Tsunami 4: Keajaiban Seputar Evakuasi Jenazah Korban

Desember 30, 2008

Sampai 45 hari pasca bencana (8 Februari 2005 –pen.), sedikitnya 112.000 jenazah korban Tsunami sudah ditemukan dan dikuburkan. Diperkirakan masih banyak jenazah yang belum ditemukan, baik yang ada di bawah reruntuhan, gedung, rumah, atau terendam rawa-rawa.

Selain Satkorlak Nasional, FRONT PEMBELA ISLAM (FPI) sangat giat mengirim relawan untuk melakukan evakuasi jenazah. Sejak bencana, FPI telah mengirim 1.300 anggotanya. Mereka bertugas secara bergiliran. Setiap hari rata-rata terdapat 600 relawan FPI yang mencari jenazah korban di seluruh wilayah Aceh. Dalam sehari mereka bisa menemukan 100 hingga 300 jenazah.

Sekjen FPI, Husni Harahap, mengemukakan alasan di balik pengiriman relawan evakuasi ke Aceh. “Alasan kita terus mencari mayat, karena menyelesaikan jenazah hukumnya fardu kifayah. Kita yakin orang yang mati tenggelam adalah syahid. Kita tidak mau membiarkan orang mati syahid, dibiarkan begitu saja. Di Aceh ini masih banyak mayat dengan kondisi rusak, bahkan ada yang dimakan anjing. Itu tidak bisa kita biarkan, maka FPI terus berusaha mencari mayat-mayat disini.”

Proses evakuasi jenazah merupakan pekerjaan yang berat. Selain jumlah jenazah yang dicari begitu banyak, medan yang harus dilalui para relawan juga sangat berat. Bisa dikatakan, tingkat kesulitan yang dihadapi relawan sama sulitnya antara hari pertama pasca bencana dengan hari ke-45. Namun para relawan itu seperti tidak kenal lelah. Setiap hari mereka mencari, mengais-ngais di antara reruntuhan, untuk kemudian mengangkat dan menguburkan jenazah-jenazah di tempat yang sudah disediakan. Mereka tidak dibayar. Bahkan mereka datang ke Aceh dengan ongkos sendiri, setiap hari makan dengan uang sendiri.

Di balik tugas besar mengevakuasi jenazah-jenazah korban bencana, lalu menguburkannya secara layak, muncul begitu banyak keajaban-keajaiban. Hal itu diakui oleh berbagai pihak yang melakukan proses evakuasi, baik dari relawan FPI, SAR Nasional dan pihak-pihak lain. Di bawah ini beberapa contoh keajaiban tersebut, yaitu sebagai berikut:

[1] Pengalaman Heru, seorang relawan FPI dari Jakarta ketika mengevakuasi jenazah di daerah Lampeuk, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Ketika itu evakuasi sudah memasuki minggu ke-3. Heru bersama rekan-rekan sedang mengangkat mayat-jenazah yang masih berserakan. Disana dia menemukan satu jenazah yang masih utuh, padahal setelah minggu ke-3, jenazah-jenazah lain sudah rusak. Jenazah itu terlihat masih berusia muda dan ia menebarkan aroma harum. “Saat mengangkat mayat itu, kita semua tertegun. Biasanya, mayat-mayat yang lain saat diangkat baunya menusuk hidung. Tapi mayat yang satu ini, malah harum. Saya yakin, Allah telah menjaga jenazah itu,” kenang Heru.

Baca entri selengkapnya »


Tsunami 3: Bumi Para Syuhada

Desember 30, 2008

Provinsi Aceh sejak lama dikenal dengan sebutan Daerah Istimewa Aceh (DI Aceh). Setelah era otonomi, masyarakat Aceh memilih sebutan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebutan Daerah Istimewa adalah penghargaan tinggi terhadap masyarakat Aceh yang memiliki sejarah berbeda dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Perbedaan itu terkait dengan kegigihan bangsa Aceh dalam perjuangan melawan kolonial Belanda. Dibandingkan daerah manapun di Indonesia, Aceh termasuh daerah yang paling sebentar dikuasai oleh Belanda.

Perjuangan masyarakat Aceh menentang penjajah Belanda berlangsung sejak tahun 1873 sampai 1913 (secara riil perang terus berlangsung sampai Indonesia merdeka tahun 1945). Sebelum itu, para sultan Aceh, salah satu diantaranya Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam, telah berjuang mengusir Portugis dari wilayah Aceh, Semenanjung Malaka dan sekitarnya. Di antara para ksatria Aceh yang terkenal selama perang kolonial melawan Belanda, yaitu Tengku Cik Ditiro, Panglima Polem, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dhien.

Belanda benar-benar sulit menundukkan masyarakat Aceh, kecuali setelah mendapat saran-saran dari Snouck Hourgronje. Snouck adalah sosok orientalis, sarjana yang membaktikan diri dengan menekuni ilmu-ilmu keislaman demi melayani ambisi kaum imperialis. Melalui saran-saran Snouck itulah Belanda menemukan titik-titik kelemahan masyarakat Aceh. Selain itu Belanda juga menerapkan strategi klasik, devide et impera, yaitu membenturkan kaum adat dengan ulama. Tentu saja, di luar itu semua, Belanda menerapkan strategi kekerasan tanpa ampun.

Dari sebuah sumber disebutkan:

Dalam operasi militernya, pasukan elite Belanda, Marsose, mempraktikkan apa yang disebut kekerasan tanpa batas. Mereka membakar rumah-rumah penduduk, menyiksa, dan melakukan eksekusi disaksikan penduduk yang dikumpulkan. Jejak darah yang ditinggalkan di setiap dusun yang dilalui pasukan Marsose masih ditambah lagi dengan menghancurkan tanaman di kebun.

Selain itu, pemerasan melalui hukuman denda kolektif maupun individu terhadap mereka yang diketahui berhubungan dengan pejuang menyebabkan warga sengsara seumur hidup. Denda ini jumlahnya di luar batas kemampuan penduduk desa. Bahkan, denda ini belum lunas kendati ternak dan harta lainnya diserahkan kepada serdadu haus darah tersebut. Semua bentuk “hukuman” ini dimaksudkan agar penduduk sekarat dan jera.” (Situs Kompas, 4 Mei 2004).

Di balik perjuangan panjang ini sudah tentu jatuh beribu-ribu korban jiwa dari kalangan masyarakat Muslim Aceh. Mereka berperang melawan penjajah dengan semangat jihad fi sabilillah.

Warisan Syariat Islam

Menyadari semangat yang tinggi dalam komitmen keislaman ini, wajar jika Tengku Daud Beureuh, setelah RI merdeka, menuntut pemberlakuan Syariat Islam di bumi Aceh Darussalam. Hal itu adalah permintaan yang logis. Jaman perjuangan Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, atau Cut Nyak Dhien, mereka mengibarkan panji-panji perjuangan Islam. Terlebih di masa sultan Iskandar Muda dan lainnya, telah diterapkan sistem kesultanan Islam.

Hanya saja, pemerintah Jakarta tidak berkenan menerima aspirasi itu. Bahkan pada tanggal 8 Agustus 1950 Dewan Menteri RIS di Jakarta memutuskan untuk melebur Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara. Hal itu dirasakan sebagai tindakan merendahkan martabat bangsa Aceh yang sejak ratusan tahun hidup sebagai bangsa bebas dan memiliki akar budaya khas. Tanggal 23 Januari 1951 Perdana Menteri M. Natsir (dari Masyumi) membacakan surat peleburan Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara melalui siaran RRI di Banda Aceh.

Baca entri selengkapnya »


Tsunami 2: Ayat-ayat Allah di Tengah Bencana

Desember 30, 2008

Bencana gempa bumi dan Tsunami di Aceh, telah menorehkan kepedihan mendalam di hati Ummat Islam Indonesia, khususnya kaum Muslimin di Aceh Darussalam. Namun Allah juga berkehendak menghibur kita dengan ayat-ayat Kekuasaan-Nya yang bertebaran di sekitar bencana ini.

Sebagian ulama membedakan ayat-ayat Allah dalam dua bentuk, yaitu ayat-ayat tersurat (tertulis dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi) dan ayat-ayat tersirat yang bertebaran di seluruh penjuru alam semesta. Ayat-ayat tersirat itu bisa berupa kesempurnaan arsitektur ciptaan Allah di alam, atau berupa Sunnatullah yang bergerak tetap tanpa ada perubahan, atau berupa kejadian-kejadian luar-biasa yang menurut akal sehat mustahil terjadi, atau berupa tanda-tanda peringatan Allah agar manusia sadar diri, bahkan bisa berupa bukti-bukti pertolongan Allah terhadap hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Sebagian kalangan menyebut ayat-ayat tersirat ini dengan istilah al ayatul kauniyyah.

Di sekitar kejadian bencana alam di Bumi Aceh Darussalam, muncul begitu banyak tanda-tanda Keagungan Allah yang sulit diingkari oleh setiap mata, telinga, dan hati manusia yang masih berfungsi. Hanya hati-hati yang buta saja yang akan mengingkari ayat-ayat Allah itu. Bahkan seandainya terjadi bencana yang 10 kali lebih memilukan dari gelombang Tsunami di Aceh ini, hati-hati mereka tetap keras, lebih keras dari batu. Na’udzubillah min dzalik.

Karena sesungguhnya, bukanlah pandangan mata itu yang buta, akan tetapi yang buta adalah hati yang ada di dada.” (Surat Al Hajj: 46).

Kemudian setelah itu hati-hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras dari itu. Padahal di antara batu itu ada yang mengalir sungai-sungai darinya, dan di antaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya.” (Surat Al Baqarah: 74).

Ayat-ayat Kauniyyah

Dengan mengikuti berita-berita media massa seputar bencana alam di Aceh, terutama liputan MetroTV, ia akan membuat hati-hati manusia Indonesia melembut dan segera insyaf dari segala kekeliruan yang selama ini digeluti. Bahkan dengan menyimak sebagian kecil berita saja, kita seharusnya sudah menyungkurkan wajah, bertaubat kepada Allah dengan sebaik-baik taubat.

Di antara kejadian-kejadian luar biasa yang kita saksikan melalui media-media massa, antara lain sebagai berikut:

[1] Wajah sejuk jenazah anak-anak balita

Kematian anak-anak balita dalam ketenangan luar biasa, layaknya anak-anak yang tertidur pulas. Meninggal akibat tenggelam akan menyisakan tanda-tanda, terutama di urat leher jenazah. Namun bayi-bayi itu meninggal dalam keadaan penuh tenang. Bukan hanya satu bayi, namun, puluhan, ratusan, bahkan ribuan bocah-bocah kecil di Nanggroe Aceh Darussalam.

Gambar sebagian bayi-bayi itu diperlihatkan dengan jelas dalam tayangan spot live event Metro TV bertajuk Indonesia Menangis. Saya menduga, anak-anak itu telah diwafatkan terlebih dulu, sebelum air bah menggulung badan mereka. Tidak ada yang mustahil jika Allah telah menghendakinya.

[2] Masjid-masjid tetap berdiri kokoh

Selama bencana, hampir seluruh kawasan yang dilanda banjir rata dengan tanah. Dari pantauan foto satelit, terlihat daerah-daerah yang tersapu Tsunami berubah total 90 % dibandingkan kondisi semula. Ia seperti lapisan pasir kering di atas lantai licin, lalu diguyur oleh air dalam jumlah besar, maka lantai pun mengkilat seperti sediakala. Uniknya, banyak masjid-masjid yang tetap berdiri kokoh meskipun lingkungan di sekitarnya telah rata oleh banjir.

Masjid-masjid itu sempat diabadikan oleh kamera, lalu foto-fotonya beredar luas di internet. Dalam hal ini Masjid Raya Banda Aceh Baiturrahman menjadi induk dari semua masjid-masjid yang tetap kokoh berdiri. Selama bencana terjadi masjid menjadi tempat berlindung Ummat Islam dari amukan bencana. Menutut Hasyim, seorang juru kamera amatir yang mengabadikan peristiwa monumental banjir di tengah Banda Aceh, arus air di luar Masjid Raya Baiturrahman sangat deras, namun di sekitar masjid arus itu justru tenang. Bahkan di dalam masjid sendiri air bergerak pelan, tidak membahayakan.

Sebagian orang membantah, masjid-masjid itu dibangun dengan fondasi yang kokoh sehingga tidak roboh. Satu sisi, darimana mereka tahu apakah fondasi masjid itu dibuat sangat kokoh? Apakah mereka ikut bekerja ketika masjid itu dibangun? Lagi pula, apakah fondasi masjid di Aceh dibuat melebihi kekokohan fondasi bangunan-bangunan lain seperti rumah-rumah mewah, hotel-hotel, gedung bertingkat, kantor-kantor BUMN, kantor pemerintahan, markas militer, PLN, Pertamina dan lain-lain? Apakah dana masyarakat untuk membangun masjid melimpah-ruah melebihi dana perusahaan-perusahaan besar ketika mereka membangun gedung?

Atau mungkin mereka berkata, semua ini hanya kebetulan terjadi. Allahu Akbar, bagaimana disebut kebetulan jika ia terjadi di banyak masjid, lebih dari satu atau dua masjid? Apakah masjid-masjid itu satu sama lain saling kompak untuk melawan terjangan banjir Tsunami? Jika kekompakan itu ada, mungkin manusia-manusia berhati batu itu yang menjadi saksi ikrar kekompakan mereka.

Baca entri selengkapnya »


Tsunami 1: Kenangan Seputar Tsunami di Aceh Darussalam

Desember 30, 2008

Bencana Alam Terbesar

Tanggal, 26 Desember 2004, sekitar pukul 8.00 WIB terjadi gempa bumi besar dengan kekuatan 8,9 skala Richter di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Pusat gempa diperkirakan terletak di posisi 2,9 Lintang Utara (LU) dan 96,6 Bujur Timur (BT), kurang-lebih 149 km arah selatan Kota Meulaboh, NAD.

Gempa bumi ini tidak akan berdampak sangat serius, seandainya tidak diikuti bencana lain. Justru guncangan gempa itu memicu gelombang Tsunami yang kemudian menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai Banda Aceh, Pulau Nias, bahkan menyapu Sri Lanka, India, Thailand, Maladewa, Malaysia, hingga beberapa negara di pantai Timur Afrika..

Gempa bumi dan gelombang Tsunami ini telah memakan ratusan ribu korban jiwa. Sampai buku ini disusun tercatat korban meninggal di provinsi NAD dan Sumatera Utara sekitar 95.000 jiwa (belum termasuk korban hilang). Di negara-negara lain, menurut data Reuters pada pertengahan Januari 2005, tercatat korban tewas masing-masing: Sri Lanka (31.000 jiwa), India (16.400 jiwa), Thailand (5.300 jiwa), Malaysia (74 jiwa), Maladewa (74 jiwa), Myanmar (59 jiwa). Begitu kuatnya gelombang Tsunami hingga ia terasa di pantai-pantai Afrika dalam jarak sekitar 6000 km. Bahkan di seluruh Afrika Timur (Kenya, Somalia, Tanzania, Madagaskar, Seychelles), korban tewas tercatat 137 jiwa.

Kerugian-kerugian lain di luar korban jiwa, antara lain: Rumah-rumah hancur, instalasi listrik, air bersih, dan komunikasi putus, pangkalan-pangkalan BBM rusak berat, jalan-jalan raya rusak, saluran air, gedung-gedung, pasar, pertokoan, kantor pemerintah, kantor kepolisian, barak militer, fasilitas sosial, semua hancur. Termasuk di dalamnya trauma psikologis yang menghantui korban-korban selamat, bau busuk dari mayat-mayat korban banjir, ancaman wabah penyakit, problem pengungsian, anak yatim-piatu, dan lain-lain.

Inilah bencana alam terbesar dalam sejarah Indonesia, dan sekaligus terbesar di dunia sepanjang abab ke-20. Menurut menteri luar negeri Amerika Serikat, Collin Powell, kerusakan yang timbul akibat Tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam melebihi kerusakan akibat badai Tornado, bahkan akibat perang sekalipun.

Tentu saja, peristiwa ini merupakan mushibah besar yang sangat mengerikan. Ia bukan saja dahsyat, menimbulkan kerusakan hebat, namun situasi mencekam yang ditimbulkannya telah memicu trauma besar bagi orang-orang yang mengalaminya. Tidak sedikit korban yang selamat, baik orang dewasa atau anak-anak, merasa trauma ketika melihat air. Bahkan sebagian warga Aceh bertekad meninggalkan daerah itu, tidak ingin lagi kembali kesana.

Tidak berlebihan jika pasca bencana ini dibutuhkan pembinaan khusus bagi masyarakat Aceh korban bencana untuk memulihkan rasa percaya diri mereka dan menepiskan trauma akibat bencana. Memang, sangat sulit menghilangkan kenangan akan ombak besar yang datang tiba-tiba, lalu melenyapkan kota-kota dan kehidupan itu. Bagi para “pengamat” di luar memang mudah mengatakan: “Sabarlah saudara! Sebentar lagi badai akan berlalu.” Namun bagi orang-orang yang melihat peristiwa itu terjadi persis di depan matanya, mereka merasakan apa-apa yang tidak dirasakan oleh orang-orang di luar. Jika Kali Ciliwung di Jakarta meluap, ia sudah cukup memicu isak-tangis luar biasa, lalu bagaimana jika Samudera Hindia yang meluap?

Tapi bagaimanapun, kehidupan harus terus dilanjutkan, amanah-amanah ditunaikan, obsesi dan harapan tetap dipancangkan, seperti umumnya kehidupan manusia di muka bumi. Jika masyarakat Aceh terus berlarut-larut dalam duka, atau sebagian mereka bertekad meninggalkan wilayah itu, sudah tentu hal tersebut akan memperparah keadaan. Mushibah besar telah terjadi, kemudian disusul mushibah berikutnya yang tidak kalah serius, yaitu hilangnya semangat hidup. Jika hal itu terus berlanjut, Aceh bisa menjadi kota “puing-puing”, dimana setiap orang yang memandangnya timbul rasa trauma di hati. Na’udzubillah min dzalik.

Tidak ada pilihan lain, kita harus kembali ke bumi Serambi Mekah Aceh Darussalam. Hanya itu pilihan yang bisa diambil. Meninggalkan Aceh akan meninggalkan kedukaan tidak berkesudahan, sedang menetap di tempat lain, belum tentu akan membuahkan rasa nyaman di hati. Kata pepatah: “Hujan batu di negeri sendiri lebih baik daripada hujan emas di negeri orang.” Baik ada atau tiada bencana, kita harus kembali ke Bumi Aceh Darussalam.

Baca entri selengkapnya »


Tangis Berdarah dari GAZA

Desember 28, 2008
eramuslim.com

Derita Muslim Gaza. Sumber foto: eramuslim.com

Innalillah wa inna ilaihi ra’jiun. Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Ya Allah rahmati kaum Muslimin di Palestina, khususnya di Gaza. Ya Allah kutuk Yahudi Israel laknatuka ‘azhiman ‘alaihim ajma’in. Ya Rabbi ya Karim, muliakan kaum Muslimin dan hinakan bangsa ‘monyet dan babi’, Zionis Israel laknatullah ‘alaihim.

Sejak kemarin sampai hari ini, 27-28 Desember 2008, Israel melakukan serangan udara ke Jalur Gaza. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 275 orang warga Palestina meninggal, 600-an luka-luka. Tangki BBM terbakar hebat, menimbulkan asap hitam sangat tebal. Rumah-rumah warga hancur, termasuk rumah sakit rusak akibat serangan keji Yahudi laknatullah. Tidak kurang, Israel telah menjatuhkan sekitar 100 ton roket menghujani wilayah Gaza. Israel mengklaim, ia adalah serangan untuk Hamas dan sebagai aksi balasan atas serangan roket-roket Hamas ke wilayah Israel. Itu pun katanya, Israel sedang mempersiapkan serangan lebih massif lagi melalui pasukan darat. Dasar laknatullah ‘alaihim, mereka adalah pendusta, arogan, pembuat kerusakan di muka bumi.

Mari kita membuat analisis atas serangan ini:

[o] Biasanya, korban serangan sporadis Israel jumlahnya 5, 6, atau 10 orang warga Palestina. Paling hebat 25, 30, atau katakankah maksimal 50 orang. Tetapi saat ini, tidak tanggung-tanggung, sekitar 300 orang. Sebagian besar warga sipil biasa. Para pengamat menyebut, ini adalah serangan paling brutal dalam 10 tahun terakhir. Mungkin lebih buruk dari serangan Ariel Sharon ke Sabra Satila pada tahun 80-an lalu. (Semoga Allah membalas kekejaman Israel dengan 10 kali lipat kerugian yang menimpa Muslim Palestina. Kalau mereka tidak mati secara fisik, semoga mati secara jiwa, sehingga antara hidup dan mati, sama saja. Allahumma amin).

[o] Israel beralasan, serangan mereka hanyalah serangan balasan atas serangan roket-roket Hamas di hari-hari sebelumnya. Tetapi dunia menjadi saksi, bahwa Israel selalu membalas dengan serangan yang jauh lebih hebat dari serangan pejuang-pejuang Palestina. Misalnya Yahudi mati satu, mereka membalas membunuh 10 warga Palestina. Misalnya meledak satu bom manusia menewaskan 10 orang Yahudi, mereka membalas menyerang satu kampung Palestina. Misalnya, Palestina menyerang dengan satu roket, ia akan dibalas dengan menjatuhkan 20 roket. Begitu seterusnya. Serangan roket Hamas tidak terlalu mujarab, ya hanya menakut-nakuti warga Israel saja. Tetapi mereka balas menyerang, membuat kacau seluruh Gaza, membuat gempar seluruh dunia.

[o] Kaum Muslimin baru saja lega hati menyaksikan George Bush dilempar sepatu oleh Muntazhar Al Zaidy di Irak. Tetapi Israel kini “menyamakan kedudukan” menjadi 1 : 1 dengan menyerang Gaza. Mungkin Israel ingin membalaskan sakit hati George Bush, sekutu terbaiknya di Amerika. Dari sebagian sumber, katanya Bush ini masih memiliki garis keturunan Yahudi laknatullah ‘ala Bush wa Yahud ajma’in.

[o] Lihatlah dengan jelas, bahwa Yahudi tidak segan-segan sedikit pun kepada dunia internasional. Mereka tidak peduli, sekalipun sedang ada momentum Natal, tahun baru 2009, maupun tahun baru Hijriyyah 1430 H. Bagi mereka asyik-asyik saja membuat kekacauan dan mengundang kemarahan dunia. Itu pertanda bahwa Israel sama sekali tidak peduli dengan perasaan kaum Nashrani yang sedang merayakan Natal, tidak peduli dengan Ummat Islam yang hendak menyambut tahun baru Hijriyyah, bahkan tidak peduli dengan dunia yang akan menjelang tahun baru 2009. Bagi mereka, “The real life is Jewish, and the other life is nothing!” Itulah contoh sikap arogansi laknatullah ‘alaihim ini.

[o] Yahudi berjanji akan melakukan serangan darat yang massif untuk melumpuhkan Hamas. Saya katakan, “Omong kosong kalian wahai manusia kera!” Tidak pernah ada ceritanya Yahudi memiliki reputasi dalam perang daratan secara massif. Yahudi adalah manusia paling penakut sedunia, meskipun Mossad digambarkan sangat hebat, terlatih, dan pakar operasi. Yahudi tidak akan berani melakukan serangan darat secara massif. Mereka adalah manusia penakut, hanya berani menyerang melalui pesawat tempur, helikopter, tank, atau rudal-rudal. Pasukan darat Israel tidak dipandang di dunia internasional. Kita lihat saja, benarkan Yahudi akan menyerang lewat darat seperti pengakuan Menhan Israel, Ehud Barak? Tidak ada, tidak akan pernah ada. Tahun lalu saat mereka bentrok dengan Hizbullah di Lebanon, mereka sudah kocar-kacir, apalagi akan menyerang Jalur Gaza?

[o] Cobalah lihat peristiwa serangan Yahudi laknatullah ‘alaihim dari waktu ke waktu! Disana ada pola yang sangat unik.

Satu, mereka kalau menyerang Palestina, tidak pernah memberi aba-aba sebelumnya. Isyarat saja tidak. Pokoknya Palestina sedang lengah, saat itu mereka masuk menyerang.

Dua, kalau di Palestina sudah jatuh korban sekian banyak, mereka segera menghentikan serangan.

Tiga, pasca penyerangan dunia internasional akan banjir kecaman-kecaman ke Yahudi terkutuk itu. Tetapi mereka sendiri tenang-tengan saja sambil tertawa terkekeh-kekeh, “Biar saja mereka mengecam ini itu. Sebentar lagi semuanya juga akan berhenti. Mereka nanti capek sendiri kecam sana kecam sini. Hi hi hi…

Empat, setelah itu dunia internasional, biasanya PBB, Rusia, Amerika, dan Eropa segera menyerukan “genjatan senjata” dan “mendesak Israel maju ke meja perundingan”.

Lima, Israel pura-pura setuju berunding, sampai berlarut-larut, dan untuk kesekian kalinya Palestina dikadalin sama dia laknatullah ‘alaihim.

Enam, nanti suasana tenang untuk sementara waktu, sampai kita lupa dengan kekejaman sang durjana terkutuk itu. Setelah kita lupa, lagi-lagi dia membuat teror baru. Nah, setelah itu urut-urutan peristiwa diulang-ulang lagi dari langkah satu. (Ingat langkah-langkahnya harus dilakukan secara tertib, tidak boleh melenceng yaa…).

Bosan dan bosan melihat skenario seperti di atas. Setiap tahun terulang-ulang seperti itu. Palestina semakin kacau karena terus diteror sangat terkutuk itu, sementara Israel tenang-tenang saja. They run their terrors silently. Adapun negara-negara Barat atau PBB yang menyerukan agar Israel menghentikan serangan atau maju ke perundingan, mereka itu sebenarnya hanya mau membantu Israel saja. Mereka tahu, perundingan mau digoreng bagaimanapun, Israel tidak akan dirugikan, dan tidak ada sanksi Resolusi PBB untuk negara terkutuk itu. Jadi, sebenarnya mereka cepat-cepat menolong Israel dengan pura-pura mengajukan skema perundingan. Padahal hakikatnya, mereka hanya memberi waktu tunda bagi Israel untuk menyerang kembali di masa nanti.

Ini seperti pertandingan tinju. Suatu ketika petinju (Israel) melakukan serangan pukulan bertubi-tubi, sampai lawannya hampir roboh. Setelah menyerang, petinju (Israel) kecapekan. Ketika itu lawannya mau balas memukul. Tetapi bel seketika dibunyikan untuk menyelamatkan petinju (Israel) itu. Setelah Israel pulih tenaganya, dia menyerang lagi. Kalau mau diserang, lagi-lagi dia ditolong dengan bunyi bel.

Saya rasa drama seperti ini sangat tidak lucu. Hanya publik dunia saja yang selama ini mau dibodoh-bodohi oleh manusia terkutuk Yahudi laknatullah ‘alaihim itu. Kita terus-menerus dibodoh-bodohi dia, hanya tidak sadar-sadar.

[o] Terakhir, negara-negara di Jazirah Arab sebenarnya punya andil juga dalam melestarikan kejahatan Israel. Mesir, Yordania, Syria, dan lainnya sebenarnya ikut melestarikan kekejaman Yahudi selama ini. Mereka tidak pernah serius membela warga Muslim Palestina. Target mereka hanya melindungi kekuasaan politik, dengan mengabaikan penderitaan sesama Muslim. Seharusnya, jangan hanya Yahudi laknatullah itu yang dikutuk, tetapi juga pemimpin-pemimpin gila kekuasaan di Arab. Tangan mereka ikut berlumuran darah kaum Muslimin di Palestina.

Demikian catatan yang bisa disampaikan. Selamat menyambut Tahun Baru Hijriyyah 1430 H. Jangan lupakan TRAGEDI TSUNAMI di Aceh pada 4 tahun lalu. Serta doakan saudara-saudaramu di Palestina, Irak, Afghanistan, dan bumi kaum Muslimin lainnya.

Allahumma a’izzil Islama wal Muslimin wanshurna ‘ala kafirin, minal Yahudi wan Nashrani wal musyrikin. Allahummal’aan alal Yahud wal kafirinaz zhalimin, wa dammirhum tadmira, wa zalzil ‘alaihim zilzalan syadidan. Amin Allahumma amin.

Akhir Hijriyyah 1429 H.

AMW.


Kembali Mengenang Tragedi Itu…

Desember 24, 2008

Empat tahun lalu kita diberi kesempatan oleh Allah untuk menyaksikan sebuah sejarah menggemparkan. Bukan tentang WTC 11 September 2001, tetapi tentang TRAGEDI TSUNAMI di bumi Aceh Darussalam. Inilah sejarah bencana alam terbesar dalam beberapa abad terakhir, setelah meletusnya Gunung Krakatau di Selat Sunda beberapa ratus tahun lalu.

Sebagai saksi sejarah, seharusnya kita pandai merenungi kenyataan-kenyataan pahit itu. Tetapi tidak, hanya 3 atau 4 bulan saja setelah Tsunami di Aceh, masyarakat sudah “kembali seperti semula”. Seakan Tsunami di Aceh adalah “mimpi mendadak” yang begitu saja lenyap setelah mata terbangun.

Mari sedikit mengingat kembali sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah Ta’ala di muka bumi-Nya, sekaligus membasahi hati yang sudah terlalu kering karena terjerumus “tradisi kesibukan” yang tidak pernah ada habisnya itu. Caranya? Pikirkan saudaraku, andai Anda dan keluarga Anda berada di posisi mereka yang menderita. Tentu alangkah nestapa!

Banjir bandang menyapu segala hasil peradaban manusia, lalu mengaduk-aduknya dalam tatanan “mixing”, layaknya adonan kue dari bahan kayu, batu, besi, kain, plastik, dan sebagainya.

Ya Allah, jangan Engkau datangkan kemalangan seperti itu di kampung-kampung kami, di halaman rumah kami, di kantor kami, di rumah anak-anak kami. Ya Allah kasihi kami agar tidak tertimpa kemalangan yang serupa atau berbagai bala’ yang mengguncangkan hati dan keimanan. Ya Allah tunjuki kami agar bisa menetapi langkah-langkah yang lebih Engkau ridhai. Allahumma amin.

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami di atas jalan agama-Mu. Allahumma amin.


Sebab Kedurhakaan Insan

Desember 23, 2008

Pernahkah Anda membayangkan, bahwa salah satu sebab kedurhakaan manusia justru adalah Sifat Kemurahan Allah Ta’ala? Dia sangat Pemurah kepada hamba-hamba-Nya; kemudian Kemurahan-Nya itu justru membuat hamba-hamba-Nya terlena, tidak bersyukur, bahkan menyombongkan diri. Ini kenyataan.

Dalam Surat Al Furqan diceritakan tentang dialog Allah dengan berhala sesembahan manusia, kelak di Hari Kiamat. Allah bertanya, apakah mereka yang menyesatkan manusia atau manusia itu sendiri yang sesat jalannya? Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau (ya Allah), tidaklah patut bagi kami untuk mengambil selain Engkau sebagai Pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kesenangan hidup, sampai mereka lupa mengingati-Mu, dan mereka adalah kaum yang binasa.” (Al Furqan: 18).

Kalau kita melihat kepada kenyataan, kerap kali bertambahnya nikmat Allah pada diri seseorang (atau suatu kaum) menyebabkan komitmen mereka kepada agamanya melemah. Di antara penyakit-penyakit jiwa yang sering muncul setelah tercapai kemakmuran adalah: Kesombongan, membanggakan diri, lalai dari ibadah, hilangnya rasa khusyuk saat ibadah, sifat kikir, boros dalam belanja, berfoya-foya, berbuat maksiyat, melakukan tindak kriminal, dan sebagainya. Bertambah nikmat bukan bertambah kesyukuran, justru semakin durhaka.

Hal itu seperti Bani Israil di masa lalu. Mereka dilebihkan oleh Allah di atas semua manusia di alam; mereka diberi al manna was salwa; mereka ditolong dengan kehancuran Fir’aun di depan mata mereka sendiri; mereka dijanjikan kemenangan dan wilayah (the land promised); mereka dipimpin Nabi yang sabar; mereka diampuni kesalahan-kesalahannya; ditunjukkan kepada mereka keajaiban-keajaiban, dan sebagainya. Tetapi Bani Israil sangat keras hati. Kemegahan nikmat justru membuat mereka sangat durhaka, dan paling durhaka di antara segala etnik manusia di muka bumi. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

***

Baca entri selengkapnya »