PEMBACA MENULIS

Agustus 27, 2014

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh. Pembaca budiman yang kami cintai…

FaceDalam rangka menghemat energi dan tetap menyediakan ruang diskusi terbuka; serta menghindari diskusi yang “tidak beradab”; kami sengaja menyediakan forum dialog khusus di laman PEMBACA MENULIS ini.

Silakan bila Anda punya komentar, pertanyaan, kritik, masukan, dan sebagainya; silakan ditulis di sini. Tinggal disebut saja judul atau tema artikel apa yang ingin dituju. Akan lebih baik jika Anda selalu gunakan klik kanan dan “open link in new tab” agar tidak putus koneksi pembahasan.

Seperti biasa, tulislah setiap sesuatu dengan sopan dan beradab. Untuk ruang diskusi yang masih ada bersama artikel, masih bisa dipergunakan. Mohon maaf atas semua keterbatasan kami ya.

Terimakasih. Jazakumullah khairan katsira.

(Admin Blog).


Demokrasi Marah-marah !!!

Oktober 13, 2014
Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

Kalau Gak Ngerti Politik Mending Mundur Aja

*)  Anda seorang demokrat? Anda paham makna demokrasi? Paham konsekuensinya?

*)  Demokrasi tidak cuma soal “dukungan mayoritas rakyat”: tapi juga menghormati aturan main dan siap menerima hasil proses-proses politik yang legal (konstitusional).

*)  Ketika salah seorang kandidat presiden dinyatakan kalah oleh KPU, dia siap menggugat ke MK, dan kemudian menerima hasilnya. Itu contoh sikap, taat prosedur dan tidak anarkhis.

 

*)  Tapi hari ini kita jadi heran melihat para penggiat demokrasi, politisi, partai politik, pejabat, pengamat, dan terutama MEDIA-MEDIA massa. Mereka kini jadi seperti BAHLUL dalam urusan demokrasi.

*)  Katanya, demokrat sejati, master demokrasi, avant garde-nya demokrasi, para pendekar pilih tanding rimba demokrasi, dan seterusnya; tapi ternyata sikap mereka, pernyataan mereka, kelakuannnya sangat menyedihkan.

*)  Ketika KMP memenangkan pertarungan politik sengit di level DPR/MPR, entah mengapa orang-orang itu mendadak marah-marah, emosi, memaki-maki, mengancam, memfitnah, dan seterusnya. Aneh.

*)  Mereka telah tahu beberapa hal di bawah ini:

== Pendukung partai-partai dalam KMP itu suaranya mayoritas.

== Rakyat ikhlas rela memilih partai-partai di KMP. Terbukti mereka tidak protes ketika disahkan UU Pilkada lewat DPRD. Rakyat dari Sabang sampai Merauke bersikap baik-baik saja. Tidak muncul gejolak aneh-aneh.

== Berbagai keputusan politik diperoleh lewat proses Parlemen secara fair dan wajar. Malah lebih cool dari proses-proses di masa sebelumnya.

== Dalam demokrasi ada saluran dan mekanisme yang disepakati.

*)  Nah, mengapa setelah semua itu, mereka marah-marah, emosi, menekan, mengancam ada “people power” segala. Mengapa dan mengapa? Kalau memang tidak mengerti politik, ya jangan masuk dunia itu.

*)  Bahkan yang lucu, mereka berkoar-koar: “Rakyat tidak setuju semua ini. Rakyat marah. Rakyat tidak terima. Ini merampas hak-hak demokrasi. Ini kemunduran demokrasi. Ini tanda kematian demokrasi.”

*)  Pertanyaannya: Kalian itu mengerti politik apa tidak? Hal-hal yang diraih secara legal, prosedural, sesuai konstitusi, kok kalian anggap melanggar demokrasi? Demokrasi yang mana tuh?

*)  Jujur saja. Kalau tidak mengerti politik, sebaiknya mundur sajalah. Daripada menciderai akal sehat.

*)  Sampai di sini dulu bincang-bincang sedikit tentang demokrasi (politik). Nanti kita sambung ya…

***

===> Ngomong-ngomong, daging kurban-nya masih ada gak? Kalau masih, ya syukur. Lumayan buat perbaikan gizi anak-anak. Memang prihatin juga yak…masak sih makan daging nunggu Idul Adha? He he he…

===> Oh ya, jangan lupa doakan saudara-saudaramu yang baru pulang Haji, masih di Tanah Suci, dan berencana berangkat ke sana. Doakan ya. Biasanya doa yang dibaca ini: “Allohummaj’al hum haj-jan mabru-ron wa sa’yan masy-kuron wa dzan-ban magh-furon wa tijarotan lan tabuur” (ya Allah jadikan mereka Haji mabrur, usahanya disyukuri, dosanya diampuni, dan perniagaan-nya dengan Allah jadi perniagaan yang tidak pernah merugi). Doakan ya sahabat-sahabat budiman. :-)

(Polikisi).


Gempa Sosial di Balik Pilpres Juli 2014

Oktober 13, 2014
Banyak Kejutan Di sini

Banyak Kejutan Di sini

Bismillah. Sejak Pilpres kemarin terjadi hal-hal menggemparkan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Disadari atau tidak, kenyataan itu sudah terjadi dan massif berkembang di tengah masyarakat.

Perlu dipahami, di Indonesia ada sekitar 70 juta pengguna internet (dengan berbagai varian dan fasilitas). Ini berdasar penelitian sebagian lembaga surve market. Di antara pengguna ini ada yang AKTIF, HOBI, dan masih USIA MUDA. Mereka ini menjadi komunitas kritis yang banyak tahu, banyak baca artikel internet, dan spontan gayanya.

Kemudian di antara pengguna internet itu banyak yang menjadi pelanggan medsos seperti Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp, dan lain-lain. Mereka pengguna aktif dan banyak terlibat diskusi, share, chat, dan sebagainya. Mereka ini boleh dikata sebagai “komunitas medsos” yang sangat berpengaruh di dunia maya.

Nah, sejak Pilpres lalu muncul fenomena menggemparkan seperti di bawah ini:

*) Nama baik media-media mainstream hancur-lebur. Mereka berlebihan dalam mendewa-dewakan kandidat pemimpin, serta sangat agressif menyerang kandidat lain.

*) Citra wartawan dan pers rusak parah, karena sangat partisan & tendensius. PWI, AJI, dan seterusnya seperti tak berdaya.

*) Partai & tokoh-tokoh politik banyak dituduh sebagai antek asing dan aseng. Ya karena sikap mereka sendiri.

*) Para pengamat politik dicaci-maki sebagai jongos konglo-konglo hitam. Sosok seperti Ikrar Nusa Bakti, Asvi Warman Adam, Boy Hargens, Fajroel Rahman, dan seterusnya sudah dianggap partisan dan berkedok pengamat.

*) Lembaga-lembaga surve dibuang ke tempat sampah. Deny JA, Saiful Mujani, dan seterusnya sudah tak dianggap.

*) Lembaga seperti KPK dianggap kacung, tebang pilih, kerja sesuai pesanan. Apalagi kemarin Abraham Samad lantang menuduh Ketua DPR terpilih terkait kasus korupsi. Padahal dia tidak menjadi tersangka, hanya saksi.

*) Reputasi KPU dan Bawaslu dipertanyakan. Bahkan independensi MK juga diragukan.

Inilah sekelumit gempa-gempa sosial yang melanda kehidupan bangsa di masa-masa skarang ini. Selain itu, polarisasi basis massa yang pro liberalisme dan pro kemandirian bangsa, semakin tampak jelas. Hitam putih.

Mungkinkah ini hakikat “the real truth power”? Wallahu a’lam.

(Sang Owl).


“Kiamat” Pencitraan

Oktober 13, 2014
Pencitraan The End...

Pencitraan The End…

Tanggal pelantikan presiden baru masih sekitar 7 hari lagi. Tepatnya, 20 Okt 2014. Tapi gelagat ketakutan pihak KIH dan think-tank-nya sdh begitu membuncah. Bukan soal PENJEGALAN pelantikan, karena KMP kemungkinan tidak akan masuk kesana (menurut kami).

Lalu apa penyebab kegentaran dan grogi luar biasa ini?

Simple saja. Ini soal PEMBUKTIAN atas PENCITRAAN SANG PRESIDEN. Selama ini kan dia dicitrakan serba hebat, kreatif, merakyat, sederhana, terbuka, dan seterusnya.

Tapi saat dia jadi presiden itu akan benar-benar KETAHUAN modal dan skill aslinya. Bayangkan saja, sekelas Dirut PLN, Pertamina, atau Garuda saja; merasa berat unt jadi presiden.

Kami selama ini meyakini, kemampuan sang presiden terpilih baru selevel bupati/walikota. Belum bisa “ditarik” ke level nasional. Sama seperti kemampuan Gusdur dulu. Dia sebatas pemimpin ormas atau kyai nyentrik yang tidak tahu urusan administrasi negara.

Teringat ucapan Dr. Mahmudi Ismail, saat baru menjabat walikota Depok. Kata dia, ternyata memimpin kota itu lebih rumit dan komplek daripada memimpin Departemen (Kehutanan). Ini membuktikn, jabatan politik itu berat.

Media-media telah melahirkan sosok IDOLA HEBAT, tapi yang bersangkutan tak mampu menjadi sosok seperti itu. Inilah yang akan menyebabkan terjadi “kiamat” pencitraan. Sudah begitu, andai terjadi apa-apa pada sang presiden; penggantinya sudah kakek-kakek, udzur. Naik sepeda dalam jarak sekilo saja sudah tak kuat. Masalah lagi kan?

Sulit membayangkan situasi nanti. Malah sangat mungkin, nanti sang presiden akan dicaci-maki para pendukungnya sendiri. Apalagi kabarnya, dia mau naikkan BBM 3000 rupiah.

Seperti kata pepatah: “Sepandai-pandai menyimpan bangkai, lama-lama kan tercium juga busuknya.” Sepintar-pintar membuat pencitraan nanti akan terbukti juga benar atau tidaknya.

Selamat menyaksikan!

(Weare).


Maafkan Aku…

Oktober 13, 2014
Maafin Kami Ya...

Maafin Kami Ya…

Sahabat Pembaca Budiman…

Sebelumnya, maafin kami ya, maafin yang sebesar-besarnya. Agak telat update dan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Semoga Allah Ta’ala memberi jawaban/pemahaman dari sumber-sumber lain ya. Amin.

Maaf, maaf, sorry banget. Dalam dua pekan terakhir agak telat update, meskipun banyak isu-isu penting dan menarik tuk disimak. Tapi yakinlah, dari hati ke hati kita saling peduli. (Halah bisa aja ngeles).

Untuk kawan-kawan yang komen dan bertanya, maafin, maafin, telat banget responnya. Ya beginilah guwe… (halah sok kebetawi-betawian, Betawi sudah mau diporotin tahu sama Bobohok). Moga-moga ke depan tidak terlalu telat.

Ini sengaja pakai bahasa agak okem dikit, buat seger-segeran. Biar tidak kaku semisal bahasa begini: “Demikianlah, maka dari itu oleh karenanya sehingga semestinya terjadilah suatu kejadian….”

Sekali lagi, maaf ya. Salam rahmat dan kasih sayang, di jalan Islam. Barakallah fikum wa iyyana fil hayah, amin.

Add-mine.


Puasa Arafah Saat Muslimin Wukuf di Arafah…

September 26, 2014

Bismillahirrahmaanirrahim.

=> Pada momen Idul Adha 1435 H ini tampaknya kaum Muslimin akan berbeda pendapat tentang Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan momen Idul Adha. Pemerintah Indonesia memutuskan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 5 Oktober, sehingga puasa Arafahnya tanggal 4 Oktober. Sementara kementrian agama Saudi menetapkan Hari Arafah pada 3 Oktober, sedangkan Idul Adha pada 4 Oktober.

=> Singkat kata, kita mau ikut yang mana ya? Mau ikut kementrian agama Saudi atau Depag RI?

=> Kalau merujuk fatwa ulama-ulama Saudi, termasuk lembaga Lajnah Daimah, mereka menasehatkan agar kaum Muslimin ikut keputusan pemerintah masing-masing di wilayahnya; tidak harus mengikuti keputusan kementrian agama Saudi. Jadi singkat kata: silakan puasa di negeri masing-masing, silakan berhari-raya di negeri masing-masing, sesuai keputusan pemerintah negeri masing-masing.

=> Kalau kami memandang: kaum Muslimin lebih layak mengikuti momen Wukuf yang sedang terjadi di padang Arafah, Kota Makkah. Jika Wukuf 9 Dzulhijjah pada tanggal 3 Oktober 2014, ya silakan puasa di hari itu, besoknya baru melaksanakan Shalat Idul Adha (jika ada yang menyelenggarakan).

Di Padang Arafah Ummat Melaksanakn Wukuf

Di Padang Arafah Ummat Melaksanakn Wukuf

=> Mengapa kami berpendapat demikian? Apakah kami coba membangkang kepada para ulama?

=> Ada sekian alasan yang bisa kami kemukakan untuk mendukung pendapat ini, antara lain sebagai berikut:

[1]. Hari Raya Idul Adha tidak identik dengan Hari Raya Idul Fithri. Ada perbedaan mendasar di sana, yaitu terkait kekhususan Kota Makkah yang memiliki Padang Arafah di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Kekhususan ini sama seperti khususnya Padang Arafah, Mina, Kota Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji dan Umrah. Haji dan Umrah tidak bisa dilakukan, selain di Kota Makkah dan sekitarnya.

[2]. Coba perhatikan, saat para jamaah Haji sedang Wukuf di Arafah, apa yang mereka pikirkan tentang saudara-saudaranya yang tidak sedang melaksanakan Haji (Wukuf)? Pastilah mereka membayangkan, para saudaranya kaum Muslimin itu sedang melaksanakan puasa Sunnah Hari Arafah pada 9 Dzulhijjah. Lha, kalau saat Wukuf malah kita yang tidak sedang melaksanakan Haji tidak berpuasa, malah berpuasa pada hari berikutnya; berarti salah satu bentuk Syariat Islam sudah gugur. Syariat yang mana? Ya itu dia, bagi jamaah Haji tidak berpuasa di Arafah, sedangkan bagi yang tidak Haji melaksanakan puasa Sunnah.

[3]. Alasan lain, di zaman Nabi SAW dan para Shahabat RA tidak ada perselisihan tentang masalah ini. Ketika di Makkah sedang Wukuf, maka rakyat Muslim di kota-kota lain melaksanakan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah. Mereka tidak mengadakan momen-momen puasa sendiri mengikuti kehendaknya sendiri, tetapi melihat pelaksanaan Wukuf di Makkah.

[4]. Ada yang berdalil dengan “rukyat setiap negeri” pada hadits “rukyatnya Muawiyah di Damaskus”. Kalau hadits ini dijadikan dalil bagi pentingnya hari raya di setiap negeri sendiri-sendiri, maka akan terbit masalah besar. Masalah apa? Ingat, Damaskus itu adalah kota, seperti juga Madinah dan Makkah. Jika masing-masing kota melaksanakan acara sendiri-sendiri; maka Surabaya sendiri, Jakarta sendiri, Palembang sendiri, Medan sendiri, Makassar sendiri, Jayapura sendiri. Wallahu akbar, bagaimana nasib Ummat ini kalau setiap kota (seperti Damaskus) punya keputusan sendiri-sendiri. Sebenarnya dalam hadits “rukyat Muawiyah” itu ada illaj-nya (konteks). Di sana sang perawi tidak mengetahui informasi yang terjadi pada kota-kota berbeda, melainkan setelah melakukan perjalanan bulanan. Artinya, informasi rukyat itu tersekat antar kota; penduduk suatu kota tidak tahu keadaan kota yang lain. Di zaman modern, ketika piranti informasi/komunikasi dimudahkan, ya mestinya tidak menjadi masalah.

[5]. Mayoritas kaum Muslimin melaksanakan ibadah sesuai keadaan Wukuf di Kota Makkah. Dengan asumsi, mereka tahu informasi Wukuf di sana dan mereka tahu bahwa saat Wukuf sedang berlangsung, kaum Muslimin yang tidak melaksanakan Haji disunnahkan berpuasa. Jadi perhimpunan manusia yang sepakat dengan momen Wukuf ini adalah perhimpunan besar seluruh dunia; sedangkan yang menentukan rukyatnya sendiri-sendiri, mereka berbeda-beda satu sama lain. Perkumpulan ini sudah bisa dimaknakan sebagaimana dalam hadits “yauma tashumuna” (hari ketika kalian berpuasa). Faktanya, saat itu mayoritas kaum Muslimin di dunia sama sikapnya.

[6]. Menyamakan momen puasa Arafah dan Idul Adha dengan keputusan Wukuf di Kota Makkah, adalah jalan praktis untuk menghimpun Ummat dalam kesatuan, persatuan, dan persaudaraan. Di sini menutup pintu-pintu persengketaan, saling mencela, saling menghina; namun justru terbit harapan untuk saling bersatu, bersama, dan seragam. Hal-hal berupa nikmat Allah yang menghantar kepada Kesatuan Ummat harus disyukuri.

[7]. Bagaimana seandainya -paling kasarnya- sampai tidak terjadi Wukuf di Arafah, karena tidak ada pelaksanaan ibadah Haji di sana? Ya, kalau kondisinya darurat, ya kita boleh melakukan rukyat sendiri-sendiri; tapi lebih utama kalau rukyat itu menghimpun jumlah kaum Muslimin yang besar. Semakin banyak yang bersatu, semakin baik.

[8]. Lalu bagaimana kalau keputusan kementrian agama Saudi asal-asalan, seenaknya sendiri menetapkan rukyat, tidak didukung data-data hisab dan astronomi? Jawabnya: Kalau mereka main-main, dosa manusia sedunia mereka tanggung di pundaknya; kita tidak ikut-ikutan menanggung dosa. Kita tetap dinilai beramal saleh sesuai niat dan kemampuan kita.

=> KESIMPULAN: Silakan laksanakan puasa Sunnah Arafah pada saat kaum Muslimin Wukuf di Padang Arafah, dan laksanakan Idul Adha sehari sesudahnya.

=> Demikian, semoga bermanfaat. Terimakasih. Billahil huda wat taufiq.

(Weare).


Komando, Loyalitas, dan Militansi

September 26, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

*) KOMANDO adalah otoritas dari level pemimpin kepada para bawahan atau anak buah, yang ditaati secara penuh, tanpa reserve. Misalnya komando seorang perwira kepada prajurit; pimpinan ormas kepada pengikut; pimpinan aksi kepada para pendukung aksi.

*) LOYALITAS adalah kesetiaan seseorang/sekelompok orang kepada pihak tertentu, dengan alasan apapun. Misalnya, suporter bola loyal kepada timnya; para santri loyal kepada kyai pesantren; anggota partai loyal kepada garis kebijakan partainya.

*) MILITANSI adalah kerelaan berkorban, semangat pembelaan, serta ketangguhan untuk menjaga suatu paham, pemikiran, organisasi, dan sebagainya. Misalnya, militansi aktivis dakwah, militansi demonstran mahasiswa, militansi aktivis gerakan sosial, dan sebagainya.

Saling Dukung Mendukung Menjaga Ummat dan Agama

Saling Dukung Mendukung Menjaga Ummat dan Agama

*) Komando, Loyalitas, Militansi adalah tiga kata berbeda, tetapi ruang lingkupnya sama. Terkadang ketiganya berada dalam satu tempat, kadang terpisah-pisah. Misalnya pada kalimat berikut: “Pimpinan organisasi pemuda memberikan perintah aksi kepada para anggotanya yang terkenal loyal dan militan.” Anggota organisasi itu loyal, kemudian memiliki sifat militan, lalu diarahkan dengan komando-komando.

*) Mengapa sih kita bicara masalah ini? Apa urgensinya ya? Kok kesannya seperti mau ada peperangan?

*) Begini wahai saudara-saudaraku… Zaman kita ini terus bergerak. Perubahan-perubahan terus terjadi. Seringkali perubahan zaman lebih cepat dari kemampuan respon kita. Misalnya, kalangan Amerika, Eropa, dan negara-negara Sekutunya sedang melakukan rekayasa wilayah di negeri-negeri Muslim (Timur Tengah). Tentu saja mereka mengerahkan dana, tenaga, strategi, teknologi, dan seterusnya. Tapi kita sendiri kaum Muslimin di negeri ini masih “menggelar seminar tentang pentingnya pendidikan agama Islam“. Bukan mau menghina, tapi betapa jauhnya kecepatan kaum agressor dibandingkan program-program kita.

*) Pernahkah Anda memikirkan hal ini: “Orang-orang non Islam berhasil membuat rekayasa dunia sedemikian rupa, karena mereka berhasil mendidik generasi, menyiapkan SDM, membangun kesadaran, membangun pusat-pusat pendidikan, dan seterusnya.” Pernahkah berpikir begitu? Sering ya.

*) Bagaimana kalau faktanya begini: “Kaum non Islam melakukan audisi untuk merekrut tenaga-tenaga profesional. Mereka direkrut untuk melaksanakan program rekayasa dunia. Mereka dijanjikan income 100 juta sebulan. Segala kebutuhan hidup, jenjang karier, masa depan sudah dijamin. Kalau perlu diberi posisi politik. Hanya syaratnya, mereka (orang rekrutan itu) harus loyal mati-matian kepada agenda rekayasa.” Jadi sifat kerja mereka dipaksa, ditekan keras, diawasi secara ketat; karena mereka dibayar mahal.

*) Kalau kita baru mengandalkan KESADARAN UMMAT, mereka sudah memaksa dengan ketat. Kalau kita baru rencana, mereka sudah susun program satu abad (bukan 25 tahunan). Kalau kita baru diskusi tentang pentingnya, pentingnya, dan pentingnya; mereka sudah membuat “taman makam pahlawan” untuk para martir missinya. Kalau kita baru melakukan bantahan, mereka sudah melakukan indoktrinasi secara sistemik. Kalau kita baru mengedarkan proposal cari-cari bantuan; mereka sudah menguasai dana moneter dunia.

*) Inilah kenyataan yang ada di tengah kaum Muslimin (Nusantara) saat ini, yaitu ketidak-mampuan mengorganisasikan diri untuk menghadapi tantangan yang ada. Suka tidak suka, perih atau manis, itulah nyatanya.

*) Masalah utama kita kini, Ummat berjalan sendiri-sendiri, tidak terikat oleh komando. Ummat tidak memiliki loyalitas kepada agama; loyalnya kepada uang, kepopuleran, gaya hidup kosmopolitan. Ummat tidak memiliki militansi, kecuali militansi uang, cinta (wanita), ikut-ikutan.

*) Bila kita berhenti di satu titik perjalanan, lalu menoleh ke belakang, melihat seperti apa perjalanan selama ini; tampaklah kita sudah mengalami krisis akut dalam masalah: komando, loyalitas, militansi.

*) Pesan kami: Hal-hal seperti ini harus segera diperbaiki! Lakukan apa yang bisa dilakukan untuk menggerakkan Ummat secara efektif, massif, dan sistematik. Itu harus dilakukan, karena tantangan kehidupan ke depan ini semakin menakutkan. Mari kita berusaha, wahai saudara-saudara budiman!

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Wind Flow).


Sebuah Lingkaran Setan

September 22, 2014
Semoga ALLAH Memberikan Taufiq agar Lingkaran Setan Terputus

Semoga ALLAH Memberikan Taufiq agar Lingkaran Setan Terputus

*)  Lingkaran setan ialah suatu lingkaran sebab-akibat yang terus berputar dalam kezhaliman, tidak ada habisnya. Satu proses akan menjadi sebab bagi proses berikutnya, sampai proses terakhir akan menjadi sebab bagi proses paling awal.

*)  Orang sering menyebutnya “lingkaran setan” atau “satanic circle”. Ini lingkaran proses dalam kejahatan, kezhaliman, penindasan.

*)  Di dunia ini ada tiga jenis negara: negara penjajah, negara terjajah atau mantan terjajah, negara merdeka (tak pernah dijajah).

*)  Setiap negara penjajah pasti ingin terus melestarikan regim penjajahan, karena itu menguntungkan buat mereka. Seperti preman, mafia, atau tukang parkir liar yang tak mau “kehilangan sumber mata pencaharian”.

*)  Negara penjajah pasti selalu mencari metode, rumus, strategi untuk melanjutkan penjajah, karena mereka tahu pasti bahwa “menjajah itu enak”. Katanya.

*)  Lalu apa yang disebut lingkaran setan di sini?

*)  Ia adalah lingkaran: PENJAJAHAN — KEMISKINAN — PENGKHIANATAN. Ketiga faktor ini merupakan lingkaran setan.

*)  Penjajahan menimbulkan kemiskinan bagi rakyat negara yang dijajah; kemiskinan menyebabkan banyak warga negara terjajah memilih jadi pengkhianat, melayani nafsu para penjajah. Alasan mereka: “Guwa sudah bosan jadi orang miskin. Daripada miskin, lebih baik mati saja.” Katanya begitu. Lalu, dari pengkhianatan-pengkhianatan ini berakibat lestarinya penjajahan, tidak putus-putusnya, dan forever forever ever ever ever…to be continued terus penjajahannya.

*)  Inilah dia lingkaran setan atau lingkaran kezhaliman itu. Penjajahan menimbulkan kemiskinan; kemiskinan menimbulkan pengkhianatan anak bangsa; pengkhianatan melestarikan penjajahan selamanya.

*)  Bagaimana caranya agar semua ini berubah?

*)  Mari kita memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana mematahkan lingkaran setan ini. Kalau kekuatan kita sendiri, sangatlah terbatas. Hanya Allah yang mampu membebaskan bangsa dari kezhaliman.

*)  Minimal, janganlah menjadi unsur yang memperpanjang usia lingkaran setan itu.

*)  Iya gak sih? Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menempuh yang diridhai-Nya. Amin.

(Khami).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 159 pengikut lainnya.