Sikap Musdah dan Umi Kultsum!

Mei 31, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada berita menarik di eramuslim.com, tentang diskusi yang menghadirkan Musdah Mulia, di Makassar. Dalam debat itu Musdah dicecar oleh para mahasiswi Makassar dengan aneka gugatan. Beritanya bisa dibaca di artikel-artikel berikut ini: Musdah Ancam Mahasiswi Dipidanakan, Musdah Adalah Orang Amerika).

Intinya, Musdah merasa marah dan ingin menggugat mahasiswi yang bernama Umi Kultsum itu. Katanya, akan diadukan lantaran alasan pencemaran nama baik. Allahu Akbar, sebegitukah kualitas nalar Musdah?

Coba Anda perhatikan…

PERTAMA. Namanya forum diskusi, forum seminar, dan sebagainya. Jadi wajar saja ada yang menghujat, menggugat, protes, dan sebagainya. Wong, memang forumnya kondusif untuk itu. Kecuali kalau mahasiswi itu bicara di media, dia menjelek-jelekkan Musdah tanpa alasan. Itu baru bisa dipidanakan!

Betapa memprihatinkan nalar Musdah ini ketika hendak mengadukan seorang mahasiswi ke polisi karena pencemaran nama baik. Padahal forum yang ada disana forum diskusi, forum debat ilmiah. Apa Musdah tidak memahami istilah “kebebasan mimbar” di perguruan tinggi? Lalu, apa gunanya dong dia menyandang gelar profesor?

KEDUA. Musdah merasa dirinya dicemarkan nama baiknya oleh mahasiswi bernama Umi Kultsum itu. Lalu perhatikan ucapan Si Mudah yang saya kutip dari artikel di atas: “Hati-hati yah kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerja cuma menghina orang.”

Lihat kalimat yang di-bold di atas. Musdah katanya merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, dia mencemarkan nama baik media Sabili dan Suara Islam. Kedua media disebut, “Bukan bacaan kaum intelektual.” Mungkin maksud Musdah, yang disebut bacaan kaum intelektual itu adalah teori-teori Liberal yang dia anut selama ini. [Yang begini sih bukan intelektual, Musdah. Tetapi “lakum dinukum wa liya din”].

Lihatlah dengan jeli, satu sisi merasa dicemarkan nama baiknya. Tetapi saat yang sama, mencemarkan nama baik media-media Islam. Allahu Akbar!

KETIGA. Sangat memprihatinkan, Musdah hendak menuntut seorang mahasiswi karena melakukan pencemaran nama baik. Mahasiswi itu siapa, dan Musdah siapa? Apakah sebanding Musdah ingin mengadukan mahasiswi yang tentu saja masih sangat belia itu? Apakah Musdah begitu protektif, begitu otoriter, begitu paranoid?

Lalu bagaimana dengan klaim dia selama ini, bahwa dirinya kaum intelektual, maju, dewasa, bijak, terbuka, moderat, dll. Mana bukti ucapan itu? Mana bukti kedewasaan pemikiran Musdah ketika berhadapan dengan “anak kecil”, seorang mahasiswi Makassar itu? Sangat memilukan!!!

Akhirul kalam, kami sangat mendukung dilakukannya koreksi-koreksi kritis terhadap pemikiran kaum LIBERAL ini. Mereka merupakan tantangan yang nyata bagi kehidupan bangsa Indonesia dan Islam. Pembelaan terhadap ajaran Islam dari serangan pemikiran oleh kaum Liberal dan orientalis, merupakan  bagian dari JIHAD membela agama Allah Ta’ala.

Semoga Umi Kultsum tetap istiqamah dan tegar. Jangan galau oleh tekanan-tekanan. Dan semoga Prof. Musdah bisa menunjukkan bukti kedewasaan dan keintelektualan sikapnya. Berteori atau pencitraan, mudah. Tetapi bukti riil di lapangan kehidupan, tidak mudah Bu!

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Abinya Syakir.


Fitnah Kekafiran

Mei 27, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

ISTIQAMAH: Berpegang Tali Agama Allah!

Salah satu fitnah dalam kehidupan kaum Muslimin, ialah eksistensi kaum kufar yang selalu mengganggu, memfitnah, mengadu-domba, melemahkan, serta merusak kehidupan Ummat ini.

Fitnah-fitnah yang keluar dari amal-amal buruk kaum kufar tentu menjadi beban dan tantangan tidak ringan bagi hamba-hamba Allah yang beriman ikhlas kepada-Nya. Namun di sisi lain, amal-amal buruk kaum kufar itu menjadi sumber amal bagi kita. Tanpa adanya makar atau tipu daya kaum kufar, mungkin kita tak akan memiliki amal-amal berarti. Wallahu A’lam.

Dalam Al Qur’an, kaum kufar digambarkan dengan sangat jelas. Mereka adalah rendah, hina, tidak berakal, keji, serta penuh kelicikan. Gambaran semacam ini membuat kaum kufar bekerja sangat keras untuk membelokkan arah tafsir Al Qur’an ke gambaran-gambaran yang mereka inginkan. Nah, itulah gerakan Liberaliyah yang pada hakikatnya merupakan gerakan kekufuran, seperti gerakan misionaris Kristen, Ahmadiyyah, Freemasonry, Black Satanic, dll.

Berikut ini beberapa gambaran khas Al Qur’an seputar kekafiran dan para ahlinya:

Baca entri selengkapnya »


Antara Kekuasaan dan Al Haq

Mei 26, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada riwayat yang mengatakan, “Qulil haqqa wa lau kaana murran” (katakanlah yang haq, walaupun pahit resikonya). Ada yang menyebut riwayat ini dari Nabi Saw. Tetapi saya tidak tahu sejauhmana. Para ahli riwayat lebih berhak menelisik validitas riwayat ini. Namun kalimat ini memiliki makna yang dalam dan layak direnungkan.

Mengatakan kebenaran di jaman seperti saat ini, adalah sesuatu yang sulit. Di jaman kejayaan nilai-nilai Islam, manusia berlomba-lomba mengucapkan, menyebarkan, sekaligus melaksanakan kebenaran (al haq). Namun di jaman seperti kita ini, ketika nilai-nilai jahiliyyah merajalela dimana-mana (sejak dari istana negara sampai ke kamar-kamar pribadi di rumah), mengatakan kebenaran adalah sesuatu yang sangat sulit. Resikonya banyak.

Dan lebih besar lagi resikonya bagi siapa saja yang sedang menjadi penguasa urusan masyarakat. Misalnya, pejabat Presiden, Wakil Presiden, menteri-menteri, Ketua dan Anggota DPR, Ketua dan Anggota MPR, para Senator, para Gubernur, para Walikota, para Bupati, dan seterusnya. Para pejabat ini lebih “sariawan” lagi untuk mengucap tentang al haq.

Baru-baru ini muncul peristiwa menarik di Cirebon. Singkat kata, isteri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heriyawan, yaitu Hj. Netty, beliau menghadiri roadshow “Gerakan Membaca” di Gedung Korpri, Cirebon. Saat acara itu, dipentaskan seni tradisional Cirebon, yaitu Sintren Kathir. Dalam seni itu ada tarian seorang perempuan, ada beberapa laki-laki dengan memakai kostum hitam-hitam di sekitarnya, ada peran dukun dan membakar kemenyan. Tentu saja diiringi musik tradisional Cirebon.

Membela Al Haq: Seperti Mengunyah Cabe Tanpa Apapun

Konon, ketika akan berlangsung acara saweran (melempar uang ke penari), terlontar ucapan Ny. Netty (isteri Gubernur Jawa Barat), bahwa seni sintren itu musyrik. Ucapan ini segera menyebar ke media-media. Pikiran Rakyat memberitakan kasus ini beberapa hari berturut-turut. Bupati Cirebon sangat marah dengan ucapan Ny. Netty itu. Ucapan itu dianggap melecehkan seni tradisional Cirebon. Dan sangat konyolnya, Bupati Cirebon Dedi Supardi sampai mengatakan: “Kalau tidak mau meminta maaf, kami akan berjuang memisahkan diri dari Jawa Barat, dan hal ini berarti peristiwa Kasultanan Cirebon memisahkan diri dari Kerajaan Padjajaran pada tahun 529 tahun lalu.” Itu diucapkan dengan nada gemetar. (Sumber: Masyarakat Cirebon Tuntut Isteri Gubernur Jabar Minta Maaf).

Namun kemudian, Ny. Netty mengklarifikasi ucapannya. Katanya, selama acara itu dia tidak mengucapkan kata-kata “musyrik” sama sekali. Bahkan kemudian diperlihatkan video acara itu, bahwa Ny. Netty mengikuti acara itu dengan tertib sampai selesai. (Sumber: Ny. Netty Bantah Mengatakan Sintren Musyrik).

Selanjutnya mari kita melihat masalah ini secara jujur dan obyektif. Tentu saja mari kita lihat dengan perspektif seorang Muslim. Bukan perspektif manusia-manusia jahiliyyah.

PERTAMA, harus dibedakan antara sebutan “musyrik” dan “syirik”. Syirik adalah perbuatan yang mengandung kemusyrikan (menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya), baik sedikit atau banyak. Sedangkan musyrik adalah orang-orang yang menjadi kafir karena meyakini, melakukan, atau biasa melaksanakan perbuatan syirik.

Harus dicatat dengan baik, tidak setiap pelaku perbuatan syirik, lalu divonis musyrik. Musyrik itu vonis kekafiran. Ia diberikan kepada orang-orang kafir di luar Islam, atau orang beridentitas Islam tetapi keyakinan dan perbuatannya telah keluar dari akidah Islam. Nabi Saw menyebut perbuatan riya’ sebagai syirkul asghar (syirik kecil). Nah, kalau setiap pelaku perbuatan syirik (misalnya melakukan riya’) lalu disebut musyrik, wah bisa hancur lebur urusan agama ini. Wal ‘iyadzubillah.

Masyarakat selama ini sering salah dalam membedakan kata “musyrik” dan “syirik”. Perbuatan syirik, mereka sebut musyrik; sedangkan pelaku kemusyrikan yang telah keluar dari Islam disebut syirik. Ada kerancuan dalam pemakaian kata ini.

KEDUA, seni Sintren yang di dalamnya ada dukun, ada pembakaran kemenyan, ada keyakinan-keyakinan syirik yang tidak sesuai dengan Syariat Islam, ya tidak ragu lagi untuk disebut sebagai seni syirik. Tidak usah ragu lagi. Sama juga seperti tradisi larung, memuja ratu pantai selatan, memuja dewi sri, memuja senjata keramat, dll. Semua itu juga perbuatan syirik. Di antara perbuatan itu ada yang bisa mengeluarkan manusia dari Islam. Ada juga yang sifatnya kabair, dosa besar.

Ya, kita jangan ragu-ragu untuk menyebut seni yang menyalahi prinsip-prinsip tauhid sebagai SYIRIK. Tetapi jangan pula langsung menyebut MUSYRIK. Sebab sebutan musyrik itu konsekuensinya keluar dari Islam. Dalam buku-buku akidah sering disebutkan, bahwa perbuatan syirik merupakan pembatal keimanan nomer satu.

Tidak usah takut dengan ancaman siapapun, dalam rangka membela kebenaran. Andai kita kehilangan kekuasaan karena membela kebenaran, kita tetap di atas jalan Allah. Sedangkan pembela-pembela kemusyrikan itu, mereka di atas kebathilan. Dalam kaitan ini, sangat layak diucapkan kalimat di atas, “Qulil haqqa walau kaana murran!

KETIGA, adalah suatu perbuatan manusia tidak bermoral, ketika seorang pemimpin diingatkan tentang perbuatan syirik, dia malah mengancam akan memisahkan diri dari saudaranya. Apakah sedemikian hebat “jihad” pemimpin seperti itu dalam mendukung, melaksanakan, dan melestarikan nilai-nilai kesyirikan? Na’udzubillah min dzalik.

Semoga pemimpin arogan seperti Bupati Cirebon itu segera sadar diri. Kalau memang dia ksatria, dia bisa menampilkan kesenian lain yang lebih baik, lebih luhur, dan tidak mengundang aneka kontroversi. Apakah Kota Cirebon tak memiliki lagi warisan budaya-budaya yang baik? Toh, sejujurnya batik asal Cirebon telah dikagumi banyak kalangan. Begitu pula kuliner khas Cirebon, seperti Empal Genthong dan lainnya. Budaya seperti itu lebih layak ditonjolkan daripada seni-seni aneh yang mematikan hati nurani.

KEEMPAT, seruan bagi para ulama, ustadz, dai, muballigh, juga organisasi Islam. Hayo angkat suara kalian! Jangan diam saja! Katakan dengan jelas dan lugas, bahwa seni semacam Sintren itu mengandung perbuatan syirik yang dilarang dalam Islam. Hayo angkat suara kalian, wahai orang-orang yang paham Islam! Gunakan mimbar dan majlis kalian untuk membela Tauhid, dan menginakan kesyirikan. Demi Allah, amal seperti ini tidak akan merugikan, bahkan akan memuliakan hidup Ummat!

Wahai tokoh dan organisasi Islam, khususnya di kalangan Jawa Barat, angkat suara kalian! Jangan diam saja! Tunaikan amar makruf nahi munkar, sebagai amanah Allah Ta’ala yang harus ditunaikan. Ingatlah selalu pesan Allah Ta’ala: “Ya aiyuhal ladzina amana laa takhunullaha wa Rasula wa takhunu amanatikum wa antum ta’lamuun” (Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan mengkhianati amanah yang ditugaskan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui. Al Anfaal, 27).

KELIMA, andaikan isteri Gubernur Jabar, Ny. Netty, menyebut seni Sintren mengandung kesyirikan, itu adalah perkataan yang benar dan layak didukung. Betapa tidak, dalam seni itu ada dukun, bakar kemenyan, serta keyakinan-keyakinan bathil yang tidak sesuai dengan akidah Islamiyyah. Tetapi, andaikan beliau kemudian mengklarifikasi bahwa dirinya tak pernah mengucapkan kata-kata “syirik” terhadap seni Sintren; ya apa hendak dikata. Hal itu bisa menggambarkan sikap konsistensi yang bersangkutan kepada nilai-nilai akidah Islam.

Inilah salah satu contoh, betapa tidak mudah membela al haq di atas sebuah fasilitas kekuasaan. Kalau kita konsisten, maka banyak pihak (elit politik atau pendukungnya) akan menyerang konsistensi kita. Paling buruknya, kekuasaan yang kita pegang akan jatuh. Jika kekuasaan hilang, mantan pejabat itu tentu akan dicaci-maki oleh partai pendukungnya. “Kenapa Lu hilangkan kekuasaan kita disana? Kenapa Lu terlalu bodoh ngurusi masalah-masalah kecil begituan? Kenapa Lu berlagak sok alim dengan pura-pura membela Tauhid? Tauhid itu apa sih? Cuma produk politik kan? Tujuan hakiki kita, ya kekuasaan itu sendiri.”

Inilah beda tegas antara Politik Islami dengan politik jahiliyyah. Politik Islami berorientasi menuju penghambaan kepada Allah Ta’ala; sedangkan politik jahiliyyah berorientasi kepada kekuasaan. Beda konsep akidahnya, tentu beda pula hasilnya. Di atas politik Islami banyak berkahnya, sedang di atas politik jahiliyyah banyak musibahnya (seperti yang selama ini sering melanda kehidupan masyarakat Jawa Barat, dari pusat kota Bandung sampai ke pinggir-pinggir pantai di pelosok sana).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.


Belajar dari Episode Hidup Ustadzah Yoyoh

Mei 24, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Seperti sudah menjadi berita di berbagai media. Hari Sabtu, 21 Mei 2011 lalu, Ustadzah Yoyoh Yusroh meninggal dunia. Beliau meninggal dalam kecelakaan di tol Palikanci Cirebon, sekitar dini hari 02.30. Beliau meninggal setelah menghadiri wisuda putra pertamanya, Umar Al Faruq, yang diwisuda di UGM Yogyakarta.

Sebagai seorang Muslim, apalagi tahu kebaikan sosok yang meninggal, sangat layak kita mengucap: “Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fu anha.” Amin. Adapun bagi kawan-kawan yang anti kepada orang parlemen, ya mereka memiliki hak untuk bersikap. Saya pribadi menilai Ustadzah Yoyoh lebih dari posisi beliau di parlemen. Kita melihatnya sebagai sosok da’iyah yang komitmen mendakwahkan nilai-nilai Islam. Khususnya, di kalangan akhwat muslimat.

Daun Pun Berguguran di Jalan Ini...

Bagi generasi muda Muslim saat ini mungkin mereka kurang tahu siapa sosok Ustadzah Yoyoh Yusrah -semoga Allah merahmatinya-. Beliau adalah perintis dakwah Islam dari kalangan Tarbiyah (yang kini menjelma menjadi PKS). Beliau wanita yang memiliki dedikasi tinggi dalam dakwah di kalangan Muslimah.

Kebaikan Bunda Yoyoh yang banyak disebut-sebut kalangan dakwah, ialah beliau memiliki anak banyak. Kalau tidak salah sampai 13 orang (mohon koreksi kalau salah). Di jaman kiwari, memiliki anak sebanyak itu merupakan PRESTASI luar biasa. Hebatnya, Ustadzah Yoyoh tidak meninggalkan kodratnya sebagai wanita atau ibu rumah-tangga. Sambil dakwah, sambil terus mendidik anak-anaknya dengan ajaran Syakhsyiyah Islamiyyah.

Kalau dulu kalangan Tarbiyah memiliki seorang Syaikh, yaitu Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Maka bisa dikatakan, Bu Yoyoh adalah seorang Syaikhah (syaikh wanita) di kalangan Tarbiyah.

Namun, wafatnya Bu Yoyoh dalam kecelakaan di ruas tol Palikanci Cirebon menjadi ending yang bisa dikatakan tragis. Beliau meninggal justru setelah menghadiri wisuda anak pertamanya di UGM. Ibaratnya, beliau wafat ketika hendak memetik buah dari proses didikannya terhadap putranya. Baru juga buah itu dipetik, dan hendak dihidangkan; Malakat Maut sudah menjemputnya. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Dan menariknya, dari sekian banyak penumpang kendaraan, hanya Bu Yoyoh Yusroh sendiri yang mengalami kecelakaan berat sampai meninggal. Sopir kendaraan sendiri dan orang lain, tidak mengalami luka-luka yang sedemikian serius. Itu artinya, ajal Bunda Yoyoh sudah sampai di titik itu. Laa yasta’khiruhu sa’atan wa laa yastaqdimuhu (tidak bisa diakhirkan sedikit pun, dan tidak pula bisa dimajukan sedikit pun).

Dari kejadian seperti ini bisa saja disimpulkan: Betapa sensitif-nya lingkungan tempat Bunda Yoyoh beraktivitas selama ini. Sosok sebaik beliau, dengan segala reputasi dan kontribusinya dalam dakwah Islam, sampai harus meninggal sedemikian rupa. Tidakkah ada dampak keberkahan itu, sehingga seseorang yang telah banyak berjasa, diberi proses wafat yang lebih baik? Wafat saat hendak memetik buah didikannya, selama puluhan tahun, dengan cara yang begitu memilukan.

Jadi teringat sebuah riwayat dari Nabi Saw, bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu secara tiba-tiba dengan sekali cabut. Tetapi Allah akan mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama-ulama. Jika ulama sudah tidak ada, manusia akan bertanya kepada orang-orang bodoh, lalu mereka pun memberi fatwa yang isinya: sesat dan menyesatkan.

Keadaan suatu komunitas, kelompok, jamaah, atau apa saja; juga berlaku prinsip seperti itu. Alangkah malang, kalau suatu kelompok semakin DISUCIKAN dari orang-orang yang baik, lurus, shalih, dan istiqamah. Semakin suci dari kebaikan-kebaikan, artinya semakin makmur dengan sebaliknya.

Semoga mushibah yang menimpa Ustadzah Yoyoh Yusroh menjadi nasehat bagi siapapun (termasuk diriku sendiri), yang masih berhajat kepada kebaikan. Semoga DISANA segera ada perbaikan dan reformasi komitmen keimanan, agar tersebar kemaslahatan umum di tengah-tengah Ummat ini. Allahumma amin. Ya, mau apalagi kita, selain mengisi sisa kehidupan dengan kebajikan? Bila tidak, ya entah apalagi yang bisa diharapkan? Wallahul Musta’an wa ilahi Mustaka.

“Turut Berduka Atas Wafatnya Seorang Da’iyyah”

AM. Waskito.


Kembalilah Ke Jatidiri Partai Islam (Suara Seorang Simpatisan PKS)

Mei 23, 2011

 

Merindukan Partai Sejati…

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini ada sebuah komentar menarik dari seorang pembaca blog. Beliau yang menamakan dirinya sebagai “Simpatisan PKS” itu dengan amat sangat berharap, agar PKS kembali ke jatidiri sebagai Partai Islam, Partai Dakwah, Partai Kader, yang lebih komitmen kepada amar makruf nahi munkar. Bukan partai terbuka, atau partai nasioalis seperti saat ini.

Karena pentingnya masukan ini, dan sebagai bagian dari upaya memperbaiki keadaan Ummat, komentar itu saya muat dalam sebuah tulisan tersendiri. Ada sedikit perbaikan-perbaikan redaksional, tanpa keluar dari substansi tulisan yang dituju oleh penulisnya. Silakan disimak dan direnungkan!

Karena 3 orang adik saya anggota PKS maka kami ( 11 bersaudara ) bersama suami, istri dan anak-anak kami yg telah dewasa, semuanya menjadi simpatisan PKS.  Berbagai stiker dan atribut PKS kami tempel di jendela dan pintu rumah sebagai dukungan nyata kami kepada PKS. Namun belakangan ini kami terkejut dengan tingkah polah elit PKS yg memalukan dan semakin jauh dari harapan….

Sebut saja sikap berang Fahri Hamzah di TV ketika SBY memilih Boediono sbg Wapres-nya dan bukan kader PKS. Terlihat jelas sikap gila jabatan dan kekuasaan elit PKS disitu !!!, Lebih miris lagi manakala dalam berpolitik ternyata PKS tidak lagi berpegang kepada amar ma’ruf nahi munkar, melainkan kepada perhitungan untung rugi yang didapat melalui lobi-lobi politik !!!

Dan yang paling mengejutkan adalah manuver politik yang dilakukan oleh Anis Matta dan Mahfudz Siddiq yang membelokan haluan partai dari partai islam (partai kader) menjadi pertai terbuka !!! Luar biasanya kedua orang ini membuka pintu partai untuk dua tujuan, yaitu mempersilahkan siapa saja (dari agama apapun ) masuk ke PKS sekaligus mempersilahkan kader (bahkan pendiri PKS) yang masih mengiginkan PKS sebagai partai dakwah, partai Islam, atau partai kader, untuk keluar melalui pintu tersebut dan membentuk partai baru. Mendapat tantangan ini, para deklarator PK yang ingin melihat PKS tetap sebagai partai dakwah pun beramai-ramai keluar dari PKS (yang dulu bernama PK ) itu….

Sebagai simpatisan, kami jelas kecewa dengan sikap elit  PKS yang lebih memilih orang luar yang tidak jelas akhlaknya dibanding para deklarator yang sudah jelas visi, misi dan tekadnya dalam menegakkan Dinul islam. Sebagai masukan bagi PKS, daya tarik PKS bagi kami adalah jati dirinya sbg partai dakwah, partai kader, dan satu-satunya partai di Indonesia yg berani menyatakan diri sbg partai Islam.

Kini setelah PKS jadi partai terbuka (nasionalis ), daya tarik itu sudah hilang, pupus, bak debu tertiup angin. Tak ada lagi daya tarik PKS yg dapat memikat hati kami dg dijadikannya PKS sbg partai terbuka, maka ia sudah tak ada beda sama sekali dg PDIP, GOLKAR, maupun Demokrat. Kalaupun ada bedanya maka itu hanya ada pada anggotanya dimana semua partai nasionalis itu anggotanya tahu kalau partainya adalah partai nasionalis; sedangkan anggota PKS tidak tahu kalau partai mereka sekarang adalah partai nasionalis juga; mereka tidak tahu kalau mereka sekarang layak disebut sbg Kaum Nasionalis !!!

Harapan kami sekeluarga, semoga PKS kembali ke jalan yg benar sbg Partai Dakwah, Partai Kader, atau Partai Islam. Dan jika harapan ini tidak terkabul, maka mohon maaf keluarga besar kami plus keluarga besar istri dan anak kami terpaksa mengucapkan….”Bye bye PKS!!!” Sekaligus mengucapkan selamat datang partai nasionalis baru yaitu PKS yg sekarang di percaturan politik tanah air. Angkatlah bendera Nasionalismemu tinggi-tinggi dg penuh kebanggaan dan jangan malu untuk mengucap, “Aku bangga dg Partai Nasionalis PKS ku !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”
Dan kami pun akan menyambut dg ucapan …” Selamat berjuang sendiri, wahai kaum Nasionalis !!!!!!”

BUAT SEMUA KADER “PKS”

Sebelum kami benar-benar meninggalkan PKS, ada baiknya kami sampaikan harapan terakhir kami ini, yaitu: “Jika PKS ingin mendapatkan kembali simpati dan suara kami di Pemilu yang akan datang , maka tak ada cara lain kecuali mengembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai Kader, atau Partai dakwah yang berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar berdasar Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Bukannya menimbang segala sesuatu berdasarkan perhitungan untung rugi melalui lobi-lobi politik seperti yg belakangan ini sering dilakukan oleh elite PKS dg begitu terbuka (bahkan telanjang) di mata kami para simpatisan PKS (yang bagi kader PKS sendiri mungkin tidak terlihat ).”

Sampaikan harapan kami ini kepada elite kalian!  Sampaikan kriteria partai yg akan kami pilih di Pemilu yg akan datang ini, yaitu PKS spt yg dulu, yg penuh pesona, yg tidak tergiur oleh harta, tahta dan jabatan…. Kami menginginkan kader yg santun tutur budi bahasanya (tidak spt Fahri Hamzah yg mengumbar emosi ketika SBY memilih Boediono jadi Wapres-nya ). Kami rindu PKS spt PK dulu…. idealis, ruhamma, Islami, santun, tidak gila jabatan !!! Kami rindu akan sikap kader PKS di tingkat paling bawah yg begitu sopan santun dan bersikap lemah lembut, jauh dari kalimat-kalimat kotor dan caci maki antar sesama muslim, apalagi sesama kader PKS.

Sekarang segalanya bergantung kepada sikap para kader PKS sendiri…. Jika tetap memerlukan dukungan keluarga besar kami dan keluarga besar suami dan istri kami, maka syaratnya adalah kembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai dakwah atau Partai Kader…. Tapi jika tidak memerlukan dukungan simpatisan dan hanya ingin mengeandalkan suara dari anggota atau kader PKS sendir maka monggoooo… Silahkan pertahankan PKS sebagai Partai terbuka alias Partai Nasionalis … dan dengan legowo kami pun akan dengan enteng mengucapkan…Bye Partai Nasionalis PKS…..
Sampaikan masukan ini kepada elite PKS yg sekarang memegang kendali Partai (banyak teman saya yg juga simpatisan PKS yg mengambil sikap seperti saya, maka jangan kaget jika PKS tetap ngotot jadi Partai Nasionalis suaranya akan jauh merosot, bahkan habis di Pemilu yg akan datang… Gak percaya ?? Monggooo, pertahankan saja PKS sbg Partai Nasionalis dan kita lihat buktinya di Pemilu mendatang…). [Selesai].

Dalam komentar di atas ada kalimat yang sangat penting direnungkan. “Jika tetap memerlukan dukungan keluarga besar kami dan keluarga besar suami dan istri kami, maka syaratnya adalah kembalikan PKS sbg Partai Islam, Partai dakwah atau Partai Kader….” Kalimat ini amat penting.

Kalau bicara politik secara riil, tentu jumlah dukungan dari sebuah keluarga, tidak mencukupi untuk memenangkan sebuah partai atau mengalahkannya. Karena untuk mendapat 1 kursi anggota DPR di suatu provinsi bisa dibutuhkan jumlah pemilih sekitar 500 ribuan. Sebuah jumlah yang tidak kecil.

Tapi di balik ungkapan itu ada suatu MAKNA yang sangat mengharukan, yaitu kerinduan hati sebuah keluarga Muslim kepada partai Islam, partai dakwah, yang komitmen dengan ajaran Islam dan amar makruf nahi munkar. Begitu besarnya kerinduan itu, sampai menjadikan dukungan keluarga sebagai “bargaining”. Siapa tahu akan dipedulikan oleh elit-elit PKS.

Masya Allah, itulah kesungguhan yang sangat berharga. Semoga Allah menerima amal dan komitmen seperti itu. Amin. Sebab Nabi Saw mengatakan, “Li kulli imri’in maa nawa” (bagi setiap orang mendapat pahala sesuai apa yang dia niatkan).

(Politische).


Mengapa Mereka Sadis Ke Pemuda Islam?

Mei 19, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim. Sangat menarik membaca sebuah analisis dari seorang wartawan eramuslim.com. Beliau menulis artikel berikut ini: Makna Keamanan yang Terasingkan: Diskriminasi Antara Tragedi Sukoharjo dan Pengibaran Bendera Zionis.

Tulisan di atas disusun oleh Muhammad Pizaro. Analisisnya simple, praktis, tetapi “kena ke jantung”. Tulisan itu bagus, merupakan kombinasi fakta-fakta lapangan dan telaah Dustur Nabawi (hadits Nabi Saw). Kalau ada kekurangan, judul tulisannya kurang “gemana getoh”. He he he, becanda.

Mereka Telah Mematahkan Prinsip Keadilan. Sunnatullah Akan Berjalan, Ada Sanksi Berat Atas Setiap Kezhaliman.

Mohon pembaca berkenan membaca artikel di atas dulu. Baca baik-baik, resapi maknanya, hayati substansinya. Kalau sudah, silakan wajah Anda dipalingkan kesini. Hayo, sini dong! Kan Anda sudah masuk sini duluan. Jadi jangan keenakan disono. He he he, maaf ya eramuslim. Cuman becanda.

Oke, sudah kembali kesini kan… Woi, itu yang masih baca-baca disono. Tolong U noleh kesini lagi ya…

Sebuah pertanyaan yang selalu berulang, seperti repetitive history, sejarah yang selalu berulang; mengapa aparat kemanan, khususnya polisi sangat galak dan kejam kepada pemuda-pemuda Islam? Terbunuhnya Sigit dan Hendra di Solo itu bisa jadi contoh terbaru. Sementara kalau ke orang-orang non Muslim, mereka selalu SOPAN, TOLERAN, dan MENGAYOMI.

Katanya, “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”; katanya “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”; katanya, “Persatuan Indonesia”; apalagi katanya, “Ketuhanan yang Maha Esa”? Tapi kok kelakuan jauh sekali yak dari Pancasila itu? Aneh kan.

Mengapa aparat selalu bersikap kejam HANYA kepada pemuda-pemuda Islam yang -katanya menurut versi polisi- terlibat terorisme? Kalau kepada Ziokindo, OPM, RMS, kaum Neolib, JIL, Ahmadiyyah, Misionaris Nasrani, dan lain-lain; mereka kalem-kalem saja.

Mengapa oh mengapa?

Alasannya itu ada dalam Al Qur’an, pada ayat berikut:

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ

Artinya, “Sungguh kamu benar-benar akan mendapati manusia yang paling keras permusuhannya kepada orang-orang beriman, (yaitu mereka adalah) kaum Yahudi dan orang-orang musyrikin.” (Al Maa’idah: 82).

Nah, intinya ada disini. Orang-orang yang berlaku kejam itu kalau bukan Yahudi, pasti musyrikin. (Orang-orang Nashrani yang tidak mengikuti ajaran Isa As yang lurus, juga ikut-ikutan kejam, seperti disebutkan dalam fakta-fakta sejarah).

Orang Yahudi telah menyetir kebijakan keamanan di negara kita. Atau jangan-jangan para perwira tinggi aparat itu memang berakidah Yahudi? Bisa jadi, identitasnya Muslim, tetapi hatinya sudah menjadi Yahudi. Minimal mereka adalah penganut paham-paham paganisme (kemusyrikan). Misalnya menganut ajaran Kejawen, menjalankan ritual mistik, atau mengikuti ajaran kaum kahin (tukang sihir).

Posisi para perwira itu yang sangat penting, sebab kalau hanya prajurit atau petugas keamanan di bawah, mereka biasanya “ikut kata komandan”. Orang-orang elit inilah yang telah membaktikan hidupnya untuk menjalankan missi keyahudian atau paganisme, secara konsisten. Kalau masih ada benih-benih iman di hati, mereka pasti akan punya rasa SANTUN.

Kekejaman oleh aparat keamanan, khususnya Densus 88, tidak serta-merta muncul. Ia bermula dari AKIDAH di hati yang jauh dari Tauhid, jauh dari As Sunnah, jauh dari Syariat Islam.

Dulu di tahun 80-an, Ummat Islam menjadi bulan-bulanan aparat TNI yang berlatar-belakang Nashrani, yaitu LB. Moerdani Cs. Ternyata kini, Ummat Islam menghadapi horor serupa. Hanya pelakunya, yang tampak di permukaan, ialah polisi-polisi Muslim. (Siapa tahu kalau petugas Densus itu dibuka maskernya, akan kelihatan latar-belakang agama mereka).

Jadi intinya, ini adalah cerminan dari konflik ideologis yang sangat lama, antara kekuatan Islam, dengan Yahudi, musyrikin, dan kaum Nashrani. Ini sebenarnya bagian dari konflik ideologis yang sangat dalam. Hanya tidak tampak di permukaan. Di sisi lain, kelihatan sekali Ummat Islam tidak siap menghadapi badai fitnah seperti ini.

Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum wa lil Muslimin, fid dunya wal akhirah. Allahumma amin.

AM. Waskito.


Untuk Apa Mereka Mau Rayakan HUT Israel?

Mei 16, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini publik dibuat heboh oleh ulah sebagian orang yang menamakan diri sebagai komunitas Ziokindo (Zionis Kristen Indonesia) dengan tokohnya Unggun Dahana; mereka ingin merayakan HUT Israel ke-63, pada 14 Mei 2011, di Jakarta.

Niatan yang aneh ini tentu saja langsung memicu reaksi publik. FPI segera bergerak, melakukan penelusuran dimana lokasi peringatan HUT itu. Hidayat Nurwahid berkomentar, sebaiknya orang-orang yang ingin merayakan HUT Israel itu dicabut saja status WNI-nya. KH. Syuhada Bahri, Ketua DDII, juga bereaksi keras atas rencana tersebut. Sementara dari Mabes Polri dikatakan, tidak ada rencana peringatan HUT Israel tersebut. Setelah memantau informasi di jajaran instansi Polri, disebutkan tidak ada rencana peringatan itu. Tentu saja media-media online Muslim aktif memantau terus perkembangan isu ini.

Sedang Mengukur Dalamnya Air.

Pertanyaannya: “Apa sebenarnya makna rencana perayaan HUT Israel itu? Apakah ia benar-benar memiliki makna tertentu, atau ia hanya sebuah strategi politik saja?”

Dari analisis yang kami lakukan, rencana perayaan HUT Israel oleh Ziokindo di Jakarta itu tak lebih dari  testing the water saja.  Mereka sengaja menghembuskan isu nasional, dengan tujuan “ngetes dalamnya air”. Makna terkuatnya -menurut kami- ke arah ini.

Orang-orang itu tak benar-benar serius mau MEMUJA Israel di negeri ini. Tetapi mereka ingin memancing reaksi kaum Muslimin, khususnya organisasi-organisasi Islam yang dianggap garis keras. Jadi, isu tersebut tak lebih dari sarana “penelitian” belaka. Mereka mau mengukur kedalaman “emosi” organisasi Islam.

Kalau organisasi Islam bereaksi sangat galak, itu pertanda proses yang selama ini mereka kerjakan, dalam rangka menghancurkan moral, kultur, ekonomi, dan pikiran kaum Muslimin, belum berjalan memuaskan. Tetapi kalau Ummat Islam bereaksi melempem, itu pertanda pekerjaan mereka -khususnya melalui gerakan HEDONISASI di media-media TV- berjalan sangat memuaskan.

Jika respon masyarakat Muslim lemah, maka mereka akan segera masuk fase gerakan selanjutnya. Bisa jadi tujuan strategisnya nanti: membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel, Indonesia mengakui eksistensi Israel, agama Yahudi diperbolehkan hidup di Indonesia, dan lobi-lobi Yahudi diberi ruang besar untuk bermain secara legal di Indonesia (dalam rangka menganiaya kehidupan kaum Muslimin sesadis-sadisnya).

Sekedar mengingatkan, saat tahun 1999 lalu, terjadi Tragedi Ambon Berdarah. Menurut sebagian informasi, korban dari kaum Muslimin di Ambon bisa ribuan orang. Mereka mengalami pembantaian, pembakaran, kekejaman, pengusiran, dll. secara keji. Pelakunya adalah kelompok-kelompok Kristen Protestan ekstrim dari Ambon dan sekitarnya. Di antara mereka menginduk ke gerakan RMS.

Reaksi Ummat Islam ketika itu sangat hebat. Ummat Islam menyatakan berlakunya Jihad Fi Sabilillah di Ambon (dan kemudian melebar ke Maluku Utara). Para pejuang Muslim segera berdatangan ke Ambon. Katanya, ada juga yang berasal dari luar negeri. Respon ini sangat hebat, sehingga kaum kufar berpikir berulang-ulang untuk meneruskan gerakan mereka.

Tetapi saat ini, tahun 2011, tampaknya situasi sudah berubah sedemikian rupa. Masihkah Ummat Islam siap sedia terjun berjihad, bila ada panggilan ke arah itu? Masih adakah keberanian Ummat ini? Masihkah pemuda-pemuda Islam siap menyambut seruan Jihad untuk menolong saudara-saudaranya yang teraniaya? Wallahu A’lam bisshawaab.

Komunitas antek Yahudi merasa perlu untuk mengetahui respon Ummat Islam tersebut. Maka dibuatlah isu, rencana peringatan HUT Israel di Jakarta.

Secara logika, rencana seperti itu sangat naif. Selain Indonesia belum ada hubungan diplomatik dengan Israel; dalam Pembukaan UUD 1945 ada kalimat “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”; dan lagi pula, sangat jarang masyarakat suatu negara ingin merayakan HUT negara lain, kecuali dari warga negara itu sendiri yang sedang tinggal di suatu negara.

Intinya adalah ayat berikut:

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al Baqarah 120).

Orang kufar itu demi Allah tak akan bisa tidur tenang, sebelum menyaksikan kaum Muslimin menderita. Ada memang kufar yang baik dan adil, tetapi jumlahnya sedikit. Jangan pernah menyangka mereka akan selalu damai saja, atau pluralis. Tidak demikian. Makar demi makar, adalah konsumsi sehari-hari. Kalau Ummat Islam lemah, mereka akan mempercepat aksinya; kalau Ummat Islam kuat, mereka akan berpikir berulang-ulang sebelum melakukan agressi.

Satu pesan besar: Gelorakan lagi syiar kita atas ayat “wa lan tardha” itu (al Baqarah 120). Ayat ini sudah sangat jarang kini dibacakan. Itu pertanda Ummat Islam semakin lalai. Kalau terus lalai, “hari panenan” akan segera tiba. Na’udzubillah min dzalik.

Semoga menjadi renungan dan perhatian! Amin!

Abi Syakir.