Krisis Militansi Pemuda Islam

November 21, 2009

Bismillahi Allahu Akbar.

Apalah artinya suatu masyarakat, tanpa peranan para pemuda? Bagaimana agama akan tegak berdiri menatap segala tantangan, tanpa peranan pemuda? Mungkinkah Islam akan sampai ke hadapan kita, tanpa peranan pemuda? Betapa besar posisi para pemuda dalam kebangkitan. Tidak ada khilaf lagi.

Kalau ingin melihat masa depan sebuah masyarakat; kalau mau melihat masa depan sebuah bangsa; kalau mau menyaksikan eksistensi agama di masa nanti; kalau mau menyaksikan kemegahan sebuah peradaban; lihatlah semua itu dengan parameter keadaan para pemuda di hari ini. Bagaimana keadaan mereka? Menggembirakankah atau sangat mengecewakan?

Pemuda memiliki sifat istimewa dibandingkan generasi-generasi lainnya, yaitu MILITANSI-nya. Mereka bersemangat besar dalam beramal; mereka memiliki fitrah bersih untuk menolong kebenaran dan membela keadilan; mereka memiliki kekuatan berkorban, tanpa pamrih; mereka memiliki ketulusan hati, tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan sempit, baik uang, wanita, atau kekuasaan. Justru, sifat-sifat baik inilah yang selalu dilekatkan kepada para pemuda. Mereka disebut pemuda karena memiliki militansi tinggi, rasa pengorbanan kuat, optimisme menyala-nyala, serta ruh kebangkitan mengharukan.

Militansi tidak identik dengan aksi-aksi serangan bom disana-sini, atas nama jihad melawan Amerika. Militansi juga tidak selalu diterjemahkan sebagai kemampuan konflik, terlibat battle, sampai berdarah-darah. Militansi adalah kesiapan diri bekerja dan berkorban membela kebenaran yang diyakini. Militansi dalam Islam bisa dimaknai sebagai MUJAHADAH.

Contoh amal-amal yang mencerminkan militansi seorang Muslim, misalnya:

[o] Datang ke Masjid untuk mengajar Al Qur’an kepada anak-anak, meskipun jarak cukup jauh, meskipun hari sedang hujan, meskipun saat tiba di Masjid tidak ada satu pun anak yang dijumpainya.

[o] Pulang dari Masjid sambil telanjang kaki, karena sandal yang dipakainya diambil orang, dengan tidak ada niatan dalam hati untuk mengambil sandal orang lain.

[o] Menyerahkan sisa uang di tangan untuk orang lain yang sangat membutuhkan, meskipun dirinya sendiri juga membutuhkan.

[o] Tidak malu berjualan kalender di pinggir jalan raya, untuk mengumpulkan dana bagi rumah perlindungan anak yatim.

[o] Mengendarai motor dalam keadaan hujan deras, demi meyampaikan bulletin ke tangan pembaca, sesuai jadwal terbitnya.

[o] Menempuh perjalanan berkilo-kilo meter sambil jalan kaki, untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat.

[o] Menyelesaikan tugas yang diamanahkan, meskipun harus bergadang sepanjang malam, sambil tubuh terhuyung-huyung menahan kantuk.

[o] Menepati janji, mengingat-ingat janji, sekalipun untuk hal-hal yang kecil.

[o] Tekun dan sabar menjalankan tugas yang berulang-ulang, meskipun hanya berupa menyapu lantai Masjid setiap sore hari. (Bukan kecilnya pekerjaan yang dilihat, tetapi konsistensinya mengerjakan tugas itu).

[o] Menolak pekerjaan yang mengkhianati Ummat. Atau menolak menerima suap, meskipun resikonya harus keluar meninggalkan pekerjaan.

[o] Berani meninggalkan penghasilan besar, demi terjun dalam urusan-urusan pelayanan Ummat. Dan tidak menangisi hilangnya penghasilan itu, ketika suatu hari hidupnya terpuruk dalam kesulitan.

[o] Bersikap solider kepada sahabat. Tidak menciderai hak-hak sahabat, menolongnya dalam kesusahan, menemaninya dalam keterasingan, menghiburnya dalam kesedihan. Berani mengakhirkan kepentingan diri demi kebaikan sahabat.

[o] Berani melindungi kehormatan Islam, ketika ada yang terang-terangan meghina simbol-simbol syi’ar Islam.

[o] Mengorbankan uang yang dimiliki untuk kepentingan Islam, dengan tidak mengingat-ingat kembali pengorbanan itu.

[o] Teguh menjaga amanah-amanah Ummat, sekalipun mengalami berbagai kesulitan dalam menjaga amanah tersebut.

[o] Membela hak hidup seorang Muslim yang terancam bahaya, meskipun jiwanya sendiri terancam.

[o] Menjaga kehormatan wanita, tidak menghinakannya, meskipun dengan cara-cara yang diminta sendiri oleh wanita itu.

[o] Berani membela orang-orang yang terzhalimi, sekalipun berhadapan dengan jaringan “mafia” yang memiliki kekuatan besar.

[o] Menghormati kaum tua, bersikap sopan kepada mereka, tidak merendahkan mereka, meskipun dirinya di atas kebenaran. (Kecuali kepada kaum tua yang telah terkenal kezhaliman dan kesesatannya).

[o] Jelas dalam meyakini suatu pendapat, terbuka dalam berdiskusi, berani mengakui kesalahan diri, serta tidak menzhalimi orang-orang lemah.

Al Qur’an menggambarkan militansi seorang pemuda, yaitu Nabi Yahya عليه السّلا م. Beliau tidak gentar menghadapi para tiran, meskipun resikonya adalah kematian. Beliau lembut hati, sehingga dicintai para makhluk, termasuk binatang-binatang. Begitu juga dengan pemuda-pemuda Al Kahfi. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya, namun rela meninggalkan gemerlap kehidupan demi membela keyakinan. Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Mush’ab, Sa’ad, dll.رضي الله عنهم    adalah para pemuda Mukmin yang tangguh di awal Islam. Mereka menjadi pilar kebangkitan agama ini.

Teringat ungkapan heroik dari seorang tokoh dakwah di Mesir. Beliau rahimahullah pernah mengatakan, “Datangkan kepadaku 5 orang pemuda Islam yang tangguh, maka dengan mereka aku akan menaklukkan dunia!”

Namun Saudaraku… Namun saat memandang realitas masa kini, kita seperti terpana. Kita seperti memandang sesuatu yang menakjubkan.

Saat menyaksikan wajah pemuda-pemuda Islam jaman sekarang, seketika hati kita diliputi berbagai kesedihan. Dada bergemuruh menahan beban kecemasan besar. Lisan pun tak henti-hentinya mengucapkan…astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah al ‘Azhim.

Ya Allah ya Rabbi, harapan kepada para pemuda itu begitu tingginya, tetapi kehidupan mereka sangat jauh. Mereka bukan hanya tidak mengenal kata militansi; bahkan mereka telah menjadi bagian terbesar dari budaya hedonisme yang merajalela saat ini. (Di dunia hedonisme, tidak dikenal istilah Tuhan. Tuhan mereka adalah kesenangan itu sendiri). Para pemuda telah memindahkan kata militansi dari kamus perjuangan dipindah ke kamus budaya permissif. Mereka ridha menjadi hamba hedonisme. Mereka rela menjadi sekrup-skrup mesin Kapitalisme, dengan segala loyalitas dan kemampuan yang dimiliki. Allahu Akbar!!!

Pemuda-pemuda hari ini bertingkah sangat mengecewakan. Mereka berbangga dengan bedak, lotion, cream, SPA, dan perawatan salon. Dari kaki sampai ujung rambut, mereka senang memamerkan merk-merk terkenal. Tubuhnya selalu wangi, berbangga dengan bilangan jumlah mandi setiap setiap hari. Mereka muntah mencium aroma keringat dari medan perjuangan. Mereka mengejek pakaian sederhana, meremehkan sandal jepit, membuang muka dari rambut kusut. Justru para pemuda itu menjadikan para banci sebagai idola. Takut melihat ular. Selalu mencari aman. Tidak mau menetes keringatnya, karena takut kehilangan “kecantikan”.

Potret Pemuda Masa Kini. Sebagian Besar Muslim.

Pemuda di hari ini menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang tidak jelas. Di setiap sakunya ada HP, dengan merk berbeda-beda. Sangat hobi berfoto-foto, untuk menampakkan kegenitan diri. Tiada hari tanpa SMS romantis; tiada hari tanpa “taushiyah” berujung cinta; tiada hari tanpa meng-up date status di facebook; tiada hari tanpa diskusi sia-sia di forum internet (diskusi tanpa hasil, tanpa perubahan); tiada hari tanpa menghabiskan umur percuma.

Saat pagi mereka bangun, komik, novel romantis, dan majalah life style sudah menanti. Saat Dhuha sebelum keluar rumah, mereka berpantas-pantas diri di depan cermin, lebih satu jam. Saat siang bertemu kawan-kawan, segala obrolan tentang kesenangan dan menghabiskan umur, habis mereka telan. Saat sore, ketika mulai lelah, mereka buka media-media pornografi. Saat petang menjelang malam, nongkorng di kafe-kafe. Saat malam telah sempurna, mereka berduyun-duyun mendatangi arena-arena konser musik. Saat merebahkan badan di tempat tidur, mereka berfantasi hal-hal yang mesum. Ketika pagi bangun kembali, mereka siap mengulang-ulang “ibadah hedonisme” seperti itu.

Pemuda hari ini rupanya akan segera meniti jejak pemuda-pemuda sebelumnya. Mereka hidup, berjalan-jalan kesana-kemari sebagai raga tanpa jiwa, sebagai diri tanpa missi, sebagai hidup tanpa karya. Mereka hendak meniti sunnah orang-orang hina, menjalani hidup sekedar menghabiskan umur. Pembicaraan manusia seperti itu tidak lepas dari 3 urusan saja: cari uang, makan-minum, dan bersenang-senang. Dirinya dianugerahi kebaikan yang luas, tetapi disia-siakan. Masya Allah.

Pemuda hari ini bukanlah pemuda yang memiliki missi besar, yang berpandangan jauh ke depan, yang bertanggung-jawab memikul amanah peradaban Islam, yang siap meletakkan hidupnya sebagai sebuah bata di antara ribuan bata konstruksi kehidupan Islami. Pemuda hari ini bukanlah mereka yang berjalan meniti lintasan perjuangan para pendahulu Salaf yang shaleh. Mereka justru terkurung dalam penjara-penjara budaya syahwat yang diciptakan Yahudi. Mereka terpenjara dalam lautan hedonisme yang melemahkan iman dan merusak moral.

Keadaan yang lebih ironis, di antara pemuda itu ada yang “menghedonisasi” (terinspirasi dari istilah “kriminalisasi”) simbol-simbol perjuangan. Mereka berteriak tentang jihad, mengupas syiar peperangan, meng-capture aksi para mujahidin, membawa simbol-simbol para martir, dll. Tetapi semua itu sekedar kendaraan untuk bersenang-senang, sekedar alat untuk menghabiskan umur. Atau sekedar simbol untuk meraih gengsi tertentu di mata manusia yang lain. Adapun nilai perjuangan mereka sendiri, hampir tidak ada. Maklum, sebagian besar amal mereka geluti hanyalah having funs (bersenang-senang) atas nama kemuliaan para mujahidin.

Dalam kesepian jiwanya, di pojok kehampaan hidupnya, para pemuda itu bersenandung, “Ya, aku suka berjuang, aku militan, aku pembela keadilan. Tetapi aku lebih suka berjuang bersama akhwat, misalnya melalui SMS, chatting, e-mail, diskusi di internet, atau rapat bersama mereka sampai larut malam. Aku lebih enjoy berjihad bersama akhwat. Mereka memicu semangatku, membuatku termotivasi belajar, untuk mengejar nilai tinggi, serta mempersiapkan karier yang cemerlang. Inilah inti perjuanganku, inilah jihadku, demi mencapai Ridha Allah, demi fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban naar. Ya Allah ya Rabbi, semoga nanti karierku bagus, moga-moga bisa jadi anggota dewan, atau dipanggil jadi Menteri, buat membahagiakan ayah-ibuku, kakak-adikku, tante-tanteku. Jadi idola para akhwat, so pasti. Ya Allah ya Rasulullah, amin, amin, amin. Akhirnya, mari bersama-sama kita membaca Al Fatihah: ‘Audzubillah…”

Ngenes, ngenes, ngenes sekali… Sejauh itukah keadaan para pemuda kita? Hanya kepada Allah kita berharap karunia dan menyandarkan  pertolongan.

Betapa sulit saat ini mencari pemuda Islam yang militan. Kebanyakan pemuda telah terkurung dalam penjara-penjara hedonisme yang diciptakan Yahudi, baik mereka sadari atau tidak. Yahudi sangat mengenal tabiat mereka, meneliti relung-relung kepribadiannya sampai sedemikian mendalam. Kemudian Yahudi sukses menciptakan segala macam mainan (games) untuk menyibukkan pemuda-pemuda itu. Tanpa disadari, Yahudi laknatullah menggiring para pemuda itu dalam keadaan tangan dan kakinya diborgol, lehernya terikat, kepalanya diber nomer, mereke berjalan tertunduk lesu; menuju liang-liang penjara kehidupan. Dalam keseharian, para pemuda itu tampak hidup bebas lepas, tanpa kendali. Padahal sebenarnya jiwa mereka terkurung oleh penjara-penjara maya (invisible jails).

Selagi para pemuda itu tidak mau keluar dari dunia hedonismenya… Selagi mereka terus menghabiskan umur percuma… Selagi mereka tidak menyadari life style yang diciptakan Yahudi… Selagi mereka anti militansi untuk membela Islam… Selagi mereka menjalani hidup sebagai manusia-manusia tanpa jiwa… Maka akibatnya, suramlah masa depan Islam, suram nasib kehidupan manusia, bahkan suram juga masa depan mereka sendiri.

Tulisan ini sengaja ditulis, sebagai “BOM” untuk meledakkan penjara-penjara maya yang mencengkram akal para pemuda Islam. Mohon dimaafkan bila ada kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati. إن أريد إلا ألصلح ما إستطعت (tidaklah yang aku kehendaki melainkan melakukan perbaikan, sekuat kesanggupanku).

Bukan hanya Islam yang membutuhkan militansi para pemudanya. Ideologi apapun juga membutuhkan militansi pemuda, agar tetap eksis. Bahkan Yahudi bisa “mencengkram dunia”, juga karena militansi. Maka bangkitkan militansimu, untuk membela agamamu! Saat ini, atau tidak sama sekali!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Manfaat Segelas Air Putih

November 19, 2009

Ini adalah sebuah tip praktis yang insya Allah bermanfaat.

Mungkin Anda selama ini termasuk seseorang yang aktif bekerja, banyak keluar stamina setiap hari. Boleh jadi dalam sehari Anda aktif 8 jam atau lebih. Nah, mungkin saat aktifitas itu Anda pernah merasa lelah, merasa capek, merasa ngantuk, ingin tidur saja, dan lain-lain. Jika Anda istrahat atau tidur bisa jadi akan kehilangan banyak waktu, sementara Anda dipaksa oleh kondisi untuk terus aktf bekerja.

Bagaimana solusinya?

Biasanya, seseorang akan minum kopi, minum kopi ginseng, minum minuman energi, minum suplemen, dan lain-lain untuk memulihkan tenaganya. Kalau Anda mau, cobalah cara yang sangat sederhana ini, yaitu: Meminum air putih segelas penuh sampai habis. Tentu saja, sebelum minum jangan lupa membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim” (atau “Bismillah” saja).

Sesegar Air Putih

Cara ini sangat sederhana dan murah, tetapi insya Allah efektif. Selama tubuh Anda belum rusak oleh radikal bebas, seperti rokok, alkohol, polusi berat, suplemen-suplemen kimiawi, dan sebagainya, maka meminum air putih akan menjadi obat mujarab untuk menyegarkan kembali tubuh yang lesu.

Dasar pemikirannya sederhana: “Kita bisa beraktifitas sehari-hari karena memiliki energi. Energi muncul sebagai hasil pengolahan makanan dan oksigen yang kita asup setiap hari. Sementara sari makanan dan oksigen itu beredar dalam tubuh kita dalam bentuk cairan. Maka ketika kita sering mengganti cairan tubuh, atau memberikan kepada tubuh cairan yang memadai, maka tubuh itu akan aktif memelihara stamina kita.”

Logikanya sangat persis dengan tanaman. Tanaman yang tidak disiram air, ia akan layu, bahkan lama-lama akan mati. Sementara kalau pasokan airnya cukup, ia akan tetap segar. Begitu pula tubuh kita.

Idealnya, dalam sehari kita minum 8 gelas air putih. Tapi saya sarankan, kalau kebiasaan seperti ini sulit dilakukan, cobalah biasakan minum air putih 2 gelas saat pagi, 2 gelas selesai Zhuhur, dan 2 gelas saat petang hari. Lakukan hal ini rutin setiap hari, sebagai upaya menjaga kebugaran tubuh kita.

Memang ada sedikit catatan yang perlu Anda ketahui. Kalau kita biasakan minum air putih dalam jumlah cukup, seperti yang disebut di atas, biasanya kita akan terdorong untuk lebih sering buar air kecil. Tetapi itu normal, dan tidak masalah. Ya, untuk mendapat stamina yang prima, tidak masalah sering-sering ke kamar kecil (WC).

Mau coba? Cobalah, insya Allah bermanfaat… Amin.

AMW.


Hukum Menonton Film “Kiamat 2012”

November 19, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Bagaimana hukumnya menyaksikan film “2012” yang menghebohkan itu? Apakah halal, haram, atau tergantung penilaian masing-masing orang?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tidak bisa diberi jawaban pendek, tetapi harus dirinci sesuai konteksnya, sehingga menghasilkan kesimpulan yang mantap. Di bawah ini beberapa catatan penting seputar film “2012”. Nanti pada ujungnya kita akan sampai pada kesimpulan akhir tentang film ini, insya Allah.

[01] Film “2012” dikeluarkan oleh Columbia Pictures dari Hollywood. Sebagaimana dimaklumi, Columbia Pictures adalah salah satu perusahaan film raksasa milik Yahudi. Mereka sudah puluhan tahun malang-melintang membentuk wajah budaya manusia, mengikuti garis-garis kepentingan Yahudi Internasional. Columbia Pictures, Warner Bros, Walt Disney, 20 Century, dll. sama saja. Mereka sangat pro dengan agenda westernisasi dan hedonisasi budaya manusia.

[02] Hukum asal nonton film sama dengan hukum menonton hiburan lain, yaitu pada awalnya BOLEH (mubah). Status kebolehan itu bisa berubah menjadi makruh, haram, atau afdhal, tergantung isi tontonan, cara menonton, serta akibatnya bagi kehidupan kaum Muslimin. Contoh, menyaksikan tontonan beladiri adalah boleh. Nabi Saw dan Aisyah Ra pernah menyaksikan adu beladiri di masjid, sampai Aisyah merasa bosan melihatnya. Tetapi menyaksikan tontonan beladiri di arena perjudian, campur-baur laki-laki dan wanita, disana banyak minuman-minuman keras, ada wanita pelacur berseliweran disana-sini, dll. maka tontonan seperti itu menjadi haram. Bukan karena beladirinya haram, tetapi karena kondisi arena tempat tontonan itu sendiri diadakan. Contoh lain, tontonan beladiri Smack Down. Tontonan ini penuh adegan rekayasa, penuh kekonyolan, penuh sikap hina dan menghinakan orang lain, menonjolkan kebengisan, tidak mengenal belas-kasih, hanya mengejar nafsu kesombongan. Maka tontonan Smack Down ini haram, karena isinya merusak akal-budi manusia. Jadi, hukum menonton film itu tergantung isi filmnya, cara menontonnya, serta akibatnya kemudian bagi kehidupan kaum Muslimin.

[03] Secara prinsip, film “Kiamat 2012” merupakan pelanggaran berat terhadap akidah Islamiyyah. Dalam film ini diceritakan bahwa Kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Kalau sekarang tahun 2009, berarti Kiamat terjadi 3 tahun lagi. Memastikan waktu datangnya Kiamat pada tahun, bulan, atau tanggal tertentu (dengan kalender apapun) adalah kebathilan besar. Ini sangat tidak bisa diterima oleh akidah Islam. Dalilnya, Nabi Saw tidak pernah menyebutkan saat datangnya Kiamat dengan suatu kepastian waktu. Dalam Al Qur’an pun tidak ada petunjuk kepastian waktu itu. Dalam hadits panjang dari Umar bin Khattab Ra, tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Ketika itu Nabi ditanya oleh Jibril As, “Kapan datangnya As Sa’ah (Hari Kiamat)?” Maka Nabi menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya (yaitu Nabi) lebih tahu dari orang yang bertanya (Jibril). Akan tetapi akan aku sampaikan kepadamu tanda-tandanya.” (HR. Muslim). Disini jelas terlihat, bahwa momentum datangnya Kiamat tidaklah dapat dipastikan oleh manusia manapun, termasuk diri Nabi Saw sendiri. Nah, kalau Nabi saja tidak pernah memastikan momentum datangnya Kiamat, bagaimana dengan para pembuat film 2012 itu? Atas dasar apa kita akan mempercayai ucapan, pemikiran, dan bualan mereka?

[04] Kalau mencermati tanda-tanda Kiamat seperti yang dijelaskan oleh Nabi dalam hadits-hadits yang sangat banyak, disana akan kita dapati kesimpulan, bahwa saat Kiamat terjadi, tidak ada lagi orang-orang beriman. Ummat Islam ketika itu sudah wafat semua, tidak ada yang tersisa. Yang tersisa hanyalah orang-orang kafir, manusia keji, durhaka, fasid, zhalim, dan sebagainya. Sementara saat ini atau tahun 2012, masih banyak kaum Muslimin, masih banyak orang-orang beriman. Jadi, Kiamat versi 2012 bukanlah Kiamat seperti yang digambarkan oleh Islam, tetapi ia adalah Kiamat versi orang-orang kafir. Dengan sendirinya berlaku prinsip: “Lakum dinukum wa liya din” (bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku).

[05] Tokoh-tokoh Islam angkat bicara tentang film “2012”. Seorang anggota MUI di Jakarta tidak mempermasalahkan film ini, dengan alasan sebelumnya sudah sering muncul ramalan-ramalan tentang Kiamat. Seorang ustadz dalam dialog di MetroTV mengatakan, bahwa dia tidak mendukung film itu, tetapi juga tidak melarang masyarakat menyaksikannya. Lembaga MUI di Jawa Barat tidak memandang serius munculnya film “2012”. Bantahan: Film “2012” tidak bisa diqiyaskan dengan ramalan-ramalan Kiamat sebelumnya. Ia berbeda konteksnya. Ramalan-ramalan Kiamat selama ini umumnya disampaikan oleh perorangan, atau diyakini oleh komuntas tertentu. Sementara film “2012” diedarkan ke seluruh dunia sebagai produk publik yang terbuka disaksikan siapa saja. Dalam film “2012” itu orang kafir secara sistematik ingin mendoktrinkan konsep Hari Kiamat menurut versi mereka. Hal ini adalah masalah serius. Menurut hemat saya, film 2012 ini jauh lebih berbahaya daripada film-film binatang yang dibintangi Maria Ozawa. Film 2012 ini bisa merusak pikiran, akidah, dan hati nurani kaum Muslimin. Adapun pandangan “jalan tengah”, tidak mendukung sekaligus tidak melarang, bukanlah pandangan Islami. Ia tidak memiliki landasan Syari’at apapun.

[06] Ada yang berpendapat, bahwa film “2012” bermanfaat juga, yaitu mengingatkan manusia tentang kedahsyatan Hari Kiamat. Kalau seseorang melihat film “2012”, lalu bertaubat dari dosa-dosanya, itulah yang diharapkan. Tetapi masalahnya, dalam film itu tidak ditunjukkan solusinya sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Para pembuat film itu tidak bermaksud mengajak manusia bertaubat, tetapi mengajak mereka ketakutan, lalu tak memberi solusi. Kecil kemungkinan seseorang akan bertaubat setelah melihat film itu, sebab disana gambaran kedahsyatan Kiamat dicampur-adukkan dengan simbol-simbol kemusyrikan (ramalan bangsa Maya atau fiksi sains hasil propaganda orang atheis).

Baca entri selengkapnya »


Kiamat 2012 dan Misteri UFO

November 18, 2009

Minggu-minggu ini kita disibukkan dengan berita seputar release film “2012″. Film ini unik, bukan hanya karena isinya kontroversial, tetapi judulnya hanya berupa angka. Hal ini mengingatkan kita kepada kode “911″ sebelum kemudian muncul Tragedi WTC, 11 September 2001. Di media maupun internet, film 2012 menyita perhatian luar biasa. Secara pribadi saya sangat apresiatif dengan fatwa MUI Kab. Malang yang mengharamkan film “2012″ itu. Baguslah, ada sikap determinatif ketika menghadapi masalah-masalah seperti ini.

Satu poin menarik dari film “2012″ adalah tentang UFO. Singkat kata, Zaskia Mecca dan Hanung Bramantyo diwawancarai wartawan infotainment, menanyakan komentar mereka tentang film “2012″ itu. Mereka ditanya tentang makhluk asing yang bernama UFO. Apakah mereka percaya? Dengan jelas dan tegas, Zaskia Mecca mempercayai adanya makhluk luar angkasa itu.

Terus terang saya tercenung mendengar komentar Zaskia Mecca itu. Terlalu lugu. Beberapa waktu lalu saat saya berkunjung ke rumah seorang teman, dia memarah-marahi anaknya yang masih SD karena percaya dengan UFO. Teman saya itu berkata tegas, “Nanti kamu musyrik kalau percaya dengan UFO!” Saya hanya terpaku menyaksikan kemarahan teman itu kepada anaknya. Dia marah besar dan sangat emosional saat bicara soal UFO.

Lalu UFO sendiri itu bagaimana? Ada atau tidak? Nyata atau hanya omong kosong?

UFO merupakan singkatan dari Unidentified Flying Object (suatu benda melayang yang tidak teridentifikasi). UFO sudah dibicarakan manusia sejak lama. Banyak orang mengklaim telah melihat UFO dengan segala macam bukti yang mereka sebutkan. Ada bukti foto, film, dan lainnya. Hingga kemarin sempat beredar rekaman video, katanya di atas lokasi Pasar Baru Jakarta ada benda UFO.

Banyak kalangan Islam terpengaruh oleh propaganda UFO ini. Salah satunya, Syaikh Muhammad Al Ghazali, salah seorang tokoh Mesir. Beliau juga percaya bahwa di luar angkasa ada kehidupan lain, seperti kehidupan kita di dunia ini. Beliau malah menampilkan dalil-dalil Al Qur’an untuk mendukung asumsinya.

Dari pembacaan yang saya lakukan selama ini dapat disimpulkan bahwa UFO ini hanya omong kosong belaka. Hanya bualan orang-orang yang tidak ada kerjaan. UFO ini hanya propaganda busuk untuk menyesatkan nalar manusia. Dengan keyakinan adanya UFO itu, nanti manusia digiring untuk memahami, bahwa agama itu tidak diperlukan. Sebab kehidupan seperti di dunia ini sifatnya umum (general), ada dimana-mana, tidak hanya di bumi saja.

Apa dalilnya untuk mengatakan bahwa UFO adalah omong kosong?

Pertama, tujuan akhir dari isu UFO adalah atheisme. Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa isu UFO ini sesat semata. Sesuatu yang ujungnya sesat, pangkalnya pasti sesat.

Kedua, kalau UFO itu benar-benar ada, maka ia akan diceritakan manusia sejak jaman dahulu. Bukan hanya saat-saat jaman modern saja. Tentu yang menjadi saksi kehadiran UFO itu bukan hanya manusia jaman kita, tetapi juga manusia jaman Fir’aun dulu, manusia jaman Nabi Huud, dan sebagainya. Tetapi kan hebohnya baru di abad-abad modern, ketika para saintis materialis bersikap jumawa dengan ilmu yang mereka kuasai.

Ketiga, seluruh bukti-bukti yang diklaim sebagai bukti adanya UFO adalah bukti-bukti yang tidak jelas, samar, banyak diselimuti kabut ketidak-jelasan. Seluruh bukti-buktinya tidak ada yang meyakinkan. Kita tidak pernah mendapati bukti adanya UFO dengan bukti terang-benderang, seperti terangnya matahari saat siang, seperti bulan yang bercahaya di saat malam, atau seperti jatuhnya meteor ke permukaan bumi. Tidak pernah ada bukti yang meyakinkan. Selalu saja dipenuhi dengan selubung-selubung kekaburan. Masak sih, dalam waktu ribuan tahun sejak jaman Bani Israil di masa Ya’qub As, tidak ada bukti yang sangat meyakinkan?

Keempat, UFO itu kan diklaim sebagai makhluk asing di luar angkasa. Mereka diklaim sebagai masyarakat (koloni) yang memiliki kehidupan di luar angkasa, dan sebagian mereka mampu datang ke bumi. Kalau begitu, mengapa mereka tidak ada satu pun yang tertangkap tangan secara utuh di bumi? Atau tidak ada satu pun dari mereka yang melakukan kontak komunikasi, bergaul dengan manusia, dan sebagainya. Kalaupun ada, umumnya hanya di film-film fiksi. Sebagai sebuah koloni, tidak mungkin tidak ada jejak-jejaknya. Pasti ada jejaknya. Wong seekor ular yang melintas di atas lumpur meninggalkan jejak, masak sebuah koloni masyarakat tidak ada jejaknya sama sekali?

Kelima, ini yang paling konyol, sifat-sifat UFO itu ternyata diciptakan sendiri oleh pikiran manusia. Disana digambarkan UFO memiliki pesawat, bentuknya piring terbang. Pesawat bisa mendarat, berbentuk bulat, memiliki cahaya, dilengkapi alat-alat mesin canggih. UFO dipercaya lebih pintar dari manusia, bentuknya aneh, berkomunikasi dengan bahasa mesin, sangat peka dalam menginderai benda-benda, punya kemampuan listrik, punya kemampuan persenjataan, sering memakai laser, dll. Pokoknya, UFO lebih canggih dan pintar ketimbang manusia. Tetapi rata-rata mereka berpenampilan jelek (he he he).

Kalau Anda tahu, sifat-sifat yang dilekatkan kepada UFO di atas adalah hasil ciptaan manusia sendiri. Manusia terinspirasi dengan khayalan-khayalan tentang dunia yang asing, unik, dan sensasional. Lalu muncullah gambaran-gambaran tentang UFO. Ini semua hanya hasil pikiran ilmuwan-ilmuwan gendeng, tidak bermoral, dan atheis.

Lalu dimana letak inti kebohongannya?

Perlu dipahami, bahwa pesawat, kendaraan, alat komunikasi, senjata, sinar, dan apapun yang diklaim sebagai milik UFO itu, semuanya adalah alat-alat yang terikat hukum teknologi. Maksudnya, secara teknik kita harus memikirkan bagaimana alat-alat itu bisa muncul?

Misalnya, pesawat berbentuk piring terbang. Mengapa harus piring terbang? Bagaimana ia bisa melayang-layang di udara kalau bentuknya seperti piring terbang? Dimana letak bahan bakar, roket pendorong, serta alat kemudinya? Bahan bakar apa yang mereka pakai? Bahan bakar fosil, nabati, atau nuklir? Kalau nuklir, dimana mereka membuat reaktornya dan bahan radioaktif apa yang mereka pakai? Kalau mereka memakai senjata berupa sinar laser. Sinar lasernya dari bahan apa? Bagaimana cara membangkitkan sinar itu? Bagaimana cara mengisolasinya? Sejauhmana kekuatan sinarnya? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan teknis yang tidak terjawab. Kita tahunya, semua itu tiba-tiba muncul begitu saja, misterius, membuat heboh dimana-mana. Padahal secara teknik sangat rumit perhitungannya.

Nah, setelah Anda paham bahwa alat-alat yang dipakai UFO itu harus memiliki landasan teknologi tertentu. Sekarang kita tanyakan, apakah kondisi alam dimana UFO itu tinggal sama dengan kondisi bumi? Ini pertanyaan fundamentalnya. Sebab harus Anda pahami, bahwa semua teknologi yang dikembangkan manusia selama ini, hal itu bertumpu kenyataan riil kehidupan di bumi. Semua jenis teknologi bertumpu pada kenyataan natural yang ada di bumi, meskipun itu adalah komputer super canggih, Deep Blue.

Sedangkan kita tahu, bahwa UFO selama ini digambarkan sebagai makhluk asing dari luar angkasa. Apakah kondisi di luar angkasa sama dengan kondisi di muka bumi? Jangankan di tempat-tempat yang jauh, di Mars saja sangat berbeda kondisinya dengan bumi. Kalau variable-variable lingkungannya berbeda, pasti teknologi yang dibutuhkannya juga berbeda. Itu pasti. Teknologi akan mengikuti kondisi di sekitarnya.

Maka ketika UFO digambarkan punya pesawat terbang, berbentuk piring terbang, punya alat-alat canggih, punya senjata laser, berkomunikasi dengan bahasa mesin, dll. semua ini hanyalah omong kosong belaka. Semua ini hanya bualan kosong ilmuwan-ilmuwan atheis, tak bermorasl, dan bejat.

UFO digambarkan sedemikian rupa dengan segala keanehannya, tetapi variabel-variabel yang menyertai segala hal yang bersangkutan dengan UFO itu mengacu kepada kondisi-kondisi di bumi. Makhluknya dari angkasa luar, tapi kondisi-kondisi yang mengelilinginya adalah kondisi bumi. Aneh bin ajaib!!!

Jadi, UFO dan kawan-kawan, hanyalah hasil omong kosong manusia-manusia kotor akal, manusia dungu yang suka menipu manusia dengan sensasi-sensasi. Mereka adalah manusia-manusia keji yang tidak memiliki pekerjaan apapun, selain menipu manusia dengan omong kosong.

Akhirul kalam, walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Tidak ada kebenaran suci dan mutlak, selain yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

AMW.


Pencatutan Nama SBY

November 18, 2009

Tentu kita masih ingat dengan rekaman percakapan Anggoda dengan berbagai pihak yang beberapa waktu lalu diperdengarkan di gedung MK itu. Rekaman itu memicu sebuah momentum yang sangat MENDEBARKAN. Mengapa mendebarkan? Sebab, ia bisa mengarah kepada pembersihan institusi-institusi hukum di Indonesia dari para Mafioso hukum. Jika itu terjadi, woow luar biasa! Bukankah itu yang diingkan oleh gerakan Reformasi 1998 lalu?

Namun mirisnya, kalau masyarakat kehilangan momentum karena kelamaan menunggu penuntasan masalah ini.  Seperti kita ketahui, ibarat permainan bola, aparat hukum di Indonesia sangat senang memainkan strategi “mengulur-ulur waktu”. Mereka sangat tahu tabiat masyarakat kita ini (maaf), “hangat-hangat tahi ayam”. Panas sebentar, kemudian dingin lagi. Aparat di Indonesia sangat paham hal ini, maka mereka selalu  “mengulur-ulur waktu” agar suatu kasus tertentu cepat dilupakan. Rekaman di MK itu mengandung harapan besar, tetapi juga bisa kempes lagi seperti momentum-momentum kesadaran sosial lainnya.

Ada satu hal yang unik dari kasus “Rekaman Anggodo” di MK itu. Dalam rekaman itu nama SBY beberapa kali disebut oleh seorang wanita (Ong Yuliana) dan Anggoro yang sedang di Singapura. Hanya saja, Anggoro hanya menyebut istilah RI-1. Kalau ucapan Ong Yuliana bolehlah dianggap sepi saja. Maklum, dia hanya pemain “figuran” saja. Tetapi kalau ucapan Anggoro tentu lain. Anggoro pemilik dana sekitar 700 miliar rupiah, yang 1 % saja (7 miliar rupiah) cukup untuk membiayai operasional “utak-atik hukum” oleh Anggodo. Tentu sangat bego seorang Anggoro kalau menyebut nama RI-1 tanpa makna sama sekali.

Singkat kata, SBY maupun pihak Kepresidenan menolak keras namanya dicatut dalam rekaman itu. Dino Patti Djalal mewakili SBY meminta supaya pencatutan nama SBY itu diusut tuntas. “Presiden minta diusut dengan tuntas karena ini masalah serius,” kata Dino Patti Djalal, di kantor Presiden. (Suara Merdeka, 28 oktober 2009).

Seharusnya, ketika SBY meminta agar pencatutan namanya diusut tuntas, maka orang-orang yang menyebut namanya dalam rekaman itu harus ditangkap dan diperiksa. Mereka adalah Anggodo, Ong Yuliana, atau Anggoro sendiri. Ya, siapa lagi? Wong mereka kok yang menyebut-nyebut nama SBY. Namun sampai saat ini mereka masih bebas, belum ada pengusutan tuntas seperti yang disebut oleh Dino Patti Djalal.

Apakah ini berarti Kepolisian dan Kejaksaan mengabaikan instruksi SBY untuk mengusut tuntas kasus pencatutan nama SBY tersebut? Apakah Kepolisian dan Kejaksaan tidak memahami instruksi SBY?

Mungkin aparat Kepolisian akan berdalih, “Rekaman itu tidak bisa menjadi alat bukti yang kuat.” Kalau begitu logikanya, mengapa SBY meminta supaya kasus pencatutan namanya itu diusut tuntas? Apa artinya perintah SBY itu? Apakah sekedar untuk cari popularitas, atau itu menunjukkan SBY tidak mengerti hukum sehingga membuat instruksi seenaknya sendiri?

Paling tidak, pencatutan nama SBY sudah menjadi fakta. Terlepas apakah rekaman itu bisa menjadi bukti yang kuat atau tidak. Disana sudah jelas-jelas ada perkataan, “SBY mendukung kita!” Ini kan jelas-jelas penyebutan nama yang tidak bisa diingkari lagi. Disini sudah merupakan kasus hukum tersendiri, terlepas apakah ia berkaitan dengan isu Chandra-Bibit atau tidak. Yang jelas, pencatutan nama itu ada dan fakta.

Namun sampai saat ini Anggodo, Ong Yuliana, atau Anggoro tidak pernah diperiksa soal kasus “pencatutan nama” itu. Pihak Kepolisian atau Kejaksaan seperti mengingkari kenyataan, bahwa rekaman itu ada dan nyata. Mereka seperti mengingkari pendengarannya sendiri. Sangat ironis! (Padahal katanya, kalau mau menjadi pejabat publik itu harus sehat lahir-bathin, tidak buta atau tuli).

Justru ketika Anggodo dan Ong Yuliana tidak diproses oleh aparat hukum, hal ini semakin menguatkan dugaan, bahwa isi percakapan yang membawa nama SBY itu bukan suatu omong kosong. Ya, bagaimana lagi kita akan memahaminya? Hanya itu kemungkinannya. Dan disana juga menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa uang mengendalikan hukum di negeri ini.

Selamat berpikir dan berubah lebih baik!!!

 

 

AMW.

 


Kasus KPK dan Kekalutan Regim NEOLIB

November 3, 2009

Saat ini masyarakat lagi ramai-ramainya membicarakan perseteruan antara KPK dan Polri yang kerap digambarkan sebagai pertarungan “Cicak Vs Buaya”. Isu sangat kuat ketika beredar transkrip rekaman pembicaraan telepon yang disinyalir sebagai upaya KRIMINALISASI pejabat-pejabat non aktif KPK. Lebih kuat lagi, ketika Chandra Hamzah dan Bibit Samad Irianto ditahan pihak Kepolisian dengan alasan-alasan yang (kata para praktisi hukum) lemah. Begitu kuatnya isu ini sampai Presiden RI turun tangan, memanggilkan tokoh-tokoh tertentu, lalu mendorong dibentuknya TPF dalam kasus penahanan Bibit-Chandra. Banyak tokoh nasional, cendekiawan, mahasiswa, santri, dan masyarakat luas mendukung KPK dan pembebasan Bibit-Chandra. Dari komunitas facebookers, saat ini sudah terkumpul dukungan bagi Bibit-Chandra sekitar 500 ribu pengguna.

Kalau mau jujur, sebenarnya ini masalah apa sih? Apa itu kasus KPK? Kriminalisasi pejabat KPK? Apa itu “Cicak Vs Buaya”? Apa itu “Lautan Nyamuk Korupsi” di Indonesia? Mengapa ada dukungan bagi gerakan anti korupsi? Mengapa pihak Kepolisian terkesan membela pejabatnya (Susno Duadji)? Dan lain-lain pertanyaan.

BUKAN MASALAH SEPELE

Sepintas lalu, masalah yang timbul di atas adalah kasus perseteruan antara Bibit-Chandra dan pejabat-pejabat Polri. Atau lebih meluas, perseteruan wewenang antara KPK dan Polri. Tetapi sejatinya, masalah ini tidak sesepele itu. Di balik masalah ini ada PERSETERUAN POLITIK yang amat sangat kuat. Hanya masalahnya, apakah kita bisa membaca ke arah sana atau tidak? Semoga Allah memberi pengetahuan yang bermanfaat. Amin.

Singkat kata, kasus KPK ini kuat kaitannya dengan regim NEOLIB yang berkuasa saat ini. Berkaitan dengan fenomena korupsi yang sudah berurat-berakar di Tanah Air. Berkaitan dengan kepentingan negara-negara asing yang ingin mempertahankan kuku KOLONIALISME-nya di Indonesia. Berkaitan dengan nasib kehidupan bangsa Indonesia ke depan. Bahkan berkaitan dengan eksistensi Indonesia itu sendiri.

Lho, kok sebegitu jauh ya? Ya memang, sedemikian jauh. Oleh karena itu bersabarlah untuk memahaminya.

Fakta Regim NEOLIB

Kita sudah sama-sama tahu bahwa Pemerintah KIB II ini tidak jauh beda dengan KIB I lalu. Haluan Pemerintahannya NEOLIB. Indikasinya adalah tim ekonominya tidak berubah dari sebelumnya. Bahkan disana seorang mantan pejabat elit IMF, Boediono, diangkat sebagai Wapres sekaligus mengepalai tim ekonomi. Boediono-lah yang selama menjabat menjadi Menkeu menjadi operator penerapan butir-butir Letter of Intents IMF yang akibatnya melumpuhkan ekonomi nasional. Boediono, Sri Mulyani, Marie Elka Pangestu, Purnomo Yusgiantoro (waktu itu Menteri ESDM) sudah sangat dikenal sebagai tim Neolib Indonesia.

Jadi fakta ini sudah tidak terbantahkan lagi. Jadi tidak ada alasan untuk tidak menyebut KIB II sebagai Regim Neolib. Banyak pakar dan cendekiawan yang bisa memberikan data-data lebih luas lagi.

BARAT Benci Korupsi???

Di mata negara Barat, Indonesia sudah terkenal sebagai negara terkorup. Sejak jaman Soeharto “gelar terkorup” itu sudah nangkring di pundak Indonesia. Begitu pula ketika di jaman Reformasi, korupsinya semakin gila-gilaan. Bayangkan, seorang Kabareskrim Polri sampai ketahuan meminta jatah “uang jasa” karena berhasil mencairkan uang pengusaha dari Bank Century sekian-sekian. Itu contoh terbaru yang masih “panas”. Bank Century sendiri merupakan Mega Skandal yang sedang diproses di DPR untuk tujuan penerapan Hak Angket. Intinya, Indonesia sudah lama terkenal sebagai negara terkorup.

Pertanyaannya, apakah Barat benci dengan fenomena korupsi di Indonesia?

Jawabnya:

[1] Di atas permukaan, Barat sangat membenci fenomena korupsi itu, sebab selama ini mereka mengklaim sebagai negara-negara yang bersih dari korupsi. Wajar, jika mereka mengklaim anti korupsi. Bahkan Barat membiayai LSM-LSM “nyamuk” sekedar untuk membuktikan ke publik Indonesia bahwa mereka benci korupsi.

[2] Di bawah permukaan, Barat sangat senang dengan segala bentuk kebejatan korupsi, penyelewengan wewenang, kolusi, suap, mark up, dan segala bentuk praktik korupsi. Demi Allah, sebenarnya Barat amat sangat senang dengan segala kebejatan korupsi ini. Demi Allah, suburnya korupsi di Indonesia itulah yang Barat inginkan.

Lho, kok bisa bangsa-bangsa Barat suka dengan korupsi di Indonesia?

Jelas, dan sangat jelas itu. Hanya jika di Indonesia subur korupsi, maka mereka akan mampu menguasai negara ini dengan jaring-jaring Kapitalisme-nya. Kalau Indonesia bersih korupsi, bersih penyimpangan, bersih kolusi, dll. maka ekonomi Kapitalis-Liberalis Barat tidak akan hidup di Indonesia. Dalam keadaan Indonesia bersih korupsi, bersih lahir-bathin, dari Pusat sampai Daerah, maka tidak mungkin Barat akan mampu menguasai sumber-sumber ekonomi di Indonesia. Itu mustahil dan sangat mustahil.

Kalau Indonesia bersih korupsi, maka para pejabat akan hidup jujur, tidak menerima suap, sangat nasionalis, peduli dengan pekerjaan, taat dengan tugas, komitmen mensejahteraan rakyat. Tetapi kalau Indonesia subur korupsi, maka Barat akan sangat mudah membeli pejabat-pejabat Indonesia, membeli Presiden, Wakil Presiden, Menteri-menteri, Gubernur, Walikota, dll. Dengan sedikit trik korupsi, suap, dan kolusi, pejabat-pejabat itu tak berdaya dengan iming-iming harta berlimpah. Akhirnya, mereka menggadaikan negara demi melayani Barat. Regim NEOLIB tidak akan mampu bangkit di Indonesia, kalau negeri ini bersih korupsi.

Perlu diingat, strategi debt trap (jebakan hutang) yang diterapkan di Indonesia sejak jaman Soeharto, hal itu bisa berhasil karena suburnya iklim korupsi di negeri ini. Sebaliknya, ketika China menghukum mati ratusan koruptor-koruptornya, negara itu semakin peduli dengan nasib rakyatnya sendiri. Jadi korupsi itu berbanding terbalik dengan nasib baik sebuah bangsa.

AKAR KORUPSI

Korupsi di Indonesia sudah mendarah daging. Hampir setiap orang yang memiliki kuasa dan kesempatan, cenderung melakukan korupsi. Apalagi hukum di Indonesia mudah dibeli oleh para koruptor. Contoh sederhana, beberapa waktu lalu kita semua melihat betapa populernya kasus “Rekaman percakapan Artalita Suryani” dengan pejabat-pejabat Kejaksaan Agung. Coba lihat, apa kasus itu tidak penting? Apa sikap arogan Artalita yang begitu mudah menginjak-injak institusi Kejaksaan Agung sesuatu yang sifatnya remeh? Tetapi saat ini, masalah Artalita ini sudah seperti “peti mati” yang tidak diungkit-ungkit lagi. Begitu cepat kasus terkenal, begitu cepat dilupakan.

Korupsi di Indonesia sudah begitu mengerikan. Hampir setiap meja birokrasi, semua “berbau” korupsi, termasuk birokrasi di Departemen Agama yang seharusnya lebih mengerti tentang moral. Korupsi aparat penegak hukum bukan barang baru lagi. Sampai ada ungkapan “Mafia Peradilan”. Itu bukan pepesan kosong.

Kekalutan NEOLIB

Lalu dimana letak kekalutan regim Neolib?

Regim ini ingin membuat citra dirinya sebagai Pemerintahan yang anti korupsi, bebas korupsi, dan sangat menentang praktik korupsi. Tetapi di sisi lain, kalangan Barat yang pro Neolib, mereka sangat senang dengan kondisi rakyat Indonesia yang dipenjara oleh merebaknya kasus-kasus korupsi. Bahkan kalau perlu, mereka akan mempertahankan fenomena korupsi itu, lalu meneguhkannya sebagai “Kebudayaan Resmi Indonesia”. Kalau Indonesia bersih dari korupsi, dijamin 100 % kepentingan bisnis kotor negara-negara Kapitalis-Liberalis akan hengkang dari negeri ini. Mereka tidak akan tahan lama-lama menjarah kekayaan Indonesia, sebab aparat Indonesia semua anti korupsi, sejak dari tingkat Pusat sampai Daerah.

Kemudian, Regim Neolib ini juga tidak bisa memungkiri kenyataan, bahwa akar korupsi di Indonesia sudah terlalu amat sangat dalam. Sulit dan sulit memberantasnya. Toh, di antara pejabat-pejabat itu sebenarnya banyak yang “bekerja untuk orang lain”. Contoh, Boediono dan Sri Mulyani, sekian lama menjadi pejabat IMF.

Satu sisi, Regim Neolib sedang dipelototi oleh seluruh masyarakat Indonesia karena merebaknya kasus-kasus korupsi, misalnya dalam kasus KPK (Bibit-Chandra). Tetapi di sisi lain, regim ini tidak sanggup menghadapi kemauan Barat (asing) yang ingin tetap menyuburkan korupsi di Indonesia. Juga ketika struktur korupsi di tubuh birokrasi negeri ini telah menjadi kanker yang bisa merusak kekuasaan regim itu.

Disinilah kekalutan Regim Neolib. Maunya selalu “jaga image”, agar dipuji-puji sebagai Pemerintahan yang bersih korupsi, pembela terdepan gerakan anti korupsi. Namun realitasnya, Neolib itu sendiri subur karena merebaknya korupsi dimana-mana. Juga birokrasi di Indonesia telah hancur-lebur digerogoti oleh kanker korupsi. Persis seperti ungkapan Susno Duadji “Seperti Cicak Vs Buaya dalam lautan nyamuk korupsi di Indonesia”.

Maka itu Neolib, janganlah kalian sombong atas kekuatan kalian…

AMW.


PUISI: “Negeri Para Bedebah”

November 3, 2009

Sebuah puisi dari Adhie Massardi, “Negeri Para Bedebah”. Dibacakan di depan kantor KPK sebagai bentuk dukungan moral terhadap pejabat-pejabat non aktif KPK yang sedang ditahan oleh Kepolisian.

 

NEGERI PARA BEDEBAH

Oleh Adhie Massardi

 

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan
.

 

Semoga menjadi inspirasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik, mencegah kemungkaran sistematik, menyerukan masyarakat kepada kebajikan-kebajikan, sekuan kesanggupan. [AMW].

 


Sebuah Foto Kenangan

November 2, 2009

Akhi dan Ukhti rahimakumullah…

Ini ada sebuah foto menarik yang saya dapatkan ketika melihat-lihat album foto milik sebuah TK Islam. Foto ini kalau dilihat secara sekilas, tidak memiliki makna istimewa. Tetapi ia menjadi sangat bermakna kalau dikaitkan dengan pengalaman kami selama ini. Sebelumnya, silakan Anda cermati foto di bawah ini!

Foto Jerapah

Anak TK Terpana Melihat "Si Leher Panjang"

 

Foto yang tampak di atas adalah foto seekor jerapah di Kebun Binatang Bandung (KBB). Dalam foto ini terlihat beberapa anak TK sedang berkunjung ke KBB dan terpana melihat jerapah. Sekali lagi saya ulangi, ia adalah foto JERAPAH di Kebun Binatang Bandung. Tidak ada penafsiran lain. (Tidak dibutuhkan analisis Roy Suryo untuk memastikan kebenaran informasi yang saya sampaikan).

Lalu dimana sisi keistimewaan foto ini?

Jujur saja, saat melihat foto di atas, saya mendadak merasa ngilu, merasa sesak di dada. Ini bukan berkaitan dengan apapun, tetapi menyadari pengalaman kami selama ini bersama anak-anak. Biar Anda tidak semakin bingung, silakan dibaca secara runut poin-poin di bawah ini!

[o] Saya dan isteri sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Alhamdulillah kami dikarunia sekian anak-anak. Selama di Bandung kami menyadari bahwa kota ini tidak terlalu banyak tempat-tempat wisatanya. Memang ada tempat wisata mall-mall, factory outlet, belanja HP, komputer, dll. Tapi jujur saja, kami tidak terlalu suka dengan wisata semacam itu, terlalu “mekanikal dan konsumtif”. Kebanyakan obyek wisata natural terletak di Kabupaten Bandung atau luar kota.

[o] Tapi Bandung memiliki satu obyek wisata yang mengagumkan kami selama ini. Ia terletak di “hutan kota” dekat Kampus ITB, yaitu: Kebun Binatang Bandung. Bagi kami, KBB itu seperti sebuah anugerah besar yang masih tersisa di tengah Kota Bandung. Kami dan anak-anak senang datang ke KBB untuk melihat binatang-binatang langka. Meskipun hal itu sudah dilakukan berulang-ulang kali. Kami senang membawa bekal dari rumah, menggelar tikar, lalu makan bersama di bawah pepohonan pinus di KBB itu. Hampir dipastikan, anak-anak selalu gembira dan puas, setelah berwisata ke KBB. Maklum, daripada sumpek melihat tingkah aneh manusia di berita-berita TV, lebih baik melihat binatang-binatang di KBB.

[o] Kebun Binatang Bandung memiliki beberapa kelebihan. Koleksi hewan-hewannya cukup lengkap, penataan tempatnya berdekatan satu hewan dengan lainnya. Sementara kalau di Ragunan Jakarta, karena terlalu luasnya area, jarak satu lokasi hewan ke lokasi lain berjauhan. [Udah keburu capek duluan jalan kesana kemari]. Selain itu, KBB itu bersih dan rapi. Pihak pengelola KBB tampak komitmen menjaga kebersihan tempat itu. Dan satu lagi, disana ada mushalla yang cukup lebar dan bersih. Anak-anak biasanya menjalankan Shalat Zhuhur atau Ashar disana. Hanya untuk fasilitas WC masih agak sulit, harus antre.

[o] Berkali-kali kami datang ke KBB, kami seperti hafal tempat-tempat binatang itu. Dimana burung-burung, dimana beruang madu, dimana monyet (and his friends), dimana akuarium, dimana gajah, dimana buaya, ular, onta, dan termasuk jerapah. Pendek kata, kami tahu tempat-tempatnya. Seperti contoh, anak-anak setiap ke KBB selalu penasaran ingin melihat ular-ular. Tetapi anehnya, ketika sudah dekat lokasi ular, mereka sering “kabur” ketakutan. Itulah situasi “aneh” yang sering terjadi. Penasaran, tapi ketakutan.

[o] Di antara koleksi KBB yang sangat menarik bagi kami adalah JERAPAH. Letak jerapah lebih ke dalam, dekat dengan tunggangan gajah, atau pohon-pohon pinus. Kalau datang ke KBB, hampir dipastikan kami akan selalu datang untuk melihat jerapah. Seolah jerapah itu seperti “hidangan menjelang penutup” sebelum kami sudahi jalan-jalan melihat berbagai koleksi binatang di KBB. Jerapahnya sendiri tinggi, dewasa, dan jinak. Kadang orang memberikan kacang atau makanan lain ke jerapah itu. Kepala jerapah itu bisa mendekat ke tempat kami berdiri di jalanan. Tetapi ia jinak, tidak menyerang pengunjung.

[o] Beberapa tahun lalu, kami berkunjung ke KBB, dan kami kecewa. Saya termasuk yang cukup kecewa. Mengapa? Sebab saat kami kesana, kami tidak lagi mendapati jerapah disana. Entah kemana jerapah waktu itu, tidak ada di kandangnya. Saya sendiri hanya berprasangka, jerapah itu mungkin sedang dibawa oleh petugas KBB untuk suatu urusan perawatan. Sebab tidak mungkin ia akan dilibatkan dalam sirkus. Setahu kami, KBB tidak memiliki akses pertunjukan sirkus. Murni sifatnya koleksi binatang dan wisata fauna langka.

[o] Kerisauan kami dengan melihat hilangnya jerapah dari kandang terbawa sampai ke rumah. Dalam obrolan sering saya sampaikan kepada isteri atau anak-anak, bahwa saya kecewa jerapah tidak ada di kandangnya. Suatu hari kami dengar berita, katanya jerapah KBB itu sudah mati. Dia mati karena memakan plastik, lalu tersumbat saluran pencernaannya karena plastik yang termakan. Nah, disini kekecewaan kami semakin menggumpal. “Oh, sayang sekali. Siapa pula yang memberi hewan itu bungkus plastik? Oh sayang sekali.”

[o] Secara anatomis, jerapah lehernya panjang. Makanan masuk ke perutnya setelah melewati kerongkongan yang cukup panjang. Kalau ada plastik yang masuk ke saluran pencernaannya, jelas akan membuat binatang itu sangat kesulitan, sehingga akibatnya bisa mati. Plastik bisa dari pengunjung yang memberi kacang dan lupa membuka bungkusnya. Atau dari jerapah itu sendiri yang memakan sampah plastik di sekitarnya. Yang jelas, kami kecewa dengan hilangnya koleksi jerapah dari KBB.

[o] Sejak KBB kehilangan koleksi jerapah, kami seperti hilang semangat. Meskipun pada dasarnya masih banyak koleksi hewan lain disana. Entahlah, apakah kami terlalu fanatik dengan jerapah? Mungkin saja.

Kalau melihat foto di atas, rasanya ada NGILU di hati. Ya Allah, itu kan hewan favorit kami di KBB. Itu adalah foto jerapah saat dia masih hidup. Tapi itulah dunia. Kadang di dunia ini kita diberi aneka hiburan oleh Allah yang Maha Pemurah. Namun ia bersifat tidak abadi. Hiburan di dunia tidak ada yang abadi, apapun bentuknya. Yang abadi, murni, dan sempurna, hanya ada di sisi-Nya, di dalam Jannah-Nya. Alhamdulillah.

Benarlah yang dikatakan oleh Allah kepada Adam As dan isterinya dalam Surat Al Baqarah, tentang dunia ini: “Qulnahbithu, ba’dhukum li ba’dhin ‘aduwwu, wa lakum fil ardhi mustaqarrun wa mata’un ila khiin” (keluarlah kalian dari syurga, sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi itu ada tempat berdiam bagi kalian dan ada kesenangan yang sampai batas waktu tertentu).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiiin.

AMW.


Dialektika Syariat Islam

November 2, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tema Syariat Islam adalah perkara yang sangat penting diketahui oleh kaum Muslimin, khususnya mereka yang telah menjalankan nilai-nilai Islam dan telah sampai ilmu kepadanya. Pemahaman yang jelas dan istiqamah dalam hal ini akan membawa maslahat besar bagi kehidupan Ummat Islam di negeri ini.

Disini saya akan menulis sejumlah poin-poin penting seputar tema Syariat Islam. Termasuk di dalamnya materi-materi perdebatan yang selama ini sering diangkat. Poin-poin itu disusun sepraktis mungkin dan runut sehingga mudah dipahami. Tujuan intinya, ingin menegaskan kembali betapa pentingnya penegakan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat. Semoga yang sederhana ini bermanfaat bagi Ummat dan bernilai di hadapan Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

[01] Apa urusannya bicara Syariat Islam di masa sekarang? Apakah kita tidak dikatakan set back ke belakang, bernostalgia dengan masa lalu?

Hakikat Syariat Islam adalah ajaran Islam itu sendiri. Bicara tentang Syariat Islam sama dengan bicara tentang agama Allah. Sebaik-baik pembicaraan adalah tentang agama-Nya. Dalam Al Qur’an: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya, selain orang yang menyeru kepada Allah, beramal shalih, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku ini adalah orang Muslim.’” (Fushshilat: 33). Tidak ada istilah set back untuk berbicara tentang perkara-perkara yang diridhai Allah (tentang agama-Nya). Semakin banyak kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kemuliaan. Semakin kikir kita bicara tentang agama-Nya, semakin dekat kita dengan kehinaan. Tidak mengherankan jika Allah hendak memuliakan manusia, Dia mengutus Nabi atau Rasul untuk menegakkan agama-Nya di tengah-tengah manusia. Setelah Rasulullah Saw wafat tidak ada lagi Nabi yang diturunkan, maka Allah memperbaiki kehidupan manusia dengan mendatangkan ulama-ulama Waratsatul Anbiya’ (Pewaris Nabi). Mereka mengambil peranan, melanjutkan missi Kenabian, meskipun sifatnya bukan manusia yang ma’shum dari kesalahan.

[02] Tidak semua orang menginginkan Syariat Islam. Di tengah kita ada orang-orang yang beragama selain Islam. Apakah kita akan memaksakan Syariat Islam kepada mereka? Bukankah itu suatu pemaksaan, padahal dalam Islam tidak ada paksaan?

Pada dasarnya, siapapun boleh bicara tentang Syariat Islam. Hal itu tidak terbatas bagi kaum Muslimin saja. Syariat Islam adalah agama yang diserukan secara universal kepada seluruh manusia. Dalam Al Qur’an, “Dan tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) melainkan kepada seluruh manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Saba’: 28). Orang non Muslim boleh bicara Syariat Islam, selama niatnya baik. Pembicaraan itu akan menjadi dakwah bagi mereka. Namun mereka tidak dipaksa untuk menerima Syariat Islam, sebab mereka adalah non Muslim. Kecuali dalam suatu negara yang telah ditegakkan Sistem Islam, mereka harus mematuhi Syariat Islam dalam batas-batas tertentu (khususnya terkait hukum-hukum sosial). Tetapi bagi orang Muslim, wajib hukumnya membicarakan Syariat Islam, baik sedikit atau banyak. Bahkan kita akan merugi kalau tidak membicarakan tentang Syariat Islam. Dalilnya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang beriman, yang beramal shalih, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” (Al ‘Ashr). Amanah Syariat Islam secara khusus ditujukan kepada orang-orang Muslim. Namun kalau kalangan di luar Islam tertarik mempelajari Syariat Islam dengan hati yang tulus, ya alhamdulillah.

[03] Bukankah kita di Indonesia sudah sepakat, bahwa Pancasila dan UUD 1945 adalah final? Tidak ada konsep hukum lain, selain itu.

Siapa mengatakan Pancasila dan UUD 1945 sudah final? Adakah orang-orang beriman yang mengklaim seperti itu? Tidak ada yang FINAL dalam kehidupan ini, selain WAHYU Allah. Hanya Wahyu Allah dan sabda Rasulullah yang bersifat final dan mutlak. Selain keduanya, bersifat optional (pilihan). Hingga para filosof sering mengatakan, “Tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu pengetahuan, selain kebenaran Wahyu.” Kalau Pancasila dan UUD 1945 dianggap final, berarti kita telah menempatkannya seperti Wahyu Allah. Keyakinan seperti itu justru sangat kontradiksi dengan Pancasila sendiri. Pada Sila pertama dikatakan: “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Kalau bangsa kita mengaku bertuhan, pasti tidak akan mengatakan bahwa Pancasila dan UUD 1945 yang dirumuskan oleh manusia itu sebagai kebenaran mutlak yang bersifat final. Tidak ada yang final dalam kehidupan ini, selain Kitabullah dan As Sunnah. Mengatakan Pancasila dan UUD 1945 bersifat final, sementara Al Qur’an dan As Sunnah dianggap relatif, berarti kita telah menjadikan Pancasila dan UUD 1945 lebih tinggi dari Al Qur’an dan As Sunnah. Ini adalah kesesatan besar yang bisa membatalkan keimanan manusia.

[04] Kalau kita memaksakan penegakan Syariat Islam, maka akibatnya NKRI akan terpecah-belah. Wilayah Indonesia Timur akan memerdekakan diri. Alasan itu pula yang dulu membuat Hatta menolak Piagam Djakarta. Daripada NKRI terpecah-belah, lebih baik kita jangan memaksakan berlakunya Syariat Islam di bumi Indonesia.

Disini ada KESALAH-PAHAMAN besar yang sejak dulu telah mengacaukan akal-akal manusia. Kesalah-pahaman itu terus dilestarikan, diperindah, dihias-hias, diberi dalil-dalil, dipatenkan, bahkan dimuseumkan. Lho, sisi mana kesalah-pahamannya? Jelas sekali masalahnya. Allah tidak pernah memaksakan bangsa ini agar menjadi bangsa ini dan itu. Kita mau menjadi bangsa apapun, silakan saja. Mau menjadi bangsa tempe, bangsa jengkol, bangsa batu, bangsa berlian, atau bangsa apapun, itu terserah kita. Jangan “GR” dengan menyangka bahwa Allah membutuhkan bangsa ini. Tidak sama sekali. Allah Maha Kaya, tidak butuh apapun dari makhluk-Nya. Allah tidak pernah memaksa bangsa Indonesia menjadi Negara Islam. Allah hanya mengingatkan dalam Al Qur’an, kalau kita mau beriman dan bertakwa kepada-Nya, kita akan dicurahi barakah-barakah dari langit dan bumi. Kalau kita mendustakan agama-Nya, kita akan mendapat siksaan (Al A’raaf: 96). Dia juga mengingatkan, kalau kita bersyukur, akan ditambah nikmat-Nya. Kalau kita kufur nikmat, pasti akan terkena siksa-Nya yang pedih (Ibrahim: 7). Jadi, bangsa Indonesia mau jadi bangsa apapun, silakan saja. Tetapi kalau kita ingin hidup berkah, dimudahkan oleh Allah, dicurahi pertolongan dan kemuliaan, dibela atas musuh-musuh, maka tegakkan agama-Nya dalam kehidupan kita. Sekuat-kuatnya bangsa ini ingin menjaga NKRI, kalau hati-hati rakyat Indonesia jauh dari iman dan takwa, lambat atau cepat NKRI itu pasti akan tercerai-berai. Ingatlah saudaraku, tidak ada yang lebih kuat untuk menyatukan suatu bangsa, selain iman dan takwa. Begitu pula, tidak ada faktor yang paling berbahaya bagi hancurnya suatu bangsa, selain merosotnya iman dan takwa. Seharusnya, kalau kita komitmen dengan NKRI, kita harus komitmen dengan Syariat Islam. Segala masalah yang ditakutkan bangsa ini, misalnya ancaman disintegrasi, itu semua ada solusinya dalam Islam.

[05] Sebagian orang begitu meyakini kehebatan Syariat Islam. Apa sih manfaat fundamental dari penegakan Syariat Islam?

Pertama, menegakkan Syariat Islam sama dengan menghidupkan Wahyu Allah di muka bumi. Hal ini jika dilakukan dengan baik dan konsisten, akan mendatangkan Keridhaan Allah. Jika Allah ridha, maka Dia akan mencurahkan berbagai anugerah besar dalam kehidupan kita, dan sekaligus melindungi kehidupan itu sendiri dari segala petaka dan bencana. Dalilnya, “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), pasti akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari labgit dan bumi.” (Al A’raaf: 96). Kedua, Syariat Islam itu akan menyelesaikan sebagian besar perselisihan di antara manusia. Dalam Syariat ini tidak ada pihak-pihak yang diagungkan, selain Allah saja. Tidak ada kepentingan raja, bangsawan, pengusaha, kapitalis, politisi, jendral, ustadz, syaikh, dll. yang diistimewakan. Semuanya dicurahkan untuk Allah. Hingga dalam hadits, Nabi Saw bersabda: “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” Lihatlah, Syariat Islam tidak memberi keistimewaan kepada siapapun, bahkan kepada keluarga Nabi sekalipun. Ketiga, Syariat Islam akan melindungi orang-orang lemah dari penindasan orang-orang kuat. Sistem apapun selain Islam, pasti akan melahirkan penindasan. Itu pasti! Nah, Syariat Islam menghapuskan penindasan orang-orang kuat terhadap orang-orang lemah. Keempat, Syariat Islam lebih menjamin tercapainya keadilan. Sejak manusia mengenal sistem sekuler, sejak itu impian tercapainya keadilan hanya omong kosong belaka. Dalam Syariat Islam, jangankan seorang Muslim, orang Yahudi-Nashrani pun tidak boleh dizhalimi (Al Maa’idah: 8). Kelima, Syariat Islam adalah satu-satunya sistem/tatanan yang akan membuat manusia mencapai tujuan Fid Dunya Hasanah, Wa Fil Akhirati Hasanah (mendapat kebaikan di dunia Akhirat). Jika ada manusia yang memaksakan diri ingin mencari yang lebih hebat dari kebaikan-kebaikan di atas, pada dasarnya mereka hanya menganiaya diri sendiri.

Baca entri selengkapnya »


Teori Politik Aneh

Oktober 21, 2009

Kalau melihat situasi politik saat ini, rasanya aneh sekali. Kafilah politik SBY dan Demokrat ingin merangkul semua elemen-elemen politik lainnya. Fakta paling mutakhir ialah dukungan SBY agar Taufik Kiemas menjadi Ketua MPR, dan dorongan SBY agar Golkar masuk barisan koalisi. Ini aneh sekali, sebab saat Pilpres kemarin semua orang tahu betapa kerasnya konflik politik antara kubu SBY dengan PDIP dan Golkar. Anda masih ingat kerasnya kritik Megawati kepada SBY, lalu dibalas SBY dengan pidato yang tidak kalah “marah-marahnya”.

Dalam teori politik kubu SBY, semua eleman politik kalau bisa dirangkul, sehingga tidak ada yang memusuhi atau kontra politik dengan tujuan-tujuannya. Ini namanya politik akomodasi. Argumentasinya: “Sistem politik kita presidensial, tidak ada istilah partai oposisi.” (Bisa-bisa saja, para pengamat/politisi menipu rakyat dengan argumentasi yang dibuat-buat).

Singkat cerita, kalau semua partai bisa dirangkul, maka posisi SBY akan aman. Dia bisa bebas mencapai tujuan-tujuan politiknya, tanpa halangan siapapun. Toh, semua partai sudah mendukung dirinya. Dengan cara yang sama, mereka seperti ingin mengulang sukses Golkar di jaman Orde Baru dulu sebagai single majority. Golkar setiap Pemilu rata-rata menguasai 70 % potensi suara rakyat, sama seperti koalisi SBY saat ini.

Kelemahan teori seperti ini:

[1] SBY kelihatan sebagai pemimpin politik yang gampang jerih, takut konflik, tidak memiliki pendirian teguh. Semua elemen dia rangkul, untuk menghindari konflik kepentingan. Kalau pemimpin sejati harusnya memiliki INTEGRITAS kuat, bukan takut menghadapi konflik.

[2] Realitas politik saat ini berbeda dengan jaman Orde Baru. Orde Baru pilihannya hanya 3: Golkar, PPP, PDI. Sementara saat ini setidaknya ada 10 pilihan kanal politik. Merangkul sebanyak itu elemen politik, justru akan membenturkan elemen-elemen itu satu sama lain dalam konflik kepentingan, sehingga akhirnya mereka lemah semua. Mereka pasti akan “berebut kuasa”, lalu tidak efektif menjalankan tugasnya.

Jadi, teori “merangkul semua partai” itu pada dasaranya hanya utopia belaka. Inilah teori yang idak mencerminkan sifat kepemimpinan yang tangguh. Tapi ya sudahlah, wong rakyat Indonesia sendiri memang jauh dari ketangguhan.

Hanya kepada Allah Al Hafizh kita berlindung dari fitnah dan bencana. Amin ya Hafizh.

AMW.