Bisnis di Usia Senja

Maret 11, 2016
Bisnis Tidak Dibatasi Umur

Bisnis Tidak Dibatasi Umur

Ada teori, katanya bisnis kalau dijalankan di usia di atas 40 tahun SUDAH TELAT. Mestinya, sebelum usia 40 tahunan.

TAPI teori ini dipatahkan dengan fakta bahwa Kolonel Sanders mulai bisnis “fried chicken” di atas usia 60 tahunan.

Kemudian, bisnis itu sebenarnya ILMU UNIVERSAL, tak mengenal batasan tempat, waktu, umur, keadaan. Semua orang boleh bisnis KAPAN SAJA DIA MAMPU LAKUKAN.

Ada sebuah kisah tentang pensiunan Kolonel. Dia membuat bisnis kebun durian di kawasan dekat Sukabumi. Caranya: Dia punya lahan sekian hektar lalu ditanami ratusan bibit durian unggul. Setelah bertahun-tahun pohon-pohon duriannya produktif. Orang boleh beli untuk dibawa pulang. Boleh juga petik, langsung santap.

Lama-lama ia menjadi “wisata kebun durian”. Produknya bukan hanya durian, ada yang lain-lain juga. Terkenal di mata masyarakat. Setiap hari Jumat libur. Syukurlah. Ada waktu concern ibadah…

INTINYA, bisnis itu ilmu universal. Tak mengenal batasan umur. “Kapan pula awak sedie, sila nak mau berbisnis.”

(Sam Hikmat).

Iklan

[20]. Analisis Bisnis: Warung “Indomie” Rebus

April 20, 2013

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Mari sedikit melongok dapur bisnis warung “Indomie” rebus. Sebenarnya tidak adil kalau nama warung itu diklaim “Indomie rebus”, karena mie instan yang dijual disana tidak melulu produk Indofood. Tapi memang yang terbanyak bermerk Indomie. Okelah, soal nama untuk sementara tidak kita persoalkan.

Saya pertama kali mengenal bisnis “warung mie instan” ini di Bandung, sekitar tahun 1994. Atau hampir 20 tahun lalu. Waktu itu bisnis warung mie instan masih sedikit. Perintisnya adalah para pedagang asli Sumedang. Selain menjual mie rebus, mereka juga menjual bubur kacang & ketan hitam, kopi, serta STMJ (susu telor madu jahe). Di samping produk-produk lain sebagai sampingan.

Dulu saya menilai, bisnis warung mie instan ini tidak keren, tidak kreatif, atau kurang bagus. Tapi seiring berjalannya waktu, seiring memahami ilmu seputar bisnis, jujur saya balik memuji bisnis semacam itu. Bukan memuji karena performanya, tetapi memuji konsep bisnisnya.

Bisnis Mudah Dijalankan. Murah Meriah. Dijamin Laku (insya Allah).

Bisnis Mudah Dijalankan. Murah Meriah. Dijamin Laku (insya Allah).

Dalam bisnis berlaku prinsip PRAGMATISME. Mau bisnis apa saja dan bagaimana saja, selama halal dan sah secara hukum, silakan-silakan saja; selama bisnis itu benar-benar menguntungkan. Kalau bisnis keren, bagus penampilan, aksesoris indah, tetapi hasilnya tidak ada (alias merugi terus), itu dianggap bisnis gagal.

Nah, warung mie instan itu menunjukkan tingkat pragmatisme yang luas biasa. Maksudnya, pragmatisme halal. Nah, di sisi ini saya memuji bisnis itu dan mengagumi kepintaran para perintisnya. Menurut saya, mereka adalah pebisnis-pebisnis jempolan.

Sisi apa saja yang membuat bisnis warung mie instan begitu menarik?

PERTAMA. Untuk membangun bisnis seperti itu tidak dibutuhkan modal besar; bahkan ia bisa dibuat dimana-mana, di tempat yang banyak orang berjalan kaki di sekitarnya.

KEDUA. Cara mengoperasikan bisnis itu sangat mudah, selama si penjual bisa memasak mie instan. Kalau tak bisa memasak, waduh kebangetan sekali. Orang datang memesan mie instan, lalu dibuatkan. Bisa ditambahkan sayur, telor, bawang goreng, atau kerupuk. Hanya begitu saja kok. Mudah kan.

KETIGA. Bisnis ini dijamin laku, karena orang Indonesia suka makan mie instan. Iya kan. Hah, sudahlah kita tak usah berdebat soal kegemaran orang kita dalam masalah ini.

KEEMPAT. Dari sisi harga menu, relatif murah. Satu mangkuk mie instan dengan tambahan sayur, telor, bawang goreng di Jakarta Timur ada yang seharga 5000 rupiah, 6000 rupiah. Malah ada yang lebih murah dari itu.

KELIMA. Bahan baku untuk menjalankan bisnis ini sangat mudah didapat. Seorang pedagang bisa membeli mie instan dalam kardus di grosir-grosir, agar untung usahanya lebih besar. Kalau ada supermarket atau pasar tradisional yang murah, itu juga bisa.

KEENAM. Dengan menu utama mie instan, bisa menjual pula jenis-jenis makanan-minuman lain, seperti gorengan, kerupuk, kacang goreng, aneka minuman instan, susu, kopi, jeruk hangat, dan seterusnya. Jadi satu menu utama bisa “narik” menu-menu lainnya.

KETUJUH. Sudah jadi tabiat orang Indonesia, atau umumnya orang Muslim, mereka suka duduk-duduk di warung kopi, sambil ngobrol, minum teh, dan seterusnya. Meskipun banyak restoran enak, banyak rumah makan padang, banyak food court, delivery order, dan lain-lain; tetap saja orang Indonesia butuh warung kopi. “Ingat itu!” (meminjam gaya Mario Teguh).

Dalam hal ini saya tidak menyarankan Anda untuk pada berlomba membuat warung mie instan, terutama kalau di tempat Anda sudah banyak warung-warung semacam itu. Tapi cobalah pahami konsep berpikir di balik bisnis itu, lalu terapkan kepada obyek-obyek bisnis yang lain. Ambil spiritnya, lalu kembangkan modelnya.

Tapi kalau di tempat Anda tidak ada warung mie instan dan Anda ingin menjalankan bisnis yang mudah dan meriah; ya pilihan membuka warung mie instan bisa dicoba. Tapi ada satu catatan perlu disampaikan: Kalau buka warung seperti itu, Anda harus konsisten dengan jadwal menjual; sekali Anda “ingkar jadwal” berpotensi ditinggalkan pembeli.

Baik, cukup sekian saja, semoga bermanfaat ya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abina Syakir).


[11]. Manajemen Bisnis dan “Sarang Burung”

Februari 19, 2013

Dalam bisnis, setidaknya ada 3 model manajemen, yaitu:

(A). Manajemen kapitalistik. Ia adalah manajemen yang lebih fokus untuk mencapai profit perusahaan. Dalam manajemen demikian perlakuan perusahaan kepada para karyawan cenderung tidak manusiawi. Para karyawan diposisikan seperti skrup-skrup mesin. Tetapi sisi baiknya, manajemen kapitalistik rata-rata memberikan kompensasi sepadan terhadap pengorbanan para karyawannya.

(B). Manajemen lembaga ruhani. Ia adalah manajemen yang penuh toleransi, tidak ada aturan ketat, tidak ada targetan-targetan. Para karyawan diperlakukan sangat baik, sesuai kepekaan perasaannya. Tetapi jeleknya manajemen seperti ini, ia tidak bisa memberi kompensasi materi yang baik. Kompensasinya tidak jelas, atau seikhlasnya. Kalau ada, diberikan; kalau tiada, cukup diberi imbalan “mohon maaf”.

Burung Membangun Sarang dengan Pertimbangan Ilmu.

Burung Membangun Sarang dengan Pertimbangan Ilmu.

(C). Manajemen kombinasi. Ia adalah manajemen yang berusaha memadukan nilai-nilai pada manajemen kapitalistik dan lembaga ruhani. Sisi terbaiknya, ketika dalam manajemen itu setiap karyawan diberi beban tugas/tanggung-jawab seringan dalam lembaga ruhani, tetapi mereka diberi kompensasi semahal dalam manajemen kapitalistik. Sisi terburuknya, ketika dalam manajemen itu setiap karyawan diberi tugas seberat manajemen kapitalistik, tetapi diberi imbalan semurah manajemen lembaga ruhani. Untuk kondisi terakhir, lebih tepat disebut “manajemen dajjal”.

Lalu di antara pilihan-pilihan model manajemen itu, mana yang terbaik?

Untuk mencari format manajemen terbaik, kita bisa belajar dari burung ketika mereka membuat sarang. Di balik teknologi burung dalam membuat sarang, terdapat ibrah manajemen sangat berharga. Di sisi kita sebutkan beberapa hikmah yang sangat menarik itu.

Pertama, burung ketika membuat sarang selalu dekat dengan sumber air dan makanan. Coba perhatikan, sarang burung selalu dekat dengan potensi makanannya. Secara bisnis, seorang Muslim ketika membuka usaha, bukalah di tempat-tempat yang dekat dengan sumber profit. Jangan menjauhi sumber profit, sebab roda perputaran bisnis bisa lambat atau berhenti.

Kedua, burung ketika membuat sarang selalu memikirkan faktor keselamatan sarangnya. Kalau Anda perhatikan, burung kadang membuat sarang di atas pucuk-pucuk daun padi. Sarang itu ditutupi oleh daun-daun padi yang segar (tetap tumbuh), sehingga tersamarkan dari pandangan hewan pemangsa atau manusia. Dalam bisnis juga begitu, seorang Muslim harus memikirkan faktor keamanan usahanya. Bagaimana caranya roda bisnis tetap jalan, tetapi aset-aset bisnis tidak dihancurkan orang lain. Burung saja memikirkan faktor keamanan, bagaimana dengan kita?

Ketiga, burung membangun sarang yang hangat bagi anak-anaknya. Begitu juga, pengusaha Muslim harus memberi kehangatan suasana bagi para karyawan dan anak-buahnya. Jangan menjadikan mereka seperti dalam “sarang penderitaan”. Pengusaha yang tidak mampu menghadirkan kehangatan bagi anak buahnya, dia tidak layak berbisnis.

Keempat, burung membangun sarang adalah untuk melahirkan generasi burung yang baru. Setiap pengusaha Muslim, dimanapun mereka mendirikan usaha, jadikan kesempatan itu untuk melahirkan generasi baru yang lebih baik. Generasi ini bisa dari keluarganya sendiri, atau dari kalangan kaum Muslimin secara umum.

Kelima, burung tidak putus asa jika suatu saat sarangnya diobrak-abrik oleh musuh. Burung akan berusaha membuat sarang baru, berusaha beranak-pinak lagi, dan melupakan yang sudah-sudah. Jika seorang pebisnis Muslim ditipu, dikadali, dihancurkan bisnisnya; tidak membuat dia putus asa, dia kan terus berusaha, bangkit, dan melakukan evaluasi. Jangan karena kejahatan lalu kita berhenti berusaha; tetapi teruslah berbuat, berkarya, dan memberi semampunya.

Belajarlah dari burung, untuk memperbaiki bisnismu, memperbaiki manajemenmu, memperbaiki karya usahamu! Dan tentu saja, lupakan “manajemen dajjal”!


[10]. Harta Umat dan Eksistensi Agama

Februari 17, 2013

Peran terpenting harta benda, selain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, adalah untuk menjaga eksistensi agama. Dengan bekal harta, kaum Muslimin bisa mendirikan masjid, membuat pakaian yang memenuhi standar Syariat, membuat rumah dan bangunan sebagai tempat hunian, membiayai proses belajar-mengajar, menyantuni fakir-miskin dan yatim-piatu, membantu para pemuda yang mau menikah, membantu anak-anak terlantar, membantu korban bencana alam, dan seterusnya. Banyak sekali amal-amal kebaikan bisa dilakukan, dengan sarana harta.

Sejak zaman awal Islam, harta sudah banyak digunakan untuk membantu kaum Muslimin yang fakir-miskin, menyelamatkan budak-budak Muslim dari tuannya, membiayai hijrah, membiayai kehidupan saat mengalami boikot ekonomi, untuk membiayai perdagangan (bisnis), dst. Ibaratnya, dimana ada dinamika kehidupan umat, disana harta-benda dibutuhkan.

Tetapi kemudian persepsi terhadap harta ini jauh menyimpang dari koridor Syariat. Sebagian orang mencari harta-benda semata untuk konsumsi pribadi, menaikkan gengsi sosial, dan memenuhi syahwat hedonisme. Tetapi ada juga yang anti-pati kepada harta, karena ia dianggap sebagai fitnah kehidupan dunia; harus dijauhi sejauh-jauhnya. Kedua sikap ini keliru.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta untuk Menjaga Eksistensi Agama.

Harta itu seperti pisau. Kita membutuhkan pisau bukan karena materinya, tetapi karena manfaatnya (yaitu untuk mengiris, memotong, memangkas, membelah, dll). Harta benda itu perlu dikelola, dikembangkan, diregulasi, untuk menghasilkan manfaat sebaik-baiknya bagi kehidupan kaum Muslimin. Tetapi tidak perlu juga menumpuk harta, membuang-buang harta untuk kemewahan, serta menghabiskan harta demi kesenangan sempit.

Seorang Muslim boleh hidup dalam kekurangan harta; jika seperti itu yang dia inginkan. Tetapi ummat Islam, sebagai komunitas kolektif, tidak boleh jatuh fakir-miskin; sebab jika itu terjadi, ia akan membuka pintu-pintu penderitaan hidup yang luas. Harus diingat, kemiskinan atau kefakiran, termasuk kondisi sosial yang ingin diberantas oleh Islam, melalui instrumen Zakat.

Misalnya, ketika tidak ada Muslim yang bisa membuat pabrik-pabrik, maka kaum Muslimin akan berduyun-duyun bekerja di pabrik milik non Muslim; lalu mereka dipaksa mengikuti aturan yang tidak Islami, dipaksa meninggalkan shalat, dipaksa makan makanan haram. Ketika tidak ada pedagang Muslim, maka kaum Muslimin akan menyerahkan transaksi dagangnya kepada orang lain; kemudian mereka terbawa-bawa cara berdagang bathil dan memperdagangkan barang haram. Ketika tidak ada Muslim yang mendirikan klinik, maka kaum wanita Muslimin saat berobat mereka membuka aurat di depan dokter-dokter non Muslim, bahkan melahirkan di tangan mereka. Ketika kemiskinan merajalela, maka kaum Muslimin melakukan kemusyrikan, melakukan kejahatan, melakukan penipuan, terjerumus ribawi, bahkan menjadi murtad (na’udzubillah min dzalik) karena godaan harta. Lihatlah semua ini, bahwa kelemahan dalam urusan harta-benda, membuka banyak kerusakan agama.

Maka ummat Islam harus memikirkan aset-aset ekonomi miliknya, dalam rangka menjaga eksistensi agamanya. Tanpa dukungan harta-benda, agama ini dalam bahaya. Sebaliknya, jika ummat Islam memiliki bekal harta-benda yang kuat, lalu memanfaatkannya untuk menjaga eksistensi agama, insya Allah ada harapan keterpeliharaan agama Allah.

Jagalah harta-bendamu, sebab ia berguna untuk menjaga agamamu!


WARNING: Awas Krisis Moneter Jilid 2 !!!

September 13, 2012

Berikut ini sebuah tulisan berjudul: “CIDES: Defisit Ganda Tanda Awal Krisis.” Dimuat di Republika, pada 12 September 2012, hlm. 1. Tulisan ini membahas isu Krisis Moneter yang kemungkinan akan melanda Indonesia lagi. Disini kami kutipkan sebagian isi tulisan tersebut:

________________________________________________________________________

JAKARTA. Sinyal krisis moneter kembali menyala. Center for Information and Development Studies (CIDES), meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mewaspadai defisit ganda (defisit neraca perdagangan dan defisit neraca pembayaran) yang tengah berlangsung.

Peneliti CIDES, Umar Juoro, mengatakan, defisit ganda 14 tahun lalu menjadi gejala awal krisis ekonomi yang memorak-porandakan Asia Tenggara. “Ketika itu defisit neraca berjalan kita 2 %, dan Thailand 3 %,” kata Umar dalam diskusi di Jakarta, Selasa (11/9).

Menurut Umar, gejala yang bermula dari krisis keuangan itu, digunakan pelaku pasar modal untuk menghantam. “Begitu ada ketidak-seimbangan, orang akan menggunakan itu untuk menghantam.”

Padahal, Umar menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia saat itu (tahun 1997 –edt.) relatif kuat. Namun, banyaknya utang jangka pendek swasta menyeret fundamental ekonomi jadi goyah. Pada triwulan ke-3 tahun 2012, CIDES memprediksi neraca pembayaran tetap defisit. Alasannya, perlambatan ekonomi di negara tujuan ekspor Indonesia, seperti Cina.

Dengan kondisi ekspor melambat, CIDES menyatakan sisi impor menunjukkan angka besar. Impor barang non migas, seperti besi baja dan alat elektronik, masih cukup besar. Ini membuat hingga trimuwan ke-2 tahun 2012, neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit 2,8 miliar dolar AS. Surplus transaksi modal dan finansial tak mampu mengompensasi defisit ini.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sempat terjadi penurunan defisit neraca perdagangan yang cukup besar, pada Juli 2012 dari 1,3 miliar dolar AS (Juni) menjadi 176,5 juta dolar AS (Juli). Tapi penurunan itu ditutupi oleh penarikan dana asing (capital outflow) pada Agustus sebesar 410 miliar dolar AS.

Menurut Umar, para investor menarik dana dengan alasan mencari selamat dan mempertimbangkan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari waktu ke waktu. Grafik dolar AS dari Bank Indonesia menunjukkan, sejak awal tahun ini nilai tukar rupiah secara bertahap terus melemah terhadap dolar, menuju level Rp. 9.700 (per dolar-nya –edt.).

__________________________________________________________________________________________________

Pembacaan: Defisit neraca pembayaran, maksudnya pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaan. Sedangkan defisit neraca perdagangan, maksudnya nilai impor lebih besar dari ekspor. Kalau pengeluaran pemerintah lebih besar dari pendapat; itu tandanya pemerintah tidak punya uang. (Tidak heran, jika pemerintah SBY sedang mengusahakan pinjaman luar negeri baru, senilai Rp. 32 triliun). Mestinya, uang ini bisa diambil dari pajak, hasil ekspor, dan lainnya. Tetapi hasil ekspor juga negatif. Pemasukan tidak ada, pengeluaran melalui impor malah semakin tinggi. Ini tanda-tanda EKONOMI SAKIT parah.

Harusnya, anggaran pemerintah itu surplus; pemasukan lebih besar dari pengeluaran; agar ada dana cukup untuk melakukan berbagai upaya pembangunan dan pemberdayaan. Tetapi dalam artikel di atas, nilai defisit ekspor-impor bisa mencapai 1,3 miliar dolar. Kemudian, hal itu ditambah lagi dengan kaburnya dana investasi asing keluar negeri, senilai 410 miliar dolar (atau sekitar 3977 triliun rupiah). Kalau benar data ini, berarti telah terjadi outflow (kaburnya modal) sangat besar sekali.

Kaum Muslimin di Indonesia harus hati-hati dengan kenyataan seperti ini. Bukan satu dua yang mengingatkan tentang bahaya Krisis Moneter seperti tahun 1997 lalu. Banyaknya kasus kerusuhan, kekerasan, terorisme, dan lainnya pada akhir-akhir ini; semua ini tampaknya seperti sebuah UPAYA PENGALIHAN dari ancaman krisis ekonomi ke depan. Otak bangsa Indonesia kini sedang disibukkan oleh berita-berita seputar kerusuhan, konflik agama, konflik agraria, juga terorisme; sehingga nanti tahu-tahu sudah terjadi krisis moneter jilid 2, sementara kita tidak siap apa-apa.

Lihatlah tanda-tandanya! China sedang bersiap meluncurkan seri mata uang emas; karena mereka khawatir uang kertas ini bisa “mati mendadak” di tengah jalan. Amerika sedang berusaha menempatkan sekitar 2500 marinir di Australia; sebagai jaga-jaga sekaligus ancaman bagi China agar mereka tidak membidik kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sebagai sasaran empuk ekspansi bisnisnya. Saudi kini sedang terus memperkuat militernya dengan berbelanja senjata-senjata baru; karena mereka merasa sedang ada ancaman kuat yang mengancam di Timur Tengah. Adanya film “2012” jangan dianggap sebagai hiburan semata; ia adalah icon tanda bergulirnya suatu perubahan besar yang sedang direncanakan. Berhati-hatilah wahai Muslimin, hati-hatilah wahai Indonesia.

Krisis moneter dan dampak-dampak turunannya sangat besar pengaruhnya dalam menghancurkan kekuatan agama dan ekonomi bangsa Indonesia. Jika krisis itu terjadi lagi, alamat lebih suram masa depan kaum Muslimin di negeri ini. Nas’alullah al ‘afiyah fid dini wad dunya wal akhirah. []


Sebuah Fakta Besar: Tirani Ekonomi di Indonesia!

Juli 2, 2012

Baru-baru ini saya membaca artikel menarik, di Republika, 29 Juni 2012. Judulnya, “Sebrutal Film Too Big to Fail“, yang ditulis Stevy Maradona. Tulisan ini ringan, tapi menarik. Saya coba kutip bagian akhir tulisan, dan menurut saya disana intinya.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tahun 2012, jumlah rekening yang memiliki dana lebih dari Rp. 5 miliar, hanya 58.400 dari total 101 juta rekening. Lima puluhan ribu rekening ini menguasai uang Rp. 1.215 triliun dari total simpanan bank nasional sebesar Rp. 2.879 triliun. Brutal! (Republika, 29 Juni 2012).

CARA MEMBACA DATA INI

(=) LPS itu lembaga yang menalangi keungan Bank Century itu lho. Ia resmi lembaga negara. Ia secara berkala mendapat laporan seputar lalu-lintas uang yang beredar di rekening nasabah bank.

(=) Data di atas dibedakan, antara penabung yang uangnya di bawah 5 miliar, dan penabung yang uangnya di atas 5 miliar.

(=) Jumlah penabung yang uangnya di atas 5 miliar, sejumlah 58.400 penabung (rekening) dari 101 juta rekening. Atau sekitar = 0,057 persen (tidak mencapai angka 0,1 %).

(=) Rekening sejumlah 0,057 % itu menguasai dana simpanan bank sebanyak Rp. 1.215 triliun (seribu dua ratus lima belas triliun rupiah). Dari total simpanan bank Rp. 2879 triliun (dua ribu delapan ratus tujuh puluh sembilan triliun rupiah). Atau menguasai sekitar 42 % dana simpanan bank.

(=) Kesimpulan: rekening sejumlah 0.057 % menguasai 42 % dana simpanan bank. Inilah yang oleh Stevy Maradona disebut: brutal!

KOMENTAR

Data dari LPS itu sifatnya resmi, untuk periode tahun 2012. Ia menggambarkan realitas KEZHALIMAN EKONOMI di negeri Indonesia ini. Segelintir orang menguasai dana sangat besar (hampir setengah dari dana simpanan bank nasional). Kalau orang-orang ini tidak nasionalis, mereka sewaktu-waktu bisa kabur dari Indonesia sambil membawa dananya.

Kalau 42 % dana bank ditarik serentak oleh penabungnya, akan terjadi KRISIS MONETER jilid 2 seperti tahun 1997 lalu. Bank-bank akan kolaps, LPS tak mampu memberi jaminan karena uangnya tidak cukup. Karena bank-bank pada kolaps, akhirnya muncul lagi KRISIS EKONOMI jilid 2. Ini sangat berbahaya wahai Bapak, Ibu, Mas dan Mbak!Berhati-hatilah!

Itulah yang kita sebut TIRANI EKONOMI, segelintir manusia bisa mengontrol ekonomi nasional. Hitam putih ekonomi kita, dipercayakan kepada “nasionalisme” para penabung di atas 5 miliar itu. Anda percaya dengan nasionalisme mereka? Ya, entahlah. Saya sekedar mengingatkan saja!

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa li sa’iril muslimin.

Mine.


Belajar dari Kasus Thamrin City Tanah Abang

Juni 13, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Beberapa waktu lalu, situas voa-islam.com memuat beberapa artikel tentang persengketaan bisnis antara para pedagang Muslim di Thamrin City, Lantai 1 Waduk Melatik, Kebon Kacang, Tanah Abang; dengan pengelola pasar itu, PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK). Beritanya dapat dibaca di beberapa tulisan ini: 20 Pedagang Muslim Tanah Abang Dijahar Preman BayaranKH. Fikri Bareno: Jangan Sampai Memunculkan Kerusuhan SARA; Pedagang Muslim Dizhalimi Kaum Bermata Sipit.

Masalah seperti ini sangat penting dipahami kaum Muslimin, sebab ia bisa menuntun ke arah pemahaman tentang sebab-sebab kekalahan kaum Muslimin dalam pertaruang ekonomi-bisnis selama ini, di Indonesia. Apa yang dialami para pedagang Muslim di Thamrin City, Tanah Abang itu, bukan kenyataan baru. Ia terulang berkali-kali, bertahun-tahun, bahkan seperti menjadi “tradisi kekalahan” kita dalam bisnis.

Harta Adalah Amanah ALLAH Ta'ala. Jagalah Ia dengan Jiwa Ragamu.

Jika selama ini Anda bertanya: “Mengapa sih kaum Muslimin miskin? Mengapa sih aset ekonomi lebih banyak dikuasai oleh negara, etnis China, non Muslim, dan asing? Mengapa sih kita tak berdaya dalam mengembangkan pilar ekonomi? Mengapa Ummat Islam lebih sibuk rebutan zakat, infak, sedekah, daripada sibuk membangun kekuatan bisnis? Mengapa adanya bank-bank Syariah, seperti tidak mengubah keadaan sama sekali? Mengapa sejak merdeka tahun 1945 kaum Muslimin tidak memiliki aset ekonomi yang berarti?” Dan lain-lain pertanyaan serupa itu.

Nah, dengan melihat kasus BENTURAN BISNIS antara pedagang Muslim Tanah Abang dan PT. Mitra Khatulistiwa (PT. MK) di atas; insya Allah kita akan bisa memahami pertanyaan-pertanyaan di atas. Tentunya, setelah kita menelaahnya secara dalam, obyektif, dan berdasarkan fakta-fakta.

Dalam kasus di atas, banyak fakta-fakta yang sifatnya menjadi pengulangan atas apa yang selama ini terus menimpa kaum Muslimin di bidang bisnis. Hal itu bisa dianggap sebagai realitas DESTRUKSI bisnis kaum Muslimin. Karena salah satu tujuan Syariat Islam ialah “Hifzhul Maal” (menjaga harta), maka kasus ini layak disimak dengan sangat jeli.

Coba perhatikan uraikan berikut ini…

[1]. Di mata kaum Muslimin Indonesia, harta dianggap sebagai fitnah kehidupan, sehingga harus dijauhi, dieliminasi, diremehkan sedemikian rupa. Padahal harta itu seperti pisau, siapa yang memegangnya sangat berkesempatan memanfaatkan pisau itu untuk kepentingan-kepentingannya. Kalau harta di tangan orang Mukmin, akan dimanfaatkan untuk kebajikan; kalau harta di tangan orang kafir, sangat mungkin dimanfaatkan untuk hal-hal yang merusak kehidupan Islam. Maka itu tak heran jika Nabi Saw mengusir Yahudi dari Madinah, sebab Yahudi menguasi aset ekonomi yang kuat. Kalau tidak diusir, kehidupan Islam di Madinah akan terus terancam.

[2]. Banyak pedagang/pebisnis Muslim menjalankan usaha dengan pemikiran yang ultra tradisional. Ini adalah corak pemikiran tradisional yang sangat ekstrem. Di mata para pedagang/pebisnis Muslim itu, berbisnis semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga. Singkat kata, hanya untuk: “Mencari makan demi anak-isteri.” Pikiran bisnis kita baru sebatas urusan “makan anak-isteri”. Orang lain sudah berpikiran untuk membuat wisata luar angkasa ke Mars, kita masih berkutat soal urusan “makan anak-isteri”. Mungkin, sampai menjelang Hari Kiamat nanti, masyarakat kita masih berpikiran seperti itu. Na’udzubillah min dzalik. SEHARUSNYA: Saat berbicara tentang bisnis, kita juga bicara tentang eksistensi Islam dan Ummat di masa 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, 50 tahun, bahkan 100 tahun ke depan. Ya, kalau otak kita hanya berhenti di urusan “makan-minum”, ya derajat hidup kita tak jauh dari sifat hewaniyah.

[3]. Dalam urusan bisnis, Ummat Islam seringkali hanya berpikir untuk MENCARI, MENCARI, dan MENCARI harta belaka. Kita jarang berpikir untuk MENGEMBANGKAN dan MENJAGA harta tersebut. Terutama faktor MENJAGA, kaum Muslimin sangat lemah. Kalau diibaratkan seperti orang yang susah-payah mencari binatang buruan. Dengan segala cara mengejar buruan itu, hingga nyaris tewas. Tetapi setelah mendapat buruan, dengan seenaknya binatang-binatang itu dibiarkan lepas pergi, atau dibiarkan diambil orang lain. Jadi selama ini kita lebih banyak SEEKING harta-benda, dan lupa melakukan PROTECTING terhadap harta itu. Hal serupa terjadi dalam masalah barang-barang tambang, sungai, danau, gunung, hasil lautan, hutan, perkebunan, dll. Kita hanya mencari dan terus mencari, dan sangat lalai untuk melindungi harta itu. Padahal Rasul Saw pernah bersabda, “Wa man qutila duna maalihi wa huwa syahid” (siapa yang terbunuh karena membela hartanya, dia mati syahid).

[4]. Dalam banyak hal orang non Muslim lebih tampak “pandai bersyukur” atas harta-benda yang Allah berikan kepada mereka. Tanda “kesyukuran” itu, mereka amat sangat ketat dalam menjaga harta-benda yang mereka dapatkan. Berikut ini adalah cara-cara yang biasa dilakukan non Muslim untuk menjaga harta mereka: Menggunakan kunci berlapis-lapis pada toko atau outlet mereka; menyewa preman untuk menjaga keamanan harta mereka; membayar polisi, perwira militer, atau menyewa anggota militer desertir, untuk melindungi aset-aset mereka; menyewa pengacara top untuk menghadapi tuntutan-tuntutan hukum; menyimpan senjata api secara ilegal; membayar media massa untuk menurunkan berita yang menguntungkan mereka; membuat rumah dengan pagar sangat tinggi, pagar dialiri listrik, menempatkan satpam untuk menjaga rumah, memelihara anjing sejenis buldog untuk menjaga rumah; membuat rumah yang kuat dengan pintu berlapis-lapis; membuat brankas kekayaan yang sangat kuat dan aman; dll. Lihatlah, betapa “amat sangat bersyukurnya” mereka dalam soal menjaga harta. Tentu saja, kita sebagai Muslim tidak perlu paranoid seperti itu, tetapi mencontoh sikap orang non Muslim dalam “sikap syukur” mereka atas harta titipan Allah, adalah sangat penting. Kita tahu, orang non Muslim sedemikian paranoid, karena mereka memang memuja harta-benda. Tetapi kita juga perlu menjaga harta yang kita miliki, sebagai wujud SYUKUR kepada Rabbul ‘Alamiin. Allah kan sudah berfirman, “La in syakartum la-azidannakum wa la in kafartum, inna adzabi la syadiid.”

[5]. Jika kita mengalami kezhaliman, penindasan, atau penghancuran aset ekonomi, kita selalu bersikap pasrah, menyerah, bicara kekeluargaan, atau berlindung ke aparat hukum yang tak bisa melindungi. Itu cara umum yang biasa dilakukan para pebisnis Muslim, sejak dahulu. Ya, akhirnya sikap lembek ini ketahuan semua orang. Maka kemudian titik kelemahan itu benar-benar mereka eksploitasi. Para pebisnis hitam merasa memiliki senjata pamungkas kalau menghadapi para pebisnis Muslim. “Gampang. Ini masalah gampang. Kita tekan saja mereka, kita sewa preman, atau kita bawa anggota polisi. Nanti mereka juga akan ketakutan. Atau kalau mau, kita bawa masalah ini ke pengadilan, lalu kita sogok hakimnya. Kita minta supaya kasus ini dibuat berlarut-larut, sampai para pedagang Muslim itu bosan sendiri. Halah orang Indonesia inilah, gampang banget ditipu. Gampang banget. Hi hi hi…” Begitu logika berpikir para pebisnis hitam itu. Mereka amat sangat tahu kelemahan mental kita, dan sifat kita yang memang penakut.

[6]. Dimanapun juga, orang yang berhati lemah, bermental buruk, dan penakut, tidak akan memiliki WIBAWA. Karena tidak punya wibawa, ya terima saja nasib terus dikadali oleh orang-orang berhati jahat. Bagaimana tidak akan dikadali, wong sikap kita lebih buruk dari kadal-kadal di selokan itu? Identitas kita memang Muslim, sebagai kaum “Khairu Ummah”, tetapi mental kita seperti kadal yang sangat penakut. Kita tidak pernah memberikan corak perlawanan yang berarti setiap berhadapan dengan kaum zhalim. Kita justru sangat menikmati retorika seperti ini: “Sudahlah, sabar saja. Orang sabar disayangi Tuhan. Biarlah mereka zhalim, nanti mereka sendiri yang akan kena batunya. Sudahlah kita pasrah saja, rizki itu tak tertukar kok. Tuhan tidak salah memberi rizki.” Ketika Nabi Saw memberi petunjuk agar kita sangat menjaga harta-benda yang dimiliki, karena semua itu kelak akan ditanyakan oleh Allah di Akhirat; kita malah menghambur-hamburkan harta agar menjadi makanan empuk orang-orang zhalim. Ya begitulah…

[7]. Celakanya, ketika kita sangat sembrono dalam membiarkan harta-benda milik kita dikuasai orang lain; pada saat yang sama kita AMAT SANGAT PELIT (BAKHIL) kepada saudara sendiri, sesama Muslim. Ada saudaranya butuh bantuan, butuh dukungan, butuh perhatian; kita selalu memiliki alasan untuk menolak memberi bantuan. Seakan otak kita penuh dengan ide-ide KEBAKHILAN tingkat tinggi. Orang Yahudi saja mungkin tidak seekstrem itu. Inilah ironisnya, kepada kaum non Muslim kita berikan apa saja yang kita miliki; namun kepada sesama Muslim, yang jelas-jelas sangat membutuhkan, kita justru amat sangat KORET bin PELIT. Masya Allah.

Demikian tulisan sederhana ini disusun. Sejujurnya, kesengsaraan kita dalam soal bisnis-ekonomi, bukan karena kebuasan Soeharto, bukan karena kebuasan Chinese overseas, bukan karena kebuasan Aburizal Bakrie dan lainnya, bukan karena kebuasan Yahudi, Freeport, Exxon, Chevron, Carefour, Netsle, Danone, Unilever, dll. Bukan karena itu, tetapi karena kelemahan mental kita sendiri sebagai Muslim. Kalau mental kita kuat, tangguh, dan pemberani; mana mungkin orang lain akan berani berbuat macam-macam.

Kita selama ini berbangga sebagai Muslim yang disebut “Khairu Ummah”, tetapi mental kita sendiri seperti kadal, sehingga selalu dikadali oleh orang lain. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Pesan terakhir: “Bila engkau sungguh-sungguh mencari harta-benda, maka engkau juga harus sungguh-sungguh melindungi harta-bendamu; kalau perlu engkau korbankan jiwamu demi menjaga hartamu, agar tidak jatuh ke tangan orang-orang anti Islam; semua itu engkau lakukan, sebagai bentuk rasa syukurmu kepada Allah Ar Rahiim.”

Berbenahlah saudaraku. Disini ada nasib kita, nasib anak-cucu kita, dan nasib agama kita. Kepada siapa lagi Ummat ini hendak mengadukan duka-citanya, kalau bukan kepadamu dan kepada Rabbul A’la Dzul Jalali Wal Ikram?

Wallahu A’lam bisshawaab.

[Abinya Syakir].