Kita Hidup di Dunia Kejam!

November 25, 2010

ARTIKEL 11:

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Selama ini kita sering mendengar pernyataan-pernyataan yang baik, mulia, dan penuh nilai moral. Ia bisa keluar dari lisan pejabat negara, politisi, aparat keamanan, perwira militer, pakar/pengamat, wartawan media, akademisi, tokoh ormas, tokoh agama, ustadz, aktivis LSM, tokoh mahasiswa, bahkan dari rakyat kecil.

Ucapan-ucapan baik itu misalnya:

“Mari kita sukseskan program pembangunan sebaik-baiknya!”

“Pemerintah akan selalu memperhatikan masalah rakyat, mencari solusi terbaik, mengatasi kemiskinan, membangun kesejahteraan.”

“Bangsa Indonesia harus selalu hidup rukun, damai, saling toleransi satu sama lain. Mari kita membangun kehidupan yang aman, tentram, sentosa!”

“Setiap kejahatan akan kami tindak tegas. Sudah menjadi kewajiban kami menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Agar kehidupan sosial berjalan terarah, tenang, dan proses pembangunan tidak terganggu.”

“Iklim investasi terus berkembang, situasi ekonomi semakin membaik, target pertumbuhan ekonomi akan tercapai, sehingga masyarakat akan hidup lebih sejahtera.”

“Pembangunan demokrasi harus terus ditingkatkan. Kehidupan politik perlu lebih berkembang dan kreatif, sehingga bisa menghasilkan out put kehidupan bangsa dan negara yang sejahtera, adil, dan bermartabat.”

“Aparat hukum akan selalu mengawal proses hukum secara adil, transparan, dan memenuhi rasa keadilan publik. Yakinlah!”

“Gerakan mahasiswa telah mencapai tahap kematangan dalam perspektif independensi politik, sosial, dan organisasi. Ke depan tantangan gerakan mahasiswa akan lebih berat lagi. Tetapi dengan komitmen kita bersama, semua tantangan akan dilewati dengan tenang.”

“Kehidupan agama di negara kita semakin baik, kesadaran religius masyarakat semakin meningkat, kepedulian terhadap persoalan sosial semakin tinggi. Kita optimis, Indonesia ke depan akan mencapai masyarakat adil dan makmur dalam naungan Ridha Allah.”

“Dunia pers semakin semarak. Kebebasan pers bisa terekspresikan secara maksimal. Skill insan-insan pers semakin matang. Etika jurnalistik pun terus dikembangkan sesuai konteks dan kemajuan jaman.”

    Tentu kita sangat sering mendengar ucapan-ucapan seperti di atas. Justru karena saking seringnya, akhirnya kita bisa “menghafal” retorika-retorika seperti itu. Bagi siapapun yang mendengar retorika seperti itu jelas akan senang, gembira, atau terpesona. “Alhamdulillah, ternyata kehidupan bangsa kita semakin maju, semakin sejahtera, dan bermartabat. Buktinya, ucapan-ucapan yang keluar dari elit-elit bangsa kita selalu baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh, bersedih, atau prihatin. Semua isinya serba baik, mulia, dan optimis.”

    "This life is very hard, brother..."

    Tetapi ucapan-ucapan yang baik itu ternyata hanya ada DI ATAS KERTAS. Atau sekedar TEORI, atau RETORIKA belaka. Dalam kenyataan, yang benar-benar kita saksikan, yang dialami masyarakat atau ditanggung oleh rakyat, kebanyakan jauh dari semua ucapan-ucapan itu. Teorinya selangit, tetapi kenyataan sangat buruk! Apa yang kerap kita saksikan dalam nyata jauh dari keindahan retorika-retorika itu. Banyak fakta-fakta bisa disebut, betapa kehidupan ini sebenarnya jauh lebih KEJAM dari yang kita bayangkan. Saat ucapan-ucapan bermoral terus dibuat, pada saat yang sama fakta-fakta kebohongan dan dusta terus terungkap.

    Mari kita lihat sebagian fakta-fakta yang ada di lapangan…

    [01] Sebagian pejabat mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus turun, hanya tinggal sekitar 13 juta jiwa saja. Padahal patokan kemiskinan itu ialah penghasilan per hari sekitar Rp. 9.000,-. Dengan nilai penghasilan sebesar itu, atau Rp. 270 ribu per bulan, kira-kira manusia bisa hidup dengan apa? Semestinya menteri perekonomian mencontohkan hidup sehari-hari dengan penghasilan sebesar itu. Seberapa kuat dia bisa menahan kemiskinan?

    [02] Katanya pertumbuhan ekonomi negara kita semakin tinggi. Namanya pertumbuhan ekonomi, seharusnya hal itu berdampak meningkatkan kemakmuran. Tetapi kenyataannya sangat ironis! Kesempatan kerja justru sangat sulit. Setiap ada pendaftaran CPNS selalu berjubel dipadati pencari kerja. Malah yang sudah mapan bekerja di swasta pun ingin jadi PNS. Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi. Inilah FITNAH EKONOMI: Mencari penghasilan semakin sulit, sementara harga-harga kebutuhan terus meninggi.

    [03] Anak-anak kita selama belasan tahun menempuh pendidikan di sekolah. Malah mereka wajib sekolah sampai lulus SMP. Selama itu mereka harus masuk sekolah (tidak boleh telat atau sering bolos), harus mengerjakan PR, harus mengerjakan tugas, mengikuti ujian, aneka test, dll. Tetapi setelah lulus sarjana, mereka digiring untuk menjadi pengangguran kolektif. Perjuangan meletihkan oleh jutaan anak selama belasan tahun, seperti dibuang begitu saja.

    [04] Sebagian orang harus mengeluarkan uang pelicin sampai Rp. 50 jutaan, untuk mendapat nomer induk sebagai PNS atau masuk dinas kepolisian. Angka itu sekarang mungkin bisa lebih mahal lagi. Wajar kalau para birokrat sesak dengan korupsi, wong sejak awal saja mereka sudah korup (main suap).

    [05] Beberapa tahun lalu ada sebagian orangtua rela mengeluarkan dana sampai Rp. 200 juta, untuk membeli satu kursi bangku perkuliahan di ITB. Saat sekarang, ada yang senilai itu untuk mendapat bangku Fak. Kedokteran di UNPAD. Ada juga yang mengatakan, untuk menyelesaikan studi kedokteran butuh dana setidaknya Rp. 300 jutaan. Padahal nanti setelah lulus, belum tentu sukses.

    [06] Untuk mengikuti pencalonan Bupati/Walikota, setidaknya seseorang harus punya modal minimal Rp. 15 miliar. Untuk level Gubernur, harus ada modal sekitar Rp. 30 miliar. Untuk menjadi anggota DPR/DPRD harus bermodal ratusan juta sampai miliaran rupiah. Itu pun belum tentu terpilih. Ini jadi seperti “jual-beli” jabatan. Paling apesnya, ada yang gila, stress, dan bunuh diri ketika pencalonan itu gagal.

    [07] Untuk mendapat proyek pemerintah, banyak orang harus mengeluarkan uang besar untuk menyogok pejabat-pejabat terkait. Nanti yang terpilih ialah yang paling besar sogokannya. Bahkan sudah bukan rahasia lagi, untuk memenangkan tender proyek banyak perusahaan memberi bonus berupa “paha wanita”, kunci mobil, uang rekening, satu unit rumah bagus, dll.

    [08] Hampir tidak ada satu pun pejabat yang peduli dengan orang miskin, kaum terlantar, anak gelandangan, tunawisma, pengemis, dll. Bahkan mereka melihat orang-orang malang itu dengan tatapan mata jijik. Mereka baru mau bersentuhan dengan orang malang, semata demi pencitraan politik. (Mau sih makan nasi bungkus di tenda pengungsian, setelah itu muntah-muntah di rumah). Semua ini demi pencitraan publik semata.

    [09] Banyak anggota dewan di Jakarta (DPR RI) yang mencari pelayanan seks dari wanita-wanita WTS. Permadi pernah mengatakan, di DPR itu ada pemasok wanita-wanita semacam itu. Sebagian anggota DPR sudah beredar video-video mesum-nya. Yang paling parah ialah rekaman perkataan anggota DPR yang mengatakan, “Siapa yang berbaju putih itu?” Sampai dalam acara konggres sebuah partai politik (berkuasa) di Padalarang Bandung, seorang politisi partai itu melakukan perbuatan nista kepada seorang SPG. Tetapi kasus terakhir ini tidak segera dibawa ke ranah hukum, karena hegemoni politik.

    [10] Banyak perusahaan-perusahaan seenaknya mencemari sungai, mencemari sawah, mencemari air tanah, mencemari lingkungan, atau minimal mencemari udara. Kalau ditanya, jawaban mereka klise, “Omong kosong dengan lingkungan. Gue butuh duit. Masa bodo dengan lingkungan. Lo jangan banyak bacot. Ntar lo gue kirimin anggota Kopassus buat ngasih hadiah ye.” Orang-orang ini lebih tepat disebut maling, daripada pengusaha.

    Baca entri selengkapnya »

    Iklan

    REFLEKSI: Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia!

    Agustus 20, 2010

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    CATATAN: Tulisan ini sebenarnya sudah muncul Agustus tahun 2010 lalu. Karena begitu pentingnya isi tulisan ini, agar kaum Muslimin di negeri ini paham kondisi kehidupannya; ia sengaja di-lekat-kan. Selamat membaca kembali!

    Baru-baru ini politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul melemparkan isu besar, tentang kemungkinan masa jabatan Presiden RI diperpanjang sampai 3 periode. Konsekuensinya, harus mengamandemen UUD pasal 7 yang membatasi jabatan Presiden RI hanya 2 periode saja. Sontak usulan ini membuat geger masyarakat politik Indonesia. Banyak suara-suara muncul memberi komentar. Saya meminjam kata-kata para selebiritis kalau sedang terjerumus suatu kasus asusila, “Ya, dimana-mana selalu ada pro dan kontra. Itu biasa saja, kok.”

    Secara politik, wacana perpanjangan masa jabatan presiden sampai 3 periode itu, dapat dipahami sebagai ambisi politisi Demokrat untuk mengangkat SBY menjadi Presiden RI lagi pada periode 2014-2019 nanti. Kalau upaya itu berhasil, misalnya SBY sukses menjadi presiden lagi pada periode 2014-2019, apakah amandemen UUD itu akan berakhir? Tidak akan. Nanti menjelang masa jabatan ke-3 berakhir, akan ada lagi usulan amandemen kesekian kalinya, sehingga SBY bisa menjadi Presiden RI ke-4 kalinya. Kalau sudah 4 kali jadi presiden, akan UUD akan diamandemen lagi, sehingga SBY akan menjadi presiden sampai wafat. Bahkan nanti, Ruhut Sitompul akan mengusulkan, agar Presiden RI bisa dijabat oleh seseorang yang sudah dikubur dalam tanah. Dia menjadi Presiden RI secara ad interim; jasadnya sudah dikubur, tetapi nama dan fotonya masih berkuasa penuh.

    Baca entri selengkapnya »


    Bisnis Darah dan Nyawa Manusia

    Agustus 16, 2010

    Kalau melihat tukang jagal berjual beli daging, itu wajar. Apalagi di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fithri nanti, pasti sangat ramai tukang jagal jualan daging. Itu wajar, sebab yang dijual daging sapi, kambing, atau ayam. Ada juga yang menjual daging kuda, kerbau, atau onta. Tetapi kurang umum di masyarakat kita.

    Adalah amat sangat keji dan biadab, bila ada yang sampai memperjual-belikan darah manusia, nyawa manusia, nama baik keluarga, masa depan anak-anak, bahkan kehidupan bangsa. Mendengar berita-berita seputar manusia dimutilasi saja sudah sangat ngeri, apalagi ada jual-beli nyawa dan kehidupan insan. Pasti bila ada jual-beli semacam itu, para pelakunya hanyalah syaitan-syaitan berbadan manusia.

    Andaikan Kakak atau Adik Anda Menjadi Tersangka...

    Tapi apa ada jual-beli darah dan nyawa manusia?

    Ini ada. Faktual. Nyata. Buktinya di depan mata kita. Paling tidak faktanya muncul sejak sekitar 10 tahun terakhir. Khususnya sejak terjadi Tragedi WTC, 11 September 2001. Sejak itu, darah, nyawa, keluarga, masa depan anak-anak, dan kehidupan aktivis-aktivis Muslim menjadi sasaran teror, difitnah habis-habisan, dizhalimi secara semena-mena, diinjak-injak kehormatannya, dan seterusnya. Pihak-pihak yang melakukan teror itu secara riil mendapat donor (dana bantuan) asing, seperti dari Amerika dan Australia.

    Aktivis-aktivis Islam diperlakukan seperti hewan buruan, dikejar-kejar, dikepung dengan poster “awas teroris” ditempel di mana-mana, dikepung, ditembaki, dibunuhi di jalan-jalan. Yang berhasil ditangkap hidup, diberi “pelatihan fisik” tertentu, sehingga muka dan badannya bonyok tidak karuan. Mereka ditampilkan di media-media massa sebagai Muslim garis keras, pemuda Islam radikal, pemuda ekstrim, kaum fundamentalis, dsb. Sembari mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri secara adil.

    Pihak-pihak yang memangku “tugas negara” menyerang sasaran para aktivis Islam itu, mereka selalu haus membutuhkan publikasi media massa, mereka butuh blow up di mata masyarakat, agar benar-benar tercipta image, bahwa bangsa kita sebentar lagi akan dikuasai teroris. Dengan cara publikasi media itu, mereka mendapat dukungan asing, mendapat dukungan APBN, mendapat restu ini itu. Padahal mayoritas kasus-kasus terorisme itu merupakan rekayasa yang mengada-ada.

    Ada banyak alasan untuk memahami bahwa kasus-kasus terorisme di Indonesia ini merupakan rekayasa belaka, tidak memiliki landasan kebenaran sama sekali. Masyarakat hanya dibohong-bohongi oleh berita-berita media yang diputar-balikkan tidak karuan. Berikut argumentasinya:

    [1] Peristiwa teror bom di Indonesia, umumnya dimulai pasca Tragedi WTC, 11 September 2001. Sebelum itu, di Indonesia jarang terjadi teror bom. Setelah Bom Bali I, seakan negara kita langganan terjadi teror bom.

    [2] Secara umum, pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris itu rata-rata orang fakir-miskin. Ini sangat jelas. Secara ekonomi mereka susah. Itu terlihat dari rumah, kondisi keluarga, kampung tempat tinggal, dll. Lalu darimana mereka bisa membeli amunisi, bahan peledak, senapan, pistol, sirkuit bom rompi, mobil, kamera, dan seterusnya. Untuk diri sendiri saja susah, apalagi mau membuat bom mobil?

    (Pihak aparat beralasan, “Mereka dapat transfer dari donor orang asing di Saudi.” Bantahan, sejak WTC 11 September 2001, semua transfer dana untuk keperluan Islam, sekalipun untuk dakwah dan pendidikan, sangat sulit masuk ke Indonesia. Bahkan sejak Saudi merugi akibat Perang Teluk 1990-1991, mereka kesusahan membantu dakwah Islam di negara-negara Muslim).

    [3] Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imran, mereka mengaku telah meledakkan bom mobil di depan cafe Paddy’s Club di Bali. Tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang bom ke-2 di Sari Club yang menewaskan ratusan orang Australia. Menurut sebagian saksi, bom kedua ini merupakan rudal yang ditembakkan dari arah pantai di Bali, jatuh mengenai kafe Sari Club. Imam Samudra Cs melakukan satu kesalahan, tetapi harus menanggung dua dosa sekaligus, termasuk peledakan di Sari Club. Bodohnya, dunia internasional tak peduli dengan fakta itu. Hati mereka sudah tertutup untuk melihat kebenaran.

    [4] Dalam setiap aksi terorisme, selalu saja ditemukan video yang menggambarkan aksi tersebut. Termasuk video pada saat peledakan Bom Bali II, JW. Marriot dan Ritz Carlton. Video yang paling dramatis ialah seperti di JW. Marriot dan Ritz Carlton. Disana seperti ada kamera yang terus mengikuti gerak-gerik pelaku teror. Kalau memang sudah tahu ada aksi seperti itu, seharusnya pembawa kamera membuat peringatan sejak dini.

    [5] Tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat kerap kali meledak, dan ledakannya seperti bom. Tabung itu mudah didapat, sangat murah lagi. Kalau para “teroris” ingin melakukan teror dengan bom, mereka pasti akan menggunakan tabung gas 3 kg. Tetapi kenyataan yang ada, tidak pernah ada aksi seperti itu. Ini menandakan, bahwa aksi-aksi yang diklaim sebagai terorisme selama ini, sangat mengada-ada.

    [6] Banyak pihak mempertanyakan, kalau para aktivis itu benar-benar sebagai bagian dari Tanzhim Al Qa’idah, yang menyatakan jihad global melawan Amerika. Mengapa dalam kasus-kasus teror di Indonesia, tidak ada satu pun warga atau instansi Amerika menjadi korban? Seolah, pihak teroris sudah diberitahu agar menghindari sasaran yang berlabel Amerika. Katanya Al Qa’idah, tetapi Amerika selamat terus?

    [7] Selama ini, isu seputar terorisme amat sangat menjadi MONOPOLI kepolisian. Seakan pihak lain, seperti anggota DPR, Komnas HAM, tim pencari fakta independen, tim advokasi Muslim, ormas Islam, atau tim independen asing, tidak boleh campur-tangan sama sekali. Monopoli opini oleh Polisi ini jelas membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembunuhan sipil secara sistematik oleh aparat.

    [8] Setiap selesai satu kejadian teror, Polisi selalu mengumumkan, bahwa masih ada pelaku yang buron (DPO). Ini sangat menjengkelkan. Kalau kerja Polisi tuntas, seharusnya ringkus semuanya. Jangan dicicil sedikit-sedikit! Sangat kelihatan kalau Polisi ingin memperpanjang “sinetron terorisme” ini. Dengan panjangnya episode, jelas panjang pula harapan mendapat bantuan dana asing.

    [9] Pernahkan kita membayangkan, bahwa negara Amerika sendiri yang disebut-sebut telah mengobarkan war on terror itu, mereka kini sudah bosan dengan isu terorisme. Bukan hanya Amerika. Negara-negara yang dulu ikut siaga dalam war on terror, mereka sudah mengendurkan ketegangannya, seiring lengsernya George Bush -laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Nah, mengapa Indonesia seperti sangat mensyukuri acara teror-teroran ini? Di negara asal terjadi Tragedi WTC saja sudah reda, kok disini masih laku?

    [10] Perhatikan para pengamat terorisme yang muncul di media-media massa. Orangnya dari dulu itu-itu saja. Nashir Abbas jelas, Sidney Jones, Mardigu, Hendropriyono, Ansyad Mbai, Abdurrahman Assegaf, Umar Abduh, dll. Peristiwa teror di Indonesia seperti sebuah ritual yang diulang-ulang. Dan setiap “ritual” terjadi, para “pendeta” dalam ritual itu selalu orang-orang yang sama.

    [11] Bahkan cara-cara media dalam meliput kasus-kasus teror itu nyaris sama. Hanya tempat, waktu, dan deskripsinya berbeda. Tetapi secara umum, model peliputan medianya, sama saja. Kalau tidak salah, orang-orang media sebenarnya bosan juga dengan kasus “jual-beli darah dan nyawa” itu, tetapi mereka seperti tidak ada pilihan.

    [12] Isu terorisme di Indonesia seperti sebuah kanker mematikan. Mengapa demikian? Mulanya semua ini dibiarkan, tetapi lama-lama membesar menjadi kanker di tubuh bangsa kita. Bayangkan, semua pihak, selain kalangan Islam, nyaris tak mau bersuara membela kepentingan pemuda-pemuda yang dikejar-kejar sebagai teroris itu. DPR bisu, partai-partai bisu (terutama partai label Islam), Gubernur/Walikota bisu, Menteri bisu, aktivis HAM bisu, aktivis LSM bisu, media massa membisu (dari melakukan advokasi), ormas Islam membisu, gerakan mahasiswa membisu, BEM membisu, HMI membisu, dll. Seolah, semua pihak sudah sepakat untuk sama-sama menzhalimi aktivis-aktivis Islam yang rata-rata fakir-miskin itu. Allahu Akbar, bagaimana mereka bisa berharap akan tegak keadilan di negeri ini, sementara terhadap kezhaliman yang nyata-nyata di depan mata, mereka bisu? Ini menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa sejatinya kebanyakan orang Indonesia ini berkarakter MUNAFIK.

    [13] Kasus terbaru, yang diklaim oleh kepolisian sebagai terorisme di Aceh. Media-media massa, terutama MetroTV dan TVOne, ikut-ikutan mempublikasikan hal tersebut. Padahal sejatinya, seperti disebut dalam situs suara-islam.com, latihan militer di Aceh itu bukan untuk menyerang SBY saat 17 Agustus 2009. Itu adalah latihan para pemuda Islam yang semula rencananya akan  diberangkatkan ke Ghaza. Latihan ini ada dua tahap, pertama tahun 2008 untuk persiapan ke Ghaza. Ini ada videonya, seperti yang ditayangkan di TV-TV. Lalu latihan kedua, akhir 2009 sampai awal 2010. Latihan kedua ini sangat kuat peranan Sofyan Tsauri dalam menjerumuskan pemuda-pemuda Islam itu dalam jebakan kasus terorisme. Latihan yang dirancang Sofyan Tsauri untuk kasus terorisme.

    Sofyan Tsauri sendiri mengakunya sebagai desertir polisi Depok. Katanya desertir, tetapi bisa memakai Mako Brimob Kepala II Depok untuk latihan menembak dengan peluru tajam. Hebat kali Si Sofyan ini? Sofyan ini seorang desertir polisi yang memiliki kuasa seperti Kapolri. Hebat kali dia? Dari semua tertuduh teroris di Aceh, hanya Sofyan ini yang diperlakukan istimewa. Tidak dibelenggu, tidak ditutup mata, boleh memakai kacamata hitam, dan naik kendaraan pribadi yang mulus tentunya. Hebat kali Si Sofyan? Dia sudah menjalankan bisnisnya dengan sempurna.

    [14] Polisi selama ini selalu bangga dan penuh senyum kalau memberitakan kejadian-kejadian terorisme. Seharusnya mereka sedih dan merasa sangat malu, “Kok dari dulu memberantas teroris tidak selesai-selesai. Polisi ini apa saja kerjanya?” Banyak masalah tidak selesai. Makelar kasus, Susno Duajdi, Anggodo-Anggoro, Bank Century, Gayus Tambunan, Ramayana, dst.

    Dan aneka argumentasi yang kerap menjadi tanda-tanya bagi para pemerhati kasus-kasus terorisme di Indonesia. Intinya, seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya: “Syaitan itu ada dua jenis, jenis jin dan jenis manusia. Syaitan jenis manusia adalah tukang fitnah, durhaka, pendosa, sangat keji.” Mereka tidak segan-segan untuk menjual-belikan darah, nyawa, dan kehidupan manusia, demi keuntungan dunia yang sangat kecil. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Hebatnya lagi, yang menjadi sasaran jebakan terorisme itu rata-rata pemuda Muslim yang baik, bermoral, aktivis Islam, rajin ke masjid, bhakti pada orangtua, cinta keluarga, hidup sederhana, bahkan fakir-miskin. Ini adalah kezhaliman luar biasa. Kezhaliman sezhalim-zhalimnya. Bagaimana Indonesia akan bisa lolos dari kehinaan, bencana alam, dan sengsara, kalau kezhaliman seperti ini terus didiamkan?

    Dan lebih hebat lagi, hebat bin ajaib, mayoritas kaum Muslimin, selain para aktivis Islam dan para penggiat Syariat Islam, rata-rata membisu semua atas kezhaliman luar biasa ini! Allahu Akbar! Bagaimana kelak kalau mereka ditanya di alam kubur, ditanya di Akhirat? Dimana pembelaan mereka atas nestapa Ummat Muhammad Saw?

    Ya Allah, ya Rahiim, ya Rahmaan, rahmati, rahmati, rahmati, kaum Muslimin ini. Mereka sudah melakukan perbuatan luar biasa, dengan berdiam diri atas penderitaan pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris dan penderitaan keluarga mereka. Masya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, ampuni kami ya Rabbal ‘alamiin.

    Allahumma inna na’udzubika minas syaithanir rajiim, wa min an yahdhurun. Allahumma inna na’udzubika wa bi Izzatika min syarri wa zhulumatis syayathin wa ahzabihim ajma’in. Allahumma dammir hum tadmira, wa qat-tha’ aidihim wa arjulihim, wa farriq quwwatahum wa makrahum, wa anzil lahum hizyun fid dunya wal akhirah, wa zalzil hayatahum zilzalan katsiran, laa yazalu dzalikal zilzala hatta yatubuna ilaikal Ghafuur. Allahumma inna nas’aluka ‘afiyatan kamilan min kulli syayathin, wa syarrihim, wa zhulumatihim, wa makrihim jami’an. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

    Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

    AMW.