Kemana Pasca Trauma ISIS…

Juli 1, 2015

* Jihad Fi Sabilillah tak bisa dilepaskan dari sifat rahmat (kasih sayang) kepada sesama Muslim, maupun ke segenap alam semesta. Karena tujuan hakiki Jihad ialah untuk MENJAGA KEBAIKAN HIDUP INSAN. Jihad bukanlah untuk penjajahan, eksploitasi, atau penyiksaan sesama. Jihad adalah menebarkan rahmat.

* Faktanya, sebagaimana diungkapkan oleh para ahlinya, Jihad merupakan amanat yang sangat berat. Berat dalam segala keperluan yang dibutuhkan; berat untuk perbekalan dalam jangka waktu lama; berat untuk membina kehidupan setelah masa Jihad selesai; berat untuk memulihkan kembali persaudaraan, hubungan baik, serta harmoni di antara pihak-pihak yang telah bertikai. Di sisi lain, Jihad juga SANGAT BERAT untuk mempertahankan sikap tetap BERAKHLAKUL KARIMAH saat sedang berperang.

* Teringat contoh dekat, pengakuan sebagian mantan Laskar Jihad di era konflik Ambon-Maluku dulu. Mereka dengan terang-terangan mengakui, betapa beratnya mengemban amanat Jihad ini. Pemuda yang biasanya pengajian, majelis taklim, tiba-tiba harus berurusan perang. Terjadi kontraksi psikologis yang tidak sederhana.

* Kami sangat mengkhawatirkan para pemuda Islam yang saat ini menggebu mendukung ISIS, apapun bentuk dukungannya. Dukungan seperti ini sangat potensial akan membuahkan ARUS BALIK yang tidak terdefinisikan wujudnya. Bila kini mereka mendukung Jihad versi ISIS, bagaimana jika nanti terbukti gerakan ISIS menyimpang jauh dari kebenaran, lalu mengalami penghakiman oleh publik dunia? Siapkah mereka menerima kenyataan seperti itu?

* Mungkin saja ada yang sangat “bandel” dalam loyalitasnya, sehingga apapun keadaan tak akan membuat mereka goyah. Bagaimana jika mereka tidak siap, lalu berbalik membenci Jihad Fi Sabilillah itu sendiri? Bukankah hal itu akan menjadi kerugian sangat besar bagi Islam, dan utamanya bagi orang-orang tersebut sendiri.

* Sangat mengerikan bila mendengar sebagai orang menyebut ISIS dalam skala strategi “sarang lebah”. Di buat sebuah zona “Daulah Islam”, untuk mengundang datangnya para relawan Jihad dari segala penjuru negeri, agar berkumpul di zona itu. Sedangkan di sana tidak ada wujud “Daulah Islam” itu selain hanya “pencitraan online”. Jika demikian, betapa berbahayanya nasib ribuan relawan Muslim tersebut. Hendak ke mana mereka? Apa yang akan mereka kerjakan di sana? Lalu bagaimana nasib mereka?

* Hanya kepada Allah Ta’ala kita berlindung diri, memohonkan keselamatan dan ‘afiyat. Memintakan perlindungan, penjagaan, dan selamat lahir batin, dalam urusan dunia dan akhirat. Amin Allahumma amin.

(Shadow).

Iklan

Imam Al Albani dan Jihad

Mei 11, 2015

>> Beliau sering dikritik tentang Jihad. Tapi tak ada salahnya kita lebih BIJAK memahami pendapatnya.

>> Smula saya ikut mengkritik juga, tapi kemudian merasa LEBIH BAIK bersikap BIJAK. Tentu posisi saya sekedar pengamat, bukan ulama.

>> Dua pendapat Imam Al Albani yang sering dikritik: a. Jihad harus ada imam terlebih dulu; b. Para pejuang Palestina hendaknya hijrah dulu keluar dari Palestina, lalu susun kekuatan untuk melawan Zionis Israel.

Sikapi Ulama dengan BIJAKSANA

Sikapi Ulama dengan BIJAKSANA

[1]. Dari dua pendapat di atas sebenarnya ada BUKTI bahwa beliau setuju dg Jihad tanpa imam. Buktinya beliau dukung perlawanan kontra Zionis, tanpa mensyaratkan ada imam dulu.

[2]. Kalau mau jujur, bicara dalam level Syariat Islam, namanya JIHAD FI SABILILLAH, memang harus ada imam. Jihad Nabi Saw, Khulafaur Rasyidin Ra, imam-imam kaum Muslimin, MAYORITAS bersama imam. Mungkin Imam Albani berpijak di sini.

[3]. Tapi BUKAN BERARTI Jihad membela diri, meski tanpa imam, dianggap tidak boleh. Tentu bukan begitu. Sebab riwayat-riwayat banyak berbicara, keutamaan membela harta, jiwa, agama, kehormatan. Pastilah Imam Albani tahu riwayat-riwayat itu.

[4]. Terkait Jihad di Palestina, hal ini membuktikan bahwa beliau dukung Jihad membela diri. Dalam satu fatwa tentang bom ISYTIHAD, beliau juga dukung, dengan syarat atas perintah imam/komando Jihad. Bagaimana tidak mendukung, beliau dan keluarga keluar dari Albania karena agresi kaum komunis -laknatullah ‘alaihim-.

[5]. Saat beliau fatwakan Muslim Palestina hijrah, tentu bukan agar mengosongkan negeri agar Zionis leluasa menguasainya. Tapi mengeluarkan sebagian pejuang agar bisa MEMPERKUAT DIRI di wilayah aman. Setelah kuat, balik lagi ke Palestina untuk melawan Zionis. FAKTANYA, dengan atau tanpa fatwa itu, para pejuang Palestina membangun kekuatan di luar wilayah Palestina Israel. Itu sudah dilakukan dan banyak.

>> BILA ada kekurangan-kekurangan pada fatwa JIHAD Syaikh Al Albani, mungkin karena beliau “kurang mahir” dengan dunia Jihad di lapangan. Tak ada salahnya memaklumi.

>> UNTUK ulama sekaliber beliau, kalau kita tidak mau memberi ‘udzur, lalu siapa lagi yang akan selamat? Wallahi, kita perlu bersikap bijak kepada pelayan-pelayan Sunnah Nabawiyah.

Wallahu a’lam bisshawab.

(WaterFlow).


[08]. Perang di Zaman Nabi

Februari 16, 2013

Perang (battle) di masa Nabi Saw ada dua jenis: defensif dan ofensif. Defensif, berarti mempertahankan wilayah teritorial Islam dari serangan militer musuh dari luar. Perang Badar, Uhud, dan Khandaq, termasuk jenis perang defensif. Sedangkan perang ofensif, ialah bergerak keluar melakukan serangan ke wilayah musuh. Perang Hunain, Khaibar, dan Fathu Makkah termasuk jenis perang ofensif. Kedua jenis perang ini ada di zaman Nabi Saw.

Perang di masa Nabi bukan semata merupakan peristiwa kontak fisik belaka. Tidak demikian. Perang-perang ini rata-rata telah didahului oleh jenis-jenis perang lain, yaitu: perang ideologi, perang pemikiran, perang politik, perang ekonomi, perang budaya, perang simbol, hingga perang informasi. Jadi, perang fisik merupakan stadium terakhir dari rentetan panjang konflik.

Banyak orang salah menilai. Mereka beranggapan, kalau seseorang sudah bisa berteriak takbir, mengacungkan telunjuk jari (simbol Tauhid), bisa salto dan memakai rompi mujahid, bisa mengoperasikan AK47; itu pertanda dia telah siap terjun Jihad Fi Sabilillah. Perang di masa Nabi tidak se-simple itu. Jihad Fi Sabilillah merupakan resultan (hasil akumulasi) dari konflik menyeluruh di segala lini kehidupan. Maka Jihad itu merupakan jalan terakhir ketika konflik ini tidak menemukan kata solusi, selain dengan adu kekuatan fisik.

Misalnya, Perang Badar. Perang ini didahului oleh konflik keyakinan antara Tauhid dan paganisme di Makkah; juga didahului pemboikotan ekonomi kaum musyrikin terhadap ummat Islam dan Bani Hasyim; didahului konflik simbol-simbol sosial; didahului konflik kepemimpinan dan perubahan prngaruh politik; bahkan didahului perang informasi (saling memata-matai).

Perang: Solusi Terakhir untuk Membela Tauhid.

Perang: Solusi Terakhir untuk Membela Tauhid.

Perang atau battle, ia memiliki makna umum. Ia bisa berupa perang apa saja. Tetapi perang dalam konteks Jihad Fi Sabilillah, berbeda dengan perang secara umum. Jihad Fi Sabilillah adalah bentuk perang peradaban, antara peradaban Tauhid dengan selainnya. Ia bukan semata-mata bentrokan fisik, tembak-tembakan peluru, atau lempar-lemparan mortir. Tidak sesederhana itu.

Perang adalah jenis solusi konflik paling ekstrem, dengan sederet resiko dan dampak madharatnya. Tetapi Islam akan bertanggung-jawab penuh atas segala resiko itu, jika ia benar-benar merupakan Jihad Fii Sabilillah. Tetapi jika perang itu terjadi karena ketergesaan, sikap premature, menuruti hawa nafsu dan dendam, serta sikap mentang-mentang; maka Islam berlepas-tangan atas berbagai masalah yang timbul disana.

Minimal pahamilah, perang dalam Islam masih satu rangkaian dengan konflik-konflik di bagian lain. Ia tidak berdiri sendiri. Kontak fisik tak ubahnya seperti “puncak gunung es” di atas sekian banyak hakikat konflik yang terjadi. Bahkan sejatinya, perang itu merupakan pembuktian akhir: siapa pemenang sejati dari konflik keyakinan yang ada?

Perang bukanlah simbol sosial, atau icon public yang perlu kita gembar-gemborkan; karena di balik perang itu ada sekian banyak resiko sosial yang mesti ditanggung. Lagi pula, agama kita diturunkan ke bumi bukan untuk mengobarkan api peperangan; tetapi untuk menyebarkan hidayah dan rahmat. Tetapi jangan pula kita lengah untuk selalu mempersiapkan diri, bila-bila suatu masa agama memanggil putra-putra terbaiknya untuk terjun dalam kancah battle to help Tauhid.

Betapa indah sebuah hikmah Nubuwwah: “Janganlah kalian berangan-angan ingin bertemu musuh. Namun jika musuh sudah di hadapan, janganlah kalian lari.” []


Keagungan Mujahidin Islam

Oktober 18, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ikhwan dan akhwat, semoga Allah selalu membimbingmu dalam kebaikan. Amin.

Saat ini kita harus mencatat dan membukukan sebuah FAKTA SEJARAH yang sangat menakjubkan. Fakta ini sangat nyata dan jelas, tetapi sebagian besar kita lalai untuk mengingatinya. Pemikiran-pemikiran kritis seperti layu saat membidik persoalan ini. Apalagi kaum anti Islam (di seantero dunia) berusaha mati-matian menutupi fakta tersebut. Menjadi tugas kita untuk menyampaikan kebenaran ini, dan tidak menyembunyikannya. Bahkan menjadi tugas kita untuk menyampaikan BARAKAH BESAR ini ke tangan anak-anak kita.

Semua ini adalah berkaitan dengan sifat-sifat agung Mujahidin Islam yang terjun di medan perang, demi membela dan menjaga agama Allah Ta’ala yang mulia. Mereka berperang atau diperangi, mereka membunuh musuh atau terbunuh, dalam kafilah Jihad Fi Sabilillah yang senantiasa menghiasai kehidupan insan di bumi ini. Merekalah para hizbullah (tentara Allah) yang telah mendermakan hidupnya untuk menjaga agama-Nya.

Jihad Fi Sabilillah Telah Mengalahkan Dua Adidaya Dunia: Uni Soviet dan Amerika Serikat!!!

Melalui blog sederhana ini, kita ingin merekam barakah agung tersebut. Dan diharapkan, kaum Muslimin yang lain juga mencatat hal ini, mengingatinya, serta membanggakannya sebagai warisan besar peradaban Islam.

[1] Kalau Anda ditanya, “Negara mana yang menguasai dunia Pasca Perang Dunia II?” Jawabnya pasti: Amerika Serikat dan Uni Soviet. Mereka adalah dua negara adidaya yang telah merajalela di dunia, setelah berakhir perang dunia yang dimenangkan oleh Sekutu itu.

[2] Kemudian pertanyaan itu dilanjutkan, “Lalu bagaimana keadaan Uni Soviet dan Amerika Serikat saat ini?” Jawabnya juga jelas: Uni Soviet sudah bubar tahun 1989 lalu, kini bergantu menjadi Federasi Rusia dan negara-negara mandiri di Asia Tengah, seperti Uzbekistan, Turkemistan, Tajikistan, dll. Singkat kata, Uni Soviet sudah habis. Sedangkan Amerika Serikat menjadi The Globo Cop (polisi dunia), pasca kehancuran Uni Soviet. Amerika merajalela, menguasai dunia, dan bebas memaksakan kepentingan-kepentingannya. Namun sejak 2008-2009 lalu (hanya berselang 10 tahun setelah Uni Soviet bubar), Amerika menderita krisis ekonomi sangat mengerikan. Kini negara itu terseok-seok, tercabik-cabik, dan sedang menggali kuburnya sendiri.

[3] Pertanyaan berikutnya, “Mengapa Uni Soviet hancur? Dan mengapa pula Amerika hancur? Apa yang membuat dua negara adidaya tersebut berkeping-keping?” Perlu diketahui, kehancuran internal bangsa Amerika saat ini sangat serius. Dengan cara apapun mereka susah diselamatkan, karena kehancuran itu terjadi secara sistematik, melibatkan birokrasi yang korup, mafia bisnis yang merajalela, serta kehancuran modal dan budaya masyarakatnya. Bisa dipastikan, Amerika akan tenggelam di masa-masa ke depan.

Mengapa dua negara adi daya itu mengalami kehancuran hebat? Jawabnya sangat mudah: “Mereka dihancurkan oleh Jihad para Mujahidin Islam di Afghanistan, Irak, dan kini di Pakistan.” Ini adalah FAKTA besar yang harus kita ketahui. Fakta ini tidak boleh disembunyikan, tetapi justru harus terus kita dengung-dengungkan tanpa henti, di sepanjang waktu dan tempat.

Ternyata, yang sanggup menghancurkan dua negara adidaya Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah para Mujahidin Islam di Afghanistan, Irak, serta Pakistan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Tidak pernah terbayangkan oleh kita, betapa hebatnya kekuatan Jihad para Mujahidin Islam. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

[4] Jihad di Afghanistan sebenarnya sudah dimulai sejak era pejuang-pejuang Ikhwanul Muslimin di era 70-an. Namun sejak tahun 80-an, Jihad di Afghanistan mengalami perubahan significant. Ketika itu Uni Soviet benar-benar melakukan pendudukan (invasi) atas negara Afghanistan. Para ulama (termasuk Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Saudi) menyerukan fatwa wajibnya Jihad Fi Sabilillah membela kaum Muslimin di Afghanistan. Selain dari kalangan Ikhwanul Muslimin, mulai hadir disana Mujahidin Salafi, bahkan para Mujahidin asal Indonesia. Ada yang menyebut, veteran Jihad Afghanistan dari Indonesia ketika itu sekitar 3000 orang. Pemerintah negara-negara Muslim, seperti Saudi, Pakistan, juga Indonesia, bahkan Amerika, ikut mendukung gerakan Jihad ini, sebab hal itu dimaksudkan oleh mereka untuk menghalangi penyebaran ideologi Komunisme Soviet. Para mujahidin mendapatkan pasokan senjata dan pelatihan militer untuk menaklukkan Soviet. Setelah melalui peperangan hebat dalam rentang waktu 1980-1989, akhirnya Uni Soviet menyerah kalah dan menyatakan mundur dari bumi Afghanistan. Kekalahan Soviet ini bukan semata karena banyaknya serdadu-serdadu mereka yang terbunuh, dan peralatan-peralatan militer yang rusak. Tetapi yang pasti, akibat perang antara tahun 1980-1989 itu, Uni Soviet mengalami krisis keuangan luar biasa. Anggaran keuangan mereka terkuras hebat. Nah, itulah sebab yang kemudian membuat Uni Soviet bubar, karena mereka kehabisan anggaran sebesar-besarnya. Dan untuk menutupi rasa malu ini, dimunculkanlah Michael Gorbachev yang menyerukan gerakan Glasnots dan Perestroika. Lalu manusia sedunia mengklaim, Uni Soviet hancur karena gerakan politik Gorbachev. Padahal tidak. Soviet hancur karena mereka mengalami kebangkrutan keuangan hebat, untuk membiayai invasi ke Afghanistan.

[5] Kehancuran Amerika ternyata melalui proses yang sama dengan Uni Soviet. Mereka hancur juga karena anggaran keuangannya habis untuk membiayai perang di Irak dan Afghanistan. Tanggal 11 September 2001, George Bush dan kawan-kawan membuat peledakan gedung WTC. Peledakan ini mereka buat-buat sendiri, lalu dituduhkan kepada Usamah bin Laden dan kawan-kawan, sehingga akibatnya menyengsarakan kaum Muslimin seluruh dunia. (Sialnya lagi, Usamah bin Laden dkk. mengaku sebagai pelaku peledakan WTC itu. Tetapi anehnya, Usamah dan Al Qa’idah tidak pernah lagi bisa mengulangi sukses peledakan WTC itu, jika mereka benar-benar bisa melakukannya). Sekitar Mei 2003, pasukan Amerika mulai langkah pertama invasi ke Irak. Ribuan ton rudal dijatuhkan di kota-kota di Irak. Jutaan kaum Muslimin wafat disana, di atas kezhaliman pasukan laknatullah ‘alaihim itu. Tidak hanya menyerang Irak, Amerika dan Sekutu juga menyerang Afghanistan hanya beberapa bulan setelah Tragedi WTC. Maka para Mujahidin pun bangkit melakukan perlawanan. Mereka menerjuni peperangan dahsyat sejak tahun 2001/2003 sampai saat ini. Banyak korban jatuh dari kalangan rakyat sipil, banyak kerusakan menimpa negeri Irak dan Afghanistan. Tetapi korban dari pasukan sekutu, alat-alat militer mereka, fasilitas mereka, bahkan trauma psikologi yang menimpa pasukan mereka, juga amat sangat besar. Bahkan untuk peperangan ini, Joseph Stiglizt pernah menyebut, Amerika harus mengeluarkan dana sekitar US$ 4 triliun untuk membiayai perang Irak dan Afghan. Dan kini tentu biaya itu lebih besar lagi. Sampai ada yang membuat analisa (Matthew Nasuti), untuk membunuh seorang anggota Thaliban, Amerika harus mengeluarkan dana sekitar US$ 50 juta dolar (atau sekitar Rp. 500 miliar). Nah, perang Irak dan Afghanistan ini sangat menguras kas keuangan Pemerintah Amerika. Karena itu mereka mengalami guncangan keuangan yang sangat hebat.

[6] Seperti kejadian yang menimpa Uni Soviet, setelah negara itu hancur, media-media massa mengangkat isu gerakan politik Gorbachev untuk menutupi rasa malu. Begitu pun ketika Amerika mengalami kehancuran keuangan akibat terkuras oleh perang di Irak dan Afghanistan, mereka membuat isu “Krisis Moneter Global“, juga untuk menutupi rasa malunya. Disebutkan, bahwa krisis itu akibat subprime mortgage. Secara perhitungan ekonomi, tidak mungkin kredit perumahan akan menghancurkan keuangan sebuah bangsa. Sebab besarnya total kredit itu pasti dibatasi sampai nilai yang aman. Tidak akan mungkin bank-bank di Amerika tidak melakukan regulasi untuk membatasi jumlah kredit yang berlebihan. Semua itu hanya alasan yang dibuat-buat. Bahkan yang menakjubkan, akibat kerugian besar di Irak dan Afghanistan, sistem kapitalisme dunia juga terguncang, sebab Amerika merupakan “Kiblat Kapitalisme Dunia”. Sebegitu hebatnya kekuatan Jihad Fi Sabilillah sehingga mampu mencabik-cabik sistem kapitalisme dunia. Kalau kini Amerika tidak berani menyerang Iran, bukan karena mereka takut kepada pasukan kaum Syi’ah di Iran. Tetapi mereka akan membayar biaya perang dari mana lagi? Itu alasannya.

[7] Demikianlah, Jihad Fi Sabilillah telah membuktikan kekuatannya yang tidak sanggup dihadapi kekuatan militer negara-negara raksasa dunia sekalipun. Hal ini mengingatkan kita kepada Jihad Pangeran Diponegoro di masa lalu. Perang Diponegoro hanya berlangsung antara tahun 1825 sampai 1830. Tetapi dampaknya luar biasa, keuangan penjajah Belanda nyaris bangkrut akibat perang itu. Pangeran Diponegoro diakui oleh bangsa-bangsa Eropa sebagai salah satu panglima perang yang tangguh. Foto beliau sampai tersimpan di Museum Inggris.

[8] Perkara yang sama juga kita saksikan di Palestina. Disana kaum Muslimin diperangi oleh Yahudi Israel, didukung oleh segala kekuatan Zionisme internasional. Tetapi para Mujahidin terus melakukan perlawanan sampai hari ini, bahkan kelak insya Allah sampai Hari Kiamat. Zionisme internasional telah mengumpulkan harta benda dari seluruh penjuru dunia melalui cara apapun yang mereka sanggupi, untuk memuluskan agenda mereka dalam menjajah Palestina dan mengancam negeri-negeri Muslim di sekitarnya. Tetapi missi dan agenda mereka terus mengalami kegagalan. Tidak terhitung berapa banyak anggaran perang yang sudah mereka keluarkan. Mungkin nilai anggaran itu lebih besar daripada anggaran Uni Soviet atau Amerika Serikat yang telah dibuang dalam peperangan.

[9] Sudah menjadi janji Allah Ta’ala untuk membela hamba-hamba-Nya yang berjihad di jalan-Nya. Janji Allah itu amat sangat jelas. “Falam taqtuluhum walakinnallaha qatalahum, wa maa ramaita idz ramaita walakinnallah rama, wa liyubliyal mukminina minhu bala’an hasanan. Innallah sami’un ‘alim” (bukan kamu yang membunuh mereka, tetapi Allah-lah yang membunuh mereka. Bukan kamu yang memanah mereka saat kamu memanah, tetapi Allah-lah yang memanah mereka. Dengan hal itu agar Allah menguji orang-orang beriman dengan ujian yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Al Anfaal, 17). Bila Allah Ta’ala sudah turun dalam memerangi orang-orang kafir/zhalim, lalu siapa yang akan sanggup menghadapi-Nya? Itulah janji Allah Ta’ala untuk menolong kaum Muslimin dan para Mujahidin.

[10] Lalu bagaimana caranya agar kaum Muslimin mendapatkan kemenangan dalam Jihad-nya melawan manusia-manusia zhalim dan kufur? Caranya sebagai berikut: Pertama, harus muncul dulu alasan Jihad Fi Sabilillah, sehingga di sebuah tempat berhak berlaku hukum Jihad Fi Sabilillah. Dengan hukum itu pula, para Mujahidin Islam dari seluruh penjuru dunia akan datang membantu kaum Muslimin. Kedua, ada fatwa ulama yang menetapkan wajibnya berjihad melawan musuh-musuh Islam di tempat itu. Bila para ulama bersepakat, itu lebih baik lagi. Ketiga, adanya sekelompok kaum Mukminin dengan ruh-ruhnya yang bersih yang siap menerjuni Jihad Fi Sabilillah, secara ikhlas semata mengharap Keridhaan Allah dan pahala syahid dari sisi-Nya. Keempat, adanya persiapan lahir-batin, harta-jiwa, ilmu-akhlak, serta mentalitas untuk menyongsong Jihad Fi Sabilillah itu.

Bila syarat-syarat seperti itu terpenuhi, maka tidak ada lagi yang ditakuti oleh para Mujahidin, tidak ada satu pun kekuatan militer, persenjataan, pasukan khusus, atau apapun, yang akan sanggup menghadapi mereka. Mereka berjalan di bawah naungan Allah Ta’ala untuk dihantarkan kepada satu dari dua pilihan: Hidup mulia atau mati syahid!

Satu catatan yang perlu direnungkan. Kemenangan Mujahidin dalam menghancurkan dua negara adidaya, Uni Soviet dan Amerika Serikat, tidak semata-mata hanya bermodal ilmu dan iman. Disana juga ada syarat penting yang harus dipenuhi yaitu: kekuatan persenjataan. Saat mengalahkan Uni Soviet, pasukan Mujahidin dibantu oleh Saudi, negara-negara Arab, Pakistan, bahkan alat-alat perang dari Amerika. Saat mengalahkan Amerika di Irak atau Afghanistan, mereka juga mendapatkan jalur suplai senjata yang lancar. Maka ayat dalam Surat Al Anfaal yang bunyinya “Wa a’iddu lahum mastatha’tum min quwwatin” (dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi). Ayat ini bukan main-main, tetapi benar-benar merupakan syarat kemenangan.

Sekaligus, tulisan ini sebagai hiburan bagi kaum Mukminin yang terus mendapatkan cobaan dari fitnah terorisme sejak tahun 2001 lalu. Fitnah terorisme tidak ada artinya dibandingkan kemenangan Mujahidin Islam dalam menghempaskan dua kekuatan adidaya dunia, Uni Soviet dan Amerika Serikat. Dan sejatinya, kaum Muslimin tidak bisa diperangi dengan cara-cara konspiratif (isu terorisme) seperti itu. Islam adalah mulia; ia tak akan mampu dikalahkan oleh isu terorisme dan sejenisnya. Uni Soviet dan Amerika Serikat adalah bukti nyata, bahwa hizbullah (tentara Allah) tidak akan sanggup dikalahkan oleh siapapun.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abu Muhammad Al Nusantari.


Islam dan “Agama Damai”

Agustus 27, 2010

Kita sangat sering mendengar orang berbicara di media-media massa, ketika terjadi kasus sweeping oleh ormas Islam, kata-kata mereka kurang lebih: “Islam agama damai. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam selalu toleran, menghormati, saling kasih sayang. Ormas-ormas Islam yang bersikap anarkhis, sangat jauh dari ajaran Islam. Mereka merasa benar dalam kesesatannya.” Ucapan seperti ini sangat sering terdengar. Bukan hanya aksi anarkhis ormas Islam, tetapi juga dalam kasus-kasus terorisme.

Kampanye Islam sebagai “agama damai” tersebut kadang ada baiknya. Tetapi kerap kali menjadi bumerang bagi kaum Muslimin sendiri. Di mata masyarakat akhirnya terbentuk persepsi yang kuat, bahwa Islam anti kekerasan, Islam benci kekerasan, dalam ajaran Islam tidak ada kekerasan. Jelas, pandangan seperti ini sangat MENYESATKAN.

Komando: "Sikat dulu Muslim, ampe habis. Setelah itu kita damai. Oke man?"

Dalam ajaran Islam ada aspek-aspek yang menurut hemat manusia biasa dianggap sebagai kekerasan. Itu ada dan benar-benar nyata dalam ajaran Islam. Islam tidak melulu berisi seruan damai, saling kasih sayang, toleransi, dan sejenisnya. Setidaknya Islam mengajarkan: nahyul munkar, hukum haad, dan Jihad Fi Sabilillah. Ketiga ajaran ini mengandung aspek kekerasan (menurut hemat manusia biasa). Jika Islam diklaim sebagai agama damai murni, tanpa mengandung kekerasan, itu artinya kita harus menghapus Syariat tentang nahyul munkar, hukum haad, dan Jihad. Dengan demikian jadilah kita manusia-manusia sesat. Na’udzubillah min dzalik.

Mencegah kemungkaran adalah Syariat yang jelas. Bahkan ia merupakan ciri Khairu Ummah, seperti dalam Surat Ali Imran ayat 110. “Kalian adalah sebaik-baik golongan yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia, kalian memerintahkan berbuat makruf, kalian mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” Adapun mencegah kemungkaran itu bisa dengan tangan, dengan lisan, atau selemah-lemahnya dengan hati. Semua ini mengandung unsur kekerasan, bisa fisik, atau sekedar kekerasan psikologis.

Begitu pula ketentuan sanksi hukum Islam bagi pelaku kejahatan, pencuri, pezina, koruptor, pembuat onar, pembunuh, peminum minuman keras, dll. Sanksi hukum Islam jelas mengandung kekerasan. Jika Islam meniadakan kekerasan, berarti sanksi-sanksi itu harus dihapus dari khazanah hukum Islam. Sesuatu yang mustahil. Termasuk Jihad Fi Sabilillah, ia juga mengandung kekerasan. Betapa tidak, Jihad Fi Sabilillah adalah battle, perang melawan musuh. Perang adalah puncak tindakan kekerasan yang dikenal oleh manusia.

Kekerasan dalam Islam bukanlah tujuan, bukanlah hakikat, bukan pula ciri khas. Kekerasan dalam Islam adalah INSTRUMEN untuk menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan, serta menegakkan keamanan. Ia adalah WASILAH atau sarana untuk mewujudkan kehidupan Hasanah di dunia dan Akhirat. Hakikat ajaran Islam sendiri adalah Rahmatan lil ‘Alamiin. Untuk mewujudkan rahmat tersebut, bila tidak bisa ditempuh dengan cara damai, ya dengan kekerasan. Tetapi tujuan asasinya sendiri menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia.

Kekerasan tidak selalu negatif, jika tujuannya untuk menegakkan keadilan, membimbing manusia, serta mencegah kezhaliman. Sebagai contoh, hukum di negara manapun pasti memberikan sanksi-sanksi kepada para pelaku kejahatan. Mengapa hanya hukum Islam saja yang kerap diserang oleh para antek Yahudi, sementara hukum Australia, Amerika, Inggris, Perancis, Belanda, China, Jepang, dll. tidak disentuh? Semua bentuk hukum di dunia boleh, kecuali hukum Islam. Sebegitu bencinya Freemasonry Cs kepada Islam, sehingga tidak memberi hak-hak keadilan sama sekali.

Lihatlah, bagaimana kerja para petani yang menanam pohon? Jika ada dahan atau cabang yang liar, mereka tidak ragu untuk memotong dahan/cabang itu. Begitu pula, kalau ada hama seperti tikus, wereng, siput, babi hutan, dll. mereka juga melawan hawa itu sekuat kemampuan. Dalam manajemen ada prinsip reward and punishment (memberi hadiah dan sanksi). Punishment itu mengandung kekerasan, dengan segala kadarnya.

Termasuk cara orangtua mendidik anaknya. Kalau seorang anak dibiarkan mabuk-mabukan, dibiarkan makan narkoba, dibiarkan nonton VCD porno, dibiarkan berzina, dibiarkan tawuran, maka orangtua seperti itu jelas tak bermoral. Orangtua menetapkan sanksi dengan tujuan menghalangi anaknya agar tidak masuk perangkap kejahatan, adalah tindakan benar. Meskipun sanksi itu mengandung unsur kekerasan.

Islam adalah satu-satunya agama yang tidak mengenal penjajahan. Pasukan Islam telah menaklukkan banyak negara dan bangsa. Tujuan besar mereka, ialah menyebarkan Hidayah Islam ke seluruh penjuru bumi. Agar manusia selamat dunia Akhirat, mereka harus masuk Islam. Jika pihak-pihak yang diperangi bersedia masuk Islam, seketika itu hak-hak mereka sama dengan kaum Muslimin yang lain. Namun bila mereka enggan masuk Islam, mereka diberi pilihan. Mereka disuruh memilih untuk membayar jizyah sebagai bukti ketundukan kepada hukum Islam, atau mencari wilayah lain sebagai tempat tinggal, atau diperangi secara total.

Jihad yang diserukan dalam Islam kebanyakan ditujukan untuk mengubah struktur politik suatu negara, agar mereka lebih ramah dan terbuka terhadap dakwah Islam. Jika sudah terjadi perubahan struktur politik, nyaris tidak ada kezhaliman apapun yang diterima warga negara yang dikalahkan itu. Dalam Islam, kezhaliman kepada siapapun adalah HARAM. Bahkan berbuat zhalim kepada binatang pun dilarang.

Berbeda dengan penjajahan Romawi, Persia, atau negara-negara Eropa. Mereka menyerbu ke negara-negara kecil untuk menjajah, menguras harta benda, menghinakan rakyat, memperkosa wanita, dan tidak memberi mereka pilihan. Bukti paling mudah, lihatlah penjajahan Belanda selama ratusan tahun di negeri ini! Oleh karena itu, dalam jejak-jejak perluasan wilayah Islam, banyak bangsa yang akhirnya masuk Islam setelah ditaklukkan. Berbeda dengan penjajahan Eropa, banyak bangsa memendam dendam sejarah atas kezhaliman mereka. Seperti penjajahan Spanyol di Filipina yang menyisakan luka sejarah sangat dalam di hati Muslim Moro (Mindanao).

Sebenarnya, tidak salah menyebut Islam sebagai AGAMA DAMAI. Salah satu makna istilah Islam adalah As Salam, atau KEDAMAIAN. Seseorang masuk Islam sama dengan masuk ke dalam damai. Tetapi konsep Islam tentang damai berbeda dengan konsep masyarakat di luar Islam.

Kehidupan damai dalam Islam akan tercapai ketika ditegakkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan manusia. Sejauh kehidupan itu berlandaskan nilai-nilai Al Qur’an dan As Sunnah, disana akan teracapai kedamaian, keadilan, dan sejahtera. Seperti dilukiskan dalam Surat As Saba’, “Baldatun thaiyibatun wa Rabbun Ghafuur” (negara yang sentausa,  dan Allah adalah Maha Pengampun). Hal ini juga diperkuat dengan ayat dalam Surat Al A’raaf: “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa [kepada Allah], maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Tidak mungkin ada kedamaian, dengan hidup di bawah naungan nilai-nilai jahiliyyah. Sama tidak mungkinnya dengan mengharapkan minuman keras, narkoba, judi, zina, ribawi, membunuh tanpa hak, dll. akan memberikan kebahagiaan kepada manusia. Tidak mungkin maksiyat akan membawa kepada sakinah. Itu mustahil!

Sementara damai dalam terminologi dunia sama dengan pembiaran kezhaliman! Begitukah? Ya, buktinya sangat banyak. Dalam lembaga PBB ada Dewan Keamanan, yang bertugas memimpin usaha-usaha menjaga kedamaian dunia. Tetapi peranan DK PBB lebih banyak berpihak kepada kepentingan Amerika, Eropa, dan Israel. DK PBB tidak mencegah genosida di Bosnia dan Chechnya, mereka tidak mencegah penghancuran Irak oleh pasukan Sekutu, mereka tidak mencegah penganiayaan bangsa Palestina secara sistematik oleh Israel. Mereka juga tidak mencegah kehancuran manusia di Rwanda, Somalia, Ethiopia, Vietnam, Burma, dll. Bahkan DK PBB tidak pernah mencegah ekspansi lembaga seperti IMF dan Bank Dunia dalam menghancurkan perekonomian dunia. Apakah itu yang disebut damai? Damai yang penuh kepalsuan dan munafik! Na’udzubillah min dzalik.

Selama ini banyak orang mengkampanyekan seruan “Islam sebagai agama damai!” Tujuan politis di balik seruan ini sebenarnya ialah: untuk mematikan kekuatan Islam. Bila seruan itu diikuti, jelas kita akan menghilangkan nahyul munkar, hukum haad, serta Jihad Fi Sabilillah.

Orang-orang yang anti nahyul munkar, mereka akan seperti pendeta-pendeta Bani Israil yang tidak mencegah kemungkaran di antara kaumnya. Orang-orang yang membenci berlakunya hukum haad, mereka adalah kaum fasiq, munafiq, bahkan bisa keluar dari koridor keimanan. Sementara orang yang membenci Jihad Fi Sabilillah, mereka serupa dengan Ahmadiyyah yang diserukan Mirza Ghulam Ahmad.

Adalah sangat lucu melihat kenyataan ini. Ibaratnya menyaksikan pertandingan tinju di atas ring. Disana seorang petinju Muslim dikeroyok oleh beberapa petinju non Muslim sekaligus. Setiap detik waktu pertandingan, petinju Muslim itu dihajar habis-habisan, dari kanan-kiri. Bahkan bukan hanya ditinju, tetapi dijepit dengan tangan, diinjak memakai kaki, malah dihantam kursi dari penonton. Nah, ketika tiba giliran petinju Muslim itu membalas, seketika seluruh petinju lawan dan wasit-wasitnya sekalian berteriak: “Damai, damai, kita damai ya. Jangan ada pertengkaran. Bertengkar itu tak baik. Sekarang bulan puasa, jangan berkelahi. Bukankah Islam itu mengajarkan sikap damai, tenang, saling menyayangi?”

Ya begitulah kenyataan yang ada. Tidak ada manusia yang memperingatkan Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dll. agar tidak menjajah negara-negara lain. Mereka asyik-asyik saja menguras kekayaan negara lain. Tetapi giliran ada perlawanan terhadap penjajahan itu, seketika media-media massa, para pakar, “cendekiawan” Muslim, mereka koor bersama-sama, “Islam agama damai. Islam tak mengajarkan kekerasan. Peace man, please!”

Anda harus hati-hati dengan propaganda “Islam agama damai” itu. Dulu saja, para pendahulu kita, para pahlawan Islam di Indonesia, mereka memiliki ungkapan yang sangat populer, “Kami cinta damai. Tetapi kami lebih cinta kemerdekaan.” Begitu pula, seorang perwira TNI AL pernah bersuara keras ketika terjadi insiden di Ambalat dengan Malaysia. Beliau mengatakan, “Kami siap perang untuk mewujudkan perdamaian!” Ini adalah ucapan yang benar.

Islam mengakui prinsip kekerasan, demi tujuan damai. Dan Islam menentang perdamaian, jika hal itu hanya merupakan tipu-muslihat untuk melanggengkan penindasan. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.