Bencana Alam di Negeri Muslim

November 22, 2010

PERTANYAAN:

“Kalau benar bencana alam itu terjadi karena dosa-dosa manusia, mengapa di negeri Muslim seperti Indonesia ini sering terjadi bencana alam? Mengapa negeri-negeri kafir justru jarang tertimpa bencana alam? Mohon dijelaskan!”

JAWABAN:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

[1] Bencana alam terjadi di berbagai negara, baik yang Muslim atau negara non Muslim. Contoh, di Jepang kerap terjadi gempa bumi, di China kerap terjadi banjir; di India, Srilangka, Filipina juga terjadi banjir. Di Yunani, Fuji, dan Iran juga terjadi gempa bumi. Di Amerika ada badai Catherina, badai Rita, badai Tornado, banjir, dan juga hawa panas menyengat. Belum lagi bencana seperti gunung meletus, tanah longsor, salju longsor, kebakaran hutan, dll. Jadi bencana alam tidak melulu di negeri-negeri Islam, di negeri non Muslim juga sering.

[2] Landasan pokok untuk memahami perkara ini adalah: “Wa lau anna ahlal qura amanu wat taqau la fatahna ‘alaihim barakaa-tin minas sama’i wal ardhi, wa lakin kad-dzabu fa’akhad-nahum bima kanu yaksibun” (dan seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka karena amal perbuatannya. Al A’raaf: 96). Intinya, kebaikan akan dibalas kebaikan, dosa-dosa akan dibalas siksa.

[3] Balasan bagi dosa manusia tidak selalu berupa bencana alam. Bisa pula berupa hal lain seperti konflik berdarah, peperangan besar, penindasan, kejahatan, penjajahan, kemiskinan, kelaparan, kehancuran moral, hilangnya kebahagiaan, dll. Bencana alam hanya satu di antara instrumen balasan atas dosa-dosa manusia.

Akibat Amukan Bencana.

[4] Pada awalnya alam itu baik, stabil, harmoni. Tidak ada alam yang kejam, bengis, atau senang menyengsarakan manusia. Hanya ketika dosa-dosa manusia sudah tak tertahan, alam bereaksi. Itu pun hanyalah reaksi kecil dibanding kekuatan alam sendiri. Andaikan alam mengerahkan kekuatannya untuk menyerang manusia tanpa henti, tidak akan ada yang eksis di muka bumi ini.

[5] Perbuatan-perbuatan manusia yang bisa mengundang datangnya bencana alam, misalnya: kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan; kezhaliman hukum, penindasan terhadap orang-orang lemah, korupsi dan pengkhianatan amanah, perbuatan zina, selingkuh, praktik ribawi, sikap bakhil, rasialisme, dll. Meskipun negeri Muslim, kalau perbuatan-perbuatan jahat tersebut subur, dijamin akan panen bencana.

[6] Perbuatan-perbuatan manusia yang bisa menolak bencana alam, misalnya: keimanan, ketakwaan, dan keshalihan; sikap adil dalam hukum; melindungi kaum lemah dan dhuafa’; birokrasi yang bebas korupsi; amanah-janji yang dilaksanakan; sikap dermawan kepada orang lemah (ingat, sedekah menolak bencana), sikap baik kepada binatang dan alam lingkungan, dll. Di negeri kafir sekalipun, kalau disana ditegakkan hal-hal yang baik, maka hal itu bisa menjadi penolak bala.

[7] Kadang orang kafir tidak segera dihukum atas dosa-dosanya. Dosa mereka dibiarkan dikumpulkan dulu sampai banyak. Kalau sudah sempurna, mereka baru dibinasakan sampai ke akar-akarnya (Al An’aam: 44-45). Inilah yang dikenal sebagai istidraj (diangkat berangsur-angsur, sebelum dihancurkan).

[8] Sungguh aneh kalau melihat keadaan negeri-negeri Muslim, misalnya Indonesia. Katanya ini negeri Muslim, tetapi kekafiran, kemusyrikan, dan kesesatan merajalela dimana-mana. Praktik ribawi dihalalkan, perzinahan dihalalkan, pelacuran diperbolehkan, perjudian diperbolehkan. Korupsi marak dimana-mana, sejak level RT sampai level Kepresidenan. Kezhaliman, penindasan, kesewenang-wenangan kepada fakir-miskin, terjadi dimana-mana. Mafia hukum, jual-beli hukum, kecurangan hukum terjadi tanpa malu-malu. Kerusakan moral, kerusakan adab, budi pekerti mati; yang ada hanyalah egoisme, sikap kasar, dan miskin rasa malu. Kadang kita bertanya-tanya, “Ini negeri Muslim atau negeri kafir? Kok perilaku rakyat negeri ini lebih keji dan biadab daripada orang-orang di negeri kafir?”

[9] Kalau bagi warga Muslim, bencana alam bisa menjadi penggugur dosa-dosa. Tetapi bagi negeri kafir, bencana merupakan siksa dan kehinaan. Sebelum nanti mendapat siksa Akhirat yang lebih perih lagi.

[10] Setiap perbuatan dosa manusia ada balasannya. Hanya saja, balasan itu tidak seketika diberikan, atau semacam mengikuti selera kita. Allah lebih tahu tentang bencana yang mesti diturunkan. Kekafiran dan kedurhakaan negeri-negeri kafir tidak akan dibiarkan. Semua dosa-dosa mereka diakumulasikan. Bila skor-nya sudah cukup, bila pintu-pintu tolak bala sudah tidak ada, maka bencana itu pun akan datang dengan tiba-tiba. Tanpa perlu permisi kepada manusia sedikit pun.

[11] Kadang Allah tidak segera menghukum suatu negeri kafir, karena di kemudian akan lahir anak-cucu mereka yang lebih baik, beriman, dan beramal shalih. Atau bisa juga bencana itu ditangguhkan, karena Allah ingin menyempurnakan nikmat atas negeri-negeri kafir. Bisa jadi, selama ratusan tahun mereka berjuang, bekerja keras, dan membangun. Jerih-payah itu akan diberi imbalan di dunia. Salah satu imbalannya, mereka dihindarkan dari bencana alam. Tetapi kalau imbalannya sudah habis, bencana pun akan mendatangi rumah-rumah mereka.

Allah Maha Adil, Dia menurunkan bencana dengan ukuran-ukuran yang sangat teliti. Karena dosa-dosa manusia maka terjadi bencana alam. Meskipun akibat perbuatan dosa tidak selalu dibalas dengan bencana alam. Allahu A’lam bisshawaab, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

Kapan Momentum Kemenangan Islam?

November 22, 2010

ARTIKEL 09:

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Ada sebuah kesalahan pemikiran besar yang melanda gerakan-gerakan perjuangan Islam selama ini, baik di tingkat Indonesia maupun dunia. Hal ini berkaitan dengan masalah besar, yaitu momentum kemenangan Islam.

Selama ini banyak gerakan Islam, jamaah dakwah, partai Islam, organisasi, lembaga, yayasan, dll. yang berjuang di bawah bendera Islam. Semua berjuang demi kemenangan Islam. Semua menjanjikan kepada para anggotanya, “Insya Allah, perjuangan ini akan mencapai kemenangan. Allah bersama kita, Dia akan menolong kita meraih kemenangan.” Tetapi ketika ditanya, “Kapan kemenangan Islam itu akan tercapai?” Sebagian besar tidak bisa memberikan jawaban tegas. Jawabannya rata-rata mengambang, tidak pasti, spekulatif, atau penuh prasangka.

Ketika seorang Muslim secara ikhlas bertanya, “Ustadz, kita telah sekian lama berjuang. Sebenarnya perjuangan ini akan kemana? Kapankah kita mendapatkan kemenangan seperti yang sering Ustadz gambarkan itu?”

Jawaban yang sangat umum diberikan, antara lain:

§ “Sabarlah Akhi. Perjuangan itu tidak mudah. Butuh kesabaran panjang. Kemenangan tidak bisa diukur dengan usia generasi. Mungkin saja di generasi kita belum tercapai kemenangan. Nanti di generasi anak-cucu kita, bisa jadi kemenangan itu akan tercapai.”

§ “Berhati-hatilah, wahai Akhi! Anda sudah terpengaruh pemikiran-pemikiran isti’jal (buru-buru ingin cepat menang). Padahal Nabi Saw sudah mengingatkan, agar kita tidak isti’jal. Kita harus sabar menanti, sabar, dan terus bersabar. Tidak mengapa kita bersabar menanti, sampai Hari Kiamat terjadi. Bukankah orang shabar dicintai Tuhan?”

§ “Bisa jadi kita akan mencapai kemenangan setelah berjuang selama 50 tahun, atau 100 tahun, atau 300 tahun, atau 500 tahun, bahkan bisa jadi 1000 tahun lagi. Berdoalah supaya Anda panjang umur, sehingga bisa melihat kemenangan pada 1000 tahun ke depan. Oke?”

"Islam Bukan Agama UTOPIA!"

§ “Anda tidak usah bertanya, kapan kemenangan itu akan tercapai? Tugas kita bukan mencapai kemenangan. Tugas kita hanya beramal, beramal, beramal thok. Pokoknya, hapuskan impian kemenangan dari otak kita. Muslim yang baik, dia tidak punya obsesi kemenangan. Dia cukup beramal dan beramal saja. Diberi kemenangan syukur, tidak diberi kemenangan sabar. Mudah kan?

§ “Anak-anak muda selalu terburu-buru. Mereka ingin cepat-cepat memetik hasil. Terburu-buru itu adalah sifat syaitan, jangan diikuti. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Siapa yang tergesa ingin memetik hasil, dia akan dihukum dengan ketidak-sempurnaan hasil yang dicapai.” Perjuangan ini harus dijalani dengan penuh kesabaran. Mungkin, kita butuh waktu antara 5000 sampai 6000 tahun untuk mencapai kemenangan. Ketika kemenangan itu tercapai, bisa jadi diri kita sudah menjadi debu-debu yang berterbangan di angkasa.”

§ “Inti perjuangan kita ialah membina tauhid. Bina tauhid terus-menerus. Jangan pikirkan apapun, selain tauhid. Kalau tauhid sudah bersih dan murni, nanti kemenangan akan datang sendiri. Persoalan tauhid itu apa, bagaimana sifatnya, bagaimana batasannya, bagaimana cara mencapainya? Tidak usah dipikirkan, yang penting ngomong saja tauhid, tauhid, dan tauhid.”

Pemikiran-pemikiran seperti itu telah mendominasi sebagian besar pemikiran gerakan-gerakan Islam. Baik aktivis, dai, ustadz, tokoh ormas, syaikh, doktor Islam, dll. rata-rata terpaku oleh pemikiran-pemikiran seperti itu. Padahal kalau jujur, pemikiran-pemikiran seperti itu TIDAK ISLAMI, tidak memiliki landasan kuat dalam khazanah keislaman, bahkan mencerminkan pendapat yang mengandung kebohongan dan penyesatan. Sudah seharusnya pandangan-pandangan seperti itu direvisi dengan yang lebih baik, dan lebih sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Di bawah ini adalah bantahan tegas terhadap pemikiran-pemikiran seperti di atas. Semoga paparan ini –dengan ijin Allah- bermanfaat bagi Ummat. Amin.

[1] Islam adalah ajaran agama yang jelas, nyata, dan kongkrit. Dalam Al Qur’an, Islam disifati sebagai al huda, al ‘ilmu, al bashirah, an nuur, al baiyinah, al haqqul mubin, al furqan, dll. Dalam hadits, Rasulullah Saw menyebut Islam dengan ungkapan al baidha’ (lentera yang terang). Di awal Surat Al Baqarah disebut, “Dzalikal kitabu laa raiba fihi.” Semua itu mencerminkan sesuatu yang jelas, pasti hasilnya, nyata pengaruhnya, terarah prosesnya. Islam bukanlah agama gambling, spekulatif, penuh praduga. Islam itu pasti, jelas, dan nyata.

[2] Momen kemenangan yang mengambang, tidak jelas, atau digantungkan sampai ratusan tahun, bahkan ribuan tahun; hal itu membuat kaum Muslimin berkesimpulan bahwa Islam adalam agama UTOPIA, agama mimpi-mimpi belaka, agama “menara gading”. Ini adalah tidak benar. Ini adalah fitnah besar terhadap Islam. Setidaknya, dalam 3 ayat Al Qur’an disebutkan, “Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda wa dinil haqqi li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi” (Dialah Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk Dia menangkan agama itu atas segala macam agama manusia). Ayat ini sangat tegas membantah anggapan bahwa Islam itu utopia. Kesan utopia muncul karena kesalahan dari pemikiran-pemikiran seperti di atas.

[3] Dalam berbagai kesempatan, kaum Muslimin diingatkan agar berhati-hati dalam masalah waktu. Kita harus menghargai waktu, jangan buang-buang waktu. Kehidupan harus ditata dengan cermat, dengan perhitungan waktu yang teliti. Sampai ada ungkapan, “Al waqtu kas saif, in lam taq-tha’hu faqatha-aka” (Waktu itu seperti pedang, kalau engkau tidak mempergunakannya, engkau akan dipotong oleh waktu itu). Adalah suatu hal yang aneh. Dalam segala urusan kita menekankan pentingnya menghargai waktu. Tetapi saat bicara masalah sangat krusial, yaitu momen kemenangan Islam, seolah semua orang ingin membuang-buang waktu sesuka hati. Bukankah semakin lama perjuangan digulirkan, semakin panjang proses dijalani, berarti semakin besar energi kehidupan yang dikeluarkan? Apakah semua itu bukan pemborosan dalam kehidupan seorang Muslim?

Baca entri selengkapnya »


Barakah Kehidupan Tauhid

November 22, 2010

ARTIKEL 08:

Beberapa tahun lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah Umrah. Itu adalah Umrah pertama yang saya ikuti. Hal ini berkat jasa baik seorang pengusaha Muslim di Jakarta. [Semoga Allah Ta’ala membalas jasa beliau berlipat ganda, memberkahi keluarganya, menolong usahanya, serta memberikan jalan keluar atas kesulitan-kesulitannya. Allahumma amin].

Disini saya ingin membagi sedikit sekali pengalaman Umrah tersebut, khususnya dari sisi pengalaman-pengalaman spiritual. Oh ya, saya tidak akan menyebut pengalaman spiritual saat di Masjid Nabawi, di Masjidil Haram, saat di depan Ka’bah, dll. Justru saya akan menyebut beberapa pengalaman spiritual di luar situs-situs ibadah Islami tersebut. Ada beberapa hikmah pelajaran yang layak direnungkan.

Mari kita buka satu per satu…

[1] Saat mendarat di Bandara King Abdul Aziz di Jeddah, waktu ketika itu sekitar pukul 01.00 dini hari. Semua penumpang harus mengikuti proses boarding terlebih dulu. Proses boarding mungkin memakan waktu sekitar 1 jam. Maklum, jamaah yang bersama kami ketika itu ada ratusan orang (termasuk dari biro perjalanan Umrah lain). Satu hal yang saya catat disini, aparat-aparat imigrasi di bandara Jeddah ini bekerja secara konsisten, dengan pelangaran aturan keimigrasian sangat kecil. Mereka konsisten dalam soal aturan. Tidak pandang bulu, berhadapan dengan siapapun. Tingkat kedisiplinan aparatur Saudi ini sudah dikenal. Justru yang kurang bagus ialah elit-elit pejabat mereka.

[2] Setelah tiba di Jeddah, kami mulai perjalanan ke Madinah melalui jalan tol. Jauh jarak bisa mencapai 400 km. Kalau tidak salah, perjalanan non stop memakan waktu sekitar 6 jam. Jalan tol di Saudi gratis, bahkan bensin pun dijual dengan harga sangat murah. Lebih mahal dari air minum di negeri kita. Dalam perjalanan bis di saat malam itu, saya hanya kuat bertahan beberapa lama. Selebihnya lelap dalam tidur. Dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa selama perjalanan itu. Padahal perjalanan malam, berjam-jam, kecepatan bis luar biasa. Kalau di tol Cikampek, yang jaraknya tidak sampai 100 km, sering terjadi kecelakaan, karena sopir kerap ngantuk.

[3] Dalam perjalanan antara Jeddah-Madinah itu, rombongan kami berhenti di tengah jalan untuk menunaikan Shalat Shubuh. Disana ada masjid transit yang telah disediakan oleh Pemerintah Saudi. Suasana pagi itu terasa sangat mempesona, langit mulai terang, angin semilir berhembus. Jamaah-jamaah dari negara lain juga Shalat disana. Saya perhatikan wanita-wanita Turki dengan jubah khas dan model kerudung bercorak melaksanakan ibadah dengan khidmat. Mereka tampak serius, tetapi tidak tergambar wajah tegang disana. Nuansa pagi itu terasa luar biasa. Rasanya 1 dari 1000 kemungkinan hal seperti itu bisa kita jumpai di negeri kita. Ia menjadi salah satu kenangan spiritual besar yang pernah saya rasakan.

[4] Satu hal yang saya rasakan istimewa ketika menjalani perjalanan Umrah itu. Selama di Saudi, makanan-minuman rasanya begitu melimpah. Dimana-mana kita dengan mudah bisa mendapatkan makanan. Saat masih di bis, saat di hotel, saat di luar masjid, bahkan saat masih di Saudi Airlines, makanan sangat melimpah. Hal ini juga dirasakan oleh berjuta-juta jamaah Haji Indonesia yang sudah menunaikan Haji sejak jaman dulu. Perkara makanan, di Saudi tidak ada problem sama sekali. Orang-orang yang dermawan banyak, dan mereka tidak hitung-hitungan untuk berbuat amal kebajikan. Maka itu banyak orang Indonesia nekad menjadi pendatang illegal di Saudi karena disana untuk urusan makan, sangat mudah.

"Disini Melimpah Rizki dan Barakah. Alhamdulillah."

[5] Kalau saya perhatikan masyarakat Saudi cenderung tenang, tidak berisik, tidak bising. Saya tidak pernah mendengar ada toko-toko yang memutar musik berisik, apalagi musik menghentak. Nyaris kehidupan sosial di Saudi berjalan minus musik dan jingkrak-jingkrak. Minus tingkah wanita hedonis dan liberal. Bahkan saya jarang melihat orang-orang Saudi nongkrong bareng, ngobrol rame, atau bercanda-canda. Berkali-kali saya berusaha mencari orang yang sedang membaca koran, atau mendengar radio, tetapi sulit menemukan. Di balik itu semua, ternyata kehidupan sosial di Saudi cenderung tenang, damai, tidak berisik oleh gerakan-gerakan politik yang meletihkan dan membingungkan.

[6] Di beberapa ruas jalan di Makkah, menuju komplek Masjidil Haram As Syarif, banyak ditemukan pengemis-pengemis kulit hitam (kerap disebut kaum Taqrani). Mereka ada yang cacat, ada juga yang kelihatan normal. Kalau pengemis wanita, tetap memakai abaya hitam-hitam, dan cadar. Pernah ada seorang pengemis kecil berteriak-teriak, “Ya Aloh, ya Aloh, ya Aloh,” sambil menggeleng-gelengkan kepala. [Sengaja ditulis “Ya Aloh” bukan “Ya Allah” atau “Ya Alloh”. Karena memang yang terdengar di telingan “Ya Aloh”]. Orang-orang pun segera memandang ke arah pengemis kecil itu. Eee, ternyata dia sedang asyik menggeleng-gelengkan kepala, dengan tidak peduli kepada orang-orang yang lewat. Ternyata, kata-kata “Ya Aloh, ya Aloh” itu hnya untuk menarik perhatian orang saja. Saya hanya tersenyum kalau ingat bocah kecil itu. Saudaraku, perlu Anda tahu, Kota Makkah sangat terbuka bagi siapapun yang ingin berlindung di dalamnya. Kota Suci ini memberi naungan kepada banyak sekali orang-orang malang dan lemah, dari negara-negara miskin di Afrika, Bangladesh, Pakistan, India, bahkan dari Indonesia.

Baca entri selengkapnya »


Mengapa Bangsa Indonesia Membenci Islam?

November 22, 2010

ARTIKEL 07:

Kemalangan terbesar bangsa Indonesia, ialah ketika mereka beragama Islam, tetapi tidak mengerti kekuatan besar yang dimiliki agamanya. Bahkan yang lebih parah lagi, mereka hidup dengan memendam kebencian besar kepada ajaran Islam dan orang-orang yang berusaha memperjuangkannya.

Masyarakat Indonesia bisa diibaratkan seperti orang-orang dusun di pelosok terpencil, yang diberi hadiah mobil sedan Mercy seri terbaru. Mobilnya luar biasa, sangat canggih, merupakan inovasi teknologi paling mutakhir. Sayangnya, mobil mewah itu tidak bisa dipakai apa-apa. Jangankan dioperasikan, orang-orang dusun itu bahkan tidak pernah melihat mobil sedan. Bagaimana akan merasakan canggihnya Mercy, kalau melihat saja belum. Akhirnya, mobil itu pun hanya dielus-elus saja, setiap pagi dan sore. Malah ada yang dimandikan bersama domba-domba.

ISLAM: Anugerah Agung yang Disia-siakan Bangsa Indonesia!

Buruknya kehidupan masyarakat Indonesia selama ini menjadi BUKTI besar, bahwa mayoritas rakyat negeri ini tidak mengerti ajaran Islam. Andaikan mereka mengerti dan mengamalkan, mustahil hidupnya akan terhina.

Ajaran Islam bukan hanya memiliki sekian banyak nilai-nilai yang agung, tetapi ia juga sangat menakutkan bagi ideologi kapitalisme Barat. Tidak ada ideologi apapun yang begitu menakutkan Barat, selain Islam. Mereka sudah mempelajari sejarah kegemilangan peradaban Islam selama ribuan tahun. Tidak aneh kalau Barat membuat studi orientalisme, dalam rangka menjelek-jelekkan citra Islam, dan menyesatkan pandangan manusia terhadap Islam.[1]

Andaikan bangsa Indonesia tahu keagungan agama yang dipeluknya selama ini, niscaya mereka akan sangat malu ketika sekian lama meninggalkan Islam, mengabaikan Islam, melecehkan Islam, apalagi memusuhi Islam. Banyak tokoh-tokoh Barat yang secara kesatria mengakui keagungan Islam. Bahkan Mahatma Gandhi pun tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada agama ini.[2] Hanya orang-orang berwawasan minus saja yang akan meremehkan Islam.

Disini akan kita bahas sedikit bukti-bukti keagungan ajaran Islam. Saya menyebutnya 21 Sifat Mulia ajaran Islam. Semua sifat-sifat ini sangat dibutuhkan bangsa Indonesia agar bangkit dari keterpurukan. Bahkan sifat-sifat itu mencerminkan keunggulan Islam atas sistem apapun yang dikenal manusia.

[1] Islam adalah agama yang anti korupsi. Ini adalah jelas dan tidak diragukan lagi. Islam menentang pengkhianatan, kecurangan, penyalah-gunaan wewenang untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok. Dalam hadits disebutkan, “Allah melaknat seorang penyuap dan yang disuap.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dll).

[2] Islam adalah agama yang anti penindasan ekonomi. Jangankan penindasan, monopoli orang-orang kaya dalam distribusi ekonomi, juga dilarang dalam Islam. Adanya instrumen Zakat ialah salah satu cara untuk mengatasi monopoli kekayaan tersebut. “Agar harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya kalian saja.” (Al Hasyr: 7). Islam juga anti praktik rentenir (ribawi), perjudian, penipuan yang menyebabkan kezhaliman ekonomi.

[3] Islam menentang kezhaliman. Ini sangat jelas. Kezhaliman adalah perbuatan haram, penyebab kegelapan di dunia dan Akhirat. Islam menentang segala bentuk kezhaliman baik yang nyata maupun samar. “Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun tersembunyi.” (Al An’aam: 151).

[4] Islam menentang penjajahan. Penjajahan adalah puncak kezhaliman manusia. Langit dan bumi tidak akan tenang, selama masih ada penjajahan. Islam menentang semua itu. “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil, berbuat ihsan, memberi karib-kerabat, mencegah kalian berbuat keji, munkar, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian mengambil pelajaran.” (An Nahl: 90).

[5] Islam anti fanatisme kesukuan. Islam menghargai dan mengakui eksistensi keragaman suku dan etnis. Tetapi Islam melarang sikap rasialis, penindasan terhadap etnis, serta fanatisme kesukuan berlebihan. Tidak ada etnis apapun yang lebih mulia, selain karena kualitas takwanya. “Sesungguhnya semulia-mulia kalian di sisi Allah, ialah yang paling takwa dari kalian.” (Al Hujurat: 13).

Baca entri selengkapnya »


“WTC 911” dan Missi Dajjal

November 20, 2010

(Edited Version).

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Peristiwa Tragedi WTC 11 September 2001, menyisakan rentetan panjang penderitaan manusia yang luar biasa. Bukan hanya ribuan korban yang hancur terbakar, jatuh, atau tertimbun kejamnya material reruntuhan WTC. Namun miliaran Ummat Islam juga menderita akibat peristiwa itu. Tragedi WTC menghalalkan kaum Muslimin diperangi atas nama “war on terror” yang dikomandoi oleh George Bush dan kawan-kawan.

Peristiwa itu sendiri terjadi di WTC New York, pada tanggal 11 September 2001. Kalau disingkat, WTC 119; 11 adalah tanggalnya, dan 9 adalah bulannya. Dalam ejaan Inggris, bulan ditulis lebih dulu, sehingga menjadi 911 (nine one one). Sehingga peristiwa itu kerap disebut “WTC nine one one”. Dan kebetulan kode 911 merupakan kode panggilan darurat yang berlaku di Amerika. Begitu populernya istilah ini, sampai ada “Nanny 911”; untuk menunjukkan kepada karakter seorang Nanny (pengasuh anak) yang siap dipanggil kapan saja, untuk menangani kasus-kasus kenakalan anak yang sudah mencapai taraf darurat.

Istilah “WTC 911” itu bukan main-main. Ia bukan peristiwa biasa, ia bukan aksi terorisme biasa, ia bukan tragedi biasa. “WTC 911” adalah sebuah ICON gerakan besar yang dikembangkan di awal abad 21. Ia adalah simbol atau kode bagi Zionisme internasional untuk menenggelamkan dunia dalam perang anti terorisme yang mereka rancang. Khususnya, “WTC 911” adalah missi internasional untuk memerangi kebangkitan kaum Muslimin melalui isu terorisme. Ini adalah sandi, kode, atau icon gerakan Zionisme internasional.

Sebagai orang beriman, kita menolak Tragedi WTC 11 September 2001 itu, dan lebih menolak lagi ketika tragedi itu dijadikan alasan untuk memerangi kaum Muslimin di seluruh dunia. Ada setidaknya 4 alasan untuk menolak missi “WTC 911”, yaitu:

[1] Ummat Islam secara mutlak harus menolak, menentang, atau mengingkari agenda-agenda yang diciptakan oleh Zionisme internasional dalam rangka menciptakan penindasan di muka bumi. Agenda demikian tidak boleh diberi toleransi.

[2] Perang terhadap Islam dan kaum Muslimin adalah kezhaliman berat dan merupakan kebiadaban yang tidak bisa diterima oleh ajaran Islam. Menerima perang seperti itu sama saja dengan membunuh agama sendiri.

[3] Tindakan terorisme terhadap warga sipil, laki-laki dan wanita, dewasa atau anak-anak, Muslim atau bukan, adalah perbuatan HARAM. Ia termasuk perbuatan merusak di muka bumi yang sangat diharamkan. Islam menghalalkan Jihad Fi Sabilillah, perang melawan musuh-musuh Islam secara kesatria di medan-medan perang yang Syar’i.

[4] Menurut banyak analisis, dapat dipastikan bahwa Tragedi WTC 11 September 2001 bukan dilakukan oleh kaum Muslimin (pengikut Usamah bin Ladin), tetapi diskenariokan sendiri oleh agen-agen intelijen Amerika-Israel. Tragedi itu sengaja mereka buat sebagai alasan untuk memerangi kebangkitan Islam di dunia.

Gedung WTC tidak akan hancur hanya ditabrak oleh sebuah pesawat. Sama sekali tak akan rubuh hanya dalam beberapa menit akibat tabrakan itu. Hancurnya gedung itu semata-mata hanya melalui Demolition Controlled. Ia adalah metode peledakan terkendali yang biasa digunakan di Amerika untuk merobohkan gedung-gedung tinggi yang terletak di tengah-tengah kawasan padat gedung-gedung pencakar langit. Tabrakan pesawat hanyalah pengalih perhatian saja. Sedangkan kekuatan asli yang menghancurkan gedung WTC adalah rangkaian bom yang telah ditanam di gedung itu sendiri.

Sebagai perbandingan, tanggal 18 Februari 2010, seorang pilot menabrakkan pesawatnya ke sebuah gedung di Austin, Texas. Pilot itu bernama Joseph Stack. Dia meninggal setelah melakukan aksinya. Akibat dari tabrakan itu hanya menimbulkan kebakaran dan kerusakan gedung. Tidak sampai meruntuhkan gedung dalam sekejap. Bahkan saat sebuah pesawat latih jatuh di gedung IPTN, ia juga tidak menghancurkan gedung itu berkeping-keping. Jadi tidak ada ceritanya, sebuah pesawat bisa menghancurkan gedung pencakar langit hanya dalam beberapa menit. Ketika Timothy McVeigh meledakkan truk berisi bahan peledak penuh di depan gedung FBI Amerika. Ia tak sampai menghancurkan seluruh gedung itu. Hanya bagian depannya hancur, tidak sampai menghancurkan secara keseluruhan.

Namun di kalangan Ummat Islam ada dua kelompok yang menerima informasi Tragedi WTC, seperti kampanye yang disebarkan oleh George Bush. Satu kelompok sepakat dengan George Bush untuk memerangi para teroris; sekalipun akibatnya menzhalimi kaum Muslimin. Satu kelompok lagi, sepakat dengan agenda perjuangan Usamah bin Ladin (Al Qa’idah) dengan menjadi lawan bagi para pemburu teroris. Kedua kelompok merujuk pendapat dan pandangan Salaf, tetapi keduanya sepakat dengan informasi George Bush.

Sesungguhnya agenda “war on terror” yang dilancarkan George Bush adalah ditujukan untuk memerangi kebangkitan Islam. Oleh karena itu dia pernah keceplosan memakai istilah Crusade. Untuk menggulirkan agenda perang terlaknat itu, mereka membutuhkan pendukung dari kaum Muslimin. Maka sudah sepantasnya kita tidak mendukung agenda ini; baik dengan cara tidak mempercayai informasi George Bush, maupun tidak memberi banyak peluang bagi mereka untuk menyakiti kaum Muslimin. Mestinya begitu.

Icon “WTC 911” sangat jelas sekali. Ia dibuat oleh Zionis untuk melemahkan kaum Muslimin. Sebelum George Bush terpilih lagi sebagai Presiden Amerika untuk kedua kalinya, pada tahun 2004, seminggu sebelum itu tersiar video berupa ancaman Usamah bin Ladin yang akan menyerang Amerika. Rakyat Amerika seketika ketakutan, sehingga buru-buru mereka memiliki George Bush lagi, sebagai “watch dog” terhadap para teroris. Dengan beredarnya video itu, otomatis Bush terpilih lagi. Kasus yang sama baru-baru ini terulang, dengan isu pengiriman paket bom melalui pesawat Emirates di Yaman. Paket ini sedianya akan dikirim ke Amerika. Al Qa’idah buru-buru mengklaim bahwa iutu adalah paket milik mereka. Media-media pro Zionis sangat hebat mempublikasikan paket bom ini. Dampaknya, Partai Republik di Amerika memenangkan pemilu mengalahkan partai Obama.

Demikianlah, berita atau isu seputar terorisme sangatlah halus, sangat samar, tidak jelas mana yang salah dan benar. Kita harus hati-hati dalam memamah berita seputar terorisme ini. Jangan sampai kita masuk perangkap “missi dajjal” yang justru menguntungkan manusia-manusia maniak seperti Bush dan kawan-kawan yang sangat berambisi merusak Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Mari bersikap adil dan bijaksana; serta aku memohon ampunan kepada Allah Azza Wa Jalla atas segala dosa, salah, dan khilaf kepada-Nya, juga dalam hal pelanggaran hak-hak kaum Muslimin. Semoga tulisan ini benar-benar dapat diperbaiki, dengan izin-Nya. Amin Allahumma amin.

AM. Waskito.

 


Kita Tidak Butuh Gelar Pahlawan!

November 20, 2010

ARTIKEL 05:

Hari Pahlawan, 10 November 2010, sudah berlalu. Tidak ada kesan apapun, tidak ada yang istimewa. Segala serba hambar, formal, dan dibuat-buat. Hari Pahlawan kini, seperti tahun-tahun sebelumnya, hanya menjadi basa-basi tanpa makna.

Sempat marak perdebatan seputar pemberian gelar pahlawan kepada mendiang Pak Harto dan Wahid. Keduanya mantan Presiden RI. Kalau Soeharto di jaman Orde Baru, Wahid di jaman Reformasi.

Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan isu pemberian gelar pahlawan kepada kedua tokoh. Tidak, tidak ada koneksinya kesana. Lewat tulisan ini kita justru ingin bertanya-tanya: “Apa gunanya kita bicara soal gelar pahlawan? Apa ada manfaatnya pemberian gelar pahlawan bagi kehidupan rakyat Indonesia? Apa yang mau diteladani dari jejak orang-orang yang diberi gelar pahlawan?”

Indonesia adalah negara paling aneh di dunia. Jika ada negara yang paling banyak jendral-nya, itulah Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak pahlawan-nya, itulah pula Indonesia. Jika ada negara yang paling banyak masjid-nya, sekaligus paling parah korupsinya, ya Indonesia. Kalau ada negara yang mengaku ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, tetapi Pemerintahnya aktif mendukung kemusyrikan, adalah Indonesia. Kalau ada negara yang setiap tahun ratusan ribu rakyatnya berbondong-bondong naik haji ke Makkah, belum lagi yang Umrah, tetapi kondisi negerinya kerap sekali dilamun bencana alam, siapa lagi kalau bukan Indonesia. Kalau ada negara yang aparat hukumnya bekerja menjaga hukum dan sekaligus menjadi bandit hukum, Indonesia juga. Kalau ada negara yang mengeluarkan APBN 20 % untuk sektor pendidikan, pada saat sama negara itu terus mengembang-biakkan kebodohan, kejahilan, ketidak-pedulian, kekacauan persepsi, perpecahan politik, dll. ya Indonesia lagi. Inilah negara teraneh di dunia.

Bangsa Indonesia tidak perlu bicara soal pahlawan, tidak perlu membuat gelar pahlawan, tidak usah capek-capek mengangkat ini itu sebagai pahlawan. Semua perbuatan itu percuma, tidak ada manfaatnya. Mengapa demikian?

Berikut alasan-alasannya…

[1] Apa artinya gelar pahlawan, kalau rakyat Indonesia tidak mengerti hakikat kemerdekaan dan kedaulatan? Pahlawan berjasa besar bagi bangsa, khususnya dalam meraih kemerdekaan. Lalu kalau bangsa ini sendiri tidak mengerti makna kemerdekaan, untuk apa ada pahlawan? Kita mengklaim sudah 65 tahun merdeka, tetapi tidak memiliki kedaulatan untuk mengatur negara sendiri. Contoh paling telanjang, beberapa bulan lalu seorang menteri keuangan negeri ini dicomot oleh Bank Dunia. Padahal dia masih aktif menjabat. Bukan karena sayang sama Sri Mulyani –semoga Allah membalas semua kezhalimannya-, tetapi betapa bangsa ini tak punya harga diri sama sekali. Begitu mudahnya lembaga-lembaga asing mencampuri urusan dalam negeri, sampai “membajak” pejabat yang sedang aktif. Mungkin, suatu saat giliran IMF akan membajak pejabat presiden.

PAHLAWAN: Deretan Gambar Tanpa Makna...

[2] Selama ini bangsa Indonesia sudah kebanyakan pahlawan. Semuanya saja mau diangkat menjadi pahlawan. Sampai seorang tokoh yang berani menghujat Al Qur’an dengan kata-kata, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Orang semacam itu mau diberi gelar pahlawan juga. Allahu Akbar. Mengapa tidak sekalian saja kita angkat Fir’aun sebagai pahlawan terbesar di dunia? [Aku mendoakan, dengan menyadari segala kelemahan diri dan Keagungan Rabbul ‘alamiin, andaikan nanti Abdurrahman Wahid benar-benar diangkat sebagai pahlawan nasional, semoga bangsa ini dilumat oleh bencana alam yang lebih mengerikan dari yang pernah terjadi selama ini. Biar mereka bisa merasakan enaknya akibat dari menghina agama Allah Ta’ala. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in].

[3] Selama ini banyak pengkhianat-pengkhianat bangsa, antek-antek penjajah di masa lalu atau masa kini, ikut-ikutan diangkat sebagai pahlawan. Banyak tokoh-tokoh di era Boedi Oetomo dulu, era pergerakan, era kemerdekaan, bahkan era Reformasi yang menjadi antek penjajah asing. Orang seperti Adam Malik saja, ada yang mencurigainya sebagai antek asing. Lalu mereka dimasukkan sebagai pahlawan. Ini sama dengan mewariskan sejarah penipuan secara sistematik.

[4] Sejak lama bangsa Indonesia sudah sbiasa bersikap tidak fair. Dalam menentukan kriteria pahlawan berlaku hukum like or dislike. Tokoh seperti Soekarno dipuja-puja setengah mati. Sementara tokoh pejuang Muslim seperti Syafruddin Prawiranegara –rahimahullah- tidak diakui kepahlawanannya. Mau tahu jasa beliau? Beliau adalah Presiden RI dalam pemerintahan darurat di Bukit Tinggi. Ketika itu Pemerintah RI yang rersmi tidak ada, karena dikudeta oleh Belanda, sehingga negara kita tidak memiliki pemerintahan. Saat itu Mr. Syafruddin Prawiranegara mendeklarasikan PDRI (Pemerintah Darurat RI) di Bukit Tinggi. Andaikan tanpa gerakan ini, RI bisa habis disingkirkan oleh Belanda (NICA). Bahkan bangsa ini juga TIDAK JUJUR saat menuliskan sejarah Daarul Islam (DI/TII). Terlalu banyak kepalsuan dan dusta. Jadi akhirnya makna pahlawan itu menjadi: “Siapa suka siapa?” Kalau ada yang disukai, dipahlawankan; kalau ada yang dibenci, diabaikan.

Baca entri selengkapnya »


Realitas Penjajahan Baru di Indonesia

November 20, 2010

ARTIKEL 04:

Bismillahi, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dekade 1940-an dianggap sebagai momen besar perubahan sejarah dunia. Di masa itu negara-negara dunia ke-3 di Asia-Afrika yang semula mengalami penjajahan, rata-rata mendapatkan kemerdekaan. Indonesia termasuk negara yang merdeka di dekade itu, setelah dianiaya negara Protestan Belanda, selama ratusan tahun. Dan kebetulan juga, decade 1940-an merupakan masa-masa akhir Perang Dunia II, dengan kemenangan di pihak Amerika dan Sekutunya.

Negara-negara di dunia, termasuk Amerika dan Uni Soviet, waktu itu sangat berkomitmen untuk membangun dunia baru yang damai, bebas dari perang, bebas dari penindasan. Amerika sendiri memiliki sejarah baik, ketika Abraham Lincoln memulai gerakan menghapuskan perbudakaan di negerinya. Untuk merealisasikan tujuan-tujuan baik itu dibentuklah lembaga dunia, United Nations (PBB). PBB selanjutnya secara aktif bekerja mendukung pembangunan peradaban manusia dan sekaligus menjaga perdamaian dunia. PBB memiliki intrumen dan aturan internasional yang ditujukan untuk memelihara perdamaian dunia.

Singkat kata, era 40-an adalah masa-masa akhir praktik penjajahan negara kolonialis terhadap negara-negara Asia-Afrika. Negara-negara kolonialis itu umumnya beragama Nashrani seperti Inggris, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Spanyol, Portugis, dll. Ada juga yang Komunis seperti Uni Soviet dan Shinto seperti Jepang. [Tetapi tidak semua praktik penjajahan tersebut berakhir, sebab waktu itu Inggris masih berkuasa di Hongkong, Uni Soviet menjajah negara-negara Asia Tengah, Amerika berusaha menjajah Vietnam, China menjajah Mongolia, bahkan saat ini Amerika sedang menjajah Irak dan Afghanistan].

Penjajahan Baru: Tidak Dipahami Masyarakat!!!

Suatu kenyataan yang aneh. Setelah dunia masuk ke abad 21 (dihitung sejak tahun 2001), ternyata praktik penjajahan itu tidak berakhir. Praktik penjajahan tetap terjadi, hanya berubah bentuk. Banyak orang menyebut kondisi ini sebagai The New Colonialism (penjajahan baru). Penjajahan jenis ini ternyata lebih dahsyat dari penjajahan klasik. Dan salah satu korban paling parah dari penjajahan ini adalah negeri kita sendiri, bangsa Indonesia (NKRI).

Setidaknya ada beberapa perbedaan significant antara penjajahan baru dengan penjajahan klasik. Setiap Muslim Indonesia perlu memahaminya, agar tidak terlena dengan keadaan yang ada.

[1] Penjajahan modern tidak memakai serangan militer, perang, pengerahan senjata, dll. tetapi lebih banyak memakai sarana: pemberian hutang luar negeri, investasi, pembelian asset nasional dengan harga murah, memaksakan mata uang dollar sebagai standar ekonomi, kontrak karya pertambangan yang monopolis dan licik, menanam agen-agen di berbagai sektor kehidupan, dll.

Penjajahan modern tidak tampak seperti penjajahan, tetapi dampaknya sangat terasa. Persis seperti logika “bau kentut”; bentuknya tidak kelihatan, tetapi busuknya membuat orang menutup hidung.

[2] Penjajahan klasik sangat jelas siapa lawan yang dihadapi, sebab pasukan musuh melakukan invasi ke sebuah negara. Sedangkan penjajahan modern, tidak perlu pengerahan pasukan. Penjajahan dioperasikan dari jauh melalui sambungan telepon, fax, email, telekonferensi, surat-menyurat, kurir, dll. Para penjajah modern tidak perlu susah-payah berperang, sehingga tangan berdebu dan jatuh korban. Mereka cukup menjajah sebuah negara, misalnya Indonesia, dari kejauhan.

[3] Penjajahan klasik sangat disadari oleh masyarakat yang dijajah. Mereka amat sangat tahu kalau dirinya sedang dijajah, sebab pasukan musuh mondar-mandir di depan hidung mereka. Tetapi penjajahan modern amat sangat sulit dipahami oleh rakyat. Mereka merasa hidup baik-baik saja, padahal sejatinya sedang dijajah. Ditambah lagi, Pemerintah suatu negara selalu mengklaim sedang melakukan pembangunan, pembangunan, dan pembangunan; padahal sejatinya, kekayaan negeri mereka terus dijarah oleh para kolonialis.

Seperti di Indonesia ini. Setiap hari rakyat disuguhi tontonan hiburan oleh RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, ANTV, GlobalTV, MNC TV (dulu TPI), dll. Tontonan bisa berupa musik, film, kartun, sinetron, lawak, kuiz, reality show, hiburan pengajian, sepakbola, hobi, kuliner, dll. Itu masih ditunjang oleh hiburan lain seperti video, internet, bioskop, kaset, CD/DVD, dll. Masyarakat merasa hidupnya baik-baik saja, tenang-tenang saja, banyak hiburan. Padahal semua hiburan itu hanyalah menipu akal mereka. Agar mereka tidak sadar kalau negaranya sedang dijajah oleh orang-orang asing; agar mereka tidak sadar kalau harta kekayaan negaranya terus dikuras oleh perusahaan-perusahaan asing.

Anak-anak muda yang sangat potensial disibukkan oleh tontonan bola, rokok, narkoba, pornografi, dan seks bebas. Akal mereka tidak bisa berjalan normal karena sudah dihabisi oleh bola, rokok, shabu-shabu, video mesum, dan perzinahan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Misalnya, di Bandung ada ratusan ribu penggemar Persib yang sangat fanatik kepada klub asli Bandung itu. Tetapi dari ratusan ribu Bobotoh Persib itu, berapa orang yang berani menentang penindasan ekonomi oleh perusahaan-perusahaan asing? Paling hanya 6 atau 7 orang saja. Urusan bola, disembah-sembah seperti berhala;  tetapi urusan ekonomi rakyat, diabaikan begitu saja. (Miris kalau memikirkan anak-anak muda ini. Akalnya seperti tidak berfungsi, padahal sehari-hari mereka juga hidup susah).

[4] Penjajahan klasik biasanya dilakukan oleh suatu negara tertentu. Misalnya negara Nashrani seperti Inggris, Perancis, Portugis, atau Spanyol. Satu wilayah dikuasai oleh satu negara saja. Tetapi di jaman modern ini, penjajahan berlangsung sangat dahsyat. Seperti terjadi di Indonesia, negara penjajah berasal dari banyak negara, seperti: Amerika, Inggris, Jepang, China, Korea, Australia, Belanda, Singapura, Taiwan, Jerman, Belgia, Finlandia, Denmark, dll. Mereka berasal dari aneka bangsa, tetapi tujuannya satu, yaitu: mengeruk kekayaan kita untuk diangkut ke negeri masing-masing. Caranya bisa berkedok kerjasama bisnis, investasi, perdagangan, penjualan teknologi, konsultasi teknik, dll.

[5] Penjajahan klasik diakui secara kesatria oleh pelakunya sebagai penjajahan. Tetapi penjajahan modern tidak demikian. Mereka tidak pernah mengaku sebagai penjajah, tetapi selalu berkedok investasi, kerjasama perdagangan, memberi pinjaman hutang, membeli asset-asset, membeli SUN, dll. Intinya, menyedot kekayaan kita, tetapi caranya tampak sopan, halus, dan modern. Tetapi hakikatnya ya mengeruk kekayaan itu. Karena inti penjajahan memang: mengeruk harta benda negara lain secara licik! Covernya bisa macam-macam, tetapi intinya seperti semboyan penjajahan klasik dulu, “Gold, Gospel, Glory.”

Baca entri selengkapnya »