Membantah Isu “Jihad Seks” di Suriah

September 26, 2013

Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakaatuh. Ustad mohon maaf, benarkah ada “jihad sexual” di Suriah yang mana pelakunya gadis-gadis Muslimah Tunisia dikirim ke Suriah untuk melayani kebutuhan sexual para pejuang anti Basyar Assad? Mohon pencerahannya! Habunallah Wani’mal Wakiil ni’mal maulaa wa ni’mannnashiir. Syukran. (DA Wahid).

JAWABAN RINGKAS:

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Ya saya sudah baca soal fitnah “jihad seks” itu. Maka bantahan yang bisa diberikan kurang lebih sebagai berikut:

[1]. Tuduhan “jihad seks” itu tak ada buktinya sama sekali. Jadi ini fitnah. Tidak ada olah TKP, tidak ada visum dokter, tak ada tes laboratorium, tak ada tes DNA, dll.

[2]. Tuduhan “jihad seks” itu merupakan bagian dari “perang opini” yang dilancarkan musuh-musuh Islam untuk merusak reputasi pejuang di Suriah.

[3]. Tuduhan “jihad seks” itu tidak memenuhi standar berita jurnalistik, karena pihak media yang memuat berita tidak melakukan klarifikasi ke pihak yang dituduh. Tidak ada Cover Both Side-nya.

[4]. Secara hukum Islam, tuduhan zina bagi seorang Muslim/Muslimah harus menghadirkan 4 orang saksi; dalam tulisan itu tak ada saksinya sama sekali. Si penyebar berita layak disebut pendusta, kesaksiannya tidak boleh diterima selamanya; dan dihukum cambuk 80 kali. (Surat An Nuur ayat 5).

[5]. Tidak ada satu pun ajaran “jihad seks” dalam Islam. Kecuali di Syiah, ada nikah mut’ah.

[6]. Tidak ada praktek “jihad seks” dalam sejarah Umat Islam. Kalau para Salibis dalam Perang Salib, memang melakukan cara begitu, meskipun namanya bukan “jihad seks”. Lihat sejarah Perang Salib.

[7]. Kalau benar ada “jihad seks” buat apa pejuang itu jauh-jauh mencari wanita Tunisia; bukankah wanita Suriah, Libanon, Yordan, Palestina lebih dekat? Kelihatan bohongnya.

[8]. Sangat mungkin terjadi, para pejuang membawa serta istrinya untuk ikut berjihad, lalu mereka berkasih mesra ketika sedang tidak berperang. Itu sangat mungkin, dan itu boleh. Film-film Hollywood saja sering ada adegan romantisme begitu, tetapi biasanya bukan suami-istri.

[9]. Katanya ada pihak Sunni Salafi garis keras yang membolehkan “jihad seks”. Ini cuma tuduhan. Tak ada buktinya sama sekali. Tak ada itu fatwa seputar “jihad seks” sejak zaman Salaf sampai Khalaf.

[10]. Biasanya yang menyebarkan informasi sesat begitu Syiah Rafidhah yang semakin terdesak di Suriah. Mereka mau bantu Basyar Assad -laknatullah ‘alaih- dengan cara apa saja. Ya biasalah kerjaan Syiah Rafidhah.

Dengan demikian, isu seputar “jihad seks” ini hanya semacam psy war saja; untuk saling melemahkan mental dan moral lawan. Itu harus dipahami. Lagi pula umumnya sumber berita “jihad seks” itu dari sumber-sumber sekuler atau non Islam. Jangan dipercaya 100 %!

Semoga bermanfaat!

(Admin Blog).

Iklan

Apakah Ali bin Abi Thalib Haus Kekuasaan?

Oktober 28, 2012

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam sebuah tulisan tentang “Kasus Sampang Jilid II” muncul komentar seorang pembaca yang diindikasikan sebagai pengikut sekte Syiah Rafidhah. Dia memberikan pandangan “imajiner” tentang situasi di Saqifah Bani Sa’idah ketika para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum melakukan pembicaraan untuk memilih pemimpin pengganti Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Dalam pandangan pembaca itu, andai saja para Shahabat tidak mendahulukan sikap nasionalisme, tentu mereka akan merujuk Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu untuk menjadi pengganti Nabi.

Berikut komentar pembaca tersebut:

Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme. Bukankah ketika anda dipersaudarakan oleh rosul antara Muhajirin dan Ansor ketika awal hijrah, nasionalisme telah dihapus oleh rosul, hanya Ali yang dipersaudarakan dengan Rosul sendiri (tanda pertama). Anda menyaksikan di Ghodir khum ketika Rosul mengangkat Ali sebagai Maula, menyakiti Ali sama dengan menyakiti Nabi, lihat hadits2nya Mutawatir (tanda kedua). Bubarlah kembali berkabung kepada tubuh baginda ROSUL yang masih terbaring.”

Analisaku, tidak mungkin Rosul Allah tidak memberikan tanda sebagai penerusnya, karena persoalan ummat adalah persoalan besar. Rosul tahu kalau persoalan kepatutan dimusyawarahkan tidak pernah selesai, akhirnya kepatutan akan diselesaikan oleh kekuatan mayoritas. Yang diusung oleh individu. Ali sbg Maula berdasar dipilih Nabi tidak harus tunduk pada musyawarah mendadak yg bersifat nasionalis mengusung tokoh Ansor dengan Muhajirin. Dalam sejarah Ali mengalah demi menghindari perpecahan membai’ah atas hasil musyawarah dadakan. Nasionalisme menang. Wasiat Nabi tersingkir. Seharusnya menurutku hasil musyawarah yang tunduk pada Maula. Sehingga anasir2 nasionalisme tidak ada tempat. Tolong beri komentar dengan fakta sejarah.”

Sebenarnya, komentar ini semula tidak ingin dikomentari. Inginnya dibiarkan saja, karena bagi kita sudah jelas, bahwa pemikiran-pemikirian seperti di atas, termasuk kategori madzhab sesat Syiah Rafidhah. Hidup mereka, sejak awal sampai akhir; sejak kecil sampai tua renta; sejak membuka mata sampai menutup mata lagi (tertidur); dalam kerumunan atau sendirian; di rumah atau di jalan; saat di masjid atau di WC; saat bekerja atau sedang hubungan seksual; maka fokus masalah yang selalu mereka pikirkan adalah Hak Kewalian Ali bin Abi Thalib dan Hak Imamah Anak-anaknya. Agama, Syariat, bumi, langit, dan kehidupan yang luas ini, di tangan Syiah Rafidhah mengerucut ke dua masalah politik di masa lalu itu.

Pemikiran Syiah Rafidhah Membuat Kemuliaan Sejarah Ahlul Bait Menjadi Kebusukan dan Hina

Leonid Brezhnev, mantan Presiden Uni Soviet, pernah melakukan pembicaraan damai dengan Jimmy Carter. Sebelum pembicaraan dilakukan Brezhnev berkata, “Kalau kita gagal dalam mewujudkan perjanjian, Tuhan akan menghukum kita.” Perkataan itu spontan mengejutkan semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata, sosok Presiden Komunis Uni Soviet, masih menyimpan keimanan pada Tuhan. Begitu pula, Fir’aun masih menyembunyikan keimanan di hatinya, meskipun ucap keimanan itu dia katakan ketika nyawa sudah di tenggorokan (sehingga tak berguna lagi). Artinya, orang kafir sekafir-kafirnya saja, masih ada sisi-sisi keimanan baiknya. Lha ini orang Syiah Rafidhah, katanya Muslim, tapi otak kanan-kirinya, jiwa-raganya, hidup-matinya, isinya melulu hanya: Wilayah Ali dan Imamah Ahlul Bait.

Baiklah, berikut isi diskusi yang sudah dilakukan, dikutip secara utuh. Diskusi aslinya bisa dilihat pada tulisan: “Kasus Sampang Jilid II”. Semoga bermanfaat, amin ya Rahiim.

__________________________________________________________

@ Fulan…

==> Imaginer. Andai aku ada di Saqifah Bani Sa’idah, aku katakan: “Stop perdebatan suksesi, tidak pantas tubuh suci rosul Allah belum dikebumikan kita usung-mengusung calon Muhajirin dan Ansor. Adalah bintik2 ta’assub nasionalisme.

RESPON: Anda tidak boleh menyebut para Shahabat Anshar dan Muhajirin dengan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu tuduhan kasar, kalau tidak disebut fitnah atas mereka. Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum SANGAT TERGONCANG atas wafatnya Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, hal itu sangat terlihat dalam kebingungan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu yang mengancam akan menebas siapa saja yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ini menunjukkan keadaan tekanan psikologis yang sangat berat.

Satu sisi para Shahabat kehilangan sosok manusia teladan, orangtua, guru, kawan seperjuangan, sumber ilmu, penghibur hati, pembela hidup dan jiwa mereka. Di sisi lain, mereka cemas memikirkan masa depan PERADABAN ISLAM yang baru dibangun. Usianya baru 10 tahun; sementara musuh-musuhnya sangat banyak, baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin Persia, Romawi, Mesir, kabilah-kabilah Arab yang kafir, dll. Mereka cemas, siapa yang akan mengganti posisi beliau? Saat itu mereka berdebat, bahwa Anshar lebih tepat mengganti, yang lain berpendapat Muhajirin lebih tepat mengganti. Nabi sendiri tidak menunjuk siapa pengganti beliau, maka wajar dong terjadi perselisihan menentukan pemimpin.

Istilah Anshar dan Muhajirin bukan istilah ta’ashub atau nasionalisme. Itu istilah SYARIAT MURNI, wong dalilnya banyak dalam Al Qur’an dan terutama Sunnah. Anshar adalah pembela para Muhajirin; Muhajirin adalah orang yang hijrah ke negeri orang Anshar. Ini istilah Syariat yang menunjukkan amal dan prestasi amal mereka dalam perjuangan Islam. Itu bukan istilah fanatik atau nasionalisme.

Kalau Shahabat Anshar dan Muhajirin lebih mendahulukan urusan kepemimpinan, bukan urusan mengurus jenazah Nabi; karena mereka melihat bahwa: (1). Urusan kepemimpinan itu tidak bisa ditunda-tunda, harus cepat dipastikan dan dituntaskan; semakin lama ditunda akan melahirkan KETIDAK-PASTIAN yang sangat berbahaya; (2). Suasana di Saqifah Bani Sa’idah sudah mengarah ke terjadinya konflik dan perselisihan internal kaum Muslimin, hal itu kalau dibiarkan begitu saja, akan membesar menjadi konflik serius di kalangan ummat Islam. Memadamkan api konflik sangat diutamakan sebelum mengurus jenazah Nabi;

(3). Harus dicatat dengan tinta tebal, bahwa para Shahabat SUDAH TAHU kalau Nabi Saw wafat. Abu Bakar, Umar, dan para Shahabat Anshar Muhajirin Radhiyallahu ‘Anhum, mereka semua sudah tahu kalau Nabi wafat; maka itu mereka berselisih soal siapa yang akan menggantikan posisi Nabi dalam memimpin kaum Muslimin. Bahkan Abu Bakar dan Umar telah memeriksa jenazah beliau di kamar Aisyah Radhiyallahu ‘Anha terlebih dulu, sebelum berangkat ke Saqifah. Artinya, adalah DUSTA BELAKA kalau para Shahabat dianggap tidak tahu atau acuh dengan kematian Nabi Saw. Justru mereka amat sangat peduli dan mengalami kegoncangan jiwa. Adapun soal merawat jenazah Nabi, dalam Syariat Islam, hal itu harus diurus oleh keluarga beliau sendiri, untuk memandikan dan mengafani; lalu nantinya para Shahabat menyalati beliau, setelah urusan kepemimpinan beres diselesaikan. Apa mungkin untuk mengurus jenazah Nabi harus melibatkan semua para Shahabat baik laki-laki dan wanita? Mungkin kalau dalam hukum Syiah Rafidhah kayak begitu ya…

Para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum sangat mencintai Nabi Saw. Hal itu dibuktikan, mereka sampai berselisih dalam rangka memilih pemimpin untuk: MELANJUTKAN, MELESTARIKAN, dan MEMPERTAHANKAN PERADABAN yang telah dibangun oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Melanjutkan peradaban yang Nabi tinggalkan sangat diprioritaskan, sebelum para Shahabat bersama-sama menunaikan hak-hak jenazah Sayyidul Musthafa Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Jadi para Shahabat lebih lebih mencintai Nabi ketimbang orang-orang Syiah Rafidhah yang telah dibutakan mata-hatinya, lalu Allah ombang-ambingkan mereka dalam kesesatan luar biasa.

Baca entri selengkapnya »


Fondasi Agama Syiah Rafidhah…

September 4, 2012

Karena melazimkan mencaci-maki manusia mulia (Shahabat Nabi Ra), hidup mereka selalu dicekam ketakutan berat.

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam tulisan sederhana ini, kita akan coba jelaskan asal-usul agama Syiah Imamiyah (Rafidhah). Meskipun penjelasan seputar tema ini sudah banyak, tidak ada salahnya terus kita jelaskan. Dalam riwayat, Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam menasehatkan, “Ceritakan tentang Bani Israil sebanyak-banyaknya.” Karena di antara sekte-sekte yang lahir dalam sejarah Islam, yang paling dekat tabiatnya dengan Yahudi, adalah Syiah Imamiyah; maka tidak ada salahnya kita banyak-banyak bicara tentang agama paganisme ini.

Mari kita mulai mengkaji masalah ini, semoga Allah memberikan ilmu, hidayah, dan taufik untuk menetapi yang diridhai-Nya, amin ya Rahiim.

[1]. Kajian ini dimulai dari sebuah ayat berikut: “Qul athi’ullaha war rasula, fa in tawal-lau fainnallaha laa yuhibbul kafirin” (Katakanlah -wahai Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wasallam-: Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, maka jika kalian berpaling (dari ketaatan itu), maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir). /Surat Ali Imran: 32. Ayat ini menjadi sebuah pedoman; bahwa sikap taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar keimanan. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, akan memiliki iman; sementara siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, akan perlahan-lahan terseret ke domain kekafiran.

[2]. Awal munculnya Syiah adalah kebencian kepada Syariat Islam itu sendiri. Pendiri sekte ini sejak awal memang kafir dan ingin menodai Islam dengan ajaran sesat yang dia rintis. Prinsip yang dia pegang ialah seperti analogi “bola salju”. Bola salju kalau dilemparkan dari atas dalam ukuran kecil, nanti sampai di bawah akan menjadi besar. Si perintis sekte ini sudah tahu bahwa Islam akan eksis sampai akhir zaman. Maka sejak zaman Salaf (permulaan Islam, pasca wafatnya Nabi), dia telah merintis aliran sesat yang mendompleng nama Islam. Logikanya, “Kalau sekte ini dibentuk pada hari ini (zaman Salaf), maka di akhir zaman ia akan menjadi sekte besar.” Terbukti perkiraan dia benar.

[3]. Kalau sebuah sekte dibentuk di atas simbol-simbol kejahatan, kekejian, serta amoralitas; dapat dipastikan sekte itu tak akan bertahan lama. Maka sekte itu, kalau ingin eksis yang lama, ia harus dikaitkan dengan simbol-simbol yang luhur, mulia, teladan, kharismatik, serta berwibawa. Itu simbolnya saja; sedangkan soal substansi bobrok, itu masalah lain. Pendiri sekte Syiah menjadikan Ahlul Bait Nabi sebagai simbol. Kalau mereka menjadikan dajjal, Abu Jahal, Fir’aun, atau iblis sebagai simbol; sesuai fitrah manusia, hal-hal seperti itu akan ditolak.

Dalam Surat Thaaha ayat 96, Samiri berkata kepada Musa As tentang perbuatannya, membuat patung sapi betina. “Qaala, bashartu bi maa lam yabshuru bihi, fa qabadh-tu qab-dhatan min atsarir rasul, fanabadz-tuha; wa kadzalika sawwalat li nafsi” (Samiri berkata: aku melihat apa yang tidak mereka lihat, lalu aku segenggam jejak Rasul, lalu aku lemparkan ia; demikianlah, hawa nafsuku membujukku). Perkataan Samiri ini menjadi landasan berbagai kelompok sesat. Mereka selalu bertumpu di atas simbol-simbol yang baik, untuk mempengaruhi, merayu, membujuk, serta mengendalikan orang-orang awam (lugu); lalu di atas simbol-simbol itu mereka membuat tipu-daya kesesatan.

[4]. Entah mengapa, perintis agama Syiah ini memilih Khalifah Ali Radhiyallahu ‘Anhu sebagai simbol. Padahal tokoh-tokoh lain yang luhur dan melegenda juga tidak sedikit. Tetapi intinya, si perintis itu (para ulama sering menyebutnya sebagai Abdullah bin Saba’) mulai memuja-muja Ali; dan menjadikan dirinya sebagai mata air sebuah sekte sesat. Secara politik, Khalifah Ali memang punya pendukung; tetapi hal ini dalam lingkup politik, tidak sampai masuk wilayah akidah. Pendukung Khalifah Ali sering disebut “Syi’atu ‘Ali” (pendukung Ali). Tetapi nuansa politik pada golongan itu seiring perubahan zaman, terus bergeser menjadi nuansa ideologi, dengan lahirnya kelompok kultus individu terhadap sosok Ali dan keluarganya. Hal itu semakin parah dengan terjadinya Tragedi Karbala, ketika Husein dan keluarganya Radhiyallahu ‘Anhum terbunuh di tangan pasukan Yazid bin Muawiyah. Peristiwa Karbala menjadi amunisi besar yang semakin mengokohkan dominasi kelompok kultus Ali itu.

[5]. Mayoritas akidah Syiah berdiri di atas kultus individu terhadap sosok Ali (dan keluarganya); maka Syiah tak ubahnya seperti agama Nasrani yang memuja dan menyembah Yesus; bahkan lebih parah, karena yang disembah Syiah lebih banyak. Semua cabang-cabang akidah Syiah bermula dari pemujaan terhadap sosok Ali. Bagi kaum Syiah, bicara soal hak Kekhalifahan Ali, merupakan akidah tertinggi, melebihi Tauhid kepada Allah. Orang Syiah tidak peduli dengan Tauhid; tetapi dalam soal pemujaan terhadap Ali, mereka nomer satu. Istilah khas yang mereka kerap katakan, hak wilayah Ali atau imamiyah Ali.

[6]. Demi membela hak wilayah (kepempinan) Ali, segala pranata Syariat Islam dilabrak oleh kaum Syiah. Mereka menuduh Jibril As salah memberikan Wahyu; mereka menuduh Al Qur’an kaum Muslimin sudah diubah-ubah para Shahabat; mereka meyakini bahwa Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan anak keturunan mereka punya sifat-sifat Rubbubiyyah; mereka membatalkan Syariat, membatalkan Sunnah, membatalkan ilmu; mereka melecehkan para isteri Nabi dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum; mereka halalkan yang haram-haram; mereka kafirkan kaum Muslimin; dan seterusnya. Semua itu dimunculkan demi memuaskan dahaga kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib. Di titik ini, agama Syiah serupa dengan agama NAZI yang memuja Hitler (sosok manusia), atau agama Ahmadiyah yang memuja Mirza Ghulam, atau agama-agama lain yang memuja manusia.

[7]. Adalah sulit bagi Syiah Imamiyah untuk memaafkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah, dan para Shahabat yang lain Radhiyallahu ‘Anhum. Sulit dan sulit sekali; atau hampir mustahil. Mengapa demikian? Sebab konsekuensi dari memuja dan menyembah Ali, mengharuskan untuk mencaci-maki, merendahkan, menghina, dan melaknati para Shahabat Nabi yang mulia itu. Kok bisa begitu? Sebab dalam hidupnya, para Shahabat Nabi Saw bersikap proporsional dan obyektif terhadap Ali dan keluarganya. Mereka menghargai, mencintai, membela, mendukung; tetapi tidak sampai memuja dan mengkultuskan. Nah, sikap para Sahabat ini dianggap perintang terberat bagi sekte kultus Ali tersebut. Akhirnya, mereka jadikan para Sahabat Nabi sebagai sasaran hujatan, permusuhan, kebencian, bahkan laknatan. Meskipun, semua bentuk kejahatan mereka itu, mau tidak mau, akan mengenai diri mereka sendiri. Tidaklah mereka menghujat hamba-hamba yang diridhai Allah, melainkan mereka akan balas dimurkai oleh Allah Ta’ala. Demikianlah adanya.

[8]. Begitulah akhirnya Syiah menjadi agama tersendiri yang didalamnya bercampur-baur antara: Syiar tauhid dan kemusyrikan, keimanan dan kekufuran, amal shalih dan kejahatan, simbol kemuliaan dan kehinaan, syiar persatuan sekaligus persengketaan, kejujuran dan kebohongan, ilmu agama dan penindasan. Sepanjang masa Syiah terus mengganggu Ahlus Sunnah; karena agama mereka tidak akan tegak, tanpa inspirasi dari Syariat Islam; di sisi lain, amal shalih yang bisa Syiah lakukan ialah membenci, memusuhi, melecehkan, menipu, dan menikam Ahlus Sunnah. Mengapa demikian? Kaum Syiah seperti manusia yang sudah kecanduan narkoba. Mereka setiap hari mencaci-maki para Shahabat Nabi yang mulia; lalu Allah Al Aziz tenggelamkan hidup dan jiwa mereka ke dalam permusuhan, permusuhan, dan permusuhan, tanpa akhir. Dalam jiwa seorang Rafidhah, dia tidak bisa tenang, jika sehari saja lupa dari membenci kaum Ahlus Sunnah. Mata air eksistensi hidup mereka ada dalam kebencian itu.

Ada penuturan ayat Al Qur’an yang sangat menarik….

Tidakkah kamu mengetahui, orang-orang yang diberikan sebagian Al Kitab, mereka beriman kepada Jibti dan Thaghut, dan mereka berkata kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), ‘Semua ini lebih memberi petunjuk daripada jalannya orang-orang beriman (Muslim). Itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan siapa yang dilaknati Allah, engkau selamanya tidak akan menjumpai penolong baginya.” [An Nisaa’: 51-52].

Ayat ini berkaitan dengan Ahli Kitab yang memuji dan terpengaruh oleh ajaran-ajaran paganisme. Namun ayat ini memiliki kesamaan dengan perilaku orang-orang Syiah Rafidhah. Kesamaannya pada 3 sisi: (1). Syiah Rafidhah itu semula adalah orang-orang yang membaca Al Qur’an, atau menerima tuntunan Wahyu; (2). Syiah Rafidhah lama-lama menukar ajaran Tauhid menjadi kemusyrikan (paganisme), dengan menyembah Ali, Hasan, Husein, Fathimah, dan imam-imam Syiah. Dari risalah Tauhid berubah menjadi kemusyrikan; (3). Syiah Rafidhah menyenangi jalan paganisme itu, dan berbalik mencela jalan suci orang-orang beriman.

Dengan sikap seperti itu, maka Syiah pun menerima seperti yang diterima oleh kalangan Ahlul Kitab, yaitu: murka dan laknat Allah atas diri mereka. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min dzalik.

[9]. Tetapi, ini kuncinya, bahwa kaum Syiah juga terkenal sangat pengecut. Dalam segala dendam, kebencian, dan permusuhan abadinya kepada Ahlus Sunnah (dan para Shahabat Nabi itu); tanpa kita sadari, mereka berlaku seperti orang-orang Bani Israil, yaitu sangat takut mati. Disebutkan dalam Surat Al Baqarah 96, bahwa: “Yawaddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin, wa maa huwa bi muzahzihihi minal adzabi an yu’ammar, wallahu bashirun bi maa ya’maluun” (masing-masing mereka sangat senang andaikan bisa berumur 1000 tahun, dan tidaklah dia akan lepas dari adzab andaikan berumur panjang, dan Allah itu Maha Melihat apa yang mereka kerjakan). Kalau membaca sejarah, nyaris tidak ada satu pun tokoh pahlawan dari Syiah, sejak dulu sampai hari ini. Kalau pun mereka bisa berbuat aniaya, rata-rata karena di-back up oleh negara-negara Nasrani (dan Yahudi).

[10]. Bani Israil telah menyembah sapi betina, lalu Allah meresapkan sifat paganis itu ke dalam hati mereka. Kaum Syiah Rafidhah telah mencaci-maki para Shahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum; lalu Allah resapkan ke dalam hati mereka rasa takut, rasa cemas, emosi, kedengkian, permusuhan, serta kegelisahan yang akut. Sungguh, orang-orang Syiah itu sudah sadar dan mengerti, bahwa mereka sedang berjalan menuju gerbang-gerbang kebinasaan; lalu mereka mencari teman, untuk menghibur diri menghadapi laknat, murka, dan siksa (jasmani-ruhani) dari Allah Ta’ala. Di balik statement-statement provokatif tokoh Syiah Bandung, Jalmat, sebenarnya tersembunyi ketakutan sangat hebat. Bukan kepada kita (manusia), tetapi kepada Allah yang selalu dia lecehkan agama dan Syariat-Nya.

Demikianlah sekilas tentang fondasi agama Syiah Rafidhah. Agama ini sangat complicated; segala bentuk sesat, durhaka, dan menyimpang, ada disini. Makanya kalau ada elit-elit di Indonesia yang tidak sadar akan kesesatan Syiah; bisa jadi, mereka adalah anggota Syiah; atau mereka mencari keuntungan politik dari pendukung Syiah; atau mereka mencari finansial dengan ide membela Syiah; atau memang mereka orang bodoh yang tidak tahu arah jalan.

Satu hal yang pasti: kaum Syiah menjadikan dendam dan permusuhan sebagai pokok agamanya, melebihi Tauhidullah; mereka mempertuhankan Ali, Hasan, Husein, Fathimah; mereka isi hidupnya dengan hanya dengki, dendam, permusuhan, dan kebencian; tetapi pada hakikatnya, mereka paling takut kematian; sebab dengan mati, mereka akan segera bisa mengetahui betapa beratnya murka Allah setelah kematian; karena murka yang sudah mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari pun sudah terlalu berat.

Semoga yang sederhana ini bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah Syakir).


Wahai Muslimin Tolonglah Saudaramu di Bumi Jihad SURIAH !!!

Februari 13, 2012

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, bahwa di bumi Syam (termasuk Suriah atau Syria di dalamnya) akan senantiasa ada para pembela-pembela Islam. Disana akan senantiasa tegak hamba-hamba Allah Ta’ala yang selalu konsisten di atas agama-Nya, menjaga Syariat-Nya, serta berkorban demi izzah Dinul Islam. Di Syam akan senantiasa tegak para penolong-penolong agama Allah. Sejarah telah membuktikan kebenaran sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam tersebut.

Namun di era modern (abad 20-21) bumi Syam senantiasa menangis darah, nyawa, air-mata, dan tulang-belulang kaum Muslimin terongkok bagaikan bangkai yang bergelimpangan. Tidak peduli para pemuda, para gadis, kaum tua, sampai anak-anak yang tidak mengerti dosa; mereka menjadi korban kezhaliman, kedurjanaan, pengkhianatan, kesesatan yang gelap, ambisi kekuasaan yang dikooptasi jiwa-jiwa iblis laknatullah, serta kecongkakan kekufuran tiada tara. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa li sa’iril Muslimin, khushushan li ikhwanina wa akhawatina fi Syiria. Amin ya Mujibas sa’ilin.

Sekutu Durjana Hendak Menumpas Singa-singa Islam di Bumi Syam.

Bumi Syam telah membara, terbakar, terhimpit oleh pekat kezhaliman dari segala penjuru. Kaum Muslimin Ahlus Sunnah disana ditikam oleh kaum Zionis Israel; mereka dijerat leher oleh kaum Syiah dari Libanon, Iran, Irak, dan Syria sendiri; mereka ditumpas oleh kaum Alawi radikal yang haus darah dan berlumur kezhaliman gelap; bahkan mereka menjadi bulan-bulanan ambisi kerakusan ekonomi negara-negara Barat dan Timur penjajah.

Mengapa demikian wahai Saudaraku?

Sebab kaum Al Ahzab (Sekutu) di atas kesesatan, kezhaliman, dan kekufuran itu; mereka semua sangat sadar dan meyakini kebenaran sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, bahwa di bumi Syam akan senantiasa lahir singa-singa Islam, pembela-pembela panji Sunnah, penolong-penolong Syariat yang suci, serta para mujahidin yang gagah berani. Orang-orang sesat, durjana, dan kufur, mereka tahu akan hakikat para pembela Islam tersebut. Maka, mereka pun bergandeng tangan, membuat makar, menumpahkan darah, melenyapkan nyawa, serta menghancurkan kehidupan; demi untuk menumpas singa-singa Allah itu.

Kini regim “Fir’aun” gaya baru, Bashar Asad, laknatullah ‘alaihi wa ahzabihi ajma’in; manusia terkutuk ini rupanya ingin mewarisi jiwa kejam “Fir’aun sebelumnya”, yaitu Hafezh Asad, yang tidak kalah durjana, sesat, dan kufurnya. Antara anak dan ayah, seperti pinang dibelah kedua. Keduanya sama-sama berlomba memiripkan dirinya dengan sosok Fir’aun laknatullah ‘alaih. Kaum durjana ini telah membunuhi kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah, baik dulu maupun kini.

Berikut jeritan saudara-saudara kita kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Suriah:

SERUAN DARI SURIAH UNTUK UMAT ISLAM INDONESIA

Oleh Ghiyast Abdul Baqi
(Universitas Malik Abdul Aziz Jeddah. Jamaah Huquq Al Insan fi Suriah)

Sejak sepuluh bulan yang lalu rezim Assad melancarkan operasional biadab dan serangan dahsyatnya terhadap rakyat Suriah terutama kota-kota Himsha, Edlib, Dir’a dan kota-kota serta desa-desa sekitar Damaskus. Masyarakat itu digempur dengan tank-tank, bom, mortir, dan tembakan dari pesawat terbang. Sungguh telah mati sejumlah penduduk yang tidak berdosa, tanpa senjata, mereka dibunuhi di rumah-rumah mereka. Kebenyakan mereka adalah anak-anak, para wanita, dan kakek-kakek serta nenek-nenek.

Di jalan-jalan dapat dilihat jasad-jasad yang sudah tidak bernyawa karena dibunuh, dan ratusan yang luka-luka, namun tidak ada seorang pun yang menolong dan mengobati lukanya.

Dewan Keamanan ada namun tidak ada kebaikan yang dilakukannya, sedangkan Rusia dan Cina berdiri di belakang Bashar Assad, mendukungnya denga senjata  sehingga membunuhi rakyat Suriah yang mereka itu menuntut kebebasan,kehormatan, dan mengatakan demi Allah, tiada penolong bagi kami kecuali Allah. Ya Allah. Namun sampai-sampai ada yang disiksa dengan agar bersujud pada gambar Bashar Assad, dan harus mengatakan tiada tuhan selain Assad.

Berdiri di belakang rezim pembunuh ini adalah Iran yang memberikan senjata, tenaga, dan harta. Dan Juga Hizb Nasrullah la’natullah yang syiah dari Libanon, serta pemerintahan Al-Maliki Irak yang syiah. Para Gerombolan hitam itulah yang membunuhi anak-anak, wanita-wanita, dan kakek-kakek serta nenek-nenek di Suriah sejak sepuluh bulan yang lalu.

Di manakah para propagandis hak-hak asasi manusia di dunia ini? Di manakah propagandis kebebasan rakyat? Kenapa Amerika dan Barat tidak bergerak, padahal merekalah yang mengumandangkan cinta rakyat dan demokrasi. Kenapa mereka tidak bergerak dan menghentikan kebrutalan sadis Bashar Assad di Suriah? Juga di manakah Dunia Islam, di mana pula bangsa-bangsa Arab? Apakah mereka buta, tuli, dan bisu hingga mereka tidak melihat sedikitpun tentang kejahatan yang tidak berperikemanusiaan ini?

Wahai bangsa Indonesia, suadara-saudaramu di Suriah sangat butuh sekali untuk berdiri bersama, untuk dibantu dalam tragedi yang mengenaskan sekali ini.

Organisasi-organisasi kemanusiaan mengatakan, sekarang jumlah korban yang dibunuhi lebih dari 10.000 orang. Tetapi sebenarnya jumlah sejatinya lebih besar dari itu. Sedang yang dipenjara lebih dari 150 ribu. Yang luka-luka ada ribuan orang, tidak ada yang merawatnya dan tidak ada obat.

Rakyat Suriah yang lari mengungsi ke Turki sekitar 12.000 orang. Ke Libanon 5.000-an orang. Ke Yordan lebih dari 10.000 orang. Ke Arab Saudi dan Negara-negara Teluk sekitar 3.000 orang.

Di kota Himsha itu sendiri ada 5.000-an orang yang cacat karena disiksa, ada yang buntung kakinya, buntung tangannya dan sebagainya. Itu akibat penyiksaan di penjara-penjara Suriah. Di penjara-penjara, polisinya Bashar Assad sampai memotong alat vital, mencongkel mata dan sebagainya. Kesadisan yang luar biasa itu semua disiksakan terhadap Ummat Islam Ahlis Sunnah, bukan karena apa-apa tetapi hanya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ [البروج/8]

Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, (QS Al-Buruj: 8).

Para penyiksa itu adalah pelanjut dari apa yang disebut oleh Imam Ibnu Taimiyah sebagai golongan Syiah Nushairiyah yang kejamnya terhadap Muslimin lebih sadis ketimbang Yahudi dan Nasrani.

Dari kenyataan itu, kami yang berasal dari Suriah menyerukan dan mengajak kepada para ulama dan da’i serta khatib di Indonesia, kami berharap pada Antum untuk tidak melupakan saudara-saudara kalian kaum Muslimin di Suriah untuk didoakan terutama di Hari Jum’at , karena pemerintah Suriah yang dhalim, membunuh dan menyembelihi kaum Muslimin.

(Sumber: Seruan dari Suriah untuk Umat Islam Indonesia).

Kaum Muslimin…

Dengarkan seruan saudaramu itu! Tolonglah saudaramu di Suriah, para Ahlus Sunnah yang terzhalimi oleh Yahudi, Syiah Rafidhah, Alawi haus darah, Soviet-China, dan negara-negara kapitalis Barat. Saudaramu kini menderita, kehilangan nyawa, berkuah darah, tertindas tanpa penolong, menjadi santapan srigala-srigala buas berhati iblis. Kini Ummat Muhammad di Suriah menderita, kehidupan mereka hancur, masa depan mereka dipertaruhkan.

Disana wahai kaum Muslimin, putra-putra Islam, para pembela agama Allah, singa-singa Syariat agama ini; mereka tengah dikepung oleh maut dari segala penjuru. Siapa yang hendak menolong wahai Saudaraku? Siapakah? Kepada siapa mereka hendak merintih, menghiba, dan berteriak: “Tolonglah kami wahai pejuang Islam? Tolonglah kami wahai pembela Sunnah? Tolonglah kami wahai pengibar bendera Nabi?”

Mereka merintih, menjerit, dan meminta pertolongan kepadamu, wahai Saudaraku! Tolonglah saudaraku, tolongkah kaum Muslimin disana, kasihanilah mereka, santuni mereka, tolonglah dengan apapun yang sanggup engkau berikan. Tolonglah wahai kaum Muslimin Indonesia atas derita sesama saudaramu di Suriah! Tolonglah saudaramu, wahai Ummat Muhammad?

Jika mampu, berangkatkan ke bumi Suriah, gentarkan musuh-musuh Islam dengan pengorbananmu. Jika tidak mampu, bantulah para pemuda mujahidin yang hendak berangkat kesana. Jika tidak mampu juga, sisihkan harta-bendamu untuk membantu saudara-saudaramu di Suriah yang sedang menderita. Jika tidak mampu juga, berdoalah meminta pertolongan Allah Ta’ala, agar membantu kaum Muslimin Suriah menghadapi kebrutalan manusia-manusia durjana, sesat, dan kufur.

Orang-orang durjana, sesat, dan kufur itu sedang berkolaborasi untuk mematahkan sabda Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Mereka hendak menumpas singa-singa Islam yang akan selalu lahir dan menjaga agama dari bumi Syam. Dengan cara itu, mereka ingin mengamankan DUA IMPERIUM BATHIL (imperium Rafidhah di Iran dan imperium Zionis Israel). Mereka hendak menumpas benih-benih para pembela Islam, agar singa-singa Islam tidak pernah lagi mengganggu imperium Rafidhah yang kufur, dan imperium Zionis Israel. Inilah rahasia di balik kebiadaban selama ini.

Ya Allah ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir…

Ya Allah pecahkan kepada Bashar Ashad dan manusia-manusia durjana yang mendukung kebiadabannya. Tumpahkan kebutaan, kelumpuhan, kehinaan, serta jeritan kesedihan bagaikan lolongan anjing paling menderita, atas diri mereka; musuh-musuh Islam, para penghina kesucian Nabi, penghina Ahli Baitnya, serta penghina para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Patahkan tangan dan kaki-kaki mereka ya Jabbar ya Malik ya Qahhar, seperti Engkau patahkan bala tentara Fir’aun laknatullah. Hujani musuh-musuh Islam itu berupa penyakit, angin topan, ketakutan, serta pertikaian di antara mereka sendiri. Pulangkan doa-doa laknat mereka, sumpah serapah mereka, atas Nabi, isteri-isteri beliau, para Shahabat, dan kaum Muslimin; pulangkan doa-doa itu ke diri mereka, laksana panah api baja yang menembus ke jantung mereka, membakar rumah dan rambut-rambut mereka. Ya Allah benamkan para penyembah syaitan itu, kaum musyrikin yang najis, serta bala tentara dajjal itu dalam lautan kekalahan dan kehinaan; karena mereka bermakar ingin menumpas para pembela-pembela agama-Mu di bumi Syam.

Ya Arhama Rahimin, ya Rabbul Arasyil Karim…

Ya Allah rahmati kaum Muslimin Ahlus Sunnah di Syam. Ampuni mereka atas segala dosa dan kesalahan, atas segala khilaf dan kelemahan. Perbaiki hidup mereka, iman mereka, semangat mereka, serta kehidupan mereka. Rahmati mereka yang telah gugur di jalan-Mu, baik dulu maupun kini. Hapuskan dosa-dosa mereka, sucikan diri mereka seperti Engkau sucikan kain yang putih dengan air, salju, dan embun. Tolonglah mereka yang menderita, terluka, kehilangan kesehatan, tertimpa kesempitan, musibah, serta teraniaya. Mudahkan urusan mereka, berikan jalan-jalan keluar atas segala kesulitan. Ya Allah ya Sallam, tolonglah kaum wanita, anak-anak, dan kaum lemah Ahlus Sunnah (Muslim) di bumi Syam. Tolonglah mereka, santuni mereka, sayangi mereka, selamatkan hidup dan kehidupan mereka.

Ya Allah ya Aziz ya Malik ya Quddus…musnahkan makar kaum durjana, sesat, dan kufur di bumi Syam. Jagalah kehidupan singa-singa Islam, para pembela agama-Mu, serta kesinambungan kehidupan mereka. Ya Allah ya Ra’uf satukan hati-hati kaum Muslimin sedunia untuk menolong para saudaranya di bumi Syam (khususnya Suriah). Satukan hati kami dalam kepedulian, perhatian, serta saling menolong dan meringankan beban saudara kami.

Ya Allah ya Qarib ya Mujib…terimalah doa-doa kami. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Ardhullah, 13 Februari 2012.

(Abu Muhammad Syakir).