Kasus KPK dan Kekalutan Regim NEOLIB

November 3, 2009

Saat ini masyarakat lagi ramai-ramainya membicarakan perseteruan antara KPK dan Polri yang kerap digambarkan sebagai pertarungan “Cicak Vs Buaya”. Isu sangat kuat ketika beredar transkrip rekaman pembicaraan telepon yang disinyalir sebagai upaya KRIMINALISASI pejabat-pejabat non aktif KPK. Lebih kuat lagi, ketika Chandra Hamzah dan Bibit Samad Irianto ditahan pihak Kepolisian dengan alasan-alasan yang (kata para praktisi hukum) lemah. Begitu kuatnya isu ini sampai Presiden RI turun tangan, memanggilkan tokoh-tokoh tertentu, lalu mendorong dibentuknya TPF dalam kasus penahanan Bibit-Chandra. Banyak tokoh nasional, cendekiawan, mahasiswa, santri, dan masyarakat luas mendukung KPK dan pembebasan Bibit-Chandra. Dari komunitas facebookers, saat ini sudah terkumpul dukungan bagi Bibit-Chandra sekitar 500 ribu pengguna.

Kalau mau jujur, sebenarnya ini masalah apa sih? Apa itu kasus KPK? Kriminalisasi pejabat KPK? Apa itu “Cicak Vs Buaya”? Apa itu “Lautan Nyamuk Korupsi” di Indonesia? Mengapa ada dukungan bagi gerakan anti korupsi? Mengapa pihak Kepolisian terkesan membela pejabatnya (Susno Duadji)? Dan lain-lain pertanyaan.

BUKAN MASALAH SEPELE

Sepintas lalu, masalah yang timbul di atas adalah kasus perseteruan antara Bibit-Chandra dan pejabat-pejabat Polri. Atau lebih meluas, perseteruan wewenang antara KPK dan Polri. Tetapi sejatinya, masalah ini tidak sesepele itu. Di balik masalah ini ada PERSETERUAN POLITIK yang amat sangat kuat. Hanya masalahnya, apakah kita bisa membaca ke arah sana atau tidak? Semoga Allah memberi pengetahuan yang bermanfaat. Amin.

Singkat kata, kasus KPK ini kuat kaitannya dengan regim NEOLIB yang berkuasa saat ini. Berkaitan dengan fenomena korupsi yang sudah berurat-berakar di Tanah Air. Berkaitan dengan kepentingan negara-negara asing yang ingin mempertahankan kuku KOLONIALISME-nya di Indonesia. Berkaitan dengan nasib kehidupan bangsa Indonesia ke depan. Bahkan berkaitan dengan eksistensi Indonesia itu sendiri.

Lho, kok sebegitu jauh ya? Ya memang, sedemikian jauh. Oleh karena itu bersabarlah untuk memahaminya.

Fakta Regim NEOLIB

Kita sudah sama-sama tahu bahwa Pemerintah KIB II ini tidak jauh beda dengan KIB I lalu. Haluan Pemerintahannya NEOLIB. Indikasinya adalah tim ekonominya tidak berubah dari sebelumnya. Bahkan disana seorang mantan pejabat elit IMF, Boediono, diangkat sebagai Wapres sekaligus mengepalai tim ekonomi. Boediono-lah yang selama menjabat menjadi Menkeu menjadi operator penerapan butir-butir Letter of Intents IMF yang akibatnya melumpuhkan ekonomi nasional. Boediono, Sri Mulyani, Marie Elka Pangestu, Purnomo Yusgiantoro (waktu itu Menteri ESDM) sudah sangat dikenal sebagai tim Neolib Indonesia.

Jadi fakta ini sudah tidak terbantahkan lagi. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menyebut KIB II sebagai Regim Neolib. Banyak pakar dan cendekiawan yang bisa memberikan data-data lebih luas lagi.

BARAT Benci Korupsi???

Di mata negara Barat, Indonesia sudah terkenal sebagai negara terkorup. Sejak jaman Soeharto “gelar terkorup” itu sudah nangkring di pundak Indonesia. Begitu pula ketika di jaman Reformasi, korupsinya semakin gila-gilaan. Bayangkan, seorang Kabareskrim Polri sampai ketahuan meminta jatah “uang jasa” karena berhasil mencairkan uang pengusaha dari Bank Century sekian-sekian. Itu contoh terbaru yang masih “panas”. Bank Century sendiri merupakan Mega Skandal yang sedang diproses di DPR untuk tujuan penerapan Hak Angket. Intinya, Indonesia sudah lama terkenal sebagai negara terkorup.

Pertanyaannya, apakah Barat benci dengan fenomena korupsi di Indonesia?

Jawabnya:

[1] Di atas permukaan, Barat sangat membenci fenomena korupsi itu, sebab selama ini mereka mengklaim sebagai negara-negara yang bersih dari korupsi. Wajar, jika mereka mengklaim anti korupsi. Bahkan Barat membiayai LSM-LSM “nyamuk” sekedar untuk membuktikan ke publik Indonesia bahwa mereka benci korupsi.

[2] Di bawah permukaan, Barat sangat senang dengan segala bentuk kebejatan korupsi, penyelewengan wewenang, kolusi, suap, mark up, dan segala bentuk praktik korupsi. Demi Allah, sebenarnya Barat amat sangat senang dengan segala kebejatan korupsi ini. Demi Allah, suburnya korupsi di Indonesia itulah yang Barat inginkan.

Lho, kok bisa bangsa-bangsa Barat suka dengan korupsi di Indonesia?

Jelas, dan sangat jelas itu. Hanya jika di Indonesia subur korupsi, maka mereka akan mampu menguasai negara ini dengan jaring-jaring Kapitalisme-nya. Kalau Indonesia bersih korupsi, bersih penyimpangan, bersih kolusi, dll. maka ekonomi Kapitalis-Liberalis Barat tidak akan hidup di Indonesia. Dalam keadaan Indonesia bersih korupsi, bersih lahir-bathin, dari Pusat sampai Daerah, maka tidak mungkin Barat akan mampu menguasai sumber-sumber ekonomi di Indonesia. Itu mustahil dan sangat mustahil.

Kalau Indonesia bersih korupsi, maka para pejabat akan hidup jujur, tidak menerima suap, sangat nasionalis, peduli dengan pekerjaan, taat dengan tugas, komitmen mensejahteraan rakyat. Tetapi kalau Indonesia subur korupsi, maka Barat akan sangat mudah membeli pejabat-pejabat Indonesia, membeli Presiden, Wakil Presiden, Menteri-menteri, Gubernur, Walikota, dll. Dengan sedikit trik korupsi, suap, dan kolusi, pejabat-pejabat itu tak berdaya dengan iming-iming harta berlimpah. Akhirnya, mereka menggadaikan negara demi melayani Barat. Regim NEOLIB tidak akan mampu bangkit di Indonesia, kalau negeri ini bersih korupsi.

Perlu diingat, strategi debt trap (jebakan hutang) yang diterapkan di Indonesia sejak jaman Soeharto, hal itu bisa berhasil karena suburnya iklim korupsi di negeri ini. Sebaliknya, ketika China menghukum mati ratusan koruptor-koruptornya, negara itu semakin peduli dengan nasib rakyatnya sendiri. Jadi korupsi itu berbanding terbalik dengan nasib baik sebuah bangsa.

AKAR KORUPSI

Korupsi di Indonesia sudah mendarah daging. Hampir setiap orang yang memiliki kuasa dan kesempatan, cenderung melakukan korupsi. Apalagi hukum di Indonesia mudah dibeli oleh para koruptor. Contoh sederhana, beberapa waktu lalu kita semua melihat betapa populernya kasus “Rekaman percakapan Artalita Suryani” dengan pejabat-pejabat Kejaksaan Agung. Coba lihat, apa kasus itu tidak penting? Apa sikap arogan Artalita yang begitu mudah menginjak-injak institusi Kejaksaan Agung sesuatu yang sifatnya remeh? Tetapi saat ini, masalah Artalita ini sudah seperti “peti mati” yang tidak diungkit-ungkit lagi. Begitu cepat kasus terkenal, begitu cepat dilupakan.

Korupsi di Indonesia sudah begitu mengerikan. Hampir setiap meja birokrasi, semua “berbau” korupsi, termasuk birokrasi di Departemen Agama yang seharusnya lebih mengerti tentang moral. Korupsi aparat penegak hukum bukan barang baru lagi. Sampai ada ungkapan “Mafia Peradilan”. Itu bukan pepesan kosong.

Kekalutan NEOLIB

Lalu dimana letak kekalutan regim Neolib?

Regim ini ingin membuat citra dirinya sebagai Pemerintahan yang anti korupsi, bebas korupsi, dan sangat menentang praktik korupsi. Tetapi di sisi lain, kalangan Barat yang pro Neolib, mereka sangat senang dengan kondisi rakyat Indonesia yang dipenjara oleh merebaknya kasus-kasus korupsi. Bahkan kalau perlu, mereka akan mempertahankan fenomena korupsi itu, lalu meneguhkannya sebagai “Kebudayaan Resmi Indonesia”. Kalau Indonesia bersih dari korupsi, dijamin 100 % kepentingan bisnis kotor negara-negara Kapitalis-Liberalis akan hengkang dari negeri ini. Mereka tidak akan tahan lama-lama menjarah kekayaan Indonesia, sebab aparat Indonesia semua anti korupsi, sejak dari tingkat Pusat sampai Daerah.

Kemudian, Regim Neolib ini juga tidak bisa memungkiri kenyataan, bahwa akar korupsi di Indonesia sudah terlalu amat sangat dalam. Sulit dan sulit memberantasnya. Toh, di antara pejabat-pejabat itu sebenarnya banyak yang “bekerja untuk orang lain”. Contoh, Boediono dan Sri Mulyani, sekian lama menjadi pejabat IMF.

Satu sisi, Regim Neolib sedang dipelototi oleh seluruh masyarakat Indonesia karena merebaknya kasus-kasus korupsi, misalnya dalam kasus KPK (Bibit-Chandra). Tetapi di sisi lain, regim ini tidak sanggup menghadapi kemauan Barat (asing) yang ingin tetap menyuburkan korupsi di Indonesia. Juga ketika struktur korupsi di tubuh birokrasi negeri ini telah menjadi kanker yang bisa merusak kekuasaan regim itu.

Disinilah kekalutan Regim Neolib. Maunya selalu “jaga image”, agar dipuji-puji sebagai Pemerintahan yang bersih korupsi, pembela terdepan gerakan anti korupsi. Namun realitasnya, Neolib itu sendiri subur karena merebaknya korupsi dimana-mana. Juga birokrasi di Indonesia telah hancur-lebur digerogoti oleh kanker korupsi. Persis seperti ungkapan Susno Duadji “Seperti Cicak Vs Buaya dalam lautan nyamuk korupsi di Indonesia”.

Maka itu Neolib, janganlah kalian sombong atas kekuatan kalian…

AMW.


PUISI: “Negeri Para Bedebah”

November 3, 2009

Sebuah puisi dari Adhie Massardi, “Negeri Para Bedebah”. Dibacakan di depan kantor KPK sebagai bentuk dukungan moral terhadap pejabat-pejabat non aktif KPK yang sedang ditahan oleh Kepolisian.

 

NEGERI PARA BEDEBAH

Oleh Adhie Massardi

 

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
.

 

Semoga menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik, mencegah kemungkaran sistematik, menyerukan masyarakat kepada kebajikan-kebajikan, sekuan kesanggupan. [AMW].

 


Sebuah Foto Kenangan

November 2, 2009

Akhi dan Ukhti rahimakumullah…

Ini ada sebuah foto menarik yang saya dapatkan ketika melihat-lihat album foto milik sebuah TK Islam. Foto ini kalau dilihat secara sekilas, tidak memiliki makna istimewa. Tetapi ia menjadi sangat bermakna kalau dikaitkan dengan pengalaman kami selama ini. Sebelumnya, silakan Anda cermati foto di bawah ini!

Foto Jerapah

Anak TK Terpana Melihat "Si Leher Panjang"

 

Foto yang tampak di atas adalah foto seekor jerapah di Kebun Binatang Bandung (KBB). Dalam foto ini terlihat beberapa anak TK sedang berkunjung ke KBB dan terpana melihat jerapah. Sekali lagi saya ulangi, ia adalah foto JERAPAH di Kebun Binatang Bandung. Tidak ada penafsiran lain. (Tidak dibutuhkan analisis Roy Suryo untuk memastikan kebenaran informasi yang saya sampaikan).

Lalu dimana sisi keistimewaan foto ini?

Jujur saja, saat melihat foto di atas, saya mendadak merasa ngilu, merasa sesak di dada. Ini bukan berkaitan dengan apapun, tetapi menyadari pengalaman kami selama ini bersama anak-anak. Biar Anda tidak semakin bingung, silakan dibaca secara runut poin-poin di bawah ini!

[o] Saya dan isteri sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Alhamdulillah kami dikarunia sekian anak-anak. Selama di Bandung kami menyadari bahwa kota ini tidak terlalu banyak tempat-tempat wisatanya. Memang ada tempat wisata mall-mall, factory outlet, belanja HP, komputer, dll. Tapi jujur saja, kami tidak terlalu suka dengan wisata semacam itu, terlalu “mekanikal dan konsumtif”. Kebanyakan obyek wisata natural terletak di Kabupaten Bandung atau luar kota.

[o] Tapi Bandung memiliki satu obyek wisata yang mengagumkan kami selama ini. Ia terletak di “hutan kota” dekat Kampus ITB, yaitu: Kebun Binatang Bandung. Bagi kami, KBB itu seperti sebuah anugerah besar yang masih tersisa di tengah Kota Bandung. Kami dan anak-anak senang datang ke KBB untuk melihat binatang-binatang langka. Meskipun hal itu sudah dilakukan berulang-ulang kali. Kami senang membawa bekal dari rumah, menggelar tikar, lalu makan bersama di bawah pepohonan pinus di KBB itu. Hampir dipastikan, anak-anak selalu gembira dan puas, setelah berwisata ke KBB. Maklum, daripada sumpek melihat tingkah aneh manusia di berita-berita TV, lebih baik melihat binatang-binatang di KBB.

[o] Kebun Binatang Bandung memiliki beberapa kelebihan. Koleksi hewan-hewannya cukup lengkap, penataan tempatnya berdekatan satu hewan dengan lainnya. Sementara kalau di Ragunan Jakarta, karena terlalu luasnya area, jarak satu lokasi hewan ke lokasi lain berjauhan. [Udah keburu capek duluan jalan kesana kemari]. Selain itu, KBB itu bersih dan rapi. Pihak pengelola KBB tampak komitmen menjaga kebersihan tempat itu. Dan satu lagi, disana ada mushalla yang cukup lebar dan bersih. Anak-anak biasanya menjalankan Shalat Zhuhur atau Ashar disana. Hanya untuk fasilitas WC masih agak sulit, harus antre.

[o] Berkali-kali kami datang ke KBB, kami seperti hafal tempat-tempat binatang itu. Dimana burung-burung, dimana beruang madu, dimana monyet (and his friends), dimana akuarium, dimana gajah, dimana buaya, ular, onta, dan termasuk jerapah. Pendek kata, kami tahu tempat-tempatnya. Seperti contoh, anak-anak setiap ke KBB selalu penasaran ingin melihat ular-ular. Tetapi anehnya, ketika sudah dekat lokasi ular, mereka sering “kabur” ketakutan. Itulah situasi “aneh” yang sering terjadi. Penasaran, tapi ketakutan.

[o] Di antara koleksi KBB yang sangat menarik bagi kami adalah JERAPAH. Letak jerapah lebih ke dalam, dekat dengan tunggangan gajah, atau pohon-pohon pinus. Kalau datang ke KBB, hampir dipastikan kami akan selalu datang untuk melihat jerapah. Seolah jerapah itu seperti “hidangan menjelang penutup” sebelum kami sudahi jalan-jalan melihat berbagai koleksi binatang di KBB. Jerapahnya sendiri tinggi, dewasa, dan jinak. Kadang orang memberikan kacang atau makanan lain ke jerapah itu. Kepala jerapah itu bisa mendekat ke tempat kami berdiri di jalanan. Tetapi ia jinak, tidak menyerang pengunjung.

[o] Beberapa tahun lalu, kami berkunjung ke KBB, dan kami kecewa. Saya termasuk yang cukup kecewa. Mengapa? Sebab saat kami kesana, kami tidak lagi mendapati jerapah disana. Entah kemana jerapah waktu itu, tidak ada di kandangnya. Saya sendiri hanya berprasangka, jerapah itu mungkin sedang dibawa oleh petugas KBB untuk suatu urusan perawatan. Sebab tidak mungkin ia akan dilibatkan dalam sirkus. Setahu kami, KBB tidak memiliki akses pertunjukan sirkus. Murni sifatnya koleksi binatang dan wisata fauna langka.

[o] Kerisauan kami dengan melihat hilangnya jerapah dari kandang terbawa sampai ke rumah. Dalam obrolan sering saya sampaikan kepada isteri atau anak-anak, bahwa saya kecewa jerapah tidak ada di kandangnya. Suatu hari kami dengar berita, katanya jerapah KBB itu sudah mati. Dia mati karena memakan plastik, lalu tersumbat saluran pencernaannya karena plastik yang termakan. Nah, disini kekecewaan kami semakin menggumpal. “Oh, sayang sekali. Siapa pula yang memberi hewan itu bungkus plastik? Oh sayang sekali.”

[o] Secara anatomis, jerapah lehernya panjang. Makanan masuk ke perutnya setelah melewati kerongkongan yang cukup panjang. Kalau ada plastik yang masuk ke saluran pencernaannya, jelas akan membuat binatang itu sangat kesulitan, sehingga akibatnya bisa mati. Plastik bisa dari pengunjung yang memberi kacang dan lupa membuka bungkusnya. Atau dari jerapah itu sendiri yang memakan sampah plastik di sekitarnya. Yang jelas, kami kecewa dengan hilangnya koleksi jerapah dari KBB.

[o] Sejak KBB kehilangan koleksi jerapah, kami seperti hilang semangat. Meskipun pada dasarnya masih banyak koleksi hewan lain disana. Entahlah, apakah kami terlalu fanatik dengan jerapah? Mungkin saja.

Kalau melihat foto di atas, rasanya ada NGILU di hati. Ya Allah, itu kan hewan favorit kami di KBB. Itu adalah foto jerapah saat dia masih hidup. Tapi itulah dunia. Kadang di dunia ini kita diberi aneka hiburan oleh Allah yang Maha Pemurah. Namun ia bersifat tidak abadi. Hiburan di dunia tidak ada yang abadi, apapun bentuknya. Yang abadi, murni, dan sempurna, hanya ada di sisi-Nya, di dalam Jannah-Nya. Alhamdulillah.

Benarlah yang dikatakan oleh Allah kepada Adam As dan isterinya dalam Surat Al Baqarah, tentang dunia ini: “Qulnahbithu, ba’dhukum li ba’dhin ‘aduwwu, wa lakum fil ardhi mustaqarrun wa mata’un ila khiin” (keluarlah kalian dari syurga, sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi itu ada tempat berdiam bagi kalian dan ada kesenangan yang sampai batas waktu tertentu).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiiin.

AMW.


Dialektika Syariat Islam

November 2, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tema Syariat Islam adalah perkara yang sangat penting diketahui oleh kaum Muslimin, khususnya mereka yang telah menjalankan nilai-nilai Islam dan telah sampai ilmu kepadanya. Pemahaman yang jelas dan istiqamah dalam hal ini akan membawa maslahat besar bagi kehidupan Ummat Islam di negeri ini.

Disini saya akan menulis sejumlah poin-poin penting seputar tema Syariat Islam. Termasuk di dalamnya materi-materi perdebatan yang selama ini sering diangkat. Poin-poin itu disusun sepraktis mungkin dan runut sehingga mudah dipahami. Tujuan intinya, ingin menegaskan kembali betapa pentingnya penegakan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Semoga yang sederhana ini bermanfaat bagi Ummat dan bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

[01] Apa urusannya bicara Syariat Islam di masa sekarang? Apakah kita tidak dikatakan set back ke belakang, bernostalgia dengan masa lalu?

Hakikat Syariat Islam adalah ajaran Islam itu sendiri. Bicara tentang Syariat Islam sama dengan bicara tentang agama Allah. Sebaik-baik pembicaraan adalah tentang agama-Nya. Dalam Al Qur’an: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya, selain orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku ini adalah orang Muslim.’” (Fushshilat: 33). Tidak ada istilah set back untuk berbicara tentang perkara-perkara yang diridhai Allah (tentang agama-Nya). Semakin banyak kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kemuliaan. Semakin kikir kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kehinaan. Tidak mengherankan jika Allah hendak memuliakan manusia, Dia mengutus Nabi atau Rasul untuk menegakkan agama-Nya di tengah-tengah manusia. Setelah Rasulullah Saw wafat tidak ada lagi Nabi yang diturunkan, maka Allah memperbaiki kehidupan manusia dengan mendatangkan ulama-ulama Waratsatul Anbiya’ (Pewaris Nabi). Mereka mengambil peranan, melanjutkan missi Kenabian, meskipun sifatnya bukan manusia yang ma’shum dari kesalahan.

[02] Tidak semua orang menginginkan Syariat Islam. Di tengah kita ada orang-orang yang beragama selain Islam. Apakah kita akan memaksakan Syariat Islam kepada mereka? Bukankah itu suatu pemaksaan, padahal dalam Islam tidak ada paksaan?

Pada dasarnya, siapapun boleh bicara tentang Syariat Islam. Hal itu tidak terbatas bagi kaum Muslimin saja. Syariat Islam adalah agama yang diserukan secara universal kepada seluruh manusia. Dalam Al Qur’an, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Saba’: 28). Orang non Muslim boleh bicara Syariat Islam, selama niatnya baik. Pembicaraan itu akan menjadi dakwah bagi mereka. Namun mereka tidak dipaksa untuk menerima Syariat Islam, sebab mereka adalah non Muslim. Kecuali dalam suatu negara yang telah ditegakkan Sistem Islam, mereka harus mematuhi Syariat Islam dalam batas-batas tertentu (khususnya terkait hukum-hukum sosial). Tetapi bagi orang Muslim, wajib hukumnya membicarakan Syariat Islam, baik sedikit atau banyak. Bahkan kita akan merugi kalau tidak membicarakan tentang Syariat Islam. Dalilnya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, yang beramal shalih, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al ‘Ashr). Amanah Syariat Islam secara khusus ditujukan kepada orang-orang Muslim. Namun kalau kalangan di luar Islam tertarik mempelajari Syariat Islam dengan hati yang tulus, ya alhamdulillah.

[03] Bukankah kita di Indonesia sudah sepakat, bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah final? Tidak ada konsep hukum lain, selain itu.

Siapa mengatakan Pancasila dan UUD 1945 sudah final? Adakah orang-orang beriman yang mengklaim seperti itu? Tidak ada yang FINAL dalam kehidupan ini, selain WAHYU Allah. Hanya Wahyu Allah dan sabda Rasulullah yang bersifat final dan mutlak. Selain keduanya, bersifat optional (pilihan). Hingga para filosof sering mengatakan, “Tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu pengetahuan, selain kebenaran Wahyu.” Kalau Pancasila dan UUD 1945 dianggap final, berarti kita telah menempatkannya seperti Wahyu Allah. Keyakinan seperti itu justru sangat kontradiksi dengan Pancasila sendiri. Pada Sila pertama dikatakan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kalau bangsa kita mengaku bertuhan, pasti tidak akan mengatakan bahwa Pancasila dan UUD 1945 yang dirumuskan oleh manusia itu sebagai kebenaran mutlak yang bersifat final. Tidak ada yang final dalam kehidupan ini, selain Kitabullah dan As Sunnah. Mengatakan Pancasila dan UUD 1945 bersifat final, sementara Al Qur’an dan As Sunnah dianggap relatif, berarti kita telah menjadikan Pancasila dan UUD 1945 lebih tinggi dari Al Qur’an dan As Sunnah. Ini adalah kesesatan besar yang bisa membatalkan keimanan manusia.

[04] Kalau kita memaksakan penegakan Syariat Islam, maka akibatnya NKRI akan terpecah-belah. Wilayah Indonesia Timur akan memerdekakan diri. Alasan itu pula yang dulu membuat Hatta menolak Piagam Djakarta. Daripada NKRI terpecah-belah, lebih baik kita jangan memaksakan berlakunya Syariat Islam di bumi Indonesia.

Disini ada KESALAH-PAHAMAN besar yang sejak dulu telah mengacaukan akal-akal manusia. Kesalah-pahaman itu terus dilestarikan, diperindah, dihias-hias, diberi dalil-dalil, dipatenkan, bahkan dimuseumkan. Lho, sisi mana kesalah-pahamannya? Jelas sekali masalahnya. Allah tidak pernah memaksakan bangsa ini agar menjadi bangsa ini dan itu. Kita mau menjadi bangsa apapun, silakan saja. Mau menjadi bangsa tempe, bangsa jengkol, bangsa batu, bangsa berlian, atau bangsa apapun, itu terserah kita. Jangan “GR” dengan menyangka bahwa Allah membutuhkan bangsa ini. Tidak sama sekali. Allah Maha Kaya, tidak butuh apapun dari makhluk-Nya. Allah tidak pernah memaksa bangsa Indonesia menjadi Negara Islam. Allah hanya mengingatkan dalam Al Qur’an, kalau kita mau beriman dan bertakwa kepada-Nya, kita akan dicurahi barakah-barakah dari langit dan bumi. Kalau kita mendustakan agama-Nya, kita akan mendapat siksaan (Al A’raaf: 96). Dia juga mengingatkan, kalau kita bersyukur, akan ditambah nikmat-Nya. Kalau kita kufur nikmat, pasti akan terkena siksa-Nya yang pedih (Ibrahim: 7). Jadi, bangsa Indonesia mau jadi bangsa apapun, silakan saja. Tetapi kalau kita ingin hidup berkah, dimudahkan oleh Allah, dicurahi pertolongan dan kemuliaan, dibela atas musuh-musuh, maka tegakkan agama-Nya dalam kehidupan kita. Sekuat-kuatnya bangsa ini ingin menjaga NKRI, kalau hati-hati rakyat Indonesia jauh dari iman dan takwa, lambat atau cepat NKRI itu pasti akan tercerai-berai. Ingatlah saudaraku, tidak ada yang lebih kuat untuk menyatukan suatu bangsa, selain iman dan takwa. Begitu pula, tidak ada faktor yang paling berbahaya bagi hancurnya suatu bangsa, selain merosotnya iman dan takwa. Seharusnya, kalau kita komitmen dengan NKRI, kita harus komitmen dengan Syariat Islam. Segala masalah yang ditakutkan bangsa ini, misalnya ancaman disintegrasi, itu semua ada solusinya dalam Islam.

[05] Sebagian orang begitu meyakini kehebatan Syariat Islam. Apa sih manfaat fundamental dari penegakan Syariat Islam?

Pertama, menegakkan Syariat Islam sama dengan menghidupkan Wahyu Allah di muka bumi. Hal ini jika dilakukan dengan baik dan konsisten, akan mendatangkan Keridhaan Allah. Jika Allah ridha, maka Dia akan mencurahkan berbagai anugerah besar dalam kehidupan kita, dan sekaligus melindungi kehidupan itu sendiri dari segala petaka dan bencana. Dalilnya, “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), pasti akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari labgit dan bumi.” (Al A’raaf: 96). Kedua, Syariat Islam itu akan menyelesaikan sebagian besar perselisihan di antara manusia. Dalam Syariat ini tidak ada pihak-pihak yang diagungkan, selain Allah saja. Tidak ada kepentingan raja, bangsawan, pengusaha, kapitalis, politisi, jendral, ustadz, syaikh, dll. yang diistimewakan. Semuanya dicurahkan untuk Allah. Hingga dalam hadits, Nabi Saw bersabda: “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Lihatlah, Syariat Islam tidak memberi keistimewaan kepada siapapun, bahkan kepada keluarga Nabi sekalipun. Ketiga, Syariat Islam akan melindungi orang-orang lemah dari penindasan orang-orang kuat. Sistem apapun selain Islam, pasti akan melahirkan penindasan. Itu pasti! Nah, Syariat Islam menghapuskan penindasan orang-orang kuat terhadap orang-orang lemah. Keempat, Syariat Islam lebih menjamin tercapainya keadilan. Sejak manusia mengenal sistem sekuler, sejak itu impian tercapainya keadilan hanya omong kosong belaka. Dalam Syariat Islam, jangankan seorang Muslim, orang Yahudi-Nashrani pun tidak boleh dizhalimi (Al Maa’idah: 8). Kelima, Syariat Islam adalah satu-satunya sistem/tatanan yang akan membuat manusia mencapai tujuan Fid Dunya Hasanah, Wa Fil Akhirati Hasanah (mendapat kebaikan di dunia Akhirat). Jika ada manusia yang memaksakan diri ingin mencari yang lebih hebat dari kebaikan-kebaikan di atas, pada dasarnya mereka hanya menganiaya diri sendiri.

Baca entri selengkapnya »


Teori Politik Aneh

Oktober 21, 2009

Kalau melihat situasi politik saat ini, rasanya aneh sekali. Kafilah politik SBY dan Demokrat ingin merangkul semua elemen-elemen politik lainnya. Fakta paling mutakhir ialah dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, dan dorongan SBY agar Golkar masuk barisan koalisi. Ini aneh sekali, sebab saat Pilpres kemarin semua orang tahu betapa kerasnya konflik politik antara kubu SBY dengan PDIP dan Golkar. Anda masih ingat kerasnya kritik Megawati kepada SBY, lalu dibalas SBY dengan pidato yang tidak kalah “marah-marahnya”.

Dalam teori politik kubu SBY, semua eleman politik kalau bisa dirangkul, sehingga tidak ada yang memusuhi atau kontra politik dengan tujuan-tujuannya. Ini namanya politik akomodasi. Argumentasinya: “Sistem politik kita presidensial, tidak ada istilah partai oposisi.” (Bisa-bisa saja, para pengamat/politisi menipu rakyat dengan argumentasi yang dibuat-buat).

Singkat cerita, kalau semua partai bisa dirangkul, maka posisi SBY akan aman. Dia bisa bebas mencapai tujuan-tujuan politiknya, tanpa halangan siapapun. Toh, semua partai sudah mendukung dirinya. Dengan cara yang sama, mereka seperti ingin mengulang sukses Golkar di jaman Orde Baru dulu sebagai single majority. Golkar setiap Pemilu rata-rata menguasai 70 % potensi suara rakyat, sama seperti koalisi SBY saat ini.

Kelemahan teori seperti ini:

[1] SBY kelihatan sebagai pemimpin politik yang gampang jerih, takut konflik, tidak memiliki pendirian teguh. Semua elemen dia rangkul, untuk menghindari konflik kepentingan. Kalau pemimpin sejati harusnya memiliki INTEGRITAS kuat, bukan takut menghadapi konflik.

[2] Realitas politik saat ini berbeda dengan jaman Orde Baru. Orde Baru pilihannya hanya 3: Golkar, PPP, PDI. Sementara saat ini setidaknya ada 10 pilihan kanal politik. Merangkul sebanyak itu elemen politik, justru akan membenturkan elemen-elemen itu satu sama lain dalam konflik kepentingan, sehingga akhirnya mereka lemah semua. Mereka pasti akan “berebut kuasa”, lalu tidak efektif menjalankan tugasnya.

Jadi, teori “merangkul semua partai” itu pada dasaranya hanya utopia belaka. Inilah teori yang idak mencerminkan sifat kepemimpinan yang tangguh. Tapi ya sudahlah, wong rakyat Indonesia sendiri memang jauh dari ketangguhan.

Hanya kepada Allah Al Hafizh kita berlindung dari fitnah dan bencana. Amin ya Hafizh.

AMW.


Arogansi ELIT POLITIK Indonesia… Luar Biasa

Oktober 19, 2009

Luar biasa, luar biasa…. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Di hari ini kita disuguhi tontonan kehidupan yang amat sangat memilukan. Orang-orang berakal pada memegangi kepalanya, karena khawatir mereka telah salah dalam berpikir, analisis, atau merasa. Jika ternyata mereka tidak salah berpikir, akhirnya “mengurut dada” menjadi amal shalih yang paling banyak dilakukan saat ini.

Lihatlah 3 hal berikut ini:

[ 1 ] Fenomena perang anti terorisme yang terus-menerus berjalan, serialnya sangat panjang, meskipun korban demi korban terus berjatuhan. Polisi selalu mengatakan, “Tidak berarti masalah terorisme sudah berakhir, sebab masih ada Si Anu dan Anu yang masih berkeliaran. Mereka memiliki kemampuan yang tak kalah hebatnya dengan Nordin M. Top dan Dr. Azahari.” Ini pertanda drama perang anti terorisme masih “panjang umur”.

[ 2 ] Bencana demi bencana alam yang terus terjadi. Sejak Pilpres pada bulan Juli lalu sampai saat ini telah terjadi berkali-kali bencana, baik gempa bumi, longsor, atau banjir. Bencana paling parah terjadi di Sumatra Barat yang menghancurkan Kota Padang dan Padang Pariaman. Menurut data, korban meninggal sekitar 1120 jiwa orang (bisa bertambah kalau ada data update terbaru).

[ 3 ] Suasana pemilihan pejabat negara dan menteri-menteri. Pemilihan pejabat ini telah menempatkan SBY sebagai pemegang kartu kunci. Semua orang, termasuk Taufik Kiemas dri PDIP, harus mendapat restu SBY, jika ingin lolos sebagai pejabat negara. Belum pernah dalam sejarah Indonesia, proses pemilihan menteri-menteri berjalan begitu birokratis, panjang proses, berbelit-belit, dan penuh sensasi media, kecuali saat ini. Tokoh-tokoh elit di Indonesia seperti sedang berebut mendapatkan “durian” dari tangan SBY. Sampai diceritakan, di antara mereka ada yang sering melakukan shalat malam, sambil menunggu “ditelepon”. Padahal seharusnya, kalau mereka beriman, mereka harus takut memikul jabatan dan benci menjadi pejabat.

Elit-elit politik di Indonesia saat ini seperti orang-orang tidak berakal. Rasa malunya, integritasnya, posisinya sebagai politisi, ustadz, pakar, praktisi, profesional, akademisi, dll. seperti mereka acuhkan begitu saja. Apapun kondisi tidak menjadi halangan, selama “durian SBY” bisa didapat. Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Apa mereka tidak malu, punya anak-isteri, teman-teman, kerabat, kolega, dll. Diri mereka dihambakan hanya untuk meraih jabatan. Kalau perlu, manuver paling konyol pun akan dilakukan, asal “sukses ditelepon”.

Kalau ternyata mereka tidak jadi ditelepon, tidak dipanggil SBY, tidak menjadi pejabat, mereka secepat kilat berubah haluan. Mereka menjadi orang-orang paling kritis kepada SBY. Mereka mulai bicara, “Politik sekarang aneh. Presiden terlalu kuat, DPR/MPR tidak berdaya. Bagaimana bisa demokrasi berjalan baik, kalau tidak ada keseimbangan kekuasaaan? Tidak ada check and balance. Ini berbahaya, ini tidak demokratis, menyalahi amanah Reformasi.” Mendadak mereka menjadi oposisi, hanya karena tidak sukses menjadi pejabat.

Tetapi ketika suatu saat nanti orang seperti itu mendadak ditelepon SBY, tiba-tiba suara mereka melunak. “Oh ya, Pak. Baik, Pak. Kami ada di belakang Bapak. Tenang saja, kami akan bekerja all out untuk sukses Bapak. Kita semua senang, gembira, dan ridha dengan kepemimpinan Bapak. Kami siap, hidup mati membela misi pembangunan Bapak yang mulia. Kami semua sudah tahu, Bapak adalah Presiden paling berhasil sepanjang sejarah Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).” Malu dan sangat memalukan. Tapi apa daya, kita hanya orang biasa?

Jadi yang memimpin urusan masyarakat saat ini adalah syahwat belaka. Hanya syahwat inilah tujuan tertinggi keberadaan pejabat-pejabat dan departemen yang dia pimpin. Maka masyarakat harus mempersiapkan kesaabarannya yang panjang, untuk menghadapi semua ini. Jangan berharap ada pahlawan di jaman seperti ini; yang ada hanyalah orang-orang oportunis yang menghamba syahwat.

Jabatan itu adalah amanah. Demikianlah Islam mengajarkan. Namun dalam suasana “dagang syahwat” (bukan “dagang sapi”) seperti ini, apa artinya amanah? Semua dianggap sepi. Semua dianggap retorika moral yang tidak ada artinya. “Makan tuh khotbah-khotbat lo,” serang orang-orang penghamba syahwat itu ketika dinasehati. Arogansi sudah sedemikian rupa meliputi seluruh sendi kepemimpinan negara.

Dulu, kalau saya melihat wajah Hatta Radjasa, saat masih menjadi anggota DPR dari PAN di jaman Gus Dur, jujur saja, ada nuansa optimisme, harapan, dan sikap integritas. Namun saat ini, kalau melihat Hatta Radjasa, bawaannya mau muntah saja. Orang ini seperti dagelan paling tidak lucu. Dia mengalami metamorfosis hebat, dari semula paling anti Gus Dur; maka sekarang, paling melayani SBY.

Begitu juga orang-orang PKS. Dulu mereka selalu membanggakan diri. “Kami partai moral. Kami tidak meminta-minta jabatan. Justru kader-kader kami sangat takut kalau diberi jabatan. Belum pernah ada di Indonesia, ada partai politik yang kader-kadernya saling dorong-dorongan karena takut ditunjuk jadi pejabat. Hanya di kami fenomena seperti itu ada. Kami partai dakwah, partai moral, harapan baru Indonesia.” Tapi dalam konteks saat ini, semua orang tahu bagaimana komitmen moral elit-elit PKS itu. Bukan hanya ambisi jabatan, PKS sering “mengancam” orang lain, karena ingin mengamankan posisi yang dibidiknya.

Padahal bencana-bencana sudah mengingatkan bangsa ini. Istana negara itu lho pernah bergunjang, sehingga SBY buru-buru ngacir ke Cikeas. Sri Mulyani itu lho saat menggelar jumpa press di gedung Departemen Keuangan, merasakan goncangan gempa yang kuat. Bahkan hebatnya, Sri Mulyani masih berlaagak seperti insinyur sipil yang paham konstruksi bangunan gedung Departemen Keuangan. Dia beralasan, katanya fondasi gedung Departemen Keuangan tidak terlalu kokoh. Wih, wih, wih, hebat. Masih sempat-sempatnya Sri Mulyani mengukur kekokohan fondasi bangunan gedung di departemennya.

Perhatikan ayat ini:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Israa’: 16).

Syarat-syarat arogansi itu sudah terpenuhi di Indonesia. Para elit politik merasa dirinya berkuasa, merasa dirinya bisa mencengkramkan kuku kekuasaan seperti yang mereka inginkan. Agama Allah tidak dihiraukan, tanda-tanda bencana diacuhkan, malah kaum Muslimin difitnah terus-menerus dengan isu TERORISME. Ini semua adalah praktik arogansi yang terang-benderang.

Ya, bersiaplah bangsa Indonesia, persiapkan kesabaranmu yang panjang. Saat ini sedang tiba musim “panen raya” bagi orang-orang munafik untuk mengurus urusan negerimu; sementara ia menjadi masa “paceklik” bagi orang-orang bermoral untuk membimbing Ummat menuju Keridhaan Allah Ta’ala.

Bersiaplah kawan…siapkan kesabaranmu. Allah tidak mengingkari janji-Nya. Gempa yang di Padang kemarin, bukan akhir dari semua episode nestapa ini. Ya Ilahi ya Rabbi, kami titipkan diri dan kehidupan kami, serta orang-orang beriman ke Tangan-Mu. Hanya Engkau yang kuasa merahmati kami, menyelamatkan kami, serta menjaga kehidupan Islam. Amin Allahumma amin.

== AMW ==


Ketika Pemimpin Jadi SELEBRITIS

Oktober 15, 2009

Di sebuah negara, sebutlah namanya Keblingersia (baca dengan bahasa Sunda).  Di negeri ini rakyatnya sangat memuja-muja TV. TV menjadi “ibadah ritual” harian mengalahkan ibadah-ibadah lainnya. Salah satu acara TV yang sangat disukai adalah GOSIP SELEBRITIS. Rakyat negeri itu begitu memuja-muja para selebritis, melebihi kecintaan mereka kepada Nabi Saw. Kalau ditanya nama, judul lagu, judul sinetron, suami-isteri, dll dari seorang selebritris; warga Keblingersia tahu di luar kepala. Tapi kalau ditanya nama-nama keluarga Nabi Saw, mereka pada bengong.

Rupanya, sebagian pemimpin politik mengerti tentang selera “selebritis minded” rakyat negeri itu. Maka untuk memenangkan pertarungan politik, pemimpin itu tampil “sekinclong” mungkin, seperti para selebritis. Foto dia dipilih yang sebagus mungkin, dari ribuan pose wajah. Dicari yang tampak “awet muda”, segar, selalu mengulum senyum, dan seterusnya. Foto itu pun ditransfer dalam bentuk poster, pamflet, spanduk, kaos, sticker, cetakan buku, iklan TV, dan macam-macam media (istilahnya mix media).

Teorinya sederhana saja: “Sebagian besar pemilih di negeri itu kaum wanita dan gadis-gadis (yang merasa masih gadis, lho). Mereka doyan dengan dandanan selebritis. Maka kalau mau menang pemilihan, bikin promo sehebat para selebritis. Kalau perlu 10 kali lipat lebih hebat. Dijamin, akan menang pemilihan.” Ternyata, teori ini manjur bukan main. Rakyat negeri Keblingersia lupa dengan segala duka-lara hidupnya. Mereka merasa takjub, terharu, terpesona, kagum, cinta, rindu, kepada seorang “selebritis politik” tertentu.

Adapun kandidat-kandidat lain yang menampilkan keberanian, inovasi baru, gebrakan, visi pembangunan, agenda kemandirian, dan sebagainya, semuanya tidak laku. Karena warga Keblingersia sudah kadung mabuk dengan segala macam dunia GOSIP SELEBRITIS. Mereka sudah kadung cinta wajah tampan, maka pikirannya pun tidak berjalan normal. Kuat diduga, banyak warga Keblingersia yang sehari-hari tidak shalat. Kalaupun shalat, mereka hanya shalat fisiknya saja, sementara hatinya lalai. (Na’udzubillah min dzalik).

Hebatnya… Pemimpin negeri itu benar-benar paham selera GOSIP SELEBRITIS rakyatnya. Bukan hanya penampilan yang dibuat “klimis” bak selebritis. Sampai karakter politik pun dibuat semeriah dunia Gosip Selebritis.

Coba perhatikan beberapa kenyataan seperti di bawah ini:

<=> Setiap masuk suatu ruangan terbuka, pemimpin itu dielu-elukan dengan tepuk tangan, diiringi “dayang-dayang” yang panjang.

<=> Dalam pencalonan pejabat tertentu, dia sangat memegang “hak prerogatif”. Istilah yang kerap dipakai, setiap kandidat pejabat yang akan dipilih “sudah ada di kantong”.

<=> Pemimpin itu sangat sering berkeluh-kesah di depan umum. Tidak ragu untuk “curhat” di depan rakyat. Seakan, semua pihak dituntut memahami perasaannya.

<=> Dalam pengumuman nama-nama kandidat pejabat, dia sangat suka melama-lamakan urusan. Sangat suka kalau media-media massa meliput setiap gerak-gerik urusannya. Seolah penentuan calon anu dan anu, semua itu “komoditas gosip politik” yang bermanfaat bagi masyarakat. Semakin lama urusan berjalan, dia semakin girang, sebab media-media massa akan menjadikan urusannya sebagai gosip menarik.

<=> Kalau pemimpin itu seharusnya memiliki lapang dada, maka dia justru “gampang tersinggung”. Ada orang mengatakan “lebih cepat lebih baik”, dia tersinggung, marah, lalu “curhat”. Selebritis banget pokoknya.

Informasi terakhir yang cukup menyita perhatian media-media massa adalah soal rancangan kabinet. Sekitar 10 tahun lalu ada seorang pemimpin politik yang membuat prestasi dahsyat. Hari ini dia dilantik jadi pemimpin, besok kabinetnya sudah terbentuk. Luar biasa. Itu satu-satunya dalam sejarah Indonesia. Hebatnya, kabinet itu berjalan efektif dan membuat banyak prestasi, padahal hanya disusun dalam masa 1 hari.

Nah, di negara Keblingersia saat ini lain. Justru kalau terlalu cepat disusun tidak bagus, tidak jadi gosip media-media massa. Maka urusan penentuan kabinet pun diulur-ulur bukan main lambatnya. Segala macam momen akan dimanfaatkan untuk SELEBRASI agar rakyat semakin jatuh cinta dengan wajah tampan pemimpin itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Herannya, banyak politisi yang senang dengan keadaan itu, sebab mereka jadi ikut terkenal.

Inilah kenyataan yang memang ada demikian. Hal-hal yang tidak terpuji justru laku di pasaran. Bisa dibayangkan ketika dunia politik berubah menjadi panggung selebritis, kira-kira akan jadi apa wajah negeri itu?

Kata Nabi Saw, kalau amanah disia-siakan, tunggulah saat kehancuran. Bagaimana amanah disia-siakan? Yaitu ketika amanah diserahkan kepada yang bukan ahlinya. (HR. Bukhari). Orang bakat jadi selebritis, kok didaulat menjadi pemimpin…Ya begitulah.

AMW.


1 Gambar 1000 Makna

Oktober 13, 2009

Kata orang, “Satu gambar bisa bercerita lebih banyak dari seribu kata-kata.” Disini ada sebuah gambar karikatur menarik. Sumbernya dari inilah.com. Kartun ini bertema politik. Saya dapatkan saat “browsing” di folder komputer milik warnet. (He he he…).

Silakan dinikmati dan dihayati !!!

Apa saja maknanya ya...

Apa saja maknanya ya...

Urusan memimpin negara, memimpin rakyat, mengatur bangsa, tidak lagi dianggap sebagai tanggung-jawab moral, keterpanggilan hati, atau komitmen idealisme. Tetapi sekedar “bagi-bagi kue”. Miris aku…

Pihak yang “nafsu kuasa” bukan hanya orang-orang sekuler, tetapi juga orang-orang yang dulu “kerjanya ngaji”. Dulu aktivis dakwah, sekarang “aktivis kekuasaan”. Dulu mencari ridha Allah, sekarang mencari ridha pihak-pihak yang berkuasa. Miris aku…

Lihatlah, dulu para aktivis Islam, para ustadz, para kyai dihormati masyarakat. Sekarang mereka menjadi obyek olok-olokan. Orang tak lagi menghargai mereka, tak lagi segan, tapi mereka dijadikan sebagai bahan humor dan bercanda.

Duh miris aku… Kalau kamu?

AMW.


TRAGEDI POLITIK di Indonesia

Oktober 9, 2009

Saudara-saudaraku seiman dan seaqidah…

Disini saya akan berbagi dengan Anda tentang sebuah HAKIKAT POLITIK yang sangat penting kita ketahui bersama. Hal ini merupakan refleksi dinamika politik Indonesia sejak tahun 90-an sampai saat ini (2009). Hanya saja, saya menulisnya secara singkat saja agar lebih praktis untuk dipahami. Adapun untuk penjelasan yang lebih terperinci, silakan Anda sendiri mencari dalam sumber-sumber lain. Di blog ini sendiri ada bahan-bahan yang bisa dipakai sebagai pembanding. Silakan dicari secara mandiri.

LATAR BELAKANG

Beberapa catatan dinamika politik di Indonesia yang terjadi dalam waktu-waktu terakhir ini menjadi titik-tolak tulisan ini. Misalnya catatan-catatan sebagai berikut:

==> Berbagai kasus, pelanggaran, dan kecurangan dalam Pemilu Legislatif 2009 dan Pilpres 2009.

==> Gencarnya opini “perang melawan terorisme”, padahal isu terorisme itu sendiri sudah mulai dilupakan masyarakat sejak tahun 2005 lalu.

==> Sikap pemerintah yang sangat arogan dalam kasus Bank Century. Khususnya terkait sikap Departemen Keuangan, BI, Polri, dsb.

==> Sikap pemerintah yang katanya “pro pemberantasan korupsi”, tetapi mereka diam saja ketika lembaga KPK hendak diamputasi kekuatannya. Mereka juga diam ketika berkembang opini tentang “Cicak Vs Buaya”. Padahal itu adalah ungkapan menjijikkan dalam kehidupan berpemerintahan.

==> Dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, padahal semua orang tahu dalam Pilpres kemarin, bahkan dalam periode Pemerintahan 2004-2009, PDIP menjadi oposisi Pemerintah. Bahkan penentuan pejabat Ketua MPR itu sendiri tergantung pilihan politik SBY sendiri.

==> Sikap SBY kepada Partai-partai Islam/Muslim yang mendukungnya saat Pilpres 2009, seperti ungkapan: “Habis manis, sepah dibuang.”

==> Pernyataan keberatan SBY atas pernyataan Jusuf Kalla dalam Munas Golkar di Riau yang mengajak Partai Golkar agar menjadi partai oposisi terhadap Pemerintah.

==> Dukungan Pemerintah, agar Aburizal Bakrie menjadi Ketua Umum Golkar, menggantikan Jusuf Kalla. Tujuannya, tentu agar Golkar tidak beroposisi, melainkan mau bermitra dengan Pemerintahan SBY. Harus dicatat dengan tinta tebal, dalam susunan Pengurus Inti DPP Golkar hasil Munas di Riau, Rizal Malarangeng menjadi salah satu pengurus elit DPP Golkar. Kita tahu maksudnya, agar politik Golkar selalu sejalan dengan politik SBY.

Dari semua kenyataan di atas, dapat disimpulkan: Bahwa SBY sedang membangun kekuatan Pemerintahan yang sangat kuat, under one hand, dimana segala macam faktor-faktor politik akhirnya memusat ke dirinya. Sebagian pengamat menyebut kenyataan ini sebagai “model Orde Baru dengan baju demokrasi”. Serupa esensinya, tetapi lain namanya.

Saat ini, secara realistik, semua unsur-unsur politik sedang berlomba menengadahkan tangan ke hadirat SBY, mengharap kemurahan, kasih-sayang, dan keridhaan-nya. Apapun agenda politik SBY tidak masalah, selama bisa ikut dalam “rombongan Bapak”. Tidak terkecuali elit-elit partai Islam. Mereka tidak peduli masyarakat akan berkomentar apapun, selama mereka bisa “ikut nampang” dalam rombongan Kabinet 2009-2014. Politik hari ini benar-benar mengabdi untuk: kesejahteraan diri!

ANTI ORDE BARU

Kita masih ingat saat tahun 90-an dulu. Waktu itu Pak Harto mendekat kepada Ummat Islam (apapun tujuan politiknya). Beliau memutuskan kemitraan politik dengan Beny Murdani, setelah mantan jendral itu diindikasikan telah merancang skenario kudeta menggulingkan Soeharto. Hanya saja, media-media massa “membisu” dari agenda Beny tersebut.

Waktu itu Soeharto dikecam habis-habisan dalam isu: Korupsi, keluarganya memperkaya diri, militeristik, pelanggaran HAM, masalah Timor Timur, juga sikap otoriter anti demokrasi.

Media-media massa, para pakar akademis, para pengamat politik, cendekiawan, politisi, media-media asing, dan lain-lain, waktu itu mereka serentak menghujani Pemerintah Soeharto dengan serangan-serangan seputar isu-isu di atas. Soeharto tidak diberi waktu istirahat, melainkan dia harus menelan segala macam tuduhan-tuduhan itu. Pendek kata, Soeharto digambarkan sebagai pemimpin: Tangan besi, militeristik, korup, anti demokrasi, pelanggar HAM, dan sebagainya.

Prestasi-prestasi Soeharto tidak diungkap sama sekali. Tetapi segala borok-borok politiknya diungkap secara obralan. Icon perlawanan anti Soeharto waktu itu ada di tangan Amien Rais yang berlindung di balik struktur Muhammadiyyah, ICMI, dan penulis ahli Republika. Tujuan politik Amien Rais menghentikan sikap otoriter Soeharto, sementara saat yang sama Soeharto sedang dekat dengan Ummat Islam. Maka Amien pun menggunakan “amunisi Ummat” untuk mencapai target politiknya. [Perlu diingat, seidealis-idealisnya seorang Amien Rais, dia tetap doktor lulusan Amerika dan sangat American minded. Sehingga Adian Husaini pernah mengkrisi Amien dengan bukunya "Amien Rais dan Amerika" (?)].

Media-media massa, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dll. mereka juga sangat aktif dalam menggalang opini tentang arus gerakan politik anti Orde Baru. Terlebih ketika mulai bangkit gerakan mahasiswa tahun 2008, TV-TV itu sangat kuat dalam mengarahkan opini ratusan juta rakyat Indonesia.

IRONI ERA REFORMASI

Sejujurnya, kita bersyukur ketika ada gerakan sosial-politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Demi Allah, kita bersyukur atas semangat masyarakat (khususnya aktivis) untuk mengadakan perbaikan kondisi Orde Baru. Orde Baru jelas jauh dari ideal, banyak kekurangan-kekurangannya. Ketika hal itu ingin diperbaiki, ya alhamdulillah. Itulah yang diinginkan semua pihak. Pendek kata, agenda-agenda politik untuk memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat Indonesia adalah sangat mulia.

Namun anehnya, setelah Reformasi berjalan lebih dari 10 tahun (1998-2009) kenyataan baik yang kita harapkan sangat jauh dari harapan. Ya, masyarakat semua telah menyaksikan bahwa kondisi kehidupan saat ini jauh lebih sulit ketimbang era Orde Baru dulu. Secara sederhana saya katakan: “Apa sih artinya Reformasi itu? Apa sih arti Reformasi secara bahasa?” Reformasi kan artinya perbaikan, atau rekonstruksi. Lho, kok setelah Reformasi bergulir kehidupan masyarakat menjadi semakin buruk, sengsara, penuh penderitaan lahir-batin? Berarti selama ini yang terjadi bukan Reformasi, tetapi DEKONSTRUKSI (penghancuran) kehidupan.

Alih-alih mau menyamai prestasi Orde Baru dalam kebaikan, menyamakan harga beras saja agar sama seperti era Orde Baru dulu dengan standar Rp. 1000,- per kilogram, susahnya bukan main. Bahkan sangat musrtahil tercapai saat ini. Meskipun Indonesia diklaim telah “swasembada beras”.

Dan lebih aneh lagi ketika kita menyaksikan sikap-sikap politik regim SBY dalam 5 tahun terakhir, khususnya sejak 2008 sampai 2009. Hal-hal yang dulu dikecamkan ke Soeharto, sepertinya satu demi satu dilakukan oleh penguasa masa kini. Sikap otoriter, pemusatan kekuasaan, memakai mesin birokrasi untuk tujuan politik, bersikap repressif kepada Ummat Islam (dalam isu terorisme), dan sebagainya, kini dilakukan lagi.

Dan untuk semua kenyataan ini: Media massa, pakar politik, pakar akademisi, para cendekiawan, media-media Barat, politisi, para birokrat, dan sebagainya, mereka memilih diam, membiarkan, mendukung, men-support, melindungi, mengiyakan, memproteksi, dan seterusnya. Ketika Soeharto melakukan hal-hal yang zhalim dalam politiknya, mereka semua sepakat MENGEROYOK Soeharto sampai terjatuh. Tetapi saat sikap-sikap otoriter itu dilakukan oleh penguasa saat ini, mereka diam seribu bahasa.

Inilah kenyataan yang sangat aneh bin ajaib. Ketika Soeharto bersikap otoriter, semua pihak menghabisinya dengan hujatan-hujatan luar biasa. Namun saat penguasa saat ini (SBY) bersikap otoriter dan memusatkan kekuasaan ke dirinya, mereka semua diam saja, seolah seperti “gak tahu apa-apa”. Dari sekian banyak media-media TV, hanya MetroTV saja yang berani bersikap independen. Meskipun dalam banyak kasus yang lain, MetroTV juga sama-sama membeo kekuasaan.

INTINYA DIMANA?

Kita menjumpai perkara yang sama, yaitu sikap OTORITER penguasa, baik di masa Orde Baru, maupun di jaman sekarang. Sama-sama otoriternya. Hanya saja, Soeharto lebih panjang waktu berkuasanya, sehingga lebih banyak catatan kezhalimannya yang ditulis para pemerhati. Sementara SBY baru 5 tahun, dan akan memimpin 10 tahun, dengan ijin Allah. Baik kepemimpinan Soeharto atau SBY, sama-sama mengadung sikap politik otoriter. Hanya bedanya, Soeharto mudah tersenyum, sedang yang satu lagi mahal senyum.

Mengapa sikap media massa, pengamat, akademisi, politisi lain kepada dua pemimpin itu (Soeharto dan SBY)?

Ternyata yang membuat berbeda itu adalah keberpihakan masing-masing pemimpin. Seoharto berpihak ke petani, nelayan, penguasaha kecil, pengrajin, pedagang. Dia juga berpihak ke pembangunan desa, KUD, koperasi, BMT, transmigrasi, dan lain-lain. Sementara SBY secara umum berpihak ke AGENDA LIBERALISASI dan WESTERNISASI. Nah, inilah beda utamanya. Soeharto berpihak “ke dalam”, sementara SBY berpihak “ke luar”.

Bagi media massa, para pakar, pengamat, politisi, pengusaha, dll. tidak masalah dengan sikap OTORITER, ZHALIM, DEMOKRASI CURANG, dll. selama tetap mendukung agenda liberalisasi. Dengan liberalisasi, mereka diberi kebebasan untuk membabat rakyat kecil yang lemah (mustadh-afin) sesuka hatinya. Sementara kalau sistem PROTEKSI ala Soeharto, mereka merasa sangat terbelenggu, terpenjara, untuk menghabisi kehidupan rakyat kecil.

Bagi para pendukung liberalisasi itu, “Bullshit dengan demokrasi.” Mereka sama sekali muntah dengan prinsip-prinsip demokrasi, atau apalah yang selama ini didengung-dengungkan. Bagi mereka target utamanya bukan menjadi “penyelamat demokrasi atau HAM”, tetapi mendapat kesempatan bebas untuk menindas masyarakat kecil sesuka hati, seenak perutnya sendiri, dimanapun dan kapanpun mereka menginginkannya. Nah, inilah intinya target mereka.

Demokrasi dimanapun akan mereka bela mati-matian, kalau dengan jalan itu mereka bisa menindas orang-orang lemah sesuka hatinya. Sebaliknya, demokrasi akan mereka kencingi, mereka ludahi, mereka injak-injak, kalau demokrasi ditujukan untuk melindungi kepentingan rakyat kecil, masyarakat lemah, seperti rakyat Indonesia selama ini.

Jadi tujuan utama mereka adalah: ketamakan harta-benda, penindasan masyarakat untuk memperkaya diri, memuaskan hawa nafsu hewani mereka.

REKOMENDASI

Saya menasehatkan kepada saudara-saudara budiman:  jangan pernah lagi percaya dengan media massa, para pakar politik, pengamat, akademisi, “Bapak Reformasi”, politisi, pejabat politik, dan lain-lain. Jangan mempercayai mereka semua, sebab mereka hanyalah “senjatanya kaum kapitalis”. Mereka tidak jujur dalam ucapan, tindakan, dan pemikiran-pemikirannya. Mereka hanyalah “centeng-centeng” kapitalisme, jangan dipercaya sama sekali. Mempercayai mereka, sama saja dengan ridha terhadap penindasan masyarakat.

Hanya memang sulitnya, masyarakat Indonesia sebagian besar kurang terpelajar, sangat lugu, dan mudah diapusi (ditipu). Inilah masalah besar kita selama. Alhamdulillah, Allah mengajarkan kita pengertian-pengertian tentang “benang merah” berbagai persoalan. Namun sayang, rakyat sendiri awam, polos, gampang sekali dikendalikan dengan iming-iming materi. Itulah dilemanya hidup di negeri Indonesia ini.

Tapi apapun juga, jangan berputus-asa. Lakukan perbaikan sekuat kemampuan. Hidup kita tak lebih dari sebuah ungkapan, “In uridu illal ishlaha mastatha’tu” (aku ini tak lain hanyalah menginginkan perbaikan, sekuat kemampuanku). Ya terus lakukan perbaikan, sampai Allah memberi satu dari dua kenyataan: Hidup mulia dalam Islam, atau wafat sebagai bagian dari para syuhada’.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

== AMW ==


Pergilah Ke Minang Saudaraku! Saat Ini Juga!!!

Oktober 3, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalliy wa sallim wa baarik ‘alan Nabi Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Amma ba’du.

Bencana gempa bumi di Ranah Minang yang baru lalu sangatlah dahsyat. Bencana itu telah merusak infrastruktur jalan, jembatan, listrik, telepon, air, dll. Bencana itu telah menghancurkan gedung-gedung, menimbun ribuan manusia, meruntuhkan masjid, RS, rumah-rumah penduduk, instalasi umum, dan sebagainya. Bila di Yogya rumah-rumah yang hancur rata-rata terbuat dari bambu, kayu, dan semi permanen, maka di Minang semua gedung-gedung berfondasi kokoh telah berserakan. Fondasi terangkat, tulang-tulang besi putus, dinding roboh, hingga kampung-kampung tenggelam ditimbun tanah longsor.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hanya dalam hitungan 1 atau 2 menit, Kota Padang yang telah berusia ratusan tahun, telah dibangun selama berabad-abad, runtuh bak kota mati. Laa ilaha illa Allah. Padahal disana adalah wilayah yang terkenal dengan semboyan, “Adat basandi Syara’. Syara’ basandi Kitabullah.” Kalau daerah yang religius saja sedemikian hebat guncangan bencananya, apalagi dengan Jakarta, sebuah kota bermandi maksiyat dan durhaka? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saudaraku…

Kini saudara-saudara kita di Ranah Minang sedang membutuhkan kita semua. Masih ratusan orang atau ribuan yang tertimbun reruntuhan bangunan. Ada mayat-mayat yang harus dievakuasi. Ada nyawa-nyawa yang sedang berjuang bertahan di tengah himpitan dinding dan batu-batu. Ada ribuan Muslimin yang kebingungan, trauma, ketakutan, sangat kekurangan. Bau mayat telah menyebar dimana-mana, korban luka-luka butuh pertolongan. Anak-anak Muslim, termasuk balita, mereka dalam situasi mengkhawatirkan. Saat-saat seperti ini, biasanya srigala-srigala Kristenisasi akan datang untuk mengulurkan bantuan, dengan imbalan MURTAD dari Islam. Na’udzubillah wa na’udzubillahbi ‘ Izzatillah  minal kufri wal kuffar.

Gedung Kokoh Hancur Berantakan. Afalaa tadzakkaruun?

Gedung kokoh hancur berantakan. Afalaa tadzakkaruun?

Kalau Anda memiliki harta, sampaikan bantuannya. Kalau ada makanan, obat-obatan, popok bayi, susu bayi, pembalut wanita, pakaian dalam, dll. sampaikan juga. Kalau ada barang bekas, layak pakai, masih bermanfaat, sampaikan juga. Atau berdoalah, mohonkan rahmat Allah, ampunan-Nya, dan petunjuk-Nya agar memperbaiki jiwa-jiwa kaum Muslimin, baik di Minang atau di Indonesia pada umumnya. Setidaknya lakukan shalat ghaib, sebab banyak saudaramu yang meninggal tanpa dikafani, dimandikan, dishalati. Di antara mereka langsung tertimbun tanah, dengan kecil peluang akan diangkat ke atas.

Saudaraku…

Cobalah hayati beberapa petunjuk Allah Ta’ala. “Bahwasanya orang-orang beriman itu bersaudara.” Begitu pula, “Bahwasanya orang-orang Mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya.”

Nabi Saw juga mengatakan, “Tidaklah seseorang di antara kalian beriman, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Begitu pula beliau mengatakan, “Orang-orang Mukmin itu saling menguatkan satu sama lain.”

Marilah kita bantu saudara-saudara kita, sekuat kemampuan dan kesmpatan yang kita miliki. Kalau diminta berdoa, berdoalah sungguh-sungguh, jangan selalu mengatakan “Insya Allah, insya Allah” lalu engkau acuhkan permintaan saudaramu. Kalau ada kelebihan harta, tunaikan hak-hak saudaramu. Harta yang engkau berikan secara ikhlas itu semoga menjadi “tolak bala” bagi diri, keluarga, dan masyarakatmu. Amin Allahumma amin.

Kemudian, engkau jangan selalu menjadikan urusan PEKERJAAN, BISNIS, TUGAS KANTOR, TUGAS KULIAH, NAFKAH ANAK-ISTERI, “TIDAK PUNYA UANG”, dan lainnya sebagai alasan. Sudah ribuan atau jutaan kali alasan seperti itu disampaikan manusia, sejak bencana-bencana alam dulu, seperti Tsunami di Aceh. Justru alasan-alasan seperti itu bisa mematikan hati, membuat kita menjadi munafik, membuat iman semakin rusak, dan seterusnya. Aku menduga, wallahu A’lam bisshawaab, bencana-bencana alam ini selalu menimpa orang-orang yang sering menjadikan semua alasan di atas sebagai TAMENG. Mungkin suatu saat, bencana itu akan mengubur manusia-manusia yang selalu punya “1001 alasan” tersebut. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya, secara Syar’i, ada alasan-alasan yang bisa diterima. Ada alasan-alasan haq yang bisa menggugurkan tanggung-jawab seorang Muslim. Tetapi yang dimaksud disini adalah alasan dibuat-buat, hanya karena kefasikan diri. Na’udzubillah min dzalik. Kalau bicara soal REPOT, BANYAK URUSAN, NAFKAH ANAK-ISTERI, PEKERJAAN, dll. mana ada di dunia ini manusia yang tidak repot? Wong, kambing dan kucing saja setiap hari repot mencari makan, masak manusia ada yang tidak repot?

Ayolah saudaraku…berangkatlah saat ini ke Bumi Minang. Mintalah restu ayah-ibumu. Kalau diijinkan, berangkatlah dengan niat baik. Bawahlah IMAN di dadamu, bawalah UKHUWWAH di dadamu, bawalahTAAT-mu kepada Allah, bawalah semua itu kesana. Imanmu lebih utama daripada sekardus Indomie; Amal shalihmu lebih utama daripada botol-botol infus; Ibadahmu lebih utama daripada gelontoran dana miliaran rupiah. Akhi, dimanapun dirimu berada, berdiri kokoh dengan iman di dadamu, dengan amal shalihmu, maka disana Allah akan menaungi tempatmu berpijak. Allah akan meridhai langkah-langkahmu dan lingkungan di atas mana kakimu berpijak dalam ikhlas, kesabaran, dan istiqamah.

Singkirkan OMONG KOSONG orang-orang yang katanya korban bencana hanya membutuhkan Indomie, obat-obatan, popok bayi, atau pakaian dalam wanita. Bukan karena semua barang-barang itu tak berguna, tapi kaum Muslimin LEBIH BUTUH hati-hati saudaranya yang ikhlas, istiqamah, dan shalih. Hati-hati itulah yang akan menghibur mereka, meringankan beban mereka, mengasihi mereka, mendengarkan keluh-kesah mereka, dan sebagainya. Adapun popok bayi dan Indomie, apa yang bisa dilakukan keduanya?

Ingatlah pelajaran besar saat bencana Tsunami di Aceh lalu. Ketika itu ratusan atau ribuan pemuda Islam, dengan ikhlas, semata mengharap ridha Allah, dengan tekun dan mujahadah mereka megevakuasi satu demi satu mayat kaum Muslimin. Hal itu merupakan keberkahan besar yang akan selalu diingat oleh manusia-manusia yang adil. Para pemuda Islam yang kerap dituduh “garis keras” atau “ekstrem” itu, mereka tidak butuh ekspose media-media massa untuk mengabadikan amal-amal mereka. Walhamdulillah, mereka ikhlas semata karena Allah, karena panggilan iman, karena Ukhuwwah Islamiyyah.

Saudaraku…pergilah kini ke Ranah Minang. Disana ribuan saudaramu sedang memanggilmu, menanti kehadiranmu. “Ya Akhi, dimanakah engkau? Ya Akhi, tolonglah kami! Ya Akhi, tolonglah anak-anak kami! Ya Akhi, lindungi wanita-wanita kami! Ya Akhi, tegakkan surau-surau kami yang runtuh! Ya Akhi, kumandangkan adzan di Ranah Minang! Ya Akhi, selamatkan Islam di Tanah ini!”

Ya Akhi, pergilah kini ke Minang. Bawalah apa yang layak dibawa. Mintalah restu ayah-ibumu, jangan membantahnya jika engkau tidak diijinkan. Carilah rombongan untuk serta di dalamnya, jangan berangkat munfarid (sendiri-sendiri). Inilah khuruj Syar’i yang telah dibuka di depan mata kita. Tinggallah di Minang barang satu bulan, atau lebih jika engkau menginginkan. Tampakkan RAHMAT ISLAM ke hadapan saudara-saudaramu yang menderita. Yakinkan ke mereka, bahwa ISLAM MASIH TEGAK DI BUMI NUSANTARA INI !!!

Pergilah Akhi, Ranah Minang menantimu.

Malang, 3 Oktober 2009.

== AM. Waskito ==