Kok Jadi Menghina Islam?

September 30, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak lama kita telah mengingatkan Ummat Islam bahaya aksi-aksi Densus 88. Hal ini sudah diingatkan berkali-kali, di berbagai media, termasuk di blog ini. Densus 88 sudah benar-benar membabi-buta dalam menjalankan wewenangnya untuk memberantas terorisme.

Bukan berarti kita tidak setuju dengan pemberantasan pelaku teror yang membuat onar di tengah masyarakat. Tetapi masalahnya: SATU, isu terorisme itu sendiri penuh rekayasa, bukan seperti kejadian teror yang benar-benar murni teror. DUA, banyak orang yang tidak bersalah, tidak tahu-menahu, atau baru sebatas dicurigai, telah menjadi korban pemberantasan terorisme yang membabi-buta. Pelaku terornya sendiri tetap aman, sementara kaum Muslim yang tidak berdosa menjadi korban.

Densus 88: “Membunuhi Orang Shalat, dengan Biaya APBN.”

TIGA, pemberantasan terorisme ini telah ditunggangi oleh semangat kebencian terhadap Islam, oleh sekumpulan anggota Polri dari unsur non Muslim, yang diasuh oleh Gorries Mere, selaku Ketua BNN. Menurut FUI, di tubuh Polri ada sebuah kelompok kecil beranggota 40-an orang, non Muslim semua, yang kerap beraksi membunuhi pemuda-pemuda Islam yang belum jelas kesalahannya di mata hukum. Pasukan itu kerap berlindung di balik nama Densus 88 untuk menghancurkan kehidupan pemuda-pemuda Islam tak bersalah dan keluarga mereka.

Kini terjadilah apa yang terjadi… Densus 88 dengan dukungan penuh Polri, mereka menembaki manusia yang sedang Shalat Maghrib. Katanya, orang-orang itu sedang memegang senjata, sedang hendak menyerang aparat keamanan. Padahal mereka ditembaki saat Shalat Maghrib di rumah. Betapa kejinya pernyataan -manusia terkutuk- Bambang Hendarso yang memfitnah manusia-manusia itu. Bahkan Yuki Wantoro, yang tidak tahu apa-apa tentang Perampokan Bank CIMB ikut difitnah juga, dan terbunuh disana. Masya Allah, mana lagi ada kebiadaban yang lebih keji dari itu? (Maka tidak berlebihan jika dikatakan, banyak dari pejabat-pejabat negara kita selama ini, bukan merupakan golongan manusia, tetapi golongan syaitan yang keji).

Sebenarnya, saat Densus 88 menangkap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di Banjar ketika itu, memecahkan mobil, membekuk sopir dan laki-laki dalam mobil itu, menangkap kaum wanita, bahwa menghardik Ustadz Abu Bakar dengan ucapan, “Kutembak kamu!” Ini adalah pelecehan, penghinaan, penistaan besar terhadap Islam dan kaum Muslimin.

Dan kini terjadi lagi penistaan yang lebih biadab. Orang-orang sedang shalat ditembaki, beberapa dibunuh. Ustadz Khairul Ghazali dibatalkan shalatnya, lalu dijatuhkan, dan diinjak-injak pula. Allahu Akbar, mana lagi kezhaliman yang lebih besar dari kekejian manusia-manusia syaitan ini? Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Wahai kaum Muslimin, kami sudah lama mengingatkan Anda akan masalah ini. Sudah sering kami mengingatkan Anda, termasuk kami tidak peduli dengan nasib kami sendiri. Kami ingatkan bahaya besar kesewenang-wenangan seperti ini. Tetapi Anda sepertinya hanya menganggap biasa-biasa saja.

Al Qur’an dihina oleh Gusdur, Anda diam. Dakwah dan aktivis Islam terus-menerus difitnah oleh Kapolri dan jajarannya, Anda juga diam. Ustadz Ba’asyir ditangkap dengan cara-cara yang keji, Anda diam. Kini Densus 88 menyerang orang sedang shalat, -saya yakin- Anda pun akan diam kembali.

Lalu bagaimana nanti kalau ada yang menginjak-injak Al Qur’an? Bagaimana nanti kalau Nabi Saw dihinakan serendah-rendahnya? Bagaimana kalau ribuan Muslim dimurtadkan? Bagaimana kalau kekayaan kaum Muslimin di negeri ini terus dibawa ke luar negeri? Bagaimana kalau negerimu dihancurkan oleh koruptor-koruptor kelas kakap yang membawa kabur triliunan rupiah uang rakyat? Bagaimana kalau ribuan nasib saudari-saudarimu dilecehkan, dihina, dihukum mati, diperkosa di luar negeri? Anda pun -saya yakin- akan diam juga.

Kalau begitu, apa artinya Anda disebut sebagai Muslim? Apakah Islam sama sekali tidak berharga di mata Anda? Apakah yang paling penting dalam hidup ini adalah pekerjaan, gaji, karier, bisnis, title akademik, popularitas, hubungan seksual dengan wanita, punya anak lucu-lucu, punya aset banyak, diwawancarai media-media massa, terkenal di mata ibu-ibu dan kaum wanita? Apakah yang seperti itu yang Anda anggap paling penting dalam hidup ini? Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kita harus punya rasa malu, wahai Saudaraku! Kita harus punya rasa malu. Malu-lah hidup bemandi kesenangan, sementara keimanan Anda sangat tipis, rasa pembelaan Anda kepada Islam sangat krisis, rasa solidaritas Anda kepada sesama Muslim sangat kecil. Malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah, malu-lah…

Rasulullah Saw mengatakan, “Unshur akhaka zha-liman au mazh-luman” (tolonglah saudaramu yang zhalim dan terzhalimi). Maksud menolong saudara yang zhalim, ialah mencegah dia dari perbuatan zhalim itu.

Densus 88 atau Polri selama ini telah amat sangat sering menzhalimi pemuda-pemuda Islam. Begitu enaknya mereka menuduh orang lain sebagai teroris, atas dasar persepsi sendiri, atas dasar segala bentuk rekayasa. Tidak terhitung, betapa banyaknya keluarga Muslim, isteri-isteri, dan anak-anak mereka teraniaya karena tuduhan sebagai bagian komplotan teroris. Tetapi kita sendiri selama ini tidak ada niatan untuk menghentikan semua kezhaliman itu. Kita biarkan saja selama ini Densus 88, Bambang Hendarso -semoga Allah melaknat dia dan keluarganya-, Polri, TVOne dan MetroTV, terus-menerus menzhalimi kita semua. Betapa banyak orang-orang tak bersalah menjadi korban semua rekayasa terorisme ini.

Di Amerika sendiri, yang disebut sebagai boss-nya perang anti terorisme, mereka sudah mengendurkan ketegangan seputar isu terorisme ini. Padahal mereka telah kehilangan WTC, ribuan manusia tewas, miliaran dollar aset ekonomi hancur (yang tentu saja, peledakan WTC itu bukan dilakukan oleh Usamah Cs). Sedangkan di Indonesia, isu terorisme menjadi “penyakit menular” yang tidak sembuh-sembuh sejak lama.

Kita harus berusaha mengakhiri semua kezhaliman ini. Jangan lagi ada kaum Muslimin yang teraniaya secara sewenang-wenang. Rasulullah Saw mengingatkan, “Fattaqu zhulma, fa inna zhulma zhulumatun fid dunya wal akhirah” (takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan di dunia dan akhirat). Kurang lebih seperti itu kata Nabi (mohon maaf bila ada lafadz yang tidak tepat).

Kalau sekarang anak buah Gorries Mere bisa membunuhi manusia saat sedang shalat. Suatu saat, mereka akan menembaki orang-orang yang sedang shalat jamaah di masjid. Suatu saat, mereka akan memerangi Islam dan kaum Muslimin, atas nama “perang melawan terorisme”. Adapun orang-orang terlaknat seperti Bambang Hendarso dan sejenisnya, mereka akan sangat mudah mencarikan dalil untuk melegalkan perang atas Islam ini. Mereka akan mencari dalil-dalil agar pemuda-pemuda bisa terus diperangi, dengan biaya APBN.

Aku telah mengingatkanmu, wahai Saudaraku! Inilah sebatas tanggung-jawab yang mampu kupikul. Selebihnya adalah tanggung-jawab Anda sendiri sebagai seorang Muslim yang masih menghargai agamanya. Bila agama itu sudah tak berharga di mata Anda, silakan lakukan apapun yang Anda sukai!

Ya Allah, ya Rahiim, ya Aziz, ya Ghafurr…kasihilah kami, sayangilah kami, sayangilah Ummat Muhammad ini. Bila Engkau tidak menolong kami dalam menolak kezhaliman manusia-manusia berhati syaitan, tentulah kami akan semakin tercerai-berai, agama-Mu semakin ternista, pemuda-pemuda kami akan terus teraniaya, wanita-wanita kami dan anak-anak kami, akan terus dicekam ketakutan, orangtua-orangtua kami akan menangis tidak berdaya. Ya Rahiim ya Aziz, tolonglah kami ya Allah, lindungi kami ya Mannan, belalah kami ya Jabbar.

Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Joinus)

Iklan

Bangsa Sakit Seharga “180 M”

September 28, 2010

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Bangsa kita saat ini sedang mengalami “sakit” parah. Sakit lahir batin, urusan dunia Akhirat, urusan pribadi dan masyarakat. Ciri bangsa yang sakit, mereka tidak bisa menempatkan akal, sikap, dan perbuatan pada koridor yang benar. Perkara yang penting diremehkan, perkara yang remeh dipenting-pentingkan. Urusan besar dikecilkan, urusan kecil dianggap raksasa. Masalah prioritas diletakkan di urutan belakang, masalah sepele dinomor satukan. Begitulah, bangsa sakit.

Di saat negara sedang serba ringkih seperti ini, mencuat ide membangun komplek makam Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan anggaran negara sebesar Rp. 180 miliar. Berita tentang hal ini banyak dibahas di media-media. Antara lain sebagai berikut: Pemerintah Siapkan Rp. 180 Miliar untuk Perbaiki Makam Gus Dur; Makam Gus Dur Jadi Wisata Religi; Renovasi Makam Gus Dur Telan Rp. 180 M; Demokrat: Renovasi Makam Gus Dur Wajar; Presiden: Kembangkan Makam Gus Dur; Rp. 180 M untuk Rapikan Makam Gus Dur; Pembangunan Kompleks Makam Gus Dur Dimulai Tahun Depan. Dan banyak lagi sumber berita-berita lain seputar masalah ini.

Memuja Makam Manusia. (sumber gambar: nasional.kompas.com).

Kenyataan yang paling ironis, upaya membangun makam Gusdur dengan dana gila-gilaan ini justru merupakan instruksi Presiden RI dalam rapat kabinet terbatas 20 September 2010 lalu. Isi pernyataan SBY, “Satu hal yang saya mintakan kepada Menko Kesra adalah upaya pembangunan kawasan di sekitar makam Presiden Abdurahman wahid yang tentunya juga harus dapat atensi yang baik dari negara.” (nasional.kompas.com, 20 September 2010).

Agenda pembangunan kompleks makam dengan biaya senilai Rp. 180 miliar ini semakin menambah daftar panjang SAKIT-nya bangsa Indonesia. Di masa-masa kehidupan serba susah seperti ini, negara bukan memelopori semangat kebangkitan, tetapi malah semakin memerosokkan rakyat dan negeri ini dalam kehinaan luar biasa. Seharusnya, saat menderita sakit, kita berlomba mengobati bangsa ini; bukan malah berlomba membunuh negara ini lebih cepat. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Beberapa catatan kritis perlu disampaikan disini…

PERTAMA, di Indonesia banyak pahlawan-pahlawan besar, seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, Cut Nya’ Dien, Jendral Soedirman, Ir. Soekarno, Moch. Hatta, dll. Jasa mereka besar bagi bangsa ini dan tidak diragukan lagi. Lalu adakah komplek makam mereka dibuat mewah dengan biaya Rp. 180 miliar?

KEDUA, di dunia ini banyak tokoh-tokoh internasional yang dikenal memiliki jasa besar bagi negara masing-masing. Misalnya, Napoleon Bonaparte, Benyamin Franklin, Abraham Lincoln, Albert Einstein, Gandhi, Madame Teresa, dll. Apakah makam-makam mereka dibangun sedemikian mewah dengan anggaran Rp. 180 miliar? Padahal mereka tokoh dunia yang telah diakui reputasinya.

KETIGA, dalam sejarah Islam telah lahir ribuan ulama-ulama yang sangat mumpuni dan berkah ilmunya luar biasa, sejak jaman Abdullah bin Abbas Ra., Imam Syafi’i rahimahullah, Imam Bukhari rahimahullah, Ibnu Taimiyyah rahimahullah, Ibnu Katsir, Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam An Nawawi, Imam As Suyuthi, As Syaukani, dll. Adakah makam-makam mereka dibuat sedemikian mewah memakan biaya sampai Rp. 180 miliar? Padahal ilmu mereka luar biasa dibandingkan wawasan keislaman Gusdur. Bahkan perhatikan makam para Syuhada Uhud di pinggiran Kota Madinah? Bahkan pernahkah Anda melongok keadaan makam Nabi Muhammad Saw di sekitar komplek Masjid Nabawi? Adakah makam itu sebegitu mewahnya? Pernahkah Anda melongok keadaan komplek makam Baqi’ di Madinah? Padahal disana banyak dimakamkan para Shahabat dan Shahabiyah radhiyallahu ‘anhum.

KEEMPAT, mungkin saja seseorang harus dimuliakan makamnya karena ingin memuliakan jasa-jasanya selama hidup. Lalu pertanyaannya, apa jasa Gusdur bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Ummat Islam? Adakah kontribusinya yang layak dikenang? Justru, Gusdur ini wafat dengan meninggalkan penghinaan akbar kepada Al Qur’an. Gusdur pernah mengatakan, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Hanya karena Al Qur’an bicara tentang ayat-ayat menyusui bayi, Gusdur menuduh Al Qur’an sebagai kitab suci yang porno. Padahal di masa bayi, Gusdur pasti disusui oleh ibunya sendiri. Bagaimana hal seperti ini akan dilestarikan dengan memuliakan makamnya? Allahu Akbar.

KELIMA, andaikan komplek makam itu akhirnya direnovasi dengan biaya Rp. 180 miliar, apakah tidak ada lagi masalah yang lebih penting di Tanah Air ini, sehingga kita harus membuang-buang dana APBN dan APBD untuk hal-hal yang tidak bermanfaat? Apakah kondisi masyarakat yang penuh penderitaan seperti selama ini tidak lebih layak dikasihani?

Saya mencatat, dari dana 180 miliar ini sangat bisa digunakan untuk mengadakan hal-hal yang sangat bermanfaat bagi masyarakat luas, antara lain sebagai berikut:

[=] 180.000 paket sembako seharga @ Rp. 1 juta, dibagi untuk 180.000 ribu keluarga fakir-miskin.

[=] 18.000 paket bantuan modal untuk UKM, dengan nilai @ Rp. 10 juta.

[=] 9.000 paket beasiswa kuliah sampai sarjana, dengan nilai @ Rp. 20 juta per mahasiswa.

[=] 5.142 tiket Haji gratis, senilai @ Rp. 35 juta.

[=] 12.000 tiket Umrah gratis, senilai @ Rp. 15 juta.

[=] Untuk membangun 36.000 MCK gratis untuk desa-desa di Indonesia, dengan nilai @ Rp. 5 juta per MCK.

[=] Untuk 36.000 paket pelatihan SDM gratis bagi para pengangguran di Indonesia, dengan nilai @ Rp. 5 juta.

[=] Untuk 72.000 paket bantuan kesehatan gratis dengan nilai @ Rp. 2,5 juta.

[=] Untuk 1000 mobil ambulans gratis dengan nilai @ Rp. 180 juta per ambulan.

[=] Untuk membangun 180 klinik bersalin ibu dan bayi, dengan biaya @ Rp. 1 miliar.

[=] Dan lain-lain semisal itu.

Dari dana Rp. 180 miliar itu amat sangat bermanfaat jika dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Bukan digunakan untuk hal-hal yang mubadzir seperti pembangunan komplek makam itu. Bisa saja, komplek makam itu direnovasi, tetapi dengan biaya yang wajar saja. Mengeluarkan biaya Rp. 5 miliar untuk perbaikan kompleks makam, itu sudah sangat berlebihan. Apalagi sampai 180 miliar? Sangat tampak bahwa di negeri ini banyak orang-orang elit yang tidak pintar mendidik rakyatnya. Mereka anggap, rakyat hanyalah obyek pasar yang mudah dibodoh-bodohi.

KEENAM, ini yang paling mengerikan. Pembangunan komplek makam seperti itu akan membuka pintu-pintu KEMUSYRIKAN seluas-luasnya. Masyarakat akan berduyun-duyun datang ke tempat itu untuk ngalab berkah, mencari peruntungan, mencari perlindungan. Jelas semua itu termasuk praktik kemusyrikan yang harus dicegah.

Tokoh-tokoh elit agama atau elit politik, seharusnya mereka bisa membimbing rakyat agar hidup secara wajar dan rasional. Untuk membangun kemuliaan, kesejahteraan, serta kebahagiaan hidup, caranya bukan memuja-muja makam. Tetapi caranya dengan: memaksimalkan kekuatan diri, memaksimalkan kerjasama dengan orang lain, serta memaksimalkan permohonan doa kepada Allah Ta’ala. Hanya 3 cara itu yang seharusnya ditempuh. Bukan dengan ngakal-ngakali orang awam, atas nama melestarikan situs makam orang-orang tertentu.

KETUJUH, dari sisi kepentingan warga NU sendiri, pembangunan komplek makam dengan biaya bombastik sampai Rp. 180 miliar, justru akan menghancurkan ormas NU sendiri. Lho kok bisa? Bisa jadi, dengan pembangunan komplek itu akan ada pendapatan yang diperoleh Pesantren Tebu Ireng, keluarga besar KH. Hasyim Asyari, pemasukan buat Pemkab. Jombang, serta usaha-usaha bisnis bagi masyarakat sekitar. Ya, bisa seperti itu.

Tetapi mereka harus mengkhawatirkan “bahaya tersembunyi” yang tidak mereka sadari. Bahaya apakah itu? Lihatlah, sejak puluhan tahun lalu, tidak ada kepedulian dari Pemerintah Pusat atau Pemkab. Jombang terhadap makam keluarga besar KH. Hasyim Asyari. Mereka adalah ayah-ibu, kakek-nenek, dan paman-paman Gusdur. Selama puluhan tahun, tidak ada anggaran negara yang disediakan untuk renovasi makam mereka. Anggaran ratusan miliar baru akan digelontorkan, setelah Gusdur meninggal. Artinya, makam keluarga besar KH. Hasyim Asyari belum dihargai, kecuali setelah Gusdur meninggal. Tampak jelas, bahwa nama Gusdur ingin dibangun lebih kuat dari nama ayah-ibu, bahkan kakek-neneknya, yang notabene pendiri NU itu sendiri.

Di mata warga Nahdhiyin yang memang mayoritas awam, mereka akan memandang bahwa sejarah besar NU ada di tangan Gusdur. Pemikiran, tradisi, gagasan besar NU, ada di tangan Gusdur. Padahal kesan besar tentang Gusdur itu lebih sebagai hasil rekayasa ciptaan media. Dari sisi ilmu agama, Gusdur tidak ada apa-apanya dibandingkan kakek, atau ayahnya, atau pamannya. Cara-cara seperti ini kan sama saja dengan upaya menenggelamkan sejarah NU, lalu diganti sejarah Gusdurisme yang dibawa Gusdur. Apa mereka tidak berpikir sejauh itu ya? Atau jangan-jangan mereka sudah lama menerapkan falsafah super pragmatis ini, “Sekarang jaman edan. Yang tidak edan, tak akan kebagian.” Entahlah kalau seperti itu.

Sekedar ingin mengingatkan. Warga NU selama ini amat sangat membenci apa yang mereka sebut sebagai “Wahhabi”. Tetapi ada contoh baik dari seorang raja dari negeri “Wahhabi” yang meninggal beberapa tahun lalu. Ia adalah mendiang Raja Fahd bin Abdul Aziz. Raja Fahd sangat besar jasanya, terutama dalam merenovasi Dua Masjid Suci, Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Beliau berjasa membangun lembaga-lembaga pendidikan tinggi di Saudi, memuliakan para jamaah Haji dari berbagai negeri. Berjasa membantu negeri-negeri Islam dengan bantuan sosial, beasiswa, investasi, dst. Indonesia termasuk yang banyak menerima bantuan sosial dari Saudi di masa Raja Fahd. Proyek besar beliau yang sulit diingkari, ialah pembangunan Komplek Percetakan Mushaf Al Qur’an terbesar di dunia, di Madinah. Percetakaan ini telah menyebarkan Mushaf Al Qur’an gratis ke segala penjuru dunia, juga menerjemahkan Al Qur’an ke dalam berbagai bahasa.

Lalu bagaimana keadaan komplek makam beliau?

Makamnya ternyata sangat sederhana. Hanya seperti gundukan tanah, dengan taburan batu, dengan nisan batu kotak, tanpa nama, tanpa hiasan apapun. Tanpa taburan bunga, tanpa aksesoris, tanpa dibangun komplek ziarah, dan sebagainya. Raja Fahd besar jasanya, di luar kesalahan-kesalahannya sebagai seorang Raja. Tetapi makamnya sangat sederhana. Seharusnya, kalau NU merasa lebih baik dari “Wahhabi”, mereka bisa membuat sesuatu yang lebih baik, lebih bersih, lebih adil bagi kehidupan kaum Muslimin di negeri ini.

Hanya harapan yang bisa dihaturkan kepada Allah Ta’ala, agar Dia mencegah pembangunan komplek makam senilai Rp. 180 miliar yang sangat menciderai rasa keadilan rakyat Indonesia, dan berpotensi merusak akidah Ummat itu. Amin Allahumma amin.

ya Ilahi ya Rahmaan, kami tidak berputus-asa memohon kebaikan dan perlindungan kepada-Mu

AM. Waskito.


Awas: Adu Domba TNI dan Ummat Islam!!!

September 25, 2010

Sejak lama banyak kalangan Islam tidak yakin dengan segala isu terorisme. Dari sekian panjang proses pemberantasan terorisme, sejak 12 Oktober 2002, banyak pihak meyakini bahwa terorisme adalah fenomena yang diciptakan sendiri oleh Polri. Mereka yang menciptakan semua itu, mereka yang kerepotan, lalu urusan negara dikorbankan.

Mengapa dikatakan demikian?

Pertama, mantan Kepala BIN di jaman BJ. Habibie, Mayjend ZA. Maulani pernah diminta MUI untuk mencari fakta seputar kasus Bom Bali I di Legian Bali. Setelah melihat fakta-fakta kerusakan dahsyat yang ada, beliau tidak percaya bom sedahsyat itu dibuat oleh Imam Samudra Cs. Masalahnya, teknologi bom Pindad pun belum setaraf itu. Jadi sejak tahun 2002 isu terorisme ini sudah digugat oleh para ahli.

Kedua, sejak era tahun 80-an sampai tahun 2000, tidak pernah terjadi kasus-kasus terorisme di Indonesia. Baru sejak Bom Bali I 12 Oktober 2002, terjadi terus-menerus peristiwa teror di Indonesia. Dan terjadinya hampir setiap tahun. Sempat terhenti sejak tahun 2005, lalu terjadi lagi dengan ledakan bom di JW Marriot – Ritz Carlton tahun 2009 lalu. Pada mulanya bangsa Indonesia tidak pusing oleh kasus-kasus terorisme ini, tetapi sejak tahun 2002, kasus teror seperti menjadi rutinitas.

Otak Pemfitnah Ummat! (sumber: inilah.com).

Ketiga, hampir di semua kasus terorisme yang diungkap Polri, selalu menyisakan tanda tanya dan misteri yang semakin menggunung. Contoh, dalam kasus Aceh, ada puluhan pemuda Islam sedang latihan jihad untuk menuju Ghaza, karena tahun 2008 lalu terjadi Tragedi Ghaza yang sangat memilukan. Lalu mereka diklaim sedang latihan untuk menyerang Presiden RI saat peringatan 17 Agustus 2009. Bahkan yang terakhir, seorang remaja Yuki Wantoro dituduh terlibat perampokan Bank CIMB. Padahal ada bukti valid yang menjelaskan, bahwa saat perampokan itu terjadi Yuki sedang di Solo, nonton berita perampokan dari TV.

Keempat, Polri terus-menerus mengklaim telah melakukan pemberantasan terorisme sebaik-baiknya. Tetapi nyatanya, aksi-aksi kekerasan tidak semakin mereda, bahkan semakin berkembang. Andaikan mereka jujur dalam isu terorisme, bukan menjadikan isu itu sebagai “komoditas nafkah”, tentu masalah ini sudah bisa diselesaikan sejak lama.

Kini masalah terorisme menjadi semakin serius, dengan rencana melibatkan TNI dalam pemberantasan apa yang diklaim oleh Polri sebagai terorisme itu. Baru-baru ini Pemerintah membentuk badan yang bernama BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Hakikat badan ini dijelaskan oleh Bambang Hendarso Danuri, “Teman-teman dari TNI dalam momen tertentu jika dibutuhkan kita akan libatkan detasemen-detasemen khusus yang dimiliki oleh tiap angkatan di TNI seperti Denjaka, Den Bravo dalam striking force bersama.” Hal itu disampaikan Bambang Hendarso di Rupatama Mabes Polri, di Jakarta Jumat 24 September 2010 (Sumber: http://www.inilah.com, 24 September 2010).

PERHATIKAN: Satuan ini merupakan kekuatan pemukul, yaitu merupakan penggabungan Densus 88 ditambah satuan elit TNI seperti Den Jaka, Den Bravo, dan Gultor Kopasssus. Jadi, pemberantasan terorisme di negeri kita tidak pernah berubah dengan pendekatan psikologi, sosial, humanitas, tetapi selalu dengan prinsip sikat, sikat, sikat habis. Persis seperti aksi-aksi brutal Densus 88 selama ini. Hanya nanti, akan ditambah anggota dari satuan elit TNI. Istilah striking force itu bukan pendekatan manusiawi, bukan pendekatan sosial, atau kultural, tetapi pendekatan: Sikat habis!

Lalu, kira-kira apa yang nanti akan terjadi di Indonesia?

Dapat dipastikan, di negara ini eskalasi konflik antara Ummat Islam dengan pemerintah akan semakin hebat. Betapa tidak, selama ini Ummat Islam telah sedemikian rupa dalam mengkritik, mengecam, dan mengoreksi aksi-aksi oleh Densus 88. Bukan hanya Ummat Islam, tetapi juga kalangan TNI, para cendekiawan, para pengamat yang jujur, dll.

Dengan dibentuknya BNPT itu sama saja dengan mengadu-domba Ummat Islam dengan TNI. Selama ini, jika ada konflik kepentingan, hanya antara Ummat Islam dengan Polri. Tetapi kini akan diperluas lagi, dengan melibatkan TNI, khususnya satuan-satuan elit. Padahal kita tahu, fondasi keutuhan NKRI ada di tangan kalangan Islam dan TNI. Jika kemudian kedua-belah pihak dihadap-hadapkan, seperti jaman Orde Baru dulu, jelas akibatnya sangat fatal bagi NKRI.

Demi Allah, Ummat Islam tidak suka dengan cara-cara teror, Ummat Islam tidak mendukung aksi-aksi terorisme yang merusak kehidupan. Tetapi masalahnya, apakah benar terorisme yang dituduhkan itu? Atau ia hanya rekayasa belaka untuk memojokkan Ummat Islam dengan memakai fasilitas kekuasaan negara? Kalau benar-benar ada aksi terorisme yang sangat merugikan, kita pasti mendukung ia diberantas. Tetapi jangan semena-mena menyerang Ummat Islam atas alasan terorisme!

Kenyataan yang sangat menyakitkan. Begitu mudahnya Kapolri menuduh ini teroris, itu teroris, lalu membuat fakta-fakta seenaknya sendiri. Tak lupa, Polri yang memang memiliki hubungan khusus dengan Karni Ilyas, mereka akan memakai TVOne, atau akan memakai MetroTV untuk menjelek-jelekkan Ummat Islam, untuk membangun opini palsu.

Betapa tidak, dalam kasus latihan militer di Aceh, itu latihan legal yang diketahui aparat keamanan. Tujuannya, untuk persiapan Jihad di Ghaza, lalu diklaim sebagai terorisme untuk menyerang SBY di Jakarta. Video yang ditayangkan berulang-ulang di TVOne dan MetroTV itu adalah video latihan pemuda-pemuda Islam untuk persiapan ke Ghaza. Bagaimana bisa video ini lalu dibelokkan ke rencana menyerang SBY di Jakarta? Betapa tololnya pengelola media-media itu. Mereka sehari-hari makan-minum dari memfitnah Ummat Islam, menjelek-jelekkan pemuda Islam.

Yang paling parah ialah penggerebekan sebuah bengkel motor di Solo beberapa waktu lalu. Sebelum penggerebekan, aparat Polri melakukan persiapan di rumah makan, hanya sejarak 200 m dari lokasi. Ketika masuk bengkel itu, wartawan dilarang masuk dulu, aparat sedang “mempersiapkan” TKP. Begitu wartawan bisa masuk ke bengkel, disana senjata api, amunisi, peluru, dll. sudah ditata sangat rapi. Sudah digelar di lantai sangat rapi. Kalau boleh bertanya, “Itu para teroris sebenarnya lagi persiapan penyerangan, atau mereka mau jualan peluru ya? Kok cara menata peluru itu begitu rapi sekali?” Dan Kepala Dest Antiteror, Ansyad Mbai hadir dalam penggerebekan ke bengkel tersebut. Di TV ditayangkan kehadirannya.

Semua ini kan penipuan luar biasa. Polisi sendiri yang membuat-buat isu terorisme, mereka membuat kezhaliman luar biasa, atas nama pemberantasan teroris. Berapa banyak manusia yang akhirnya dirugikan, keluarga dirugikan, anak-isteri kehilangan ayah, kakak, paman mereka, akibat semua skenario itu? Yuki Wantoro yang tak tahu apa-apa tentang perampokan CIMB akhirnya menjadi korban sia-sia. Dia mati dalam keadaan tak bisa menuntut kezhaliman para polisi itu.

Wahai manusia Indonesia… Coba kalian pikir dengan akal kalian yang bersih, jika akal itu masih ada. Pernahkah akan tercipta keamanan negara, tentram, sentausa, dengan segala konspirasi penuh kezhaliman itu? Kezhaliman pasti akan menimbulkan mata rantai kerusakan sosial yang panjang. Hal ini akan menyebabkan dendam kesumat sosial secara luas di tengah masyarakat. Siapapun yang membuka pintu-pintu kezhaliman, dia tak akan bisa menutup pintu, hingga dirinya sendiri menjadi korban paling hina dari kezhaliman yang dilakukannya sendiri.

Kini masalahnya semakin serius. TNI hendak dilibatkan dalam konflik yang diciptakan oleh Kepolisian ini. Jelas akibatnya, eskalasi konflik itu akan semakin besar, semakin membara, semakin luas. Dan akibatnya kelak, jangan heran kalau NKRI akan lebih cepat hancur-lebur. Kalau Ummat Islam sudah membenci NKRI, Anda tidak akan memiliki kekuatan lagi untuk mempertahankan keutuhan negara ini.

Sekali lagi, kami bukan mendukung teroris, atau setuju dengan aksi terorisme. Tidak sama sekali. Tetapi kami sangat MENGGUGAT OPINI terorisme yang selama ini dikembangkan oleh Polri. Mereka seenaknya sendiri menuduh orang terlibat terorisme, menangkap, menembak mati, menyerbu, menggerebek, dan sebagainya. Mereka hanya bermodal opini tunggal di kepalanya sendiri, tanpa ada opini pembanding sama sekali.

Adapun Bambang Hendarso Danuri. Betapa zhalimnya orang ini, dengan segala penampilan dan retorikanya yang tampak santun. Semoga Allah melaknati dirinya, melaknati isteri dan anak-anaknya, melaknati keluarganya. Semoga Allah melaknati perwira-perwira Polisi yang berserikat dengannya dalam memfitnah Ummat Islam, dan melaknati siapa pun yang mendukung konspirasi zhalim atas kaum Muslimin di negeri ini. Semoga Allah melumpuhkan kekuatan mereka, sehingga mereka tidak mampu lagi berbuat zhalim kepada siapapun, selain menghancurkan diri mereka sendiri. Semoga Allah menyelamatkan bangsa ini dari manusia-manusia berhati syaitan. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga kita bisa mengambil sebaik-baik pelajaran.

AMW.


Tradisi Kita: Melanggar Hukum!

September 24, 2010

Sebodoh-bodohnya manusia, ialah mereka yang membuat aturan, lalu aturan itu dia langgar sendiri. Mengapa dilanggar? Agar sebagian orang bisa bebas menindas sebagian yang lain. Masya Allah.

Sebuah cerita kecil dari Kota Leipzig di Jerman. Cerita ini saya baca di sebuah harian nasional beberapa waktu lalu. Ada ibrah besar yang harus kita ketahui disini.

Belum lama lalu terjadi kasus hukum yang unik di Leipzig. Seorang wanita, sudah bekerja di sebuah supermarket selama 27 tahun. Dia diajukan ke pengadilan karena telah melakukan pelanggaran. Ceritanya, supermarket itu menjual roti-roti. Setelah berlalu waktu tertentu, roti-roti itu ada yang kedaluarsa. Menurut aturan di supermarket itu, roti tersebut harus dibuang, dikosongkan dari rak-rak roti. Tetapi oleh wanita itu, sebungkus roti dia simpan di tasnya, hendak dibawa pulang. Ketika ada inspeksi, tas-tas karyawan diperiksa, ditemukan sebungkus roti di tas wanita itu.

Karena dia telah menyimpan roti yang seharusnya dibuang, dia disidangkan. Hasilnya, wanita itu dipecat dari pekerjaannya. Namun selang beberapa lama, keputusan diubah, dia tak jadi dipecat, karena roti itu sendiri sudah berstatus “sampah” yang tidak merugikan apapun bagi kepentingan supermarket. Andaikan roti itu menyebabkan seseorang sakit perut, resiko sakit akan dihadapi wanita itu sendiri, bukan konsumen roti. Akhirnya, wanita itu tetap mendapat kesempatan kerjanya.

Negara Rendah: Hukum Senilai Duit!

HIKMAH. Lihatlah, betapa ketatnya orang-orang Barat dalam menegakkan hukum di kalangan mereka! Ketat sekali, sehingga hanya masalah sebungkus roti saja, mereka tegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Kalau dipikir, apalah artinya sebungkus roti di mata seorang karyawan yang sudah bekerja 27 tahunan? Tetapi hukum tetap hukum, ia harus ditegakkan secara PRESISI. Ibaratnya, tidak menyimpang walau hanya sehelai rambut.

Bangsa Barat meraih kemajuan tinggi karena mereka KONSISTEN menegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Mereka konsisten sekali, sehingga indeks korupsi di kalangan mereka selalu kecil. Padahal hukum yang berlaku di negeri-negeri itu tidak selalu bagus, adil, dan mulia.

Orang-orang Barat diberi kecukupan ekonomi, kesejahteraan, fasilitas hidup, kemajuan sains dan teknologi, dll. bukan karena KUALITAS HUKUM yang mereka anut. Tetapi karena sikap KONSISTEN mereka dalam menegakkan hukum itu sendiri. Seburuk-buruk hukum yang dijalankan Jengis Khan, kalau diterapkan secara konsisten, membuat mereka bisa merajai Asia di masanya. Bahkan mereka bisa menghancur-luluhkan peradaban kaum Muslimin yang telah pudar dan penuh kemerosotan di Baghdad ketika itu.

Lalu, mari kita lihat kondisi bangsa Indonesia ini! Di negeri ini tidak sedikit orang pintar, tidak sedikit ilmuwan, ahli hukum, pakar birokrasi, dan sebagainya. Tetapi mereka tidak memiliki KOMITMEN untuk menegakkan hukum sama sekali; apalagi jika aturan hukum itu akan memakan hak-hak pribadi, keluarga, dan kelompoknya.

Mau bukti? Tidak usah yang jauh-jauh. Kita angkat yang mudah-mudah saja, yang sedang aktual, yang banyak dibicarakan masyarakat saat ini. Sebagiannya adalah sbb.:

[1] Ketua MK sudah memutuskan, mengabulkan sebagian permohonan judicial review dari Yusril Ihza Mahendra. Di harian Kompas, Ketua MK jelas-jelas sudah mengatakan, masa jabatan Hendarman Supandji menjadi ilegal setelah keputusan itu ditetapkan. Tetapi anehnya, Staf Ahli Hukum Kepresidenan, Deny Indrayana, mengklaim Hendarman Supandji tetap sah sebagai Ketua Kejaksaan Agung. Sudi Silalahi juga mengatakan demikian. Sementara Hendarman Supandji sendiri, lebih percaya ke Presiden daripada keputusan MK. Lihatlah, betapa hebatnya tingkah orang-orang ini dalam mengangkangi hukum yang sudah ditetapkan MK?

[2] Lihatlah aksi Densus 88 saat masuk Bandara Polonia, yang menyebabkan Polri diprotes oleh Angkatan Udara! Densus itu kan aparat hukum, mau menegakkan hukum, tetapi caranya melanggar hukum. Densus 88 sudah melanggar wilayah steril Angkatan Udara, juga melanggar ketentuan koordinasi dengan pihak Polda Sumut.

[3] Lihatlah ketika seorang Presiden gagal telekonferensi di daerah Cikopo karena ada gangguan signal telekomunikasi. Belum melakukan check-recheck, dia langsung memarahi Dirut Telkom dan Telkomsel. Itu marah-marah di depan umum. Ternyata, kemudian terbukti, aplikasi telekonferensi itu tidak memakai jaringan milik Telkomsel. Pelanggaran hukum, mencemarkan nama baik orang lain sudah dilakukan, setelah itu “cuci tangan”, tak ada kata maaf sedikit pun.

[4] Lihatlah ketika seorang Presiden berkomentar keras soal insiden penusukan jemaat HKBP di Ciketing Bekasi. Dia begitu peduli dengan nasib korban tersebut, dan tentu saja -seperti kebiasaan pro Amerika- selalu menyudutkan ormas Islam tertentu. Penusukan jemaat HKBP begitu berharga baginya, tetapi pembiaran kezhaliman sikap/tingkah jemaat HKBP yang merugikan kepentingan warga Ciketing selama 20 tahunan, dibiarkan begitu saja. Ini namanya, penegakan hukum yang tebang pilih. Apapun ada kesempatan untuk menembak FPI, akan dia lakukan.

[5] Bagaimana dengan kericuhan antara PERADI dan KAI baru-baru ini? Anda tahu semua kan situasi ricuhnya? “Mau apa kau? Beri pintu agar abang kami, presiden kami masuk ruangan?” Ya, begitulah. Ini komunitas advokat yang katanya mengerti hukum, taat hukum, mengabdi di dunia hukum; tetapi kelakuan seperti itu. Menyedihkan sekali kan?

[6] Coba lihat apa yang dilakukan Polisi/Densus 88 dalam berbagai kasus terorisme! Bidik sasaran, tembak di tempat, lalu membuat opininya sendiri. Dalam seluruh sisi kasus terorisme di Indonesia, opini yang berlaku hanya milik Polisi belaka. Tidak ada opini pembanding. Akhirnya mereka bisa sewenang-wenang sesuka hatinya. “Soal opini nanti bisa kita pikirkan.” Tidak heran jika kemudian seorang pejabat Polri ada yang ditolol-tololkan oleh pemimpin ormas Islam.

[7] Opini polisi yang sewenang-wenang itu akhirnya membuahkan masalah serius di Buol, Sulawesi. Kantor polisi dan pemukiman mereka diserbu ribuan orang, karena gemas. Bagaimana tidak? Ada seorang tahanan meninggal di kantor polisi. Kata polisi, dia mati bunuh diri. Tapi saat jenazah diterima keluarga, di sekujur tubuhnya banyak memar-memar akibat pukulan.

[8] Bagaimana dengan kasus Skandal Bank Century? Mengapa Polri, Kejaksaan Agung, dan KPK diam saja sampai saat ini? Kapan orang-orang yang tertuduh dalam kasus itu akan disidangkan ke pengadilan? Apa mereka menunggu SBY turun dari jabatan RI-1 tahun 2014 nanti, baru kasus Bank Century disidangkan? Lalu bagaimana dengan Sri Mulyani yang sudah nyaman ngantor di sono? Mengapa ia tidak dicekal atau ditetapkan sebagai DPO? Bukankah dia pergi sebelum kasus Bank Century masuk ke meja hukum?

[9] Penghilangan secara sengaja “ayat rokok” dari draft UU Kesehatan yang diduga dilakukan oleh anggota DPR Ribka Ciptaning dan kawan-kawan. Ini sudah menjadi draft UU, tinggal disahkan saja, tetapi malah dihapus. Begitu kejinya tangan manusia-manusia satanic itu.

[10] Kasus Bibit-Chandra tidak karuan sampai saat ini. Apakah kedua orang itu bersalah seperti yang dituduhkan OC. Kaligis, atau dia tidak bersalah.

[11] Hilangnya rekaman Ary Muladi dan Hendra Rahardja, padahal tadinya Bambang Hendarso mengklaim rekaman itu ada. Begitu buruknya komitmen Kepala Polri terhadap hukum yang mestinya dia tegakkan.

[12] Kasus Susno Duadji, sang “peniup peluit” yang saat ini nasibnya tidak karuan. Mau disidang, kapan? Tidak disidang, mengapa dia sudah dipastikan sebagai tersangka? Begitu pula masalah “rekening gendut” perwira Polri juga tidak ada kelanjutannya.

[13] Dan lain-lain kasus yang sangat banyak.

Lihatlah dengan mata hati, dengan logika jernih, dengan akal sehat, dengan naluri sebagai manusia sewajarnya; apakah semua itu layak terjadi di negara yang katanya “menghormati hukum” ini? Masya Allah. Sungguh sangat menyedihkan kondisi ini.

Di Barat, urusan hukum tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi disini, para elit dan penegak hukum, justru memberi contoh cara melanggar hukum yang seindah-indahnya, sehebat-hebatnya, selicik-liciknya, senikmat-nikmatnya.

Kalau begini, lalu apa yang bisa kita harapkan? Adakah masa depan bagi bangsa Indonesia? Adakah “adil dan makmur” seperti yang sama-sama kita dambakan itu? Bukankah kita ini seperti manusia yang setiap hari sarapan omong kosong; minum omong kosong; menelan omong kosong; mandi omong kosong; tidur di atas omong kosong; bermimpi omong kosong; berpikir omong kosong; dan sebagainya?

Untuk hukum sekuler yang penuh kekurangan saja, kita tak mampu konsisten melaksanakan. Padahal hukum semacam itu jauh sekali kualitasnya di bawah Syariat Nabi Muhammad Saw.

di atas kesedihan sebagai bangsa beradab

AMW.


Sisa Idul Fithri Kita…

September 21, 2010

Idul Fithri 1431 H sudah berlalu. Kini kita di hamparan bulan Syawwal. Sebagian orang sedang menyempurnakan Shaum Sunnah 6 hari bulan ini, sebagian lain biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tidak ingat dengan shaum itu sama sekali, sebab bulan Ramadhan pun dia tidak berpuasa. Ya Ilahi, semoga kita senantiasa istiqamah memelihara Sunnah Nabawiyah ini. Amin.

Saatnya menyegarkan ruhani...

Idul Fithri itu kalau dilukiskan seperti sebuah aliran sungai yang menguji pasukan Thalut yang hendak berperang menuju Baitul Maqdis di Jerusalem. Pasukan Thalut sedang kelelahan, mereka hendak mengusir Jalut dan balatentaranya yang telah menganeksasi wilayah kerajaan Bani Israil di Jerusalem. Thalut mengatakan, “Allah akan menguji kalian dengan sungai di depan nanti. Siapa yang tidak meminum air sungai itu, kecuali seceduk telapak tangan saja, dia masuk barisanku. Siapa yang terjerumus berlebihan meminum air itu, dia bukan bagian dariku.”

Ternyata benar, yang lolos ujian menghadapi sungai itu hanya sedikit saja. Selebihnya, banyak yang gagal, lalu tak berani berperang. Namun dari yang sedikit itu Allah menganugerahkan kemenangan bagi tentara-tentara-Nya. Dawud sendiri berhasil membunuh Jalut. Oleh orang-orang Barat, kisah itu disebut “legenda” David Vs Goliath. Padahal itu asli, kisah sejarah, bukan legenda.

Idul Fithri di mata masyarakat kita seperti itu pula…

Kaum Muslimin di negeri kita ini, di hadapan perhelatan besar hari-raya Idul Fithri, bisa dibagi dalam 3 kelompok:

PERTAMA, orang-orang yang memandang perayaan hari raya dengan segala tradisinya, lebih berharga daripada ibadah di bulan Ramadhan. Mereka mempersiapkan diri menyambut hari raya lebih hebat ketimbang mempersiapkan diri menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhan. Mereka melebihkan konsumsi duniawi melebihi “konsumsi” ukhrawi.

KEDUA, orang yang tetap serius melaksanakan ibadah Ramadhan dan ibadah-ibadah tambahan lain, tetapi semua itu hanya sekedar TRADISI semata. Dianggap semacam ritual atau rutinitas ibadah yang selalu hadir setiap setahun sekali. Tidak ada usaha untuk melakukan ibadah yang lebih berkualitas, berkesan, dan berkah.

"Siapa menanam kebajikan. Kan memetik kebajikan (lebih besar)."

KETIGA, orang yang serius melaksanakan ibadah Ramadhan berikut tambahan-tambahan kebajikan lain di dalamnya. Mereka selalu merindui datangnya Ramadhan, sejak tanggal 2 Syawwal. Bayangkan, baru saja Idul Fithri berlalu, mereka sudah merindui datangnya Ramadhan. Seolah bulan-bulan lain “tidak dianggap”. Berbagai sisi kebajikan mereka lakukan di bulan Ramadhan, termasuk Zakat, sedekah, menuntut ilmu, tilawah Al Qur’an, i’tikaf, qiyamul lail, dll.

Lalu apa yang terjadi…

Ternyata, perbedaan cara menyikapi Ramadhan itu, sangat menentukan KEINDAHAN HARI RAYA yang mereka peroleh. Bahkan membedakan kualitas hidup mereka setelah Ramadhan berlalu.

Bagi Golongan 1, mereka benar-benar mendapatkan kesenangan hari raya seperti yang mereka inginkan. Mereka senang-senang, makan-makan, pelesir, berpesta pora, dan sebagainya. Itu berhasil mereka lakukan.

Tapi sayangnya, nikmat yang mereka rasakan itu HANYA SAMPAI SEMINGGU setelah Idul Fithri. Setelah itu, mereka stress lagi. Harus buru-buru balik ke Jakarta. “Hari Senin sudah masuk kantor!” kata mereka. Mereka kembali masuk ke pusaran rutinitas hidup seperti itu lagi. Mereka kembali stress, setelah sejenak senang-senang di hari raya. Begitu saja seterusnya, setiap tahun, sepanjang waktu; bila mereka tidak berhenti dari sikap hidup seperti itu.

Kasihan sekali. Seperti jarum jam yang setiap hari berputar-putar di tempat, tidak kemana-mana, tidak ada dunia jelajah ruhani yang lebih baik, lebih dinamis, dan berbahagia, selain hanya rutinitas “mati” belaka.

Golongan 2, mereka mendapat lebih baik. Mereka mendapat kesan Ramadhan yang lebih panjang. Tidak hanya seminggu setelah Idul Fithri. Allah Maha Pemurah, tetap memberi kebaikan kepada hamba-hamba yang mau beramal. Tetapi secara umum, kehidupan mereka tak banyak berubah. Pemikiran, sikap, perilaku, kedewasaan, wawasan, empati, dll. masih sama seperti yang sudah-sudah. Maklum, mereka beramal hanya sebatas tradisi, maka berkahnya juga sebatas “tradisi”.

...kesegaran telah disediakan bagi para "petani" yang telah bekerja keras.

Orang-orang ini sangat didoakan dan diharapkan agar berubah menjadi lebih baik. Hendaklah mereka menjadi pemakmur bulan Ramadhan, bukan menjadi “tukang puasa” Ramadhan. Kalau mereka tak berubah, kehidupan bermasyarakat, bersosial, berbangsa dan bernegara ini juga susah berubah.

Golongan 3, adalah golongan terbaik. Keberkahan bulan Ramadhan di mata mereka terasa begitu panjang, sampai mereka menjemput Ramadhan yang baru. Bahkan bisa lebih dari itu, karena mendapat keutamaan Lailatul Qadar.

Golongan ke-3 itu jauh sekali dari golongan “jarum jam” yang setiap tahun diputar-putar oleh rutinitas dan rasa capek luar biasa di hamparan Idul Fithri. Mereka mendapat makna, memperoleh berkah yang luas. Alhamdulillah.

Mereka seperti yang disebut oleh Nabi, “Man shama Ramadhana imanan wa ihtisaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih” (siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh ketakwaan, dia akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu). HR. Bukhari.

Kini tinggal kita mengukur makna Idul Fithti ini. Apakah kita masuk Golongan 1, Golongan 2, atau Golongan 3?

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan orang-orang beriman yang pantas mendapat ucapan: “Minal a’idina wal fa’izin” (semoga menjadi orang-orang yang kembali suci dan mendapat kemenangan). Allahumma amin.

AMW.


Kasus Jemaat HKBP: Sabar Wahai Ikhwah!

September 16, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui. Pasca Idul Fithri 1431 H ini kita bicara tentang insiden “penusukan jemaat HKBP” di Ciketing Bekasi. Sebelum membaca lebih jauh, ada baiknya Anda baca dulu artikel muhasabah dari Al Ustadz Habib Riziq Shihab berikut ini: Ummat Islam Bekasi Vs HKBP.

Ya, kita semua telah tahu. Setiap ada peristiwa terorisme SBY akan buru-buru mengutuk pemuda-pemuda Islam, yang dia sebut sebagai biang onar dan mengganggu pembangunan. Sebaliknya, ketika ada kasus kecil yang merugikan kaum non Muslim, SBY akan segera pasang badan, menunjukkan kehebatan mantra-mantra pidatonya: “Tegakkan hukum! Jangan biarkan kekerasan berkuasa! Polisi harus usut tuntas! Tindak pelaku-pelaku kekerasan yang merugikan bangsa (baca: merugikan kekasih-kekasihku)!”

"Kita tidak mencari musuh. Tetapi bila musuh ada di depan mata, kita tidak boleh lari."

Memang lain ya, seseorang yang beriman kepada Allah Al Wahdah, pasti akan loyal kepada sesama kaum Mukminin. Itu pasti! Sekalipun orang-orang Mukmin itu menjadi bulan-bulanan media massa, tetap saja, iman yang lurus berbanding lurus dengan solidaritas kepada saudara Mukmin. “Innamal mu’minuna wal mu’minati ba’dhuhum auliya’u ba’dhin” (bahwasanya orang Mukmin laki-laki dan Mukmin wanita itu, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain).

Beda dengan iman yang rusak, bahkan mungkin kekafiran yang sudah menguasai jiwa dan akal. Disana, solidaritas justru terbalik. Kepada wali-wali Allah keras mengutuk, sedangkan kepada wali-wali kekafiran justru memberikan peluk-cium, dengan segunung cinta. Ya begitulah, iman yang sudah rusak, orientasi hidup yang sesat, eksistensi diri yang telah menjadi pion-pion gerakan fasad di muka bumi. Na’udzubillah min dzalik.

Saya masih ingat dulu, di era Presiden Megawati, dengan Wakil Presiden Bapak Hamzah Haz -semoga Allah membalas kebaikannya kepada Ummat Islam, amin-. Di masa itu Bapak Hamzah Haz berani terang-terangan melindungi kepentingan Ummat Islam, meskipun ditekan oleh isu terorisme dari sana-sini. Insya Allah, disana ada jejak-jejak keimanan itu. Berbeda sekali dengan Indonesia ketika dipimpin Si Ono A dan Si Ono B itu.

Kembali ke masalah “penusukan jemaat HKBP”. Sebenarnya, masalah ini bisa dianggap sepele, bisa juga dianggap serius.

Kalau dianggap sepele. Lakukan saja pengusutan yang adil dan obyektif. Siapa yang salah, dari kedua belah pihak, tinggal ditangkap, diadili di pengadilan, diberi hukuman seperti yang diinginkan institusi hukum. Sudah selesai, begitu saja. Tidak usah dibawa kemana-mana.

Tetapi bisa juga dibawa ke ranah serius. Misalnya, seperti klaim orang-orang dari HKBP atau melalui media-media sekuler, yang menganggap kejadian itu sebagai Tragedi 12 September 2010.

Kalau usul saya, jemaat HKBP bisa membawa kasus itu ke DK PBB, agar ia disetujui sebagai TRAGEDI PEMBANTAIAN UMAT KRISTEN TERBESAR di dunia, selama-lamanya. Saya kira upaya itu bisa dicoba. Nanti ke anak-cucu kita perlu diajarkan, bahwa tanggal 12 September 2010, terjadi TRAGEDI KEMANUSIAAN atau sebut saja TRAGEDI PEMBANTAIAN besar-besar oleh pemuda Islam di Bekasi. Korbannya, dua orang terluka, dan sekarang sedang tahap penyembuhan. Bisa itu, kejadian tersebut diklaim lebih keji dari pembantaian Nazi Jerman, atau pembantaian Polpot di Vietnam.

Ya, namanya juga kedengkian orang-orang kafir. Apapun bisa mereka lakukan, demi memuaskan kedengkian di hatinya.

Kasus Ciketing bisa saja diklaim lebih hebat dari pembantaian Kristen atas kaum Muslimin di Ambon, Maluku Utara, pada 1999-2000 lalu. Bisa juga dianggap lebih hebat dari pembantaian Kristen atas Ummat Islam di Poso, pembantaian Katholik di Kupang, dan Tim-tim. Bisa dianggap lebih gila dari pembantaian LB Moerdani di Tanjung Priok, pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Bahkan bisa dianggap lebih kejam dari penjajahan Protestan Belanda di Indonesia, selama 3,5 abad.

Bahkan kita bisa luaskan masalah ini ke fakta lain, seperti pembunuhan George Bush atas jutaan warga Irak dan Afghanitas. Pembantaian Katholik Serbia atas 50.000 warga Muslim Bosnia-Herzegovina. Bahkan bisa dibawa ke arah nostalgia Perang Salib di masa lalu. Bisa dibawa ke arah ini, kalau kita mau serius.

Shabar wahai ikhwah…

Ya, kita harus sabar. Sebab saat ini kita sedang diperangi oleh media-media massa, dan regim politik yang tidak pro Islam. Namanya juga diperangi, kita pasti disudutkan terus. Ya, itulah resikonya menjadi orang ISTIQAMAH di jalan Islam. Pasti kita akan selalu berbenturan dengan agen-agen kerusakan di muka bumi. Ya, wali Allah akan sangat sulit akur dengan wali-wali kekafiran.

Shabar wahai ikhwah…

Ada masanya, sesuatu yang sepele menjadi serius, insiden kecil menjadi arena Jihad Fi Sabilillah, jika Allah menghendakinya. Bila masa itu tiba, kita tak boleh lari ke belakang; sebaliknya, bila belum ada, kita juga tak perlu mengangan-angankannya. Seperti filosofi lebah, “Tidak mencari-cari musuh. Tetapi bila musuh sudah di depan mata, pantang lari ke belakang.”

Demi Allah, manakala momentum Jihad itu tiba, di bumi manapun yang Allah kehendaki, orang-orang yang paling banyak bicara saat ini, adalah mereka yang nanti akan bersembunyi di barisan paling belakang. Mereka berkomentar macam-macam, lebih karena alasan “mencari makan”.

Kaum Muslimin perlu waspada dan senantiasa menjalin komitmen kesatuan dengan sesama. Kita harus siap menghadapi kasus “jemaat HKBP” bila mau dibawa SEPELE; dan harus siap juga bila ia mau dibawa SERIUS.

Maklum, konflik antara Islam dan Protestan bukan saat ini saja. Kasus Ambon, Maluku Utara, Poso, Westerling, penjajahan Belanda, dll. berbicara banyak tentang fakta-fakta konflik itu. Intinya, Ummat Islam itu tidak bodoh kok… Kita sehari-hari dididik dengan Al Qur’an, mustahil akan menjadi kaum yang bodoh, mustahil sekali.

Maka shabarlah wahai ikhwah…sabar atas apapun resiko yang Antum terima di Jalan Allah. Ingat wahai ikhwah, inallah ma’as shabirin (Allah itu bersama orang-orang yang shabar).

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Melepas Ramadhan Berlalu…

September 7, 2010

Setahun sudah kita menanti. Menanti hari demi hari, minggu berganti minggu, bulan demi bulan… hingga akhirnya kita berjumpa dengan bulan tercinta, Ramadhan.

Kini, kita berada di penghujung Ramadhan… berharap lagi, bisa berjumpa kekasih hati, Ramadhan Karim. Ya Allah ya Rahiim, kabulkan ya Allah, kabulkanlah… Kami selalu menantikan perjumpaan ini.

Bersama Mentari Terbit

Ramadhan datang dalam ritme putaran waktu, berganti siang-malam, saling bersusulan… Mentari dan bulan beredar, keduanya selalu dibicarakan saat menyambut Ramadhan, juga saat melepasnya pergi. Hidup melintas bersama putaran waktu, tanpa terasa usia kita semakin bertambah saja.

Melayari Liku-liku Kehidupan

Hidup ini diwarnai liku-liku, dinamika, seperti gelombang dengan naik-turunnya. Seperti berlayar di sungai, mengarungi lautan, tak ada yang tahu pasti, apakah pelayaran itu akan sampai? Atau tenggelam di tengah jalan? Ramadhan Karim mendidik jiwa manusia tegar menyikapi realitas hidup.

Jalan Tak Selalu Lurus

Kadang kita mendapati kenyataan berbeda. Jalan tak selalu mulus, lintasan tak selalu lurus, hiruk-pikuk manusia tak selalu menyertai. Apa mau dikata? Apabila itulah realitanya, kita mesti terus berjalan, menyusuri tujuan abadi, meraih ampunan dan rahmat Allah Ta’ala.

Batu Keras Menempa Tapak Kaki

Kerap kali manusia menjadi tangguh, bukan karena belaian mama, bukan karena suapan bibi, bukan karena kasur empuk yang menemani malam-malamnya. Manusia menjadi tangguh karena ditempa alam kehidupan, sehingga tapak kakinya merasakan kerasnya bebatuan, licinnya permukaan, sepinya perjalanan. Setelah mereguk nikmat Ramadhan, adakah KEBERANIAN itu tumbuh di hatimu, wahai Saudara nan dicinta?

Hidup Adalah Pilihan

Kenyataan hidup tak selalu enak. Seseorang kan berjumpa pilihan-pilihan. Bahkan setiap langkah hidupnya, selalu ada pilihan: Yes or no, right or left? Selalu kita diuji dengan pilihan-pilihan. Manusia gagal adalah yang selalu ragu untuk memilih, hanya karena takut kesulitan. Allah akan memberi para pemberani dengan karunia, sebab dia telah menerobos batas-batas ketakutan, demi meraih MAKNA berarti. Jadilah, pemberani!

Banyak yang Tidak Kita Tahu

Berjalanlah…penuh ketegaran laksana kstaria yang terluka, maju di medan tempur… Namun hatimu tetap TUNDUK kepada Kebesaran Ar Rahmaan. Di dunia ini engkau telah banyak tahu, tetapi lebih banyak lagi yang tak engkau tahu. Semakin bertambah ilmumu, semakin engkau tahu ketidak-tahuanmu.

Menuju Kampung Nan Indah

Jangan lelah tuk berusaha, jangan lelah tuk berkarya, jangan lelah tuk mengalami kelelahan. Isi hidupmu dengan prestasi! Isi hidupmu dengan goresan sejarah! Isi hidupmu dengan biografi yang kan menyenangkan hati para generasi nanti! Gantungkan syurga sebagai impianmu tertinggi! Kesana, kita kan terus berjalan…

Peradaban Berubah, Prinsip Hidup TETAP Kokoh

Dalam mana kita melayari hidup ini, segala realitas dan kondisi bisa berubah, tetapi prinsip TAUHID dan SYARIAT tidak boleh berubah. Chasing boleh berganti, hati tetap kokoh di atas PRINSIP ISLAMI.

Wa man yakfur bit thaghuti ya yu’min billahi faqad istamsaka bil ‘urwatil wutsqa lan fishama laha” (siapa yang mengingkari segala sesembahan selain Allah, dan dia beriman tauhid kepada Allah, maka dia benar-benar telah berpegang kepada tali agama Allah yang sangat kuat, selamanya tak akan putus).

Mengalirlah Saudaraku bersama aliran air kehidupan… namun hatimu tetap kokoh di atas TAUHID dan SYARIAT NABI. Inilah jalanmu, jalan Islam, jalan abadi hamba-hamba Allah Ar Rahiim.

Akhirnya, perkenankan kusampaikan ucapan:

Idul Fithri 1431 Hijriyah

SELAMAT IDUL FITHRI 1431 H. Taqabbalallah minn wa minkum. Minal ‘Aidina Wal Fa’izin, Kullu Aamin Wa Antum Bi Khair. Amin. Mohon Maaf Lahir Bathin!

Bandung, 28 Ramadhan 1431 H.

AM. Waskito & Family.