SYAIKH YUSUF AL QARADHAWI

Desember 19, 2014
Menarget Ulama Sama dengan Membunuh Ummat

Menarget Ulama Sama dengan Membunuh Ummat

* Kami bukan ulama. Jauh level dari Syaikh Al Qaradhawi. Kami juga bukan fanatikus beliau. Tapi kami AKUI SEJUJUR HATI, bahwa beliau adalah ULAMA SUNNI abad ini (abad 15 H).

* Kami berbeda dg Syaikh terkait Demokrasi. Kami tetap memandang demokrasi bukan Islami.

* Kami berbeda dg beliau trkait Zakat Profesi dan Zakat Fitrah dg mata uang.

* Kami berbeda dg beliau trkait rincian Asma Wa Shifat di mana ulama-ulama banyak berbeda pendapat.

* Kami berbeda dengan beliau terkait sikap kepada Syiah. Namun kini pendapat beliau selaras dengan yang kami pilih, alhamdulillah.

* Ada sejumlah perbedaan-perbedaan tertentu. Dan ini brlaku pula bagi tokoh-tokoh ulama selain beliau. INTINYA kita boleh memilih pendapat-pendapat yg diyakini kuat.

* BETAPA PUN perbedaan ini tidak membuat kami mengingkari keulamaan beliau, menafikan kebaikan-kebaikannya, jasa-jasanya kepada Islam dan Ummat, serta KEMULIAAN nya sbg seorang ULAMA SUNNI DUNIA.

* Kami bersaksi, bahwa beliau adalah seorang ALIM SYARIAT, penjaga ilmu, telah menunaikan hak-hak ilmu, menjaga warisan Salaf, sbgaimana mengakui kebaikan-kebaikan Khalaf.

* Kami, wallahi, akan membela beliau, dengan alasan: MEMBELA PARA PEWARIS NABI!

* Kami juga menghimbau kaum Muslimin untuk membela ulama Ummat. Mari kita bela saudaraku, sebab bila kita sia-siakan ulama yang ada, khawatirnya Allah tidak akan lagi melahirkan ulama-ulama pembela Ummat di masa-masa selanjutnya. Jangan takut para penguasa, tapi takutlah pada DZAT Yang Menguasai jiwa para penguasa. Ingat, kekuasaan mereka tidak lebih hebat dari Fir’aun dan selainnya di masa lalu.

* Wallahu Waliyyut taufiq wa ilaihi mustaka.

Sumber: akun facebook pribadi.

Iklan

Sikap Berlebihan Menyikapi Kematian Uje

Mei 6, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti kita tahu, Uje atau Ustadz Jefri meninggal 26 April 2013 lalu, dalam kecelakaan tunggal di Pondok Indah. Banyak orang merasa berduka, bersedih, terharu, merasa kehilangan, menunjukkan simpati, dan seterusnya. Media-media TV secara intensif membahas topik ini melalui aneka liputan, wawancara, berita, sajian infotainment, bahkan diskusi serius. Media online, surat kabar, tabloid, majalah juga tak mau ketinggalan mengupas isu yang sama.

Ketika Uje meninggal, adalah wajar kalau keluarganya sedih, teman-temannya sedih, para penggemarnya sedih. Itu wajar saja, namanya juga mengalami musibah. Tapi bersikap berlebihan dalam hal seperti ini tidak boleh, seperti meratapi kematian, histeris, memuja-muja sosok Uje, mencari berkah di kuburnya, dan sebagainya. Semua itu juga dilarang. Termasuk di dalamnya memuji-muji Uje setinggi langit, mengaitkan dirinya dengan hal-hal metafisik (ghaib), mengaitkan tanda-tanda alam dengan kematiannya; semua itu tak boleh dan tak layak dilakukan.

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Mengapa Ada Kain Hitam di Keranda Ini?

Saat putra Nabi Saw yang bernama Ibrahim wafat, waktu itu terjadi gerhana matahari. Orang-orang menyangka bahwa gerhana matahari terjadi karena wafatnya Ibrahim. Nabi Saw membantah anggapan itu. Beliau tegaskan bahwa masalah gerhana tidak ada sangkut-pautnya dengan wafatnya seseorang. Bahkan Nabi Saw kemudian men-sunnah-kan dilakukan Shalat Gerhana. Jadi tidak boleh berlebihan mengaitkan kematian seseorang dengan tanda-tanda alam.

Bagi orang yang cerdas, sikap berlebihan Ummat Islam terkait kematian Uje, jelas tidak proporsional. Seharusnya media-media massa juga rasional, bukan mengeksploitasi. Tapi masalahnya kan di era dewasa ini banyak hal “bisa dijual” seperti kemiskinan, kesusahan, kematian, juga tangisan. Itu sangat tercela. Nas’alullah al ‘afiyah.

Di balik wafatnya Uje, banyak bertaburan informasi-informasi yang “tidak bagus”; di luar informasi-informasi lain yang sengaja dibagus-baguskan. Hal ini perlu diingatkan lagi, agar Ummat Islam tidak berlebihan menyikapi tokoh seperti ini; juga tokoh semisal itu kalau nanti ada yang meninggal lagi.

Sebelum wafatnya Uje sempat menulis pesan  ini: “Pada akhirnya… semua akan menemukan yang namanya titik jenuh.. dan pada saat itu..kembali adalah yang terbaik.. kepada siapa? Kepada DIA pastinya… Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.

Pesan demikian seakan menjelaskan kegalauan hebat yang sedang melanda kejiwaan Uje. Apakah terjadi benturan pemikiran, benturan kepentingan, atau apapun? Wallahu a’lam bisshawaab. Selain itu Uje juga mengaku merindukan ayahnya (Apih) yang telah wafat. Seolah dia ingin berada dalam pemahaman yang wajar seperti ayahnya, tanpa akidah yang aneh-aneh dan membuat kegelisahan hati.

Intinya begini, Uje sebagai bagian dari kerabat para dai atau guru-guru agama di Betawi, adalah sesuatu yang dihargai. Sedangkan posisi Uje sebagai penggiat “entertainment genre dakwah” adalah perkara munkar yang tidak boleh didukung, meskipun jutaan manusia menggemarinya. Dakwah Islam adalah dakwah ilallah, bukan entertainment dengan kemasan dakwah. Entertainment dakwah hanyalah produk industri media TV, bukan diniatkan untuk membangun kejayaan dan keberdayaan kaum Muslimin.

Lalu posisi Uje sebagai orang yang dibidik oleh dai-dai Syiah, lalu dipengaruhi untuk menganut paham seperti mereka; ini adalah perkara yang membuat Uje mengalami kejenuhan hebat. Dia seperti tak berdaya menghadapi aneka tekanan dari kanan-kiri. Di titik itu Uje merasa tak kuat menatap masa depan kehidupan lebih panjang. Tidak heran jika melihat dari kata-kata, perbuatan, atau pesan Uje yang bernada “pamitan”. Tuntunan Islam membawa damai, sedangkan ajaran yang menghalalkan caci-maki terhadap para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum, akan berujung nestapa.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat menjadi tadzkirah bagi kaum Muslimin, bagi para penggemar Uje, dan juga bagi kami. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab.

(Abi Syakir).


Janganlah Bersikap Sombong…

September 15, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

IFTITAH: Tulisan ini direvisi dari bentuk aslinya. Hal ini dilakukan setelah tabloid Suara Islam menurunkan tulisan simpatik tentang sosok seorang calon Ketua KPK. Tulisan itu digoreskan oleh Ustadz Aru Syeif Asadullah di kolom Khatimah, edisi 121 (7-12 Oktober 2011).

Sebagai bentuk rasa ukhuwwah antar sesama Muslim, dan menghormati para senior aktivis Islam yang banyak jasanya kepada Ummat, maka tulisan ini pun direvisi. Semoga Allah Ta’ala mengampuni diriku atas segala kesalahan-kesalahan yang ada; dan semoga Allah memuliakan kita di atas jalan persaudaraan Islam. Allahumma amin.

***

Pagi ini, Kamis 15 September 2011, saya menyaksikan dialog di TV dengan seorang calon Ketua KPK. Alhamdulillah, dengan segala pertolongan Allah, kita masih bisa dinamika kehidupan Ummat di Nusantara ini.

Aku punya tanjung... Aku bisa mengeluarkan suara mendesing...

Singkat kata, dalam wawancara dengan TV di atas, tampak ada sikap-sikap arogansi yang mestinya tidak boleh tampak dalam diri seorang calon Ketua KPK. Arogansi dimanapun adalah buruk, sebab iblis dikeluarkan dari syurga dan mendapat laknat Allah karena arogansi itu sendiri.

Dalam hal ini ada kaidah sederhana. Kemungkaran yang dilakukan di depan publik, harus diluruskan di depan publik juga. Kemungkaran secara pribadi, diluruskan secara pribadi pula. Lalu, kemungkaran oleh orang-orang yang alim dalam Islam (ustadz atau ulama) berbeda dengan kemungkaran yang dilakukan oleh individu biasa. Kemungkaran oleh orang alim nanti bisa dianggap sebagai “penghalalan” kemungkaran. Cara menasehatinya pun berbeda dengan kepada orang-orang biasa. Semoga dimengerti!

Untuk sosok sekaliber Musa As saja ditegur keras oleh Allah dalam perkara arogansi, apalagi untuk insan biasa seperti kita-kita ini. Bahkan Rasulullah Saw ketika mukanya masam menyambut kedatangan orang tunanetra, Abdullah bin Ummi Maktum, seketika diingatkan dengan Surat “Abasa Watawalla”. Hal ini termasuk perkara hati, perkara sangat peka. Kita harus berhati-hati. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah.

Arogansi termasuk perbuatan yang tak diberi toleransi, kecuali bersikap arogan di depan orang sombong, dalam rangka mengingatkan kesombongannya. Hal seperti itu diperbolehkan, demi amal nahyul munkar. Meskipun harus tetap hati-hati juga.

Dalam wawancara itu saya mencatat beberapa hal yang seharusnya dihindari oleh setiap Muslim yang ISTIQAMAH di jalan Islam, karena hal itu terindikasi merupakan sikap kesombongan. Misalnya sebagai berikut:

[1]. Seseorang mengklaim diri sudah berkiprah di KPK sejak tahun 2005/2006. Posisinya sebagai anggota dewan penasehat KPK, juga ikut terlibat dalam menyusun konsep legal KPK itu sendiri. Disana dia mengklaim sangat tahu seluk-beluk lembaga KPK.  Katanya, “Andaikan ada jarum yang jatuh di KPK, saya tahu letaknya.” Perkataan ini tidak tepat, harus diperbaiki. Di dalamnya mengandung arogansi.

Dulu saya masih ingat ada politisi Muslim dari partai Islam yang didukung anak-anak muda aktivis kampus. Waktu itu, partai tersebut membawa konsep baru, yaitu mengintegrasikan antara partai politik dan partai dakwah; sesuatu yang tidak lazim dalam dunia politik di berbagai negara Muslim. Lalu dia sesumbar, “Andaikan ada 20 jilid kamus politik, lalu di dalamnya tidak ada konsep seperti ini; mengapa tidak kita membuat jilid yang ke-21.” Ya begitulah, kesombongan manusia yang akhirnya menjadi sesalan tak berkesudahan.

Taruhlah, seseorang tahu betul kondisi lahir batin, tahu istilah, hakikat dan makrifat sekaligus. Tetapi tetap tidak layak mengklaim seperti itu. Pengetahuan kita ada tanggung-jawabnya; semakin kita mengklaim “banyak tahu”, semakin besar juga tanggung-jawabnya. Semoga hal ini menjadi pelajaran.

[2]. Seseorang masuk KPK sebagai bentuk rasa cinta kepada saudara-saudara sesama aktivis Muslim, keluarganya, dll. Dia masuk KPK sebagai upaya mewujudkan rasa cinta itu.  Secara teori boleh mengungkapkan cinta kepada orang lain dengan komitmen memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Ini boleh semata, bahkan baik. Kalau korupsi terberantas, orang-orang yang dicintai itu insya Allah akan hidup dengan sejahtera dan baik.

Namun masalahnya, ketika muncul analogi kurang bagus. Disana seseorang mengatakan, kurang lebih: “Misalnya nanti di Akhirat saya masuk syurga, lalu kawan-kawan masuk neraka. Lalu mereka meminta tolong ke saya. Kalau sudah di Akhirat, saya tak bisa berbuat apa-apa…” Ucapan seperti ini tidak tepat dan tidak sesuai ajaran Islam. Tidak ada ulama Islam yang membuat pengandaian jika dirinya masuk syurga, lalu orang lain masuk neraka. Kata-kata seperti itu termasuk domain para Nabi dan Rasul.

Jadi sebaiknya kita menghindar dari kata-kata seperti itu. Bahkan lebih mulia kalau kita merendahkan diri, misalnya dengan mengatakan, “Apalah artinya aku ini? Aku ini hamba yang faqir dan lemah? Aku ini berlumur dosa. Tidaklah diriku ini, selain hamba yang sangat mengharapkan maghfirah Allah.” Kata-kata demikian dibenarkan dan insya Allah termasuk kebaikan.

[3]. Kemudian seseorang ditanya, apa yang akan dia lakukan kalau nanti menjadi Ketua KPK? Lalu dia menjawab: “Dalam waktu 6 bulan pertama, saya akan selesaikan masalah internal KPK sampai beres. Kalau selama ini masih SETENGAH MALAIKAT, akan saya buat sehingga menjadi TIGA PER EMPAT MALAIKAT.” Kalimat-kalimat demikian seharusnya dihindari. Kita ini hanya hamba-hamba Allah yang dhaif dan penuh kesalahan. Sedangkan para Malaikat itu mulia dan disucikan. Maqamnya manusia ya sebatas amal-amal manusia, tak akan bisa mencapai prestasi Malaikat.

Jangankan menjadi setengah Malaikat, menjadi 1 % saja belum tentu bisa. Karena Malaikat disucikan dari dosa, sedang kita tak luput dari dosa-dosa. Kalau membaca kisah Nabi Luth As dan kaumnya. Untuk menyelesaikan kedurhakaan kaum Sodom itu, Allah Ta’ala hanya mengutus dua makhluk Malaikat saja. Bahkan kalau mau, bisa saja Allah hanya menurunkan satu Malaikat saja seperti ketika Nabi Saw diusir kaum Thaif, lalu Allah memerintahkan Malaikat penjaga gunung untuk memenuhi kemauan Rasulullah Saw. Hal-hal demikian ini levelnya Rububiyyah Allah; yaitu level seputar urusan-urusan Ketuhanan-Nya.

Kita tak memiliki hak di kawasan seperti ini. Berhati-hatilah wahai saudaraku. Ingat pesan Nabi Saw, “Falyaqul khairan au liyasmut” (berkatalah yang baik, atau kalau tak bisa diam sajalah). Di tengah KPK sendiri banyak sekali masalah-masalah. Misalnya:  Skandal Bank Century, kasus suap pemilihan deputi gubernur BI, kasus Melinda Dee dan rekening gendut pejabat Polri, korupsi di KPU, korupsi pajak yang melibatkan grup Bakrie, Ramayana, dll.; kasus pemilihan Ketua Umum Demokrat, kasus Wisma Atlet SEAGAMES, kasus Bibit dan Ade Raharja, kasus Menakertrans, dll. Hal-hal demikian tidak boleh sama sekali diklaim sebagai SETENGAH MALAIKAT.

Jangan wahai saudaraku! Nasehat tulus kepada seseorang: “Andaikan beliau tak mampu mengendalikan segala keadaan di sekitar KPK dan diri beliau sendiri, cobalah bersikap santun. Jangan membawa-bawa nama malaikat. Malaikat adalah makhluk yang suci, patuh, dan tak pernah bermaksiyat kepada Allah seperti disebut dalam Surat At Tahrim. Janganlah kelemahan kita hendak ditutupi dengan kesucian makhluk Allah Ta’ala, sebab semua itu perbuatan curang.”

Allahumma inna nas’aluka husnal khatimah, wa na’udzubika min su’il khatimah. Allahumma inna nas’alukal jannah wa na’udzubika min adzabin naar. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.


Belajar dari Episode Hidup Ustadzah Yoyoh

Mei 24, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti sudah menjadi berita di berbagai media. Hari Sabtu, 21 Mei 2011 lalu, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Beliau meninggal dalam kecelakaan di tol Palikanci Cirebon, sekitar dini hari 02.30. Beliau meninggal setelah menghadiri wisuda putra pertamanya, Umar Al Faruq, yang diwisuda di UGM Yogyakarta.

Sebagai seorang Muslim, apalagi tahu kebaikan sosok yang meninggal, sangat layak kita mengucap: “Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha.” Amin. Adapun bagi kawan-kawan yang anti kepada orang parlemen, ya mereka memiliki hak untuk bersikap. Saya pribadi menilai Ustadzah Yoyoh lebih dari posisi beliau di parlemen. Kita melihatnya sebagai sosok da’iyah yang komitmen mendakwahkan nilai-nilai Islam. Khususnya, di kalangan akhwat muslimat.

Daun Pun Berguguran di Jalan Ini...

Bagi generasi muda Muslim saat ini mungkin mereka kurang tahu siapa sosok Ustadzah Yoyoh Yusrah -semoga Allah merahmatinya-. Beliau adalah perintis dakwah Islam dari kalangan Tarbiyah (yang kini menjelma menjadi PKS). Beliau wanita yang memiliki dedikasi tinggi dalam dakwah di kalangan Muslimah.

Kebaikan Bunda Yoyoh yang banyak disebut-sebut kalangan dakwah, ialah beliau memiliki anak banyak. Kalau tidak salah sampai 13 orang (mohon koreksi kalau salah). Di jaman kiwari, memiliki anak sebanyak itu merupakan PRESTASI luar biasa. Hebatnya, Ustadzah Yoyoh tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita atau ibu rumah-tangga. Sambil dakwah, sambil terus mendidik anak-anaknya dengan ajaran Syakhsyiyah Islamiyyah.

Kalau dulu kalangan Tarbiyah memiliki seorang Syaikh, yaitu Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Maka bisa dikatakan, Bu Yoyoh adalah seorang Syaikhah (syaikh wanita) di kalangan Tarbiyah.

Namun, wafatnya Bu Yoyoh dalam kecelakaan di ruas tol Palikanci Cirebon menjadi ending yang bisa dikatakan tragis. Beliau meninggal justru setelah menghadiri wisuda anak pertamanya di UGM. Ibaratnya, beliau wafat ketika hendak memetik buah dari proses didikannya terhadap putranya. Baru juga buah itu dipetik, dan hendak dihidangkan; Malakat Maut sudah menjemputnya. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Dan menariknya, dari sekian banyak penumpang kendaraan, hanya Bu Yoyoh Yusroh sendiri yang mengalami kecelakaan berat sampai meninggal. Sopir kendaraan sendiri dan orang lain, tidak mengalami luka-luka yang sedemikian serius. Itu artinya, ajal Bunda Yoyoh sudah sampai di titik itu. Laa yasta’khiruhu sa’atan wa laa yastaqdimuhu (tidak bisa diakhirkan sedikit pun, dan tidak pula bisa dimajukan sedikit pun).

Dari kejadian seperti ini bisa saja disimpulkan: Betapa sensitif-nya lingkungan tempat Bunda Yoyoh beraktivitas selama ini. Sosok sebaik beliau, dengan segala reputasi dan kontribusinya dalam dakwah Islam, sampai harus meninggal sedemikian rupa. Tidakkah ada dampak keberkahan itu, sehingga seseorang yang telah banyak berjasa, diberi proses wafat yang lebih baik? Wafat saat hendak memetik buah didikannya, selama puluhan tahun, dengan cara yang begitu memilukan.

Jadi teringat sebuah riwayat dari Nabi Saw, bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu secara tiba-tiba dengan sekali cabut. Tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama-ulama. Jika ulama sudah tidak ada, manusia akan bertanya kepada orang-orang bodoh, lalu mereka pun memberi fatwa yang isinya: sesat dan menyesatkan.

Keadaan suatu komunitas, kelompok, jamaah, atau apa saja; juga berlaku prinsip seperti itu. Alangkah malang, kalau suatu kelompok semakin DISUCIKAN dari orang-orang yang baik, lurus, shalih, dan istiqamah. Semakin suci dari kebaikan-kebaikan, artinya semakin makmur dengan sebaliknya.

Semoga mushibah yang menimpa Ustadzah Yoyoh Yusroh menjadi nasehat bagi siapapun (termasuk diriku sendiri), yang masih berhajat kepada kebaikan. Semoga DISANA segera ada perbaikan dan reformasi komitmen keimanan, agar tersebar kemaslahatan umum di tengah-tengah Ummat ini. Allahumma amin. Ya, mau apalagi kita, selain mengisi sisa kehidupan dengan kebajikan? Bila tidak, ya entah apalagi yang bisa diharapkan? Wallahul Musta’an wa ilahi Mustaka.

“Turut Berduka Atas Wafatnya Seorang Da’iyyah”

AM. Waskito.


Ahmad Dhani Kepentok Lagi

Maret 2, 2011

Maaf sebelumnya. Ini bukan soal gossip atau infotainment. Tapi ada hal menarik yang layak kita ulas tentang sosok Ahmad Dhani, vokalis Band Dewa. Dalam kancah perang pemikiran berkesinambungan, kita selain harus mengenal kawan-kawan sendiri, juga harus mengenal lawan-lawan.

Baru-baru ini A. Dhani diadukan ke kepolisian karena telah melakukan perbuatan kasar ke seorang wartawan infotainment GlobalTV. Wartawan berkaos merah (bukan pendukung Thaksin di Thailand) itu robek kaos T shirt-nya, ada bekas-bekas kekerasan di tangan dan lehernya. Dhani bukan hanya sekarang berurusan dengan polisi. Laki-laki berpenampilan seperti master ocultis ini sebelumnya pernah berurusan dengan FPI dalam soal logo Allah yang diinjak-injak dia dalam suatu konser. [Catatan: Okultisme itu semacam sekte pemujaan setan].

Orang Beken, Akrab dengan Kasus...

Singkat cerita, telah beredar isu bahwa Mulan Jameela, kekasih Dhani, telah melahirkan. Katanya melahirkan dengan cara cesar. Ya, siapapun yang mengikuti berita seputar tindak-tanduk Dhani, pasti tahu hubungan orang ini dengan Mulan Jameela. Bahkan, Mulan Jameela itu juga yang memicu perceraian Dhani dengan isterinya. Dan tidak dilupakan pula, betapa kasarnya sikap Dhani kepada keluarga isterinya, Maia.

Wartawan GlobalTV mau konfirmasi soal Mulan yang melahirkan. Tentu saja melahirkan dari “darah daging” Dhani, sebab mereka selama ini dikenal sebagai pasangan kekasih, tetapi tidak diikat ikatan pernikahan. Singkat kata, semacam “kumpul kebo” begitulah. Nah, Dhani marah karena merasa urusan pribadinya dicampuri wartawan. Lalu terjadilah kejadian kekerasan kepada wartawan itu. Konon, wartawan GlobalTV sudah menawarkan solusi damai, tetapi Dhani menolak. Maka langkah hukum pun ditempuh, Dhani diadukan ke polisi.

Meskipun susah mendapatkan bukti perzinahan antara Dhani dengan Mulan Jameela, tetapi menurut logika orang jaman sekarang, sulit sekali mengingkari perzinahan di antara mereka. Bayangkan, Dhani dan Mulan itu sering pelesir bersama. Salah satunya ke Australia, bersama anak-anak Dhani juga. Dhani sendiri adalah orang band, vokalis band terkenal. Siapapun tahu bahwa kehidupan “anak band” sulit dilepaskan dari: drink, drugs, dan cewek. Untuk band-band kere yang kecil-kecil saja banyak terlibat hal-hal seperti itu, apalagi band sebesar Dewa. Contoh yang sangat mudah, ialah hobi si Ariel Peterporn. Cowok Don Sex asal Bandung ini katanya punya banyak koleksi perzinahan dengan pasangan-pasangan sundalnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik.

Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya kehidupan yang sempit. Dan kelak Kami akan menghimpun mereka di hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124).

Orang-orang fasik dan ahli maksiyat ini merasa hidupnya bebas, bisa having funs sesuka hati. Mereka merasa telah ngangkangi kehidupan, bisa menguasai segala sumber-sumber kenikmatan. Padahal diri mereka terlalu lemah di hadapan Allah Ta’ala. Kesenangan yang diberikan kepada mereka, pada dasarnya hanya untuk menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurah kepada semua makhluk. Tetapi kalau jatah nikmatnya sudah habis, mereka jelas akan diketam sedikit demi sedikit sampai akhirnya, binasa. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. [Catatan: Diketam itu seperti petani yang memotong batang-batang padi dari pangkalnya, untuk dibersihkan sampai habis].

Kaum hedonis bisa berbuat apapun, yang mereka inginkan. Tetapi selagi diri mereka masih berwujud manusia, atau makhluk, mereka tak akan bisa lepas dari KEKUASAAN Allah. Demikianlah sunnatullah yang berlaku; meskipun kaum Freemasonry dan okultis marah-marah. Semoga laknat Allah dan kehancuran total atas musuh-musuh Allah dari golongan Freemasonry, okultis, hedonis, dan sejenisnya. Allahumma amin ya ‘Aziz ya Jabbar.

AM. Waskito.


Bay Necmettin Erbakan Telah Wafat…

Februari 28, 2011

Najmuddin Erbakan Rahimahullah. Telah Melintasi Panjangnya Suka-duka dalam Rangka Membela ISLAM.

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiuun. Pada hari Ahad 27 Februari 2011 kemarin, dunia Islam kehilangan salah satu tokoh besarnya. Mantan Perdana Menteri Turki, Necmettin (Najmuddin) Erbakan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu. Amin Allahumma amin.

Mengenang Bay (Tuan) Erbakan seperti mengenang mutiara-mutiara Islam yang sangat langka. Hati kita kagum dan haru mengingati keteguhan, keberanian, serta pembelaannya yang tidak pernah surut terhadap Islam. Masya Allah ya Karim ya Rahmaah…melepas pergi sosok seperti beliau seakan hanya melukai hati kita sendiri, dalam kesedihan dalam duka cita, yang tidak tahu bagaimana mengobatinya?

Bay Erbakan, kalau melihat beliau dari wajah dan penampilannya…seakan jauh dari wajah seorang ulama yang militan dengan ciri khas janggut yang lebat. Beliau tampak sederhana. Tetapi semua orang paham betapa besar dan kuatnya BARA KEIMANAN dalam hatinya, ketika beliau menyuarakan kepentingan Islam dan kecemburuannya kepada agama ini.

Memasuki belantara politik Turki dengan membawa missi Islam, tak ubahnya seperti menyerahkan leher dan keselamatan keluarga kepada maniak-maniak sekuler yang setengah mati membenci Islam. Namun Necmettin Erbakan tidak mempedulikan semua itu. Dengan tekun, dengan sabar, dengan konsisten beliau terus menawarkan politik Islami ke bangsanya sendiri, Turki. Puluhan tahun beliau melakukan hal itu, sampai akhirnya rakyat Turki bisa memahami hadirnya partai Islam.

Tahun 1995 beliau bersama Partai Refah (Partai Kesejahteraan) mengikuti Pemilu Turki. Itu pertama kalinya partai Islam diperbolehkan ikut Pemilu. Hasilnya, partai beliau menang dengan angka sekitar 30 %. Dengan kemenangan itu beliau berhak membentuk kabinet. Karena suara kurang, beliau berkompromi dengan partai sekuler di bawah Tansu Ciller. Pemerintahan Turki waktu itu dijabat oleh dua PM secara bergantian. Beliau sempat menjadi PM Turki pada tahun 1996-1997.

Ketika menjadi PM Turki, Bay Erbakan melontarkan gagasan luar biasa, yang membuat hati kita begitu terpana, tak percaya. Beliau waktu itu mengajak bangsa Turki untuk mengemis-ngemis kepada Eropa. Beliau mengajak negara Turki untuk tidak terobsesi menjadi bagian dari Eropa. Selain itu, beliau juga mengkritik keras PBB (United Nations) yang dituduh selalu tidak adil kepada Islam. Beliau mengajak dunia Islam, khususnya kawasan Timur Tengah untuk membentuk “PBB” sendiri yang beranggota negara-negara Muslim.

Bay Erbakan bukanlah orang yang suka berpura-pura demi alasan kemenangan politik. Politik di matanya adalah sarana untuk memperjuangkan Islam itu sendiri. Politik beliau berbeda dengan politik recehan yang diklaim aktivis-aktivis Muslim tertentu. Beliau konsisten dengan Islam, dan tidak takut menghadapi resiko sebagai seorang Muslim. Seolah beliau ingin mengatakan, “Fasyhadu bi anna muslimin.”

Ketika di Turki dan dunia Islam dilanda demam (euforia) dengan kemenangan Partai AKP di Turki, di bawah pimpinan PM Recep Tayib Erdogan, maka Bay Erbakan tidak bergeser dari sikap politiknya. Politik beliau berbeda dengan AKP. Ibaratnya, beliau tetap bertahan dengan politik Islam murni, 24 karat. Beliau tidak mau berpura-pura, atau menyembunyikan keislaman demi kemenangan politik.

Puluhan tahun Bay Erbakan merintis tampilnya politik Islam di kancah politik Turki. Segala suka-duka sudah dirasakannya. Kemudian, politik beliau dianggap ekstrem, dianggap terlalu kental keislamannya. Lalu sebagian yunior beliau memisahkan diri, kemudian membentuk partai dengan semangat Islam yang lebih cair, yaitu AKP. Ternyata partai AKP itu lebih disukai warga Turki daripada garis politik Necmettin Erbakan. Tetapi…beliau tidak goyah. Tetap teguh dengan pendirian politiknya.

Setelah Partai Refah dilarang oleh hukum di Turki; tahun 1997 beliau ikut mendirikan partai baru, “Partai Kebajikan”. Partai Kebajikan kemudian dianggap melanggar konstitusi Turki dan dilarang lagi tahun 2001. Bay Erbakan tidak menyerah, beliau mendirikan lagi “Partai Kebahagiaan” tahun 2003-2004. Beliau tetap di partai ini sampai wafatnya. Beliau tidak pernah tertarik untuk masuk ke Partai AKP yang kini berkuasa di Turki.

Bay Necmettin Erbakan tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan Islam, secara terang-terangan, meskipun terus-menerus dimusuhi kalangan sekuler. Tiada henti, tiada letih, tiada putus-asa beliau menyuarakan missi politiknya, untuk: “Mengingatkan bangsa Turki akan kejayaan sejarahnya di bawah naungan Khilafah Islamiyyah.” Inilah missi utama beliau, mengajak bangsa Turki kembali kepada Islam.

Kehidupan Bay Necmettin Erbakan rahimahullah seperti sebuah MONUMEN besar untuk mengenang: keteguhan, komitmen, cinta, dan pembelaan total kepada Islam. Tidak ada kompromi untuk membela Islam, dan tidak perlu pula berpura-pura. “Siapa yang malu dengan karakter Islam, maka Islam pun malu kepadanya.”

Melepas kepergian Bay Erbakan, seperti melepas kepergian seorang Muslim yang TIDAK DISESALI kehidupannya, tidak diragukan perjuangannya, dan tidak samar loyalitasnya. Sungguh, beliau sudah memberikan apa bisa diberikan kepada Islam ini. Sampai di akhir hayatnya, beliau terus memperjuangkan kembalinya Turki ke tangan Islam.

Adapun kita disini…hanya bisa mengenangi semua ini, hanya bisa mendoakan beliau, dan menahan kesedihan. Hati kita merintih kepada Allah, “Ya Rabbana, begitu cepatnya Ummat ini ditinggal oleh orang-orang yang utama. Kami ditinggal pergi oleh tokoh-tokoh perkasa. Kami ditinggal bersama Ummat ini dengan seribu satu masalah yang menderanya. Sedangkan kami terlalu lemah, tidak sekuat tokoh-tokoh itu. Ya Rabbana, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dan perlindungan.”

Sayyid Necmetiin Erbakan telah berpulang ke rahmatullah. Semoga kita bisa mengambil bagian dari jejak-jejak perjuangan, pembelaan, dan cinta beliau yang LUGAS kepada agama ini. Allahumma amin ya Rabbal ‘alamiin.

Bumi Allah, 28 Februari 2011.

AMW.


Ibu Ainun Habibie: Hati Seorang Wanita

Mei 24, 2010

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Telah wafat Ibu Hasri Ainun Habibie. Wafat pada Sabtu, 22 Mei 2010, pukul 17.35 di Jerman. Tepatnya di RS Ludwig-Maximilians – Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen. Beliau meninggal setelah menjalani perawatan kurang lebih 60 hari sejak 24 Maret akibat gangguan paru-paru yang akut. Ibu Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah pihak RS Ludwig Maximilians mengaku “angkat tangan” untuk merawat beliau.

Teriring doa, “Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.” Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memberikan keselamatan dan memaafkan kesalahannya. Amin Allahumma amin.

Ada sebuah pertanyaan besar dalam hati ketika memikirkan mundurnya Pak Habibie secara total dari dunia politik, dan enggannya Bu Ainun tinggal di Indonesia. Mengapa harus tinggal di Jerman? Mengapa harus berlama-lama di negeri orang? Bukankah seburuk-buruk keadaan negeri sendiri, itu lebih baik daripada negara orang lain? Hal ini menjadi buah kerisauan yang lama terpendam.

Ternyata, Bu Ainun memilih tetap berada di Jerman, bahkan wafat pun kalau perlu di Jerman. Meskipun kemudian, jenazah beliau tetap akan dikebumikan di TMP Kalibata Jakarta. Artinya, Bu Ainun tetap kembali ke Tanah Air, setelah sekian lama hijrah dari negerinya sendiri.

AMW.

========================================================

CATATAN:

Tulisan ini semula dibuat dengan prasangka baik. Namun bukan berarti kita membenarkan budaya sekuler yang banyak dianut keluarga besar BJ. Habibie. Tidak bisa. Budaya tidak memakai jilbab bagi wanita, anak menantu tidak memakai jilbab, cucu-cucu wanita tidak diajari memakai jilbab, kebiasaan memakai pakaian seksi, berkawan mesra dengan orang-orang non Muslim, dll. semua itu tidak benar. Mohon maaf atas kekhilafan yang ada. Maklum, kita baru tahu jeroan sebuah keluarga, setelah “diberitahu” media-media massa. Tapi soal pemikiran-pemikiran Habibie yang positif dengan Ummat Islam, alhamdulillah tetap diapresiasi secara adil.