Orang Bodoh Ya Jangan Ditipu…

Juli 10, 2009

Ada sebuah anekdot menarik.  Anekdot ini dengan versi berbeda sering diungkap di berbagai kesempatan.

Singkat cerita, suatu hari ada pameran otak manusia. Ada otak orang Jerman, otak orang Turki, otak orang Jepang, dan lain-lain. Termasuk otak orang Indonesia. Ketika diteliti, ternyata otak-otak itu banyak yang keruh. Otak orang Jerman keruh 60 %, otak orang Turki keruh 75 %, orang Jepang 80 %, orang Amerika 40 %, dan sebagainya. Tetapi saat otak orang Indonesia diperiksa, luar biasa. Bersih sama sekali, bersih 100 %, tidak keruh sedikit pun. Mengapa otak orang Indonesia bersih 100 %? Jawabnya: “Karena jarang dipakai!”

Ini sebuah sindiran bagi kita semua. Orang Indonesia, “otaknya jarang dipakai”. Ungkapan ini bukan pujian, tetapi justru merupakan sindiran, mengapa kita cenderung tidak mengoptimalkan akal pikiran kita? Kalau anekdot seperti ini disampaikan ke tokoh tertentu, mungkin dia akan marah. Dia paling tidak suka dengan ungkapan-ungkapan yang bernada melecehkan diri sendiri. Tokoh itu pernah marah besar ketika dalam ulang-tahun PGRI ada seseorang guru yang dianggap melecehkan korp guru sendiri.

Tetapi sekali waktu kita perlu jujur melihat diri sendiri. Jangan terus-menerus menutupi bau busuk yang tersembunyi. Okelah, menyimpan aib-aib diri adalah baik, merupakan kesopanan. Tetapi tidak mau sadar akan kekurangan diri, dan lebih parah, tidak mau memperbaiki diri setelah itu, adalah KUNCI kehinaan bangsa ini. Untuk apa ada metode analisis SWOT, kalau bukan benar-benar ingin jujur melihat diri sendiri?

Kita akui saja dengan jujur, bahwa tingkat kecerdasan rakyat Indonesia secara kolektif memang rendah. Namun hal ini dimaksudkan bukan untuk pamer kepintaran individual, atau untuk pamer arogansi. Tidak sama sekali. Kita harus berani meraba kelemahan kita, lalu melakukan usaha-usaha serius untuk memperbaikinya. Ya, mau apa lagi? Apakah selamanya bangsa ini ditakdirkan nasibnya sebagai bangsa bodoh yang lemah? Padahal para ahli neurologi banyak menjelaskan, bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi jenius. Bahkan ada yang mengatakan, setiap otak normal manusia pada awalnya mampu menjangkau khazanah ilmu sains apapun. Ya, budaya dan gaya hidup kita lah yang telah mematikan bakat kecerdasan itu. Toh terbukti, pada orang-orang tertentu yang berhasil menstimulus potensi kecerdasannya secara maksimal, dia terbukti sangat cerdas (dengan ijin Allah).

Terus terang, saya membayangkan rakyat Indonesia itu seperti “anak kecil”. (Mohon jangan dianggap ini arogansi, tidak ada tujuan ke arah sana). Anak kecil jangan dibiarkan memutuskan keputusan-keputusan serius sendiri. Dia harus dijaga, dibimbing, diarahkan, ditumbuhkan dan diberdayakan. Jangan memberi anak kecil itu pisau, takut akan dia pakai untuk melukai orang lain, atau dirinya sendiri.

Saya tidak setuju bangsa Indonesia mendewa-dewakan paham demokrasi. Itu salah! Orang kita jauh dari siap untuk berdemokrasi. Jauh sekali. Mereka tidak bisa disuruh memutuskan sendiri keputusan-keputusan politik strategis yang akan mempengaruhi kehidupannya ke depan. Saya sangat menolak anggapan bahwa “rakyat kita sudah cerdas”. Omong kosong, itu hanyalah kebohongan besar! Tidak, masyarakat kita masih bodoh, bukan cerdas! Bayangkan, hanya dengan uang Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,- dan diberi kaos, rakyat  kita bisa lupa segala-galanya. Apa itu yang disebut cerdas? Masyarakat kita itu lemah, kaum mustadh’afin, orang-orang tidak berdaya.

Secara riil yang seharusnya dilakukan adalah:  menjaga rakyat, membimbing mereka, mengarahkan, menumbuhkan, dan memberdayakan mereka. Dan hal itu adalah tugas utama PEMERINTAH. Pemerintah itu seperti kepanitiaan yang dibentuk untuk melayani hajat hidup masyarakat luas. Persis sekali seperti sebuah kepanitiaan. Disana ada SK, struktur, pemimpin, anggaran, fasilitas, sampai pengamanan. Nah, “panitia rakyat” inilah yang seharusnya memikul tanggung-jawab: melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia (seperti bunyi Pembukaan UUD 1945).

Tetapi ya memang aneh. Sejak dulu rakyat Indonesia tidak pernah mendapatkan haknya secara benar. Mereka selalu menghadapi “panitia-panitia” yang pinter ngapusi (menipu). Alih-alih mau memberdayakan rakyatnya yang lemah. Mereka malah terus menipu, mengeksploitasi, memanfaatkan kelemahan, serta mempecundangi habis-habisan. Ya Ilahi ya Rahmaan, orang-orang lemah itu kok malah diperdaya.

Kalau Anda menghadapi anak kecil yang membawa pisau. Anda pasti akan bergegas mengambil pisau itu, secara hati-hati. Lalu membuat berbagai alasan untuk menyembunyikan pisau tersebut. Lalu Anda akan mencarikan ganti mainan yang aman buat anak itu. Inilah tipikal kerja orang-orang beriman ketika menghadapi rakyat yang lemah. Tapi kalau di hadapan orang-orang jahat, pisau di tangan anak itu bukan malah diambil, tetapi dia akan memberikan mainan baru, yaitu senapan M16 dengan peluru tajam.

Disinilah titik kelemahan bangsa Indonesia. Hal itu pula yang menjadi sumber dari berbagai macam persoalan hidup yang sangat komplek di era kita sekarang. Secara sederhana dijelaskan sebagai berikut:

[1] Orang Indonesia itu secara fisik lemah, secara intelijensi kurang, secara mentalitas juga lemah. Fisik, intelijensi, mental lemah semua. Wah, betapa mengkhawatirkan.

[2] Orang Indonesia dikarunia negeri yang sangat kaya-raya. Lautnya luas, hutannya luas, iklimnya sejuk, tanahnya subur, tambangnya bermacam-macam, kekayaan ikan, hewan, tanaman, amat sangat banyak. Gunung, sungai, danau, bukit, lembah, dan sebagainya sangat banyak. Semua ini membuat “ngiler” orang-orang rakus durjana.

[3] Orang Indonesia mayoritas beragama Islam, tetapi pemahaman atas agamanya sangat lemah. Di mata orang Indoneisa: Al Qur’an itu adalah Surat Yassin. Ia dibaca ketika ada orang mati, orang sakit keras, orang kesurupan, orang menanggung hutang, orang masuk penjara, dll. Itu pun hanya dibaca lafadznya saja, tanpa makna.

Seharusnya, FORMULA KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA: Mereka sadar bahwa dirinya lemah (no. 1), lalu mereka menjadikan Islam sebagai manhaj hidup (no. 3), sehingga salah satu berkahnya mereka akan menjadi manusia-manusia kuat. Setelah itu mereka akan bisa mengelola kekayaan alam (no. 2) dengan arif bijaksana, seperti yang Allah sebutkan sebagai KHALIFAH FIL ARDHI. Seharusnya begitu.

Tetapi yang terjadi aneh. Kelemahan orang Indonesia (no. 1) dieksploitasi oleh orang-orang kuat (kadang disebut elit politik). Kelemahannya semakin dilemahkan, sehingga tidak berdaya. Lalu ajaran Islam (no. 3) difitnah terus-terusan, dijelek-jelekkan, dibohongi, dikacaukan, sehingga orang menjadi “nek” untuk mengkaji Islam. Akibatnya, kekayaan alam (no. 3) begitu leluasa dijarah orang-orang asing. (Persis seperti yang dikatakan Prabowo Subianto, setiap tahun kekayaan nasional bocor Rp. 200 triliun ke luar negeri).

Dan formula pengerdilan kehidupan rakyat Indonesia itu tidak sembarangan, lho. Hal itu dilakukan secara sistematik oleh orang-orang asing (kolonialisme baru) dengan metode riset yang sangat teliti. Hadirnya TV-TV swasta yang menyerbu rakyat Indonesia dengan tontotan full hiburan, 24 jam, non stop itu. Ia adalah bagian besar dari upaya melemahkan bangsa ini. Belum lagi sistem pendidikan “kualitas TTS” (hanya menjawab soal-soal ujian), media-media massa yang intensif membohongi masyarakat dengan prinsip “di atas kebohongan masih ada kebohongan”, serta isu-isu politik by design yang selalu merugikan rakyat. Termasuk di dalamnya, jenis-jenis makanan instan yang pekat dengan penyedap, pewarna dan pengawet buatan, serta obat-obatan yang melemahkan tubuh dalam jangka panjang. Semua yang dibutuhkan untuk “memenjara rakyat bodoh” tetap dalam kebodohannya, itu yang selama ini dilakukan oleh “panitia-panitia kehidupan bangsa”.

Sayangnya, partai-partai label Islam, yang sebenarnya sangat diharap akan memperbaiki kondisi ini. Mereka malah ikut-ikutan mengeksploitasi orang bodoh. Demi eksploitasi itu, sampai ada elit politik yang mengatakan “apalah artinya selembar kain”.

Tulisan ini saya sampaikan kepada Ummat dengan niat baik. Ingin kita tunjukkan kondisi sebenarnya yang selama ini dikandung bangsa ini. Inilah realitasnya, inilah kenyataan hidup kita. Terserah Ummat Islam sendiri, apa yang akan mereka perbuat ke depan? Ingin berjaya atau semakin sengsara? Terserah Anda semua.

Sebagai kalam akhir, “In uridu illal ish-laha mas-ta-tha’tu” (tidaklah yang aku inginkan, selain melakukan perbaikan, sekuat kesanggupanku). Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.


Ayo Istirahat Politik…

Juli 9, 2009

Kekalahan Capres-Cawapres dukungan ormas-ormas Islam menurut versi quick count berbagai lembaga surve, membekaskan kesedihan tersendiri dalam hati. Seolah antara percaya dan tidak. Apalagi suara kandidat itu sangat kecil, jauh dari perkiraan semula. Bahkan jauh dibandingkan berbagai surve atau pooling menjelang Pilpres.

Secara pribadi, hal ini membekaskan kekecewaan besar dalam hati saya. Padahal pasangan Capres dan Cawapres itu sangat diharapkan akan bekerja maksimal membangun martabat masyarakat Indonesia. Terlalu jauh mengharapkan beliau akan mendirikan negara Islam, terlalu jauh itu. Ya kita sama-sama tahulah. Harapan bagi beliau, bagaimana agar Indonesia ini menjadi bangsa yang mandiri, “Dengan bekal otot dan akal bangsa sendiri!” Hanya itu belaka!

Dengan kekalahan ini, tampaknya saya akan mulai mundur teratur dari tema-tema politik praktis. Saatnya kita istirahat dari masalah politik, dan menekuni kesibukan dakwah Islam kembali. Menerangi Ummat dengan ilmu-ilmu yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah, serta melakukan pelatihan-pelatihan pemberdayaan SDM. Ibaratnya, back to basic kembali. Nantilah, kalau misal ada kesempatan politik yang baik dari kalangan Ummat ini, kita akan ikut melakukan penerangan lagi. Ya, bantu-bantu semampunya. Tapi praktis dalam 5 tahun ke depan ini kayaknya kami akan lebih banyak istighfar dan bertaubat kepada Allah. (Allahumma amin).

Insya Allah, menjelang Ramadhan blog abisyakir.wordpress.com akan “terminal” dari updating, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya. Jujur saja, kekalahan kandidat di atas membuat saya lebih ingin cepat-cepat menarik diri dari isu-isu publik seperti ini. Semoga Allah memaafkan, kalau kami salah dan keliru. Ya Allah janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang kami tak sanggup memikulnya. Sesungguhnya Engkau Maha Santun dan Maha Penyayang. Allahumma amin.

Ayo istirahat politik… Mau?

AMW.


Suara JK Kok Rendah Sekali?

Juli 9, 2009

Menarik mengamati hasil perolehan suara pasangan JK-Wiranto, meskipun masih menurut versi quick count. Hasilnya sekitar 12 % sampai 15 %, menurut beberapa lembaga pelaksana quick count. JK-Wiranto menduduki peringkat ke-3, setelah Mega Prabowo dan tentu SBY-Boediono.

Hasil ini jelas sangat aneh dan tidak normal. Alasannya sebagai berikut:

[o] Perolehan suara Golkar dan Hanura sendiri, sebagai partai pendukung pasangan JK-Wiranto, sekitar 18 % sampai 19 % suara. Kok bisa hasil Pilpres justru lebih kecil dari potensi suaranya?

[o] Menurut berbagai surve sebelum Pilpres digelar, suara JK-Wiranto cukup lumayan, sekitar 25 % sampai 30 %. Meskipun masih jauh dari pasangan SBY-Boediono.

[o] Menurut pooling SMS waktu ada debat Capres-Cawapres di TV yang diselenggarakan oleh KPU, suara JK-Wiranto tidak pernah turun dari angka 20 %. Masyarakat Indonesia menyaksikan semua itu. Padahal kita tahu, pooling SMS tidak menjadi penentu.

[o] Di Aceh yang masyarakatnya merasakan benar hasil dari perjuangan JK untuk perdamaian di Aceh, JK hanya mendapatkan sekitar 7 % suara (versi quick count).

[o] Bahkan di Sulawesi Selatan, yang rakyatnya baru marah setelah mendengar pernyataan rasis Andi Malarangeng, JK-Wiranto juga kalah oleh SBY-JK.

Perolehan suara -versi quick count- sebesar 12 % sampai 15 % yang diperoleh oleh pasangan JK-Wiranto, memiliki arti politik sangat penting. Hal ini benar-benar sangat besar artinya, jika dilihat dengan perhitungan politik versi apapun. Makna politik itu adalah:

==> Berarti suara perolehan JK-Wiranto itu benar-benar dari kalangan yang rasional, well educated, open minds, rich informed, perkotaan, kalangan kritis, dan sebagainya. Artinya, tidak ada sedikit pun kalangan akar rumput yang memilih pasangan ini. Luar biasa terjadi hal demikian di Indonesia.

==> Berarti semua upaya marketing, promosi, kampanye, penggalangan, dll. yang ditempuh tim JK-Wiranto selama ini dianggap gagal 100 %. Bahkan gagal dalam mempertahankan suara tradisional Golkar dan Hanura. Luar biasa, bisa terjadi hal demikian. Padahal iklan-iklan JK-Wiranto itu sudah sangat bagus dan baik. Ia menjangkau segala lapisan masyarakat dengan pendekatan slogan “lebih cepat lebih baik”.

==> Tidak ada satu pun wilayah di Indonesia yang bisa dimenangkan oleh pasangan JK-Wiranto. Di seluruh negeri, termasuk Indonesia Timur dan Sulawesi, JK-Wiranto gagal total. Hal ini sungguh sangat tidak mungkin. Dalam Pileg 9 April 2009 saja, suara Golkar masih cukup kuat. Ia menjadi pemenang ke-2 setelah Demokrat.

Lalu pertanyaannya, mengapa bisa terjadi kondisi seperti ini?

Melalui analisis politik dengan model apapun, tidak mungkin hasil perolehan suara JK-Wiranto bisa jeblok seperti itu. Bahkan dibandingkan mekanisme Pemilu sewaktu Pileg April 2009 lalu, hasilnya tidak akan seburuk itu. Ini adalah fenomena yang tidak bisa diterangkan dengan analisis politik normal. Pasti telah terjadi hal-hal luar biasa sehingga posisi JK-Wiranto sangat jeblok.

Kemungkinannya ada 3, yaitu:

<1> Ada suatu kesengajaan melakukan demarketing (penghancuran pengaruh politik) ke kantong-kantong pendukung tradisional Golkar-Hanura. Misalnya dengan melakukan black campaign, seperti: “Awas, dia mau mendirikan negara Islam! Awas nanti terjadi Kerusuhan Mei lagi! Awas, nanti wanita Indonesia diwajibkan berjilbab semuanya!” Dan lain-lain. Atau dengan memberikan janji-janji berupa pekerjaan, modal, atau tawaran menjadi PNS bagi yang mendukung kandidat tertentu.

<2> Ada suatu gerakan penggembosan di internal partai Golkar sendiri. Misalnya, elit-elit politik Golkar menyebar kadernya ke daerah-daerah untuk tidak memilih JK-Wiranto. Hal ini dilakukan oleh kalangan Golkar sendiri, misalnya oleh kelompok tertentu yang selama ini tidak suka dengan kepemimpinan JK di Golkar. (Ya disini ada kesalahan dari tim sukses JK-Wiranto sendiri. Mereka concern mencari tambahan suara dari luar, tetapi kurang perhatian terhadap suara yang sudah diperolehnya selama ini. Tetapi itu dimaklumi).

<3> Ada suatu gerakan kontra suksesi yang massif dan sistematik terhadap program pemenangan politik tim JK-Wiranto. Ya, gerakan itu tidak tahu siapa pelakunya dan bagaimana caranya. Yang jelas, sasaran gerakan itu, kandidat JK-Wiranto harus berada di posisi ke-3. JK-Wiranto tidak boleh ada di posisi ke-2, sebab kalau di posisi itu, lalu terjadi Pilpres putaran ke-2, JK-Wiranto bisa mengalahkan kandidat in cumbent. Di mata SBY, dalam putaran Pilpres ke-2, lebih mudah menghadapi Mega Pro daripada JK-Wiranto.

Kalau memahami kenyataan seperti ini, kita terus terang merasa sedih. Bukan hanya soal pasangan yang didukung ormas-ormas Islam itu kalah; tetapi caranya itu lho, tidak gentle. Kok mau menang, tapi caranya begitu ya? Tapi ya sudahlah, memang Ummat Islam sejak dulu selalu menjadi bulan-bulanan trik politik. Bukan hanya sekarang, tetapi sejak dulu. Sepertinya, tidak ada tempat bagi Ummat Islam untuk memimpin negara ini ke arah kebaikan. Saya masih ingat, bagaimana seorang BJ. Habibie disikat habis-habisan pasca Pemilu 1999 lalu. Katanya, alasan satu-satunya Habibie mendapat perlakuan itu: Dia Muslim!

Sedih dan sedih sekali. Bangsa ini merdeka dengan darah, keringat, dan air mata kaum santri, para pejuang Islam, dan tokoh-tokoh Muslim. Sejak Belanda datang ke Indonesia, sampai keluar dari Indonesia, darah pejuang Muslim Indonesia, tidak henti-hentinya membasahi bumi ini. Mengapa ya, kok susah amat seorang Muslim yang baik menjadi pemimpin di negeri ini? Padahal tujuannya, bukan mendirikan negara Islam, bukan mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan Syariat Islam. Tujuannya, hanya agar kaum Muslimin di negeri ini hidupnya baik, aman, sejahtera, bermartabat, tidak terhina-dina.

Pantas saja, negeri ini tidak pernah aman dari musibah, bencana, kekacauan, kemiskinan, wabah penyakit, penghinaan, kejahatan, kekerasan, dll. sebab tidak memberi tempat bagi lahirnya pemimpin-pemimpin yang baik. Tempat hanya diberikan kepada “kaum ambtenar” keturunan Boedi Oetomo, atau kaum “American Boys” yang tidak memiliki keberpihakan sama sekali kepada rakyat Indonesia.

“Ya, sudahlah…” Inilah kalimat yang pantas diucapkan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita sudah berusaha sekuat kesanggupan. Allah Maha Tahu amal-amal hamba-Nya.

Allah pasti akan melindungi hamba-hamba-Nya yang senantiasa menegakkan amar makruf nahi munkar. Hanya kepada-Nya kita tawakkal. Allahumma Rabbana ya Azizal Hakim,  najjina min qaumiz zhalimina wal fasiqina wal hasidin, wanshurna ‘alal qaumil kafirin, innaka Anta Maulana Ni’mal Maula wa Ni’man Nashir. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Terus terang, saya sangat terharu dengan ucapan Sujiwo Tedjo. Dia tulus mendukung Pak JK, sebagaimana kita tidak memiliki tendensi apa-apa di balik dukungan kita kepadanya.

Hanya kepada Allah kita berserah diri. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Mengapa Muslim Indonesia Menderita?

Juli 9, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

===>>> Tidak ada yang membuat masyarakat Indonesia menderita, selain dirinya sendiri <<<===

Sejujurnya, saat ini kami merasakan kesedihan besar menyusul hasil Pilpres 8 Juli 2009 yang menurut quick count menangkan pasangan SBY-Boediono. Kami sedih bukan karena marah ke diri SBY, atau karena gagal mendapat keuntungan politik, atau karena kandidat pilihan kami kalah di Pilpres. Kami sedih memikirkan masa depan kaum Muslimin ke depan. Bukan hanya dalam periode 2009-20014, tetapi setelah itu juga. Sebab pengaruh kepemimpinan politik itu sebenarnya tidak hanya sebatas 5 tahunan saja, bisa panjang ke depan.

Tetapi alhamdulillah, melalui Pilpres 8 Juli 2009 ini, kita diberitahu oleh Allah suatu PENGETAHUAN BESAR yang sangat bernilai dan berarti. Jangan sampai pengetahuan ini dilupakan atau diabaikan. Mungkin inilah salah satu hikmah besar di balik kekalahan kandidat Presiden yang didukung kalangan dakwah Islam.

Hikmah apakah itu?

Ternyata, sebagian besar kaum Muslimin di Indonesia ini -maaf beribu maaf- ORANGNYA BODOH-BODOH. Mayoritas kaum Muslimin di Indonesia bisa dikatakan bodoh dan lemah. Hal itu sangat mudah kita pahami dari melihat hasil Pileg 9 april 2009 lalu dan Pilpres 8 Juli 2009 kemarin.

Saya menolak anggapan, bahwa rakyat Indonesia “sudah cerdas-cerdas”. Tidak, saya tidak mengakui klaim itu. Kebanyakan masyarakat kita masih bodoh-bodoh. Daya ingatnya lemah, nalar kritisnya lemah, daya analisisnya kurang, sifat percaya dirinya lemah, rasa keberaniannya lemah.

Sebuah sample yang paling mudah. Di jaman SBY berkali-kali terjadi bencana besar. Rakyat Indonesia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan sebagian mereka menjadi bagian dari korban bencana itu. Tetapi semua bencana ini seperti tidak berarti di mata mereka. Padahal bagi orang beriman, hal itu adalah aib besar yang seharusnya tidak terjadi. Masyarakat seperti lupa segala-galanya, hanya karena memori mereka dipengaruhi secara massif oleh iklan-iklan pencitraan luar biasa di TV-TV. Ini contoh mudah.

Di mata masyarakat, wajah ganteng, penampilan gagah, bahasa kalem, ucapan “alhamdulillah, insya Allah, Allah SWT”, slogan kesantunan, pendidikan gratis, dll. itu lebih menarik ketimbang: kemandirian bangsa, sikap tegas, keberpihakan ke bangsa sendiri, ekonomi kerakyatan, dan sebagainya. Mungkin, sinetron-sinetron telah mendidik bangsa ini menjadi orang-orang manja, melankolik, mendayu-dayu. Karakter tegas, pembelaan, sikap patriotik, lugas, berkata apa-adanya, dll. menjadi tidak menarik lagi.

Tentang fenomena kebodohan mayoritas kaum Muslimin ini ada data-data pendukungnya. Antara lain sebagai berikut:

[o] Para pakar menyebut, memori orang Indonesia itu sangat pendek. Sri Mulyani menyebutnya dengan ungkapan, short memory lost. Saya mendengar penilaian ini dari berbagai sumber.

[o] Dalam salah satu debat tim sukses Capres di TV, Max Sopachua dari tim sukses SBY pernah menyanggah soal isu NEOLIB. Kata dia, masyarakat tidak tahu-menahu soal isu NEOLIB. Yang penting bagi mereka, sekolah gratis, kesehatan gratis, BLT, dan lain-lain.

[o] Banyak tokoh-tokoh nasional yang mengatakan, problem terbesar bangsa Indonesia hanya dua: kemiskinan dan kebodohan. Kemiskinan berarti lemah ekonomi, kebodohan berarti lemah ilmu.

[o] Dalam kata pengantar buku politik karya Durorudin Mashad, Eep Saefullah Fatah menulis sekian banyak sifat-sifat kelemahan Ummat Islam Indonesia. Apa yang disebutkan oleh Eep itu (selain masalah teori konspirasi) cenderung sesuai kenyataan.

[o] Menurut indeks kualitas hidup manusia yang dikeluarkan UNDP. Tingkat kualitas hidup masyarakat Indonesia ada di posisi 112 (atau sekitar itu). Bersaing dengan negara-negara seperti Laos, Vietnam, Kambodja, dll.

[o] Data dari para pengamat perbukuan. Potensi peminat buku di Indonesia itu, untuk semua jenis buku, dari total penduduk sekitar 225 juta, hanya sekitar 1 juta orang saja. Itu artinya, kurang dari 0,5 % dari total para penduduk Indonesia. Ini adalah prosentase yang sangat kecil.

[o] Orang Indonesia mau dibeli pilihan politiknya dengan uang Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,- yang diberikan sebelum pelaksaan Pemilu. Hal itu bukan hanya dalam Pemilu nasional, tetapi dalam Pilkada-pilkada. Kasus money politik sampai saat ini masih ada.

[o] Ketika ada iklan “sekolah gratis”, masyarakat sama sekali tidak kritis. Benarkah semua sekolah sudah gratis? Benarkah semua SD, SMP, SMU, SMK, dari Sabang sampai Merauke sudah gratis? Tidak sama sekali. Untuk SD saja tidak menjangkau semua sekolah SD di seluruh Indonesia, untuk SMP baru gratis tahun 2008. Itu pun hanya untuk SMP Negeri.

[o] Sebagian besar masyarakat Indonesia dihinggapi rasa minder sebagai bangsa Indonesia. Mereka malu sebagai bangsa dengan postur pendek, hidung pendek, kulit coklat, rambut lurus. Mereka sangat mengagumi para selebritis yang berpenampilan kebarat-baratan. Bangsa ini telah dilanda inferiority complex terhadap ras Amerika, Eropa, Arab, China, India, dan lainnya.

[o] Ada ratusan ribu kaum wanita Indonesia tersebar di berbagai negara, sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga). Di Malaysia sendiri, gaji TKW Indonesia dikenal lebih kecil dari TKW asal Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kalau mereka cerdas dan berilmu, kok mau menjadi pembantu di luar negeri?

[o] Di Indonesia hampir tidak pernah terlibat gerakan rakyat semesta yang berpengaruh dalam proses-proses perubahan politik. Rata-rata hanya sejumlah kecil masyarakat saja yang terlibat. Dalam perang Kemerdekaan 1945, hanya para pejuang yang terlibat; dalam gerakan anti G30SPKI, rata-rata hanya mahasiswa, santri, dan militer yang terlibat; Reformasi 1998 juga kalangan mahasiswa dan para aktivis yang terlibat. Sebagian besar hanya memposisikan diri sebagai “konsumen”, bukan pionir perubahan.

[o] Rakyat Indonesia sangat suka menjadi PNS yang minim tantangan, dan takut menjadi wirausaha dengan hasil rizki tidak menentu. Anda bisa lihat, setiap ada test CPNS selalu sesak dengan orang-orang yang mau mendaftar. Gaji bulanan dan mendapat pensiun telah menjadi “Indonesian Dream”.

[o] Banyak orang Indonesia mengaku membenci korupsi. Tetapi kalau dia diberi jabatan, dia akan melakukan korupsi yang sama, bahkan lebih besar lagi. Jadi bedanya koruptor dengan bukan koruptor itu, hanya pada soal kesempatan saja. Sangat mengerikan!

[o] Bangsa Indonesia bisa “betah” dijajah selama 350 tahun oleh kolonial, adalah kenyataan yang sangat memilukan. Padahal sebelumnya mereka telah memiliki khazanah sejarah Sriwijaya, Majapahit, Samudra Pasai, Demak, dan lain-lain. Tentu hasil dari penjajahan itu sangat kuat pengaruhnya. Para pakar menyebutkan, hal itu menyebabkan timbulnya mental inlander (merasa sebagai kaum jajahan).

[o] Setelah merdeka dari kolonial Eropa dan Asia, ternyata bangsa Indonesia kemudian tidak benar-benar merdeka. Mereka menghadapi yang disebut New Colianialsm. Inilah kolonialisme ekonomi yang mengeruk kekayaan negara dan menjadikan bangsa ini terperangkan oleh hutang sampai ribuan triliun.

Dan bukti yang tidak terbantahkan, sangat sulit dibantah oleh siapapun yang berakal, yaitu PEMAHAMAN KEISLAMAN dari kaum Muslimin di Indonesia sendiri. Ada yang mengatakan, Islam masuk Indonesia sejak abad 13. Menurut versi Prof. Mansyur Suryanegara, Islam masuk Indonesia pada abad ke-7, ketika Rasulullah masih ada. Singkat kata, usia Islam di negeri ini sudah sangat tua. Setidaknya, 700 tahun lamanya.

Baca entri selengkapnya »


SBY Pun Menang Lagi

Juli 9, 2009

Mengikuti hasil surve quick count di TV-TV, SBY memenangkan Pilpres 8 Juli 2009 secara mutlak. Bahkan dia memenangkan Pilpres cukup satu putaran.

Tulisan ini disusun dengan asumsi, hasil real count tidak jauh beda dengan quick count. Dan sebelumnya, saya ucapkan selamat dan penghargaan kepada MetroTV yang berani membuat quick count independen, dengan slogan: “Kebenaran tidak bisa digadaikan!” Salut besar untuk MetroTV yang berani bersikap independen!

Sebagai seorang Muslim yang peduli politik, jelas saya sedih sekali. Bisa dikatakan kecewa berat. Kekecewaan ini bahkan lebih berat daripada saat kami melihat Partai Keadilan (PK) kalah pada Pemilu Juni 1999 lalu. Seakan upaya penerangan politik yang 5 tahun terakhir kami lakukan, tidak membuahkan hasil sama sekali. (Sampai saya lihat dengan mata kepala sendiri, seorang teman bertengkar dengan ayahnya gara-gara pilihan politik ini).

Padahal, missi kami sangat jelas. Kami tidak ada interest sama sekali dengan kursi DPR/DPRD, jabatan menteri kabinet, jabatan gubernur, bupati, walikota, jabatan struktural di birokrasi, bahkan sebuah lompatan kecil pun untuk menjadi PNS. Missi kami hanyalah: Ingin melihat Ummat Islam di negeri ini hidupnya lebih baik, lebih aman, lebih sejahtera, dan bermartabat. Lima tahun di bawah SBY, Ummat ini jelas sangat menderita. Maka resiko penderitaan itulah yang hendak kami cegah. Jangan sampai Ummat akan kembali menderita seperti 5 tahun sebelumnya.

Demi Allah, aku tidak peduli siapapun pemimpinnya, apakah SBY, Mega, atau JK. Siapa saja yang telah membuat Ummat ini menderita, dia tidak pantas dipilih. Dan siapapun yang membawa harapan baik bagi Ummat, dia patut didukung. Jadi, harapan ini benar-benar murni demi kebaikan Ummat Islam. Tidak ada tendensi kepentingan politik, selain demi kemaslahatan Ummat.

Dalam satu riwayat dikatakan, “Takutlah kalian akan firasat orang-orang Mukmin.” Firasat orang-orang Mukmin mendekati kebenaran, sebab ia dibangun di atas keyakinan, keimanan, mencermati ibrah sejarah, serta pandangan terhadap Sunnatullah. Dalam hal ini, mungkin masih ada ikhtilaf di kalangan kaum Mukminin tentang pemimpin yang tepat. Tetapi mereka sepakat semua, bahwa SBY adalah pemimpin keliru yang telah membawa penderitaan bagi Ummat Islam. Tidak ada keraguan di kalangan kaum Mukminin disini.

Dulu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pernah mengeluarkan surat yang isinya pernyataan, mencabut ketaatan kepada ulil amri karena menaikkan BBM dalam besaran sangat fantastik, sehingga menyengsarakan Ummat. Ustadz Mashadi keras tulisannya di tabloid Suara Islam, mengecam kenaikan harga BBM itu. Habib Riziq Shihab juga keras suaranya dalam menentang pemimpin yang melindungi Ahmadiyyah.

Sementara itu Forum Ummat Islam (FUI) beberapa waktu lalu menitipkan amanah politik kepada pasangan JK-Wiranto. Ormas Islam seperti Dewan Dakwah, ICMI, Muhammadiyyah, NU, dll. juga mendukung JK-Wiranto, demi perbaikan kehidupan Ummat Islam. Tidak lupa, pernyataan sikap Wahdah Islamiyyah yang salah satu butirnya mengecam kepemimpinan yang berpihak ke kepentingan asing. Para ustadz, tokoh Muslim, juga ormas-ormas Islam ini, mereka tidak bertendensi politik sempit, tetapi lebih melihat kemaslahatan Ummat.

Apa yang dikatakan sebagai “firasat orang-orang Mukmin” itu sudah terpenuhi. Maka kemudian terserah Ummat Islam yang akan menjalani kehidupannya. Kami sudah berusaha sekuat tenaga mencegah resiko penderitaan itu. Tetapi manakala mereka tetap menginginkan sosok SBY, ya itu pilihan mereka sendiri. Apapun yang nanti akan mereka dapati di bawah kepemimpinan ini, harus mereka terima dengan lapang dada. Janganlah mereka mengeluh, menangis, atau menjerit, jika terjadi berbagai hal yang dikhawatirkan, selain kepada dirinya sendiri.

Dalam Surat Yaasin digambarkan, ada tiga orang Rasul yang diutus ke suatu kaum. Mereka diutus membawa risalah Allah. Namun mereka didustakan oleh kaumnya. Bahkan kaumnya mengancam akan mencelakai para utusan itu. Kemudian dikatakan: “Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas, dia berkata: ‘Wahai kaumku, ikutilah para Rasul itu. Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan apapun dari kalian, sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’” (Yaasin: 20-21).

Katanya orang Indonesia sangat akrab dengan Surat Yasin. Sampai-sampai di mata kaum Muslimin di Indonesia ini, yang namanya Al Qur’an ya Surat Yaasin itu. Kalau terjadi apa-apa, mereka selalu membaca Surat Yaasin. Tetapi mengapa mereka tidak membaca ayat-ayat di atas lalu mengambil hikmahnya? Keadaan Ummat ini jadi seperti “al himaru yahmiluhu asfara” (keledai yang memikul kitab-kitab tebal). Mereka rajin membaca fisik Al Qur’an, tetapi tidak memahami maknanya. Sangat disayangkan sekali.

Baca entri selengkapnya »


Air Mata Dunia untuk “King Jacko”

Juli 9, 2009

Jacko, kutulis sebuah surat kenangan untukmu…

Kalau kamu bisa membaca, surat ini kutulis setelah aku mengambil singkong di kebun. Jaman sekarang apa-apa mahal. Tanam singkon sendiri, lumayan untuk pengganti ongkos jajan. Singkong seperti ini bagus untuk bisnis. Tekstrurnya lembut, kulit lunak, rasanya juga lunak. Di pasaran harganya sudah lumayan. …lho, kok jadi ngomong bisnis ya? Padahal ini kan dalam rangka “in memoriam”. Ehm, mohon maaf, jadi keterusan membahas singkong.

Kembali ke laptop… (sambil tiga jari diarahkan ke monitor komputer).

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu….

Bukan karena aku suka kamu, atau jadi fans kamu. Tapi sedih ngeliat orang-orang jadi pada nangis, setelah kamu mati. Mereka biasanya jarang nangis. Bahkan saat Nyak Babe-nye meninggal, mereka tidak menangis. Cuma pura-pura menangis, biar tidak malu amat sama tetangga-tetangga. Tapi begitu kamu mati, wahai Jacko, mendadak mereka menangis. Mereka mengatakan, “Forever love to you, Jacko! God bless you, God love you, all of the world love you!” Doa macam itu tak pernah mereka panjatkan saat Nyak Babe-nya wafat, tapi dipanjatkan saat kamu mati. Jacko, aku menangis sedih memikirkan kenyataan ini. Nyak Babe-nya yang sejak kecil nyuapin, nyebokin, ngasih uang saku, nyuciin pakaian, beliin jaket, sarung, kaos, sepeda, dan lain-lain. Tapi mereka pelit air mata. Giliran kamu, King Jacko, yang tak pernah berbuat apa-apa buat mereka, ditangisi sampai kering air mata.

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu…

Kamu bener-bener “superstar” sejati. Kamu tidak cuma ngetop saat manggung, saat nyanyi, saat dancing dengan gerakan patah-patah. Bahkan kamu jadi bintang saat mati. Kematianmu jadi tontonan berharga mahal. TV, radio, majalah, koran, situs internet, gossip selebritis, dan lain-lain rasanya “berhari raya” saat kamu mati. Mereka berharap., andai kematianmu bisa diulang sampai 10 kali. Ya, biar pundi-pundi untung mereka semakin tebal, gitu loch!

Jacko, kamu hebat banget. Sampai kematianmu pun menjadi produk entertainment berharga mahal. Lebih dari seminggu mayatmu tidak segera dikubur, biar industri hiburan internasional meraup untung lebih banyak. Kalau mayatmu ditunda dikubur sampai tahun depan, mungkin industri musik dunia akan ambruk, semua bintang musik dunia kalah sama kamu. Bahkan, sampai saat kamu mau dikubur, otakmu diambil dulu, untuk penyelidikan. Ya Allah, kenapa tangan dan kakimu tidak diambil juga ya, buat kenang-kenangan di museum? Inilah manusia jaman modern. Makin bertingkah, makin kayak orang “gak genah”.

Hasil "metamormofis" bertahun-tahun.

Hasil "metamormofis" bertahun-tahun.

Jacko, jujur saja aku sedih mendengar kematianmu…

Sejak kamu mati, banyak orang memburu kaset dan CD kamu. Meskipun produk lawas, mereka borong juga. Mereka mau bayar mahal kaset-kaset kamu, atau CD-CD kamu. Tapi tenanglah… Untuk stock di Indonesia dijamin aman. Ya, tahu sendirilah, Indonesia ini kan negara “bajak laut”. Eh maaf, maksudnya terkenal dengan pembajakan. Jadi, hanya dalam hitungan beberapa jam, soal stock musik-musik kamu akan teratasi. Di Amerika sendiri, setelah kamu mati, CD kamu terjual laris manis, meningkat sampai 4000 % (40 kali lipat).

Jacko, kalau tahu akan begini, mungkin produser CD kamu akan menyesali diri, “Mengapa tidak mati sejak dulu saja ya, biar dagangan ini laris manis.” Di era Amerika sedang bangkrut seperti sekarang, kematianmu Jacko, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika, mungkin 1,2 %. (Dari mana Mas ngitungnya? Ya, akal-akalan sajalah. Asal ada persen dan komanya).

Kalau melihat para artis Indonesia, mereka kan suka ikut-ikutan. Mereka tidak mandiri, tidak memilihi kehidupan sendiri. Mereka hidup di atas format orang lain. Mereka sangat takjub dengan segala yang berbau Amrik. Kalau melihat kematianmu ini, wahai Jacko, mungkin pra artis itu juga ingin ikut-ikutan terkenal, setelah mati. Aku bayangkan, mereka akan segera membuat hutang sebanyak-banyaknya. Lalu mereka tinggal di sebuah villa, menyendiri. Sambil mempersiapkan “konser terakhir”, mereka akan membuat kematiannya penuh misteri.

Baca entri selengkapnya »


Sikap Elegan PP Muhammadiyyah

Juli 6, 2009

Saat kaum Muslimin mulai kehilangan kepercayaan melihat sikap partai-partai label Islam yang pragmatis dan berorientasi kekuasaan. Justru ormas-ormas Islam menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal kepentingan Ummat. Alhamdulillah, semua ini patut disyukuri.

Forum Ummat Islam (FUI) baru-baru ini mendeklarasasikan dukungannya kepada JK-Wiranto, dalam bentuk menitipkan amanah Ummat kepadanya. Ya, mungkin JK-Wiranto belum ideal seperti yang diinginkan mayoritas para aktivis dakwah Islam. Tetapi disana telah tampak sikap-sikap pembelaannya yang significant terhadap urusan Ummat (mayoritas bangsa Indonesia adalah Ummat Islam). Kemudian muncul pembelaan dari Wahdah Islamiyyah, dalam hal pernyataan rasis yang diucapkan oleh Ruhut Sitompul (”mantan” anggota tim sukses SBY-Boediono).

Dan terakhir, adalah sikap elegan PP Muhammadiyyah yang memberi tempat bagi pertemuan dua kandidat Capres, Mega Prabowo dan JK Wiranto di kantor PP Muhammadiyyah sendiri. Sebagai mediator pertemuan, adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyyah sendiri.

Apa yang ditunjukkan oleh PP Muhammadiyyah adalah praktik siyasah Islami yang kental. Ini merupakan salah satu contoh aplikasi siyasah Islami, dalam situasi sistem demokrasi, serta berbagai kondisi komplek di jaman kontemporer ini.

Mengapa dikatakan demikian?

[1] Pihak PP Muhammadiyyah tidak memiliki tendensi politik tertentu, misalnya ingin kekuasaan atau mengejar kursi menteri. Mereka netral saja, dalam rangka menjalankan tugas moral membimbing Ummat.

[2] PP Muhammadiyyah tidak dalam kapasitas mendukung salah satu Capres (Mega Pro atau JK-Wiranto). Tetapi mendorong supaya proses Pemilu Presiden berjalan jujur, adil, demokratis. Jelas semua pihak mengharapkan mekanisme Pemilu seperti itu.

[3] PP Muhammadiyyah lebih melihat kepentingan bangsa yang lebih besar, daripada soal dukung-mendukung pasangan Capres. Oleh karena itu mereka memberi fasilitas kepada dua kandidat Capres sekaligus, tidak salah satunya saja. Jika Pilpres Juli 2009 ini terjadi lagi cara-cara curang seperti Pileg April 2009 lalu, besar kemungkinan bangsa Indonesia ke depan akan penuh dengan masalah-masalah sosial. Mengapa? Sebab ada puluhan juta “dendam sosial” yang tersimpan di hati-hati masyarakat, akibat pelaksanaan Pemilu yang curang.

[4] PP Muhammadiyyah bertindak berani, ketika suara-suara politik partai label Islam tidak bisa diharapkan untuk mengawal tujuan-tujuan luhur siyasah Islamiyyah. Politik Islam yang dipertontonkan oleh partai-partai label Islam itu sangat bersifat TRANSAKSIONAL. (Tergantung nilai dan arah transaksi politiknya, bukan berdasarkan misi perjuangan politik Islam lagi).

[5] PP Muhammadiyyah berani berbeda sikap dengan PAN dan PMB yang notabene saat ini menjadi bagian dari koalisi SBY-Boediono. Sama pula, sikap PWNU Jawa Timur berani berbeda sikap dengan pilihan politik PKB yang merapat ke kubu SBY-Boediono.

Apa yang ditempuh oleh PP Muhammadiyyah, paling tidak melalui mediasi Prof. Dr. Din Syamsuddin, adalah sikap elegan yang patut diacungi jempol. Pertemuan kemarin malam yang melahirkan pernyataan politik berupa desakan kepada KPU agar membereskan berbagai persoalan seputar DPT, sebelum pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009 bukan untuk kepentingan politik sempit. Tetapi untuk keluhuran martabat bangsa itu sendiri.

Apalah artinya menang 70 % dalam Pilpres, kalau kemenangan itu ditempuh dengan cara curang? Apalah artinya, menang “satu putaran”, kalau melahirkan berjuta-juta kecewa di hati masyarakat? Apalah artinya jabatan RI-1, jika rakyat tidak ridha kepadanya?

Kita sangat khawatir, moralitas bangsa Indonesia akan masuk era “PASAR GELAP”. Maksudnya, kita akan masuk suatu era yang mendewa-dewakan PASAR, dengan cara-cara moralitas GELAP. Ya, praktik Pemilu yang curang secara telanjang dengan segala macam dalih dan argumentasinya, adalah indikasi-indikasi kuat ke arah era “PASAR GELAP” itu.

Ya, kasihan Ummat Islam dong kalau begitu… Iya, benar! Kita sangat mengkhawatirkan nasib Ummat Islam. Maksud hati melakukan gerakan REFORMASI, tetapi hasilnya bisa LEBIH BURUK dari praktik Pemerintahan Orde Baru. Kata pepatah, “Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut penggilingan daging.” (Maaf, istilah “mulut harimau” saat ini kurang relevan lagi, jadi diganti “penggilingan daging”, sebab lebih kejam).

Secara khusus, kita bersyukur kepada Allah, masih ada dalam kalangan Ummat ini yang menunjukkan sikap politik yang gentle. Alhamdulillah. Lalu kita berterimakasih kepada PP Muhammadiyyah, khususnya Prof. Dr. Din Syamsuddin atas prakarsa baiknya.

Dan satu lagi, seruan Hidayat Nur Wahid, agar ormas-ormas Islam mau mendirikan partai politik sendiri, tampaknya itu usulan bagus. Silakan direspon. Dalam rangka mereformasi cara berpolitik partai-partai konvensional pragmatis.

Demikian, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Karakter Munafik Andi Malarangeng

Juli 3, 2009

Dulu… orang munafik itu pintar-pintar. Mereka pandai membungkus kemunafikannya, sehingga sulit dilacak siapa saja yang munafik? Umar bin Khattab Ra. sampai tidak mengenali siapa-siapa saja di antara kaum Muslimin di jaman Nabi Saw yang disebut munafik. Mereka pandai menyembunyikan hakikat ideologinya, sehingga sulit dikenali.

Tapi di jaman ini, “seni kemunafikan” itu mengalami kemerosotan sangat hebat. Mudah sekali kita mengenali apakah seseorang munafik atau tidak? Hal ini bukan karena kita makin pintar dalam mengidentifikasi kemunafikan itu, tetapi orang-orang munafik tersebut yang justru “obralan” menampakkan ciri-ciri kemunafikannya.

Nabi Saw menyebut, “Ayatul munafiqina tsa-la-tsah. Idza ahda-tsa kadz-dzaba, wa idza wa’ada akhlafa, wa idza’tumina khana” (ciri orang munafik itu tiga. Kalau bicara, bohong; kalau janji, ingkar; kalau dipercaya, khianat).

*****

Akhir-akhir ini masyarakat sedang ramai membicarakan pernyataan Andi Alfian Malarangeng ketika kampanye di Makassar. Dalam orasinya Andi Malarangeng antara lain mengatakan, bahwa saat ini belum waktunya orang Sulawesi Selatan memimpin Indonesia. Figur yang dianggap paling tepat memimpin Indonesia saat ini –menurut Andi Malarangeng– adalah SBY-Boediono. Ungkapan-ungkapan inilah yang mengundang banyak kecaman, terutama di Sulawesi Selatan sendiri.

Saya tidak akan masuk ke pembahasan soal konflik Andi Malarangeng dan rakyat Sulawesi Selatan itu. Tetapi saya ingin melihat salah satu materi kampanye Andi yang sangat penting. Tepatnya materi filosofi rakyat Bugis/Makassar yang disampaikan oleh Andi dalam bahasa setempat itu. Disini akan kita dapati sebuah pelajaran yang sangat menarik.

Saya tidak mengerti bahasa Bugis/Makassar. Jadi, tidak paham apa yang disampaikan Andi Malarangeng itu. Tetapi saya paham tafsiran kalimat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Andi Malarangeng sendiri.

Setelah mengungkapkan filosofi dengan bahasa daerah. Andi menjelaskan, kurang lebih pengertiannya: Rakyat Bugis/Makassar itu berpegang kepada prinsip/hukum/nilai, bukan mencari kekuasaan.

Dengan filosofi tersebut, Andi meyakinkan masyarakat daerahnya, agar mereka mau berkorban, tidak mengejar kekuasaan (misalnya dengan menjadi Presiden RI). Cukuplah rakyat Makassar berkorban terus, demi prinsip/hukum/nilai yang diyakininya. Tanpa harus berambisi mengejar jabatan/kekuasaan. Begitulah kira-kiranya maunya Andi Malarangeng.

Coba renungkan kembali pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng di atas! Mohon renungkan lagi, renungkan, dan sekali lagi renungkan! Hal ini penting, sebelum kita masuk ke pembahasan selanjutnya.

Singkat kata, bagi Andi Malarangeng, sudah menjadi kewajiban moral rakyat Bugis/Makassar untuk terus berkorban, demi prinsip/hukum/nilai. Bukan mengejar kekuasaan, tidak perlu ambisi jadi Presiden, persilakan orang lain jadi Presiden RI, jangan putra asal Sulawesi Selatan.

Secara moral, apa yang diungkapkan Andi Malarangeng sangat bagus, high morality class, special, heroic, very-very emphatic. Sungguh, andai para pejabat nasional memegang prinsip seperti pernyataan yang diungkap Andi Malarangeng, negeri ini akan lebih cepat menjadi makmur. Saat itu masyarakat lebih peduli dengan kebaikan bersama, bukan memburu ambisi sempitnya masing-masing.

Namun…lha ada namunnya…

Ya, namun, bagaimana lebih jujur memahami pandangan yang dilontarkan Andi Malarangeng itu?

Cara terbaik memahami ungkapan tersebut adalah: LIHAT PADA PERILAKU ANDI MALARANGENG SENDIRI !!!!!

Berikut ini cara memahami pernyataan Andi Malarangeng tersebut secara lebih jujur:

[o] Andi Malarangeng membuat pernyataan kontroversial di depan kampungnya sendiri, dalam rangka kampanye mendukung pasangan SBY-Boediono. Artinya, posisi Andi disana adalah dalam barisan orang-orang yang sedang berjuang merebut kekuasaan. Padahal, dia mengatakan, orang Bugis/Makassar itu sebaiknya tidak ambisi dengan kekuasaan.

[o] Begitu fanatiknya Andi Malarangeng dalam membela SBY-Boediono, sampai merendahkan martabat kaumnya sendiri. Katanya, orang Sulawesi Selatan belum saatnya memimpin Indonesia.  Begitu sangat ambisiusnya dia pada kekuasaan yang akan diraih SBY-Boediono, sampai melecehkan martabat kaumnya sendiri. Padahal kata dia, seharunya orang Makassar itu lebih pro kepada prinsip/hukum/nilai. Sementara dia sendiri sangat ambisius dalam mendukung pencapaian kekuasaan.

[o] Begitu sangat gelisahnya Andi jika SBY-Boediono gagal merebut kekuasaan, sampai dia secara tidak langsung menyerang kandidat Jusuf Kalla yang berasal dari Sulawesi Selatan. Padahal kalau benar-benar Andi tidak pro kekuasaan, jelas dia akan menyingkir dari salah satu tim kampanye Capres. Ini tidak. Menyuruh warga Bugis/Makassar jangan ambisi jabatan, sementara dia sendiri sangat nafsu dengan hal itu.

[o] Kalau kita flash back ke belakang. Setelah partai Andi Malarangeng keok dalam Pemilu 2004 lalu, dia pun merapat ke pasangan SBY-JK ketika itu. Bahkan kemudian Andi ditunjuk sebagai Jubir Kepresidenan. Itu artinya, selama 5 tahun terakhir, Andi Malarangeng melihat dengan mata kepalanya sendiri, bahwa putra Bugis/Makassar menjadi pemimpin nasional. Meskipun posisinya bukan RI-1, tetapi beliau RI-2. RI-2 itu posisi kepemimpinan nasional, lho. Itu bukan sembarangan. Untuk orang bergelar doktor politik seperti Andi Malarangeng, apa dia tidak bisa melihat selama 5 tahun, selama menjadi Jubir Kepresidenan, bahwa sosok Jusuf Kalla itu sudah qualified sebagai pemimpin negara? Jadi, selama 5 tahun menjadi Jurbir Kepresiden itu, kerja Andi apa ya? Masak tidur melulu sih… Tidak terbayangkan, JK menjadi pemimpin nasional di depan mata Andi sendiri, selama 5 tahun. Kok yang begitu diingkari? Aneh…

[o] Katanya, Andi tidak suka dengan pandangan sebagian masyarakat Bugis/Makassar selama ini, bahwa mereka harus memilih tokoh pemimpin dari asal daerah mereka sendiri. Sampai Andi mengatakan, “Ini bukan pemilihan gubernur Sulsel!” Tapi masalahnya, pilihan rakyat itu, apapun alasannya, ia dibenarkan menurut teori demokrasi. Demokrasi dimanapun menerima alasan pemilihan pemimpin karena faktor kesamaan agama, asal daerah, almamater sekolah, dll. Itu sah-sah saja, selama tidak memaksa yang memilih dan tidak ada teror dalam bentuk apapun. Sebagai sosok “pengamat politik” terlalu naif bagi Andi untuk menolak cara keberpihakan emosional itu. Malah sejujurnya, ada puluhan juta kaum wanita Indonesia, mereka memilih SBY lebih karena “ganteng” dan “gagah” saja. Ini lebih mengerikan, daripada pertimbangan asal daerah.

Nah, itulah seorang Andi Malarangeng. Dalam satu waktu dia ngajari orang bersikap moral. Tetapi pada saat yang sama, dia tampakkan dirinya amat sangat rendah komitmennya terhadap apa yang dia ucapkan sendiri.

Jujur saja, selama 5 tahun terakhir, saya lebih banyak mengeluh kalau mendengar mulut Andi Malarangeng bergerak-gerak. Isinya, sebagian besar hanya berupa pujian kepada SBY. Sedikit pun tidak ada kritik, koreksi, atau klarifikasi. Putih semua, bagus semua, tanpa cacat. Males….dengernya.

Itu dulu dech… Selamat berjuangan secara fair di dunia politik.



Misteri “Pilpres Satu Putaran”

Juli 2, 2009

Kadang heran kalau memikirkan sikap SBY. Kita masih ingat saat awal-awal kampanye, SBY merasa tersinggung dengan slogan kampanye, “Lebih cepat lebih baik.” SBY membantah slogan itu dengan ucapan, “Jangan takkabur!” Ungkapan SBY ini terkenal, disiarkan berbagai media.

Singkat kata, SBY itu pemimpin moralis, rendah hati, tidak suka sikap takabbur. Ya, begitulah kesimpulan sederhana yang bisa dipahami. Tetapi kalau melihat manuver-manuver tim sukses SBY akhir-akhir ini, mereka justru seperti menelan ludahnya sendiri. Menasehati orang lain agar tidak takabbur, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan sikap ketakabburan luar biasa. Ide “Pilpres satu putaran” bisa dianggap sebagai cermin ketakabburan luar biasa.

Kok bisa disebut takabbur?

Pertama, bagaimana mereka bisa yakin akan memenangkan Pilpres dalam satu putaran saja? Padahal untuk mencapai kemenangan satu putaran itu sulit, sesuai syarat yang ditetapkan UU Pilpres.

Kedua, mereka sangat meremehkan kekuatan pasangan lain, Mega Pro dan JK-Wiranto. Padahal kompetitor SBY-Boediono itu sama sekali tidak bisa diremehkan. Mereka ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan tim sukses SBY-Boediono. Bukan mustahil, nanti yang maju ke putaran ke-2 justru pasangan Mega Pro dan JK-Wiranto. (Menurut istilah Fadli Zon, “All Indonesians final”).

Ketiga, para pendukung SBY-Boediono sebenarnya sedang dilanda kecemasan hebat melihat popularitas lawan-lawan politiknya yang semakin kuat. Akibat tekanan kecemasan itu, mereka pun mengemukakan ide “Pilpres satu putaran”. Ide ini tak lain dari upaya keluar dari tekanan itu. Hanya saja memakai bahasa arogan.

Dalam pooling-pooling yang diadakan, popularitas SBY selalu berada di sekitar angka 50 %. Woow, suatu angka yang tinggi. Meskipun pooling ini diklaim bukan merupakan indikasi elektabilitas, tetapi ia paling tidak bisa mempengaruhi image masyarakat. Nanti masyarakat akan merasa “maklum” kalau pemenangnya adalah SBY-Boediono. Bahkan mereka bisa beralih dukungan dari Mega Pro dan JK-Wiranto, hanya karena “dipaksa” oleh hasil pooling itu.

Tetapi kita tahu dengan baik, bahwa kemenangan dalam pooling itu ditentukan oleh dua kelompok fanatik: Pendukung SBY di kota-kota besar dan massa PKS. Dalam soal pooling, PKS telah menjadi “pemenang tetap” dari waktu ke waktu. Mereka seperti memiliki stock pulsa unlimited. Meskipun kemudian terbukti, perolehan suara mereka kecil saja (hanya sekitar 8 %), dan gagal mengangkat wakilnya duduk di kandidat Cawapres.

Kembali ke soal Pilpres satu putaran. Mengapa harus ada ide seperti ini? Efektifkah ide ini untuk memenangkan Pilpres 8 Juli 2009?

Andai saya disuruh memilih: Mau satu putaran atau dua putaran? Dari hati kecil, saya lebih suka satu putaran saja. Alasannya, selain hemat, juga biar masyarakat cepat kembali ke ritme hidup produktifnya. Tidak terus-menerus diganggu hiruk-pikuk Pemilu yang memboroskan energi, pikiran, waktu, dan emosi itu.

Namun masalahnya adalah cara kelompok SBY dalam memenangkan Pemilu itu sendiri. Nah, ini masalahnya. Terus-terang, andai Pemilu selama ini berjalan fair, sportif, menghargai kompetisi yang sehat, serta memandang sama hak setiap kandidat (baik in cumbent maupun kandidat lain), maka Pemilu satu putaran sangat mungkin diraih. Namun masalahnya, Pilpres 8 Juli 2009 ini kelihatannya akan serupa dengan nasib Pemilu Legislatif April 2009 lalu. Masalah-masalah yang dijumpai masyarakat pada Pemilu April lalu, kini pun mulai bermunculan.

Dengan sangat keras Ketua Muhammadiyyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin mengatakan: “Ketidaknetralan KPU dalam Pilpres akan menciderai demokrasi dan mengkhianati hak-hak politik rakyat.” (MetroTV, 1 Juli 2009).

Maaf, KPU di bawah Abdul Hafizh Anshari (yang kalau pidato sering menyebut nama Allah, Alhamdulillah, Insya Allah, dll.) seperti lembaga negara “paling brengsek” sepanjang sejarah. KPU seperti dihuni oleh person-person dengan kualitas moral dan kredibilitas paling mengerikan. Bisa-bisa lembaga ini menjadi SASARAN KUTUKAN masyarakat, yang menginginkan praktik kompetisi politik yang adil, jujur, dan sportif. Perkataan keras Pak Din Syamsuddin di atas adalah garansinya. Bagaimana tokoh seperti beliau sangat geram ke sikap KPU?

Terus terang, dari sisi pembiayaan, penghematan, dan cepatnya pulih kondisi masyarakat ke dinamika kehidupan normalnya, kita sangat ingin “Pilpres satu putaran”. Namun melihat praktik Pemilu April 2009 lalu, serta kebobrokan manajemen yang terus-menerus diperlihatkan KPU sampai saat ini, rasanya berbahaya bagi Indonesia untuk mendapatkan Pilpres satu putaran!

Andai nanti SBY-Boediono berhasil memenangkan Pemilu dalam satu putaran, melalui proses Pemilu yang penuh masalah, bobrok manajemen, serta keberpihakan KPU ke pasangan In Cumbent, maka bangsa Indonesia akan menghadapi masalah-masalah berat. Terutama dendam sosial dari jutaan masyarakat yang merasa telah dikelabuhi melalui Pemilu-pemilu yang curang. Dendam sosial ini adalah ancaman stabilitas nasional yang sangat berbahaya bagi masa depan bangsa.

Sungguh, tidak masalah Pemilu satu putaran atau dua putaran; selama sesuai mekanisme hukum yang disepakati. Tetapi kalau praktik Pemilu itu sendiri tidak berbeda dengan Pemilu April 2009 lalu, bahkan lebih buruk; maka Pemilu satu putaran adalah ide yang sangat buruk. Ia sama saja dengan ambisi berkuasa yang meluap-luap, dengan menghalalkan segala cara.

Saya hanya tertawa kalau ingat pesan seseorang pemimpin politik: “Jangan takkabur!” Pesan seperti itu disampaikan secara tidak ikhlas, dengan tujuan untuk menjatuhkan citra lawan politik yang mulai mampu menyaingi citra dirinya. Tetapi kemudian fakta sikap takabbur itu dengan SANGAT ELOK diperlihatkan sendiri oleh para pendukung pemimpin itu, dibantu partai-partai “spiritual” yang dzikirnya sehari-hari berbunyi: “Menteri Pendidikan, Menteri Olah Raga, Menteri Informasi, Menteri Kesehatan, Menteri Koperasi, Menteri Sekretaris Negara,….” (Dzikir kok kayak begitu ya? Itu sih “dzikir pak menteri”, bukan dzikrullah. He he he…).

Lalu, setuju Pemilu satu putaran?

Jawab: “Jangan deh, demi kejujuran, sportifitas, dan keadilan. Tidak mengapa biaya agak mahal, asalkan jujur. Jangan biaya rendah, tapi curang. Cara curang hanya akan mengancam kelangsungan bangsa ini ke depan!

Ya Allah ya Rabbi, kasihi kami, Ummat Islam di Indonesia. Tolonglah hidup kami. Jangan biarkan kami hidup terus menanggung derita. Allahumma amin ya Karim. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Mengkritisi “Black Campaign” di Medan

Juli 2, 2009

Menjelang Pilpres 8 Juli 2009, suhu politik semakin panas. Terakhir, timsukses JK-Wiranto mengadukan Rizal Malarangeng ke polisi. Rizal dituduh telah mencemarkan nama baik Jusuf Kalla. Tidak tanggung-tanggung, Rizal juga berniat menuntut balik tim sukses JK-Wiranto.

Awal masalahnya, dalam sebuah kampanye tertutup di Medan, di depan jamaah majlis-majlis taklim, ada seorang laki-laki menyebarkan kertas fotokopian. Kertas itu berisi berita dari sebuah tabloid. Disana disebutkan hasil wawancana wartawan tabloid itu dengan Habib Husein Al Habsyi, yang disebut sebagai Ketua Ikhwanul Muslimin Indonesia, dengan judul: “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik?” Kurang lebih seperti itu.

Penyebaran kertas fotokopian itu diklaim oleh Rizal Malarangeng sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) dari Jusuf Kalla. Konon, Rizal melontarkan kata-kata yang tidak sopan, dan mengaitkan JK dengan orang Bugis. Hal ini yang mendorong tim sukses JK-Wiranto mensomasi Rizal Malarangeng, dan memberinya waktu 24 jam untuk meminta maaf secara terbuka. Karena Rizal tidak minta maaf, perkara itu pun dibawa ke polisi dengan delik pencemaran nama baik.

Sebuah prinsip perlu ditekankan disini: “Berpikir kritis dan responsif itu bagus, tetapi akan lebih bagus kalau disertai berpikir cermat.” Tepat sekali pernyataan SBY ketika mengkritik slogan “lebih cepat lebih baik”. Katanya, “Boleh cepat, tapi jangan grusa-grusu.” Begitulah kira-kira.

Kalau melihat kasus ini dengan cara berpikir instant, kita bisa berkesimpulan, telah terjadi black campaign di Medan. Para pelaku, panitia kampanye, tim sukses JK-Wiranto, bahkan termasuk JK sendiri bisa dikenai tuduhan. Mereka bisa dianggap menyebarkan berita bohong untuk menjatuhkan citra pasangan SBY-Boediono. Itu kalau kita berpikir grusa-grusu.

Tetapi kalau melihatnya dalam konteks hukum di Indonesia, justru Rizal Malarangeng bisa menghadapi masalah besar.

==> Lho, kok bisa?

Iya, sebab kertas fotokopian yang disebarkan itu sumbernya dari sebuah media resmi yang beredar luas di Indonesia. Sedangkan di Indonesia selama ini media-media cetak rata-rata tidak mempermasalahkan kalau ada orang yang memperbanyak berita mereka dengan difotokopi, lalu disebar-luaskan. Mekanisme seperti itu sudah berkembang lumrah di masyarakat Indonesia. Kecuali, pada buku-buku tertentu, memang ada larangan dari penerbitnya untuk difotokopi, disebarkan, dan sebagainya. Namun untuk media cetak seperti koran, majalah, tabloid, sudah biasa disebar-sebar dengan metode fotokopian.

Kalau berita media sudah beredar resmi, diperjual-belikan secara bebas. Maka terserah masyarakat mau melakukan apa saja atas produk media itu. Mau difotokopi, dikliping, dibundel, ditempel di dinding, disebar-luaskan di masjid, dipotong-potong, disobek-sobek, dijual kiloan, atau dibakar seperti kayu bakar. Itu bisa-bisa saja. Wong selama ini, praktik seperti itu sudah biasa terjadi.

==> Tapi kan ini menyebarkan fotokopian di arena kampanye?

Tidak masalah sama sekali. Mau disebarkan di kampus, di masjid, di kantor, di pasar, di mall, di jalan-jalan, di kebun binatang, di tempat rekreasi, atau dimanapun, itu tidak masalah. Selama, berita itu bersumber dari suatu media massa resmi.

Lha, misalnya anda membeli sebuah tabloid. Lalu Anda mau bawa tabloid itu ke pasar, sawah, sungai, laut, ke atas pohon, ke dalam gua, masuk masjid, sekolah, dan sebagainya. Itu tidak masalah. Kecuali masuk tempat-tempat tertentu yang dilarang membawa media massa dari luar (seperti sekolah).

Jadi membawa fotokopian media massa resmi ke lokasi kampanye itu boleh-boleh saja. Sama saja seperti membawa kue, minuman, mainan, boneka, kendaraan, atau hal-hal yang diperbolehkan ke lokasi kampanye. Itu boleh-boleh saja. Dan juga tidak ada aturan, bahwa produk media cetak tidak boleh dibawa ke lokasi kampanye (termasuk kampanye tertutup).

==> Tapi kan, isi fotokopian itu bohong? Isinya menjatuhkan nama baik salah satu pasangan Capres?

Nah, soal bohong atau tidak, itu masalah berbeda. Yang jelas, membawa produk media cetak apapun, selama dari media resmi dan sudah beredar di masyarakat luas, itu tidak masalah. Sama seperti ada tim kampanye yang membawa fotokopian artikel dari Kompas, Media Indonesia, Republika, dll. Itu tidak masalah.

Misalnya, ada seseorang membagikan ribuan lembar kertas fotokopian artikel profil SBY dari Koran Kompas di sebuah arena kampanye Capres lain. Maka tidak ada satu pun yang menganggap hal itu sebagai pelanggaran. Alasannya bukan soal isi artikelnya, tetapi sumber artikel itu dari media resmi. Hal itu sama saja seperti seseorang membawa koran Kompas ke arena kampanye SBY, padahal di dalamnya ada profil Capres lain.

Kalau isi artikel itu dianggap bohong, atau diklaim sebagai bohong. Maka masalahnya ada pada media yang menyebarkan berita itu. Mereka dianggap telah menurunkan berita bohong sehingga merugikan pihak tertentu. Akhirnya, sasaran tuduhan itu lebih berhak dialamatkan ke pihak medianya.

Namun media pembuat berita itu memiliki alasan kuat. Mereka bisa beralasan, “Kalau berita kami memang salah, ya silakan gunakan hak jawab. Nanti kami muat di media kami. Kalau perlu sampaikan surat bantahan atau klarifikasi.” Kalau sejak berita itu beredar, tim sukses SBY-Boediono, atau khususnya dari keluarga Boediono sendiri, tidak memberikan klarifikasi ke media yang bersangkutan, maka berita itu dianggap tidak masalah disebar-luaskan ke publik.

Sayang sekali kalau hak jawab tidak dimanfaatkan, begitu pula klarifikasi berita. Padahal jika hal itu ditempuh, masalah seperti ini bisa clear sejak awal.

==> Andai akhirnya media bersangkutan benar-benar dituduh menyebarkan fitnah, maka mereka pun masih memiliki alasan kuat. Mereka bisa berkata, “Kami tidak membuat berita sendiri. Kami hanya mengutarakan apa yang disampaikan oleh narasumber. Soal valid tidaknya berita itu, silakan cek ke narasumber. Kami hanya memuat berita wawancara saja.” Dengan alasan ini, maka pihak yang dianggap memikul tanggung-jawab adalah Habib Husein Al Habsyi. Darimana beliau mendapat berita, bahwa isteri Boediono seorang Katholik? Itu berita benar atau tidak.

Nanti masalahnya lebih rumit lagi, sebab Habib Husein orang tunanetra. Beliau tidak mendapat berita, melainkan dari orang tertentu yang membisikkan berita kepadanya, atau membacakan berita kepadanya. Lalu siapa pembisik itu? Atau siapa reader beliau? Bahkan media apa yang beliau baca sehingga berkesimpulan seperti itu?

==> Dan menjadi semakin “panas” kerumitannya, ketika topik yang dimuat dalam wawancara itu lebih mengarah ke PKS. Artinya, yang menjadi sorotan disana adalah PKS. Judul tulisan itu sendiri, “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik?” Jadi, fokus tulisan ini sebenarnya lebih ke soal PKS. Apalagi Habib Husein al Habsyi menyebut diri sebagai Ketua Ikhwanul Muslimin Indonesia. Ormas ini jelas ada kaitannya dengan PKS, meskipun tidak langsung. PKS selama ini dikenal memiliki hubungan simbolik dengan Ikhwanul Muslimin di dunia; begitu pula Habib Husein dan pengikutnya mengklaim berhubungan dengan jamaah tersebut.

Habib Husein al Habsyi bisa membela diri. Dia bisa mengklaim sedang memberi masukan ke PKS. Siapa tahu, dia merasa mendapat informasi, lalu menduga PKS tidak tahu masalah itu. Jadi ini seperti hubungan antara Habib Husein dan PKS sendiri. PKS mungkin bisa mencak-mencak, karena merasa diremehkan oleh Habib Husein. Tetapi kan, namanya orang memberi masukan atau informasi, itu boleh-boleh saja. Meskipun misalnya, informasi yang diberikan ternyata salah.

==> Bahkan kasus ini menjadi jauh lebih “hot”, ketika relawan yang menyebarkan fotokopian di Medan itu, mengaku di depan Panwaslu Medan, dia disuruh oleh salah seorang anggota tim sukses SBY-Boediono. Wah apa lagi ini? Tim sukses SBY diduga menjadi otak di balik penyebaran fotokopian yang isinya dianggap mendiskreditkan pasangan SBY-Boediono. Mungkin kalau bahasa iklan dikatakan, “Jeruk kok makan jeruk?”

Bagaimana bisa tim sukses SBY-Boediono diduga menjadi otak dari penyebaran fotokopian berjudul, “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik”? Kemungkinannya ada dua: Pertama, ada pengkhianat di tubuh tim sukses SBY-Boediono yang bermaksud menelikung calon mereka sendiri; Kedua, anggota tim sukses itu berusaha menjatuhkan pasangan tertentu dengan isu black campaign. Mereka ingin menjatuhkan tim sukses JK-Wiranto dengan tuduhan telah melakukan black campaign di arena kampanye mereka.

Singkat kata, misalnya selebaran “panas” tentang pernyataan Habib Husein al Habsyi itu disebar di lokasi kampanye calon lain, selain SBY-Boediono, hal itu bisa dianggap black campaign terhadap pasangan SBY-Boediono. Padahal bisa jadi, penyebar artikel itu misalnya dari pendukung SBY-Boediono sendiri. Maksudnya, dengan cara itu mereka ingin menuduh orang lain melakukan black campaign dengan modus perbuatan “black campaign”.

==> Ibaratnya, seperti menuduh Si X melakukan pencurian, dengan terlebih dulu menjebak X itu agar melakukan pencurian. Karena pencuriannya sudah diatur, maka dengan mudah X ditangkap. Maka jadilah X sebagai pencuri by scenario.

Analisis seperti ini diperkuat oleh pernyataan Rizal Malarangeng berulang-ulang di media massa. Perhatikan substansi pernyataan Rizal!

Pertama, Rizal memastikan telah terjadi black campaign di Medan. Buktinya, tayangan TV saat seorang laki-laki (Adi Zein) membagikan lembaran-lembaran fotokopian dari sebuah tabloid. Padahal saat yang sama Rizal mengklaim, “Biarkanlah polisi yang bekerja melakukan penyelidikan.” Seharusnya, yang memastikan terjadi black campaign atau tidak adalah Panwaslu atau Kepolisian, bukan Rizal. Aneh, antara klaim dan argumentasi bertolak-belakang.

Kedua, Rizal sangat nafsu ingin agar Jusuf Kalla mengaku salah karena membiarkan penyerbaran kertas fotokopian di forum kampanyenya. JK dituntut meminta maaf ke isteri Boediono atas tersebarnya tulisan itu. Rizal membandingkan sikap JK dengan “jiwa besar” Boediono saat meminta maaf ke wartawan di Papua.

Ketiga, ini yang paling serius, Rizal menuding pasangan JK-Wiranto bersikap diskriminatif kepada kaum minoritas Katolik. Tim kampanye JK-Wiranto dianggap membiarkan beredarnya selebaran yang isinya “mengecilkan” kaum Katolik. Dengan kata lain, Rizal ingin memberi gambaran ke kaum minoritas, bahwa pasangan JK-Wiranto “berbahaya” bagi kaum minoritas.

Bila analisis ini benar, betapa sangat serius manuver tim sukses SBY-Boediono. Kita masih ingat saat Ruhut Sitompul menyemprot warga Arab, lalu kini ada kasus black campaign, dengan modus: “Jeruk makan jeruk.”

==> Dapat disimpulkan, tuduhan Rizal Malarangeng ke Jusuf Kalla itu serius. Itu bisa dikenai pasal-pasal pencemaran nama baik. Secara hukum, posisi Rizal Malarangeng lemah. Seharusnya Rizal ingat pesan SBY, “Lebih cepat lebih baik, tapi jangan grusa-grusu.” Nah, disini ada yang grusa-grusu.

Jangan-jangan, kasus black campaign di Medan ini hanya untuk “menyibukkan” lawan politik. Sementara aksi yang sebenarnya, “operasi senyap” sedang aktif-aktifnya bekerja menjelang even 8 Juli 2009. Hati-hatilah wahai para politisi, sebab kekuatan yang menenangkan Pemilu April lalu itu adalah: operasi senyap, modus kekacauan manajemen di KPU, dan penggiringan opini publik. Lihatlah apa yang tidak terlihat, awasi apa yang tidak terawasi!!!

AMW.