkada, Dede Yusuf sudah kelihatan “keburu nafsu” ingin nyalon untuk posisi gubernur pada Pilkada 2013. Untuk posisi wakil gubernur saja belum jelas, sudah mau masuk arena calon gubernur. Kesalahan utama disini, ialah Dede Yusuf mau dikendalikan oleh orang-orang partai yang berbisik kepadanya. “Pak Dede Yusuf, ketimbang jadi wakil gubernur, cuma kebagian cuci-piring saja, mending Bapak nyalon jadi gubernur saja untuk Pilkada 2013. Dijamin Bapak akan sukses. Bapak kan kelihatan muda, gagah, ganteng…yakin deh mojang-mojang dan ibu-ibu Priangan akan kesengsem,” begitu mungkin bisikan-bisikan maut yang dilantunkan ke telinga Dede Yusuf. Karena sudah kesenengan mendengar bisikan begitu, Dede Yusuf lupa posisinya sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat. Kita nih kan mau pilih gubernur, pemimpin rakyat, bukan untuk mengisi sinetron atau film; ya pilih yang bisa memimpin, punya ilmu; jangan pilih yang cuma modal tampang dan akting.

[C]. Rieke Diah Pitaloka dan Teten Masduki: Teten Masduki dikenal sebagai aktivis ICW. Dia salah satu sarjana lulusan IKIP Bandung (UPI) yang sering dielu-elukan oleh almamaternya. Di bidang LSM, membuat isu-isu, share data dengan aneka user dan supplier data, ya Teten punya track record disana. Tapi dari sisi pengalaman di bidang birokrasi, dia tidak memiliki kecakapan apa-apa. Kalau tidak salah, dalam kepengurusan ikatan alumni IKIP Bandung, yang Teten beraktivitas disana, juga ada masalah-masalah. Untuk lebel organisasi “IKA” begituan saja sudah ada masalah, apalagi level gubernur. Mau dibawa kemana bangsa ini? (Halah, pakai bergaya kayak di iklan-iklan “kebangsaan”). Di bidang pemberantasan korupsi, juga nggak bagus-bagus amat. Namanya juga LSM, seperti model ICW, LBH, Kontras, YLKI, dan sejenisnya… Ya paling-paling kongkow dengan wartawan, bikin pernyataan pers, pura-pura mengeritik rezim; tapi nanti kalau diberi order penelitian, order survey, diberi anggaran ini itu, mau juga. Ya dunia LSM-lah…kita tahu itu. LSM, media massa, dan rezim berkuasa itu tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan.

Buku Puisi Karya Rieke Diah Piataloka. Rakyat Jawa Barat Mau Diajak Berbudaya Kloset Gituw?

Adapun Rieke Diah…ya kita tahu, dia pemeran Si Oneng dalam sinetron tempo hari. Rieke Diah punya catatan panjang di mata gerakan-gerakan Islam dan para aktivis dakwah. Pemikirannya yang liberal, sering mendukung agenda-agenda kaum hedonis (seperti gerakan anti RUU APP), gaya hidupnya yang gak jelas, corak berpikirnya yang nyeleneh. Semua itu, sangat kontraproduktif dengan kultur masyarakat Jawa Barat yang terkenal religius dan santri. Rieke Diah itu pernah menulis buku puisi, dengan judul: RENUNGAN KLOSET. Diterbitkan PT. Gramedia Utama, tahun 2003. Katanya, selama merenung di kloset, Rieke merasa sering mendapat inspirasi-inspirasi. Padahal kita saja nih…kalau mau masuk WC harus berdoa: Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits (ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan). Saat di WC tidak boleh berdzikir, tidak boleh baca ayat atau hadits, bahkan tidak boleh menjawab salam (kecuali dalam hati). Lha, kok dia malah mencari ilham di tempat begituan. Itu jelas bukan ilham Ilahi, tetapi ilham syaithoni.

Rieke dan Teten ingin mengulang sukses Jokowi-Ahok. Sebenarnya beginilah Pak dan Ibu… Kesalahan terbesar Foke kemarin, adalah ketika baru awal-awal kampanye sudah menyerang Wahabi. Ini kesalahan terbesar Foke kemarin. Banyak elemen-elemen Islam yang berlatar-belakang Wahabi (Muslim modernis) tidak terima dengan sikap dia itu. Akhirnya, dukungan kaum Muslimin kepada Foke terbelah-belah. Ya salah sendiri… Karena kesalahan strategi Foke itu, membuat pasangan Jokowi akhirnya tidak mendapat lawan yang berarti. Jokowi tidak mendapat perlawanan frontal dari kalangan Wahabi.

Kalau Ahmad Heriyawan ingin mengulang kesalahan Foke, silakan masuk ke isu Wahabi. Silakan masuk ke isu Wahabi, silakan menyerang Wahabi; dan yakinlah setelah itu Anda akan mendapat perlawanan yang jauh lebih sengit. Tetapi kalau Ahmad Heriyawan bersikap manis, tidak mengangkat isu pertikaian ummat Islam; insya Allah dia akan mendapat kemenangan (dengan izin dan pertolongan Allah). Seminimalnya, kalau Aher-Dedy kalah, ummat Islam masih bisa memilih Dede Yusuf-Laksamana; dan jangan sekali-kali memilih “wanita kloset” itu.

[D]. Irianto MS Syafiudin (Yance) dan Tatang F. Hakim: Pasangan ini didukung oleh Golkar. Ini adalah pasangan yang sudah memperlihatkan permusuhannya kepada Wahabi. Dalam orasinya beberapa waktu lalu di Bandung, Yance ini secara provokatif menyerang Wahabi. Mungkin dia ingin mengambil pelajaran dari kemenangan Foke pada Pilkada Jakarta tahun 2007 ketika itu Foke berhasil mengalahkan pasangan Adang-Dany. Dengan cara yang sama, Yance ingin mengalahkan Ahmad Heriyawan. Mengangkat isu Wahabi, selain memecah-belah Ummat Islam; juga berarti menentang orang-orang yang komitmen dengan ajaran Islam. Ya intinya, pasangan Yance ini perlu dimasukkan “kotak” lebih dulu.

[E]. Didik Mulyana dan Cecep Toyib. Pasangan ini dari jalur independen, kurang dikenal secara luas. Ya kita tidak banyak tahu tentang sosok pasangan ini. Apakah dia “Bang Toyib” yang tidak pulang setelah “tiga kali lebaran”…kita tidak tahu. Ya selama proses dan prosedurnya terpenuhi, ya otomatis yang bersangkutan ikut dalam even Pilkada. Posisi pasangan ini sebenarnya lebih sebagai “ujian hati” bagi pasangan Ahmad Heriyawan dan Dedy Mizwar. Sebagai incumbent dan punya potensi kemenangan besar; apakah para pendukung Aher-Dedy akan bersikap sombong ke pasangan “unyu-unyu” ini? (Maksudnya, unyu-unyu secara politik lho ya… Kalau secara riil di masyarakat, kami tidak tahu).

Okeh pemirsa…(halah, sok bergaya ala Bang Haji). Jadi intinya, rakyat Jawa Barat ke depan janganlah memilih pasangan Rieke Diah dan Teten Masduki. Sosok Rieke itu sangat tidak layak untuk menjadi seorang gubernur sebuah provinsi besar, seperti Jawa Barat ini. Kebencian dia kepada nilai-nilai moral religius membuat kita curiga ada agenda tertentu di ambisi PDIP untuk memposisikan dia sebagai Calon Gubernur Jawa Barat. Aneh, di PDIP seperti gak ada orang saja? Wanita berkarakter “Oneng” begitu kok ingin didaulat sebagai seorang gubernur, apalagi untuk provinsi yang rakyatnya berkarakter religius seperti Jawa Barat.

Idealnya, rakyat Jawa Barat memilih Ahmad Heriyawan; dengan segala kekurangan-kekurangan yang ada, dia tetap memiliki sekian kebaikan dan prestasi. Kepemimpinan dia selama ini cukup lumayan, untuk standar seorang gubernur di Indonesia. Paling darurat, kalau Ahmad Heriyawan tidak masuk, pilihlah Dede Yusuf dan Laksamana. Pokoknya, jangan memilih Rieke… Nanti kehidupan rakyat Jawa Barat bisa dibawa ke arah budaya liberal dan bernuansa kloset.

Sakitu wae nu tiasa diseratkeun, hatur nuhun ti sadaya perhatosanana. Alhamdulillahi Rabbil alamiin.

(Mine).


13 Kesalahan Terbesar Dahlan Iskan

November 9, 2012

Tanggal 5 November 2012, Dahlan Iskan datang ke BK DPR untuk melaporkan 2 nama anggota DPR (Idris Laena dari Golkar, dan Soemaryoto dari PDIP) dalam kasus dugaan pemerasan terhadap 3 BUMN. Sedianya, akan menyusul pelaporan 8 nama lain. Kemudian pada 7 November 2012, Dahlan Iskan mengirimkan utusannya (Kepala Biro BUMN, Hambra) untuk menyerahkan surat yang isinya 6 nama anggota DPR yang juga diduga melakukan pemerasan.

Dalam surat di atas Dahlan menjelaskan kronologi modus pemerasan yang dilakukan anggota-anggota DPR. Isi surat sekitar 2-3 lembar kertas. Karena sedikitnya data, sebagian anggota DPR menganggap omongan Dahlan Iskan itu hanya sampah belaka.  Bahkan Marzuki Alie bersiap melaporkan Dahlan ke presiden, kalau dia hanya asal tuduh, dengan tidak memberikan bukti-bukti kuat. “Kalau ternyata fitnah, kami akan membuat surat ke presiden bahwa Pak Dahlan Iskan menuduh anggota DPR tanpa bukti dan fakta,” kata Marzuki Ali (Warta Kota, 8 November 2012, hlm. 11).

Uang BUMN Puluhan Trilun Dibuang-buang dalam Perjudian Manajemen yang Sangat Mengerikan.

Terkait manuver-manuver Dahlan Iskan ini, setidaknya ada 13 kesalahan besar yang dia lakukan. Disini kita akan sebutkan kesalahan-kesalahan itu, berikut pendapat tokoh, jurnalis, serta perbandingan data.

[1]. Dahlan Iskan tidak segera melaporkan kasus pemerasan ke aparat hukum. Menurut Ketua MK, Mahfud MD, Dahlan telah melanggar kewajiban (prosedur) hukum. Mahfud berkata, “Menurut saya, Dahlan melanggar kewajiban hukum.” Mahfud menjelaskan, Dahlan Iskan katanya mengetahui ada tindak pemerasan, mengapa dia tidak segera melapor ke aparat hukum (kepolisian)? Mengapa justru melapor ke BK DPR? Padahal lembaga itu hanya mengurusi masalah etika ke-DPR-an. Individu harus taat hukum dan tunduk pada aturan di dalamnya. Jika warga negara tahu ada kejahatan, dia wajib lapor ke aparat. (Republika, 7 November 2012, hlm. 10).

[2]. Dahlan Iskan lebih memilih koar-koar di media. Dalam artikel di Republika, berjudul “Ingin Jadi Seperti Jokowi”, hasil tulisan EH Ismail, dia mengkritik langkah Dahlan Iskan yang cenderung berkoar-koar di media. “Saya hanya sedikit ingin mengkritik langkah Dahlan Iskan yang lebih memilih koar-koar di media dan “hanya” berbicara kepada BK DPR terkait anggota dewan pemeras. Kalau memang dia mengetahui secara pasti orang yang mencoba memeras BUMN, ya laporkan saja ke KPK. Ini masalah hukum,” tulis EH. Ismail. (Republika, 7 November 2012, hlm. 10).

[3]. Dahlan Iskan tidak membawa bukti materiil terkait tuduhan pemerasan BUMN oleh anggota DPR. Dalam pertemuan dia ke BK DPR pada 5 November 2012, dan surat yang dikirimkan ke BK DPR tanggal 7 November. Di dalamnya Dahlan Iskan tidak membahas soal bukti-bukti materiil pemerasan. Tetapi hanya menyebutkan nama anggota DPR dan kronologi peristiwa pemerasan. Surat Dahlan sendiri hanya 2-3 lembar halaman, sehingga ia dianggap sebagai “data sampah”. Akbar Faisal dari Hanura berkata, “Saya takutnya kita mengembangkan informasi yang tidak jelas. Jadi saya menganggap info ini sampah. Lebih bagus Pak Dahlan bawa bukti ke KPK.” (Dahlan Iskan Informasinya Hanya Kertas Gombal, Voa-islam.com, 8 November 2012).

[4]. Masalah pemerasan bukan isu baru, tetapi sudah seperti mendarah-daging di negeri ini. Tentu kita menolak cara-cara pemerasan itu, apapun motif dan modusnya. Tetapi kalau menjadikan masalah itu sebagai OPINI BESAR rasanya terlalu aneh. Masalah pemerasan begitu sudah lagu lama, banyak ceritanya, dan terjadi di berbagai bidang kehidupan. Ada pemerasan anggota DPR, ada pemerasan aparat polisi/TNI, ada pemerasan partai politik, ada pemerasan para purnawirawan, ada pemerasan oleh LSM, ada pemerasan oleh preman, ada pemerasan oleh wartawan “bodrex”, ada pemerasan oleh orang yang mengaku sebagai anggota KPK, ada pemerasan oleh ini dan itu. Maksudnya, kalau masalah begitu dijadikan MENU UTAMA, maka kita seperti orang yang tidak pernah mendengar berita pemerasan sama sekali. Seolah, sebelum Dahlan bicara, di Indonesia tidak ada modus-modus seperti itu.

Dirut RNI, Ismed Hasan Putro, notabene adalah anak buah Dahlan Iskan; dia tak berani memastikan bahwa tindakan anggota DPR itu merupakan pemerasan. Ismed mengatakan, aksi si anggota DPR itu merupakan modus umum ketika meminta ke BUMN. “Tidak, tidak ada (paksaan permintaan). Yang saya sampaikan dari awal sebetulnya kan sangat sederhana. Itu kan modus, salah satu modus yang sebetulnya sudah menjadi rahasia umum,” kata Ismed Hasan Putro (Republika, 6 November 2012, hlm. 11).

[5]. Dahlan Iskan berusaha mengalihkan fokus masalah, dari inefisiensi di tubuh PLN selama 2009-2010 yang merugikan keuangan BUMN hingga 37,6 triliun, ke isu pemerasan anggota oleh anggota DPR. Sesuai audit BPK, kerugian di PLN sudah terjadi, dengan nilai inefisiensi (buang-buang anggaran) senilai sekitar 18 triliun tahun 2009, dan sekitar 19,5 triliun pada tahun 2010. Mestinya, Dahlan fokus dan gentle bertanggung-jawab atas temuan BPK itu. Bukan malah membuat opini-opini yang bersifat mengalihkan isu ke masalah lain. Tidak masalah ada isu pemerasan, tetapi MAIN CASE Anda harus dihadapi secara laki-laki, bukan secara cewek. Katanya manajer handal, kok mengalihkan isu?

[6]. Kerugian negara dalam masalah inefisiensi PLN amat sangat besar, hingga mencapai 37,6 triliun rupiah. Ia bisa senilai 5 kali Mega Skandal Bank Century yang merugikan negara senilai 6,7 triliun rupiah. Kalau untuk Bank Century ini DPR bisa mengadakan sidang paripurna, maka untuk kasus PLN, mestinya DPR bisa mengadakan sidang pari-pari-pari-pari-purna-nananana. Karena saking paripurnanya. Bangsa Indonesia harus meminta pertanggung-jawaban Dahlan Iskan terkait masalah ini. Jangan biarkan dia lolos, sebab nanti keuangan negara akan dihambur-hamburkan oleh para pejabat dengan seenak udelnya sendiri. Kalau kerugian di PLN ini dibiarkan, waduh benar-benar bakal ancur negara ini. Na’udzubillah min dzalik.

[7]. Dahlan Iskan begitu meremehkan kerugian keuangan negara (BUMN). Hal itu tercermin dari kata-kata dia sendiri. “Benarkah BPK menemukan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun saat saya jadi Dirut-nya? Sangat benar. Bahkan, angka itu rasanya masih terlalu kecil. BPK seharusnya menemukan jauh lebih besar daripada itu,” tulis Dahlan Iskan. Lihat, Temuan Inefisiensi yang Mestinya Melebihi Rp. 37 Triliun (dahlaniskan.wordpress.com). Hal ini menunjukkan, bahwa Dahlan Iskan begitu meremehkan keuangan negara. Seolah rugi 1, 2, 3 triliun tak masalah; rugi 37 triliun tak masalah; bahkan mestinya rugi sampai 100 triliun, kata dia. Ini adalah corak manusia bebal yang tidak memiliki sensitivitas, sok merasa pintar, sok paling visioner, sok paling “leadership”, dan sangat tidak empati dengan penderitaan finansial masyarakat luas. Manusia macam begini mestinya jangan sekali-kali didekatkan kepada jabatan negara. Bisa hancur negara ini.

Baca entri selengkapnya »


Dahlan Iskan Sebagai Dagelan, Monster, atau Panutan?

November 1, 2012

(Revised Edition).

Belum lama lalu, saya menerima sebuah SMS yang isinya cukup membuat dahi berkerut. SMS saya terima tengah malam, sekitar jam 01.15 malam, pada 1 November 2012. Bunyi SMS itu adalah sebagai berikut (setelah diedit dan disesuaikan dengan media blog):

“Uang rakyat 37 triliun dibuat main-main sama Dahlan Iskan. Budi Rahman Hakim menghilang. Kantornya di Gandaria City lantai 16 sudah bersih! Dengan mudah juga Dahlan mengalihkan substansi masalah yang dihadapinya (KKN 37 triliun di PLN) menjadi isu pemerasan DPR. Jadi skenario kasus “KPK Vs Polri” diulang lagi. Dia kaya karena Jawa Pos, sementara karyawan tetap sengsara. Dia (mau) jadi presiden, bangsa ini akan diprivatisasi! Anteknya Dahlan: Budi Rahman Hakim, Direktur Jawa Pos Grup, mengatur pergantian direksi BUMN. Bagi orang yang tak ngerti konstitusi seperti dia (Dahlan), jalan satu-satunya ya mainkan media, dan anteknya ialah: Detik.com, Jawa Pos, dan Tempo, untuk menggambarkan dia sebagai DIZHALIMI oleh DPR!”

Ketika Negara di Bawah Kekuasaan Para Badut (Pemuja Syahwat).

Setelah dimuat SMS ini, saya sampaikan ke narasumber, bahwa SMS-nya sudah dimuat di blog. Ternyata, dia mengirim tambahan-tambahan SMS baru. Lebih panjang lagi. Setelah saya baca, disana ada data-data yang terkait dengan SMS pertama. Setelah dipotong disana-sini, memenuhi masukan pembaca, isi SMS itu sebagai berikut:

Di audit BPK terlihat Dahlan Iskan memang menerima gaji dan semua fasilitas PLN. Jadi tidak benar bila dia tidak mengambil gaji atau fasilitas PLN. Total kerugian negara 37,6 triliun. Ini adalah akumulasi dan kombinasi kesalahan manajemen, leadership, fungsi, dan strategi Dirut PLN (waktu itu Dahlan Iskan). Mekanisme kontrol di PLN berada pada titik terendah dan nyaris tidak ada, saat Dahlan Iskan jadi Dirut PLN. Internal audit dan Serikat Pekerja lumpuh. BPK juga menemukan inefisiensi dalam pemberian gaji dan renumerasi karyawan PLN yang berlebihan dan tidak sesuai dengan keuangan PLN. Di awal kepemimpinan Dahlan Iskan banyak masukan dari staf dan bawahan Dahlan Iskan mengenai kerugian PLN/negara ini, tapi selalu diabaikan.” (Selesai).

Isi SMS demikian sebenarnya tidak terlalu heboh, sebab kita sudah biasa membaca analisa demikian di media, tulisan-tulisan, atau forum-forum diskusi. Lagi pula, saya hanya sebatas menyalin dan memperbaiki sedikit redaksi SMS di atas. Kalau misal ada menteri/pejabat negara tidak mau mendapat analisa demikian, ya sebaiknya jangan jadi pejabat negara.

Tapi yang jelas, in general meaning, kita sangat membenci elit-elit nasional yang bermental bangsat. Mereka itu bobrok moral, khianat, hedonis sejati, memuja syahwat dan kekuasaan. Orang seperti itu kalau berkuasa sering dipuja-puja sebagai: pemimpin masa depan, harapan bangsa, sosok pendobrak, bapak kemajuan, pemimpin dengan visi ke depan, pahlawan pembangunan, manajer handal, dan seterusnya. Kasihan amat rakyat negeri ini. Tak henti-hentinya mereka diperdaya oleh dagelan, badut-badut kekuasan, serta monster-monster perusak kehidupan. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum fid dini wad dunya wal akhirah.

Menghadapi elit-elit sekuler, maniak hedonis, jangan ada rasa belas kasihan. No mercy for life destroyers! Manusia-manusia seperti itu menjadi sumber kehancuran kehidupan masyarakat, bangsa, agama, dan kehidupan.

Mine.