Beberapa Kesalahan dalam Membaca Shalawat

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ini adalah kajian sederhana, tidak rumit, tapi penting disampaikan. Singkat kata, di masyarakat kita sering mendengar perkataan seputar Shalawat Nabi yang disampaikan para khatib, penceramah, dai, muballigh, moderator, MC, atau para penulis lewat tulisan-tulisan. Dalam ucapan-ucapan Shalawat ini, kelihatannya seperti benar, padahal ada yang keliru, sehingga perlu dikoreksi.

Shalawat Nabi sendiri di masyarakat kita rata-rata disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Di antara bacaan itu ada yang sudah benar, tapi masih banyak yang keliru. Maka kita berbagi nasehat disini, untuk memperbaiki kekeliruan-kekeliruan yang ada, insya Allah.

Perbaiki Bacaan Shalawat, Agar Semakin Berkah

Perbaiki Bacaan Shalawat, Agar Semakin Berkah

Berikut ini beberapa bentuk kesalahan makna yang sering terjadi ketika membaca Shalawat Nabi:

[1]. Ada sebagian orang yang berkata: “Shalawat dan salam kita panjatkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata “kita panjatkan kepada” adalah kesalahan, sebab memanjatkan doa itu untuk Allah Subahanu Wa Ta’ala, bukan untuk selain-Nya. Kita tidak boleh berdoa kepada selain Allah, hatta itu kepada Nabi, Malaikat, maupun ulama besar. (Lihat Surat Al Mu’minuun: 117).

[2]. Ada sebagian yang lain berkata: “Shalawat dan salam kita haturkan untuk Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata “kita haturkan untuk” atau “kita berikan untuk”, ini juga salah. Yang berhak memberi shalawat (sentosa) dan salam (selamat) kepada seseorang adalah Allah, bukan kita. Apalagi untuk memberi shalawat dan salam kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Kita tak punya kuasa apapun untuk memberi shalawat dan salam kepada orang lain, bahkan kepada diri kita sendiri. Lalu bagaimana bisa kita memberi shalawat dan salam untuk Rasulullah yang sudah wafat?

[3]. Ada lagi yang sering berkata -bahkan sangat sering- seperti ini: “Shalawat dan salam untuk junjungan alam, Nabi Besar Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”

KOREKSI: Kata-kata untuk “junjungan alam” ini keliru. Coba, kalau Anda ditanya, siapakah junjungan alam itu? Apakah Nabi Muhammad adalah junjungan alam? Bukan, beliau adalah hamba Allah dan Nabi-Nya. Junjungan alam adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalilnya adalah ayat dalam Surat Al Fatihah: “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin” (segala puji bagi Allah selalu pemimpin, pemelihara, junjungan alam). Sebutan “junjungan alam” harus diubah; ia bisa diganti dengan kalimat: rahmat bagi seluruh alam. Karena ada ayat yang berbunyi: “Wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin” [tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam].

[4]. Ada yang membaca: “Shallu wa sallim ‘ala Muhammad” (sentosa dan keselamatan semoga bagi Muhammad).

KOREKSI: Sebaiknya kalimat di atas diperbaiki dengan melibatkan Asma Allah di dalamnya, sehingga menjadi: “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbih” (semoga Allah memberi sentosa dan selamat kepada Nabi Muhammad, keluarga, Shahabatnya). Dalilnya, para ulama kalau membaca Shalawat untuk Nabi mereka sering mengucap: Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Disini selalu melibatkan Asma Allah, karena doa shalawat memang dipanjatkan kepada-Nya.

[5]. Ada juga yang membaca: “Allahumma shalli ‘ala sayyidina, wa syafi’ina, wa habibina, wa karimina, Muhammad, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in” (ya Allah berikan sentosa kepada pemimpin kami, penolong kami, kekasih kami, orang yang mulia kami, yaitu Muhammad, beserta keluarga dan para shahabatnya).

KOREKSI: Sebutan Sayyidina masih ada perdebatan, sehingga tidak perlu dibahas disini. Sebutan Syafi’ina (pemberi syafaat bagi kami), ini tidak tepat; sebab hakikat pemberi Syafaat adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalilnya dalam Ayat Kursyi: “Man dzalladzi yasy-fa’u ‘indahu illa bi idznih” (dan siapa lagi yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya, jika tanpa izin-Nya). Jadi pemberi syafaat bagi kaum Muslimin secara hakiki adalah Allah Ta’ala; kemudian Dia memberikan sebagian hak-Nya dalam hal ini (pemberian syafaat) kepada Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Sebutan Habibina (kekasih kami); hal ini menuntut tanggung-jawab. Benarkah kita telah menjadikan Nabi sebagai kekasih kita? Jika benar, buktikan dengan komitmen mengikuti Sunnah-nya! Sedangkan sebutan Karimina (orang yang mulia kami), sebenarnya sebutan ini sudah masuk ke dalam istilah Rasulina atau Nabiyyina; karena sebagai Nabi dan Rasul, kita pasti memuliakan beliau.

Lalu cara baca Shalawat yang lebih tepat bagaimana?

Contoh dalam versi bahasa Indonesia: “Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan para Shahabatnya.” (Jadi Shalawat itu tetap ditujukan kepada Allah).

Contoh dalam versi bahasa Arab: “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.” (Disini kita memakai gelar Rasulullah di depan nama Muhammad; dan doa Shalawat ini tetap ditujukan kepada Allah).

Demikian beberapa koreksi seputar tata-cara membaca Shalawat Nabi yang berkembang di tengah masyarakat kita. Semoga kajian sederhana ini bermanfaat dan bisa diamalkan. Amin Allahumma amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abisyakir).

Iklan

106 Responses to Beberapa Kesalahan dalam Membaca Shalawat

  1. gold price berkata:

    Tawassul melalui Diri Para Nabi dan Hamba Saleh Bagian dari tawassul ini berbeda dengan bagian sebelumnya (lihat no 3). Jika pada kesempatan yang lalu disebutkan mengenai tawassul melalui doa Nabi maka pada kesempatan kali ini kita diberitahukan tentang tawassul kepada diri dan pribadi Nabi agar menjadi sarana pengkabulan doa, karena mereka memiliki kedudukan (jah) di sisi Allah SWT. Sebagai contoh apa yang dilakukan nabi Ayyub dengan baju bekas dipakai (melekat di badan) oleh Yusuf sebagai sarana (wasilah) kesembuhannya dari kebutaan, berkat izin Allah SWT. Jelas sekali perbedaan antara tawassul melalui doa Nabi, dengan tawassul melalui diri Nabi.

  2. Juga dalam firman-Nya, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) sebagai penjelasan atas segala sesuatu”. (QS. An-Nahl : 89) As-Sa’di -rahimahullah- berkata -menafsirkan ayat di atas-, “(Sebagai penjelas) dalam masalah ushul (pokok) dan furu’ (cabang), dan dalam hukum-hukum kedua negeri (dunia dan akhirat), serta semua perkara yang dibutuhkan oleh hamba. Semuanya telah dijelaskan di dalamnya (Al-Qur`an) dengan penjelasan yang paling sempurna, dengan lafazh-lafazh yang jelas dan makna-makna yang agung”. Karenanya barangsiapa yang membuat perkara baru dalam agama ini dan mensyariatkan suatu syariat yang tidak disyari’atkan oleh Allah, maka sesungguhnya dia telah menuduh Allah berdusta, sadar atau tidak. Wallahu waliyyu At-Taufik.

  3. Idebenone berkata:

    Demikianlah paparan singkat dan sangat sederhana ini. Nasehat dan teguran sangat kami harapkan demi kebaikan kita semua. Semoga kita termasuk orang yang menghidupkan Sunnah ketika banyak orang telah melupakan dan melalaikannya. Semoga Allah memberikan keteguhan kepada kita untuk bersabar di atas ketakwaan kepada-Nya hingga ajal tiba, wallahul muwaffiq. Kami juga memohon ampun kepada Allah ta’ala atas segala kekurangan dan kesalahan yang ada, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

  4. m abdushomad berkata:

    Btul bangt! Trm kash ats peringatanya smg saya pribadi dan masyrakat jadi lbih tau dan lbih kritis dalam mengucapkan stiap kata2x jazakalloh khoeron kasiro.

  5. NAC eye drops berkata:

    Terbelahnya bulan, suatu mukjizat besar yang Allah berikan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam sebagai bukti atas kenabian-nya. Hal itu terjadi di Makkah ketika kaum musyrikin meminta suatu bukti dari beliau.

  6. Dida berkata:

    banyak orang di indonesia tidak cukup hanya bersalawat “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.” , melainkan banyak yang bersalawat nariyah, apakah salawat nariyah itu ada tuntunannya dari nabi? tolong jelaskan.

  7. abisyakir berkata:

    @ Dida…

    Shalawat nariyah itu banyak dibaca oleh dai TV, Maulana, di TransTV itu. Sering dia buka ceramahnya dengan membaca “Allahumma shalli shalatan kamilatan wa sallim salaman ‘ala Nabiyina Muhammadin…” Sampai di kalimat ini tidak masalah. Karena maknanya bersifat umum seperti shalawat Nabi yang lain. Shalawat itu kan doa ya. Doa boleh mengikuti teks yang sudah ada dalam Al Qur’an atau Sunnah; boleh juga dengan doa sendiri, selama makna dan kalimatnya baik.

    Tetapi dalam Shalawat Nariyah itu, ketika mulai mensifati pribadi Nabi, nah disitu mulai ada masalah-masalah. Perhatikan kalimat berikut: “…alladzi tanhallu bihil ‘uqadu, wa tanfariju bihil kurabu, wa tuqdhaa bihil hawaa’iju wa tunaalu bihir raghaa’ibu wa husnul khawaatimi wa yustasqal ghomaamu…” (yang dengan Nabi Muhammad, terurai ikatan-ikatan, mendapat jalan keluar atas kesulitan-kesulitan, terlaksana hajat-hajat, tercapai harapan-harapan, tercapai husnul khatimah, tersirami orang-orang yang bersedih).

    Hal-hal itu disandarkan kepada Nabi Saw, bukan kepada Allah. Nah, itulah masalahnya. Karena dalam Islam itu segala nikmat dan kebaikan-kebaikan, disandarkan kepada Allah bukan kepada makhluk-Nya. Makhluk hanyalah menerima, menjadi perantara datangnya nikmat, atau menjadi penyampai saja; tetapi secara hakiki semua kebaikan itu karena Kekuasaan Ta’ala. Dalilnya: Wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir (dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa).

    Pada sisi-sisi keliru dari shalawat itu, tidak usah diamalkan. Amalkan sisi-sisi yang baik dan lurusnya saja. Terimakasih.

    Admin.

  8. juhaiman berkata:

    Beberapa shalawat buatan manusia lagi :.

    A. Shalawat Nariyah
    Shalawat jenis ini banyak tersebar dan diamalkan di kalangan kaum muslimin. Bahkan ada yang menuliskan lafadznya di sebagian dinding masjid. Mereka berkeyakinan, siapa yang membacanya 4444 kali, hajatnya akan terpenuhi atau akan dihilangkan kesulitan yang dialaminya. Berikut nash shalawatnya:

    “Ya Allah, berikanlah shalawat yang sempurna dan salam yang sempurna kepada Baginda kami Muhammad yang dengannya terlepas dari ikatan (kesusahan) dan dibebaskan dari kesulitan. Dan dengannya pula ditunaikan hajat dan diperoleh segala keinginan dan kematian yang baik, dan memberi siraman (kebahagiaan) kepada orang yang sedih dengan wajahnya yang mulia, dan kepada keluarganya, para shahabatnya, dengan seluruh ilmu yang Engkau miliki.”
    Ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan berkaitan dengan shalawat ini:
    1- Sesungguhnya aqidah tauhid yang diseru oleh Al Qur’anul Karim dan yang diajarkan kepada kita dari Rasulullah r, mengharuskan setiap muslim untuk berkeyakinan bahwa Allah-lah satu-satunya yang melepaskan ikatan (kesusahan), membebaskan dari kesulitan, yang menunaikan hajat, dan memberikan manusia apa yang mereka minta. Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim berdoa kepada selain Allah I untuk menghilangkan kesedihan atau menyembuhkan penyakitnya meski yang diminta itu seorang malaikat yang dekat atau nabi yang diutus. Telah disebutkan dalam berbagai ayat Al Qur’an yang menjelaskan haramnya meminta pertolongan, berdoa, dan semacamnya dari berbagai jenis ibadah kepada selain Allah U. Firman Allah U:

    “Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah. Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya’.” (Al-Isra: 56)
    Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini turun berkenaan dengan kaum yang berdoa kepada Al-Masih ‘Isa, atau malaikat, ataukah sosok-sosok yang shalih dari kalangan jin. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/47-48)
    2- Bagaimana mungkin Rasulullah r rela dikatakan bahwa dirinya mampu melepaskan kesulitan, menghilangkan kesusahan dsb, sedangkan Al Qur’an menyuruh beliau untuk berkata:

    “Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
    Seorang laki-laki datang kepada Nabi r, lalu mengatakan, “Berdasarkan kehendak Allah dan kehendakmu”. Maka beliau bersabda:

    “Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah ? Ucapkanlah: Berdasarkan kehendak Allah semata.” (HR. An-Nasai dengan sanad yang hasan) [Lihat Minhaj Al-Firqatin Najiyah 227-228, Muhammad Jamil Zainu]

    B. Shalawat Badar1
    Lafadz shalawat ini -jika diartikan- sebagai berikut:

    Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Thaha Rasulullah
    Shalawat Allah dan salam-Nya semoga tercurah kepada Yasin Habibillah
    Kami bertawassul dengan nama Allah dan dengan pemberi petunjuk, Rasulullah
    Dan dengan seluruh orang yang berjihad di jalan Allah, serta dengan ahli Badr, ya Allah
    Dalam ucapan shalawat ini terkandung beberapa hal:
    1. Penyebutan Nabi dengan habibillah
    2. Bertawassul dengan Nabi
    3. Bertawassul dengan para mujahidin dan ahli Badr
    Point pertama telah diterangkan kesalahannya secara jelas pada rubrik Tafsir.
    Pada point kedua, tidak terdapat satu dalilpun yang shahih yang membolehkannya. Allah Idan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan. Demikian pula para shahabat (tidak pernah mengerjakan). Seandainya disyariatkan, tentu Nabi r telah menerangkannya dan para shahabat melakukannya. Adapun hadits: “Bertawassullah kalian dengan kedudukanku karena sesungguhnya kedudukan ini besar di hadapan Allah”, maka hadits ini termasuk hadits maudhu’ (palsu) sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Al-Albani.
    Adapun point ketiga, tentunya lebih tidak boleh lagi karena bertawassul dengan Nabi r saja tidak diperbolehkan.
    Yang dibolehkan adalah bertawassul dengan nama Allah di mana Allah I berfirman:

    “Dan hanya milik Allah-lah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (Al-A’raf: 180)
    Demikian pula di antara doa Nabi: “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan segala nama yang Engkau miliki yang Engkau namai diri-Mu dengannya. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang hamba-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan di sisi-Mu dalam ilmu yang ghaib.”
    Bertawassul dengan nama Allah I seperti ini merupakan salah satu dari bentuk tawassul yang diperbolehkan. Tawassul lain yang juga diperbolehkan adalah dengan amal shalih dan dengan doa orang shalih yang masih hidup (yakni meminta orang shalih agar mendoakannya). Selain itu yang tidak berdasarkan dalil, termasuk tawassul terlarang.

    C. Shalawat Al-Fatih (Pembuka)
    Lafadznya adalah sebagai berikut:

    “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Baginda kami Muhammad yang membuka apa yang tertutup dan yang menutupi apa-apa yang terdahulu, penolong kebenaran dengan kebenaran yang memberi petunjuk ke arah jalan yang lurus. Dan kepada keluarganya, sebenar-benar pengagungan padanya dan kedudukan yang agung.”
    Berkata At-Tijani tentang shalawat ini –dan dia berdusta dengan perkataannya-:
    “…Kemudian (Nabi r) memerintah aku untuk kembali kepada shalawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku untuk pertama kali bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al Qur’an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap doa yang kecil maupun besar, dan dari Al Qur’an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir.”
    Ini merupakan kekafiran yang nyata karena mengganggap perkataan manusia lebih afdhal daripada firman Allah U. Sungguh merupakan suatu kebodohan apabila seorang yang berakal apalagi dia seorang muslim berkeyakinan seperti perkataan ahli bid’ah yang sangat bodoh ini. (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah, hal. 225 dan Mahabbatur Rasul, hal. 285, Abdur Rauf Muhammad ‘Utsman)
    Rasulullah r telah bersabda:

    “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi dari ‘Ali bin Abi Thalib. Dan datang dari hadits ’Utsman bin ‘Affan riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
    Dan juga Rasulullah r bersabda:

    “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan menjadi sepuluh kali semisal (kebaikan) itu. Aku tidak mengatakan: alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim itu satu huruf.” (Shahih, HR.At-Tirmidzi dan yang lainnya dari Abdullah bin Mas’ud dan dishahihkan oleh Al-Albani t)

    D. Shalawat yang disebutkan salah seorang sufi dari Libanon dalam kitabnya yang membahas tentang keutamaan shalawat
    Lafadznya sebagai berikut:

    “Ya Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad sehingga Engkau menjadikan darinya keesaan dan qayyumiyyah (maha berdiri sendiri dan yang mengurusi makhluknya).”
    Padahal sifat Al-Ahadiyyah dan Al-Qayyumiyyah, keduanya termasuk sifat-sifat Allah U. Maka, bagaimana mungkin dia (pembuat shalawat) memberikan dua sifat Allah ini kepada salah seorang dari makhluk-Nya, padahal Allah I berfirman:

    “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)

    E. Shalawat Sa’adah (Kebahagiaan)
    Lafadznya sebagai berikut:

    “Ya Allah, berikanlah shalawat kepada baginda kami Muhammad sejumlah apa yang ada dalam ilmu Allah, shalawat yang kekal seperti kekalnya kerajaan Allah.”
    Berkata An-Nabhani As-Sufi setelah menukilkannya dari Asy-Syaikh Ahmad Dahlan: “Bahwa pahalanya seperti 600.000 kali shalat. Siapa yang rutin membacanya setiap hari Jum’at 1.000 kali, maka dia termasuk orang yang berbahagia dunia akhirat.” (Lihat Mahabbatur Rasul, hal. 287-288)
    Cukuplah keutamaan palsu yang disebutkannya, yang menunjukkan kedustaan dan kebatilan shalawat ini.

    F. Shalawat Al-In’am
    Lafadznya sebagai berikut:

    “Ya Allah berikanlah shalawat, salam dan berkah kepada baginda kami Muhammad dan kepada keluarganya, sejumlah kenikmatan Allah dan keutamaan-Nya.”
    Berkata An-Nabhani menukil dari Ahmad Ash-Shawi: “Ini adalah shalawat Al-In’am. Dan ini termasuk pintu-pintu kenikmatan dunia dan akhirat, dan pahalanya tidak terhitung.” (Mahabbatur Rasul, hal. 288)
    Jenis-jenis shalawat di atas banyak dijumpai di kalangan sufiyah. Bahkan dijadikan sebagai materi yang dilombakan antar tarekat sufi. Karena setiap tarekat mengklaim bahwa mereka memiliki doa, dzikir, dan shalawat-shalawat yang menurut mereka mempunyai sekian pahala. Atau mempunyai keutamaan bagi yang membacanya yang akan menjadikan mereka dengan cepat mencapai derajat para wali. Atau menyatakan bahwa termasuk keutamaan wirid ini karena syaikh tarekatnya telah mengambilnya dari Nabi r secara langsung dalam keadaan sadar atau mimpi. Di mana, katanya, Rasulullah r telah menjanjikan bagi yang membacanya: kedekatan dengan beliau, masuk jannah (surga) dan yang lainnya dari sekian propaganda yang tidak bernilai sedikitpun dalam timbangan syariat. Sebab, syariat ini tidaklah diambil dari mimpi-mimpi. Dan karena Rasulullah r tidak memerintahkan kita dengan perkara-perkara tersebut sewaktu beliau masih hidup.
    Jika sekiranya ada kebaikan untuk kita, niscaya beliau telah menganjurkan kepada kita. Apalagi bila model shalawat tersebut sangat bertentangan dengan apa yang beliau bawa, yakni menyimpang dari agama dan sunnahnya. Dan yang semakin menunjukkan kebatilannya, dengan adanya wirid-wirid bid’ah ini menyebabkan terhalangnya mayoritas kaum muslimin untuk mendekatkan diri kepada Allah I dengan ibadah-ibadah yang justru disyariatkan, yang telah Allah I jadikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya.
    Betapa banyak orang yang berpaling dari Al Qur’an dan tidak mau mentadabburinya disebabkan tenggelam dan ‘asyik’ dengan wirid bid’ah ini? Dan berapa banyak dari mereka yang sudah tidak peduli lagi untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah r karena tergiur dengan pahala ‘instant’ yang berlipat ganda.

    Sumber: Situs Asysyariah com, tentang shalawat-shalawat bid’ah.

  9. Dida berkata:

    @ abisyakir & @ juhaiman: Terimakasih atas penjelasannya,,, jazakallahu khair

  10. umar abu berkata:

    Salawat itu kan spt ini ” ALLAHUMA SALLI ALLA MUHAMMAD WALLA ALLI MUHAMMAD” jgn diputus.

  11. carnosine berkata:

    Teladan yang terbaik bagi mereka dan tentunya bagi seluruh kalangan manusia adalah Rasulullah salallahu alaihi wasalam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Karena para sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam adalah orang-orang yang telah Allah Ta’ala pilih untuk menjadi teman bagi penghulu umat manusia. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat bimbingan dan pendidikan dari wahyu secara langsung. Sehingga jadilah mereka sebagai teladan hidup yang sesungguhnya.

  12. Piracetam berkata:

    Demikianlah sekelumit pelajaran yang bisa kami sampaikan dalam kesempatan ini. Semoga Allah ta’ala memberikan kepada kita tambahan ilmu dan ketakwaan sehingga akan menjaga kita dari terjerumus dalam perkara-perkara yang mendatangkan murka-Nya. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘alamin.

  13. Piracetam berkata:

    Teladan yang terbaik bagi mereka dan tentunya bagi seluruh kalangan manusia adalah Rasulullah salallahu alaihi wasalam dan para sahabatnya radhiyallahu anhum. Karena para sahabat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam adalah orang-orang yang telah Allah Ta’ala pilih untuk menjadi teman bagi penghulu umat manusia. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat bimbingan dan pendidikan dari wahyu secara langsung. Sehingga jadilah mereka sebagai teladan hidup yang sesungguhnya.

  14. Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

  15. Rizki berkata:

    Alhamdulillah bertambah lagi ilmu agama, bangganya jadi umat islam.

  16. Rizki berkata:

    Terima kasih banyak atas ilmu yang anda bagikan dan atas nasihatnya yang sangat bermanfaat bagi saya.

  17. Fulan-r berkata:

    alhamdulilah bertambah lagi kewahabian saya…..

  18. Xyz berkata:

    Bersihkan hati… Bila masih SD jangan komentari bahasan anak PT. Maaf

  19. abisyakir berkata:

    @ Xyz…

    Ya kalau Anda tahu kalau kami ini “anak SD” ya tunjukkan buktinya… biar kami sama-sama bisa belajar… terimakasih.

    Admin.

  20. emha fuad berkata:

    Yang nulis blog ini kayanya sudah dapat menandingi karya ulama jawa, kebanyakan asupan firanda atau bin bass atau albani yang tidak jelas keilmuan dalam karyanya yang terlalu banyak tanaqud sampai berani menyalahkan hadis shahih dari imam bukhari, wah….. keren juga ni….. Gerakan salaf itu ada yang sholeh dan salah, yang shaleh mereka yang menghormati para ulama, emangnya….. gerakan wahabi punya andil dalam dakwah di indonesia dan kemerdekaannnyaa…… coba mas…. anda renungkan….. JANGAN MENGAKU SALAF SHALEH kalau belum dapat menghormati para Ulama, kayaknya surga itu milik anda saja bung…..

  21. doni berkata:

    ngga usah ngotot

  22. Pramudya andiana berkata:

    Membicarakan tentang ilmu agama memang gak bakal selesai,justru inilah yang di sebut rahmat.saya rasa cukuplah shalawat yang diajarkan oleh rasul seperti : allahumma shalli ala muhammad wa ali muhammad,boleh saja bershalawat dengan kalimat sendiri seperti para sahabat menyambut kedatangan rasul dengan shalawat thala’al badru dan rasul pun tidak melarang ?,asal artinya tidak melenceng dari akidah

  23. Fulan berkata:

    kembalilah kpd Al-qur’an dan hadisnya,
    kalo bisa, tigglkan ajaran ulama wahabi itu.

  24. junaidi berkata:

    Muhammad dalam pengertian syari’at dan pengetian hakikat berbeda , jadi tergantung ilmu seseorang dalam mengucapkan shalawat

  25. abisyakir berkata:

    @ Junaidi…

    Muhammad Rasulullah walladzina ma’ahu asyidda’u ‘alal kuffari wa ruhama’u bainahum…

    Muhammad itu adalah Rasul Allah, orang2 yang bersamanya sangat keras kepada orang kafir dan sangat lembut kepada sesama Mukmin…
    Jadi Nabi Muhammad itu hakikat dan syariatnya adalah RASUL ALLAH, HAMBA, dan NABI-NYA.

    Admin.

  26. Wali sunda sunda berkata:

    Betapa banyak orang yg masih dangkal dalam memahami sariat agama,,belajar hanya sekedar tidak secara detail tidak tau sabab musabab suatu amalan hanya berpijak pada alquran dengan terjemah semata tidak mengkaji secara etimologi ataupun terminologinya,,tidak belajar tata bahasa dan gramatika bahasa arab alquran dengan seksama betapa bodohnya orang semacam penulis admin ini..tidak belajar sejarah terbukti syidina ali meninggal dibunuh bukan oleh orang kafir tapi di bunuh oleh sesama muslim yang hafid quran tapi tidak mengkajinya dia menghukumi hanya berdasarkan teks alquran padahal siapakah yg mendapat gelar dari nabi sebagai BABUL ILMI apakah si pembunuh ataukah syidina ali,,mungkin anda paham maksud saya,,!?

  27. rifai am berkata:

    Belajarla lg hei org x paling merasa benar cep2 … Jngn mengoreksi org lain dngn kesalhn sblm memhmi bener tntang ap x anda haturken … Astgfirullh

  28. Alfian berkata:

    ada yg bisa share dalil menambah-nambahi kata “sahabat” dalam shalawat? dalil ya, trims…

  29. abisyakir berkata:

    @ Alfian…

    Dalilnya, suruhan untuk mendoakan kaum Muslim secara umum saja, selain mendoakan Nabi SAW. Dalilnya seperti pada doa berikut: “Rabbanaghfirlana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman wa laa taj’al fi qulubina ghillan lil ladzina amanu, Rabbana innaka ra’ufur rahiim” (wahai Rabb kami ampuni kami dan ampuni saudara-saudara kami yang lebih dulu beriman dari kami, dan jangan adakan dalam hati kami kedengkian kepada sesama orang-orang beriman, Rabbana sesungguhnya Engkau Maha Santun lagi Maha Penyayang). Kata ulama, doa ini lebih khusus dialamatkan kepada para Shahabat Nabi SAW karena mereka itulah yang lebih dulu beriman setelah Nabi SAW.

    Jadi doa shalawat (sentosa-sejahtera) untuk para Shahabat, untuk para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, juga kaum Muslimin pada umumnya; dalilnya berdasarkan pentingnya mendoakan sesama Muslim dalam kebaikan, khususnya mereka yang lebih dulu beriman dari kita. Di sisi lain para ulama mengutamakan para Shahabat dengan didoakan keridhaan seperti “Radhiyallahu ‘Anhum”. Kalau kepada para ulama atau orang-orang Muslim yang dikenal kebaikannya, didoakan “rahimahullah atau rahimahumullah”. Wallahu a’lam.

    Admin.

  30. olay berkata:

    asik nie pada debat, kl berantem tambah seru… kenapa gk lou tegor aje yg ngucap sholawat yg lou anggap salah ?
    jin setan manusia setan datang membawa kesesatan informasi… mudah x memecah pemahaman mereka… setelah kristen tak belaku sampe ribuan golongan diantara mereka, sampai ke islam ada 4 berkembang jd 30 pe terus aliran baru bermunculan pe dtng’a hari kiamat… dimana tuhan allah yg memberi petunjuk setelah nabi’a wafat… sedangkan ummat’a di akhir zaman pada bingung dan saling berselisih membenarkan atau menyalahkan firman atau hadist yg ditafsirkan dan di ajarkan oleh para imam besar islam yg dahulu mereka tdk pernah berselisih walapun berbeda cara pengamalan ilmu’a masing” saling menghormati dan tidak ada dengki di hati biarpun berbeda pendapat dlm pengamalan spiritual mereka kpd allah dan rosul’a, setelah mereka mati dan dicabut’a ilmu, nama’a akhir zaman kl gk kesesatan ya banyak golongan, rusak akhlak atau keburukan lain’a di dlm islam wajarlah kl ada yg debat ky gini.

  31. abisyakir berkata:

    @ Olay…

    Aneh, memberi peringatan dan pelajaran, kok disebut berantem seru? Gak pernah mengikuti kajian ilmiah ya? Biasa sajalah, jangan emosi.

    Admin.

  32. dongopoiki berkata:

    @ Olay…

    Aneh, memberi peringatan dan pelajaran, kok disebut berantem seru? Gak pernah mengikuti kajian ilmiah ya? Biasa sajalah, jangan emosi.

    Admin.

    Kalau komentar malah menambah panas saja ini admin… Mau komentar berantem seru, mau bilang apa kek, terserah dung enggak usah juga meladeni emosi, enggak usah sok kajian ilmiah. Kajian ilmiah itu ya mestinya mengkaji dua sisi, bukan satu sisi dari wahabiyah saja sudut pandangnya.

  33. abisyakir berkata:

    @ Dongopo….

    Sebenarnya kita sudah sabar-sabarkan dalam komentar, tidak melayani provokasi. Tapi kalau terus-terusan orang salah paham, main mencela, main menyalahkan tanpa mengerti duduk masalah, ya perbolehkan kita berikan “sedikit” koreksi.

    Admin.

  34. amaya berkata:

    @admin n yang komentar disini termasuk saya juga
    Ingat2 kalo semua yang tertulis disini dicatat sama Malaikat.

    Gak usah banyak berdebat, secara ntar tulisan2 kita ini akan d buktikan d akhirat. Apakah jadi pemberat kebaikan amal jariyah ato malah jadi nambahin yg jelek yg parah lg gara2 tulisan ni ngalir terus dosa2nya karna yg kita tulis ga ngelewatin proses cross check or tabayun…. :((.

    Bukannya Allah memberikan kita2 ni akal n pikiran untuk menelaah segala sesuatu di kehidupan kita.
    Selain itu seperti komen sebelumnya dalam nelaah emang perlu banget2 jauhin yg namanya dengki dll.

    Mohon maaf kalo kata2saya bikin sebel dll karna saya juga ilmunya masih jauh dari teman2 serta admin.

    Motif saya cuma ngingetin aja, smoga kita semua selalu diberkahi oleh Allah

    Lagian ada gitu yg mau pake sendal panas trus otaknya kerebus :(( ato yg deket aja dah ntar di kuburan tulang2 pada nyatu karena disempitin ukurannya :((,*takut
    And please banget jangan sampe ada perasaan aman ya, takutnya setan lg yg niupin…..

  35. amaya berkata:

    Tambahan bwt admin Jazakallah khairan katsiran untuk ilmunya, smoga jadi amal jariyah ya :))

  36. abisyakir berkata:

    @ Amaya…

    Terimakasih Mbak Maya atas nasehatnya. Syukran jazakillah khair.

    Admin.

  37. Antiwahabi berkata:

    Selamanya faham wahabi tdk akan pernah bisa sama dengan ahlu sunnah, apalagi tasawuf, dan yg heran lagi kok si piracetam bisa bilang para sahabat mendapat bimbingan wahyu secara langsung? wah makin aneh blog ini,..

  38. Antiwahabi berkata:

    kalau Wahabi mengatakan cinta Nabi , sesungguhnya mereka benci Nabi, mereka lebih cinta duniawi, contoh aja, Masjidil Haram dijadikan tempat wisata, ..Hotelnya lebih tinggi dari Masjid ,.. sdg rumah Rassullah ketika kanak2 apa diperhatikan ? hmmmm

  39. abisyakir berkata:

    @ Antiwahabi…

    Yang keliru-keliru dari “Wahabi” jangan diikuti, tapi luruskan. Jangan juga jadi “bahan obrolan atau debat” tapi sampaikan nasehat kepada yang bersangkutan. Kalau asal mencela saja, sayangi hidupmu kawan. Segala ucap dan tindak kita ada yang mencatat. Terimakasih.

    Admin

  40. abisyakir berkata:

    @ Antiwahabi…

    Lho, mana yang bilang bahwa kami (pengelola blog) menulis, para Shahabat RA menerima wahyu dari Allah? Mana itu dan sebutkan. Berhati-hatilah, jangan memfitnah. Jangan suka buat statement seenaknya, berbahaya saudaraku. Terimakasih.

    Admin

  41. iyan berkata:

    Di antara tanda sebuah diskusi telah berubah menjadi debat kusir

    -Nada suara mulai meninggi
    -Tulisan mulai menggunakan istilah yang emosional
    -Mulai muncul kata-kata ejekan atau sebutan yang merendahkan
    -Mengulang-ulang argumentasi
    -Mengingkari pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa harus melalui pembuktian
    -Menolak logika
    -Mulai melibatkan perasaan dan emosi yang berlebihan

    !!!!!!!!!!

  42. Achmad Fazri berkata:

    Selama ini saya kalau pembukaan salah ya, waduh, kok beda persepsi, ini yang benar yang mana, saya bingung

  43. Artikel yang bagus gan
    numpang info yah gan, dicari reseller atau distributor untuk anti gores clear dan glear hd ugoscreen kualitas bahan dari korea dan teknologi potongan laser sehingga memudahkan dalam pemasangan, tersedia segala tipe anti gores dengan kualitas terbaik , tipe terlengkap dan harga bersain. Tersedia jenis Glare HD (anti minyak) dan Clear (bening) HD Samsung, Xiaomi, Lenovo, Oppo, Asus, Blackberry, Apple, Nokia, Advan, Evercoss, Sony, Acer, LG, HTC, Huawei, Polytron, Andromax, Motorola, Vivo, Coolpad, One+
    screen protector terbaik

  44. claudia berkata:

    shalawat dn salam itu cm bentuk rasa trimakasih kami yg diperuntukkan untuk nabi Muhammad S.a.w.
    menghargai perjuangan kerasnya dlm mmpertahankan agama Allah S.w.t
    udeh ah segitu aje ohohoohoo

  45. onezz berkata:

    Assalamu’alaikum..
    Mengenai masalah sholawat nariyah saya cuma ingin menyampaikan pendapat saya, sebelumnya mohon maaf bila pendapat saya tidak sepaham dengan admin dan para pembaca lainnya. Menurut saya janganlah terlalu mudah memvonis adanya unsur kesyirikan dalam sholawat2 yang ada, dengan demikian secara tidak langsung anda juga telah men cap syirik para pembuatnya, bukankah yang membuatnya adalah para aulia / wali wali Allah Swt yang sudah jelas maqomnya jauh diatas kita-kita yang banyak khilaf dan dosa. Astaghfirullah.. Silahkan anda dengar kajian salah seorang ulama dibawah ini..
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    [audio src="http://ia801009.us.archive.org/12/items/BuyaYahyaMenjawab/001%20Buya%20Yahya%20Menjawab%20-%20Apakah%20Di%20Dalam%20Shalawat%20Nariyah%20Ada%20Unsur%20Kesyirikan.mp3" /]

  46. Ipoeng berkata:

    “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzab : 56)

    jika orang memangil nama Rasullulah hanya Muhammad saja,maka anda jangan marah jika ada anak kecil memangil anda hanya nama,tdk dengan mas, bapak, om atau sbgainya.

    memuja , atau meninggikan Rasulullah dengan kata Sayyidina wa Maulana atau sbgainya hanyalah gambaran kecintaan ke pada yg Mulia Rasulullah Muhammad SAW,yg sejatinya

    Rasulullah SAW bersabda:
    ما منكم من أحدٍ سلّم علي إذا متُّ إلا جاءني جبريل فقال جبريل يا محمد هذا فلان ابن فلان يُقرئك السلام، فأقول وعليه السلام ورحمة الله وبركاته. (رواه أبو داود).
    Artinya:
    “Tidak ada salah seorang di antara kamu yang mengucapkan salam kepadaku sesudah aku mati melainkan malaikat jibril datang kepadaku seraya mengucapkan: ‘wahai Muhammad, ini Fulan bin Fulan mengucapkan salam untukmu, maka aku menjawab: “dan atasnya salam dan rahmat serta berkah dari Allah”. (HR. Abu Daud)

    jika anda belum mencintai Rasulullah,anda belum dapat mencintai Allah.
    jika mencintai Rasulullah, anda di cintai Allah.

    Suasana di majelis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Sayyidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan sedemikian.

    Seulas senyuman yang sedia terukir di bibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna.

    “Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Sayyidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut pikiran.

    “Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan),” suara Rasulullah bernada rendah.

    “Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.

    Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersuara,

    “Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka.”

    **

    Pada ketika yang lain pula, Rasulullah menceritakan tentang keimanan ‘ikhwan’ Baginda:

    “Siapakah yang paling ajaib imannya?” tanya Rasulullah.

    “Malaikat,” jawab sahabat.

    “Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah,” jelas Rasulullah.

    Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata lagi, “Para nabi.”

    “Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka.”

    “Mungkin kami,” celah seorang sahabat.

    “Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian,” pintas Rasulullah menyangkal hujjah sahabatnya itu.

    “Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui,” jawab seorang sahabat lagi, mengakui kelemahan mereka.

    “Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya. Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Dan tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku tetapi tidak pernah berjumpa denganku,” jelas Rasulullah.

    “Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka,” ucap Rasulullah lagi setelah seketika membisu. Ada berbaur kesayuan pada ucapannya itu.

    Begitulah nilaian Tuhan. Bukan jarak dan masa yang menjadi ukuran. Bukan bertemu wajah itu syarat untuk membuahkan cinta yang suci. Pengorbanan dan kesungguhan untuk mendambakan diri menjadi kekasih kepada kekasih-Nya itu, diukur pada hati dan terbuktikan dengan kesungguhan beramal dengan sunnahnya.

    Dan insya Allah umat akhir zaman itu adalah kita. Pada kita yang bersungguh-sungguh mau menjadi kekasih kepada kekasih Allah itu, wajarlah bagi kita untuk mengikis cinta-cinta yang lain. Cinta yang dapat merenggangkan hubungan hati kita dengan Baginda Rasulullah saw.

    Kecintaan kepada Baginda Rasulullah saw merupadan titipan dari Allah SWT,sungguh merugi orang yg dihatinya tidak Cinta kepda Allah SWT dan Rasulullah saw,dan malah mengkeretik mengoreksi dan menyalahkan.
    Nauzdubillah.

    sbgai pembantu pemahaman ada lagu

    hymne guru

    Terpujilah wahai enkau Ibu Bapak guru
    Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
    Semua baktimu akan kuukir didalam hatiku
    S’bagai prasasti terimakasihku ‘ntuk pengabdianmu
    Engkau bagai pelita dalam kegelapan
    Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
    Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa

    ini di logikamu Syirik jg?

  47. atika berkata:

    iya syirik tuh memuji muji guru.hahaahaa………
    kata wahabi,salafi,syiah…

  48. Cinra Rasulullah berkata:

    اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا محَُمَّدٍ

    Alloohumma sholli alaa sayyidina muhammad.

  49. wawan berkata:

    Nabi Muhammad SAW bersabda :
    ”Tidak sempurna iman seseorang dari kamu sehingga aku lebih dicintai oleh nya dari pada ia mencintai anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.”
    (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasai dan Ibnu Majah dari Anas ra.)

  50. Isnaini berkata:

    Maaf sebelumnya kami dari nahdhatul ulama akan mengoreksi pembicaraan anda.
    1 kami tidak pernah mengatakan sholawat dan salam kita panjatkan kepada nabi muhammad tapi mudah mudahan sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi muhammad
    2 kami tidak mengucapkan junjungan alam, tapi jujungan kami

  51. Isnaini berkata:

    Buat ustad abi syakir yang terhormat mengenai publik anda tentang Ada sebagian orang yang berkata: “Shalawat dan salam kita panjatkan kepada Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.” anda kurang cermat mendengarkannya atau asal bicara..kami itu selalu mengatakan mudah mudahan atau semoga sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi muhammad dan mengenai komentar anda tentang
    Ada lagi yang sering berkata -bahkan sangat sering- seperti ini: “Shalawat dan salam untuk junjungan alam, Nabi Besar Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam, beserta keluarga, dan para Shahabatnya.”kami selalu mengatakan junjungan kita bukan junjungan alam..buat pak ustad saya ucapkan terima kasih atas kritikan yang tidak mendasar ini.semoga allah melimpahkan rahmatnya pada kita semua.amiin

  52. abisyakir berkata:

    @ Isnaini…

    Amin amin atas doanya. Ya, kenyataannya seperti itu kok Pak. Kalau misalnya niatnya tidak begitu dan sifatnya baik-baik saja, alhamdulillah. Itu yang diharapkan.

    Admin.

  53. abisyakir berkata:

    @ Isnaini…

    Sering Pak kami mendengarnya. Meskipun tidak MELULU terkait dengan masyarakat NU. Terimakasih.

    Admin.

  54. abisyakir berkata:

    @ Ipoeng…

    Hymne guru termasuk bermasalah. Harus hati-hati. Guru punya keutamaan, tapi tak mesti kita memujanya.

    Admin.

  55. abisyakir berkata:

    @ Onezz…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Terimakasih atas saran dan masukannya. Salam ukhuwwah.

    Admin.

  56. LoLoNetcom berkata:

    itu bukan kenyataannya tapi ustad salah mendengarnya karena saya dan para ahlu sunnah mengucapkan seperti yang aku bilang bukan seperti yang ustad bilang

  57. isnaini berkata:

    dan ustad pasti juga pernah mendengar hijrah nabi dari mekkah ke madinah rasulullah disambut kaum muhajirin dan kaum anshor dengan bacaan sholawat thola’al badru alaina padahal itu bukan sholawat tuntunan nabi kenapa nabi tidak melarang

  58. isnaini berkata:

    itu bukan kenyataannya tapi ustad salah mendengarnya karena saya dan para ahlu sunnah mengucapkan seperti yang aku bilang bukan seperti yang ustad bilang.kami selalu mengucapkan semoga atau mudah mudahan sholawat dan salam dilimpahkan oleh allah pada nabi dan kami mengucapkannya bukan junjungan alam tapi junjungan kita berarti anda salah mendengar atau niat anda membuat kesalahan kesalahan yang tidak pernah kami buat

  59. Someone7 berkata:

    Penulis yang dirahmati ALLAH. coba disimak secara teliti dan detail. maksud “Kita Panjatkan” itu merujuk pada kata-kata sebelumnya yaitu ” Sholawat dan Salam ” BUKAN lah ” DOA KITA PANJATKAN.

    Jika kata PANJATKAN anda maksud hanya untuk DOA berarti kata :
    KITA PANJAT POHON juga SALAH..

    Mohon di koreksi dengan benar.

    Wallahu’alam bissawaf.

  60. bedu berkata:

    Hal yang sifat nya khilafiyah mbok ya jangan di besar2 kan….
    Toh tarjim mu juga masih salah di lafal sholawat terakhir….
    Shalawat dan salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan para Shahabatnya.” (Jadi Shalawat itu tetap ditujukan kepada Allah).

    Contoh dalam versi bahasa Arab: “Allahumma shalli wa sallim ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.”
    “Semoga Allah” nya itu ketemu dimana rek…

  61. الفجر berkata:

    Penulisan di kata penutup sperti nya ada yg kliru ya..
    Maap kl saya yg kliru..maklum msh blajaran ngertinya cm hal² kecil gt.. 🙂

    -AMIN = Aman
    -AAMIN = Meminta Pertolongan
    -AMIIN = Jujur, bentuk lainnya adalah Amanah.
    -AAMIIN آمين = Kabulkan doa kami. Ini berdasarkan fi’il (kata kerja salam Bahasa Arab) merupakan permohon kepada Allah SWT agar doa kita diijabahkan, dikabulkan-Nya.

  62. Cholizal berkata:

    assalamu’alaikum,,, bagaimana dengan makna dan penjelasan dari Innallaha wa malaaikatahu yusholluuna ‘alan nabi…

  63. abdullah berkata:

    Jazakumullah khairan katsira

  64. abisyakir berkata:

    @LoLoNetcom

    Anda kok tahu kami salah mendengar? Kan ini kesaksian. Masak sih kami yang menyaksikan lebih lemah dari Anda yang berkomentar? Tidak mungkin itu.

    Admin.

  65. abisyakir berkata:

    @ Isnaini…

    Kalau itu memang diperbolehkan oleh Nabi, ya itu menjadi dasar hukumnya. Tetapi yang kami maksud di sini kan kesalahan kita dalam memaknakan doa Shalawat itu. Misalnya kata-kata “kita haturkan shalawat dan salam untuk Nabi”. Lha, apa kita mampu menghaturkan shalawat dan salam untuk beliau?

    Admin.

  66. abisyakir berkata:

    @ Someone7…

    Panjat-kan di sini kan maksudnya “kita naikkan”. Seperti orang memanjat kan “naik ke atas”. Sama-sama menaikkan ke atas. Doa menaikkan kalimat2 yang baik ke langit agar dikabulkan Allah Ta’ala.

    Admin.

  67. abisyakir berkata:

    @ Bedu…

    “Semoga Allah” itu variasi terjemahan dari “Allahumma” atau “ya Allah”. Ini kan sama seperti “assalamu’alaikum” lalu diterjemahkan “semoga Allah memberi keselamatan kepadamu”.

    Admin.

  68. abisyakir berkata:

    @ Al Fajr…

    Terimakasih atas masukannya. Ini memang memakai teks latin standar bahasa Indonesia.

    Admin.

  69. abisyakir berkata:

    @ Cholizal…

    Maknanya: Allah SWT memuji Nabi Saw di hadapan para makhluk di langit. Para Malaikat mendoakan Nabi Saw agar diberi salam sejahtera oleh Allah Ta’ala. Begitu kira-kira. Terimakasih.

    Admin.

  70. abisyakir berkata:

    @ Abdullah…

    Sama sama, wa iyyakum jaza’an hasana. Amin.

    Admin.

  71. banser selatan berkata:

    Terkadang aja juga yg salah mbaca.. Allohumma solli wasillingala Muhammad .. 🙂

  72. antiwahabi berkata:

    Wahabi ini yang bikin, wahabi kan orang awam, masih bocah, mana tau apa2 wkwwk

  73. ismail berkata:

    Jangan asal membid’ah2 kan aja bos, anda masih bocah aja udah berani menyalah2kan sholawat..
    Ini yg bikin wahabi nih, tolong bagi semua pembaca khususnya muslim di harapkan jangan asal tangkap jika membaca paparan seperti ini, jangan tertipudaya dgn bahasanya..

  74. 3rutz berkata:

    kirain bener ….untung ane baca coment

  75. Ahmad berkata:

    Wahai para Wahabi, jangan bikin rusuh negeri ini yang udah tentrem. Kalaupun Anda punya kebenaran dan meyakini ke beneran itu. cukuplah itu untuk anda sendiri. karena kami juga punya kebenaran sendiri. Biarlah Allah nanti yang menjadi juri. Jangan sok pinter, siapa Anda?

  76. Bee Laughter

    Bismillahirrahmaanirrahiim. Ini adalah kajian sederhana, tidak rumit, tapi penting disampaikan. Singkat kata, di masyarakat kita sering mendengar perkataan seputar Shalawat Nabi yang disampaikan para khatib, penceramah, dai, muballigh, moderator, MC, a…

  77. abisyakir berkata:

    @ Ismail…

    Anda itu aneh. Bisanya mencela doang. Kalau Anda tahu ada yang salah, koreksi dong! Jangan taqlid buta Mas! Nanti mata, telinga, hatimu akan ditanya oleh Allah di akhirat. Kita biasa-biasa saja, jangan emosional melulu.

    Admin.

  78. abisyakir berkata:

    @ Antiwahabi…

    Kalau Anda punya kebenaran, sampaikan. Mari kita diskusi. Mudah kan? Kok bawaannya emosi melulu Pak… Uaneeeh.

    Admin.

  79. abisyakir berkata:

    @ Ahmad…

    Siapa yang bikin rusuh? Coba sebutkan data faktanya. Jangan cuma menuduh. Hati-hati kamu sedang puasa. Jangan menghancurkan amal-amalmu dengan fitnah.

    Ini kan blog yang kami kelola, boleh dong kami sampaikan pandangan kami. Kalau kamu tidak suka, boleh menghindar atau menjauhi. Tak ada paksaan.

    Orang-orang ini karakternya emosian melulu. Diberi ruang diskusi, bawaannya emosian. Aneh neh neh…

    Admin.

  80. heri setyo budi berkata:

    Anda menerjemahkan yang keliru, gramarnya salah…kalau tidak bisa memaknai kalimat jangan langsung menyalahkan, seolah2 anda yang paling benar, yang memberi syafaat kanjeng nabi dengan izin Allah, yang memberi ampunan lah itu langsung Allah…manfaat sholaat adalah untuk mendapatkan pertolongan di saat semua sudah tidak bisa memberi pertolongan, jangan kira anda rajin sholat terus di akherat selamat…semua itu atas rahmat Allah, dan rahmat Allah sangat dekat dengan nabi muhammad saw

  81. Anonim berkata:

    wah bahaya nih ada yg ingin memecah belah umat nih jgn seperti itu dong kita sudah punya imam masing – masing panutan masing – masing contoh masing – masing kalau anda mau ikut wahabi jgn ajak2 kita dong itu pake anda sendiri salah betulnya itu urusan sama yang maha Kuasa. orang yang selalu disalahkan diri anda sendri apa merasa benar atau aliran yang anda ikuti sudah benar apa?

  82. Dewa M P berkata:

    Assalamualaikum.. wr.. wb.. (maaf disingkat),

    Subhannallah..

    Alhamdulillah..

    Terimakasih ya Allah yg telah memberi petunjuk kepada umatnya, dengan mempertemukan artikel ini maka memberi para pembacanya ilmu & skaligus peringatan kesempurnaan dalam bershalawat kepada Rasulullah SAW agar tidak berlebih2an, sebelumnya saya sudah oernah membaca artikel tenteng Al-Firqotun Najiyah ygbl terkait, saya pribadi berharap petunjuk yg ada dlm artikel2 ini bs menyebar luas di kalangan muslim Indonesia dengan dakwah para da’i, sidang jum’at bs mengamalkan-nya, & insyallah sy pribadi jg dapat meneruskan amalan ini. Amin

    Krn menurut sy pribadi banyak sudah yg tersebar shalawat2 yg bid’ah (disebutkan dalam artikel) dikalangan masyarakat, dalam majelis2 taklim, dll. Maka dgn hal ini sy berharap agar para da’i, ustad, kiyai, dsb bs mensiarkan (memperingatkan) amalan shalawat yg benar & tidak berlebih2an. Amin

    Wassalamualaikum.. wr .. wb ..

  83. faiz berkata:

    berarti ini orang, belum faham banget dengan sholawat, malah dia sendiri yang keliru. astagfirullah…

  84. faiz berkata:

    awas hati-hati dengan postingan seperti ini. bahaya….

  85. Anonim berkata:

    kebenaran itu memiliki jalannya sendiri, tidak perlu dibela, karena suaranya lebih keras dari pembelaan itu sendiri…..

  86. royyan berkata:

    sepertinya perlu belajar lagi anda tentang bahasa arab,bahasa arab itu sangat luas dan spt bhs indonesia ada kiasan,dan anda spt ga gagal paham akan itu..
    dan sholawat nariyah itu tak ada satupun yg bertentangan dg syariah..
    dan dengannya Muhammad terurailah sgl kesedihan,tercapainya hajat…itu dg datangnya risalah Muhammad.,
    spt kiasan dlm kalimat bhs indonesia ,anak itu panjang tangan..? nah tafsiran disini yg dimaksud anak itu suka mencuri bukan tangannya yg panjang.
    jd klo ga tahu jgn asal tahu,tanya guru dulu! 😦

  87. wa.... berkata:

    assalamu’alaikum

  88. Anonim berkata:

    kembali ke hati kita….. Siapa itu Alloh dan siapa itu Rosul Alloh….

  89. bhd berkata:

    Setuju bgt dengan admin. Admin hanya meluruskan. Sebagai muslim harus mengacu pada firman Allah yaitu Al Qur’an dan Hadits Nabi yg shohih. Banyak masyarakat yang terjebak dengan sholawat bid’ah yang dibikin para kyai bukan nabi

  90. one_way.. berkata:

    lakum diinukum waliyadiin..

  91. Kang Jawal berkata:

    Saran buat admin. Hal-hal seperti ini sepertinya gak perlu dibahas karena Islam sendiri memiliki banyak aliran. Karena dengan menyebut koreksi, atau meluruskan, seolah-olah pendapat Andalah yang paling benar sendiri. Padahal kebenaran mutlak itu hanya Alloh yang tahu. Apalagi ini cuma sekedar permainan bahasa, bisa banyak makna tergantung pada sudut pandang. Kalau ini memang sesuatu yang prinsipil tentu al Qur’an pun akan memberi warning sebelumnya. Termasuk pula para ulama besarpun tentu akan memberikan perhatian khusus terhadap hal ini. So bijak-bijaklah dalam membuat konten, baiknya jangan bahas hal-ha sepele namun bisa menyulut perdebatan yang sama sekali tidak produktif. Keep calm & peace !

  92. dedy berkata:

    Barusan sayaada membaca DP salah satu BBM teman saya.krn hari ini maulid nabi.maka banyak yg mebuat FP nya shalawat.klu saya baca latinnya kurang lbh seperti ini.Allahumma shola ala sayyadina muhammad.yg saya tahu selama ini Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad.yg benar yg mana?dan arti nya apa klu kalimat yg pertama saya sebutkan?terima kasih utk jawaban nya

  93. Anonim berkata:

    Semuanya, Mari BerShalawat

  94. ahmad berkata:

    Saling berbagi ilmu

  95. semoga dengan adanya artikel ini tidak ada lagi yang salah dalam membaca shalawat.. trims atas sharing-nya 🙂

  96. Anonim berkata:

    وَٱلْعَصْرِ
    Demi masa.
    (QS: Al-‘Ashr Ayat: 1)

    إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
    Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
    (QS: Al-‘Ashr Ayat: 2)

    إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
    kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

  97. Anonim berkata:

    Penulis artikel idiot

  98. zi berkata:

    Penulis artikel idiot, ngaji malas. Agama suka

  99. amx berkata:

    Sayyidina adalah nama pujian, aya ibarohkan seperti kamu memanggil pacarmu dengan sebutan my honey, my love, bebeb dll, dan seperti kamu memanggil dokter, manggilnya dok tapi gak langsung namanya, soalnya untuk memuliakanya dan mengagungkanya, jangan seperti orang yahudi dan orang badui, manggil rasulullah langsung dengan namanya.
    “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS An Nur 63)”.
    Dan memanjatkan solawat serta salam kepada nabi itu tawasul namanya jadi gak masalah, klo ente baca tahiyat entah itu N atau M sam2 baca salam untuk rosul kan, lalu maslah membesarkan atau mengagungkan rosulullah itu sah sah saja, karena saya fans nya nabi muhammad saw, dan itu boleh dilakukan karena saya sudah bisa membedakan mana tuhan dan mana rosul lewat ilmu tauhid dengan imam tauhid asya’ri, kejadian menfkuktuskan nabi terjadi karena tidak tahu ilmu tauhid atau hakikot, dan terjadi penjelasan seperti diatas jadinya, jangan cuma tahu dasar hukum jadi menuduh salah seperti itu, al qur’an dan hadis perlu di takwil dan takhwid tidak dimaknai artinya saja, klo di maknai secara artinya saja ada yang bisa berbahaya, nanti jadi seperti orang gila yang di kasih pistol, jadi ditembak semua dah, atau jadi salah semua kecuali dirinya sendiri…

  100. Kajian sederhana yang ditumpahkan ini sebelum afwan belajar dari mana? Pesantren mana? Gurunya siapa ?

    Allahumma shalli ‘ala syaidina muhammad wa’ala ali syaidina muhammad ini kok dianggap salah, ana sudah puluhan mesjid dan menemui puluhan imam mesjid semua rata2 bertakhyat awal dan akhir pakai shalawat ntu,,
    Syafaat ada pada rasulillah untuk umat rasulillah, ente mau syafa’at pada Allah SWT ditendang para malaikat krn ente ga sopan,, semua berjejer disyafaat masing2 ente malah mau setara sama Dia,

    Man dzalladzi yasy-fa’u ‘indahu illa bi idznih” (dan siapa lagi yang bisa memberi syafa’at di sisi-Nya, jika tanpa izin-Nya).

    Maksud ayat ini bukan berarti ente dibarisan setara sama Sang Pencipta, tp dibarisan ( syafa’at ) disisi Nya yang diredhoi Nya yaitu syafa’at rasulillah.

    Masalah shalawat ente dah hafal Alqur’an dan ribuan hadis belom ?? Soal nya rangkaian do’a para ulama terdahulu hafiz dan ahli hadiz cuy.. Jadi masih tegak nih sama kajian sederhana ente yang nemu saat ngeinternet hehe..

  101. Anonim berkata:

    Wah jadi keder

  102. Idris berkata:

    Assalamu’alaikum,

    alhamdulillahirobbil ‘alamin washolatu wassalamu alla asrofil ambiyai mursalin wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in

    Pa, Kalo maksud dari kalimat di atas apa, mohon penjelasannya,

    terimakasih.

  103. Alu berkata:

    Km Wahabi Yach…seakan”km g suka kita puji nabi Muhammad SAW..baca sholawat tergantung niat nya bro berdoa kpd Allah untuk nabi Muhammad.saw sbg rasa Hormat dan terimakasih pada Allah SWT

  104. Hamidi berkata:

    ketahuan gk berdasarkan ilmu

  105. iis berkata:

    Maaf… Artikel ini kayaknya salah kaprah deh

  106. ajibuset berkata:

    Jelas adminnya WAHABI atau syiah niiihhh.
    Hati-hati dan waspada.
    Pemutar balikan kata-kata.. biar kita bingung.

    Tetap bersholawat kepada kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: