Beda Sudut Pandang

Februari 25, 2015

GAMBAR di bawah ini sangat terkenal. Setidaknya, sudah sering dibahas. Pertanyaan: Ini gambar wanita muda atau seorang nenek-nenek? Coba perhatikan.

Ini Gambar Siapa?

Ini Gambar Siapa?

Anda bisa jawab: Wanita muda! Yang lain jawab: Seorang nenek! Ada juga: Wanita muda dan nenek sekaligus!

Itulah beda sudut pandang. Ia muncul dari penglihatan kita terhadap sebuah obyek gambar. Tak perlu diberi solusi, mana yang paling tepat? Yang jelas: beda sudut pandang itu ada dalam kehidupan kita.

Bila kita sadar akan beda sudut pandang ini, itulah tanda-tanda mulai muncul rasa BIJAKSANA. Alhamdulillah.

(SweetLeaf).


BISAKAH ISLAM BERDAMAI DENGAN SYIAH ?

Februari 19, 2015

> Kita bicara obyektif ya. Tanpa emosi. Murni sebatas ilmu.

> Berdamai dengan orang kafir betulan, Ahlul Kitab dan musyrikin, itu BISA. Tapi dengan Syiah, tidak mungkin berdamai.

"Syiah Antitesis ISLAM"

“Syiah Antitesis ISLAM”

> Nabi SAW pernah berdamai dengan Yahudi, kabilah-kabilah Arab, juga musyrikin Makkah. Ingat momen Piagam Madinah dan Hudaibiyah.

> Berdamai dengan orang kafir betulan sangat mungkin. Karena MASING-MASING PUNYA KEYAKINAN SENDIRI. Islam begini; Kristen begitu; Yahudi beda lagi; Hindu lain; Budha beda, dan strusnya.

> Tapi agama Syiah kan beda. Mereka mengambil BAHAN DASAR dari Islam, lalu mereka bentuk apa saja YANG MENENTANG prinsip-prinsip Islam. Itulah hakikat Syiah.

> COBA perhatikan akidah Syiah: Menghujat Al Qur’an, menghina isteri-isteri Nabi, menghina Abu Bakar, Umar, Utsman dan para Shahabat Nabi, mempertuhankan imam-imam, menafikan hadits Nabi, menghalalkan zina, mengkafirkan Muslim, dan lain-lain.

> Kalau Syiah ngajak damai, ngajak toleran, ngajak menghormati nilai-nilai Islam (Syariat), ngajak menghormati tokoh-tokoh Ummat, ngajak kembali ke esensi Kitabullah dan Sunnah…kalau begitu caranya, justru mereka akan KEHILANGAN MAKNA Syiah itu sendiri. Cara begitu sama dengan Islam alias Ahlus Sunnah.

> Ketidakmungkinan damai dengan Syiah, justru karena AKIDAH yang mereka peluk. Akidah mereka adalah ANTITESA akidah Ahlus Sunnah (ISLAM). Bukan karena soal-soal politik, pemikiran, atau wawasan budaya.

> Kalau hanya faktor politik, dg org kafir tulen pun kita bisa berdamai.

SEMOGA BERMANFAAT. Amin.

(Mine).


MEMANDANG KONFLIK SURIAH

Februari 19, 2015

#‎SEDIH‬ …negeri itu kini hancur lebur. Sangat beda antara dulu dan kini.

#‎PESIMIS …kapan kemenangan tercapai? Sedang pejuang-pejuang Islam mengalami banyak perpecahan.

#‎ANALISIS …konflik Suriah tidak terjadi secara alamiah, seperti ada kekuatan “di balik layar” yang men-drive konflik ini.

#‎INTROSPEKSI …mungkin inilah cara Allah Ta’ala untuk memperbaiki mentalitas penduduk Syam; setelah 50 tahunan mereka tenggelam dalam urusan dunia.

#‎OPTIMIS‬ …semoga dengan situasi ini nanti akan BANGKIT PERADABAN Islami di Suriah; impian yang dinantikan kaum Muslimin.

#‎IMAN …kadang terjadi dalam sejarah suatu kejutan tak terbayangkan; manusia hanya bisa merencana, Allah yang menentukan. Hasbunallah Wa Nikmal Wakiil…

(WeAre).

"Semoga Bencana Kemanusiaan Segera Berubah Menjadi Barakah Kehidupan. Amin."

“Semoga Bencana Kemanusiaan Segera Berubah Menjadi Barakah Kehidupan. Amin.”


Hati-hati dengan Headset…

Februari 19, 2015

* Anak muda skarang seneng banget pakai headset di telinga, untuk dengarkan musik dari piranti gadget.

"Jangan Aniaya Telingamu"

“Jangan Aniaya Telingamu”

* Kami nasehatkan, KURANGI memakai headset, atau tinggalkan sama skali. Dengarkan audio seperti biasa saja. Tak perlu FOKUS DEKAT di telinga.

* Memakai headset scara intensif, berjam-jam tiap hari, bahkan saat tidur malam; bisa MERUSAK PENDENGARAN. Lama-lama kepekaan telinga Anda akan menurun. Karena, scara teori, telinga kita disetting untuk SUARA TERBUKA.

* Terus yang bahaya, syaraf-syaraf telinga itu DEKAT SKALI dengan otak kita. Getaran berlebihan di gendang telinga, khawatir akan ganggu otak juga. Misalnya jadi sulit fokus, mudah lupa, mudah tertekan, dll.

* PERHATIKAN kalau orang mau berbisik. Mulut didekatkan telinga, suara dipelankan, intonasi ditenangkan. Apa artinya? Secara universal kita paham, telinga harus dijaga baik-baik. Jangan “dianiaya”.

TERIMAKASIH, alhamdulillah.

(Minds).


NASEHAT SEDERHANA

Februari 19, 2015

“SIAPA YANG MENCARI KEBEBASAN DENGAN MELANGGAR BATAS-BATAS ALLAH. DIA AKAN DIHUKUM DENGAN KEHILANGAN KEBEBASAN-NYA”

* Jiwamu bergolak ingin merasai semua SENSASI.

* Orang datang dengan tulus mengingatkanmu: “Jangan, wahai adinda terkasih. Cukup engkau berdiri di batas itu. Jangan dilompati. Pedih rasanya!”

* Tatkala batas-batas dilanggar; hatimu resah, jiwamu galau. Ini kehilangan pertama.

* Semakin jauh kau tenggelam mengejar SENSASI; raut wajahmu makin kusam; cermin serasa mau pecah; tetumbuhan, hewan-hewan, angin, udara, bebatuan semakin TIDAK menyukaimu. Ini kehilangan kedua.

* Adapun kehilangan ketiga; dicabut NYALI KEBERANIAN dari dadamu. Itu sangat perih.

* Kembalilah wahai Adinda Terkasih. Masih ada JALAN PULANG bagimu.

ALHAMDULILLAH.

(WaterFlow).

Bebas yang Memenjara Jiwa

Bebas yang Memenjara Jiwa


AL IKHWAN ITU AHLUS SUNNAH

Februari 19, 2015

* Alhamdulillah Pemerintah Saudi ada tanda-tanda berubah lebih baik, insya Allah. Di bawah Raja Salman, Pemerintah Saudi mau rekonsiliasi dengan Ikhwanul Muslimin. Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

* Al Ikhwan dekat coraknya dengan Salafiyah (Wahabi). Dekat sekali. Hanya saja, mereka terjun berpolitik dan tidak menafikan JIHAD, jika keadaan memaksa.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

Dakwah untuk Perbaikan Ummat.

* Ada yang mengatakan, Al Ikhwan PRO DEMOKRASI dan ANTI MONARKHI. Anggapan ini lebih banyak salah paham, atau merupakan fitnah. Aslinya Al Ikhwan PRO KEBANGKITAN ISLAM, termasuk dalam sektor politik. Tapi mereka juga TAHU DIRI dan menyesuaikan langkah-langkah politik sesuai kesempatan yang ada. Maka itu Al Ikhwan tidak pernah membuat makar politik di Qatar, Kuwait, Yordan, atau Saudi yang menganut sistem Kerajaan.

* Bagi Al Ikhwan, mengubah SISTEM KERAJAAN menjadi demokrasi, ongkosnya sangat mahal. Hasilnya belum tentu lebih baik. FAKTA, setelah Tragedi Lapangan Rabi’ah, Al Ikhwan menempuh strategi JIHADUS SILMI, atau Jihad Damai. Karena mereka tidak mau Mesir jadi seperti Suriah. Ini membuktikan mereka berhitung tentang ONGKOS SOSIAL.

* Mengapa kemudian muncul gerakan dakwah dari Saudi yang benar-benar anti Al Ikhwan? Menurut kami, itu lebih besar karena alasan prasangka buruk, bisikan fitnah, dan hasutan. Karena sebelum tahun 1990, sikap Kerajaan Saudi selalu baik ke Al Ikhwan. Banyak tokoh-tokoh dan dainya diberi suaka politik di Saudi. FAKTA, sampai hari ini tidak pernah terungkap ada konsep MAKAR dari Al Ikhwan di Saudi.

* Sangat menggembirakan bila Kerajaan Saudi mengubah sikap prasangka, menjadi bersahabat. Karena itulah cara Raja-raja Saudi bersikap sebelum era 1990. FAKTA, Kerajaan Qatar tidak phobia dengan Al Ikhwan, padahal sama-sama kerajaan.

* Dan yang lebih penting lagi, Al Ikhwan adalah ASET BESAR Ahlus Sunnah di dunia. Ini harus jadi FOKUS smua pihak. Jangan sampai kita menghancurkan bagian dari keluarga kita sendiri!!!

* Kalau diungkap dengan bahasa yang mudah: “Al Ikhwan itu organisasi dakwah yang rapi, dekat dengan ciri-ciri Salafiyah, bersikap terbuka kepada berbagai elemen Ahlus Sunnah.”

* Al Ikhwan didirikan untuk menegakkan peradaban Islam; mengutamakan persatuan Ummat; dan konsisten di atas akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

* Ahlan wa sahlan ya Malik Salman hafizhakumullah. Wa shulhu khair ya Malik, wa innamal Mukminuna ikhwah. Barakallah fik ya Malik.

(AM. Waskito).


Titik Temu Wahabi-NU

Februari 19, 2015

Ini adalah buah pikiran sangat bagus dari Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub tentang realitas dakwah di Nusantara. Beliau adalah Imam Besar Masjid ISTIQLAL Jakarta; salah satu pakar hadits di negara kita; juga anggota Dewan Komisi Fatwa MUI. Suara beliau dan lengkingan kepeduliannya, sangat layak diapresiasi.

Berikut tulisan beliau dari Opini REPUBLIKA, 13 Februari 2015. Sekaligus kami rekam pandangan beliau di blog ini.

“TITIK TEMU WAHABI-NU”

 (Friday, 13 February 2015, 14:00 WIB).

Banyak orang terkejut ketika seorang ulama Wahabi mengusulkan agar kitab-kitab Imam Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, diajarkan di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah Islam di Indonesia. Hal itu karena selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.

"Damailah NU dan Wahabi"

“Damailah NU dan Wahabi”

Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi.

Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.

Untuk menilai paham Wahabi, kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahabi, seperti kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan termasuk kitab-kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang kepadanya paham Wahabi itu dinisbatkan. Sementara untuk mengetahui paham keagamaan Nahdlatul Ulama, kita harus membaca, khususnya kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Kami telah mencoba menelaah kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan membandingkannya dengan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah dan lain-lain. Kemudian, kami berkesimpulan bahwa lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan imam Ibnu Taymiyyah. Bahkan, seorang kawan yang bukan warga NU, alumnus Universitas Islam Madinah, mengatakan kepada kami, lebih kurang 90 persen ajaran Nahdlatul Ulama itu sama dengan ajaran Wahabi.

Kesamaan ajaran Wahabi dan NU itu justru dalam hal-hal yang selama ini dikesankan sebagai sesuatu yang bertolak belakang antara Wahabi dan NU. Orang yang tidak mengetahui ajaran Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, maka ia tentu akan terkejut. Namun, bagi orang yang mengetahui Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, mereka justru akan mengatakan, “Itulah persamaan antara Wahabi dan NU, mengapa kedua kelompok ini selalu dibenturkan?”

Di antara titik-titik temu antara ajaran Wahabi dan NU yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu adalah sebagai berikut. Pertama, sumber syariat Islam, baik menurut Wahabi maupun NU, adalah Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Hadis yang dipakai oleh keduanya adalah hadis yang sahih kendati hadis itu hadis ahad, bukan mutawatir. Karenanya, baik Wahabi maupun NU, memercayai adanya siksa kubur, syafaat Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti, dan lain sebagainya karena hal itu terdapat dalam hadis-hadis sahih.

Kedua, sebagai konsekuensi menjadikan ijma sebagai sumber syariat Islam, baik Wahabi maupun NU, shalat Jumat dengan dua kali azan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Selama tinggal di Arab Saudi (1976-1985), kami tidak menemukan shalat Jumat di masjid-masjid Saudi kecuali azannya dua kali, dan kami tidak menemukan shalat Tarawih di Saudi di luar 20 rakaat. Ketika kami coba memancing pendapat ulama Saudi tentang pendapat yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat itu sama dengan shalat Zhuhur lima rakaat, ia justru menyerang balik kami, katanya, “Bagaimana mungkin shalat Tarawih 20 rakaat itu tidak benar, sementara dalam hadis yang sahih para sahabat shalat Tarawih 20 rakaat dan tidak ada satu pun yang membantah hal itu.” Inilah ijma para sahabat.

Ketiga, dalam beragama, baik Wahabi maupun NU, menganut satu mazhab dari mazhab fikih yang empat. Wahabi bermazhab Hanbali dan NU bermazhab salah satu dari mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Baik Wahabi (Imam Ibnu Taymiyyah) maupun NU (Imam Muhammad Hasyim Asy’ari), sama-sama berpendapat bahwa bertawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) itu dibenarkan dan bukan syirik.

Kendati demikian, Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, mensyaratkan bahwa dalam berdoa dengan tawasul menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh, kita tetap harus yakin bahwa yang mengabulkan doa kita adalah Allah SWT, bukan orang yang namanya kita sebut dalam tawasul itu. Wahabi dan NU sama-sama memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.

Memang ada perbedaan antara Wahabi dan NU atau antara Imam Ibnu Taymiyyah dan Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Namun, perbedaan itu sifatnya tidak prinsip dan hal itu sudah terjadi sebelum lahirnya Wahabi dan NU.

Dalam praktiknya, baik Wahabi maupun NU, tidak pernah mempermasalahkan keduanya. Banyak anak NU yang belajar di Saudi yang notabenenya adalah Wahabi. Bahkan, banyak jamaah haji warga NU yang shalat di belakang imam yang Wahabi, dan ternyata hal itu tidak menjadi masalah. Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme di atas. Wallahu al-muwaffiq. n

Ali Mustafa Yaqub
Imam Besar Masjid Istiqlal

*) Semoga pandangan brilian Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub ini bisa menjadi siraman sejuk untuk mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara. Di sana memang banyak yang menginginkan kaum Muslimin tercerai-berai; tapi kita paham siapa mereka, dan apa tujuan missinya. Nas’alullah al ‘afiyah.