…Oh Syekh Puji

Oktober 29, 2008

Sekarang nih lagi marak-maraknya pembicaraan soal Syekh Puji (Puji Cahyo Widiyanto) dari Semarang yang baru menikahi seorang gadis baru lulus SD, usia sekitar 12 tahun, namanya Ulfa (Lutfiana Ulfa). Syekh Puji usia 43 tahun menikah dengan Ulfa yang baru 12 tahun. Ulfa menjadi isteri ke-2, sementara Syekh Puji masih memiliki obsesi untuk menikahi dua gadis lain yang masih anak-anak, usia 9 dan 7 tahun.

Ya kontan saja jagad Indonesia segera gempar dengan rencana Syekh nyentrik dari Semarang, pimpinan Pesantren Miftahul Jannah itu. Ya, orang Indonesia kan lebih peduli dengan “dunia keselebritisan” daripada masalah krisis Amerika, penurunan harga minyak dunia, pembahasan RUU Pornografi, dan lain sebagainya. Masyarakat kita, seperti kata para ahli, adalah tipe masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca, pemikir, penggerak, apalagi peneliti. Jauh, masih jauh.

Saya jadi teringat poligami Aa Gym. Wah, betapa histeris para ibu-ibu dan gadis-gadis saat Aa Gym menikah lagi. Wah, jagad Indonesia rasanya mau runtuh dengan langkah Aa Gym itu. Padahal pada saat yang sama, masih terlalu banyak masalah-masalah yang rumit di negeri ini. Inilah rakyat kita, orang-orang suka menonton, doyan hiburan; diajak mikir agak rumit, sulit, diajak bergerak agak cepat, malas; diajak membahas problematika Ummat, ntar dulu.

Dalam soal pernikahan dengan anak-anak, Rasulullah Saw pernah menikah dengan Aisyah Ra ketika beliau masih berusia 6 tahun, lalu hidup berkumpul dalam sebuah rumah-tangga, saat Aisyah sudah mencapai usia 9 tahun. Pernikahan seperti itu boleh terjadi, jika pihak walinya berkenan dan memberikan rekomendasi. Dan anaknya juga tidak menolak dinikahi.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Memahami Realitas “Perang Energi”

Oktober 27, 2008

Selama ini perang energi sering dikaitkan dengan rebutan minyak bumi. Minyak bumi sendiri menjadi bahan baku utama BBM. BBM menurunkan produk, antara lain: Avtur (untuk pesawat terbang), pertamax (kualitas di atas bensin), premium (bensin), solar, minyak tanah, sampai bahan penyulingan paling kasar, yaitu aspal. Jadi hampir keseluruhan materi minyak bumi (oil) itu bermanfaat, sampai sampah lumpurnya sekalipun. Kalau tidak ada manfaatnya, mungkin asapnya.

Kebutuhan manusia kepada minyak bumi sebagian besar untuk transportasi di darat, laut, dan udara. Selain itu adalah untuk menggerakkan mesin-mesin industri dengan berbagai macam jenis, spesifikasi, dan produknya. Industri militer sangat-sangat membutuhkan BBM; tanpa BBM mereka lumpuh. Lain itu, industri plastik sangat butuh minyak bumi, sebab bahan baku plastik adalah hasil penyulingan padatan minyak bumi (seperti aspal). Selain itu jalan raya butuh minyak bumi (aspal). Jika demikian, alangkah hebatnya minyak bumi. Bahkan, industri listrik pun tidak bisa dilepaskan dari BBM. Wajar jika setiap hari masyaarakat dunia puzzzinnggg memikirkan BBM. Dunia modern akan kembali ke jaman manual, natural, dan hand made tanpa minyak bumi.

Sampai disini wajar jika orang mengartikan perang energi sebagai perlombaan rebutan minyak bumi. Tetapi sebenarnya, perang energi tidak hanya menyangkut minyak bumi. Banyak hal bisa dikaitkan dengan energi, misalnya batu-bara, gas bumi, bio energi (seperti minyak sawit), sumber air, uranium (untuk membuat listrik), dll. Sebab bahan-bahan itu juga sangat dibutuhkan manusia modern, dan bisa menghasilkan energi. Di Eropa, minyak sawit (Crude Palm Oil atau CPO) bisa dibuat menjadi bahan bakar kendaraan, pengganti bensin. Bahkan di sebagian SPBU Pertamina, sudah dijual bio-fuel dari bahan tetes tebu. Ternyata, bukan hanya minyak bumi yang menghasilkan energi. Biji-biji jarak pun saat ini mulai dipakai sebagai pengganti minyak tanah. Dulu Jepang memaksa masyarakat menanam jarak untuk alternative pengganti minyak.

Bahkan air pun sebenarnya juga sumber energi. di Afrika dan Timur Tengah, pengelolaan air bisa menjadi sumber konflik antar negara-negara yang berkepentingan. Mesir harus berdamai dengan negara tetangganya dalam soal Sungai Nil. Kalau tidak, mereka bisa kelabakan jika hulu sungai Nil dirusak oleh negara tetangganya. Israel juga punya ambisi untuk membendung Sungai Eufrat dalam rangka mengamankan pasokan air bagi rakyatnya. Meskipun resikonya mematikan sumber air bagi negara lain. Bagi negara seperti Singapura, pasir bisa menjadi material yang sangat fundamental, sebab mereka membutuhkan pasir untuk melebarkan wilayah negaranya yang sangat kecil. Singapura sangat rakus dalam mengimpor pasir dari Indonesia, meskipun resikonya kita bisa kehilangan pulau-pulau gara-gara pasirnya terus ditambang untuk dijual ke Singapore itu.

Baca entri selengkapnya »


Di Balik Kolaps-nya MQ TV

Oktober 27, 2008

Baru-baru ini harian Surya memuat headline sangat sangat, TV Aa Gym Bangkrut. Itu ditulis besar-besar dan sangat menyolok. Menurut berita Surya ini, MQTV bangkrut sehingga harus mem-PHK 60 dari 63 karyawannya. Untuk membayar pesangon bagi 60 karyawan itu, manajemen MQTV mencari pinjaman senilai 1 miliar rupiah. (Surya, 21 Oktober 2008).

Saya tertarik mengomentari kasus ini, sebab dulu pernah menjadi orang MQ, kerja di bawah manajemen MQ, sejak awal 2002 sampai pertengahan 2003. Sekitar Juni 2003 saya keluar dari MQ dan memilih usaha mandiri, sampai saat ini. Sebagai mantan orang MQ saya pernah melihat pertumbuhan MQTV, dan disini ada hikmah berharga yang ingin disampaikan.

Setelah keluar dari MQ saya tidak lagi berkunjung atau mampir-mampir kesana. Tetapi kalau kebetulan bertemu teman-teman sekantor dulu, kita tetap saling tegur sapa, ramah-tamah, kadang ngobrol. Pendek kata, masalah keluar dari MQ adalah masalah pribadi saya, sedangkan pertemanan dengan teman-teman tetap dipelihara (meskipun tidak intensif lagi). Padahal berulang-kali teman-teman meminta saya mampir kesana, kalau ada waktu. Terus terang saya segan, sebab khawatir nanti dikira “ingin meminta jatah kerjaan atau proyek”. Nah, kesan seperti itu sangat saya khawatirkan.

Suatu saat, ketika sedang berjalan di kawasan Geger Kalong, saya bertemu teman lama, Mas Hadi namanya. Beliau ini teman baik selama saya di MQ. Beliau sedikit memaksa saya masuk ke warung nasi, dan kami berbincang-bincang disana. Seperti biasa, beliau tanya bagaimana keadaan saya, begitu pula saya juga menanyakan keadaan dia. Lebih penting lagi, “Bagaimana perkembangan MQ sekarang?” tanya saya. Ternyata setelah sekian lama saya keluar, MQ mengalami perkembangan-perkembangan. Mas Hadi sendiri pindah dari Divisi MQ Publikasi menjadi Sekretaris MQ Corporation (perusahaan induk MQ).

Selain, dia juga bercerita bahwa sekarang MQTV bukan lagi production house (PH), tetapi sudah menjadi sebuah stasiun TV mandiri. Mendengar informasi itu saya takjub, sekaligus merasa penuh keheranan. “Lho, sekarang jadi stasiun TV, bukan PH lagi?” Mas Hadi mengiyakan.

Baca entri selengkapnya »


Nia Dinata dan Logika Kain Kafan

Oktober 24, 2008

Kemarin malam digelar kembali debat terbuka di TV antara pihak yang pro RUU Pornografi dan yang anti RUU. Saya tidak mengikuti secara keseluruhan, hanya sempat melihat bagian terakhir, debat antara Nia Dinata (sutradara film) dan Feri Omar Farouk (pendukung kampanye Jangan Bugil di Depan Kamera).

Semula tersiar kabar RUU Pornografi akan disahkan DPR sekitar tanggal 23 Oktober, ternyata ditunda lagi. Ini adalah penundaan untuk kesekian kalinya. DPR yang telah bekerja sejak 4 tahun lalu, bahkan sejak 10 tahun lalu, tidak kelar-kelar menggolkan RUU yang isinya sekitar 40 pasal itu. Demi perlindungan moral masyarakat betapa lelet-nya kerja DPR. Bandingkan kalau mereka menggarap RUU politik, rapat-rapat maraton pun akan digelar untuk mengejar deadline.

Nia Dinata, Riri Riza, Dian Sastro, Ayu Utami, Rieke Dyah Pitaloka, dll. sudah sangat terkenal perlawanan mereka terhadap gerakan anti pornografi, khususnya melalui upaya legislasi untuk menghasilkan RUU Pornografi (Semula RUU Anti Pornografi Pornoaksi – RUU APP). Di balik mereka ada Mbah Dur, Gunawan Mohamad, aktivis JIL, Ratu Hemas, dan seterusnya.

Menarik sekali kalau mencermati perilaku kaum pembela kebebasan seni, liberalisasi budaya, dan pornografi itu. Sejak dulu mereka melontarkan alasan-alasan yang banyak dan bermacam-macam. Alasan-alasan mereka tampak keren dan cerdas, tapi alhamdulillah bisa dijawab tuntas oleh para pembela gerakan anti pornografi. Salah satu contoh baik ialah saat Musdah Mulia (guru besar UIN Jakarta) berdebat dengan seorang ustadz HTI. Musdah dibuat tidak berkutik, sehingga keluarlah sifat-sifat asli kewanitaannya, nervous dan emosional.

Para pendukung pornografi selalu memperbaharui alasan-alasan mereka. Setiap satu alasan dibantah, mereka segera bergeser ke alasan lain; ketika alasan baru itu juga dibantah, mereka bergeser ke alasan lainnya lagi; begitu seterusnya, sampai tidak ada satu pun alasan mereka yang tersisa. Setelah mereka kehabisan modal alasan, mereka balik lagi ke alasan pertama, lalu ke alasan kedua, ketiga, dan seterusnya. Mereka tidak pernah tulus ingin bicara tentang pornografi; alasan-alasan mereka hanyalah cover untuk menunda-nunda pengesahan RUU Pornografi. Semakin lama proses pengesahan itu berjalan, semakin tebal “upah perjuangan” yang didapat. Singkat kata, ini adalah “profesi” baru, menunda-nunda pengesahan RUU untuk melayani kepentingan industri kapitalis liberal. Soal “alasan cerdas”, itu mudah dibuat, tinggal diskusi, sharing, brain storming, dapat sudah ide “kreatif”.

Dalam debat di TVOne di atas, hampir tidak ada alasan baru dari seorang “pekerja seni” seperti Nia Dinata. Dia hanya mengulang-ulang lagu lama yang sudah terlalu sering diputar. Dari sisi intelligence atau smartness, para pendukung industri pornografi tidak memiliki ide yang layak.

Disini saya ingin mengulas sedikit cara berpikir Nia Dinata. Tetapi tujuannya bukan untuk membantah, sebab pemikiran-pemikiran mereka sudah terlalu sering dibantah. Kita hanya ingin bersenang-senang dengan aktivitas membela moralitas masyarakat. “Ya, it’s just for fun,” pinjam istilah anak-anak muda.

Baca entri selengkapnya »


Syurga Duit Kertas di Zimbabwe

Oktober 22, 2008

Ini ada beberapa foto bagus tentang ilustrasi inflasi di Zimbabwe Afrika. Disana uang 500 juta dolar, katanya setara sama uang 2 dollar Amerika. Foto ini diambil dari tulisan @ Hye di MyQuran, gambar-gambar lucu di forum humor. Menurutku, ini termasuk gambar terlucu di dunia. He he he… Makasih @ Hye. (Tapi untuk komentar di bawah gambar dari saya sendiri. Cuma mengulang dari @ Hye).

Tanya Harga Ayam

Tanya Harga Ayam

“Ayam ini berapa, Mang?”

“Murah den, cuma 3,5 miliar…”

“Wih, mahal banget. 2,5 miliar gimana?”

“Ini sudah murah. Saya beli di pasar 3,2 miliar seekor.”

“Ya udah, kalau mau, 2,9 miliar aja. Kalau tak mau saya pura-pura pergi, lho.”

“Aduh, naikin dikit aja pak. Jaman sekarang susah dapat ayam.”

“Ya udah, saya tambah 250 juta lagi. Harus mau !!!”

“Mangga atuh…!”

Uang Jajan Anak

Uang Jajan Anak

“Dik, kamu mau kemana?”

“Mau pulang, mau jajan di warung.”

“Tadi dari mana?”

“Minta duit sama Papa di pasar.”

“Mau beli apa, Dik?”

“Aku mau beli baso, gulali, dan mobil-mobilan.”

“Berapa harga mobil-mobilan?”

“Cuma 5 miliar. Itu yang gampang rusak.”

“Gimana, kamu seneng bawa uang sebanyak ini?”

“Ya, seneng sekali.”

“Kenapa?”

“Kalau beli sesuatu rasanya ‘mantep’.”

“Contonya apa?”

“Waktu beli baso semangkok, aku kasihkan uang dua tumpuk sama abangnya.”

“Oh begitu…

“Hai Dik, kamu punya nasehat buat anak Indonesia.”

“Ya. Hai kamu anak Indonesia, kalau mau yang ‘mantep-mantep’, datang sini!”

“Itu aja?”

“Ya, cukup. Cuma soal ‘mantep’ aja.”

Makan di Restoran

Makan di Restoran

“Punteun..punteun…permisi.”

“Saya mau pulang duluan…

“Silakan teruskan makan, saya mau bayar makan siang ini…

“Barusan, saya terpaksa bawa mobil box untuk bawa uang…

“Dompet saya ya mobil box itu…

“Maklumlah, ekonomi lagi gak genah, memusingkan…

“Tolong nanti bayarkan ke kasir, saya titip uang ini…

“Tadi saya ngopi, makan stick, sama sebuah roti keju…

“Semua uang ini 130 miliar dollar…

“Saya permisi dulu…

“Jumpa lagi lain waktu. Cherio…”

Catatan: Isi cerita di atas fiktif, tidak senyatanya. Cuma ingin menjelaskan, betapa susahnya kondisi hyper inflasi, uang jadi tak berharga. Barang sedikit, uang setumpuk. Ini salah satu penjelasan lain tentang keburukan sistem kapitalisme yang memakai uang kertas. Dulu Islam memakai dinar (coin emas) dan dirham (coin perak). Sejak dulu 1 dinar = 2,5 dirham. Ukuran ini bertahan sampai saat ini).


Coba Melihat “Piagam Jakarta”

Oktober 21, 2008

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du:

Beberapa waktu lalu, TVOne menayangkan acara Debat Partai antara PBB (Partai Bulan Bintang) dan PDS (Partai Damai Sejahtera). Acara yang tayang 16 Oktober 2008 malam itu menampilkan Sahar L. Hasan dan Anwar Shaleh dari DPP PBB, dan Jos Rahawadan dan Saat Sinaga, keduanya Ketua DPP PDS. Sebagai pendamping adalah Rahma Sarita (untuk PBB) dan Tina Talisa (untuk PDS). Isu utama yang dibahas dalam debat ini adalah penegakan Syariat Islam. PBB mengklaim mendukung penegakan Syariat Islam, sementara PDS bersikap kontra.

Seperti diakui dalam acara di atas, isu Syariat Islam atau Piagam Jakarta dianggap semakin tidak relevan di parlemen, sebab umumnya politisi-politisi Muslim lebih berorientasi ke substansi Syariat, bukan simbol-simbol. Konon, tinggal PBB yang secara formal masih mengangkat isu Syariat Islam. Dalam debat itu, wakil PBB menegaskan bahwa status Piagam Jakarta masih berkekuatan hukum, sesuai Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ridwan Saidi dalam salah satu bukunya, Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah, menyatakan hal itu. Al Ustadz Husein Umar –semoga Allah merahmatinya- sampai meninggalnya, beliau sangat concern dengan agenda legalisasi Piagam Jakarta. Tidak segan beliau mengecam ide “Spirit Piagam Madinah” yang diusulkan politisi tertentu, khususnya dari kalangan PKS dan PAN.

Apa yang ditulis ini sebenarnya masih satu koridor dengan cita-cita senior-senior pejuang Islam di Masyumi dan lainnya yang mendambakan tegaknya Syariat Islam di bumi Indonesia. Hanya saja, untuk mencapai cita-cita itu kita harus berjalan di atas konsep yang benar, kuat, dan Islami, sehingga peluang keberhasilannya diharapkan lebih besar.

Meskipun begitu, apa yang ditulis ini hanya sebatas wacana. Ia bisa benar, bisa juga salah. Saya bersedia berdialog, berdikusi, atau mendengar masukan dan nasehat dari siapapun, jika di dalamnya terdapat kebenaran. Tulisan ini sebatas wacana, jika di dalamnya terdapat kesalahan dan kekurangan, insya Allah saya akan rujuk dengan pendapat yang lebih kuat. Seperti disebutkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna Al Jamaah itu adalah sepakat dengan kebenaran, meskipun kita hanya seorang diri. Sekali lagi, kepada guru-guru saya, para senior yang saya hormati, mohon dimaafkan jika ada hal-hal yang tidak berkenan.

Baca entri selengkapnya »


Bersantai Dengan Mang Bush…

Oktober 18, 2008

Sebuah foto menarik, saya copy dari swaramuslim.com, tentang George Bush genjot sepeda pancal. Dia jualan anak-anak babi. Jelas bukan pemandangan di Indonesia ya.

GeorgeBush

George Bush Mancal

“Baby…baby…baby…baby…

“Ada babi muda, babi tulang lunak, babi albino…

“Baby ngefet juga ada…”

“Semua ini konsekuensi krisis Amerika, Mr. Bush?”

“Maybe yes, maybe no…