Bedah Buku “Mendamaikan Ahlus Sunnah”

Desember 20, 2012

Alhamdulillah, dengan izin dan rahmat Allah, akan digelar acara bedah buku, Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara. Pada hari Ahad, 23 Desember 2012, pukul 12.30 WIB, di TB. Walisongo Kwitang Jakarta.

Brosur Bedah Buku di TB. Walisongo Jakarta.

Brosur Bedah Buku di TB. Walisongo Jakarta.

Bedah buku ini akan dibawakan oleh penulis sendiri, dan Ustadz Farid Achmad Okbah, MA. Beliau adalah anggota MUI, anggota Dewan Syariah DDII Pusat, serta pimpinan Pesantren Al Islam Bekasi.

Silakan manfaatkan momen ini untuk mencari ilmu, berdiskusi seputar isu-isu Ummat, mencari inspirasi kebaikan dan spirit persaudaraan Ummat, serta hal-hal lain yang bermanfaat. Insya Allah.

Admin.

Iklan

Buku Baru: “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara”

Desember 20, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Kita Adalah Ahlus Sunnah. Sudah Sepatutnya Saling Berdamai dan Menyayangi.

Istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah digali dari hadits “73 golongan” atau “Iftiraqul Ummah”. Saat membahas hadits ini banyak orang cenderung mengklaim diri sebagai golongan selamat, dan memvonis pihak-pihak lain sebagai golongan sesat (fin naar). Padahal dalam riwayat-riwayat itu Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam hanya menyebutkan METODE menjadi golongan selamat, yaitu: Mengikuti Sunnah dan komitmen dengan Al Jamaah (kesatuan umat Islam). Siapapun yang sesuai metode ini, dia adalah Ahlus Sunnah. 

Abdul Qahir Al Baghdadi membedakan Ahlus Sunnah sebagai Ahlur Ra’yi danAhlul Hadits. As Safariniy Al Hanbali menyebutkan, Ahlus Sunnah adalah pengikut Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Ahlul Hadits. Ibnu Taimiyah menjelaskan makna umum Ahlus Sunnah, sebagai setiap orang yang mengikatkan diri dengan Islam sedangkan dia bukan Syiah Rafidhah. Dalam riwayat-riwayat yang diteliti Syaikh Salman Al Audah, dalam bukunya Shifatu Ghuraba, golongan yang selamat adalah As Sawadul A’zham (jumlah mayoritas kaum Muslimin).

Judul buku                  :  Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara.

Penulis                       :  Abu Muhammad Waskito.

Penerbit                      :  Pustaka Al Kautsar, Jakarta.

Cetakan                      :  Cet. I, Oktober 2012.

Halaman                     :  xvi + 432 hlm.

Harga pasar                :  Rp. 69.000,-.

Kelompok Ahlus Sunnah di Indonesia meliputi kalangan Asy’ariyah, Wahabiyah, dan lainnya yang merujuk kepada Al Qur`an dan As Sunnah; meyakini Rukun Islam dan Rukun Iman (sesuai versi Ahlus Sunnah); meyakini Al Qur`an sebagai Kalamullah; memuliakan isteri-isteri Nabi dan para Shahabat; meyakini Sifat-sifat Allah; mereka bukan bagian dari sekte sesat, terutama Syiah Rafidhah dan aliran-aliran yang menyempal dari Syariat Islam.

Kalangan Wahabiyah bukan musuh Islam; mereka adalah Muslim, Ahlus Sunnah, saudara kita. Jika ada di antara mereka yang bersikap negatif, tidak berarti menggugurkan hak-haknya sebagai Muslim.

Begitu juga, kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah, adalah saudara kita, sesama Muslim, sesama Ahlus Sunnah. Mereka mengimani Al Qur`an, mengikuti Sunnah Nabi, rujuk kepada Syariat Islam. Ada beberapa perbedaan pemikiran di antara Wahabiyah dan Asy’ariyah, tetapi sisi-sisi kesamaan keduanya lebih banyak (dalam buku ini dibahas 16 poin kesamaan). Sisi-sisi kesamaan ini mestinya bisa menjadi titik-tolak untuk mewujudkan saling pengertian, pemahaman, dan kerjasama.

Buku ini mengkaji pentingnya persatuan umat; akar pertikaian antar Ahlus Sunnah di Nusantara; konsep Firqatun Najiyah menurut Al Qur`an; menawarkan 10 langkah praktis untuk menyatukan Ahlus Sunnah; mengkaji misi liberalisme, propaganda komunisme di majalah Tempo, dan membedah fakta-fakta seputar gerakan Syiah; Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah, dan lain-lain.

Semoga hadirnya buku ini bisa menjadi kontribusi untuk memperbaiki hubungan antar elemen-elemen Ahlus Sunnah di Nusantara; dan bisa mencegah destruksi kehidupan beragama yang lebih parah. Allahumma amin.

Admin.


Saat Obama Menangis…

Desember 19, 2012

Baru-baru ini terjadi TRAGEDI BRUTALISME dahsyat di Amerika. Ia adalah produk nyata dari kehidupan liberal-sekuler yang menafikan peran Tuhan dalam kehidupan. Seorang pemuda bernama Adam Lanza memberondong anak-anak SD Sandy Hook di Connecticut, dan menembak orang-orang di sekitarnya dengan senapan mesin. Total korban 20 anak-anak tewas, 7 orang dewasa tewas, termasuk diri Adam sendiri.

Peristiwa yang terjadi pada 14 Desember 2012 ini seketika mengguncangkan dunia, khususnya bangsa Amerika sendiri. Ini lebih heboh dari gossip “Hari Kiamat” yang disebut-sebut berdasarkan ramalan Suku Maya itu.

Barack Obama secara resmi merespon tragedi itu dalam pidatonya. “Kita telah mengalami terlalu banyak tragedi dalam beberapa tahun terakhir, dan setiap kali saya membaca berita, saya bereaksi bukan sebagai presiden, tetapi sebagai orang lain, sebagai orangtua. Saya tahu tidak ada orang tua di Amerika yang tidak merasakan kesedihan luar biasa yang sama seperti yang saya rasakan,” kata Obama.

Media-media dunia langsung menyebut Obama menitikkan air mata; menangis haru karena tak kuasa melihat tragedi memilukan itu. Media-media di dunia semua sepakat menyebut Obama “menitikkan air mata”.

Katanya Menangis, Tapi Air Mata Kering. Bener Nih Menangis?

Katanya Menangis, Tapi Air Mata Kering. Bener Nih Menangis?

 

Tapi kalau dilihat foto dan video pidatonya, Obama sama sekali tidak menangis. Menitikkan air mata juga tidak. Dia cuma memasang muka sedih, sebagaimana seorang pemain film/sinetron bisa memasang muka sesuai kebutuhan. Tidak ada air-mata disana, tidak ada menangis. Yang ada, Obama berusaha mengelap sudut matanya dengan ujung jari, padahal ujung jari itu tetap kering, karena tak ada air mata disana.

Intinya, Obama tidak bisa menangis; dia berpura-pura menangis, supaya tidak tampak buruk di mata rakyat dan dunia. Maklum, negerinya baru dihantam tragedi kemanusiaan yang memilukan, akibat penembakan di SD Sandy Hook, Connecticut itu.

Ada cara efektif untuk mudah menangis, misalnya dengan mengiris bawang merah, mengoleskan balsem di pipi, dengan dicubit keras, dengan diancam oleh atasan, dengan mengenang cerita dalam novel Ayat Ayat Cinta, dengan mengingati beban hutang, dan lain-lain cara. Obama bisa mempertimbangan salah satu dari cara itu. Okeh Mister?

Mine.


Aceng Fikri dan Demo “Celana Dalam”

Desember 19, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Masih terngiang-ngiang di telinga kita omongan arogan (berbalut mesum) dari Bupati Garut, Aceng Fikri, bahwa menikah dengan wanita itu seperti membeli barang; kalau specs-nya tidak cocok, ya tidak diambil. Begitu juga, untuk memakai jasa layanan seks artis saja, tidak sampai semahal 250 juta. Dia juga mengklaim diri sebagai sosok ganteng dan kaya, pejabat pula.

Sampai disini, moralitas masyarakat kita benar-benar memilukan. Ada sosok pemimpin daerah dengan moral rusak seperti itu. Apalagi ia memimpin di Garut, yang terkenal sebagai kota santri (seperti Tasikmalaya). Omongan adalah menunjukkan apa yang tersembunyi dalam hati. Kalau omongan lurus, insya Allah hati dan hidupnya juga lurus. (Meskipun hal ini kadang dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk berlomba “ngomong manis”, padahal kelakuan seperti buaya atau srigala).

Oke, secara umum kita sepakat bahwa kelakuan Bupati Aceng Fikri dengan omongan-omongan berbisanya, hal itu mencerminkan dekadensi moral yang parah. Dia tak malu-malu pamer ke-lucah-an diri di depan publik nasional (melalui TV nasional). Dalam hal ini kita sepakat.

Begitu juga, tentang sikap bermudah-mudah menceraikan; menceraikan via SMS; dan mengungkap rahasia privacy seorang wanita; hal itu juga sangat tidak terpuji, jauh dari akhlak Islami. Dalam hal demikian, wajar jika banyak masyarakat -terutama ibu-ibu dan kaum wanita- yang mendemo Aceng Fikri dan meminta mundur jabatan.

Tetapi…ada tetapinya…kalimat ini baru “koma”, belum “titik”…

Sangat miris ketika melihat ibu-ibu mendemo Aceng Fikri dengan membawa celana dalam wanita, mengacung-acungkan celana dalam, mengibarkannya, dan meletakkannya di pagar-pagar kantor Bupati. Itu sangat miris. Malah ada yang memakai celana dalam itu untuk topeng yang menutupi kepalanya. Miris, miris, miris sekali.

Apa wanita-wanita sekarang, khususnya sebagian ibu-ibu di Garut, sudah separah itu ya? Apa hubungannya celana dalam dengan demo anti Aceng Fikri? Kalau mereka bawa celana dalam, apakah Aceng Fikri akan cepat mundur jabatan? Atau apakah dengan cara itu mereka berhasil menghinakan Aceng Fikri? Toh, mereka tak mampu sedikit pun menyentuh tubuh Aceng.

Celana dalam adalah simbol privasi kaum wanita. Ia adalah aib, jika tampak terbuka atau sengaja ditampak-tampakkan; apalagi sampai dikibar-kibarkan. Mengapa ibu-ibu memakai cara begitu, padahal dengan demo melalui tulisan, spanduk, banner-banner, itu juga bisa?

Sangat sedih melihat ibu-ibu demo dengan membawa celana dalam ini. Celana dalam adalah “harta privasi” mereka; menandakan kehormatan, jika dijaga baik-baik; dan akan jadi memalukan jika sengaja ditampakkan. Cara begitu tak akan bisa menghinakan Aceng Fikri, selain menjadi aib bagi ibu-ibu itu sendiri.

Dulu Rendra pernah membuat puisi tentang wanita-wanita WTS di Jakarta; Rendra menginspirasi wanita-wanita itu agar berdemo dengan mengacung-acungkan “Bra” agar laki-laki munafik yang sok anti pelacur, tetapi sejatinya butuh juga; mereka bisa puyeng tujuh keliling. Begitulah kira-kira isinya.

Jadi, demo dengan mengacung-acungkan perangkat “daleman” itu adalah simbol wanita pelacur. Namun kini malah ibu-ibu secara terbuka menunjukkan sikap “melecehkan diri mereka” sendiri.

Ke depan, jangan dipakai “daleman” untuk demo-demo itu. Malu-lah, malu, sebab ia adalah perangkat privasi yang harus dijaga baik-baik. Ya, selagi kita masih komitmen dengan moral mulia.

Mine.


Narasi Politik: SBY Versus Nazaruddin

Desember 15, 2012

Ahmad Yani, salah satu anggota DPR dari PPP, dalam sebuah forum diskusi mengatakan, bahwa ternyata informasi yang dikatakan Nazaruddin (mantan bendahara Partai Demokrat) banyak benarnya. Kata-kata ini merupakan pernyataan terbuka tentang kekuatan politik Nazaruddin, sekaligus kekalahan demi kekalahan yang terus diderita Partai Demokrat. Apalagi, 7 Desember 2012 lalu, KPK telah menetapkan salah satu kader terbaik Demokrat, Andi Mallarangeng sebagai tersangka korupsi Hambalang.

Andi menjadi tersangka menyusul Nazaruddin sendiri, Angelina Sondakh, Hartati Murdaya, dan lainnya. Jika Anas Urbaningrum juga kemudian menjadi tersangka, rasanya lengkap sudah kehancuran citra politik yang mendera Partai Demokrat. Dalam usianya yang masih muda, di tangan anak-anak muda; ternyata Partai Demokrat terlalu cepat luruh dan layu. Besar kemungkinan, pada Pemilu 2014 nanti, partai ini akan ditinggalkan para pendukungnya. Sebab, basis utama pendukung partai ini adalah kalangan rasionalis perkotaan, yang pada awalnya terpikat dengan slogan anti korupsi SBY.

"Jangan Ngremehin Gue, Boss..."

“Jangan Ngremehin Gue, Boss…”

Andai SBY boleh meminta, tentu dia ingin memutar arah jam sejarah ke belakang, ke masa-masa saat awal Partai Demokrat berdiri. Di masa itu, sekitar tahun 2004, dia menjadi sosok “tokoh terzhalimi” di bawah rezim Megawati. Atau kembali ke tahun 2009 ketika PD berhasil memenangi Pemilu mengalahkan Golkar dan PDIP, sebagai dua partai paling dominan. “Andaikan kita bisa mundur ke belakang, tentu saat itu kita akan mengatur partai ini sebaik mungkin, agar ia tidak seumur jagung,” mungkin begitu lamunan SBY dengan segala sesal di hatinya.

Partai Demokrat adalah partai anak-anak muda. Banyak kader, pengurus, dan simpatisannya berasal dari kaum muda. SBY sendiri dalam pencitraannya berselera anak muda. Namun sifat kemudaan ini ternyata begitu rapuh menghadapi godaan: harta, tahta, dan wanita. “Duhai indahnya, orang-orang tua yang berjiwa muda. Meski sudah tua, tapi selalu kreatif, dinamis, gerak cepat, dan mendukung perubahan-perubahan,” begitu kata sebagian orang.  Tetapi di hamparan suatu realitas politik, istilah ini bisa menjadi terbalik: Disana berkumpul anak-anak muda berjiwa tua!  Masih muda, enerjik, dinamis, tetapi pikirannya seperti orang tua; mereka bicara tema-tema investasi, dana pensiun, istri muda, kaya mendadak, dan seterusnya. Inilah anak-anak muda berjiwa tua (berjiwa lapuk dan lemah).

Sebagian aktivis muda, saat lagi moncer-moncernya kemampuan, daya, dan ekspresi; mereka berteriak keras: “Ganyang koruptor! Gantung koruptor! Bersihkan birokrasi dari KKN! Ciptakan clean government, good public service! Tumpas praktik korupsi dan mafia hukum sampai ke akar-akarnya.” Teriakan demikian mereka sampaikan saat masih menjadi pengangguran, teu boga gawe, atau penghasilan ada tapi pas-pasan.

Namun begitu mendapat kesempatan, mendapat posisi jabatan; begitu uang masuk ke rekening secara ajaib, ratusan juta uang keluar-masuk begitu mudahnya; begitu melihat SPG cantik-cantik, model tinggi semampai, atau selebritis “doyan keluyuran”…mendadak semangat “anti korupsi” itu lumer seperti kerupuk kesiram air. Sejak itu, isi omongannya tidak pernah lepas dari kosa kata “miliaran”. Jika semula dia berteriak “berantas korupsi”, pelan-pelan berubah: “Hati-hati, jangan mudah menuduh korupsi! Tetap tegakkan prinsip praduga tak bersalah!” Bahkan sampai pada kata-kata seperti ini: “Koruptor juga manusia, perlu hak-hak kehidupan dan dihargai privasinya.” Inilah dia, anak muda berjiwa tua. Usia masih muda, tapi otak dan perasaannya sudah ngendon di kuburan!

Mungkin kita bertanya, siapa sejatinya yang menghancurkan Partai Demokrat ini? Mengapa ia begitu rapuh; berdiri tahun sekitar 2004, atau baru sekitar 8 atau 9 tahun lalu, tapi kini citranya di mata publik sudah hancur-lebur?

Baca entri selengkapnya »


Dua Sisi Berbeda…

Desember 13, 2012

Para Pembaca Budiman…

Berikut kami ajak Anda untuk menyusuri beberapa image yang telah kami siapkan. Di sisi ada beberapa image, tapi intinya dua jenis. Image-image ini punya tema sama, yaitu seputar pencitraan, tapi cara dan obyeknya berbeda. Bahan-bahan yang ada dikumpulkan dari internet, dan banyak yang semodel itu.

Kami ingin Anda membuat penilaian secara jujur, secara runut dan bertahap, dari atas ke bawah. Pada akhir penilaian nanti, ada pertanyaan kecil yang perlu Anda jawab. Agar tidak membuang waktu, segera kita mulai saja.

Lihat gambar di bawah ini…

Seorang tentara sedang membidik sasaran dengan senapan.

Seorang tentara sedang membidik sasaran dengan senapan.

Lalu bandingkan dengan gambar di bawah ini…

Ini seorang laki-laki sedang menenteng gitar.

Seorang laki-laki sedang menenteng gitar.

Selanjutnya, perhatikan gambar berikut…

Pria ini membawa senjata yang lebih besar dan tampak gagah.

Pria ini membawa senjata yang lebih besar dan tampak gagah.

Lalu lihat yang ini…

Makin larut dalam pelukan gitar, dan mulai kelihatan gaya.

Larut dalam pelukan gitar, dan mulai kelihatan gaya.

Kemudian perhatikan gambar berikut ini… Ini berbeda…

Ini tentara wanita. Tapi tetap kelihatan berwibawa dengan senjatanya.

Ini tentara wanita. Tapi tetap kelihatan berwibawa dengan senjatanya.

Kalau yang ini, apa kelihatan berwibawa?

Ini makin tambah gaya. Makin neko-neko.

Ini makin tambah gaya. Makin neko-neko.

Coba lagi lihat yang ini…

Masih seputar senjata. Tapi ini moncongnya lebih besar. Mungkin pelurunya lebih besar.

Masih seputar senjata. Tapi ini moncongnya lebih besar. Mungkin pelurunya lebih besar.

Bandingkan dengan yang ini…

Saking khusyuk main gitar. Seolah lupa segala-galanya. Mungkin dia lupa dimana meletakkan wajahnya.

Saking khusyuk main gitar. Seolah lupa segala-galanya. Mungkin dia lupa dimana meletakkan wajahnya.

Seperti "kebelet" mau ke toilet....

Seperti “kebelet” mau ke toilet….

Coba perhatikan sessi terakhir ini…

Ini barisan anak-anak, bawa senjata mainan. Tapi tetap kelihatan wibawanya. Kelihatan laki-lakinya.

Ini barisan anak-anak, bawa senjata mainan. Tapi tetap kelihatan wibawanya. Kelihatan laki-lakinya.

Lalu, the last image…

Nih, mau ngapain lagi? Ngapain setengah jongkok begitu? Jangan-jangan "kebelet" juga dia...

Nih, mau ngapain lagi? Ngapain setengah jongkok begitu? Jangan-jangan “kebelet” juga dia…

Setelah melihat dan membandingkan image-image di atas, ada sebuah pertanyaan sederhana: Menurut Anda –boleh pembaca laki-laki atau wanita– mana yang lebih berwibawa, orang yang menenteng senapan atau menenteng gitar?

Kalau jawab Anda, orang yang menenteng gitar; memang sebelah mana berwibawanya? Wong gitar itu tak bisa mengeluarkan apa-apa, selain hanya bunyi senar.

Kalau jawab Anda, orang yang menenteng senapan; mengapa selama ini banyak anak muda keranjingan dengan gaya para gitaris, vokalis, atau pemusik band? Aneh kan. Tidak berwibawa, tapi disukai.

Ya…begitu deh. Sekian dulu ya inspirasinya, semoga bermanfaat. Amin. Kalau ada “pedes-pedesnye kate”, mohon maaf ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Admin.


Beberapa Kesalahan dalam Membaca Shalawat

Desember 7, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini adalah kajian sederhana, tidak rumit, tapi penting disampaikan. Singkat kata, di masyarakat kita sering mendengar perkataan seputar Shalawat Nabi yang disampaikan para khatib, penceramah, dai, muballigh, moderator, MC, atau para penulis lewat tulisan-tulisan. Dalam ucapan-ucapan Shalawat ini, kelihatannya seperti benar, padahal ada yang keliru, sehingga perlu dikoreksi.

Shalawat Nabi sendiri di masyarakat kita rata-rata disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Di antara bacaan itu ada yang sudah benar, tapi masih banyak yang keliru. Maka kita berbagi nasehat disini, untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang ada, insya Allah.

Perbaiki Bacaan Shalawat, Agar Semakin Berkah

Perbaiki Bacaan Shalawat, Agar Semakin Berkah

Berikut ini beberapa bentuk kesalahan makna yang sering terjadi ketika membaca Shalawat Nabi:

[1]. Ada sebagian orang yang berkata: “Shalawat dan salam kita panjatkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata “kita panjatkan kepada” adalah kesalahan, sebab memanjatkan doa itu untuk Allah Subahanu Wa Ta’ala, bukan untuk selain-Nya. Kita tidak boleh berdoa kepada selain Allah, hatta itu kepada Nabi, Malaikat, maupun ulama besar. (Lihat Surat Al Mu’minuun: 117).

[2]. Ada sebagian yang lain berkata: “Shalawat dan salam kita haturkan untuk Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata “kita haturkan untuk” atau “kita berikan untuk”, ini juga salah. Yang berhak memberi shalawat (sentosa) dan salam (selamat) kepada seseorang adalah Allah, bukan kita. Apalagi untuk memberi shalawat dan salam kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Kita tak punya kuasa apapun untuk memberi shalawat dan salam kepada orang lain, bahkan kepada diri kita sendiri. Lalu bagaimana bisa kita memberi shalawat dan salam untuk Rasulullah yang sudah wafat?

[3]. Ada lagi yang sering berkata -bahkan sangat sering- seperti ini: “Shalawat dan salam untuk junjungan alam, Nabi Besar Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata untuk “junjungan alam” ini keliru. Coba, kalau Anda ditanya, siapakah junjungan alam itu? Apakah Nabi Muhammad adalah junjungan alam? Bukan, beliau adalah hamba Allah dan Nabi-Nya. Junjungan alam adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalilnya adalah ayat dalam Surat Al Fatihah: “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin” (segala puji bagi Allah selalu pemimpin, pemelihara, junjungan alam). Sebutan “junjungan alam” harus diubah; ia bisa diganti dengan kalimat: rahmat bagi seluruh alam. Karena ada ayat yang berbunyi: “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” [tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam].

[4]. Ada yang membaca: “Shallu wa sallim ‘ala Muhammad” (sentosa dan keselamatan semoga bagi Muhammad).

KOREKSI: Sebaiknya kalimat di atas diperbaiki dengan melibatkan Asma Allah di dalamnya, sehingga menjadi: “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbih” (semoga Allah memberi sentosa dan selamat kepada Nabi Muhammad, keluarga, Shahabatnya). Dalilnya, para ulama kalau membaca Shalawat untuk Nabi mereka sering mengucap: Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Disini selalu melibatkan Asma Allah, karena doa shalawat memang dipanjatkan kepada-Nya.

[5]. Ada juga yang membaca: “Allahumma shalli ‘ala sayyidina, wa syafi’ina, wa habibina, wa karimina, Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in” (ya Allah berikan sentosa kepada pemimpin kami, penolong kami, kekasih kami, orang yang mulia kami, yaitu Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya).

KOREKSI: Sebutan Sayyidina masih ada perdebatan, sehingga tidak perlu dibahas disini. Sebutan Syafi’ina (pemberi syafaat bagi kami), ini tidak tepat; sebab hakikat pemberi Syafaat adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalilnya dalam Ayat Kursyi: “Man dzalladzi yasy-fa’u ‘indahu illa bi idznih” (dan siapa lagi yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya, jika tanpa izin-Nya). Jadi pemberi syafaat bagi kaum Muslimin secara hakiki adalah Allah Ta’ala; kemudian Dia memberikan sebagian hak-Nya dalam hal ini (pemberian syafaat) kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Sebutan Habibina (kekasih kami); hal ini menuntut tanggung-jawab. Benarkah kita telah menjadikan Nabi sebagai kekasih kita? Jika benar, buktikan dengan komitmen mengikuti Sunnah-nya! Sedangkan sebutan Karimina (orang yang mulia kami), sebenarnya sebutan ini sudah masuk ke dalam istilah Rasulina atau Nabiyyina; karena sebagai Nabi dan Rasul, kita pasti memuliakan beliau.

Lalu cara baca Shalawat yang lebih tepat bagaimana?

Contoh dalam versi bahasa Indonesia: “Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan para Shahabatnya.” (Jadi Shalawat itu tetap ditujukan kepada Allah).

Contoh dalam versi bahasa Arab: “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.” (Disini kita memakai gelar Rasulullah di depan nama Muhammad; dan doa Shalawat ini tetap ditujukan kepada Allah).

Demikian beberapa koreksi seputar tata-cara membaca Shalawat Nabi yang berkembang di tengah masyarakat kita. Semoga kajian sederhana ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abisyakir).