Sejujurnya Kami Berharap…

Juli 15, 2015

>> Kawan-kawan gerakan dakwah IM, Salafi, JT, Jihadi, HT, dan lain-lain bisa BERSATU. Mengapa? Karena semua pihak ini sama-sama PRO SYARIAT Islam. Sudah ada modal kesamaan pandang di antara kita.
>> Mari kita sama-sama bersatu dengan kalangan “Aswaja”, pengikut Habib-habib, Nahdhiyin, FPI, pesantren tradisional, dll. Mengapa? Karena kita sama-sama kaum Sunni, bukan SYIAH.

Mari Kita Bersatu...

Mari Kita Bersatu…

>> Mari kita bersatu dengan ormas-ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Syarikat Islam, Jami’atul Khair, DDII, Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, MIUMI, MUI, dll. Mengapa? Karena kita sama-sama PRO PERSATUAN & MASLAHAT UMMAT.
>> Berbagai elemen Muslim lain, dalam lingkup Ahlus Sunnah; mari kita BERSATU TEGUH. Mengapa? Sebab kalau berpecah-belah kita akan runtuh.
>> Untuk menyatukan Ummat kita bisa berpegang pada KONSEP MUI yang membedakan antara ALIRAN LURUS dengan ALIRAN SESAT.
>> “Wa’tashimu bi hablillahi jami’an wa laa tafarraquu” (dan berpeganglah kalian dg tali agama Allah secara bersama. Jangan kalian berpecah-belah). Ali Imran 103.
>> Kita BISA bersatu dengan smua elemen-elemen Ahlus Sunnah; bukan dengan kaum yang selalu melaknat para Shahabat Ra dan isteri-isteri Nabi Ra.
>> Wallahul Muwaffiq ila aqwamit thariq.

(Mine).

Iklan

PPP dan Memori Pemilu Tahun 1997

April 8, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

[1]. Tulisan ini sekaligus menyambut baik anjuran MUI, pemimpin-pemimpin ormas Islam, Habib Rizieq Shihab, MIUMI, dan lain-lain yang menyerukan agar kaum Muslimin dalam Pemilu 2014 ini memilih partai Islam dan tidak golput. Insya Allah kami tidak golput dan akan memilih partai Islam.

[2]. Partai Islam atau basis Muslim di Indonesia adalah: PKB, PAN, PBB, PKS, dan PPP. Untuk dua partai pertama, PKB dan PAN, sudah kami coret. Kami anggap kedua partai ini sekuler dan sangat pragmatis. Otomatis yang tersisa hanya PBB, PKS, dan PPP.

[3]. Momen paling heroik yang pernah dijalani PPP setahu kami adalah saat Pemilu 1997. Waktu itu PPP berhasil “menghijaukan” Jakarta dan sekitarnya, membuat penguasa Orde Baru, Soeharto gemetar dan takut. Dalam Pemilu 1997 PPP di urutan ke-2 setelah Golkar, dan urutan ke-3 PDI Soerjadi. Khofifah Indar Parawansa dikenal publik negeri ini setelah menjadi bintang dalam SU MPR/DPR mewakili PPP. Itu nyata lho.

[4]. Politisi hebat PPP di masa itu adalah Haji Jaelani Naro, disingkat HJ. Naro. Orang asal Aceh, tubuh kecil, berkaamata, tapi kepandaian politiknya hebat. Sayang kemampuan politik beliau tidak diaktualisasi saat era Reformasi. Bayangkan, kemampuan politik politisi semacam Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, ARB, Bu Mega, dan semacamnya masih kalah dengan beliau. Habibie saja kalah kemampuan politiknya dengan beliau. Sayang skill politik HJ. Naro tidak teraktualisasikan.

[5]. PPP masa kini terlihat seperti angkot yang sudah hampir ringsek. Mesin politiknya tua. Kurang inovasi, pembaruan, penyegaran kader. Mungkin karena alasan itu pula, DPP PPP membuat langkah kontroversial memilih “mama” Angel Lelga sebagai salah satu caleg. Sebenarnya bukan karena demen kepada dia, tapi demi supaya PPP terlihat masih segar, muda, ABG. “Kenal dengan mama-mama gak apa-apa deh, asal kelihatan muda.” Manuver tentang Angel Lelga ini sungguh berisiko tinggi.

[6]. Kami cenderung mendukung PPP karena minimal 3 alasan: (a). Di sana masih ada nilai keistiqamahan, sesuatu yang cukup mahal di dunia politik; (b). PPP bagaimanapun adalah partai Islam, iya kan?; (c). Mendukung PPP terkait dengan mata rantai silsilah perjuangan politik dengan partai-partai Islam sebelumnya.

[7]. Salah satu bukti keistiqamahan, tahun 2009 sebelum Pilpres dilakukan, PPP berani buat perjanjian kontrak dengan Gerindra untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Hanya saja, ketika setelah pemilu suara mereka kecil, PPP tidak bisa terus koalisi dengan Gerindra, karena realistik. Suryadarma Ali waktu itu mengatakan: “Sedianya kami ingin koalisi dengan Gerindra, dengan mendukung ekonomi kerakyatan. Tapi sayang suara kami kurang.” Itu diucapkan Suryadarma Ali sebagai pertanggung-jawaban kepada para pendukungnya. Ini lebih baik daripada sebelum Pemilu 2009 menyerang habis Demokrat, lalu setelah itu malah bermesra-mesaraan dengan Demokrat.

[8]. Partai politik Islam lain, mesin politiknya sangat kecil. Namanya ada tapi kekuatan gak jelas. Memang kalau urusan judicial review sering menang, tapi kekuatan dia di lapangan gak tampak. Karena begitu kecilnya entitas politik partai itu, kami jadi enggan memilihnya. Partai satu lagi terkenal “sering menyakiti aktivis Islam”. Bayangkan, pada tahun 1999, 2004, dan 2009 mereka menunjukkan sikap plin-plan yang sangat menyakitkan. Bentuknya begini: Kalau lagi butuh mendekat ke Umat, kalau sudah dapat suara dikekep sendiri, tidak perhatikan suara hati Umat. Kami jelas takut dengan karakter partai begitu. Apalagi sampai saat ini tokoh-tokohnya masih sama. Kami khawatir, nanti mereka akan koalisi dengan Jokowi dan PDIP. Kenapa khawatir? Karena bukti sikap tahun 1999, 2004, dan 2009 sangat jelas.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan secara singkat, sebagai bentuk tanggung-jawab dan kepedulian kepada urusan Umat, insya Allah. Oh ya, jangan lupa besok pilih PPP ya!

(Haduh terang-terangan banget sih? Biarin…masbuloh. Maaf-maaf, cuma becanda. Keep peace!).

Admin.

 

 

 


Bay Necmettin Erbakan Telah Wafat…

Februari 28, 2011

Najmuddin Erbakan Rahimahullah. Telah Melintasi Panjangnya Suka-duka dalam Rangka Membela ISLAM.

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Pada hari Ahad 27 Februari 2011 kemarin, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh besarnya. Mantan Perdana Menteri Turki, Necmettin (Najmuddin) Erbakan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu. Amin Allahumma amin.

Mengenang Bay (Tuan) Erbakan seperti mengenang mutiara-mutiara Islam yang sangat langka. Hati kita kagum dan haru mengingati keteguhan, keberanian, serta pembelaannya yang tidak pernah surut terhadap Islam. Masya Allah ya Karim ya Rahmaah…melepas pergi sosok seperti beliau seakan hanya melukai hati kita sendiri, dalam kesedihan dalam duka cita, yang tidak tahu bagaimana mengobatinya?

Bay Erbakan, kalau melihat beliau dari wajah dan penampilannya…seakan jauh dari wajah seorang ulama yang militan dengan ciri khas janggut yang lebat. Beliau tampak sederhana. Tetapi semua orang paham betapa besar dan kuatnya BARA KEIMANAN dalam hatinya, ketika beliau menyuarakan kepentingan Islam dan kecemburuannya kepada agama ini.

Memasuki belantara politik Turki dengan membawa missi Islam, tak ubahnya seperti menyerahkan leher dan keselamatan keluarga kepada maniak-maniak sekuler yang setengah mati membenci Islam. Namun Necmettin Erbakan tidak mempedulikan semua itu. Dengan tekun, dengan sabar, dengan konsisten beliau terus menawarkan politik Islami ke bangsanya sendiri, Turki. Puluhan tahun beliau melakukan hal itu, sampai akhirnya rakyat Turki bisa memahami hadirnya partai Islam.

Tahun 1995 beliau bersama Partai Refah (Partai Kesejahteraan) mengikuti Pemilu Turki. Itu pertama kalinya partai Islam diperbolehkan ikut Pemilu. Hasilnya, partai beliau menang dengan angka sekitar 30 %. Dengan kemenangan itu beliau berhak membentuk kabinet. Karena suara kurang, beliau berkompromi dengan partai sekuler di bawah Tansu Ciller. Pemerintahan Turki waktu itu dijabat oleh dua PM secara bergantian. Beliau sempat menjadi PM Turki pada tahun 1996-1997.

Ketika menjadi PM Turki, Bay Erbakan melontarkan gagasan luar biasa, yang membuat hati kita begitu terpana, tak percaya. Beliau waktu itu mengajak bangsa Turki untuk mengemis-ngemis kepada Eropa. Beliau mengajak negara Turki untuk tidak terobsesi menjadi bagian dari Eropa. Selain itu, beliau juga mengkritik keras PBB (United Nations) yang dituduh selalu tidak adil kepada Islam. Beliau mengajak dunia Islam, khususnya kawasan Timur Tengah untuk membentuk “PBB” sendiri yang beranggota negara-negara Muslim.

Bay Erbakan bukanlah orang yang suka berpura-pura demi alasan kemenangan politik. Politik di matanya adalah sarana untuk memperjuangkan Islam itu sendiri. Politik beliau berbeda dengan politik recehan yang diklaim aktivis-aktivis Muslim tertentu. Beliau konsisten dengan Islam, dan tidak takut menghadapi resiko sebagai seorang Muslim. Seolah beliau ingin mengatakan, “Fasyhadu bi anna muslimin.”

Ketika di Turki dan dunia Islam dilanda demam (euforia) dengan kemenangan Partai AKP di Turki, di bawah pimpinan PM Recep Tayib Erdogan, maka Bay Erbakan tidak bergeser dari sikap politiknya. Politik beliau berbeda dengan AKP. Ibaratnya, beliau tetap bertahan dengan politik Islam murni, 24 karat. Beliau tidak mau berpura-pura, atau menyembunyikan keislaman demi kemenangan politik.

Puluhan tahun Bay Erbakan merintis tampilnya politik Islam di kancah politik Turki. Segala suka-duka sudah dirasakannya. Kemudian, politik beliau dianggap ekstrem, dianggap terlalu kental keislamannya. Lalu sebagian yunior beliau memisahkan diri, kemudian membentuk partai dengan semangat Islam yang lebih cair, yaitu AKP. Ternyata partai AKP itu lebih disukai warga Turki daripada garis politik Necmettin Erbakan. Tetapi…beliau tidak goyah. Tetap teguh dengan pendirian politiknya.

Setelah Partai Refah dilarang oleh hukum di Turki; tahun 1997 beliau ikut mendirikan partai baru, “Partai Kebajikan”. Partai Kebajikan kemudian dianggap melanggar konstitusi Turki dan dilarang lagi tahun 2001. Bay Erbakan tidak menyerah, beliau mendirikan lagi “Partai Kebahagiaan” tahun 2003-2004. Beliau tetap di partai ini sampai wafatnya. Beliau tidak pernah tertarik untuk masuk ke Partai AKP yang kini berkuasa di Turki.

Bay Necmettin Erbakan tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan Islam, secara terang-terangan, meskipun terus-menerus dimusuhi kalangan sekuler. Tiada henti, tiada letih, tiada putus-asa beliau menyuarakan missi politiknya, untuk: “Mengingatkan bangsa Turki akan kejayaan sejarahnya di bawah naungan Khilafah Islamiyyah.” Inilah missi utama beliau, mengajak bangsa Turki kembali kepada Islam.

Kehidupan Bay Necmettin Erbakan rahimahullah seperti sebuah MONUMEN besar untuk mengenang: keteguhan, komitmen, cinta, dan pembelaan total kepada Islam. Tidak ada kompromi untuk membela Islam, dan tidak perlu pula berpura-pura. “Siapa yang malu dengan karakter Islam, maka Islam pun malu kepadanya.”

Melepas kepergian Bay Erbakan, seperti melepas kepergian seorang Muslim yang TIDAK DISESALI kehidupannya, tidak diragukan perjuangannya, dan tidak samar loyalitasnya. Sungguh, beliau sudah memberikan apa bisa diberikan kepada Islam ini. Sampai di akhir hayatnya, beliau terus memperjuangkan kembalinya Turki ke tangan Islam.

Adapun kita disini…hanya bisa mengenangi semua ini, hanya bisa mendoakan beliau, dan menahan kesedihan. Hati kita merintih kepada Allah, “Ya Rabbana, begitu cepatnya Ummat ini ditinggal oleh orang-orang yang utama. Kami ditinggal pergi oleh tokoh-tokoh perkasa. Kami ditinggal bersama Ummat ini dengan seribu satu masalah yang menderanya. Sedangkan kami terlalu lemah, tidak sekuat tokoh-tokoh itu. Ya Rabbana, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dan perlindungan.”

Sayyid Necmetiin Erbakan telah berpulang ke rahmatullah. Semoga kita bisa mengambil bagian dari jejak-jejak perjuangan, pembelaan, dan cinta beliau yang LUGAS kepada agama ini. Allahumma amin ya Rabbal ‘alamiin.

Bumi Allah, 28 Februari 2011.

AMW.


Runtuhnya Idealisme PARTAI ISLAM

April 13, 2009

Ada kesedihan besar ketika menyaksikan kondisi partai-partai Islam (atau berbasis massa Islam) pasca Pemilu Legislatif April 2009. Eksistensi mereka semakin lemah, ditandai dengan perolehan suara yang rata-rata di bawah 10 %. Kenyataan yang sangat pahit menimpa PPP dan PKB. Jika semula mereka dikenal sebagai partai papan tengah, saat ini harus mau turun ke peringkat partai kecil di bawah PKS. Masih lumayan bagi PKS, mereka masih bisa mengangkat muka, meskipun hasil suaranya nyaris sama dengan perolehan pada Pemilu 2004 lalu.

Namun kesedihan kita tidak tertumpu di atas perolehan suara yang kecil itu, tetapi lebih pada HILANGNYA SPIRIT PERJUANGAN POLITIK ISLAMI pada diri partai-partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PKB, dan lainnya itu. Kalau kita kini bicara tentang partai Islam, substansinya hanya masalah kekuasaan, jabatan, dan posisi politik saja. Sangat sulit mengangkat tema idealism perjuangan Islam ke hadapan mereka. Seolah, amanah perjuangan Islam itu sebagai UTOPIA (atau bahkan dianggap “bullshit”) yang tidak perlu dihiraukan sama sekali.

Kehilangan Idealisme

Mungkin Anda akan bertanya, “Apa buktinya partai-partai Islam telah kehilangan idealisme?”

Disini ada beberapa jawaban yang bisa disampaikan:

[Satu], jauh-jauh hari sebelum Pemilu April 2009 itu digelar sudah ada ide besar dari Prof. Din Syamsudddin supaya partai-partai Islam membentuk “Poros Tengah Jilid II”. Bisa jadi, secara politik ide itu kurang bagus dijalankan (misalnya ada pandangan demikian). Tetapi spiritnya itu benar, bahwa partai-partai Islam perlu bersatu dalam satu kepentingan perjuangan Islam. Kalau tidak bisa bersatu dalam semua tujuan, setidaknya pada sebagian tujuan.

Sayangnya, ide itu hanya menjadi lontaran statement politik yang tidak membekaskan pengaruh apapun. Bahkan keluarnya Fatwa “golput” MUI yang sebenarnya tujuannya untuk mendukung eksistensi partai-partai Islam juga tidak membawa pengaruh berarti. (Kalau golongan anti golput menolak fatwa tersebut, seperti saya misalnya, itu wajar. Tetapi kalau partai-partai Islam tidak tergerak untuk bersatu setelah fatwa itu keluar, nah itu dipertanyakan).

[Dua], partai-partai Islam yang mendapat suara kecil di Pemilu April 2009 (meskipun mereka masuk 10 besar) sepertinya tidak peka dengan cara-cara penyelenggaraan Pemilu yang carut-marut. Para pengamat dan politisi sudah mengingatkan sejak awal, supaya kasus DPT dalam Pilkada Jatim yang memenangkan pasangan KARSA tidak terulang dalam Pemilu Legislatif 2009. Kenyataannya, hal itu terulang lagi. Hampir merata di seluruh Indonesia kasus-kasus DPT mengemuka. Terlalu ruwet kalau harus dijelaskan lebih jauh.

Tetapi dalam hal ini, partai-partai Islam nyaris tidak ada yang peduli dengan tata-cara penyelenggaraan Pemilu seperti itu. Padahal cara tersebut menciderai semangat sportifitas dalam penyelenggaraan kompetisi politik. Saya setuju dengan pandangan pengamat LIPI, Ikrar Nusa Bhakti, bahwa Pemilu April 2009 ini paling buruk sepanjang era Reformasi, dan paling buruk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Harusnya partai-partai Islam peduli dengan semua ini, sebab hal itu akan menentukan berbagai kepentingan kaum Muslimin selanjutnya.

Contoh, kalau cara seperti itu dipertahankan, maka sulit bagi politisi-politisi Muslim untuk memperjuangkan aspirasi Ummat. Meskipun demokrasi itu tidak sesuai Syariat Islam, tetapi sistem demokrasi yang jujur, itu lebih baik daripada demokrasi yang curang. Setidaknya, dari proses demokrasi yang jujur FIS pernah menang di Aljazair, Refah atau AKP menang di Turki, PAS menang di Malaysia, dan Hamas menang di Palestina. Jika demokrasi dilakukan secara curang, itu sama dengan kegelapan di atas kegelapan.

[Tiga], sangat disayangkan partai-partai Islam tidak memiliki paradigma perjuangan yang layak. Justru semangat mengadakan perubahan dari sistem kapitalisme ke sistem pro kepentingan nasional muncul dari partai-partai nasionalis, seperti Gerindra dan Hanura. Hampir-hampir tidak ada perlawanan sedikit pun dari partai-partai Islam terhadap sistem kapitalisme-liberalis yang saat ini membelenggu kehidupan bangsa Indonesia.

[Empat], yang paling parah lagi, hampir semua partai Islam saat ini lagi berburu kekuasaan, berebut menempel ke Partai Demokrat, apakah dia PKS, PKB, atau PAN. (Katanya, PPP juga akan merapat ke Partai Demokrat). Masa 5 tahun menjadi sekutu Demokrat di Pemerintahan, rupanya belum memuaskan partai-partai Islam itu, sehingga mereka berebut mengatakan, “Tambah lagi, tambah lagi…” Wah, wah, wah, sangat jauh dari karakter partai Islami yang selalu menjaga jarak dengan kekuasaan.

Kita sudah sama-sama tahu, sejak lama para ulama selalu mengatakan, bahwa ulama janganlah mendatangi pintu-pintu umara, sebab hal itu akan mendatangkan banyak fitnah. Bahkan Said bin Musayyab rahimahullah, mengatakan bahwa ulama yang mendatangi pintu-pintu penguasa, dia adalah seorang “pencuri”.

Kalau sekarang situasinya sangat berbeda. Partai-partai Islam bukan lagi demen mendatangi pintu-pintu penguasa, bahkan mereka berebut menjadi tukang pembuat pintu-pintu penguasa itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sikap Oposisi

Kalau Anda mengkaji nilai-nilai Islam, nanti akan sampai pada satu kesimpulan, bahwa sebuah partai Islam idealnya selalu menjadi oposisi bagi penguasa. Hal itu setara dengan keseimbangan hubungan ulama dan umara’. Kalau bisa, partai Islam jangan menjadi birokrator, tetapi menjadi pengawas praktik birokrasi. Birokrasi ibarat umara’, maka partai Islam menempatkan diri sebagai ulama yang tugasnya terus mengawasi kiprah umara’.

Memang boleh seorang politisi Muslim diangkat sebagai pejabat, asalkan dia tidak meminta jabatan itu, dan dia memang memiliki keahlian untuk memikulnya. Jika ada politisi Muslim yang diangkat sebagai pejabat birokrasi, dia harus dipisahkan dari mekanisme partai. Maksudnya, dia diposisikan sebagai pihak yang terus dikritisi, sama seperti pejabat-pejabat lain. Jangan karena dia mentang-mentang pejabat dari partai Islam, lalu kita menutup mata dari mengawasi, mengkritisi, dan menasehatinya. Karakter politik Islam adalah amar makruf nahi munkar, maka kalau partai Islam tidak memposisikan diri sebagai OPOSISI, dia akan kehilangan nyali untuk menyampaikan amar makruf nahi munkar.

Eksistensi Semangat Oposisi

Di jaman Orde Baru dan Reformasi, nyaris kita tidak pernah menyaksikan ada sikap oposisi dari partai-partai Islam. Hampir seluruhnya bersikap KOALISI, alias mendukung regim yang berkuasa. Sejak Pemilu 1999, Pemilu 2004, dan naga-naganya Pemilu 2009 ini, sikap partai Islam cenderung PRO PEMERINTAH. Wajar jika dalam kehidupan social kita temukan sangat banyak kemungkaran, sebab partai-partai Islam cenderung pro Pemerintah, dan cuek terhadap berbagai kemungkaran itu. Celakanya, ada partai Islam tertentu yang sangat bernafsu menguasai Pemerintahan, dan ingin menunjukkan kepada bangsa Indonesia (dan dunia) kemampuan mereka dalam mengelola negara yang bersih, profesional, dan tidak korup. Mereka mengklaim sebagai komunitas “paling bersih” yang dimiliki oleh sejarah Indonesia masa kini. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi sesungguhnya sejak Reformasi 1998, kaum Muslimin pernah mendapati suatu semangat OPOSISI yang sangat mengharukan. Momentum itu muncul tidak lama setelah Partai Keadilan (PK) kalah dalam Pemilu 1999, tetapi mendapat sejumlah kursi di DPR RI hasil perolehan suara dan limpahan suara dari partai-partai Islam lain. Waktu itu karena jumlah kursi yang dimiliki PK sedikit, DPP PK mengeluarkan bayanat (penjelasan sikap partai) yang isinya sebuah maklumat, bahwa PK hanya akan berpolitik di Parlemen, dalam rangka mengkritisi Pemerintah. Sebagai pendukung partai, saya lega dengan sikap itu. Meskipun suara kecil, tetapi masih memiliki harga diri.

Tetapi belum juga bayanat itu tersebar merata ke seluruh kader PK di Tanah Air, tiba-tiba DPP PK melakukan manuver jungkir-balik yang mencengangkan. Tiba-tiba mereka mendukung Nur Mahmudi Ismail (walikota Depok sekarang) dipinang oleh Kabinet Gus Dur menjadi Menteri Kehutanan. Sungguh, bayanat DPP PK belum sampai ke tangan kader-kader yang dituju, tetapi seketika itu haluan partai berubah drastis. Yang semula mau menjadi OPOSISI Pemerintah, mendadak mau menjadi bagian dari Kabinet Pemerintah Abdurrahman Wahid.

Secara pribadi, peristiwa di atas sangat mempengaruhi sikap saya kepada PK (atau PKS kemudian). Di mata saya, partai ini tidak memiliki keteguhan sikap, tidak tahan godaan. Mereka merumuskan bayanat dengan proses yang memakan waktu dan pikiran, tetapi mementahkan begitu saja apa yang telah dibuatnya. Jujur, waktu itu saya kecewa berat. Saya tidak yakin, partai ini akan bisa menegakkan KEADILAN, sebagaimana klaimnya. Betapa tidak, sejak awal mereka sudah membeir contoh sikap khianat terhadap keputusan formal yang dibuatnya sendiri.

Itulah masa-masa indah ketika partai Islam memiliki semangat OPOSISI. Ya, keinginan PK untuk hanya bermain di Parlemen adalah sikap IZZAH yang sangat mulia. Itulah cikal bakal sikap oposisi partai Islam yang sangat mengharukan, di jaman Reformasi. Hanya saja, sayangnya, usia komitmen itu sangatlah belia. Mungkin usia komitmen oposisi itu hanya 2 atau 3 hari saja. Ya, lumayan lah, masih ada komitmen, meskipun usianya hanya 2 atau 3 hari. Daripada tidak sama sekali kan…

(Kalau ingat tanggal peristiwa itu, mungkin ia bisa ditabalkan sebagai HAROPNAS, Hari Oposisi Nasional. Lagi-lagi meskipun usianya hanya 2 atau 3 hari saja, sebab setelah itu semangatnya selalu KOALISI, sampai saat ini. Mungkin Jaya Suprana tertarik mengangkat momen itu masuk rekor MURI, untuk usia oposisi tercepat di dunia).

Jika nanti PKS, PAN, PKB (atau ditambah PPP) bergabung dalam koalisi bersama Partai Demokrat, ya kita tidak memiliki lagi kekuatan oposisi. Artinya, Ummat Islam akan kehilangan sangat banyak kesempatan melakukan amar makruf nahi munkar melalui jalur politik formal. Jika demikian, maka istilah “partai Islam” harus segera direvisi menjadi “partai kekuasaan”. Di bawah dominasi “partai kekuasaan”, kita akan lebih banyak berdzikir: Inna lillahi…astaghfirullah…masya Allah…na’udzubillah min dzalik…dan sebagainya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 12 April 2009.

(Politische).