Belajar dari ‘Kambing Congek’

Juli 31, 2009

Sebenarnya sangat melelahkan membahas kiprah partai label Islam/Muslim. Disini kita mengalami krisis moralitas politik yang sangat akut. Setelah Reformasi, kita semua menyangka akan terjadi lompatan-lompatan moral luar biasa dalam bidang perpolitikan. Ternyata realitasnya berbeda. Kita justru disuguhi permainan rebutan fasilitas kekuasaan yang minim keluhuran moral. Para politisi Muslim seperti tidak malu-malu lagi membuka aurat-aurat politiknya; demi fasilitas kekuasaan.

Meskipun begitu, sebagai bagian dari tanggung-jawab dakwah Islam, kita tetap perlu memberikan perhatian-perhatian tertentu pada masalah-masalah yang sangat peka. Bagi saya sendiri, mungkin ini tulisan “pamungkas” di bidang politik praktis, sebelum WARNING III saya sampaikan, menjelang Ramadhan nanti (insya Allah). Semoga tulisan ini bisa menjadi tadzkirah bagi kita semua, khususnya bagi generasi muda Muslim Indonesia, dan para politisi.

Ada sebuah filosofi masyarakat Jawa yang dulu pernah populer, tetapi saat ini sudah dilupakan. Filosofi itu berbunyi: “Becik ketitik, olo ketoro.” (Yang baik akan kecirian, dan yang buruk juga akan kelihatan). Filosofi ini kembali diingatkan oleh Habiburrahman El Shirazi di balik salah satu novelnya. Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan bagi pelakunya. Begitu pula, perbuatan buruk akan berakibat buruk bagi pelakunya. Hal ini sesuai pandangan Qur’ani: “Jika kalian berbuat baik, maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri. Dan begitu pula jika kalian berbuat buruk (keburukannya untuk kalian sendiri).” (Al Israa’: 7).

Filosofi di atas jika diangkat dalam dunia politik, kira-kira maknanya: Investasi kebaikan dalam politik akan membawa maslahat bagi partai politik dan kehidupan masyarakat luas; sebaliknya, investasi keburukan akan kembali kepada yang bersangkutan berupa keburukan-keburukan juga. Bahkan investasi keburukan itu bisa berakibat merusak kehidupan masyarakat luas. Na’udzubillah min dzalik.

RESIKO KOALISI POLITIK

Akhir-akhir ini, partai Islam/Muslim mulai merasa klenger, setelah mereka memutuskan berkoalisi dengan Demokrat atau SBY. Belum juga roda Pemerintahan berjalan, tetapi kerugian-kerugian politik mulai menimpa mereka.

Ada beberapa realitas politik yang membuat elit-elit partai Islam/Muslim merasa “sport jantung” dan terus melakukan rapat-rapat intensif untuk melakukan penyikapan atas dinamika-dinamika politik terkini. Realitas itu antara lain sebagai berikut:

[o] Kemungkinan partai-partai Islam/Muslim tidak akan mendapatkan jatah kursi menteri seperti yang mereka harapkan saat teken kontrak politik dengan Demokrat. Kalau mendapatkan, kemungkinan tidak sebanyak yang mereka harapkan semula. Hal itu muncul, sebab saat ini berkembang luas isu, bahwa kabinet bentukan SBY nanti lebih mengedepankan faktor keahlian, bukan asal partai.

[o] Jumlah kursi partai Islam/Muslim mengalami pengurangan cukup significant, setelah keluar keputusan MA yang mengubah mekanisme penentuan kursi tahap kedua di Parlemen. Partai-partai besar, terutama Demokrat, justru menjadi semakin gemuk dengan pemberlakuan mekanisme tersebut. Untuk PAN sendiri diperkirakan akan kehilangan sampai 18 kursi di Parlemen.

[o] Saat ini sedang bergerak arus kuat di tubuh Golkar dari kubu Akbar Tandjung (atau Aburizal Bakrie) yang menghendaki Golkar koalisi dengan SBY. Mereka ingin merapat ke kekuasaan, dengan dalih seperti ucapan super oportunis Fahmi Idris, “Golkar tidak biasa menjadi partai oposisi.” Jika Golkar akhirnya masuk merapat ke Pemerintahan SBY, kemungkinan dia akan menyingkirkan peranan partai Islam/Muslim yang sudah terlebih dulu bergabung dengan SBY. Saya bayangkan, Akbar Tandjung mengejek para politisi Islam/Muslim itu: “Kalau mau jadi oportunis, jangan tanggung-tanggung. Sekalian saja!”

[o] Elemen-elemen politik di tubuh Demokrat sejak lama bersikap ‘setengah hati’ dengan partai Islam/Muslim. Mereka tidak memiliki komitmen koalisi yang bisa dipegang. Bahkan sampai saat ini pun, PKS selalu mereka waspadai. Alasannya, mereka merasa risih dengan corak politik agamis yang (konon) diperjuangkan oleh partai-partai itu. Bagaimanapun Demokrat adalah partai nasionalis pro Amerika. Wajar kalau dia merasa tidak nyaman dengan partai Islam/Muslim. Di balik Partai Demokrat ada LSI, lembaga surve yang tokoh-tokohnya sangat anti politik agama. Apalagi kaum Liberalis seperti Rizal Malarangeng dan kawan-kawan, mereka lebih “nek” lagi dengan politik agama. Mereka rata-rata pengagum ideologi Sekularisme.

[o] Setelah Pilpres Juli 2009 selesai, KPU memutuskan bahwa pasangan SBY-Boediono menang mutlak dalam satu putaran saja (25 Juli 2009). Kemenangan ini tentu atas dukungan partai Islam/Muslim juga. Tetapi dalam opini-opini yang berkembang, dikesankan bahwa kunci kemenangannya adalah: elektabilitas SBY sendiri. Nah lho, setelah menang baru keluar opini seperti ini. Mengapa ia tidak muncul sejak awal-awal sebelum Pilpres dulu? Entahlah.

Sampai disini, nasib partai Islam/Muslim itu tampak sangat mengenaskan. Mereka dibutuhkan saat Demokrat kesepian. Saat Demokrat sudah mengantongi kemenangan, partai Islam/Muslim itu tidak disukai, sebab wataknya agamis, bukan partai nasionalis. Sudah rahasia umum, bahwa Demokrat mau berkoalisi dengan partai Islam/Muslim, tetapi mereka khawatir dengan partai-partai itu. Okelah, untuk tujuan pemenangan Pilpres, dukungan partai Islam/Muslim sangat dibutuhkan. Tetapi untuk membangun kebijakan Pemerintahan ke depan, mereka kurang suka dengan eksistensi partai yang mengusung simbol-simbol agama.

Saya menduga, nanti dalam komposisi kementrian dalam kabinet SBY, tokoh-tokoh dari partai Islam/Muslim tidak akan diberi posisi yang significant. Ya mungkin akan mendapat pos-pos jabatan seperti Menteri Sosial, Menteri Olah Raga, Menteri Wanita, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pariwisata, atau maksimal Menteri Agama. Posisi-posisi minor yang kurang berpengaruh.

Atau kalau seorang pemimpin tega hati, mungkin tokoh-tokoh partai Islam/Muslim itu akan dibuatkan kementerian baru, misalnya: Menteri Perpustakaan, Menteri Kesenian Daerah, Menteri Urusan Arsip, Menteri Pemeliharaan Benda Purbakala, Menteri Urusan PKK, Menteri Pembinaan Karangtaruna, dll. Atau bisa jadi dibuka kementerian lain, misalnya: Menteri Pelayanan Komplain, Menteri Urusan Menghadapi Debt Collector, Menteri Khusus Debat di TV, Menteri Urusan Manohara, dll. (Maaf beribu maaf, ini hanya humor).

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Bangkitnya Kekuatan NASIONALIS

Juli 30, 2009

Saudaraku…

Mungkin selama ini kita merasa bahwa hanya para aktivis Islam saja yang tidak menyukai LIBERALISASI (secara ideologi maupun ekonomi). Ternyata, ada kekuatan lain yang selama ini tidak kita perkirakan. Ia adalah gerakan NASIONALIS baru. Gerakan ini ternyata juga sangat ANTI LIBERALISME, khususnya liebralisme ekonomi.

Gerakan Nasionalis baru ini juga concern dengan kondisi masyarakat, kehidupan wong cilik, juga penderitaan rakyat sekian lama di bawah regim ekonomi Neolib. Mereka tidak kalah dalam semangat perlawanannya terhadap Neoliberalisme. Setidaknya, di media internet kita bisa melihat, mereka mulai bersuara keras.

Pangkal masalahnya sederhana. Di jaman modern seperti ini WAR OF ENERGY berlangsung sangat keras. Perang, terorisme, atau kekerasan siap dilewati demi tujuan mendapatkan sumber-sumber energi. Atau sekedar untuk mengamankan pasokan energi. Kita sebagai manusia yang berakal pasti sangat berkepentingan terhadap energi itu. “Hidupmu berjalan di atas pasokan energi untukmu.” Apalagi jika kita memikirkan masa depan anak-cucu kita nanti di negeri ini.

Hanya masalahnya, setelah Reformasi, kita merasakan kehidupan yang semakin LIBERAL. Dari sisi ekonomi realitasnya: Mencari uang susah, harga-harga kebutuhan hidup tinggi! Hal ini terjadi karena negara kita menganut sistem ekonomi Neo Liberal. Dengan sistem ini, sebagian besar sumber-sumber kemakmuran rakyat diangkuti ke luar negeri. Ya, fenomena penjajahan baru terjadi lagi. Tidak ada bedanya dengan Gold, Gospel, Glory di masa lalu. Hanya modusnya lebih keren, atas nama regim pemerintahan demokratis.

Nah, saudara-saudara kita dari kalangan Nasionalis itu, mereka juga sangat peduli dengan masa depan bangsa ini. Mereka juga merasa memiliki tanggung-jawab atas kehidupan rakyat, masa depan bangsa, dan kenyataan hidup yang mereka jalani sendiri. Apalagi sehari-hari mereka menyaksikan perihnya kehidupan rakyat kecil.

Jika kita memandang, bahwa yang kita perjuangkan adalah: nasib Ummat Islam. Maka mereka menyebutnya: nasib rakyat kecil. Disini ada titik singgung yang jelas. Ummat Islam juga banyak yang menjadi rakyat kecil; rakyat kecil juga banyak yang beragama Islam. Maklumlah, Islam adalah agama mayoritas rakyat Indonesia.

Dengan demikian, kita bisa berkoalisi untuk memperjuangkan kepentingan yang sama: nasib rakyat Indonesia. Soal niat di hati masing-masing silakan saja. Yang jelas, bagi setiap aktivis Islam atau para dai, mereka berjuang dengan niat mencari ridha Allah.

Dalam Pilpres Juli 2009 lalu sudah tampak adanya kesamaan tanggung-jawab dan kepedulian, untuk sama-sama menghadang gerakan LIBERALISASI Indonesia. Disini sudah tampak saling kepedulian untuk memperjuangkan misi yang sama, meskipun ada perbedaan-perbedaan pada detail tertentu. Tinggal ke depan, kita coba saling kerjasama dalam hal-hal yang disepakati, dan bersikap lapang dada terhadap perbedaan-perbedaan yang ada.

Masa depan Indonesia, masa depan isteri dan anak-anakmu, orangtuamu, kakak-adikmu, cucu-cicitmu, masa depan negeri tumpah darahmu, menjadi amanah yang harus diperjuangkan. Jangan mau menyerahkan masa depan itu ke tangan kaum LIBERALIS yang ujung-ujungnya ingin membangun IMPERIUM New World Order itu. Di tangan kaum LIBERALIS, kehidupanmu dan keluargamu hanya dihargai sebagai SAMPAH belaka.

Bisa dikatakan, saat ini muncul 3 kekuatan utama di Indonesia: Kekuatan Islam, kekuatan Nasionalis, dan kekuatan pro Amerika. Kemudian ada satu lagi kekuatan oportunis. Mereka akan ikut saja kekuatan apapun yang berkuasa. Tapi kekuatan terakhir ini tidak dihitung, sebab dianggap “tidak berkelamin”. Itu setara dengan performa “banci kaleng”.

Alhamdulillah kekuatan Islam bisa bersinergi dengan kekuatan Nasionalis, untuk agenda yang jelas ke depan: Menyelamatkan kehidupan rakyat Indonesia dari sistem penjajahan baru. Perjuangan memang masih panjang. Tetapi kejelasan peta kekuatan politik sangat membantu, untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil, Ni’mal Maula Wa Ni’man Nashir.

AMW.


Membantah SURAT PALSU Nurdin M. Top

Juli 30, 2009

Anda tentu sudah tahu tentang beredarnya surat pengakuan bertanggung-jawab dari Tanzhim Al Qa’idah Indonesia, yang disusun oleh Nurdin M. Top yang beredar di internet. Surat ini muncul dari situs blog: mediaislam-bushro.blogspot.com. Layaknya situs-situs blog lain, tidak jelas siapa pengirim dan dimana domisilinya. Ya, semacam “surat kaleng”, tetapi dalam bentuk blog.

Surat itu mengklaim, Al Qa’idah Indonesia mengaku bertanggung-jawab atas serangan bom bunuh diri ke hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 lalu. Surat ditanda-tangani oleh “master DPO”, siapa lagi kalau bukan: Si Nordin M. Top. Tapi saya meyakini, bahwa itu adalah SURAT PALSU yang sengaja disebarkan, untuk mengesankan kepada masyarakat Indonesia, bahwa pelakunya adalah Al Qa’idah, Islam garis keras, link Jamaah Islamiyyah, dan lainnya.

Disini ada beberapa bantahan terhadap surat seperti ini, yaitu:

[1] Surat itu dimuat di situs blog liar, yang tidak jelas siapa pemilik blognya, dan dimana domisilinya. Untuk membuat surat seperti itu sangat mudah. Siapapun bisa membuatnya. Perlu diingat, di Indonesia sendiri sering ada telepon ancaman bom yang disampaikan orang-orang biasa, baik karena usil, atau ingin memeras. Maka munculnya situs klaim seperti itu biasa saja. Banyak orang bisa membuat surat klaim seperti itu.

[2] Dalam surat itu disebutkan data-data khusus, seperti KADIN Amerika, tim Manchester United menginap, dll. yang tidak bisa diketahui oleh orang banyak. Informasi seperti ini sangat terbatas. Sulit dibayangkan, Nordin Cs bisa mengakses informasi seperti itu. Contoh mudah, dalam Bom Bali I. Suryadarma Salim mengklaim, pelakunya sudah melakukan “keep watching” (pengamatan) sebulanan. Tetapi tetap saja Imam Samudra Cs tidak tahu secara detail siapa saja orang-orang yang ada di Paddy’s Club.

[3] Kejadian bom di JW Marriott dan Ritz Carlton hampir bersamaan. Hanya selisih beberapa menit saja. Secara letak, kedua hotel juga berdekatan. Maka media-media massa menyebutnya “Teror Bom Mega Kuningan”. Dua kejadian itu disatukan penyebutannya. Nah, mengapa dalam surat dari Si Nordin itu, dibuat dua surat? Satu surat untuk JW Marriott dan satu lagi untuk Ritz Carlton? Mengapa tidak disatukan saja? Apa para pelakunya selama ini bekerja sangat detail, sehingga membedakan satu target dengan target lainnya? Secara psikologis, para teroris tidak akan sempat membuat publikasi yang bertele-tele. Mereka akan to the point saja.

[4] Mengapa di akhir surat itu, setelah tertera nama Nordin M. Top ada kata: Hafidzohullah. Kata ini kan merupakan doa, agar seseorang (Nordin M. Top) dijaga oleh Allah. Jelas doa itu dibacakan orang lain, bukan oleh Nordin sendiri. Masak Nordin mendoakan untuk dirinya sendiri? Kalau kalimatnya dibaca secara utuh: “Amir Tandzim Al Qo’idah Indonesia, Abu Muawwidz Nur Din bin Muhammad Top, Hafidzohullah” (Dari Amir Al Qo’idash Indonesia, Abu Muawwidz Nurdin bin Muhammad Top, semoga Allah menjaganya).

Lihatlah, Nordin yang menulis surat itu, lalu dia juga yang mendoakan dirinya sendiri: “Semoga Allah menjaga dirinya/Nordin.” Ini hanyalah dagelan saja. Ini ditulis orang yang sok pintar memalsu surat para teroris.

[5] Metode yang dipakai oleh si pembuat surat adalah copy paste. Dia copy paste beberapa bagian dari surat satu ke surat kedua. Ini menggelikan, masak para teroris begitu tidak kreatif? Untuk membuat bom hebat, dan menembus keamanan JW Marriott saja mereka bisa, kok membuat surat sangat tidak kreatif begitu? Ini aneh besar.

[6] Coba perhatiakan kalimat bahasa Arab yang ditulis mengakhiri surat. Disana tertera kalimat: “Allahu Akbar, wa lillahi al ‘izzahu, wa li Rasulihi, wal mu’minun” (Allah Maha Besar, bagi-Nya kehormatan-Nya, dan bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang Mukmin). Kalimat seperti ini salah, bahkan mengandung unsur kemusyrikan. Yang disebut Al ‘izzahu dalam kalimat itu tentu: kehormatan Allah. Kehormatan Allah itu hanya untuk diri-Nya, tidak boleh untuk selain-Nya, meskipun itu Rasul dan orang-orang beriman. Kehormatan di sisi Allah tentu berbeda dengan kehormatan di sisi makhluk-Nya. Harusnya, kalimat itu ditulis: Wal ‘izzatu lillahi, wa li Rasulihi, wal Mukminin. Dan ingat, ditulisnya “wal Mukminin” bukan “wal Mukminun“.

Singkat kata, surat yang diklaim dari Tanzhim Al Qo’idah Indonesia itu adalah surat palsu, bikin-bikinan. Ummat Islam jangan terperdaya oleh surat-surat yang tujuannya ingin memastikan, bahwa: Indonesia terus dirusuhi oleh aksi-aksi teror bom kelompok-kelompok Islam radikal. Tujuannya kesana, biar nanti penguasa memiliki dalil untuk memberlakukan lagi UU Subversif seperti masa-masa lalu. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lihatlah para kapitalis itu! Saat Ummat Islam di atas angin, mereka memaksakan prinsip DEMOKRASI. Namun saat demokrasi sudah berjalan, ternyata Ummat Islam mampu mengikuti sistem demokrasi ini. Maka cara pun diubah, yaitu main fitnah dan tuduh atas nama kelompok Islam garis keras. Mereka tidak henti-henti mengerusuhi hidup kaum Muslimin ini, sebab memang disanalah mereka mendapatkan EKSISTENSI. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga menjadi manfaat bagi Ummat Islam. Semoga Anda sekalian cepat sadar dan mengerti bahwa makar para konspirator sangat luar biasa akhir-akhir ini menimpa Ummat ini. Tidak ada tempat bergantung yang tangguh bagi kita, selain Allah Al Aziz Al Hakim.

Ya Allah lindungilah kami dari segala kejahatan dan kezhaliman orang-orang kafir. Hanya Engkau Pelindung dan Penolong kami, sebaik-baik pelindung dan penolong. Amin Allahumma amin.

AMW.


Membantah Pengamat TERORISME

Juli 30, 2009

[1] Dalam dialog dengan SCTV, Al Chaidar ngoceh banyak tentang data-data pelaku terorisme di Indonesia. Dia mengatakan, pada tahun 2006 dia melakukan penelitian tentang pengikut Nurdin M. Top. Kata Al Chaidar, saat itu terungkap bahwa Nurdin sudah berhasil merekrut sebanyak 19.000 kader rekrutan. Termasuk di dalamnya kader-kader wanita.

Bantahan:

Al Chaidar menyebut data, ada 19.000 pengikut Nurdin M. Top yang berhasil dia rekrut. Tetapi mengapa, ketika menjelaskan anggota kelompok Cilacap, Banten, Palembang, Wonosobo, dll. jumlah masing-masing kelompok sangat sedikit? Dari setiap kelompok itu Al Chaidar menyebut kurang dari 10 nama orang. Lho, katanya ada 19.000 kader rekrutan, kok dalam penjelasan anggota kelompok-kelompok itu sangat sedikit? Lalu sisanya yang mungkin masih 18.950 lagi kemana?

[2] Pengamat intelijen, Wawan Purwanto, dalam dialog dengan sebuah TV (kalau tidak salah MetroTV atau IMTV). Dia ditanya tentang pelaku peledakan di JW Marriott yang masih anak remaja, usia sekitar 17 tahun. Dia menduga, dalam diri remaja itu ada unsur gen dari nenek-nenek moyangnya dulu yang mungkin pernah terlibat aksi pengeboman. Perlu diingat, dalam rangka menumpas terorisme, Wawan Purwanto ini setuju jika dihidupkan kembali UU subversif seperti dulu.

Bantahan:

Katanya, remaja pelaku peledakan di JW Marriott kemungkinan nenek-nenek moyangnya pelaku peledakan bom juga. Sekarang kita mau tanya, siapa nenek-moyang remaja itu? Nenek moyang tentu hidup di masa yang lampau, melebihi usia kakek-nenek anak itu sendiri. Apa di jaman dahulu sudah ada kasus-kasus peledakan dengan modus bom manusia seperti itu? Maaf, kalau berkomentar jangan asal njeplak. Tapi dipikir-pikir dulu. Kalau tidak logis, Anda sendiri yang akan ditertawakan!

[3] Mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne, dia mengatakan bahwa tujuan aksi-aksi terorisme itu adalah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah (sistem negara Islam).

Bantahan:

Mohon datangkan bukti-bukti dalam ajaran Islam, adakah ayat-ayat dalam Al Qur’an, atau adakah hadits Nabi Muhammad Saw yang memerintahkan Ummat Islam mendirikan negara Islam dengan cara teror? Mohon datangkan bukti-buktinya, kalau Anda adalah orang yang benar! Kalau sekedar klaim ini itu dari sekelompok orang, itu mudah melakukannya. Semua orang bisa mengklaim. Misalnya, gerombolan teroris bayaran mengklaim hendak membebaskan manusia dari penindasan. Klaim seperti ini sangat mudah dibuat. Hanya masalahnya, apakah klaim seperti itu diakui oleh ajaran Islam, atau oleh pandangan ulama-ulama Muslim?

[4] Pandangan tendensius mantan Kepala BIN, Hendropriyono. Dia menyebut, pelaku terorisme itu adalah kelompok Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin. Dalam dialog di TVOne dengan Karni Ilyas, Hendro mempertegas pendapatnya, dengan menyebut kalangan Wahhabi atau Ikhwanul Muslimin garis keras.

Bantahan:

Ucapan Hendropriyono ini bisa sangat memojokkan banyak pihak. Di mata masyarakat, terutama warga NU, akan makin besar kebencian mereka kepada kalangan yang disebut Wahhabi dan Ikhwanul Muslimin. Perlu diketahui, satu-satunya negara di dunia saat ini yang resmi mengklaim sebagai penganut madzhab Wahhabi, adalah Arab Saudi. Sedangkan ulama-ulama Saudi sendiri sangat keras dalam mengingkari aksi-aksi terorisme itu. Saya memiliki referensi berupa fatwa-fatwa ulama Wahhabi yang mengingkari aksi terorisme. Malah ada fatwa khusus yang ditujukan untuk mengingatkan Usamah bin Ladin. Jadi aneh, aksi terorisme diingkari oleh ulama-ulama Wahhabi, tetapi madzhab Wahhabi malah dituding.

Jika Wahhabi demikian berbahaya, mengapa tidak sekalian saja Ummat Islam Indonesia DILARANG menunaikan Haji dan Umrah ke Saudi? Ya, khawatir mereka akan terpengaruh Wahhabi disana, lalu membuat bom-bom terorisme di Indonesia. Padahal sudah ada jutaan jamaah Haji dan Umrah, tetapi tidak satu pun yang kemudian melakukan aksi terorisme. Singkat kata, terorisme adalah kesesatan paham. Ia adalah faktor deviasi yang selalu muncul di paham apapun. Terorisme tidak bisa dikaitkan dengan madzhab-madzhab tertentu yang tidak bersalah.

[5] Pandangan lain dari mantan anggota Jamaah Islamiyyah, Nasir Abbas. Tokoh ini asal Malaysia, iparnya Saudara Mukhlas yang meninggal dieksekusi akibat Bom Bali I. Secara umum, pandangan Nasir Abbas, Al Chaidar, Abu Rusdan, dll. kerap kali saling bertabrakan. Masing-masing merasa benar sendiri, seolah paling mengerti masalah yang dihadapi. Ada satu ungkapan sangat kasar dari Nasir Abbas, saat dia ikut berpendapat dalam dialog TVOne dengan Hendro Priyono. Disana Nasir Abbas, bahwa kaum Thaliban itu tukang membunuhi Ummat Islam. Mereka berperang melawan Mujahidin, sementara Nasir ada di pihak Mujahidin. Dia mengklaim tidak suka dengan Thaliban.

Bantahan:

Dalam konflik Thaliban versus Mujahidin Afghanistan, harus dirunut masalahnya. Tadinya, Thaliban itu kaum santri agama di daerah perbatasan Afghan-Pakistan. Mereka tidak terlalu aktif dalam jihad, namun banyak belajar agama. Saat terjadi pertikaian antara kubu Burhanudin-Mas’ud dengan kubu Hikmaktyar yang beraliansi dengan Koalisi Utara, situasi Afghan semakin tidak menentu. Hal itu terus terjadi karena pimpinan-pimpinan Mujahidin berebut kekuasaan. Masyarakat Afghan, termasuk santri-santri Thaliban tidak suka dengan situasi tersebut. Dengan didukung Pakistan, Thaliban bangkit menundukkan semua Mujahidin, lalu membentuk pemerintahan sendiri. Hanya saja, setelah Pemerintahan Thaliban berdiri, banyak pihak yang tidak menyukai, sebab berhaluan Islam. Jadi, Thaliban itu akhirnya menunaikan tujuan awal para Mujahidin Afghan. Jika kemudian terjadi pertempuran, jangan ditafsirkan membunuhi Ummat Islam. Kalau begitu caranya, berarti konflik antara Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Muawiyah Ra, juga bisa disebut saling membunuhi Ummat Islam. Dan pengakuan Nasir Abbas, bahwa dia tidak menyukai Thaliban. Hal ini sama dengan sikap Amerika selama ini.

[6] Pandangan lain yang sudah tidak kalah popular, dari Sidney Jones, seorang pengamat asal Australia. Pandangan Si Mbok Sidney itu seringkali mewarnai media-media Indonesia. Seolah dia adalah nabi-nya teori terorisme. Dalam diskusi dengan TVOne, Sidney membantah bahwa kasus terorisme di JW Marriott dan Ritz Carlton berhubungan dengan Pilpres. Dia tetap sepakat dengan gaya lamanya, menuduh Jamaah Islamiyyah (JI) ada di balik aksi terorisme itu.

Bantahan:

Sepanjang sepak terjangnya mengamati kasus-kasus terorisme di Indonesia, pandangan Sidney Jones sangat mudah dikenali. Tuduhan dia tidak akan keluar dari 3 nama: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Al Mukmin Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo. Tiga nama ini dia ulang-ulang di berbagai kesempatan, tentu dengan penuh kebanggaan, karena dia diangap sebagai peneliti/pengamat terorisme yang mumpuni. Tapi anehnya, di semua tempat, Sidney tidak pernah bergeser dari 3 nama tersebut. Kalau tidak JI, pasti Ngruki, kalau tidak DI/TII.

Saya khawatir, di kepala Sidney itu hanya ada 3 nama tersebut. Bisa jadi suatu saat Anda akan bertanya: “Mbak dari mana? Mbak suka makanan apa? Mbak pernah kecebur sumur?” Saya khawatir, jawaban yang keluar adalah: Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII. Kok ada manusia yang sedemikian fanatik dengan ketiga nama ini. Jangan-jangan Sidney sudah menjadi “penggemar berat” ketiga nama tersebut? Wallahu A’lam.

Pandangan membabi buta seperti Sidney Jones itu jelas sangat menyesatkan. Segala bentuk tindak kekerasan, pengeboman, bom bunuh diri, dll. kelak dengan serampangan bisa dikaitkan dengan Jamaah Islamiyyah, Pesantren Ngruki, dan DI/TII Kartosoewiryo yang sudah tidak eksis lagi. Tentu ini adalah kezhaliman yang nyata. Itu pun kalau orang-orang kafir mengerti istilah kezhaliman. Wong di mata mereka, zhalim atau adil itu sama saja.

Tentang Jamaah Islamiyyah misalnya. Organisasi ini sangat misterius. Wujud kekuatannya tidak tampak. Tidak ada pimpinan, pengurus, simbol, anggota, cabang-cabang, dll. layaknya jamaah dakwah selama ini. Saya menduga, pengaruh pemikiran tokoh-tokoh Jamaah Islamiyyah itu ada di Indonesia. Tetapi dalam batas pengaruh pemikiran saja. Namun kalau eksistensi organisasi, saya sangat tidak yakin. Begitu juga dengan pengagum Sayyid Quthb. Di Indoneia banyak orang menjadi pengagum Sayyid Quthb. Kitab tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an sudah terkenal. Tetapi apakah para pengagum Sayyid Quthb itu merupakan anggota Ikhwanul Muslimin Mesir? Belum tentu. Bahkan Ikhwanul Muslimin Indonesia yang diklaim oleh Habib Husein Al Habsyi, belum tentu mendapat lisence dari Ikhwanul Muslimin Mesir.

Singkat kata, kalau ngomong itu jangan asal nyeplos. Dipikir-pikir dulu secara cermat, biar tidak menjadi fitnah di kalangan Ummat Islam. Andai kemudian menjadi fitnah, yaa kita maklumlah. Apa sih kerjaan orang kafir, kalau tidak menyusahkan Ummat Islam? Justru rasanya aneh, kalau tiba-tiba mereka menjadi baik hati. Hua ha ha ha…(dengan nada tawa seperti Mbah Surip).

TADZKIRAH UMMAT

Ummat Islam saat ini seperti buih lautan. Banyak jumlahnya, tidak berharga nilainya. Ummat menjadi bulan-bulanan opini media massa. Mereka dalam kebingungan besar mencari-cari cahaya penerang. Banyak sudah nasehat, peringatan, ajakan, himbauan, dan sebagainya disampaikan. Tetapi Ummat ini seperti sangat sulit lepas dari penjara kelumpuhan lahir-bathin. Berbagai macam obat sudah didatangkan untuk memperbaiki Ummat ini, tetapi penyakit yang bersarang tidak kunjung sembuh-sembuh. Siapa yang salah? Obatnya, dokternya, atau pasiennya?

Mungkin inilah masanya JAMAN FITNAH. Jaman penuh cobaan, godaan, dan rongrongan iman. Memegang nilai-nilai Islam di hari ini seperti memegang bara api. Kalau dilepaskan, ia akan padam; kalau terus dipegang tangan menjadi hangus.

Namun bagaimanapun, di hati kita harus selalu ada OPTIMISME. Okelah cobaan ini memang berat, amat sangat berat. Musuh-musuh yang dihadapi Ummat memerangi dari segala penjuru. Termasuk musuh-musuh yang memakai baju Islam, memakai kopiah, sarung, gamis, fasih dengan istilah-istilah Islam, dll. Sebesar apapun problem itu, ALLAHU AKBAR. Allah lebih besar dari semua itu. Allah berjanji akan menolong orang-orang beriman dan mengalahkan musuh-musuh-Nya. Hanya janji Allah semata yang layak kita pegang!!!

Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang mengingkari sesembahan selain Allah, dan bertauhid kepada Allah, maka dia telah berpegang kepada simpul tali yang sangat kuat, yang tidak akan pernah putus. Dan Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 256).

Wallahu A’lam bisshawaab.

(Comeon).


Mengapa Ada Al Qa’idah?

Juli 26, 2009

Istilah Al Qa’idah itu memiliki arti yang unik. Ia adalah kata yang berubah pengertian sesuai proses-proses yang dialami kelompok yang menyandang nama itu.

Al Qa’idah bisa ditulis dengan huruf ‘ain. Ia berarti tempat duduk, tempat duduk-duduk bersama, atau fondasi bangunan. Inilah arti mula-mula Al Qa’idah sesuai asal-usul kemunculannya. Waktu itu tahun 80-an, ketika sedang maraknya JIHAD di Afghanistan menentang Uni Soviet. Para mujahidin memiliki suatu tempat berkumpul-kumpul, semacam base camp, atau kamp latihan. Di dalamnya segala simpul-simpul bantuan untuk JIHAD di Afghanistan berkumpul. Ada yang datang dari Saudi dan Timur Tengah, ada yang dari Pakistan, dari Asia Tenggara (seperti Indonesia), bahkan bantuan dari agen-agen CIA. Para mujahidin menyebut tempat mereka kumpul-kumpul itu sebagai Al Qa’idah. Maksudnya, tempat kumpul-kumpul, duduk bersama, berbagi, maskas, dan lain-lain.

Namun kemudian pengertian Al Qa’idah berubah. Ia lebih tepat ditulis dengan hamzah, bukan dengan ‘ain. Al Qa’idah yang ditulis dengan hamzah, pengertiannya adalah pemimpin, pengarah, komando. Seorang qa’id itu sama dengan komando. Hal ini merujuk kepada gerakan kekerasan menyerang sasaran-sasaran kepentingan Amerika dan sekutunya di seluruh dunia, khususnya melalui serangan-serangan bom. Gerakan ini merujuk kepada Fatwa Global Usamah bin Ladin untuk menyerang segala bentuk simbol-simbol kepentingan Amerika di dunia.

Fatwa global Usamah itu bukan fatwa jihad, sebab secara metodologi memang tidak layak disebut sebagai fatwa jihad (apalagi jika dipandang sebagai fatwa jihad ofensif). Sampai saat ini, Usamah bin Ladin didampingi Dr. Aiman Al Zhawahiri, mantan pemimpin Jamaah Islamiyyah Mesir terus mengeluarkan pernyataan atau fatwa dukungan atas serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh anggota milisi Al Qa’idah di seluruh dunia. Termasuk atas serangan-serangan yang terjadi di Indonesia melalui bom-bom manusia itu. Ketundukan para anggota milisi Al Qa’idah kepada seruan “jihad global” Usamah bin Ladin ini memposisikan Usamah sebagai pemimpin atau komando gerakan ini. Inilah pengertian Al Qa’idah sesungguhnya, yaitu gerakan serangan sporadis terhadap kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutunya, yang merujuk kepada fatwa dan arahan Usamah bin Ladin.

FATWA ULAMA SAUDI

Seorang ulama Saudi, saat beliau masih hidup, fatwanya disebut-sebut sebagai salah satu rujukan gerakan Al Qa’idah. Dalam salah satu fatwanya, beliau memuji serangan ke Double Tower WTC, 11 September 2001.

Beliau membenarkan serangan ke WTC itu dan memujinya. Alasan beliau, serangan ke kalangan musuh tidak harus didahului pemberitahuan. Tanpa pemberitahuan pun boleh. Beliau berhujjah, Nabi Saw pernah mengirim ekspedisi penyerangan di bawah komando Usamah bin Zaid Ra. untuk menyerang posisi orang musyrikin. Serangan dilakukan saat musuh lengah. Hal ini kemudian merupakan alasan pembenar bagi serangan ke obyek-obyek milik kaum kafir, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bersiap-siap.

Menurut saya, cara pengambilan dalil seperti itu tidak tepat. Begitu pula kalau dikaitkan dengan serangan-serangan terorisme selama ini, juga tidak benar. Meskipun secara pribadi, kita menghormati Syaikh rahimahullah yang disegani para mujahidin dari seluruh dunia itu. Beliau disebut-sebut sebagai ayahnya para mujahidin, sangat peduli dengan jihad, dan selalu concern menanyakan perkembangan jihad di negeri-negeri Islam. Kita memuliakannya dan mendoakan rahmat baginya.

Beberapa catatan perlu disampaikan disini, antara lain:

[o] Terorisme berbeda dengan pengiriman ekspedisi jihad untuk menyerang musuh. Kedua-duanya sama offensive (menyerang musuh), tetapi legalitasnya berbeda. Ekspedisi jihad bergerak atas perintah, ijin, dan restu seorang pemimpin Islam. Para Shahabat Ra. tidak berani melakukan serangan sendiri, tanpa ijin Nabi Saw. Sementara terorisme tidak jelas siapa yang memerintahkan aksi seperti itu dan landasan legalitasnya juga tidak jelas.

[o] Ekspedisi untuk menyerang musuh, sekalipun tanpa pemberitaan, seperti terjadi di jaman Nabi Saw dilakukan di atas kondisi konflik yang sudah sama-sama dimaklumi, oleh kawan dan lawan. Nabi Saw memimpin kaum Muslimin mengamankan Madinah, melindungi kepentingan Islam, serta melemahkan posisi orang-orang kafir. Orang kafir sendiri sudah maklum dengan sikap Nabi Saw dan para Shahabat ketika menyatakan perang kepada mereka. Sedangkan terorisme, ia adalah serangan sporadis tanpa didahului kepastian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Adakah satu saja negara Muslim di dunia yang menyatakan perang kepada Amerika dan sekutunya? Selama belum ada keputusan itu, maka aksi-aksi serangan sporadis tidak dianggap sebagai jihad, melainkan terorisme.

[o] Ekspedisi jihad di jaman Nabi Saw jelas manfaat dan pengaruhnya. Sementara serangan-serangan terorisme itu sudah mengacaukan pemikiran, membuat Ummat bingung, juga mengundang serangan balik dari orang-orang kafir dalam segala bentuknya ke Ummat Islam sedunia.

Andaikan aksi serangan ke WTC 11 September 2001, benar-benar dilakukan oleh Al Qa’idah dan kawan-kawan, sehingga menghasilkan aksi paling monumental dalam sejarah manusia modern, ia tetap saja tidak bisa dipuji. Serangan itu tetap dihitung sebagai serangan haram, sebab tidak dilakukan dengan metodologi JIHAD Islami.

Masyarakat dunia mungkin masih bisa memaklumi serangan ke WTC, andai ia dilakukan oleh elemen-elemen dari bangsa Irak, Palestina, atau Afghanistan yang sedang mengalami penindasan oleh Amerika, Israel, dkk. Mereka bisa beralasan dengan situasi kekejaman yang mereka alami di negeri masing-masing dan melakukan serangan untuk menghentikan kezhaliman Amerika Cs. Kemudian, sebelum menyerang mereka menyampaikan maklumat terlebih dulu, atau semacam manifesto politik yang berisi alasan dan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan. Hal ini perlu ditempuh agar tidak memfitnah Ummat. Dan setelah aksi dilakukan, ada pernyataan bertanggung-jawab secara kesatria dari elemen-elemen yang menyerang itu.

Sebuah contoh adalah aksi pembajakan pesawat yang dilakukan oleh beberapa elemen pemuda Palestina terhadap pesawat tujuan Siprus. Pembajakan ini pernah dibuat film dokumenternya dengan sangat informatif. Pesawat itu lalu landing di salah satu negara Afrika Utara, kemudian disergap oleh pasukan khusus Mesir. Namun anehnya, kebanyakan penumpang yang meninggal justru karena serangan pasukan Mesir itu, bukan karena pembajakan. Dalam aksi ini, meskipun sasarannya sipil, setidaknya masyarakat bisa paham bahwa yang dituju oleh pelakunya adalah membela bangsanya yang tertindas di Palestina.

Namun dalam Tragedi WTC, lihatlah dengan jelas. Betapa jauhnya harapan dan kenyataan. Para pelakunya orang-orang Saudi, melakukan aksi tanpa pemberitahuan dan pemakluman terlebih dulu, serta setelah aksi para pelakunya pada kabur tidak karuan. Itu pun dengan asumsi, bahwa pemuda-pemuda Islam yang melakukan aksi itu. Sebab dari banyak analisa kritis, didapat kesimpulan bahwa peledakan WTC 911 dilakukan oleh konspirator Amerika dan Yahudi sendiri.

ISU DAULAH ISLAMIYYAH

Mantan Komandan Densus 88, Jendral Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne dia mengklaim bahwa pelaku teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton adalah bagian dari Al Qa’idah internasional. Ia bukan aksi oleh tangan-tangan teroris lokal. Ketika ditanya, apa tujuan semua aksi teror itu, Suryadarma mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyyah, yaitu sistem negara Islam seperti di jaman Nabi dan para Khalifah setelahnya. Dia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu guna mencegah gerakan pendirian Daulah Islamiyyah itu.

Menurut saya, ucapkan Jendral Suryadarma ini hanya OMONG BESAR. Al Qa’idah sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan perjuangan Daulah Islamiyyah. Daulah Islamiyyah tidak bisa didirikan dengan cara teror, menjadikan warga sipil sebagai bulan-bulanan serangan, merasa arogan seolah paling berhak bicara tentang jihad, dan terus-menerus menjelek-jelekkan citra Islam di mata manusia. Sangat jauh jarak antara tujuan mendirikan Daulah Islamiyyah dengan cara-cara teror pengecut itu. Nabi Saw dalam sirahnya, beliau tidak pernah memberi contoh mendirikan Daulah dengan cara-cara teror. Begitu pula para Khalifah Rasyidah. Mendirikan Daulah Islamiyyah haruslah dengan dakwah, tarbiyah, ukhuwwah di antara kaum Muslimin, dan siyasah. Bukan dengan cara-cara teror seperti Nordin M. Top dan kawan-kawan. Bahkan andai mereka meyakini kebenaran cara teror itu, mengapa tidak vis a vis dengan sistem militer sekalian?

Inti masalahnya, orang-orang ini ingin menegakkan urusan yang besar (mendirikan Daulah Islamiyyah), tetapi tidak mau membayar syarat-syaratnya. Ibarat ingin menunaikan Haji, tetapi kerjanya tidur melulu. Jangankan Daulah Islamiyyah, seluruh kelompok teror di dunia ini (termasuk kelompok orang-orang kafir) nyaris tidak ada yang pernah berhasil membangun negara melalui cara-cara teror. Yahudi saja, yang dikenal sebagai mbah-nya segala teror, mereka mendirikan Israel dengan pertempuran vis a vis menghadapi koalisi pasukan Arab. Ingat lho, itu Yahudi yang agama mereka melegalisasi segala bentuk aksi teror terhadap non Yahudi (Ghayim).

Baca entri selengkapnya »


JIHAD dan Terorisme

Juli 23, 2009

Secara bahasa, JIHAD berasal dari ja-ha-da. Suatu usaha maksimal yang sanggup dikerahkan untuk menunaikan suatu urusan. JIHAD adalah perlambang puncak usaha manusia untuk mencapai sesuatu. Dalam jihad ini, pengorbanan apapun akan disanggupi, termasuk pengorbanan nyawa. Pasukan Jepang yang melakukan aksi Kamikaze pada Perang Dunia II, dengan menabrakkan pesawat ke kapal-kapal Amerika. Mereka bisa dianggap telah berjihad. Hanya saja, jihadnya untuk membela berhala (Kaisar Hirohito). Sedangkan Jihad Fi Sabilillah, diartikan sebagai perjuangan maksimal untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Para ulama, mengidentikkan Jihad Fi Sabilillah dalam Al Qur’an sebagai perang melawan orang-orang kafir dalam membela agama Allah.

JIHAD adalah perkara yang suci. Ia adalah bagian dari risalah langit untuk menjaga, memelihara, dan menegakkan agama Allah di muka bumi. Jihad adalah instumen yang Allah turunkan untuk memelihara agama-Nya, melalui tangan-tangan hamba-Nya. Jihad bukan perkara baru dalam ajaran Nabi Muhammad Saw. Ia telah dikenalkan sejak Nabi dan Rasul, sebelum beliau. Musa, Harun, Danial, Dawud, Sulaiman ‘alaihimus salam, dan lain-lain adalah Nabi-nabi yang pernah terjun berjihad di medan laga.

Dalam Al Qur’an, “Berapa banyaknya Nabi yang berperang bersamanya kaum Rabbani yang banyak. Mereka tidak menjadi gentar karena berbagai cobaan yang menimpanya di jalan Allah; dan tidak pula mereka menjadi lemah dan menyerah. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (Ali Imran: 146).

Dalam riwayat diceritakan. Ada seorang Nabi yang berperang memimpin Ummatnya menghadapi orang-orang kafir. Sebelum musuh dikalahkan, ternyata matahari hampir terbenam. Padahal dalam aturan perang waktu itu, kalau matahari sudah terbenam, seluruh peperangan harus dihentikan. Maka Nabi itu segera memerintahkan matahari berhenti berputar. Dia meminta matahari tidak terbenam dulu, sampai dia dan pasukannya berhasil mengalahkan musuh.

Kedudukan JIHAD bersifat suci, luhur, mulia. Keberadaannya dibatasi oleh adab-adab Syariat. Misalnya, dalam peperangan melawan orang-orang kafir, pasukan Islam tidak boleh menghancurkan rumah-rumah ibadah, tidak boleh menghancurkan ternak, tanam-tanaman, tidak boleh menganiaya orangtua, anak-anak, dan kaum wanita. Tidak boleh mengejar musuh yang melarikan diri, tidak boleh membunuh tentara yang menyerah, berperang sesuai kesepakatan dengan musuh, dll. Hal ini menjadi bukti nyata, bahwa JIHAD bukan urusan “kacangan” yang bisa dilakukan sesuka hati. Ia benar-benar dibingkai dengan adab yang luhur.

Baca entri selengkapnya »


Perginya Seorang Akhi Badrun

Juli 23, 2009

Setelah beberapa mahasiswa di Mesir mendapat perlakuan sangat keras, karena diduga menjadi anggota gerakan Al Ikhwan Al Muslimun, kemudian datang lagi khabar duka. Seorang mahasiswa Al Azhar Mesir asal Indonesia, bernama Badrun Syamsu Ranga Dyka (usia 22 tahun) meninggal setelah tenggelam di pantai Sharm El Sheikh. Dia meninggal ketika mengikuti tradisi tahunan Ikatan Pelajar Mahasiswa Gontor (IKPM) pada pertengahan Juli lalu.

Pantai Sharam El Sheikh (dari detiknews.com).

Pantai Sharam El Sheikh (dari detiknews.com).

Wafatnya Al Akh Badrun bisa dianggap sebagai khabar duka, terutama bagi siapapun yang merasa kehilangan dirinya. Tetapi ia juga bisa dipahami sebagai khabar baik dari Allah Ta’ala. Semoga beliau termasuk salah satu hamba Allah yang meninggal dalam keadaan syahid. Allahumma amin.

Al Akh Badrun tinggal di Mlarak Ponorogo, tidak jauh dari “kampus legendaris” Pesantren Gontor I Ponorogo. Dia sendiri memang alumni Gontor yang bisa meneruskan kuliah di Mesir.

Sebagian catatan perjalanan pemuda ini sungguh layak untuk kita simak. Antara lain sebagai berikut:

[o] Beliau meninggal tenggelam. Padahal dalam hadits disebutkan, bahwa seorang Muslim yang meninggal tenggelam, dia meninggal syahid.

[o] Beliau meninggal ketika mengikuti kegiatan “Napak Tilas Jejak Nabi” yang rutin diselenggarakan IKPM Gontor di Mesir. Kalau di tempat kita, ini semacam kegiatan RIHLAH, RIYADHAH, dan TADABBUR sekaligus. Rihlah karena sifatnya santai, untuk refreshing. Riyadhah karena disana jelas dibutuhkan kekuatan fisik untuk menempuh perjalanan yang berat. Dan tadabbur, merenungi alam sekitar serta warisan sejarah Nabi di masa lalu.

Saya tidak mengerti, apakah “Napak Tilas” itu dikaitkan dengan perjalanan hijrah Nabi Saw dari Makkah ke Madinah, melewati tepian Laut Merah? Ataukah perjalanan para Shahabat Ra. di bawah pimpinan Ja’far bin Abdul Muthalib Ra. ketika hijrah ke Habasyah (Ethiopia)? Atau perjalanan para Nabi di masa lalu, sebelum Sayyidul Mursalin Saw.?

Namun siapapun yang di hatinya tumbuh kecinta kepada Sayyidul Mursalin, Nabi Saw., Allah pasti akan menyampaikan cintanya itu kepada yang dituju. Nabi Saw. pernah mengatakan kepada seseorang Shahabat yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-nya, “Innaka ma’an ahbabta” (engkau itu kelak akan bersama yang engkau cintai).

[o] Al Akh Badrun ini juga termasuk pemuda yang sangat peduli dengan orangtua dan keluarganya. Dia selalu menasehati keluarganya agar menjalankan shalat tepat waktu. Dia sering mengirim SMS hanya untuk mengingatkan keluarganya agar shalat tepat waktu. Masya Allah.

[o] Beliau juga seorang pemuda yang pengasih kepada orangtuanya. Hal itu sangat tampak dari ketegaran ibunya ketika menerima jenazahnya di Ponorogo. Ibunya melarang semua keluarganya menangis. Bahkan beliau ikhlas melepas kepergian putranya dan meyakini bahwa putranya mati syahid.

[o] Sebelum meninggal, Al Akh Badrun sempat menulis surat kepada keluarganya. Isi surat itu dengan bahasa Jawa yang halus terutama berisi permohonan maaf dia kepada keluarganya, atas kesalahan-kesalahan dia selama ini. Begitu dalamnya permohonan maaf itu, hingga untuk membacakannya saja terasa berat sekali.

Itulah sekelumit kehidupan Al Akh Badrun Syamsu Ranga Dyka…

Semoga Anda dimasukkan oleh Allah Al Karim ke dalam barisan para kafilah syuhada’. Semoga Allah memperkenankan Anda menolong 70 orang dari keluarga Anda. Semoga kematian Anda menjadi kebaikan bagi kehidupan kaum Muslimin, dan tidak menjadi musibah yang memberatkan Ummat ini.

Ya Allah ya Rahmaan, wafatkanlah kami dalam keadaan syahid, kumpulkanlah kami bersama para syuhada’, istiqamahkan kami menapati jalan khidmah Islami sampai ajal menjumput kami.

Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Selamat jalan Al Akh Badrun… Semoga kelak kita bisa bertemu di bawah naungan rahman, ampunan, dan keridhaan-Nya. Allahumma amin.

== Abi Syakir Najih ==