PEMBACA MENULIS

Agustus 27, 2014

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Pembaca budiman yang kami cintai…

FaceDalam rangka menghemat energi dan tetap menyediakan ruang diskusi terbuka; serta menghindari diskusi yang “tidak beradab”; kami sengaja menyediakan forum dialog khusus di laman PEMBACA MENULIS ini.

Silakan bila Anda punya komentar, pertanyaan, kritik, masukan, dan sebagainya; silakan ditulis di sini. Tinggal disebut saja judul atau tema artikel apa yang ingin dituju. Akan lebih baik jika Anda selalu gunakan klik kanan dan “open link in new tab” agar tidak putus koneksi pembahasan.

Seperti biasa, tulislah setiap sesuatu dengan sopan dan beradab. Untuk ruang diskusi yang masih ada bersama artikel, masih bisa dipergunakan. Mohon maaf atas semua keterbatasan kami ya.

Terimakasih. Jazakumullah khairan katsira.

(Admin Blog).


HIDUP TANPA ULIL AMRI

Oktober 22, 2014

Bismillah. Ulil Amri adalah seorang pemimpin Muslim yang menggantikan posisi Nabi SAW unt memimpin Ummat. Singkat kata, dia seorang Khalifah. Jadi urusan ini TIDAK KELUAR dari lingkup Syariat Islam.

***) Dalil sangat kuat bahwa urusan kepemimpinan ini tidak boleh keluar dari Syariat, adalah adanya ayat-ayat Al Qur’an yang MELARANG KITA MENJADIKAN ORG KAFIR SBG PEMIMPIN.

Antara lain: “Ya aiyuhalladzina amanu laa tat-takhidzul kafirina auliyaa’a min dunil mukminin! Aturiduna an taj’alu lillah ‘alaikum sulthonan mubinan.

(Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman! Apakah kalian hendak maemberi alasan bagi Allah untuk -menyiksa/menghukum- kalian?). Surat An Nisaa': 144.

Ayat ini benar-benar melarang KELUARNYA urusan kepemimpinan dari tangan orang Mukmin (pro Syariat). Di sana ada kata kunci “auliyaa’a min dunil mukminin” (pemimpin-pemimpin selain orang Mukmin).

Jelas tegas, tanpa basa basi. Kepemimpinan harus dalam DAIRAH IMAN (lingkup keimanan). Dalam ayat selanjutnya dijelaskan sifat tercela orang munafik dan sifat mulia orang Mukmin. Bukankah banyak yang ngaku Islam (Muslim KTP), padahal hatinya anti Syariat?

***) Dalil lain yang sangat kuat, tak terbantahkan; hingga pendapat ulama-ulama besar yang menyelisihinya, baik ulama Salaf maupun Khalaf, rontok semua. Semua qaul ulama yang berbeda dg dalil ini, dianggap BATHIL.

Dalil apakah itu? YAITU perbuatan Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra, dengan menjadi pemimpin Islam di bawah naungan Syariat Islam. Nah, dalil perbuatan Kenabian ini tidak bisa dibantah oleh TAFSIRAN apapun.

Andai pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullah dan ulama-ulama lain berbeda dengan ini (perbuatan Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra); maka pendapat mereka dianggap bathil, tanpa keraguan!

***) Dalil Ushul Fiqih, bahwa tujuan pelaksanaan Syariat adalah untuk: melindungi agama, jiwa, harta, akal, keturunan kaum Muslimin. Kalau suatu kepemimpinan tidak punya MISSI demikian, ia tidak dianggap bagian dari urusan Islam. Apalagi mau disebut Ulil Amri?

*) Bagaimana kalau kepemimpinan itu jatuh ke tangan SELAIN ORANG-ORANG MUKMIN? Ya itu musibah namanya, bahkan musibah berat. Karena Allah mengancam, kalau ada pemimpin kafir (bukan Mukmin), kita seperti memberi alasan kepada-Nya untuk menyiksa hidup kita.

Maka itu jangan heran, kalau selama hidup di bawah pemimpin sekuler, Islamphobia, anti Syariat; hidup kita susah melulu, miskin, pecah-belah, tidak berwibawa. Itu sesuai ancaman Allah.

*) Mungkinkah kita hidup tanpa Ulil Amri? Mungkin. Karena Nabi Saw dan Sahabat Ra pernah 13 tahun hidup tanpa Ulil Amri di Makkah. Itu jadi dalil bhw bisa saja suatu masa terjadi KEKOSONGAN Ulil Amri.

Seperti kondisi di sini, selagi belum ada kepemimpinan Mukmin, ya selama itu -secara Syariat- belum ada Ulil Amri. Sampai kapan? Ya Allah Maha Tahu sampai kapan.

*) Lalu orang bertanya: “Apakah berarti Anda menyuruh memberontak kepada penguasa? Apa Anda akan kudeta? Apa Anda akan memerangi pemerintah sekuler?”

JAWAB kami: Tidak mesti dipahami begitu. Masalah terbesar adalah menjelaskan perkara ini sesuai Syariat. Adapun untuk melaksanakan kepemimpinan Islam, kita tempuh cara-cara yg memungkinkan. Misalnya, mendakwahkan keutamaan Syariat, memperbaiki Umat, melaksanakan Siyasah Islami, menasehati penguasa, dll.

Jadi jangan ada “piktor” (pikiran kotor) dan “jisad” (jiwa hasad). Seolah kalau orang berbeda dg rezim sekuler, selalu dituduh mau berontak, doyan kudeta, kaum revolusioner. Memang gak ada ide lain, selain “piktor” ye?

*) Kita tidak boleh mengklaim HALAL-HARAM, kecuali dg timbangan Syariat. Daging sembelihan, kalau tidak sesuai Syariat, kita tolak. Itu masalah makanan. Apalagi urusan KEPEMIMPINAN? Masak kita klaim sesuatu yang jahiliyah sebagai Islami? Tidak mungkin.

Demikian, semoga manfaat. Amin. Terimakasih.


APAKAH MR. PRESIDENT ITU ULIL AMRI ?

Oktober 22, 2014

Bismillah. Kami ambil pemahaman paling umum, bahwa Ulil Amri (Wulatul Amri) adalah pemimpin yg mengurus kehidupan kaum Muslimin; sedangkan dia beragama Islam.

Kami akan lakukan pengujian sederhana, untuk membuktikan apakah seorang pemimpin layak disebut Ulil Amri kita atau tidak.

Silakan jawab pertanyaan-pertanyaan tester di bawah:

*) Apakah sang pemimpin selalu sibuk mencari masjid setiap hari? Karena shalat jamaah hukumnya dikerjakan stiap hari.

*) Apakah setiap hari sang pemimpin bertanya: Bagaimana keadaan Ummat Islam di sana-sini? Kalau dia cuek, berarti memang tidak peduli dg urusan Ummat.

*) Kalau ada masalah-masalah, ke mana dia cari solusi? Ke masjid, ke Al Qur’an, ke ulama, ke Allah (lewat doa), atau ke saudara Muslim? Kalau tidak satu pun ke sana, berarti dia bukan bagian dari pemimpin Umat.

*) Tatkala terjadi sengketa, hukum apa yang paling dia utamakan? Hukum Allah, atau selain-nya?

*) Masalah apa yang paling membuatnya sibuk? Masalah keselamatan Umat (dunia-akhirat) atau urusan materi?

*) Bisakah kita jadikan pemimpin itu imam shalat kita?

*) Bisakah dia berkhutbah Jumat atau khutbah Id?

*) Bisakah dia menjawab masalah-masalah fikih yg ditanyakan Umat?

*) Apakah dia mengutamakan ekonomi Syariat daripada ekonomi liberal kapitalistik?

*) Beranikah dia membela Umat dg senjata dan kekuatan?

*) Dan lain-lain pertanyaan semisal.

Kalau hasil jawaban dari semua di atas, kebanyakan NEGATIF. Berarti TIDAK ADA sifat Ulil Amri pada yang bersangkutan. Kalau seorang pemimpin lepas dari sifat-sifat tersebut: Atas alasan apa kita menyebutnya Ulil Amri? Toh dia mendedikasikan kepemimpinannya bukan untuk Islam dan Ummat. Apa yang semacam itu akan diberi label Syariat, sebagai Ulil Amri?

Hendaklah orang-orang yang berilmu menjelaskan masalah ini dengan terbuka, jelas, tanpa menyembunyikan kebenaran. Janganlah mendustai Umat dengan perkara-perkara yang serius di dunia dan akhirat.

Semoga goresan kecil ini bermanfaat. Amin.


MENGKRITIK PEMIMPIN NEGARA

Oktober 22, 2014

*) Sebelum Pilpres banyak penuntut ilmu mengkritik -kasarnya menjelek-jelekkan- calon pemimpin tertentu. Katanya, banyak mafsadat, madharat, sudah maklum keadaannya.

*) Tapi setelah pemimpin “ahlul mafsadat” itu terpilih, seketika berubah hukum baginya: Tidak boleh dikritik, tidak boleh dicela di depan umum, harus didoakan, harus sabar, dinasehati diam-diam. “Kalau dia mau nurut, itulah yang kita inginkan. Kalau dia keras kepala, setidaknya Anda sudah menyampaikan.” Begitu kaidah populernya.

*) Ada satu lagi argumen, seperti retorika raja Muslim di masa lalu saat dia dikritik keras oleh seseorang. Raja itu brdalih: “Aku tidak sejahat Fir’aun, sedang Anda tidak sebaik Musa; tapi Musa diperintah untuk menasehati Fir’aun dengan qaulan laiyinan, kata baik-baik.” Bukan kritik, cela, hinaan, dll.

*) Singkat kata, bagaimana hukum mencela, mengkritik, mengejek pemimpin sekuler (non pemimpin Syariat), khususnya “ahlul mafsadah” lewat media-media? Apakah mencela pemimpin begitu termasuk mencela Ulil Amri?

Sedikit berbagi…

*) Ulil Amri adalah pemimpin yang mengurus hajat hidup orang-orang MUSLIM di atas panduan Syariat Islam. Ibaratnya: “Dari Muslim, oleh Muslim, untuk Muslim.” Hal ini perlu DITEGASKAN agar hukum-hukum Syariat tidak diambil keuntungan oleh para politisi sekuler (Islamphobia).

*) KTP Muslim tidak menjamin seseorang otomatis jadi Ulil Amri; karena di zaman Salaf manusia dilihat dengan kaidah KEYAKINAN, UCAPAN, dan PERBUATAN. Bukan dilihat KTP-nya. Di zaman Salaf, tidak ada “kaidah KTP”.

*) Amal Shalat seorang pemimpin TDK JADI UKURAN, jika AKIDAH-nya sudah bermasalah. Dalilnya, di era Imam Ahmad ada pemimpin yg diingkari karena SESAT AKIDAH-nya; meskipun yang bersangkutan tidak meninggalkan shalat. Harus dipahami, sikap Islamphobia adalah termasuk bentuk kesesatan yang nyata, karena bermakna memusuhi Islam.

*) Meskipun seorang pemimpin berakidah lurus, tidak mengandung kesesatan; dia tetap bisa jatuh ke dalam kekafiran; JIKA membela orang kufar untuk memerangi Muslimin, membenci sebagian atau seluruh Syariat Islam, tidak ridha dengan berlakunya Syariat Allah di muka bumi, selalu memusuhi dan menyusahkan orang-orang Mukmin, bercanda melecehkan agama Allah. Dalil minimal: An Maa’idah 51 dan At Taubah 65-66.

*) Kaidah dasar yang harus diketahui seorang Mukmin, adalah BISA MEMBEDAKAN antara pemimpin yang membawa MASLAHAT & yang membawa MADHARAT; bagi kehidupan Islam dan Muslimin. Kalau mereka tidak tahu, hendaklah melihat mayoritas sikap ulama-ulama Islam, tokoh Ummat, lembaga-lembaga Islam yg kredibel. Kalau tidak tahu juga, jangan bicara politik.

*) Jika seorang pemimpin, berdasarkan bukti-bukti kuat, adalah bagian kaum Islamphobia atau Antiislam; apakah harus kita mencela, mengkritik, menghinanya? JAWABNYA: tidak harus! Tapi dilihat mana yang lebih maslahat bagi Islam dan kaum Muslimin. Kalau dengan dikritik dia jadi bengis, menumpahkan darah Umat; hindari kritik terbuka. Kalau dengan dikritik dia SEMAKIN MELUNAK kezhaliman & maksiyatnya, ya lakukan hal itu.

*) Jadi inti dari urusan ini adalah AMAR MAKRUF dan NAHYUL MUNKAR. Kita tunaikan urusan ini kepada siapa saja, baik rakyat atau pemimpin. Karena agama memang jadi NASEHAT bagi siapa saja, atasan dan bawahan. Dalil minimal: Ali Imran 104.

*) Bagaimana dengan argumen raja Muslim yang membawa istilah qaulan laiyinan itu? Jawabnya, argumen itu hanya mengkritik sikap kasar dalam menasehati pemimpin; bukan menghilangkan hak menasehati pemimpin. Menasehati pemimpin dijamin sepenuhnya oleh Kitabullah dan Sunnah.

*) Kalau bisa menasehati secara damai, lembut, santun, lakukanlah. Kalau tidak bisa karena tidak efektif, ya lakukan cara lain yang lebih efektif dan menghasilkan pengaruh nyata.

Demikian, semoga bermanfaat. Amin.


SULITNYA MAEN GADGET…

Oktober 22, 2014

Anda mau main gadget di mana friends?

# main di ANGKOT, nanti dikira egois, tidak peduli penumpang kanan-kiri.

# main di JALAN RAYA, takut nabrak-nabrak, atau malah ditabrak motor.

# main di KANTOR, khawatir dicurigai “nyuri waktu kerja”.

# main sambil dengerin PENGAJIAN, dikiranya ngaji gak serius.

# main di TERMINAL/STASIUN sambil menunggu, dikiranya orang “sok sibuk” tidak bisa ninggalin gadget.

# main di RUMAH, katanya cuek dg anak-istri.

# main menjelang TIDUR malam, katanya “sudah ketagihan”.

# main di MASJID, katanya “org zaman sekarang selalu bawa2 HP ke masjid.”

# main DI LUAR SEMUA KEADAAN DI ATAS; sengaja sembunyi diri, dijamin tak ganggu siapapun; khusus sembunyi untuk main gadget slama 2 jam; apa hasilnya?

“Kemana aje, Bang? Tiba-tiba ngilang. Gak ada kabar, gak ada berite. Jadi curige, nih. Jangan-jangan, mau cari bini baru ye?”

Yo wis lah terserah… Susah bener jadi manusia. Eh maksudnya, susahnya main gadget.


RAHASIA PARA PEROKOK…

Oktober 22, 2014

Dalam situs Voa-islam.com dimuat pernyataan dari kalangan pengurus NU, bahwa mereka tak akan mengharamkan rokok selamanya, sampai Hari Kiamat. Jika pun ada sikap, paling menghukumi makruh (tidak disukai).

KOMENTAR KAMI:

Bismillah. Pro-kontra rokok sudah lama, sudah tua. Penemu rokok kretek di negeri kita, katanya para santri zaman Belanda dulu.

Kami tidak akan bicara dari perspektif ANTI ROKOK. Tapi kami akan berusaha melihat dari pihak PRO ROKOK, seperti kyai-kyai NU, dan lain-lain.

Mengapa mereka begitu SENGIT MENOLAK status haramnya rokok?

Sejatinya, pada rokok ada zat addictive yang membuat manusia KECANDUAN.

Intinya begini: Tatkala seseorang menghisap asap rokok; lama-lama partikel-partikel asap itu masuk paru-paru, lalu masuk darah. Ketika partikel ini semakin menumpuk di darah, jadi sumber aneka penyakit.

Tapi secara biologis, partikel-partikel asap rokok memang menimbulkan SAKIT pada diri perokok. Sakitnya seperti kepala pusing, gemetar, berkeringat, bingung, perasaan tak tenang, dll. Nah, smua sakit itu akan SEGERA HILANG, saat seseorang mulai merokok.

Jadi orang merokok itu bukan KARENA SUKA, tapi karena ingin MENGHILANGKAN SAKIT dari dirinya. Ibarat bocah pipis di celana, pasti ingin cepat-cepat ganti celana.

DAPAT DISIMPULKAN, industri rokok itu seperti industri “rasa sakit”. Membuat orang sakit dengan kecanduan; lalu menawarkan solusi penghilang sakit, lewat rokok. Rokok penyebab sakit, sekaligus penawarnya.

Kerja rokok di tubuh seperti kerja NARKOBA. Tapi tidak separah narkoba, dan tidak mematikan dengan cepat. Hal ini sulit dihentikan, kecuali dengan kemauan keras; dan izin Allah.

Ya ini biar kita paham situasi, dari sudut para PEROKOK. Mungkin terapi bekam atau DETOKSIFIKASI bisa membantu mengurangi derita para perokok.

Ada yang menyarankan, untuk mulai berhenti merokok, gantilah dengan makan makanan yang asin-asin. Katanya, makanan asin bisa menjadi “obat” rasa pahit di lidah atau tenggorokan tatkala tidak merokok.

Wallahu a’lam.

Sumber: postingan FB.


Demokrasi Marah-marah !!!

Oktober 13, 2014
Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

*)  Anda seorang demokrat? Anda paham makna demokrasi? Paham konsekuensinya?

*)  Demokrasi tidak cuma soal “dukungan mayoritas rakyat”: tapi juga menghormati aturan main dan siap menerima hasil proses-proses politik yang legal (konstitusional).

*)  Ketika salah seorang kandidat presiden dinyatakan kalah oleh KPU, dia siap menggugat ke MK, dan kemudian menerima hasilnya. Itu contoh sikap, taat prosedur dan tidak anarkhis.

 

*)  Tapi hari ini kita jadi heran melihat para penggiat demokrasi, politisi, partai politik, pejabat, pengamat, dan terutama MEDIA-MEDIA massa. Mereka kini jadi seperti BAHLUL dalam urusan demokrasi.

*)  Katanya, demokrat sejati, master demokrasi, avant garde-nya demokrasi, para pendekar pilih tanding rimba demokrasi, dan seterusnya; tapi ternyata sikap mereka, pernyataan mereka, kelakuannnya sangat menyedihkan.

*)  Ketika KMP memenangkan pertarungan politik sengit di level DPR/MPR, entah mengapa orang-orang itu mendadak marah-marah, emosi, memaki-maki, mengancam, memfitnah, dan seterusnya. Aneh.

*)  Mereka telah tahu beberapa hal di bawah ini:

== Pendukung partai-partai dalam KMP itu suaranya mayoritas.

== Rakyat ikhlas rela memilih partai-partai di KMP. Terbukti mereka tidak protes ketika disahkan UU Pilkada lewat DPRD. Rakyat dari Sabang sampai Merauke bersikap baik-baik saja. Tidak muncul gejolak aneh-aneh.

== Berbagai keputusan politik diperoleh lewat proses Parlemen secara fair dan wajar. Malah lebih cool dari proses-proses di masa sebelumnya.

== Dalam demokrasi ada saluran dan mekanisme yang disepakati.

*)  Nah, mengapa setelah semua itu, mereka marah-marah, emosi, menekan, mengancam ada “people power” segala. Mengapa dan mengapa? Kalau memang tidak mengerti politik, ya jangan masuk dunia itu.

*)  Bahkan yang lucu, mereka berkoar-koar: “Rakyat tidak setuju semua ini. Rakyat marah. Rakyat tidak terima. Ini merampas hak-hak demokrasi. Ini kemunduran demokrasi. Ini tanda kematian demokrasi.”

*)  Pertanyaannya: Kalian itu mengerti politik apa tidak? Hal-hal yang diraih secara legal, prosedural, sesuai konstitusi, kok kalian anggap melanggar demokrasi? Demokrasi yang mana tuh?

*)  Jujur saja. Kalau tidak mengerti politik, sebaiknya mundur sajalah. Daripada menciderai akal sehat.

*)  Sampai di sini dulu bincang-bincang sedikit tentang demokrasi (politik). Nanti kita sambung ya…

***

===> Ngomong-ngomong, daging kurban-nya masih ada gak? Kalau masih, ya syukur. Lumayan buat perbaikan gizi anak-anak. Memang prihatin juga yak…masak sih makan daging nunggu Idul Adha? He he he…

===> Oh ya, jangan lupa doakan saudara-saudaramu yang baru pulang Haji, masih di Tanah Suci, dan berencana berangkat ke sana. Doakan ya. Biasanya doa yang dibaca ini: “Allohummaj’al hum haj-jan mabru-ron wa sa’yan masy-kuron wa dzan-ban magh-furon wa tijarotan lan tabuur” (ya Allah jadikan mereka Haji mabrur, usahanya disyukuri, dosanya diampuni, dan perniagaan-nya dengan Allah jadi perniagaan yang tidak pernah merugi). Doakan ya sahabat-sahabat budiman. :-)

(Polikisi).


Gempa Sosial di Balik Pilpres Juli 2014

Oktober 13, 2014
Banyak Kejutan Di sini

Banyak Kejutan Di sini

Bismillah. Sejak Pilpres kemarin terjadi hal-hal menggemparkan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Disadari atau tidak, kenyataan itu sudah terjadi dan massif berkembang di tengah masyarakat.

Perlu dipahami, di Indonesia ada sekitar 70 juta pengguna internet (dengan berbagai varian dan fasilitas). Ini berdasar penelitian sebagian lembaga surve market. Di antara pengguna ini ada yang AKTIF, HOBI, dan masih USIA MUDA. Mereka ini menjadi komunitas kritis yang banyak tahu, banyak baca artikel internet, dan spontan gayanya.

Kemudian di antara pengguna internet itu banyak yang menjadi pelanggan medsos seperti Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dan lain-lain. Mereka pengguna aktif dan banyak terlibat diskusi, share, chat, dan sebagainya. Mereka ini boleh dikata sebagai “komunitas medsos” yang sangat berpengaruh di dunia maya.

Nah, sejak Pilpres lalu muncul fenomena menggemparkan seperti di bawah ini:

*) Nama baik media-media mainstream hancur-lebur. Mereka berlebihan dalam mendewa-dewakan kandidat pemimpin, serta sangat agressif menyerang kandidat lain.

*) Citra wartawan dan pers rusak parah, karena sangat partisan & tendensius. PWI, AJI, dan seterusnya seperti tak berdaya.

*) Partai & tokoh-tokoh politik banyak dituduh sebagai antek asing dan aseng. Ya karena sikap mereka sendiri.

*) Para pengamat politik dicaci-maki sebagai jongos konglo-konglo hitam. Sosok seperti Ikrar Nusa Bakti, Asvi Warman Adam, Boy Hargens, Fajroel Rahman, dan seterusnya sudah dianggap partisan dan berkedok pengamat.

*) Lembaga-lembaga surve dibuang ke tempat sampah. Deny JA, Saiful Mujani, dan seterusnya sudah tak dianggap.

*) Lembaga seperti KPK dianggap kacung, tebang pilih, kerja sesuai pesanan. Apalagi kemarin Abraham Samad lantang menuduh Ketua DPR terpilih terkait kasus korupsi. Padahal dia tidak menjadi tersangka, hanya saksi.

*) Reputasi KPU dan Bawaslu dipertanyakan. Bahkan independensi MK juga diragukan.

Inilah sekelumit gempa-gempa sosial yang melanda kehidupan bangsa di masa-masa skarang ini. Selain itu, polarisasi basis massa yang pro liberalisme dan pro kemandirian bangsa, semakin tampak jelas. Hitam putih.

Mungkinkah ini hakikat “the real truth power”? Wallahu a’lam.

(Sang Owl).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.