Prinsip Memahami Bid’ah (Kajian Ringkas)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Perdebatan seputar Sunnah dan bid’ah sudah lama terjadi. Disini ada dua golongan, pihak pertama dan pihak kedua. Pihak pertama, sering menyebut suatu perbuatan seperti peringatan Maulid Nabi, tahlilan, yasinan, bacaan puji-pujian di masjid, tawassul, dll. sebagai perbuatan bid’ah. Alasan pihak pertama ini, “Semua perbuatan itu tidak ada contohnya di zaman Nabi. Perbuatan yang tidak dicontohkan Nabi adalah bid’ah.”

Pihak kedua menolak tuduhan bid’ah itu. Mereka memiliki alasan yang sering dikemukakan, “Pesawat terbang, telepon, televisi, internet, HP, dan lainnya tidak ada di zaman Nabi. Apakah semua itu juga bid’ah? Kalau bid’ah, ya sudah Anda tinggalkan semua produk teknologi itu!”

Pihak kedua ini lalu beralasan dengan ucapan Umar bin Khattab Radhiyyalahu ‘Anhu tentang shalat tarawih berjamaah di masjid. Umar pernah mengatakan bahwa shalat tarawih tersebut merupakan ni’mal bid’atu hadzihi (sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini). Dengan riwayat ini mereka membagi bid’ah menjadi dua: bid’ah dhalalah (bid’ah sesat) dan bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Bid’ah yang dilarang menurut mereka, ialah bid’ah dhalalah. “Kalau bid’ah hasanah boleh, malahan baik,” kata mereka.

BID'AH: Tidak Diperintahkan Syariat, Tidak Ada Maslahatnya, Mematikan Sunnah.

Kemudian pihak pertama memberikan alasan baru. Kata mereka, makna kata bid’ah dalam ucapan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu itu adalah makna lughawi (makna bahasa), bukan makna syar’i (makna hukum Syariat). Sehingga ucapan Umar itu tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan perbuatan bid’ah.

Tetapi pihak kedua yang dituduh melakukan bid’ah, mereka mengemukakan alasan tambahan, bahwa pembukuan Al Qur’an, penyatuan Qira’ah Sab’ah, istilah-istilah dalam ilmu, penulisan kitab-kitab agama, penerapan sistem administrasi Kekhalifahan Islam, penggajian tentara mujahidin, dll. adalah hal-hal baru. Itu bukan hanya bermakna bahasa, tetapi secara Syariat memang belum ada contoh sebelumnya.

Mereka berdalil, bahwa Khalifah Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pernah menolak ide pembukuan Al Qur’an yang dilontarkan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Abu Bakar beranggapan pembukuan Al Qur’an itu termasuk bid’ah (tidak ada contohnya di masa Nabi). Begitu juga ketika sebagian Shahabat memutuskan jabatan Khalifah pengganti Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu secara musyawarah, hal itu juga tidak sesuai dengan cara Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam saat menunjuk pengganti beliau sebagai Khalifah, yaitu Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu melalui isyarat-isyarat tertentu.

Sampai disini polemiknya semakin rumit dan ruwet. Kalangan yang sudah istiqamah di atas Sunnah menjadi ragu. Sedangkan kalangan yang sudah menjalani amal-amal yang dianggap bid’ah, semakin jauh tenggelam dalam amal-amal mereka. Orang-orang yang mulai belajar ilmu semakin bingung. “Katanya semua bid’ah itu sesat, tapi ada yang bilang bahwa bid’ah itu ada yang baik? Mendirikan universitas, membuat situs internet Islami, membuat majalah, dll. itu termasuk bid’ah atau bukan ya?”

Alhamdulillah, kita senantiasa memuji Allah Ta’ala atas limpahan nikmat, ilmu, dan petunjuk-Nya. Kita memohon jalan keluar dan cahaya saat menghadapi segala kebingungan dan was-was. Allah Ta’ala selalu membukakan jalan-jalan bagi hamba-Nya yang berusaha konsisten di atas Syariat Nabawiyyah (Syariat Islam). Alhamdulillah.

Semua persoalan di atas berpangkal dari satu masalah saja, yaitu: “Kebingungan memahami makna dari bid’ah itu sendiri!” Inilah masalah utamanya. Adanya pendapat ulama yang bermacam-macam (kontradiksi) kadang tidak menuntun ke arah jalan keluar, malah menimbulkan keraguan. Di sisi lain, perdebatan seputar Sunnah Vs bid’ah ini kemudian menjadi komoditi debat menang-menangan; bukan menjadi urusan Syariat yang kita butuhkan kejelasan untuk mendekatkan diri kepada Allahu Rabbul Jalali Wal Ikram. Andaikan kita mau lebih ikhlas dalam menjalani agama ini, bukan karena alasan debat menang-menangan, niscaya Allah Ta’ala akan menunjukkan jalan-Nya. “Wa man jahadu fina lanahdiyannahum subulana” (siapa yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami).

Mari kita mengurai masalah ini dari akar persoalannya, yaitu definisi bid’ah. Bid’ah menurut bahasa ialah sesuatu yang baru, sesuatu yang diada-adakan, atau ciptaan baru tanpa contoh sebelumnya. Allah Ta’ala disebut memiliki Sifat Al Badi’, yaitu Maha Menciptakan sesuatu baru sama sekali, tanpa contoh sebelumnya. Menurut Syariat, bid’ah adalah amalan-amalan baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam dan para Shahabat. Kaum Nashrani disebut-sebut sebagai kaum yang banyak melakukan bid’ah dalam pengertian ini; mereka membuat amal-amal baru yang tidak diajarkan oleh Nabi Isa ‘Alaihissalam. Bid’ah seperti kaum Nashrani itulah yang diperingatkan oleh Nabi agar kita jauhi.

Sampai disini, belum terjawab apa yang diperselisihkan. Maka untuk menjawabnya, kita perlu memahami KARAKTER BID’AH. Jika kita memahami karakter bid’ah ini, insya Allah akan terjawab apa yang diperselisihkan. Karakter bid’ah adalah suatu perbuatan yang mengandung salah satu (atau semua) dari 3 unsur berikut:

(1). Perbuatan itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Tidak ada amar yang sharih dalam Al Qur’an atau As Sunnah yang menetapkan hal itu).

(2). Perbuatan itu tidak mengandung manfaat atau maslahat bagi kehidupan kaum Muslimin di dunia dan Akhirat. (Kalau ada maslahatnya, ajaran Islam pasti akan memperbolehkan amalan itu, sekalipun ia tidak dicontohkan di zaman Nabi dan Shahabat).

(3). Apabila perbuatan itu dilakukan, ia akan mematikan atau menutup perbuatan Sunnah yang sudah ada. Sehingga ada ulama yang mengatakan, “Dimana tumbuh perbuatan bid’ah, maka disana ada perbuatan Sunnah yang mati.”

Dalil unsur pertama ialah firman Allah dalam Surat Al Hadiid ayat 27: “Wa rahbaniyatan ibtada’uha maa katabnaha ‘alaihim” (dan kerahiban yang mereka ada-adakan, yang Kami tidak memerintahkan hal itu atas mereka). Ayat ini terkait dengan perilaku pendeta-pendeta Nashrani yang membuat aturan-aturan kerahiban yang mempersulit diri mereka sendiri, seperti larangan bagi seorang rahib untuk menikah, hidup menjauh dari masyarakat, memfokuskan diri hanya untuk ibadah, dll.

Dalil unsur kedua adalah usulan Umar bin Khattab Ra kepada Khalifah Abu Bakar Ra, agar Khalifah segera membukukan Al Qur’an, sebab banyak para Hafizh Qur’an yang syahid dalam suatu peperangan, lalu usulan itu diterima dan dilaksanakan. Meskipun perbuatan ini baru, tetapi mengandung suatu mashlahat, sebab ada kekhawatiran, jika para Hufazh semakin sedikit, nanti ayat-ayat Al Qur’an menjadi sulit dijaga keasliannya (jika tanpa dibukukan).

Perbuatan di atas tidak dianggap bid’ah, tetapi merupakan amal kebajikan yang mulia di sisi Allah. Para ulama kerap menyebut hal itu dengan istilah Maslahah Mursalah. Maka, penerbitan buku-buku Islam, pendirian madrasah, pendirian universitas, pendirian bank Islami, pendirian rumah sakit Islam, dll. semua itu dimasukkan dalam kategori ini. Ia merupakan perkara-perkara baru yang diadakan oleh kaum Muslimin, demi suatu kemaslahatan tertentu. Hal ini sesuai dengan kaidah dasar Fiqih Islam, “Li jalbul mashalih wa daf’ul mafasid” (untuk mencapai kemaslahatan dan menolak kerusakan).

Dan unsur ketiga, dalilnya adalah ia merupakan salah satu dampak buruk perbuatan bid’ah. Bid’ah bila dilakukan, ia akan menutupi amal-amal Sunnah. Misalnya, orang membiasakan melakukan tahlilan dari rumah ke rumah. Biasanya saat mereka melakukan tahlilan itu, mereka akan meninggalkan amal-amal Sunnah seperti: membaca Al Qur’an, i’tikaf di masjid, shilaturahim ke orangtua, mengkaji ilmu, menggunakan harta untuk sedekah, dll. Begitu juga dengan acara seperti Maulid Nabi. Acara semisal itu bila terus-menerus dilakukan, ia akan merusak amal-amal Sunnah yang lain seperti: Shalat berjamaah, shalat istisqa’, shalat gerhana, taujih Jihad fi Sabilillah, i’tikaf, rihlah ilmiah, dll.

Nah, inilah karakter bid’ah yang mudah dipahami, insya Allah. Kaidah ini bisa menjadi solusi atas polemik yang ada. Bid’ah tak cukup didefinisikan sebagai: “Sesuatu yang baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi dan Shahabat.” Di sisi lain, bid’ah adalah bid’ah, tidak ada bid’ah hasanah atau dhalalah; semua bid’ah adalah dhalalah (sesat), seperti disebut dalam riwayat, “Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin naar” (setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat resikonya bisa masuk neraka).

Adapun tentang perkataan Umar bin Khattab Radhiyyalahu ‘Anhu dalam hadits shahih saat mengomentari tentang shalat tarawih berjamaah “Ni’mal bid’atu hadzihi” (sebaik-baik bid’ah adalah perbuatan ini). Maka hal ini bukanlah perbuatan bid’ah. Mengapa demikian? Sebab, shalat tarawih itu telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, diadakan di bulan Ramadhan, secara berjamaah, setelah melaksanakan Shalat Isya’. Jadi, Umar bin Khattab dan para Shahabat tidak membuat amal-amal baru dalam hal ini. Mereka hanya meneruskan amal shalat tarawih yang sudah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Lalu mengapa Umar menyebut hal itu sebagai bid’ah (sesuatu yang baru)? Karena Rasulullah Saw melaksanakan shalat tarawih hanya beberapa hari saja di awal Ramadhan, sedangkan kemudian kaum Muslimin (dipelopori oleh Umar bin Khattab Radhiyyalahu ‘Anhu) melaksanakannya setiap hari selama bulan Ramadhan. Nah, itulah makna “bid’ah” (kebaruan) dalam pengamalan shalat tarawih tersebut.

Selain itu, mengamalkan Sunnah yang ditinggalkan oleh Khulafaur Rasyidin adalah termasuk perbuatan Sunnah yang diajarkan oleh Nabi juga. Mengapa demikian? Karena beliau pernah bersabda: ‘Alaikum bis sunnati wa sunnatil khulafaur rasyidinal mahdiyina -min ba’diy-, ‘adh-dhu ‘alaiha bin nawajid” (hendaklah kalian melaksanakan Sunnah-ku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian). Hadits populer ini diriwayatkan dari Irbath bin Sariyyah Radhiyyalahu ‘Anhu (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, Baihaqi, Hakim, Thabrani, Ad Darimi, dll). Jadi mengamalkan shalat tarawih berjamaah itu masih satu arah dengan mengamalkan Sunnah Khulafaur Rasyidin (Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu).

Dengan demikian, setiap urusan bid’ah, cirinya adalah: Ia tidak diperintahkan dalam Al Qur’an atau As Sunnah, ia tidak ada manfaatnya bagi kebaikan hidup kaum Muslimin dalam urusan dunia atau Akhirat, dan ia bila dilakukan bisa mematikan amalan Sunnah yang sudah jelas-jelas diajarkan oleh Rasulullah Shallallah ‘Alaihi Wasallam.

Mari kita coba aplikasikan kaidah ini dalam melihat amal-amal kaum Muslimin selama ini. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini:

  1. Apakah meminta pertolongan kepada ahli kubur yang sudah wafat (sekalipun ia adalah seorang Nabi dan Rasul) termasuk perbuatan bid’ah? [Jawabnya ialah IYA. Sebab perbuatan seperti itu selain tidak diperintahkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, ia juga bisa menyeret seseorang ke perbuatan syirik].
  2. Apakah acara tahlilan 7 hari setelah seseorang wafat, pada hari ke-40, pada hari ke-100, hari ke-1000 termasuk bid’ah? [Jawabnya ialah IYA. Selain ia tidak diperintahkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, tidak ada maslahatnya bagi urusan dunia-Akhirat, ia juga bisa mematikan perbuatan Sunnah yang sudah pasti, seperti doa anak bagi ayah-bundanya, doa orangtua bagi anak-anaknya, dll.].
  3. Apakah pesawat terbang, internet, telepon, listrik, komputer, HP, dll. termasuk perbuatan bid’ah? [Jawabnya BUKAN, sebab ia adalah benda-benda teknologi yang memiliki maslahat untuk memudahkan kehidupan Ummat Islam. Kecuali, kalau alat-alat itu dipakai untuk urusan haram, maka hukumnya juga haram].
  4. Apakah acara Maulid Nabi dengan menggelar dzikir berjamaah di Monas, dipimpin seorang ulama Shufi dari Jakarta, dengan melakukan hubungan teleconference dengan ulama Shufi lain dari Yaman; lalu dalam acara itu banyak campur-baur laki-laki perempuan, diadakan sampai malam hari, sehingga banyak kaum wanita dan anak-anak kesusahan di jalan, membuat macet jalanan dan kotor lingkungan, mengundang datangnya kaum kriminal, dll. apakah ia termasuk perbuatan bid’ah? [Jawabnya adalah IYA. Selain tidak ada perintah melakukan dzikir seperti itu, ia juga mendatangkan aneka madharat bagi Ummat. Ia mengundang pelanggaran-pelanggaran Syariat, dan lagi pula tidak ada manfaatnya. Doa-doa yang dibaca di majelis seperti itu agar pemimpin jadi shaleh, negeri melimpah rizki, bala dan bencana dihindarkan, dll. terbukti tidak dikabulkan. Kalau mau berdzikir, mendapat Syafaat Rasulullah, mendapat berkah doa orang shalih, mendapat pahala majelis dzikir, hal itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik].
  5. Apakah mendawamkan membaca Barzanji di saat Maulid Nabi, melakukan itu terus-menerus, dengan rukun-rukun amal yang pasti, dan merasa berdosa bila meninggalkannya (atau meninggalkan rukun-rukunnya), apakah hal itu merupakan bid’ah? [Jawabnya IYA. Selain tidak diperintahkan, hal ini merupakan ritual-ritual khusus yang menyaingi ritual-ritual Islami yang sudah jelas. Ia juga tidak bermanfaat, bagi kehidupan dunia dan tidak dapat dipastikan pahalanya di Akhirat, karena tidak ada dalil amaliahnya].
  6. Apakah menulis buku Islami, mendirikan sekolah, membuat majalah Islam, membuat situs dakwah, mendirikan universitas Islam, membuat rumah sakit Islam, dll. termasuk bid’ah? Sebab semua itu tidak ada di zaman Nabi dan Shahabat? [Jawabnya BUKAN, sebab hal-hal itu dibutuhkan oleh kaum Muslimin dalam kehidupan mereka. Kalau semua itu tidak dilakukan, justru kaum Muslimin akan tertimpa madharat, karena sekolah Islami tidak ada, rumah sakit Islami tidak ada, universitas Islami tidak ada, dll.].
  7. Apakah memfitnah ulama, mencaci-maki kehormatan mereka, menganggap ulama sangat hina, bahkan menganggap orang kafir lebih utama daripada ulama-ulama itu (seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Adz Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Albani, Al Utsaimin, dll.), apakah perbuatan ini termasuk bid’ah? [Jawabnya, bukan bid’ah lagi, tetapi ia perbuatan HARAM dan FAHISYAH (keji). Ulama-ulama itu tidak mengharamkan dirinya dikritik, sebab mereka bukan Nabi. Mereka juga tidak meminta dikultuskan. Mereka secara ikhlas melayani ilmu sesuai kaidah-kaidah Salaf. Bahkan mereka tidak membuat-buat pendapat baru, tetapi selalu mencari jalan kepada pendapat-pendapat Salaf. Misalnya, pendapat Ibnu Taimiyyah dalam masalah Istiwa’. Ini bukan baru, tetapi hanya melanjutkan pendapat Imam malik rahimahullah (bahwa Istiwa’ itu sudah maklum, tatacara Istiwa’ tidak diketahui, mengimaninya wajib, mempersoalkannya adalah bid’ah). Para penghina ulama ini wajib diingatkan agar tidak mengotori lisan dan hidupnya dengan menghujat para ulama. Bila tidak berhenti dari berbuat keji, maka berlaku firman Allah dalam hadits qudsi, “Wa man ‘ada liy waliyan, faqad adzantu lahu bil harbi” (dan siapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang baginya). Wahai insan, amal-amal kalian tida ada seujung kuku dari amal-amal para ulama itu. Maka kasihanilah diri kalian, sebelum Allah mewajibkan berlakunya kehinaan atas manusia-manusia jahil yang menghina kehormatan ulama!].

Semoga risalah sederhana ini bermanfaat dan bisa menjadi pelajaran (khususnya bagi diri kami sendiri). Mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan. Yang benar adalah Syariat Nabi Shallallah ‘Alaihi Wasallam, dan yang bathil adalah jalan-jalan yang menyelisihi Syariat itu.

Jangan lemah karena omongan orang-orang menyimpang, meskipun omongan itu banyak jumlahnya. Tetap istiqamah di jalan Sunnah Sayyidil Mursalin! Qul laa ilaha illa Allah, tsumma istaqim! Wal akhiru, alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abahnya Aisyah, Fathimah, Khadijah].

Iklan

107 Responses to Prinsip Memahami Bid’ah (Kajian Ringkas)

  1. Si Fulan... berkata:

    Jazakallah ustad atas responnya…

  2. Liong berkata:

    Alhamdulillah

  3. uni berkata:

    Jazakallah ustad

  4. awam berkata:

    tdnya sya kagum dngn tlsan2 ustz abisyakir,tp kok ksini2 mlah ngco,msa maulid nabi dsbut bid’ah yg dlrng,sdngkan tv,intrnet yg jlas2 lbh bnyk mmbri mdrt drpd mslhtny dblng bkn bd’ah.istgpar pak ustz,sy mau tnya ustz ini percis atw wahhaby sich?

  5. abisyakir berkata:

    @ Uni…

    Sama-sama Bu. Semoga bermanfaat. Wa jazakillah aidhan khairan jaza’.

    AMW.

  6. abisyakir berkata:

    @ awam…

    Ya, tidak apa-apa, Anda bebas bersikap. Sebab disini kan kita bukan memaksakan pendapat, kita sama-sama saling belajar, dari berbagai sudut pandang. Maulid Nabi yang menjadi ritual khusus, menjadi saingan bagi momen-momen Ied yang diajarkan dalam Islam, ia jelas merupakan bid’ah. Sedangkan alat-alat teknologi itu pada asalnya adalah mubah, sesuai kaidah, “Al aslu fil asya’i al ibahah” (hukum asal segala sesuatu adalah mubah/boleh). Baru menjadi makruh atau haram, kalau ada hal-hal yang merugikan atau melanggar Syar’i di dalamnya. Kalau alat-alat demikian dianggap “bid’ah dhalalah”, Anda akan kesulitan memberi komentar di blog ini. Terimakasih.

    AMW.

  7. awam berkata:

    mnjd saingan bgi mment2 ied?astpgprlh!anda itu asal skali y dlm brbcara,maulidan ya maulidan,ied ya ied gk ada saing2n.msuk dan lhtlh dlu sprt apa maulidan yg kmi lkukan.DEUlEH Ku panon,bru kmentar,jngn brbruk sngka dlu!

  8. Anonim berkata:

    betul skali bnyak ritual bid’ah sperti maulid mnyebabkan ritual lain yg diajarkan nabi menjadi terbengkalai… jangan tutup mata deh…

  9. juhaiman berkata:

    @awam …

    Setahu saya orang nasrani sangat getol merayakan MAULID Nabi Isa as….,, Padahal saya tidak pernah mendengar sejarah nabi Isa dan hawariyin melakukan perayaan tsb.

    Selama hidup rasullallah pun tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya , juga masa sahabat , seterusnya.

    Kemarin kita lihat peryaaan maulid nabi isa …yang sebagian umat islam pun merayakan di gereja atau tempat lainnya dengan iringan lagu lagu .. dan alat alat musik .

    Pada Maulid yang di lakukan oleh sebagian umat islam pun …kadang kadang dijumpai ritual yang sama …. ada rebana ,, makan makan di dalam mesjid .. dan yang paling menggelikan adaanya penyambutan arwah yang ditandai dengan cara semprot semprot minyak wangi …..
    Jujur ,,, apakah ritual tersebut ada contohnya dari nabi kita ????
    Jangan jangan kita hanya meniru kaum nasrani … karena merasa syariat kita kurang sempurna / kurang afdhol / kurang hot sehingga perlu ditambah tambahi ….
    Beragamalah dengan ilmu bukan dengan nafsu …….
    Maaf bila opini saya salah

  10. Abahnya Zabran berkata:

    Betul ustd kadang kala mereka tahlilan mengkhususkan membaca Surat Yasin setiap malam Jum;at sehingga mereka menghilagkan sunah membaca surat AL Kahfi pada hari juma.at…itu yang terjadi kan?

  11. Ustad berkata:

    Sy sependapat dgn awam pada,masak maulid nabi dibilang bid’ah?bukankah disini kita bisa menampak kan kekompakan kita dan persatuan kita sesama umat islam dan disamping mengenang hari lahir nabi kita.

  12. sigit berkata:

    gak smua maulid yang diadakan itu antar laki dan wanita bercampur,,, apalagi di zaman sekarang ini.. maulidan adalah salah satu sarana untuk mengingatkan kembali kepada sosok Rasullah yang tak bisa kita pungkiri hampir terpinggirkan oleh idol-idol di televisi,,, menurut saya.. afwan.. maulid lebih byk membawa manfaat …

  13. Irwan berkata:

    saya sependapat dengan ustad, hanya saja masalah maulid nabi, itu tergantung dengan situasi , kondisi dan cara merayakannya, tdk semua maulid nabi bidaah,
    yang saya yanyakan ustad bagaimanakah dengan perguruan bela diri, yg jaman nabi juga tdk ada diajarkan, seperti tenaga dalam, metafisik yg didapat dengan jalan latihan bukan jalan yang sirik..

  14. Reka Santi berkata:

    ada benarnya juga ustad, hanya saja bagi saya tdk setiap perayaan maulid nabi itu bidaah, tergantung situasi,kondisi dan cara merayakannya,
    yang saya tanyakan bagaimanakah dengan perbuatan lain yg jaman nabi tdk ada dilakukan seperti perguruan bela diri, tenaga dalam, dan metafisik yang didapat dengan latihan pernafasan , bukan didapat dgn ritual2 ataupun cara sirik… mhn penjelasan ustad

  15. abisyakir berkata:

    @ Irwan dan Reka Santi…

    Yang saya tanyakan ustad bagaimanakah dengan perguruan bela diri, yg jaman nabi juga tdk ada diajarkan, seperti tenaga dalam, metafisik yg didapat dengan jalan latihan pernafasan, bukan jalan yang sirik..?

    Komentar: Mbak, kalau latihan pernafasan murni, insya Allah boleh Mbak, sebab dalilnya: “Manusia halal bernafas.” Sebab, kalau tidak bernafas, pasti mati. Iya kan. Kalau pernafasan murni, monggo saja. Tapi kalau kemasukan meditasi, renungan, menangkap “energi alam”, dll. mesti hati-hati. Sebab ada yang meneliti, hal-hal begitu nanti ujungnya syirik juga. Wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  16. Khairul Hadi berkata:

    Stuju ustad, klo cman prnafasan aja boleh, tpi klo dah kyakinan2 sprti dsbutkan diatas mis, menarik tnaga mtahari, bulan n bumi, datang ketempat2 kramat dll.. itu mah syirik akbar.. wlaupun di istilah2kan scara ilmiah dgan sbutan prana, tanaga dalam, chi, reiki, Ki ato lainnya smuanya akhirnya sama yaitu sihir…

  17. Said berkata:

    Ustadz Abisyakir, saran saya antum baca kembali kitab-kitab ulama’ yang menjelaskan makna hadits “kullu bid’atin dhalalah”. Bagaimana mereka mendefenisikan bid’ah, misalnya al-Syafi’i, al-Baihaqi, ibnul Atsir, Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Kirmani, al-Nawawi, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, al-Suyuthi, dan lain-lain. Jangan terpaku pada defenisi al-Syathibi. singkat saja, inilah contoh bid’ah-bid’ah dalam masalah agama ( bukan maslahah mursalah ) yang diakui oleh para ulama’ :

    1. Membaca al-Qur’an di kuburan ( Hanafiyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah )
    2. Membaca al-Qur’an untuk mayat. ( Hanafiyah dan Hanabilah, Imam Ahmad, mutaakhkhirin malikiyah, sebagaian syafi’iyyah, Ibnul Qayyim al-Jauziah ).
    3. Berkumpul membaca al-Qur’an secara bergiliran. ( Imam Malik, al-Bunani, al-Dusuqi, al-Nawawi, Ibnu Taimiyah ).
    4. Membaca al-Qur’an bersama-sama ( al-Nawawi, bahkan beliau menyebutkan ini dibolehkan dan dilakukan oleh ulama’ – ulama’ utama, salaf dan khalaf ).
    5. Tarawih 20 raka’at ( Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyah, Zaidiyah ).
    6. Berjabatan tangan sesudah shalat ( al-Muhib al-Thabari, Hamzah al-Nasyiri, al-Izz bin ‘Abdissalam, al-Nawawi ).
    7. Membaca shalawat setelah adzan ( Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah ).
    8. Adzan lebih dari satu orang secara bersama-sama dengan syarat tertentu. ( Hanafiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah ).
    9. Seruan “al-Shalatu Jami’ah” untuk shalat ‘Idain ( Sebagian Malikiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah ).
    10. Tawassul dengan Nabi Muhammad SAW setelah beliau meninggal dunia.( Malikiyah, Syafi’iyyah, Mutakhkhirin Hanafiyah { di antara nya al-Kamal bin al-Humam,} Hanabilah ).

    Apakah antum akan mengatakan bahwa ulama – ulama’ di atas sebagai pelaku bid’ah ? Lalu, siapakah yang terbebas dari bid’ah ?
    Atau antum merasa lebih baik pemahaman agamanya dibanding mereka ?
    Saya sangat menghargai kalau antum memiliki pendapat lain, tetapi tolong hargailah pendapat orang lain. Salam ukhuwah.

  18. abisyakir berkata:

    @ Said…

    Akhil karim, kalau mengikuti “madzhab bebas” bisa saja dicarikan dalih untuk menolak paparan Antum di atas. Tapi demi menghargai pendapat ulama-ulama madzhab, ya kita bersikap lapang saja. Mungkin Antum perlu sebutkan sumber-sumber rujukan untuk masing-masing pendapat di atas melalui referens masing-masing. Bukan untuk menguji atau menjatuhkan, tidak sama sekali. Tapi biar ada yang bisa cross-check atas paparan Antum itu.

    Oh ya, mohon maafkan juga Akhi. Sebenarnya, asal mula artikel itu karena adanya kebingungan soal definisi bid’ah itu lho. Lalu saya diminta menjelaskan. Ya, alhamdulillah dijelaskan. Meskipun masih menyisakan perbedaan pendapat (itu pasti).

    Ala kulli haal, anggap saja artikel itu sebagai sikap saya. Tidak harus dipahami sebagai semacam paksaan bagi yang lain. Siapapun yang memiliki dalil dan rujukan, tafaddhal…silakan. Wa jazakumullah khairan jaza’.

    AMW.

  19. Said berkata:

    Syukron ustadz, saya sangat menghargai pendirian antum. Mengenai referensi, sebagian besar berasal dari kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah dan al-Fiqh al-Islami wa Adilatuh. Poin ke-2, dapat juga membaca al-Bayyinat fi Hukm Ihda’ tsawab al-A’mal li al-Amwat karya Zhafir Hasan dan kitab al-Ruh karya Ibnul Qayyim al-Jauziyah, poin ke-3 dan ke-4 dapat dibaca di kitab al-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an karya al-Nawawi,
    Paparan di atas bukanlah berarti saya mengkultuskan ulama’-ulama’ mazhab. Ulama’ tidaklah ma’shum. Pendapat mereka dapat benar dan juga dapat salah. Nah, kalo ulama’ – ulama’ mujtahid saja memiliki potensi untuk salah, apa lagi kita yang masih thalibul ilmi ini. Kita, dapat saja, menimbang pendapat para ulama’ dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, dan memilih pendapat yang rajih menurut kita. Tetapi, jangan lupa, bahwa pendapat yang menurut kita rajih itu pun merupakan ijtihad yang mempunyai potensi untuk benar dan salah. Oleh karena itu, para ulama’ tidak mengingkari perbedaan dalam masalah ijtihadiyah.

    Koment saya di atas, membawa pesan, bahwa ulama’ dalam 4 mazhab, pada dasarnya tidak menolak semua perkara baru di dalam agama ( bukan perkara baru dalam urusan keduniaan saja ). Perkara baru, baik urusan dunia, maupun urusan ibadah, ditimbang dengan neraca syari’at Ada yang sesuai, sehingga diterima, dan ada yang tidak sesuai sehingga ditolak. Hanya saja, dalam tathbiq nya, mereka berbeda pendapat.

    Koment itu juga bermaksud mengajak siapa saja yang membacanya untuk menelusuri kembali makna bid’ah menurut para ulama’. Karena defenisi bid’ah yang banyak dipakai oleh saudara-saudara salafi adalah defenisi nya al-Syathibi pengarang kitab al-I’tisham. Padahal, sepanjang pengetahuan saya, defenisi itu merupakan defenisi baru yang tidak ditemukan dalam referensi – referensi yang ditulis atau dinuqil dari ulama’ salaf.

    Kalau masalah berdalil, seribu dalil yang antum kemukakan, maka akan ada pula seribu dalil untuk menolaknya. Antum berargumen dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, kami pun akan berargumen dengan al-Qur’an dan al-Sunnah juga. Ini tidak akan pernah selesai. Solusinya, mari saling menghormati dan menghargai, sebagaimana telah dicontohkan oleh para ulama’.

    Saya menulis ini, bukan karena saya benci salafi / wahabi. Bukan karena kedengkian, dan bukan juga karena fanatisme buta. Sedikit banyak, saya juga mengerti ilmu bahasa arab dg perangkat-perangkatnya, ilmu tafsir dg perangkat-perangkatnya, ilmu hadits, fiqih dan ushul fiqh. Bahkan dalil apa pun yang dikemukakan pihak salafi / wahabi, saya juga mengetahuinya, karena dulu, waktu kuliah s1, saya penggemar tulisan-tulisan ibnu taymiyah, ibnul Qayyim, al-‘Utsaimin, bin Baz, dkk. Saya sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran salafi / wahabi, walaupun saya dibesarkan di lingkungan NU, dan dididik dalam pesantren NU. Tetapi dengan banyak membaca dan membaca, sikap toleran dan moderat lah yang muncul.

    Terakhir, saran saya, mohon berhati-hati terhadap vonis bid’ah. Para ulama’ yang membagi bid’ah menjadi sayyiah dan hasanah bukan tidak tahu ada hadits “kullu bid’ah dhalalah”. Mereka juga tidak mungkin beramai-ramai sepakat menentang hadits Rasulullah SAW. Mereka paham hadits tersebut, tetapi mereka memahaminya lain. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil yang lain. Mereka menerapkan kaidah-kaidah ushuliyah, sehingga menghasilkan kesimpulan seperti itu.

    Mohon ma’af, jika kurang berkenan di hati ustadz. Demi Allah, saya merindukan persatuan umat Islam. Semoga kita dipersatukan dalam perbedaan. Perbedaan cukup di ranah pemikiran, jangan masuk ke dalam hati. Salam ukhuwwah fillah.

    M. Said

  20. abisyakir berkata:

    @ Said…

    Jazakumullah khair Ustadz atas penjelasan, masukan, dan referensinya. Semua ini adalah apresiasi yang layak dihargai, sebagai upaya saling hormat-menghormati antar sesama pencari ilmu. Alhamdulillah.

    Koment saya di atas, membawa pesan, bahwa ulama’ dalam 4 mazhab, pada dasarnya tidak menolak semua perkara baru di dalam agama ( bukan perkara baru dalam urusan keduniaan saja ). Perkara baru, baik urusan dunia, maupun urusan ibadah, ditimbang dengan neraca syari’at Ada yang sesuai, sehingga diterima, dan ada yang tidak sesuai sehingga ditolak. Hanya saja, dalam tathbiq nya, mereka berbeda pendapat.

    Koment itu juga bermaksud mengajak siapa saja yang membacanya untuk menelusuri kembali makna bid’ah menurut para ulama’. Karena defenisi bid’ah yang banyak dipakai oleh saudara-saudara salafi adalah defenisi nya al-Syathibi pengarang kitab al-I’tisham. Padahal, sepanjang pengetahuan saya, defenisi itu merupakan defenisi baru yang tidak ditemukan dalam referensi – referensi yang ditulis atau dinuqil dari ulama’ salaf.

    Kalau masalah berdalil, seribu dalil yang antum kemukakan, maka akan ada pula seribu dalil untuk menolaknya. Antum berargumen dengan al-Qur’an dan al-Sunnah, kami pun akan berargumen dengan al-Qur’an dan al-Sunnah juga. Ini tidak akan pernah selesai. Solusinya, mari saling menghormati dan menghargai, sebagaimana telah dicontohkan oleh para ulama’.

    Respon: Ada sebuah kaidah ushul yang terkenal, “Al ‘ashlu fil ‘ibadah haramun”. Dari kaidah ini banyak ulama dan penuntut ilmu meyakini konsep bid’ah seperti yang telah dijelaskan. Selain tentunya hadits “kullu bid’atin dhahalah”. Semoga dimengerti.

    Saya menulis ini, bukan karena saya benci salafi / wahabi. Bukan karena kedengkian, dan bukan juga karena fanatisme buta. Sedikit banyak, saya juga mengerti ilmu bahasa arab dg perangkat-perangkatnya, ilmu tafsir dg perangkat-perangkatnya, ilmu hadits, fiqih dan ushul fiqh. Bahkan dalil apa pun yang dikemukakan pihak salafi / wahabi, saya juga mengetahuinya, karena dulu, waktu kuliah s1, saya penggemar tulisan-tulisan ibnu taymiyah, ibnul Qayyim, al-’Utsaimin, bin Baz, dkk. Saya sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran salafi / wahabi, walaupun saya dibesarkan di lingkungan NU, dan dididik dalam pesantren NU. Tetapi dengan banyak membaca dan membaca, sikap toleran dan moderat lah yang muncul.

    Respon: Ada satu ungkapan menarik, sebutlah kata-kata hikmah, bunyinya: “Khairul umur ausathuha” (sebaik-baik urusan adalah pertengahannya). Katanya, ini bukan hadits, tapi ia bisa diterima sebagai hikmah. Apalagi kita bisa kaitkan hikmah ini dengan ayat Al Qur’an tentang karakter kaum Muslimin, sebagai Ummatan Wasathan (Al Baqarah 143). Ya intinya, sikap pertengahan itu baik; tidak tafrith (berlebihan-lebihan) dan juga ifrath (menggampangkan). Sikap hikmah, insya Allah selalu baik di segala situasi.


    Terakhir, saran saya, mohon berhati-hati terhadap vonis bid’ah. Para ulama’ yang membagi bid’ah menjadi sayyiah dan hasanah bukan tidak tahu ada hadits “kullu bid’ah dhalalah”. Mereka juga tidak mungkin beramai-ramai sepakat menentang hadits Rasulullah SAW. Mereka paham hadits tersebut, tetapi mereka memahaminya lain. Mereka berhujjah dengan dalil-dalil yang lain. Mereka menerapkan kaidah-kaidah ushuliyah, sehingga menghasilkan kesimpulan seperti itu.

    Respon: Ya, insya Allah saya akan hati-hati. Jazakumullah khairan jaza’. Tetapi bukan berarti, kami tidak boleh bersikap lho ya. Kan ada yang mengambil pendapat tertentu, dan ada yang berpendapat lain; ya kan mesti saling menghargai. Iya kan. Tapi insya Allah nanti akan lebih hati-hati, bi idznillah.

    Mohon ma’af, jika kurang berkenan di hati ustadz. Demi Allah, saya merindukan persatuan umat Islam. Semoga kita dipersatukan dalam perbedaan. Perbedaan cukup di ranah pemikiran, jangan masuk ke dalam hati. Salam ukhuwwah fillah. M. Said

    Respon: Sama-sama Ustadz, juga mohon dimaafkan atas segala salah dan kekurangan kami. Alhamdulillah, ahabbakallah li annaka tuhibbu li ittihadil Ummah, alhamdulillah. Ja’alaniyallahu wa iyyaka wal Muslimina ikhwanan mutahabbiyan tahta zhilalil Islam fid dunya wal akhirah. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  21. Said berkata:

    Ustadz A.M. Waskito, mhn ma’af, saya koment lg :
    1. Mengenai kaidah : al-Ashlu fi al-‘Ibadah al-Tahrim, itu benar sekali. Setiap ibadah harus ada dalilnya. Hanya saja, dalil itu macam-macam, ada yang bersifat umum, ada yang bersifat khusus. Ada yang berdasarkan ‘Ibarah al-Nash, ada juga yang berdasarkan isyarah al-Nash, dilalah al-Nash, dan Iqtidha’ al-Nash. Ada yang berdasarkan mantuq, dan ada juga yang berdasarkan mafhum, dan lain-lain, sebagaimana dibahas oleh ulama’-ulama’ ushul. Yang bikin kaidah itu adalah para ulama’, masa iya mereka sendiri yg melanggarnya. Imam Ahmad, misalnya, beliau tahu kaidah itu, tetapi mengapa beliau mengeluarkan fatwa sampainya seluruh amal kebaikan orang yang masih hidup untuk orang yg telah meninggal. Pendapat beliau ini, diikuti oleh ulama’ – ulama’ Hanbali seperti, Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim. Jadi, kalau kita belum sampai derajat mujtahid, sulit menggunakan kaidah ini, karena boleh jadi, menurut kita, tidak ada dalilnya, tetapi menurut para ulama’, ternyata dalilnya sangat kuat. Saya mempersilahkan antum mengkaji fiqih perbandingan, maka antum akan melihat bahwa semua mazhab tidak ada yang terbebas dari bid’ah sebagaimana yg antum pahami. Apakah mereka semua itu tidak mengerti syari’at ? Mereka tentu jauh lebih mengerti dibanding kita.
    2. Mengenai konsep bid’ah, maka, sepanjang yang saya ketahui, sebelum datang al-Syathibi dengan kitab al-I’tisham nya, semuanya sepakat mengenai konsep bid’ah, hanya ‘ibarah yang berbeda. Ada dua konsep yg dikemukakan oleh ulama’ – ulama’ mutaqaddimin, yaitu, Kelompok pertama, mendefenisikan bid’ah sebagai sesuatu yang tidak dikerjakan pada masa Rasulullah SAW. Kelompok ini lah yang membagi bid’ah menjadi 2 macam, yaitu terpuji dan tercela. Perkara baru, menurut mereka, ditimbang dengan neraca syari’at. Yang bertentangan dg syari’at ditolak, dan yang bersesuaian dg syari’at diterima. Yg ditolak itu bid’ah sayyiah, dan yang diterima itu adalah bid’ah hasanah. Pelopornya imam al-Syafi’I, diikuti oleh al-Baihaqi, al-‘Izz bin Abdissalam, ibn al-Atsir, al-Nawawi, al-Suyuthi, dan lain-lain.
    Kelompok kedua mendefenisikan bid’ah sebagai sesuatu yang tidak dikerjakan pada masa Rasulullah SAW, dan tidak memiliki sandaran dalil sama sekali. Jadi, menurut kelompok ini, untuk disebutkan sebagai bid’ah itu syaratnya 2, yaitu tidak dikerjakan pada masa Rasulullah SAW, dan tidak ada dalil sama sekali. Perkara baru, menurut mereka, ada dua macam, yaitu mempunyai sandaran dalil ( tidak musti zhahir nash ), dan tidak memiliki sandaran dalil. Yg ada sandaran dalilnya, walaupun tidak dikerjakan pada masa Rasulullah, diterima dan dinamakan dengan sunnah hasanah ( bukan bid’ah hasanah seperti kelompok pertama di atas ). Yg tidak ada sandaran dalilnya, dinamakan dengan bid’ah dhalalah. Kelompok ini tidak membagi bid’ah menjadi 2, tetapi mereka menyatakan semua bid’ah itu sesat. Tetapi kita harus ingat bahwa bid’ah menurut mereka, bukan setiap perkara baru ( urusan dunia atau ibadah ), tetapi perkara baru yang tidak memiliki dalil sama sekali. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Rajab al-Hanbali, Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan lain-lain.
    Sebagai contoh, berjabat tangan setelah shalat adalah perkara baru, tetapi ada dalil yang bersifat umum yang menganjurkan kita untuk berjabat tangan. Kalo menggunakan defenisi bid’ah kelompok pertama, ini adalah bid’ah hasanah, dan kalo menggunakan defenisi kelompok kedua, maka ini adalah sunnah hasanah, bukan bid’ah.
    Dengan demikian, kita dapat mengerti celaan-celaan para ulama’ terhadap bid’ah, yaitu bid’ah menurut defenisi mereka, bukan bid’ah seperti yang ada dalam fikiran kita. Berdasarkan penjelasan di atas, juga menjadi jelas, bahwa para ulama’ mutaqaddimin, pada hakikatnya sepakat dengan konsep bid’ah, tetapi beda dalam ‘ibarah dan penerapannya. Untuk menguji tulisan ini, silahkan merujuk kepada kitab-kitab syarah hadits, dan kitab-kitab lainnya yang berkaitan, dan tinggalkan dulu untuk sementara, kitab-kitab yg ditulis oleh ulama’ – ulama’ belakangan.
    Mungkin kita berfikir, bahwa walaupun berjuta-juta ulama’ mengemukakan pendapatnya, tetap ucapan Rasulullah SAW lah yang harus didahulukan. Ini benar sekali, tetapi, mungkinkah para ulama’ sepakat menentang Rasulullah SAW ? Atau pemahaman kita terhadap hadits yang tidak sama dengan pemahaman para ulama’? Pemahaman kita terhadap hadits atau pemahaman ulama’ kah yang lebih baik ? Di sini, saya tidak mengemukakan dalil-dalil lain yang digunakan oleh para ulama’ dalam rangka memahami hadits “kullu bid’ah dhalalah” karena akan terlalu panjang.
    3. Mengenai kebebasan bersikap, silahkan, tidak ada yg berhak memaksakan pemahamannya kepada orang lain. Antum berhak meyakini sesuatu yang antum anggap benar, tetapi, demi menghargai pendapat orang lain, maka hendaklah kita tidak mengingkari secara berlebihan, sehingga seakan-akan, pemahaman yang lain itu pasti salah dan menyesatkan.
    4. Terakhir, sekali lagi, saya mohon ma’af yg sebesar-besarnya. Bukan maksud untuk menggurui, bukan maksud untuk mendebat, dan bukan maksud untuk memaksa orang lain mengikuti pandangan saya. Menukil istilah antum, inilah sikap saya dalam masalah ini. Semoga Allah SWT, menjadikan kita sebagai umat yang bersaudara. Amiin ya Rabb al-‘Alamin.

  22. rudi taslim berkata:

    Memang untuk kalangan ahli barangkali bisa melihat batas batas Bid”ah … tetapi fakta dimasyarakat batas itu menjadi sangat bias ..
    Yang menjadi pertanyaan ..apakah ada kerugian untuk meninggalkan ” Bid’ah hasanah ” ??????.
    Sesungguhnya banyak sunnah sunnah nabi yang jelas di setujui oleh jumhur ulama , mengapa tidak kita amalkan saja sunnah sunnah tsb .Mengapa kita masih bermain di “abu abu ” ?????

  23. abisyakir berkata:

    @ Rudi Taslim…

    Yang menjadi pertanyaan ..apakah ada kerugian untuk meninggalkan ” Bid’ah hasanah ” ??????.
    Sesungguhnya banyak sunnah sunnah nabi yang jelas di setujui oleh jumhur ulama , mengapa tidak kita amalkan saja sunnah sunnah tsb .Mengapa kita masih bermain di “abu abu ” ?????

    Komentar: Saya sangat setuju dengan perkataan ini. Kalau memang tidak ada dalilnya, mengapa harus diamalkan? Iya kan. Kenapa tidak mengamalkan yang jelas-jelas sudah ada dalilnya saja? Nah, itu dia. Islam sudah memberi kemudahan. Kok malah dipersulit dengan aneka intepretasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

    Misalnya, soal amalan untuk para ahli kubur. Sesuai sunnah, kalau ada orangtua, keluarga, kerabat ingin naik Haji, tapi sudah wafat, silakan di-Haji-kan oleh ahli warisnya. Kalau ada yang belum bayar zakat atau hutang, silakan dibayarkan ahli warisnya. Kalau ada wasiat, wakaf, hibah, sedekah, yang pernah direncanakan, tetapi keburu yang bersangkutan wafat; silakan tunaikan. Kalau ada ilmu-ilmu yang benar dari ahli kubur, silakan diamalkan sebaik-baiknya; kita dapat pahala, ahli kubur juga mendapat. Kalau ada rumah, kekayaan, properti, atau apa saja yang ditinggalkan ahli kubur, yang tidak dibutuhkan oleh ahli warisnya, tetapi bisa dipakai untuk urusan-urusan maslahat kaum Muslimin; hal ini juga bisa menjadi ladang amal bagi yang sudah wafat. Kalau ada teman/sahabat baik ahli kubur, lalu diperlakukan dengan baik oleh yang masih hidup, itu juga perlakuan positif bagi ahli kubur. Kalau ada anak-anak ahli kubur yang mendoakan orangtua, itu juga menjadi kebaikan. Kalau ada doa permohonan ampunan bagi kaum Muslimin, nah para ahli kubur Muslim juga mendapat bagian dari doa itu. Jadi, intinya banyak amal-amal yang baik dan benar. Mengapa harus memilih melakukan tahlilan, selamatan, haul, dan semisal itu?

    Semoga mendapat hikmah. Jazakallah khair, Pak Rudi Taslim.

    AMW.

  24. Said berkata:

    @Rudi Taslim & Ustadz A.M. Waskito
    Yang menjadi pertanyaan ..apakah ada kerugian untuk meninggalkan ” Bid’ah hasanah ” ??????.

    Komentar : Jika memang bid’ah hasanah itu tidak ada baik atau tidak ada untungnya, mengapa para ulama’ dari 4 mazhab mengakuinya ? Bid’ah hasanah itu hanyalah nama, karena pada hakikatnya itu adalah sunnah yang diperoleh dengan istinbath. Kalau memang itu tidak ada baiknya, maka berarti mayoritas ulama’ telah melakukan hal yang sia-sia, padahal itu tidak layak dilakukan oleh ulama’ ? Jadi, Allah SWT dan Rasul-Nya telah memberikan perintah-perintah dan anjuran-anjuran yang bersifat umum supaya kebaikan apa pun yang dilakukan umat Islam, selagi masih termasuk ke dalam keumuman perintah dan anjuran Allah dan Rasul-Nya, tetap mendapat pahala.
    Berikut Pernyataan para ulama’ :

    Imam al-Syafi’I : “Sesuatu yang baru itu dua macam : Pertama, sesuatu baru yang menyalahi al-Qur’an, al-Sunnah, Atsar, atau Ijma’, maka itu adalah bid’ah sesat. Kedua, sesuatu baru yang tidak bertentangan dengan salah satu hal tersebut di atas, maka itu tidaklah tercela”.

    Al-Qurthubi, seorang ulama besar mazhab maliki, ahli tafsir dan ahli fiqih, berkata dalam tafsirnya : “semua hal baru yang dilakukan oleh makhluq itu tidak keluar dari dua keadaan. Pertama mempunyai sandaran dari syari’at, misalnya masuk dalam sesuatu yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara umum ( walaupun bentuk spesialnya belum ada pada masa Rasulullah-pen. ), maka ini termasuk sesuatu yang terpuji. Kedua , hal baru yang tidak mempunyai sandaran sama sekali, maka inilah hal baru yang tercela”.

    Al-Nawawi : Hadits bid’ah dhalalah adalah ‘Am Makhshush”.

    Ibn al-Atsir : Bid’ah itu dua macam, yaitu bid’ah huda, dan bid’ah dhalal. Perkara baru yang bertentangan dengan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, maka itu bid’ah tercela dan diingkari. Adapun perkara baru yang masuk ke dalam keumuman anjuran Allah SWT dan Rasul-Nya, maka ini terpuji…

    Ibnu Hajar al-‘Asqalani : Bid’ah dhalalah itu adalah perkara baru yang tidak memiliki dalil, baik secara khusus, maupun secara umum.

    al-Suyuthi, ketika men-syarah hadits kullu bid’atin…, berkata : …Apabila ini telah diketahui, maka jelaslah bahwa hadits ini dan yang sejenisnya masuk dalam kategori ‘Am Makhshush.

    Ibnu Rajab : “Segala sesuatu baru yang bertentangan dengan syari’at, tertolak. Adapun sesuatu ( baru ) yang memiliki sandaran dari syari’at atau masuk dalam kaidah-kaidah umum syari’at, maka ini tidak tertolak, tetapi diterima”.

    Ibnu Baththal : Bid’ah adalah perkara baru yang belum ada sebelumnya. Jika bertentangan dengan al-Sunnah, maka itu bid’ah dhalalah, dan jika bersesuaian dengan syari’at, maka itu bid’ah huda.

    Al-Baghawi : Muhdatsat itu adalah perkara baru yang tidak dapat diqiyaskan ke pada prinsip – prinsip agama. Apabila dapat dikembalikan kepada prinsip – prinsip agama, maka tidaklah termasuk sesat.

    Al-Zarqani : Hadits “kullu bid’ah dhalalah adalah ‘Am Makhshush”.

    Al-Shna’ani : Hadits “kullu bid’ah dhalalah adalah ‘Am Makhshush”.

    Para ulama’ telah berijtihad, untuk menentukan mana bid’ah dhalalah, dan mana bid’ah hasanah ( sunnah hasanah / sunnah mustanbathah ). Seandainya ijtihad ini benar, mereka mendapat 2 pahala, dan seandainya salah, mereka mendapat satu pahala. Lalu, kita para pengikut ulama’, apakah harus disalahkan karena mengikuti ijtihad mereka ?.

    Coba antum berdua melakukan penelitian lagi, siapakah ulama’ mutaqaddimin yang memiliki pemahaman seperti antum? Atau ilmu antum berdua telah jauh melampaui para ulama’ tersebut, sehingga antum berdua lebih mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik dibanding para ulama’ ?

    Siapa yang mengatakan bahwa “bid’ah hasanah” termasuk wilayah “abu-abu” ? Seandainya itu berada pada wilayah “abu-abu”, tentu para ulama’ akan meninggalkannya karena mereka sangat wara’, sangat berhati – hati dalam beragama? Kalau mereka berani mengamalkan dan bahkan memfatwakan, ini menunjukkan bahwa mereka menganggap itu tidak termasuk wilayah “abu-abu”.

    Sekali lagi, kita boleh bersikap menurut apa yang kita yakini, tetapi, orang lain pun memiliki hak untuk bersikap juga. Jangan “seperti memaksa”. Kalau antum ingin orang lain menghormati dan menghargai antum, maka mulailah untuk menghormati dan menghargai orang lain. Antum, misalnya, tidak rela ulama’ – ulama’ panutan atau rujukan antum dicela, maka ketahuilah orang lain pun tidak rela ulama’ – ulama’ panutan dan rujukan mereka dicela.

    Semoga Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada kita semua, Amiin ya Rabb al-‘Alamin.

    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

  25. Faza berkata:

    @A. M. Waskito
    Kalau memang tidak ada dalilnya, mengapa harus diamalkan? Iya kan. Kenapa tidak mengamalkan yang jelas-jelas sudah ada dalilnya saja? Nah, itu dia. Islam sudah memberi kemudahan. Kok malah dipersulit dengan aneka intepretasi yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
    Respon : Kalau tidak ada dalil, berarti bukan bid’ah hasanah, karena bid’ah hasanah itu perkara baru yang memiliki dalil, baik berupa qiyas, mafhum muwafaqah, mafhum mukhalafah, atau masuk dalam keumuman perintah dan anjuran Allah SWT dan Rasul-NYa.
    Hebat sekali saudara mengatakan bahwa interpretasi para ulama’ tidak dibutuhkan, dan bahkan itu mempersulit ? Saudara hafal al-Qur’an 30 Juz? Hafal hadits Ratusan ribu ? Mengerti bahasa Arab dengan seluruh perangkatnya ? Mengerti metode istidlal ? dan lain -lain yang merupakan syarat seorang mujtahid ????

  26. fatihunnada berkata:

    @ Al Katib Al Marhum
    KARAKTER BID’AH adalah suatu perbuatan yang mengandung salah satu (atau semua) dari 3 unsur berikut:
    (1). Perbuatan itu tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. (Tidak ada amar yang sharih dalam Al Qur’an atau As Sunnah yang menetapkan hal itu).
    (2). Perbuatan itu tidak mengandung manfaat atau maslahat bagi kehidupan kaum Muslimin di dunia dan Akhirat. (Kalau ada maslahatnya, ajaran Islam pasti akan memperbolehkan amalan itu, sekalipun ia tidak dicontohkan di zaman Nabi dan Shahabat).
    (3). Apabila perbuatan itu dilakukan, ia akan mematikan atau menutup perbuatan Sunnah yang sudah ada. Sehingga ada ulama yang mengatakan, “Dimana tumbuh perbuatan bid’ah, maka disana ada perbuatan Sunnah yang mati.”

    Dalam tulisan anda di awal, mencantumkan tiga karakter bid’a tersebut.
    Yang saya ingin pahami, adalah pemahaman seperti ini diambil dari siapa ustadz?
    Adakah ulama yang memberikan keterangan seperti ini?

    Dan jika ini memang karakter bid’ah yang sesunguhnya, sepertinya justru akan menapikan pendapat anda langsung. Ketika dalam contoh ke 3, anda berkata:
    “””Apakah acara tahlilan 7 hari setelah seseorang wafat, pada hari ke-40, pada hari ke-100, hari ke-1000 termasuk bid’ah? [Jawabnya ialah IYA. Selain ia tidak diperintahkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah, tidak ada maslahatnya bagi urusan dunia-Akhirat, ia juga bisa mematikan perbuatan Sunnah yang sudah pasti, seperti doa anak bagi ayah-bundanya, doa orangtua bagi anak-anaknya, dll.].”””
    Bukankah tahlilan 7 hari, 40 dan 100 hari, merupakan panjatan doa anak, istri, suami, orang tua, keluarga dan seluruh kerabat untuk pengampunan dosa-dosa si mayit???
    lalu bagaimana bias, itu dianggap mematikan doa anak bagi ayah-bundanya, doa orangtua bagi anak-anaknya, dll???

    Apakah memfitnah ulama, mencaci-maki kehormatan mereka, menganggap ulama sangat hina, bahkan menganggap orang kafir lebih utama daripada ulama-ulama itu (seperti Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Adz Dzahabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, Abdul ‘Aziz bin Baz, Al Albani, Al Utsaimin, dll.), apakah perbuatan ini termasuk bid’ah? [Jawabnya, bukan bid’ah lagi, tetapi ia perbuatan HARAM dan FAHISYAH (keji). Ulama-ulama itu tidak mengharamkan dirinya dikritik, sebab mereka bukan Nabi. Mereka juga tidak meminta dikultuskan. Mereka secara ikhlas melayani ilmu sesuai kaidah-kaidah Salaf. Bahkan mereka tidak membuat-buat pendapat baru, tetapi selalu mencari jalan kepada pendapat-pendapat Salaf. Misalnya, pendapat Ibnu Taimiyyah dalam masalah Istiwa’. Ini bukan baru, tetapi hanya melanjutkan pendapat Imam malik rahimahullah (bahwa Istiwa’ itu sudah maklum, tatacara Istiwa’ tidak diketahui, mengimaninya wajib, mempersoalkannya adalah bid’ah). Para penghina ulama ini wajib diingatkan agar tidak mengotori lisan dan hidupnya dengan menghujat para ulama. Bila tidak berhenti dari berbuat keji, maka berlaku firman Allah dalam hadits qudsi, “Wa man ‘ada liy waliyan, faqad adzantu lahu bil harbi” (dan siapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang baginya). Wahai insan, amal-amal kalian tida ada seujung kuku dari amal-amal para ulama itu. Maka kasihanilah diri kalian, sebelum Allah mewajibkan berlakunya kehinaan atas manusia-manusia jahil yang menghina kehormatan ulama!].

    Selanjutnya, anda begitu tegas menolak dan mengatakan dosa bagi orang-orang yang menghina ulama-ulama. Saya sepakat dengan anda.
    Tapi mungkin anda tidak sepakat dengan pendapat anda sendiri, dikala anda mencap amalan-amalan dan pendapat-pendapat ulama sebagai BID’AH yang harus ditinggalkan. Tidakkah ini juga merendahkan ulama yang berpendapat seperti itu. Terlebih menganggap pelakunya berdosa dan mematikan sunnah.

    Dan dalam penukilan anda tentang pendapat Imam malik rahimahullah (bahwa Istiwa’ itu sudah maklum, tatacara Istiwa’ tidak diketahui, mengimaninya wajib, mempersoalkannya adalah bid’ah),,, TOLONG DIKLARIFIKASI LAGI, TENTANG UCAPAN IMAM MALIK INI.
    ANDA BISA CARI DI KITAB-KITAB KARYA IMAM MALIK ATAU MURID-MURIDNYA.
    APAKAH BELIAU BENAR-BENAR MENGATAKAN HAL ITU?
    JIKA IYA, TELITI LAGI SANAD RIWAYAT TERSEBUT?

  27. rudi taslim berkata:

    Memang menarik tema yang diusung….. sejauh ini saya masih melihat dalam koridor diskusi yang postif jauh dari caci maki.
    masing masing pastinya akan memberikan argumen yang pas menurut pemahamannya dan pastinya akan panjang.
    Saya menjadi tertarik mengikuti diskusi ini .

    Tetapi saya mencoba menarik dari sudut pandang lain misalnya dengan keruntuhan keruntuhan agama terdahulu ( dari sisi sejarah )

    Yang paling mudah dan banyak literaratur yang bisa digunakan adalah agama nasrani.

    Dari sejarah bisa kita lihat awal agama nasrani dan kondisi agama nasrani pada saat ini.
    Jujur kita bisa melihat terjadi bias yang sangat besar pada agama ini saat pra islam
    Pada jaman sekarang bias tersebut sudah tidak jelas kemana lagi.
    Pasti ada sesuatu yang salah pada agama ini….. dan kita semua pasti 100 % sepakat itu semua disebabkan oleh Bid’ah yang terjadi .bagaikan fenomena bola salju … semakin lama semakin besar.

    Hal tersebut mungkin diakibatkan oleh ” intepretasi bebas” yang dilakukan oleh pemuka agama mereka.

    Sekarang kita coba balik ke pada kita … apa yang terjadi bila” intepretasi ” tidak dikendalikan mungkin sama nasib islam dengan agama nasrani

    Alhamdulillah pada agama ini dengan semangat kaum muslimin dalam menjaga agamanya bias yang walaupun terjadi ….hanya sedikit.

    dan kita juga yakin yang menjaga agama kita sejatinya adalah Allah SWt.

    Mungkin itu sekedar masukan dari saya yang awam pada masalah teori ….

    wass

  28. Faza berkata:

    @Pak Rudi Taslim:
    Saya sepakat, agama ini harus dijaga dari “interpretasi bebas”. Karena itu, kita yang awam ini harus menggunakan interpretasi para ulama yang memang ahlinya. Sekarang siapakah yang melakukan interpretasi bebas itu ? Silahkan cek interpretasi ulama’ – ulama’ salaf tentang makna bid’ah, bukan ulama’ – ulama’ belakangan. Penjelasan Ust. A.M. Waskito dalam masalah ini lah, yang layak untuk disebut sebagai interpretasi bebas. Coba, siapa ulama’ salaf yang memahami bid’ah seperti Ust. A.M. Waskito ini ?

    Ketika anda mengatakan apa bahwa “bid’ah hasanah” adalah wilayah “abu-abu”, maka anda telah terperosok ke dalam interpretasi bebas karena tidak ada ulama’ salaf yang mengatakan seperti itu. Ini pemahaman anda, bukan pemahaman para ulama’.

    Oleh karena itu, serahkanlah masalah ini kepada ahlinya ( para ulama’ ), karena kalau orang-orang seperti kita diberikan kebebasan untuk memahami langsung dari al-Qur’an dan Hadits, maka kerancuan dan kesalahfahaman yang akan terjadi.

    Kalau anda merasa bahwa keberadaan “bid’ah hasanah” mengancam eksistensi agama, maka sama halnya anda menuduh para ulama’ yang mengakuinya sebagai penghancur – penghancur agama. Na’udzu bilah min dzalik. Walaupun, pada kalimat terakhir anda menyatakan sebagai orang awam, tetapi pada hakikatnya anda telah meletakkan diri anda di atas para ulama’ sehingga anda berhak untuk menjadi hakimnya para ulama’, dan anda berhak menilai mana ulama’ yang benar pemahamannya, dan mana ulama’ yang salah pemahamannya. Betul-betul luar biasa…

  29. abf berkata:

    مفهوم البدعة عند أئمة الشافعية
    عرف الحافظ ابن حجر البدعة الشرعية بقوله:(ما أحدث في الدين وليس له دليل عام ولا خاص يدل عليه) فتح الباري(13/254)
    قوله:(في الدين) قيدت بالدين لأنها فيه تخترع وإليه يضيفها صاحبها.
    قلت:فخرج بذلك الطريقة المخترعة في أمور الدنيا أومايتعلق بأمر الدنيا فإنها لاتسمى بدعة شرعاً كالصناعات مثلاً وإن كانت مخترعة وهذا القيد مأخوذ من قوله:(أنت أعلم بأمور دنياكم).

    وخرج أيضاً بهذه القيود التي في التعريف المحدثات المتعلقة بالدين مما له أصل شرعي عام أو خاص ،فمما أحدث في الدين وكان مستند إلى دليل شرعي عام ما ثبت بالمصالح المرسلة مثل جمع القرآن .. ومما أحدث في هذا الدين وكان له دليل شرعي خاص إحداث صلاة التراويح وإحياء الشرائع المهجورة.
     الأصل في العبادات التوقف فلا يجوز الاجتهاد أو القياس فيها:
    قال الإمام ابن دقيق العيد رحمه الله (.. وقريباً من ذلك أن تكون العبادة من جهة الشرع مرتبة على وجه مخصوص فيريد بعض الناس أن يحدث فيها أمراً آخر لم يرد به الشرع زاعماً انه يدرجه تحت عموم فهذا لا يستقيم لأن الغالب على العبادات التعبد ومأخذها التوقيف)اه أحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام لابن دقيق العيد باب فضل صلاة الجماعة
    قال الحافظ ابن حجر في الفتح (3/باب صلاة الضحى في السفر(… واستبعده السبكي ووجه بأنَّ الأصل في العبادة التوقف ..)
    وقد سئل ابن حجر الهيتمي رحمه الله عن حكم الأذان والإقامة للميت في لحده فأجاب بقوله: (بدعة إذ لم يصح فيه شيء .. ثم نقل عن الأصبحي قوله لا أعلم في ذلك خبراً ولا أثر إلاَّ أشياء تحكى عن بعض المتأخرين أنه قال لعله قيس على استحباب الأذان والإقامة في أذن المولود وكأنه يقول الولادة أول الدخول إلى الدنيا وهذا آخر الخروج منها وفيه ضعف فإن مثل هذا لا يثبت إلاَّ بالتوقف أعني تخصيص الأذان والإقامة) كتاب الجنائز فتاوى الهيتمي
    وهذا يبين أنَّ الأمور التوقيفية لا يجوز الاجتهاد فيها أو القياس فيها وبناءً على ذلك يتبين لنا أنَّ التزام كيفيات وهيئات معينة دون إذن من الشارع بذلك ومنها التزام أوقات معينة بعبادات لم يوجد لها ذلك كل ذلك بدع لايجوز فعلها عند الأئمة المحققين من الشافعية لأنَّ الأصل في العبادات التوقف كما مرَّ معنا
    وإليك بعض فناواهم التي تفسر وتزيد وضوحاً مانقلناه عنهم أعلاه.
    الصلاة والسلام من المؤذن عقب الآذان مع رفع الصوت وجعلها بمنزلة ألفاظ الآذان فإن الصلاة والسلام مشروعان باعتبار ذاتهما ولكنهما بدعة باعتبار ماعرض لهما من الجهر وجعلهما بمنزلة الآذان وقد أشار ابن حجر الهيتمي في فتاويه حين سئل عن الصلاة والسلام على رسول الله صلى الله عليه وسلم عقب الآذان بالكيفية المعرفة؟ فقال (الأصل سنة والكيفية بدعة) الفتاوي (1/131) كتاب الصلاة
    الإمام ابن دقيق العيد الشافعي رحمه الله أن هذه الخصوصيات بالوقت أو بالحال والهيئة والفعل المخصوص يحتاج إلى دليل خاص يقتضي استحبابه بخصوصه) راجع كتاب أحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام لابن دقيق العيد (1/119) باب فضل صلاة الجماعة
    قال الإمام أبو شامة رحمه الله(ولا ينبغي تخصيص العبادات بأوقات لم يخصصها بها الشرع بل تكون أفعال البر مرسلة في جميع الأزمان ليس لبعضها على بعض فضل إلا ما فضله الشرع وخصه بنوع العبادة فإن كان ذلك اختص بتلك الفضيلة تلك العبادة من دون غيرها كصوم يوم عرفة وعاشوراء والصلاة في جوف الليل والعمرة في رمضان ومن الأزمان ماجعله الشرع مفضلاً فيه جميع أعمال البر كعشر من ذي الحجةوليلة القدر التي هي خير من ألف شهر…
    والحاصل أن المكلف ليس له منصب التخصيص بل ذلك إلى الشارع وهذه كانت صفة عبادة رسول الله  ..) الباعث ص165
    وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله في الفتح(… والأصل الاتباع والخصائص لا تثبت إلاَّ بدليل ..) كتاب الصلاة /خطبة الإما في الكسوف
    وقال العلامة الهيتمي في سياق كلامه على بدعية تخصيص النصف من شعبان بالصيام وليله بالقيام (واطال النووي في فتاويه في ذمهما وتقبيحهما وانكارهما واختلفت فتاوى ابن الصلاح فيها وقال في الآخر هما وإن كان بدعتيت لا يمنع لدخولهما تحت المر الوارد بمطلق الصلاة ورده السبكي بأن مالم يرد فيه إلاَّ مطلق طلب الصلاة وإنها خير موضوع فلا يطلب منه شيء بخصوصه فمن خص شيئاً بزمان أو مكان أو نحو ذلك دخل في قسم البدعة وإنما المطلوب من عمومه فيفعل لما فيه من العموم لا لكونه مطلوب بالخصوص)اه فتاوى الهيتمي كتاب الصوم وانظر كلام العلامة ابن دقيق السابق
    إطلاق ما قيده الشرع من العبادات بدعة
    وذلك لأن المور التعبدية لا يدخلها القياس كما مرَّ معنا ثم إنه ليس كل ماكان قربه في موطن يكون قربه في جميع المواطن وإنما يتبع في ذلك ماوردت به الشريعة في مواضعها) قواعد لمعرفة البدع ص12
    وقد سئل ابن حجر الهيتمي رحمه الله عن حكم الأذان والإقامة للميت في لحده فأجاب بقوله: (بدعة إذ لم يصح فيه شيء .. ثم نقل عن الأصبحي قوله لا أعلم في ذلك خبراً ولا أثر إلاَّ أشياء تحكى عن بعض المتأخرين أنه قال لعله قيس على استحباب الأذان والإقامة في أذن المولود وكأنه يقول الولادة أول الدخول إلى الدنيا وهذا آخر الخروج منها وفيه ضعف فإن مثل هذا لا يثبت إلاَّ بالتوقف أعني تخصيص الأذان والإقامة) كتاب الجنائز فتاوى الهيتمي
    وقال الحافظ ابن حجر العسقلاني(قوله:كيف نسلم عليك .. والحامل لهم في ذلك ان السلام لما تقدم بلفظ مخصوص وهو السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته فهو منه أن الصلاة أيضاً تقع بلفظ مخصوص وعلوا عن القياس لإمكان الوقوف على النص ولا سيما في ألفاظ الأذكار فإنها تجيء خارجة عن القياس غالباً..) (11/كتاب الدعوات/باب الصلاة على النبي )

    السنة التركية
    السنة التركية:وهي أن يترك النبي فعل أمر من الأمور مع كون موجبه وسببه المقتضى له قائماً ثابتاً والمانع منه منتفياً فإن فعله بدعة وتركه سنة.
    مثال على ذلك: التأذين للعيدين أو الكسوفين فقد تركه النبي  ولم يفعله مع قيام المقتضى على فعله فكان تركه هو السنة لتركه  وفعله هو البدعة.
    وكذا استلام الركنين الشاميين في الطواف فترك الاستلام لهما سنة وفعله بدعة.
    قال الحافظ ابن حجر ( أجاب الشافعي عن قول من قال ليس شيء من البيت مهجوراً بأن لم ندع استلامها هجراً للبيت وكيف يهجره وهو يطوف به؟ ولكن نتبع السنة فعلاً أو تركاً..)فتح الباري(4/220).
    وقال العلامة ابن حجر الهيتمي الشافعي في فتاواه (.. وكذا ما تركه  مع قيام المقتضى فيكون تركه سنة وفعله بدعة مذمومة وخرج بقولنا مع قيام المقتضى في حياته إخراج اليهود والنصارى من جزيرة العرب وجمع المصحف وما تركه لوجود مانع كالاجتماع للتراويح فإن المقتضى التام يدخل فيه عدم المانع)
    وسئل الشيخ السبكي الشافعي عن بعض المحدثات فقال:(الحمد لله لايشك فيها أحد ولا يرتاب في ذلك ويكفي أنها لم تعرف في زمن النبي  ولا في زمن أصحابه ولا عن أحد من علماء السلف) فتاوى السبكي(2/549) قواعد معرفة البدع للجيزاني ص88
    إذاً القاعدة:كل عبادة تركها السلف ولم يجري العمل بها وإن لم يرد بها النهي عنها دليل خاص وإن دلت عليها أدلة الشارع بعمومها فهي بدعة ضلالة لأنه تركه  مع وجود المقتضى لفعلها يدل على أن فعلها بدعة مذمومة.

    الذكر بين الإتباع والابتداع
    الذكر طاعة عظيمة وعبادة جليلة يلزم المسلم فيها شأن جميع العبادات التقيّد بهدي النبي  ولزوم سنته وإتباع طريقته وسلوك سبيله فإن خير الهدي وأكمله وأقومه هدي محمد  فينبغي موافقة الشرع فيما يقيده منه بزمان أو مكان أو أعداد أو هيئة معينة فهو عبادة توقيفية لهذا يعتريها ما يعتري سائر العبادات فلا ننطلق منها ما قيده الشرع ولا نقيد مااطلقه.
    ولذا فإن الواجب على كل مسلم أن يحذر أشد الحذر من المحدثات في الدين ويلزم في جميع أمور دينه هدي سيد المرسلين ، إنَّ هدي النبي  في الذكر هدي كامل لا نقص فيه بوجه من الوجوه فلم يدع شيئاً من الخير والفائدة المتعلقة بالأذكار إلا بينها على أتم الوجوه وأكملها وأوفاها كما هو شأنه  في جميع جوانب الدين ولم يمت حتى نزل قوله تعالى:اليوم أكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً
    ومن يتأمل هديه  ف الذكر يجده هدياً كاملاً وافياً شاملاً لانقص فيه فبين للأمة الأذكار المتعلقة بالأوقات المعينه أو الأمكنه المعينه أو الحوال المعينه ووضّح المطلق من الذكر والمقيّد فهو لم بدع شيئاً من الذكر المقرب إلى الله والموصول إلى الخير والسعادة في الدنيا والآخرة إلا بينه للأمة تامَّاً كاملاً كيف لا وهو القائل  (مابعث الله من نبي إلاَّ كان حقاً عليه أن يدل أمته عللا خير مايعلمه لهم وينذرهم شر مايعلمه لهم) رواه مسلم
    ضابط الأذكار المندرجة تحت البدعة الإضافية
    1. كل ذكر جاء به الشارع بهيئة معينة أو ألفاظ وأعداد فهم أنَّ الشارع قصدها بذلك فغيّر المرء هيئتها أوزاد أو انقص في اعدادها وألفاظها
    2. كل ذكر ورد به الشرع مطلقاً ويقوم الإنسان بتقييده من عند نفسه بزمان أو مكان أو هيئة أو عدد لم يكن له دليل من الشرع.
    3. ذكر أنشأه العبد من عند نفسه صحيح المعنى واضح اللفظ لكنه قيده بشيء من تلك القيود أو رتب له ثواباً معيناً. راجع كتاب الاعتصام للشاطبي
    ألفاظ الأذكار توقيفية لا يدخلها القياس
    قال الحافظ ابن حجر رحمه الله عند قوله  في ذكر النوم (وبرسولك الذي أرسلت لا وبنبيك الذي أرسلت) وأولى ماقيل في الحكمة في رده  على من قال الرسول بدل النبي أن ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به وهذا اختيار المارزي قال: فيفتقر فيه على اللفظ الوارد بحروفه وقد يتعلق الجزاء بتلك الحروف ولعله أوحي إليه بهذه الكلمات فيتعين أداؤها بحروفها) الفتح (11/كتاب الدعوات /باب من بات طاهراً)
    وقال الحافظ أيضاً(….ولا سيما في ألفاظ الأذكار فإنها تجيىء خارجة عن القياس غالباً) (11/كتاب الدعوات /باب الصلاة على النبي )
    وقال العلامة السبكي الشافعي في طبقات الشافعية(10/287)(وتأمله-الذكر النبوي-في جميع موارد كلام العربية تجده يظهر لك به شرف كلام المصطفى  وملازمة المحافظة عللا الأذكار المأثورة عنه )
    وقال الإمام النووي رحمه الله بعد ما ذكر صيغة القنوت (وهذا لفظه في الحديث الصحيح وتقع هذه الألفظ في كتب الفقه مغيّرة فاعتمد ما حققته فإن ألفاظ الأذكار يحافظ على الثابت عن النبي ) المجموع (3/الوتر)
    يجب مراعاة العدد المخصوص في لأذكار
    عن زيد بن ثابت قال:(أمرنا أن نسبح في دبر كل صلاة ثلاثاً وثلاثين ونحمد ثلاثاً وثلاثين ونكبر أربعاً وثلاثين فأتى رجل في منامه فقيل له:أمركم محمد أن تسبحوا ..فذكره قال نعم قال اجعلوها خمساً وعشرين وجعلوا منها التهليل فلما أصبح أتى النبي واخبره فقال فافعلوه)
    قال الحافظ ابن حجر في الفتح عند هذا الحديث(واستنبط من هذا أن مراعاة العدد المخصوص من الأكار معتبر وإلاَّ لكان يمكن أن يقال لهم:اضيفوا لها التهليل ثلاثاً وثلاثين وقد كان بعض العلماء يقول:إن الأعداد الواردة كالذكر عقب الصلوات إذا رتب عليها ثواب مخصوص لاحتمال أن يكون لتلك الأعداد حكمة وخاصية تفوت بمجاوزة ذلك العدد قال شيخنا الحافظ أبو الفضل في شرح الترمذي:وفيه نظر لأنه أتى بالمقدار الذي رتب الثواب على التيان به فحصل له الثواب بذلك فإذا زاد عليه من جنسه كيف تكون الزيادة مزيلة لذلك الثواب بعد حصوله)اه ويمكن أن يفترق الحال فيه بالنية فإن نوى عند الإنتهاء إليه امتثال الأمر الوارد ثم التي بالزيادة فالأمر كما قال شيخنا لا محالة وإن زاد بغير نية بأن يكون الثواب على عشرة مثلاً فرتبه هو على مائة فيتجه القول الماضي وقد بالغ القرافي في القواعد فقال من البدع المكروهة الزيادة في المندوبات المحدودة شرعاً لأن شأن العظماء إذا حدوا شيئاً أن يوقف عنده ويعد الخارج عنه مسيئاً للأدب)اهاه وقد مثله بعض العلماء بالدواء يكون مثلاً فيه أوقية سكر فلو زيد فيه أوقية أخرى لتخلف الأنتفاع به فلو اقتصر على الأوقية في الدواء ثم استعمل في السكر بعد ذلك ما شاء لم يتخلف الأنتفاع ويؤيد ذلك أن الأذكار المتغايرة إذا ورد لكل منها عدد مخصوص مع طلب الأتيان بجميعها متوالية لم تحسن الزيادة على العدد المخصوص لما في ذلك من قطع الموالاة لاحتمال أن يكون للموالاة في ذلك حكمةوخاصة تفوت بفواتها والله أعلم) الفتح كتاب الأذان/باب الذكر بعدالصلاة(2/330)
    الزيادة على الأذكار المأثورة ماليس منها
    قال الإمام النووي رحمه الله(.. وأما ماقاله بعض أصحابنا وابن أبي زيد المالكي من استحباب زيادة على ذلك وهي(وارحم محمد وآل محمد ) في الصلاة على النبي في الصلاة فهذه بدعة لا أصل لها وقد بالغ الإمام أبوبكر بن العربي المالكي في كتابه شرح الترمذي في انكار ذلك وتخطئة ابن أبي زيد في ذلك وتجهيل فاعله قال لأن النبي  علمنا كيفية الصلاة عليه  فالزيادة على ذلك استقصار لقوله واستدراك عليه  وبالله التوفيق)(الأذكار/باب صفة الصلاة على النبي 
    وقال العز بن عبد السلام رحمه الله (..ولم تصح الصلاة على رسول الله في القنوت ولا ينبغي ان يزاد على صلاة رسول الله شيء ولاينقص) فتاوى العز بن عبد السلام
    قال ابن حجر (.. نقل ابن بطال عن الطبراني أن العاطس يتخير أن يقول الحمد لله أو يزيد رب العالمين أو على كل حال والذي يتحرر من الأدلة أن كل ذلك مجزىء لكن ماكان أكثر ثناء أفضل بشرط أن يكون مأثوراً) الفتح (11/كتاب الأدب/باب الحمد للعاطس
    الذكر على غير الهيئة الشرعية
    قال بن دقيق العيد (.. وكذلك ماجاء عن ابن مسعود فيما أخرجه الطبراني في معجمه بسنده عن قيس قال(ذكر لا بن مسعود قاص يجلس بالليل يقول للناس قولوا كذا وقولوا كذا .)فهذا ابن مسعود انكر هذا الفعل مع أمكان إدراجه تحت عموم فضيلة الذكر على ان ماحكيناه في القنوت والجهر بالبسملة من باب الزيادة في العبادات) أحكام الأحكام
    الأصل في الأذكار والأدعية الإسرار
    سئل ابن حجر الهيتمي رحمه الله هل الولى قراءة الأذكار والأدعية سرِّاً؟وكيف كانت قراءته  إذا جهر بها في مسجد وثَّم مصلُّون يشوّش عليهم هل يمنع أم لا؟
    فأجاب بقوله:السنة أكثر الأدعية والأذكار الإسرار إلاَّ لمقتضى..ويسن الدعاء والذكر سرِّاً ويجهر بها بعد السلام الإمام لتعليم المأمومين فإذا تعلموا أسروا وما اقتضته عبارة من أن السنة في الذكر الجهر لا الإسرار غير مراد لما في المجموع وغيره .. أن السنة الإسرار ومن ثم قال الزركشي السنة في سائر الأذكار الإسرار إلا لتلبية والقنوت للإمام وتكبير ليلتي العيد وعند رؤية النعام في عشر ذي الحجة وبين كل سورتين من الضحى إلى آخر القرآن وذكر السوق الوارد لا إله إلا الله وحده لا شريك له ..الخ وعند صعود الهضبات والنزول من الشرفات قال الأدرعي وحمل الشافعي أحاديث الجهر على من يريد التعليم …والجهر يحضره نحو مصل أو نائم مكروه كما في المجموع وغيره ولعله حيث لم يشتد الأذى وإلا فينبغي تحريمه والله أعلم)اه فتاوى الهيتمي
    وقال الحافظ(..قال النووي: حمل الشافعي هذا الحديث على أنهم جهروا به وقتاً يسيراً لأجل تعليم صفة الذكر لاأنهم داموا على الجهر به والمختار أن الإمام والمأموم يخفيان الذكر إلا أن احتيج إلى التعليم) الفتح (2/باب الذكر بعد الصلاة)
    وقال الحافظ ابن كثير الشافعي رحمه الله في كتبه البداية والنهاية المجلد العاشر عند ما ذكر أحداث سنة ست عشرة ومائتين للهجرة قال رحمه الله(وفيها كتب المأمون إلى إسحاق بن إبراهيم نائب بغداد يأمره أن يأمر الناس بالتكبير عقب الصلوات الخمس فكان أول ما بدىء بذلك في بغداد والرصافة يوم الجمعة لأربع عشرة ليلة مضت من رمضان أمروا على ذلك في بقية الصلوات وهذه بدعة أحدثها المأمون أيضاً بلا مستند ولا دليل فإن هذا لم يفعله قبله أحد ولكن ثبت في الصحيح عن ابن عباس أن رفع الصوت بالذكر على عهد رسول الله ليعلم حين ينصرف الناس من المكتوبة وقد استحب هذا طائفة من العلماء كابن حزم وغيره وقال ابن بطال:المذاهب الأربعة على عدم استحبابه قال النووي: وقد ذكر عنه أنه قال إنما كان ذلك ليعلم الناس أن الذكر بعد الصلوات مشروع فلما علم لم يبقى للجهر معنى وهذا كما روى عن ابن عباس أنه كان يجهر في الفاتحة في صلاة الجنازة ليعلم الناس أنها سنة ولهذا نظائر والله أعلم وأمَّا هذه البدعة التي أمر بها المأمون فإنها محدثة لم لعمل بها أحد من السلف وفيها وقع حرج شديد جداً) اهـ

    للفائدة/
    هناك سؤال قد جال في خاطري قبل مدة وهو:

    مانوع الخلاف بين من قسم البدعة إلى خمسة أقسام كالعز بن عبدالسلام والنووي .. ومن لم يرتضي التقسيم كابن تيمية والشاطبي ..هل هو خلاف حقيقي أم لفظي اصطلاحي؟

    وقد أفادني أحدى الأخوة الأفاضل بالتالي:
    قال الشيخ محمد الجيزاني:
    (الخلاف واقع قديماً بين أهل العلم في تقسيم البدعة إلى حسنة وقبيحة,وإلى أحكام التكليف الخمسة , وهذا الخلاف يمكن أن يكون لفظياً , وذلك لاتفاق الجميع على أن هذا التقسيم إنما هو للبدعة اللغوية دون البدعة الشرعية ,وأن البدعة التي توصف بأنها حسنة إنما هي البدعة اللغوية.
    والبدعة في اللغة هي :الاختراع ومطلق الاحداث محموداً كان أو مذموماً,في الدين كان أو في غيره.
    ولاتفاقهم أيضاً على ان البدعة الشرعية لا تنقسم إلى حسنة وسيئة بل إنها لا تكون إلا ضلالة , والبدعة شرعاً هي : الإحداث في الدين بغير دليل , فهي خاصة بالإحداث المذموم في الدين .
    وبهذا يعلم ان كلاً من القولين إنما أراد من لفظ البدعة معنى غير الذي أراده القول الآخر , فلم يلتق القولان في محزٍّ واحد ولم يتوارد النفي والإثبات على محلٍ واحد.
    إلا أنه قد ترتبت ــــ خاصة عند المتأخرين ــــ مفاسد جلية على إثبات البدعة الحسنة الناشىء عن القول بتقسيم البدعة اللغوية إلى حسنة وسيئة , وإلى أحكام التكليف الخمسة , ولذا فإنه يشترط في في اعتبار هذا التقسيم أمراً لفظياً أن يسلم من تلك المفاسد .
    وبهذا يمكن أن يكون الخلاف في تقسيم البدعة إلى حسنة وسيئة , وإلى أحكام التكليف الخمسة خلافاً معنوياً , وذلك متى اقترن بهذا التقسيم ولزم منه شيء من المفاسد. ) (معيار البدعة ص171)

    وقال آخر:
    الانطلاق من تعريف مفهوم البدعة عند هؤلاء الأئمة يزيل الإشكال.
    ………………………… ..
    فالذين قسموا البدعة إلى خمسة أقسام اعتمدوا على التعريف اللغوي للبدعة
    فالبدعة في اللغة هي الإحداث، تقول: ابتدع أمرا: أحدثه
    فشمل تعريفهم هذا كل أمر محدث، سواء في الدين، أو الدنيا
    من أجل ذلك، قسموا البدعة إلى خمسة أقسام:
    فأدخلوا بدع الدنيا في الحسن، والواجب، والمباح من البدع.
    وجعلوا الإحداث في الدين: بدع محرمة، وأخرى مكروهة.
    ……………………..
    أما الذين عرفوا البدعة، ووضعوا لها ضوابط وقيود في التعريف، فقد قصدوا البدعة الاصطلاحية، التي ذمها الشرع.
    ……………………
    وعليه: فالخلاف: أشبه أن يكون لفظيا، إلا في بعض جوانب التطبيق.
    ……………………

    فخرجت من هذا :
    أن الخلاف أشبه أن يكون لفظيا ، مع كون لفظ البدعة كمصطلح شرعي ينبغي أن يكون واضحاً جلياً لأن المصطلحات والأسماء الشائعة بين الناس قد تحدث جناية على الحقائق وكما قال الشيخ ” إلا أنه قد ترتبت ـــــ خاصة عند المتأخرين ـــــ مفاسد جلية على إثبات البدعة الحسنة الناشىء عن القول بتقسيم البدعة اللغوية إلى حسنة وسيئة , وإلى أحكام التكليف الخمسة , ولذا فإنه يشترط في في اعتبار هذا التقسيم أمراً لفظياً أن يسلم من تلك المفاسد”
    والذي يؤكد أن الذين قسموا البدعة إلى خمسة أقسام اعتمدوا على التعريف اللغوي للبدعة فشمل تعريفهم هذا كل أمر محدث، سواء في الدين، أو الدنيا وأنهم متفقون على أن البدعة الشرعية لا تنقسم إلى حسنة وسيئة بل لا تكون إلا ضلالة ويتأكد ذلك من خلال الأمثلة التي ضربوها.

    هذا العز بن عبد السلام وهو من أشهر من قال بتقسيم البدع إلى بدع حسنة وبدع سيئة يقول في كتابه “الفتاوى” (ص392) : ( ولا يستحب رفع اليد في القنوت كما لا ترفع في دعاء الفاتحة، ولا في الدعاء بين السجدتين، ولم يصح في ذلك حديث، وكذلك لا ترفع اليدان في دعاء التشهد؛ ولا يستحب رفع اليدين في الدعاء إلا في المواطن التي رفع فيها رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه، ولا يمسح وجهه بيديه عقيب الدعاء إلا جاهل، ولم تصح الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في القنوت، ولا ينبغي أن يزاد على صلاة رسول الله في القنوت بشيء ولا ينقص) اهـ.
    وقال في”الترغيب عن صلاة الرغائب الموضوعة”(ص7- 8) : ( فإن الشريعة لم ترِد بالتقرب إلى الله تعالى بسجدةٍ منفردةٍ لا سبب لها، فإن القرب لها أسباب، وشرائط، وأوقات، وأركان، لا تصح بدونها.
    فكما لا يتقرب إلى الله تعالى بالوقوف بعرفة ومزدلفة ورمي الجمار، والسعي بين الصفا والمروة من غير نسكٍ واقعٍ في وقته بأسبابه وشرائطه؛فكذلك لا يتقرب إليه بسجدةٍ منفردةٍ، وإن كانت قربةً، إذا لم يكن لها سبب صحيح.
    وكذلك لا يتقرب إلى الله عز وجل بالصلاة والصيام في كل وقتٍ وأوانٍ، وربما تقرب الجاهلون إلى الله تعالى بما هو مبعد عنه، من حيث لا يشعرون) اهـ.
    وقال أيضاً العز بن عبد السلام كما في “فتاوى العز بن عبد السلام” (ص289) : ( ومن فعل طـاعة لله تعالى، ثم أهدى ثوابها إلى حي؛ أو ميت لم ينتقل ثوابها إليه إذ ( وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ) ]النجم:39[ فإن شرع في الطاعة ناوياً أن يقع عن ميت لم يقع عنه إلا فيما استثناه الشرع كالصدقة:والصوم، والحج) انتهى كلامه، ومعروف أن كثيراً من العلماء قالوا بجواز إهداء كثير من الطاعات للأموات وإن لم يرد دليل على ذلك وإنما قياساً على
    ما ورد!.
    وقال أيضاً في (ص197- 199) : ( أما مسألة الدعاء فقد جاء في بعض الأحاديث أن رسول الله rعَلم بعض الناس الدعاء فقال في أوله: ( قل اللهم إني أقسم عليك بنبيك محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة ) وهذا الحديث إن صح فينبغي أن يكون مقصوراً على رسول الله صلى الله عليه وسلم ، لأنه سيد ولد آدم، وأن لا يقسم على الله تعالى بغيره من الأنبياء والملائكة والأولياء لأنهم ليسوا في درجته، وأن يكون هذا مما خُص به تنبيهاً على علو درجته ومرتبته) انتهى كلامه رحمه الله

    وهذا الحافظ ابن حجر العسقلانيُّ رحمه الله نقل تقسيم العز اِبْن عَبْد السَّلَام : فِي أَوَاخِر ” الْقَوَاعِد ” الْبِدْعَة خَمْسَة أَقْسَام ….
    ولكنه يقول (في باب الاقتداء بسنن رسول الله صلى الله عليه وسلم) : و” الْمُحْدَثَات ” بِفَتْحِ الدَّالّ جَمْع مُحْدَثَة وَالْمُرَاد بِهَا مَا أُحْدِث ، وَلَيْسَ لَهُ أَصْل فِي الشَّرْع وَيُسَمَّى فِي عُرْف الشَّرْع ” بِدْعَة ” وَمَا كَانَ لَهُ أَصْل يَدُلّ عَلَيْهِ الشَّرْع فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ ، فَالْبِدْعَة فِي عُرْف الشَّرْع مَذْمُومَة بِخِلَافِ اللُّغَة فَإِنَّ كُلّ شَيْء أُحْدِث عَلَى غَيْر مِثَال يُسَمَّى بِدْعَة سَوَاء كَانَ مَحْمُودًا أَوْ مَذْمُومًا” فتح الباري
    وقال ( في باب ما يكره من التعمق والتنازع) وَأَمَّا ” الْبِدَع ” فَهُوَ جَمْع بِدْعَة وَهِيَ كُلّ شَيْء لَيْسَ لَهُ مِثَال تَقَدَّمَ فَيَشْمَل لُغَة مَا يُحْمَد وَيُذَمّ ، وَيَخْتَصّ فِي عُرْف أَهْل الشَّرْع بِمَا يُذَمّ وَإِنْ وَرَدَتْ فِي الْمَحْمُود فَعَلَى مَعْنَاهَا اللُّغَوِيّ.” فتح الباري
    وقال الحافظ ابن حجر العسقلانيُّ رحمه الله: «قوله: «كلَّ بدعة ضلالة(قاعدة شرعيَّة كليَّة بمنطوقها ومفهومها، أمَّا منطوقها فكأن يقال: حكم كذا بدعة، وكلُّ بدعة ضلالة، فلا تكن من الشَّرع؛ لأنّ الشَّرعَ كلَّه هدى، فإن ثبت أنَّ الحكم المذكور بدعة صحَّت المقدِّمتان، وأنتجتا المطلوب) أه

    وقال الحافظ ابن حجر رحمه الله في الفتح(… والأصل الاتباع والخصائص لا تثبت إلاَّ بدليل ..) كتاب الصلاة /خطبة الإمام في الكسوف
    قال الحافظ ابن حجر ( أجاب الشافعي عن قول من قال ليس شيء من البيت مهجوراً بأن لم ندع استلامها هجراً للبيت وكيف يهجره وهو يطوف به؟ ولكن نتبع السنة فعلاً أو تركاً..)فتح الباري(4/220).
    قال الحافظ ابن حجر رحمه الله عند قوله  في ذكر النوم (وبرسولك الذي أرسلت لا وبنبيك الذي أرسلت) وأولى ماقيل في الحكمة في رده  على من قال الرسول بدل النبي أن ألفاظ الأذكار توقيفية ولها خصائص وأسرار لا يدخلها القياس فتجب المحافظة على اللفظ الذي وردت به وهذا اختيار المارزي قال: فيفتقر فيه على اللفظ الوارد بحروفه وقد يتعلق الجزاء بتلك الحروف ولعله أوحي إليه بهذه الكلمات فيتعين أداؤها بحروفها) الفتح (11/كتاب الدعوات /باب من بات طاهراً)
    وقال الحافظ أيضاً(….ولا سيما في ألفاظ الأذكار فإنها تجيىء خارجة عن القياس غالباً) (11/كتاب الدعوات /باب الصلاة على النبي )
    وقال الحافظ ابن حجر العسقلاني(قوله:كيف نسلم عليك .. والحامل لهم في ذلك ان السلام لما تقدم بلفظ مخصوص وهو السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته فهو منه أن الصلاة أيضاً تقع بلفظ مخصوص وعلوا عن القياس لإمكان الوقوف على النص ولا سيما في ألفاظ الأذكار فإنها تجيء خارجة عن القياس غالباً..) (11/كتاب الدعوات/باب الصلاة على النبي )

    عن زيد بن ثابت قال:(أمرنا أن نسبح في دبر كل صلاة ثلاثاً وثلاثين ونحمد ثلاثاً وثلاثين ونكبر أربعاً وثلاثين فأتى رجل في منامه فقيل له:أمركم محمد أن تسبحوا ..فذكره قال نعم قال اجعلوها خمساً وعشرين وجعلوا منها التهليل فلما أصبح أتى النبي واخبره فقال فافعلوه)
    قال الحافظ ابن حجر في الفتح عند هذا الحديث(واستنبط من هذا أن مراعاة العدد المخصوص من الأكار معتبر وإلاَّ لكان يمكن أن يقال لهم:اضيفوا لها التهليل ثلاثاً وثلاثين وقد كان بعض العلماء يقول:إن الأعداد الواردة كالذكر عقب الصلوات إذا رتب عليها ثواب مخصوص لاحتمال أن يكون لتلك الأعداد حكمة وخاصية تفوت بمجاوزة ذلك العدد قال شيخنا الحافظ أبو الفضل في شرح الترمذي:وفيه نظر لأنه أتى بالمقدار الذي رتب الثواب على التيان به فحصل له الثواب بذلك فإذا زاد عليه من جنسه كيف تكون الزيادة مزيلة لذلك الثواب بعد حصوله)اه ويمكن أن يفترق الحال فيه بالنية فإن نوى عند الإنتهاء إليه امتثال الأمر الوارد ثم التي بالزيادة فالأمر كما قال شيخنا لا محالة وإن زاد بغير نية بأن يكون الثواب على عشرة مثلاً فرتبه هو على مائة فيتجه القول الماضي وقد بالغ القرافي في القواعد فقال من البدع المكروهة الزيادة في المندوبات المحدودة شرعاً لأن شأن العظماء إذا حدوا شيئاً أن يوقف عنده ويعد الخارج عنه مسيئاً للأدب)اهاه وقد مثله بعض العلماء بالدواء يكون مثلاً فيه أوقية سكر فلو زيد فيه أوقية أخرى لتخلف الأنتفاع به فلو اقتصر على الأوقية في الدواء ثم استعمل في السكر بعد ذلك ما شاء لم يتخلف الأنتفاع ويؤيد ذلك أن الأذكار المتغايرة إذا ورد لكل منها عدد مخصوص مع طلب الأتيان بجميعها متوالية لم تحسن الزيادة على العدد المخصوص لما في ذلك من قطع الموالاة لاحتمال أن يكون للموالاة في ذلك حكمةوخاصة تفوت بفواتها والله أعلم) الفتح كتاب الأذان/باب الذكر بعدالصلاة(2/330)
    قال ابن حجر (.. نقل ابن بطال عن الطبراني أن العاطس يتخير أن يقول الحمد لله أو يزيد رب العالمين أو على كل حال والذي يتحرر من الأدلة أن كل ذلك مجزىء لكن ماكان أكثر ثناء أفضل بشرط أن يكون مأثوراً) الفتح (11/كتاب الأدب/باب الحمد للعاطس

    وهذا مالايقوله المبتدعة الذين أخذوا منه ألفاظ التقسيم ولم يأخذوا بالمعاني والحقائق الذي يريدها والله أعلم.
    ولايلزم من هذا عدم وجود أفراد من المسائل خالفوا فيها الحق فالخطأ في التطبيق لايسلم منه أحد إلا المعصوم.

    تنبيه/
    لربما قيل إنكم تحتجون بالهيتمي … في حين تخالفونهم في مسائل أخرى فإما أن توافقوا كل كلامهم وإما أن لا تحتجوا بهم . والجواب أن منهجنا يدور مع الرجال حيث داروا مع الحق فإذا خالفوه خالفناهم ولا يقال إنه يجب الأخذ بكل كلام الأئمة ولكن إذا كان في قولهم ما يخالف كلام الله ورسوله وما أصَّلوه من قواعد صحيحة مستنبطة من الكتاب والسنة تركنا قولهم . وهذا معنى قول مالك : كلٌ يؤخذ من قوله ويُرَدُّ عليه إلا صاحب هذا القبر ، فهذه طريقتنا التي ندين اللهَ بها ، بخلاف طريقة أهل التقليد الذين يحتكمون عند التنازع إلى التقليد ويتمسكون بأقوال الرجال ، فالحجة تلزمهم ولا تلزمنا .

  30. rudi taslim berkata:

    @faza..

    Rupanya anda terlalu sensitif…. ..”.Kalau anda merasa bahwa keberadaan “bid’ah hasanah” mengancam eksistensi agama, maka sama halnya anda menuduh para ulama’ yang mengakuinya sebagai penghancur – penghancur agama …..”he he…heee… sabar mas anda telah sendiri telah terjebak melakukan “interpretasi bebas” dalam menjugde pendapat saya.
    Dengan mudahnya anda mengiterpretasi bahwa saya merendahkan para ulama..
    Seperti anda ketahui … pendapat ulama dalam masalah ini berbeda, tinggal kita sebagai orang yang dibekali oleh akal … melihat mana pendapat pendapat ulama yang lebih Rajih dalam masalah ini.

    Sejujurnya kebanyakan pendapat ulama salaf berpendapat hal tersebut dihindari … tapi ada juga ulama yang menjadi acuan anda membolehkan.

    Jadi jangan anda menggunakan “interpretasi bebas” dengan klaim jumhur ulama dipihak anda.

    Saya yakin ada teman teman dari kalangan salaf yang ilmunya lebih tinggi dan mengerti permasalahan ini bisa menjelaskan masalah tersebut disertai dalil dali yang lebih kompeten dari saya. Seperti tulisan yang saya buat diatas saya cuma melihat dari sisi sejarah dimana kerusakan aqidah kaum nasrani rusak oleh bida’h yang mereka lakukan sadar maupun tidak sadar.

    wass…..

  31. rudi taslim berkata:

    Mungkin ada persamaan dalam pesefektif ini adalan para ulama ada sepakat bahwa ada Bidah yang buruk dan tercela.
    Perbedaan terjadi ada Ulama yang berpendapat semua bidah adalah sesat dan ada Ulama yang berpendapat ada bidah hasanah.

    Disinlah letak permasalahannya … siapa yang dapat mengukur batasan bid’ah hasanah ? . Mungkin ulama ulama tertentu yang mempunyai keilmuan yang tinggi dapat melihat batasan tersebut. Masalahnya …….. bagaimana yang terjadi pada masyarakat ” awam ” … dengan “interpretasi bebas” mereka melakukan bahwa amalan ini adalah bidah hasanah .
    Dengan adanya “celah ” bidah hasanah mereka dengan mudahnya mengambil dasar sebagai dalil dibolehkannya suatu amalan.

  32. belagak berkata:

    afwan ana minta yang lain jangan dulu pada komen, biar @ said dan @ uts A.W. Waskito. kita berikan waktu luas kepada mereka untuk berdiskusi. kalau yg lain mau ikutan beri komentar yang ilmiah referensinya yang jelas. jangan propokatif dan tedensius.

  33. Said berkata:

    @abf
    Sebelum anda menulis koment di atas, saya telah berulang kali membacanya di situs www. ahlalhadeeth.com. Kayaknya, anda copy paste dari sana ya ? ya, gak apa – apa. Bagi orang yang tidak akrab dengan kitab – kitab ulama’, maka tulisan Abu Mu’adz al-Atsari yang anda copas cukup meyakinkan. Tetapi, bagi saya, tulisan tersebut terlalu terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Hanya mengandalkan satu atau dua contoh, atau sekelompok ulama’ tertentu, kemudian langsung digeneralisir. Secara ringkas, inilah jawaban saya :
    1. Bid’ah hasanah di dalam agama bukan hanya maslahah mursalah. Silahkan baca contoh-contoh bid’ah hasanah yang diakui oleh para ulama’ pada koment sebelumnya. Kemudian rujuklah di dalam kitab – kitab masing-masing mazhab, maka anda akan menemukan hal yang berbeda.
    2. Penulis di atas hanya mengutip contoh – contoh yang mendukung pemahamannya saja dengan mengenyampingkan contoh-contoh yang lain. Saya sudah mengatakan pada koment sebelumnya, bahwa secara teori para ulama’ sepakat dengan konsep bid’ah, tetapi mereka berbeda dalam prakteknya, sehingga penilaian antara sunnah dan bid’ah menjadi berbeda.
    3. Kaidah “Tidak ada qiyas dalam ibadah”, itu perlu perincian, karena banyak ulama’ yang menggunakan qiyas dalam ibadah. Contohnya saja, membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal dunia, itu diqiyaskan kepada puasa, shadaqah, dan haji yang ada nashnya. Ini pendapat mayoritas ulama’.
    Contoh lain, Ulama’ mazhab Hanafi, Syafi,I, dan Hanbali, sepakat membolehkan ‘aqiqah dengan sapi dan unta diqiyaskan kepada hewan qurban. Ini juga pendapat yang rajih dalam mazhab maliki. Padahal, pada masa Rasulullah SAW, ‘aqiqah hanya dengan kambing atau domba.
    Contoh lain, permasalahan sebab-sebab sujud sahwi. Para ulama’ mazhab juga menggunakan keumuman perintah dan qiyas sebagai dalil. Silahkan ruju’ kepada kitab-kitab masing-masing mazhab. Mereka telah berijtihad menetapkan kapan seseorang harus melakukan sujud sahwi, pada tempat-tempat yang tidak ada nashnya dalam hadits.
    4. Mengenai shalawat setelah adzan, pernyataan ibn Hajar al-Haitami, telah terdistorsi. Kalau penulisnya membaca dari awal, maka pasti akan mengetahui bahwa al-Haitami juga menyebut hal tersebut sebagai hal yang baik. Ini pernyataan lengkap al-Haitami :
    قد أَحْدَثَ الْمُؤَذِّنُونَ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ على رسول اللَّهِ عَقِبَ الْأَذَانِ لِلْفَرَائِضِ الْخَمْسِ إلَّا الصُّبْحَ وَالْجُمُعَةَ فَإِنَّهُمْ يُقَدِّمُونَ ذلك فِيهِمَا على الْأَذَانِ وَإِلَّا الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُمْ لَا يَفْعَلُونَهُ غَالِبًا لِضِيقِ وَقْتِهَا وكان ابْتِدَاءُ حُدُوثِ ذلك في أَيَّامِ السُّلْطَانِ النَّاصِرِ صَلَاحِ الدِّينِ بن أَيُّوبَ وَبِأَمْرِهِ في مِصْرَ وَأَعْمَالِهَا
    وَسَبَبُ ذلك أَنَّ الْحَاكِمَ الْمَخْذُولَ لَمَّا قُتِلَ أَمَرَتْ أُخْتُهُ الْمُؤَذِّنِينَ أَنْ يَقُولُوا في حَقِّ وَلَدِهِ السَّلَامُ على الْإِمَامِ الطَّاهِرِ ثُمَّ اسْتَمَرَّ السَّلَامُ على الْخُلَفَاءِ بَعْدَهُ إلَى أَنْ أَبْطَلَهُ صَلَاحُ الدِّينِ الْمَذْكُورُ وَجَعَلَ بَدَلَهُ الصَّلَاةَ وَالسَّلَامَ على النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم فَنِعْمَ ما فَعَلَ فَجَزَاهُ اللَّهُ خَيْرًا وَلَقَدْ اُسْتُفْتِيَ مَشَايِخُنَا وَغَيْرُهُمْ في الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عليه صلى اللَّهُ عليه وسلم بَعْدَ الْأَذَانِ على الْكَيْفِيَّةِ التي يَفْعَلُهَا الْمُؤَذِّنُونَ فَأَفْتَوْا بِأَنَّ الْأَصْلَ سُنَّةٌ وَالْكَيْفِيَّةُ بِدْعَةٌ وهو ظَاهِرٌ كما عُلِمَ مِمَّا قَرَّرْته من الْأَحَادِيثِ
    5. Ibnu Hajar al-Haitami, dalam fatawa nya menyatakan sampainya bacaan al-Qur’an untuk mayyit jika dibacakan di samping kuburnya, atau di tempat lain kemudian dilanjutkan dengan do’a setelahnya, padahal tidak ada hadits mengenai ini.
    الْمَشْهُورُ من مَذْهَبِنَا عَدَمُ وُصُولِ الْقِرَاءَةِ إلَى الْمَيِّتِ إلَّا إنْ قُرِئَ على الْقَبْرِ أو بَعِيدًا عنه بِنِيَّتِهِ وَدَعَا عَقِبَهَا
    6. Ibnu Hajar al-Haitami, menganggap bahwa melakukan perjalanan khusus untuk menziarahi kubur para auliya’ sebagai “qurbah mustahabbah”, padahal tidak ada juga hadits yang menganjurkannya secara khusus.
    7. Ibnu Hajar al-Haitami menganggap sunnah ( bagi keluarga yang ditinggalkan ) bersedekah dengan memberikan makanan selama 7 hari setelah meninggalnya seseorang. Ini yang sekarang disebut dengan tahlilan selama 7 hari. Silahkan baca kitab Fatawa beliau.
    8. Ibnu Hajar al-Haitami, menyatakan bahwa mengulang bacaan surah al-Ikhlash 3 kali, dalam shalat tarawih, bukan sunnah, tetapi tidak dapat dikatakan makruh ( artinya tidak apa-apa ), karena, menurut beliau, tidak ada larangan khusus terhadap hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak segera menghukumi tidak boleh, padahal Rasulullah SAW, sepanjang riwayat yang sampai kepada kita, tidak pernah mencontohkannya. Ini bukan sunnah ( bid’ah ), menurut al-Haitami, tidak serta merta makruh atau haram.
    9. Mengenai Ibnu Hajar al-‘Asqalani, ketika mensyarah hadits tentang shalat wudhu’ yang dilakukan oleh Bilal tanpa sepengetahuan dan seizin Rasulullah SAW, mengatakan diperbolehkan ijtihad dalam menentukan waktu ibadah.
    ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة ، لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه وسلم
    Pendapat beliau ini juga disetujui oleh al-Syaukani di dalam Nail al-Authar. Beliau berkata :
    وللحديث فوائد منها جواز الاجتهاد في توقيت العبادة والحث على الصلاة عقيب الوضوء
    10. Ibnu Hajar al-‘Asqalani, ketika mensyarah hadits tentang sesorang yang membaca do’a I’tidal kreasinya sendiri di belakang Rasulullah SAW, mengatakan diperbolehkan membuat dzikir sendiri di dalam shalat asalkan tidak bertentangan dengan yang ma’tsur.
    واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور
    Pendapat ini juga disetujui oleh al-Mubarakfuri ( pengarang Tuhfah al-Ahwadzi ), dan juga al-syaukani di dalam Nail al-Authar.
    11. Mengenai Ibnu Daqiq al-‘Id, saya tidak begitu banyak mengetahui pendapat – pendapat beliau. Kita menghormati dan menghargai pendapat beliau, tetapi kita memiliki hak untuk memilih pendapat ulama’ – ulama’ yang lain. Apa lagi, kita belum mengetahui bagaimana sikap beliau yang sebenarnya, karena untuk mengetahui itu, membutuhkan kajian mendalam dan menyeluruh terhadap kitab-kitab beliau.
    Mudah-mudahan tulisan ini bermanfa’at bagi kita semua, dan kita semakin menghormati dan menghargai perbedaan pendapat di kalangan para ulama’, dengan tetap memiliki hak untuk memilih pendapat yang lebih rajih. Tetapi, perlu diingat sekali lagi, rajih menurut kita, belum tentu rajih menurut orang lain.
    @Rudi Taslim
    Walaupun kita memiliki akal, belum tentu mampu menilai mana yang rajih, karena tarjih hanya dapat dilakukan oleh orang yang berilmu, yang mengerti dengan sumber-sumber tasyri’ dan metode istinbathnya. Adapun mengenai kekhawatiran terhadap penyalahgunaan terma “bid’ah hasanah” oleh masyarakat awam, maka, kami sampaikan, bahwa permasalahan agama apa pun jika diserahkan kepada mereka, maka akan rusak. Karena itu, masyarakat awam harus bertanya kepada ulama’. Bahkan, slogan “kembali kepada al-Qur’an dan al-Sunnah” pun berbahaya, jika diserahkan kepada masyarakat awam. Mereka akan memahami al-Qur’an dan al-Sunnah dengan sesuka hati mereka.
    Terakhir, untuk permasalahan bid’ah ini, kami menyarankan kepada siapa saja untuk membaca juga kitab Itqan al-Shun’ah fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah karya ‘Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari, dan kitab al-Bid’ah al-Hasanah Ashl min Ushul al-Tasyri’ karya ‘Isa bin ‘Abdullah al-Humairi.
    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

  34. rudi taslim berkata:

    @said
    memang saya akui ilmu saya dibandingkan anda ataupun AM Wakito tidak seberapa , tetapi dengan rendah hati saya selalu meminta kepada Allah SWT .. agar mendapat petunjuk dalam menentukan sikap , karena saya yakin semua pilihan tergantung oleh pilihan saya sendiri yang harus pertanggungjawabkan kelak.
    Walaupun bagaimana saya memahami bahwa ada perbedaan – perbedaan dalam pemaham Bidah ini dan saya hormati perbedaan tesebut

    wass

  35. Said berkata:

    @Rudi Taslim
    Sikap anda sangat saya hargai. Sebagai umat Islam, memang kita harus selalu berdo’a memohon hidayah Allah SWT, karena Dia lah pemilik kebenaran. Saya juga menghormati dan menghargai perbedaan ini.
    Mohon ma’af, jika ada kata – kata yang kurang berkenan.
    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

  36. abisyakir berkata:

    @ Al Akh Said…

    1. Bid’ah hasanah di dalam agama bukan hanya maslahah mursalah. Silahkan baca contoh-contoh bid’ah hasanah yang diakui oleh para ulama’ pada koment sebelumnya. Kemudian rujuklah di dalam kitab – kitab masing-masing mazhab, maka anda akan menemukan hal yang berbeda.

    Komentar: Secara nash yang qath’i, “kullu bid’atin dhalalah”. Jadi sejak awal Rasul Saw tidak membuat istilah “bid’ah hasanah”. Adapun yang ada adalah “man sanna fil Islami sunnatan hasanatan” (siapa yang memulai dalam Islam ini sunnah hasanah). Disini secara teks ada kata “sunnah hasanah”. Tetapi…lantaran memang ada ulama-ulama mujtahidin yang memakai istilah “bid’ah hasanah”, ya bagaimana lagi…istilah itu bisa diterima dengan niat menghormati pendapat ulama.

    2. Penulis di atas hanya mengutip contoh – contoh yang mendukung pemahamannya saja dengan mengenyampingkan contoh-contoh yang lain. Saya sudah mengatakan pada koment sebelumnya, bahwa secara teori para ulama’ sepakat dengan konsep bid’ah, tetapi mereka berbeda dalam prakteknya, sehingga penilaian antara sunnah dan bid’ah menjadi berbeda.

    Komentar: Salah satu yang dirujuk oleh Saudara @ Abu fadhil adalah perkataan Syaikh Muhammad Al Jaizaniy. Disana disimpulkan bahwa pembagian bid’ah menurut Izzuddin bin Abdissalam menjadi 5, hal itu sebenarnya lebih pada istilah lughawi saja, bukan maknawi. Jadi secara umum, hakikat bid’ah-nya sama, hanya saja istilah bahasanya berbeda-beda.

    3. Kaidah “Tidak ada qiyas dalam ibadah”, itu perlu perincian, karena banyak ulama’ yang menggunakan qiyas dalam ibadah. Contohnya saja, membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal dunia, itu diqiyaskan kepada puasa, shadaqah, dan haji yang ada nashnya. Ini pendapat mayoritas ulama’. Contoh lain, Ulama’ mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali, sepakat membolehkan ‘aqiqah dengan sapi dan unta diqiyaskan kepada hewan qurban. Ini juga pendapat yang rajih dalam mazhab maliki. Padahal, pada masa Rasulullah SAW, ‘aqiqah hanya dengan kambing atau domba.

    Komentar: Dalam tulisan itu disebut sebuah kaidah yang terkenal “al aslu fil ‘ibadati at tauqif” (asal dari perkara ibadah adalah tauqif/tinggal pakai saja). Terkait soal hutang, zakat, atau niat Haji bagi orang yang meninggal; semua itu kan ada nash-nya. Kalau kemudian dilebarkan ke “kirim pahala baca Al Fatihah atau ayat Al Qur’an” untuk mayyit, meskipun berdalil dengan Kitab Ar Ruuh Ibnul Qayyim; hal itu jelas berbeda.

    Qiyas-qiyas seperti ini -jika ada dalam Syariat- selain akan memadamkan kaidah-kaidah ushuliyyah yang sudah disepakati, termasuk oleh penyusun Ar Risalah; ia juga akan membuka -maaf- aib dari madzhab-madzhab fiqih itu sendiri, terutama di depan kalangan Azh Zhahiriyyah. Seolah dikesankan, para penggelut madzhab fiqih sibuk dengan persepsinya sendiri, terutama ketika berhadapan dengan ibadah-ibadah yang tidak ada nash-nya.

    4. Mengenai shalawat setelah adzan, pernyataan ibn Hajar al-Haitami, telah terdistorsi. Kalau penulisnya membaca dari awal, maka pasti akan mengetahui bahwa al-Haitami juga menyebut hal tersebut sebagai hal yang baik.

    Komentar: Terlepas soal terdistorsi atau tidak ucapan Al Haitami di atas, tetapi yang jelas sesuai Syariat Islam, lafadz adzan itu sudah jelas. Dimulai dari “Allahu Akbar”…diakhiri dengan “Laa ilaha illa Allah”. Ini sudah ijma’ kaum Muslimin. Adapun membaca shalawat dengan suara keras, tidak berselang lama setelah membaca adzan, dan hal itu dibiasakan sehigga ia seperti bagian dari ritual adzan itu sendiri; jelas ia merupakan bid’ah. Dalilnya, Nabi Saw dan para Shahabat Ra tidak mencontohkan hal itu. Andaikan perbuatan itu ada keutamaannya, tentu Nabi akan memberikan contoh, begitu juga para Khulafaur Rasyidin Ra.

    6. Ibnu Hajar al-Haitami, menganggap bahwa melakukan perjalanan khusus untuk menziarahi kubur para auliya’ sebagai “qurbah mustahabbah”, padahal tidak ada juga hadits yang menganjurkannya secara khusus. 7. Ibnu Hajar al-Haitami menganggap sunnah ( bagi keluarga yang ditinggalkan ) bersedekah dengan memberikan makanan selama 7 hari setelah meninggalnya seseorang. Ini yang sekarang disebut dengan tahlilan selama 7 hari. Silahkan baca kitab Fatawa beliau.

    Komentar: Salah satu fatwa Ibnu Taimiyyah yang terkenal adalah beliau melarang safar khusus ke masjid tertentu, selain Haramain Syarifain dan Masjidil Aqsha. Beliau juga melarang safar ziarah kubur, tetapi tidak menafikan adanya sunnah ziarah kubur untuk mengingati mati dan mengucap salam kepada ahli kubur. Bagi keluarga yang ditinggalkan wafat salah satu anggota keluarganya, layak diberi bantuan atau sumbangan, untuk menghibur rasa kedukaan. Seperti yang pernah dilakukan keluarga Ja’far bin Abu Thalib Ra setelah beliau wafat dalam peperangan. Bukan malah mengeluarkan sedekah untuk menghibur para pelayat. Selain hal itu tambah menyusahkan, juga bisa dianggap sebagai bagian dari “niyahah” (meratap).

    9. Mengenai Ibnu Hajar al-’Asqalani, ketika mensyarah hadits tentang shalat wudhu’ yang dilakukan oleh Bilal tanpa sepengetahuan dan seizin Rasulullah SAW, mengatakan diperbolehkan ijtihad dalam menentukan waktu ibadah.
    ويستفاد منه جواز الاجتهاد في توقيت العبادة ، لأن بلالا توصل إلى ما ذكرنا بالاستنباط فصوبه النبي صلى الله عليه وسلم

    Komentar: Ya, perbuatan Shahabat Ra yang disetujui oleh Nabi merupakan dalil Syariat yang bisa diamalkan. Tetapi tidak bisa hal itu membuka peluang bagi kita untuk melakukan hal yang sama, dengan berkreasi membuat ibadah-ibadah baru. Karena secara hakiki, wahyu sudah berhenti, agam sudah disempurnakan. Disana ada kata kuncinya “fa shauwabihi an nabi”.

    10. Ibnu Hajar al-’Asqalani, ketika mensyarah hadits tentang sesorang yang membaca do’a I’tidal kreasinya sendiri di belakang Rasulullah SAW, mengatakan diperbolehkan membuat dzikir sendiri di dalam shalat asalkan tidak bertentangan dengan yang ma’tsur.
    واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير مأثور إذا كان غير مخالف للمأثور
    Pendapat ini juga disetujui oleh al-Mubarakfuri ( pengarang Tuhfah al-Ahwadzi ), dan juga al-syaukani di dalam Nail al-Authar.

    Komentar: Sama seperti sebelumnya. Selagi adanya “kreasi” itu masih di zaman Nabi Saw, dan beliau setujui dengan perkataan, dukungan, atau pembiaran; semua ini dianggap menjadi dalil. Tetapi kalau di zaman setelah Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra, tidak diperkenankan lagi ada dalil-dalil yang terus bermunculan. Nanti agama ini jadi rusak.

    Demikian sekilas komentar yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf atas segala salah dan kekurangan. Jazakumullah khairan jaza’.

    AMW.

  37. Liong berkata:

    Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu suatu ketika bercerita; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya :
    “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Aku”.
    Beliau bertanya lagi,
    “Lalu siapa diantara kalian yang mengiringi (mengantarkan) jenazah hari ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Aku”.
    Beliau bertanya lagi,
    “Lalu siapakah diantara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Aku”
    Beliau bertanya lagi,
    “Lalu siapakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit hari ini?”
    Abu Bakar menjawab, “Aku”.

    Maka adakah diantara kita yang dalam sehari terkumpul padanya rangkaian amalan ibadah yang beraneka ragam seperti berpuasa, mengiringi jenazah, memberi makan orang miskin, dan menjenguk orang sakit?

    buat yang berkeyakinan bid’ah hasanah itu tidak mengapa, apakah sudah memenuhi harinya dgn sunnah2 Rasul?
    orang-orang terdahulu itu amat sangat tamak melakukan kebaikan.
    ulama2 yang berbeda pendapat tentang bid’ah hasanah adalah orang2 yg sudah memenuhi hari2nya dengan hal yang wajib dan sunnah dalam agama ini. kenyataan sekarang, kebanyakan masyarakat malah mendahulukan bid’ah hasanah dibandingkan hal yang wajib dan sunnah. cobalah mas Said untuk menjelaskannya ke masyarakat semua rincian dan bagaimana perbedaan ulama tentang bid’ah hasanah serta kaidah kapan harus mengamalkan bid’ah hasanah itu, apakah didahulukan sebelum perkara wajib & sunnah atau sebaliknya. sehingga tidak ditemui lagi orang2 yang tahlilannya tidak pernah ketinggalan tp jamaah ke masjid hanya pas jum’atan. Jangan hanya berargumen dgn penulis. tdk ada habisnya

  38. dodi berkata:

    @said..
    tulisan anda njelimet belum tentu juga benar …. umat dibawah lebih suka bidah dari pada sunnah …

  39. mardi berkata:

    betul juga kata liomg … dikampung saya masyarakat lebih suka tahlilan dari pada shalat berjamaah di mesjid ……..

  40. Faza berkata:

    Tulisan dan hujjah yang terang benderang begitu dibilang njelimet. Diskusi ini ditutup saja, jika tidak dapat menjawab dengan hujjah-hujjah ilmiah dengan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama’ yang mumpuni di bidangnya, bukan pemahaman orang-orang seperti kita.

  41. rusdi taslim berkata:

    @faza
    Faza tidak usah risau sampaikanlah pemikiran anda dan pemahaman anda .. sebagian komentar yang ada juga mencerminkan sikap masyarakat”awam” tentang apa yang terjadi sesungguhnya dilapangan.
    Tugas ulama lah sebagai pewaris para nabi untuk memberikan pencerahan kepada umat secara bijak

    wass

  42. Said berkata:

    @All
    Saya sepakat diskusi kita cukupkan sampai di sini. Karena yang paling penting bagi saya adalah menegakkan hujjah – hujjah yang saya yakini. Persoalan diterima atau tidak, itu adalah hak setiap orang. Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, komentar ust. A.M. Waskito dan teman – teman membuat saya bernostalgia pada suatu masa sekitar 10 tahun yang lalu. Pemahaman, pendirian, dan hujjah – hujjah seperti itulah yang saya yakini dan yang sangat akrab di lisan saya. Saya dapat mengerti kesulitan – kesulitan teman – teman untuk menerima argumen – argumen ini. Jika saya menjawab komentar – komentar di atas, belum tentu juga akan diterima, sebagaimana saya juga belum tentu dapat menerima jawaban teman – teman.
    Yang jelas, inilah sikap dan pendirian kita masing – masing dan tentunya menurut kita ditopang oleh dalil – dalil yang kuat. Mudah – mudahan diskusi ini bermanfa’at dan memacu kita semua untuk selalu belajar dan belajar. Tidak ada kata final.
    Terakhir, kepada penulis dan komentator – komentator, saya mohon ma’af jika ada kata – kata yang kurang berkenan. Kita adalah umat Islam yang bersaudara.
    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

  43. fatihunnada berkata:

    assalamualaikum,

    imam THABRANI meriwayatkan dalam AL.MU’JAM AL.KABIR juz 12 no 13613 :tsana/menceritakan kpd kami: abu syuaib :tsana: yahya bin abdillah :tsana: ayyub :berkata aku mendengar: atho :berkata aku mendengar ibnu umar :berkata aku mendengar: Nabi MUHAMMAD SAW bersabda: =jika seorang dari kalian meninggal maka janganlah menahannya dan kebumikanlah segera lalu bacakan surat al.fatihah d kepalanya dan akhir surat al.baqoroh d kakinya ketika d kuburan=
    imam IBNU HAJAR AL.’ASQOLANI AL.SYAFII dalam FATH AL.BARI juz 3 hal 184: sanad riwayat ini bernilai HASAN.

    masalah:

    الفاتحة إلى المرحوم المغفور له فلان بن فلان وفلانة بنت فلان

    لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إلى أخر السورة

    ini, kata-kata yang sering saya dengar dalam tahlilan.
    BID’AH or SUNNAH ?

    #maaf jika comment saya yang pertama tidak ada tanggapan, karena suatu alasan dari pihak penulis.
    mudah-mudahan tulisan ini mendapatkan tanggapan.

    terima kasih sangat
    wassalamualaikum

  44. bambang wijanarko berkata:

    @fatihunada

    Majlis kenduri arwah lebih dikenali dengan berkumpul beramai-ramai dengan hidangan jamuan (makanan) di rumah si Mati. Kebiasaannya diadakan sama ada pada hari kematian, dihari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, setahun dan lebih dari itu bagi mereka yang fanatik kepada kepercayaan ini atau kepada si Mati. Malangnya mereka yang mengerjakan perbuatan ini tidak menyedari bahawa terdapat banyak fatwa-fatwa dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama besar dari kalangan yang bermazhab Syafie telah mengharamkan dan membid’ahkan perbuatan atau amalan yang menjadi tajuk perbincangan dalam tulisan ini.

    Di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz 2. hlm. 146, tercatat pengharaman Imam Syafie rahimahullah tentang perkara yang disebutkan di atas sebagaimana ketegasan beliau dalam fatwanya:

    وَیَكْرَهُ اتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِى الْیَوْمِ اْلاَوَّلِ وَالثَّالِث وَبَعْدَ اْلاُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ اِلَى الْقُبُوْرِ

    “Dan dilarang (ditegah/makruh) menyediakan makanan pada hari pertama kematian, hari ketiga dan seterusnnya sesudah seminggu. Dilarang juga membawa makanan ke kuburan”.
    Imam Syafie dan jumhur ulama-ulama besar ( ائم ة العلم اء الش افع یة ) yang berpegang
    kepada mazhab Syafie, dengan berlandaskan kepada hadis-hadis sahih, mereka memfatwakan bahawa yang sewajarnya menyediakan makanan untuk keluarga si Mati adalah jiran, kerabat si Mati atau orang yang datang menziarahi mayat, bukan keluarga (ahli si Mati) sebagaimana fatwa Imam Syafie:

    وَاُحِبُّ لِجِیْرَانِ الْمَیِّتِ اَوْذِيْ قَرَابَتِھِ اَنْ یَعْمَلُوْا لاَھْلِ الْمَیِّتِ فِىْ یَوْمِ یَمُوْتُ وَلَیْلَتِھِ طَعَامًا مَا
    یُشْبِعُھُمْ وَاِنَّ ذَلِكَ سُنَّةٌ.
    “Aku suka kalau jiran si Mati atau saudara mara si Mati menyediakan makanan untuk keluarga si Mati pada hari kematian dan malamnya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya itulah amalan yang sunnah”.
    Fatwa Imam Syafie di atas ini adalah berdasarkan hadis sahih:
    قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنِ جَعْفَرَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرِ حِیْنَ قُتِلَ قَ الَ النَّبِ ي صَ لَّى اللهُ عَلَیْ ھِ وَسَ لَّمَ :
    اِصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرِ طَعَامًا فَقَدْ اَتَاھُمْ مَایُشْغِلُھُمْ . (حسنھ الترمزى وصححھ الحاكم)
    “Abdullah bin Ja’far berkata: Ketika tersebar tentang berita terbunuhnya Ja’far, Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda: Hendaklah kamu menyediakan makanan untuk keluarga Ja’far, mereka telah ditimpa keadaan yang menyebukkan (kesusahan)”. [1]
    Menurut fatwa Imam Syafie, adalah haram mengadakan kenduri arwah dengan menikmati hidangan di rumah si Mati, terutama jika si Mati termasuk keluarga yang miskin, menanggung beban hutang, meninggalkan anak-anak yatim yang masih kecil dan waris si
    Mati mempunyai tanggungan perbelanjaan yang besar dan ramai. Tentunya tidak dipertikaikan bahawa makan harta anak-anak yatim hukumnya haram. Telah dinyatakan
    juga di dalam kitab ( اعانة الطالبین ) jld. 2. hlm. 146:
    وَقَالَ اَیْضًأ : وَیَكْ رَهُ الضِّ یَافَةُ مِ نَ الطَّعَ امِ مِ نْ اَھْ لِ الْمَیِّ تِ لاَنَّ ھُ شَ رَعَ فِ ى السُّ رُوْرِ وَھِ يَ
    بِدْعَةٌ
    “Imam Syafie berkata lagi: Dibenci bertetamu dengan persiapan makanan yang disediakan oleh ahli si Mati kerana ia adalah sesuatu yang keji dan ia adalah bid’ah”.
    Seterusnya di dalam kitab ( اعان ة الط البین ) juz. 2. hlm. 146 – 147, Imam Syafie rahimahullah berfatwa lagi:

    وِمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فَعْلُھُ مَا یَفْعَلُ النَّاسُ مِنَ الْوَحْشَةِ وَالْجَمْعِ وَاْلاَرْبِعِیْنَ بَ لْ كَ لُّ
    ذَلِكَ حَرَامٌ
    1 H/R Asy-Syafie (I/317), Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad I/205. Dihasankan oleh at-Turmizi dan di sahihkan oleh al-Hakim.
    “Dan antara bid’ah yang mungkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan rasa kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat pulu harinya) pada hal semuanya ini adalah haram”.
    Ini bermakna mengadakan kenduri arwah (termasuk tahlilan dan yasinan beramairamai) dihari pertama kematian, dihari ketiga, dihari ketujuh, dihari keempat puluh, dihari keseratus, setelah setahun kematian dan dihari-hari seterusnya sebagaimana yang diamalkan oleh masyarakat Islam sekarang adalah perbuatan haram dan bid’ah menurut fatwa Imam Syafie. Oleh itu, mereka yang mendakwa bermazhab Syafie sewajarnya menghentikan perbuatan yang haram dan bid’ah ini sebagai mematuhi wasiat imam yang agung ini.
    Seterusnya terdapat dalam kitab yang sama a ( اعانة الط البین ) juz 2. hlm. 145-146, Mufti
    yang bermazhab Syafie al-Allamah Ahmad Zaini bin Dahlan rahimahullah menukil fatwa
    Imam Syafie yang menghukum bid’ah dan mengharamkan kenduri arwah:

    وَلاَ شَكَّ اَنَّ مَنْعَ النَّاسِ مِنْ ھَذِهِ الْبِدْعَةِ الْمُنْكَ رَةِ فِیْ ھِ اِحْیَ اءٌ لِلسُّ نَّة وَاِمَاتَ ةٌ لِلْبِدْعَ ةِ وَفَ تْحٌ
    لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْوَابِ الْخَیْرِ وَغَلْقٌ لِكَثِیْرٍ مِنْ اَبْ وَابِ الشَّ رِّ ، فَ اِنَّ النَّ اسَ یَتَكَلَّفُ وْن تَكَلُّفً ا كَثِیْ رًا
    یُؤَدِّيْ اِلَى اَنْ یَكُوْنَ ذَلِكَ الصُّنْعُ مُحَرَّمًا .
    “Dan tidak boleh diragukan lagi bahawa melarang (mencegah) manusia dari perbuatan bid’ah yang mungkar demi untuk menghidupkan sunnah dan mematikan (menghapuskan) bid’ah, membuka banyak pintu-pintu kebaikan dan menutup pintu pintu keburukan dan (kalau dibiarkan bid’ah berterusan) orang-orang (awam) akan
    terdedah (kepada kejahatan) sehingga memaksa diri mereka melakukan perkara yang haram”.
    Kenduri arwah atau lebih dikenali dewasa ini sebagai majlis tahlilan, selamatan atau yasinan, ia dilakukan juga di perkuburan terutama dihari khaul ( خ ول ). Amalan ini termasuk perbuatan yang amat dibenci, ditegah, diharamkan dan dibid’ahkan oleh Imam Syafie rahimahullah sebagaimana yang telah ditegaskan oleh beliau:

    مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ مِنَ اْلاِجْتَمَاعِ عِنْدَ اَھْلِ الْمَیِّتِ وَصُنْعِ الطَّعَامِ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ

    “Apa yang diamalkan oleh manusia dengan berkumpul dirumah keluarga si mati dan menyediakan makanan adalah termasuk perbuatan bid’ah yang mungkar”.[2]
    Di dalam kitab fikh ( حاش یة القلی وبي ) juz. 1 hlm. 353 atau di kitab ( – قلی وبى – عمی رة
    حاش یتان ) juz. 1 hlm. 414 dapat dinukil ketegasan Imam ar-Ramli rahimahullah yang mana beliau berkata:
    2 Lihat: اعانة الطالبین juz 2 hlm. 145.

    قَالَ شَیْخُنَا الرَّمْلِى : وَمِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ الْمَكْرُوْهِ فِعْلُھَا كَمَا فِى الرَّوْضَةِ مَا یَفْعَلُھُ النَّاسُ
    مِمَّا یُسَمَّى الْكِفَارَةَ وَمِنْ صُنْعِ طَعَامِ للاِجْتَمَاعِ عَلَیْھِ قَبْلَ الْمَوْتِ اَوْبَعِ دَهُ وَمِ ن ال ذَّبْحِ عَلَ ى
    الْقُبُوْرِ ، بَلْ كُلُّ ذَلِكَ حَرَامٌ اِنْ كَانَ مِ نْ مَ الٍ مَحْجُ وْرٍ وَلَ وْ مِ نَ التَّركَ ةِ ، اَوْ مِ نْ مَ الِ مَیِّ تٍ
    عَلَیْھِ دَیْنٌ وَتَرَتَّبَ عَلَیْھِ ضَرَرٌ اَوْ نَحْوُ ذَلِكَ.
    “Telah berkata Syeikh kita ar-Ramli: Antara perbuatan bid’ah yang mungkar jika dikerjakan ialah sebagaimana yang dijelaskan di dalam kitab “Ar-Raudah” iaitu mengerjakan amalan yang disebut “kaffarah” secara menghidangkan makanan agar dapat berkumpul di rumah si Mati sama sebelum atau sesudah kematian, termasuklah (bid’ah yang mungkar) penyembelihan untuk si Mati, malah yang demikian itu semuanya haram terutama jika sekiranya dari harta yang masih dipersengketakan walau sudah ditinggalkan oleh si Mati atau harta yang masih dalam hutang (belum dilunas) atau seumpamanya”.
    Di dalam kitab ( الفقھ على المذاھب الاربعة ) jld.1 hlm. 539, ada dijelaskan bahawa:

    وَمِنَ الْبِدَعِ الْمَكْرُوْھَ ةِ مَ ا یَفْعَ لُ الآن مِ نْ ذَبْ حِ ال ذَّبَائِحَ عِنْ دَ خُ رُوْجِ الْمَیِّ ت اَوْ عِنْ دَ الْقَبْ رِ
    وَاِعْدَادِ الطَّعَامِ مِمَّنْ یَجْتَمِعُ لِتَّعْزِیَةِ .
    “Termasuk bid’ah yang dibenci ialah apa yang menjadi amalan orang sekarang, iaitu menyembelih beberapa sembelihan ketika si Mati telah keluar dari rumah (telah dikebumikan). Ada yang melakukan sehingga kekuburan atau menyediakan makanan kepada sesiapa yang datang berkumpul untuk takziyah”.
    Kenduri arwah pada hakikatnya lebih merupakan tradisi dan kepercayaan untuk mengirim pahala bacaan fatihah atau menghadiahkan pahala melalui pembacaan al-Quran terutamanya surah yasin, zikir dan berdoa beramai-ramai yang ditujukan kepada arwah si
    Mati. Mungkin persoalan ini dianggap isu yang remeh, perkara furu’, masalah cabang atau
    ranting oleh sebahagian masyarakat awam dan dilebih-lebihkan oleh kalangan mubtadi’ مبت دع ) ) “pembuat atau aktivis bid’ah” sehingga amalan ini tidak mahu dipersoalkam oleh
    pengamalnya tentang haram dan tegahannya dari Imam Syafie rahimahullah dan para ulama yang bermazhab Syafie.
    Pada hakikatnya, amalan mengirim atau menghadiahkan pahala bacaan seperti yang dinyatakan di atas adalah persoalan besar yang melibatkan akidah dan ibadah. Wajib diketahui oleh setiap orang yang beriman bahawa masalah akidah dan ibadah tidak boleh
    dilakukan secara suka-suka (tanpa ada hujjah atau dalil dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya), tidak boleh berpandukan pada anggapan yang disangka baik lantaran ramainya
    masyarakat yang melakukannya, kerana Allah Subhanahu wa-Ta’ala telah memberi amaran
    yang tegas kepada mereka yang suka bertaqlid (meniru) perbuatan orang ramai yang tidak
    ada dalil atau suruhannya dari syara sebagaimana firmanNya:

    وَاِنْ تُطِ ع اَكْثَ رَ مَ ن فِ ى اْلاَرْضِ یُضِ لُّوْكَ عَ ن سَ بِیْلِ اللهِ اِنْ یَّتَّبِعُ وْن اِلاَّ الظَّ نَّ وَاِنْ ھُ مْ اِلاَّ
    یَخْرُصُوْنَ
    “Dan jika kamu menuruti kebanyakan (majoriti) orang-orang yang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan diri kamu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al-An’am, 6:116)
    Begitu juga sesuatu amalan yang disangkakan ibadah sama ada yang dianggap wajib atau sunnah, maka ia tidak boleh ditentukan oleh akal atau hawa nafsu, antara amalan tersebut
    ialah amalan kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) maka lantaran ramainya orang yang mengamalkan dan adanya unsur-unsur agama dalam amalan tersebut seperti bacaan al- Quran, zikir, doa dan sebagainya, maka kerananya dengan mudah diangkat dan dikategorikan sebagai ibadah. Sedangkan kita hanya dihalalkan mengikut dan mengamalkan apa yang benar-benar telah disyariatkan oleh al-Quran dan as-Sunnah jika ia dianggap sebagai ibadah sebagaimana firman Allah Azza wa-Jalla:

    ثُمَّ جَعَلْنَ اك عَلَ ى شَ رِیْعَةٍ مِ نَ اْلاَمْ رِ فَاتَّبِعْھَ ا وَلاَ تَتَّبِ عْ اَھْ وَاء الَّ ذِیْنَ لاَ یَعْلَمُ وْنَ . اَنَّھُ مْ لَ نْ
    یُّغْنُوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَیْئًا
    “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan yang wajib ditaati) dalam urusan (agamamu) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (orang jahil). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak diri kamu sedikitpun dari siksaan Allah”. (QS. Al-Jatsiyah, 45:18-19)
    Setiap amalan yang dianggap ibadah jika hanya berpandukan kepada andaian mengikut perkiraan akal fikiran, perasaan, keinginan hawa nafsu atau ramainya orang yang melakukan tanpa dirujuk terlebih dahulu kepada al-Quran, as-Sunnah dan athar yang sahih untuk dinilai sama ada haram atau halal, sunnah atau bid’ah, maka perbuatan tersebutadalah suatu kesalahan (haram dan bid’ah) menurut syara sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat di atas dan difatwakan oleh Imam Syafie rahimahullah. Memandangkan polemik dan persoalan kenduri arwah kerapkali ditimbulkan dan ditanyakan kepada penulis, maka ia perlu ditangani dan diselesaikan secara syarii (menurut hukum dari al-Quran dan as-Sunnah) serta fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah dari kalangan Salaf as-Soleh yang muktabar.
    Dalam membincangkan isu ini pula, maka penulis tumpukan kepada kalangan para ulama
    dari mazhab Syafie kerana ramai mereka yang bermazhab Syafie menyangka bahawa amalan kenduri arwah, tahlilan, yasinan atau amalan mengirim pahala adalah diajarkan oleh Imam Syafie dan para ulama yang berpegang dengan mazhab Syafie.
    Insya-Allah, mudah-mudahan tulisan ini bukan sahaja dapat menjawab pertanyaan bagi mereka yang bertanya, malah akan sampai kepada mereka yang mempersoalkan isu ini, termasuklah mereka yang masih tersalah anggap tentang hukum sebenar kenduri arwah (tahlilan atau yasinan) menurut Ahli Sunnah wal-Jamaah.

    sumber: wahonot.wordpress.com

    Comments (6)
    6 Comments »

    saya setuju dgn hal ini,sblm’y saya juga percaya jika acara tahlilan sangat baik/mengandung nilai ibadah tp setelah saya tahu bhw imam syafie secara tegas menyatakan ini adlh perbuatan bid’ah yg mungkar maka saya tidak lagi menganggap hal ini baik bahkan tidak boleh dilaksanakan…
    bnyk yg beranggapan bahwa hal ini wlwpun bid’ah tp bid’ah yg baik karena di dalam tahlilan ini mengandung unsur silaturahmi dan dibacakan do’a utk yg meninggal dan bacaan2 dzikir yg kita semua sepaham bahwa hal2 tsb memang baik,tp sama sekali tdk melihat dalil mengenai acara tahlilannya itu sendiri…
    bagi yg msh melaksanakan acara tahlilan ini marilah kita merujuk kepada para ulama besar seperti Imam Syafie yg pasti lebih dalam keilmuan agamanya drpd kita dan kembalilah kepada ajaran Islam yg murni jangan menuruti persangkaan persangkaan saja… krna persangkaan pd akhirnya akan membawa kita seperti kaum yahudi dan nasrani…
    naudzubillah

    Comment by abu tazkia — October 20, 2010 @ 12:20 pm

    Didalam Al-Azkar An-Nawawai halaman 147:qola Asyafiyah walashabi:yastabu ayyaqrou indahu saian minal Qur-an, qolu fain khotimul qur’an kallahu hasan.Artnya telah berkata imam syafi’i beserta murid muridnya: dianggap baik membaca al-qur’an( dirumah orang kematian)mereka berkata bahkan sampai tamatqur’an itu lebih baik.dihalaman 150 Al-Azkar An-Nawawi berihtilaf par ulama tentang sampainya pahala bacaan kepada simati yang mashur dikalangan madhab syafi’dan banyak ulama mengatakan tidak akan sampai(la yasil)lain halnya menurutpendapat Imam Ahmad bin Hambal dan parajamaah dan darisebagian murid murid Imam Syafi’i ala innahu yasila(sampai)dengan diihtiyaran oleh do’a:Allohumma ausholi sauba ma qoro’tahu ala fulanan artinya;Ya allah sampaikanalah pahala bacaan Alqur’an ini kepada Almarhum. Jadi tidak ada sama sekali dalil syar’inya hanya dalil mudah mudahan.

    Comment by dadang yuswara — January 4, 2011 @ 2:01 pm

    BahayaBerbuatBid’ahKemungkinanNantiTidak akan menapat safaat dar Rosul.haditsDari wail binMalik: Rosul bersabda:AKU akan mendahului kalian tiba disebuahtelaga, barang siapa mendekat kepadaku dan minum air telaga itu tidak akan haus selamanya, kemudian digiring serombongan menuju kearah nabi,nabi mengenali mereka dan merekapun mengenalnabi,akan tetapi nabi keheranan mereka tidak kunjung datang seperti ada dinding yang menghalingikeduanya,kemudian dikatakan kepada nabi engkau tidak tahu sepeninggalmu orang itu suka menambah nambah agama(berbuat bid’ah)katanabi aku tidak suka itu kata nabi sughkon sughkon maksudnya pergilah pergilah dari sini !jadi teman teman boro boro mendafat safaat hampir juga datang mendekati nabi malah diusir kasian delu !

    Comment by dadang yuswara — January 4, 2011 @ 2:24 pm

    Teman teman bukan tahlilan bae yang termasuk bid’ah itu abu sungkan telah membid’ahkan sholat sunat dua rokaat antara dua adzan di hari jum’at tersebut dikitab enciklopedia etika islam halaman 357 katanya tidak berdalil syar’i saya pernah baca di kitab sual-jawah karangan A-Hasan katanya berdalil akli dikiyaskan kepda sholat dhuhur sedangkan kata imam syafi’i la kiyasa fil ibadati ini worning kepada teman teman yang bermadhab syafi’i orang yang mahir membuat kiyas itu didalam peribadatan seperti mau mengajari nabi seolah olah nabi miskin dalil nuzubillah.

    Comment by dadang yuswara — January 4, 2011 @ 3:17 pm

    […] Namun kalau kenduri itu ditujukan untuk arwah (spt sesajian), maka ini termasuk syirik akbar yang menjadikan makanan tsb haram. Sedangkan bila kenduri tsb ditujukan sebagai jamuan tamu, bukan sebagai taqarrub (mendekatkan diri) kepada selain Allah. Maka hukum asal makanannya adalah halal. Sedangkan kenduri yg dikaitkan dengan kematian ketika keluarga yang ditinggal mati masih dirundung kesedihan, maka kalau memang kenduri tsb berasal dari keluarga yang bersangkutan, maka menurut imam syafi’i kita tidak boleh memakannya. selengkapnya bisa antum baca di sini. […]

    Pingback by Status makanan hasil kenduri « Aku seorang muslim! — March 17, 2011 @ 8:54 pm

    Assalamu’alaikum…
    Maaf Ustad, agaknya ustad belum meneliti secara tuntas tentang redaksi dalam kitab-kitab tersebut. yang paling mengenal imam syafi’i tentu ashab-ashabnya. terkait tahlilan, kenduri dan yasinan coba ustad buka kitab-kitab yang menjelaskan ungkapan imam syafi’i itu:
    1. Lihat Al-Adzkar li-Syaikhil Islam al-Imam an-Nawawi hal. 150.
    2. Lihat ; Minhajuth Thalibin lil-Imam an-Nawawi [hal. 193].
    3. Lihat ; Tafsirul Qur’an al-‘Adzhim li-Ibni Katsir (7/465).
    4. Lihat : Niyahatuz Zain fiy Irsyadil Mubtadi-in lil-Syaikh Ibnu ‘Umar an-Nawawi al-Jawi [hal. 162]
    5. lihat Shahih Muslim (1631), Ibnu Majah [3660], Musnad Ahmad [8540] dan ad-Darimi [3464].
    6. Lihat : Fathul Mu’in bisyarhi Qurrati ‘Ain, al-‘Allamah Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al-Malibari [hal. 431].
    7. Lihat : I’anatuth Thalibin li-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/256].
    Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajith Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari [w. 926 H] (2/23).
    Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/72].
    Lihat : Mughni al-Muhtaj, Imam Syamsuddin al-Khatib as-Sarbini [4/110].
    Lihat : as-Sirajul Wahaj ‘alaa Matni al-Minhaj lil-‘Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]
    Lihat : Futuhatul Wahab lil-Imam Sulaiman al-Jamal (Hasyiyatul Jamal) [4/67].
    Shahih Muslim no. 1672 ( Bab sampainya pahala shadaqah dari mayyit atas dirinya) dan no. 3083 (Bab sampainya pahala
    shadaqah kepada mayyit), dalam bab ini Imam Muslim mencantum beberapa hadits lainnya yang redaksinya mirip ; Mustakhraj Abi ‘Awanah no. 4701.
    Lihat ; Syarah Shahih Muslim [3/444] Imam Nawawi
    Lihat : Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddits al-Baihaqi.

  45. bambang wijanarko berkata:

    Maaf itu saya copy paste dari sebuah situs mengenai tahlilan ..

  46. abisyakir berkata:

    @ Al Akh Said hafizhakallah…

    Satu hal yang ingin saya sampaikan adalah, komentar ust. A.M. Waskito dan teman – teman membuat saya bernostalgia pada suatu masa sekitar 10 tahun yang lalu. Pemahaman, pendirian, dan hujjah – hujjah seperti itulah yang saya yakini dan yang sangat akrab di lisan saya. Saya dapat mengerti kesulitan – kesulitan teman – teman untuk menerima argumen – argumen ini.

    Komentar: Ya Akhi, saya coba memaklumi. Setiap orang memiliki cobaan berbeda. Saya pun sebelum intima’ dengan pemahaman ini, terlebih dulu mengalami cobaan pemikiran/fitnah i’tiqad yang sangat berat. Walhamdulillah, Allah mengeluarkan saya dari semua kerumitan itu dengan pemahaman ini. Walhamdulillah. Makanya, antum akan melihat banyak sisi dialog yang saya bangun “berbeda” dengan umumnya kawan-kawan Salafi. Tapi saya berusaha memahami posisi Antum.

    Yang jelas, inilah sikap dan pendirian kita masing – masing dan tentunya menurut kita ditopang oleh dalil – dalil yang kuat. Mudah – mudahan diskusi ini bermanfa’at dan memacu kita semua untuk selalu belajar dan belajar. Tidak ada kata final.

    Komentar: Ya Akhi, memang pada titik itu, kita mesti saling tasamuh. Ya bagaimana lagi, kita memiliki pendapat berbeda, dengan konstruksi argumen dan paham berlainan. Hal demikian pun bukan monopoli zaman kita, ia sudah ada sejak lama. Maka bila kita sudah saling memiliki “dilalah”…ya saat itu harus saling hormat-menghormati. Jazakumullah khair atas partisipasi Antum dalam diskusi.

    Terakhir, kepada penulis dan komentator – komentator, saya mohon ma’af jika ada kata – kata yang kurang berkenan. Kita adalah umat Islam yang bersaudara. Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Komentator: Sama-sama ya Akhil karim…mohon maafkan juga atas kata-kata saya yang tidak berkenan. Alhamdulillah, kita insya Allah akan senantiasa bersaudara dalam naungan Ukhuwwah Islamiyyah. Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  47. abisyakir berkata:

    @ Fatihunnada…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Afwan kalau komen sebelumnya belum ditanggapi. Kadang tidak semua komen bisa ditanggapi, dengan segala keterbatasan yang ada. Sekali lagi mohon maaf bila belum ada respon yang baik.

    Singkat kata, kalau kita mengambil pendapat Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah seperti yang disebut di atas, beliau menghukumi hadits tersebut: Hasan. Menurut para ulama, hadits hasan boleh diamalkan. Andaikan dianggap tidak ada hasil penelitian hadits lain, selain pendapat Ibnu Hajar di atas, ia boleh diamalkan. Tetapi caranya, sebagaimana zhahir hadits tersebut, dibacakan Al Fatihah di kepala mayyit, dibacakan akhir surat Al Baqarah di kakinya. Ya sudah sebatas itu saja. Tidak usah dipanjang-panjangkan, ditambah-tambah dengan dzikir-dzikir lain, sehingga menjadi ritual berbeda dari pesan asli hadits tersebut. Kecuali doa kaum Muslimin, shalat jenazah, shalat ghaib, atau perkataan dari ahli warits agar si jenazah dimaafkan, diringankan hutang dan bebannya, dan permintaan manusiawi lainnya.

    Adapun tahlilan…ini kan seperti ritual berbeda, dengan kaifiyah, dzikir, urutan, dan aneka batasan-batasan yang dibuat sendiri; yang bentuk amalan itu tidak berlandaskan Sunnah Rasulullah. Adapun membaca akhir Surat Al Baqarah, ia memiliki keutamaan, dibaca pagi-petang, sebagai bacaan ruqyah dan lainnya yang sesuai Sunnah Nabi Saw. Tidak bisa dikatakan, karena dalam tahlilan ada pembacaan akhir Surat Al Baqarah yang disunnahkan, lalu keseluruhan acara tahlilan itu menjadi suatu sunnah yang dibenarkan. Tidak demikian.

    Wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  48. fatihunnada berkata:

    @Bambang Wijanarko

    Situs mengenai tahlilan yang anda kutip itu betul – betul tidak jujur, jadi, kita perlu mengkaji ulang sedikit. maaf saya sedikit mencoba mengkaji artikel itu. (mohon maaf akhi Bambang):

    1. al-Syafi’i menyatakan al-Ma’tam itu makruh, tetapi si penulis mengatakan imam al-Syafi’i mengharamkan.
    sangat bahaya jika menterjemahkan dengan pendapat, dan tidak sesuai maksud mushonnif.

    2. Si penulis menyamakan al-Ma’tam dengan tahlilan. Ini namanya qiyas ma’al fariq. Mengqiyaskan 2 sesuatu yang berbeda, tentu tidak dapat diterima. Ma’tam itu didefenisikan sebagai perkumpulan laki-laki atau perempuan dalam kesenangan atau kesedihan. Ma’tam itu intinya adalah berkumpul untuk meratapi orang yang telah meninggal dunia, dan pada masa itu biasa dilakukan oleh wanita.
    قال ابن بري: لا يمتنع أن يقع المأتم بمعنى المناحة والحزن والنوح والبكاء لأن النساء لذلك اجتمعن، والحزن هو السبب الجامع

    Tahlilan jauh berbeda dengan itu, karena tahlilan adalah berkumpul untuk membaca al-Qur’an, berdzikir, dan berdo’a untuk si mayyit. Membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayyit itu bermanfa’at menurut jumhur ulama’. Imam al-syafi’i dan sebagian pengikutnya menyatakan tidak sampai, tetapi tidak ada perkataan beliau yang mengharamkan. Pengikut imam al-Syafi’i yang menyatakan tidak sampai pun berpendapat itu bermanfa’at jika setelah bacaan al-Qur’an itu dilanjutkan dengan do’a.

    perlu pengakuan adanya perbedaan antara tahlilan dan ma’tam
    baru bisa diklarifikasi lagi keterangan ini.

    3. Mengenai jamuan makanan, memang disunnahkan kepada tetangga untuk membuat makanan kepada ahlul musibah. Nah, dalam tahlilan itu, jamuan makanan itu sebagiannya berasal dari pelayat juga dalam bentuk beras atau uang yang kemudian dibelikan bahan – bahan,lalu dimasak di rumah ahlul musibah. Yang memasaknya juga, biasanya para tetangga, bukan mereka yang mendapat musibah. Kalaupun ada dari ahlul musibah, kalau diniatkan bershadaqah atas nama si mayyit, tentu berpahala. Jadi, pemberian makanan itu bukan untuk menghibur pelayat, tetapi shadaqah atas nama si mayyit yang jelas – jelas bermanfa’at tanpa khilaf di kalangan ulama’.

    (maaf sebelumnya, saya pernah mendapatkan keterangan:
    bahwa sayyidah ‘Aisyah ternyata melakukan hal ini.
    in sya ALLOH, nanti saya chek dulu validitas keterangan ini. baru saya ungkapkan disini)

    4. Kesimpulannya, yang dimakruhkan itu adalah berkumpul – kumpul untuk meratapi mayat, bukan berkumpul untuk tahlilan.

    5. Banyak yang tidak bermazhab syafi’i, dan tidak mengkaji mazhab syafi’i secara mendalam, tetapi ucapan yang terlontar dari lisan dan tulisannya -seakan-akan- pengikut mazhab Syafi’i secara mendfalam.

    (saya kira, bila ini diteruskan… maka tepatlah hadits nabi:
    jika satu perkara diserahkan -untuk dibicarakan dan dikerjakan- oleh orang yang bukan FAKnya…… —na’udzubillah—

    @ ustadz Abi Syakir (AMW)

    oiya ustadz, terimakasih atas keterangannya.
    sekedar mengingatkan:
    apa yang antum nuqil (perkataan imam malik) bahwa:

    Istiwa’ itu sudah maklum, tatacara Istiwa’ tidak diketahui, mengimaninya wajib, mempersoalkannya adalah bid’ah

    ini perkataan yang tidak dapat disandingkan kepada imam malik, karena jalur periwayatan Atsar ini tidak dapat dipertanggung jawabkan.
    monggo diklarifikasi statement saya.

  49. Faza berkata:

    nambah sedikit, Thawus ( salah seorang tabi’in besar ) radliyallahu ‘anh, menyebutkan :

    ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا . فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

    “Sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan untuk memberi jamuan makan yang pahalanya untuk mayyit selama masa 7 hari tersebut”.

    Hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab al-Zuhd, dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan semua perawinya adalah tsiqah ( Hasyim bin al-Qasim, al-Asyja’i, dan Sufyan al-Tsauri ).

    Imam al-Hafidz As-Suyuthi mengatakan bahwa lafadz “kanuu yastahibbuna”, memiliki makna kaum Muslimin (sahabat) yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alayhi wa salllam , sedangkan Nabi mengetahuinya dan taqrir atas hal itu. Namun, dikatakan juga sebatas berhenti pada pada sahabat saja dan tidak sampai pada Rasulullah.

    al-Rafi’i menyatakan bahwa lafazh seperti itu menunjukkan bahwa hal tersebut masyhur pada masa itu, tanpa ada yang mengingkari.

    penjelasan lebih lengkap dan detail, silahkan baca kitab al-Hawi karya al-Suyuthi rhm.

  50. zul berkata:

    @abisyakir
    Berarti, kalau saya mau mendawamkan membaca al-Qur’an sehabis shalat shubuh sebanyak 3 juz, juga bid’ah dong, karena gak ada haditsnya baca al-Qur’an setelah shubuh itu 3 juz. Kalau saya memilih dzikir – dzikir yang ma’tsur, kemudian saya susun jadi satu kesatuan, kemudian saya baca pagi dan sore, juga bid’ah dong, karena dzikir – dzikir tersebut terdapat dalam berbagai riwayat, dan tidak memiliki urutan. Sungguh, metode istidlal yang benar – benar “lucu”. Belajar lagi lah bahasa ‘Arab, ilmu tafsir, ilmu hadits, ushul fiqh, fiqih muqaranah, dll. Bahasa ‘Arab yang anda tulis aja, sering salah – salah secara gramatikal. Lucu, orang seperti anda berani mengkritik para ulama’.

  51. zul berkata:

    @Bambang
    Tulisan yang anda copas itu fitnah. Itu terdapat dalam kitab I’anah al-Thalibin, dan tidak ada disebutkan bahwa itu ucapan imam al-Syafi’i. Mengapa si penulis berkali – kali menyebutkan itu ucapan imam al-Syafi’i???

  52. abisyakir berkata:

    @ Fahihunnada…

    Oiya ustadz, terimakasih atas keterangannya. sekedar mengingatkan: apa yang antum nuqil (perkataan imam malik) bahwa: “Istiwa’ itu sudah maklum, tatacara Istiwa’ tidak diketahui, mengimaninya wajib, mempersoalkannya adalah bid’ah.” Ini perkataan yang tidak dapat disandingkan kepada imam malik, karena jalur periwayatan Atsar ini tidak dapat dipertanggung jawabkan. Monggo diklarifikasi statement saya.

    Respon: Saya baca pernyataan itu dari ulama-ulama besar seperti Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz, Syaikh Al Ustaimin, Syaikh Said Wahfd Al Qahthan, juga dalam karya Ibnu Taimiyyah tentang Al Qaidah Al Wasithiyyah. Apakah ulama-ulama ini tidak mengerti jalur periwayatan dan mereka tidak paham atsar seperti yang Antum sangkakan itu? Antum kan sangat percaya dengan ulama2 panutan Antum. Apakah orang lain (misalnya saya) tidak boleh rujuk kepada ulama-ulama yang dipanuti?

    Andaikan perkataan Imam Malik itu tidak benar secara riwayatnya, maka secara MATAN perkataan beliau itu benar, sesuai Al Qur’an dan As Sunnah. Coba kita kaji secara sederhana…

    Al istiwa’u ma’lum (istiwa’ itu sudah maklum, sudah dipahami makna bahasanya). Dalilnya, Rasulullah Saw, para Shahabat Ra, dan para ulama Salaf adalah manusia-manusia yang paling tahu bahasa Arab dengan segala ciri khas dan keaslian lughawiyah-nya. Dan dalam riwayat-riwayat yang saya ketahui, tidak pernah Rasulullah, Sahabat, imam madzhab menanyakan soal istiwa’ itu.

    Wa kaifuhu majhul (bagaimananya Allah dalam istiwa’ tidak diketahui). Ini juga benar, sebab dalam Al Qur’an dan As Sunnah juga tidak disebutkan bagaimananya Allah dalam istiwa’. Cukuplah kita memahami seperti kaidah ulama, “Tafakkaru bi khalqillah, wa laa tafakkaru bi dzatillah” (berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah, jangan berpikir tentang Dzat-Nya).

    Al imanu bihi wajib (beriman tentang istiwa’ adalah wajib). Ini adalah benar dan sesuai Syariat. Andaikan istiwa’ dianggap sebagai urusan mutasyabihat yang samar, maka keimanan seorang mukmin yang benar adalah ketika dia mengatakan, “Amanna bihi kullun min ‘indi Rabbina” (Surat Ali imran). Mengimani istiwa’ adalah wajib, kufur terhadap hal itu jelas merupakan kekufuran kepada ayat-ayat Allah Ta’ala.

    Wa sualun fihi bid’ah (mempertanyakan istiwa’, menjadikannya debat kusir tak karuan, ia adalah bid’ah). Perbuatan mempertanyakan istiwa’ bukanlah perbuatan Nabi dan para Shahabat. Di masanya mereka tidak menanyakan hal itu. Pertanyaan baru muncul ketika otak Mu’tazilah mulai menyebar di tengah ummat.

    Maka pernyataan Imam Malik rahimahullah itu sangat baik, jelas, dan benar. Tidak diragukan lagi.

    AMW.

  53. abisyakir berkata:

    @ Fatihunnada…

    2. Si penulis menyamakan al-Ma’tam dengan tahlilan. Ini namanya qiyas ma’al fariq. Mengqiyaskan 2 sesuatu yang berbeda, tentu tidak dapat diterima. Ma’tam itu didefenisikan sebagai perkumpulan laki-laki atau perempuan dalam kesenangan atau kesedihan. Ma’tam itu intinya adalah berkumpul untuk meratapi orang yang telah meninggal dunia, dan pada masa itu biasa dilakukan oleh wanita.

    Respon: Ya sama juga, meng-qiyaskan antara riwayat yang dihasankan Ibnu Hajar tentang membaca Al Fatihah dan akhir ayat Al Baqarah di depan mayyit, dengan tahlilan juga berbeda. Keduanya tidak bisa di-qiyaskan. Tahlilan dilakukan setelah mayyit dimakamkan, sementara bacaan ayat itu dibaca ketika mayyit masih ada (seperti disebut dalam riwayat itu).

    Tahlilan jauh berbeda dengan itu, karena tahlilan adalah berkumpul untuk membaca al-Qur’an, berdzikir, dan berdo’a untuk si mayyit. Membaca al-Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk si mayyit itu bermanfa’at menurut jumhur ulama’. Imam al-syafi’i dan sebagian pengikutnya menyatakan tidak sampai, tetapi tidak ada perkataan beliau yang mengharamkan. Pengikut imam al-Syafi’i yang menyatakan tidak sampai pun berpendapat itu bermanfa’at jika setelah bacaan al-Qur’an itu dilanjutkan dengan do’a.

    Respon: Ya jangan cepat-cepat disebut pandangan Jumhur ulama. Sebab kan sudah jelas riwayatnya yang shahih, “Idza mata ibna adam inqatha’a amaluhu, illa shadaqatin jariyatin, wal ‘ilmu yuntafa’u bihi, wal waladun shalihun yad’u lahu”. Hadits ini kan sudah masyhur. Apalagi yang diragukan dari hadits ini. Maka tidak salah kalau imam Syafi’i mengatakan, amalan itu tidak akan sampai.

    Banyak orang berdalih dengan pendapat Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ar Ruuh, soal menghadiahkan amalan kepada ahli kubur. Masalahnya ada penelitian yang adil, bahwa kitab itu ditulis sebelum Ibnul Qayyim mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah. Dalam kitab itu ada masalah-masalah tertentu, misalnya mendalili suatu persoalan dengan mimpi si fulan dan si fulan. Hal ini merupakan celah kritik terhadap kitab tersebut.

    3. Mengenai jamuan makanan, memang disunnahkan kepada tetangga untuk membuat makanan kepada ahlul musibah. Nah, dalam tahlilan itu, jamuan makanan itu sebagiannya berasal dari pelayat juga dalam bentuk beras atau uang yang kemudian dibelikan bahan – bahan,lalu dimasak di rumah ahlul musibah. Yang memasaknya juga, biasanya para tetangga, bukan mereka yang mendapat musibah. Kalaupun ada dari ahlul musibah, kalau diniatkan bershadaqah atas nama si mayyit, tentu berpahala. Jadi, pemberian makanan itu bukan untuk menghibur pelayat, tetapi shadaqah atas nama si mayyit yang jelas – jelas bermanfa’at tanpa khilaf di kalangan ulama’.

    Respon: Adanya jamuan untuk para tamu yang datang melayat, selama tidak merepotkan pihak yang terkena musibah, ya itu mubah saja. Dianggap seperti “fal yukrim dhaifah”. Meskipun kita tak tahu apa yang ada dalam hati mereka. Apalagi kalau sampai dibelain dengan hutang-hutang. Masya Allah itu jelas berlebihan. Kalau jamuan dari tetangga dan sebagainya untuk menghibur keluarga yang terkena musibah, itu sangat baik. Asalkan benar-benar dari tetangga. Sunnahnya ada, ketika Nabi Saw menganjurkan para Shahabat menghibur keluarga Ja’far.

    Kalau soal shadaqah bagi mayyit, ya jangan diberikan ketika mushibah terjadi. Masak sedang mushibah, langsung shadaqah juga? Ini jadi aneh. Orang terkena mushibah malah mengeluarkan harta-benda untuk orang lain. Nanti setelah mereda urusannya. Pihak keluarga/ahli waris silakan musyawarah untuk memberikan sedekah ini atau itu, baik kepada fakir-miskin, masjid, fi sabilillah, atau lainnya. Apalagi kalau sedekah itu menjadi wasiat si mayyit. Tidak ada sunnahnya, saat mushibah malah mengeluarkan sedekah.

    4. Kesimpulannya, yang dimakruhkan itu adalah berkumpul – kumpul untuk meratapi mayat, bukan berkumpul untuk tahlilan. 5. Banyak yang tidak bermazhab syafi’i, dan tidak mengkaji mazhab syafi’i secara mendalam, tetapi ucapan yang terlontar dari lisan dan tulisannya -seakan-akan- pengikut mazhab Syafi’i secara mendfalam.

    Respon: Ya intinya begini. Anda kan lebih mendalam ilmunya tentang madzhab Imam Syafi’i dengan segala maknanya yang lurus, sesuai dengan yang diinginkan imam Syafi’i rahimahullah. Maka itu mohon berikan kami penjelasan agar lebih paham, mohon sebutkan kepada kami hal berikut ini: “Kapan imam Syafi’i ikut tahlilan? Bagaimana bacaan tahlilan ya ma’tsur menurut beliau? Apakah beliau tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari wafatnya mayyit? Kalau semua itu benar, mohon jelaskan juga menu-menu makanan yang biasa imam Syafi’i gemari di majlis-majlis tahlilan itu?”

    Mohon berikan informasinya kepada kami yang “bukan Fak-nya” ini. Terimakasih sudah menjelaskan tentang metode tahlilan yang shahih menurut imam Syafi’i rahimahullah.

    AMW.

  54. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Nambah sedikit, Thawus ( salah seorang tabi’in besar ) radliyallahu ‘anh, menyebutkan:

    ان الموت يفتنون فى قبورهم سبعا . فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

    “Sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan untuk memberi jamuan makan yang pahalanya untuk mayyit selama masa 7 hari tersebut”.

    Hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab al-Zuhd, dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan semua perawinya adalah tsiqah ( Hasyim bin al-Qasim, al-Asyja’i, dan Sufyan al-Tsauri).

    Imam al-Hafidz As-Suyuthi mengatakan bahwa lafadz “kanuu yastahibbuna”, memiliki makna kaum Muslimin (sahabat) yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alayhi wa salllam , sedangkan Nabi mengetahuinya dan taqrir atas hal itu. Namun, dikatakan juga sebatas berhenti pada pada sahabat saja dan tidak sampai pada Rasulullah. Al-Rafi’i menyatakan bahwa lafazh seperti itu menunjukkan bahwa hal tersebut masyhur pada masa itu, tanpa ada yang mengingkari.

    Penjelasan lebih lengkap dan detail, silahkan baca kitab al-Hawi karya al-Suyuthi rhm.

    Respon: Ya memang kadang imam As Suyuthi meninggalkan “PR” untuk kita, selain kebaikan-kebaikan beliau tentunya. Kadang hadits yang tidak shahih dimuat juga dalam matan kitab-kitabnya. Makanya Al Albani mengkritik sang imam dengan kata-kata pedas, sehingga membuat sebagian orang marah atas kritik itu. Orang Syiah kadang menjadikan kitab As Suyuthi, Dur Al Mantsur sebagai hujjah untuk menyerang Ahlus Sunnah.

    Saya tidak berhak berkomentar tentang riwayat tersebut, biarlah ahlinya yang kan bicara. Tapi Amru bin Al ‘Ash Ra pernah berkata kepada putranya Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash Ra, dia meminta putranya agar tidak pergi dari makam setelah dirinya nanti dikuburkan. Amru ingin ditolong menghadapi pertanyaan malaikat penanya dalam kubur, sementara putranya yang shalih masih ada di sisi kuburnya. Riwayat ini shahih dan terkenal. Jadi, fitnah bagi ahli kubur itu terjadi ya saat setelah dia dimakamkan, ketika mulai ditinggalkan oleh para pelayat. Saat itu juga sudah bisa diketahui bagaimana nasib sang ahli kubur, tanpa harus menunggu “ujian” selama 7 hari.

    Setahu saya, wallahu a’lam bisshawaab, sedekah makanan 7 hari itu bukan perkara yang masyhur di kalangan Nabi dan para Shahabat Ra. Buktinya, Nabi pernah menyuruh para Shahabat menghibur keluarga Ja’far dengan memberi makanan. Kalau hal itu masyhur, Nabi tidak perlu memberi ANJURAN/SURUHAN, sebab hal itu sudah dianggap masyhur. Bahkan dalam bab-bab fiqih yang pernah saya baca, tidak ada bentuk amalan seperti itu. Wallahu a’lam bisshawaab.

    AMW.

  55. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Berarti, kalau saya mau mendawamkan membaca al-Qur’an sehabis shalat shubuh sebanyak 3 juz, juga bid’ah dong, karena gak ada haditsnya baca al-Qur’an setelah shubuh itu 3 juz. Kalau saya memilih dzikir – dzikir yang ma’tsur, kemudian saya susun jadi satu kesatuan, kemudian saya baca pagi dan sore, juga bid’ah dong, karena dzikir – dzikir tersebut terdapat dalam berbagai riwayat, dan tidak memiliki urutan. Sungguh, metode istidlal yang benar – benar “lucu”. Belajar lagi lah bahasa ‘Arab, ilmu tafsir, ilmu hadits, ushul fiqh, fiqih muqaranah, dll. Bahasa ‘Arab yang anda tulis aja, sering salah – salah secara gramatikal. Lucu, orang seperti anda berani mengkritik para ulama’.

    Respon:

    Sebenarnya saya bukan mengeritik ulama, tetapi mengikuti pandangan ulama lain yang memang berbeda dengan ulama panutan Anda. Ya intinya sih…Anda kan ingin agar saya mengikuti pandangan ulama-ulama Anda, tetapi saat yang sama Anda tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki panutan ulama yang sesuai dengan pilihannya. Seakan, Anda boleh memilih, sementara kami tidak boleh memilih. Menurut saya, itu yang lucu (maaf).

    Tentang mendawamkan Al Qur’an 3 juz setiap ba’da shalat. Jelas itu tidak ada riwayatnya. Tetapi hal itu juga boleh, dengan dalil lain, misalnya keutamaan membaca Al Qur’an, keutamaan konsisten membaca wirid Al Qur’an, dan keutamaan mengkhatamkan Al Qur’an. Hanya saja, amalan seperti itu akan menjadi bid’ah ketika Anda meyakini hal berikut: “Bahwa amal seperti itu wajib dilakukan, tidak boleh berkurang dari 3 juz, pahalanya sangat besar melebihi amal-amal lain, dan orang yang tidak melakukan itu Anda yakini akan binasa.” Nah, kalau amalan sudah seperti itu, ia menjadi bid’ah. Dalilnya apa? Ya, karena Anda berusaha nambah-nambahi Syariat setelah ia disempurnakan oleh Allah (Al Maa’idah ayat 3).

    Anda menyusun diwan berupa dzikir-dzikir ma’tsur, yang memang itu sesuai riwayatnya diperuntukkan sebagai dzikir pagi dan petang, lalu Anda konsisten menjalankan hal itu, juga mengajarkan kepada orang lain; hal itu bukan bid’ah tetapi merupakan Sunnah. Ada beberapa ulama yang menyusun hal itu, seperti Syaikh Hasan Al Bana, Syaikh Said Wahfd Al Qahthan, Syaikh Al Utsaimin, dan lainnya. Anda akan disebut ahli ilmu jika menyusun matan dzikir-dzikir ma’tsur yang shahihah itu. Soal urut-urutan, setahu saya ulama-ulama itu juga berbeda-beda. Intinya, selagi riwayatnya ma’tsur dan memang untuk dzikir pagi-petang; ya urutan berbeda tidak apa-apa. Nabi sudah memberi kemudahan dalam soal urutan, jadi hal itu tak perlu dibuat masalah.

    Hanya akan jadi masalah, kalau Anda menyusun dzikir-dzikir umum yang tidak diperuntukkan bagi dzikir-pagi sore (apalagi kalau ada dzikir-dzikir bukan ma’tsur di dalamnya), lalu hal itu disusun rapi, diamalkan secara konsisten, sambil diyakini bahwa itu adalah susunan yang terbaik, susunan seperti Nabi Saw, mengamalkan hal itu wajib, meninggalkan hal itu akan binasa, yang tidak mau meninggalkan lalu dituduh sebagai “salafi wahabi”…dan seterusnya. Nah, kalau semodel ini tingkah lakunya, ya jelas ia bid’ah. Dalilnya masih sama, yaitu membuat-buat Syariat baru.

    Demikian yang bisa saya sampaikan. Terimakasih.

    AMW.

  56. zul berkata:

    @Abisyakir
    katanya kalau tidak ada riwayat, bid’ah, maka mendawamkan 3 juz al-Qur’an setelah shubuh bid’ah, dan berarti sesat. Kalau anda mengatakan boleh diamalkan, maka pertanyaannya, berdasarkan apa?. Perintah membaca al-Qur’an itu kan bersifat umum, gak ada perintah membaca al-Qur’an 3 Juz setelah shalat shubuh dan tidak juga ditemukan riwayat praktek Rasulullah SAW. Kalau anda menyatakan boleh, maka anda mengakui boleh berdalil dengan keumuman perintah dalam masalah ibadah.
    Pernyataan anda : “Hanya saja, amalan seperti itu akan menjadi bid’ah ketika Anda meyakini hal berikut: “Bahwa amal seperti itu wajib dilakukan, tidak boleh berkurang dari 3 juz, pahalanya sangat besar melebihi amal-amal lain, dan orang yang tidak melakukan itu Anda yakini akan binasa”, itu angan – angan anda saja. Orang yang melakukan hal tersebut tidak menganggapnya sebagai kewajiban agama, juga tidak menyatakan tidak boleh kurang dari 3 juz, apalagi menyatakan kalau tidak melakukan itu akan binasa. Mereka hanya ingin mengatur waktu saja, misalnya 2 jam sehari digunakan untuk membaca al-Qur’an, 15 menit untuk membaca koran, dll.
    Pernyataan anda : “Anda kan ingin agar saya mengikuti pandangan ulama-ulama Anda, tetapi saat yang sama Anda tidak menyadari bahwa setiap orang memiliki panutan ulama yang sesuai dengan pilihannya. Seakan, Anda boleh memilih, sementara kami tidak boleh memilih.”
    Respon : Anda terlalu suudzhann, saya tidak pernah mengajak anda sepakat dengan pemahaman ulama’ – ulama’ panutan saya. Anda bebas memilih, tetapi anda tidak memiliki hak untuk menghakimi. Sudah, ikuti saja ulama – ulama’ panutan anda, tetapi jangan menyalahkan ulama’ – ulama lain. Saya tidak mencela ulama- ulama’ panutan anda. Saya hargai pendapat mereka, tetapi kenapa anda suka “sinis” terhadap mereka yang berseberangan dengan anda. Kalau anda sekedar mengikuti pendapat ulama’ panutan anda, kemudian tidak menyalahkan yang lain, maka baru akan tercipta “Tasamuh”. Kita berjalan atas manhaj kita masing – masing.

  57. Faza berkata:

    @Abisyakir
    Persoalan Albani mengkritik al-Suyuthi, maka janganlah seakan – akan kritikan itu yang benar. Bisa jadi, Albani yang salah, atau ada informasi dan data – data yang tidak sampai pada beliau. Penelitian Albani terhadap hadits juga tidak luput dari kekeliruan – kekeliruan. Bukan pada tempatnya, jika saya mengungkapkan kekeliruan – kekeliruan Albani menurut ahli hadits yang lain. Persoalan penilaian sahih atau tidaknya sebuah hadits itu juga ijtihad. Para ulama’ hadits juga memiliki kriteria – kriteria yang berbeda untuk menilai kesahihan satu hadits, walaupun kriteria mayornya mereka sepakat ( ittishal al-sanad, ‘adalah al-Rawi wa Dhabtuhu, al-Salamah min al-Syadz wa al’illah al-Qadihah ). sekali lagi, jangan taqlid deh, lakukan penelitian ulang terhadap karya – karya Albani, itu pun kalau anda memiliki kompetensi di bidang ‘ulum al-Hadits. Kalau nggak, silahkan taqlid, tapi gak punya hak komentar, nama nya juga taqlid.
    Mengenai riwayat Thawus di atas, semua perawi nya tsiqah ( penilaian Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan al-Dzahabi ), dan semuanya perawi al-Bukhari dan Muslim.
    Perkataan anda : “Saat itu juga sudah bisa diketahui bagaimana nasib sang ahli kubur, tanpa harus menunggu “ujian” selama 7 hari.”
    Komentar : Anda mulai tidak fokus nih, coba baca sekali lagi ada nggak saya bilang mayyit mendapat fitnah “setelah menunggu” 7 hari ?
    Perkataan anda : “Setahu saya, wallahu a’lam bisshawaab, sedekah makanan 7 hari itu bukan perkara yang masyhur di kalangan Nabi dan para Shahabat Ra. Buktinya, Nabi pernah menyuruh para Shahabat menghibur keluarga Ja’far dengan memberi makanan. Kalau hal itu masyhur, Nabi tidak perlu memberi ANJURAN/SURUHAN, sebab hal itu sudah dianggap masyhur. Bahkan dalam bab-bab fiqih yang pernah saya baca, tidak ada bentuk amalan seperti itu.”
    Komentar : Kalau anda ingin menolak riwayat itu, maka dalilnya bukan “setahu saya”, tetapi anda harus menyampaikan argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Masak, riwayat ditolak dengan kata “setahu saya”.

  58. Faza berkata:

    @ِAbisyakir
    Perkataan anda : “Ya jangan cepat-cepat disebut pandangan Jumhur ulama. Sebab kan sudah jelas riwayatnya yang shahih, “Idza mata ibna adam inqatha’a amaluhu, illa shadaqatin jariyatin, wal ‘ilmu yuntafa’u bihi, wal waladun shalihun yad’u lahu”. Hadits ini kan sudah masyhur. Apalagi yang diragukan dari hadits ini. Maka tidak salah kalau imam Syafi’i mengatakan, amalan itu tidak akan sampai.”
    Komentar : Anda ini memang tidak tahu, atau pura – pura tidak tahu, bahwa itu memang pendapat jumhur ( Mazhab Hanafi, Mazhab Hanbali, Muta’akhhirin Malikiyah, dan sebagian syafi’iyyah ).
    Kemudian berdalil dengan hadits “idza mata al-Insan,,,”betul – betul tidak matching. Dalam hadits itu kan jelas bahwa yang terputus itu adalah “amalnya” ( si mayyit ), bukan amal orang lain untuknya. Kalau terputus semuanya, maka akan terjadi ta’arudh dengan hadits-hadits tentang do’anya kaum muslimin, shadaqah atas nama si mayyit,badal haji, dll.
    Perkataan anda : “Banyak orang berdalih dengan pendapat Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab Ar Ruuh, soal menghadiahkan amalan kepada ahli kubur. Masalahnya ada penelitian yang adil, bahwa kitab itu ditulis sebelum Ibnul Qayyim mulazamah dengan Ibnu Taimiyyah. Dalam kitab itu ada masalah-masalah tertentu, misalnya mendalili suatu persoalan dengan mimpi si fulan dan si fulan. Hal ini merupakan celah kritik terhadap kitab tersebut. ”
    Komentar : Kita tidak berdalih dengan kitab Ibnu Qayyim kok, karena kitab ulama mana pun bukanlah dalil. Kita hanya menukil pendapat ulama’. Saya mau tanya, memangnya pendapat Ibnu Qayyim dalam masalah ini berubah setelah bermulazamah dengan Ibnu Taimiyah? Mana buktinya? Anda tidak tahu ya, bahwa Ibnu Taimiyah juga sepakat dengan Imam Ahmad bahwa semua kebaikan yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bermanfa’at untuk si mayyit.
    Anda tidak setuju ? Boleh, tetapi jangan bilang ini bid’ah dhalalah, karena banyak ulama’ yang akan tercap sebagai mubtadi’ dan bakal masuk neraka ( kullu dhalalatin fi al-naar ).
    Perkataan anda : “Kalau soal shadaqah bagi mayyit, ya jangan diberikan ketika mushibah terjadi. Masak sedang mushibah, langsung shadaqah juga? Ini jadi aneh.”
    Komentar : Yang aneh itu adalah orang yang melarang shadaqah ketika dapat musibah. Mana dalilnya ? Kapan pun mau bershadaqah, ya boleh, bahkan dianjurkan.
    Perkataan anda : “Kapan imam Syafi’i ikut tahlilan? Bagaimana bacaan tahlilan ya ma’tsur menurut beliau? Apakah beliau tahlilan 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari wafatnya mayyit? Kalau semua itu benar, mohon jelaskan juga menu-menu makanan yang biasa imam Syafi’i gemari di majlis-majlis tahlilan itu?”
    Komentar : Yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW saja, belum tentu dilarang, apalagi yang tidak dikerjakan oleh imam al-Syafi’i.

  59. zul berkata:

    kutipan bahasa ‘Arab oleh abisyakir :
    1. jazakumullah “khairan” jaza’, yang benar : khaira ( gak boleh pake tanwin ).
    2. tuhibbu “li ittihadil” Ummah, yang benar : ittihadal ummah ( kata ahabba tidak membutuhkan hurup jar ).
    3. “fashauwabihi” an nabi”. yang benar : fashawwabahu
    4. Idza mata “ibna” adam, yang benar : Ibnu
    5. “wal ‘ilmu” yuntafa’u bihi, yang benar : wa ‘ilmin
    6. “wal waladun shalihun”, yang benar : wa waladin shalihin ( aneh, ada isim pake tanwin sekaligus alif lam ).
    Kalau Bahasa ‘Arab aja seperti itu, bagaimana dapat memahami al-Qur’an dan Hadits ?

  60. zul berkata:

    @abisyakir
    silahkan anda tolak riwayat Thawus yang disampaikan oleh sdr Faza di atas dengan kaidah – kaidah ilmu hadits. Kalau itu dha’if, tunjukkan letak kedha’ifannya. Lakukanlah penelitian terhadap sanad dan matannya. Teliti juga, adakah syawahid dan mutabi’nya.
    Jangan taqlid ya…! Anda kan tidak suka talid.

  61. zul berkata:

    @abisaykir
    Saya mau tanya, dan mohon dijawab dengan sejujurnya pertanyaan – pertanyaan berikut :
    1. Apakah anda mengerti Bahasa Arab berikut ilmu alatnya ?
    2. Sebelum anda mengambil kesimpulan dalam pemahaman terhadap ayat al-Qur’an dan Hadits, apakah anda merujuk dahulu kepada pendapat para ulama’ – ulama’ salaf ( bukan salafi )? atau anda taqlid kepada ulama’ salafi kontemporer ?
    3. Apakah anda mengerti metodologi kritik hadits di kalangan muhadditsin ?
    4. Apakah semua data yang disampaikan oleh ust. Said pada komentar-komentar sebelumnya sudah anda ketahui sebelumnya, atau baru tahu ketika ust. Said menyampaikannya ? karena, saya melihat, anda minta referensi, pertanda anda belum pernah baca sebelumnya. Anda juga tidak tahu, bahwa membaca al-Qur’an untuk si mayyit merupakan pendapat mayoritas ulama’, padahal ini adalah masyhur, pertanda anda tidak akrab dengan kitab-kitab para ulama’.
    5. Apakah anda sudah tahu ada riwayat Thawus sebagaimana disampaikan sdr.Faza , atau baru tahu sekarang ? Cuma karena anda terlanjur memiliki paham yang lain, maka anda mencari – cari alasan untuk menolak.
    Kalau 5 pertanyaan itu, jawabannya tidak, maka saya mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

  62. spk berkata:

    Mau tahu kesalahan – kesalahan fatal al-Albani dalam meneliti hadits ? Silahkan baca kitab “Tanaqudhat al-Albani al-Wadhihat” karya al-Saqqaf. Silahkan baca, kalau tidak setuju, tulislah bantahan secara ilmiah. Benarkah data – data al-Saqqaf tersebut ?
    ini contoh kecilnya :
    1. Albani mendha’ifkan hadits yang disahihkan oleh al-Tirmidzi, al-Hakim dan al-Dzahabi dengan alasan di dalam sanadnya ada seorang mudallis yang di dalam seluruh jalurnya menggunakan ‘ananah. Padahal, menurut al-Saqqaf, ada jalur lain yang menggunakan menegaskan adanya “sama'”. Terbukti, Albani kurang teliti, tetapi berani menyalahkan al-Tirmidzi, al-Hakim, dan al-Dzahabi.
    2. Albani sering mengatakan “Saya tidak menemukan sanadnya” padahal sanadnya ada dalam kitab yang masyhur. Terbukti, Albani tidak Hafizh, sebagaimana ulama’ – ulama’ hadits yang sering dikritiknya.
    3. Albani beberapa kali menyalahkan ulama’ hadits yang menyebut satu hadits yang terdapat dalam Mustadrak al-Hakim dan Musnad Ahmad dengan mengatakan : “saya tidak menemukannya dalam al-Mustadrak, dan al-Musnad”, padahal, hadits tersebut ada di dalam kedua kitab tersebut. Terbukti, Albani, tidak dapat mentakhrij hadits dengan baik.
    4. Albani melakukan distorsi terhadap ucapan kritikus hadits, yang dapat menimbulkan kesalahan dalam melakukan penilaian.
    5. Dll
    ingin tahu lebih detail ? silahkan baca…
    Ini bukan merendahkan Albani, kita hargai juhudnya, tetapi kita harus bersikap adil, jangan taqlid buta pada beliau…

  63. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Ya kan kalau amal seseorang sudah terputus, jadi amal orang lain otomatis dianggap tidak sampai. Kecuali yang disebutkan tersebut. Andaikan amal-amal manusia bisa menolong, tentu hadits itu tidak perlu ada. Bisa saja ia disebutkan, “Kalau anak Adam wafat, dia bisa dibantu amal-amal orang lain.”

    Dalam Fiqih Sunnah bab Janaiz yang saya baca, disana disebutkan pendapat An Nawawi, katanya sudah ada kesepakatan bahwa doa, istighfar, sedekah akan sampai kepada mayyit; baik itu dari anak mayyit atau orang lain. Menurut An Nawawi juga, pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Syafi’i, pahala amal itu tidak akan sampai kepada mayyit. Ibnu Qudamah mengatakan, menurut Imam Ahmad bin Hanbal, mayyit akan menerima berbagai amal kebaikan, berdasarkan nash dan perbuatan kaum Muslimin. (Lihat Fiqih Sunnah oleh Syaikh Sayyid Sabiq rahimahullah, bab Janaiz).

    Kesimpulan, menurut Hanabilah amal-amal akan sampai. Tetapi menurut jumhur Syafi’iyah tidak akan sampai pahalanya. Menurut An Nawawi ada ijma’ dalam hal ini.

    Ya silakan disimpulkan sendiri.

    AMW.

  64. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Bismillahirrahmaanirrahiim.

    Katanya kalau tidak ada riwayat, bid’ah, maka mendawamkan 3 juz al-Qur’an setelah shubuh bid’ah, dan berarti sesat. Kalau anda mengatakan boleh diamalkan, maka pertanyaannya, berdasarkan apa? Perintah membaca al-Qur’an itu kan bersifat umum, gak ada perintah membaca al-Qur’an 3 Juz setelah shalat shubuh dan tidak juga ditemukan riwayat praktek Rasulullah SAW. Kalau anda menyatakan boleh, maka anda mengakui boleh berdalil dengan keumuman perintah dalam masalah ibadah.

    Respon: Ya itu tadi berdasarkan perintah membaca Al Qur’an, keutamaan dzikir dengan Al Qur’an, atau keutamaan menghafal Al Qur’an. Perintahnya bersifat umum. Maka kalau seseorang boleh membaca Al Qur’an 3 juz setelah Subuh, dia juga boleh membaca lain waktu 2 juz, lain waktu lagi 4 juz, atau misal jadi 1 juz. Andai mau dirutinkan 3 juz saja setiap Subuh, dengan niatan ibadah secara umum, itu juga boleh. Dalilnya, “Fattaqullaha mastatho’tum” (bertakwalah kepada Allah sekuat kemampuanmu). Boleh berdalil dengan dalil umum, tetapi juga untuk amal-amal yang bersifat umum juga. Tilawatul Qur’an kan termasuk bagian dari amal-amal yang bersifat umum. Kalau mau dibuat khusus, ya harus ada dalil takhshish-nya.

    Itu angan – angan anda saja. Orang yang melakukan hal tersebut tidak menganggapnya sebagai kewajiban agama, juga tidak menyatakan tidak boleh kurang dari 3 juz, apalagi menyatakan kalau tidak melakukan itu akan binasa. Mereka hanya ingin mengatur waktu saja, misalnya 2 jam sehari digunakan untuk membaca al-Qur’an, 15 menit untuk membaca koran, dll.

    Respon: Lho, ini kan kembali ke “test” yang Anda ajukan semula, tentang dawam baca Al Qur’an setiap ba’da Shubuh 3 juz. Itu boleh atau bid’ah? Ya saya jelaskan batasan bid’ah-nya (menurut yang saya pahami). Kalau Anda anggap penjelasan itu sebagai “angan-angan” ya terserah Anda saja. Kita “ditest” ya dijawab sesuai ilmu yang diketahui.

    Anda terlalu suudzhan, saya tidak pernah mengajak anda sepakat dengan pemahaman ulama’ – ulama’ panutan saya. Anda bebas memilih, tetapi anda tidak memiliki hak untuk menghakimi. Sudah, ikuti saja ulama – ulama’ panutan anda, tetapi jangan menyalahkan ulama’ – ulama lain. Saya tidak mencela ulama- ulama’ panutan anda. Saya hargai pendapat mereka, tetapi kenapa anda suka “sinis” terhadap mereka yang berseberangan dengan anda. Kalau anda sekedar mengikuti pendapat ulama’ panutan anda, kemudian tidak menyalahkan yang lain, maka baru akan tercipta “Tasamuh”. Kita berjalan atas manhaj kita masing – masing.

    Respon: Justru itu saya heran. Artikel yang saya tulis itu kan berdasarkan apa yang saya pahami. Hal ini juga tidak lepas dari ilmu atau paham yang saya terima dari guru-guru, ulama, atau referensi yang saya baca. Di kalangan kami, pendapat yang seperti ini bukan hal aneh. Malah kalau Anda baca tulisan Ustadz A. Hassan, salah seorang ulama fiqih panutan Persis. Beliau bisa lebih “ekstrim” dalam menolak pendapat ulama yang tidak sesuai dalil. Hanya saja, beliau punya kelebihan dari sisi studi dirayah-riwayah hadits. Jadi bisa lebih praktis untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan seperti yang Anda ajukan.

    Kalau Anda melihat dalam artikel itu, saya berpandangan begini dan begitu pada amal-amal yang lazim kalangan Anda lakukan, hal demikian (pendapat saya ini) bukan sesuatu yang asing di kalangan kami. Kalau tak percaya, cobalah bandingkan dengan yang lain-lain. Hanya saja, saya menulis lebih praktis saja.

    AMW.

  65. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Sekali lagi, jangan taqlid deh, lakukan penelitian ulang terhadap karya – karya Albani, itu pun kalau anda memiliki kompetensi di bidang ‘ulum al-Hadits. Kalau nggak, silahkan taqlid, tapi gak punya hak komentar, nama nya juga taqlid.

    Respon: Maka itu Pak, saya kan lagi dalam rangka “taqlid” ke beliau untuk studi hadits itu, karena memang tidak kompeten. Tetapi sekedar informasi saja, saya yakin Anda sudah tahu. Lajnah Daimah Lil Buhuts Ilmiyah Saudi pernah ditanya tentang studi Syaikh Al Albani. Mereka berkomentar, terhadap kitab Silsilah Ahadits Dhaifah, si penulisnya sangat mahir dan kuat dalam menghukumi kedhaifan hadits-hadits. Hanya saja, sekali waktu beliau juga keliru. Ini ada teksnya, saya punya buku yang membahas masalah itu. Jadi, kita bisa membandingkan kepakaran Lajnah Daimah dengan seseorang tertentu. Memang kalau di mata Hasan as Saqaf, Al Ghumari, Al Kautsari dan yang semisal itu, memang Al Albani tidak dipakai.

    Mengenai riwayat Thawus di atas, semua perawi nya tsiqah ( penilaian Ibnu Hajar al-’Asqalani dan al-Dzahabi ), dan semuanya perawi al-Bukhari dan Muslim.

    Respon: Andaikan riwayat ini dianggap benar (shahih), itu adalah pendapat seorang Tabi’in. Pendapat beliau kalau berdasar Kitabullah dan As Sunnah diterima. Kalau pendapat pribadi ya tidak. Dalilnya perkataan Imam Malik, “Setiap perkataan dapat diambil atau ditolak, kecuali perkataan penghuni pusara ini” (kata beliau sambil menunjuk pusara Rasulullah Saw).

    Kalau anda ingin menolak riwayat itu, maka dalilnya bukan “setahu saya”, tetapi anda harus menyampaikan argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Masak, riwayat ditolak dengan kata “setahu saya”.

    Respon: Ya sebenarnya ini bahasa “halus”. Maksudnya, kalau memang Anda mendapat dalil bahwa perbuatan seperti itu merupakan perkara masyhur di kalangan Nabi, para Shahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in…ya silakan Anda sebutkan bukti-buktinya. Bisa jadi Anda lebih tahu soal itu, sementara saya belum tahu. Ke arah sana maksudnya. Terimakasih.

    AMW.

  66. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Anda ini memang tidak tahu, atau pura – pura tidak tahu, bahwa itu memang pendapat jumhur ( Mazhab Hanafi, Mazhab Hanbali, Muta’akhhirin Malikiyah, dan sebagian syafi’iyyah).

    Respon: Alhamdulillah, saya mulai paham. Amalan itu bisa sampai ke penghuni kubur. Hal ini berdasar dalil Qur’an dan Sunnah. Tetapi bukan semua amalan, melainkan yang memang disebutkan kekhususan amalan itu. Selain 3 perkara yang disebut dalam hadits, ada juga yang lain misalnya: doa ampunan untuk kaum Muslimin (kadang dengan al ahya’u minhum wal amwat), menunaikan haji, zakat, dan hutang puasa. Adapun untuk seluruh amalan, ada yang mengatakan bisa, misal pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Ada juga yang mengatakan tidak sampai. Seperti perkataan An Nawawi, bahwa pendapat masyhur di kalangan Syafi’iyyah, pahala amal itu tidak sampai. Adanya ijma’ itu adalah untuk amal-amal yang jelas disebut dalam nash. Sedangkan soal apakah semua amal bisa dihadiahkan ke orang meninggal, ada yang menganggap bisa, ada yang tidak.

    Kemudian berdalil dengan hadits “idza mata al-Insan,,,”betul – betul tidak matching. Dalam hadits itu kan jelas bahwa yang terputus itu adalah “amalnya” ( si mayyit ), bukan amal orang lain untuknya. Kalau terputus semuanya, maka akan terjadi ta’arudh dengan hadits-hadits tentang do’anya kaum muslimin, shadaqah atas nama si mayyit,badal haji, dll.

    Respon: Riwayat inqatha’a ‘amaluhu bisa dianggap sebagai dalil umum, lalu dikhususkan dengan dalil khusus yang Anda sebutkan itu. Sebab kalau misal pendapat bahwa orang yang hidup bisa memberikan hadiah amal kepada yang wafat; hal ini bisa menimbulkan KEKACAUAN kehidupan. Pertama, nanti orang yang hidup akan sibuk beramal demi yang mati, sehingga dia menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Kedua, nanti manusia yang hidup akan sembrono dan bebas berbuat dosa, sebab dia berpendapat nanti toh akan banyak manusia memberi hadiah amal untuknya. Ketiga, akan muncul kekacauan persepsi. Seperti sudah dimaklumi, bahwa syarat diterima amal ada 2: ikhlas dan ittiba’ sunnah. Bagaimana mungkin orang yang mati mendapat pahala sekalipun dalam hidupnya mereka tidak beramal dengan baik, tetapi tetap mendapat pahala dari perbuatan orang lain?

    Lagi pula ada nash yang menyebutkan bahwa manusia akan selalu diterima taubatnya, selagi ruh belum sampai tenggorokan. Ini menandakan bahwa amal-amal manusia itu ada batasnya. Begitu juga dalam soal dosa berlaku prinsip “laa taziru waziratu wizra ukhra”. Juga ada riwayat yang mengatakan, “siapa yang lambat amalnya tidak akan dipercepat oleh nasabnya”. Dan lain-lain riwayat yang semakna.

    Saya mau tanya, memangnya pendapat Ibnu Qayyim dalam masalah ini berubah setelah bermulazamah dengan Ibnu Taimiyah? Mana buktinya? Anda tidak tahu ya, bahwa Ibnu Taimiyah juga sepakat dengan Imam Ahmad bahwa semua kebaikan yang dilakukan oleh orang yang masih hidup bermanfa’at untuk si mayyit.

    Respon: Saya pernah mendengar pendapat seperti itu, tetapi tidak bisa membuktikan secara valid. Setidaknya, dalam kitab Ar Ruuh itu, Ibnul Qayyim sering sekali berdalil dengan “mimpi si fulan dan si fulan”. Padahal mimpi ini bukan dalil Syar’i. Kebaikan orang yang hidup itu, mungkin maksudnya anak dari orang yang meninggal. Atau doa ampunan, atau ilmu bermanfaat yang ditinggalkan. Kalau yang bersifat mutlak, saya tidak tahu. Anda bisa sebutkan DALIL-nya, bahwa amal manusia yang masih hidup SECARA MUTLAK SELURUHNYA bermanfaat bagi yang telah wafat? Kalau ada seperti itu, mohon sampaikan dalilnya. Bisa jadi saya yang belum tahu hal itu.

    Yang aneh itu adalah orang yang melarang shadaqah ketika dapat musibah. Mana dalilnya ? Kapan pun mau bershadaqah, ya boleh, bahkan dianjurkan.

    Respon: Kalau dipahami “kullu ma’rufin shadaqah” iya benar. Hal itu tidak terbatas waktu dan tempat. Kalau dipahami “shadaqah” sebagai zakat mal, maka ketentuannya harta harus mencapai nishab dan sudah satu haul (sesuai obyek hartanya). Kalau haulnya bertepatan dengan saat mushibah, ya silakan ditunaikan secara ahsan. Tetapi andaikan sedekah itu menjadi beban, menjadi tanggungan, atau menjadi “kewajiban” bagi shahibul mushibah; seperti yang banyak terjadi di masyarakat tradisional; ya hal itu tidak benar. Apalagi sampai dibelain hutang. Argumen mudahnya begini saja deh, mohon sebutkan dalil shahih dari Sunnah Nabi Saw yang menjelaskan bahwa beliau dan para Shahabat Ra berlomba-lomba sedekah, saat mereka terkena mushibah! Itu saja.

    Yang tidak dikerjakan Rasulullah SAW saja, belum tentu dilarang, apalagi yang tidak dikerjakan oleh imam al-Syafi’i.

    Respon: Nah, ini dia masalahnya. Dalam Hadits Arbain kan disebut satu riwayat, “Ma atakumur rasulu fa khudzuhu wa maa nahakum ‘anhu fantahu”. Kalau Rasul tidak mencontohkan, hal itu tidak mengandung manfaat yang jelas, ya untuk apa dilakukan? Apakah hal itu tidak akan semakin membebani kita saja? Kalau Nabi saja tidak melakukan, mengapa kita harus lakukan?

    Terimakasih.

    AMW.

  67. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Ya, setelah saya perhatikan lebih teliti, ya koreksi Anda benar. Syukran jazakumullah khairan katsira (atau jazakumullah khaira jaza’). Koreksi seperti ini layak diapresiasi.

    Kalau Bahasa ‘Arab aja seperti itu, bagaimana dapat memahami al-Qur’an dan Hadits?

    Komentar: Ya, jangan begitu. Bagaimanapun kan bahasa itu “ilmu alat”. Sedangkan keimanan, ilmu, dan hidayah, kan karunia Allah Ta’ala. Buktinya apa? Anda tahu siapa Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah, Mughirah, Rabi’ah, dan sebagainya dari kalangan dedengkot musyrikin Makkah. Menurut Anda, mana yang lebih baik penguasaan bahasa Arabnya, mereka atau Anda?

    Ya, kalau Anda diberi nikmat bisa belajar bahasa Arab dengan baik, sampai mumtaz, sampai menyaingi kemampuan Sibawaih, Mutanabbi, Ibnu Muflih, Ibnu Manzhur, At Thabari, Ibnu Hajar, hingga menyaingi sense balaghah-nya Ahmad Syakir, Sayyid Quthb, Bintu Syathi’, Prof. Nabila Lubis, dan sebagainya. Ya semua itu perlu disyukuri, bukan dijadikan sarana berbangga-bangga seperti pihak tertentu yang berdalih “ana khairun minhu…”

    AMW.

  68. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Silahkan anda tolak riwayat Thawus yang disampaikan oleh sdr Faza di atas dengan kaidah – kaidah ilmu hadits. Kalau itu dha’if, tunjukkan letak kedha’ifannya. Lakukanlah penelitian terhadap sanad dan matannya. Teliti juga, adakah syawahid dan mutabi’nya. Jangan taqlid ya…! Anda kan tidak suka talid.

    Komentar: Maaf, maaf, saya tidak mampu memverifikasi riwayat itu. Mohon maaf. Paling menggunakan Maktabah Syamilah. Tapi versi di saya masih versi lama. Nanti saya coba tanyakan ya ke kawan yang punya Maktabah Syamilah lebih baru (insya Allah).

    Tapi setidaknya, saya coba berdalil dengan metode Ustadz A. Hassan, seorang guru Persis yang terkenal (almarhum). Jujur, saya banyak membaca buku beliau yang berjudul “Soal Jawab Masalah Agama”, jilid 1-3. Kalau menggunakan metode beliau, maka riwayat itu dianggap berasal dari Thawus (seorang Tabi’in), bukan dari Al Qur’an atau As-Sunnah. Perkataan itu bisa diterima kalau sesuai Kitabullah-Sunnah, dan dianggap pendapat Thawus sendiri (bukan dalil Syar’i) kalau tidak ada korelasinya dengan Kitabullah-Sunnah. Dalilnya Surat An Nisaa’ 59, kalau ada satu perselisihan kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Terimakasih.

    AMW.

  69. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Saya mau tanya, dan mohon dijawab dengan sejujurnya pertanyaan – pertanyaan berikut:

    Jawab: Insya Allah saya akan berusaha jujur.

    1. Apakah anda mengerti Bahasa Arab berikut ilmu alatnya ?

    Jawab: Mungkin maksudnya, dengan perangkat-perangkatnya ya. Sebab yang saya tahu, ilmu bahasa itu disebutnya “ilmu alat”. Guru-guru yang mengajari bahasa Arab sering mengatakan itu. Ya, saya mengerti sedikit-sedikit. Tidak sempurna seperti kawan-kawan yang mumtaz dalam belajar ilmu tersebut. Saya belajar Nahwu dari kitab Al Muyassar yang banyak dipakai santri-santri Persis. Saya belajar ilmu sharaf karangan Ustadz A. Hasan dengan pengantar bahasa “arab melayu”. Saya membaca ‘Arabiyah lin Nasyi’in, juga Durusul Lughah dari Univ. Madinah. Adalah beberapa buku bahasa Arab yang saya baca. Termasuk ada yang bertema sastra Arab. Tapi karena otodidak ya tidak sebaik kalau belajar formal di sekolah/akademi, atau mulazamah dengan ustadz yang faqih fil lughah.

    2. Sebelum anda mengambil kesimpulan dalam pemahaman terhadap ayat al-Qur’an dan Hadits, apakah anda merujuk dahulu kepada pendapat para ulama’ – ulama’ salaf ( bukan salafi )? atau anda taqlid kepada ulama’ salafi kontemporer ?

    Jawab: Level saya kan masih thalabul ‘ilmi. Bukan ulama, apalagi mujtahid. Beda dengan Anda yang sudah berada di maqam ijtihad. Referensi kitab-kitab fiqih saya antara lain: Buku “Soal-Jawab Masalah Agama” karya Ustadz A. Hasan, Fiqh Islam karya H. Sulaiman Rasyid, Mulakhas Fiqhi karya Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Fatwa Fiqih Al Albani (dalam masalah-masalah tertentu), Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, kadang merujuk Fatwa Lajnah Daimah, majalah Al Muslimun (dulu), majalah Salafi seperti As Sunnah, Al Furqan, Nikah (kalau sedang membacanya), majalah Qiblati, dan lain-lain buku. Di antara pendapat itu ada yang dinukil secara utuh, ada yang secara maknawi, ada yang dicampur-campur, ada yang hasil pengembangan telaah sendiri.

    3. Apakah anda mengerti metodologi kritik hadits di kalangan muhadditsin?

    Jawab: Kalau yang bersifat umum, ya alhamdulillah tahu. Tapi kalau njelimet sampai memahami ‘illat yang rumit-rumit, ciri hadits ‘ananah, tanaqudhat, syawahid, syarat imam ini itu…masya Allah, saya belum sampai kesana. Kecuali kalau mau enaknya, memakai hasil penelitian Maktabah Syamilah versi baru, atau software hadits (semisal Lidwa Pustaka). Tapi itu yang “alim” kan komputernya, bukan kita.

    Tapi sekedar tahu, Dr. Luthfi Fathullah, salah seorang pakar hadits di Indonesia. Beliau ilmunya luas (insya Allah), tetapi tidak arogan. Mungkin Anda lebih alim dari beliau. Terimakasih sudah berkunjung ke blog sederhana ini.

    4. Apakah semua data yang disampaikan oleh ust. Said pada komentar-komentar sebelumnya sudah anda ketahui sebelumnya, atau baru tahu ketika ust. Said menyampaikannya ? karena, saya melihat, anda minta referensi, pertanda anda belum pernah baca sebelumnya. Anda juga tidak tahu, bahwa membaca al-Qur’an untuk si mayyit merupakan pendapat mayoritas ulama’, padahal ini adalah masyhur, pertanda anda tidak akrab dengan kitab-kitab para ulama’.

    Jawab: Oh ya tentu, saya kurang akrab dengan kitab-kitab turats. Beda jauh dengan Anda yang mumpuni dalam hal itu. Ini tidak diragukan lagi. Ya, pendapat mayoritas itu dalam arti amal manusia yang hidup bermanfaat bagi mayyit. Tapi soal apakah semua amal manusia hidup bermanfaat, atau hanya amal-amal tertentu yang ada nash sharih-nya, nah itu ada perbedaan pendapat. An Nawawi dalam Fiqih Sunnah, bab Janaiz, mengatakan: “Menurut pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Syafi’i, amal itu tidak sampai (pahalanya ke mayyit).”

    5. Apakah anda sudah tahu ada riwayat Thawus sebagaimana disampaikan sdr.Faza , atau baru tahu sekarang ? Cuma karena anda terlanjur memiliki paham yang lain, maka anda mencari – cari alasan untuk menolak.

    Jawab: Oh ya, saya baru tahu dari @ Faza itu. Kan riwayat begitu biasanya dicari-cari dulu, untuk mendalili amal-amal yang sudah ada. Jadi beramal dulu, dalil nanti akan mengikuti. Buktinya, untuk amal-amal yang sudah jelas mengapa diabaikan, malah mencari-cari yang gharib.

    Kalau 5 pertanyaan itu, jawabannya tidak, maka saya mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

    Jawab: Kalau Anda tahu kadar ilmu saya yang sebenarnya, mungkin Anda akan mengucapkan istirja’ lebih banyak. Dan saya terima penilaian itu. Jazakumullah khairan katsira sudah diingatkan.

    AMW.

  70. abisyakir berkata:

    @ Spk…

    Ini ada pandangan yang tawasuth dari Dr. Luthfi Fathullah tentang Syaikh Al Albani.

    Beliau mengatakan: “Beliau (Al Albani) adalah salah satu pengkaji hadits kontemporer, tapi kalau beliau ditempatkan lebih tinggi dari ulama klasik seperti ibnu hajar, rasanya kurang tepat. Apa yang beliau lakukan banyak yang bagus tapi ada juga ada yang masih harus diberikan catatan. Tapi kalau orang menilai Albani tidak pakar dalam hadits, juga kurang tepat. Tapi ditempatkan sebagai muhadditsu-dunya, atau orang yang paling pakar, lebih pakar dari Ibnu Hajar, As-Sakhawi atau misalnya Abu Ghuddah, itu juga rasanya kurang bijak. Saya menemukan banyak kesalahan dan kekhilafan beliau, tapi dengan kesalahan ini saya tidak mencaci maki beliau.”

    Ini orang alim hadits dari Indonesia. Begitu pun semula Prof. Ali Musthafa Ya’qub juga mengkritik keras Al Albani, tetapi beliau tidak menafikan pendapat Al Albani dalam tulisan-tulisan beliau di majalah Gontor (saya pernah baca hal itu).

    Ya, cukup hal ini sebagai perbandingan, dari komentar Anda tersebut.

    AMW.

  71. Faza berkata:

    Ya, pendapat mayoritas itu dalam arti amal manusia yang hidup bermanfaat bagi mayyit. Tapi soal apakah semua amal manusia hidup bermanfaat, atau hanya amal-amal tertentu yang ada nash sharih-nya, nah itu ada perbedaan pendapat. An Nawawi dalam Fiqih Sunnah, bab Janaiz, mengatakan: “Menurut pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Syafi’i, amal itu tidak sampai (pahalanya ke mayyit).”

    Respon : amal manusia yang hidup bermanfa’at bagi mayyit itu, bukan mayoritas, tetapi ijma’. Perinciannya baru ada ikhtilaf. Salah satunya membaca al-Qur’an untuk mayyit. Pendapat mayoritas menyatakan sampai dan bermanfa’at. Anda baca fiqih sunnah, kan, silahkan baca pernyataan sayyid sabiq ketika menjelaskan amal – amal yang bermanfa’at bagi mayyit, salah satunya adalah membaca al-Qur’an.:

    – قراءة القرآن: وهذا رأي الجمهور من أهل السنة.

    Beliau mengatakan bahwa membaca al-Qur’an untuk mayyit bermanfa’at menurut jumhur ahlissunnah.
    Adapun di dalam mazhab Syafi’i, qaul yang masyhur ( bukan jumhur syafi’iyyah ) adalah tidak sampai. Artinya tidak semua ulama’ syafi’iyyah.
    Begitu juga dalam mazhab Maliki, ada ikhtilaf. Pendapat ulama’ mutaakhirin mereka menyatakan sampai.

    Sementara ulama’ mazhab Hanafi dan Hanbali kompak menyatakan sampai. Nah, benarlah kata sayyid sabiq, bahwa membaca al-Qur’an untuk mayyit itu bermanfa’at menurut jumhur Ahlissunnah.
    Sekarang, kita sudah tahu, bahwa ini adalah masalah khilafiyah dan ijtihadiah. Anda mau mengikuti qaul masyhur dalam mazhab Syafi’i, dan Mutaqaddimin Malikiyah, silahkan. Kita tidak akan menyalahkan anda. Tetapi, anda juga jangan menyalahkan kami, yang menguatkan pendapat Jumhur. Kalau anda tidak menyalah – nyalahkan, insya Allah, damai. Yang jadi masalah, kalau anda bilang bahwa membaca al-Qur’an untuk mayyit itu bid’ah dhalalah. Anda dapat mengatakan bahwa anda lebih sepakat dengan pendapat tertentu, tanpa harus menyalahkan pendapat lain. Ini adalah etika berbeda pendapat. Para ulama’ telah membuat batasan untuk tidak saling mengingkari dalam perkara ijtihadiyah.
    Ibnu Taimiyah aja yang cukup keras dalam masalah ini, ketika ditanya tentang sikap terhadap perbedaan dalam masalah ijtihadiah, mengatakan bahwa tidak boleh diingkari.

  72. Faza berkata:

    Bagaimana mungkin orang yang mati mendapat pahala sekalipun dalam hidupnya mereka tidak beramal dengan baik, tetapi tetap mendapat pahala dari perbuatan orang lain?
    Respon : Jangan bertanya bagaimana mungkin mas… Segalanya mungkin kalau Allah SWT menghendaki. Misalnya si mayyit memiliki hutang yang belum terbayar, hingga ia layak mendapat siksa, kemudian ada orang lain yang melunasi hutangnya, maka dosa hutangnya menjadi terhapus. Ini kan usaha orang lain. Belum putus kan. Dia berlumur dosa, kemudian banyak yang memohonkan ampunan untuknya, maka ini adalah hak Allah SWT untuk mengabulkan do’a tersebut atau tidak. Kalau Allah mengabulkannya, maka bisa jadi si pelaku maksiat dibebaskan dari siksa. Ini juga usaha orang lain yang masih hidup.

    Anda, barangkali pernah baca satu hadits yang menceritakan 2 bersaudara dari bani Israil, satu pelaku maksiat, satu ahli ibadah. tetapi pelaku maksiat malah masuk surga, sementara ahli ibadah masuk neraka. Apa sebabnya : Si ahli ibadah ikut campur urusan Allah, atau melangkahi wewenang Allah.

    Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :”Dulu, terdapat dua orang bersaudara di kalangan Bani Israil. Seorang di antara mereka sangat rajin beribadah sedang seorang lagi rajin maksiat. Seorang yang rajin beribadah ini selalu menasehati saudaranya yang rajin maksiat trsb. Pada suatu hari, ketika ia mengetahui saudaranya berbuat dosa lagi, ia pun segera menegurnya. Saudaranya berkata :”Biarkan urusanku dengan Tuhanku, apakah kamu ini diciptakan untuk mengawasi aku saja???
    Saudaranya berkata :”Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu, atau tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga”.
    Setelah keduanya meninggal dunia, keduanya berkumpul di hadapan Allah SWT, lalu Allah berkata kepada seorang yang rajin ibadah :”Apakah kamu mengetahui apa yang akan Aku lakukan, ataukah kamu punya kuasa terhadap sesuatu yang menjadi urusanku?
    Kemudian Allah berkata kepada seorang yang sering melakukan dosa :”Pergilah, masuklah ke dalam surga dengan rahmat-Ku”.
    Kemudian Allah berkata kepada yang seorang lagi :”Pergilah ke dalam neraka”.

  73. Faza berkata:

    Argumen mudahnya begini saja deh, mohon sebutkan dalil shahih dari Sunnah Nabi Saw yang menjelaskan bahwa beliau dan para Shahabat Ra berlomba-lomba sedekah, saat mereka terkena mushibah! Itu saja.

    Respon : Begini mas, shadaqah kan perintahnya umum tidak dibatasi tempat dan waktu. Sudah cukup dalil umum saja. Nah, kalau ingin melarang, maka larangan itu yang harus ada dalilnya. Shadaqah atas nama mayyit kan disepakati, gak ada penjelasan dari ulama’ bahwa kalau mau bershadaqah atas nama mayyit, tunggu waktu yang tepat dulu. Begitu juga hadits yang menyatakan shadaqah atas mayyit itu baik, itu juga secara umum dan mutlaq, artinya bisa kapan saja. Rasulullah SAW, tidak mensyaratkan apa – apa, misalnya tunggu beberapa hari dulu.

  74. Faza berkata:

    Nah, ini dia masalahnya. Dalam Hadits Arbain kan disebut satu riwayat, “Ma atakumur rasulu fa khudzuhu wa maa nahakum ‘anhu fantahu”. Kalau Rasul tidak mencontohkan, hal itu tidak mengandung manfaat yang jelas, ya untuk apa dilakukan? Apakah hal itu tidak akan semakin membebani kita saja? Kalau Nabi saja tidak melakukan, mengapa kita harus lakukan?

    Respon : koreksi sedikit mas, itu ayat al-Qur’an bukan hadits. Kalau anda merasa terbebani, ya gak usah dilakukan. Rasulullah SAW kan sudah menjelaskan prinsip – prinsip umum kebaikan. Maka, selagi masuk dalam prinsip itu, dianggap baik, walaupun bentuk spesialnya belum ada.

    Itu, masalah haji atas nama mayyit, gak ada juga riwayat bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Rasulullah SAW menjelaskannya karena ada yang bertanya. Muncul pertanyaan : Kenapa Rasulullah SAW tidak menjelaskan sebelumnya ? Mengapa juga Rasulullah SAW tidak mencontohkannya. Nah, ini karena Rasulullah SAW sudah menjelaskan prinsip – prinsip umum kebaikan, misalnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barang siapa yang meninggal dunia, sedang ia memiliki tanggungan puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuknya”. Dari hadits ini, dapat diambil kesimpulan bahwa orang hidup dapat berbuat atas nama si mayyit.

    Makanya, kita banyak menemukan riwayat, bahwa para sahabat itu, dengan kecerdasan mereka, memiliki prakarsa – prakarsa baik dalam ibadah. Para sahabat adalah orang yang sangat berhati – hati dalam masalah agama. Seharusnya, sebelum melakukan sesuatu ibadah, mereka bertanya dulu kepada Rasulullah SAW. Kenapa mereka tidak bertanya terlebih dahulu, sehingga kemudian Rasulullah SAW tahu sendiri ? Karena mereka punya konsep bahwa untuk melakukan sesuatu yang baik asal tidak bertentangan dengan nash, maka mereka merasa tidak perlu bertanya karena mereka yakin tidak akan dipermasalahkan oleh Rasulullah SAW.

    Anda tahu bahwa seseorang sahabat ketika hendak dibunuh, dia shalat 2 raka’at sebagai ungkapan sabar. Padahal ini juga tidak ada tuntunannya. Mengapa sahabat ini berani melakukannya ? Karena ia yakin, tidak akan dipermasalahkan hanya karena shalat sunnah 2 raka’at. Sang sahabat ini kemudian meninggal, tanpa dapat mengetahui apakah Rasulullah SAW setuju atau tidak dengan perbuatannya itu.

    Anda mungkin berargumen, bahwa kreasi baik sahabat yang diketahui dan disetujui oleh Rasulullah SAW adalah sunnah ( sunnah taqririyah ). Ini benar, tetapi kita memiliki keyakinan bahwa yang disetujui oleh Rasulullah SAW itu bukan cuma kreasi baik itu saja, tetapi beliau menyetujui pola pikir sahabatnya yang tidak terlalu kaku dalam memahami nash.

  75. Faza berkata:

    Riwayat Thawus itu bukan pendapat Tabi’in mas, karena Thawus nya bilang : “fa kaanuu yastahibbuuna”. Kalau seorang Tabi’in bilang “kunna”, maka maksudnya sesama tabi’in, tetapi jika seorang tabi’in bilang “kaanuu”, maka maksudnya adalah sahabat. Anda dapat baca pembahasan para ulama’ hadits tentang ucapan tabi’in “kaanuu”.
    Hanya saja, terdapat perbedaan, apakah itu berita itu menunjukkan ijma’ nya sahabat atau hanya sebagian sahabat. Al-Nawawi, sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi, memilih pendapat kedua ( perbuatan sebagian sahabat ).
    ‘Ala kullin, itu adalah perbuatan sahabat, dan kita tidak menemukan riwayat adanya penentangan dari sahabat lain.

    Kita ini memang amal dulu, baru cari dalil, mas. Saya akui, waktu saya baru baligh, saya gak ngerti dalil – dalil rukun shalat, sunnah – sunnah nya, dsb. Saya belajar fiqih dari seorang ustadz, kemudian saya amalkan, tidak sibuk mengurusi dalil karena memang belum mampu. Nah, setelah belajar ushul fiqh, ushul tafsir, ushul hadits, baru sibuk mencari dalil. Nih amalan ada dalilnya nggak. Berbeda dengan anda yang barangkali sejak mulai beribadah ( masa kanak-kanak dan memasuki baligh ) sudah tahu dalilnya secara lengkap. Tahu sumber pengambilan dan metode pengambilannya. Tahu, mana dalil yang kuat, mana yang lemah. Salut untuk anda…

    Nyantai mas ya…jangan ditanggapi terlalu serius, sesekali perlu “saling banting”, untuk tambah semangat…

  76. Faza berkata:

    Oh ya, ada yang ketinggalan. Ayat “wama atakum al-Rasuulu…belum ditanggapi.
    Begini ya mas, itu kan “apa yang diberikan oleh Rasul, ambil, apa yang dilarang, tinggalkan.” Nah, apa yang tidak diperintahkan oleh Rasul secara khusus, dan tidak juga dilarang, gak masuk dalam ayat itu. Gak ada kan, bilangnya “apa yang tidak dilakukan oleh Rasul, maka tinggalkan. Yang ada, “apa yang dilarang.”
    Jadi, gimana hukumnya sesuatu yang tidak ada perintah secara khusus dan tidak ada juga larangannya ?
    Ya, ditimbang dengan neraca syari’at. Yang bertentangan dengan syari’at ditolak, sementara yang bersesuaian, diterima.

  77. zul berkata:

    @Abisyakir
    Sabar bro…jangan mudah tersinggung. Kritikan itu perlu, walau kadang kata-katanya agak sedikit “pedas”. Ini kan sesuai dengan “hal al-mukhatab” nya.
    Jangan mudah suuzhann, misalnya menganggap orang lain arogan, sampai maqam ijtihad, suka bangga – banggaan. Kalau sudah masalah hati, maka tidak ada yang tahu selain Allah dan si empunya hati. Kalau anda menebak – nebak, nanti terperosok ke bab “suuzhan”. Anda pasti tahu dalil – dalilnya, iya kan?

    kalau anda menganggap mereka yang tergabung dalam lajnah daimah itu ulama’ – ulama’ besar, ya, itu hak anda. Tetapi, kami memiliki pandangan berbeda. Terus terang, ketika membaca fatwa – fatwa yang dikeluarkan oleh lajnah daimah, kami merasa biasa – biasa aja, gak kelihatan kelihaian mereka dalam istinbath. Baru baca pertanyaannya, sudah bisa ditebak jawabannya apa. Dalil nya…,ya, gitu – gitu aja. Jauh berbeda, ketika kita membaca fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Dar al-Ifta’ al-Mishriyah.

    Tapi, jangan tuduh saya merendahkan mereka. Saya hanya menyampaikan “uneg – uneg” saya aja, dan sikap saya terhadap lajnah daimah. Saya kurang sreg terhadap orang – orang yang “seakan-akan” memonopoli kebenaran.

    Perkataan anda :”Perkataan itu bisa diterima kalau sesuai Kitabullah-Sunnah, dan dianggap pendapat Thawus sendiri (bukan dalil Syar’i) kalau tidak ada korelasinya dengan Kitabullah-Sunnah. Dalilnya Surat An Nisaa’ 59, kalau ada satu perselisihan kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.”

    Respon : menarik sekali…anda mampu menilai seorang tabi’in besar. Anda, seakan – akan sudah memastikan bahwa itu tidak memiliki kaitan sama sekali dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah. Seakan – akan para tabi’in itu nggak ngerti dengan al-qur’an dan al-Sunnah. Sekedar mengingatkan, permasalahannya tidak sesederhana itu. Buktinya, para sahabat, para tabi’in, para ulama’ mujtahid, para pengikut – pengikut mereka selalu berbeda pendapat. Dalilnya al-Qur’an yang sama, dan hadits yang sama. Mereka telah mengembalikannya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Tetapi, kenapa kok mereka berbeda pendapat juga ? Karena mereka memiliki perbedaan dalam memahaminya. Ini salah satu sebabnya, dan masih banyak sebab – sebab lainnya.

    Ya, sebagai sesama muslim, kita tetap bersaudara, dan kalau anda tersinggung dengan komen – komen saya, mohon dima’afkan.

  78. zul berkata:

    Mengenai al-Albani, saya setuju sekali dengan pernyataan Ust. Dr. Luthfi Fathullah tersebut. Oleh karena nya, kita menghormatinya, tetapi tetap bersikap kritis kepada penilaian – penilaiannya kepada suatu hadits. Maksudnya begini, ketika kita membaca kritikan al-Albani terhadap para ulama’ hadits, maka kita jangan cepat – cepat mengambil kesimpulan, bahwa kritikan itu benar atau sebaliknya. Kita percaya kemampuan Albani, dan kita juga percaya kredibilitas dan kapabilitas ulama’ – ulama’ hadits yang dikritiknya.

  79. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Kalau anda tidak menyalah – nyalahkan, insya Allah, damai. Yang jadi masalah, kalau anda bilang bahwa membaca al-Qur’an untuk mayyit itu bid’ah dhalalah. Anda dapat mengatakan bahwa anda lebih sepakat dengan pendapat tertentu, tanpa harus menyalahkan pendapat lain. Ini adalah etika berbeda pendapat. Para ulama’ telah membuat batasan untuk tidak saling mengingkari dalam perkara ijtihadiyah.

    Respon:

    Perasaan dalam artikel maupun diskusi saya tidak mengatakan “membaca Al Qur’an untuk mayyit bid’ah dhalalah”. Waktu saya baca-baca ulang artikel semula, tidak ada pernyataan itu. Mungkin sebagian orang lain ada yang bersikap begitu.

    Tapi beginilah…seseorang meyakini bahwa ini sunnah, ini bid’ah, dengan argumen tertentu; itu kan termasuk HAK KEYAKINAN dia. Seperti Anda meyakini hal tertentu sebagai amal shalih, dengan argumen tertentu juga; itu kan hak Anda. Kami tidak boleh intervensi. Tapi kami juga punya pendapat, bisa jadi pendapat kami berbeda dengan Anda. Hal ini alamiah kan?

    Misalnya, saya tidak meyakini bahwa bacaan Al Qur’an manusia yang hidup tak akan sampai ke mayyit, dengan argumen tertentu. Dengan itu, saya meyakini juga (secara otomatis) bahwa amalan membaca Al Qur’an untuk mayyit termasuk perbuatan tidak syar’i (atau bid’ah). Keyakinan demikian kan mesti dihormati juga… Kecuali, kalau saya bersikap ofensif dengan mencaci-maki orang yang meyakini pendapat berbeda. Toh buktinya kami tidak ofensif. Masak kami meyakini sesuatu tidak boleh sih? Ya tidak mungkin lah, seseorang dianggap meyakini kalau tidak melakukan dua hal: al itsbat dan an nafyu (menetapkan dan meniadakan). Satu langkah meyakini sesuatu, langkah berikut menolak sesuatu yang bertolak-belakang.

    Semoga Allah menganugerahkan sifat tasamuh hasanah kepada kita semua. Amin ya Rahiim.

    AMW.

  80. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Jangan bertanya bagaimana mungkin mas… Segalanya mungkin kalau Allah SWT menghendaki. Misalnya si mayyit memiliki hutang yang belum terbayar, hingga ia layak mendapat siksa, kemudian ada orang lain yang melunasi hutangnya, maka dosa hutangnya menjadi terhapus. Ini kan usaha orang lain. Belum putus kan. Dia berlumur dosa, kemudian banyak yang memohonkan ampunan untuknya, maka ini adalah hak Allah SWT untuk mengabulkan do’a tersebut atau tidak. Kalau Allah mengabulkannya, maka bisa jadi si pelaku maksiat dibebaskan dari siksa. Ini juga usaha orang lain yang masih hidup.

    Respon: Maksudnya begini, misalnya seseorang di dunia dikenal dengan kedurhakaan, kesesatan, dan kekufurannya. Pokoknya dia dikenal sebagai seorang mujrim, lalu meninggal dalam keadaan itu juga (nas’alullah al ‘afiyah lana wa lakum). Lalu ada upaya dari keluarganya, bisa jadi anak-anak atau kerabatnya, untuk menolong nasib orang itu di alam kubur atau akhirat. Caranya dengan memperbanyak “hadiah pahala”. Kalau menurut saya, hal itu tidak bermanfaat, sebab berlaku dalil: “Laisa lil insani illa ma sa’a” (tidaklah seseorang itu mendapat, kecuali apa yang dia usahakan). Andaikan hadiah pahala itu benar, tentu Rasulullah Saw akan mendawamkan amal kebajikan untuk membantu ayah, ibu, kakek, dan paman-pamannya. Hingga di akhir hayat Abu Thalib beliau berkata, maknanya: “Qul kalimatan sa asyhadu biha ‘indallah” (katakan satu kalimat saja yang akan saya persaksikan di sisi Allah).

    Tapi memang ini masalah rumit, karena kaitannya dengan akidah juga. Ada yang berpendapat bahwa “iman itu datar, tidak naik, tidak turun”. Dan ada yang berpendapat “iman itu kadang naik, kadang turun”. Aplikasinya, bagi yang meyakini “iman naik-turun” mereka juga meyakini kaidah-kaidah seputar nawaqidhul iman. Kalau selama di dunia seseorang tidak menampakkan ciri keislaman, maka tidak berguna hadiah pahala baginya. Sementara bagi yang meyakini “iman itu datar”, maka riwayat hidup seseorang selama hidup, apakah dia shalih, mujrim, atau lainnya; dianggap tidak masalah.

    AMW.

  81. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Begini mas, shadaqah kan perintahnya umum tidak dibatasi tempat dan waktu. Sudah cukup dalil umum saja. Nah, kalau ingin melarang, maka larangan itu yang harus ada dalilnya. Shadaqah atas nama mayyit kan disepakati, gak ada penjelasan dari ulama’ bahwa kalau mau bershadaqah atas nama mayyit, tunggu waktu yang tepat dulu. Begitu juga hadits yang menyatakan shadaqah atas mayyit itu baik, itu juga secara umum dan mutlaq, artinya bisa kapan saja. Rasulullah SAW, tidak mensyaratkan apa – apa, misalnya tunggu beberapa hari dulu.

    Respon: Ya, untuk bagian ini saya rujuk. Jazakumullah khairan wa fadhlan katsira.

    AMW.

  82. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Koreksi sedikit mas, itu ayat al-Qur’an bukan hadits. Kalau anda merasa terbebani, ya gak usah dilakukan. Rasulullah SAW kan sudah menjelaskan prinsip – prinsip umum kebaikan. Maka, selagi masuk dalam prinsip itu, dianggap baik, walaupun bentuk spesialnya belum ada.

    Respon: Benar-benar. Itu memang ayat (Surat Al Hasyr), saya keliru. Terimakasih sudah diingatkan. Dalam Arba’in An Nawawi memang ada yang serupa itu. Lafadznya: “Ma nahaitukum ‘anhu fajtanibuhu wa maa amartukum bihi faf’alu minhu mastatha’tum” (apa yang aku cegah kalian dari melakukannya, maka jauhilah ia; sedang apa yang aku perintahkan kalian melakukan, kerjakan semampumu). [HR. Muttafaq ‘Alaih]. Syukran jazakallah khaira jaza’.

    Itu, masalah haji atas nama mayyit, gak ada juga riwayat bahwa Rasulullah SAW melakukannya. Rasulullah SAW menjelaskannya karena ada yang bertanya. Muncul pertanyaan : Kenapa Rasulullah SAW tidak menjelaskan sebelumnya ? Mengapa juga Rasulullah SAW tidak mencontohkannya. Nah, ini karena Rasulullah SAW sudah menjelaskan prinsip – prinsip umum kebaikan, misalnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Barang siapa yang meninggal dunia, sedang ia memiliki tanggungan puasa, maka hendaklah walinya berpuasa untuknya”. Dari hadits ini, dapat diambil kesimpulan bahwa orang hidup dapat berbuat atas nama si mayyit.

    Respon: Ya karena di sisi Rasulullah Saw tidak ada “illat”-nya seputar menghajikan keluarganya. Keluarga beliau yang Muslim, mengerjakan Haji. Keluarga beliau yang Muslim dan meninggal sebelum Syariat Haji disempurnakan, mereka tidak terbebani Syariat. Sedangkan keluarga beliau yang meninggal dalam keadaan musyrik, tidak mungkin dihajikan, sebab Muslim saja belum. Persetujuan Rasul Saw dalam hal ini merupakan dasar Syariat, meskipun beliau sendiri tidak melalukan hal itu. Misalnya yang terkenal tentang “shalat Ashar di kampung Bani Quraidhah”. Beliau saat itu tidak masuk dalam salah satu pendapat para Shahabat, karena beliau tidak ada di tengah mereka. Tetapi semua memahami, bahwa beliau membolehkan perbedaan pendapat dari sikap diam beliau atas perkara itu. Mashdar Syar’i dalam hal ini tidak harus dianggap sebagai perbuatan atau amalan. Tapi bukan juga dianggap bahwa kita bebas membuat kreasi ibadah, karena kaidahnya: “Al aslu fil ibadah at tahrim”.

    AMW.

  83. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Berbeda dengan anda yang barangkali sejak mulai beribadah ( masa kanak-kanak dan memasuki baligh ) sudah tahu dalilnya secara lengkap. Tahu sumber pengambilan dan metode pengambilannya. Tahu, mana dalil yang kuat, mana yang lemah. Salut untuk anda…

    Respon: Ngebales nih ye… He he he… Maaf, maaf, maafin kalau perdebatan sebelumnya kurang berkenan.

    Riwayat Thawus itu bukan pendapat Tabi’in mas, karena Thawus nya bilang : “fa kaanuu yastahibbuuna”. Kalau seorang Tabi’in bilang “kunna”, maka maksudnya sesama tabi’in, tetapi jika seorang tabi’in bilang “kaanuu”, maka maksudnya adalah sahabat. Anda dapat baca pembahasan para ulama’ hadits tentang ucapan tabi’in “kaanuu”. Hanya saja, terdapat perbedaan, apakah itu berita itu menunjukkan ijma’ nya sahabat atau hanya sebagian sahabat. Al-Nawawi, sebagaimana dikutip oleh al-Suyuthi, memilih pendapat kedua ( perbuatan sebagian sahabat ). ‘Ala kullin, itu adalah perbuatan sahabat, dan kita tidak menemukan riwayat adanya penentangan dari sahabat lain. Kita ini memang amal dulu, baru cari dalil, mas. Saya akui, waktu saya baru baligh, saya gak ngerti dalil – dalil rukun shalat.

    Respon: Ya perbedaan “kunna” dan “kaanu” bisa dipahami. Alhamdulillah. Tapi hal ini bukan perkataan ijma’ para Shahabat Ra atau ijma’ para Tabi’in. Jadi kita bisa memilih mana yang dianggap lebih menentramkan hati (menurut persepsi masing-masing). Kalau Anda meyakini hal itu, ya silakan. Anda berhak meyakini, sebagaimana kami juga memiliki hak untuk itu.

    AMW.

  84. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Begini ya mas, itu kan “apa yang diberikan oleh Rasul, ambil, apa yang dilarang, tinggalkan.” Nah, apa yang tidak diperintahkan oleh Rasul secara khusus, dan tidak juga dilarang, gak masuk dalam ayat itu. Gak ada kan, bilangnya “apa yang tidak dilakukan oleh Rasul, maka tinggalkan. Yang ada, “apa yang dilarang.

    Respon: Ya intinya ada larangan secara umum membuat aturan ibadah baru, setelah Syariat Islam disempurnakan. Misalnya riwayat yang berbunyi, “Iyyakum muhdatsatil umur” (hati-hati terhadap perkara yang diada-adakan). Lalu para ulama menetapkan konsep seputar ibadah: “Asal urusan ibadah itu haram, sampai ada yang memerintahkannya.” Amalan tahlilan (sebagaimana yang kita pahami disini) tidak diperintahkan, sementara hal itu merupakan ibadah dengan tertib dan aturan tertentu. Kalau direnungkan, acara tahlilan itu sudah mirip dengan “shalat berjamaah” lho. Hanya memang tidak memakai berdiri, rukuk, dan sujud.

    Wallahi ya Akhi…saya melihat sendiri dengan mata kepala sendiri praktik tahlilan di kampung kami (sebuah kelurahan di Kodya Malang). Banyak orang disana sehari-hari tidak shalat. Tetapi kalau soal tahlilan, mereka paling rajin datang. Malah mereka mau mengeluarkan dana untuk jamuan acara seperti itu. Saya tahu, karena dulu pernah ikut acara-acara demikian. Di mata masyarakat kami, tahlilan itu seperti penebus ketidak-mauan mereka menjalankan amal-amal yang lain. Kalau sudah tahlilan, sudah dianggap cukup keislamannya. (Lagi-lagi nanti kalau diteruskan, hal itu akan berujung pada konsep keimanan itu. Ada yang meyakini iman bersifat flat/datar; ada yang meyakini iman naik-turun/fluktuatif).

    Jadi, gimana hukumnya sesuatu yang tidak ada perintah secara khusus dan tidak ada juga larangannya? Ya, ditimbang dengan neraca syari’at. Yang bertentangan dengan syari’at ditolak, sementara yang bersesuaian, diterima.

    Respon: Paling larangannya bersifat umum, yaitu larangan membuat syariat baru setelah Syariat Islam disempurnakan; larangan membuat ibadah yang tidak ada nash perintahnya. Sebagai contoh, Ibnu Mas’ud Ra pernah mengingkari orang-orang yang berdzikir di masjid dengan menggunakan kerikil (bukan tasbih seperti yang kita kenal saat ini). Kata Ibnu Mas’ud, kurang lebih maknanya: “Bagaimana kalian begitu cepat terjerumus dalam kebinasaan, sedangkan di tengah kalian masih ada para Shahabat Nabi?” Sekedar dzikir memakai kerikil saja diingkari, bagaimana dengan yang lebih dari itu?

    AMW.

  85. abisyakir berkata:

    @ Zul…

    Sabar bro…jangan mudah tersinggung. Kritikan itu perlu, walau kadang kata-katanya agak sedikit “pedas”. Ini kan sesuai dengan “hal al-mukhatab” nya.
    Jangan mudah suuzhan, misalnya menganggap orang lain arogan, sampai maqam ijtihad, suka bangga – banggaan. Kalau sudah masalah hati, maka tidak ada yang tahu selain Allah dan si empunya hati. Kalau anda menebak – nebak, nanti terperosok ke bab “suuzhan”. Anda pasti tahu dalil – dalilnya, iya kan?

    Respon: Ya mestinya kaidah sabar itu Anda lakukan dulu. Tapi tak apalah, saya terima masukan-masukan. Jazakumullah khairan katsira.

    Kalau anda menganggap mereka yang tergabung dalam lajnah daimah itu ulama’ – ulama’ besar, ya, itu hak anda. Tetapi, kami memiliki pandangan berbeda. Terus terang, ketika membaca fatwa – fatwa yang dikeluarkan oleh lajnah daimah, kami merasa biasa – biasa aja, gak kelihatan kelihaian mereka dalam istinbath. Baru baca pertanyaannya, sudah bisa ditebak jawabannya apa. Dalil nya…,ya, gitu – gitu aja. Jauh berbeda, ketika kita membaca fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh Dar al-Ifta’ al-Mishriyah. Tapi, jangan tuduh saya merendahkan mereka. Saya hanya menyampaikan “uneg – uneg” saya aja, dan sikap saya terhadap lajnah daimah. Saya kurang sreg terhadap orang – orang yang “seakan-akan” memonopoli kebenaran.

    Respon: Nah, perkataan ini kan membenarkan anggapan saya semula, bahwa Anda sudah berada di maqam ijtihad. Level Anda bukan para thulab atau ulama biasa, tapi bisa jadi sudah setingkat “Al ‘Allamah”. Mengapa demikian? Ya terbaca dari komentar Anda, level Anda setidaknya selevel dengan ulama-ulama Lajnah Daimah, yang kami anggap sebagai kumpulan ulama-ulama besar. Untuk tokoh ahli fiqih sekaliber Prof. Dr. Ali Thanthawi rahimahullah saja, saya tidak pernah mendengar pernyataan seperti itu dari beliau. Bahkan untuk ulama sekelas Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah rahimahullah, yang notabene “banyak mengkritik Salafi”, beliau juga tidak bersikap begitu kepada Lajnah Daimah. Maka itu, saya menyangka, Anda ini sudah level seorang ‘Allamah.

    Ya namanya berfatwa ya harus jelas; bayyin bainal haq wal bathil, bainal halal wal haram. Kalau tidak begitu, nanti malah membingungkan Ummat. Hal itu tidak bisa dianggap “memonopoli kebenaran”. Toh, mereka juga tidak mengklaim diri sebagai satu-satunya dewan fatwa terbaik. Setidaknya, mereka merepresentasikan “dewan fatwa madzhab Hanbali”. Anda masih ingat, KH. Hasyim Asyari rahimahullah, pendiri NU itu. Beliau kan juga mengakui keabsahan “madzhab yang empat”. Kalau itu diakui, maka eksistensi Lajnah Daimah juga mesti diakui. Sebab untuk rujukan madzhab Hanabilah ini, menurut Anda siapa yang representatif? Darul Ifta’ Mesir jelas tidak bisa, wong madzhabnya sudah beda.

    Menarik sekali…anda mampu menilai seorang tabi’in besar. Anda, seakan – akan sudah memastikan bahwa itu tidak memiliki kaitan sama sekali dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah. Seakan – akan para tabi’in itu nggak ngerti dengan al-qur’an dan al-Sunnah. Sekedar mengingatkan, permasalahannya tidak sesederhana itu. Buktinya, para sahabat, para tabi’in, para ulama’ mujtahid, para pengikut – pengikut mereka selalu berbeda pendapat. Dalilnya al-Qur’an yang sama, dan hadits yang sama. Mereka telah mengembalikannya kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Tetapi, kenapa kok mereka berbeda pendapat juga ? Karena mereka memiliki perbedaan dalam memahaminya. Ini salah satu sebabnya, dan masih banyak sebab – sebab lainnya.

    Respon: Bukan menilai dalam arti merendahkan, bukan itu. Tapi menetapkan prinsip “berdalil” itu lho. Kan menurut kaidah ushul, sumber Syariat itu ada 3 yaitu: Kitabullah, Sunnah yang shahih, dan Ijma’ para Shahabat Ra. Ada juga yang menambahkan (atau menukar Ijma’ Shahabat) dengan qiyas yang shahih. Dari kaidah ini kan kita sudah bisa mengambil pelajaran. Pernah suatu kali Ibnu Abbas Ra ditanya oleh seseorang, lalu dia menjawab dengan dalil Sunnah Rasul. Lalu orang itu berkata, “Saya akan mengambil pendapat Abu Bakar atau Umar.” Saat itu Ibnu Abbas marah dan mencela orang itu, sambil berkata, “Saya datangkan pendapat Rasul, sementara kamu ingin mengambil pendapat Abu Bakar dan Umar.”

    Berikut ini REFERENSI PENTING bisa dibaca: http://muslim.or.id/aqidah/menjadikan-kyai-sebagai-sesembahan-selain-allah.html (tapi untuk judul lebih ahsan kalau diganti yang lebih baik).

    Ya, sebagai sesama muslim, kita tetap bersaudara, dan kalau anda tersinggung dengan komen – komen saya, mohon dima’afkan.

    Respon: Sama-sama Ustadz, saya juga mohon maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan. As’alu minkum ‘afwan katsira, wa astaghfirullaha li walakum.

    AMW.

  86. Faza berkata:

    @ِAbisyakir
    Terima kasih atas respon – respon anda yang baik. Insya Allah, kita juga menghormati perbedaan. Yang kita ingkari adalah sikap sebagian orang yang merasa benar sendiri, dan seakan – akan kalau tidak sama dengan pendapat kelompoknya, maka pasti salah. Dalam pandangan saya, anda masih cukup terbuka.
    Saya ingin mengomentari satu hal saja, yaitu mengenai riwayat bahwa Ibnu Mas’ud r.a. yang mengingkari penggunaan kerikil dalam berdzikir.
    1. Atsar tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Wadhah di dalam kitab al-Bida’, dan kita tidak menemukan nya di dalam kitab – kitab hadits yang lain.
    2. Kesahihan atsar tersebut layak dipertanyakan, mengingat Ibnu Wadhah banyak melakukan kesalahan dalam periwayatan hadits. Berikut komentar kritikus hadits :
    a. Ibnul Faradhi : …Ibnul Jabbab memuliakannya dan menyifatinya dengan kecerdasan dan kemulian, dan beliau tidak mendahulukan orang lain atasnya. Hanya saja beliau ( Ibnul Jabbab ) mengingkari penolakan Ibnu Wadhah terhadap banyak hadits. Ibnu Wadhah sering mengatakan : “ini bukan perkataan Nabi”, padahal itu jelas – jelas perkataan Nabi. Dia melakukan banyak kesalahan, kekeliruan, serta melakukan tashhif, dan dia tidak memiliki kapabilitas dalam Bahasa ‘Arab dan Fiqih. ( Siyar A’lam al-Nubala’ )
    b. Ibnu Farhun berkata : Ahmad bin Khalid tidak mendahulukan orang lain yang ditemui di Andalus atasnya, beliau menyifatinya dengan kecerdasan, kemulian, ke waraan, tetapi beliau ( Ahmad bin Khalid ) mengingkari penolakan Ibnu Wadhah terhadap banyak hadits. Ibnu Wadhah sering mengatakan : “ini bukan perkataan Nabi”, padahal itu jelas – jelas perkataan Nabi. Dia melakukan banyak kesalahandan dia tidak memiliki kapabilitas dalam Bahasa ‘Arab dan Fiqih. ( al-Dibaj al-Mazhab fi Ma’rifah A’yan ‘Ulama’ al-Mazhab dan Tarikh ‘Ulama’ al-Andalus ).
    3. Seandainya, atsar ini kita terima, maka perlu diketahui bahwa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, bukan menolak penggunaan kerikil untuk menghitung dzikir, tetapi, beliau menolak seluruh bentuk penghitungan, sebagaimana dalam riwayat yang lain. Misalnya, misalnya riwayat Ibnu Wadhah sendiri dalam kitab al-Bida’ bahwa Ibnu Mas’ud mengingkari orang yang menghitung dzikir dengan berkata :”Apakah kalian mengadakan perhitungan dengan Allah.” Begitu juga, di dalam Mushannaf Ibni Abi Syaibah dari Ibrahim bahwa Abdullah bin Mas’ud tidak menyukai penghitungan dzikir. Jadi, Ibnu Mas’ud bukan mengingkari bid’ah idhafiyah nya, tetapi ‘illat nya adalah beliau tidak suka menghitung – hitung kebaikan.
    4. Penolakan Ibnu Mas’ud terhadap penghitungan dzikir merupakan pilihan beliau, bukan fatwa yang mengikat, mengingat terdapat banyak riwayat yang membolehkannya. Misalnya, al-Tirmidzi, al-Hakim, al-Thabrani, dan Abu Ya’la meriwayatkan bahwa Shafiyah radhiyallahu ‘anha pernah berdzikir menggunaan 4000 biji kurma tanpa pengingkaran Rasulullah SAW. Rasulullah SAW, kemudian mengajarkan dzikir yang Jami’ ( lengkap) yaitu : “subhanallah ‘adada ma khalaqa min Syai’.” Hadits ini disahihkan oleh al-Hakim, dan disetujui oleh al-Dzahabi.
    Contoh lain, Rasulullah SAW tidak mengingkari seorang wanita yang menghitung dzikir dengan biji kurma atau kerikil, tetapi beliau mengajarkan yang lebih mudah dan baik. Beliau mengajarkan dzikir :
    سبحان الله عدد ما خلق في السماء وسبحان الله عدد ما خلق في الأرض وسبحان الله عدد ما خلق بين ذلك وسبحان الله عدد ما هو خالق والله أكبر مثل ذلك والحمد لله مثل ذلك ولا إله إلا الله مثل ذلك ولا حول ولا قوة إلا بالله مثل ذلك
    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Hibban, al-Hakim dan al-Bazzar dari Sa’ad bin Abi Waqqash.
    Di antara sahabat yang menghitung dzikirnya dengan biji kurma ( ada juga menggunakan kerikil ) adalah Abu Dzar, Abu Hurairah, Sa’ad bin Abi Waqash, Abu Sa’id al-Khudri. Dll. ( silahkan baca “Hukm Ittikhadz al-Subhah bain al-Mujizin wal Mani’in, karya Abdul Fattah bin Shalih al-Yafi’I ).
    5. Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, maka mazhab yang empat membolehkan penggunaan sarana apa pun untuk menghitung dzikir. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa itu khilaf al-Aula ( artinya lebih afdhal menggunakan jari tangan ). Sebagian lagi memakruhkan. Sebagian lagi menganggap bid’ah. ( bid’ah menurut pengertian mereka ).
    6. Riwayat penolakan Ibnu Mas’ud terhadap penggunaan kerikil dalam menghitung dzikir, sering digembar – gemborkan saudara – saudara kita kelompok salafi, padahal sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa riwayat itu layak dipertanyakan kesahihannya. Mereka biasanya anti dengan yang dha’if – dha’if, tetapi kenapa ketika ada riwayat yang dha’if yang sesuai dengan manhaj mereka, riwayat tersebut diterima. Sama seperti ust. Salafi ( Firanda ) yang menyatakan riwayat tentang seseorang yang keram kakinya kemudian dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW, keramnya menjadi hilang, sebagai riwayat palsu. Modusnya, dengan menampilkan riwayat ibn al-Sunni, dengan mengenyampingkan riwayat al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad yang dinyatakan kuat oleh al-Huwaini.
    7. Saya menghargai kejujuran dan keterbukaan anda untuk berdiskusi. Saya pernah menulis komentar di blog Firanda.com, tapi nggak dimuat – muat. Padahal, saya berusaha menggunakan kata yang se santun mungkin dan dilengkapi dengan argumen-argumen yang jelas. Anehnya, komentar – komentar yang menggunakan kata-kata kasar dan tanpa hujjah yang kuat, malah dimuat. Misalnya, ada warga NU fanatik yang mencela Wahabi, dan bicara tanpa dalil, maka komentar seperti itu dimuat. Ini mengesankan seakan-akan itulah NU, bicaranya kasar dan nggak tahu dalil. Kejujuran dan keterbukaan anda sangat layak untuk diapresiasi.

  87. abisyakir berkata:

    @ Faza…

    Syukran jazakumullah khair Akhil karim atas apresiasinya, alhamdulillah. Semoga Allah menambahkan ilmu dan kebaikan, bagi antum, saya, dan kita (kaum Muslimin) semua. Amin. Untuk sementara saya sudahi sampai disini dulu dialognya. Saya mengambil sisi-sisi yang bermanfaat dari apa yang antum sampaikan, dan semoga juga sebaliknya. Di antara adab dalam perbedaan adalah “sabar”. Hal ini perlu direalisasikan, meskipun kita memiliki argumen seperti apapun. Sekali lagi jazakumullah khaira jaza’ wa jaza’an jazilan. Amin.

    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  88. abisyakir berkata:

    @ All…

    Sebuah referensi sebagai pembanding: Beberapa Atsar Seputar Amaliah Dzikir. Semoga bermanfaat.

    Admin.

  89. ruswandi berkata:

    saya bertambah yakin seyakinnya bahwa bidah itu tidak semua sesat alias dolalah….. saya berhikmat janganlah persoalan bidah itu untuk mengaburkan semangat untuk beramal ibadah sepanjang amaliah itu memiliki dan mendatangkan nilai-nilai kebaikan didalamnya dan tidak ada unsur syirik didalamnya.yang pasti tidak berlawanan dg hukum islam. hargai dan hormati bagi yg melaksanakan amaliah (bidah hasanah) dan jangan dianggap menyimpang apalagi sesat. yang sesat itu adalah orang yang tidak mau beramal ibadah…… itulah dia yang sesat yg namanya bidah dolalah tulen 100% yg melanggar dan tidak melakukan perbuatan mengangakat dan mensyiarkan nilai -nilai amailah kebaikan dalam islam. ayo,ustad-ustad arahkan dan kerahkan pemikiran dg da’wah kalian kepada mereka mereka yang sesat dolalah itu.lebih tepat dan lebih bermanfaat untuk kebaikan dan ukhuwah umat dari pada saudara kita melaksanakan amaliah ibadah (bidah)hasanah,tapi taat dlm beragama. kasian saudara kita yang sesat jauh dari amailah ibadah dan ketaatan.buka mata dan hati, kita sama-sama dalam wujud ketaatan untuk ketakwaaan serta keimanan kepada allah swt. saat ini persatuan umat lebih penting untuk kita galang.. tinggalkan pembahasan bidah,biarkan dan hormati bagi saudara kita melakukan dan melaksanakan amaliah yang sudah mengakar dalam kehidupan sepanjang tidak ada perbuatan syirik didalamnya dan ada kebaikan didalamnya serta ada payung hukum islam didalam amaliah ibadahnya…………….

  90. abisyakir berkata:

    @ Ruswandi…

    Syukran jazakumullah khair ya Akhil karim atas masukan dan nasehatnya. Masalahnya sederhana ya Akhi, yaitu karena kita “kurang berani” melangkah “keluar dari box”. Saya dibesarkan dalam tradisi NU Jawa Timuran, dulu juga sangat berat meninggalkan hal-hal yang diklaim sebagai “bid’ah hasanah” itu. Berat Akhi, banyak penolakan dan upaya mencari dalil-dalil untuk mengingkari pandangan berbeda. Tapi alhamdulillah, atas izin dan taufiq Allah, kemudian saya dimudahkan untuk meninggalkan hal-hal itu. Padahal sejak SD, kami sudah biasa tahlilan di masjid atau di rumah-rumah. Ternyata, setelah keluar dari “kotak” itu, suasana yang kita dapati jauh dari ketakutan yang dibayangkan. Hidup ini terasa ringan, tanpa beban, dan lebih menghargai amal-amal yang jelas-jelas memiliki sandaran dari Kitabullah dan Sunnah. Cobalah berani “keluar kotak”, nanti Anda bisa mengerti sikap saudara Anda yang menolak “bid’ah hasanah”. Jazakumullah khaira wa hasanah.

    Admin.

  91. Budiono berkata:

    alhamdulillah diskusinya panjang, tidak sempat baca satu per satu, tapi saya yang sangat dangkal ilmu agamanya ini mau tanya 1 hal.

    adalah umum di kalangan penganut faham bid’ahiyah (suka membid’ah-bid’ah kan orang) menganggap ISTIGHOTSAH sebagai bagian dari bid’ah

    lalu saya mencoba mencari satu teks istighotsah itu yang ditulis/disusun oleh kyai di pesantren NU. adapun bacaan-bacaan dalam istighotsah itu tidak lain hanyalah istighfar, hamdalah, dan sebagainya yang semuanya bersumber dari quran. lalu istighotsah itu dibaca pagi dan sore.

    yang saya heran, mengapa ya amalan seperti itu disebut bid’ah? apakah karena yang menyusun orang NU lalu semua dianggap bid’ah? kasus seperti ini ada banyak, dimana penganut bid’ahiyah langsung mengecap bid’ah terhadap sebuah amalan yang dilakukan orang lain yang beda sudut pandang dari dia.

    yang mengamalkan sih biasa saja, ndak merasa ini itu, niatnya dzikir atau mengingat Allah.

    buat saya yang sangat dangkal ilmu agamanya, tidak penting merisaukan ini bid’ah atau bukan. karena pangkal dari setiap perbuatan adalah NIAT. dan tidak ada satupun orang yang tahu apa NIAT kita melakukan suatu perbuatan.

    maka jika ada yang bilang ziarah kubur itu bid’ah dengan alasan para peziarah akan berdoa meminta kepada mayit, itu tidak lebih dari orang yang sok tahu NIAT yang ada di dalam hati si peziarah.

    di sebuah masjid, saya malah pernah menghadiri pengajian yang diadakan oleh penganut bid’ahiyah yang dengan enteng meng-kafir-kafirkan orang yang datang ke kuburan karena menganggap setiap orang yang ziarah ke kuburan itu niatnya memohon kepada mayit. kok bisa ya orang ambil kesimpulan terhadap niat orang lain begitu. dan yang khas, dalam beberapa pengajian yang saya hadiri selalu dibuka dengan: “Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin naar” seperti tidak ada hal yang lebih menarik untuk dibahas selain memperdebatkan bid’ah. maka selamanya yang dianggap bid’ah akan tetap bid’ah kalo cara pendekatannya seperti itu.

    mohon maaf, hanya sedikit pertanyaan dan opini dari orang yang sangat dangkal ilmu agamanya.

    salam

  92. abisyakir berkata:

    @ Budiono…

    adalah umum di kalangan penganut faham bid’ahiyah (suka membid’ah-bid’ah kan orang) menganggap ISTIGHOTSAH sebagai bagian dari bid’ah. lalu saya mencoba mencari satu teks istighotsah itu yang ditulis/disusun oleh kyai di pesantren NU. adapun bacaan-bacaan dalam istighotsah itu tidak lain hanyalah istighfar, hamdalah, dan sebagainya yang semuanya bersumber dari quran. lalu istighotsah itu dibaca pagi dan sore. yang saya heran, mengapa ya amalan seperti itu disebut bid’ah? apakah karena yang menyusun orang NU lalu semua dianggap bid’ah? kasus seperti ini ada banyak, dimana penganut bid’ahiyah langsung mengecap bid’ah terhadap sebuah amalan yang dilakukan orang lain yang beda sudut pandang dari dia. yang mengamalkan sih biasa saja, ndak merasa ini itu, niatnya dzikir atau mengingat Allah.

    Komentar: Istighatsah ini kan meminta bantuan/pertolongan, bisa kepada Allah maupun ke makhluk (sesama manusia). Setelah shalat kita disunnahkan membaca doa istighah “bi rohmatika astaghits” (dengan rahmat-Mu ya Allah aku memohon pertolongan). Jadi istighatsah termasuk bagian dari amalan yang diakui Syariat. Termasuk memohon pertolongan kepada sesama manusia secara wajar, hal itu juga diperbolehkan. Hingga ada lembaga bantuan kemanusiaan internasional yang namanya Al Ighatsah (Islamic Relief). Saat kita mendapat masalah, kesulitan, atau beban hidup yang berat; boleh melakukan istighatsah dengan amal-amal shalih, juga dengan membaca Al Qur’an, dzikir kalimat thaiyibah, shalawat, dan lainnya.

    Mungkin masalahnya, perlukah istighatsah itu dipermanenkan setiap hari, setiap pagi dan sore, baik ada masalah atau tidak, dengan bacaan tertentu, dengan urutan tertentu; yang tidak boleh menyimpang darinya; mungkin cara seperti ini yang dikritik tersebut.

    buat saya yang sangat dangkal ilmu agamanya, tidak penting merisaukan ini bid’ah atau bukan. karena pangkal dari setiap perbuatan adalah NIAT. dan tidak ada satupun orang yang tahu apa NIAT kita melakukan suatu perbuatan. maka jika ada yang bilang ziarah kubur itu bid’ah dengan alasan para peziarah akan berdoa meminta kepada mayit, itu tidak lebih dari orang yang sok tahu NIAT yang ada di dalam hati si peziarah.

    Komentar: Ohhh…tidak boleh berkeyakinan seperti itu. Anda salah kalau hanya menekankan unsur NIAT. Sudah masyhur dipahami di kalangan kaum Muslimin, bahwa syarat diterimanya amal itu ada dua: Niatnya ikhlas dan caranya sesuai Syariat (Sunnah). Kalau gugur salah satu syarat ini, maka amalannya juga gugur. Misalnya, ada orang berjudi dengan niat nanti hasilnya mau disedekahkan ke orang miskin. Ini adalah salah. Sebagaimana salah juga, orang naik Haji, agar nanti bisa meletakkan huruf “H” di depan namanya. Adapun soal ziarah kubur: niatnya boleh mendoakan si ahli kubur, untuk mengingati maut, atau mengucapkan salam bagi ahli kubur. Tidak boleh meminta bantuan apapun kepada ahli kubur.

    di sebuah masjid, saya malah pernah menghadiri pengajian yang diadakan oleh penganut bid’ahiyah yang dengan enteng meng-kafir-kafirkan orang yang datang ke kuburan karena menganggap setiap orang yang ziarah ke kuburan itu niatnya memohon kepada mayit. kok bisa ya orang ambil kesimpulan terhadap niat orang lain begitu. dan yang khas, dalam beberapa pengajian yang saya hadiri selalu dibuka dengan: “Kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin naar” seperti tidak ada hal yang lebih menarik untuk dibahas selain memperdebatkan bid’ah. maka selamanya yang dianggap bid’ah akan tetap bid’ah kalo cara pendekatannya seperti itu. mohon maaf, hanya sedikit pertanyaan dan opini dari orang yang sangat dangkal ilmu agamanya. salam

    Komentar: Benar, tidak boleh menuduh/menyangka orang yang ziarah kubur untuk berdoa kepada si ahli kubur; bisa jadi, dia malah ingin mendoakan ahli kubur itu. Tuduhan/prasangka demikian tidak benar; apalagi sampai ke tahap mengkafirkan pelakunya. Itu jelas dakwah orang bodoh yang tidak mengerti ilmu dan adab. Dalam dakwah kita harus sesuaikan dengan kondisi masyarakatnya; kalau mereka terpelajar, wawasan terbuka, boleh disampaikan tema-tema yang kritis; tapi kalau jamaahnya orang awam, atau cenderung fanatik, pilihlah tema-tema lain (atau cara dakwah) yang lebih mudah mereka terima.

    Tetapi secara prinsip dalam ibadah: harus atas dasar niat ikhlas dan mengikuti Sunnah Nabi. Itu sudah paten, tidak bisa ditawar-tawar. Terimakasih.

    Admin.

  93. Andro berkata:

    Tidak mungkin ada suatu ibadah yg luput tidak dilakukan rasul.
    Kalo sekarang ada orang2 yang menambah2kan amal ibadah yang tidak pernah dicontohkan rasul apa mereka telah menuduh rasul telah meninggalkan dunia ini dgn belum sempurnanya ajaran agama islam ???

    Atau mengingkari arti sempurna pd surat al maidah ayat 3 ini ?
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agamamu.

    Islam diindonesia bener2 islam yg dibikin ribet.

  94. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea.. berkata:

  95. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Termasuk bid’ah yang sangat berbahaya antara lain:

    = Menafikan wajibnya berlaku Syariat Islam dalam kehidupan kaum Muslimin.
    = Membolehkan kaum Muslimin hidup di bawah naungan UU bukan Islam.
    = Mengakui pemimpin sekuler (non Islam) sebagai Ulil Amri yang harus didengar dan ditaati.
    = Menolak pengingkaran terhadap pemimpin yang tidak memberlakukan hukum Islam; dan anti Syariat.
    = Memusuhi pihak-pihak yang berusaha menegakkan Syariat Islam dan berdakwah ke arahnya.
    = Bermudah-mudah menyesatkan manusia, mengeluarkan manusia dari Ahlus Sunnah; tanpa merujuk fatwa ulama yang kredibel (mu’tabar).
    = Berusaha mengamalkan Islam secara sempurna, sampai urusan muamalah dan penampilan; tetapi tidak mau menerima konsep hukum Islam dalam sebuah negara.
    = Dll.

    Hal-hal di atas termasuk bid’ah berbahaya yang harus dijauhi, termasuk dijauhi majelis-majelis ilmunya. Jazakumullah khair.

    Admin.

  96. Zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea... berkata:

    @ abisyakir..

    ^_^.. ^_^..

    pa, bila tercipta Daulah Islam, tetapi terciptanya bukan di’Indonesia, melainkan Di’Suriah,,, maka, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang Islam yang posisinya/keberadaannya itu berada diluar wilayah suriah.?
    terus apakah pemimpinnya itu hanya membawahi kaum Muslimin Suriah saja ataw’kah membawahi keseluruhan kaum Muslimin di’bumi ini.?

  97. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Kalau hal itu benar-benar terjadi, bi idznillah, maka hukumnya tergantung para pemangku Daulah Islamiyyah disana. Kalau menurut mereka kaum Muslimin diminta hijrah, ya hijrah; kalau menurut mereka, kita bertahan di negeri masing-masing, ya bertahan; kalau menurut mereka, hijrah merupakan suatu kelapangan bagi kaum Muslimin, silakan yang mau hijrah dan silakan yang mau tinggal, maka hukumnya menjadi kelapangan juga. Wallahu a’lam bisshawaab.

    Admin.

  98. zaenal Abidin Si'Ardjuna Thea.. berkata:

    @ Abisyakir…

    iy pa.. makasiih penjelasannya..

    pa, satu lagi… masih tentang “bila Daulah Islamiyyah tercipta d’wilayah Suriah”.. yaitu ::
    = apakah seluruh kaum Muslimin d’bumi ini wajib untuk ber Bai’at kepada Pemimpin tertinggi Daulah Islamiyyah disana (di’Suriah) .? ataukah kewajiban ber Bai’at ini hanya d’pikul oleh orang-orang Islam yang posisinya berada d’wilayah suriah saja.?

  99. abisyakir berkata:

    @ Zaenal…

    Kewajiban Ba’iat itu adalah kepada Imam. Imam/amir tertinggi dalam Islam, adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Islamiyyah. Di bawah Khilafah itu ada Daulah-daulah, masing-masing Daulah memiliki amir.

    Kalau berdiri sebuah Daulah Islam, itu belum tentu menjadi Khilafah. Daulah tersebut harus bisa menyatukan wilayah-wilayah kaum Muslimin di dunia, sehingga menjadi sebuah Khilafah. Kalau sudah tegak Khilafah, lalu dia menjadi pemimpin kaum Muslimin sedunia; ya saat itu hukum berbaiat kepada Khalifah menjadi wajib.

    Tetapi kalau baru Daulah, maka wajibnya berlaku bagi orang-orang di Daulah itu. Sebab bai’at ini kan juga berkaitan dengan hak-kewajiban. Imam dibai’at, dia bertanggung-jawab menjaga kehidupan orang-orang yang berbaiat kepadanya. Tidak mungkin seseorang berbaiat dari jauh, sementara imam tidak berbuat apapun atas dirinya. Padahal dalam hadits: “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an raiyatih” (setiap kalian pemimpin, setiap kalian akan ditanya tentang rakyatnya).

    Namun bisa juga, bagi yang mau hijrah ke Daulah itu, lalu berbaiat kepada amir/imam disana.

    Admin.

  100. tria oktariani berkata:

    Ustadz izin share ya…
    شكرا كثيرا
    جَزَاك اللّهُ خَيْرًا

  101. masa_git berkata:

    Bismillah
    Awwalan saya ingin mengucapkan terimakasih kepada ust Abi Syakir atas tulisan-tulisannya dan PENGELOLAAN diskusinya. Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan-Nya dan menganugerahkan istiqomah plus kearifan kepada ustd dalam usahanya memperjuangkan Al haq.
    Komen saya ini barangkali kurang update dengan artikelnya, namun memang ada beberapa hal yang masih menjadi pemikiran saya khususnya tentang bid’ah.
    Sebelum membaca artikel beserta diskusinya, saya tidak jauh berbeda dalam memahami bid’ah sebagaimana ustd. Abi Syakir. Saya lebih mudah memahami kaidah usul bahwasanya IBADAH ITU MENUNGGU (PERINTAH/CONTOH), sehingga perbuatan ritual apapun (cat: dengan pembakuan waktu, tatacara dan tempat) yang tidak ada dasar perintah/contohnya baik dari Al Quran maupun sunah Rasul, maka ia dikategorikan bid’ah dan tidak ada beban/tuntutan atas diri kita untuk melaksanakannya.Sebaliknya saya agak sulit memahami kaidah suatu perbuatan (ritual) itu BOLEH DILAKUKAN KARENA TIDAK ADA DALIL YANG MELARANG.
    Sedianya saya berharap dapat jawaban dari diskusi tersebut tentang apa sajakah amalan2 yang dikategorikan bid’ah oleh saudara2 kita (baca : kaum nahdiyyin). Karena pabila menurut pemahaman saya di atas, menentukan amalan yang dikategorikan bid’ah itu sederhana, sebaliknya menurut pemahaman mereka tidak semua kreasi ibadah itu bisa dikategorikan bid’ah, bahkan kecenderungannya semua diterima sebagai amalan yang baik. Jangan katakan kepada saya bahwa bid’ah itu shalat subuh 5 raka’at, karena meskipun secara teori benar itu bid’ah, namun pada kenyataannya tidak pernah ada yang melakukannya (kalaupun ada bukanlah amalan yang dikenal di kelompok manapun). Bagi saya BID’AH ITU NYATA dan seharusnya dapat diidentifikasi oleh kaum muslimin, mengingat hadits Rasulullah saw akan peringatan BAHAYANYA perbuatan tersebut.
    Dalam kumpulan hadits 40 imam AnNawawi yang bermadzhab syafiie, hadits no.28 tentang wasiat Rasulullah saw. Digambarkan bahwasanya Rasulullah saw ketika berwasiat beliau sangat serius, bahkan para sahabat menyangka inilah wasiat terakhir dan perpisahan dari Nabi. Saking seriusnya para sahabat bergetar dan merinding mendengarnya bahkan sampai menitikkan air mata. Hal-hal yang dianggap serius oleh Rasulullah saw lewat hadits tersebut dapat kita ringkas sbb :
    1. Mentaati pemimpin dalam ketaqwaan.
    2. Akan datangnya zaman penuh perselisihan umat.
    3. Berpegang teguh pada sunah nabi saw beserta khulafaur rasyidin.
    4. WASPADAI BID’AH karena hal itu menyesatkan, sumber perpecahan dan perselisihan umat (pen).
    Dan dari hadits2 semisal inilah kemudian saudara2 kita (yang sering dikata2i wahabi) menjadi sensitif terhadap hal2 yang muhdats (seakan-akan mereka punya radar pendeteksi bid’ah). Namun bukankah sudah sewajarnya kita yang mengaku pengikut Almusthafa saw memperhatikan dengan sungguh2 wasiat beliau? Saya sepakat untuk tidak sembrono menuduh suatu amalan itu bid’ah (terlebih dengan cara2 yang kurang santun). Tetapi mestinya kitapun harus berhati2 dalam mengerjakan amalan2 yang dinisbahkan pada syari’at Islam. Karena sekali lagi BID’AH ITU NYATA! sebab Rasulullah saw sudah mewanti2 (dan para sahabat BUKANLAH orang2 lebay pake nangis2 segala).
    Pertanyaan …apakah kita BERDOSA apabila kita menyelisihi Imam2 madzhab untuk tidak melakukan perkara2 khususnya dalam hal ijtihad tentang amalan2 yang tidak ada perintah atau contohnya langsung dari Allah dan RasulNya?
    Pertanyaan…apakah para imam memang memiliki kewenangan mutlak untuk menentukan suatu amalan itu statusnya wajib, sunah, makruh, bid’ah dsb? Apakah boleh kita menyelisihi mereka dengan ayat2 dan hadits2 yang shahih?
    Mengenai ritual selametan tahlilan, menurut saya ada masalah lain selain sekedar boleh atau tidak boleh dilakukan. Seperti testimony komen2 di atas bahwasanya masyarakat awam dan umum di negara kita sudah salah kaprah dalam menempatkan STATUS HUKUMNYA. Dan itulah seharusnya yang diperjelas oleh para kyiai dan ustadz pemimpin upacara tersebut. Alangkah eloknya apabila di awal ritual tersebut dinyatakan pada umat bahwasanya upacara yang diselenggarakan ini adalah BID’AH HASANAH! Yang berarti tidak ada beban/tuntutan pelaksanaan padanya, bahkan bisa bergeser jadi HARAM seandainya biaya penyelenggaraannya diambil dari harta waris si mayyit! Sehingga umat tidak terlalu mengandalkan sekaligus terbebani oleh ritual tersebut. BUKANKAH KETIKA UMAT MENYANGKA TAHLILAN ITU WAJIB MAKA SUDAH JATUH VONIS BID’AH PADANYA.
    Mengapa kita tidak memilih untuk memahamkan umat pada wasiat Nabi saw, khususnya tentang amalan anak adam yang terputus setelah meninggal dunia. Dalam hadits tersebut dinyatakan “…waladun sholihun yad’u lahu…” sholeh pada kalimat tersebut menunjukkan sifat(atribut) dari sang anak. Sehingga tidak sembarang anak yang du’anya akan sampai kepada si mayyit, tetapi khusus ANAK YANG SHOLEH! Bayangkan implikasi dari hadits ini. Seseorang yang mencintai orangtuanya, ketika mereka diwafatkan dia akan mendu’akan keduanya, sambil berusaha sekuat tenaga men-SHOLEHKAN dirinya, karena sholeh itu menjadi SYARAT sampainya du’a. sebaliknya, seorang tua yang memiliki anak2 akan berusaha sekuat tenaga untuk mendidik mereka agar kelak menjadi anak2 yang sholeh, karena dengan itulah mereka bisa menolong orangtuanya. Kenyataanya di masyarakat kita lebih banyak orang2 yang mengandalkan pada ritual2 semata, dan menganggap hal itu cukup bagi mereka, sementara di sisi lain mereka teledor dengan pendidikan agama bagi dirinya dan anak2nya.
    Perbedaan yang saya temukan pada kelompok yang sederhana dalam memahami bid’ah, mereka juga senantiasa peduli dan mendawamkan amaliyah sunnah yang terbilang langka dan kurang memasyarakat. Seperti akikah di hari ketujuh, sholat gerhana, mengqashar shalat, shaum arafah, shaum asyura, waris dsb, yang memang dalilnya sudah terang benderang. Sebaliknya yang tidak terlalu risau dengan perkara2 syubhat bid’ah ini justru jarang memperhatikan bahkan mengetahui perkara2 sunah seperti itu.
    Singkatnya, janganlah menganggap orang2 yang membid’ahkan sesuatu itu MENYERANG para pelaku dan amalannya. Sesungguhnya itu hanyalah sekedar nasihat demi keselamatan pelaku, syari’at dan kemaslahatan umat. Seandainya kita meninggalkan perkara2 syubhat itu BUKANKAH KITA TIDAK BERDOSA? Dan pada saat yang sama kitapun telah memadamkan perselisihan? Dan merekatkan ukhuwah?
    Akhiran saya mengulang Ust. Abi Syakir yang sering mengutip perkataan Sahabat ibnu Mas’ud : sederhana dalam sunah itu lebih aku sukai (?) daripada berlebihan dalam bid’ah. Demikian, terimakasih dan mohon maaf.

  102. abisyakir berkata:

    @ masa_git…

    Sama-sama Akhi, syukran jazakumullah khair sudah mampir dan berdiskusi. Alhamdulillah. Amin Allahumma amin, atas doa yang disampaikan. Semoga manfaat bagi kami, bagi Antum, juga kaum Muslimin.

    Secara umum saya setuju dengan pandangan Antum dan respek, alhamdulillah. Sekedar menambahkan, dalam kaidah ushul kan ada ungkapan: Al ashlu fil ‘ibadah haramun (asal semua ibadah itu haram). Jadi ibadah ritual itu asalnya haram, kecuali yang ada dalil printahnya untuk dilakukan. Ritual-ritual yang kerap disebut bid’ah itu memang umumnya tidak ada contohnya dari perbuatan Nabi Saw. Dari pengalaman, awal mula meninggalkan ritual2 seperti itu sangatlah berat di hati; tapi kalau sudah ditinggalkan, rasanya hidup kita prlahan-lahan serasa ringan, lapang, mudah. Hanya yang demikian belum dibuktikan oleh kawan-kawan itu. Cobalah…nanti Anda akan memahaminya, insya Allah.

    Skali lagi syukran jazakumullah khair.

    Admin.

  103. Amien Ahmad berkata:

    agh.,.,.,.,
    jd tmbh bingung bacanya gk kelar2 mslhnya,.,.
    mdh2 an allah memberikan hdyh dan menguatkan iman qt smua,..,.

  104. COBA BACA INI DENGAN BAIK-BAIK DAN BIJAK

    Bid’ah saat ini menjadi sebuah bahasa yang menyeramkan karena sebagian kelompok menilainya sebagai kesesatan, seluruhnya tanpa terkecuali. Bagi mereka, setiap amalan dalam agama yang tidak dilakukan oleh Nabi, atau menentukan waktu ibadah dengan cara-cara tertentu adalah bid’ah yang sesat dan pelakunya akan masuk neraka.
    Namun pernahkah terlintas dalam pikiran bahwa para ahli hadis yang meriwayatkan hadis tentang bid’ah, ternyata juga melakukan bid’ah. Apakah ahli hadis itu melakukan bid’ahnya tanpa sadar? Tidak tahukah kalau semua bid’ah adalah sesat? Kalaulah mereka mengaku bahwa semua bid’ah sesat, sementara para ahli hadis melakukan perbuatan bid’ah, seperti Imam Bukhari yang salat saat setiap menulis hadisnya di dalam kitab Sahih (padahal tidak ada perintah dari Nabi dan Imam Bukhari menentukan sendiri tidak berdasarkan tuntunan Syar’i), lalu mengapa sampai saat ini mereka sering memakai hadis-hadis riwayat Imam Bukhari? riwayat Imam Ahmad, Imam Malik dan sebagainya?
    Jika para ahli hadis banyak yang melakukan bid’ah, berarti ada kesalahan dalam memahami semua bid’ah sesat. Sebab diakui atau tidak, para ahli hadis lebih mengetahui makna bid’ah yang mereka riwayatkan dalam hadis-hadisnya, bahwa ‘Tidak semua bid’ah sesat’.
    Contohnya adalah beberapa penentuan waktu salat yang dilakukan oleh ulama Ahli Hadis, mulai yang melakukan ratusan rakaat dalam sehari, hingga yang salat sampai ribuan rakaat dalam tiap harinya:
    1. Imam al-Bukhari (15126 rakaat)
    وقال الفربري قال لي البخاري: ما وضعت في كتابي الصحيح حديثاً إلا اغتسلت قبل ذلك وصليت ركعتين
    (طبقات الحفاظ – ج 1 / ص 48 وسير أعلام النبلاء 12 / 402 وطبقات الحنابلة 1 / 274، وتاريخ بغداد 2 / 9، وتهذيب الاسماء واللغات 1 / 74 ووفيات الاعيان 4 / 190، وتهذيب الكمال 1169، وطبقات السبكي 2 / 220، ومقدمة الفتح 490 وتهذيب التهذيب 9 / 42)
    “al-Farbari berkata bahwa al-Bukhari berkata: Saya tidak meletakkan 1 hadis pun dalam kitab Sahih saya, kecuali saya mandi terlebih dahulu dan saya salat 2 rakaat”
    (Diriwayatkan oleh banyak ahli hadis, diantaranya dalam Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/48, Siyar A’lam an-Nubala’, al-Hafidz adz-Dzahabi 12/402, Thabaqat al-Hanabilah, 1/274, Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzib al-Asma, Imam an-Nawawi, 1/74, Wafayat al-A’yan 4/190, Tahdzib al-Kamal, al-Hafidz al-Mizzi 1169, Thabaqat as-Subki 2/220, dan al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Muqaddimah al-Fath 490 dan at-Tahdzib 9/42)
    Sedangkan hadis yang tertera dalam Sahih al-Bukhari berjumlah 7563 hadis. Maka salat yang beliau lakukan juga sesuai jumlah hadis tersebut atau 15126 (lima belas ribu seratus dua puluh enam) rakaat.
    وروينا عن عبد القدوس بن همام، قال: سمعت عدة من المشايخ يقولون: حول البخارى تراجم جامعه بين قبر النبى – صلى الله عليه وسلم – ومنبره، وكان يصلى لكل ترجمة ركعتين (تهذيب الأسماء – (1 / 101)
    “Kami meriwayatkan dari Abdul Quddus bin Hammam, bahwa ia mendengar dari para guru yang berkata seputar al-Bukhari ketika menulis bab-bab salam kitab Sahihnya diantara makam Nabi dan mimbarnya, dan al-Bukhari salat 2 rakaat dalam tiap-tiap bab” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/101)
    2. Imam Malik bin Anas (800 rakaat)
    حدثنا أبو مصعب و أحمد بن إسماعيل قالا مكث مالك بن أنس ستين سنة يصوم يوماً ويفطر يوماً وكان يصلي في كل يوم ثمانمائة ركعة (طبقات الحنابلة 1 / 61)
    “Abu Mush’ab dan Ahmad bin Ismail berkata: Malik bin Anas berpuasa sehari dan berbuka sehari selama 60 tahun dan ia salat setiap hari 800 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/61)
    3. Imam Ahmad Bin Hanbal (300 rakaat)
    – قال ابو يحي وسمعت بدر بن مجاهد يقول سمعت أحمد بن الليث يقول سمعت أحمد بن حنبل يقول إنى لأدعو الله للشافعى فى صلاتى منذ أربعين سنة يقول اللهم اغفر لى ولوالدى ولمحمد بن إدريس الشافعى (طبقات الشافعية الكبرى للسبكي ج 3 / ص 194 ومناقب الشافعي للبيهقي 2-254)
    “Sungguh saya berdoa kepada Allah untuk Syafii dalam salat saya sejak 40 tahun. Doanya: Ya Allah ampuni saya, kedua orang tua saya dan Muhammad bin Idris asy-Sfafii” (Thabaqat al-Syafiiyah al-Kubra, as-Subki, 3/194 dan Manaqib asy-Syafii, al-Baihaqi, 2/254)
    – قال عبد الله بن أحمد: كان أبي يصلي في كل يوم وليلة ثلاث مئة ركعة. فلما مرض من تلك الأسواط أضعفته، فكان يصلي في كل يوم وليلة مئة وخمسين ركعة، وقد كان قرب من الثمانين (مختصر تاريخ دمشق لابن رجب الحنبلي ج 1 / ص 399)
    “Abdullah bin Ahmad berkata: Bapak saya (Ahmad bin Hanbal) melakukan salat dalam sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Ketika beliau sakit liver, maka kondisinya melemah, beliau salat dalam sehari semalam sebanyak 150 rakaat, dan usianya mendekati 80 tahun” (Mukhtashar Tarikh Dimasyqa, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/399)
    جعفر بن محمد بن معبد المؤدب قال: رأيت أحمد بن حنبل يصلي بعد الجمعة ست ركعات ويفصل في كل ركعتين (طبقات الحنابلة 1 / 123)
    “Jakfar bin Muhammad bin Ma’bad berkata: Saya melihat Ahmad bin Hanbal salat 6 rakaat setelah Jumat, masing-masing 2 rakaat” (Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 1/123)
    4. Imam Basyar bin Mufadlal (400 rakaat)
    بشر بن المفضل بن لاحق البصري الرقاشي أبو إسماعيل. قال أحمد: إليه المنتهى في التثبت بالبصرة وكان يصلى كل يوم أربعمائة ركعة ويصوم يوماً ويفطر يوماً وكان ثقة كثير الحديث مات سنة ست وثمانين ومائة (طبقات الحفاظ 1 / 24)
    “Imam Ahmad berkata tentang Basyar bin Mufadzal al-Raqqasyi: Kepadanyalah puncak kesahihan di Bashrah. Ia salat setiap hari sebanyak 400 rakaat, ia puasa sehari dan berbuka sehari. Ia terpercaya dan memiliki banyak hadis, wafat 180 H” (Thabaqat al-Huffadz, al-Hafidz as-Suyuthi,1/24)
    5. Cucu Sayidina Ali (1000 rakaat)
    ذو الثفنات علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب زين العابدين سمي بذلك لأنه كان يصلى كل يوم ألف ركعة فصار في ركبتيه مثل ثفنات البعير (تهذيب الكمال – 35 / 41)
    “Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, hiasan ahli ibadah, disebut demikian karena ia salat dalam sehari sebanyak 1000 rakaat, sehingga di lututnya terdapat benjolan seperti unta” (Tahdzib al-Asma’, al-Hafidz al-Mizzi, 35/41)
    وقال مالك بلغني أنه (علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب) كان يصلي في اليوم والليلة ألف ركعة إلى أن مات (تذكرة الحفاظ للذهبي 1 / 60)
    “Malik berkata: Telah sampai kepada saya bahwa Ali bin Husain salat dalam sehari semalam 1000 rakaat sampai wafat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/60)
    6. Maimun bin Mahran (17000 rakaat)
    ويروى ان ميمون بن مهران صلى في سبعة عشر يوما سبعة عشر الف ركعة (تذكرة الحفاظ 1 / 99)
    “Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mahran salat dalam 17 hari sebanyak 17000 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dahabi, 1/99)
    7. Basyar bin Manshur (500 rakaat)
    قال ابن مهدى ما رأيت أحدا أخوف لله منه وكان يصلي كل يوم خمسمائة ركعة وكان ورده ثلث القرآن (تهذيب التهذيب 1 / 403)
    “Ibnu Mahdi berkata: Saya tidak melihat seseorang yang paling takut kepada Allah selain Basyar bin Manshur. Ia salat dalam sehari 500 rakaat, wiridannya adalah 1/3 al-Quran” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 1/403)
    8. al-Harits bin Yazid (600 rakaat)
    الحارث بن يزيد قال احمد ثقة من الثقات وقال العجلي والنسائي ثقة وقال الليث كان يصلي كل يوم ستمائة ركعة (تهذيب التهذيب 2 / 142)
    “Ahmad berkata: Terpercaya diantara orang-orang terpercaya. Laits berkata: al-Harits salat dalam sehari 600 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/142)
    9. Ibnu Qudamah (100 rakaat)
    ولا يسمع ذكر صلاة إلا صلاها، ولا يسمع حديثاً إلا عمل به. وكان يصلَّي بالناس في نصف شعبان مائة ركعة، وهو شيخ كبير (ذيل طبقات الحنابلة ابن رجب 1 / 203)
    “Ibnu Qudamah tidak mendengar tentang salat kecuali ia lakukan. Ia tidak mendengar 1 hadis kecuali ia amalkan. Ia salat bersama dengan orang lain di malam Nishfu Sya’ban 100 rakaat, padahal ia sudah tua” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/203)
    وكان يصلِّي بين المغرب والعشاء أربع ركعات، يقرأ فيهن السَّجدة، ويس، وتبارك والدخان. ويصلَّي كل ليلة جمعة بين العشاءين صلاة التسبيح ويطيلها، ويصلَّي يوم الجمعة ركعتين بمائة ” قل هو الله أحد ” الإخلاص، وكان يصلي في كل يوم وليلة اثنتين وسبعين ركعة نافلة، وله أوراد كثيرة. وكارْ يزور القبور كل جمعة بعد العصر (ذيل طبقات الحنابلة – 1 / 204)
    “Ibnu Qudamah salat antara Maghrib dan Isya’ sebanyak 4 rakaat, dengan membaca surat Sajdah, Yasin Tabaraka dan ad-Dukhan. Beliau salat Tasbih setiap malam Jumat antara Maghrib dan Isya’ dan memanjangkannya. Di hari Jumat ia salat 2 rakaat dengan membaca al-Ikhlas 100 kali. ia salat sunah sehari semalam sebanyak 72 rakaat. ia memiliki banyak wiridan. Ia melakukan ziarah kubur setiap Jumat setelah Ashar” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/204)
    10. Umair bin Hani’ (1000 sujud)
    كان عمير بن هانئ يصلي كل يوم الف سجدة ويسبح مائة الف تسبيحة (تهذيب التهذيب 8 / 134)
    “Umair bin Hani’ salat dalam sehari sebanyak 1000 sujud dan membaca tasbih sebanyak 100.000” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 8/134)
    11. Murrah bin Syarahil (600 rakaat)
    قلت: هو قول ابن حبان في الثقات زاد وكان يصلي كل يوم ستمائة ركعة وقال العجلي تابعي ثقة وكان يصلي في اليوم والليلة خمسمائة ركعة (تهذيب التهذيب 10 / 80)
    “Ibnu Hibban menambahkan bahwa Marrah bin Syarahil salat dalam sehari 600 rakaat. al-Ajali berkata, ia tabii yang tsiqah, ia salat dalam sehari 500 rakaat” (Tahdzib at-Tahdzib, al-Hafidz Ibnu Hajar, 10/80)
    12. Abdul Ghani (300)
    وسمعت يوسف بن خليل بحلب يقول عن عبد الغني: كان ثقة، ثبتاً، ديناً مأموناً، حسن التصنيف، دائم الصيام، كثير الإيثار. كان يصلي كل يوم وليلة ثلاثمائة ركعة (ذيل طبقات الحنابلة 1 / 185)
    “Abdul Ghani, ia terpercaya, kokoh, agamis yang dipercaya, banyak karangannya, selalu puasa, selalu mendahulukan ibadah. Ia salat dalam sehari semalam 300 rakaat” (Dzail Thabaqat al-Hanabilah, Ibnu Rajab al-Hanbali, 1/185)
    13. Abu Ishaq asy-Syairazi (Tiap bab dalam kitab)
    وقال أبو بكر بن الخاضبة سمعت بعض أصحاب أبي إسحاق ببغداد يقول كان الشيخ يصلي ركعتين عند فراغ كل فصل من المهذب (طبقات الشافعية الكبرى 4 / 217)
    “Abu Bakar abin Khadhibah berkata: Saya mendengar dari sebagian santri Abu Ishaq di Baghdad bahwa Syaikh (Abu Ishaq) salat 2 rakaat setiap selesai menulis setiap Fasal dalam Muhadzab” (Thabaqat asy-Syafiiyat al-Kubra, as-Subki, 4/217)
    14. Qadli Abu Yusuf (200 rakaat)
    وقال ابن سماعة كان أبو يوسف يصلي بعد ما ولي القضاء في كل يوم مائتي ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي 1 / 214)
    “Ibnu Sama’ah berkata: Setelah Abu Yusuf menjadi Qadli, ia salat dalam sehari sebanyak 200 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 1/214)
    15. Ali bin Abdillah (1000 rakaat)
    وقال أبو سنان: كان على بن عبد الله يصلى كل يوم ألف ركعة (تهذيب الأسماء 1 / 492)
    “Abu Sanan berkata: Ali bin Abdillah salat dalam sehari 1000 rakaat” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/492)
    16. al-Hafidz ar-Raqqasyi (400 rakaat)
    الرقاشي الإمام الثبت الحافظ أبو عبد الله محمد بن عبد الله بن محمد بن عبد الملك البصري: أبو حاتم وقال: ثقة رضا وقال العجلي: ثقة من عباد الله الصالحين وقال يعقوب السدوسي: ثقة ثبت قال العجلي: يقال: إنه كان يصلي في اليوم والليلة أربعمائة ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي – 2 / 37)
    “ar-Raqqasyi, terpercaya, ia salat dalam sehari semalam 400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/73)
    17. Abu Qilabah (400 rakaat)
    وقال أحمد بن كامل القاضي: حكي أن أبا قلابة كان يصلي في اليوم والليلة أربعمائة ركعة (تذكرة الحفاظ للذهبي 2 / 120)
    “Qadli Ahmad bin Kamil berkata: Diceritakan bahwa Abu Qilabah salat dalam sehari semalam sebanyak 400 rakaat” (Tadzkirah al-Huffadz, al-Hafidz adz-Dzahabi, 2/120)
    18. Cucu Abdullah bin Zubair (1000 rakaat)
    مصعب بن ثابت بن عبد الله بن الزبير وكان مصعب يصلي في اليوم والليلة ألف ركعة ويصوم الدهر (صفة الصفوة 2 / 197- والإصابة في تمييز الصحابة 2 / 326)
    “Mush’ab bin Tsabit bin Abdillah bin Zubair, ia salat dala sehari semalam 1000 rakaat” (Shifat ash-Shafwah, Ibnu Jauzi, 2/197 dan al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 2/326)
    19. Malik Bin Dinar (1000 rakaat)
    وروى بن أبي الدنيا من طرق انه كان فرض على نفسه كل يوم ألف ركعة (الإصابة في تمييز الصحابة 5 / 77)
    “Ibnu Abi Dunya meriwayatkan dari beberapa jalur bahwa Malik bin Dinar mewajibkan pada dirinya sendiri untuk salat 1000 rakaat dalam setiap hari” (al-Ishabah, al-Hafidz Ibnu Hajar, 5/77)
    20. Bilal Bin Sa’d (1000 rakaat)
    وقال الاوزاعي كان بلال بن سعد من العبادة على شئ لم يسمع باحد من الامة قوى عليه كان له في كل يوم وليلة الف ركعة (تهذيب التهذيب 1 / 441)
    “Auzai berkata: dalam masalah ibadah tidak didengar 1 orang yang lebih kuat daripada Bilal bin Sa’d, ia salat 1000 rakaat setiap hari” (Tahdzib al-Asma’, an-Nawawi, 1/441)

    jadi sangatlah jelas, bahwa semua bid’ah tidak bisa dikategorikan sesat, jika dikatakan semuanya sesat, maka akan tolak belakang dengan apa yang dilakukan oleh para ulama’ salaf yang memahami bid’ah itu tidak semuanya sesat, jika masih ada yang berani menuduh sesat kepada para ulama’ di atas, maka hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhori, imam malik dan yang lainnya semuanya adalah mardud (ditolak) padahal pada kenyataannya para wahabiyyun dan sesamanya tetap saja menggunakan hadits yang diriwayatkan oleh para ulama’ di atas

  105. Ketika Ibn Baz ditanya tentang bagaimana hukum berdoa khatam al-Quran di dalam sholat, oleh Ibn Baz dijawab :
    مجموع فتاوى ابن باز (30/ 35)
    وكان أنس رضي الله عنه إذا أكمل القرآن جمع أهله ودعا رضي الله عنه في خارج الصلاة، أما في الصلاة فلا أحفظ عنه شيئا في ذلك ولا عن غيره من الصحابة، لكن ما دام يفعله في خارج الصلاة، فهكذا في الصلاة؛ لأن الدعاء مشروع في الصلاة، وليس بأمر مستنكر. ولا أعلم عن السلف أن أحدا أنكر دعاء ختم القرآن في داخل الصلاة، كما أنني لا أعلم من أنكره خارج الصلاة، وهذا هو الذي يعتمد عليه أنه معلوم عند السلف، وقد درج عليه أولهم وآخرهم، فمن قال إنه منكر فعليه بالدليل.
    “ Konon Anas Radhiallahu ‘anhu jika telah menyempurnakan al-Quran beliau mengumpulkan keluarganya dan berdoa di luar sholat. Adapun di dalam sholat, maka aku tidak menghafal (tidak ingat) sedikit pun dari hal itu dan juga aku tidak mengetahui dari para sahabatnya, akan tetapi selama boleh dilakukannya di luar sholat, maka demikian juga boleh dilakukan di luar sholat. Karena doa itu disyare’atkan di dalam sholat dan bukanlah perkara yang diingkari. Dan aku pun tidak mengetahui seorang pun dari ulama salaf yang mengingkari doa khatam al-Quran di dalam sholat, sebagaimana aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikarinya jika dilakukan di luar sholat. Inilah yang maklum yang dipegang bagi ulama salaf dan hal ini (berdoa khatam Quran di luar sholat) telah menjadi rutinan sejak awal hingga akhir salaf, maka barangsiapa yang mengingkarinya, wajib ia menampilkan dalilnya “
    Coba perhatikan, Ibn Baz meyakini bahwa amalan berdoa khatam al-Quran di dalam sholat tidak pernah dilakukan oleh sahabat dan bahkan ulama salaf, maka seharusnya (sewajibnya) Ibn Baz mengatakan hal itu adalah bid’ah, karena jika membaca doa khatam al-Quran itu suatu kebaikan, sudah pasti para sahabat dan ulama salaf telah lebih dahulu melakukannya…inilah seharusnya yang mereka katakana, karena ini kaidah mereka. Tapi ternyata Ibn Baz membuat Qiyas dalam suatu ibadah dengan diperbolehkannya doa di luar sholat tanpa dalil satu pun. Bukankah semua ini mementang kaidah mereka sendiri ??

  106. abisyakir berkata:

    @ All

    Terimakasih untuk semua komen, kritik, masukan, share, dan sebagainya. Semoga bermanfaat.

    Admin.

%d blogger menyukai ini: