Manuver Emron Pangkapi Sangat Berlebihan…

April 15, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

NOTE: Kami tulis artikel ini bukan sebagai anggota, pengurus, atau pendukung loyalis PPP; tapi sekedar sebagai pemilih PPP dalam Pemilu 9 April 2014 lalu. Mohon dimaklumi.

Ada rasa mulas dan sedih kalau melihat emosi Emron Pangkapi di TV-TV. Orang ini bersuara keras, dengan memakai topi Afghan, seakan sedang terjadi perang Bubat di tubuh PPP. Tampak sekali Emron tidak memahami etika Islam, tidak memahami ilmu, bahkan ilmu politik pun tidak. Politisi begini, menurut istilah orang Betawi cuma satu kalimat: “Belagu loh!”

Akan coba kami jawab ocehan Emron Pangkapi dan membuktikan bahwa yang bersangkutan tidak layak terjun ke dunia politik…

[1]. Sebagai orang Muslim, mestinya dia tidak suka kalau partainya menjadi bulan-bulanan media-media massa Islam phobia. Lha ini, saat partainya jadi “makanan empuk” malah dia bersemangat “jihad” untuk menghancurkan partai sendiri. Aneh bin ajaib.

Topi Afghan: Ahmad Shah Mas'ud, Legenda Panglima Lembah Pansir

Topi Afghan: Ahmad Shah Mas’ud, Legenda Panglima Lembah Pansir

[2]. Emron menganggap hadirnya Suryadarma Ali di kampanye Gerindra sebagai pelecehan martabat partai. Ini adalah tuduhan mengada-ada. Sikap Suryadarma itu tidak melanggar AD/ART partai, tidak melanggar hukum negara, juga tidak melanggar hukum Syariat. Malah tidak melanggar etika kehidupan sosial. Apalagi pihak Gerindra (Prabowo) pun berkenan hadir di acara konsolidasi (Istighatsah) PPP.

[3]. Sikap Suryadarma Ali dengan hadir ke tengah massa Gerindra, tetap dengan memakai seragam resmi PPP. Itu menunjukkan JIWA BESAR-nya sebagai politisi yang tulus. Orang ini ingin mengajarkan ETIKA POLITIK MORAL di tengah krisis politik yang pekat dengan permainan duit, media, dan penipuan. Dia coba tulus tunjukkan bahwa politik tidak cuma “siapa yang menang”, tapi juga “kita menang bersama”.

[4]. Kata Emron, PPP hadir di tengah partai Gerindra yang suaranya tahun 2009 lalu lebih kecil dari PPP. Masalahnya, meskipun kecil Gerindra adalah oposisi dan masih komit dengan ekonomi kerakyatan; sedangkan PPP masuk koalisi dengan Demokrat. Bagaimana dia bisa meremehkan langkah oposisi yang ditempuh Gerindra? Terbukti perolehan suara Gerindra kemudian maju pesat.

[5]. Emron membayangkan, suara PPP akan melaju pesat kalau Suryadarma Ali tidak ikut dalam kampanye Gerindra. Ini analisa apa? Dasarnya apa bisa begitu? Paling yang percaya teori begitu hanya Emron dan para pendukungnya. Alhamdulillah suara PPP naik meskipun tidak sepesat Gerindra atau PKB. Tapi sudah lumayan, bisa melompati ET. Di sisi lain, kalau Emron menuntut suara PPP naik pesat; mau naik berapa persen Pak? Mau menyamai suara Golkar dan PDIP maksud Anda?

[6]. Kata Emron, kader-kader di bawah marah kepada Suryadarma Ali gara-gara ikut kampanye Gerindra. Masalahnya, klaim marah itu kan “bikinan” Emron sendiri. Seakan sejak lama dia telah memendam niat buruk ke Ketua PPP, lalu niat itu diwujudkan ketika ada “celah”. Sungguh sangat tragedi jika gara-gara hadir dalam acara kampanye partai lain, seorang Ketum Partai bisa didongkel. Ini benar-benar tragedi politik (made in Emron Pangkapi).

[7]. Emron Pangkapi mengatakan, bahwa koalisi PPP di tahun 2009 adalah setelah Pileg. Memang benar kalau koalisi dengan Demokrat; tapi kalau komitmen politik untuk kerjasama dengan Gerindra, itu dilakukan sebelum Pileg 2009. Jangan berdusta Anda wahai Emron Pangkapi! Jelas-jelas waktu itu Suryadarma Ali bicara, PPP sejatinya ingin merapat dengan Gerindra tapi perolehan suara kedua partai sama-sama kecil (tidak mencukupi maju ke pencapresan).

[8]. Kalau pun masalah hadir di tengah kampanye Gerindra dan Prabowo dianggap masalah besar; maka Emron Cs juga harus didongkel, karena mereka membiarkan Prabowo ikut acara istighotsah yang diadakan PPP. Mengapa ketika itu Emron tidak mengusir Prabowo saja?

[9]. Sebagai perbandingan, sebelum Pileg 2009, beredar juga spanduk-spanduk yang berbunyi begini: “SBY Presidenku, PKS Partaiku!” Apa Anda pernah dengar spanduk semacam ini? Spanduk ditulis dengan tinta biru di atas kertas putih. Isi spanduk begitu lebih mengerikan ketimbang yang dilakukan Suryadarma Ali di kampanye Gerindra. Apalagi pernyataan Suryadarma sekedar mendukung Prabowo menjadi Capres tahun 2014.

[10]. Secara umum, dari sisi politik, di balik manuver BELAGU Emron Pangkapi ini pasti ada apa-apanya. Tidak mungkin dia mempersoalkan masalah kecil, didramatisir sedemikian rupa, kalau tidak ada “udang di balik batunya”. Pasti ada sesuatunya di sana.

Wal akhir, kami menduga, langkah berlebihan Emron Pangkapi ini karena yang bersangkutan dan pendukungnya ingin merapat ke Jokowi; sementara dia sudah tahu, sejak awal Suryadarma ingin berkoalisi dengan Gerindra (Prabowo). Atau bisa jadi, Emron membawa “titipan amanat” dari mantan politisi PPP, Bachtiar Chamsyah, yang sangat loyal ke SBY, lalu disingkirkan lewat KPK. Ya kalau masalah kedua jadi soal, harusnya protes ke SBY, bukan ke partai sendiri.

Demikian sekilas pandangan yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan memberi sedikit sumbang kontribusi, agar partai Muslim tidak merapat ke Jokowi. Buahaya…!

Terimakasih.

(Pemilih PPP).


SIAPA BILANG DEMOKRASI BUKAN SISTEM ISLAMI?

April 15, 2014

Oleh TOHIR BAWAZIR.

Berikut adalah tulisan opini tentang siasat politik demokrasi dari seorang pemerhati gerakan dakwah dan politik Islam. Masuk ranah polemik pro-kontra. Penulis coba uraikan sisi-sisi kebaikan demokrasi dalam kehidupan riil di tengah Ummat. Selamat membaca dan berwawasan!

Pemilu Legislatif untuk memilih anggota DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD, baru saja usai dilaksanakan. Insya Allah di bulan Juli 2014 kita akan melaksanakan pemilu lagi,  yaitu pemilu  untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. pemilu itu pun masih memungkinkan berjalan dua putaran, apabila di putaran pertama tidak diperoleh pemenang mutlak yang mendapat suara 50% plus 1 suara. Kalau ditambah lagi dengan berbagai pilkada di berbagai daerah untuk memilih Gubernur maupun Bupati/Walikota, sesungguhnya negara Indonesia termasuk negara yang kelewat sibuk untuk melakukan pemilu.

Tidak hanya kelewat sibuk, namun pemilu juga sangat menguras dana dan kas negara, menguras energi dan pikiran seluruh bangsa,  termasuk pula menguras kantong para calegnya. Itulah ongkos demokrasi yang sudah dipilih oleh bangsa Indonesia dengan pola pemilihan langsung semacam ini.  Mudah-mudahan ke depannya pemilu dapat berlangsung semakin mudah, simple dan murah.

Namun betapapun boros dan berlebihannya pemilu, setidaknya hal ini melegakan sebagian besar pihak, karena rakyat memiliki hak penuh untuk menggunakan hak politiknya. Setelah era Orde Baru yang dikenal repressif dalam bidang politik, dimana kekuasaan hanya dimonopoli oleh Soeharto dan kroni-kroninya, di era reformasi ini rakyat dapat menikmati kebebasan politiknya sehingga tumbuh berbagai macam partai politik baru.

Demokrasi Adalah Satu Pilihan Jalan Politik. Sepertimana Kita Memilih Buah.

Demokrasi adalah Satu Pilihan Jalan Politik. Seperti Kita Memilih Buah.

Ada partai yang tumbuh sejenak kemudian layu sebelum berkembang, ada yang tumbuh namun gagal ikut pemilu karena masalah administrasi yang tidak bisa dipenuhinya, ada yang tumbuh dan dapat ikut pemilu namun akhirnya harus minggir dari percaturan politik karena kurangnya dukungan masyarakat. Hingga saat ini diperkirakan hanya sekitar 10 partai politik yang dapat bertahan dan bisa duduk di parlemen mewakili konstituennya. Mudah-mudahan ke depannya, jumlah partai politik tidak  akan semakin bertambah. Karena semakin banyak partai politik, otomatis akan semakin banyak biaya politik yang harus dikeluarkan.

Dari berbagai partai peserta pemilu yang ada, ada yang terang-terangan berasaskan Islam, ada yang berkonstituen Muslim namun bukan berasas Islam, ada pula yang tidak mau dikait-kaitkan dengan Islam, walaupun kalau musim pemilu sama-sama juga memperebutkan suara ummat Islam, karena realitas politik mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Dari kalangan ummat Islam pun ada berbagai pandangan tentang sikap terhadap pemilu dan demokrasi. Ada yang setuju, dan ini merupakan pandangan mayoritas ummat Islam, ada yang menolak, ada pula yang sejatinya menolak namun terpaksa menerima karena tidak ada pilihan lain, alias darurat menerima.

Yang menolak selalu bersandar bahwa sistem demokrasi tidak dikenal dalam Islam. Karena sistem demokrasi memberikan peluang dan hak kepada masyarakat untuk membuat hukum dan undang-undang, hal yang seharusnya menjadi wewenang mutlak Allah SWT. Demokrasi adalah bid’ah (mengada-ada), sesat, sistem kufur dsb. Pokoknya harus ditolak.

Setelah sama-sama  menolak, mereka pun masih terbagi menjadi tiga golongan. Golongan pertama,  mereka yang menolak sistemnya dan semua hasil-hasilnya. Ada pula golongan kedua, yang menolak sistem dan aturan mainnya, namun mereka menerima hasilnya. Mereka terima dan hormati penguasa hasil pemilu dan produk-produk hukum dari sistem demokrasi yang ditolaknya. Ada pula yang ketiga, pura-pura menolak semua, namun seringkali mereka terpaksa menerima hasilnya, bahkan seringkali menitipkan aspirasi politiknya kepada partai-partai yang sebelumnya ditolaknya itu.

Mengapa ummat Islam berbeda dalam menyikapi fenomena pemilu dan demokrasi, padahal mereka masih sama-sama bersandar kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah serta sama-sama mencita-citakan masyarakat yang ideal seperti di masa Rasulullah SAW dan masa Khulafaur Rasyidin (kepemimpinan Islam yang adil dan ideal)?

Kalau dilihat sejujurnya, ada dua kutub pandangan yang sulit dipertemukan. Yang pertama, yang menerima demokrasi dan melihat demokrasi sebagai suatu kenyataan riil yang ada dan patut dipakai saat ini. Yang menolak demokrasi memandang sebaliknya, yaitu apa yang seharusnya ada. Satu berangkat dari  realitas yang ada, yang kedua, apa yang dianggap harus ada. Mayoritas ummat Islam, berangkat dari menerima  apa yang ada (realistis). Yang ada adalah demokrasi adalah sistem terbaik bagi bangsa Indonesia untuk memilih pemimpin dan wakil-wakilnya, mengatur negara, membuat undang-undang dsb. Walaupun demikian demokrasi tetaplah produk manusia yang pasti ada kelemahan dan kekurangannya bahkan masih mudah pula untuk dicurangi oleh manusia.

Dalam demokrasi semua pihak punya wakilnya, ada wakil dari berbagai daerah dan suku, wakil berbagai agama, wakil berbagai profesi, wakil dari berbagai kepentingan dsb. Supaya masing-masing pihak dapat diakomodir kemaslahatannya, maka demokrasi lah yang mengaturnya. Sehingga tidak terjadi pemaksaan kehendak masing-masing pihak.

Baca entri selengkapnya »


Analisis Hasil Pileg April 2014: Kemenangan Politik Komunitas!

April 14, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Sebelum kami sampaikan hasil-hasil analisis seputar Pileg April 2014, perlu ditekankan bahwa analisis ini mengacu hasil Quick Count beberapa lembaga yang rata-rata memperlihatkan trend hasil serupa. Jadi analisis ini bukan berdasar Real Count yang akan dikeluarkan oleh KPU. Mohon dimaklumi.

Sebenarnya, sehari setelah Pileg, ketika trend hasil Quick Count sudah keluar, kami ingin segera menurunkan beberapa hasil telaah. Tapi kami sedikit menahan diri, agar tidak terkesan kontroversial jika ada analisis berbeda. Ternyata, beberapa analisis itu sama dengan yang diutarakan oleh beberapa pengamat/pemerhati politik. Syukurlah, sudah terwakili.

Baik, mari kita mulai kaji sedikit demi sedikit, tentang hasil Pileg April 2014:

[1]. Kita mulai dari hal sederhana: “Bolehkah seseorang berterus-terang akan memilih atau telah memilih partai tertentu dalam Pileg?” Pemerintah Orde Baru telah mencengkeram rakyat sedemian rupa sehingga sekedar untuk berterus-terang telah memilih partai ini atau itu saja, masyarakat masih merasa segan. Betapa mahalnya ya harga kemerdekaan hidup di negeri ini. Boleh, boleh, silakan saja Anda berterus-terang telah memilih atau akan memilih partai tertentu; tidak perlu malu. Asalkan, apapun pilihannya, kita tetap berdamai, tidak emosi, tidak konflik satu sama lain. Anggap saja semua itu sebagai bagian dari sikap toleransi dalam politik. Lagi pula hal itu tidak melanggar hukum (negara dan Syariat), serta lebih menguntungkan untuk memperjelas posisi seseorang dalam politik.

Analisis Hasil Quick Count Pileg April 2014

Analisis Hasil Quick Count Pileg April 2014

[2]. Beberapa hari sebelum Pileg April 2014, Burhanuddin Mubtadi, pengamat politik “paling hebat” yang pernah lahir di bumi Nusantara, dia sesumbar bahwa seruan MUI (ormas Islam) agar Umat Islam memilih para Caleg Muslim tidak berpengaruh besar. Sesuai hasil Quick Count, justru suara partai-partai Muslim meningkat semua, kecuali PKS. Mungkin orang bertanya, “Kenapa bisa begini?” Ya itu tadi, pengaruh seruan MUI (ormas Islam) agar waspada dengan politik Nasrani, Jokowi, dan para konglomerat China pengemplang 600 triliunan BLBI. Suara MUI (ormas Islam) masih dihargai kaum Muslimin; berbeda dengan suara Burhanuddin Mubtadi yang akhir-akhir ini tampak satu paketan dengan gerakan “Mafia Jokowi Raya”.

[3]. Kondisi Pemilu April 2014 mirip dengan situasi Pemilu 1999, sekitar 15 tahun lalu. Saat itu seruan MUI agar tidak memilih Caleg non Muslim, mampu “mentorpedo” peluang kemenangan mutlak PDIP. Tahun 2014 ini lebih parah situasinya. Kemenangan PDIP hanya sekitar 20 %, jauh dari prediksi PDIP sendiri, media-media massa sekuler, lembaga surve, pengamat politik (khushuson Burhanuddin Mubtadi). Seruan para ulama Muslim di tahun 2014 ini tidak lagi malu-malu. Masalah Caleg non Muslim, Syiah, Liberal diserukan dimana-mana. Buahnya, alhamdulillah kantong-kantong pemilih Muslim menggeliat. Inilah rahasianya mengapa suara partai-partai Muslim membaik dibandingkan hasil Pemilu 2004 lalu.

[4]. PDIP terlalu memandang sepele pengaruh informasi media. Dalam kampanye kami lihat sendiri dimana-mana ada tulisan: “Coblos PDIP No. 4 Jokowi Presiden!” Foto Jokowi ada dimana-mana, berdampingan dengan foto para Caleg PDIP. Palsu dan dusta kalau timses Jokowi mengklaim bahwa dalam iklan TV lebih banyak wajah Puan yang nongol daripada Jokowi. Justru di lapangan, di spanduk, poster-poster, kaos, dan sebagainya nama dan foto Jokowi mendominasi. Semua Caleg PDIP seakan ingin menjual “wajah polos murah senyum” Jokowi. Kami sendiri membatin, “Justru cara begini yang akan membuat PDIP rusak suaranya.” Masyarakat itu tahu siapa Jokowi, dia bisa dianggap sebagai Gubernur DKI “paling kampret”. Kenapa bisa begitu? Ya karena sejak jadi Gubernur, dia bukan fokus ngurusi masalah Jakarta, malah sibuk pencapresan. Orang ini jelas tidak amanah. Kami mengira, suara PDIP di DKI Jakarta merosot karena soal Jokowi ini. Warga Jakarta masih kesal dengan sikap khianat Jokowi. Lagi pula negeri kita seringkali rusak dengan lahirnya tokoh pencitraan semacam Jokowi, Gusdur, SBY, dan semacamnya.

[5]. Prediksi kami tentang PKB keliru. Kami menduga PKB tidak akan bagus-bagus amat, meskipun tetap lolos electoral treshhold. Alasannya, dalam 10 tahun terakhir PKB nyaris tidak punya karya apapun yang membanggakan secara politik. Tapi mengapa PKB bisa melejit sehingga berada posisi 5 besar? Mayoritas media dan pemerhati beralasan dengan istilah “Rhoma Irama Effect”. Katanya, kehadiran Rhoma menjadi magnet politik hebat bagi PKB. Kalau menurut kami, posisi Rhoma ada pengaruhnya, tapi tidak sebesar itu. Mengapa? Karena kehadiran para seniman, termasuk Rhoma Irama, dalam politik praktis selama ini tidak berpengaruh besar. Kalau masyarakat berduyun-duyun datang ka arena kampanye PKB, ya lebih banyak karena ingin “nonton Bang Haji”. Soal nanti akan memilih PKB atau lainnya, itu masalah lain. Menurut analisis kami, kemenangan PKB ini tidak lepas dari beberapa alasan: (a). Kehadiran mantan Dirut Lions Air, Rudi Kirana, di barisan elit PKB. Mungkinkah dalam hal ini Rudi tidak menyumbang dana untuk kesuksesan PKB? Rasanya mustahil; (b). Gerilya yang dilakukan Muhaiman dan elit PKB ke kyai-kyai NU di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan lainnya dengan membawa isu “awas politik China di balik Jokowi”. Kami yakin, gerilya itu sangat efektif; (c). Posisi para Caleg non Muslim di tubuh PKB dan dukungan pendeta-pendeta kepada PKB. Dengan masuknya Rudi Kirana di jajaran elit PKB, sebenarnya partai itu seperti “mau diambil alih” non Muslim. Hanya saja, isu demikian tidak sampai ke telinga-telinga para kyai. Tahunya para kyai “bahaya Jokowi dan politik China”.

[6]. Prediksi kami tentang PAN juga keliru. Kami menyangka PAN akan gulung tikar, ternyata hasilnya lebih baik dari PKS. Dalam hemat kami, meskipun PAN tidak identik dengan Muhammadiyah, tetapi PAN sangat sulit melepaskan diri dari kantong pendukung utamanya, warga Muhammadiyah. Hal itu terbukti dengan posisi Amien Rais yang masih bercokol kuat di PAN. Andai PAN terlepas sepenuhnya dengan Muhammadiyah, diperkirakan sulit akan bertahan. Sungguh, sebelum Pileg digelar, Pak Amien Rais rajin berkunjung ke kantong-kantong komunitas Muhammadiyah di Jawa Barat. Dari mana kami tahu? Karena sebagian kerabat kami aktif dalam kegiatan-kegiatan Aisyiyah (ormas wanita Muhammadiyah). Asumsinya, beliau juga rajin berkunjung ke daerah-daerah lain.

[7]. Prediksi kami tentang Hanura juga keliru. Kami menyangka Hanura akan naik secara significant, ternyata tidak. Boleh jadi Hanura dilompati oleh Nasdem yang lebih muda darinya. Bagaimana perasaan Hary Tanoe ya? Partai Nasdem yang dia tinggalkan ternyata lebih unggul dari Hanura. “Gue udah pontang-panting, ternyata hasilnya cuma segini. Muka gue mau ditaruh di mana?” Mungkin begitu keluh Hary Tanoe. Keruntuhan pamor Hanura ini membalikkan sebuah teori besar media. Selama ini ada anggapan, bahwa ekspose media yang gencar dan terus-menerus bisa mendikte perilaku politik masyarakat. Ternyata, ekspose berlebihan justru membuat masyarakat nek (muak). Lagi pula, di era kebebasan informasi saat ini, masyarakat mendapat banyak pilihan informasi bukan hanya dari TV. Jangankan TV-TV sejenis MNC, TV berita seperti TVOne dan MetroTV saja sudah lama diragukan kredibilitasnya. Termasuk media seperti Tempo, Kompas, Detik.com, Rakyat Merdeka, dan seterusnya. Bisa dianggap, Pileg April 2014 menjadi “kuburan” bagi media-media sekuler. Belum pernah kami merasa malu membaca Kompas, kecuali setelah media ini mengelu-elukan sosok Jokowi secara berlebihan. Jokowi yang kemampuan jauh di bawah SBY dielu-elukan secara bombastik.

[8]. Nah, selanjutnya kita bicara PKS, khushuson seputar PKS. (Tolong bagi yang masih di bawah 17 tahun, jangan ikut nonton ya. Ada pembantaian besar di sini. He he he…). Ya kami gak segitunyalah ke PKS. Namanya juga sesama Muslim, meskipun banyak perbedaan, tidak boleh “bantai-membantai”. Merujuk hasil Quick Count, suara PKS menurun sekitar 1 %. Tapi secara psikologi politik penurunan ini sangat besar artinya bagi kader-kader PKS. Anda tentu masih ingat Pemilu 2009 lalu, PKS mengklaim sebagai satu-satunya partai, selain Demokrat, yang mengalami kenaikan suara. Masih ingat kan? Nah, sekarang terbalik. Ketika trend partai-partai Muslim pada naik, justru PKS turun. Bukan itu saja, rangking politik PKS dari semula posisi ke-4 merosot ke posisi 7 atau 8. Secara psikologis semua ini sangat berat diterima para kader pendukung. Tadinya mereka di barisan “partai elit”, sekarang masuk kelas “partai alit”. Itu pun PKS cukup dibantu oleh suara komunitas Salafi. Tanpa bantuan komunitas Salafi mungkin suara PKS lebih buruk lagi. Bisa jadi saat ini Johan Budi dan Abraham Samad di sana lagi terkekeh-kekeh melihat nasib malang para pendukung PKS. Pemberitaan korupsi yang digalakkan KPK terkait LHI dan Fathanah tampaknya menjadi tsunami besar bagi PKS. Tapi di luar itu, ada satu image yang berkembang luas di tengah masyarakat tentang PKS, yaitu kesan “PKS sama saja dengan partai lain”. Sebenarnya image inilah yang telah menggerogoti PKS dari waktu ke waktu. Jati diri mereka sebagai partai kader, partai dakwah, partai Islam dianggap meluntur. Meminjam istilah Hatta Rajasa: “Semua partai cenderung bergerak ke tengah.” Keberhasilan-keberhasilan PKS di pemilu-pemilu sebelum tidak menjadi bahan introspeksi, tapi malah menimbulkan rasa ujub. Itu gawat!

[9]. Oh ya tentang PPP, hampir lupa. Sama seperti PKB, PPP juga punya basis masa Muslim tradisional. Hanya bedanya PPP basis masa non-NU. Alhamdulillah meskipun PPP tidak melonjak drastik, setidaknya meningkat. Kami disini berposisi bukan sebagai “orang PPP” tapi sekedar sebagai “pemilih PPP”. Beda kan ya. Setelah hasil quick count diumumkan, sebagian elit PPP seperti gontok-gontokan, mau dongkel-dongkelan. Kenapa bisa begitu? Karena Emron Pangkapi sejak awal ingin bawa PPP merapat ke Jokowi (PDIP), sama seperti kelakuan Bahtiar Chamsah dulu. Sementara Suryadarma Ali yang telah bekerja keras lima tahunan terakhir, ingin membawa PPP berlabuh bersama Prabowo (Gerindra). Orang pada bertanya-tanya, kenapa elit politik bisa begitu? Ya untuk ukuran Indonesia, perselisihan internal sering muncul. PDIP saja sekarang galau, PKB galau, Golkar galau; termasuk Mahfud MD juga galau, karena dia mungkin terus bertanya-tanya: “Siapa yang mau bawa gue maju ke Pilpres?” Tapi mendukung Jokowi dalam konteks sekarang, sangatlah riskan bagi masa depan Umat Islam.

[10]. Bagaimana dengan Gerindra dan Prabowo? Ya kami tidak tahu banyak tentang internal Gerindra dan program-programnya. Tapi prediksi kami selaras, Gerindra meraih suara sangat baik di Pileg April 2014 ini. Itu buah dari konsistensi sebagai partai oposisi. Sebenarnya PDIP bisa lebih besar suaranya kalau konsisten menjaga citra baik mereka sebagai partai oposisi. Tapi mengangkat Jokowi sebagai Capres menjadi blunder besar bagi PDIP. Jelas-jelas Jokowi masih baru menjabat Gubernur DKI, tapi sudah buru-buru dicapreskan. Tapi menarik melihat sosok Prabowo sebagai Capres. Menurut kami, dia layak menjadi Presiden RI. Bukan karena dia nasionalis atau mantan elit militer; tapi kondisi negara kita saat ini benar-benar butuh “darah segar” untuk menyelamatkan negeri ini. Sekilas gambaran, APBN kita 60 % untuk belanja rutin (termasuk gaji PNS, guru, TNI, Polri, dan seterusnya); 25 % untuk membayar hutang dan bunganya; sisa 15 % untuk infrastuktur, persenjataan, dan lain-lain. Kata Hatta Rajasa, sisa APBN kita rata-rata hanya sekitar 8 % saja. Kalau angka pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 6 % itu sebagian besarnya merupakan sumbangan dari produksi dan transaksi perusahaan/bisnis asing yang bercokol di negeri ini. Memang tumbuh, tapi hasilnya untuk orang asing, bukan buat rakyat kita sendiri. Dalam konteks begini kita butuh sosok pemimpin yang kuat, seperti Erdogan di Turki, Hugo Chavez di Venezuela, atau Putin di Rusia. Jangan Jokowi-lah, dia terlalu lembek dan tidak memiliki integritas. Itu sangat membahayakan bagi masa depan bangsa ini. Prabowo sebagai sosok militer termasuk unik, karena dia satu-satunya jendral militer yang pro ekonomi kerakyatan, ekonomi petani, nelayan, pedagang pasar, dan sebagainya. Mana ada jendral militer yang peduli ekonomi kerakyatan? Hal ini dipercaya merupakan pengaruh dari ekonom Prof. Soemitro, ayahnya. Kalau harus memilih antara Prabowo dan Jokowi, jelas kami mendukung Prabowo.

[11]. Umat Islam di negara kita sering dihadapkan pada pilihan-pilihan politik. Misalnya, mana yang harus kita pilih, pemimpin yang saleh tapi lemah, atau pemimpin yang kuat tapi kurang saleh? Kalau mengikuti gaya politik kaum Muslimin selama ini, mereka lebih suka pemimpin yang saleh meskipun lemah; ketimbang pemimpin kuat tapi kurang saleh. Alasannya, soal kesalehan itu sendiri. Tapi ulama-ulama Islami justru memilih pemimpin yang kuat meskipun kurang saleh; alasan mereka: “Kesalehan pemimpin itu buat dirinya sendiri, sedangkan kekuatan seorang pemimpin bermanfaat untuk orang banyak.” Dalam Surat Al Baqarah, ketika Bani Israil meminta dipilihkan seorang tokoh untuk menjadi pemimpin perang, Allah memilihkan mereka sosok Thalut. Ia disifati dengan keutamaan: “Basthatan fil ‘ilmi wal jism” (memiliki ketangguhan dalam ilmu dan kekuatan fisik). Bahkan ketika terjadi peperangan antar kaum Muslimin dan Romawi di medan Yarmuk, tiga komandan Islam yang amat sangat saleh gugur, yaitu Mush’ab bin Umair, Ja’far bin Abu Thalib, Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu ‘Anhum. Kemudian Allah beri kemenangan kepada pasukan Islam lewat komandannya yang tidak terlalu saleh, tapi sangat brilian dalam perang, yaitu Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘Anhu. Kalau secara perasaan, betapa senangnya kalau pemimpin RI nanti muncul dari kalangan ustadz, kyai, habib, doktor syariah, dan sebagainya. Tapi kalau mereka lemah, tidak mampu menghadapi derasnya inasi asing, ya tak banyak membawa maslahat bagi kehidupan kita semua.

Ala kulli hal, bentuk politik di Indonesia ini stagnan. Dari pemilu ke pemilu, tidak ada yang mencapai suara mayoritas (mencapai 30 % atau 40 % kemenangan). Faktor politik komunitas sangat dominan. PDIP dan Golkar punya pangsa pasar tetap sejak era Orde Baru. PKB, PAN, PPP, dan PKS juga punya pangsa pasar tetap; PKB ke NU, PAN ke Muhammadiyah, PPP ke tradisionalis non NU, PKS ke jamaah pengajiannya. Gerindra didukung pelaku bisnis kecil, pedagang pasar, petani, nelayan, dan semacamnya. Sedangkan Demokrat, Hanura, Nasdem, memiliki massa pendukung tidak jelas. Partai-partai yang bukan basis komunitas hanya tiga partai terakhir itu.

 

SEKILAS KRITIK

Kami sendiri sebagai bagian dari Umat (dan kemarin memilih PPP) merasa sedih melihat situasi ini. Banyak lembaga Islam, tokoh ormas Islam, cendekiawan Muslim, media Islam, atau para aktivis Islam menyerukan agar partai-partai basis Muslim (PKB, PAN, PPP, PKS, dan PBB) bersatu membentuk kaukus partai Islam dan memilih calon presiden sendiri. Tapi menurut kami, kecil peluang mereka akan mau bersatu dalam sebuah kaukus politik Islam. Bagi para politisi itu seperti berlaku prinsip: “Lebih baik menjadi keset di sebuah istana megah milik orang lain, daripada menjadi meja di rumah kecil milik sendiri.” Mereka minder dengan agama dan identitasnya. Sayang sekali.

Masalah terbesar kita saat ini adalah: “Hilangnya orientasi politik Islami di diri partai-partai Muslim, bahkan di semua partai yang ada.” Tujuan politik Islam itu kan memperbaiki kehidupan Umat Islam, agar kehidupan dunia akhiratnya menjadi baik; peluang masuk surganya besar, peluang masuk nerakanya semakin kecil. Itu kan sebenarnya tujuan politik Islam! Nah, mengapa tak ada satu pun partai yang peduli dengan kehidupan ukhrawi kaum Muslimin? Pembahasan kita tentang masalah ekonomi, pendidikan, kesehatan, informasi, dll. kan bukan semata bersifat duniawi; kita membahas semua itu agar kehidupan Umat ini jadi baik, kalau baik diharapkan nasibnya di akhirat nanti juga lebih baik. Andaikan urusan dunia tidak menjadi baik, minimal bekal-bekal untuk mencapai kemuliaan di akhirat mencukupi. Jangan sampai urusan dunia tak dapat, urusan akhirat juga tidak. Politik apa semacam itu? Mana itu hakikat partai Islam atau partai Muslim? Kok urusannya dunia melulu?

Selagi partai-partai Islam (Muslim) ini tidak peduli dengan kehidupan akhirat Umat, tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka. Percuma dan sia-sia kita mendukung mereka, kalau orientasinya dunia melulu. Kelak kita semua akan ditanya: “Man Rabbuka? Man Nabiyyuka? Maa Kitabuka?” (siapa Rabb-mu, siapa Nabi-mu, apa Kitab-mu?). Kita bukan ditanya soal pertumbuhan ekonomi, indeks saham, potensi elektabilitas, hasil quick count, perolehan kursi parlemen, dan seterusnya. Semua itu hanya aksesoris doang, bukan tujuan hakiki perjuangan politik Islam.

Kembalilah partai-partai Islam (Muslim) pada jati diri perjuangan politik Islam! Kembalilah pada upaya menghidupkan ajaran Nabi SAW! Kembalilah kepada rel “fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah”! Kembalilah kepada amanat Allah dan Rasul-Nya! Jika kalian enggan kembali ke orientasi Islami, insya Allah tangan-tangan lain akan memikul amanat ini!

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wallahu a’lam bisshawab, wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

 

 

Jakarta, 14 April 2014.

AM. Waskito.

 

 


PPP dan Memori Pemilu Tahun 1997

April 8, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

[1]. Tulisan ini sekaligus menyambut baik anjuran MUI, pemimpin-pemimpin ormas Islam, Habib Rizieq Shihab, MIUMI, dan lain-lain yang menyerukan agar kaum Muslimin dalam Pemilu 2014 ini memilih partai Islam dan tidak golput. Insya Allah kami tidak golput dan akan memilih partai Islam.

[2]. Partai Islam atau basis Muslim di Indonesia adalah: PKB, PAN, PBB, PKS, dan PPP. Untuk dua partai pertama, PKB dan PAN, sudah kami coret. Kami anggap kedua partai ini sekuler dan sangat pragmatis. Otomatis yang tersisa hanya PBB, PKS, dan PPP.

[3]. Momen paling heroik yang pernah dijalani PPP setahu kami adalah saat Pemilu 1997. Waktu itu PPP berhasil “menghijaukan” Jakarta dan sekitarnya, membuat penguasa Orde Baru, Soeharto gemetar dan takut. Dalam Pemilu 1997 PPP di urutan ke-2 setelah Golkar, dan urutan ke-3 PDI Soerjadi. Khofifah Indar Parawansa dikenal publik negeri ini setelah menjadi bintang dalam SU MPR/DPR mewakili PPP. Itu nyata lho.

[4]. Politisi hebat PPP di masa itu adalah Haji Jaelani Naro, disingkat HJ. Naro. Orang asal Aceh, tubuh kecil, berkaamata, tapi kepandaian politiknya hebat. Sayang kemampuan politik beliau tidak diaktualisasi saat era Reformasi. Bayangkan, kemampuan politik politisi semacam Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, ARB, Bu Mega, dan semacamnya masih kalah dengan beliau. Habibie saja kalah kemampuan politiknya dengan beliau. Sayang skill politik HJ. Naro tidak teraktualisasikan.

[5]. PPP masa kini terlihat seperti angkot yang sudah hampir ringsek. Mesin politiknya tua. Kurang inovasi, pembaruan, penyegaran kader. Mungkin karena alasan itu pula, DPP PPP membuat langkah kontroversial memilih “mama” Angel Lelga sebagai salah satu caleg. Sebenarnya bukan karena demen kepada dia, tapi demi supaya PPP terlihat masih segar, muda, ABG. “Kenal dengan mama-mama gak apa-apa deh, asal kelihatan muda.” Manuver tentang Angel Lelga ini sungguh berisiko tinggi.

[6]. Kami cenderung mendukung PPP karena minimal 3 alasan: (a). Di sana masih ada nilai keistiqamahan, sesuatu yang cukup mahal di dunia politik; (b). PPP bagaimanapun adalah partai Islam, iya kan?; (c). Mendukung PPP terkait dengan mata rantai silsilah perjuangan politik dengan partai-partai Islam sebelumnya.

[7]. Salah satu bukti keistiqamahan, tahun 2009 sebelum Pilpres dilakukan, PPP berani buat perjanjian kontrak dengan Gerindra untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Hanya saja, ketika setelah pemilu suara mereka kecil, PPP tidak bisa terus koalisi dengan Gerindra, karena realistik. Suryadarma Ali waktu itu mengatakan: “Sedianya kami ingin koalisi dengan Gerindra, dengan mendukung ekonomi kerakyatan. Tapi sayang suara kami kurang.” Itu diucapkan Suryadarma Ali sebagai pertanggung-jawaban kepada para pendukungnya. Ini lebih baik daripada sebelum Pemilu 2009 menyerang habis Demokrat, lalu setelah itu malah bermesra-mesaraan dengan Demokrat.

[8]. Partai politik Islam lain, mesin politiknya sangat kecil. Namanya ada tapi kekuatan gak jelas. Memang kalau urusan judicial review sering menang, tapi kekuatan dia di lapangan gak tampak. Karena begitu kecilnya entitas politik partai itu, kami jadi enggan memilihnya. Partai satu lagi terkenal “sering menyakiti aktivis Islam”. Bayangkan, pada tahun 1999, 2004, dan 2009 mereka menunjukkan sikap plin-plan yang sangat menyakitkan. Bentuknya begini: Kalau lagi butuh mendekat ke Umat, kalau sudah dapat suara dikekep sendiri, tidak perhatikan suara hati Umat. Kami jelas takut dengan karakter partai begitu. Apalagi sampai saat ini tokoh-tokohnya masih sama. Kami khawatir, nanti mereka akan koalisi dengan Jokowi dan PDIP. Kenapa khawatir? Karena bukti sikap tahun 1999, 2004, dan 2009 sangat jelas.

Demikianlah yang bisa kami sampaikan secara singkat, sebagai bentuk tanggung-jawab dan kepedulian kepada urusan Umat, insya Allah. Oh ya, jangan lupa besok pilih PPP ya!

(Haduh terang-terangan banget sih? Biarin…masbuloh. Maaf-maaf, cuma becanda. Keep peace!).

Admin.

 

 

 


Fatwa Pemilu Ulama Salafi (dari Situs Ustadz Firanda)

April 8, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut sebagian isi fatwa dari situs http://www.firanda.com tentang partisipasi Umat Islam dalam Pemilu 9 April 2014. Judul asli tulisan: Memilih Siapa di Pemilu 2014? (Lmpiran Fatwa Terbaru Dr. Saad Asy Syitsri tentang Bolehnya Mencoblos di Pemilu 2014 Indonesia). Kalau mau lengkapnya, silakan berkunjung ke situs Ustadz Firanda.

Isi tulisan kurang lebih sebagai berikut (maaf tidak kami kutip secara penuh):

Berdasarkan fatwa para ulama besar yang memiliki pandangan yang tajam, fikih yang tinggi, serta ketakwaan kepada Allah (seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-’Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani rahimahumullah) demikian juga fatwa Ulama Besar Madinah Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafizohullah, dan juga beberapa ulama lainnya yang sempat kami minta nasehat dari mereka, maka kami mengikuti nasehat para ulama tersebut untuk menganjurkan kaum muslimin untuk ikut mencoblos dalam pemilu -sebagai pengamalan dari kaidah fikih (ارْتِكَابُ أَخَفِّ الضَّرَرَيْنِ) atau “menempuh mudhorot yang teringan”, terlebih lagi mengingat kondisi Tanah Air yang cukup mengkhawatirkan.

Setelah itu kami bermusyawarah dan mengambil keputusan untuk menganjurkan kaum muslimin melakukan hal berikut:

(1).  Jika mengenal caleg yang terbaik dan cenderung kepada sunnah dan membela kepentingan Islam maka pilihlah caleg tersebut.

(2). Berilah peringatan terhadap caleg Nashrani, Syiah, maupun liberal, walaupun dari partai Islam.

(3). Jika tidak kenal caleg, maka pilihlah Partai PKS. Walaupun kami tetap menyatakan haramnya demokrasi, karena bagaimanapun PKS –dengan segala kekurangannya- masih merupakan partai yang secara umum masih diharapkan bisa memberi kontribusi kepada Islam dan Kaum Muslimin. Namun tetaplah berhati-hati terhadap caleg Syiah dan non Muslim walaupun dari PKS.

SERUAN kami kepada PKS agar terus membenahi diri, dan mencari keridhoan Allah, dan tidak mencalonkan non Muslim, Syiah, maupun liberal. Sesungguh kemenangan bukanlah pada jumlah yang banyak akan tetapi pada meraih keridoan Allah dengan  menjalankan Syari’at-Nya dan menjauhi sebisa mungkin larangan-Nya.

Akhirnya kami mengharapkan kaum Muslimin menyatukan suara mereka demi Islam, dan terus berdoa dengan tulus dan membenahi ibadah masing-masing, karena penolong hanyalah Allah semata. Semoga menjadi kemaslahatan bagi kaum muslimin. Allahul musta’an.

Perlu dipahami, fatwa di atas adalah dari Ustadz Firanda dan kawan-kawan alim dan penuntut ilmu di Madinah (Saudi). Sedangkan fatwa Dr. Sa’ad Asy Syitsri adalah sebagai berikut:

Pertanyaan (sore 7 April 2014): Kepada Syaikh yang mulia semoga Allah menjaga Anda.. Apakah boleh berpartisipasi didalam pemilu di negeri kami Indonesia? Perlu diketahui bahwasannya kancah politik terbagi ke dalam banyak kelompok dan pemikiran.. akan tetapi ditakutkan bahwasannya bahaya akan kemajuan (tersebarnya) Syiah sangat besar..demikian juga dengan kaum sekuler.
Maka apakah boleh memberikan suara kepada kelompok jama’ah atau orang yang paling dekat kepada Sunnah? Akan tetapi yang perlu diketahui juga bahwasannya apabila jama’ah tersebut menang (ataupun orang tersebut masuk ke dalam parlemen) maka akan sulit bagi mereka menerapkan Syari’ah kecuali hanya mengurangi sebagian dari keburukan-keburukan dan kerusakan-kerusakan dan bahkan kebanyakan dari mereka terfitnah atas agama mereka dan dunianya.. Maka bagaiman nasihat dari Anda??  Semoga Allah membalas segala kebaikan Anda..

Jawaban Dr. Saad Asy Syitsri:

Kegiatan politik tersebut dibagi menjadi dua jenis: Jenis pertama, siapa yang masuk (dalam perpolitikan) dengan maksud untuk mencalonkan diri ke dalam parlemen atau selainnya, semisal ini tidaklah dibenarkan bagi penuntut ilmu karena hal ini bukanlah bagian dari urusannya. Hal itu dikarenakan pentingnya menunaikan pengajaran kepada manusia dan kembalinya mereka kepada Allah Jalla wa ‘Ala lebih agung daripada pentingnya menyibukkan diri terhadap perkara tersebut (politik). Dan juga dikarenakan perkara (politik) tersebut menjerumuskan pelakunya ke dalam perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak sesuai dengan jati diri penuntut ilmu yang mengacaukan ucapan-ucapannya. Dan penuntut ilmu adalah sebagai pendidik dan pengayom dari semuanya. Dan sesungguhnya sistem demokrasi ini di dalamnya terdapat banyak hal-hal yang menyelisihi Syariat, baik pada pondasinya maupun bangunannya yang menyelisihi jalannya ulama sehingga terkadang tidak sesuai dengan maksud syariat.

Adapun (jenis kedua) memberikan suara, maka kita katakan bagian dari mengambil yang paling ringan mudhorotnya untuk menolak yang paling besar mudhorotnya. Maka janganlah kita masuk ke dalam kerusakan-kerusakan bersama mereka yang berlomba-lomba kepada kursi (parlemen) tersebut, sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Adapun berpartisiapsi di dalam memberikan suara maka tidaklah mengapa dengan syarat kuatnya prasangka seseorang yang dipilihnya adalah paling memberikan maslahat yang dapat menolong manusia (untuk kembali) kepada Allah Jalla wa ‘Ala.. Wallahu a’lam..

Jadi sebenarnya Dr. Saad Asy Syitsri sendiri tidak menyebut PKS secara khusus, namun Ustadz Firanda dan para alim dan penuntut ilmu yang bersama beliau yang menyebut PKS sebagai jamaah yang diyakini lebih dekat ke Sunnah. Dr. Saad Asy Syitsri meyakinkan tentang buruknya dunia politik bagi penuntut ilmu, namun beliau membolehkan ikut dalam pemilu selagi ada tujuan melindungi kehidupan Umat Islam.

Semoga bahan tulisan ini bermanfaat. Amin Allahumma amin. Yang jelas, para ulama dan alim di atas, insya Allah termasuk kalangan yang -meminjam istilah Ustadz Hartono Ahmad Jaiz- waras. Jadi jangan terlalu galak ke saudara sendiri!

(Admin Blog).

 


Pemilu Demokrasi dan Bunga Bank Ribawi

April 3, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Baru-baru ini Ja’far Umar Thalib ditanya oleh jamaah pengajiannya tentang hukum mengikuti pemilu. Dia menjawab bahwa demokrasi itu haram, tidak boleh diikuti. Demokrasi juga sistem bid’ah yang diadopsi dari para filsuf kafir. Singkat kata, jangan mengikuti even pemilu 2014 yang sebentar lagi digelar.

Jika kesimpulan atau fatwa Ja’far Umar Thalib ini ditelan mentah-mentah, maka konsekuensinya kaum Muslimin (Ahlus Sunnah) akan meninggalkan tempat-tempat pengadaan pemilu, kemudian orang Syiah, Liberal, non Muslim memenuhi TPS-TPS, sehingga akhirnya terpilihlah tokoh-tokoh politisi yang anti Islam seperti Jalaluddin Rahmat, Ulil Abshar Abdala, dan sebagainya. Kalau mereka terpilih kemudian membuat aneka masalah dalam kehidupan Umat, ya jangan salahkan mereka; tapi salahkan diri sendiri yang telah diberi kesempatan memilih orang yang benar, tapi tak dimanfaatkan.

Sebagian Definisi Demokrasi...

Democracy is The Freedom to Elect Our Own Dictators

Umat Islam harus ingat dengan baik. Terpilihnya Nuri Al Maliki dan rezim Syiah di Irak, hal itu adalah melalui mekanisme demokrasi. Ketika itu banyak dai-dai Islam menyerukan golput, lalu terpilihlah tokoh-tokoh Syiah sehingga mendominasi parlemen dan pemerintahan; sampai akhirnya pemerintahan Irak jatuh ke tangan Syiah. Kini Syiah di Indonesia, Liberal, jaringan China, non Muslim berusaha mengambil kesempatan untuk menguasai Indonesia. Faktanya, mereka sangat gencar mencalonkan tokoh-tokohnya, melakukan lobi politik, melakukan politik pencitraan, dan seterusnya.

Kami akan jelaskan kembali masalah ini sebagai bagian dari amanat yang harus disampaikan. Meskipun masih saja (banyak) yang salah paham atau tidak mengerti.

[1]. Bagaimana hukum demokrasi menurut ajaran Islam? Jawabnya jelas, demokrasi bukan sistem Islam, tidak dikenal dalam sejarah Islam, dan statusnya HARAM menurut Syariat Islam. Mengapa demikian? Karena patokan dalam sistem Islami adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sedangkan dalam demokrasi patokannya adalah menuruti kehendak mayoritas manusia. Betapa jauhnya perbedaan antara taat kepada Allah dan Rasul, dengan mengikuti selera mayoritas manusia. Kedudukan demokrasi dalam hal ini sama seperti hukum makan daging babi, seks bebas, minum khamr, ribawi, dan lainnya yang sama-sama haram.

[2]. Daging babi haram, seks bebas haram, ribawi haram, minum khamr haram; tetapi mengapa di tengah kehidupan bangsa kita masih banyak (atau ada) yang melakukan hal-hal haram itu? Mengapa negara tidak menetapkan keharaman hal-hal itu secara tegas? Mengapa dan mengapa? Ya jawabnya mudah: karena negara Indonesia ini bukan berdasarkan Syariat Islam. Sekali lagi, sistem dan UU di negara kita ini bukan Islam. Kalau berlaku sistem Islam, tidak perlu demokrasi-demokrasian. Kita tak butuh demokrasi di sebuah negara yang Islami. Jawaban Ja’far Umar Thalib dan selainnya bisa dibenarkan, dalam konteks sistem Islami. Kalau dalam sistem sekuler seperti Indonesia ini, justru manfaatkan celah politik sekecil mungkin.

[3]. Negara seperti Indonesia ini kan bukan Islami. Sebagian kalangan Muslim malah menyebutnya sebagai negara thaghut, kafir, syirik. Jelas kan bahwa negara kita bukan (belum) negara Islami. Jika demikian, maka dalam urusan-urusan yang bersifat SOSIAL-KEMASYARAKAT, dalam urusan BIROKRASI, KEPEMIMPINAN, dan KENEGARAAN kita tidak bisa memaksakan Syariat Islam berlaku. Kalau dalam urusan pribadi, keluarga, lingkup terbatas, kita bisa menerapkan Syariat Islam; tapi dalam lingkup masyarakat luas, tidak bisa memaksakan. Paling yang bisa kita lakukan adalah: cara politik, lobi pejabat, tekanan publik, pembentukan opini, dan yang semisal itu.

[4]. Bisa saja sebagian Muslim ingin memaksakan agar Syariat Islam berlaku dalam kehidupan sosial, birokrasi, politik, kepemimpinan. Tapi hal itu akan ditolak oleh kalangan sekuler, hedonis, non Muslim yang sejak lama memang benci Islam. Resikonya akan terjadi konflik sosial, dalam skala kecil atau meluas. Atau paling kasarnya, akan terjadi perang antara pendukung Syariat Islam dan para penentangnya; seperti zaman DI/TII dulu. Mungkin dalam batas tertentu para pendukung Syariat tidak menolak jika harus menempuh cara perang untuk memberlakukan Syariat; masalahnya, apa yang sudah Anda siapkan untuk peperangan itu sendiri? Kalau Rasulullah SAW dan para Shahabat RA saja melakukan persiapan luar biasa untuk peperangan ini, apakah kita cukup dengan semangat dan keyakinan akan Nashrullah (pertolongan Allah)?

[5]. Jalan demokrasi atau pemilu adalah langkah kompromi antara arus pendukung Syariat Islam dengan para penentangnya, daripada kita menempuh cara perang (konflik). Kalau ada dua jalan, untuk mencapai tujuan yang sama (penegakan Syariat Islam), satu jalan melalui perang, jalan lain melalui kompetisi politik; maka Syariat Islam membimbing kita untuk menempuh madharat yang lebih kecil. Kaidahnya, ikhtaru akhaffi dhararain (memilih madharat yang lebih kecil). Hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW sebelum penaklukan Makkah. Waktu itu terbuka dua jalan, secara terbuka memerangi Kota Makkah, atau memilih perjanjian damai dengan mereka. Lalu Nabi SAW memilih jalan damai, melalui perjanjian Hudaibiyah. Tujuannya sama, menaklukkan Makkah, tetapi menempuh cara yang lebih sedikit madharatnya.

PERHATIAN: Kalau kita sudah sampai di titik ini, jangan dibalikkan lagi ke tahap elementer, seperti ungkapan “demokrasi itu haram, bid’ah, sistem kufar, syirik” dan seterusnya. Kita sudah progress pada tahap pertengahan, jangan dimentahkan lagi dengan ungkapan-ungkapan elementer. Mohon jangan membiasakan diri berputar-putar dalam kebingungan dan ketidak-jujuran dalam membangun pemahaman.

[6]. Bagi kalangan yang memutlakkan haramnya pemilu demokrasi dengan segala argumennya, ada sebuah pertanyaan mendasar yang harus dijawab: “Bagaimana menurut Anda jika melalui proses demokrasi dapat ditetapkan Syariat Islam sebagai hukum negara? Bagaimana jika melalui proses pemilu dapat dipilih pemimpin sesuai Syariah? Bagaimana jika melalui demokrasi, kaum Muslimin bisa berkesempatan mengatur negara dengan nilai-nilai Islam?” Mohon pertanyaan ini dijawab dengan jujur. Jika mereka SETUJU dengan demokrasi semacam itu, berarti yang jadi masalah bukan demokrasinya, tapi hasilnya. Jika mereka TAK SETUJU, maka itu aneh. Mengapa mereka tak setuju dengan penegakan Syariat Islam, kepemimpinan Syariah, dan kekuasaan Islam?

[7]. Mungkin mereka akan membantah dengan pernyataan berikut: “Mana buktinya bahwa mekanisme demokrasi bisa menetapkan Syariat Islam? Mana buktinya sistem demokrasi bisa memilih pemimpin sesuai Syariat? Mana buktinya bahwa demokrasi bisa menghasilkan dominasi politik Islam?” Jika demikian pertanyaannya, maka kami bisa berikan sedikit data-data untuk dipikirkan. Pemilu demokrasi di Pakistan pernah berhasil mengangkat Nawaz Syarif sebagai PM, lalu mereka memberlakukan Syariat Islam; meskipun usia pemberlakuan itu sebentar, sebelum Nawaz Syarif disingkirkan. Sistem demokrasi di Pakistan pernah mem-back up kepemimpinan Presiden Ziaul Haq rahimahullah yang Islami. Pemilu demokrasi di Kelantan Malaysia berhasil memantapkan negara bagian itu dengan UU Syariah. Pemilu demokrasi di Mesir berhasil memperbaiki Konstitusi sehingga lebih Islami, dan berhasil mengangkat Presiden Mursi yang hafal Al Qur’an sebagai pemimpin Mesir. Begitu juga, sistem demokrasi di Sudan menjadi jalan dominasi kaum Muslimin di sana. Termasuk demokrasi di Turki berhasil memperbaiki kehidupan rakyat Turki dan adopsi nilai-nilai Islam (seperti busana Muslim dan jilbab) ke dalam kultur sekuler Turki. Bahkan demokrasi di Palestina mengukuhkan Hamas sebagai dominator di wilayah Ghaza. Ini adalah kenyataan-kenyataan yang ada.

[8]. Mungkin masih ada keraguan dengan pertanyaan: “Tapi faktanya Ikhwanul Muslimin di Mesir dibantai, Mursi digulingkan, FIS di Aljazair dibantai sampai jatuh korban puluhan ribu Muslim?” Jika situasi Mesir dan Aljazair dijadikan ukuran, itu konteksnya berbeda. Di sana yang terjadi adalah KEZHALIMAN, KELICIKAN, KEJAHATAN TERBUKA terhadap mekanisme kompetisi politik yang jujur dan damai. Sebagian orang menggunakan cara kekerasan untuk menghancurkan kemenangan yang diperoleh melalui kompetisi politik yang fair. Jadi dasar masalahnya bukan di kompetisinya itu sendiri. Tapi pada orang yang ngeyel dan tak mau kalah secara sportif, lalu memakai cara-cara kekerasan. Logikanya begini: Ada perlombaan lari diikuti 10 orang pelari. Dari perlombaan itu diperoleh seorang pemenang sebagai juara. Dia dapat piala. Tapi ada yang tak terima. Mereka menghajar sang juara sampai babak belur, lalu piala di tangannya diberikan kepada pelari lain yang kalah. Yang salah disini kan kezhalimannya, bukan kompetisi larinya.

[9]. Kalau kami umpamakan, pemilu demokrasi itu seperti bunga bank. Para ulama Muslim kontemporer sudah sepakat bahwa bunga bank itu haram, karena termasuk ribawi. Tapi pernah diajukan pertanyaan oleh sebagian orang kaya Muslim yang menyimpan uangnya di bank-bank Swiss. Mereka bertanya: “Bagaimana harus kami gunakan bunga bank ini? Jika tidak kami ambil, ia akan dikumpulkan untuk lembaga-lembaga Nashrani, lalu dipakai untuk membiayai kegiatan Kristenisasi. Kalau kami ambil, ia haram hukumnya sesuai fatwa ulama. Apa yang harus kami lakukan?” Akhirnya diberikan fatwa, bahwa bunga bank itu boleh diambil, lalu disedekahkan untuk pembangunan fasilitas sosial seperti jalan raya, jembatan, penerangan jalan, dan lainnya yang bukan bersifat konsumsi. Nah dalam konteks ini, situasinya mirip dengan pemilu demokrasi.

[10]. Yakin, haqqul yakin, bahwa demokrasi bukanlah sistem Islam, bukanlah cara Islami. Singkat kata, ia haram. Tapi kalau hak suara demokrasi kita tidak digunakan untuk mendukung missi perjuangan Islam, ia akan digunakan oleh anasir-anasir anti Islam untuk mencapai kekuasaan, mencapai parlemen, masuk ke proses legislasi UU, untuk mendominasi kepemimpinan birokrasi, dan lainnya. Apa Anda mau hak politik kita diambil kaum anti Islam? Atau dengan kata lain, apa Anda mau bunga bank uang Anda dikumpulkan lembaga-lembaga Zending untuk mengkristenkan Umat manusia? Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[11]. Terakhir, ini penting disampaikan, bahwa mekanisme demokrasi bukan satu-satunya jalan politik yang tersedia bagi Ummat ini. Masih ada jalan-jalan lain yang terbuka dan perlu terus dikembangkan, sesuai daya dan kesempatan. Jadi tulisan ini bukan bermaksud menafikan jalan-jalan perjuangan lain. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Demikianlah, bahwa asal hukum pemilu demokrasi adalah haram, bertentangan dengan pokok ajaran Islam. Tapi dalam situasi darurat, di sebuah negara yang tidak berhukum dengan Syariat Islam, hak suara kita dalam pemilu demokrasi perlu dimanfaatkan, untuk mendukung missi perjuangan Islam. Jangan sampai yang menjadi pemimpin, anggota parlemen, perumus UU, pemimpin birokrasi, dan sebagainya adalah manusia-manusia hedonis, anti Islam, atau sesat akidah. Jika mereka yang terpilih, tentu akan melahirkan banyak musibah dan fitnah bagi Umat ini. Paling kasarnya, sejelek-jeleknya politisi Muslim, dia masih punya sisa-sisa loyalitas kepada agama dan Umatnya. Daripada yang terpilih adalah politisi anti Islam. Nas’alullah al ‘afiyah.

Semoga pembahasan ini bermanfaat, ikut mencerahkan Umat, dan berterima di hati kaum Muslimin. Ya begitulah perjuangan. Ada kalanya kita harus bicara tentang Jokowi, ada kalanya tentang Mujahidin di Suriah, tentang Arab Saudi, dan ada kalanya juga perlu “berkerut dahi” sedikit bicara diskusi seputar demokrasi. Jangan merasa heran ya, kan missi blog ini memang sejak awal merupakan pencerahan Ummat. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Abah).

 


Tanda-tanda Kebenaran Daulah Islam ISIS

April 2, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Wal ‘izzatu lillahi wa li Rasulihi wal mukminin. Amma ba’du.

Kami mulai tulisan ini dengan beberapa pertanyaan berikut:

Mengapa di dunia ini boleh muncul negara agama, seperti Vatikan di Italia? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara liberal kapitalis seperti Amerika dan Uni Eropa? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara atheis komunis seperti China, Kuba, Korea Utara? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara nasionalis seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan seterusnya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara kerajaan seperti Inggris, Malaysia, Denmark, Swedia, Spanyol, dan sebagainya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara kerajaan/keemiran seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Yordania, dan sebagainya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara rasialis seperti Israel, Iran, Irak, (dulu) Afrika Selatan, dan sebagainya?

Negara-negara itu boleh berdiri di atas ideologi masing-masing, dengan wajah dan prinsip politiknya masing-masing. Namun mengapa di dunia ini tidak boleh berdiri NEGARA ISLAM (Daulah Islamiyah)? Ini sangat mengherankan. Ini adalah ketidak-adilan telanjang. Semua agama dan ideologi boleh punya negara, tapi Islam dilarang. Padahal Islam punya sejarah kenegaraan sangat panjang, melebihi semua ideologi-ideologi tersebut. Islam punya sejarah Kekhalifahan sekitar 1400 tahun lamanya.

Siapa yang Membenci Kebaikan Pasti pada Dirinya ada Keburukan

Siapa yang Membenci Kebaikan Pasti pada Dirinya ada Keburukan

Pertanyaan selanjutnya: Apakah tidak boleh kalau Umat Islam berusaha mendirikan kembali Negara Islami di tanah mereka? Tidak bolehkah kaum Muslimin mendirikan Daulah Islamiyah yang sesuai keyakinan dan ideologi Islaminya? Salahkah kalau generasi Islam masa kini ingin membangun lagi kejayaan peradabannya seperti di masa lalu? Orang atheis, komunis, kapitalis, Yahudi, Nashrani, sosialis, nasionalis, dan seterusnya boleh mendirikan negara, mengapa kaum Muslimin dilarang mendirikan Daulah Islamiyah sebagai impian dan harapan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kami sampaikan terlebih dulu, sebelum kita masuk ke pembahasan Daulah Islamiyah fi Iraq wa Syam (ISIS). Jadi berdirinya ISIS adalah buah dari impian, harapan, dan perjuangan kaum Muslimin selama hampir satu abad, sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani di Turki. Berbagai proyek penegakan Negara Islam sudah dilakukan, dan kini ia menjelma lebih kongkret dalam wujud Daulah Islamiyah di Irak dan Syam, yang dipimpin oleh Al Ustadz Al Amir Al Mujahid Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah wa iyyana jami’an.

Kalau Amerika melarang berdirinya Daulah Islamiyah ini, maka pertanyaannya: Siapa yang membolehkan mereka mendirikan negara sekuler, kapitalis, liberalis di muka bumi?

Kalau Bani Saud penguasa Hijaz dan Najd melarang berdirinya ISIS, maka pertanyaannya: Mengapa mereka sejak lama tidak mendirikan Daulah Islamiyah tersebut? Mengapa mereka justru mendirikan kerajaan nasionalis Su’udiyah?

Kalau PBB melarang berdirinya ISIS, maka pertanyaannya: Mengapa mereka tidak melarang berdirinya negara Katholik Vatikan, negara Syiah Iran, negara atheis China, Kuba, Korea Utara, dan sebagainya?

Kalau para nasionalis Indonesia merasa sedih dan kecewa dengan berdirinya Negara Islam di Irak dan Suriah, maka pertanyaannya: Apakah Allah tidak kecewa ketika Anda mengotori bumi-Nya dengan negara nasionalis yang amburadul dan penuh kezhaliman seperti Indonesia selama ini?

Maka saudaraku yang budiman dan jujur…Anda harus legowo dengan pertolongan Allah akan bangkitnya Daulah Islamiyah di abad 21 ini. Semoga ini akan merintis jalan menuju bangkitnya Khilafah Islamiyah di muka bumi, setelah runtuhnya Turki Utsmani pada 1924 lalu. Amin Allahumma amin.

Kami menyerukan kepada para Habaib, khususnya Habib Rieziq Shihab, para aktivis dan pendukung FPI, untuk mendukung dan menolong Daulah Islamiyah ini; karena pemimpinnya adalah keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Al Ustadz Al Mujahid Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah adalah keturunan Ahlul Bait.

Kami juga menyerukan para Salafiyun, apapun jalurnya dan dimanapun tempatnya, agar mendukung Daulah Islamiyah ISIS ini. Sebab mereka selama ini sangat aktif mendakwahkan: Taat Ulil Amri, taat pemerintah Muslim, taat pemimpin Islam, larangan memberontak penguasa Muslim, dan seterusnya. Hayo kawan-kawan Salafiyun, buktikan komitmen TAUHID kalian di hadapan Allah, Rasul-Nya, dan Ummat ini! Buktikan bahwa kalian selama ini benar-benar di Manhaj Salaf yang lurus. Buktikan wahai saudara-saudaraku Salafiyun rahimakumullah jami’an.

Alhamdulillah, atas izin Allah, secara perlahan-lahan mulai nampak kebenaran Daulah Islamiyah ISIS. Hal itu dapat dibaca dari derasnya permusuhan yang ditujukan padanya dari kekuatan-kekuatan politik anti Islam. Berikut ini sebagian tanda-tanda kebenaran Daulah Islamiyah ISIS:

[1]. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan ISIS sebagai organisasi teroris, bersama Ikhwanul Muslimin dan Jabhah Nusrah di Suriah. ISIS tidak menyerang kepentingan Saudi, mengapa diteroriskan? Jabhah Nusrah jelas-jelas melawan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah, mengapa diteroriskan juga? Bukankah Saudi sangat ingin rezim Bashar Assad dihancurkan di Suriah? Dan Ikhwanul Muslimin sekian lama termasuk organisasi yang taat aturan hukum (sekuler) yang berlaku, mengapa diteroriskan juga? Saudi tidak punya alasan menteroriskan ISIS karena alasan mereka salah & bathil.

[2]. Amerika telah meningkatkan bantuan senjata berat, termasuk pesawat Drone, ke pemerintah Syiah Irak di bawah Nuri Al Maliki. Bantuan senjata itu sedianya untuk memberantas “para teroris” yang tergabung dalam ISIS.

[3]. Perserikatan negara-negara monarkhi Arab, yaitu Saudi, UEA, dan Bahrain sangat menentang pejuang-pejuang Islam di Suriah dan Irak. Mereka akan menangkap para pejuang yang pulang ke negara masing-masing, lalu menjebloskannya ke penjara, jika mereka tidak kembali setelah melewati batas waktu yang mereka tetapkan. Kebathilan raja-raja monarkhi anak keturunan Abu Jahal Cs ini sangat nyata ketika mendukung rezim Abdul Fattah As Sissi di Mesir yang telah membantai ribuan kaum Muslimin dan Mukminin Mesir.

[4]. Perserikatan Syiah di Timur Tengah sangat marah dengan serbuan pasukan ISIS ke Suriah, karena itu dikhawatirkan akan meruntuhkan rezim Bashar Assad. Maka Iran, Hizbullah Libanon, dan tentara rezim Assad bersatu padu membendung pengaruh ISIS di Suriah. Termasuk aktivis-aktivis Syiah di Indonesia dan dunia dimobilisasi untuk membantu rezim Assad.

[5]. Israel sangat ketakutan dengan berdirinya ISIS, serta berkumpulnya para mujahidin global di Suriah. Mereka selama ini sudah kelelahan menghadapi Hamas, lalu datang rombongan mujahidin dalam jumlah lebih besar, yaitu ISIS, Jabhah Nusrah, Jabhah Islamiyah, dan sebagainya. Israel tidak mau rezim Assad runtuh, lalu berganti pemerintahan Islam di Suriah. Kalau sampai begitu, ancaman terhadap Israel akan semakin terbuka dan berbahaya. (Amin Allahumma amin).

[6]. Negara-negara anti Islam di dunia sepakat tidak mendukung perjuangan mujahidin di Suriah dan mempersulit siapa saja yang hendak terjun membantu mujahidin kesana. Bagi mereka yang ingin datang ke Irak untuk membantu ISIS juga dipersulit dan diancam dengan tuduhan terorisme.

[7]. Daulah Islamiyah ISIS juga dimusuhi oleh PKK, partai komunis Kurdi, yang tentu saja haluan akidahnya atheis dan komunis. PKK terus melancarkan permusuhan dan serangan, sesuatu yang tidak mereka lakukan kepada pemerintah Turki.

[8]. Lembaga dunia seperti PBB tidak ada kepeduliannya sedikit pun kepada ISIS, atau kaum Muslimin yang dibantai rezim Assad di Suriah. Lembaga seperti OKI, Parlemen Uni Eropa, sama saja mereka.

[9]. Kaum hedonis, liberalis, mulhid Arab sepakat untuk membenci ISIS, menentangnya, menjelek-jelekkan citranya, dan tidak menghendaki berdirinya negara berazaskan Islam. Demikian juga para cendekiawan, pemikir, penulis, wartawan, seniman, dan sebagainya di dunia Arab. Mereka takut jika Syariat Islam tegak berdiri, mereka tak boleh berhedon-hedon ria. Seperti ungkapan terkenal dari Ulil Abshar bahwa: “Negara sekuler bisa menampung hawa maksiyat dan kesalehan sekaligus.”

[10]. Berdirinya ISIS juga dibenci oleh para ulama bayaran, yang menjual fatwa dan ilmu agama, untuk mendapat kemuliaan dunia, kesenangan syahwat, popularitas, dan kenyamanan hidup. Orang-orang begini banyak, di Timur Tengah maupun di Indonesia dan dunia Islam. Mereka disebut dalam Al Qur’an dengan ungkapan: Yasytaruna bi ayatillah tsamanan qalilan (menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah). Harga murah di sini maksudnya, menjual dengan imbalan kenikmatan dunia.

Dari hal-hal seperti ini tampak jelas bahwa yang membenci ISIS adalah: Amerika, Uni Eropa, Bashar Assad, Zionis Israel, raja-raja monarkhi Arab, Syiah Iran-Irak-Libanon-Suriah, kaum hedonis, dan para sekutunya.

Ada juga yang membenci ISIS karena salah paham, belum mengerti, atau mendapat sekian banyak informasi salah dari media-media sekuler. Orang-orang yang salah paham, semoga mendapat tuntunan dan taufik dari Allah Ta’ala. Amin ya Sallam.

Ada yang mengatakan, kalau ISIS dibenci oleh Saudi, tidak menjamin bahwa ISIS menjadi benar. Maka pertanyaannya kami adalah: Bagaimana dengan Amerika, Eropa, Zionis Israel, Syiah, kaum hedonis dan liberal yang juga sama-sama membencinya? Pertanyaan lain: Bagaimana dengan Ikhwanul Muslimin yang juga dibenci Saudi, dan Jabhah Nusrah yang berjuang di Suriah? Apa salah mereka sehingga dibenci? Pertanyaan lanjutan: Mengapa bukan Saudi sendiri yang memulai berdirinya Daulah Islamiyah, padahal mereka memiliki sejuta satu kemampuan untuk membentuk negara Islami? Mengapa Saudi justru sekian lama membentuk negara kerajaan nasionalis? Andaikan dulu, di masa lalu, Allah tidak menolong Muhammad Al Saud rahimahullah dengan Jihad para penuntut ilmu (Wahabi), pastilah tidak akan pernah berdiri Kerajaan Saudi.

Kami sangat berharap kepada ikhwan-akhwat Salafiyun di seluruh dunia agar segera mengulurkan tangan kepada Daulah Islamiyah ISIS di Irak dan Suriah ini. Kami berharap mereka membantu dengan tenaga, pemikiran, dukungan moral, dana, santunan sosial, atau minimal dengan doa. Mengapa demikian? Karena ikhwan-akhwat Salafiyun terkenal dengan seruannya untuk taat Ulil Amri, mendukung pemimpin Muslim, mendukung pemerintahan Islam. Kini Islam, kaum Muslimin, dan Allah Ta’ala sedang menantikan uluran tangan dan bukti keberpihakan mereka kepada Manhaj Salaf. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka di atas Al Haq, menunjuki jalan yang kuat dan teguh, serta membuat mereka mencintai Sunnah selamanya. Amin Allahumma amin.

Demikian sekilas tulisan sederhana yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat, memberi pencerahan (dengan izin Allah), serta berterima di hati-hati kaum Muslimin di mana saja mereka berada. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Naqulu qauli hadza nastaghfirullaha lana wa lakum jami’an, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab, was salamu ‘alaikum wa rahmatullah wabarakaatuh.

(Mine).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 130 pengikut lainnya.