Jangan Terlalu Berharap Kepada Ketua KPK Baru!

Desember 28, 2011

Ketua KPK periode 2012-2016 sudah terpilih. Dia bernama Abraham Samad. Tokoh muda 44 tahun ini menggantikan Busyro Muqaddas yang saat ini beralih posisi menjadi Wakil Ketua KPK. Abraham Samad (apakah ada hubungan dengan Bibit Samad?), terpilih secara aklamasi oleh anggota Komisi III DPR dengan 43 suara (dari 55 suara).

Seperti biasa, rakyat Indonesia sangat berharap kepada pemimpin KPK yang baru ini. Harapan rakyat sangat besar agar aksi pemberantasan korupsi benar-benar efektif dan adil. Ya, negara mana yang akan maju kalau fenomena korupsi merata dimana-mana?

Lebih Sejuk Melihat Rumput. Daripada Melihat Wajah Kaum Elit.

Tetapi masalahnya, apa harapan itu benar-benar nyata, atau hanya impian kosong saja? Jujur, kalau melihat kehidupan elit-elit politik selama ini, termasuk sosok para Ketua KPK, sangat sulit berharap. Mereka selama ini lebih banyak omong ketimbang banyak guna.

Coba perhatikan artikel berikut ini: Mau Tahu Gaji Abraham Samad Cs? Coba perhatikan rincian gaji tersebut! Misalnya, gaji pokok Rp. 5 juta. Sedangkan tunjangan jabatan sampai Rp. 15 juta lebih. Ditambah lagi tunjangan kehormatan, tunjangan perumahan, tunjangan transportasi, tunjangan hari tua, dan asuransi kesehatan. Total gaji Ketua KPK, Rp. 72.200.000,- (tujuh puluh dua juta, dua ratus ribu rupiah). Sedangkan gaji Wakil Ketua KPK, Rp. 63.120.000,- (enam puluh tiga juta, seratus dua puluh ribu rupiah).

Mungkin, ke depan gaji Ketua KPK Cs. bisa ditambah lagi dengan: tunjangan santai, tunjangan wisata, tunjangan nonton film, tunjangan popularitas, tunjangan anak-cucu, tunjangan pelesir ke luar negeri, tunjangan BBM, tunjangan main facebook-an, tunjangan kegelisahan, tunjangan duka-cita, tunjangan pernikahan anak, tunjangan memelihara burung kicauan, dan seterusnya. Jadi list tunjangan-tunjangan ini bisa diperpanjang, sehingga kegiatan pokok anggota KPK hanyalah memelototi gaji bulanan mereka, di rekening-rekening yang “cepat gendut” itu.

Mungkin, dasar pemikirannya, “Gaji Ketua KPK Cs perlu dibesarkan, biar mereka tidak ngiler kalau menghadapi penyuapan dari para koruptor.” Masalahnya adalah: dengan gaji yang nilainya bisa mencapai 60 kali atau 70 kali UMR itu, mental mereka justru letoy. Mereka jadi takut mati, karena setiap bulan selalu menanti-nanti gaji besar. Para pemulung yang penghasilan cuma Rp. 25 ribu sehari, mereka berani mati, mengais sampah plastik di kiri-kanan rel kereta api. Tetapi dengan gaji 60-70 jutaan, mental manusia jadi rapuh. Yang dia pikirkan hanyalah gaji doang, day to day.

Saya sarankan agar bangsa Indonesia tidak usah banyak berharap kepada sosok Abraham Samad Cs. Jangan berharap banyak. Biasanya, manusia-manusia seperti ini (serupa dengan anggota DPR dan menteri-menteri Cs), sudah terkena TIGA PENYAKIT MEMATIKAN.

Apa saja 3 penyakit itu? Pertama, BANYAK OMONG. Kedua, BANYAK GAYA. Dan ketiga, BANYAK BERKELIT.

Mereka itu hanya pandai ngomong dan ngomong saja. Keahlian utama mereka adalah “bibir dan lidah” saja. Omongannya banyak, mengepul bagai asap rokok. Membuat batuk-batuk bagi manusia yang sehat. Mereka juga banyak gaya. Senang ketemu wartawan-wartawan. Tidak menolak gaul dengan anggota DPR dan pejabat. Kenal dengan artis-artis dan dunia selebritas. Pakaian, kendaraan, alat elektronik, dan sebagainya berkelas. Dan nanti kalau dikritik oleh rakyat (termasuk melalui kritik seperti ini) mereka banyak membela diri, defensif, mencari-cari alasan. Seperti gayanya Chandra Hamzah yang tidak berani dikonfrontir dengan Nazaruddin itu.

Singkat kata, pejabat-pejabat KPK selama ini seperti manusia-manusia yang secara mental-ruhani bermasalah. Mereka nafsu menjadi anggota KPK, tetapi setelah menjabat tidak menunjukkan keberaniannya untuk babat habis korupsi di Indonesia. Maklumlah, para pencari kerja beda dengan penegak keadilan. Karena mungkin merasa tak bersaing mencari kerja di bursa eksekutif muda, akhirnya nyari-nyari di KPK (mencantolkan kerah bajunya ke beban keuangan negara).

Kita tidak tahu bagaimana reputasi Abraham Samad ini. Apakah akan ada perubahan atau sama letoy-nya dengan Busyro Muqaddas? Wallahu a’lam, hanya Allah yang Tahu. Kalau nanti Abraham ini juga tertimpa 3 penyakit di atas (banyak omong, banyak gaya, banyak berkelit); ya sudah, tak ada harapan banyak di negeri ini; baik generasi tua (Busyro Muqaddas) maupun generasi muda (Abraham Samad) sama-sama brengsek-nya.

Oke deh…begitu saja! Selamat berjuang, Bung Abraham Samad! Semoga Anda diselamatkan dari 3 penyakit berbahaya itu, dan efektif bisa memberantas korupsi di negeri ini! Amin ya Rabbal ‘alamiin. Termasuk amanah yang sering dikatakan oleh para pemimpin, bahwa akar korupsi berada di lingkaran Istana Negara (ingat informasi Wikileaks). Nanti, arah perjuangan Anda, harus masuk juga ke titik itu. Soal akan di-antasari azhar-kan atau tidak, tawakkal sajalah!

Selamat berjuang, Bung!

Blog Abisyakir.


Bangsa Indonesia Telah Melahirkan Polisi Ganas!

Desember 27, 2011

Akhir-akhir ini Polri banyak menuai kecaman dari masyarakat, media, dan elit politik. Pasalnya, aparat polisi terlibat aksi-aksi kekerasan terhadap masyarakat sipil di Mesuji, Bima, Papua, Sulawesi, dan lain-lain. Dr. Saharuddin Daming, salah seorang anggota Komisioner Komnas HAM, menulis tulisan pedas mengkritik instirusi Polsi dengan judul, “Gengster Berlabel Penegakan Hukum”. (Dimuat di Republika, 27 Desember 2011, hal. 4).

Dr. Saharuddin Daming melihat sikap semena-mena anggota Polri tersebut tak lepas dari adanya Prosedur Tetap (Protap) no. 1/X/2010. Protap ini berisi cara-cara penanggulangan aksi anarkhisme massa.  Salah satu hak yang diatur dalam Protap itu, anggota Polri boleh melakukan tindakan ‘tembak di tempat’, bila sewaktu-waktu terjadi aksi anarkhisme. Dr. Saharuddin mengatakan, “Apalagi dalam Protap tersebut batasan anarkhisme sangat kabur, sehingga berpeluang untuk menimbulkan multi tafsir. Celakanya, pihak yang boleh menafsirkan Protap itu adalah polisi sendiri.”

DEMOKRASI PELURU: "Dari Rakyat, Untuk Rakyat".

Lebih jauh, anggota Komisioner Komnas HAM ini menyebut perilaku anggota Polri yang bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat seperti Gangster.  “Dengan hadirnya Protap yang melegitimasi tindakan tembak di tempat, berarti pimpinan Polri menciptakan lembaga imunitas bagi anggotanya untuk menjadi Gengster dalam fungsi Kamtibmas. Saya menilai, Protap seperti ini akan mereinkarnasi kebijakan ‘Petrus’ (penembakan misterius –pen.) yang pernah diterapkan pada zaman Orde Baru terhadap siapa saja yang dicap sebagai residivis (penjahat criminal –pen.). Dengan demikian, Polri berada dalam posisi ambigu yang secara konstitusional menjadi alat negara untuk melindungi rakyat, namun faktanya justru menjadi instrument kezaliman rakyat,” kata Dr. Saharuddin Daming.

Jonson Panjaitan dari Indonesia Police Watch (IPW), sering mengkritik perilaku institusi atau anggota Polri dalam dialog-dialog di TV. Koran Tempo pernah menurunkan laporan seputar “rekening gendut perwira Polri”. Rekening yang juga terkait dengan peranan Melinda Dee di Citi Bank ini kerap menjadi semacam “black cash” untuk membiayai kepentingan-kepentingan pelanggaran hukum. Pembentukan KPK dan “Satgas Anti Mafia Hukum” menjadi bukti besar bahwa institusi Polri semakin kehilangan kepercayaan. Sebagian orang sering mengatakan, “Mereka menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum.” Begitulah yang berkembang di masyarakat.

Pernah ada seorang aktivis yang mengajukan gugatan Judicial Review untuk menguji keabsahan posisi institusi Polri di bawah Presiden. Sayang, upaya ini tidak diteruskan, karena aktivis itu tampak “tertekan sekali”. Sekalipun dia basa-basi, tidak mengalami tekanan. Akar masalah korupsi atau mafia hukum, ada disini.

Dalam UU No. 20/Thn. 2002/ institusi Polri selain diberi wewenang Kamtibmas dan penegakan hukum, ia juga berada langsung di bawah Presiden. Dengan sendirinya, Polri sangat mudah ditunggangi penguasa untuk melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum. Para penguasa bisa menyetir kasus-kasus hukum, sebab Polri merupakan salah satu mata rantai penting proses penegakan hukum. Suatu kasus bisa dibawa ke ranah hukum atau tidak, tergantung keputusan Polri. Seperti skandal Bank Century tidak pernah masuk ke pengadilan, karena Polri tidak mengangkat kasusnya ke proses hukum.

Bila saat ini Polri menjadi institusi yang ganas, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Setidaknya ada 4 faktor yang menjadi pemicu munculnya sikap kesewenang-wenangan anggota Polri. Pertama, ambisi para penguasa untuk menjadikan institusi Polri sebagai kendaraan untuk merealisasikan tujuan-tujuan politik mereka, dan melindungi mereka dari dakwaan hukum. Kedua, peranan para perwira Polri yang bersimbiosis “mutualisme” dengan penguasa politik. Ketiga, proses militerisasi massif yang berkembang di tubuh Polri baik secara kuantitas maupun kualitas. Keempat, sikap publik yang cenderung membiarkan kesewenang-wenangan Polri.

Masyarakat juga ikut berperan dalam melahirkan institusi Polri berwajah ganas. Hal itu tercermin dari sikap masyarakat yang cenderung mendukung penuh tindakan-tindakan aparat Polri (khususnya Densus88) terhadap para aktivis yang diduga terlibat kasus terorisme. Media-media massa (terutama TVOne) amat sangat pro dengan kebijakan Polri seputar isu-isu terorisme. Padahal banyak pemuda-pemuda Muslim tak bersalah yang menjadi korban keganasan peluru-peluru aparat Polri. Tim Pembela Muslim (TPM) dan MER-C sering menemukan korban penembakan aparat yang sulit dibuktikan kesalahannya secara hukum. Kadang mereka ditembak di depan anak-isterinya.

Kalau kita perhatikan, respon masyarakat selama ini selalu mendukung aksi-aksi repressif Polri serta opini sepihak yang mereka lansir di media-media. Masyarakat tak pernah berpikir jernih dengan logika berikut: “Bagaimana kalau keluargaku tidak bersalah, lalu ditembak mati dengan tuduhan terlibat terorisme, lalu seumur hidup keluargaku dikenang masyarakat sebagai keluarga teroris?” Di mata mereka, pemuda-pemuda Muslim yang menjadi sasaran tembak aparat Polri, tidak perlu disesali apalagi sampai ditangisi. “Biarin saja deh! Itung-itung mengurangi jumlah penduduk,” pikir mereka.

Dan kini sasaran keganasan aparat Polri bukan hanya pemuda-pemuda Muslim, tetapi juga masyarakat sipil, mahasiswa, bahkan orang-orang kampung. Ya itu adalah akibat yang mesti masyarakat terima ketika sebelumnya mereka selalu menganggap sepele pelanggaran-pelanggaran HAM berat aparat Polri (Densus88) terhadap pemuda-pemuda Islam.

Masyarakat sekian lama mensyukuri ditembakinya pemuda-pemuda Islam tak bersalah atas nama “pemberantasan terorisme”, maka kini  arah tembakan itu menyasar ke tubuh-tubuh masyarakat sendiri. Begitulah, kezhaliman dalam pembiaran ini berakibat melahirkan kezhaliman terhadap diri sendiri. Namun, yang paling parah dari semuanya, adalah kezhaliman aparat itu sendiri. Bila tabungan kezhaliman mereka sudah memuncak, mereka akan dihukum oleh mekanisme Sunnatullah.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Innallaha laa yakh-fa ‘alaihi syai’un fil ardhi wa laa fis sama’i” (sesungguhnya Allah, tiada yang tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun di bumi maupun di langit). [Surat Ali Imran: 5]. Allah Maha Mengetahui segala kejadian yang terjadi di bumi, di langit, atau di mana saja. Setiap kezhaliman yang dilakukan, ada balasan di sisi-Nya. [AMW].


Antara Tauhid dan Iman Kristiani

Desember 20, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dalam artikel “Allah Ta’ala Ada di Langit”, ada seorang pembaca yang mengajukan pertanyaan menarik. Pertanyaan ini perlu dibahas dalam tulisan tersendiri karena pembahasannya cukup melebar. Dan kebetulan, logika yang dipahami oleh si penanya itu sering muncul dalam tulisan orang-orang tertentu. Mereka mengklaim, bahwa konsep Tauhid yang diajarkan Ibnu Taimiyyah dan lain-lain, seperti konsep keyakinan Yahudi dan Nashrani terlaknat (begitu kira-kira yang pernah saya baca dari tulisan “abu salafy” dan manusia-manusia semisal di internet).

Isi pertanyaan pembaca tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan mengimani Allah Ta’ala di langit secara ‘apa adanya’, bukankah seperti orang Kristen yang menafsirkan ‘Bapa Allah’ apa adanya? Dan  akhirnya mereka menganggap Yesus punya bapak, dan mereka pun berkilah bahwa ‘bapa’ tidak bisa disamakan dengan ‘bapak’. Dan akhirnya mereka juga berkata: IMANI SAJALAH! Mohon penjelasan!

Kalau penanya itu mau berterus-terang dan lebih jelas dalam menjabarkan pertanyaannya, mungkin dia akan mengungkapkan pertanyaannya seperti berikut ini:

“Orang Kristen meyakini bahwa Yesus (Isa ‘Alaihissalam) adalah tuhan yang ada di muka bumi. Semantara ada ‘Tuhan Bapak’ di syurga sana. Kalau meyakini bahwa Allah ada di langit, ya apa bedanya dong dengan keyakinan orang Kristen? Mereka bilang ‘Bapak di syurga’, lalu kita bilang ‘Allah di langit’. Sama saja kan? Jadi, keimanan orang Wahabi (kalau boleh disebut demikian) sama seperti keimanan orang Kristen. Apalagi orang Kristen selalu berdalih ‘imani saja deh, gak usah banyak mikir’. Itu sama seperti kata orang Wahabi, ‘imani saja, apa adanya.’”

Mari kita coba bahas pertanyaan ini secara runut dan teratur. Bismillah bi nashrillah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Isaac Newton: Kecewa dengan Konsep Trinitas.

PERTAMA, mula-mula kita harus meyakini bahwa konsep Akidah Islam berbeda dengan konsep keimanan Kristiani. Berbeda secara ushul (pokok) maupun perincian (tafshiliyah). Dr. Al Qaradhawi pernah mengatakan, bahwa keimanan Ummat Islam memiliki kemiripan dengan kaum Yahudi. Keduanya mengajarkan Tauhid. Hanya saja, tauhid dalam model Yahudi bersifat egoisme qaumiyyah (seakan Tuhannya kaum Yahudi itu hanya untuk mereka sendiri). Kemudian gambaran tauhid Yahudi itu sudah tercemar sedemikian rupa oleh tangan-tangan kotor manusia. Hingga diceritakan disana, suatu saat Allah dipiting (dibekuk lehernya) oleh Nabi Dawud, lalu Allah akan dilepaskan, setelah Dia mau memberkati Nabi Dawud. Intinya, Tauhid dalam Islam adalah ajaran yang berbeda dengan konsep monoteisme Yahudi. Dr. Adian Husaini pernah membahas masalah ini dalam tulisan-tulisan beliau. Kalau dengan monotesime Yahudi saja berbeda, apalagi dengan konsep keimanan kaum Nashrani.

KEDUA, pada awalnya ajaran Tauhid Nashrani sama seperti ajaran Tauhid yang kita yakini. Inilah ajaran Tauhid seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim dan Rasul-rasul sebelumnya. Namun kemudian ketika agama Nashrani diadopsi sebagai agama resmi Kekaisaran Byzantium (Romawi) terjadi benturan ideologi yang sangat keras. Mereka mau masuk agama Nashrani asalkan ada perubahan hal-hal fundamental dalam ajaran itu. Disini lalu dilakukan kompromi. Nashrani menjadi agama resmi Byzantium, tetapi agama itu harus mengadopsi ajaran-ajaran pagan (kemusyrikan) yang semula menjadi ajaran kaum Byzantium. Maka mulailah dimasukkan unsur-unsur pagan dalam agama Nashrani yang semula hanif (lurus). Unsur pagan itu antara lain: akidah Trinitas (Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus), menganggap Maria memiliki sifat ketuhanan, pemakaian simbol Salib, hari ibadah pada hari Ahad (Sunday = hari matahari), perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember, pembuatan gambar, patung-patung, dll.

Katanya, awal invasi nilai-nilai paganisme ini dimulai sejak Konsili Nicea. Lalu para pengikut Nashrani yang masih setia dengan ajaran Tauhid yang lurus, mereka melarikan diri. Di antara mereka adalah para pemuda Ashabul Kahfi yang kita baca dalam Surat Al Kahfi itu. Para pengikut Tauhid terus berusaha menyelamatkan Injil versi asli yang mengajarkan nilai-nilai Tauhid secara lurus, misalnya Injil Barnabas. Ada yang berkata, ditemukannya “Gulungan Kumran” (Scroll of Qumran) di Laut Mati juga mengarah kepada bukti-bukti ajaran Nabi Isa ‘Alaihissalam yang masih lurus itu. Intinya, konsep keimanan Kristiani selama ini bukanlah konsep akidah Isa ‘Alaihissalam yang semestinya. Kebanyakan merupakan hasil invasi dari ajaran-ajaran paganisme Byzantium.

KETIGA, perbedaan antara akidah Tauhid Islami (Millah Ibrahim) dengan akidah Kristiani yang paling mendasar ialah dalam masalah Trinitas. Dalam Islam, Allah adalah Maha Satu, tidak mempunyai anak dan tidak menjadi anak bagi yang lain, dan tidak ada yang setara dengan Allah satu pun jua. (Baca Surat Al Ikhlas). Sedangkan dalam iman Kristiani, mereka meyakini bahwa Tuhan itu ada 3: “Tuhan Bapak, Yesus Anak Tuhan, dan Roh Kudus.” Malah ada 4, ditambahkan dengan Bunda Maria.

Dalam praktiknya, yang diperlakukan sebagai “tuhan” oleh kaum Kristiani banyak. Selain yang sudah disebut itu, ada juga: Salib, Sri Paus, pendeta (pastor), Santo-santo, dll. Mereka semua itu dibuatkan patung atau monumennya, lalu diharapkan berkah dan pertolongannya. Dalam agama Katholik, seorang pendeta selain bisa memberikan pemberkatan, ia juga bisa mengampuni dosa (ingat bilik-bilik ampunan dosa di gereja-gereja Katholik). Jadi, kalau dipikir-pikir, ajaran Nashrani hari ini terlalu banyak dipengaruhi oleh spirit paganisme. Background-nya ajaran Isa Al Masih, tetapi realitasnya banyak paganisme.

Dalam Surat Al Maa’idah dijelaskan, bahwa Allah tidak suka dengan ajaran Trinitas itu. Bahkan menyebut siapapun yang meyakini Trinitas, dia telah kafir. “Laqad kafara alladzina qaluu innallaha tsali-tsun tsala-tsah, wa maa min ilahin illa ilahu wahid” (sungguh telah kafir orang yang mengatakan bahwa Allah adalah “satu di antara Tuhan yang tiga”, dan tidak ada satu pun ilah selain Ilah yang Satu –yaitu Allah-). [Al Maa’idah: 73].

Baca entri selengkapnya »


Dimana Allah Tinggal Sebelum Bersemayam di Atas Arasy?

Desember 19, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah wa syukru lillahi, laa haula wa laa quwwata illa billah. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihil kiram ajma’in. Amma ba’du.

Salah satu sumber penulisan dalam blog ini ialah pertanyaan-pertanyaan pembaca dalam forum diskusi. Kadang suatu pertanyaan tidak cukup dijawab di forum diskusi, sehingga perlu diberikan jawaban yang lebih luas dalam wujud artikel tersendiri. Walhamdulillah.

Pertanyaan sebagian pembaca tentang tuduhan adanya kesamaan antara konsep Tauhid dengan teologi Trinitas Kristiani, alhamdulillah sudah ditulis (tetapi belum dipublikasikan). Dan kini ada lagi pertanyaan dari pembaca tentang “tempat tinggal” Allah Ta’ala.

Isi lengkap pertanyaan dari saudara @ Awam (setelah di-edit seperlunya)  adalah sebagai berikut:

“Saya mau tanya kepada Mas Abisyakir dan @ Ahmad (salah seorang pembaca yang berkomentar dalam artikel “Allah Ta’ala Ada di Langit”). Kalau memang Allah ada (bersemayam) di langit atau di atas Arasy, lalu dimanakah Allah  tinggal sebelum Arasy dan langit diciptakan oleh Allah? Apa mungkin Allah berpindah tempat? Sedangkan yang saya tahu, itu sangat mustahil! Tolong beri penjelasan yang masuk akal!”

Si penanya merasa ragu (atau tidak yakin), bahwa Allah Ta’ala ada di atas langit, seperti yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an maupun Sunnah. Sebagai alasan dari keraguan itu, dia melontarkan pertanyaan seputar “dimana Allah tinggal” sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy.

Dengan memohon karunia Allah, ilmu, dan petunjuk-Nya, mari kita kaji persoalan ini lebih jauh.

“Keruwetan Akal Membawa Keruwetan Jiwa”.

PERTAMA, dalil yang menyatakan bahwa Allah itu ada di atas Arasy setidaknya ada 7 ayat dalam Al Qur’an yang secara qath-i menjelaskan hal itu. Ia adalah: Surat Al A’raaf ayat 54, Yunus ayat 3, Ar Ra’du ayat 2, Thaha ayat 5, Al Furqan ayat 59, As Sajadah ayat 4, dan Al Hadid ayat 4. Bahkan dalam Surat Al Baqarah ayat 29 disebutkan: “Tsumma istawa ilas sama’i fasauwahunna sab’a samawaat” (kemudian Dia istiwa menuju ke langit, lalu Dia ciptakan 7 tingkat langit). Sebagai orang Muslim, sebelum kita berpikir masuk akal atau tidak, semestinya harus mengimani ayat-ayat ini. Kalau tidak demikian, berarti kita membuat syarat-syarat dalam keimanan kita. Misalnya, kalau masuk akal diimani, kalau tak masuk akal ditolak. Janganlah demikian, sebab hal itu dianggap tidak tulus dalam beragama.

KEDUA, dalam ajaran Islam banyak perkara yang bersifat ghaib. Ghaib bisa karena waktu (misalnya peristiwa-peristiwa di masa lalu, atau di masa depan). Ghaib bisa karena ruang (misalnya letaknya sangat jauh, atau sangat kecil, sehingga tak tampak oleh penglihatan normal). Ghaib juga bisa karena wujudnya (misalnya ada makhluk halus yang tak tampak, padahal mereka ada dan eksis, seperti jin, Malaikat, ruh, dll.).

Di antara perkara ghaib itu ada yang Allah ajarkan, dan ada pula yang tidak Dia ajarkan. Contoh, hanya sebagian saja dari ribuan Nabi dan Rasul yang disebutkan kisahnya dalam Kitabullah dan Sunnah. Terhadap berita-berita yang Allah ceritakan, ya kita imani; adapun yang tidak Dia ceritakan, kita menahan diri untuk tidak masuk ke wilayah itu, agar tidak  menjadi sesat karenanya. Na’udzubillah min dzalik.

Informasi atau ilmu tentang dimana posisi Allah Ta’ala sebelum Diri-Nya menciptakan langit dan Arasy, adalah termasuk hal-hal sangat ghaib yang tidak diceritakan dalam Kitab-Nya. Kalau terhadap kisah Nabi-nabi tertentu yang tidak dikisahkan dalam Al Qur’an, kita mau menahan diri untuk tidak mengorek-ngorek kisah seperti itu; lalu bagaimana mungkin kita akan mempertanyakan posisi Allah sebelum Dia menciptakan langit dan Arasy? Apa perlunya? Kalau misalnya kita sudah tahu, apakah itu bisa meningkatkan keimanan, atau membuat akal justru semakin liberal dengan fantasi-fantasi ala Bani Israil lainnya?

KETIGA, dalam Al Qur’an atau Sunnah dijelaskan, bahwa Allah Ta’ala bersemayam di atas Arasy. Arasy itu ada di atas langit yang ke-7. Bagaimana cara Allah bersemayam di atas Arasy, hal itu merupakan perkara ghaib. Kita tidak boleh mengatakan, Allah disana “duduk”, “berdiri”, “menempel”, “mengambang”, dll. Karena memang semua itu tak dijelaskan oleh-Nya dan oleh Nabi-Nya Shallallah ‘Alaihi Wasallam. Termasuk pertanyaan, apakah Arasy itu berupa ruang, udara kosong, dimensi nihil, atau apapun? Semua itu tidak usah dipikirkan dan ditanyakan. Dengan sendirinya, jika Istiwa’ Allah di atas Arasy tak usah ditanyakan, maka bagaimana keadaan Allah sebelum menciptakan Arasy, lebih tak perlu ditanyakan lagi.

Baca entri selengkapnya »


Strategi Mengalahkan Barcelona FC

Desember 17, 2011

Mengalahkan Barcelona FC?

Rasanya ini hanya sebuah mimpi. Barca saat ini disebut-sebut sebagai klub sepakbola terkuat di dunia. Apalagi ketika mereka berhasil merekrut Cesc Fabregras, pemain berbakat yang sekian lama menjadi “central power” Arsenal, klub legendaris asal London Utara..

Belum lama lalu, Barca FC mampu mengalahkan rival terberatnya di kompetisi La Liga, Real Madrid, dalam duel El Clasico. Real Madrid yang dilatih sang Entrenador, Jose Mourinho, kalah 3-1 di tangan Barca, di depan mata pendukung Real Madrid sendiri. Suatu kekalahan sangat pahit, sekaligus meruntuhkan image bahwa Jose Mourinho merupakan pelatih terbaik yang tak terkalahkan.

Sebenarnya, mengalahkan Barca bukanlah suatu mimpi. Secara teori, mereka bisa dikalahkan. Tetapi untuk menghadapi tim sekuat Barca, tidak mungkin hanya bermodal nekad, berpikir linear layaknya para pengamat bola di Indonesia, atau membuat rumus-rumus penuh nafsu yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Harus tetap ada sandaran teori dan aplikasinya berlandaskan pengalaman-pengalaman.

Mari kita coba diskusikan topik unik ini…

Lama-lama Kejayaan Barca Juga Akan Memudar... (Yah, it's just a game).

[A]. Dasar permainan Barca FC mula-mula dibangun oleh Johan Cruyff, legenda bola asal Belanda. Pola yang dia terapkan dikenal sebagai “total football”. Dalam permainan ini,  berlaku sebuah rumusan dasar, menyerang bersama dan bertahan bersama pula. Untuk itu dibutuhkan kekuatan fisik dan stamina luar biasa. Faktor stamina ini jarang dibahas oleh para pengamat. Mereka terlalu terpaku dengan possesing ball (penguasaan bola) dan seni sepak-bola indah yang diperagakan pemain-pemain Barca. Secara fisik, mereka memiliki kelebihan luar biasa. Bayangkan, mereka bisa tekun menguasai bola dalam durasi 90 menit tanpa kelelahan.

[B]. Pelatih Barca, Pep Guardiola, mengembangkan pola permainan Tiki Taka yang lalu diadaptasi oleh Timnas Spanyol. Banyak orang mengira Tiki Taka ini adalah cara bermain semodel “dua tiga sentuhan, lalu bola dioper”. Tidak sesederhana itu. Tiki Taka adalah perpaduan dari konsep “total football” gaya Belanda, gaya bermain Samba ala Brazil, dan kekuatan fisik gaya Jerman. Tiki Taka memadukan gaya bermain tiga negara tersebut. Aslinya, gaya bermain Spanyol mirip permainan Samba Brazil, tetapi dengan sentuhan total football dan fisik Jermani, ia menjadi begitu tangguh. Argumentasinya, Lionel Messi ketika bermain di Timnas Argentina, rata-rata tenggelam atau tidak istimewa. Artinya, pemain sekelas Messi tanpa dukungan gaya permainan kolektif Tiki Taka Pep Guardiola, menjadi tidak istimewa.

[C]. Barca menerapkan konsep possesing ball (penguasaan bola) sangat tinggi. Saat beberapa tahun lalu bermain di Stadion Emyrates London, dalam laga Piala Champions, Arsenal dikurung oleh Barca dengan prosentase penguasaan bola 70 : 30. Padahal itu terjadi di kandang Arsenal, menghadapi tim sekelas Arsenal yang juga terkenal dengan possesing ball-nya. Bisa dibayangkan, betapa hebatnya Barca. Lalu tujuan penguasaan bola yang tinggi ini apa? Tujuannya, ialah untuk menghancurkan mental lawan. Anda tahu, dalam simulasi permainan bola, kalau seorang pemain disuruh mengejar bola yang dikuasi beberapa orang sekaligus, dalam bentuk lingkaran; hal ini sangat melemahkan mental pemain itu, sehingga akibatnya melemahkan fisik juga. Nah, cara melemahkan mental lawan itu diterapkan secara konsisten oleh Barca. Saat lawan sudah lemah mental, mereka tiba-tiba menukik ke gawang musuh melalui striker-striker handal. Harusnya, menghadapi permainan possessing ball itu, santai saja. Ikuti saja dengan santai. Lepaskan beban-beban mental. Hal ini akan membantu mengurangi tekanan. Kalau tidak percaya, coba perhatikan skor permainan-permainan Barca. Rata-rata nilainya tidak terlalu menyolok. Untuk penguasaan bola misalnya 70 % selama 90 menit dengan hasil 3 : 0 atau 4 : 0, hal ini sangat minim dibandingkan potensi yang bisa mereka capai. Artinya apa, Barca selama ini memainkan strategi “psycho game” untuk menaklukkan lawan-lawannya. Ini salah satu rahasia besar pola permainan Tiki Taka.

Baca entri selengkapnya »


Prinsip Memahami Bid’ah (Kajian Ringkas)

Desember 16, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Perdebatan seputar Sunnah dan bid’ah sudah lama terjadi. Disini ada dua golongan, pihak pertama dan pihak kedua. Pihak pertama, sering menyebut suatu perbuatan seperti peringatan Maulid Nabi, tahlilan, yasinan, bacaan puji-pujian di masjid, tawassul, dll. sebagai perbuatan bid’ah. Alasan pihak pertama ini, “Semua perbuatan itu tidak ada contohnya di zaman Nabi. Perbuatan yang tidak dicontohkan Nabi adalah bid’ah.”

Pihak kedua menolak tuduhan bid’ah itu. Mereka memiliki alasan yang sering dikemukakan, “Pesawat terbang, telepon, televisi, internet, HP, dan lainnya tidak ada di zaman Nabi. Apakah semua itu juga bid’ah? Kalau bid’ah, ya sudah Anda tinggalkan semua produk teknologi itu!”

Pihak kedua ini lalu beralasan dengan ucapan Umar bin Khattab Radhiyyalahu ‘Anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid. Umar pernah mengatakan bahwa shalat tarawih tersebut merupakan ni’mal bid’atu hadzihi (sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini). Dengan riwayat ini mereka membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) dan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Bid’ah yang dilarang menurut mereka, ialah bid’ah dhalalah. “Kalau bid’ah hasanah boleh, malahan baik,” kata mereka.

BID'AH: Tidak Diperintahkan Syariat, Tidak Ada Maslahatnya, Mematikan Sunnah.

Kemudian pihak pertama memberikan alasan baru. Kata mereka, makna kata bid’ah dalam ucapan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu itu adalah makna lughawi (makna bahasa), bukan makna syar’i (makna hukum Syariat). Sehingga ucapan Umar itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan bid’ah.

Tetapi pihak kedua yang dituduh melakukan bid’ah, mereka mengemukakan alasan tambahan, bahwa pembukuan Al Qur’an, penyatuan Qira’ah Sab’ah, istilah-istilah dalam ilmu, penulisan kitab-kitab agama, penerapan sistem administrasi Kekhalifahan Islam, penggajian tentara mujahidin, dll. adalah hal-hal baru. Itu bukan hanya bermakna bahasa, tetapi secara Syariat memang belum ada contoh sebelumnya.

Mereka berdalil, bahwa Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pernah menolak ide pembukuan Al Qur’an yang dilontarkan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Abu Bakar beranggapan pembukuan Al Qur’an itu termasuk bid’ah (tidak ada contohnya di masa Nabi). Begitu juga ketika sebagian Shahabat memutuskan jabatan Khalifah pengganti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu secara musyawarah, hal itu juga tidak sesuai dengan cara Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam saat menunjuk pengganti beliau sebagai Khalifah, yaitu Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu melalui isyarat-isyarat tertentu.

Sampai disini polemiknya semakin rumit dan ruwet. Kalangan yang sudah istiqamah di atas Sunnah menjadi ragu. Sedangkan kalangan yang sudah menjalani amal-amal yang dianggap bid’ah, semakin jauh tenggelam dalam amal-amal mereka. Orang-orang yang mulai belajar ilmu semakin bingung. “Katanya semua bid’ah itu sesat, tapi ada yang bilang bahwa bid’ah itu ada yang baik? Mendirikan universitas, membuat situs internet Islami, membuat majalah, dll. itu termasuk bid’ah atau bukan ya?”

Baca entri selengkapnya »


List Artikel Penting Seputar Fitnah “Idahram & Said Aqil Siradj”

Desember 12, 2011

Lihatlah Si Pinokio Terus Menari...

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sejak Idahram dan Said Aqil merilis buku-buku propaganda anti Salafi Wahabi, merebak aneka rupa tanggapan. Dari kalangan NU, Syiah, Shufi, mereka merasa terbela dengan buku-buku itu, sehingga semakin memuncak kebencian mereka kepada kalangan Salafi Wahabi. Dari kalangan Muslim perkotaan, gerakan Islam, dan majlis-majlis dakwah Salafi, mereka merasa dihujat, dizhalimi, dan disuguhi pertunjukan fitnah “tanpa ampun”.

Alhamdulillah, dengan seijin Allah dan pertolongan-Nya, mulai terkuat satu per satu bukti-bukti kesesatan dan kedustaan dari gerakan fitnah yang dilancarkan oleh Idahram dan Said Aqil Siradj itu. Bahkan, semakin tampak jelas, bahwa muara dari gerakan fitnah ini ialah: Agresi Pemikiran Syi’ah Rafidhah (Syiah Imamiyyah Itsna Asyari).

Berikut ini adalah sebagian artikel atau tulisan-tulisan yang menelanjangi kebohongan dua ahli fitnah di atas, Idahram dan Said Aqil Siradj:

Said Aqil Siradj Tak Mau Bertemu Dubes Saudi.

Ketua DPP Hidayatullah Meminta Said Aqil Agar Tidak Menjadi Provokator.

Ustadz Ba’asyir Menyebut Said Aqil Sebagai Ulama Su’ (Ulama Jahat).

Munarman: “Pemfitnah Berada dalam Barisan Kufar.

Ustadz Arifin Ilham Meminta Buku-buku Idahram Ditarik dari Edaran.

Kebohongan Syaikh Idahram Atas Nama Ustadz Arifin Ilham.

Bantahan Buya Hamka Terhadap Stigma Wahabi.

Soekarno, A. Hassan, dan Kekaguman kepada Wahabi.

Kaum Sarungan, Sinis ke Muslim, Manis ke Non Muslim.

Singkat kata, Indonesia saat ini sedang dilanda “Demam Fitnah”. Pemain utama lakon drama fitnah ini yaitu “dua sejoli”: Idahram dan Said Aqil Siradj. Keduanya saling bahu-membahu, tolong-menolong, cinta-mencintai, serta “memadu kasih” di pelataran kobaran api fitnah. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum, wa lil Muslimin.

Catatan khusus untuk Said Aqil Siradj: “Abdurrahman Wahid di masanya juga terkenal sebagai pembenci Wahabi. Tapi dia masih ‘mending‘, sebab tidak pernah menerima beasiswa dari Pemerintah Saudi. Tetapi untuk Said Aqil ini, saat menerima beasiswa Saudi selama 14 tahunan, dia tak pernah bertingkah macam-macam. Begitu lulus sebagai doktor, dia mulai banyak bertingkah. Puncaknya saat ini, dia menjadi promotor besar terbitnya buku-buku fitnah. Apa yang dilakukan Said Aqil ini sama dengan ‘membinasakan dirinya sendiri‘. Mengapa? Sebab jasa-jasa Pemerintah Saudi sudah melekat dengan daging dan darahnya, bahkan keempat putranya lahir di Saudi, di bawah kemurahan fasilitas kaum Wahabi. Maka kita tinggal menanti saja, saat kapan datangnya siksa Allah kepada sosok orang zhalim ini.”

Semoga artikel-artikel di atas bermanfaat, bisa menjadi inspirasi dan wawasan, serta berkenan di sisi Allah Ar Rabbul Jalil. Amin Allahumma amin.

AMW.