Kaidah Praktis Politik Islami

Juni 30, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berbeda pendapat adalah sesuatu yang mungkin, namun mencela pendapat orang lain dan melemahkannya, tanpa alasan, bukanlah perbuatan yang benar. Seperti misal, saat kaum Muslimin sedang giat-giatnya memperjuangkan kepemimpinan negara yang diyakini lebih pro kemaslahatan; sebagian orang mencela semua ini dengan alasan: demokrasi adalah sistem bathil orang kafir, dan saat ini belum berdiri Khilafah Islamiyah. (Jika memang Khilafah belum berdiri, mengapa Anda ingin memaksakan standar kehidupan seperti ketika Khilafah sudah berdiri? Suatu pandangan yang paradoks).

Lebih berat lagi, sebagian lain berani melontarkan tuduhan kafir, syirik, murtad kepada saudaranya yang ikut partisipasi melalui sistem demokrasi. Alasannya, demokrasi berarti menyekutukan Allah dalam menetapkan hukum, dan itu dianggap perbuatan kufur, syirik. (Masalahnya, keadaan negeri ini bagaimana? Apakah di negeri ini telah tegak sistem Islami? Bukankah kalian sendiri menyebut negeri ini sebagai negara sistem thaghut? Jika demikian, bagaimana kalian berharap ada sistem politik Islami di sebuah negara yang kalian sebut thaghut ini? Paradoks lagi).

MISSI POLITIK ISLAM: Menjaga Agama dan Kehidupan Ummat.

MISSI POLITIK ISLAM: Menjaga Agama dan Kehidupan Ummat.

Sebagian orang sering menyerang saudaranya dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bisa jadi mereka telah menghapuskan bab Siyasah Syar’iyah dari kamus kehidupan Ummat Islam. Atau bisa jadi mereka tidak mengerti cara memposisikan usaha politik itu sendiri. Mereka menyangka bahwa usaha perjuangan politik identik dengan afiliasi (intima‘); misalnya kalau seseorang mendukung politik demokrasi, dianggapnya telah mengubah agamanya menjadi agama demokrasi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Di antara akibat buruk mengendarai TAKFIR secara semena-mena, adalah: munculnya ekstrimisme, menghancurkan persatuan Ummat, menyebarkan konflik dan permusuhan, munculnya perbuatan-perbuatan sadisme, munculnya intoleransi (sekalipun kepada sesama Muslim), serta munculnya ketidak-mampuan intelektual sampai batas-batas sangat memprihatinkan. Semoga kendaraan TAKFIR ini segera ditinggalkan, karena ia bukan bagian dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Di sini kami akan bahas secara ringkas dan praktis kaidah politik Islam. Sebelum itu, kami ingin mengingatkan sesuatu: “Sesatnya kaum Muslimin di awal-awal sejarah Islam dengan munculnya sekte Khawarij, Syiah, Mu’tazilah, Murji’ah, adalah karena SALAH PAHAM masalah politik.” Dalam sebuah diskusi di Yogya, Prof. Dr. Yunahar Ilyas mengingatkan, bahwa Ummat Islam jangan phobia dengan politik, karena asal mula kesesatan di zaman awal Islam dulu, adalah karena politik juga. Maksudnya, pahami masalah politik dengan baik, agar tidak SESAT dan MENYESATKAN.

Berikut beberapa kaidah politik Islami…

[1]. Definisi politik menurut para pakar adalah: “Segala daya upaya yang dilakukan, untuk mempengaruhi kekuasaan (pemimpin atau pemerintahan) demi mencapai tujuan tertentu.” Jika dikaitkan dengan politik Islam, kurang lebih maknanya: “Segala daya upaya yang dilakukan para politisi Muslim dalam mempengaruhi kekuasaan, demi mencapai kemaslahatan bagi Islam dan kaum Muslimin, serta menghindarkannya dari kerugian-kerugian.”

[2]. Tujuan dasar politik Islam adalah: menjaga agama dan melindungi kehidupan kaum Muslimin. Tujuan ini selaras dengan Maqashidus Syariah (tujuan-tujuan Syariat), yaitu menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga harta, menjaga akal, menjaga keturunan kaum Muslimin. Menjaga agama dari penyimpangan, penyelewengan, penyesatan, korupsi pemikiran, ektrimisme, dan sebagainya. Menjaga kehidupan kaum Muslimin dari penindasan, kezhaliman, penjajahan, perbudakan, dan sebagainya.

[3]. Antara JIHAD dan SIYASAH ISLAMIYAH seperti dua sisi keping mata uang. Keduanya sama-sama ditujukan untuk menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin. Bedanya JIHAD dengan memakai senjata, militer, perang, dan sebagainya. Sedangkan SIYASAH dengan memakai kecerdasan, opini, informasi, lobi-lobi, dan sebagainya.

[4]. Siyasah Islamiyah adalah alat perjuangan kaum Muslimin, bukan hakikat kehidupan Ummat itu sendiri. Sebagai alat, ia terikat dengan TUJUAN, bukan SARANA. Sarana perjuangan politik Ummat bisa macam-macam, bisa berubah-ubah sesuai kondisi; tapi esensi tujuannya satu, yaitu: menjaga agama dan kehidupan kaum Muslimin. Harus benar-benar dipahami, bahwa politik Islam terikat dengan tujuan, bukan sarana-sarana.

[5]. Politik Islam bisa dijalankan di segala tempat, di segala zaman, dalam kondisi bagaimanapun. Di mana saja diketahui ada eksistensi kehidupan kaum Muslimin, maka politik Islam dijalankan di sana; sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan keadaan riil yang ada. Jika mampu menjalankan politik Islam secara ideal, itulah yang diharapkan; jika tak mampu, karena banyaknya keterbatasan, dilakukan sekuat kemampuan dan seadanya kesempatan.

[6]. Politik Islam tidak mengenal batasan sistem politik. Ia bisa dijalankan di bawah aturan sistem politik apa saja. Di bawah sistem monarkhi, bisa dijalankan politik Islam. Begitu juga, di bawah sistem demokrasi, bisa dijalankan agenda politik Islam. Di bawah sistem oligarkhi, diktator, komunis, kesukuan, atau apapun; politik Islam bisa dijalankan. Di mana saja diketahui ada eksistensi kehidupan kaum Muslimin, hatta di Kutub Utara dan Selatan, maka politik Islam bisa diterapkan di sana, dengan tujuan melindungi agama dan kehidupan kaum Muslimin. Sekali lagi, politik Islam terikat oleh TUJUAN, bukan SARANA.

[7]. Bahkan ketika telah tegak sistem Islami, seperti Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah, atau Kerajaan Islam, atau Kesultanan Islam; tetap di sana dibutuhkan perjuangan politik Islam. Mengapa demikian? Karena di bawah sistem apapun, selalu ada kemungkinan terjadinya perusakan agama dan kezhaliman atas kaum Muslimin. Contoh, di era Daulah Abbassiyah pernah menyebar aliran sesat yang meyakini Al Qu’an sebagai makhluk. Begitu juga. di era-era keruntuhan Daulah Abbassiyah, negeri-negeri kaum Muslimin dibanjiri oleh kaum agressor yang sangat kejam, Tartar (Mongol). Para ulama seperti Ibnu Taimiyah, Al Wamardi, Al Ghazali, dan lainnya menyusun pendapat-pendapat seputar Siyasah Islamiyah justru lebih fokus diterapkan untuk negeri-negeri di bawah sistem Islami. Pendapat mereka belum menjangkau kondisi kaum Muslimin di era modern seperti saat ini. Tidak salah jika Al Qaradhawi pernah mengatakan, kita mengalami krisis literatur untuk perpolitikan modern.

[8]. Dunia politik Islami berbeda dengan bidang-bidang perjuangan lain, karena ia berkaitan dengan kekuasaan. Kekuasaan (pemimpin) adalah sentra dinamika kehidupan masyarakat. Sebagian ulama mengatakan, “Kalau kami memiliki doa yang mustajab, akan kami doakan para penguasa (agar jadi baik).” Mengapa demikian, karena baiknya penguasa, akan menjadi mata air kebaikan bagi rakyat yang luas. Dengan demikian, maka bidang politik Islami adalah wilayah perjuangan orang-orang yang memiliki: keimanan kuat, wawasan, kemampuan, kesempatan, dan pengalaman. Orang yang tidak berwawasan, tidak boleh masuk dunia politik. Modal awal politik Islami adalah keimanan di hati seorang politisi Muslim. Setelah itu modal wawasan, sebab tanpa wawasan bagaimana akan bicara dunia politik? Kemudian memiliki kemampuan menjalankan peran politik, sebab kalau hanya wawasan tanpa kemampuan, nanti seperti “politisi warung kopi”. Selanjutnya adalah memiliki kesempatan masuk pergulatan politik, agar missi politiknya terwadahi. Kalau hanya berkoar-koar dari jauh, tanpa memiliki desk perjuangan di lapangan, sulit mewujudkan maslahat kehidupan sosial. Sebagai kelengkapan, adalah pengalaman. Semakin berpengalaman, semakin mahir dalam memainkan peran politik. Demikianlah kurang lebih.

[9]. Dalam politik demokrasi, setiap Muslim punya hak suara yang sama dengan politisi Muslim, tapi peran politiknya berbeda. Kaum Muslimin mayoritas berperan memeberi dukungan bagi agenda-agenda perjuangan politik Ummat yang lurus, terpercaya, dan diyakini memiliki peluang kemenangan besar. Hal ini diperbolehkan. Tetapi memang Ummat tidak bisa masuk domain politisi Muslim (sebagaimana disebut dalam poin 8) yang memikul amanah berat dalam perjuangan ini. Dukungan mayoritas kaum Muslimin harus selalu diselaraskan dengan strategi dan langkah-langkah yang ditempuh para politisi Muslim yang terpercaya. Jangan kontraproduktif, jangan saling melemahkan.

[10]. Masuknya kaum Muslimin ke politik demokrasi bukanlah dalam rangka mengubah agama kita (Islam) menjadi agama demokrasi. Tuduhan demikian sangat jauh. Buktinya, para politisi Muslim dan pendukung politik Islam masih Shalat dengan Shalat Islam; masih berkiblat ke Ka’bah, tidak ke Yunani atau New York; masih membaca Al Qur’an dengan Mushaf yang sama; masih mengucapkan SALAM Islami, bukan slogan vox populi vox dei; masih memakan makanan halal, menghindari makanan haram; masih menjalankan batas-batas Syariat dalam lingkup pribadi, keluarga, komunitas; dan sebagainya. Semua ini merupakan bukti bahwa masuknya kita dalam partisipasi demokrasi, adalah merupakan langkah politik, bukan tujuan hidup. Jika ada yang terus berprasangka buruk, menganggap sesat, atau menganggap murtad; maka dosanya akan mereka pikul sendiri. Sebaiknya mereka takut terhadap dosa-dosa itu, sebelum memvonis saudaranya.

[11]. Dalam Islam ketika kita berhadapan dengan masalah-masalah yang samar, tidak ada kepastian yang jelas tentang duduk masalahnya, di sana berlaku prinsip IJTIHAD. Dalam lapangan ijtihad inilah kaum Muslimin sering berbeda-beda dalam pendapat. Termasuk dalam menempatkan posisi politik Islam dalam kehidupan. Maka di sini terdapat kaidah Fiqih yang telah masyhur, bunyinya: “Al ijtihad laa yunqadhu bil ijtihad” (satu ijtihad tidak bisa dimentahkan oleh ijtihad yang lain). Jika mereka masih dan terus bersikap aniaya dalam pendapatnya, maka kami serahkan seluruh urusan kepada Allah Ta’ala.

[12]. Adakah maslahat dari perjuangan politik Islam di dunia demokrasi? Jawabnya ada, meskipun belum sempurna atau ideal. Contoh, terpilihnya menteri Muslim yang baik, memungkinkan dilakukannya pemblokiran terhadap konten-konten pornografi di dunia internet. Itu satu contoh nyata di antara contoh-contoh lain. Jika orang-orang yang selalu gemar mencela dan memvonis perjuangan politik Islam di lapangan ini, maka pertanyaan buat mereka: “Apa yang sudah kalian hasilkan untuk kemaslahatan kehidupan Ummat ini? Bisakah kalian menghasilkan kebijakan politik yang pro kepentingan Ummat? Bisakah kalian mendatangkan kemaslahatan kehidupan Ummat, jika tidak ada perjuangan politik Islam di bawah sistem demokrasi?”

Demikianlah, semoga kajian sederhana dan praktis ini bermanfaat. Amin Allahumma amin. Terimakasih atas perhatian dan mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Tatar Pasundan, 2 Ramadhan 1435 H.

(Abu Syakir Najih).


MARI KITA BERDOA SAUDARAKU…

Juli 21, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saat ini adalah bulan Ramadhan, saat mustajab doa. Salah satu yang dijanjikan dikabulkan doanya, adalah para Shaimin-Shaimat (orang-orang yang berpuasa). Apalagi saat ini adalah saat 10 hari terakhir. Inilah saat-saat terbaik untuk berdoa kepada Allah, menjelang pengumumkan kepemimpinan negara esok hari. Mari saudaraku kita berdoa agar Allah memberikan kepemimpinan bangsa yang lebih baik.
(Misalnya doa seperti di bawah ini)

Alhamdulillahi ‘ala kulli ni’amihi minal awwal ilal akhir, wa shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa alihi wa ashabihi ajma’in.

Berdoa Sepenuh Khusyuk Saudaraku

Berdoa Sepenuh Khusyuk Saudaraku

Ya Allah ya Rabbana, ampuni kami atas segala salah, dosa, dan kezhaliman; baik yang besar atau kecil, baik yang kami sadari atau tidak disadari. Ampuni, ampuni, dan maafkan kami ya Ghafuur.

Ya Rabbana berikan kepada kami pemimpin yang lebih baik bagi Ummat ini, pemimpin yang santun, tidak menzhalimi, tidak mengganggu kehidupan Ummat, tidak menyakiti hati dan ibadah kami; serta tidak menodai simbol-simbol agama kami.

Ya Allah datangkan kepada kami pemimpin yang berhati lurus, takut kepada-Mu dalam urusan Ummat dan kehidupan; tegar membela kami menghadapi segala kezhaliman, penindasan, pengkhianatan.

Ya Allah datangkan kepada kami pemimpin yang belas kasih kepada rakyat lemah, menyayangi anak-anak, menyayangi kaum Muslimah, serta menjaga kebaikan-kebaikan alam.

Ya Allah ya Aziz, jauhkan kami dari pemimpin yang berlumur dosa, keras hati, banyak berbuat culas, dan memendam kebencian kepada Islam dan Ummat.

Ya Allah jauhkan kami dari tangan-tangan jahat, manusia-manusia penindas, serta orang-orang zhalim yang selalu menebar ancaman, kekerasan, dan penipuan.

Ya Allah ya Halim, hentikan konspirasi jahat, permufakatan keji untuk merusak di muka bumi, hentikan tangan-tangan berlumur dosa yang ingin membuat kegaduhan, permusuhan, dan kerusakan. Hentikan ya Rabbana sebab-sebab kehancuran, kerusakan, penderitaan Ummat.

Ya Allah ya Sallam, kami telah berbuat semampu kami untuk perbaikan kehidupan ini; maka kami pasrah kepada-Mu. Apapun takdir-Mu, siapapun yang Engkau tetapkan sebagai penguasa di negeri ini, kami pasrah kepada-Mu.

Ya Rabbana ya Rahiim, jadikan siapapun yang Engkau pilih menjadi pemimpin adalah PEMIMPIN TERBAIK bagi urusan dunia, agama, dan akhirat kami. Kami berlindung kepada-Mu dengan karunia dan keagungan-Mu dari segala fitnah, kezhaliman, tipu daya yang bersumber dari pemimpin yang telah Engkau pilihkan itu ya Rabbana ya ‘Alim.

Ya Allah ya Razzaq, berikan kepada kami harapan, tambahkan rasa optimis, tuangkan atas kami kesejahteraan yang lebih baik. Dekatkan kami kepada Ridha-Mu, jauhkan kami dari murka-Mu. Berikan kami husnul khatimah, jauhkan dari su’ul khatimah. Bukakan untuk kami pintu-pintu surga-Mu, selamatkan kami dari koibaran api neraka-Mu.

Allahumma ash-lih lana dinana alladzi huwa ‘ishmatu amrina, wa ash-lih lana dunyana allati fiha ma’asyuna, wa ash-lih lana akhirata allati fiha ma’aduna, waj’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khair, waj’al mauta rahatan lana min kulli syarrin.

(Ya Allah perbaiki urusan agama kami karena ia adalah pokok urusan kami; perbaiki urusan dunia kami, karena ia adalah penghidupan kami; perbaikilah akhirat kami, karena ia adalah tempat kami berpulang nanti; jadikan kehidupan kami merupakan kebaikan yang bertambah-tambah; jadikan kematian kami sebagai istirahat dari segala keburukan).

Allahummaj’al tsa’rana ‘ala man zhalamana, wanshurna ‘ala man ‘aadana, wa taj’al mushi-batana fi dinina, wa laa taj’alid dun-ya akbara ham-mina wa laa mab-lagha ilmina, wa laa tusal-lith ‘alaina man laa yarhamuna.

(Ya Allah, jadikan kami kokoh atas orang-orang yang menzhalimi kami, tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, jangan Engkau jadikan musibah kami terjadi pada agama kami, jangan jadikan dunia sebagai impian tertinggi kami dan tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami menjadi pemimpin yaitu orang-orang yang tidak mengasihi kami).

Allahumma inna nas’aluka salamatan fid din wa ‘afiyatan fil jasad wa ziyadatan fil ‘ilmi wa barakatan fir rizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ‘indal maut, wa maghfiratan ba’dal maut.

(Ya Allah kami meminta kepada-Mu keselamatan dalam agama, keselamatan jasad, bertambahnya ilmu –bermanfaat-, keberkahan dalam rizki, pertaubatan sebelum maut, kasih sayang saat maut, dan ampunan setelah maut).

Allahumma inna nas’aluka mujibati rahmatika wa ‘azaimi maghfiratik wa salamatan min kulli its-min wal ghanimata min kulli birri wal fauza fil jannati wa najatan minan naar.

(Ya Allah kami memohon kepada-Mu ketetapan rahmat-Mu,ketetepan ampunan-Mu, keselamatan dari dosa-dosa, limpahan dari berbagai kebaikan, keberhasilan mencapai surge dan keselamatan dari neraka).

Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban naar. Amin Allahumma ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Terimalah doa kami ya Rabbana ya Halim ya Rahiim. Amin amin amin.”

(Mohon bagikan doa ini –atau yang serupa ini- wahai Saudaraku. Bagikan, baca, dan amalkan sampai saat pengumuman kepemimpinan diumumkan. Gunakan waktu-waktu ini untuk melakukan ikhtiar Rabbaniyah pamungkas, wahai Saudaraku. Jazakumullah khair).

[Admin].


Pernyataan Dahsyat Abu Bakar Ba’asyir

Juli 13, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Berikut ini adalah beberapa kutipan media tentang pernyataan Abu Bakar Ba’asyir, amir Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), dari Nusa Kambangan. Pernyataan ini dilontarkan sebelum digelar Pilpres 9 Juli 2014. Silakan dibaca dan dicermati. Kami mengutip dari media.

“USTADZ BA’ASYIR: MEMILIH PEMIMPIN THAGHUT MEMBATALKAN PUASA RAMADHAN”

NUSAKAMBANGAN (Panjimas.com) - Ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga memberikan nasehat kepada seluruh umat Islam di Indonesia yang sedang menjalankan ibadah Ramadhan agar menjaga puasanya dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa.

Menurut ulama sepuh tersebut, seseorang yang ikut serta dalam Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Presiden sistem Thaghut bisa membatalkan puasa sekaligus membatalkan imannya.

KEWAJIBAN ULAMA: Menjaga dan Membela Kehidupan Ummat.

KEWAJIBAN ULAMA: Menjaga dan Membela Kehidupan Ummat.

“Calon-calon presiden itu kan tidak menerapkan hukum Allah, yang menerapkan hukum selain hukum Allah itu Thaghut namanya. Dan memilih Thaghut itu syirik, maka batal puasanya. Jadi tidak hanya batal puasanya, tapi juga batal Ashlul Iman-nya. Memilih dan mendukung calon Thaghut itu berarti AnsharuthThaghut,” kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di hadapan para pembesuk di LP Super Maximum Security, Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (1/7/2014).

Oleh sebab itu, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mengimbau agar umat Islam menjauhi sistem Thaghut dan tak perlu ikut-kutan dalam pesta syirik demokrasi jika ingin puasa dan aqidahnya terjaga.

“Sekarang kalau kita ikut memilih pemimpin dalam sistem Demokrasi ini, itu namanya kita sedang memilih dan mengangkat pemimpin Thaghut. Padahal dalam Al Qur’an, Allah menegaskan bahwa pemimpinnya orang beriman itu yaa orang beriman. Masa kita malah mau ikut-ikutan memilih Thaghut? Gimana itu coba? Lebih baik kita nggak usah ikut!” tegasnya. [AW/Ghozi Akbar].

SUMBER:

http://panjimas.com/news/2014/07/09/ustadz-baasyir-memilih-pemimpin-thaghut-membatalkan-puasa-ramadhan/

Edisi, Rabu, 11 Ramadhan 1435H / July 9, 2014.

____________________________________________

 

“MEMILIH PEMIMPIN ORANG BERIMAN ITU WAJIB, MEMILIH PEMIMPIN THAGHUT HARAM”

NUSAKAMBANGAN (Panjimas.com) - Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, ulama kharismatik yang telah malang-melintang di dunia pergerakan Islam, kembali mengingatkan kepada umat islam terkait Pemilihan Umum (Pemilu) Calon Presiden.

Menurutnya, memilih pemimpin di kalangan orang beriman itu wajib. Namun, haram jika memilih pemimpin Thaghut yang menerapkan sistem Thaghut.

“Memilih pemimpin dan mengangkat pemimpin dari kalangan orang beriman itu wajib. Kalau memilih pemimpin Thaghut itu haram. Selama tidak ada calon pemimpin di Indonesia yang secara tegas akan menerapkan syari’at Islam secara kaffah, maka umat Islam haram memilihnya,” kata Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di hadapan para pembesuk di LP Super Maximum Security, Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (1/7/2014).

Bahkan, meski berada di balik jeruji besi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir masih memberikan perhatiannya kepada umat dengan menulis buku yang ditujukan kepada para tokoh dan pemimpin negeri ini agar kufur terhadap sistem Thaghut.

“Sikap kita kepada mereka, para pimpinan ormas Islam adalah menasehati mereka agar tidak menjerumuskan umat kedalam neraka. Untuk itu, saya sudah menulis sebuah surat berjudul ‘Risalah Peringatan dan Nasehat Karena Allah Kepada Umat Islam Yang Dibebani Amanah Mengatur Pemerintahan di Bumi Nusantara’ kepada para pimpinan ormas dan para pemimpin di negeri ini. Alhamdulillah surat ini sudah disebar kepada para pimpinan ormas, dan sekarang sedang dibukukan untuk dapat dibagikan kepada umat Islam secara luas,” jelasnya. [AW/Ghozi Akbar].

SUMBER:

http://panjimas.com/news/2014/07/09/memilih-pemimpin-orang-beriman-itu-wajib-memilih-pemimpin-thaghut-haram/

Rabu, 11 Ramadhan 1435H / July 9, 2014.

_________________________________________________________

SEKILAS KOMENTAR:

Bismillah. Pernyataan Takfir ABB yang beredar di media mengandung konskuensi sangat dahsyat. Antara lain:

(a). Menyalahi fatwa-fatwa ulama Ahlus Sunnah di Indonesia, Malaysia, Mesir, Saudi, Palestina, Kuwait, Yaman, Pakistan, Turki, dan negeri-negeri yang ada praktik demokrasi di dlmnya.

(b). Berakibat mengubah negeri mayoritas Muslim menjdi mayoritas kafir.

(c). Memperluas sikap putus asa Ummat, terutama mereka yang baru menapak jalan kesalehan.

(d). Memperhebat konflik dan prmusuhan antar sesama Muslim.

(e). Menghalalkan darah, harta, khidupan Ummat.

(f). Menjadi kendaraan musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum Muslimin.

(g). Menafikan sifat rahmat & basyira pada agama ini.

(h). Menghilangkan sikap tasamuh/lapang dada dalam prbdaan pndpat.

(i). Melenyapkan jasa para pejuang Islam di bidang politik dan birokrasi, dari zaman dulu smp kini.

(j). Kian menyuburkan pelaku TAKFIR di tengah Ummat.

(k). Menghancurkan prinsip Wihdatul Ummah (kesatuan Ummat). 

HIMBAUAN: Kami menghimbau para dai, ustadz, ulama, tokoh ormas Islam, para akademisi, para peneliti Muslim, generasi Islam, para aktivis, penulis, dan siapa saja yang peduli dengan Islam dan Ummat; untuk mengkaji pernyataan-pernyataan ABB di atas, untuk didiskusikan, dibahas, dan diberikan tanggapan. Minimal, bantu menyampaikan risalah ini kepada pihak-pihak kaum Muslimin. Terimakasih, jazakumullah khairan katsira.

(Admin PLB).


Secara Teori PRABOWO-HATTA Menang

Juli 9, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Biasanya, setelah dilakukan Pileg, Pilpres, atau Pilkada, akan mudah mengetahui hasil lewat quick count. Tapi situasi saat ini sangat berbeda, karena pertarungan politiknya amat sangat keras. Kubu Prabowo-Hatta banyak didukung oleh masyarakat, tapi kurang disukai oleh “stake holder” asing yang selama ini TENTRAM (adem ayem) menguasai sumber-sumber ekonomi nasional. Mereka sesumbar: “Berapa pun biayanya, Prabowo tidak boleh memimpin Indonesia.”

Secara teori, Pak Prabowo-Hatta memenangkan Pilpres 9 Juli 2014 ini. Apa saja dasar pertimbangannya? Berikut pertimbangannya:

Perjuangan Menuju Perubahan Bangsa

Perjuangan Menuju Perubahan Bangsa

[1]. Pilpres 9 Juli 2014 tidak bisa dipisahkan dengan Pileg 9 April 2014 dalam hal tabiat pemilih, loyalitas, dan perilaku politiknya. Hanya dalam tempo 3 bulan tidak mungkin akan mengubah banyak perilaku politik pemilih.

[2]. Jika mengacu hasil Pileg 9 April lalu dan partai pendukung Prabowo-Hatta, total dukungan suara partai sekitar 57 %, termasuk setelah Partai Demokrat ikut merapat mendukung. Sedangkan Jokowi-JK hanya didukung sekitar 35 % suara partai.

[3]. Ormas-ormas Islam, pesantren, tokoh-tokoh Muslim, mayoritas mendukung Prabowo-Hatta. Tentu saja mereka merupakan “mesin politik” yang aktif bergerak di bawah, dengan pendekatan masing-masing. Mereka adalah kekuatan “mesin darat” yang tidak diragukan. .

[4]. Dalam pertarungan opini di media online yang merambah potensi suara kawula muda, tim Prabowo-Hatta menunjukkan kelas dan dominasinya. Hal ini membuat beberapa pendukung Jokowi-JK memakai cara-cara “kekerasan psikologis” untuk menekan, seperti Wimar, Butet, Jakarta Post, dan seterusnya.

[5]. Kegagalan Jokowi dalam memimpin Jakarta selama 1,5 tahun terakhir, menjadi sumber buruknya kredibilitas dan citra politik dia. Setidaknya hal itu terbayang di mata masyarakat DKI Jakarta yang merupakan epicentrum politik nasional.

[6]. Dari tingkat elektabilitas terakhir sebagaimana disajikan lembaga-lembaga surve, tingkat keterpilihan Prabowo-Hatta lebih tinggi. Hingga ada 3 lembaga surve yang urung mengumumkan hasilnya, karena di sana diperoleh hasil pasangan Prabowo-Hatta lebih unggul.

[7]. Dalam momen-momen debat capres-wapres di TV yang diadakan KPU sangat jelas terlihat dominasi/keunggulan kubu Prabowo-Hatta. Hal itu diakui para pengamat dan akademisi.

[8]. Banyaknya ancaman, tindakan, provokasi kekerasan yang dilakukan oleh para pendukung Jokowi-JK, seperti penyerbuan kantor TVOne Yogya, demo di depan kantor TVOne, PKS, pengrusakan kantor PKS di Tangerang. Hal-hal ini dilihat masyarakat, dan kita tahu masyarakat Indonesia kurang suka dengan ide-ide kekerasan seperti itu.

Dengan pertimbangan-pertimbangan seperti di atas, kami yakin kubu Prabowo-Hatta memenangi pertarungan Pilpres 9 Juli 2014 ini. Jika ada hal-hal yang bisa mengubah hasil seperti ini, menurut kami ada DUA JENIS persoalan yang bisa mengubahnya.

PERTAMA: Kecurangan dalam pelaksanaan quick count, dengan kesengajaan memenangkan calon tertentu, apapun hasil perhitungan resmi yang dicapai KPU dalam Pilpres ini. Sangat mudah membuat perhitungan quick count palsu, semudah membuat surve-surve palsu. Tinggal saja memerintahkan relawan yang bertugas di lapangan untuk membesarkan angka satu calon dan mengecilkan calon yang lain.

KEDUA: Penggiringan opini publik. Publik digiring opininya lewat quick count palsu, siaran TV yang sengaja memenangan satu calon, pendapat pengamat-pengamat partisan, dan lewat acara-acara perayaan kemenangan. Semua ini jika semakin deras dilakukan, maka bisa mempengaruhi semangat para saksi dan petugas pencatat hasil suara riil. Nanti mereka akan menyesuaikan hasil penghitungan dengan rata-rata hasil quick count yang muncul. Ini berbahaya dan curang.

Di sini kami menghimbau para saksi dan petugas partai untuk sangat sungguh-sungguh mengandalkan perhitungan manual (real count) versi KPU di segala levelnya. Mereka harus mengawal itu secara sungguh-sungguh dan ketat, jangan sampai ada kecurangan di berbagai levelnya.

Hendaknya Anda semua jangan “mati kutu” karena hasil quick count yang bisa dibuat-buat dan penggiringan opini lewat media-media massa. Hendaknya para penggiat media-media online pro Prabowo-Hatta melakukan tugas ekstra untuk meng-counter penggiringan opini yang dilakukan oleh media-media tertentu yang dikenal tidak adil. Menangkanlah pertarungan opini di media online, seperti saat memenangkan opini sebelum Pilpres dilakukan.

Demikian yang bisa kami sampaikan, semoga menjadi spirit untuk terus melakukan perubahan ke arah yang baik dan sejahtera. Kami menagih janji dari slogan Pak Prabowo: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Hendaknya Bapak sungguh-sungguh berusaha memenangi kompetisi ini, sebab peluang ke depan semakin sulit dan berat. Lakukanlah usaha semaksimal mungkin.

SEBAB kalau mengharapkan kaum “kolonialis” akan bersimpati dan menjadi baik budi, sampai kapan? Mereka akan melakukan apa saja, agar bangsa ini tak pernah merdeka selamanya. Kini saatnya perubahan dilakukan. Jangan mundur mesti selangkah! Ingat selalu Pak Prabowo, bukan jabatan Presiden yang menjadi fokus utama, tapi menyelamatkan negara ini ke depan. Jika di bawah SBY selama 10 tahun seperti itu, apalagi Jokowi Cs?

Wal akhiru: apapun hasil dan siapapun yang nanti terpilih, Rabb kita tetap ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, tidak berubah, tidak bergeser. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


10 Hal yang Tidak Dijumpai pada Daulah Nabawiyah

Juli 3, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada baiknya di bulan Ramadhan ini kita mengkaji sedikit tentang karakter Daulah Islamiyah sesuai praktik yang dicontohkan oleh Nabi SAW. Daulah semacam itu bisa disebut Daulah Nabawiyah, karena memang sesuai amanat Kenabian. Atau banyak di antara para aktivis dan dai-dai Islam menyebut dengan istilah: Daulah ‘ala minhaji Nubuwwah (tatanan negara di atas metode Kenabian).

Di sini kami tak akan menyebutkan ciri-ciri Daulah Nabawiyah itu, tapi menyebutkan ciri-ciri perkara yang tidak mungkin ada pada Daulah Nabawiyah. Hal-hal tersebut memang tidak pernah dilakukan oleh Nabi SAW, tidak pernah dilakukan oleh Khulafaur Rasyidin RA, dan tidak pernah menjadi bagian dari Syariat Islam. Jika kita menjumpai hal-hal itu pada sebuah Daulah, berarti ia bukan termasuk Daulah Nabawiyah yang disyariatkan dalam Islam.

Jalan Kebenaran, Bukan Kedustaan.

Jalan Kebenaran, Bukan Kedustaan.

Berikut perkara-perkara yang tidak mungkin ada pada Daulah Nabawiyah:

[1]. Melanggar kesepakatan atau janji yang telah disepakati.

Hal ini tidak pernah terjadi pada diri Nabi SAW. Beliau disebut Al Amin, karena memang memegang amanat, menunaikan janji-janji. Dalam membuat kesepakatan dengan siapapun, beliau selalu memenuhinya, hatta dengan orang kafir. Para ahli sejarah menjelaskan, sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib RA untuk menyerahkan barang-barang titipan orang musyrik Makkah yang dititipkan kepada beliau kepada pemiliknya. Begitu juga ketika beliau mengikat perjanjian dengan Yahudi, kabilah-balilah Arab di Madinah, juga perjanjian Hudaibiyah; beliau tak pernah menciderai janji dan kesepakatan.

Ada kalanya seorang pemimpin mengaku sudah terikat dengan suatu bai’at (perjanjian loyalitas), tapi kemudian dengan mudah mengingkarinya. Bahkan dia membuang begitu saja bai’at itu dan mengajak pendukungnya untuk menghancurkan pimpinan yang semula dia bai’at. Cara demikian bukan ciri pelaksana Daulah Nabawiyah.

[2]. Biasa berdusta di hadapan manusia.

Tegaknya Daulah Islamiyah, salah satunya adalah untuk memantapkan akhlak mulia dan moralitas. Nabi SAW mencontohkan sikap akhlak mulia kepada siapapun. Beliau mengutamakan kejujuran, dan mencela kedustaan; apalagi di hadapan khalayak ramai. Salah satu golongan yang mendapatkan nikmat dari Allah adalah kalangan Ash Shadiqin (selain Anbiya’, Syuhada’, dan Shalihin). Bahkan kita diperintahkan: “Wa kunuu ma’as shadiqin” (hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur). Para ulama menyebut salah satu sifat Nabi SAW sebagai Ash Shidiq. Bahkan Abu Bakar RA juga dijuluki sebagai Ash Shidiq. Dalam riwayat Nabi berkata: “Innal kidzba yahdi ilal fujur wa innal fujur yahdi ilan naar” (sesungguhnya kedustaan itu menuntun kepada kejahatan dan kejahatan itu menuntun ke arah neraka). Daulah Islamiyah menegakkan kejujuran dan memberantas kebohongan.

Tapi ada kalanya suatu kaum begitu mudah berdusta. Dari satu dusta diiringi dusta-dusta yang lain, dan menganggap semua itu bagian dari Syariat. Dia mengklaim tidak mengkafirkan Ummat, padahal jelas-jelas mengkafirkan; dia mengklaim tidak membunuh pejuang, padahal membunuh; dia mengklaim menegakkan Syariat, padahal merusak Syariat; dan seterusnya. Banyak kebohongan-kebohongan yang dihasilkan lewat pernyataan publiknya.

[3]. Mengkafirkan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW tidak mengkafirkan kaum Muslimin, yaitu orang-orang yang telah beriman kepada beliau dan menerima Syariat-nya. Beliau pernah marah besar kepada Usamah bin Zaid RA karena dia telah membunuh seseorang yang telah mengucapkan “Laa ilaha illa Allah”. Hal ini adalah satu petunjuk Syariat, bahwa Islam sangat menghargai keislaman manusia; sekali pun di alam peperangan, karena konteks peristiwa Usamah itu saat perang. Nabi SAW juga tidak mengkafirkan kaum Muslimin di Makkah yang belum hijrah ke Madinah. Tak ada bukti Syariat bahwa orang-orang yang belum hijrah dari Makkah ke Madinah itu divonis kafir. Tidak ada.

Tapi sebagian orang dengan semena-mena memvonis sesama Muslim sebagai kafir, hanya karena yang bersangkutan hidup di negara demokrasi, terlibat politik demokrasi, atau mendukung partai-partai Islam dalam kancah politik demokrasi. Bukan hanya mengkafirkan, mereka juga siap memerangi negara-negara Muslim yang menerapkan sistem politik demokrasi. Tidak lupa, mereka membunuhi rakyat sipil, hanya dengan dasar klaim secara sepihak.

[4]. Membunuhi para pejuang Islam.

Nabi SAW sangat menghargai para pejuang Islam. Banyak sekali hadits-hadits Nabi yang menunjukkan keutamaan para Mujahidin, mati syahid, Jihad Fi Sabilillah. Banyak sekali dan hal itu sudah terkenal di sisi para ulama. Bahkan Nabi SAW memuliakan siapa saja yang berjasa kepada Islam, sekalipun mereka bukan Muslim. Nabi SAW sangat menghargai jasa pamannya, Abu Thalib, atas jasa-jasanya membela Nabi. Beliau juga pernah memuji Muth’im bin Ady, tokoh musyrikin Makkah, yang pernah berjasa memberi perlindungan kepada beliau. Nabi juga memuji Mukhairiq sebagai sebaik-baik Yahudi, karena dia ikut terlibat dalam perang Uhud di pihak Ummat Islam. Begitu juga, Nabi SAW memperbolehkan orang-orang musyrikin Makkah membantu kaum Muslimin dalam perang Hunain, lalu memberi mereka bagian ghanimah. Termasuk ketika Hathib bin Abi Rabi’ah RA melakukan pengkhianatan atas rencana Nabi untuk menaklukkan Makkah, maka beliau memaafkan Hathib dengan asumsi dia pernah terlibat dalam Perang Badar. Demikianlah contoh-contoh sikap Kenabian yang sangat baik dan pemurah kepada para pembela Islam.

Namun di sana, di sebuah negeri yang diklaim sebagai “Daulah Islam”, para elit politiknya begitu mudah memerintahkan anak buahnya menyerang para Mujahidin, merebut markas-markas, menyita harta benda dan senjata, membunuh para pejuang, membunuh pimpinan pejuang dan keluarganya, hatta anak-anaknya yang masih kecil. Katanya, semua itu tuntunan Syariat. Na’udzubillah wa na’udzubillah tsumma na’udzubillah min kulli dzalik. Dari mana mereka mengambil hukum seperti itu? Apakah Islam mengajarkan hal tersebut? Tunjukkan bukti-bukti kebenaran kalian!

Daulah Menjaga Kehidupan Ummat.

Daulah Menjaga Kehidupan Ummat.

[5]. Membunuh utusan perdamaian.

Di antara etika diplomasi dalam Islam, adalah menghormati utusan-utusan, menghormati delegasi-delegasi, menghormati juru runding, menghargai tamu kehormatan. Hal ini selaras dengan etika diplomasi yang diakui hukum internasional modern. Rasulullah SAW tidak pernah membunuh utusan musuh, juru runding, dan sebagainya. Berkali-kali beliau menerima utusan kaum Quraisy ke Madinah, juga utusan Yahudi, kabilah Arab. Tidak ada satu pun yang dibunuh oleh Nabi SAW. Termasuk ketika Abu Sufyan datang ke Madinah, meminta jalan damai, setelah kaum Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiyah; Nabi menjamin keamanan dirinya, sampai pulang kembali ke Makkah. Para utusan itu memang hakikatnya tidak boleh dibunuh.

Suatu perkara yang ajaib. Ketika terjadi konflik antar pejuang Muslim di Irak-Suriah, datang utusan damai dari mujahidin senior, untuk mendamaikan atau mencari solusi. Tetapi sayang, saat berada di suatu tempat di Suriah, utusan itu dibunuh dengan serangan “bom manusia”. Pihak tertentu bersumpah tidak terlibat dalam pembunuhan; tapi saksi-saksi yang ditangkap, mereka menyatakan mendapat perintah dari pimpinan kelompok itu, bahkan menjanjikan hadiah. Dari mana mereka mendapatkan syariat seperti itu?

[6]. Menebar ancaman kepada kaum Muslimin.

Islam disebut sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin karena memang ia berkomitmen menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Dalam Islam tidak dikenal istilah penjajahan, invasi, penindasan, dan semacamnya. Islam menaklukkan wilayah-wilayah, tetapi selalu dilakukan dengan cara-cara kesatria yaitu melalui peperangan yang sama-sama dimaklumi. Nabi SAW menghalalkan perang kepada kaum musyrikin Makkah, karena mereka memang memusuhi Islam dan selalu ingin menghancurkannya. Sebelum Nabi hijrah, kabilah-kabilah Makkah sepakat untuk membunuh Nabi di rumahnya, namun rencana itu digagalkan oleh Allah Ta’ala. Musyrikin Makkah juga memerangi kaum Muslimin di medan Badar dan Uhud, serta mengepung dalam perang Khandaq. Meskipun begitu, tatkala mereka meminta disepakati perundingan damai, Nabi SAW mengulurkan tangan terbuka, sehingga disepakati perjanjian Hudaibiyah. Begitu juga, saat Nabi SAW menaklukkan Makkah, beliau memberikan amnesti kepada penduduk Makkah, kecuali beberapa orang musuh berbahaya Islam. Itulah cara perlakuan Nabi SAW kepada kaum kufar, musyrikin Makkah. Keindahakan akhlak para prajurit Islam juga sangat terlihat ketika panglima Abu Ubaidah bin Jarrah RA berhasil merebut Kota Yerusalem di Palestina yang mayoritas penghuninya Nashrani. Kedatangan para pejuang Islam bukan membuat rakyat Yerusalem ketakutan, justru sangat mensyukuri. Tatkala pasukan harus kembali ke Madinah, kaum Nasrani menangis meminta mereka tidak pergi.

Tapi anehnya, di suatu tempat ada “Daulah Islam” yang selalu menebar ancaman kepada kaum Muslimin lewat pernyataan-pernyataannya. Mereka berniat memerangi seluruh negara-negara di Timur Tengah dan Afrika, baik negara demokrasi maupun kerajaan. Tidak ada yang selamat dari ancaman mereka, selain dirinya sendiri. Mereka berniat melanggar semua batas-batas wilayah dan tak mengakuinya. Mereka berniat membatalkan semua bentuk ikatan loyalitas, organisasi, jamaah, tanzhim, brigade, dan sebagainya. Ini daulah rahmah, atau daulah hakalah?

[7]. Tidak mau tunduk kepada mahkamah Syariat.

Rasulullah SAW adalah pemimpin daulah yang konsisten menegakkan Syariat Islam. Kata Aisyah RA, beliau bisa sabar untuk hal-hal yang bersifat pribadi; tetapi akan bersikap tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran Syariat. Nabi SAW memuji seorang wanita yang telah berzina, lalu meminta diberi hukuman Syariat. Kata Nabi, ampunan bagi wanita itu cukup jika diberikan kepada 70 orang penduduk Madinah. Nabi juga melarang para Shahabat RA memaki seorang Muslim yang berkali-kali dihukum karena minum khamr. Kata Nabi SAW, dalam hati orang itu ada iman. Nabi SAW sendiri sehari-hari bertindak sebagai hakim bagi kaum Muslimin yang bersengketa. Beliau sering diminta putusan atau pendapat atas masalah-masalah yang ada.

Enggan dengan Mahkamah Syariah.

Enggan dengan Mahkamah Syariah.

Namanya Daulah Islam seharusnya pro Syariat, tidak membelakangi Syariat, dan tidak phobia atas keberadaan Mahkamah Syariat yang independen. Tapi suatu kelompok selalu enggan untuk menyelesaikan konflik dengan mengacu ke mahkamah yang netral. Mereka selalu beralasan: “Kami kan sebuah Daulah. Kami bukan jamaah dakwah. Seharusnya mereka yang kami putuskan masalahnya, bukan kami diputuskan oleh siapapun.” Ini cara pandang picik. Bagaimana jika orang-orang daulah itu merugikan kepentingan pihak dari daulah lain? Apakah daulah lain harus tunduk kepada keputusan mereka? Bagaimana jika mereka tak setuju, dengan asumsi khawatir dicurangi oleh pengadilan daulah tersebut? Berarti ini bukan suatu tatanan hukum, tapi tirani.

Misalnya saja, Anda dan keluarga suatu saat mengalami tindak kezhaliman oleh suporter bola. Kendaraan Anda dihancurkan mereka, anak isteri Anda dianiaya sampai terluka. Barang-barang berharga Anda dijarah oleh mereka. Lalu Anda laporkan perampok itu kepada pihak berwajib, sehingga para pelaku ditangkap dan mau diadili. Saat hendak diadili, mereka protes. Mereka berkata: “Kami ini bukan suporter biasa. Kami punya asosiasi suporter yang anggotanya ribuan orang. Kami bukan pribadi-pribadi seperti korban. Kami tidak mau diadili oleh pengadilan netral. Kalau mereka mau, mari meminta keadilan kepada pengadilan yang diadakan oleh kelompok kami.” Coba bayangkan, bagaimana akan tercipta keadilan dengan cara begitu? Bukankah dulu Nabi SAW tatkala berselisih dengan kaum musyrikin Makkah, beliau mau berunding. Begitu juga, Khalifah Ali RA tatkala terlibat konflik dengan Muawiyah RA, beliau juga mau berunding; peristiwa perundingan itu terkenal dengan nama TAHKIM.

[8]. Tidak menghargai ijtihad pihak lain.

Nabi SAW dalam memimpin daulah, sangat menghargai ijtihad manusia. Beliau berkali-kali menerima pendapat Umar bin Khatthab RA. Beliau menerima usulan seorang Shahabat RA terkait strategi dalam Perang Badar. Beliau berunding dengan para Shahabat RA untuk menghadapi serangan kaum kufar Makkah, baik saat Perang Uhud maupun Khandaq. Beliau juga memuji Muadz bin Jabbal RA atas ijtihadnya, sebelum berangkat menjadi gubernur di Yaman. Peristiwa yang sangat terkenal adalah tentang “Shalat Ashar di kampung Bani Quraidhah”. Nabi SAW jelaskan, bagi seorang hakim yang berijtihad, jika benar mendapat dua pahala, jika salah mendapat satu pahala.

Namun ada satu kelompok yang menamakan diri “Daulah Islam” bermaksud membabat semua pendapat-pendapat di tengah kaum Muslimin. Mereka tidak mengakui ada otoritas ilmiah apapun, selain dari diri mereka sendiri. Orang-orang yang berbeda pendapat dianggap melawan daulah, tidak loyal, dituduh sebagai shahawat murtad. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sangat terkenal pernyataan pemimpin mereka ketika menyerang Presiden Mursi dan partai Islam di Mesir, karena mereka terlibat dalam politik demokrasi. Padahal partisipasi dalam politik itu adalah bentuk ijtihad. Dalam kaidah fiqih disebutkan: “Al ijtihadi laa yunqadhu bil ijtihad” (satu ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lain; karena keduanya berkadar sama-sama ijtihad).

[9]. Menyerukan (atau memperparah) perpecahan antar kaum Muslimin.

Salah satu missi besar Daulah Islamiyah adalah menyatukan kaum Muslimin, merapatkan barisan, meminimalisir persengketaan, menubuhkan Jamaah, membangun wibawa Ummat. Banyak dalil-dalil tentang keutamaan persatuan Ummat ini. Nabi SAW sendiri sangat mengutamakan persatuan Ummat. Beliau katakan, kalau ada satu pemimpin sudah dibai’at, lalu datang pemimpin lain yang mengaku dibai’at juga, maka enyahkan pemimpin kedua itu. Beliau juga katakan, bahwa kaum Muslimin melaksanakan shalat jamaah, berhari raya, dan berjihad di belakang seorang Imam; terserah apakah dia adil atau jahat. Jika ada suatu kaum yang membangkang, maka mereka harus ditundukkan agar kembali kepada kesatuan Jamaah. Hingga beliau tegaskan, siapa yang keluar dari Al Jamaah, dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.

Ada suatu kaum yang aktif mengadu-domba antar para pejuang Islam. Satu kelompok pejuang diharapkan bermusuhan dengan kelompok yang lain. Mereka membelah para pejuang Islam atas pilihan mendukung dirinya, atau anti terhadapnya. Mereka menuduh kaum Muslimin yang tidak menerima dirinya, telah keluar dari millah Islam. Saat ini kaum Mujahidin sedunia dirundung masalah besar, konflik internal, yang diakibatkan kelancangan kelompok ini dan keberaniannya dalam mengoyak persatuan kaum Muslimin. Itu baru dari kalangan Mujahidin. Belum lagi kaum Muslimin lain yang pemahamannya jauh berbeda dengan kelompoknya. Mungkin inilah yang dianggap sebagai “barakah sebuah daulah”? Nas’alullah al ‘afiyah.

[10]. Jahil terhadap Syariat.

Tidak mungkin jika Daulah Nabawiyah dibangun di atas kejahilan. Sangat tidak mungkin. Dalam riwayat shahih, Nabi SAW berkata di hadapan 3 orang Shahabat yang baru bertanya bertanya kepada Aisyah RA tentang ibadah beliau. Nabi SAW berkata: “Inni atqakum billah wa ahsyakum lahu, walakin aqumu wa arqud, wa ashumu wa ufthir, wa atazauwajun nisa’, wa man raghiba ‘an sunnati fa laisa minni” (aku ini lebih bertakwa kepada Allah dari kalian dan lebih takut kepada-Nya; meskipun begitu, aku berdiri shalat dan istirahat, aku puasa dan aku berbuka, dan aku menikahi wanita; maka siapa yang membenci Sunnahku, dia bukan bagian dariku). Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi SAW adalah paling berilmu di antara manusia di zaman-nya; bahkan paling berilmu di hadapan semua manusia sesudahnya. Di sini ada kaitan antara ilmu dan rasa takut kepada Allah, seperti disebut dalam Al Qur’an: “Innama yahsyallahu min ‘ibadihil ulama.” Yang membedakan Daulah Islamiyah dengan daulah jahiliyah, adalah faktor ilmu tersebut.

Namun jika suatu kaum jahil dari ilmu, tidak mau tunduk kepada Syariat, dan hanya berhajat kepada fanatisme golongan, merasa kelu untuk menerima kebenaran hanya karena alasan-alasan emosional dan subyektif; serta adanya sifat menghakimi manusia dalam dirinya, yaitu bermudah-mudah menetapkan vonis kafir kepada orang lain; jika demikian adanya, ya tidak ada sesuatu kebaikan yang diharapkan dari urusan seperti ini. Sebaiknya mereka mundur dari urusan BESAR dan SERIUS ini, karena tampaknya mereka tidak mampu mengemban perkara ini. Bukan hanya kekuatan senjata yang dibutuhkan untuk membangun peradaban; tapi juga kekuatan ilmu. Oleh karena itu Allah SWT mensifati Thalut dengan kata: Basthatan fil ‘ilmi wal jism (memiliki keluasan ilmu dan kekuatan fisik); sifat ilmiah didahulukan sebelum sifat jismiyah.

Demikianlah di antara perkara-perkara yang tidak mungkin ada dalam sebuah Daulah Nabawiyah. Maka siapapun yang mengklaim sedang menegakkan Daulah Islamiyah, harus membuktikan kebenaran klaimnya. Kita tidak boleh mendustai manusia, membohongi Ummat, dan memerangkap mereka dalam musibah gelap, perih, sangat menyakitkan. Sebelum segalanya menjadi malapetaka yang bisa berakibat hancurnya Jihad Fi Sabilillah, hancurnya kehormatan para Mujahidin, hancurnya cita-cita Daulah Islamiyah; sebaiknya semua ini diperbaiki terlebih dulu. Jangan mengklaim hal-hal besar, sebelum memenuhi syarat-syaratnya.

Dan terakhir, sebuah diskusi kecil namun sangat penting. Jika di hadapan kita ada dua perkara, kita hanya boleh memilih salah satu saja. Jika kita mengambil satu perkara, maka otomatis kita akan meninggalkan perkara yang lain. Jika kita disuruh memilih antara menegakkan Syariat Islam atau membangun sebuah negara; kita akan memilih yang mana? Sekali lagi hanya satu pilihan, tidak ada dua pilihan atau pilihan tengah-tengah.

Maka yang hakiki di sisi Allah adalah menegakkan Syariat Islam, karena inilah perintah Allah kepada kita semua, yaitu untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun sifat ketaatan itu dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk; bisa berupa sistem pemerintahan, tatanan negara, aturan kelompok, adab keluarga, sifat kepribadian, dan sebagainya. Jika mesti menegakkan sebuah negara, jangan sampai nanti di sana keberadaan negara menjadi sebab rusaknya pelaksanaan Syariat; sebab dalam sejarah Islam kadang terjadi kezhaliman serius terhadap tatanan Syariat, meskipun bentuk negara Islam sudah tercapai.

Kalangan yang pro Syariat sejati, tidak menafikan kebaikan-kebaikan Syariat yang ada di sekitarnya; sekecil apapun itu. Sedangkan kalangan yang “terlalu politis” menjadikan konsep negara (daulah) sebagai inti akidah, ibadah, dan perjuangan mereka. Meskipun banyak melanggar Syariat, kalau tujuannya menegakkan negara, dianggap benar. Justru cara-cara begitu yang akan menjauhkan kita dari tujuan menegakkan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Semoga risalah sederhana ini dapat dipahami dan tertangkap dengan baik. Amin Allahumma amin.

Billahi taufiq wal huda wan nashr. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan yang ada. Wa akhiru da’wana, anil hamdu lillahi Rabbil ‘alamiin.

(Mine).


Kalau Khalifah Itu Benar, maka Dia Harus Diqishash atas Darah Kaum Muslimin dan Pejuang Islam

Juli 3, 2014

Innal hamda lillah, wa bihi nasta’inu ‘ala umurid dunya wad din, was sholatu was salamu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in, amma ba’du.

Baru-baru ini mencuat deklarasi Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah di Irak. Seseorang segera dinobatkan menjadi Khalifah bagi kaum Muslimin. Pengumuman dilakukan melalui siaran video di Youtube. Masalah terbesarnya, sebelum orang ini dinobatkan sebagai Khalifah, tangannya telah berlumuran darah kaum Muslimin di Suriah, dan telah menyebabkan pembunuhan-pembunuhan kejam terhadap para pemimpin dan pejuang Islam di Suriah.

Jika benar telah tegak berdiri Daulah Islamiyah, maka pasti tujuannya adalah untuk menegakkan Syariat Islam itu sendiri; bukan karena ambisi MANIAK POLITIK, yaitu ingin punya label negara Islam tanpa komitmen menegakkan Syariat Islam. Jika mereka berniat menegakkan Syariat, maka terlebih dulu harus dicontohkan kepada diri mereka sendiri. Bukankah Nabi SAW pernah didatangi Usamah bin Zaid RA untuk meminta keringanan bagi seorang wanita mulia yang telah mencuri, lalu Nabi SAW tidak memberi keringanan apapun. Bahkan beliau berkata: “Lau saraqot fathimah ibti Muhammad, la qotho’tu yadaha” (seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya). Rasulullah SAW mencontohkan penegakan Syariat Islam dimulai dari diri dan keluarga beliau terlebih dulu.

"Khalifah" Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

“Khalifah” Tidak Bisa Lari dari Darah Orang-orang Ini.

Maka Khalifah yang baru diangkat itu harus di-qishash atas darah kaum Muslimin yang telah dia tumpahkan, jika benar mereka tulus ingin menegakkan Syariat. Kalau perlu ulama-ulama Islam dari berbagai negara Muslim turut terlibat dalam menuntutnya ke hadapan Mahkamah Islam. Maksudnya, jika semua ini memang tulus untuk menegakkan Syariat di muka bumi.

Mungkin ada yang berkata: “Para pembunuh bukan Khalifah itu sendiri, tapi anak buahnya. Jadi yang layak dihukum adalah anak buahnya.”

Jawabnya adalah: Apakah anak buahnya bisa melakukan pembunuhan, serangan, pengebomam, tanpa instruksi dari komandan-komandannya? Lalu apakah komandan-komandan itu bekerja sendiri, tanpa perintah dari pemimpin tertinggi mereka?

Sikap mereka dalam mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah para pejuang itulah pokok masalahnya. Hal itu jelas-jelas disampaikan melalui pernyataan juru bicara mereka. Salah satunya, dalam pernyataan yang berjudul: “Udzron ya Amir Al Qo’idah.” Bahkan sebelum itu, sang pemimpin jelas-jelas mengecam dan mensyukuri kehancuran Muhammad Mursi di Mesir, karena mereka terlibat dalam politik demokrasi. Ini adalah perkara-perkara yang disaksikan kaum Muslimin secara luas; disaksikan oleh kawan dan lawan, Muslim dan kafirin.

Seseorang yang didaulat sebagai Khalifah itu tidak bisa cuci tangan. Dia harus bertanggung-jawab atas tumpahnya darah kaum Muslimin, pembunuhan atas para pejuang Islam, dan terjadi konflik antar kaum Muslimin baik di Suriah maupun di Irak.

Banyak orang mengira, dengan telah menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah, mereka bisa bebas melakukan apa saja kepada umat manusia, bebas menuntut loyalitas penuh, bebas mengambil hak-haknya. Ini adalah prasangka yang sangat buruk. Jika demikian, berarti Daulah/Khilafah adalan instrumen untuk menindas manusia. Padahal sebaliknya, dengan menegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah berarti mereka telah mengambil alih seluruh tanggung-jawab kehidupan kaum Muslimin. Di hadapan Khilafah Islamiyah yang syar’i, Ummat Islam boleh meminta apa saja kepada Khalifah, sekali pun hanya meminta sebuah jarum. Jika dia tak memberikan, harus diberikan penjelasan tentang udzur-nya. Jika ada satu masalah, sekalipun hanya seseorang tertusuk duri, dia boleh mengadukan masalahnya ke Khalifah. Karena memang fungsi Daulah/Khilafah adalah pelayan dan perlindungan kehidupan bagi kaum Muslimin. Dan satu lagi yang penting, mereka harus mulai memberlakukan Syariat Islam itu pada diri mereka dan keluarganya terlebih dulu.

Sebagian kaum Muslimin telah menegakkan sistem Islam secara otonom dalam skala terbatas, seperti Imarah Thaliban, Imarah Kaukasus, Kerajaan Saudi, Kerajaan Qatar, Kerajaan Brunei, dan sebagainya. Mereka tidak menuntut bai’at kaum Muslimin dan tidak memaksakan, karena mereka paham konsekuensinya. Dengan berani menerima bai’at, berarti berani menanggung segala hajat kehidupan orang-orang yang membai’at. Jika seorang Khalifah tidak memenuhi hak-hak orang yang membaiat ini, maka dia telah menzhalimi mereka, dan tidak akan mencium wangi surga.

Jika mereka tidak mengerti hal-hal seperti ini, maka bisa dikatakan: “Mereka suka bermain-main dengan istilah besar, tetapi tak mau memenuhi syarat-syaratnya.” Kami sendiri meyakini, Khilafah seperti ini telah dimulai dengan cara yang salah, yaitu menghalalkan darah kaum Muslimin; maka perkara demikian akan terus menyandera urusan orang-orang ini.

Nyawa Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Nyawa Pejuang Muslim Menjadi Tontonan dan Kebanggaan.

Seharusnya kaum Muslimin berfokus di Suriah, dan lupakan segala fitnah yang merebak di Irak. Anggap saja semua itu tidak pernah ada, lalu jadikan sebaik-baik pelajaran agar tidak terulang. Perlu diketahui, secara teori Basyar Assad sudah kalah. Seluruh hasil-hasil capaian rezim Assad telah runtuh dan nama baik keluarga Assad telah hancur di mata rakyat Suriah dan dunia internasional. Posisi Basyar saat ini hanya simbol belaka, sedangkan yang memperpanjang usia rezim ini adalah kekuatan-kekuatan dari luar, seperti Iran, Libanon, Rusia, dan China.

Sejak awal kekuasaan Daulah itu sudah salah. Mereka ingin menegakkan Syariat dengan cara menghalalkan kezhaliman atas kaum Muslimin (yang tidak mendukung pandangan-pandangan mereka). Jika kita mendukung perkara seperti ini, berarti ikut berserikat dalam menghalalkan hak-hak kaum Muslimin. Padahal Nabi SAW jelas-jelas telah mengatakan: “Al muslimu akhul muslimi, haromun damahu wa maalahu wa ‘irdhuh” (seorang Muslim menjadi saudara Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya).

Apa hukumnya bagi siapa saja yang menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan; dan mengharamkan apa-apa yang telah Allah halalkan? Mereka halalkan darah dan harta Ummat; serta mengharamkan persaudaraan, kerjasama, bantu-membantu antar sesama Muslim. Jika demikian, apakah mereka itu pro Syariat atau pro thaghut? Bukankah thaghut adalah siapa saja yang ditaati untuk menentang Syariat Nabi SAW?

Menegakkan kebenaran itu sangat tidak mudah. Ada beribu was-was yang menimpa hati manusia setiap mereka ingin melangkah mendekati kebenaran. Mereka punya 1001 alasan untuk menolak sumber kebenaran, dengan alasan-alasan yang tidak syar’i di sisi Allah. Tetapi bagaimanapun juga kebenaran harus disampaikan, tidak disembunyikan. Ibnu Mas’ud RA tatkala menjelaskan makna Al Jamah, beliau berkata: “Maa wafaqol haqqo wa in kunta wahdak” (apa saja yang selaras dengan kebenaran, meskipun engkau hanya seorang diri). Kebenaran meskipun sedikit pendukungnya berfaidah bagi kelangsungan kehidupan Ummat, daripada kesalahan yang didukung banyak orang tapi mengancam kehidupan Ummat.

Wallahu a’lam bisshawab.

(Abu Halimah).


Membaca Secara Jeli Sebuah REALITAS

Juni 25, 2014

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Anda pernah menyaksikan sebuah film militer, Black Hawk Down. Cerita tentang sebuah kesatuan elit Amerika yang diterjunkan untuk menculik pemimpin politik Somalia, Farah Aidit. Namun dalam praktiknya pasukan elit itu kocar-kacir dan banyak terbunuh. Hingga akhirnya diterjunkan tim lain, bukan untuk tujuan lain, tapi menyelamatkan kesatuan elit yang sudah terjebak di lapangan itu.

Tapi ada satu hal menarik dari film ini, yaitu penggunaan fasilitas satelit dan pantauan video jarak jauh, untuk memandu pergerakan pasukan. Hal itu dilakukan oleh jendral Amerika sebagai pimpinan di markas militer. Dalam pantauan itu bukan hanya pergerakan pasukan Amerika yang kelihatan, bahkan pergerakan para pejuang Somalia dan rakyatnya juga terpantau dengan jelas. Dengan demikian si jendral bisa memberikan arahan strategis bagi pasukannya untuk menghindari bahaya serangan pejuang Somalia.

Yang kami maksudkan di sini adalah: setiap pergerakan pasukan bersenjata, dalam jumlah besar, ketika menyerang sesuatu, hal itu bisa terpantau dengan baik melalui satelit. Meskipun pergerakan itu dilakukan saat malam hari. Karena radar yang digunakan sangat peka dengan logam dan bentuk-bentuk persenjataan.

Maka itu adalah sebuah keheranan ketika ribuan pasukan, ada yang mengatakan sampai 2000 pasukan dari kalangan tertentu menyerbu kota-kota di Irak, hal itu dibiarkan saja oleh Amerika. Atau tidak dilakukan antisipasi yang memadai. Ini sangat mengherankan. Sekalipun malam hari, pergerakan pasukan itu bisa terlihat lewat pantauan satelit militer. Kalau tak percaya, pikirkan satu fakta ini: gerakan pesawat yang jauh di angkasa sana, ketika masuk wilayah suatu negara, ia bisa terdeteksi. Itu fakta! Padahal pesawat itu kecil, dan di ketinggian, bahkan malam hari.

Maka kemenangan suatu kelompok tertentu di Irak, bisa dipahami sebagai realitas yang digunakan oleh Amerika untuk menekan monarkhi-monarkhi Arab. Maksudnya, Amerika membutuhkan suatu ancaman bagi monarkhi-monarkhi itu, agar mereka bisa menawarkan paket kerjasama pengamanan. Ya begitulah kira-kira!

Obama Sedang Menjalankan Tugas MARKETING

Obama Sedang Menjalankan Tugas MARKETING

Semoga kita lebih cerdas dan jeli dalam melihat suatu realitas. Jangan mudah terkecoh oleh hal-hal permukaan yang tampak bombastik, karena -kalau membaca sejarah- kemenangan itu jarang terjadi secara mudah. Semoga bisa memahami. Amin.

(Admin).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.